Anda di halaman 1dari 7

REAKSI OKSIDASI DAN REDUKSI DALAM TANAH

Pada hakekatnya, terdapat dua reaksi yang amat penting di dalam tanah yang membantu dalam proses pelapukan secara kimia, yaitu reaksi oksidasi dan reduksi. Oksidasi merupakan proses dimana elektron-elektron atau muatan listrik negatif menjadi berkurang. Sedangkan reduksi adalah kebalikannya yaitu proses penambahan elektron. Oksidasi akan berlangsung baik bila oksigen cukup tersedia, sedang reduksi akan berjalan bila tidak ada oksigen. Telah diketahui, bahwa oksidasi-oksidasi atau reduksi-oksidasi (Eh) merupakan suatu proses yang berkesinambungan dalam tanah. Dalam hal ini pemberi (donor) elektron mengalami oksidasi, sedangkan penerima (akseptor) mengalami reduksi. Contoh klasik atom dan ion yang mengalami reduksi dan oksidasi dalam tanah adalah sebagai berikut. Fe3+ + e- Fe2+ Fe2+ Fe3+ + e(Reduksi) (Oksidasi)

Reduksi-oksidasi atau potensial redoks (Eh) adalah pengukuran kuantitatif reduksi-oksidasi dari suatu sistem yang dapat diukur dengan elektroda platina. Keseimbangan reaksi adalah titik awal untuk mempelajari reaksi-reaksi redoks. Reaksi umum redoks adalah: Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer oksigen Dalam hal transfer oksigen, Oksidasi berarti mendapat oksigen, sedang Reduksi adalah kehilangan oksigen. Sebagai contoh, reaksi dalam ekstraksi besi dari biji besi:

Karena reduksi dan oksidasi terjadi pada saat yang bersamaan, reaksi diatas disebut reaksiREDOKS. Zat pengoksidasi dan zat pereduksi Oksidator atau zat pengoksidasi adalah zat yang mengoksidasi zat lain. Pada contoh reaksi diatas, besi(III)oksida merupakan oksidator. Reduktor atau zat pereduksi adalah zat yang mereduksi zat lain. Dari reaksi di atas, yang merupakan reduktor adalah karbon monooksida. Jadi dapat disimpulkan:

oksidator adalah yang memberi oksigen kepada zat lain,

reduktor adalah yang mengambil oksigen dari zat lain Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer hidrogen

Definisi oksidasi dan reduksi dalam hal transfer hidrogen ini sudah lama dan kini tidak banyak digunakan. Oksidasi berarti kehilangan hidrogen, reduksi berarti mendapat hidrogen. Perhatikan bahwa yang terjadi adalah kebalikan dari definisi pada transfer oksigen. Sebagai contoh, etanol dapat dioksidasi menjadi etanal:

Untuk memindahkan atau mengeluarkan hidrogen dari etanol diperlukan zat pengoksidasi (oksidator). Oksidator yang umum digunakan adalah larutan kalium dikromat(IV) yang diasamkan dengan asam sulfat encer. Etanal juga dapat direduksi menjadi etanol kembali dengan menambahkan hidrogen. Reduktor yang bisa digunakan untuk reaksi reduksi ini adalah natrium tetrahidroborat, NaBH4. Secara sederhana, reaksi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Zat pengoksidasi (oksidator) dan zat pereduksi (reduktor)


Zat pengoksidasi (oksidator) memberi oksigen kepada zat lain,

atau memindahkan hidrogen dari zat lain.

Zat pereduksi (reduktor) memindahkan oksigen dari zat lain, atau

memberi hidrogen kepada zat lain. Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer elektron Oksidasi berarti kehilangan elektron, dan reduksi berarti mendapat elektron.

Definisi ini sangat penting untuk diingat. Ada cara yang mudah untuk membantu anda mengingat definisi ini. Dalam hal transfer elektron:

Contoh sederhana Reaksi redoks dalam hal transfer elektron:

Tembaga(II)oksida dan magnesium oksida keduanya bersifat ion. Sedang dalam bentuk logamnya tidak bersifat ion. Jika reaksi ini ditulis ulang sebagai persamaan reaksi ion, ternyata ion oksida merupakan ion spektator (ion penonton).

Jika anda perhatikan persamaan reaksi di atas, magnesium mereduksi iom tembaga(II) dengan memberi elektron untuk menetralkan muatan tembaga(II). Dapat dikatakan: magnesium adalah zat pereduksi (reduktor). Sebaliknya, ion tembaga(II) memindahkan elektron dari magnesium untuk menghasilkan ion magnesium. Jadi, ion tembaga(II) beraksi sebagai zat pengoksidasi (oksidator). Memang agak membingungkan untuk mempelajari oksidasi dan reduksi dalam hal transfer elektron, sekaligus mempelajari definisi zat pengoksidasi dan pereduksi dalam hal transfer elektron. Dapat disimpulkan sebagai berikut, apa peran pengoksidasi dalam transfer elektron:

Zat pengoksidasi mengoksidasi zat lain. Oksidasi berarti kehilangan elektron (OIL RIG). Itu berarti zat pengoksidasi mengambil elektron dari zat lain.

Jadi suatu zat pengoksidasi harus mendapat elektron

Atau dapat disimpulkan sebagai berikut:


Suatu zat pengoksidasi mengoksidasi zat lain. Itu berarti zat pengoksidasi harus direduksi. Reduksi berarti mendapat elektron (OIL RIG). Jadi suatu zat pengoksidasi harus mendapat elektron.

Eh sebagaimana dengan pH adalah faktor intensitas. Pada setiap reaksi kimia yang melibatkan pertukaran elektron akan dipengaruhi oleh Eh. 1. Penerapan Eh pada Tanah Nilai Eh positif jika tanah bersuasana oksidasi dan negatif jika bersuasana reduksi. Tabel 1 berikut menggambarkan Eh tanah dalam kondisi oksidatif dan reduktif. Tabel 1. Nilai Eh tanah diukur dengan elektroda platina (Jackson, 1965) Kondisi oksidasi atau reduksi Eh (mV) KMnO4 dalam 1 N H2SO4 1500 Tanah dengan oksidasi sangat sempurna 800 Tanah dengan oksidasi sempurna 500 Tanah dengan oksidasi agak sempurna 300 Tanah dengan oksidasi jelek 100 Tanah dengan reduksi kuat -200 Tanah dengan reduksi ekstrim kuat -500 Na2S2O4 (pH 8,0) -600 Semakin tinggi nilai Eh tanah semakin besar kecenderungan reduksi untuk terjadi. Sebaliknya semakin negatif Eh tanah semakin berkurang tendensi reduksi untuk berlangsung. 2. Pengaruh Penggenangan terhadap Perubahan sifat Tanah Pengetahuan tentang sifat-sifat tanah akibat penggenangan sangat penting, karena penggenangan menyebabkan terjadinya perubahan sifat-sifat fisis, kimia, fisiko kimia maupun biologis tanah. Penelitian mengenai pengaruh penggenangan terhadap perubahan tanah baru mulai berkembang sejak awal tahun limapuluhan ketika Ponnamperuma (1955) mempersembahkan hasil penelitian dalam tesisnya yang berjudul The Chemistry of Submerged Soils in Relation to the Growth and Yield of Rice ke dunia Ilmu Tanah. Jika tanah digenangi, maka dalam tempo yang singkat kepekatan oksigen dalam tanah merosot. Kemerosotan ini demikian drastis sehingga kepekatannya dapat mencapai nilai nol. Dalam

kondisi ini kehidupan jasad renik aerobik berubah menjadi kehidupan jasad-jasad renik lain yang bersifat anaerobik. Dalam tanah yang tergenang akan terbentuk dua lapisan tanah yaitu lapisan oksidasi dimana didapati bentuk ion-ion SO42-, Fe3+, Mn4+ dan gas CO2 yang mantap, sedangkan ion NH4+ dapat dioksidasi menjadi nitrat yang selanjutnya tercuci ke lapisan reduksi di bawahnya. Peristiwa terakhir ini menjadi alasan yang kuat untuk meletakkan pupuk N di lapisan reduksi, bukan di lapisan oksidasi. Ion-ion nitrat terakumulasi di lapisan reduksi akibat pencucian seperti yang disebukan tadi seterusnya mengalami proses denitrifikasi, sehingga nitrat diubah menjadi gas N2O dan terbang ke udara. Adanya lapisan oksidasi dan reduksi ini umum ditemukan di profil tanah sawah. Pada Eh sangat rendah misalnya kecil dari -300 mV kepekatan ion-ion Fe2+, Mn2+, ikatan-ikatan sulfida maupun gas-gas serta asamasam organik (kebanyakan asam asetat disusul oleh asam-asam propionat, butirat, laktat, valerat, dan asam fumarat) adalah tinggi. Kepekatan ion-ion, asam-asam organik maupun gas-gas yang tinggi diketahui dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman padi. Pergantian air pada petak-petak persawahan pada saat tertentu harus dilakukan agar substansi atau gas yang berlebihan itu dapat dibuang keluar. Penggenangan, dilaporkan mempengaruhi pH tanah. Ponnamperuma (1976) menyimpulkan, bahwa penggenangan meningkatkan pH tanah asam menuju atau mendekati nilai netral. Sebaliknya penggenangan tanah bereaksi basa cenderung menurunkan pH tanah mendekati nilai netral. Menurunnya pH pada penggenangan tanaha basa akibat penggenangan berkemungkinan besar disebabkan oleh sejumlah ion H yang dihasilkan akibat reaksi gas CO (yang terbentuk akibat penggenangan) dengan HO, menurut reaksi : CO + HO HCO H + HCO

Tanah basa diketahui banyak mengandung CaCO, yabg akan menghasilkan CO. Kenaikan pH pada penggenangan tanah asam mungkin disebabkan bertambahnya kepekatan ion OH akibat reduksi feri-hidroksida Fe(OH) menurut reaksi : Fe (OH) Fe + 3OH

Penggenangan diselidiki meningkatkan kepekatan fero dan mangano dalam larutan tanah. Ponnamperuma (1976) melaporkan, bahwa setelah satu hingga dua minggu penggenangan kepekatan Fe dan Mn meningkat dalam tanah. Setelah itu kelihatan kepekatannya turun tajam hingga ketingkatan tertentu kemudian terlihat kepekatan Si yang agak mantap.

Selain perubahan sifat-sifat tanah seperti yang telah dikemukakan di atas, penggenangan dilaporkan juga meningkatkan kepekatan Ptersedia dalam tanah (Ponnamperuma, 1975). Meningkatnya kepekatan P-tersedia ini diduga disebabkan oleh reduksi feri-fosfat sehingga terbentuk fero-fosfat yang larutdalam air. 3. Pengukuran Eh Tanah Di laboratorium, di rumah kaca atau dilapangan, Eh tanah dapat diukur dengan alat pH-meter. Dalam hal ini salah satu elektrode pH-meter digantikan dengan elektrode platina, sehingga dengan pasangan elektrode Pt dan kalomel (calomel) ini Eh dapat diukur. Untuk mendapatkan Eh asli maka berlaku hubungan berikut : Eh (dari sistem) = Eh (hasil bacaan) + 247 mV Baik elektroda Pt maupun kalomel, keduanya langsung dimasukkan pelan-pelan ke dalam tanah yang tergenang agar platina ataupun ujung elektroda kalomel tidak patah/pecah.

4. Kemantapan Oksida dan Hidroksida Besi Nilai Eh dan pH dapat digunakan untuk menyatakan hubungan kemantapan antara mineral-mineral oksida besi dan hidroksida besi. Proses pembentukkan hematit dan magnetit dianggap merupakan reaksi oksidasi dan disederhanakan sebagai berikut: 2 FeO + HO 3 FeO + 2 H + 2e

Eh dari sistem di atas adalah : Eh = E+ 0,059 log (Fe ) (H) O 2 (FeO) (HO) Dengan menganggap HO dan jenis meineral dalam keadaan murni, maka aktivitasnya diperkirakan sama, sehingga persamaan di atas berubah menjadi : Eh = E + 0,059 log (H) atau Eh = E 0,059 2 pH

Persamaan terakhir ini menghubungkan Eh dengan pH dengan sift linier. Keadaan ini menunjukkan adanya batas-batas antara kemantapan magnetit dengan hematit. Jika Eh sistem lebih besar dari Eh persamaan terakhir, maka hematit akan mantap. Akan tetapi, jika Eh sistem lebih kecil dari Eh yang disebut pada persamaan diatas, maka manetut terdapat sebagai mineral yang mantap.

Daftar Pustaka
Clark, Jim (2004). Pengertian Oksidasi dan Reduksi (Redoks). From http://www.chem-istry.org/materi_kimia/kimia_anorganik1/oksidasi_dan_reduksi/pengertian_ oksidasi_dan_reduksi_redoks/. 31 Oktober 2011 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinnggi. 1991. Kimia Tanah. Jakarta: Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan. Harjowigeno, S. 1987. Ilmu Tanah. Jakarta: PT. Mediyatama Sarana Perkasa.