Anda di halaman 1dari 4

LTM I MODUL INDERA RABUN SENJA (Nyctalopia / Night Blindness) Oleh: Anggi P N Pohan, 0906487695

Nyctalopia atau disebut dengan night blindness, dalam bahasa Indonesianya dikenal dengan rabun senja, adalah kesulitan melihat ketika gelap. Nyctalopia merupakan simptom defisiensi vitamin A. Nyctalopia merupakan kelainan mata dimana terdapat gangguan penglihatan pada saat gelap atau malam hari. Hal ini disebabkan karena kekurangan visual purple (rhodopsin) di bagian sel batang (sel yang sensitif terhadap cahaya) di retina yang berada di belakang mata. Nyctalopia biasanya terjadi terjadi sebagai akibat dari retinitis pigmentosa, yangmerupakan penyakit degeneratif yang terjadi di retina. Rhodophin biasanya berkurang apabila ada defisiensi vitamin A. Nyctalopia juga bisa disebabkan oleh chorodoretinitis dan glaukoma. Seseorang yang mengalami Nyctalopia tidak hanya sulit melihat ketika gelap / malam hari, tetapi mereka juga membutuhkan waktu untuk mata mereka untuk beradaptasi dari perubahan cahaya terang ke cahaya gelap. Nyctalopia yang disebabkan oleh defisiensi vitamin A dapat diobati dengan terapi vitamin yang sesuai dengan dosisnya. Namun, pada beberapa tipe yang merusak retina, seperti retinitis pigmentosa, biasanya bersifat ireversibel. Jadi secara keseluruhan, penyebab dari Nyctalopia disebabkan oleh dua kategori : bisa diobat dan tidak bisa diobati. 1 Penyebab yang bisa diobati :

2

  • 1. Katarak area berkabut lensa mata

  • 2. Nearsigtedness

  • 3. Penggunaan obat-obatan

  • 4. Defisiensi vitamin A menyebabkan kerusakan pada retina dan membuat mata menjadi kering Penyebab yang tidak bisa diobati :

  • 1. Kongenital

  • 2. Retinitis pigmentosa Untuk mendiagnosis Nyctalopia, bisa dilakukan dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Adapun

anamnesis yang biasanya dokter tanyakan antara lain :

2

  • 1. Kapan Nyctalopia mulai terjadi ?

  • 2. Nyctalopia terjadi secara tiba-tiba atau secara bertahap ?

  • 3. Apakah Nyctalopia terjadi disetiap waktu atau hanya kadang-kadang saja?

  • 4. Seberapa parah Nyctalopianya?

  • 5. Apakah pasien mengalami nearsightedness ?

  • 6. Apakah ada perubahan dalam penglihatan ?

  • 7. Apakah ada simptom lainnya ?

  • 8. Apakah pasien stress, cemas, atau takut teradap gelap ?

  • 9. Apakah dengan menggunakan lensa koreksi dapat meningkatkan penglihatan pada malam hari ?

10. Obat-obat apa saja yang biasanya digunakan oleh pasien ?

11. Apakah sebelumnya pasien mempunyai cedera pada bagian mata atau kepala ? 12. Apakah anda mempunyai keluarga yang memiliki riwayat penyakit diabetes melitus ? Pemeriksaan mata yang bisa dilakukan, antara lain :

  • 1. Tes buta warna

  • 2. Refleks cahaya pupil

  • 3. Refraksi

  • 4. Pemeriksaan retina

  • 5. Slit Lamp examination

  • 6. Ketajaman penglihatan Tes lainnya yang bisa digunakan antara lain :

  • 2. Pemeriksaan lapang pandang 2 Faktor risiko dari Nyctalopia :

3

  • 1. Umur : Usia tua lebih berisiko untuk terkena katarak

  • 2. Genetik : retinitis pigmentosa

  • 3. Diet : Orang yang tidak mengkonsumsi vitamin A secara cukup, seperti tumbuh-tumbuhan hijau, telur, dan produk susu.

  • 4. Gangguan tubuh lainnya yang bisa menyebabkan absorbsi vitamin A menurun, seperti penyakit hati, pasca pembedahan pankreas atau hati, kondisi intestinal, bedah intestinal untuk pasien obesitas. 3

    • a. Nyctalopia pada Hipovitaminosis Vitamin A Vitamin A berfungsi mempertahankan kulit dan membran mukosa. Vitamin A juga berfungsi sebagai pertumbuhan, penguatan tulang, kesehatan kulit, rambut, gigi, dan gusi. Vitamin A memainkan dua peran yang sangat penting pada mata. Pertama adalah mempertahankan kejernihan kornea dan kedua yakni berpartisipasi dalam pengubahan energi cahaya pada impuls saraf retina. 4-6 Nyctalopia merupakan simptom awal dari defisiensi vitamin A. 1 Nyctalopia atau rabun senja dapat terjadi pada setiap orang yang mengalami defisiensi berat vitamin A (kebutuhan vitamin A adalah 1500-5000 IU/hari untuk anak-anak yang disesuaikan dengan usianya dan 5000 IU untuk dewasa). 7 Penyebab sederhana terjadinya rabun senja adalah sangat menurunnya jumlah retina dan rodopsin yang dapat dibentuk tanpa vitamin A. Keadaan tersebut disebut rabun senja sebab jumlah cahaya pada waktu malam terlalu sedikit untuk dapat menimbulkan penglihatan yang adekuat bagi orang-orang yang mengalami defisiensi vitamin A. 8 Rabun senja terjadi apabila seseorang biasanya mengalami defisiensi vitamin A selama beberapa bulan. Hal ini dikarenakan sejumlah vitamin A dalam keadaan normal disimpan di hati dan dapat digunakan untuk mata. Bila telah terjadi rabun senja, terkadang dapat disembuhkan dalam waktu kurang dari 1 jam melalui pemberian vitamin A intravena. 8

      • - Peran Vitamin A untuk Pembentukan Rodopsin (visual purple) Di dalam retina, sel batang merupakan komponen utama fotoreseptor, yang berfungsi untuk penglihatan hitam dan putih dan penglihatan di dalam gelap. Di dalam sel batang ini, terdapat rodopsin yang merupakan protein terkonjugasi (kombinasi protein skotopsin dengan pigmen karotenoid 11-cis retinal) yang peka terhadap cahaya, di mana protein tersebut akan terurai jika terpajan cahaya dan kemudian akan merangsang serabut-serabut saraf yang berasal dari mata. 8

2. Pemeriksaan lapang pandang Faktor risiko dari Nyctalopia : 3 1. Umur : Usia tua lebih

Gambar 1. Siklus Penglihatan Rodopsin-Retina 8 Gambar di atas memperlihatkan bahwa setelah mengabsorbsi energi cahaya, rodopsin segera terurai menjadi batorodopsin yang sangat tidak stabil dan menjadi lumirodopsin. Dalam sekian mikrodetik,

lumirodopsin pun berubah menjadi metarodopsin I yang selanjutnya menjadi metarodopsin II (rodopsin teraktivasi). Metarodopsin II ini lah yang merangsang perubahan elektrik dalam sel batang yang kemudian menghantarkan bayangan penglihatan ke sistem saraf pusat dalam bentuk potensial aksi nervus optikus. Selanjutnya, dalam waktu yang jauh lebih lambat, metarodopsin II akan menjadi produk pecahan akhir, yaitu skotopsin dan all-trans retinal. 8 Gambar di atas juga dapat menjelaskan peran vitamin A untuk pembentukan rodopsin. Tahap pertama

dalam pembentukan kembali rodopsin adalah mengubah all-trans retinal menjadi 11-cis retinal dengan proses:

all-trans retinal all-trans retinol (salah satu bentuk vitamin A) 11-cis retinol 11-cis retinal yang bergabung dengan skotopsin untuk membentuk rodopsin baru. Dengan demikian, vitamin A merupakan prekursor penting dalam pembentukan rodopsin. 8

  • - Hipovitaminosis Vitamin A

Vitamin A dapat dijumpai, baik di dalam sitoplasma sel batang maupun di dalam lapisan pigmen retina.

Vitamin A ini mengalami pertukaran keluar masuk melewati membran sel pada segmen luar sel batang yang tertanam di dalam lapisan pigmen. Oleh karena itu, secara normal vitamin A selalu tersedia bila diperlukan untuk pembentukan retinal yang baru. Namun, jika di dalam retina terdapat kelebihan retinal, kelebihan tersebut akan diubah kembali menjadi vitamin A, sehingga akan mengurangi jumlah pigmen peka cahaya di dalam retina. 8 Kekurangan vitamin A ini dapat terjadi pada semua usia. Namun, kekurangan yang disertai kelainan pada mata umumnya terjadi pada anak berusia 6 bulan-4 tahun, di mana biasanya disertai dengan kelainan protein kalori malnutrisi. Di samping itu, kekurangan vitamin A ini juga dapat terjadi pada pasien dengan gangguan atau penyakit gastrointestinal dan sirosis hepatis. 7 Hal yang dapat menyebabkan kekurangan vitamin A adalah: 7

  • 1. Penyebab primer, yaitu kekurangan vitamin A dalam diet

  • 2. Penyebab sekunder, yaitu gangguan absorpsi saluran cerna yang biasa terjadi pada orang dewasa.

Penderita defisiensi vitamin A ini akan mengeluh mata kering (yang disebabkan oleh berkurangnya produksi musin karena rusaknya sel goblet), seperti kelilipan, sakit, rabun senja, dan penglihatan akan turun perlahan. Gejala lainnya adalah adanya hiperkeratosis pada folikel rambut, gejala sistemik berupa retardasi

mental, terhambatnya perkembangan tubuh, apatia, kulit kering, dan keratinisasi mukosa. 7 Xerophthalmia merupakan efek dari defisiensi vitamin A yang lebih parah pada mata. Pada penyakit ini, mata menjadi sangat sensitif terhadap cahaya dan sebagai tambahan produksi dari air mata juga mengalami penurunan, sehingga lubrikasi dari mata menjadi berkurang. Hal ini bisa menyebabkan ulserasi dan infeksi pada mata. Selain nyctalopia dan atrofi, kelainan defisiensi vitamin A lainnya adalah keratinisasi jaringan epitel dan mukosa, yang terdiri dari: 7

  • a. Xerosis Konjungtiva Xerosis yang terjadi pada defisiensi vitamin A berupa kekeringan khas pada konjungtiva bulbi yang terdapat pada celah kelopak kantus eksternus. Xerosis ini merupakan xerosis epitel yang disertai dengan pergeseran dan penebalan epitel. Jika mata digerakkan, maka akan terlihat lipatan yang timbul pada konjungtiva bulbi.

  • b. Bercak Bitot Bercak bitot merupakan bercak pada konjungtiva yang kering yang berwarna seperti mutiara yang berbentuk segitiga dengan pangkal di daerah limbus. Bercak ini seperti terdapat busa di atasnya dan tidak dibasahi oleh air mata. Terdapat dugaan bahwa bentuk busa ini merupakan akibat bakteri Corynebacterium xerosis.

  • c. Xerosis Kornea, tukak kornea, keratomalasia Klasifikasi defisiensi vitamin A di Indonesia, seperti: 7

2.

Klasifikasi WHO X 1-A (xerosis konjungtiva), X 1-B (bercak Bitot dengan xerosis konjungtiva, X 2 (xerosis kornea), X 3 (xerosis dengan tukak kornea), X 3-B (Keratomalasia). Catatan: XN (rabun senja, night blindness), XF (fundus xeroftalmia), XS (parut xeroftalmia) Pemeriksaan tambahan pada penderita dengan defisiensi vitamin A adalah: 7

  • 1. Tes adaptasi gelap

  • 2. Kadar vitamin A dalam darah (kadar <20 mcg/100 ml menunjukkan kekurangan asupan). Tata laksana yang dapat dilakukan terhadap penderita defisiensi vitamin A ini adalah pemberian vitamin A dengan dosis 30.000 unit/hari selama 1 minggu. Di samping itu, perlu diberikan perbaikan gizi pasien. 7

  • b. Nyctalopia pada Pewarisan Autosom Dominan Rabun senja stasioner kongenital merupakan penyakit serius pada mata (namun jarang) yang diturunkan secara autosomal dominan. 9

2. Klasifikasi WHO X 1-A (xerosis konjungtiva), X 1-B (bercak Bitot dengan xerosis konjungtiva, X 2http://www.thirdage.com/hc/c/night-blindness-symptops . 4. Whitney E, Rolfes SR. Understanding nutrition. 12 Ed. USA : Wadsworth, Cengage Learning ; 2011. P. 354-360 5. Smith J. Steinemann TL. Vitamins A deficiency and the eye [internet]. 2011. [cited february 16 2012]. Available from: http://www.v2020la.org/pub/PUBLICATIONS_BY_TOPICS/Vitamin%20A%20deficiency/ VitaminA.pdf . 6. Linus pauling Institute. Vitamins A [internet]. 2011. [cited february 16 2012]. Available from: http://lpi.oregonstate.edu/infocenter/vitamins/vitaminA/ . 7. Ilyas S dan Yulianti SR. Ilmu penyakit mata. Edisi ke-4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;2011. Hal. 83-8, 142-4, 259-62. 8. Guyton AC, Hall JE. Textbook of medical physiology. 11 ed. Philadelphia: Elsevier saunders; 2006.p. 654-9, 661-7. 9. Eva PR and Whitcher JP. Vaughan & Asbury’s general oph thalmology.16 ed. USA:McGraw Hill;2004.p.46, 365-7. " id="pdf-obj-3-23" src="pdf-obj-3-23.jpg">

Gambar 2. Silsilah Rabun Senja stasioner kongenital (gen dominan abnormal) 9

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Diet-and-Health.net. Symptoms and causes of nyctalopia [internet]. 2011. [cited february 15 th 2012]. Available from: http://www.diet-and-health.net/Diseases/NightBlindness.html.

  • 2. MedlinePlus. Vision-night blindness [internet]. 2010. [cited february 15 th 2012]. Available from: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003039.htm.

  • 3. Anonymous. Night blindness symptopms [internet]. 2010. [cited february 15 th 2012]. Available from: http://www.thirdage.com/hc/c/night-blindness-symptops.

  • 4. Whitney E, Rolfes SR. Understanding nutrition. 12 th Ed. USA : Wadsworth, Cengage Learning ; 2011. P. 354-360

  • 5. Smith J. Steinemann TL. Vitamins A deficiency and the eye [internet]. 2011. [cited february 16 th 2012]. Available from: http://www.v2020la.org/pub/PUBLICATIONS_BY_TOPICS/Vitamin%20A%20deficiency/ VitaminA.pdf.

  • 6. Linus pauling Institute. Vitamins A [internet]. 2011. [cited february 16 th 2012]. Available from: http://lpi.oregonstate.edu/infocenter/vitamins/vitaminA/.

  • 7. Ilyas S dan Yulianti SR.

Ilmu penyakit mata. Edisi ke-4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;2011.

Hal. 83-8, 142-4,

259-62.

  • 8. Guyton AC, Hall JE. Textbook of medical physiology. 11 th ed. Philadelphia: Elsevier saunders; 2006.p. 654-9,

661-7.

  • 9. Eva PR and Whitcher JP.

Vaughan & Asbury’s general ophthalmology.16 th ed. USA:McGraw Hill;2004.p.46,

365-7.