Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MATA KULIAH TEORI ARSITEKTUR RA.

091355

APRESIASI RANCANGAN ARSITEKTUR DI SURABAYA DENGAN TINJAUAN TEORI IN DAN ABOUT

DOSEN: Ir. Josef Prijotomo, M. Arch NAMA/NRP: Fakhurin Khusnida N. / 3207100078

JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

I. PEMAHAMAN TEORI

TEORI IN Bentuk dan Ornamen pada Arsitektur (Architectural Form and Ornament) Stuart Durant

Bentuk dalam arsitektur diartikan sebagai shape atau massa, yang menyambungkan antara bagian horizontal dan vertikal yang secara alami ditangkap oleh mata pada sebuah bangunan. 1 Ornamen meningkatkan/mempertinggi status sebuah bangunan dengan menunjukkan bahwa pekerja dan kekayaan yang berlebihan. Hubungan antara ornamen dan bentuk arsitektural merupakan simbiosis yang sukses. Fungsi penting dari ornamen yaitu untuk menonjolkan dan menekankan bentuk.2 Ornamen tanpa kecuali berasosiasi dengan rangkaian komponen arsitektur seperti kolom, entablatur,pedimen, arch dan dome. Ornamen arsitektural dapat mengambil bentuk yang menggambarkan sifat alami dan perkembangan dari manusia, hewan dan tumbuhan.3

INTERPRETASI TEORI Hal yang pertama kali akan terlihat (secara otomatis) dan dilihat (oleh orang) pada sebuah bangunan adalah bentuknya. Orang biasanya menilai sebuah bangunan berawal dari tampaknya, hal ini berarti juga tergantung pada bentuknya karena tampak merupakan hasil dari bentukan. Antara ornament dan bentuk bangunan mempunyai hubungan yang erat. Bangunan yang mempunyai ornament akan dinilai lebih baik dari pada bangunan tanpa ornamen karena ornamen mampu menonjolkan bentuk bangunan. Sehingga bisa dikatakan bahwa ornament dapat mempertinggi status sebuah bangunan.

Ornamen berasosiasi dengan rangkaian komponen arsitektur seperti kolom, entablatur, pedimen, arch dan dome. Bentuk-bentuk ornament biasanya mengambil dari bentukan alam
1

Form is understood as shape or mass. It is the conjunction of the vertical and the horizontal that the eye naturally first lights upon in a building (Ben Farmer page 55)
2

Ornament enhances the status of a building by indicating that labour and wealth have been lavished upon it. The relationship between ornament and architectural form is, ideally, one of successful symbiosis. An important function of ornament has always been to explicate as well as to emphasize form (Ben Farmer page 55)
3

Ornament is invariably associated with the concatenation of the familiar components of architecture columns, capitals, entablatures, pediments, arches and domes. Architectural ornament can take the form of representasions, both stylized and naturalistic, of human, animal and plant form. (Ben Farmer page 55)

yang sudah ada seperti tumbuhan, hewan dan manusia. Selain itu dapat juga berupa bentuk geometris maupun abstrak. Bentukan tersebut selanjutnya dikembangkan sedemikian rupa oleh masyarakat dengan mengikuti perkembangan mode. Pada bangunan islami hiasan yang digunakan sering terbuat dari squinch system arch tambahan yang ditempatkan pada sudut dalam struktur untuk menyokong dome. Di Jepang dan China atap lengkung merupakan ekspresi kuat dari bentuk yang menunjukkan kecakapan sang pembangun dan tukang kayu. Bracket/penopang atap menjadi poin utama dari pusat dekoratif. Di setiap langgam mulai dari Yunani, Romawi, Byzantine hingga post modern semua mempunyai bentuk dan ornamen yang berbeda-beda. Langgam Yunani dengan pediment, entablature dan kolom. Ornamentasi pada kolom berupa dorik dan ionic. Pada Romawi bentuk bangunan mulai dikembangkan dengan arch dan dome. Ornamentasinya lebih rumit dibandingkan dengan Yunani. Dapat dikatakan juga bahwa bentuk dan ornamentasi menunjukkan style yang digunakan pada sebuah bangunan.

Bagian Arsitektur yang harus diperhatikan: bentuk bangunan dan ornamen-ornamen apa saja yang terdapat pada bangunan.

TEORI ABOUT

Material and Culture Toshiko Mori

Sejarah material nyaris terangkai dengan peradaban manusia. Dengan melihat jejak evolusi material, salah satunya dapat menemukan pemahaman ke dalam politik dan sejarah. 1 Pada tingkatan paling dalam dari kehidupan material, terdapat pada pekerjaan dengan susunan yang kompleks/rumit, yang mana anggapan dasar / asumsi, kecenderungan dan tekanan bawah sadar dari ekonomi, masyarakat, dan peradaban/cara hidup semua berkontribusi.2 Contoh dari susunan rumit dapat ditemukan pada sejarah anyaman. Banyak budaya juga menggunakan arsitektural anyaman untuk membangun rumah.3
1

The history of materials is closely intertwined with the story of human civilization. By tracing the evolution of materials, one can find insight into politics and history. (Bernard Tcshumi page 30)
2

At the very deepest levels of material life, there is at work a complex order, to which the assumptions, tendencies and unconscious pressures of economies, societies and civilization all contribute. (Fernand Braudel. The structure of Everyday Life: 333) (Bernard Tschumi page 30 An example of such a complex order can be found in the history of weaving. Many cultures have also used weaving architecturally to fabricate house.
3

Saat ini, anyaman berlanjut pada area inovasi. Teknik yang menerjemahkan secara mudah antara teknologi tinggi dan rendah, anyaman dapat dilakukan secara manual, dengan mesin atau dengan digital.4 Di masa depan ekspresi dan terang-terangan penggunaan material baru akan tidak raguragu merubah dan menantang estetik bangunan di dunia. Arsitek harus lebih cerdik, dapat menciptakan, dan imaginative dalam menggunakan teknologi material.5

INTERPRETASI TEORI Sejarah perkembangan material berkaitan erat dengan perkembangan peradaban manusia. Semakin tinggi peradaban manusia maka semakin berkembang material. Karena manusialah yang mengolah material. Salah satu contohnya adalah clay. Di Mesopotamia clay digunakan untuk menyimpan air dan makanan. Saat ini inti utama dari clay silikon- digunakan untuk chip komputer. Dalam perkembangannya, kerumitan material dipengaruhi juga oleh

anggapan, kecenderungan dan tekanan bawah sadar dari ekonomi, masyarakat dan gaya hidup yang ada. Contoh dari material dengan susunan yang rumit yaitu anyaman. Sejarah anyaman dapat ditelusuri dengan mengikuti alur pergerakan bahan anyaman seperti sutra dari china, linen darI mesir, & wool dari Mesopotamia. Dari penelusuran ini kita sekaligus dapat mempelajari banyak hal tentang sejarah perdagangan. Anyaman di setiap daerah mempunyai arti yang berbeda dengan daerah yang lain karena faktor budaya yang juga berbeda. Di Inca pola anyaman dianggap sebagai obyek yang menakutkan. Banyak kebudayaan yang juga menggunakan arsitektural anyaman untuk membangun rumah seperti untuk atap. Saat ini anyaman berada di tahap inovasi. Jika dulu anyaman dikerjakan secara manual, sekarang anyaman dapat dikerjakan menggunakan mesin maupun digital. Perkembangan material yang lain salah satunya pada kapal. Material yang awalnya menggunakan kayu solid mulai berkembang menjadi fiberglass, Kevlar dan carbon fiber. Teknologi dan inovasi yang mendukung perkembangan material semakin meimpah ruah, namun sayangnya jarang diaplikasikan pada arsitektur. Alasannya adalah sebagian besar karena ekonomi.
4

Today, weaving continues to be an area of innovation. A technique that translates easily between high- and low-tech, weaving can be done manually, mechanically, or digitally
5

In the future the expression and overt use of new materials will undoubtedly transform and challenge the aesthetics of the built world.Architect must be more ingenious, inventive and imaginative in using material technologies.

Di masa depan ekspresi penggunaan material baru secara terang-terangan pasti membawa perubahan dan tantangan estetik pada bangunan di seluruh dunia. Oleh karena itu arsitek harus lebih cerdik dan imajinatif dalam menggunakan teknologi material. Kita seharusnya mengadopsi mental scavenger, membiasakan diri dengan berbagai macam bentuk fabrikasi, baik itu berteknologi rendah maupun tinggi. Penggunaan teknologi dan teknik harus selalu bersifat membangun peradaban manusia. Bagian Arsitektur yang harus diperhatikan: penggunaan material pada bangunan dan apa saja pengaruh budaya pada bangunan.

II.

APRESIASI

A. Deskripsi Obyek Karya Rancangan


Inti dari konsep pembangunan rumah ini memadukan langgam post modern dengan historicism. Yang dimaksud dengan historicism mengacu pada style jawa karena arsitek mengetahui bahwa klien yang merupakan orang Jawa menyukai dan merasa nyaman dengan style tersebut. Namun historicism jawa tidak diaplikasikan dalam pembagian ruangnya. Rumah tinggal Ir. Suluh selesai dibangun tahun 2000 dan mulai dihuni tahun 2001. Namun sejak tahun 2008 sang pemilik rumah lebih sering berada di Jakarta dan saat ini hanya dihuni beberapa penjaga.

B. Pemeriksaan Obyek Rancang terhadap Teori


Terhadap Teori IN Sesuai dengan konsep yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa rumah ini memadukan langgam post modern dengan historicism jawa. Pengaplikasian dari konsep ini antara lain sebagai berikut: 1 Bentuk bangunan yang mencerminkan post modern. Sebenarnya rancangan bentuk bangunan ini tidak terlepas dari lingkungan sekitarnya. Lahannya berada di daerah perumahan dengan masyarakat yang heterogen. Bentuk rumah ini mengikuti bentukan-bentukan bangunan yang sudah ada (dia tidak ingin menjadi poin yang mencolok). 2. Atap berbentuk limas juga tidak terlepas dari lingkungan sekitar. 3. Adanya ornamen berupa ukiran-ukiran pada rumah inilah yang mencerminkan historicism jawa. Juga yang memberikan sebuah ciri khas yang berbeda dari bangunanbangunan disekitarnya. Ukiran-ukiran ini terdapat dibeberapa tempat seperti pada pintu, pada dinding pembatas, pada perabot dan pada beberapa tempat di bagian belakang rumah (daerah

kolam renang). Pola ukiran berupa sulur-sulur daun yang berulang. Selain itu juga terdapat patung kepala gajah di daerah kolam renang. 4. Banyak menggunakan material kayu dan batu alam untuk memenuhi historicism jawa. Material lain yang digunakan yaitu logam. Besi pada pagar (mencerminkan post modern) dan kuningan yang diukir menjadi handle pintu dll.

Terhadap Teori ABOUT Material yang ditonjolkan pada rumah ini adalah kayu dan batu alam. Material kayu diukir dan digunakan pada pintu masuk, dekoratif pada sebagian besar daerah kolam renang serta interior rumah. Batu alam digunakan sebagai finishing pada kolom, lantai dan sebagian dinding. Selain itu terdapat material logam berupa kuningan yang diukir dan digunakan sebagai handle pintu. Hal ini merupakan sebuah bentuk perkembangan teknologi material. Bahwa tidak hanya kayu yang dapat diukir, saat ini logam pun dapat diukir dengan peralatan tertentu. Batu alam yang digunakan juga merupakan hasil fabrikasi (dibeli sudah dalam bentuk tertentu, persegi misalnya). Pengaruh budaya yang tampak pada bangunan ini adalah budaya Jawa. Dari tampak depan saja sudah terbentuk kesan Jawa. Yang menunjukkan adalah ornamen-ornamen berupa ukiran yang menghiasi pintu dan dinding bangunan. Jika masuk lebih jauh ke belakang rumah maka akan semakin terasa pengaruh budayanya. Apalagi di bagian kolam renang, banyak terdapat dekoratif-dekoratif arsitektur tradisional Jawa seperti pergola berukir dengan pot besar dibawahnya serta patung berbentuk kepala gajah.

C. Catatan Penutup
Adanya ornamen pada rumah ini menonjolkan dan menekankan bentuk sehingga rumah ini menjadi tidak sekedar sebuah bangunan namun menjadi sebuah arsitektur. Ornamenornamen berupa ukiran pada bangunan ini menunjukkan adanya pengaruh budaya Jawa. Material yang digunakan secara tidak langsung menunjukkan perkembangan peradaban manusia.

Kita sebagai calon arsitek seharusnya mengeksplorasi budaya material lebih jauh lagi.

III. LAMPIRAN

Identifikasi Bangunan Pemilik Lokasi Arsitek Fungsi bangunan : Ir, Suluh Dinata : Jl. Gayung Kebonsari XI - No. 25, Surabaya : Ir. Andy Mappa Jaya, MT : Rumah tinggal keluarga Suluh

Tahun pembangunan : selesai dibangun tahun 2000 Luas bangunan : 400m 2

Tampak ornament-ornamen

Interior dalam rumah

Foto-foto bagian belakang rumah

IV. KEPUSTAKAAN

Farmer, Ben. (1993). Companion to Contemporary Architectural Thought. Ir. Andy Mappa Jaya, MT Tschumi, Bernard & Cheng, Irene. The State of Architecture at The Beginning of The 21st Century

Theories and manifestoes of Contemporary architecture page 167