Anda di halaman 1dari 5

ONTOH NARASI DARI SOP PENGADAAN BARANG/ JASA BUKAN BARANG DAGANGAN

IV PROSEDUR PENGADAAN BARANG DAN JASA BUKAN BARANG DAGANGAN 1. Pengguna barang/jasa menyiapkan Data Spesifikasi barang/jasa beserta dokumen pendukungnya yaitu : a. Term of Reference (TOR) / Kerangka Acuan Kerja (KAK) b. Harga Perkiraan Sendiri (HPS) c. Rencana Kerja dan Syarat syarat (RKS) 2. Pengguna barang/jasa menetapkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) dan membuat dokumentasi beserta data-data pendukungnya TOR/KAK, HPS, dan RKS. 3. Pengguna barang/jasa membuat surat permohonan pengadaan dengan melampirkan dokumen TOR/KAK, HPS, dan RKS kemudian diserahkan kepada panitia pengadaan untuk memperoleh persetujuan. a. Jika tidak disetujui, maka dokumen tersebut akan dikembalikan kepada pengguna barang/jasa untuk diperbaiki. b. Jika disetujui, maka panitia pengadaan akan membuat dokumen pengadaan. 4. Panitia pengadaan dapat mengadakan barang/jasa bukan barang dagangan dengan beberapa metoda, berdasarkan ketentuan sebagai berikut : a. Jika biaya pengadaan tidak lebih dari Rp 50.000.000,00 - Pengadaan dapat dilakukan sendiri maka dijalankan metode Swakelola - Pengadaan tidak dapat dilakukan sendiri maka dilakukan Penunjukkan Langsung b. Jika biaya pengadaan lebih dari Rp 50.000.000,00 - Jika pengadaan merupakan proyek konstruksi Biaya proyek konstruksi lebih dari Rp 1.000.000.000,00 (Satu Milyar Rupiah) maka dilakukan pengadaan terbuka Biaya proyek konstruksi tidak lebih dari Rp 1.000.000.000,00 (Satu Milyar Rupiah) Pengadaan dilakukan secara terbatas berdasarkan Daftar Rekanan Pengadaan terbuka dapat dilakukan jika tidak terdapat Daftar Rekanan - Jika pengadaan bukan merupakan proyek konstruksi Biaya pengadaan lebih dari Rp 200.000.000,00 maka dilakukan pengadaan terbuka Biaya pengadaan tidak lebih dari Rp 200.000.000,00 Pengadaan dilakukan secara terbatas berdasarkan Daftar Rekanan Pengadaan terbuka dapat dilakukan jika tidak terdapat Daftar Rekanan 5. Panitia pengadaan melakukan pengadaan terbuka untuk : - Biaya pengadaan non konstruksi lebih dari Rp 200.000.000,00 - Biaya pengadaan konstruksi lebih dari Rp 1.000.000.000,00 (Satu Milyar Rupiah) - Ketika tidak terdapat daftar rekanan dalam pelaksanaan pengadaan 6. Panitia pengadaan membuat surat pengumuman pengadaan barang/jasa dan diserahkan kepada media cetak dan Divisi MIS/IT. 7. Media cetak (Koran) membuat pengumuman pengadaan 8. Divisi MIS/IT membuat pengumuman pengadaan di website 9. Setelah melihat pengumuman baik melalui media cetak maupun website, Penyedia barang/jasa mengambil dokumen prakualifikasi dari panitia pengadaan. 10. Penyedia barang/jasa mengisi dokumen prakualifikasi dan mengumpulkannya kembali kepada panitia pengadaan. 11. Panitia pengadaan melakukan evaluasi terhadap dokumen prakualifikasi kemudian membuat berita acara hasil evaluasi dan menyusun daftar rekanan 12. Panitia pengadaan membuat pengumuman hasil evaluasi proses prakualifikasi di website

dan membuat surat undangan kepada penyedia barang/jasa yang masuk daftar rekanan. 13. Penyedia barang/jasa mengambil dokumen penawaran. 14. Panitia pengadaan memberikan dokumen penawaran serta penjelasan (Aanwijzing) mengenai proses pengadaan barang/jasa kemudian memberikan dokumen penawaran kepada para penyedia barang/jasa. 15. Penyedia barang/jasa mengisi dokumen penawaran 16. Panitia pengadaan membuat daftar dokumen penawaran yang telah masuk. 17. Panitia pengadaan melakukan evaluasi terhadap dokumen penawaran kemudian membuat berita acara hasil evaluasi 18. Panitia pengadaan menetapkan calon pemenang 19. Panitia pengadaan memberikan hasil penetapan calon pemenang kepada Divisi MIS/IT untuk diumumkan di website. 20. Divisi MIS/IT membuat pengumuman calon pemenang di website 21. Penyedia barang/jasa menerima informasi mengenai adanya masa sanggah melalui website. a. Jika penyedia barang/jasa tidak melakukan sanggahan terhadap hasil pengumuman calon pemenang, maka panitia pengadaan akan membuat surat undangan negosiasi dan klarifikasi kepada calon pemenang b. Jika penyedia barang/jasa melakukan sanggahan terhadap hasil pengumuman calon pemenang, maka penyedia barang/jasa membuat surat sanggahan dan menyerahkannya kepada panitia pengadaan. 22. Panitia pengadaan membuat surat tanggapan terhadap sanggahan dari penyedia barang/jasa dan diberikan kepada penyedia barang/jasa. 23. Panitia pengadaan membuat surat undangan negosiasi dan klarifikasi kemudian memberikannya kepada calon pemenang penyedia barang/jasa 24. Panitia pengadaan mengadakan negosiasi dan klarifikasi kemudian membuat berita acara negosiasi dan klarifikasi. 25. Panitia pengadaan mengajukan surat laporan pemenang kepada Direksi . 26. Divisi Legal membuat draft kontrak kerja dan menyerahkannya kepada Direktur divisi terkait untuk memperoleh persetujuan. a. Jika Direktur divisi terkait tidak menyetujui draft kontrak kerja, maka draft tersebut akan dikembalikan ke Divisi Legal untuk diperbaiki. b. Jika Direktur divisi terkait menyetujui draft kontrak kerja, maka kontrak kerja tersebut ditandatangani dan dibagikan kepada : - Asli kontrak kerja untuk Divisi Legal - Asli kontrak kerja untuk pemenang penyedia barang/jasa - Copy kontrak kerja untuk panitia pengadaan - Copy kontrak kerja untuk Direktur divisi terkait dan divisi pengguna barang/jasa

Cara Sertifikasi Halal

Apa Itu Sertifikat Halal? Yang dimaksud Sertifikat Halal adalah suatu fatwa tertulis dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai dengan syari'at Islam. Sertifikat Halal ini merupakan syarat untuk mendapatkan ijin pencantuman LABEL HALAL pada kemasan produk dari instansi pemerintah yang berwenang. Pengadaan Sertifikasi Halal pada produk pangan, obat-obat, kosmetika dan produk lainnya sebenarnya bertujuan untuk memberikan kepastian status kehalalan suatu produk, sehingga dapat menentramkan batin konsumen muslim. Namun ketidaktahuan seringkali membuat minimnya perusahaan memiliki kesadaran untuk mendaftarkan diri guna memperoleh sertifikat halal. Jaminan Halal dari Produsen Masa berlaku Sertifikat Halal adalah 2 tahun. Hal tersebut untuk menjaga konsistensi produksi produsen selama berlakunya sertifikat. Sedangkan untuk daging yang diekspor Surat Keterangan Halal diberikan untuk setiap pengapalan. Untuk memperoleh sertifikat halal LPPOM MUI memberikan ketentuan bagi perusahaan sebagai berikut:
1. Sebelum produsen mengajukan sertifikat halal terlebih dahulu harus mempersiapkan Sistem Jaminan Halal. Penjelasan rinci tentang Sistem Jaminan Halal dapat merujuk kepada Buku Panduan Penyusunan Sistem Jaminan Halal yang dikeluarkan oleh LP POM MUI. 2. Berkewajiban mengangkat secara resmi seorang atau tim Auditor Halal Internal (AHI) yang bertanggungjawab dalam menjamin pelaksanaan produksi halal. 3. Berkewajiban menandatangani kesediaan untuk diinspeksi secara mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya oleh LPPOM MUI. 4. Membuat laporan berkala setiap 6 bulan tentang pelaksanaan Sistem Jaminan Halal.

Prosedur Sertifikasi Halal Pertama-tama produsen yang menginginkan sertifikat halal mendaftarkan ke sekretariat LPPOM MUI dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Bagi Industri Pengolahan:

1. Produsen harus mendaftarkan seluruh produk yang diproduksi di lokasi yang sama dan/atau yang memiliki merek/brand yang sama. 2. Produsen harus mendaftarkan seluruh lokasi produksi termasuk maklon dan pabrik pengemasan. 3. Ketentuan untuk tempat maklon harus dilakukan di perusahaan yang sudah mempunyai produk bersertifikat halal atau yang bersedia disertifikasi halal. 2. Bagi Restoran dan Katering: 1. Restoran dan katering harus mendaftarkan seluruh menu yang dijual termasuk produk-produk titipan, kue ulang tahun serta menu musiman. 2. Restoran dan katering harus mendaftarkan seluruh gerai, dapur serta gudang. 3. Bagi Rumah Potong Hewan: 1. Produsen harus mendaftarkan seluruh tempat penyembelihan yang berada dalam satu perusahaan yang sama

Setelah penggolongan berdasarkan kategori usaha, beberapa hal yang harus dilakukan perusahaan pemohon:
1. Setiap produsen yang mengajukan permohonan Sertifikat Halal bagi produknya, harus mengisi Borang yang telah disediakan. Borang tersebut berisi informasi tentang data perusahaan, jenis dan nama produk serta bahan-bahan yang digunakan 2. Borang yang sudah diisi beserta dokumen pendukungnya dikembalikan ke sekretariat LP POM MUI untuk diperiksa kelengkapannya, dan bila belum memadai perusahaan harus melengkapi sesuai dengan ketentuan. 3. LPPOM MUI akan memberitahukan perusahaan mengenai jadwal audit. Tim Auditor LPPOM MUI akan melakukan pemeriksaan/audit ke lokasi produsen dan pada saat audit, perusahaan harus dalam keadaan memproduksi produk yang disertifikasi. 4. Hasil pemeriksaan/audit dan hasil laboratorium (bila diperlukan) dievaluasi dalam Rapat Auditor LPPOM MUI. Hasil audit yang belum memenuhi persyaratan diberitahukan kepada perusahaan melalui audit memorandum. Jika telah memenuhi persyaratan, auditor akan membuat laporan hasil audit guna diajukan pada Sidang Komisi Fatwa MUI untuk diputuskan status kehalalannya. 5. Laporan hasil audit disampaikan oleh Pengurus LPPOM MUI dalam Sidang Komisi Fatwa Mui pada waktu yang telah ditentukan. 6. Sidang Komisi Fatwa MUI dapat menolak laporan hasil audit jika dianggap belum memenuhi semua persyaratan yang telah ditentukan, dan hasilnya akan disampaikan kepada produsen pemohon sertifikasi halal. 7. Sertifikat Halal dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia setelah ditetapkan status kehalalannya oleh Komisi Fatwa MUI. 8. Sertifikat Halal berlaku selama 2 (dua) tahun sejak tanggal penetapan fatwa. 9. Tiga bulan sebelum masa berlaku Sertifikat Halal berakhir, produsen harus mengajukan perpanjangan sertifikat halal sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan LPPOM MUI.

Kemudian dilakukanlah tata cara pemeriksaan (Audit) mulai dari manajemen, bahan-bahan baku, dll. Pemeriksaan (audit) produk halal mencakup:
1. Manajemen produsen dalam menjamin kehalalan produk (Sistem Jaminan Halal). 2. Pemeriksaan dokumen-dokumen spesifikasi yang menjelaskan asal-usul bahan, komposisi dan proses pembuatannya dan/atau sertifikat halal pendukungnya, dokumen pengadaan dan penyimpanan bahan, formula produksi serta dokumen pelaksanaan produksi halal secara keseluruhan.

3. Observasi lapangan yang mencakup proses produksi secara keseluruhan mulai dari penerimaan bahan, produksi, pengemasan dan penggudangan serta penyajian untuk restoran/catering/outlet. 4. Keabsahan dokumen dan kesesuaian secara fisik untuk setiap bahan harus terpenuhi. 5. Pengambilan contoh dilakukan untuk bahan yang dinilai perlu.

Sistem Pengawasan Sertifikat Halal:


1. Perusahaan wajib