Anda di halaman 1dari 14

FILSAFAT YUNANI KLASIK

Filosof klasik muncul untuk membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan yang waktu itu mengalami pendangkalan dan melemahnya tanggung jawab manusia karena pengaruh negatif dari para filosof aliran sofisme. Kehadiran para filosof klasik sama dengan kehadiran raksasa yang mengguncang bumi. Socrates, plato, dan Aristoteles adalah para filosof yang bangkit pada masa Yunani Klasik. Zaman klasik berawal dari Socrates, tetapi Socrates belum sampai pada suatu sistem filosofi, yang memberikan nama klasik pada kepeda filosofi itu. Ia baru membuka jalan. Ia baru mencari kebenaran, ia belum sampai menegakan suatu sistem pandangan. Tujuannya terbatas hingga mencari dasar yang baru dan kuat bagi kebenaran dan moral. Sistem ajaran filsafat kelasik baru dibangun oleh Plato dan Aristoteles, berdasarkan ajaran Socrates tentang pengetahuan dan etik.
A. Sejarah Kelahiran Socrates

Socrates lahir di Athena pada tahun 470 SM dan meninggal pada tahaun 399 SM. Bapaknya Sophroniscos adalah tukang pembuat patung, sedangkan ibunya Phairnarete seorang bidan. Pada permulaanya, Socrates mau menuruti jejak bapaknya menjadi tukang pembuat patung pula, tetapi ia berganti haluan. Dari membentuk batu jadi patung, ia membentuk watak manusia. Masa hidupnya hampir sejalan dengan perkembangan sofisme di Athena. Pada hari tuanya, Socrates melihat kota tumpah darahnya mulai mundur, setelah mencapai puncak kebesaran yang gilang gemilang. Socrates terkenal sebagai orang yang berbuat baik, jujur,berani dan adil. Cara penyampaian pemikirannya kepada para pemuda menggunakan metode tanya jawab. Oleh sebab itu, ia memperoleh banyak simpati dan banyak memperoleh kawan dari para pemuda di negrinya. Akan tetapi, sebaliknya musuhnya juga banyak, terutama dari pihak guru Sofis serta pengikutnya yang berpolitik, yang memperoleh kemenangan dengan jalan retorika. Ia di tuduh dengan dua tuduhan. Tuduhan pertama bahwa ia meniadakan dewa- dewa yang diakui oleh negara,

mengemukakan dewa-dewa yang diakui negara, dan mengemukakan dewa-dewa baru. Tuduhan kedua bahwa ia menyesatkan dan merusak kretivitas kaum muda. Sebagai kelanjutan atas tuduhan terhadap dirinya, ia diadili oleh pengadilan Athena. Dalam peroses pengadilan, ia mengatakan pembelaanya yang kemudian ditulis oleh Plato dalam naskahnya yang berjudul Apologi. Plato mengisahkan adanya tuduhan itu. Socrates dituduh tidak hanya menentang Agama yang diakui oleh Negara. Juga mengajarkan agama baru buatannya sendiri, salah seorang yang mendakwanya, yaitu Melethus, mengatakan bahwa socrates seorang tak bertuhan, dan menambahkan bahwa socrates berkata bahwa matahari adalah batu dan bulan adalah tanah.socrates menangkal tuduhan itu, dan menanyakan kepadanya, siapakah yang memperbaiki pemuda? Melethus menjawab mula-mula para hakim, lalu semua orang, kecuali Socrates. Kemudian Socrates mengucapkan selamat bahwa Athena memiliki nasib baik untuk memiliki begitu banyak orang yang memperbaiki pemuda, dan orang - orang baik tentu lebih pantas untuk digauli daripada orang jelek. Oleh karena itu, tidak akan menjadi begitu bodoh untuk merusak mereka dengan sengaja, Melethus seharusnya mengajak dia dan tidak menyeretnya ke pengadilan. (Ahmad Syadali dan Mudzakir, 2004 : 66 -67) Dalam pembelaannya, Socrates tegas dengan sikapnya. Dengan memerhatikan susunan mahkamah rakyat itu, sudah tentu ia akan disalahkan dan dihukum. Namun, pantang baginya menjilat, beriba-iba mengambil hati para hakim supaya hukumannya diringankan. Dengan cerdas, ia mengatakan bahwa ia tidak bersalah, melainkan berjasa pada pemuda dan masyarakat Athena. Bukan hukuman, melainkan upah yang harus diterimanya. Socrates berkata seharusnya balai kota pada masa itu, yang memberi makan seumur hidupnya, karena dia telah membangkitkan para pemuda untuk memepertanyakan segala sesuatu, karena pada hakikatnya semua kita tidak tahu. Majlis hakim sangat tersinggung dengan perkataan Socrates, hingga diputuskan untuk dihukum mati dengan cara meminum racun. Socrates tidak bergeming dengan hukuman tersebut, dan ia mengakhiri hidupnya dengan cara sangat tragis, yaitu meminum racun. Mulutnya masih mengeluarkan filsafat tentang keberakhiran ajal. Tubuhnya mengejang sambil mengingat sisa utang kepada

temannya, matanya menatap keindahan kebenaran, dan falsafah hidupnya tetap tidak tahu, maka bertanyalah. Dengan hati yang tegar, ia menolak segala bujukan kawan-kawannya untuk lari dari penjara dan menyingkir ke kota lain, ke Megara. Socrates, yang selalu patuh kepada undang- undang, tidak mau durhaka pada saat ia akan meninggal. Cara matinya juga memberi contoh, betapa seorang filosof setia kepada ajarannya. Socrates kealam baka, tetapi namanya hidup untuk selama- lamanya. (Mohammad Hatta, 1986 : 73 - 76) Socrates dikenal sebagai orang yang berbudi luhur, arif dan bijaksana. Namun ia tidak pernah mengakui mempunyai kearifan dan kebijaksanaan. Ia hanya mengaku sebagai penggemar kearifan atau amateur kebijaksanaan, bukan profesional dan mengambil untuk kebendaan dari apa yang ia gemari seperti kaum sofis pada zamannya. Konon dewa yang berada di tempat peribadatan bagi orang yunani di Delphi menyatakan dengan cara luar biasa bahwa ia adalah orang yang paling arif di negri Yunani. Ia menafsirkan bisikan dewa itu sebagai persetujuan atas cara agnoticism yang menjadi titik tolak dari filsafatnya: one thing only I know, and that is Iknow nothing. Memang, filsafat bermula jika seseorang belajar bagaimana menijau kembali kepercayaan yang sejak kecil dianut, menijau kembali keyakinan dan meragukan aksioma pengetahuan. Bagaimana kepercayaan-kepercayaan menjadi keyakinan, apa tidak ada tujuan tertentu dan maksud rahasia dibelakang yang menyebabkan kelahirannya, dan menaruhnya dalam baju yang merahasiakan hakikat sebenarnya? Tidak ada filsafat yang sebenarnya sebelum pikiran menengok dan menyelidiki lebih mendalam. Berfilsafat yang baik adalah melakukan kajian filosofis atas filsafat itu sendiri. Socrates bergaul dengan semua orang, tua dan muda, kaya dan miskin. Ajaran filosofnya tidak pernah dituliskannya melainkan dilakukannya dengan perbuatan. Sahabat-sahabatnya mengatakan bahwa ia orang yang sangat adil, ia tak pernah zalim. Ia pandai menguasai dirinya, sehinnga tidak pernah memuaskan hawa nafsu dengan merugikan kepentingan umum. Socrates seorang yang cerdas dan

bermoral. Ia senantisa memikirkan perbedaan baik dan buruk, sehingga kehidupan manusia lebih terjamin dari ketentraman dan kedamain. B. Pemikiran dan Metode Socrates Falsafah pemikiran Socrates diantaranya adalah pernyataan adanya kebenaran objektif, yaitu yang tidak bergantung kepada aku dan kita. Dalam membenarkan kebenaran yang objektif, ia menggunakan metode tertentu yang dikenal dengan metode dialetika. Dialetika berasal dari kata Yunani yang berarti bercakap-cakap atau berdialog. Menurut Socrates, ada kebenaran objektif yang tidak bergantung pada aku dan kita. Untuk membuktikan adanya kebenaran objektif, Socrates menggunakan metode tertentu. Metode ini bersifat praktis dan di jalankan melalui percakapanpercakapan. Ia menganalisis pendapat-pendapat. Setiap orang mempunyai pendapat mengenai salah dan benar. Ia bertanya kepada negarawan , hakim, tukang, pedagang, dan sebagainya. Menurut Xenophon, ia bertanya tentang benar salah, adil zalim, berani pengecut, dan lain-lain kepada siapapun yang menurutnya patut ditanya. Socrates selalu mengagap jawaban pertama sebagai hipotesis, dan dengan jawaban yang lebih lanjut, ia menarik kosekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban tersebut. Jika ternyata hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, karena menghasilkan konsekuensi yang mustahil, hipotesis itu di ganti dengan hipotes lain, lalu hipotesis kedua ini diselidiki dengan jawaban-jawaban lain, dan begitu seterusnya. Sering terjadi, percakapan itu berakhir dengan aporia (kebingungan). Akan tetapi, tidak jarang dialog itu menghasilkan sutu definisi yang dianggap berguna. (Ahmad Syadali dan Mudzakir, 2004 : 66 - 67) Dari metode dealetiknya, ia menemukan dua penemuan metode yang lain, yakni induksi dan defenisi. Ia menggunakan istilah induksi manakala pemikiran bertolak dari pengetahuan yang khusus, lalu menyimpulkannya dengan pengertian umum. Pengertian umum diperoleh dari mengambil sifat-sifat yang sama (umum) dari masing kasus khusus dan ciri-ciri khusus yang tidak disetujui bersama disisihkan. Ciri umum tersebut dinamakan ciri esensi dan semua ciri khusus itu dinamakan ciri eksistensi. Suatu definisi dibuat dengan menyebutkan semua ciri

esensi suatu objek dengan menyisihkan semua ciri eksistensinya. Demikianlah jalan untuk memperoleh defenisi tenteng suatu persoalan. (Ahmad Syadali dan Mudzakir, 2004 : 66 - 67) Induksi yang dipake Socrates adalah membandingkan secara ktitis. Bukan kebenaran umum yang dicarinya, melainkan mencoba mencapai kebenaran dengan contoh dan persamaaan, dan mengujinya pula dengan saksi dan lawan saksi. Seperti disebut diatas, dari lawan dan dialog, yang masing masing terkenal dengan sebagai pakar dibidangnya, ketika berdialog tentang defenisi berani indah dan sebagainya. Pengertian yang diperoleh itu diujikan kepada beberapa keadaan atau kejadian yang nyata. Apabila dalam pasangan itu, pengertian dimaksud tidak mencukupi, dari ujian itu dicari perbaikan defenisi. Defenisi yang tercapai dengan cara begitu diuji pula sekali lagi untuk mencapai perbaikan yang lebih sempurna. Demikian seterusnya. Plato, muridnya melanjutkan metode Socrates, mencari pengetahuan yang sebenar benarnya dengan mendialogkannya bersama lawan diskusinya. Sebagaimana disebutkan bahwa filsafat klasik ini merupakan reaksi dari melemahnya pandangan manusia terhadap ilmu pengetahuan, sains, dan agama karena aliran filsafat sofisme yang didominasi paham relativisme. Dengan mengajukan penemuan baru ini, socrates dapat menangkalnya sehingga mampu memebangkitkan dan mengajak orang-orang Athena kembali memegang kaidahkaidah ilmu pengetahuan, sains, dan agama. Paham etika socrates merupakan kelanjutan dari metode induksi dan definisi. Sayangnya Socrates tidak pernah menulis pemikiran falsafahnya sendiri. Untuk mengetahuinnya kita dapat memperolehnya dari tulisan murid-muridnya. (Ahmad Syadali dan Mudzakir, 2004 : 66 - 67) Berkaitan dengan metode berfikir Socrates, Muhammad Hatta mengemukakan bahwa Socrates tidak pernah menuliskan filosofisnya. Jika ditelik benar benar, bahkan ia tidak mengajarkan filisofi, melainkan hidup berfilosofi. Bagi dia filosof bukan isi, bukan hasil, bukan ajaran yang bersandarkan dogma, melainkan fungsi yang hidup. Filosofnya mencari kebenaran. Karena ia mencari kebenaran, ia tidak mengajarkan. Ia bukan ahli pengetahuan, melainkan pemikir.

Karena Socrates tidak menuliskan filosofisnya, sulit sekali mengetahui dengan benar semua ajarannya. Ajarannya itu hanya dikenal dari catatan catatan murid muridnya, terutama Xenephon dan Plato. Catatan Xenephon kurang kebenarannya, karena ia sendiri bukan seorang filosof. Untuk mengetahui ajaran Socrates, orang banyak bersandar kepada Plato. Akan tetapi, kesukarannya adalah bahwa plato dalam tulisannya banyak menuangkan pendapatnya sendiri kedalam mulut Socrates. Dalam uraian- urainya kebanyakan berbentuk dialog, hampir selalu semua Socrates yang dikemukakannya. Tabiat socrates tercermin dalam pernyataan sebagai berikut pedagang rumput dan pohon kayu tak memberi pelajaran apapun kepadaku, manusia ada.ia memperhatikan yang baik dan yang buruk, yang terpuji dan tercela. Suatu saat ia didapati ditanah lapang dimana banyak orang berkumpul, tidak lama ia berada dipasar. Ia berbicara dengan semua orang, menanyakan apa yang dibuatnya. Ia ingin mengetahui sesuatu dengan orang yang mengerjakan sesuatu. Ia selalu bertanya, karena ia ingin tahu. Ia bercakap dengan seorang tukang, bertanya tentang pertukangannya. Ia bertanya kepada pelukis tentang apa yang dikatakan indah. Kepada prajurit ia tanyakan apa yang dikatakan berani. Dengan jalan bertanya itu, ia memaksa orang yang ia tanyakan supaya memperhatikan apa yang ia tahu dan hingga disisi mana tahunya. Pertanyaan itu mulanya mudah dan sederhana. Setiap jawaban disusul dengan pertanyaan baru yang lebih mendalam. Akhirnya, orang yang menganggap tahu tadi dihadapkannya pada tanggung jawab tentang pengetahuannya. Tidak jarang terjadi bahwa dia yang mulanya membanggakan pengetahuannya, menggaku tidak tahu lagi. Lalu socrates, yang mengaku tak tahu, merasa bahwa ia lebih banyak tahu dari mereka yang menggap dirinya mengetahui. Induksi dimaksud berlainan artinya dengan induksi sekarang. Terhadap aliran yang mendangkalkan pengethuan dn melemahkan rasa tanggung jawab itu, semangat socrates memberontak. Dengan filosofis yang diamalkannya dan dengan cara hidupnya, ia mencoba memperbaiki masyarakat yang rusak. Orang diajak memperhitungkan tanggung jawabnya. Ia selalu berkata, yang ia ketahui Cuma satu, yaitu bahwa ia tak tahu sebab itu ia bertanya. Tanya jawab adalah jalan baginya untuk memperoleh pengetahuan. Itulah permulaan dialektika.

Guru-guru sofis yang mengobrolkan ilmu dipasar ditangtangnya dengan cara berguru. Ia yang tidak mengetahui itu ingin tahu dan bertanya. Tiap jawaban atas pertanyaan disusul dengan pertanyaan baru. Demikian seterusnya. Pertanyaan itu beruntut sehungga kaum sofis terdesak dan menyerah.akhirnya guru sofis tak sanggup lagi menjawab dan mengakui kekalahan perdebatannya dengan socrates. Lalu socrates mengunci tanya jawab terseut dengan berkata. Demikianlah adanya, kita sama- sama tidak tahu. Socrates berkata pada dasarnya kita tidak tahu, maka perlu bertanya, sehingga jawaban pertanyaan merupakan ilmu pengetahuan yang mendalam, yang semakin mendekatkan diri pada hakikat yang sebenar- benarnya. Begitulah cara Socrates mencapai pengertian. Melalui induksi sampai kepada definisi. Definisi yaitu pembentukan pengertian yang berlaku universal. Dengan cara itu, Socrates membangun jiwa lawannya berdialog tentang keyakinan bahwa dialog tidak diperoleh begitu saja sebagai ayam panggang terlompat dalam mulut yang ternganga, melainkan dicari dengan perjuangan seperti memperoleh segala barang yang tertinggi nilainya. Dengan cara mencari kebenaran seperti itu, terlaksana pula tujuan yang lain, yaitu membentuk karakter. Oleh sebab itu, tepat sekali Socrates mengatakan bahwa budi ialah tahu. Maksudnya budi baik timbul dengan pengetahuan. Manusia yang dirusak oleh ajaran Sofisme hendak dibentuknya kembali. Selain metode yang dipandang dapat menumbangkan filsafatnya kaum sofis, socrates pun memiliki filsafah tentang etika. Mohammad Hatta (1986 : 83 -84) Menjelasakan bahwa pandangan Socrates tentang etika bermula dari definisinya tentang budi. Menurut Socrates budi ialah tahu. Inilah inti dari etikanya. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya akan berbudim baik. Paham etikanya merupakan kelanjutan dari metodenya. Induksi dan definisi menuju pada pengetahuan yang berdasarkan pengertian. Dari mengetahui beserta keinsafan moril, tidak boleh tidak mesti timbul budi. Siapa yang mengetahui hukum mestilah bertindak sesuai dengan pengetahuan itu. Tak mungkin ada pertentangan antara keyakinan dan perbuatan. Karena berdasar atas pengetahuan budi itu dapat dipelajari.

Dari ucapan itu, nyatalah bahwa ajaran etik Socrates dibangun secara rasional dan melukiskan daya intelektualitas yang tinggi. Jika makna budi adalah tahu, antara akal dan hati bersatu dan saling menopang. Oleh karena itu, tidak ada perbuatan yang tidak disengaja, jika diawali dengan budi. Karena pekerjaan dengan budi berarti pekerjaan dengan akal dan hatinya atau dengan pengetahuan. Apabila budi adalah tahu, berdasarkan timbangan yang benar, jahat hanya datang dari orang yang tidak mengetahui, orang yang tidak mempunyai pertimbangan atau penglihatan yang benar. Oarang yang tersesat adalah korban dari kekehilafannya sendiri. Tersesat bukanlah perbuatan yang disengaja. Tidak ada orang yang khilaf atas kemauannya sendiri. Karena budi adalah tahu, siapa yang tahu akan kebaikan dengan sendirinya terpaksa berbuat baik. Untuk itu, perulah orang pandai menguasai diri dalam segala keadaan., dalam suka maupun duka. Apa yang pada hakikatnya baik, adalah baik juga bagi kita sendiri. Jadi, menuju kebaikan adalah jalan yang sebaik baiknya untuk mencapai kesenangan hidup. Menurut Socrates, manusia itu pada dasarnya baik. Seperti halnya segala barang yang ada itu memiliki tujuannya, begitu juga hidup manusia. Keadaan dan tujuan manusia adalah kebaikan sifat dan kebaikan budinya. Dari pandangan etik yang rasional itu, Socrates sampai pada sikap hidup yang penuh dengan dengan rasa keagamaan. Menurut keyakinannya, menderita kedzaliman lebih baik dari pada berbuat zalim. Sikap itu diperlihatkannya, dengan kata dan perbuatan dalam pembelaannya dimuka bumi. Socrates adalah orang yang percaya kepada Tuhan. Alam ini teratur susunannya menurut wujud yang tertentu. Itu katanya adalah tandaperbuatan Tuhan. Kepada tuhan dipercayakan segala galanya yang tak dapat diduga oleh otak manusia. Jiwa manusia itu dipandangnya bagian dari Tuhan yang menyusan alam. Sering pula dikemukakannya bahwa Tuhan itu dirasai sebagai suara dari dalam, yang menjadi bingbingan baginya dalam segala perbuatannya. Itulah yang disbut dengan daimonion. Bukan dia saja yang dapat mendengar suara daimonion tetapi semua orang yang mau mendengarkan itu dari dalam jiwanya.

Socrates yang religius, pandangan keagamaannya dipengaruhi oleh paham rasionalisme. Semua itu menujukan kebulatan ajarannya, yang menjadikan ia seorang filosof yang tak lekang oleh zaman. Socrates telah menumpahkan gagasannya tentang kebenaran, yang kemudian dikembangkan oleh murid muridnya. C. Tujuan Socrates Tujuan socrates ialah mengajar orang mencari kebenaran yang berlaku untuk selama- lamanya. Bahwa kebenaran itu tetap dan harus dicari. Sikap itu merupakan suatu reaksi terhadap ajaran Sofisme yang merajarela pada waktu itu. Karena guru- guru sofis mengajarkan bahwa kebenaran yang sebenar- benarnya tidak tercapai. Oleh sebab itu, tiap - tiap dapat dibenarkan dengan jalan retorika. Dengan daya kata dicoba memperoleh persetujuan orang banyak. Apabila orang banyak sudah setuju, itu dianggap sudah benar. Dengan cara itu pengetahuan menjadi dangkal. Dalam mencari kebenarannya ia tidak berpikir sendiri melaikan berdua dengan orang lain (dialog) atau dengan jalan tanya jawab. Oang yang kedua itu tidak dipandang sebagai lawan melainkan sebagai kawan yang diajak bersamasama mencari kebenaran. Kebenaran itu harus lahir dari jiwa kawan bercakap itu sendiri. Ia tidak mengajarkan melainkan menolong mengelurkan apa yang tersimpan didalam jiwa orang. Oleh sebab itu metodenya itu disebut maieutik, menguraikan seolah - olah menyerupai pekerjaan ibunya sebagai bidan. Socrates mencari pengertian yaitu bentuk dari segala sesuatu. Oleh sebab itu ia bertanya. apa itu? Apa yang dikatkan berani, apa yangn disebut indah, apa yang bernama adil?pertanyaan apa itu harus lebih dahulu dari pada apa sebab. Jawaban apa itu harus dicari dengan tanya jawab secara meningkat dan mendalam yang akan melahirkan pikiran yang kritis. Mencari kebenaran yang hakiki, yaitu mencari pengetahuan yang sebenar benarnya, terletak pada seluruh filosofis. Karena Socrates mencari kebenaran yang tetap dengan tanya jawab sana dan sini, yang kemudian dibulatkan dengan pengertian, jalan yang ditempuhnya adalah

metode induksi dan defenisi. Keduanya bersangkut paut. Induksi menjadi dasar defensi. D. Murid murid Socrates Di antara murid - murid Socrates, tiga orang yang mengaku meneruskan perjalanannya. Mereka hanya mengemukakan sebagian dari ajaran Socrates. Itupun diajarkan menurut paham mereka sendiri yang dicampur dengan pandangan filsafat lain yang sudah mereka pelajari lebih dahulu.
1. Euklides mengajarkan filsafatnya dikota Megara. Sebelum belajar pada

Socrates, ia telah mempelajari filsafat Elea, terutama ajaran perminides yang mengatakan bahwa yang ada itu ada, satu, tidak berubah ubah. Pendapat ini disatukan dengan etik Socrates. Lalu diajarkannya : yang satu itu baik. Hanya orang sering menyebut ad, tidak berubah.
2. Antisthenes mula mula murid guru sofi gorgias. Kemudian menjadi

yang stu itu dengan berbagai

nama : Tuhan, akal dan lainnya. Lawan yang satu itu ada. Yang baik selalu

pengikut Socrates. Sesudah Socrates meninggal. Ia membuka sekolah filsafat di Athena dan diberi namanya Gymnasium Kynosarges. Oleh sebab itu ajarannya sering disebut filsafat dari Mazhab Kynia.
3. Aristippos mengajarkan filosofnya di kyrena. Mula mula ia belajar pada

guru Sofis kemudian menjadi murid Socrates. Dalam ajarannya ia sangat jauh menyimpang dari Socrates. Menurut pendapatnya kesenangan hidup menjadi tujuan. Oleh sebab itu ajarannya disebut hedonisme. Hanya saja kesenangan hidup itu harus dicapai dengan pertimbangan yang tepat tidak boleh serampangan. Akal harus dipakai untuk menggunakan kesempatan yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hakim Atang M.A. Drs dan Drs. Beni Ahmad Saebeni, M.Si, 2008.Filsafat Umum dari mitologi sampai teofilosofi, Pustaka Setia, Bandung. Achmadi Asmoro, 2010, Filsafat Umum, Rajawali Pres, Jakarta Ahmad Sayadali dan Mudzakir, 2004. Filsafat Umum, Pustaka Setia, Bandung. Mohammad Hatta, 1986. Alam Pikiran Yunani, Tintamas, Jakarta

FILSAFAT YUNANI KLASIK SOCRATES

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Filsafat

Disusun Oleh : KELOMPOK III Anggi BR Anis Dewi Nopitasari Wildan

INSTITUT AGAMA ISLAM CIPASUNG SINGAPARNA-TASIKMALAYA 2012

RESUME
Mengenai riwayat Socrates tidak banyak diketahui, tetapi sebagai sumber utama keterangan tentang dirinya dapat diperoleh dari tulisan Aristophanes, Xenophon, Plato, Aristoteles. Ia sendiri tidak meninggalkan tulisan, sedangkan tentang dirinya didapat dari para muridnya. Orang yang paling banyak menulis tentang Socrates adalah Plato yang berupa dialog dialog. Ia anak seorang pemahat Sophroniscos, dan ibunya bernama Phairnarete, yang pekerjanya seorang bidan. Istrinya bernama Xantipe yang dikrnal seorang yang judes (galak dan keras). Ia berasal dari keluarga yang kaya dengan mendapatkan pendidikan yang baik, kemudian menjadi prajurit Athena. Ia terkenal sebagai prajurit yang gagah berani. Karena ia tidak suka terhadap kehidupan politik, maka ia lebih senang memusatkan perhatiannya kepada filsafat, yang akhirnya ia dalam keadaan miskin. Seperti halnya kaum sofis, Socrates mengarahkan perhatiannya kepada manusia sebagai objek pemikiran filsafatnya. Berbeda dengan kaum sofis, yang setiap mengajarkan pengetahuannya selalu memungut bayaran, tetapi Socrates tidak memungut bayaran kepada murud muridnya. Maka, ia kemudian oleh kaum sofis sendiri dituduh memberikan ajaran barunya, merusak moral para pemuda, dan menentang kepercayaan negara. Kemudian ia ditangkap dan akhirnya dihukum mati dengan minum racun pada umur 70 tahun yaitu pada tahun 399 SM. Pembelaan Socrates atas tuduhan tersebut telah ditulis oleh Plato dalam karangannya Apologia. Sejak muda Socrates telah terlihat sifat kebiijaksanaanya, karena selain ia cerdas juga pada setiap perilakunya dituntun oleh suara batin (daimon) yang selalu membisikan dan menuntun ke arah keutamaan moral. Cara memberikan pelajaran kepada para muridnya dengan dialog (tanya jawab), yang bertujuan untuk mengupas kebenaran semu yang selalu menyelimuti para muridnya. Kebenaran semu tersebut muncul karena ketidaktahuan para muridnya tentang hal hal tertentu. Dengan cara dialog pengetahuan semu akan terdobrak sehingga mampu keluar dan melahirkan pengetahuan yang sejati.

Peran Socrates dalam mendobrak pengetahuan semu itu meniru pekerjaan ibunya sebagai seorang bidan dalam upaya menolong kelahiran bayi, akan tetapi ia berperan sebagai bidan pengetahuan. Teknik dalam upaya menolong kelahiran (bayi) pengetahuan itu disebut majeutik (kebidanan) yaitu dengan cara mengamat ngamati hal hal yang konkret dan yang beragam coraknya tetapi pada jenis yang sama. Kemudian unsur unsur yang beda dihilangkan sehingga tinggallah unsur yang sama dan bersifat umum, itulah pengetahuan sejati. Pengetahuan sejati atau pengertian sejati sangat penting dalam mencapai keutamaan moral. Barang siapa yang mempunyai pengertian sejati berarti memiliki kebajikan (arete) atau keutamaan moral berarti pula memiliki kesempurnaan manusia sebagai manusia. Socrates dengan pemikiran filsafatnya untuk menyelidiki manusia secara keseluruhan, yaitu dengan menghargai nilai nilai jasmaniah dan rohaniah yang keduannya tidak dapat dipisahkan karena dengan keterkaitan kedua hal tersebut banyak nilai yang dihasilkan.