Anda di halaman 1dari 57

Definisi hutang jangka pendek atau hutang lancar

Kewajiban yang belum dibayarkan untuk barang dan jasa yang diterima dalam kegiatan usaha normal perusahaan (Arens & Loebbecke; 1999) Kewajiban yang diharapkan akan dilunasi dalam waktu satu tahun atau satu siklus operasi normal perusahaan (PSAK No. 9 Prgf 21)

Hutang jangka Pendek dapat dikelompokkan menjadi : 1. Hutang yang jumlahnya dapat dipastikan di muka. 2. Hutang yang jumlahnya tergantung kepada hasil operasi. 3. Hutang yang jumlahnya di taksir

1. Hutang yang jumlahnya dapat dipastikan di muka.


Hutang dalam kelompok ini dapat diketahui jumlahnya pada tanggal Neraca, baik transaksi riil sudah berlangsung ayaupun belum. Hutang dalam kelmpok ini adalah a. Hutang dagang. b. Hutang wesel. c. Hutang gaji

Hutang dagang : hutang yang berasal dari pembelian barang dagangan atau bahan utama. Jumlahnya dapat diketahui ketika timbul transaksi pembelian, baik barang sudah diterima ataupun belum. Ada 2 metode pencatatan hutang dagang: a. Metode kotor (tanpa memperhitungkan potongan pembelian). Contoh :
1.
Description 1 April, Pembelian barang dagang Rp. 1.000.000 syarat 2/10, n 30 8 April, Dibayar hutang 1 April sebesar Rp. 500.000 25 April, Dibayar hutang 1 April sebesar Rp. 500.000 Entries Persediaan Rp. 1.000.000 Hutang Dagang Rp. 1.000.000 Hutang Dagang Rp. 500.000 Pot Pembelian Rp. 10.000 Kas Rp. 490.000 Hutang Dagang Rp. 500.000 Kas Rp. 500.000

b. Metode bersih (memperhitungkan potongan pembelian). Di dalam metode bersih, baik persediaan maupun hutang diketahui sebesar jumlah dalam faktur dikurangi pot pembelian yang sudah/mungkin akan diterima. Potongan yang tidak di manfaatkan merupakan kerugian. Contoh :
Description Entries

1 April, Pembelian barang dagang Rp. 1.000.000 syarat 2/10, n 30


8 April, Dibayar hutang 1 April sebesar Rp. 490.000

Persediaan Rp. 980.000 Hutang Dagang Rp. 980.000


Hutang Dagang Rp. 490.000 Kas Rp. 490.000

25 April, Dibayar hutang 1 April sebesar Rp. 500.000

Hutang Dagang Rp. 490.000 Kas Rp. 490.000 Rugi Pot Pemb Gagal di manfaatkan Rp. 10.000 Hutang dagang Rp. 10.000

2. Hutang wesel adalah hutang yang diperkuat dengan perjanjian tertulis diantara ke dua belah pihak. Dalam hutang wesel ada 2 kemungkinan: a. Hutang wesel berbunga. Disini nilai nominal dicatat sebagai hutang wesel, sedangkan pada saat pembayaran dilakukan timbul dua hal yang harus dilunasi yaiyu nilai nominal dan bunga. b. Hutang wesel tidak berbunga. Disini jumlah yang diakui sebagai hutang adalah present value (nilai sekarang) dari nilai nominal wesel. Selisih antara nilai nominal dan nilai sekarang adalah bunga. Contoh : Hutang wesel, nilai nominal Rp. 1.000.000, jatuh tempo dalam waktu 60 hari. a. Bunga 12% per tahun b. Tidak berbunga. Bunga umum 12%

Description 1. Pada waktu pengeluaran wesel *) 0.9706 x Rp. 1,000.000 = Rp. 970.600

Wesel berbunga Kas/persediaan Rp. 1.000.000 Htg wesel Rp. 1.000.000

Wesel tdk berbunga Rp. 970.600*) Rp. 970.600

2. Pada waktu pelunasan htg wesel *) 60/360 x 12% x Rp. 1.000.000 = Rp. 20.000

Htg wesel Rp. 1.000.000 Bunga Rp. 20.000*) Kas Rp. 1.020.000

Rp. 970.600 29.400 Rp. 1.000.000

3. Hutang gaji adalah hutang yang timbul karena dibayarnya gaji pegawai. Misalnya gaji pegawai untuk bulan Desember baru di bayar pada tgl. 5 January. Timbulnya hutang gaji dicatat sebagai berikut : Biaya gaji Rp. xxx Hutang gaji Rp. Xxx

2. Hutang Yang Jumlahnya Tergantung kepada hasil operasi


Jumlah hutang dalam kelompok ini tergantung kepada hasil operasi perusahaan meliputi : 1. Hutang Bonus. adalah hutang yang timbul karena keputusan manajemen utk memberikan bonus kpd karyawannya. Bonus diberikan biasanya utk memotivasi karyawan

agar meningkatkan prestasi kerjanya. Contoh : Sebuah perusahaan memperoleh laba Rp. 5.000.000, sebelum bonus dan pajak, tarif pajak 40% dan tarif bonus 10%. a. Jika bonus dihitung dari laba sebelum pajak dan bonus, maka: Biaya bonus : 10% x Rp. 5.000.000 = Rp. 500.000 Biaya pajak : 40% x (Rp. 5.000.000 Rp. 500.000) Rp. 1.800.000. Pencatatannya adalah sbb.: Biaya Bonus Rp. 500.000 Biaya pajak Rp. 1.800.000 Hutang bonus Rp. 500.000 Hutang pajak Rp. 1.800.000

b. Jika bonus dihitung dari laba sesudah pajak tetapi sebelum bonus maka : Biaya bonus : 0,10 (Rp. 5.000.000 pajak) Biaya pajak : 0,40 (Rp. 5.000.000 bonus) Bonus = 0,10 {Rp.5.000.000 0,40 ( Rp. 5.000.000 Bonus)} Bonus = (Rp. 5.00.000 Rp. 2.00.000+0,04 Bonus) Bonus - 0,04 Bonus = Rp. 300.000 0,96 Bonus = Rp. 300.000 Jadi Bonus = Rp 312.500 Pajak = 0,40 ( Rp. 5.000.000 Rp. 312.500) = Rp. 1.875.000 Pencatatannya adalah sbb.: Biaya Bonus Rp. 312.500 Biaya pajak Rp. 1.875.000 Hutang bonus Rp. 312.500 Hutang pajak Rp. 1.875.000

c. Jika bonus dihitung dari laba sesudah pajak sesudah bonus maka : B = 0,10 (Rp. 5.000.000 B - P) P = 0,40 (Rp. 5.000.000 B ) B = 0,10 (Rp.5.000.000 B 0,40 ( Rp. 5.000.000 B) B = 0,10 (Rp.5.000.000 B Rp. 2.000.000 + 0,4 B) B = Rp. 5.00.000 0,1 B - Rp. 2.00.000 + 0,04 B) B = Rp. 300.000 0,06 B B + 0,06 B = Rp. 300.000 1,06 B = Rp. 300.000 Jadi Bonus = Rp 283.019 Pajak = 0,40 ( Rp. 5.000.000 Rp. 283.019) = Rp. 1.886.791 Pencatatannya adalah sbb.: Biaya Bonus Rp. 283.019 Biaya pajak Rp. 1.886.792,40 Hutang bonus Rp. 283.019 Hutang pajak Rp. 1.886.792,40

2. Hutang pajak penghasilan. adalah hutang yang timbul karena belum dibayarnya pajak penghasilan periode tertentu, misalnya pajak penghasilan tahun 2010 baru akan dibayar pada 31 Maret 2011. Contoh : Contoh penentuan dan pencatatan pajak penghasilan dapat dilihat pada pembahasan hutang bonus di muka.

3. Hutang Yang Jumlahnya Ditaksir


Hutang jenis ini adalah hutang yang pasti ada, tetapi besarnya tergantung kepada kejadian di masa yang akan datang. Jumlah hutang jenis ini harus ditaksir dan sebesar taksiran tersebut akan disajikan di dalam laporan keuangan. Hutang yang jumlahnya ditaksir meliputi :

1. Hutang hadiah. Perusahaan yang menawarkan hadiah bagi konsumen harus menaksir biaya hadiah yang akan diberikan. Biaya hadiah suatu periode yang hadiahnya belum diambil pada periode tersebut diakui sebagai hutang hadiah. Contoh : PT. ABC akan memberikan hadiah piring indah kepada pelanggan yang mengembalikan 10 kotak bekas pembungkus produknya. Penjualan tahun 2010 sebesar 100.000 bungkus. Ditaksir 60% pelanggan akan mengambil hadiah. Karena itu, dibeli persediaan hadiah sebesar 6.000 piring @ Rp. 150, Harga jual produk @ Rp. 250. Hadiah yang diambil pada tahun 2010 adalah 4.000 piring.

TRANSAKSI 1. Penjualan produk 100.000 x Rp, 250 = Rp.25.000.000 2. Pembelian hadiah = 60% x 100.000 x 10 Rp.150 = Rp. 900.000 3. Penyerahan hadiah = 4.000 x Rp. 150 = Rp. 600.000

JURNAL Kas/Piutang Rp. 25.000.000 Penjualan Rp. 25.000.000 Persediaan hadiah Rp. 900.000 Has/Hutang Rp. 900.000 Biaya hadiah Rp. 600.000 Persediaan hadiah Rp. 600.000

4. Pengakuan hadiah: Biaya hadiah Rp. 300.000 Jlh hadiah 6000 x Rp.150= Rp. 900.000 Hutang hadiah Rp. 300.000 Hadiah sdh diambil = Rp. 600.000 Jika pada tahun 2011 timbul transaksi berikut : Taksiran hutang hadiah = Rp. 300.000

1. Hadiah yang diambil pada thn 2011 sebanyak 1.500 piring 2. Hadiah yang diambil pada thn 2011 sebanyak 2.400 piring Maka pencatatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1.a. Hutang hadiah Rp. 225.000 Persediaan hadiah Rp. 225.000 1.b. Hutang hadiah Rp. 75.000 Laba kelebihan taksiran hutang hadiah Rp. 75.000 2. Hutang hadiah Rp. 300.000 Biaya hadiah Rp. 60.000*) Persediaan hadiah Rp. 360.000 *) Dibeli lagi 400 piring untuk hadiah. 2. Hutang Garansi. Garansi adalah jaminin atas mutu barang yang dijual perusahaan, sehingga apabila barang yang telah dibeli pelanggan tidak sesuai dengan pedoman/kualitas, maka perusahaan akan memperbaikinya. Garansi harus diperkirakan di muka, yaitu kemungkinan timbulnya biaya untuk perbaikan.

Dalam akuntansi garansi, perusahaan dapat memperlakukan garansi dengan pendekatan : a. Garansi diakui sebagai biaya. Apabila garansi diakui sebagai biaya, maka taksiran pengeluaran perbaikan dicatat sebagai biaya ketika dapat ditaksir jumlahnya. Taksiran biaya garansi tersebut diakui sebagai hutang. b. Garansi diakui sebagai penghasilan. Apabila garansi diakui sebagai penghasilan maka hasil penjualan tidak seluruhnya diakui. Penjualan sejumlah tertentu diakui sebagai penghasilan masih dalam garansi. Rekening ini akan diakui sebagai penghasilan garansi ketka pelanggan mengambil hak garansinya. Biaya yang dikeluarkan diakui sebagai biaya garansi ketika biaya tersebut terjadi.

Contoh : PT. ABC memproduksi radio. Pada tahun 2010 dijual 1.000 unit radio @ Rp. 5.000. Ditaksir biaya garansi total Rp. 2.000.000. Pada tahun 2010, garansi yang dimanfaatkan konsumen Rp. 80.000 dan sisanya pada tahun 2011.

TRANSAKSI 2010: a. Penjualan Radio

DIANGGAP BIAYA Kas Rp. 5.000.000 Penjualan Rp. 5.000.000

DIANGGAP PENGHASILAN Kas Rp. 5.000.000 Penjualan Rp. 4.800.000 Pengh msh dlm grnsi Rp. 200.000 By garansi Rp. 80.000 Kas,bahan dll. Rp. 80.000 Pengh msh Dlm garansi Rp. 80.000 Pengh garansi Rp. 80.000 Tidak ada jurnal

b. Perbaikan dalam garansi Rp.80.000

Biaya garansi Rp. 80.000 Kas/bahan dll Rp. 80.000

c. Penyesuaian akhir tahun taksiran grns : (Rp.2.000.000 Rp. 80.000)

Biaya garansi Rp. 120.000 Utang Garansi Rp. 120.000

2011: Perbaikan dalam rangka garansi

Htg grns Rp.120.000 Kas, bahan dll Rp. 120.000

Pengh msh dlm garansi Rp.120.000 Pengh grns Rp.120.000 By Garansi Rp. 120.000 Kas, bahan dll Rp. 120.000

Penggolongan hutang jangka pendek (Arens & Loebbecke; 1999)

Hutang usaha yang timbul dari transaksi pembelian bahan baku dan bahan penolong, suku cadang, dan bahan habis pakai pabrik (account payable, notes payable) Uang jaminan masuk dari pelanggan Uang yang timbul dari berlalunya waktu (accrued payable) Hutang yang timbul kepada pihak ketiga karena perusahaan ditunjuk sebagai pemungut pajak atau iuran yang lain Hutang lain yang diperkirakan akan dilunasi dalam jangka waktu pendek seperti hutang bank, hutang dividen, hutang jangka panjang yang akan jatuh tempo.

Perbedaan karekteristik hutang lancar dan aktiva lancar terhadap

pengujian substantifnya

Aktiva lancar, klien cenderung untuk menyajikan lebih tinggi dari jumlah yang sesungguhnya. Kecenderungan ini seringkali didorong oleh motif untuk memberikan gambaran modal kerja yang lebih baik. Lain halnya dengan hutang lancar, umumnya dengan cara tidak mencatat hutang lancar sehingga sering terdapat hutang yang seharusnya dicatat namun tidak dicatat pada tanggal neraca (unrecorded liabilities) . Oleh karena itu, bentuk pengujian substantifnya ditujukan untuk menemukan adanya penyajian hutang lancar yang lebih rendah dari jumlah yang seharusnya.

Perbedaan karakteristik..

Dalam menyajikan aktiva lancar, klien menghadapi masalah penilaian unsur unsur aktiva lancar per tanggal neraca, auditor menghadapi masalah kewajaran nilai aktiava lancar, sedangkan dalam hutang lancar, klien menghadapi fakta di dalam menyajikan hutang lancar.

Contoh transaksi hutang yang belum dicatat pada tanggal neraca

Auditor menemukan sebuah faktur sebesar Rp 7.000.000 bertanggal 30 Desember 2005, dengan syarat pembelian FOB shipping point. Barang telah dikirim oleh pemasok pada tanggal 30 Desember 2005, tetapi baru diterima oleh klien pada tanggal 4 Januari 2006 dan dicatat oleh klien sebagai pembelian pada tangggal 4 Januari 2006

Maka AJP per tanggal 31 Desember 2005 adalah sebagai berikut Pembelian Hutang usaha Rp 7.000.000 Rp 7.000.000

Tujuan audit terhadap hutang jangka pendek


Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan hutang lancar Membuktikan keberadaan hutang lancar dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan hutang lancar yang dicantumkan di neraca Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo hutang lancar yang disajikan di neraca Membuktikan kewajiban klien yang dicantumkan di neraca Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan hutang lancar di neraca

Konfirmasi hutang lancar


Merupakan prosedur yang tidak harus ditempuh (bukan merupakan mandatory procedure), karena :

Tujuan utama pengujian substantif terhadap hutang lancar adalah untuk menemukan adanya unrecorded liabilities. Konfirmasi hutang lancar didasarkan pada hutang lancar yang telah tercatat, sehingga konfirmasi tidak dapat menentukan keberadaan hutang usaha yang belum dicatat pada tanggal neraca Konfirmasi dilakukan untuk memperoleh bukti dari pihak luar yang dapat dipercaya. Dalam hal ini bisa diperoleh berupa faktur dari pemasok dan pernyataan piutang dari kreditur Kebanyakan hutang lancar yang tercatat pada tanggal neraca telah dibayar klien sebelum auditor menyelesaikan pekerjaan lapangannya. Pembayaran ini merupakan bukti adanya hutang lancar pada tanggal neraca

Prosedur konfirmasi hutang lancar ditempuh oleh auditor jika dua kondisi berikut ini terdapat di dalam perusahaan yang diaudit :

Pengendalian terhadap hutang lancar lemah Dalam pengujian substantif tidak dapat dijumpai adanya pernyataan piutang dari kreditur

Prinsip akuntansi berterima umum dalam penyajian hutang lancar di neraca Setiap jenis hutang lancar harus disajikan secara terpisah, jika jumlahnya material Hutang kepada perusahaan afiliasi, pemegang saham, dan karyawan perusahaan harus dipisahkan dari hutang kepada pihak ketiga yang independen Aktiva yang dijaminkan dalam penarikan hutang lancar harus diungkapkan dalam laporan keuangan Aktiva dan hutang tidak boleh digabungkan penyajiannya dalam jumlah neto Hutang bersyarat harus dijelaskan dalam neraca

Jika prosedur konfirmasi dilakukan, kreditur yang dipilih untuk dikirimi surat konfirmasi adalah :

Kreditur yang telah melakukan penjualan yang besar kepada klien dalam tahun yang diaudit Kreditur yang memiliki akun berisi transaksi yang luar biasa sifatnya Kreditur yang mempunyai hubungan istimewa dengan klien

TUGAS : Toko ABC menjual kue Istimewa. Setiap membeli 2 bungkus roti diberi hadiah satu pisau roti dengan hanya membayar Rp.500 (harga pisau Rp.1.000). Harga pokok pisau Rp. 750 per buah. Berikut ini data tahun 2008 dan 2009.
2008 Penjualan roti @ Rp. 1.250 Pembelian pisau Hadiah diambil (pisau) Taksiran hadiah akan diambil Rp. 31.250.000 1.012.500 10.000 unit 2.000 unit 2009 Rp. 37.500.000 900.000 14.500 unit 2.000 unit

Diminta : 1. Buatlah jurna-jurnal tahun 2008 dan 2009 2. Sajikan dalam Neraca tahun 2008 dan 2009.

Obligasi adalah hutang jangka panjang dimana dalam hal ini, debitur mengeluarkan surat tanda hutang dengan mencantumkan hasil yang akan diberikan secara periodik. Dalam surat obligasi akan dicantumkan nilai nominal obligasi serta tanggal jatuh tempo atau waktu obligasi akan dilunasi. Jenis-Jenis Obligasi. Dalam hal pengeluaran obligasi, perusahaan yang akan menarik uang dengan mengeluarkan tanda hutang obligasi dapat memilih jenis obligasi tertentu yang ingin dikeluarkan. Jenis obligasi banyak macamnya yaitu : 1. Term bond, yaitu obligasi yang tanggal jatuh temponya bersamaan untuk seluruh obligasi yang dikeluarkan. 2. Serial bond, yaitu obligasi yang dikeluarkan bersamaan, tetapi tanggal jatuh temponya terjadi secara bertahap. 3. Collateral trust bond, yaitu obligasi yang dijamin dengan surat berharga dari perusahaan lain. 4. Debenture bond, yaitu obligasi yang tidak dijamin. 5. Convertible bond, yaitu obligasi yang pada waktu tertentu dapat ditukar dengan suray berharga, misalnya saham. 6. Commodity back bond, yaitu obligasi yang pada saat jatuh tempo akan dilunasi dengan persediaan atau barang-barang hasil produksi. 7. income bond, yaitu obligasi yang bunganya tergantung kepada laba rugi perusahaan.

8. Collable bond, yaitu obligasi yang dapat dilunasi setiap saat. 9. Registered bond,yaitu obligasi yang nama dan alamat pemiliknya dicatat ketika membeli, sehingga bunga dapat dikirim kepada pemilik. 10. Bearer and coupon bond, yaitu obligasi yang nama dan alamat pemegangnya tidak dicatat oleh perusahaan, sehingga siapa saja dapat menerima bunga obligasi.

Akuntansi Pengeluaran Obligasi. Pada saat dikeluarkan oligasi, perusahaan akan mencatat debit untuk kas yang diterima dan hutang obligasi dikredit sebesar nilai nominalnya. Selisih antara nilai/harga jual dan nilai nominal diakui sebagai diskonto atau premium. Ada dua kemungkinan dalam menentukan harga jual obligasi yaitu : 1. Harga jual ditentukan berdasarkan kurs tertentu. Dengan cara ini maka akan diketahui diskonto atau premium dari harga penjualan obligasi tersebut dengan melihat selisih antara kurs penjualan dengan nilai nominal obligasi yang dinyatakan dalam 100%.

Contoh : PT. ABC mengeluarkan 10.000 lbr. Obligasi pada tgl. 1 April 2010 dengan nilai nominal per lbr. Rp. 10.000 dan kurs 98%. Berarti ada diskonto sebesar 2%. Dari contoh ini perusahaan akan mencatat sbb.: Kas Rp. 98.000.000 Diskonto obligasi Rp. 2.000.000 Hutang obligasi Rp. 100.000.000 2. Harga jual ditentukan berdasarkan bunga efektif. Apabila obligasi dikeluarkan dan harga jualnya ditentukan berdasarkan bunga efektif misalnya 10%, 12% dsb. maka penentuan adanya diskonto atau premium dapat dilihat dengan cara sebagai berikut:

a. Jika bunga efektif > bunga nominal maka berarti obligasi dijual dengan menimbulkan diskonto. b. Jika bunga efektif < bunga nominal, maka berarti obligasi dijual dengan menimbulkan premium. Contoh : PT. ABC mengeluarkan 1.000 lbr. Obligasi pada tgl. 1 Maret 2010 dengan nilai nominal per lbr. Rp. 1.000 dan Bunga nominal 12%. Dijual dengan bunga 10%. Umur obligasi 4 tahun. Hasil penjualan obligasi dihitung sbb.: Nominal Rp. 1000.000 x 0,6830 (i = 0,1; n = 4) = Rp. 683.000 Bunga Rp.120.000 x 3,1669 (i = 0,1; n = 4) 328.028 Hasil Penjualan Rp. 1.063.028

Penjualan tersebut akan dicatat sbb.: Kas Rp. 1.063.028 Hutang obligasi Rp. 1.000.000 Premium obligasi Rp. 63.028 Biaya Pengeluaran Obligasi Setiap pengeluaran obligasi perusahaan akan selalu mengeluarkan pula biaya persiapan dan pengeluaran obligasi, seperti biaya pencetakan surat obligasi, biaya notaris dsb. Atas biaya-biaya tersebut akan dicatat terpisah dengan hasil pengeluaran obligasi dan apabila jumlahnya cukup material, maka akan dilakukan amortisasi selama umur obligasi. Contoh :

PT.ABC mengeluarkan 100.000 lbr. Obligasi nilai nominal Rp. 1000 per lbr., dan berumur 5 tahun. Untuk pengeluaran obligasi tersebut telah dikeluarkan biaya sebesar Rp. 1.000.000 maka pengeluaran tersebut dicatat sbb.: Biaya pengeluaran obligasi ditentukan di muka Rp. 1.000.000 Kas Rp. 1.000.000 Amortisasi tiap tahun dicatat sbb.: Biaya pengeluaran obligasi Rp. 200.000 Biaya pengeluaran obligasi ditentukan di muka Rp. 200.000 Amortisasi Diskonto Dan Premium Apabila penjualan obligasi menimbulkan diskonto atau premium, maka jumlah premium atau diskonto

harus diamortisasi selama umur obligasi dengan metode tertentu. Amortisasi tsb. harus dibebankan kepada biaya bunga periodik dan menjadi beban penghasilan periodik. Ada dua metode amortisasi diskonto/premium yang dapat dipilih oleh perusahaan yaitu : 1. Metode garis lurus. Apabila metode ini yang digunakan maka jumlah amortisasi akan dibebankan secara proporsional dengan waktu dan akan dicatat : Diskonto : Biaya bunga obligasi Rp. xxx Diskonto obligasi Rp. xxx Premium : Premium obligasi Rp. Xxx Biaya bunga obligasi Rp. xxx

Contoh (Diskonto): PT. ABC mengeluarkan 10.000 lbr obligasi pada tgl. 1 Januari 2008, nilai nominal obligasi Rp.10.000 per lbr., bunga nominal 12% per tahun, dibayar tiap 1 Januari dan 1 July. Obligasi dijual dengan kurs 98%. Umur obligasi 5 tahun. Jurnal penjualan obligasi : Kas Rp. 98.000.000 Diskonto obligasi Rp. 2.000.000 Hutang obligasi Rp. 100.000.000 Jurnal biaya bunga obligasi : Biaya bunga obligasi Rp. 6.000.000(6 bulan) Kas Rp. 6.000.000 Jurnal amortisasi diskonto : Biaya bunga obligasi Rp. 400.000 Diskonto obligasi Rp. 400.000*)

*) Rp. 2000.000 /5 tahun = Rp. 400.000 Contoh (Premium): PT. ABC menjual obligasi 1000 lbr. Nilai nominal Rp. 1.000 per lbr. Umur 6 tahun, bunga nominal 15% dengan kurs 104% pada tgl. 1 April 2008, bunga dibayar tiap tgl. 1 April dan 1 Oktober. Jurnal pengeluaran obligasi : Kas Rp. 1.040.000 Premium obligasi Rp. 40.000 Hutang obligasi Rp. 1.000.000 Jurnal pengeluaran biaya bunga obligasi : Biaya bunga obligasi Rp. 112.500*) Kas Rp. 112.500 Jurnal amortisasi premium : Premium obligasi Rp. 5.000**) Biaya bunga obligasi Rp. 5.000

*) 9/12 x Rp. 1.000.000 x 15% **) 9/12 x (Rp. 40.000 /6 tahun) = Rp. 5.000 2. Metode bunga efektif. Dalam metode ini, maka amortisasi tiap periode dihitung berdasarkan skema berikut ini : Persentase bunga efektif x nilai buku obligasi awal Rp. A Persentase bunga nominal x nilai nominal obligasi Rp. B Amortisasi diskonto/premium (A - B) Rp. C Contoh Diskonto: Pada tgl. 1 January 2008, PT. ABC mengeluarkan obligasi 10.000 lbr. Nilai nominal Rp. 1.000 per lbr. umur 5 tahun, bunga nominal 12%. Bunga dibayar tiap tgl. 1 January dan 1 July. Harga penjualan dinyatakan dalan bunga pasar 14 %.

Jurnal penjualan : Kas Rp. 9.313.720 Diskonto obligasi Rp. 686.280 Hutang obligasi Rp. 10.000.000 Perhitungannya : Nilai nominal obligasi = Rp. 10.000.000 x 0,5194 = Rp. 5. 194.000 Biaya bunga 5 tahun = Rp. 1.200.000 x 3,4331 = Rp. 4.119.720 Harga jual obligasi Rp. 9.313.720 Nilai Nominal Rp. 10.000.000 Diskonto obligasi Rp. 686.280 Jurnal pengeluaran biaya bung obligasi (2 kali setahun): Biaya bunga obligasi Rp. 1.200.000 Kas Rp. 1.200.000

Jurnal amortisasi diskonto : Biaya bunga obligasi Rp.103.921 Diskonto obligasi Rp.103.921 Perhitungannya : Bunga efektif = Rp. 9.313.720 x 14% = Rp.1.303.921 Bunga nominal = Rp. 10.000.000 x 12%= Rp.1.200.000 Amortisasi diskonto Rp. 103.921 Contoh premium: Pada tgl. 1 April 2008, PT. ABC mengeluarkan 10.000 lbr. Obligasi nilai nominal per lbr. Rp. 1.000 bunga nominal 12% per tahun dibayar tiap tgl. 1 April dan 1 Oktober, umur obligasi 5 tahun, dijual pada bunga efektif 10%.

Jurnal penjualan : Kas Rp.10.630.280 Premium obligasi Rp 630.280 Hutang obligasi Rp. 10.000.000 Perhitungannya : Nilai nominal obligasi = Rp.10.000.000 x 0,6830 = Rp. 6.830.000 Biaya bunga 5 tahun = Rp. 1.200.000 x 3,1669 = Rp. 3.800.280 Harga jual obligasi Rp.10.630.280 Nilai nominal Rp. 10.000.000 Premium obligasi Rp. 630.280 Jurnal pengeluaran biaya bunga obligasi (6/12 x Rp.10.000.000 x 12%) : Premium obligasi Rp. 600.000 Kas Rp. 600.000

Jurnal amortisasi premium Premium obligasi Rp 68.486 Biaya bunga obligasi Rp. 68.486 Perhitungannya : Bunga efektif = Rp.10.630.280 x 10% x 6/12 = Rp. 531.514 Bunga nominal = Rp. 10.000.000 x 12% x 6/12 = Rp. 600.000 Amortisasi premium Rp. 68.486 OBLIGASI BERSERI Diskonto atau premium atas penjualan obligasi berseri akan diamortisasi berdasarkan metode Jumlah Nilai Peredaran, yaitu amortisasi terhadap diskonto atau premium dilakukan secara proporsional dengan jumlah obligasi yang beredar,

Secara skematis amortisasi dengan metode jumlah nilai peredaran adalah : Jumlah obligasi beredar tahun berjalan x D/P Jlh kumulatif oblg beredar selama umur oblg Contoh : Pada tgl. 1 January 2004 PT. ABC mengeluarkan 3 kelompok obligasi berseri. Tiap kelompok terdiri dari 1000 lbr. Dengan nilai nominal per lbr. Rp. 10.000. Masing-masing kelompok akan jatuh tempo sbb.: 1.000 lbr. 31 Desember 2006 1.000 lbr. 31 Desember 2007 1.000 lbr. 31 Desember 2008 Harga jual obligasi tsb. adalah 106% dari nilai nominalnya. Premium obligasi tsb. adalah :

Harga jual = Rp. 10.000 x 3000 lbr. X 106% = Rp. 31.800.000 Nilai nominal obligasi = 3.000 x Rp. 10.000 ( 30.000.000 ) Premium obligasi 1.800.000 Amortisasi premium obligasi :
TAHUN 1/1 2004 2004 2005 2006 2007 2008 JLH PEREDARAN 3.000 3.000 3.000 2.000 1.000 12.000 PROPORSI 3/12 3/12 3/12 2/12 1/12 12/12 3/12 x Rp.1.800.000 = 3/12 x Rp.1.800.000 = 3/12 x Rp.1.800.000 = 2/12 x Rp.1.800.000 = 1/12 x Rp.1.800.000 = AMORTISASI PREMIUM Rp. 450.000 Rp. 450.000 Rp. 450.000 Rp. 300.000 Rp. 150.000 Rp. 1.800.000

PELUNASAN HUTANG OBLIGASI Ada 3 kemungkinan obligasi dihapuskan dari rekening obligasi, yaitu : 1. Obligasi dilunasi karena jatuh tempo Apabila obligasi jatuh tempo, maka menjadi kewajiban debitur untuk melunasi jumlah nominal obligasi tersebut. Atas pelunasan tersebut akan dicatat : Hutang obligasi Rp. xxx Kas Rp. xxx Contoh : 1.000 lbr. obligasi dengan nilai nominal Rp. 1.000, dilunasi pada tgl. Jatuh temponya yaiutu 31/12/2008 Jurnalnya: Hutang obligasi Rp. 1000.000 Kas Rp. 1.000.000

2. Obligasi dilunasi sebelum jatuh tempo Apabila jenis obligasi adalah collable bond, maka perusahaan yang mengeluarkan obligasi dapat menarik obligasi tsb. Sebelum jatuh tempo. Hal ini dimungkinkan karena perusahaan ingin memperbaiki komposisi modalnya. Penarikan obligasi tsb. Dapat dilakukan berdasarkan kurs yang ditentukan perusahaan atau berdasarkan bunga efektif pada waktu itu. Dalam hal penarikan obligasi dilakukan sebelum jatuh tempo, maka diskonto atau premium obligasi yang belum diamortisasi juga dihapuskan dari rekening, sehingga dalam penarikan ini akan timbul laba atau rugi.

Contoh 1: Pada tgl. 1 January 2006 dikeluarkan 1.000 lbr. Obligasi dengan kurs 98%, nilai nominal per lbr. Rp.10.000, obligasi 5 tahun. Pada tgl. 31 Desember 2008, seluruh obligasi ditarik pada nilai nominalnya. Jurnal pada saat pengeluaran : Kas Rp. 9.800.000 (1.000xRp.10.000x 98%) Disk Oblg Rp. 200.000 Hutang obligasi Rp. 10.000.000 Jurnal pelunasan : Hutang obligasi Rp. 10.000.000 Rugi pelunasan Rp. 80.000 Diskonto obligasi Rp. 80.000 Kas Rp. 10.000.000

Perhitungannya : Nilai buku htg obligasi 1 Januari 2006 Rp. 9.800.000 Amortisasi diskonto 2006 2008 3 x Rp. 200.000/5 120.000 Nilai buku obligasi 31 Des 2008 Rp. 9.920.000 Nillai pelunasan 1.000 x Rp. 10.000 10.000.000 Rugi pelunasan Rp. 80.000 Contoh 2: Pada tgl. 1 January 2007 PT. ABC mengeluarkan obligasi 1.000 lbr., nilai nominal Rp. 10.000 per lbr. Bunga nominal 15%, dijual dgn bunga efektif 14%, umur obligasi 4 tahun. Pada tgl. 31 Des 2008 obligasi dilunasi dgn bunga efektif 16%. Amortisasi menggunakan metode bunga efektif.

Perhitungannya : a. Mencari premium obligasi : Nilai nominal obligasi Rp. 10.000.000 Harga pasar : Nominal Rp.10.000.000 x 0,5921 = Rp. 5.921.000 Bunga Rp. 1.500.000 x 2,9137 = Rp. 4.370.550 (Rp. 10.291.550) Premium obligasi Rp. 291.550 b. Amortisasi premium 2007 dan 2008: 2007 : Bunga nominal:15%xRp.10.000.000=Rp.1.500.000 Bunga efektif : 14%xRp.10.291.550 = ( 1.440.817) Amortisasi 2007 Rp. 59.183

2008 : Bunga nominal:15%xRp.10.000.000=Rp.1.500.000 Bunga efektif : 14%x(Rp.10.291.550 Rp.59.183) =Rp.1.432.531 Amortisasi 2008 Rp. 67.469 Amortisasi 2007 + 2008 Rp. 126.652 c. Premium belum diamortisasi : Rp. 291.550 Rp. 126.652 Rp. 164.898 d. Mencari harga pelunasan : Nominal (i = 0,16; n = 2)= Rp. 10.000.000 x 0,7432 Rp.7432.000 Bunga (i = 0,16; n = kum 2) = Rp. 1.500.000 x 1,6052 Rp.2.407.800 Harga pelunasan Rp 9.839.800

e. Laba/Rugi pelunasan : Nilai buku : Rp. 10.291.550 Rp. 126.652 = Rp.10.164.898 Harga pelunasan ( 9.839.800) Laba pelunasan Rp. 325.098 f. Jurnal pelunasan : Hutang obligasi Rp. 10.000.000 Premium obligasi 164.898 Kas Rp. 9.839.800 Laba pelunasan 325.098 PENYAJIAN HUTANG OBLIGASI DALAM NERACA Pada saat penyusunan laporan keuangan periodik, hutang obligasi harus dicantumkan di dalam Neraca sebesar nilai bukunya.

Pencantuman yang benar adalah dengan menyajikan nilai nominal jatuh tempo dikurangi/ditambah premium/diskonto yang belum diamortisasi. Secara skematis, pencantuman hutang obligasi pada neraca adalah sebagai berikut : Premium : Hutang obligasi Rp. xxxxx Dikurangi: Premium obligasi ( xxxxx ) Rp. xxxxx Diskonto : Hutang obligasi Rp. xxxxx Ditambah: Diskonto obligasi xxxxx Rp. xxxxx

TUGAS : PT. ABC mengeluarkan 300 lbr. Obligasi, nilai nominal Rp. 10.000 per lbr. Dengan bunga per tahun 7%, umur 10 tahun. Jenis obligasi adalah nonconvertible bond, harga yang ditentukan adalah 103%, penjualan dilakukan pada tgl. 3 Januari 2009. Setiap pembelian 1 lbr. Obligasi berhak menerima 1 lbr. Hak beli saham yang dapat digunakan untuk membeli 20 lbr. Saham PT. ABC. Pada saat obligasi dikeluarkan, harga pasar hak beli saham adalah Rp. 450 dan obligasi mempunyai kurs 99%. Harga pasar saham pada waktu itu adalah Rp. 250 per lbr, nilai nominal Rp. 100 per lbr. Diminta : 1. Buat jurnal pengeluaran obligasi 2. Buat jurnal ketika saham dikeluarkan (anggap semua hak beli saham dipergunakan)