Anda di halaman 1dari 36

BAB I PENDAHULUAN

1.1 ...

Latar Belakang Keperawatan merupakan suatu bentuk layanan kesehatan professional yang

merupakan bagian integral dari layanan kesehatan yang berdasarkan pada ilmu dan etika keperawatan dimana seorang perawat ikut menentukan mutu dari pelayanan kesehatan. Keperawatan sebagai suatu profesi menekankan kepada bentuk pelayanan professional yang sesuai dengan standart dengan memperhatikan kaidah etik dan moral sehingga pelayanan yang diberikan dapat diterima oleh masyarakat dengan baik lanjut. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin hari menunjukan kemajuan dan modernisasi serta globalisasi secara besar-besaraan begitu juga dengan bidang keperawaatan, semakin tahun juga menunjukan kearah kemajuan yang positif, sebagai mahasiswa pemula dalam hal ini saya ingin mengetahui seluk beluk dasar dunia keperawatan mulai dari pengertian perawat,sejarahnya sampai kebijakan pemerintah dalam dunia keperawatan hal inilah yang melatarbelakangi penulis menganggkat tema ini sebagai paper. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas, maka penyusun merumuskan masalah untuk dikaji. Masalah pokok dalam pembahasan ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apa pengertian dari perawat dan perawat profesional?

2. Apa pengertian keperawatan dan sejarah perkembangannya? 3. Apa pengertian keperawatan sebagai profesi? 4. Bagaimana pendidikan keperawatan (dalam negeri dan luar negeri)? 5. Bagaimana kebijakan pemerintah dalam keperawatan?

1.3 Tujuan Dalam penyusunan Makalah ini dengan tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui arti dari perawat dan perawat profesional 2. Untuk mengetahui tentang keperawatan dan sejarah perkembangannya 3. Untuk mengetahui arti dari keperawatan sebagai profesi 4. Untuk mengetahui pendidikan keperawatan (dalam negeri dan luar negeri) 5. Untuk mengetahui kebijakan pemerintah dalam keperawatan

1.4 Metode Penulisan Metode yang dipakai oleh penulis adalah metode kepustakaan yaitu dengan cara membaca buku-buku yang berkenaan dengan permasalahan yang akan dibahas.

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Perawat dan Perawat Profesional Pengertian Perawat Perawat atau nurse berasal dari bahasa latin yaitu kata Nurtix yang berarti merawat atau memelihara. Berikut ini definisi perawat dari bebrbagai ahli:

Harlley Cit ANA (2000) menjelaskan pengertian dasar seorang perawat adalah seseorang yang berperan dalam merawat atau memelihra , membantu dan melindungi seseorang karena sakit , injury dan proses penuaan .

Menurut Tylor C Lillis C Lemone (1989) perawat adalah seseorang yang berperan dalam merawat atau memelihara , membantu dengan melindungi seseorang karen sakit , luka dan proses penuaan.

Menurut ICN seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan keperawatan yang memenuhi syarat serta berwenang di negeri bersangkutan untuk memberikan pelayanan keperawatn yang bertanggung jawab untuk meningkatkan kesehatan , pencegahan penyaki dan pelayanan penderita sakit.

Menurut UU RI No 23 tahun 1992 , perawat adalah mereka yang memeiliki kemampuan dan wewenang melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimiliki, diperoleh dari pendidikan keperawatan

Pengertian Perawat Profesional


3

Perawat Profesional adalah perawat yang bertanggung jawab dan berwewenang memberikan pelayanan keperawatan secara mandiri dan atau berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain sesuai dengan kewenangannya.

Perawat Profesional adalah suatu profesi dimana dilakukannya tindakan mandiri perawat Ahli Madya Keperawatan, Ners, Ners Spesialis dan Ners Konsultan melalui kerjasama bersifat kolaboratif dengan klien dan tenaga kesehatan lain dalam meberikan asuhan keperawatn sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawabnya.

2.2

Pengertian Keperawatan dan Sejarah Perkembangannya Pengertian Keperawatan a. Menurut ANA, 2000 mendefinisikan keperawatan adalah diagnosis dan penanganan respon manusia terhadap masalah kesehatan aktual maupun potensial. b. Pada lokakarya nasional 1983 telah disepakati pengertian keperawatan sebagai berikut, keperawatan adalah pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio psiko sosio spiritual yang komprehensif yang ditujukan kepada individu, kelompok dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. c. Florence Nightingale (1895) mendefinisikan keperawatan sebagai berikut, keperawatan adalah menempatkan pasien alam kondisi paling baik bagi alam dan isinya untuk bertindak. d. Calilista Roy (1976) mendefinisikan keperawatan merupakan definisi ilmiah yang berorientasi kepada praktik keperawatan yang memiliki sekumpulan pengetahuan untuk memberikan pelayanan kepada klien. Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa keperawatan adalah

upaya pemberian pelayanan/asuhan yang bersifat humanistic dan professional, holistic berdasarkan ilmu dan kiat, standart pelayanan dengan berpegang teguh

kepada kode etik yang melandasi perawat professional secara mandiri atau memalui upaya kolaborasi. Sejarah Keperawatan Keperawatan sebagai suatu pekerjaan sudah ada sejak manusia ada di bumi ini, keperawatan terus berkembang sesuai dengan kemajuan peradaban teknologi dan kebudayaan. Konsep keperawatan dari abad ke abad terus berkembang, berikut adalah perkembangan keperawatan di dunia. 1. Mother Instink Pekerjaan keperawatan sudah ada sejak manusia diciptakan, keperawatan ada sebagai suatu naluri (instink). Setiap manusia pada tahap ini menggunakan akal pikirannya untuk menjaga kesehatan, menggurangi stimulus kurang menyengkan, merawat anak, menyusui anak dan perilaku masih banyak perilaku lainnya. 2. Animisme Manusia pada tahap ini memiliki keyakinan bahwa keadaan sakit adalah disebabkan oleh arwah/roh halus yang ada pada manusia yang telah meninggal atau pada manusia yang hidup atau pada alam ( batu besar, pohon, gunung, sungai, api, dll). Untuk mengupayakan penyembuhan atau perawatan bagi manusia yang sakit maka roh jahat harus di usir, para dukun mengupayakan proses penyembuhan dengan berusaha mencari pengetahuan tentang roh dari sesuatu yang mempengaruhi kesehatan orang yang sakit. Setelah dirasa mendapatkan kemampuan, para dukun berupaya mengusir roh dengan menggunakan mantra-mantra atau obat-obatan yang berasal dari alam. 3. Keperawatan penyakit akibat kemarahan para dewa Pada tahap ini manusia sudah memiliki kepercayaan tentang adanya dewadewa, manusia yang sakit disebabkan oleh kemarahan dewa. Untuk membantu penyembuhan orang yang sakit dilakukan pemujaan kepada para dewa di tempat pemujaan (kuil), dengan demikian dapat dikatakan bahwa kuil adalah tempat pelayanan kesehatan.

4. Ketabiban Mulai berkembang kemungkinan sejak 14 abad SM, pada masa ini telah dikenal teknik pembidaian, hygiene umum, anatomi manusia. 5. Diakones dan Philantrop Berkembang sejak 400 SM, para diakones memberikan pelayanan perawatan yang diberikan dari rumah ke rumah, tugas mereka adalah membantu pendeta memberikan pelayanan kepada masyarakat dan pada masa ini merupakan cikal bakal berkembangnya ilmu keperawatan kesehatan masyarakat. Philantop adalah kelompok yang mengasingkan diri dari keramaian dunia, dimana mereka merupakan tenaga inti yang memberikan pelayanan di pusat pelayanan kesehatan (RS) pada masa itu. 6. Perkembangan ilmu kedokteran Islam Pada tahun 632 Masehi, Agama Islam melalui Nabi Muhamad SAW dan para pengikutnya menyebarkan agama Islam keseluruh pelosok dunia. Selain menyebarkan ajaran agama beliau juga menyebarkan ilmu pengetahuan tentang perilaku hidup bersih dan pengobatan terhadap penyakit (kedokteran). 7. Perawat terdidik ( 600 1583 ) Pada masa ini pendidikan keperawatan mulai muncul, dimana program itu menghasilkan perawat-perawat terdidik. Pendidikan keperawatan diawali di Hotel Dien dan Lion Prancis yang kemudian berkembang menjadi rumah sakit terbesar disana. Pada awalnya perawat terdidik diseleksi dari para pengikut agama dimana tenaga mereka diperbantukan dalam kegiatan perawatan paska terjadinya perang salib. Tokoh perawat yang terkenal pada saat (1182 1226) itu adalah St Fransiscas dari Asisi Italia. 8. Perawat Profesional (abad 18 19) Perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat sejak abad ini termasuk ilmu kedokteran dan keperawatan. Florence Nightingale (1820-1910) adalah tokoh yang berjasa dalam pengembangan ilmu keperawatan, beliau mendirikan sekolah keperawatan moderen pada tahun 1960 di RS St. Thomas di London.

Melihat perkembangan keperawatan di dunia dengan kemajuannya dari tahap yang paling klasik sampai dengan terciptanya tenaga keperawatan yang professional dan diakui oleh dunia internasional tentu dapat dijadikan cerminan bagi perkembangan keperawatan di Indonesia. Mengikuti perkembangan keperawatan di dunia, keperawatan di Indonesia juga terus berkembang, adapun perkembangannya adalah sebagai berikut : 1. Seperti halnya perkembangan keperawatan di dunia, di Indonesia pada awalnya pelayanan perawatan masih didasarkan pada naluri, kemudian berkembang menjadi aliran animisme, dan orang bijak beragama. 2. Penjaga orang sakit (POS/zieken oppasser) Sejak masuknya Vereenigge oost Indische Compagine di Indonesia mulai didirikan rumah sakit, Binnen Hospital adalah RS pertama yang didirikan tahun 1799, tenaga kesehatan yang melayani adalah para dokter bedah, tenaga perawat diambil dari putra pertiwi. Pekerjaan perawat pada saat itu bukan pekerjaan dermawan atau intelektual, melainkan pekerjaan yang hanya pantas dilakukan oleh prajurit yang bertugas pada kompeni. Tugas perawat pada saat itu adalah memasak dan membersihkan bagsal (domestik work), mengontol pasien, menjaga pasien agar tidak lari/pasien gangguan kejiwaan. 3. Model keperawatan Vokasional (abad 19) Berkembangnya pendidikan keperawatan non formal, pendidikan diberikan melalui pelatihan-pelatihan model vokasional dan dipadukan dengan latihan kerja. 4. Model keperawatan kuratif (1920) Pelayanan pengobatan menyeluruh bagi masyarakat dilakukan oleh perawat seperti imunisasi/vaksinasi, dan pengobatan penyakit seksual.

5.

Keperawatan semi profesional

Tuntutan kebutuhan akan pelayanan kesehatan (keperawatan) yang bermutu oleh masyarakat, menjadikan tenaga keperawatan dipacu untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dibidang keperawatan. Pendidikan-pendidikan dasar keperawatan dengan sistem magang selama 4 tahun bagi lulusan sekolah dasar mulai bermunculan. 6. Keperawatan preventif Pemerintahan belana menganggap perlunya hygiene dan sanitasi serta penyuluhan dalam upaya pencegahan dan pengendalian wabah, pemerintah juga menyadari bahwa tindakan kuratif hanya berdampak minimal bagi masyarakat dan hanya ditujukan bagi mereka yang sakit. Pada tahun 1937 didirikan sekolah mantri higene di Purwokerto, pendidikan ini terfokus pada pelayanan kesehatan lingkungan dan bukan merupakan pengobatan. 7. Menuju keperawatan profesional Sejak Indonesia merdeka (1945) perkembangan keperawatan mulai nyata dengan berdirinya sekolah pengatur rawat (SPR) dan sekolah bidan di RS besar yang bertujuan untuk menunjang pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pendidikan itu diberuntukan bagi mereka lulusan SLTP ditambah pendidikan selama 3 tahun, disamping itu juga didirikan sekolah bagi guru perawat dan bidan untuk menjadi guru di SPR. Perkembangan keperawatan semakin nyata dengan didirikannya organisasi Persatuan Perawat Nasional Indonesia tahun 1974. 8. Keperawatan profesional Melalui lokakarya nasional keprawatan dengan kerjasama antara Depdikbud RI, Depkes RI dan DPP PPNI, ditetapkan definisi, tugas, fungsi dan kompetensi tenaga perawat professional di Indonesia. Diilhami dari hasil lokakarya itu maka didirikanlah akademi keperawatan, kemudian disusul pendirian PSIK FKUI (1985) dan kemudian didirikan pula program paska sarjana (1999).

Menurut sumber lain sejarah keperawatan diawali pada zaman purbakala (Primitive Culture) sampai pada munculnya Florence Nightingale sebagai pelopor keperawatan yang berasal dari Inggris. Perkembangan keperwatan sangat dipengaruhi oleh perkembangan struktur dan kemajuan peradaban manusia. 1. Zaman Purbakala (Primitive Culture) Manusia diciptakan memiliki naluri untuk merawat diri sendiri (tercermin pada seorang ibu). Harapan pada awal perkembangan keperawatan adalah perawat harus memiliki naluri keibuan (Mother Instinc). Dari masa Mother Instic kemudian bergeser ke zaman dimana orang masih percaya pada sesuatu tentang adanya kekuatan mistic yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Kepercayaan ini dikenal dengan nama Animisme. Mereka meyakini bahwa sakitnya seseorang disebabkan karena kekuatan alam/pengaruh gaib seperti batu-batu, pohon-pohon besar dan gunung-gunung tinggi. Kemudian dilanjutkan dengan kepercayaan pada dewa-dewa dimana pada masa itu mereka menganggap bahwa penyakit disebabkan karena kemarahan dewa, sehingga kuil-kuil didirikan sebagai tempat pemujaan dan orang yang sakit meminta kesembuhan di kuil tersebut. Setelah itu perkembangan keperawatan terus berubah dengan adanya Diakones & Philantrop, yaitu suatu kelompok wanita tua dan janda yang membantu pendeta dalam merawat orang sakit, sejak itu mulai berkembanglah ilmu keperawatan. 2. Zaman Keagamaan Perkembangan keperawatan mulai bergeser kearah spiritual dimana seseorang yang sakit dapat disebabkan karena adanya dosa/kutukan Tuhan. Pusat perawatan adalah tempat-tempat ibadah sehingga pada waktu itu pemimpin agama disebut sebagai tabib yang mengobati pasien. Perawat dianggap sebagai budak dan yang hanya membantu dan bekerja atas perintah pemimpin agama.

3. Zaman Masehi
9

Keperawatan dimulai pada saat perkembangan agama Nasrani, dimana pada saat itu banyak terbentuk Diakones yaitu suatu organisasi wanita yang bertujuan untuk mengunjungiorang sakit sedangkan laki-laki diberi tugas dalam memberikan perawatan untuk mengubur bagi yang meninggal. Pada zaman pemerintahan Lord-Constantine, ia mendirikan Xenodhoecim atau hospes yaitu tempat penampungan orang-orang sakit yang membutuhkan pertolongan. Pada zaman ini berdirilah Rumah Sakit di Roma yaitu Monastic Hospital. 4. Pertengahan abad VI Masehi Pada abad ini keperawatan berkembang di Asia Barat Daya yaitu Timur Tengah, seiring dengan perkembangan agama Islam. Pengaruh agama Islam terhadap perkembangan keperawatan tidak lepas dari keberhasilan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam. Abad VII Masehi, di Jazirah Arab berkembang pesat ilmu pengetahuan seperti Ilmu Pasti, Kimia, Hygiene dan obat-obatan. Pada masa ini mulai muncul prinsip-prinsip dasar keperawatan kesehatan seperti pentingnya kebersihan diri, kebersihan makanan dan lingkungan. Tokoh keperawatan yang terkenal dari Arab adalah Rufaidah. 5. Permulaan abad XVI Pada masa ini, struktur dan orientasi masyarakat berubah dari agama menjadi kekuasaan, yaitu perang, eksplorasi kekayaan dan semangat kolonial. Gereja dan tempat-tempat ibadah ditutup, padahal tempat ini digunakan oleh orde-orde agama untuk merawat orang sakit. Dengan adanya perubahan ini, sebagai dampak negatifnya bagi keperawatan adalah berkurangnya tenaga perawat. Untuk memenuhi kurangnya perawat, bekas wanita tuna susila yang sudah bertobat bekerja sebagai perawat. Dampak positif pada masa ini, dengan adanya perang salib, untuk menolong korban perang dibutuhkan banyak tenaga sukarela

10

sebagai perawat, mereka terdiri dari orde-orde agama, wanita-wanita yang mengikuti suami 6. Perkembangan keperawatan di Inggris Florence kembali ke Inggris setelah perang Crimean. Pada tahun 1840 Inggris mengalami perubahan besar dimana sekolah-sekolah perawat mulai bermunculan dan Florence membuka sekolah perawat modern. Konsep pendidikan Florence ini mempengaruhi pendidikan keperawatan di dunia. Kontribusi Florence bagi perkembangan keperawatan : a. Nutrisi merupakan bagian terpenting dari asuhan keperawatan. b. Okupasi dan rekreasi merupakan terapi bagi orang sakit c. Manajemen RS d. Mengembangkan pendidikan keperawatan e. Perawatan berdiri sendiri berbeda dengan profesi kedokteran f. Pendidikan berlanjut bagi perawat. Sejarah Perkembangan Keperawatan di Indonesia Sejarah perkembangan keperawatan di Indonesia telah banyak dipengaruhi oleh kolonial penjajah diantaranya Jepang, Belanda dan Inggris. Dalam perkembangannya di Indonesia dibagi menjadi dua masa diantaranya: 1. Masa Penjajahan Belanda Perkembangam keperawatan di Indonesia dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi yaitu pada saat penjajahan kolonial Belanda, Inggris dan Jepang. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, perawat berasal dari penduduk pribumi yang disebut Velpeger dengan dibantu Zieken Oppaser sebagai penjaga orang sakit. Tahun 1799 didirikan rumah sakit Binen Hospital di Jakarta untuk memelihara kesehatan staf dan tentara Belanda. Usaha pemerintah kolonial Belanda pada masa ini adalah membentuk Dinas Kesehatan Tentara dan Dinas Kesehatan Rakyat. Daendels mendirikan rumah sakit di Jakarta, Surabaya dan Semarang, tetapi tidak

11

diikuti perkembangan profesi keperawatan, karena tujuannya hanya untuk kepentingan tentara Belanda. 2. Masa Penjajahan Inggris (1812 1816) Gurbernur Jenderal Inggris ketika VOC berkuasa yaitu Raffles sangat memperhatikan kesehatan rakyat. Berangkat dari semboyannya yaitu kesehatan adalah milik manusia, ia melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki derajat kesehatan penduduk pribumi antara lain : pencacaran umum cara perawatan pasien dengan gangguan jiwa kesehatan para tahanan

Setelah pemerintahan kolonial kembali ke tangan Belanda, kesehatan penduduk lebih maju. Pada tahun 1819 didirikan RS. Stadverband di Glodok Jakarta dan pada tahun 1919 dipindahkan ke Salemba yaitu RS. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Tahun 1816 1942 berdiri rumah sakit rumah sakit hampir bersamaan yaitu RS. PGI Cikini Jakarta, RS. ST Carollus Jakarta, RS. ST. Boromeus di Bandung, RS Elizabeth di Semarang. Bersamaan dengan itu berdiri pula sekolah-sekolah perawat. 3. Zaman Penjajahan Jepang (1942 1945) Pada masa ini perkembangan keperawatan mengalami kemunduran, dan dunia keperawatan di Indonesia mengalami zaman kegelapan. Tugas keperawatan dilakukan oleh orang-orang tidak terdidik, pimpinan rumah sakit diambil alih oleh Jepang, akhirnya terjadi kekurangan obat sehingga timbul wabah. 4. Zaman Kemerdekaan Tahun 1949 mulai adanya pembangunan dibidang kesehatan yaitu rumah sakit dan balai pengobatan. Tahun 1952 didirikan Sekolah Guru Perawat dan sekolah perawat setimgkat SMP. Pendidikan keperawatan profesional mulai didirikan tahun 1962 yaitu Akper milik Departemen Kesehatan di Jakarta untuk menghasilkan perawat profesional pemula. Pendirian Fakultas
12

Ilmu Keperawatan (FIK) mulai

bermunculan, tahun 1985 didirikan PSIK ( Program Studi Ilmu Keperawatan ) yang merupakan momentum kebangkitan keperawatan di Indonesia. Tahun 1995 PSIK FK UI berubah status menjadi FIK UI. Kemudian muncul PSIK-PSIK baru seperti di Undip, UGM, UNHAS dll. 2.3 Keperawatan Sebagai Profesi Keperawatan adalah sebuah profesi, dimana di dalamnya terdapat sebuah body of knowladge yang jelas. Profesi Keperawatan memiliki dasar pendidikan yang kuat, sehingga dapat dikembangkan setinggi-tingginya. Hal ini menyebabkan profesi keperawatan selalu dituntut untuk mengembangkan dirinya untuk berpatisipasi aktif dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia dalam upaya meningkatkan profesionalisme keperawatan agar dapat memajukan pelayanan masyarakat akan kesehatan di negeri ini. Pengertian Profesi Profesi adalah suatu pekerjaan yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat dan bukan untuk kepentingan golongan atau kelompok tertentu. Profesi sangat mementingkan kesejahteraan orang lain, dalam konteks bahasan ini konsumen sebagai penerima jasa pelayanan keperawatan professional.

Menurut Webster profesi adalah pekerjaan yang memerlukan pendidikan yang lama dan menyangkut ketrampilan intelaktual. Kelly dan Joel, 1995 menjelaskan professional sebagai suatu karakter, spirit atau metode professional yang mencakup pendidikan dan kegiatan diberbagai kelompok okupasi yang angotanya berkeinginan menjadi professional. Professional merupakan suatu proses yang dinamis untuk memenuhi atau mengubah karakteristik kearah suatu profesi.

Karakteristik Profesi
1. Gary

dan

Pratt

(1991),

Kiozer

Erb

dan

Wilkinson

(1995)

mengemukakan karakteristik professional sebagai berikut : a. Konsep misi yang terbuka terhadap perubahan b. Penguasaan dan penggunaan pengetahuan teoritis
13

c. Kemampuan menyelesaikan masalah d. Pengembangan diri secara berkesinambungan e. Pendidikan formal f. System pengesahan terhadap kompetensi g. Penguatan secara legal terhadap standart professional h. Praktik berdasarkan etik i. Hukum terhadap malpraktik j. Penerimaan dan pelayanan pada masyarakat k. Perbedaan peran antara pekerja professional dengan pekerjaan lain dan membolehkan praktik yang otonom.
2. Menurut Lindberg, Hunter dan Kruszewski (1993), Leddy dan Pepper

(1993) serta Berger dan Williams (1992), keperawatan sebagai suatu profesi memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Kelompok pengetahuan yang melandasi keterampilan untuk menyelesaikan

masalah dalam tatanan praktik keperawatan. Pada awalnya praktik keperawatan dilandasi oleh ketrampilan yang bersifat intuitif. Sebagai suatu disiplin, sekarang keperawatan disebut sebagai suatu ilmu dimana keperawatan banyak sekali menerapkan ilmu-ilmu dasar seperti ilmu perilaku, social, fisika, biomedik dan lain-lain. Selain itu keperawatan juga mempelajari pengetahuan inti yang menunjang praktik keperawatan yaitu fungsi tubuh manusia yang berkaitan dengan sehat dan sakit serta pokok bahasan pemberian asuhan keperawatan secara langsung kepada klien.
b. Kemampuan memberikan pelayanan yang unik kepada masyarakat.

Fungsi unik perawat adalah memberikan bantuan kepada sesorang dalam melakukan kegiatan untuk menunjang kesehatan dan penyembuhan serta membantu kemandirian klien.
c.

Pendidikan yang mmenuhi standart dan diselenggarakan di perguruan tinggi atau universitas. Beralihnya pendidikan keperawatan kepada institusi pendidikan tinggi memberikan kesempatan kepada perawat untuk mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan intelektual, interpersonal dan tehnikal yang memungkinkan mereka menjalankan peran dengan lebih terpadu dalam pelayanan kesehatan yang menyeluruh dan

14

berkesinambungan. Disampingg itu perawat dituntut untuk mengembangkan Iptek keperawatan.


d.

Pengendalian terhadap standart praktik. Standart adalah pernyatan atau criteria tentang kualitas praktik. Standart praktik keperawatan menekankan kpada tangung jawab dan tangung gugat perawat untuk memenuhi standart yang telah ditetapkan yang bertujuan menlindungi masyarakat maupun perawat. Perawat bekerja tidak dibawah pengawasan dan pengendalian profesi lain.

e.

Bertanggung jawab dan bertanggung gugat terhadap tindakan yang dilakukan. Tangung gugat accountable berarti perawat bertanggung jawab pelayanan yang diberikan kepada klien. Tanggung gugat mengandung aspek legal terhadap kelompok sejawat, atasan dan konsumen. Konsep tangung gugat mempunyai dua implikasi yaitu bertanggung jawab terhadap konsekuensi dari tindakan yang dilakukan dan juga menerima tanggung jawab dengan tidak melakukan tindakan pada situasi tertentu.

f.

Karir seumur hidup. Dibedakan dengan tugas/job yang merupakan bagian dari pekerjaan rutin. Perawat bekerja sebagai tenaga penuh yang dibekali dengan pendidikan dan ketrampilan yang menjadi pilihannya sendiri sepanjang hayat.

g.

Fungsi mandiri. Perawat memiliki kewenangan penuh melakukan asuhan keperawatan walaupun kegiatran kolaborasi dengan profesilain kadang kala dilakukan dimana itu semua didasarkan kepada kebutuhan klien bukan sebagai ekstensi intervensi profesi lain.

Perkembangan Profesionalisme Keperawatan Melihat catatan sejarah tentang awal mula keberadaan perawat di Indonesia, yang diperkirakan baru bermula pada awal abad ke 19, dimana disebutkan adanya perawat saat itu adalah dikarenakan adanya upaya tenaga medis untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik sehingga diperlukan tenaga yang dapat membantu atau tenaga pembantu. Tenaga tersebut dididik menjadi seorang perawat melalui pendidikan magang yang berorientasi pada penyakit dan cara pengobatannya. Sampai dengan perkembangan keperawatan di Indonesia pada tahun 1983 PPNI melakukan Lokakarya Nasional Keperawatan di Jakarta, melalui

15

lokakarya tersebut prawat bertekad dan bersepakat menyatakan diri bahwa keperawatan adalah suatu bidang keprofesian. Perkembangan profesionalisme keperawatan di Indonesia berjalan seiring dengan perkembangan pendidikan keperawatan yang ada di Indonesia. Pengakuan perawat profesionalan pemula adalah bagi mereka yang berlatar belakang pendidikan Diploma III keperawatan. Program ini menghasilkan perawat generalis sebagai perawat professional pemula, dikembangkan dengan landasan keilmuan yang cukup dan landasan professional yang kokoh. Perkembangan pendidikan keperawatan dalam rangka menuju tingkat keprofesionalitasan tidak cukup sampai di tingkat diplima saja, di ilhami keinginan dari profesi keperawatan untuk terus mengembangkan pendidikan maka berdirilah PSIK FK-UI (1985) dan kemudian disusul dengan pendirian program paska sarjana FIK UI (1999). Peningkatan kualitas organisasi profesi keperawatan dapat dilakukan melalui berbagai cara dan pendekatan antara lain : 1. Mengembangkan system seleksi kepengurusan melalui pnetapan criteria dari berbagai aspek kemampuan, pendidikan, wawasan, pandangan tentang visi dan misi organisasi, dedikasi serta keseterdiaan waktu yang dimiliki untuk organisasi. 2. Memiliki serangkaian program yang kongkrit dan diterjemahkan melalui kegiatan organisasi dari tingkat pusat sampai ke tingkat daerah. Prioritas utama adalah rogram pendidikan berkelanjutan bagi para anggotanya. 3. Mengaktifkan fungsi collective bargaining, agar setiap anggota memperoleh penghargaan yang sesuai dengan pendidikan dan kompensasi masingmasing. 4. Mengembangkan program latihan kepemimpinan, sehingga tenaga keperawatan dapat berbicara banyak dan memiliki potensi untuk menduduki berbagai posisi di pemerintahan atau sector swasta. 5. Meningkatkan kegiatan bersama dengan organisasi profesi keperawatan di luar negeri, bukan anya untuk pengurus pusat saja tetapi juga mengikut sertakan pengurus daerah yang berpotensi untuk dikembangkan. Pohon Ilmu ( Body of Knowledge ) Pohon ilmu dari keperawatan adalah ilmu keperawatan itu sendiri. Pendidikan keperawatan sebagai pendidikan profesi harus dikembangkan sesuai dengan kaidah-

16

kaidah ilmu dan profesi keperawatan, yang harus memiliki landasan akademik dan landasan professional yang kokoh dan mantap. Pengembangan pendidikan keperawatan bertolak dari pengertian dasar tentang ilmu keperawatan seperti yang dirumuskan oleh Konsorsium Ilmu kesehatan (1991) yaitu : Ilmu keperawatan mencakup ilmu-ilmu dasar seperti ilmu alam, ilmu social, ilmu perilaku, ilmu biomedik, ilmu kesehatan masyarakat, ilmu dasar keperawatan, ilmu keperawatan komunitas dan ilmu keperawatan klinik, yang apluikasinya menggunakan pendekatan dan metode penyelesaian masalah secara ilmiah, ditujukan untuk mempertahankan, menopang, memelihara dan meningkatkan integritas seluruh kebutuhan dasar manusia . Wawasan ilmu keperawatan mencakup ilmu-ilmu yang mempelajari bentuk dan sebab tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, melalui pengkajian mendasar tentang hal-hal yang melatar belakangi, serta mempelajari berbagai bentuk upaya untuk mencapai kebutuhan dasar tersebut melalui pemanfaatan semua sumber yang ada dan potensial. Bidang garapan dan fenomena yang menjadi objek studi keperawatan adalah penyimpangan dan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia (bio-psiko-sosio-spiritual), mulai dari tingkat individu tang utuh (mencakup seluruh siklus kehidupan), sampai pada tingkat masyarakat, yang juga tercermin pada tidak terpenuhinya kebutuhan dasar pada tingkat system organ fungsional sampai sub seluler atau molekuler. Cerminan Perawat Profesional Cerminan nilai professional perawat dalam praktik keperawatan dikelompokkan dalam nilai intelektual dan nilai komitmen moral interpersonal, sebagai berikut : 1. Nilai intelektual Nilai intelektual dalam prtaktik keperawatan terdiri dari: a. Body of Knowledge b. Pendidikan spesialisasi (berkelanjutan) c. Menggunakan pengetahuan dalam berpikir secara kritis dan kreatif. 2. Nilai komitmen moral Pelayanan keperawatan diberikan dengan konsep altruistic, dan memperhatikan kode etik keperawatan. Menurut Beauchamp & Walters (1989) pelayanan professional terhadap masyarakat memerlukan integritas, komitmen moral dan tanggung jawab etik. Aspek moral yang harus menjadi landasan perilaku perawat :

17

a. Beneficience Perawat selalu mengupayakan keputusan yang dibuat berdasarkan keinginan melakukan yang terbaik dan tidak merugikan klien. (Johnstone, 1994) b. Fair Tidak mendeskriminasikan klien berdasarkan agama, ras, social budaya, keadaan ekonomi dan sebagainya, tetapi memprlakukan klien sebagai individu yang memerlukan bantuan dengan keunikan yang dimiliki. c. Fidelity Berperilaku caring (peduli, kasih sayang, perasaan ingin membantu), selalu berusaha menepati janji, memberikan harapan yang memadahi, komitmen moral serta memperhatikan kebutuhan spiritual klien.

2.4 Pendidikan Keperawatan (Dalam Negeri dan Luar Negeri) Sejarah Pendidikan Keperawatan 1. Zaman purbakala ( Primitif Culture ) Manusia percaya bahwa apa yg ada di bumi, mempunyai kekuatan spritual/mistik yg mempengaruhi kehidupan manusia (animisme). Sakit di sebabkan oleh: Kekuatan alam/kekuatan gaib (batu-batu besar, gunung tinggi dan pohon-pohon besar) masyarakat percaya pada dukun. Zaman mesir masyarakat percaya dewa iblis mampu menyembuhkan penyakit Di Cina syetan sebagai penyebab penyakit. Akibatnya perawat tidak di perkenankan untuk merawat 2. Pertengahan abad VI masehi Keperawatan berkembang di benua asia tepatnya asia barat daya yaitu timur tengah seiring dengan perkembangan agama Islam. Abad VII jazirah Arab berkembang pesat ilmu pengetahuan seperti ilmu pasti, ilmu kimia, hygiene dan obat-obatan. Keperawatan mengalami kemajuan dengan prinsip dasar kesehatan pentingnya kebersihan diri (personal hygiene), kebersihan makanan, air dan lingkungan. Tokoh yang terkenal dari dunia arab pada masa itu adalah Rafidah

18

3. Permulaan abad XVI Orientasi masyarakat dari agama kekuasaan yaitu perang. Rumah ibadah banyak yang tutup yang biasanya di gunakan untuk merawat orang sakit. Perawat di gaji rendah dengan jam kerja yang lama pada kondisi kerja yang buruk. Sisi positif dari perang untuk perkembangan keperawatan korban banyak membutuhkan tenaga sukarela sebagai perawat (orde-orde agama, istri yang mengikuti suami perang dan tentara-tentara yang merangkap sebagai prwat) konsep P3K. Rumah sakityang berperan besar terhadap perkembangan keperawatan pada masa kini (zaman pertengahan) yaitu hotel Dieu di Lion awalnya perawat mantan WTS yang bertobat, tidak lama kemudian menggunakan perawat yang terdidik dari rumah sakit tersebut. Hotel Dieu di Paris orde agama,setelah revolusi orde agama di hapus diganti orang-orang bebas yang tidak terikat agama, pelopor perawat terkenal rumah sakit ini yaitu Genevieve Bouquet, St. Thomas Hospital, di dirikan tahun1123 M Florence Nigtingale memperbaharui keperawatan 4. Pertengahan abad XVIII XIX Keperawatan mulai di percaya orang yaitu Florence Nigthingale. Florence Nigthingale lahir tahun 1820 dari keluarga kaya, terhormat, tumbuh dan berkembang di Inggris, diterima mengikuti kursus pendidikan perawat usia 31 tahun. Pendidikan Keperawatan di Indonesia Pengakuan body of knowledge keperawatan di Indonesia dimulai sejak tahun 1985, yakni ketika program studi ilmu keperawatan untuk pertama kali dibuka di Fakultas Kedokteran UI. Dengan telah diakuinya body of knowledge tersebut maka pada saat ini pekerjaan profesi keperawatan tidak lagi dianggap sebagai suatu okupasi, melainkan suatu profesi yang kedudukannya sejajar dengan profesi lain di Indonesia. Tahun 1984 dikembangkan kurikulum untuk mempersiapkan perawat menjadi pekerja profesional, pengajar, manajer, dan peneliti. Kurikulum ini diimplementasikan tahun 1985 sebagai Program Studi Ilmu Keperawatan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tahun 1995 program studi itu mandiri sebagai Fakultas Ilmu Keperawatan, lulusannya disebut ners atau perawat profesional. Program Pascasarjana Keperawatan dimulai tahun 1999. Kini sudah

19

ada Program Magister Keperawatan dan Program Spesialis Keperawatan Medikal Bedah, Komunitas, Maternitas, Anak Dan Jiwa. Sejak tahun 2000 terjadi euphoria Pendirian Institusi Keperawatan baik itu tingkat Diploma III (akademi keperawatan) maupun Strata I. Pertumbuhan institusi keperawatan di Indonesia menjadi tidak terkendali. Seperti jamur di musim kemarau. Artinya di masa sulitnya lapangan kerja, proses produksi tenaga perawat justru meningkat pesat. Parahnya lagi, fakta dilapangan menunjukkan penyelenggara pendidikan tinggi keperawatan berasal dari pelaku bisnis murni dan dari profesi non keperawatan, sehingga pemahaman tentang hakikat profesi keperawatan dan arah pengembangan perguruan tinggi keperawatan kurang dipahami. Belum lagi sarana prasarana cenderung untuk dipaksakan, kalaupun ada sangat terbatas (Yusuf, 2006). Saat ini di Indonesia berdiri 32 buah Politeknik kesehatan dan 598 Akademi Perawat yang berstatus milik daerah,ABRI dan swasta (DAS) yang telah menghasilkan lulusan sekitar 20.000 23.000 lulusan tenaga keperawatan setiap tahunnya. Apabila dibandingkan dengan jumlah kebutuhan untuk menunjang Indonesia sehat 2010 sebanyak 6.130 orang setiap tahun, maka akan terjadi surplus tenaga perawat sekitar 16.670 setiap tahunnya. (Sugiharto, 2005). Salah satu tantangan terberat adalah peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga keperawatan yang walaupun secara kuantitas merupakan jumlah tenaga kesehatan terbanyak dan terlama kontak dengan pasien, namun secara kualitas masih jauh dari harapan masyarakat. Indikator makronya adalah rata-rata tingkat pendidikan formal perawat yang bekerja di unit pelayanan kesehatan (rumah sakit/puskesmas) hanyalah tamatan SPK (sederajat SMA/SMU). Berangkat dari kondisi tersebut, maka dalam kurun waktu 1990-2000 dengan bantuan dana dari World Bank, melalui program health project (HP V) dibukalah kelas khusus D III keperawatan hampir di setiap kabupaten. Selain itu bank dunia juga memberikan bantuan untu peningkatan kualitas guru dan dosen melalui program GUDOSEN. Program tersebut merupakan suatu percepatan untuk mengupgrade tingkat pendidikan perawat dari rata-rata hanya berlatar belakang pendidikan SPK menjadi Diploma III (Institusi keperawatan). Tujuan lain dari program ini diharapkan bisa memperkecil gap antara perawat dan dokter sehingga

20

perawat tidak lagi menjadi perpanjangan tangan dokter (Prolonged physicians arms) tapi sudah bisa menjadi mitra kerja dalam pemberian pelayanan kesehatan(Yusuf, 2006). Kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan sisitem pendidikan keperawatan di Indonesia adalah UU no. 2 tahun 1989 tentang pendidikan nasional, Peraturan pemerintah no. 60 tahun 1999 tentang pendidikan tinggi dan keputusan Mendiknas no. 0686 tahun 1991 tentang Pedoman Pendirian Pendidikan Tinggi (Munadi, 2006). Pengembangan sistem pendidikan tinggi keperawatan yang bemutu merupakan cara untuk menghasilkan tenaga keperawatan yang profesional dan memenuhi standar global. Hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu lulusan pendidikan keperawatan menurut Yusuf (2006) dan Muhammad (2005) adalah :
1. Standarisasi

jenjang,

kualitas/mutu,

kurikulum dari

institusi

pada

pendidikan.
2.

Merubah bahasa pengantar dalam pendidikan keperawatan dengan menggunakan bahasa inggris. Semua Dosen dan staf pengajar di institusi pendidikan keperawatan harus mampu berbahasa inggris secara aktif

3. Menutup institusi keperawatan yang tidak berkualitas 4.

institusi harus dipimpin oleh seorang dengan latar belakang pendidikan keperawatan Pengelola insttusi hendaknya memberikan warna tersendiri dalam institusi dalam bentuk muatan lokal,misalnya emergency Nursing, pediatric nursing, coronary nursing.

5.

6.

Standarisasi kurikulum dan evaluasi bertahan terhadap staf pengajar di insitusi pendidikan keperawatan Departemen Pendidikan, Departemen Kesehatan, dan Organisasi profesi serta sector lain yang terlibat mulai dari proses perizinan juga memiliki tanggung jawab moril untuk melakukan pembinaan.

7.

Pendidikan Keperawatan di Inggris Sesudah perang, Florence Nigthingale kembali ke Inggris. Inggris membuka jalan bagi kemajuan dan perkembangan keperawatan yang di pelopori Florence Nigthingale. Tahun 1840 Inggris mengalami perubahan besar dalam perawatan.

21

Pendidikan perawat di London Hospital. Kontrubusi F.N bagi perkembangan keperawatan: Nutrisi merupakan bagian penting dari askep Rekreasi merupakan suatu terapi bg orang sakit Mengidentifikasi kebutuhan personal ps & prwt u/memenuhinya Menetapkan standar manajemen R.S Mengembangkan standar okupasi bg ps wanita Mengembangkan pendidikan keperawatan Menetapkan 2 komponen keperawatan yaitu kesehatan & penyakit Keperawatan berdiri sendiri & berbada dg profesi dokter Menekankan kebut. Pddkan berlanjut bagi perawat (Dolan,1978 di kutip Taylor 1989) Jenis dan Jenjang Pendidikan Keperawatan di Indonesia maupun di Luar negeri a. Program Pendidikan Diploma III Keperawatan Pada Jenjang pendidikan,Diploma III bersifat pendidikan profesi,menghasilkan Ahli Madya Keperawatan (A.Md.Kep) sebagai perawat professional pemula.Pendidikan Keperawatan pada jenjang diploma dikembangkan terutama untuk menghasilkan lulusan/perawat yang memiliki sikap dan menguasai kemampuan keperawatan umum dan dasar.Pendidikan pada tahap ini lebih menekankan penguasaan sikap,pengetahuan dan keterampilan professional dalam keperawatan sehingga mampu melaksanakan asuhan keperawatan umum kepada masyarakat dengan berpedoman pada etika keperawatan. b. Program Pendidikan Sarjana Keperawatan Pendidikan pada tahap ini bersifat pendidikan akademik professional (Pendidikan Keprofesian),menekankan pada penguasaan landasan keilmuan,yaitu ilmu keperawatan dan ilmu-ilmu penunjang,penumbuhan serta pembinaan dan keterampilan professional dalam keperawatan.pada jenjang

22

pendidikan ini, perawat generalis,terdapat dua tahap program,yaitu tahap program akademik yang pada akhir pendidikan mendapat gelar akademik sarjana keperawatan (S.Kep) dan tahap Program Keprofesian yang Pada akhir pendidikan mendapat sebutan profesi ners(Ns) c. Program Pendidikan Magister keperawatan Dalam menghadapi tekanan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan kebutuhan dan permintaan masyarakat yang diperkirakan akan terus meningkat,pendidikan pascasarjana dalam bidang keperawatan juga dikembangkan.Hal ini diperlukan agar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang keperawatan melalui berbagai bentuk penelitian dapat dilaksanakan,dan selanjutnya dimanfaatkan dalam upaya meningkatkan mutu askep.Program pendidikan magister keperawatan yang ada saat ini adalah program magister management keperawatan d. Program pendidikan specialis bidang keperawatan Dalam memenuhi atau menjawab tuntutan kebutuhan masyarakat dan pembangunan kesehatan di masa depan,dan bertolak pada dalam member askep kepada klien mencakup aspek bio-psiko-sosio-kultural dan spiritual,dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasarnya dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan meliputi : Membantu klien memperoleh kembali kesehatanya Membantu klien yang sehat untuk memelihara kesehatanya Membantu klien yang tidak dapat disembuhkan untuk menerima kondisinya Membantu klien yang menghadapi ajal untuk diperlakukan secara manusiawi sesuai martabatnya sampai meninggal dg tenang PERKEMBANGAN ORGANISASI PROFESI KEPERAWATAN Beberapa organisasi keperawatan:

23

ICN (International Council of Nurses) organisasi profesional wanita pertama di dunia didirikan tanggal 1 Juli 1899 oleh Mrs.Bedford Fenwick. Tujuannya: Memperkokoh silaturahmi perawat seluruh dunia Memberi kesempatan bertemu bagi perawat diseluruh dunia untuk membicarakan masalah keperawatan. Menjunjung peraturan dalam ICN agar dapat mencapai kemajuan dalam pelayanan, pendidikan keperwatan berdasarkan kode etik profesi keperawatan.

ANA didirikan tahun 1800 yang anggotanya dari negara-negara bagian, berperan : menetapkan standar praktek keperawatan Canadian Nurse Association (CNA) tujuan sama dengan ANA memberikan izin praktek keperawatan mandiri.

NLN (National League for Nursing) didirikan tahun 1952, tujuan untuk pengembangan dan peningkatan mutu lan-kep dan pendidikan keperawatan. British Nurse Association didirikan th 1887, tujannya: memperkuat persatuan dan kesatuan seluruh perawat di Inggris dan berusaha memperoleh pengakuan terhadap profesi keperawatan. PPNI didirikan pada tanggal 17 Maret 1974

2.5 Kebijakan Pemerintah Dalam Keperawatan Kebijakan pemerintah dalam dunia keperawatan dituangkan dalam berbagai hal melalui system poloitik yang ada akan sangat berpengaruh dalam system pemberian pelayanan kesehatan.Perawat sebagai tenaga professional bertanggung jawab dan berwenang memberikan pelayanan keperawatan secara mandiri dan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain sesuai dengan kewenanganya,terutama
24

terkait dengan lingkup praktik dan wewenang perawat.Untuk pencapaian Praktik keperawatan tersebut perlu ketetapan (legislasi) yang mengatur hak dan kewajiban perawat yang terkait dengan pekerjaan profesi.Legislasi yang dimaksudkan untuk memberikan perlindungan hokum bagi masyarakat dan perawat.Dalam rangka perlindungan hukum tersebut,perawat perlu diregistrasi,disertifikasi,dan memperoleh izin praktik (lisensi). LEGISLASI KEPERAWATAN a. Definisi Legislasi Keperawatan Legislasi keperawatan adalah proses pembuatan undang undang atau penyempurnaan perangkat hukum yang sudah ada yang memenuhi ilmu dan kiat dalam praktik keperawatan (sand,Robles dan robles,1981) b. Prinsip Dasar Legislasi Beberapa prinsip dasar dalam legislasiuntuk praktik keperawatan,meliputi hal-hal berikut : Harus jelas membedakan kategori tenaga keperawatan Badan yang mengurus legislasi bertanggung jawab atas system pencatatan Pemberian Lisensi berdasarkan keberhasilan pendidikan dan ujian sesuai ketetapan Ada batas waktu minimal masa berlaku lisensi yang diberikan Memperinci kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan perawat Informasi tentang tanggung jawab legal praktik,disediakan oleh institusi pendidikan,Profesi dan badan yang mengatur legislasi. c. Tujuan Lisensi Memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap pelayanan keperawatan yang diberikan Menginformasikan kepada masyarakat tentang pelayanan keperawatan yang diberikan dan tanggung jawab para praktisi professional Memelihara kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan Meberi kejelasan batas kewenangan setiap kategori tenaga keperawatan Menjamin adanya pelindungan hukum bagi perawat Memotivasi perkembangan profesi

25

Meningkatkan profesionalisme tenaga keperawatan

Legilasi keperawatan mencakup 3 komponen yaitu Registrasi,sertifikasi dan lisensi. REGISTRASI a) Definisi Registrasi Registrasi keperawatan merupakan proses administrasi yang harus ditempuh oleh seseorang yang ingin melakukan pelayanan keperawatan kepada orang lain sesuai dengan kemampuan atau kompetensi yang dimilikinya. b) Tujuan registrasi Menjamin kemampuan perawat untuk melaksanakan praktik keperawatan sesuai dengan kewenangan dan kompetensinya. Mempertahankan Prosedur penatalaksanaan secara objektif terhadap kasus kelalaian tugas atau ketidakmampuan melaksanakan tugas sesuai standard an etik profesi Mengidentifikasi jumlah dan kualifikasi perawat professional dan vokasional yang akan melakukan praktik keperawatan sesuai dengan kewenangan dan kompetensinya masing masing Mempertahankan proses pemantauan dan pengendalian jumlah dan kualitas perawat professional dan vokasional yang akan melakukan praktik keperawatan. SERTIFIKASI Adalah proses pengakuan terhadap peningkatan pengetahuan,keterampilan,dan perilaku (kompetensi) seorang perawat dengn cara memberikan ijazah atau sertifikat Tujuan sertifikasi Menyatakan pengetahuan,keterampilan,dan perilaku perawat sesuai dengan pendidikan tambahan yang diikutinya Menetapkan klasifikasi,tingkat dan lingkup praktek keperawatan sesuai pendidikan tambahan yang dimilikinya Memnuhi persyaratan registrasi sesuai area praktik keperawatan LISENSI

26

Adalah proses administrasi yang dilakukan oleh suatu badan independen berupa penerbitan/praktik keperawatan sesuai dengan standar profesi di berbagai tatanan pelayanan kesehatan. Tujuan Lisensi Memberi Kejelasan batas kewenangan tiap kategori tenaga keperawatan untuk melakukan praktik keperawatan Mengesahkan atau memberi bukti untuk melakukan praktik keperawatan professional Mekanisme Legislasi Registrasi Persyaratan registrasi antara lain berupa kmampuan atau kompetensi yang diakui,tertuang dalam ijazah dan sertifikat. Registrasi meliputi dua kegiatan beikut 1. Registrasi Administrasi adalah kegiatan mendaftarkan diri yang dilakukan setiap tahun,berlaku untuk perawat professional dan vokasional 2. Registrasi Kompetensi adalah registrasi yang dilakukan setiap 5 tahun untuk memperoleh pengakuan,mendapatkan kewenangan dalam melakukan praktik keperawatan,berlaku bagi perawat professional. Perawat yang sudah teregistrasi mendapat surat izin praktek dan nomor register. Perawat yang sudah melakukan registrasi akan memperoleh kewenangan dan hak berikut : o Melakukan pengkajian o Melakukan terapi keperawatan o Melakukan Observasi o Memberikan pendidikan dan konseling kesehatan o Melakukan intervensi medis yang didelegasikan o Melakukan evaluasi tindakan keperawatan di berbagai tatanan pelayanan kesehatan Perawat yang tidak teregistrasi,secara hukum tidak memiliki kewenangan dan hak tersebut.Registrasi berlaku untuk semua perawat professional yang bermaksud melakukan praktik keperawatan di wilayah Negara republic Indonesia,termasuk perawat berijazah luar negeri.
27

Meknisme registrasi terdiri dari mekanisme registrasi administratif dan mekanisme registrasi kompetensi yang dilakukan melalui 2 jalur yaitu : o Ujian registrasi nasional o Pengumpulan kredit sesuai dengan ketentuan yang berlaku Proses registrasi (ANA,1980) diawali ketika seseorang telah menyelesaikan pendidikan keperawatan yang sesuai untuk melakukan registrasi kemudian mengajukan permohonan tertulis dan melalui pos untuk melakukan registrasi. SERTIFIKASI Mekanisme Sertifikasi Perawat teregistrasi mengikuti kursus lanjutan di area khusus praktik keperawatan yang diselenggarakan oleh institusi yang memenuhi syarat Mengajukan aplikasi disertai dengan kelengkapan dokumen untuk ditentukan kelayakan di diberikan sertifikat Mengikuti proses sertifikasi yang dilakukan oleh konsil keperawatan Perawat register yang memenuhi persyaratan,diberikan sertifikat oleh konsil keperawatan untuk melakukan praktik keperawatan lanjut LISENSI Mekanisme Lisensi Perawat yang telah memenuhi proses regisrasi mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk memperoleh perizinan/lisensi resmi dari pemerintah.Perawat yang telah teregistrasi dan sudah memiliki lisensi disebut perawat register,dan dapat bekerja di tatanan pelayanan kesehatan dan institusi pendidikan keperawatan Selain hal tersebut diatas berikut kebijakan pemerintah dalam keperawatan yang mengatur kinerja serta legalisasi seorang perawat yang tercantum dalam undangundang.

28

Peraturan menteri kesehatan republik Indonesia NOMOR HK.02.02/MENKES/148/1/2010 TENTANG IZIN DAN PENYELENGGARAAN PRAKTIK PERAWAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan pasal 23 ayat (5) undangundang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan perlu menetapkan peraturan menteri Kesehatan Tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat; Mengingat : 1. Undang-undang nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116, tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431); 2. Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah (Lembaran Negara republik Indonesia tahun 2004 nomor 125,tambaran lembaran Negara republic Indonesia nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan undang-undang nomor 12 tahun 2008 tentang perubahan kedua atas undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemrintahan daerah (lembaran Negara republic Indonesia tahun 2008 nomor 59,tambahan lembaran Negara republic nomor 4844); 3. undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan (lembar an Negara republic Indonesia tahun 2009 nomor 144,tambahan lembaran Negara republic Indonesia nomor 5063); 4. peraturan pemerintah nomor 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan (lembaran Negara republic Indonesia tahun 1996 nomor 49,tambahan lembaran Negara republic Indonesia nomor 3637); 5. peraturan pemerintah nomor 38 tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah,pemerintahan daerah provinsi ,dan pemerintahan daerah kabupaten/Kota (lembaran Negara republic Indonesia

29

tahun 2007 nomor 82,tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4737); 6. Peraturan menteri kesehatan nomor 1575/Menkes/Per/X1/2005 tentang telah Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan sebagaimana diubah terakhir dengan peraturan Menteri Kesehatan MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG IZIN DAN PENYELENGGARAAN PRAKTIK PERAWAT. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan : 1. Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam maupun diluar negeri sesuai dengan peraturan perunndang-undangan. 2. fasilitas Pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan promotif ,prefentif,kuratif dan rehabilitative 3. Surat izin praktik Perawat yang selanjutnya disingkat SIPP adalah bukti tertulis yang diberikan kepada perawat untuk melakukan praktik keperawatan secara perorangan dan atau berkelompok 4. Standar adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai perunjuk dalam menjalankan profesi yang meliputi standar pelayanan,standar profesi,dan standar prosedur oprasional 5. Surat tanda registrasi yang selanjutnya disingkat STR adalah bukti tertulis yang diberikan oleh pemerintah kepada tenanga kesehatan yang telah memiliki sertifikat kompetensi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan 6. Obat bebas adalah obat yang berlogo bulatan hijau yang dapat diperoleh tanpa resep dokter 7. Obat bebas terbatas adalah obat yang berlogo bulatan warna biruyang dapat diperoleh tanpa resep dokter 8. Organisasi profesi adalah peratuan perawat nasional Indonesia (PPNI)

30

BAB II PERIZINAN PASAL 2 1. Perawat dapat menjalankan praktik pada fasilitas pelayanan kesehatan 2. Fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi fasilitas pelayanan kesehatan diluar praktik mandiri dan atau praktik mandiri 3. Perawat yang menjalankan praktik mandiri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berpendidikan minimal DIII keperawatan PASAL 3 1. Setiap perawat yang menalankan praktik wajib memilii SIPP 2. Kewajiban memiliki SIPP dikecualikan bagi perawat yang menjalankan praktik pada fasilitas pelayanan kesehatan di luar praktik mandiri PASAL 5 1. Untuk memperoleh SIPP perawat harus mengajukan permohonan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota dengan melampirkan : Fotokopi STR yang masih berlaku dan dilegalisir Surat keterangan sehat fisik dari dokter yang memiliki surat izin praktik Surat pernyataan memiliki tempat praktik Pas foto berwarna terbaru ukuran 4X6 cm sebanyak 3 lembar Rekomendasi dari organisasi profesi

2. Surat permohonan memperoleh SIPP sebagaimana dimksud pada ayat 1 sebagaiman tercantum pada formulir terlampir 3. SIPP sebagaimana dimaksud pada ayat 1 hanya diberikan untuk 1 tempat praktik 4. SIPP sebagaimana dimaksud pada ayat 3 sebagaiman tercantum dalam formulir II terlampir PASAL 6 Dalam menjalankan praktik mandiri,perawat wajib memasang papan nama praktik keperawatan PASAL 7

31

SIPP dinyatakan tidak berlaku karena : Tempat praktik tidak sesuai lagi dengan SIPP Masa berlakunya habis dan tidak diperpanjang Dicabut atas perintah pengadilan Dicabut atas rekomendasi Organisasi Profesi Yang bersangkutan meninggal dunia BAB III PENYELENGGARAAN PRAKTIK PASAL 8 1. Praktik keperawatan dilaksanakan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama,tingkat kedua,dan tingkat ke tiga 2. Praktik keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 ditunjukan kepada individu,keluarga,kelompok dan mmasyarakat 3. Praktik keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilaksanakan melalui kegiatan : o Pelaksanaan asuhan keperawatan o Pelakanaan upaya promotif,preventif,pemulihan,dan pemberdayaan masyararakat o Pelaksanaan tindakan keperawatan komplementer 4. Tindakan keperawatan meliputi pelaksanaan prosedur keperawatan,observasi keperawatan,pendidikan dan konseling kesehatan 5. Perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan dapat memberikan obat bebas dan atau obat bebas terbatas PASAL 9 Perawat dalam melakukan praktik harus sesuai dengan kewenangan yang dimiliki PASAL 10 1. Dalam keadaan darurat untuk penyelamatan nyawa seseorang/pasien dan tidak ada dokter di tempat kejadian perawat dapat melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8

32

2. Bagi perawt yang ah yang tidak menjalankan praktik di daerah yang tidak memiliki dokter dalam rangka melaksanakan tugas pemerintah,dapat melakukan pelayanan kesehatan diluar kewenangan sebagaiman dimaksud dalam pasal 8 3. Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 harus mempertimbangkan kompetensi,tingkat kedaruratan dan kemungkinan untuk dirujuk 4. Daerah yang tidak memiliki dokter sebagaimana dimaksud pada ayat 2 adalah kecamatan atau kelurahan/desa yang ditetapkan oleh kepala dinas kesehatan kabupaten/kota 5. Dalam hal daerah sebagaimana dimaksud pada ayat 4 telah terdapat dokter,kewenangan perawat sebagaimana dimaksud pada ayat 2 tidak berlaku PASAL 11 Dalam melaksanakan praktik,perawat mempunyai hak : 1. Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan praktik keperawtan sesuai standar 2. Memperoleh infomasi yang lengkap dan jujur dari klien dan atau keluarganya 3. Melaksanakan tugas sesuai dengan kompetensi 4. Menerima imbalan jasa profesi 5. Memperoleh jaminan perlindungan terhadap resiko kerja yang berkaitan dengan tugsnya PASAL 12 1. Dalam melaksanakan praktik,perawat wajib untuk : Menghormati hak pasien Melakukan rujukan Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan Memberikan informasi tentang masalah kesehatan pasien/klien dan pelayanan yang dibutuhkan Meminta persetujuan tindakan keperawatan yang akan dilakukan Melakukan pencatatan asuhan keperawatan secara sistematis

2. Perawat dalam menjalankan praktik senantiasa meningkatkan mutu pelayanan profesinya,dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

33

melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya,yang diselenggarakan oleh pemerintah atau organisasi profesi 3. Perawat dalam menjalankan praktik wajib membantu program pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat BAB IV PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PASAL 13 1. Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan pembinaan dan pengawasan dengan mengikutsertakan organisasi profesi 2. Pembinan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan,keselamatan pasien dan melindungi masyarakat terhadap segala kemungkinan yang dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan PASAL 14 1. Dalam rangka pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam pasal 13, pemerintah dan pemerintah daerah dapat memberikan tindakan administrative kepada perawat yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan penyelenggaraan praktik dalam peraturan ini 2. Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan melalui : Teguran lisan Teguran tertulis Pencabutan SIPP

BAB V KETENTUAN PERALIHAN PASAL 15 1. SIPP yang dimiliki perawat berdasarkan keputusan menteri kesehatan nomor 1239/Menkes/SK/4/2001 tentang registrasi dan praktik perawat masih tetap berlaku masa SIPP berakhir

34

2. Pada saat peraturan ini mulai berlaku,SIPP yang sedang dalam proses perizinan dilaksanakan sesuai ketentuan keputusan menteri kesehatan nomor 1239/Menkes/SK/IV/2001 tentang registrasi dan praktik perawat BAB VI KETENTUAN PENUTUP PASAL 16 Pada saat peraturan menteri ini berlaku,keputusan menteri kesehatan PASAL 17 Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal di tetapkan Selain itu ada juga Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah daerah. telah memberi ruang otonomi dalam rangka menyejahterakan masyarakatnya, termasuk otonomi kesehatan yang bersifat kondisional di berbagai

35

BAB III PENUTUP


KESIMPULAN Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian keperawatan secara umum adalah upaya pemberian pelayanan/asuhan yang bersifat humanistic dan professional,dan dalam perkembanganya keperawatan sudah ada sejak zaman purbakala sampai sekarang masih berkembang menjadi ilmu sains terapan. Pendidikan keperawatan pun dari tahun ke tahun semakin maju. Seorang perawat juga sudah diakui di dalam hukum yang tertuang dalam undang-undang tentang keperawatan yang menyatakan perawat boleh membuka praktik.

36