Anda di halaman 1dari 9

Pengarang:

Seno Gumira Ajidarma

Tahun Terbit: 1993 Judul Cerpen: Pelajaran Mengarang Kota Terbit: Penerbit: Jakarta Kompas

Hal-Hal menarik terdapat dalam salah satu cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Pelajaran Mengarang. Saya memilih lima unsur Ekstrinsik sebagai hal menarik tersebut. Sebagai objek tugas mata kuliah Pengkajian Cerpen Indonesia, berikut Saya jabarkan hal-hal apa saja yang menjadikan cerpen karya Seno Gumira Ajidarma ini menjadi sebuah kisah yang begitu mengesenkan dan memberi pelajaran bagi para pembaca. 1. Sinopsis (Ringkasan Cerita) Sandra, murid kelas lima Sekolah Dasar yang namanya tidak disebutkan. Diajar oleh seorang guru lajang bernama Tati. Gadis tukang melamun ini punya Ibu. Mama. Begitu Ia memanggilnya. Sandra sering dititipkan oleh Mamanya kepada seorang wanita tua yang dipanggil Mami oleh orang-orang. Itu sih kalau Mamanya pergi bekerja ke luar kota dan tidak pulang. Hari itu sedang pelajaran mengarang. Ibu guru Tati memeberi tiga judul pilihan untuk waktu satu jam. Judul pertama Keluarga Kami yang Berbahagia. Judul kedua Liburan ke Rumah Nenek. Judul ketiga Ibu. Murid yang lain sibuk mengolaborasikan pekiran dan tulisannya. Sementara Sandra? Ia galau harus menceritakan apa. Dalam lamunan Sandra. Rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran di atas kasur yang sepreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus-menerus mendengkur bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah. Lewat belakang anak jadah, jangan ganggu tamu Mama, ujar sebuah suara dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.

Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkannya tentang sebuah keluarga yang bahagia.

Mama, apakah Sandra punya Papa? Tentu saja punya anak setan! Tapi tidak jelas siapa! Dan kalau pun jelas siapa, belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah utk hidup tanpa seorang Papa! Taik kucing dengan Papa!

Sadis. Lamunannya mengalahkan imajinasi dan kreatifitasnya. Buktinya saat itu juga sudah bermenit-menit waktu berlalu kertas Sandra masih bersih dari coretan pena. Batin dan pikirannya melawan dirinya untuk mengarang. Kehidupan yang Sandra miliki membuat dirinya sulit membedakan antara mengarang dan menulis fiksi. Dilahirkan dari seorang Ibu tanpa suami yang jelas. Masih untung Sandra diberi kebutuhan pangan, sandang, papan, dan disekolahkan. Setiap akhir pekan pun Sandra diajak jalan-jalan ke Plaza-plaza, makan ayam dan kentang goreng enak, boneka, baju, es krim oleh Mamanya, dibacakan cerita malam hari sebelum tidur dan dicium pipi dan keningnya, sreta selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik. Tentu saja biar Mamanya jalang tetap sayang pada Sandra. ..... selalu ingat apa yang tertulis pada pager ibunya. .... DITUNGGU DI MANDARIN, KAMAR 505, PKL. 20.00 Ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur, maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhannya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika di kolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan Mama, Mama, dan pipinya basah oleh airmata. Yang benar saja, Sandra, Sandra. Waktu satu jam pelajaran mengarang tak cukup untuk menuliskan Keluarga Kami yang Berbahagia, Liburan ke Rumah Nenek ataupun Ibu. Beberapa temannya sudah keluar kelas tanda sudah selesai mengarang. Kertas Sandra masih benar-benar kosong. Ibu Guru Tati menanyakan karangan Sandra. Sandra tidak menjawab, tetapi mulai menulis judul. Ibu. Akhirnya Sandra memilih. Lalu mengarang. Ibuku seorang pelacur. Ibu Guru Tati menonton RCTI sebari memeriksa karangan anak-anak murid baru sampai separuh tumpukan. Padahal Sandra menyelipkan karangannya di tengah-tengan tumpukan.

2.

Unsur Sosial Ibu Guru Tuti yang belum berkeluarga, hanya sempat memeriksa separuh dari

tumpukan karangan muridnya namun sudah mengambil kesimpulan bahwa murid-muridnya mengalami masa kana-kanak yang indah. Ego keakuan disini dialami oleh Ibu guru Tuti yang mungkin disebabkan karena latar belakang keluarganya yang baik-baik saja, atau karena ibu guru Tuti belum pernah mengalami perasaan seperti yang dirasakan oleh Sandra. Tokoh Mama disini sebenarnya digambarkan sebagai sosok ibu yang baik, yang menyayangi anak gadisnya. Meskipun profesinya sebagai seorang pelacur, namun dapat dilihat bahwa sesungguhnya tokoh Mama membenci laki-laki. Ini terbukti ketika Sandra bertanya pada mamanya apakah dia memiliki seorang ayah, kemudian tokoh Mama menjawab Tentu saja punya anak setan! Tapi tidak jelas siapa! Dan kalaupun jelas siapa, belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik kucing dengan Papa! Makian-makian yang dilontarkan disini jelas menggambarkan seakan-akan profesinya sebagai pelacur adalah sebagai bentuk penolakan dirinya yang sebelumnya mengalami trauma seksual (pernah diperkosa), bukan atas kehendak sendiri. Tokoh Mama juga selalu memanggil anaknya dengan sebutan Anak setan. Ini bukan wujud kebencian ibu kepada seorang anak, karena kata-kata setan di sini sebenarnya menunjuk pada lelaki, ayah dari anak gadisnya, juga lain jenis yang dirasa telah menghancurkan hidupnya. Tahun 1993, orde baru sebentar lagi tergantikan dengan pemikiran baru. Menuju Reformasi 1998. Zaman Seno menulis ini peralihan antara terkekangnya suara rakyat dengan mulai munculnya perubahan lewat bapak dengan julukan The Right Man in The Wrong Place. Ya, bebeda dengan dahulu, 1993 masih orde baru dipimpin oleh seorang Soeharto tidak ada yang namanya bebas berpikir, bersuara, berpendapat. Mungkin itu yang ingin disampaikan Seno dalam cerpen ini. Sandra yang tidak bisa mengarang bebas mengelurakan pikiran mengenai kehidupannya terkekang karena keadaan hidup itu sendiri yang sangat buruk dan tidak baik bila diumbar-umbar.

Jadi, menurut Saya kali ini dalam cerpen Pelajaran Mengarang Seno ingin menyampaikan bahwa Sandra yang memiliki banyak pikriran, bayangan, keinginan, ide mengenai nasib hidupnya di dalam benaknya. Namun, semua itu tidak dapat diwujudkan melalui karangan, yang saat itu adalah wadah apresiasi untuknya. Gadis ini hanya bisa melampiaskan pikirannya hanya dengan sedikit kata. Ibuku seorang pelacur. Untuk sebuah tulisan yang dinamakan karangan mengenaskan, bukan? Karena kebingungan Dia dengan keadaan hidup itu sendiri yang sangat buruk dan adanya tuntutan untuk tidak menceritakan kehidupannya. Hal tersebut merupakan pencerminan pada masa orde baru. Saya menangkap, pada masa itu banyak pikiran, bayangan, keinginan, ide para rakyat Indonesia untuk nasib Indonesia yang lebih baik sesuai hati nurani rakyat. Pemerintahan Soekarno mengekang rakyat salama puluhan tahun untuk tetap menerima aturan Beliau sendiri bersama golongannya. Bentuk pemerintahan oligarki. Berucap sedikit saja, sembarangan berpendapat, mengkritik, memrotes, memberontak apalagi berkoar-koar akan ada orang hilang, ditembak, ditangkap secara misterius oleh ajudan-ajudan Beliau. Kebebasan berserikat, berkumpul, dan berpendapat tidak dijunjung saat itu. Hanya segelintir orang dengan kedudukan tertentu dan memiliki ide egois saja yang bisa terwujudkan hasratnya.

3.

Unsur Psikologi Usia Sandra yang masih anak bawang, kelas lima SD biasanya menginjak usia 10 tahun. Pada usia

seperti ini otak mereka dalam masa perkembangan biasanya anak-anak mudah menyerap sesuatu yang dilihat, didengar, bahkan dialami, sehingga mereka selalu mengingat kejadian yang mereka dapatkan. Usia masa ini biasanya memicu suatu kejadian tak biasa menjadi trauma bagi seorang anak. Buktinya, Sandra tak pernah lupa keadaan di rumahnya. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran di atas kasur yang sepreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus-menerus mendengkur bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah. Begitu melekat dalam benaknya. Mengugah citra lihatannya, kemudian mengalir menuju hatinya. Menyayat batinnya. Mengugah dirinya sebagai anak dalam usia polos untuk selalu bertanya karena ingin tahu ada apa dengan kehidupannya.
Mama kerja apa sih? Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa, yang dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu. .... Apakah wanita itu ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis .... Mama, Mama, kenapa menangis, Mama? sendirian.

Namun, di sisi lain juga keadaan hidupnya yang kejam membuatnya menjadi seorang pemikir, selalu berhati-hati, dan menjaga dirinya dari emosi amarah. Kehati-hatiannya itu adalah ketakutannya akibat dari perkataan-perkataan keras yang muncul dari mulut Mamanya. Usia kanak-kanak macam ini biasanya sedang senang berimajinasi, memunculkan kisah-kisah polos dari kepalanya. Namun, di cerpen ini Seno memunculkan karangan Sandra dam bentuk imajinasi langsung dari kepalanya, bukan tulisan. Judul Pelajaran Mengarang dibalikkan dengan keadaan alur ceritanya, bukan Pelajaran Melamun yang Seno pilih.

Yang benar saja, padahal Sandra bisa memilih judul Keluarga Kami yang Berbahagia dengan menuliskan Setiap hari Minggu jalan-jalan ke Plaza bersama Mamanya. Hal tersebut bisa dikategorikan menyenangkan, bukan? Ya, daripada hari-hari lainnya. Justru Ibu ini penyelesaiannya. Mengejutkan.

4.

Unsur Pendidikan Mungkin di sisi lain, melalui cerpen ini Seno ingin melampiaskan kegemarannya dalam

hal menulis. Dunia pendidikan pun didominasi dengan kegiatan mengarang saking tidak bebasnya saat itu untuk mengeluarkan pendapat. Bisa jadi itu asal-usul pelajaran mengarang menjadi tradisi di sekolah-sekolah hingga zaman sekarang. Zaman dahulu para guru mengajarkan anak-anak untuk sekreatif dan sepintar-pintarnya mengapresiasikan pikirannya melalui berbagai media.

DAFTAR PUSTAKA http://www.goodreads.com/book/show/8948933-pelajaran-mengarang http://kunthink23.wordpress.com/2011/09/01/berbagai-sudut-pandang-cerpen-pelajaranmengarang-karya-seno-gumira-ajidarma-dari-berbagai-sudut-pandang/

TUGAS MATA KULIAH PENGKAJIAN CERPEN INDONESIA PELAJARAN MENGARANG SENO GUMIRA AJIDARMA

INGEU WIDYATARI HERIANA 180110110055 SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012