Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pemenuhan kebutuhan informasi tentang kesehatan dan kebersihan reproduksi yang benar kepada remaja kalangan sekolah menengah pertama dan atas sampai saat ini dirasakan masih kurang. Remaja menjadi salah mengartikan tentang kesehatan reproduksi dan membawa mereka dalam permasalahan yang kompleks dan mengkhawatirkan. Hal ini dapat dilihat dari masih rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan dan kebersihan reproduksi. Kemajuan teknologi membuat remaja lebih mudah mendapatkan informasi tentang segala hal khususnya tentang perkembangan reproduksi. Akan tetapi informasi yang didapatkan jika tidak berasal dari sumber yang terpercaya dan terbukti kebenarannya dapat menyesatkan remaja yang rasa ingin tahunya cukup tinggi. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang salah dapat

menyebabkan remaja melakukan hal-hal negatif, seperti seks bebas. Data survei Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) tahun 2008 dikumpulkan dari 4.726 responden siswa SMP dan SMA di 17 kota besar

menyebutkan bahwa 97% remaja SMP dan SMA mengaku pernah menonton film porno dan 93,7% dari para remaja itu mengaku pernah melakukan berbagai macam adegan intim tanpa penetrasi. Selain itu sebanyak 62,7% remaja SMP tidak perawan dan 21,2 % remaja mengaku pernah aborsi. Perilaku seks bebas pada remaja tersebar dari kota hingga ke desa dan tidak hanya tingkat ekonomi kaya tetapi juga yang miskin. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) tahun 2006, diperoleh temuan bahwa remaja yang mengaku pernah melakukan hubungan seks pra nikah adalah remaja berusia antara 13 sampai 18 tahun. Dari data tersebut sebanyak 60% dari para remaja itu mengaku tidak menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan intim dan mengaku melakukannya di rumah sendiri. (http://www.citizenjurnalism.com/hot-topics/627-persen-siswi-smp-tidak-

perawan/)

Pubertas pada remaja putri umumnya terjadi pada usia 9-16 tahun. Usia pubertas dipengaruhi oleh faktor kesehatan, gizi, sosial-ekonomi, dan keturunan. Remaja putri gemuk cenderung mengalami siklus menstruasi pertama

(menarche) lebih awal. Sedangkan remaja putri yang kurus dan kekurangan gizi cenderung mengalami siklus menstruasi pertama (menarche) lebih lambat. Menarche merupakan menstruasi yang datang pertama kalinya yang merupakan puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada remaja putri yang sedang menginjak dewasa dan sebagai tanda remaja tersebut sudah mampu untuk hamil. Bersamaan dengan dimulainya menarche pada remaja putri, maka terjadi pula perubahan pada organ-organ tubuh yang ada, seperti membesarnya payudara, tumbuhnya rambut pubis, rambut ketiak, dan panggul juga bertambah lebar.(Dianawati,Ajen. 2003. Pendidikan Seks untuk Remaja. Jakarta: Kawan Pustaka) Usia remaja adalah usia dimana organ reproduksi rentan terhadap infeksi saluran reproduksi, kehamilan, dan seks bebas. Kehamilan yang tidak diinginkan memicu perilaku remaja untuk melakukan aborsi. Hal inilah yang akhir-akhir ini terjadi pada remaja di masyarakat. (Efendi,dkk. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika) Kebutuhan informasi pada remaja putri tentang kesehatan dan

kebersihan reproduksi sangatlah penting. Menarche biasanya membuat khawatir remaja putri karena takut dan bingung tentang bagaimana cara

membersihkannya dan tidak tahu tentang masa subur. Pentingnya informasi kesehatan reproduksi membuat remaja dapat mengetahui hal-hal yang seharusnya dilakukan dan dan hal-hal yang seharusnya dihindari. Oleh karena itu penulis membahas tentang promosi kesehatan dan kebersihan alat reproduksi pada remaja putri menjelang menarche

1.2 Tujuan Penulisan 1.2.1 Tujuan Umum Remaja perempuan dapat mengetahui dan memahami tentang kesehatan dan kebersihan alat reproduksi menjelang menarche 1.2.2 Tujuan Khusus 1.2.2.1 Peserta dapat mengetahui konsep promosi kesehatan 1.2.2.2 Peserta dapat menyebutkan struktur alat reproduksi wanita

1.2.2.3 Peserta dapat mengetahui perhitungan masa subur 1.2.2.4 Peserta dapat menjelaskan dan memperagakan cara

membersihkan alat reproduksi 1.2.2.5 Peserta dapat memahami dan menyebutkan dampak pergaulan bebas 1.2.2.6 Peserta dapat menyebutkan macam-macam penyakit menular seksual 1.2.2.7 Peserta dapat memahami Tips dan Tricks Menjaga Kesehatan Reproduksi

BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Konsep Promosi Kesehatan 2.1.1 Definisi Promosi Kesehatan Promosi kesehatan adalah revitalisasi pendidikan kesehatan pada masa lalu, dimana dalam konsep promosi kesehatan bukan hanya sebagai proses penyadaran masyarakat dalam hal pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat dalam bidang kesehatan saja, akan tetapi upaya bagaimana mampu membatasi adanya perubahan perilaku seseorang. Hal ini berarti promosi kesehatan merupakan program kesehatan yang dirancang untuk membawa perbaikan yang berupa perubahan perilaku seseorang, baik yang ada di masyarakat sendiri maupun di dalam organisasi dan lingkungan sekitar, baik lingkungan fisik, non fisik, social budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. (Mubarak, Wahid iqbal.2009. ilmu keperawatan komunitas; pengantar dan teori. Jakarta : salemba medika ) Strategi untuk dapat mewujudkan suatu perubahan kearah perilaku hidup sehat di dalam masyarakat tidaklah mudah. Banyak yang telah membuktikan bahwa banyak faktor yang dapat menghambat perubahan perilaku tersebut. Dimana salah satu faktor terbesarnya adalah kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki oleh masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. Sebagai contoh yang terjadi dimasyarakat mengenai kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan sebenarnya sudah sangat tinggi, misalnya seperti sangitasi lingkungan, pentingnya gizi yang baik, manfaat imunisasi dan banyak yang laiannya, sudah cukup tinggi. Namun, bila tidak didukung oleh fasilitas, maka akan sangat sulit bagi masyarakat untuk mewujudkan perilaku hidup sehat tersebut. Pengetahuan remaja tentang kesehatan dan kebersihan reproduksi masih tergolong rendah. Pengaruh informasi global (paparan media audio-visual) yang semakin mudah diakses justru memancing anak dan remaja untuk

mengadaptasi kebiasaan-kebiaasaan tidak sehat seperti merokok, minum minuman berakohol, penyalahgunaan obat dan suntikan terlarang, perkelahian antar-remaja atau tawuran. Pada akhirnya, secara kumulatif kebiasaankebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal seksual aktif serta

mengantarkan mereka pada kebiasaan berperilaku seksual yang berisiko tinggi, karena kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi.(Salim, Emil.2000. Kembali ke Jalan Lurus. Jakarta:AlvaBet) Khusus bagi remaja putri, mereka kekurangan informasi dasar mengenai keterampilan menegosiasikan hubungan seksual dengan pasangannya. Mereka juga memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk mendapatkan pendidikan formal dan pekerjaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuan pengambilan keputusan dan pemberdayaan mereka untuk menunda perkawinan dan kehamilan serta mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki. Bahkan pada remaja putri di pedesaan, menarche biasanya akan segera diikuti dengan perkawinan yang menempatkan mereka pada risiko kehamilan dan persalinan dini .

(http://www.kesrepro.info/?q=node/367) Strategi awal pencegahan dan peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi harus ditunjang dengan materi komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang tegas tentang penyebab dan konsekuensi perilaku seksual. Hingga saat ini, informasi tentang kesehatan reproduksi disebarluaskan dengan pesan-pesan yang samar dan tidak fokus, terutama bila mengarah pada perilaku seksual. Oleh karena itu promosi kesehatan yang jelas, transparan, dan terbukti kebenarannya dapat menjadi landasan para remaja putri dalam mengambil keputusan dengan benar.

(http://www.kesrepro.info/?q=node/367) 2.1.2 Strategi promosi kesehatan Strategi yang baik diperlukan untuk mewujudkan promosi kesehatan. Strateginya adalah bagaimana cara yang digunakan dalam mencapai apa yang diinginkan dalam promosi kesehatan sebagai penunjang program - program kesehatan yang lain, misalnya pemberantasan penyakit menular, sanitasi lingkungan, status gizi masyarakat, pelayanan kesehatan, dan lain sebagainya. Strategi ini snagat diperlukan dlam upaya mewujudkan visi dan misi dari promosi kesehatan tersebut. Strategi promosi kesehatan yang dapat digunakan untuk mewujudkan promosi kesehatan adalah sebgai berikut :

2.1.2.1

Strategi global Dalam strategi global, ada tiga cara yang digunakan antara lain

sebagai berikut : (Mubarak, Wahid iqbal.2009. ilmu keperawatan komunitas; pengantar dan teori. Jakarta : salemba medika ) a. Advokasi (advocacy) Kegiatan ditujukan kepada pembuat keputusan (decision makers) dan penentu kebijakan (policy makers), baik dlaam bidang kesehatan ataupun sector lain diluar kesehatan yang memiliki pengaruh terhadap masyarakat. Para pembuat keputusan akan mengadakan atau mengeluarkan kebijakan- kebijakan dalam bentuk peraturan, undang- undang, dan institusi yang diharapkan menguntungkan bagi kesehatan masyarakat umum. Strategi ini dikatakan berhasil apabila sasaran yang dituju tepat. Dimana sasaran advokasi adalah para pejabateksekutif dan legislative, para pejabat pemerintah, swasta, pengusaha, partai politik, dan organisasi masyarakat lainnya. Kemudian bentuk dari advokat dapat berupa proses, melalui pendekatan atau pembicaraan formal maupun informal terhadap pembuat keputusan, penyajian masalah kesehatan atau yang mempengaruhi kesehatan masyarakat setempat, dan seminar kesehatan b. Dukungan social (social support) Akan mudah dilakukan apabila mendapat dukungan dari berbagai elemen yang ada di masyarakat, antara lain dari unsur informal (tokoh agama, tokoh adat yang memiliki pengaruh di masyarakat) unsur formal (petugas kesehatan dan pejabat pemerintah). Dengan adanya dukungan dari dua unsur tersebut diharapkan promosi kesehatan dapat dijembatani, baik dari pihak pengelola program kesehatan maupun dari masyarakat itu sendiri. Harapannya, apabila kedua unsur tersebut telah memiliki perilaku sehat, maka akan mudah ditiru oleh anggota masyarakat yang lainnya. c. Pemberdayaan masyarakat (empowerment community) Pemberdayaan dibutuhkan agar masyarakat mendapatkan kemampuan dalam memelihara dan menigkatkan kesehatan

dirinya sendiri. Upaya ini dapat dilaksanakan melalui penyuluhan kesehatan dan pengorganisasian pembanguna masyatrakat (PPM) dalam bentuk pelatihan keterampilan untuk meningkatkan

pendapatan masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan pemberdayaan masyarakat lebih diarahkan pada kegiatan penggerakkan

masyarakat untuk kesehatan.

2.1.2.2

Piagam Ottawa Strategi promosi kesehatan menurut piagam Ottawa antara lain

sebagai berikut :(Mubarak, Wahid iqbal.2009. ilmu keperawatan komunitas; pengantar dan teori. Jakarta : salemba medika ) a. Kemampuan (keterampilan individu) Individu yang berada di dalam masyarakat diharapkan mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang baik dalam memelihara kesehatannya, mengenal penyebab penyakit,

mencegah penyakit, mampu meningktkan kesehatannya, dan mampu mencari pengobatan yang layak apabila mereka merasa sakit. b. Gerakan masyarakat Unsur- unsur yang ada di masyarakat harus melakukan kegiatan kesehatan secara bersama-sama. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakn tersebut dalam upaya meningkatkan kesehatan mereka sendiri yaitu wujud dari gerakan masyarakat. c. Reorientasi pelayanan kesehatan Melibatkan masyarakat dalam pelayanan kesehatan berarti memberdayakan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan sendiri melainkan juga tanggung jawab masyarakat / konsumen. d. Kebijakan berwawasan kesehatan Maksud dari kebijakan ini adalah semua pembangunan dibidang apa saja harus mempertimbangkan dampak kesehatan bagi masyarakat. e. Lingkungan yang mendukung

Setiap

aktivitas

yang

dilakukan

oleh

masyarakat

seharusnya memperlihatkan dampak yang akan terjadi pada lingkungan sekitar. Lingkungan yang mendukung dapat

mempermudah upaya promosi kesehatan.

2.1.3 Struktur Reproduksi Wanita


2.1.3.1 Organ reproduksi bagian luar

a. Mons pubis Mons pubis merupakan bantalan jaringan lemak yang terletak di atas simfisis pubis. Struktur ini ditutupi oleh kulit dan rambut pubis. Mons fubis berfungsi sebagai bantal pada waktu melakukan hubungan seks. Kulit mons pubis mengandung kelenjar keringat yang khusus dan sekresi kelenjar tersebur akan memberikan aroma yang khas, sekresi ini dianggap mempunyai makna seksual tertentu pada laki-laki.Fungsi abnormal : apabila tdk dicukur secara rutin akan menyebabkan bakteri terkumpul yg dapat menimbulkan infeksi.Sindrom hipersirtuisme menyebabkan pertumbuhan rambut sangat tebal hingga ke perut, seperti laki-laki. b. Labia mayora Labia mayora (bibir besar) terdiri atas dua lipatan kulit dengan jaringa lemak dibawahnya yang berlanjut kebawah sebagai perluasan dari mons pubis dan menyatu menjadi perinium. Labia mayora memiliki rambut dan kelenjar pada permukaan lateralnya, namun permukaan dalamnya licin. Berfungsi sebagai pelindung karena kedua bibir ini menutupi dinding masuk vagina sementara bantalan lemaknya bekerja sebagai bantal. Labia mayora juga bererfungsi untuk menutupi organ-organ genetalia di dalamnya dan mengeluarkan cairan pelumas pada saat menerima rangsangan seksual. c. Labia minora Labia minora (bibir kecil) merupakan dua buah lipatan tipis kulit yang terletak disebelah dalam labia minora. Kedua bibir kecil

d.

e.

f.

g.

bertemu di sebelah depan dan pada titik temu ini terdapat klitoris. Disebelah posterior labia minora bergabung membentuk fourchette. Labia minora tidak memiliki lemak subcutan. Permuakaan internalnya bisa saling bersentuhan dan dengan demikian menambahkan pengamanan kepada lubang masuk vagina.Berfungsi untuk menutupi organ-organ genetalia di dalamnya serta merupakan daerah erotik yang mengandung pambuluh darah dan syaraf. Klitoris Klitoris merupakan gabungan labium mayor dan labium minor pada bagian atas labium membentuk tonjolan kecil. Klitoris merupakan organ erektil yang dapat disamakan dengan penis pada pria karena mengandung korpus kavernosa. Fungsi Banyaknya ujung saraf dalam klitoris menyebabkannya menjadi sangat sensitif terhadap sentuhan atau tekanan langsung atau tidak langsung. Rangsangan pada daerah klitoris dapat menjadi nikmat, bahkan memberikan pemiliknya kenikmatan seksual merupakan satu-satunya fungsi organ ini yang diketahui. Fungsi utama : klitoris adalah satu-satunya organ manusia yang memiliki pemberi kenikmatan. Fungsi abnormal : kelebihan hormon androgen menyebabakan klitoris membesar (sindrom chusing) Vagina Fungsi vagina : untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada haid, untuk jalan lahir dan untuk kopulasi (persetubuhan). Fungsi abnormal : vagina terserang bakteri/virus. Contohnya : virus herpes simplex. Vestibulum Vestibulum adalah nama yang diberikan pada rongga yang dikelilingi oleh labia minora. Orifisium uretra bermuara ke dalam vestibulum tepat disebelah bawah klitoris. Berfungsi untuk mengeluarkan cairan apabila ada rangsangan seksual yang berguna untuk melumasi vagina pada saat bersenggama. Perineum Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah ruptur.
Organ bagian dalam

2.1.3.2

a. Ovarium Ovarium Ovarium (indung telur) berjumlah sepasang, berbentuk oval dengan panjang 3 - 4 cm. Ovarium berada didalam rongga badan, di daerah pinggang. Umumnya setiap ovarium menghasilkan ovum setiap 28 hari. Fungsi ovarium yakni menghasilkan ovum (sel telur) sertahormon estrogen dan progesteron.Fungsi abnormal : hipogonadisme, terjadi bila sekresi ovarium kurang dari normal karena ovarium tdk terbentuk sempurna b. Oviduk (tuba falopi) saluran telur berjumlah sepasang (di kanan dan kiri ovarium) dengan panjang sekitar 10 cm.Oviduk berfungsi untuk menyalurkan ovum dari ovarium menuju uterus. c. Uterus Uterus (kantung peranakan) atau rahim merupakan rongga pertemuan oviduk kanan dan kiri yang berbentuk seperti buah pir dan bagian bawahnya mengecil yang disebut serviks (leher rahim). Uterus manusia berfungsi sebagai tempat perkembangan zigot apabila terjadi fertilisasi. Fungsi abnormal Kanker serviks terjadi jika sel-sel abnormal tumbuh di seluruh lapisan epitel serviks. Penanganannya dilakukan dengan mengangkat uterus, oviduk, ovarium, sepertiga bagian atas vagina dan kelenjar limfe panggu d. Endometrium Lapisan endometrium (dinding rahim) tersusun dari sel-sel epitel dan membatasi uterus. Fungsi lapisan endometrium menghasilkan banyak lendir dan pembuluh darah. Fungsi abnormal e. Endometriosis Endometriosis adalah keadaan dimana jaringan endometrium terdapat di luar uterus, yaitu dapat tumbuh di sekitar ovarium, oviduk atau jauh di luar uterus. Gejala endometriosis berupa nyeri perut, pinggang terasa sakit dan nyeri pada masa menstruasi. Jika tidak ditangani, endometriosis dapat menyebabkan sulit terjadi kehamilan. Lapisan endometrium akan menebal pada saat ovulasi (pelepasan ovum dari ovarium) dan akan meluruh pada saat menstruasi f. Ligamentum Berfungsi untuk mengikat atau menahan organ-organ reproduksi wanita agar terfiksasi dengan baik pada tempatnya, tidak bergerak dan berhubungan dengan organ sekitarnya.

(Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta:EGC) 2.1.4 Menarche

2.1.5 Perhitungan Masa Subur 2.1.6 Cara Menjaga Kebersihan Alat Reproduksi

1. Selalu gunakan celana dalam berbahan katun, Katun merupakan kain terbaik yang sesuai untuk semua jenis kulit. Dengan menggunakan celana dalam katun, memungkinkan organ genital untuk menghirup udara segar dan selalu membantunya tetap kering. 2. Hindari hubungan seksual bila Anda mengalami tanda-tanda infeksi vagina, Infeksi vagina biasanya disebabkan oleh ragi (jamur) dan menyebabkan gatal dan sakit di vagina. Infeksi ini terkadang menimbulkan nyeri atau rasa seperti terbakar ketika berkemih atau berhubungan seksual. Untuk menghindari penyebaran dan memperparah infeksi, sebaiknya hindari berhubungan seksual selama gejala infeksi masih terasa. 3. Banyak makan sayur dan buah untuk mencegah infeksi vagina, Selalu menyertakan buah dan sayuran pada menu harian Anda. Sayur dan buah yang kaya serat serta antioksidan tidak hanya membantu mencegah infeksi ragi vagina, tetapi juga membantu menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. 4. Hindari penggunaan bahan kimia untuk daerah vagina, Usahakan untuk tidak menggunakan produk tertentu seperti sabun deodoran, lotion atau produk kesehatan feminin lain yang dapat menyebabkan iritasi pada organ vagina. Terlebih lagi bila Anda memiliki alergi dengan bahan-bahan kimia. 5. Jangan menggaruk organ intim, Jangan pernah menggaruk bila Anda mengalami gatal atau iritasi pada organ vagina. Cobalah gunakan kain katun lembut dan air hangat untuk membuatnya lebih baik. Hal ini dapat menghindari penyebaran infeksi ke organ lain pada vagina. 6. Jangan gunakan jelly atau minyak berparfum untuk pelumas vagina, Jelly petroleum atau minyak berparfum yang digunakan sebagai pelumas vagina dapat menyebabkan perkembangbiakan bakteri di dalam dan di sekitar vagina. 7. Jaga kebersihan selama menstruasi, Kebersihan pada saat siklus menstruasi sangatlah penting untuk menghindari masalah vagiva. Hindari menggunakan pembalut yang beraroma (parfum) dan mengangdung gel, karena dapat menimbulkan iritasi dan gatal pada vagina.Selain itu, selalu menjaga daerah vagina tetap bersih dan kering. Ganti pembalut jika terdapat gumpalan darah di atas pembalut, yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan bakteri dan jamur.

8. Basuh vagina dengan air besih dan mengalir, Untuk menghindari masuknya bakteri dan jamur, basuhlah organ intim dengan air bersih dari arah depan ke belakang (vagina ke anus). Selain itu, selalu gunakan air yang mengalir atau berasal dari kran jika berada di toilet umum. 9. Keringkan setelah buang air kecil atau besar, Setelah Anda selesai buang air kecil atau besar, biasakan selalu mengeringkan organ intim dengan tisu atau handuk. Hal ini dapat menghindari perkembangbiakkan bakteri di dalam dan sekitar vagina.

2.1.7 Dampak Pergaulan Bebas 2.1.8 Penyakit Menular Seksual 2.1.9 Tips dan Tricks Menjaga Kesehatan Reproduksi 2.2 Masalah Kesehatan Kelompok Khusus 2.3 Strategi Promosi Kesehatan Pada Kelompok