Anda di halaman 1dari 1

MINGGU, 26 FEBRUARI 2012

PARODI SUPERHERO

MONUMEN

WAYANG KARTUN

GUYON BEBAS

S P O R T O TA K M I N G G U
Judul Buku: Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia Penulis: Koh Young Hun Penerbit: Gramedia Cetakan: I, Desember 2011 Tebal: 407 Halaman

Judul: Aftermath - Panduan untuk Mempersiapkan Diri dalam Menghadapi Kiamat 2012 Penulis: Lawrence E. Joseph Penerbit: Gramedia Cetakan : Januari 2012 Tebal : 282 halaman

Membuka Indonesia untuk Tionghoa


INDONESIA mulanya adalah kotak terbuka yang siap-sedia diisi bermacam kebudayaan, ras, agama, dan suku. Hal itu tercederai karena kepentingan politik yang tak mampu mengeliminir hasrat berkuasa. Nalar penguasaan itu, pada akhirnya, mengorbankan anak negeri. Anak bangsa yang dinilai mengancam stabilitas kekuasaan dicitrakan buruk. Tionghoa, dalam panggung sejarah Indonesia, merupakan salah satu korban kekuasaan itu. Buku ini menelusuri perilaku diskriminatif yang menimpa masyarakat Tionghoa. Orang pribumi dan Tionghoa diadu-domba oleh rezim Orde Baru untuk melanggengkan kekuasaan. Hal ini dilakukan pemerintah demi mengamankan ''stabilitas'' kekuasaan. Perlakuan diskriminatif yang dilakukan kelompok suku bangsa mayoritas pribumi terhadap kelompok minoritas Tionghoa, mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat. Yang pertama adalah Tionghoa digolongkan sebagai pribumi tetapi tidak asli setempat dan karena itu mempunyai posisi minoritas. Sedangkan yang kedua, orang Tionghoa digolongkan sebagai orang asing. Streotipe itu, menurut Afthonul Afif, masih berkembang di benak masyarakat pribumi hingga kini. Meski secara de facto mereka telah menjadi warga negara Indonesia yang sah. Itu menjadi bukti tidak berhasilnya program asimilasi atau pembauran yang pernah dijalankan pemerintah Orde Baru. Penggantian nama Tionghoa menjadi nama yang identik dengan nama orang pribumi, semisal Jawa, Sunda, Batak, dan sebagainya, belum berhasil mengalihkan persangkaan itu. Parahnya, hal itu berlanjut bahkan ketika warga Tionghoa sudah melakukan pindah agama. Mereka masih mendapatkan pandangan miring dari masyarakat pribumi. Masih melakat-kuatnya anggapan itu bisa ditelusuri dari ''adu domba'' yang sukses dicanangkan pemerintah Orde Baru. Masyarakat pribumi dan Tionghoa sengaja diberi wacana yang saling berkebalikan. Tujuannya agar tidak ada solidaritas di masyarakat akar rumput. Mereka harus terpecah belah. Baik dalam hal kultur, kebudayaan, dan identitas. Buku yang bermula dari disertasi penulis di program Pascasarjana Psikologi Klinis UGM ini lebih jauh mencatat pengakuan dari orang-orang Tionghoa muslim Indonesia. Afif mencatat pelbagai pengakuan dari peranakan Tionghoa yang merasa sedih jika hingga kini masih dipandang sebelah mata. Padahal, mereka sangat yakin bahwa Indonesia adalah negera dimana mereka dilahirkan, dibesarkan, dan kalau bisa hingga dikuburkan. Awalnya, pemerintah kolonial Belanda menerapkan kebijakan politik stratifikasi sosial terhadap penduduk Indonesia. Orang-orang Tionghoa diistimewakan persoalan perbedaan ras dan agama. Akan tetapi erat kaitannya dengan perbedaan profesi yang berujung pada kesenjangan ekonomi yang bagaikan jurang antara kaum pribumi dan Tionghoa, (halaman 129). Hal itu dipertegas oleh pengakuan Hasan, seorang Muslim Tionghoa asal Semarang, bahwa diterimanya dia di lingkup masyarakat bukan hanya karena dia masuk Islam saja. Akan tetapi karena secara ekonomi Hasan tidak mencolok. Ia hanya karyawan swasta. Menurutnya, ''pekerjaan itu penting banget, Mas, karena ini sumber kecemburuan yang sebenarnya paling jelas.'' Kesenjangan antara masyarakat pribumi dan Tionghoa ditonjolkan. Isu itu berupa pribumi sebagai korban dan karena itu miskin, sedangkan Tionghoa sebagai tuan dan karena itu kaya. Singkat kata, kesengsaraan yang menimpa warga pribumi adalah dosa yang diturunkan oleh bangsa Tionghoa Indonesia. Hingga pada tahun 1970 terjadi pembantaian orang Tionghoa. Insiden itu juga dilengkapi dengan aksi bakar rumah, gudang logistik, dan penjarahan terhadap aset orang Tionghoa di Batavia. Tragedi Angke itu menelan korban yang diperkirakan mencapai 10.000 manusia. (halaman 53-54). Afif menampik dampak buruk kolonialisme Belanda yang berimbas timbulnya persepsi miring pada masyarakat Tionghoa Indonesia bahwa Islam merupakan agama masyarakat pribumi. Menurutnya, selain lemah secara historis, pandangan ini juga lemah secara empirik. Sebelum kedatangan Belanda di Nusantara, orang-orang Tionghoa muslim justru yang lebih dulu membangun koloni-koloninya. Fakta sejarah yang dipaparkan Afif ini menegaskan kritik tentang politik identitas Tionghoa muslim yang berjibaku dengan fakta di lapangan. Bahwa, sembari mengutip Moulettes (2005), upaya pemecah-belahan identitas sebagai usaha mengabaikan fakta sosial tentang the otherness merupakan noda sejarah. ''Semangat untuk menciptakan identitas yang utuh dan solid seringkali tidak memperhatikan eksistensi identitas-identitas yang lain,'' tulis Afif, (halaman 49). Nah, semangat mengutuhkan Indonesia menjadi Indonesia tak semestinya menegasikan ras yang lain. Karena itu hanya akan menambah borok Indonesia kian memanjang. (92)

PERTANYAAN SOM 648: MENDATAR: 1. Area, distrik 4. Gesit, tangkas 8. Ombak (Sepanyol) 9. Alamiah 11. Berhubungan dengan perkawinan atau perkembangbiakkan binatang (biologi) 12. Padang rumput 13. Sekolah Pendidikan Guru 14. Tempat Pembuangan Akhir 15. Sapi, lembu (Belanda) 16. Kerah baju 17. Rampas 19. Kosong 20. Tulang hasta; tulang lengan bawah 23. Martil 25. Nyenyak tidur 28. Pidato, ceramah 29. Diulang; terbuka lebar 31. Jalan kereta api 32. Musyawarah Luara Biasa 33. Konferensi Asia Afrika 34. Sejenis minyak yang mudah menguap pada temperatur yang relatif rendah 36. Empu, master, pakar 37. Jaringan kelenjar 38. Duduk (Inggris) 39. Elegan, jantan, jentelmen 40. Mesiu, puder MENURUN: 1. Ibu kota Kabupaten Gunung Kidul, DIY 2. Undian 3. Zaman aluvium

4. 5. 6. 7.

Judul: Identitas Tionghoa Muslim Indonesia, Pergulatan Mencari Jati Diri Penulis: Afthonul Afif Penerbit: Kepik, Jakarta Cetakan: Pertama, Januari 2012 Tebal: xx + 352 halaman

Secara modern, mutakhir Modal; aset Konglomerat Wanita yang melahirkan, tetapi anaknya tidak pernah hidup ketika lahir 10. Alat pembangkit tenaga (atom dan nuklir) 18. Omong besar 21. Rumput meliam 22. Tanda kurung besar 23. Tersebar luas di suatu kawasan,benua,atau di seluruh dunia 24. Fajar, pagi buta, subuh 25. Udang karang 26. Gula susu 27. Mukamadimah 30. Amanat Penderitaan Rakyat 35. Kejadian atau situasi yg bertentangan dng yg diharapkan atau yg seharusnya terjadi, tetapi sudah menjadi suratan takdir JAWABAN SOM 646: PERTANYAAN SOM 646: MENDATAR: 1.CERDAS 5.DAHINA 8.IDOLA 9.LANJUT 10.TELAGA 11.USAHA 12.AIDS 15.RIBA 18.AIPDA 20.NUTAN 22.ENA 23.AGA 24.DINAS 26.ATS 28.ISENG 31.AIB 33.NAN 35.LOVIVET 37.INTUISI 38.OBI 39.KASIHAN 40.PESAING MENURUN: 1.COLEGA 2.RANTAP 3.SITUS

4.LOYAL 5.DATAR 6.IBARAT 7.AKANAN 13.IDEA 14.DANSA 16.INGIN 17.BUAS 19.ISI 21.AIN 24.DIALEK 25.NERVES 26.AB 27.SN 29.EMPIRI 30.GASING 32.IDE 34.AMN 36.TON 37.IIP PEMENANG SOM 646: 1. SUPRIYATI Jl. Bukit Kelapa Sawit IV/27 Semarang 50271 2. SANTOSO Jl Sukoharjo Gg. Jambu 148 Condongcatur Depok Sleman DIY 55283 3. TRI HUSODO Dukuh Kauman RT 002 RW 007 Kelurahan Paniggaran Pekalongan 51164 4. ARIEF NURROCHMAN Jl Cendrawasih 255/II Sragen 57215 5. SUPRAPTI Jl Jambu Gang Apokat 038 RT 2/V Kedungwuluh Purwokerto 53131

dibanding kelompok lain, semisal Arab, India, dan Jepang. Pengistimewaan ini dilakukan karena Tionghoa dianggap memiliki jasa besar membantu Belanda membangun kota Batavia menjadi pusat perdagangan dunia. Sayang, hal itu dinilai Belanda sebagai ancaman masa depan. Di luar prediksi, jumlah orang Tionghoa membengkak dan peran mereka di bidang ekonomi semakin kuat. Nah, pada titik inilah, disusun rencana untuk menumbangkan potensi yang mengancam otoritas Belanda pada saat itu. Propaganda yang dilancarkan tidak hanya sebatas pada

KUPON S.O.M 648


Ketentuan Menebak:
Jawaban ditulis di Kartu pos dengan ditempeli Kupon S.O.M pada sudut kiri atas, lalu kirimkan ke Redaksi Suara Merdeka Jl Kaligawe Km 5 Semarang. disediakan hadiah untuk 5 orang pemenang masing-masing Rp 100.000 dipotong PPh 5%. Hadiah akan dikirimkan ke alamat pemenang per pos.