Anda di halaman 1dari 160

Rnegard

by Ariwanto Aslan

al6^5%aj$i `^e 7^5$s#u


`#7%n#4^ `#8j#5

Buku 1

Prolog
Bulan itu bulan September, dan hari itu adalah hari 13 Earen, atau hari Jumat ke-38 menurut Perhitungan Manusia. Fajar belumlah terbit di ufuk timur, dan langit tampak menghitam di atas Palindur. Mendung menggantung di atas Dataran Hitam. Udara terasa sesak dan berat. Suasana begitu mencekam. Semua makhluk hidup tampak waspada. Gerbang Hitam Moram tampak berdiri angkuh dan hitam, menambah kekakuan tempat itu. Perlahan-lahan, gerbang besar itu mulai terbuka, lalu serombongan besar pasukan berderap keluar. Orc-orc hitam dan goblin berbaju perang, bergerak membentuk barisan dan kompi-kompi, disusul prajurit-prajurit jangkungpara Manusia Selatan, kaum Raksasa, para Beruang dan Manusia Liar dari Pesisir Teluk Utara. Mereka membentuk formasi, masing-masing barisan berisi seratus orc, lalu seratus barisan ke kanan, dan seratus baris lagi ke timur. Sementara ke depan, ada lima puluh lapis. Belum lagi yang masih ada di dalam benteng, lima kali lebih banyak daripada yang ada di luar, ditambah dengan mesinmesin besar dan berat; catapult, pelontar api dan menara-menara tinggi yang dijaga orc-orc pemanah. Itulah kekuatan mengerikan dari sang Penguasa Kegelapan.

Alaric memandang kekuatan besar di depannya tanpa sedikit pun rasa takut. Dia duduk tegak di atas kudanya yang berwarna putihyang diberi nama Loriand, menggenggam erat pedangnya, The Grand. Tatapannya tajam ke depan, berusaha mengukur kekuatan lawan. Sementara di samping kanannya, Istakir, pemimpin Kaum Bijak, duduk di atas kuda putihnya, Windrush. Orang tua itu menggenggam erat tongkat kayu putihnya. Sedangkan di sisi kiri Alaric, duduk di atas kuda berwarna kelabu yang gagah, Isengrim sang Penguasa Ipsen, siap siaga dan tampak waspada. Di belakang ketiga orang itu, duduk pada kudanya masing-masing, orangorang masyhur dan para Panglima Sagresia. Nordin dari Utara, Harfig dari Norsanor, Belohir, Paranir dan para marsekal dari Sagresia. Di belakang mereka, tiga ribu

Ksatria Putih Sagresia dan seribu Ksatria Ilsar, siaga di atas kuda masing-masing, dan tiga ribu Ksatria Ipsen, bersiaga dalam baju zirah mereka yang berkilauan keperakan. Sementara tak jauh dari sisi kanan rombongan itu, tampak pasukan Habadian yang dipimpin Tarudrim dan Aramir sebanyak dua ribu pasukan dari Pesisir Habad, telah bersiap mendukung di belakang. Di sisi kiri belakang, Galfagar, memimpin pasukan Lnmahtar, berjumlah enam ratus orang, berkuda dan berbaju perang lengkap. Meskipun jumlah mereka hanya sedikit, tapi tak ada seorang pun di tempat itu yang meragukan kemampuan bertempur mereka, yang mahir menggunakan tombak-tombak panjang dan pedangpedang besar. Sementara jauh di sisi kiri, di antara pepohonan, tersembunyi dalam bayang-bayang hutan, dua ribu pasukan peri yang dipimpin Aurel, pemimpin tertinggi Kaum Peri dari Eluenmyrra, bersiap dengan busur dan anak panah mereka. Bersama Aurel, tampak berdiri tegak, orang-orang bijak dari Bukit Penyihir; Angladf, Amrudil, Ranulf, dan Gwenelyn.

Angin bergerak sangat perlahan di Lustarinor, dataran sunyi yang amat luas, di antara Sungai Gemin dan Sungai Baranduin, yang memisahkan antara kedua pasukan besar itu. Kemudian, bersamaan dengan sinar pagi pertama yang muncul di ufuk timur, tambur dan terompet-terompet perang mulai di bunyikan, genderang-genderang perang, ramai terdengar dari seberang sungai Baranduin. Pasukan orc dan goblin berteriak-teriak dalam bahasa mereka yang kotor, mencaci dan memaki serta mengutuk lawan mereka dengan suara-suara mereka yang serak.

Sementara itu, Alaric mulai mengangkat pedangnya, lalu terompet-terompet pun berbunyi, mars perang Sagresia mulai dinyanyikan, menambah semangat dan keberanian para pasukan. Lalu dengan gerakan pelan, pasukan pun mulai bergerak melintasi Lustarinor dan menyeberangi Baranduin, maju menuju ke peperangan yang tak bisa dihindari lagi. Semua laki-laki tampak tegang, tapi wajah mereka menampakkan semangat dan jiwa yang membara. Demi kedamaian dan keselamatan manusia. Demi keadilan dan masa depan manusia...

Aiya...

Alaita te laituvalmet, man lelyana Ambarohta Mi l caur tuoquanta ar Alcalanga An I cuilsr I Nr Valadia An I vinyar I Valadia...

An I Aran an I Noranan I Oronan An I Laiquenan an lyefarnan An Tur I Tuo ana an Mahta - I Hermord Tuo Amin an ilya sere...

Hari, tanggal, bulan dan tahun itu, akan selamanya di ingat dalam sejarah. Sebagai Tahun Gelap ketika Perang Besar berlangsung.

Bab I Rnegard; Maglavar dan mereka yang tinggal di sana.


Ini adalah kisah-kisah yang terjadi di Rnegard; sebuah negeri di wilayah timur Benua Besar. Wilayah negeri besar ini meliputi Valadien, Solem dan Harnun di Selatan; Tudor, daerah pesisir Habad dan negeri-negeri kecil di antara Pegunungan Berkabut dan Emyn Galen (yang konon diantaranya adalah negeri kaum peri dan kurcaci yang tidak diketahui). Pada pertengahan Zaman Kedua, sebagian besar negeri-negeri ini mulai dihuni oleh manusia-manusia yang membuat koloni-koloni tersendiri dan mempunyai pemerintahan-pemerintahan sendiri. Yang terbesar adalah di Valadien, dimana Istana Sagresia menjadi pusat dari hukum, kekuasaan dan tradisi-tradisi lama dari bangsa-bangsa di Rnegard.

Topografi Rnegard terdiri dari Barisan Pegunungan Besar Durgandine di sebelah barat, yang dimulai dari Bukit-bukit Nandin di Perbatasan Barat hingga puncaknya di Carnitaur, yang membuat percabangan pegunungan menjadi empat bagian. Ke arah barat daya disebut Emyn Annn, hingga ke pesisir Harnun, tempat dimana Barad Annn berdiri. Sementara barisan pegunungan yang menuju ke timur, adalah Pegunungan Hitam, sering disebut Ered Mor, yang berakhir di Tol Angmor, dimana Gerbang-gerbang Ipsen yang perkasa berdiri. Maka dari itu, Ered Mor disebut juga Pegunungan Agung, karena ia berakhir di tempat dimana Istana-istana pernah berdiri. Cabang pegunungan yang menuju arah tenggara disebut Ered-InTad, dimana Orod-na-Galadlorn menjadi puncaknya. Pegunungan ini terus menuju timur di Tol Tlaparol dan bercabang dua; satu ke selatan, disebut Bukit Penyihir, dimana terdapat bukit-bukit rendah yang kemudian menghilang ke arah Aepalee; hutan lebat terbesar di bagian selatan yang menjadi negeri bagi Kaum Bijak. Barisan pegunungan yang lainnya menuju ke arah timur laut, mendaki menjadi Pegunungan Berkabut, yang tinggi dan misterius, dimana jarang sekali dijangkau manusia. Tempat ini juga sering dijuluki Pegunungan Timur Tinggi. Barisan pegunungan ini

memanjang dan mulai merendah ke arah timur laut, menjadi Emyn Galen dan berakhir di Habad. Diantara pegunungan-pegunungan ini, terdapat banyak lembah-lembah yang dihuni manusia-manusia yang membentuk kelompok-kelompok yang lebih kecil. Beberapa hidup di antara Lembah-lembah Durgandine, Lembah Ulugrotto di selatan Orod-na-Galadlorn, Taraburo, dan Tol Angmor, juga di sekitar Haron, sebelah timur Emyn Galen. Beberapa mendiami tempat yang lebih rendah lagi di Nanlustan, Salquilar, Parth Solem dan Habad.

Orang-orang Rnegard kebanyakan hidup dari bercocok tanam dan berkebun. Tanaman apa saja bisa tumbuh di Rnegard. Karena iklimnya yang termasuk iklim tropis, memungkinkan sebagian besar tumbuhan di dunia bisa tumbuh subur di Rnegard. Ada istilah; menanam jagung tumbuh jagung, menanam gandum tumbuh gandum, adalah ungkapan yang pas untuk menggambarkan betapa suburnya tanah Rnegard. Hutan-hutan kaya akan hasil buah-buahan dan biji-bijian, juga banyak ditumbuhi tanaman-tanaman yang berguna sebagai obat-obatan. Selain itu kebun-kebun juga memiliki hasil yang memuaskan. Banyak yang mengusahakan untuk memelihara jamur dan tanaman-tanaman bunga di kebun-kebun mereka, yang bisa diolah menjadi bahan makanan, aneka teh aroma bunga, sampai cemilan dan permen. Selain itu hasil laut pun sangat memuaskan. Banyak manusia yang hidup di pesisir berprofesi sebagai nelayan. Habad adalah tempat dimana nelayannelayannya sangat mahir menangkap ikan, dan mengolahnya menjadi masakan seafood yang bercitarasa tinggi. Ada banyak ikan yang bisa ditangkap di wilayah lautan Rnegard. Mackerel, tenggiri, tuna, ikan todak, ikan layaran, dan bermacammacam jenis marlin bisa ditemukan di lautan sekitar Rnegard. Lautan luas di sebelah selatan dan timur, disebut Amrnlingaer, yang bisa berarti Lautan Timur Yang Biru. Sementara lautan di utara disebut Forogaer. Terpisahkan oleh Laut Utara ini, terdapat empat pulau yang juga menjadi bagian Rnegard; Tol Angmorod, Tol Calda, Tol Canaloa dan Kepulauan Timur Jauh. Ketiga pulau (kecuali Tol Angmorod) adalah bagian dari Valadien Bersatu. Sedangkan Tol Angmorod sudah lama diketahui menjadi pulau kosong tanpa penghuni.

Sejarah Rnegard, seperti yang diceritakan di buku-buku yang tersimpan di Perpustakaan Valadien, dimulai dari tahun-tahun gelap setelah kedatangan bangsa Peri di Zaman Pertama yang terlupakan. Menurut catatan paling tua, sekitar tahun 200-an, wilayah ini sudah mulai dihuni manusia. 50 tahun kemudian muncullah negeri-negeri Zaman Lampau; Angmoria, Valadien, Nagruk, Solem dan Gamathel. Negeri-negeri ini kemudian berkembang dan juga berperang satu sama lain, hingga kemudian di Zaman Ketiga ini hanya tinggal beberapa negeri yang masih bertahan; Valadien, Harnun, Solem dan Mordia. Meski demikian, terdapat beberapa catatan kejadian yang terjadi di Zaman Ketiga ini; Sekitar tahun 750-755, terjadi peristiwa hujan bintang di wilayah Nagruk, atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Vesmrn, mengakibatkan sekitar tempat itu menjadi dataran gersang hingga saat ini. Menyusul kemudian tahun 970980, bintang besar jatuh di Tudor, membentuk kawah yang begitu besar. Hingga kini tempat itu disebut Erion Fall, menyusul kemudian dengan adanya desas-desus; bahwa bangsa penyihir menyembunyikan pecahan bintang yang jatuh di Tudor. Tapi tak ada seorang pun yang tahu akan kebenaran desas-desus tersebut. Di awal tahun 1000-an, dimulailah Pemetaan Wilayah, hingga menjadi wilayah yang sekarang ini dikenal. Dan hal ini kemudian memicu beberapa pemberontakan yang terjadi di sekitar tahun 1010 hingga 1050-an. Di sekitar tahun 1200-an muncul kisah-kisah bahwa bangsa peri terlihat di sekitar Kepulauan Timur Jauh dan berlayar di Amrnlingaer. Manusia berharap masa-masa damai akan kembali, tapi tak ada berita-berita yang cukup baik terdengar, menyusul dengan terjadinya perang saudara antara Angmoria dan Nagruk di tahun 1318. Lalu hujan bintang kembali di tahun 1414, jatuh di sekitar Parth Mithren. Ada banyak kisahkisah yang terdengar, mulai dari kaum penyihir yang memanggil batu-batu itu dari luar langit, hingga kisah-kisah yang mengatakan bahwa bintang-bintang itu sesungguhnya berisi manusia-manusia lain dari luar yang disebut eldil, yang berasal dari Arbol, seperti yang dikisahkan dalam lagu-lagu kuno bangsa peri. Kemudian di tahun 1661, datanglah orang-orang yang disebut Bangsa Barat (Dundlings) ke wilayah-wilayah Rnegard, yang kemudian memicu perebutan daerah kekuasaan hingga meletuskan Perang Mordemar di tahun 1666 dan perang terbesar yang disebut Perang Durgad di tahun 1686. Semenjak itulah muncul suatu pandangan bahwa Orang-orang Barat ingin menguasai Rnegard. Dan di sekitar

tahun-tahun inilah, kisah-kisah mulai ditulis dan diceritakan turun temurun menjadi legenda.

Namun kisah dalam buku ini awalnya dimulai dari suatu tempat jauh di Timur Laut, terpisah dari Benua Besar (tapi masih merupakan wilayah Valadien Bersatu), di sebuah pulau yang disebut Tol Canaloa. Disanalah berdiri bukit kecil Amon Radit, yang menurut legenda merupakan timbunan tanah raksasa yang dulu dibuat untuk menahan air bumi agar tidak terus-menerus memancar keluar dan mengakibatkan Banjir Besaryang kisahnya melibatkan perseteruan antara kaum peri dan para raksasa di akhir Zaman Pertama, yang kisahnya bisa ditemukan di buku-buku yang disimpan di Perpustakaan Sagresia.

Di sebelah timur kaki Amon Radit, terdapat sebuah desa yang dikelilingi hutan-hutan. Desa ini mungkin terisolasi dari dunia luar, namun sebenarnya adalah tempat yang sangat tenang dan damai. Desa itu dinamakan Maglavar, yang dalam Bahasa Kuno berarti lembah tenang dan sunyi. Tapi orang-orang lebih suka menyebutnya Magle. Tidak banyak orang yang tahu tentang asal-muasal keberadaan desa ini, juga bagaimana dan kenapa desa ini bisa dinamakan Maglavar. Tapi orang-orang paling tua dari para orang tua zaman dahulu percaya pada legenda dan kisah-kisah kepahlawanan Maglor, seorang peri dari Rumah Tinggi yang gagah berani mengusir Naga Perak dari Amon Radit. Orang-orang pun percaya bahwa nama Maglavar diambil dari nama pahlawan Maglor. Tapi di Zaman Ketiga ini, tak banyak orangorang yang tinggal di Maglavar yang tahu ataupun peduli tentang asal-usul Maglavar. Mereka juga tidak begitu mempermasalahkan tentang siapa saja dan darimana keluarga-keluarga yang sekarang ini tinggal di Maglavar. Akibatnya, tidak diketahui, siapakah keluarga tertua yang paling lama tinggal di Maglavar. Kebanyakan dari mereka sudah merasa aman dan tenteram dengan kehidupan mereka, jadi mereka tidak peduli dengan masalah-masalah yang bukan menyangkut masalah mereka sendiri. Tanah Magle membentang seluas empat puluh league dari pesisir utara Norby (Desa Sirila) hingga ke Lembah-lembah Soka dan pesisir Tengaril di Selatan, dan dua puluh lima league dari hutan-hutan Amon Radit di Barat hingga pesisir

pantai di timur Firion. Di barat daya, berbatasan dengan hutan-hutan, terdapat Sadyahaspur, reruntuhan kota kuno, dan jauh di sebelah pesisir barat laut terdapat Desa Normina. Itulah wilayah Maglavar yang teratur rapi; dan di sana, di sudut dunia yang nyaman itu, tinggal orang-orang yang menjalani kehidupan yang tenang dan tidak peduli dengan dunia luar, dimana berbagai unsur kegelapan berkeliaran. Mereka telah lupa dengan kedamaian yang diciptakan oleh para ksatria dan hasil kerja mereka yang telah bekerja keras sehingga memungkinkan tercapainya kedamaian di Maglavar.

Maglavar terbagi menjadi beberapa wilayah pemukiman. Orang-orang banyak tinggal di Samapton dan Artina, yang lebih dekat dengan Pasar Tingal dan Maglavar Square; wilayah tengah desa yang menjadi pusat dari Maglavar. Beberapa pemukiman lain tersebar di antara lembah-lembah Amon Radit, dikelilingi oleh areal perkebunan dan hutan-hutan kecil. Malagan, Ivory, Magarsari dan Yagan, adalah wilayah-wilayah kecil yang jauh dari pusat kota. Sementara Tengaril, Firion, dan Sirila, menjadi tempat persinggahan para pelancong dan pengembara yang sering melewati Winyaway atau Jalan Besar.

Sejarah orang Magle sendiri dimulai sekitar tahun 270 di masa-masa awal Zaman Kedua, ketika mereka mulai mengenal seni menulis dari bangsa Nabatean yang melewati wilayah Maglavar ketika melakukan perjalanan mereka di tahun 250an. Leluhur mereka dipercaya masih ada hubungan darah dengan orang-orang Valadien; dan itulah sebabnya kenapa mereka masih mempertahankan adat istiadat dan tradisi Valadien, yang meskipun sekarang ini sudah banyak berbeda, karena orang-orang Magle juga menemukan hal-hal baru yang menjadi tradisi-tradisi mereka sendiri. Tentu saja, hal ini merupakan difusi dari beberapa tradisi kebudayaan yang masuk ke Maglavar, yang selain berpadu dan saling melengkapi dengan budaya asli, akhirnya berpadu menjadi kebudayaan baru, yang dianggap lebih baik dan sesuai hingga akhirnya di adopsi oleh masyarakat Maglavar dan akhirnya berkembang secara kontinyu membentuk suatu budaya baru yang merupakan akulturasi dari beberapa tradisi budaya dan adat istiadat tersebut.

Hal-hal yang mudah di ingat tentang orang-orang Magle bahwa mereka mempunyai kebiasaan-kebiasaan aneh. Mereka mengajari anak-anak mereka untuk

selalu menghitung sampai hitungan ke sepuluh saat sedang menggosok gigi, dan berhenti saat hitungannya sudah selesai. Mereka mempercayai jumlah-jumlah tertentu; bilangan ganjil dianggap tidak baik, tapi bilangan genap dianggap baik, terutama angka 2, 4, 10, dan 12. Mereka tidak suka angka 6, sebab angka 6 dipercaya adalah angka setan yang merupakan hasil 2 dikalikan 3 dan 3 adalah angka kedua dalam angka 13, dan 13 adalah angka sial. Tentu saja itu hanyalah kecenderungan sebagai bagian dari efek numerologi, yang dijabarkan sebagai suatu sistem, tradisi, atau kepercayaan akan adanya ikatan mistis antara angka-angka dengan benda-benda atau makhluk hidup. Para ahli numerologi percaya bahwa segala yang terhampar di bumi dapat diubah ke dalam bentuk angka. Tiap angka mewakili spektrum maha luas yang mencakup hal-hal positif dan membangun serta elemen-elemen negatif yang meluluh-lantakkan. Sebenarnya, hal semacam ini hanyalah reaksi yang timbul dari beberapa kelas sosial yang menafsirkan hal itu dengan hal negatif yang ada di masyarakatnya, semisal di tengah masyarakat yang patriarkal, 13 dianggap sebagai angka feminin dan karenanya dianggap pembawa sial. Namun begitu, mereka sangat menggemari angka 9, yang menurut mereka angka misterius, karena angka 9 adalah angka terakhir yang merupakan jumlah dari 2 dan 7, sementara 27 habis dibagi 9, begitu juga 3 ditambah 6, jumlahnya 9 dan 36 habis dibagi 9. Kedua angka ini, 6 dan 9 dipercaya sebagai angka misterius. Masyarakat Maglavar pun memiliki filosofi tersendiri tentang kedua angka tersebut. Angka 6 diperoleh dari angka 9 yang diputar 180 derajat. Bila diumpamakan lingkaran dalam angka 6 dan angka 9 adalah akal dan pikiran manusia; maka pada angka 9, pikiran dijadikan pengendali utama atas diri orang tersebut (pengendali dalam menjalani kehidupan). Tetapi pada angka 6, akal dan pikiran manusia diletakkan di paling bawah (nafsu yang mengendalikan pikiran, bukan pikiran yang mengendalikan nafsu). Angka 6 diperoleh dari perputaran 180 derajat angka 9, maka sebenarnya Setan berusaha membalikkan kebenaran (angka 9) menjadi sesuatu yang salah (angka 6). Maka dari itu pantaslah jika angka 9 (ganjil) termasuk angka yang istimewa , berbeda dengan angka 6 (genap). Hal ini memang terkadang menimbulkan kontroversi sendiri di beberapa kalangan, tapi para orang bijak menganggap itu semua adalah bagian dari perkembangan jiwa manusia akan kebutuhan diri mereka pada kepercayaan diri dan keyakinan mereka sebagai makhluk.

Jika kepala mereka terbentur sesuatu, mereka akan membenturkannya lagi untuk kedua kalinya, supaya angkanya genap dan kadang-kadang terpaksa mengulanginya lagi dan lagi, sebab kepala mereka tidak pas menyentuh tembok dan hitungannya jadi kacau, atau rambutnya menutupi, padahal hal itu tidak diinginkan, sampai-sampai batok kepala mereka terasa sakit karena benturan-benturan itu. Jadi jangan heran apabila orang-orang Magle sering mengeluh terkena migrain dan kebanyakan kepalanya botak.

Di Maglavar hampir tak ada perbedaan kelas sosial. Tak sedikit yang bisa dikatakan kaya dan tak sedikit pula yang bisa dikatakan miskin sekali. Rata-rata dari mereka mempunyai pekerjaan-pekerjaan tetap dan pengetahuan yang memadai. Sebagian keluarga kuno di Maglavar masih hidup dari hasil pertanian dan perkebunan. Mereka memiliki lahan-lahan yang mereka garap sendiri di antara lereng-lereng dan lembah-lembah Amon Radit. Mereka memiliki lumbung-lumbung yang menyimpan hasil panen mereka dan pasar di Tingal selalu penuh dengan hasil-hasil bumi dan kerajinan. Beberapa keluarga lain memiliki bengkel-bengkel kerja, yang menghasilkan bermacam-macam kerajinan dan peralatan yang kemungkinan mereka pelajari dari kaum Nabatean. Tapi mungkin juga mereka mempelajarinya langsung dari kaum peri, yang diketahui pernah melintasi Tol Canaloa dalam pelayaran-pelayaran mereka ke Benua Besar. Furnitur, dan alat-alat rumah tangga dari logam yang ada di Maglavar, biasanya merupakan hasil tangan orang-orang Magle sendiri. Meski tak sedikit pula yang merupakan barang-barang yang dibawa para pelancong dari tempat-tempat lain di luar Maglavar, yang kemungkinan besar alat-alat buatan kurcaci. Beberapa orang yang suka belajar sering pergi melakukan perjalanan hingga ke Sagresia dan Harnun untuk mengunjungi perpustakaan-perpustakaan terkenal di sana, dan sepulangnya mereka membawa dan menulis ulang buku-buku pengetahuan tentang geografi, astronomi, mitologi, biologi dan ekonomi. Buku-buku itu disimpan di Balai Desa di Maglavar Square, yang sayangnya sekarang ini mungkin tidak banyak berguna, karena minat baca orang Magle telah menurun. Beberapa orang yang lain lebih memilih mengabdikan hidup mereka pada seni musik, dengan menjadi pemain musik keliling. Orang-orang Magle sangat suka bernyanyi dan menari. Mereka memiliki alat musik tradisional berdawai dan juga drumyang dipukul dan bisa mengeluarkan bunyi-bunyian yang berbeda, yang

selalu dimainkan setiap ada pesta kebun dan pesta-pesta lain di desa. Mereka juga mempunyai nyanyian sendiri tentang Maglavar, yang sangat singkat dan mudah diingat;

Dari bukit ke lembah-lembah, mari kita tertawa Menyambut pagi yang cerah Dari Magle kita tercinta, semua harapan menjadi nyata Asalkan kita mau berusaha Langkahkan kakimu sambut dunia, kita bekerja dari Sirila ke Soka Angkat tanganmu pecahkan batu, tanah Magle kita menunggu...

Para pemain musik keliling ini sekaligus menjadi sumber informasi dan pencari berita tentang dunia luar bagi orang-orang desa, karena mereka biasanya berkeliling hingga ke Elmina, desa di pesisir selatan Tol Canaloa dan bahkan beberapa pernah menjadi pemain musik di Valadien dan Harnun. Selama itu, bisa dikatakan hampir tak ada pemerintahan apapun di Maglavar. Mereka memang mengakui kedudukan Raja-raja Tinggi di Valadien, dan menghubungkan seluruh hukum dan aturan pada hukum-hukum Valadien. Satusatunya pejabat resmi di Maglavar adalah Thain, atau Pemimpin Desa. Seorang Thain yang diangkat rakyat setiap lima tahun sekali, dianggap menjadi pemimpin mereka atas nama Raja. Tapi jabatan itu hanyalah formalitas belaka. Karena tugas seorang Thain paling sering hanyalah menjadi pembuka acara pesta makan-makan, pesta perkawinan, pesta perayaan ulang tahun, pesta perayaan Hari Bumi, pesta peresmian dan hal-hal remeh-temeh, seperti pembuatan Kartu Penduduk dan Surat Ijin Pengembaraan. Selain itu hampir tak ada pekerjaan yang lebih berarti. Menjadi Thain tidak mendapatkan bayaran apapun, jadi dibutuhkan orang yang memiliki kesabaran dan ketulusan yang tinggi. Tapi kadang-kadang orang-orang suka memberi sedikit bahan makanan pokok sebagai hadiah, bisa dikatakan sebagai upeti, tapi motifnya karena ketulusan belaka. Pesta dan makanan adalah dua hal yang diprioritaskan oleh orang-orang Magle. Mereka terkenal sangat suka makan; buah-buahan, sayuran, dan berbagai masakan, bisa dengan mudah ditemukan di sepanjang jalan antara Pasar Tingal hingga Artina. Orang-orang Magle juga sangat suka memasak. Mereka mempunyai semacam buku resep komplit yang disimpan di

Balai Desa. Dan mereka sangat suka mengadakan acara memasak bersama. Sedikitnya empat kali dalam satu bulan, pasti ada acara memasak dan makanmakan yang diadakan di Samapton.

Orang-orang Magle tidak suka berselisih dan jarang membuat masalah, baik antara diri mereka sendiri maupun dengan bangsa lain. Mereka sangat tidak suka berperang, apalagi membunuh. Kebanyakan dari mereka jarang sekali terlibat pertempuran, kecuali Pertempuran Besar yang pernah terjadi ribuan tahun yang telah dilupakan, ketika kisah ini belum dimulai (sekitar tahun 950-an). Meskipun begitu, orang-orang Magle terkenal tangguh, dan gagah berani. Mereka mahir menggunakan alat-alat dan mampu membidik sasaran dengan tepat. Mereka mempunyai senjata khas sederhana, yang dibuat dari batang ranting yang bercabang dan diberi seutas karet. Senjata itu dinamakan ketapel. Amunisinya bisa berupa apa saja, tapi biasanya batu kerikil yang biasa ditemukan di jalan-jalan, dan mereka menggunakannya untuk mengusir orang-orang tidak berkepentingan yang memasuki wilayah perbatasan secara tidak sopan. Mereka juga menguasai seni beladiri khusus yang hanya dimengerti oleh merekasebuah tehnik beladiri yang menggunakan kekuatan lawan untuk membalas serangan. Dan dari tahun ke tahun, beladiri ini semakin berkembang. Semua masalah yang terjadi di antara mereka, diselesaikan dengan musyawarah dan kesepakatan bersama, dan hukuman paling berat bagi pelanggaran yang paling berat adalah membersihkan jalan-jalan dan selokanselokan di seluruh wilayah Maglavar selama setahun. Maka dari itu, tak heran, Maglavar menjadi desa yang bersih dan rapi, indah dan bebas dari penyakit.

Jalan-jalan dan taman di Maglavar sangat rapi dan teratur. Di tengah desa berdiri Maglavar Square, yang menjadi pertanda pusat desa. Di selatannya, berdirilah Balai Desa dan Balai Keuangan Desa. Kedua bangunan ini dibangun dengan menyerupai aula-aula kerajaan, tapi dimodifikasi sedemikian rupa menjadi lebih luas dan lebih terbuka. Sebuah jalan besar utama membentang dari utara, dan bercabang dua di selatan. Jalan itu disebut Winyaway. Cabang yang satu ke arah tenggara menuju Firion, dan satunya lagi ke arah barat daya menuju Sadyahaspur yang jauh. Antara satu rumah dan rumah yang lain dipisahkan oleh jalan kecil yang teratur, berlantai batu dan kemudian bersatu di pinggir dan juga di tengah; menjadi

jalan-jalan utama yang memisahkan antara satu pekarangan dengan pekarangan lainnya. Hampir di tiap pekarangan itu, masing-masing penghuninya memiliki kebun bunga dan tanaman obat, karena memang orang-orang Magle terkenal suka memelihara bunga dan tanaman herbal. Bunga-bunga melati, mawar, tulip, kamboja, violet, pilea, berbagai jenis anggrek dan wisteria, tumbuh berdampingan dengan beberapa tanaman herbal; valerium, lisium, cendana, kunyit, jahe, kapulaga, dill, ketumbar, thyme, cengkeh, wijen, pala, serai, temulawak, dan kumin. Dua sampai lima bulan sekali, mereka akan memanen tanaman herbal mereka, lalu sebagian dibawa dan dijual dalam bentuk kering di pasar-pasar Elmina, sementara sebagian lagi biasanya diolah menjadi bubuk atau cairan yang dikemas dalam botol-botol kaca kecil dan dijual seharga 70 hingga 300 Gil dan benda ini tersebar bahkan hingga ke pasar-pasar di Sagresia.

Pertumbuhan

ekonomi

di

Maglavar

cukup

tinggi,

terbukti

dengan

meningkatnya tingkat konsumsi dan hasil panen tiap tahunnya. Menurut catatan yang ada, panen terbesar terjadi pada tahun 1317, hampir bersamaan dengan kejadian perang saudara antara Nagruk dan Angmoria. Dan setelah tahun itu, panen terus naik-turun dalam kisaran angka yang cukup memuaskan. Bahkan belakangan, sekitar tahun 1680 hingga tahun 1740, Maglavar mampu mengirim sebagian hasil panen hingga ke luar pulau, bahkan sampai ke Sagresia. Karena itulah kebanyakan masyarakat Maglavar hidup dalam kecukupan. Dan hal ini terjadi dalam jangka waktu yang lama dan membosankan, sehingga lama kelamaan orang-orang Magle menjadi terbiasa santai dan berkecukupan, dan mereka beranggapan bahwa dunia memang demikian adanya; tenang, damai dan tenteram. Dan mereka pun semakin tenggelam dalam kehidupan mereka di Maglavar dan tidak menyadari perubahanperubahan dunia yang mulai terjadi.

Bab II Tirius
Di bulan September, di tahun 1879, datanglah seorang pengembara ke Maglavar. Menurut desas-desus yang beredar di jalan-jalan, kabarnya dia berasal dari Sagresia. Apa dan kenapa orang dari kota bepergian ke daerah pedesaan tidaklah dimengerti oleh orang-orang Magle. Biasanya mereka memakai alasan; karena udara desa lebih sejuk dan belum berpolusi. Tapi beberapa hari kemudian, barulah semuanya menjadi jelas, karena orang itu kemudian membeli sebuah rumah di Jalan Dua-delapan, di wilayah Ivory dan tinggal menetap di Maglavar. Mungkin dia ingin ikut merasakan kedamaian dan ketenangan Magle, begitu pendapat orang-orang desa. Nama orang itu Tirius, tapi orang-orang lebih mengenalnya sebagai Si Tua Tir. Tubuhnya tinggi, khas orang daerah tenggara, dan agak bungkuk, dengan sedikit jenggot di dagunya, dan rambut mulai memutih. Umurnya antara lima puluhtahunan, usia yang amat istimewa bagi seorang laki-laki, karena di umur itulah dia mencapai tahap tertinggi kebijaksanaannya. Tirius hidup sendiri di rumah itu. Namun kadang-kadang, anak-anak kecil datang ke rumahnya setiap sore hari, karena Si Tua Tir terkenal suka mendongeng. Kisah-kisah tentang para pahlawan, putri-putri cantik, naga dan kurcaci sangat menarik perhatian anak-anak itu. Lagipula Tirius suka memberi kue-kue pada anakanak itu. Dan dari hari ke hari, semakin bertambah banyak anak-anak yang datang ke rumah Tirius. Orang-orang pun sering membicarakannya, karena Tirius orang yang sangat dermawan, ramah dan baik hati. Dia tak segan-segan menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongannya. Dan dia sering membagi-bagikan makanan bungkus kepada para petualang yang kadang bermalam di Maglavar. Maka jangan heran bila banyak orang-orang Magle (yang berpura-pura tidak mengenal Tirius karena rumah mereka jauh), sangat suka melewati Jalan Dua-tujuh dan Jalan Dua-delapan,

berharap Tirius akan mengundang mereka ke rumahnya, meskipun mereka tidak punya kepentingan apa-apa di sekitar tempat itu.

Setiap harinya, Tirius bekerja membantu tetangganya; Camus, yang mempunyai gerobak pengangkut sayuran, membawa sayuran dari kebun-kebun di lembah-lembah Ivory menuju ke Pasar Tingal. Selain itu, Tirius juga sering membantu pekerjaan memasak di rumah Bale, yang mempunyai tempat penginapan bernama Broken Broom. Di tempat inilah Tirius terkenal karena resep minumannya; teh masala, yang konon diperoleh dari pengembaraannya ketika mengunjungi Pegunungan Barat Jauh. Banyak orang ingin tahu bagaimana cara membuatnya dan tidak peduli dengan bagaimana kisah Tirius bisa mendapatkannya, dan Tirius dengan senang hati memberitahu mereka. Masala adalah minuman yang baik bagi kesehatan dan daya tahan tubuh, kata Tirius, suatu petang setelah bekerja di Broken Broom. Ketika itu banyak orang berkumpul ingin tahu. Terbuat dari paduan teh dan beberapa rempah-rempah yang diambil dari kebun-kebun herbal di sekitar kita. Minuman ini tidak memabukkan, tapi malah menyegarkan dan memberi kehangatan bagi tubuh setelah diminum. Kita akan merasakan rasa hangat yang perlahan-lahan mengalir dari perut, lalu naik ke atas, menuju ke rongga dada dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh, jelas Tirius memberitahu. Ia memperagakan dengan menaikkan tangannya dari perut ke dada. Adapun bahan-bahan masala antara lain; jahe (yang dimemarkan dan bukan diiris), 2 batang kecil kayu manis, beberapa butir cengkeh (biasanya 7-10 butir), beberapa butir kapulaga hitam, kembang pala, beberapa butir lada hitam, teh bubuk, dan jangan lupa, 2-3 lembar daun salam sebagai penyedap. Bahan-bahan itu dimasak bersama air hingga mendidih dan berbau harum. Setelah itu baru dituang susu murni dan gula, lalu dimasak sekitar 5-10 menit dan kemudian disaring, kalian bisa mencobanya sendiri di rumah, kata Tirius. Orang-orang yang berkunjung ke Broken Broom pun jadi tahu dan menyukai teh masala. Sehingga Bale sering menyediakan teh masala gratis bagi setiap pengunjung sore hari. Bahkan masala pun ditetapkan menjadi minuman pembuka yang wajib ada pada setiap pesta makan-makan dan perjamuan di Maglavar.

Begitulah, akhirnya Tirius pun dikenal sebagai orang tua baik hati yang memperkenalkan teh masala di Maglavar, dan orang-orang di Pasar Tingal selalu berbaik hati dengan memberi sedikit sayuran ataupun bumbu-bumbu untuk Tirius dan Camus, tiap mereka mengantarkan sayuran ke tempat pedagang-pedagang itu.

Pada suatu senja, di tahun ke-empat setelah kedatangan Tirius, datanglah sebuah kereta aneh yang ditarik dua kuda jantan gagah, yang rodanya berbunyi berisik sekali ketika lewat, bergulir masuk ke wilayah Magle dari arah barat daya menuju ke Jalan Dua-delapan. Kereta itu dikendalikan oleh seorang lelaki tua. Ia memakai topi tinggi, sewarna dengan jubahnya yang panjang. Ia mempunyai janggut panjang berwarna putih dan alis tebal. Rambutnya sedikit tergerai di antara kerah jubahnya, berwarna putih perak, menari-nari terkena angin. Orang-orang berdiri melongo keheranan menatap kedatangan lelaki tua itu. Ada bisik-bisik menyebar; lelaki tua itu adalah penyihir. Tapi tidak ada satu orang pun yang bisa memastikannya. Maglavar jarang dikunjungi orang asing, kecuali satu-dua pengembara yang kehilangan arah dan tersesat. Sesampainya di depan rumah Tirius, lelaki tua itu membuka pintu kereta, dan dari dalamnya, muncullah tiga kurcaci berjenggot panjang yang masing-masing menggendong bungkusan putih. Tirius menyambut mereka dan mempersilahkan mereka masuk. Sebenarnya, lelaki tua itu adalah sahabat Tirius, namanya Glbranthur, tapi di Valadien, ia lebih dikenal dengan nama Angladf. Sementara ketiga kurcaci adalah anggota Kelompok Tujuh, yang dikenal suka mencari mithril di lereng-lereng Angmor. Rombongan itu lalu menurunkan barang-barang bawaan mereka dan memasukkannya ke dalam rumah. Orang-orang yang penasaran memandang mereka dari jauh, beberapa masih berbisik-bisik. Jarang sekali ada penyihir yang keluyuran masuk ke desa-desa, kecuali sesuatu yang besar mungkin baru terjadi. Dan kurcaci jarang bersahabat dengan manusia karena manusia biasanya sombong, hanya mentang-mentang tubuh mereka beberapa senti lebih tinggi daripada kurcaci. Masalah tinggi badan memang menjadi hal yang sering menimbulkan pertengkaran antara manusia dan kurcaci. Namun orang-orang Magle tak menyangka bahwa Si Tua Tir mempunyai kenalan dengan orang-orang aneh ini; penyihir (benarkah lelaki tua itu penyihir?) dan para kurcaci yang berjenggot

panjang. Lucunya desas-desus itu menyebar ke seluruh desa dan bertahan selama beberapa hari, menjadi perbincangan hangat, terutama di Broken Broom.

Di sebuah bar bernama White Dove di Firion, orang-orang juga ramai membicarakan kedatangan penyihir dan para kurcaci itu ke rumah Si Tua Tir. Beberapa dari mereka sudah banyak mendengar kabar-kabar mengejutkan dari beberapa pengembara yang melewati Winyaway, bahwa dunia luar, terutama di Valadien, sedang terjadi peristiwa-peristiwa aneh. Goblin-goblin terlihat di sekitar lereng-lereng Angmor, dan daratan di sebelah barat Sagresia yang kosong, kini dinamakan Dataran Hitam, karena seakan-akan kegelapan kini menutupi tanah tersebut.

Anehnya, setelah kedatangan rombongan itu, Tirius menjadi jarang keluar rumah. Kadang-kadang dua atau tiga kurcaci keluar dan berbelanja di Pasar Tingal, membeli beberapa kebutuhan pokok. Tapi mereka jarang berbicara dengan orangorang. Dan sudah lebih dari tiga hari rombongan itu menginap, tapi Tirius dan Angladf jarang terlihat.

Pada hari ke-empat, bersama dengan pagi yang cerah, datanglah kereta aneh yang lain, dari arah Norby, dan langsung menuju Jalan Dua-delapan. Kereta itu mengangkut beberapa anak-anak dan kurcaci. Mereka juga menginap di rumah Tirius. Dan hal ini semakin menambah keanehan dan tanda tanya besar di seluruh Maglavar. Beberapa orang menduga-duga tentang hal yang buruk, tapi beberapa orang masih percaya bahwa Tirius adalah orang yang baik, dan persahabatannya dengan penyihir adalah hal yang sangat menarik. Jadi berbagai macam pendapat beredar di antara orang-orang dan menjadi perdebatan yang seru di Broken Broom dan White dove. Tepat satu minggu kemudian, rombongan itu kemudian mulai pergi. Kereta Angladf lebih dulu berjalan ke arah tenggara, menuju Tengaril, begitu juga kereta kedua, yang diisi rombongan kurcaci. Lalu tersebarlah berita bahwa di Tengaril, kereta-kereta itu lalu naik ke atas perahu-perahu besar yang ada di pelabuhan sana, dan kemudian berlayar ke arah Timur. Orang-orang masih tak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tapi lama-kelamaan orang-orang mulai menganggap biasa

dan melupakan kejadian tersebut, karena ternyata tak ada peristiwa apapun yang terjadi setelah kedatangan dan kepergian penyihir dan para kurcaci itu.

Entah sejak kapan (orang-orang berdebat; mungkin sejak kedatangan rombongan kurcaci) Tirius kini tak lagi hidup sendiri. Ada empat anak kecil; dua anak laki-laki dan dua anak perempuan, yang hidup bersamanya di rumah itu sekarang. Yang tertua, anak laki-laki berumur 8 tahun, bernama Rayya, sedangkan anak lakilaki yang kedua bernama Ravadim, umurnya sekitar 6 tahun. Dia memiliki saudara kembar perempuan bernama Revalina, dan anak perempuan terakhir, yang paling kecil berumur 5 tahun bernama Runa. Nama keluarga mereka adalah Reis, yang bisa berarti harapan. Ke-empatnya memiliki mata tajam dan cemerlang serta berambut hitam yang sama. Kata Tirius; mereka adalah anak-anak dari teman jauhnya yang dititipkan padanya untuk dijaga dan dibesarkan. Kabarnya anak-anak itu berasal dari Migdel, sebuah desa kecil di bawah bayang-bayang lereng Angmor di kaki Gunung Hitam. Alasan kenapa anak-anak itu tinggal bersamanya, Tirius mengatakan pada orang-orang bahwa di Migdel telah terjadi kebakaran besar yang katanya di akibatkan karena serangan naga yang mengamuk, telah membakar habis beberapa desa kecil di wilayah Tunn Angmor dan lembah-lembah Angmoria. Banyak korban manusia, tapi sedikit yang selamat kemudian berhasil mengungsi ke Ipsen dan Sagresia. Menurut kabar dari para pengembara, beberapa tahun terakhir suasana di Pegunungan Hitam memang cukup aneh. Banyak terdengar suara-suara seperti ledakan, letupan dan desis-desis bising di kejauhan. Beberapa orang menduga telah terjadi sesuatu di Dataran Hitam, menyusul dengan munculnya awan-awan hitam di atas negeri tersebut, dan kedatangan orang-orang aneh dari Negeri Selatan Jauh (Sothfarlad). Mereka adalah bangsa yang terkenal dengan ilmu hitam dan percaya pada kekuatan benda-benda bertuah.

Ceritanya, di saat yang sama ketika tragedi itu terjadi, Angladf dan ketujuh kurcaci sedang melewati Migdel dalam perjalanan mereka menuju Sutri. Di saat itulah mereka melihat Rayya dan adik-adiknya. Anak-anak itu kehilangan ibu mereka karena tragedi tersebut, dan tak ada sanak saudara lain di sekitar tempat itu. Mereka pun memutuskan untuk ikut dengan tetangga-tetangga yang lain pindah ke Ipsen. Waktu itu, salah seorang kurcaci merasa melihat semangat dan tekad baja yang

terpancar dari mata si kecil Rayya, Rava, Reva dan Runa. Akhirnya rombongan itu membawa anak-anak itu ke Sutri. Lalu datanglah pesan dari ketua Ordo Penyihir dari Negeri Kelabu. Angladf harus membawa anak-anak itu keluar dari Benua Besar. Maka Angladf pun membawa anak-anak itu ke Tol Canaloa untuk dititipkan dan dibesarkan oleh Tirius, seorang sahabat lama Angladf. Tirius sendiri tidak begitu mengerti alasannya, tapi Angladf berjanji, bahwa bila waktunya telah tiba, maka ia akan datang untuk memberikan semua penjelasan. Maka begitulah, anak-anak itu akhirnya tinggal dan hidup bersama Si Tua Tir (yang mereka panggil Pak Tua). Dan di Maglavar, dengan dikelilingi hutan dan kebun-kebun, anak-anak itu tumbuh dan berkembang mengenal dunia mereka dengan baik bersama anak-anak Maglavar yang lain.

Lebih dari 9 tahun kemudian, di hari ke-14 bulan Juni, dengan cuaca cerah dan sedikit awan cirrus tipis tampak berbaris di langit utara, seperti coretan-coretan putih pada lembaran biru. Matahari sudah naik sepenggalah, memancarkan cahayacahaya emasnya yang hangat ke bumi. Sementara angin berhembus perlahan, membelai kuntum-kuntum papaver dan lily yang tumbuh diantara semak-semak heather. Suasana di Maglavar tetap sama seperti hari-hari sebelumnya; tenang dan damai, serta sejuk karena dikelilingi pepohonan willow dan cemara yang menghampar memanjat naik ke arah barat daya menuju Amon Radit. Rava dan Reva baru saja pulang dari pasar di Tingal dan mereka membawa barang belanjaan yang banyak sekali; bumbu dapur dan keperluan-keperluan rumah. Runa sedang menyiapkan minuman di ruangan tengah, ketika si kembar pulang dan menanyakan tentang Pak Tua dan Rayya. Mereka belum pulang, tadi membantu Pak Camus membawa barang pesanan ke Firion, jawab Runa sambil memandang kedua kakaknya, dalam hati Runa merasa ada kegelisahan yang terpancar dari mata kedua kakaknya yang kelelahan. Ada apa kak, kok sepertinya gelisah? Ada sesuatu yang membuat kalian cemas? Yaah jawab Rava.

Sesuatu terjadi di kota. Pak Tua harus tahu berita ini, kata Reva, ia menyeka wajahnya dengan handuk basah. Apa yang terjadi? tanya Runa penasaran. Nanti sajalah, setelah Pak Tua dan kakak pulang, jawab Reva, meraih segelas air putih dan meminum isinya dalam sekali teguk. Ia mengeluarkan barang belanjaannya dari dalam tas dan mengaturnya di atas meja. Ternyata mereka tak perlu menunggu lama untuk menceritakan apa yang membuat mereka cemas, karena tak lama kemudian, Tirius tampak berjalan pulang. Seikat besar ranting kering di panggul di bahu, sementara tak jauh di belakangnya, Rayya menggotong seikat ranting yang sama dan tangannya memegang sekeranjang jamur yang dibungkus semacam daun pakis. Mereka berdua berjalan ke belakang rumah dan meletakkan beban mereka di sana, di antara tumpukan ranting kering yang sudah dikumpulkan selama beberapa hari. Kurasa cukup banyak persediaan kayu bakar kita, mungkin bisa sampai beberapa bulan ke depan, kata Tirius sambil tersenyum puas. Ia baru saja sampai di ambang pintu belakang ketika dilihatnya si kembar sudah pulang dari pasar. Oh, kalian sudah pulang? Rava menarik sebuah kursi untuk Tirius. Sesuatu telah terjadi di kota, katanya. Orang-orang di Broken Broom ramai membicarakannya, tambah Reva. Tirius memandang keduanya, menyandarkan bahunya di kursi. Dia tampak biasa saja mendengar kabar itu. Keramaian selalu terjadi di kota, terutama di pasar, tempat di mana banyak orang berkumpul dan bertemu. Orang-orang di kota memang mudah membuat keramaian; harga-harga naik, barang-barang baru dari luar pulau, juga pedagangpedagang keliling yang menawarkan barang dagangannya dengan ditambah dongeng-dongengannya tentang barang itu, juga kostum dan bendera-bendera kecil warna-warni untuk menarik perhatian, atau pesta-pesta para orang kaya di kota. Itu hal yang biasa terjadi, anak-anakku katanya bijak. Tapi ini aneh sekali, kata Rava cepat. Kami mendengar desas-desus, orang-orang di Broken Broom membicarakannya. Kabarnya, gerombolan goblin menyerang Rig dan Nor Eressa tadi malam. Ya, hal yang sama juga katanya terjadi di Benua Besar. Gerombolan goblin yang menyerang dan menjarah desa-desa, jelas Reva.

Goblin? kata Rayya, dia baru saja masuk dari pintu belakang dan terkejut mendengar kata-kata adiknya. Tidak mungkin kan? Mereka tinggal di negeri-negeri jauh di Barat, di Perbatasan Barat Daya, yang liar dan berbatu. Tapi begitulah berita yang kami dengar, orang-orang di Broken Broom ramai membicarakannya, jawab Rava, Kabarnya gerombolan goblin juga menguasai Habad bagian barat. Beberapa pengembara mengatakan, Negeri Hitam telah bangkit. Tirius mendengarkan dalam diam. Negeri Hitam telah bangkit. Kata-kata itu memberikan arti tersendiri baginya. Ada wilayah di sebelah barat Valadien yang sering disebut sebagai Negeri Hitam. Sebuah daratan yang gersang dan berbatu, dimana rawa-rawa dan asap menjadi kerajaan tersendiri bagi kaum yang tinggal dalam kegelapan. Ada masanya ketika tanah itu ditakuti oleh bangsa-bangsa di Rnegard, ketika kekuatan kegelapan yang sangat jahat, bertahta di Istana Hitam, ribuan tahun yang silam. Dan karena kejahatan itu semakin besar dan membahayakan kelangsungan hidup manusia, maka terjadilah pertempuran besar selama beberapa tahun, Tahun-tahun dalam sejarah yang tercatat sebagai Tahun Gelap. Dan kini, setelah lama berselang, kekuatan itu dikabarkan bangkit kembali. Seperti yang pernah diramalkan oleh para peri dan oracle. Tirius berpikir; apa yang dikatakan kaum bijak akan terjadi, dan ia cemas, karena tanpa ia kehendaki, ia akan dengan sendirinya terjebak dalam peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Dalam hatinya ia berkata; akhirnya datang juga, hitam dan putih akan segera menampakkan kekuatannya. Dia teringat salah satu puisi kuno; dimana ada cahaya kedamaian, disana bayang-bayang bersembunyi, saling menunggu untuk saling menguasai hari. Dan itu akan segera terjadi. Kau tahu alasan goblin itu menyerang Rig? kata Rayya pada adiknya. Apa lagi? tentu saja mereka selalu mencari gara-gara kan? Mereka suka merampas dan merampok, atau mungkin mereka mencari harta jarahan. Lagipula kabar yang tersebar, mereka mempunyai semacam tempat perlindungan di daerah Habad, dekat dengan Karotte. Mungkin mereka telah menyusun kekuatan untuk menyerang manusia. Mereka membenci manusia kan? Tidak begitu persisnya, potong Tirius, ada sesuatu yang memang sedang dan akan terjadi. Sesuatu yang mungkin lebih mengerikan daripada sekedar menyerang manusia. Perang tentu saja akan terjadi, karena dibalik peperangan, kedamaian bersembunyi dan menunggu untuk ditemukan kembali.

Anak-anak memandang heran pada Tirius, apa maksud Pak Tua? Sementara Tirius tersenyum, tahu bahwa anak-anak itu membutuhkan penjelasan dari katakatanya. Runa membagikan mug untuk mereka dan sebuah flagon kecil berkeliling. Reva menuang masala untuk mereka. Kini mereka berlima duduk mengelilingi meja, dan Tirius menceritakan beberapa penjelasan yang ia ketahui pada anak-anak itu.

"Beberapa hari yang lalu, kira-kira tanggal 6 Junikalau aku tak salah menghitung kalender, kata Tirius mengawali ceritanya, tengah malam ketika aku tiba-tiba terbangun, aku berjalan keluar dan melihat bintang-bintangkalian tahu, aku suka sekali melihat bintang yang muncul saat langit malam cerah. Waktu itu, Borgil sedang bertengger di langit malam, dikelilingi bintang-bintang lain yang berkedip-kedip. Ketika aku sedang menikmati pemandangan itu,sambil mencari arah dimana letak Iedieas, aku melihattadinya kukira nagatapi rupanya bintang jatuh, cahayanya menuju ke selatan. Nyalanya begitu besar, sampai aku beranggapan, mungkin bintang itu memang jatuh ke bumi. Di suatu tempat di Selatan, mungkin di Benua Besar, atau mungkin lebih jauh lagi. Lalu sepertinya terjadi sedikit gempa kecil sesaat. Lalu kulihat bintang-bintang berkedip dan berpendar, beberapa tampak bergerak, beberapa tiba-tiba saja hilang. Yaa bintang-bintang itu menghilang begitu saja, hingga hanya tinggal sedikit, termasuk Borgil yang masih tetap bersinar merah di langit. Sepertinya bintang-bintang yang lain tak rela, bahwa temannya jatuh ke bumi. Aku jadi ingat dengan salah satu baris syair kuno; ketika bintang-bintang jatuh, disanalah harapan-harapan mulai merapuh. Lalu apa hubungannya dengan serangan goblin? tanya Rava. Tunggu sebentar, jangan terburu-buru, kata Tirius, aku akan lanjutkan ceritaku. Aku teringat dengan kisah yang kudengar 12 tahun yang lalu dari si tua Ragvaldhir dari Rumah Pertapa Agung di lereng Bukit Putih, tentang ramalan datangnya kegelapan dan kejahatan. Tidak jelas siapa yang mengatakannya pertama kali, tapi ramalan itu sudah berumur sangat tua dan diceritakan dalam Bahasa Peri; bahasa yang paling tua dari semua bahasa di Rnegard. Aku tak begitu hafal isi ramalan itu dalam Bahasa Peri, tapi kira-kira seperti inilah dalam bahasa kita;

Akan datang hari, akhir dari semua kehidupan Dimana-mana penuh kesesatan, kehancuran datang Bermula dari munculnya kegelapan di atas Dataran Gersang Dan Petualang Angkasa melewati Mata Merah langit malam Bangkitlah kejahatan dengan penuh kekuatan Mengejar mimpi melalui darah dan tulang pahlawan

Dan teror Sancossi menakuti bangsa yang hilang Mengancam kehidupan bumi Rnegard dengan perang Maka segeralah temukan, putra-putri on, kunci dari kemenangan Kebaikan melawan kegelapan yang meresahkan Bangkitkan ksatria perkasa yang menakutkan Dan orang-orang tua yang lama dilupakan semua insan

Tataplah esok bersama sinar timur matahari Hingga akhir kedamaian kembali tercipta di bumi Kebenaran atau kegelapan, salah satu hanya bisa bertahan Dan tak bisa hidup berdampingan Tirius menghirup tehnya sebelum melanjutkan, Kaum bijak menerjemahkan ramalan itu (dengan bantuan para centaur), sebagai pertanda datangnya kehancuran. Mereka mencoba mengartikan ramalan itu sebagai berikut:

Jika sebuah bintang jatuh tampak dari bumi ketika Borgil sedang terang di angkasa malam, dan kegelapan mulai menyelimuti Tanah-tanah Gersang, karena tumbuhan telah punah, karena yang ada di atas bumi hanya angin-angin yang bertiup panas, maka kejahatan akan bangkit. Borgil disebut sebagai Mata Merah dalam literaturliteratur kuno, karena dia adalah satu-satunya bintang yang bercahaya merah paling terang dalam Rasi Tauri; disebut juga Dilynwr, atau bintang pengikut, karena Borgil selalu terlihat mengikuti Iedieas, bintang yang disebut Pengembara Malam, yang terlihat antara bulan Juni sampai Agustus. Dan ia menjadi pertanda akan datangnya kejahatan. Kejahatan itu akan menyebar teror bagi bangsa-bangsa di Rnegard. Saat itulah dibutuhkan para pejuang yang gagah berani untuk melawan kejahatan.

Dan sampai akhirnya, perang besar akan terjadi, tapi dengan bantuan para ksatria dan orang tua yang terlupakan (tak banyak yang tahu siapa atau apa yang dimaksud ksatria dan orang tua itu), tapi dalam peperangan itu hanya satu yang bisa bertahan; manusia atau kejahatan itu sendiri.

Dari ramalan itu, beberapa penyihir dan Kaum Bijak di Negeri Kelabu menjadi waspada, mereka cemas akan masa depan. Kalian harus tahu, penyihir-penyihir selalu khawatir tentang masa depan. Mereka mengingatkan hal ini kepada setiap penguasa dari Tiga Istana; Sagresia, Ipsen dan Barad Annn, serta

menyebarkannya hingga ke seluruh wilayah yang dihuni manusia; Valadien, Tudor, Solem dan Harnun, Habad dan pulau-pulau di sekitarnya; Tol Calda dan Canaloa, serta Kepulauan Timur Jauh. Tentu saja kecemasan mereka sangatlah beralasan, karena mereka mampu berhubungan dengan para peri, centaur dan makhlukmakhluk lain yang tersembunyi dari mata manusia, yang lebih tahu dan lebih paham tentang rahasia alam. Anak-anak terdiam mendengar penjelasan Tirius. Mereka masih belum bisa mencerna penjelasan Tirius. Lalu apa yang akan terjadi? tanya Rayya, dan apa itu Sancossi dan on? Sancossi, jelas Tirius, kita mengenalnya sebagai goblin. Itu adalah sebutan mereka dalam Bahasa Peri. Sedangkan on adalah kekuatan seseorang yang mempunyai kemampuan untuk menggunakan dan mengendalikan kekuatan alam, bahkan mereka mampu memanggil makhluk-makhluk dari dunia lain, jawab Tirius. Di Valadien, mereka biasa dipanggil Elementer; para pengendali elemen, Tirius menarik nafas panjang, tapi yang terjadi nanti adalah masa depan. Masa depan bukan urusan kita. Tapi mari kita serahkan semua pada yang mengurusinya. Aku yakin, banyak hal yang ingin kalian tanyakan, tapi simpan dulu semua pertanyaan kalian. Karena kelak akan ada seseorang yang akan memberitahukan semuanya pada kalian. Kalian akan mendengar hal-hal yang lebih aneh dan membuat kalian penasaran. Nantinya, semua pertanyaan kalian akan terjawab dengan tuntas. Siapa orang itu? tanya Rava, dan apa hubungannya dengan kita? Tirius tersenyum, Tunggu anakku, biarlah orang itu yang menceritakan padamu. Aku tak ingin memberi tahu kalian lebih jauh tentang hal yang tidak seharusnya kalian tahu lebih dulu. Tapi Pak Tua membuat kami penasaran, kata Reva.

Ya, ya, dukung Rava dan Runa. Tunggulah, dan sabar. Karena kesabaran selalu berkata; barangsiapa mau menungguku, maka ia akan mendapatkan hatinya tenang dan tidak terburu-buru, hingga ia mampu melihat segala sesuatu dengan lebih baik dan dengan pikiran jernih yang penuh kehati-hatian. Kalian akan tahu bila sudah waktunya bagi kalian untuk tahu, Tirius meminum habis tehnya, meletakkan mug kosongnya dan berjalan perlahan menuju kamarnya. Hari ini sangat melelahkan, aku mau istirahat dulu. Tolong atur kayu-kayu itu, Rayya!

Anak-anak melewati hari itu dengan penuh kecemasan dan tanda tanya. Tapi mereka tidak menanyakan apapun lagi pada Tirius. Mereka berharap akan segera tahu maksud perkataan Tirius, dan diam-diam mereka membicarakan Angladf; penyihir yang mengantar mereka ke Maglavar 10 tahun lalu. Tapi mereka tidak mengatakan apa-apa pada Tirius. Selama ini hidup mereka tenang-tenang saja di Maglavar. Aneh rasanya ketika mendengar gerombolan goblin menyerang Rig dan Nor Eressa. Mereka merasa ada sesuatu yang sedang terjadi jauh di luar desa mereka. Malam harinya, Runa tidak bisa tiduranak kecil memang kadang susah tidur jika ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dia lalu bangkit dan berjalan ke kamar kakaknya, tapi ternyata Reva tidak ada di dalam kamarnya. Runa pun keluar dan menemukan kakaknya berdiri di belakang rumah. Kakak belum tidur? tanya Runa pada Reva yang menengadah melihat bintang-bintang. Kau sendiri kenapa belum tidur? balas Reva sambil menoleh. Runa berjalan mendekati kakaknya, merapatkan baju hangatnya dan berdiri di samping Reva. Kenapa ya, aku jadi tidak bisa tidur setelah mendengar cerita Pak Tua. Rasa-rasanya akan ada sesuatu yang terjadi. Tentu saja, sesuatu akan terjadi, kata Reva, entah itu perang, atau kehancuran, seperti cerita Pak Tua. Orang-orang di Broken Broom tadi siang tampak cemas. Beberapa malah berencana pindah ke Benua Besar. Aku jadi teringat Migdel, Runa sejenak bahagia teringat masa kecilnya. Tapi kemudian merasa sedih teringat tragedi yang menimpa mereka.

Reva mendekati adiknya, mengusap bahunya dan bersenandung;

Katakan padaku pelan-pelan Ada apa di matamu yang berkaca-kaca Jangan biarkan dirimu dalam kesedihan Dan jangan keluarkan air mata

Aku tahu apa yang kau risaukan Aku kan ada di sampingmu Jika ada sesuatu menakutimu Serahkan semuanya padaku

Aku tak ingin kau menangis Karena air mata bukti kelemahan kita Hapuslah semua kesedihan Hingga datang esok yang cemerlang

Bisikkan padaku kesedihanmu Apa yang membuat gelisah hatimu Bagilah kesusahanmu padaku Karena kau dan aku adalah satu Sudahlah, kita harus melupakan masa lalu. Karena sebenarnya orang yang kita cinta tak pernah benar-benar pergi meninggalkan kita, tapi mereka terus ada di dalam hati kita. Sekarang kita dan kakak sudah tinggal di sini, tempat yang aman dan jauh dari keramaian. Dan Pak Tua juga pernah mengatakan, bahwa: setiap kita adalah jiwa ksatria. Jangan biarkan orang lain tahu tentang kesedihan kita atau apa yang membuat kita menderita. Tunjukkan saja semangatmu dan biarkan orang lain bertanya-tanya, apa yang membuatmu tertawa bahagia menghadapi dunia. Reva memeluk adiknya, mencium keningnya dan kemudian membimbingnya, mereka berdua masuk ke dalam rumah.

Sementara itu, tanpa diketahui Reva dan Runa, jauh di bawah bayangbayang pohon pakis, Tirius memandang kedua anak itu masuk kembali ke dalam

rumah. Pada malam-malam tertentu, jika cuaca tidak dingin atau hujan, Tirius biasa berjalan-jalan sejam-dua jam di malam hari sebelum tidur, di dekat pohon-pohon pakis di belakang rumah. Merenung sendirian bersama dirinya sendiri, tenang, damai, penuh kasih, membandingkan ketenangan hatinya dengan keheningan langit, digerakkan dalam kegelapan oleh gemerlap gugusan bintang yang kasat mata dan Kemegahan Agung yang tersembunyi, membuka jiwanya pada pikiranpikiran yang turun dari langit. Tirius menyadari anak-anak itu tidak bisa tidur setelah mendengar penuturannya. Dia paham dan maklum, gejolak darah muda dalam tubuh mereka pasti menginginkan penjelasan yang lebih terperinci tentang ceritanya. Entah bagaimana dengan Rayya, anak tertua. Dialah yang akan menentukan jalan saudara-saudaranya, batin Tirius mengingat pesan seseorang beberapa tahun silam. Mungkin memang sudah takdir, bahwa anak-anak itu nantinya akan menjadi orang yang berpengaruh bagi perubahan dunia. Dan semua rahasia kini akan segera terbuka. Semua pertanyaan akan segera terjawab. Tapi Tirius sendiri sengaja menahannya, karena nanti bila sahabatnya dari jauh datang, maka selesailah sudah tugasnya. Tugas yang diberikan oleh seseorang 10 tahun lalu.

Di saat yang sama, di dalam kamar. Rayya berusaha keras memejamkan mata. Terlintas dalam benaknya kemalangan-kemalangan yang dia alami bersama adik-adiknya. Memang saat itu umurnya belum genap 8 tahun, tapi ia masih ingat dengan jelas sekali kejadian di Migdel waktu itu. Rayya sedang mengawasi adik-adiknya yang sedang bermain, sementara ibunya tengah bekerja di dapur. Ayah Rayya adalah seorang pejuang di Ipsen dan sudah lebih dari setahun tidak pernah kembali, karena tugas-tugasnya yang berat di Perbatasan. Bahkan ada desas-desus yang mengatakan bahwa ayahnya telah tewas dalam pertempuran. Jadi mereka terpaksa hidup dengan ibu mereka, sederhana dan berusaha keras mencukupi kebutuhan mereka sendiri dengan membantu tetangga dan juga mengumpulkan hasil hutan.

Hari itu, udara terasa aneh, terasa lebih berat, dan kabut turun lebih cepat dari biasanya. Lalu burung-burung beterbangan, riuh sekali. Rayya masih ingat ketika naga-naga dari lembah Angmor tiba-tiba muncul dan mulai mengamuk

menghancurkan rumah-rumah. Rayya masih ingat ketika salah satu naga membakar rumahnya begitu saja, dan ibunya tak pernah sempat keluar. Orang-orang desa panik. Terjadilah kekacauan. Rayya menggandeng adik-adiknya, berlari

menyelamatkan diri. Mereka melarikan diri sejauh mungkin. Di sekitar mereka, orang-orang panik dan berteriak-teriak, saling menyelamatkan diri, beberapa dengan nekat berusaha menghalau naga-naga besar itu, beberapa yang lain berlarian ke sana-kemari menyelamatkan teman dan saudara. Rayya menggenggam erat tangan Runa, Reva dan Rava di belakangnya, mengikuti berlari. Mereka kebingungan, mereka hanya mengikuti orang-orang yang berlarian ke arah hutan. Sementara di atas mereka, naga-naga beterbangan, teriakan-teriakan membahana memecah langit. Salah satu naga tiba-tiba menukik ke arah Reva, tapi dengan sigap Rayya melindungi adiknya. Saat itulah pandangan mata Rayya bertemu dengan pandangan mata si naga. Rayya bisa melihat api yang menyala merah di dalam mata si naga. Api itu tampak sangat panas, tapi sepertinya juga menyimpan kesedihan yang misterius. Lalu tiba-tiba muncullah seseorang dari dalam hutan. Tubuhnya pendek tidak seperti kebanyakan manusia. Ia berlari dan mengayunkan kapaknya. Dialah Eirik, Saudara Nomor Satu, kurcaci pemimpin Kelompok Tujuh. Dia berhasil melukai leher si naga, tapi tak sampai membunuhnya. Lalu Angladf pun datang dan mengusir naga-naga dengan sihirnya. Begitulah kisahnya bagaimana Rayya dan adik-adiknya bisa diselamatkan oleh Angladf dan Tujuh Kurcaci. Lalu mereka pun membawa Rayya dan adikadiknya melintasi hutan dan lembah-lembah luas, dalam perjalanan mereka hingga tiba di Sutri; sebuah tempat peristirahatan yang digunakan oleh para pengembara; manusia, kurcaci, liliput, dan bahkan beberapa kaum pengembara lainnya. Tempat itu berupa bukaan cukup luas di tengah padang rumput berbatu yang dinaungi pohon beringin. Di hari kedua mereka tinggal di Sutri, datanglah seorang penyihir bernama Ranulf, yang membawa pesan dari ketua Ordo Penyihir, yang berbunyi; pertanda buruk, Angladf harus membawa anak-anak itu pergi, keluar dari Benua Besar. Ranulf tidak tahu alasannya, tapi katanya, ketua Ordo menyinggung tentang sebuah ramalan. Dan baru hari inilah Rayya mendengarnya. Ramalan, yang menurut para penyihir adalah pertanda buruk. Entah apa maksudnya, karena para penyihir memang selalu misterius, meskipun mereka tidak semisterius kaum peri. Lalu berita tentang serangan goblin hari ini mulai mengusiknya. Kenapa mereka menyerang

Rig? Apakah ada sesuatu yang terjadi di luar sana? Di Benua Besar? Apa yang telah terjadi selama 10 tahun belakangan ini? Rayya tetap tidak bisa menerka-nerka jawaban dari semua pertanyaan yang membingungkannya.

Apa yang disampaikan Tirius juga mengganggu Rava yang tertidur di kamarnya. Dia memang cemas setelah mendengar ramalan yang diceritakan Tirius, tapi ia berusaha untuk tidak memikirkannya. Tapi tanpa disadari, alam bawah sadarnya berusaha menemukan kepingan-kepingan ingatan masa kecilnya. Kejadian-kejadian masa kecilnya di Migdel 10 tahun silam muncul dalam mimpimimpinya; Suatu sore yang cerah, Rava sedang membantu ibunya, memetik buah berry liar yang banyak tumbuh di pinggiran desa. Ibunya menceritakan banyak hal kepadanya, juga nasehat-nasehat. Setiap dari kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri. Hati, pikiran, indera kita, haruslah kita pergunakan untuk hal yang benar, pesan ibunya kala itu. Di antara kalian, anak-anakku, kakakmu-lah yang menjadi pemimpin kalian, tapi kau, sebagai anak laki-laki kedua harus siap untuk mengikutinya ataupun

menggantikannya bila sesuatu terjadi. Adik-adikmu akan mengikutimu. Tunjukkanlah kebenaran pada mereka. Berilah cahaya. Ingatlah selalu kata-kataku, lalu ibunya menarik nafas panjang, bergumam dalam bahasa yang tak dipahami oleh Rava, Erulaitalye Ingatlah, selalu ada cahaya yang akan membimbing kalian. Ikutilah kata hatimu. Tunjukkan jalan bagi semuanya dan jalanilah takdir kalian, kata ibunya sambil membelai rambut Rava, lalu perlahan-lahan ingatan itu mulai memudar. Tapi kata-kata itu tetap terpatri di hati Rava.

Keesokan paginya, Reva dan Runa bangun pagi-pagi sekali. Mereka seperti biasanya membersihkan rumah dan pekarangan, juga merawat tanaman-tanaman herbal di kebun mereka. Di belakang rumah, Tirius dan Rayya menumpuk daundaun mint kering yang akan dijual ke kota, ketika tiba-tiba didengarnya teriakan Rava yang membawa gerobak milik Bern tua.

Ada serangan di Westdowns. Kabarnya, di Rumina banyak rumah yang dibakar, kata Rava pada Tirius. Aku baru saja dari Bern, disana banyak orangorang yang berkumpul membicarakannya. Katanya, separuh kota telah dihancurkan. Tirius mengikat daun-daun mint dan menumpuknya. Kau yakin? tanya Tirius. Ya, Tuki dan Bim baru pulang dari White Dove. Merekalah yang membawa kabar dari kota. Katanya goblin-goblin mengamuk dan menjarah Rumina dan sekitar Westdowns bagian barat. Beberapa orang telah bersiap-siap mengungsi ke Norby. Tirius berpikir, goblin-goblin mungkin tidak akan menyerang sejauh itu, katanya, aku mulai khawatir.. Kau tak apa-apa Pak Tua? tanya Rayya. Tidak, aku tak apa-apa, jawab Tirius, mungkin sebaiknya aku istirahat sebentar. Tirius lalu duduk bersandar dan merenung. Apa yang akan kita lakukan? tanya Rava, kita akan mengungsi juga? Ya, naik ke bukit, di sekitar Magarsari sepertinya lebih aman, kata Rayya. Tirius menatap Amon Radit yang tampak samar di Barat. Dia berkata, goblin lebih terlatih di daerah pegunungan. Mereka aslinya berasal dari Pegunungan Tinggi nun jauh di Daerah Perbatasan Barat. Jadi kurasa lebih berbahaya jika kita naik ke Magarsari. Lalu kita harus bagaimana? kata Rayya cemas. Sabar. Tunggulah beberapa hari lagi, kata Tirius menenangkan. Kita akan bertahan dulu di sini. Aku yakin, untuk sementara kita masih aman. Rayya dan Rava tak habis mengerti dengan keputusan Tirius. Dan mereka tetap khawatir.

Hari pun berlalu tanpa ada kejadian apapun. Rayya dan Rava sempat pergi ke Tingal, mencoba mencari informasi di Broken Broom, tapi tak banyak orang yang bisa memberikan kabar dan berita. Kecuali kenyataan bahwa sekarang penduduk Magle sudah lebih banyak berkurang. Beberapa sudah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, di Magarsari dan di sekitar lereng Amon Radit. Beberapa pergi lebih ke utara, ke Norby dan wilayah utara. Thain sudah memberikan penjelasan pada orangorang bahwa keadaan mungkin belum akan memburuk. Dengan adanya seranganserangan, kita harus selalu waspada dan bersiap, itulah yang didengar Rayya dan

Rava dari orang-orang. Anak-anak pun kemudian mulai merasakan hal yang aneh pada Tirius. Hari-hari terakhir ini, ia sering terlihat mondar-mandir di depan rumah, seperti sedang gelisah menunggu seseorang atau sesuatu. Tirius juga

mengeluarkan mantel-mantel bepergian yang selama ini hanya disimpan di bawah lemari. Sepertinya dia sedang mempersiapkan untuk memulai sebuah perjalanan. Ransel-ransel tua dibersihkan, juga sepatu-sepatu boot dan selendang-selandang tebal. Runa pernah bertanya; Kenapa barang-barang itu dikeluarkan?. Dan Tirius hanya menjawab, Kita harus bersiap untuk menyambut segala kemungkinan yang terjadi besok. Dan anak-anak pun diam-diam mempersiapkan barang-barang mereka sendiri.

Tiga hari kemudian, di suatu sore, datanglah sebuah kereta yang ditarik kuda putih yang tampak sangat gagah. Kereta itu berjalan perlahan dari arah Sirila, mengikuti jalan besar Winyaway dan kemudian membelok ke Ivory, menuju ke rumah Tirius. Bagian belakang kereta itu beratap melengkung dan dilapisi kain tebal berwarna hitam yang sudah usang. Tepat di tengahnya, ada simbol dan gambar; lingkaran dengan huruf-huruf aneh yang merupakan simbol penyihir. Sebuah lampu gantung bergoyang-goyang di bagian depan, tampak menyala redup, dan seorang lelaki tua berjubah kelabu dengan wajah keriput dan jenggot putih yang panjang, duduk di bagian depan. Kereta itu akhirnya berhenti di depan rumah.

Waktu itu, Runa sedang menyirami bunga-bunga, ketika lelaki tua itu turun dari keretanya dan menyapanya; Quel andune Amaelamin, sepuluh tahun berlalu telah menyulapmu menjadi gadis yang cantik. Runa menoleh, dan matanya berbinar riang. Angladf!!! seru Runa, Angladf datangAngladf datang Segera saja, Tirius dan yang lain keluar dari rumah. Mereka semua tampak senang dengan kedatangan penyihir itu. Angladf sambut Tirius yang langsung bergegas menyongsong tamunya. Angladf pun membuka kerudungnya dan tersenyum. Nai Saian luume...inilah aku, Tirius tua yang baik, saesa omentien lle

Bab III Penyihir dan Kisah Kisah Yang Dibawanya


Selamat datang kawanku Angladf ! wajah Tirius berseri-seri menyambut tamunya. Ayo-ayo... masuklah! bagaimana kabarmu? Baik-baik saja seperti yang kau lihat, jawab Angladf tertawa terkekeh. Dunia masih berbaik hati memperpanjang umurku, ve yni ntim aldarn! Kedua lelaki tua itu lalu berjabatan tangan dan saling menepuk pundak, layaknya sahabat lama yang sudah begitu lama tidak bertemu. Mereka kemudian berjalan ke dalam rumah. Tirius mempersilahkan tamunya masuk terlebih dahulu. Silahkan, masuklah ke gubug yang dibangun dengan tangan tua ini, kata Tirius sambil tertawa menunjukkan kedua telapak tangannya yang kapalan. Masih bagus dan sederhana. Sangat kokoh meskipun sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Setidaknya ini cukup untuk tempat tinggal orang-orang seperti kita, juga bagi petualang paling gagah berani dari Valadien, kata Angladf. Dia memasuki ruang tamu dan melihat kursi-kursi kayu mengelilingi meja kecil di pojok ruangan, juga sebuah rak kayu usang. Perabotan murahan dari kayu dan hiasan dari tembikar agak menggugah minat Angladf, mengingatkannya pada hal yang samar-samar tidak bisa diingatnya. Masih sama seperti dulu, kata Angladf sambil duduk di salah satu kursi. Rumah ini menyimpan keteduhan seperti dulu, Angladf menarik nafas panjang. Ah, jangan begitu, kata Tirius, kau jadi mengingatkanku akan masa lalu. Memang Sagresia sulit dilupakan. Kedua orang tua itu lalu bernostalgia tentang kenangan-kenangan masa lalu. Kenangan-kenangan yang membuat kedua lelaki tua itu menjadi sahabat, dan kenangan-kenangan tentang masa-masa ketika mereka bersama-sama tinggal di Sagresia. Orang-orang yang tahu hal-hal yang sama nyaris tidak bisa menahan diri untuk tidak berbincang tentang hal-hal itu, segala hal yang mereka ingat dan segala hal yang membuat mereka terkesan akan dunia. Tapi kita tidak punya banyak waktu lagi Tirius, suara Angladf mendadak berubah serius, kita tidak perlu semua basa-basi ini. Ijinkan aku bicara tentang maksud kedatanganku ini.

Tirius mengerti dan ia mengangguk, semuanya rupanya akan dimulai hari ini. Angladf hanya tersenyum misterius.

Anak-anak saling berpandangan ketika kedua lelaki tua itu saling menyapa dan masuk ke dalam rumah. Mereka sama sekali tidak menyangka tentang kedatangan Angladf. Tirius hampir-hampir tak pernah menyinggung-nyinggung tentang Angladf, maupun Kelompok Tujuh. Dan mereka tak pernah mendapat kunjungan dari siapapun juga. Tapi kini tiba-tiba Angladf muncul, ketika mereka dalam kecemasan mendengar berita-berita yang terjadi di sekitar mereka. Para penyihir adalah pertanda, kata orang tua yang ditemui Rayya di Broken Broom. Para penyihirsering juga disebut kaum bijakjuga merupakan kaum yang dihormati sekaligus ditakuti oleh kaum-kaum yang lain. Mereka adalah orang-orang yang memegang kunci masa lalu dan masa depan. Rava yang masih belum hilang keterkejutannya, hanya bisa berkata; Angladf datang, dengan suara datar yang membosankan. Rayya hanya tersenyum, penyihir memang sulit diduga. Terkadang, ia tibatiba datang dan ia juga pergi tanpa diduga, tanpa alasan. Mereka seperti angin, yang tiba-tiba ada di satu tempat dan kemudian muncul lagi di tempat-tempat lain. Pasti ada sesuatu, kata Reva, pasti ada alasannya kenapa Angladf datang ke tempat ini. Rayya teringat cerita Pak Tua tempo hari. Sepertinya semuanya akan menjadi lebih sulit. Entahlah, tapi mungkin kita akan mengetahuinya sebentar lagi. Saat itulah, Tirius muncul di pintu depan dan memangggil anak-anak masuk. Angladf ingin bicara dengan kalian, seru Tirius.

Anak-anak lalu masuk dan mereka menyalami Angladf satu-per-satu. Mereka kemudian duduk di sekitar Angladf dan Tirius. Angladf memperhatikan anak-anak dengan seksama. Para Pewaris, bisiknya dengan suara lirih. Sinar kebahagiaan tampak terpancar dari matanya yang hitam. Mata yang menyimpan kebijakan yang dalam, dimana kemarahan, kesabaran, rasa welas asih, pengetahuan,

kebijaksanaan, berkumpul menjadi satu, melebur menjadi sebuah kekuatan. Kalian semua sudah tumbuh dewasa, kata Angladf, Rayya, Ravadim, Revalina dan Runa, aku tak menyangka kalian sudah besar. Sepuluh tahun ini

rupanya menjadi waktu yang benar-benar cepat, Angladf terdiam mengamati baikbaik keempat anak itu. Bagaimana kabar Eirik, Frainir, Brk dan saudara-saudara yang lain? tanya Rayya menanyakan kabar Kelompok Tujuh. Mereka baik-baik saja. Kini mereka sedang pulang ke Lark, kampung halaman mereka di Naugrimas, Nibel, jawab Angladf. Aku rindu dengan gula-gula pelangi Eitri, kata Runa. Ya, enak sekali, komentar Reva. Nah, sekarang, kurasa langsung saja Angladf. Kau tahu apa yang kupikirkan dan apa yang kucemaskan belakangan ini. Mereka sudah harus tahu sesuatu. Dan mungkin inilah waktunya bagi mereka untuk tahu. Terlebih lagi, apa yang dicemaskan Ragvaldhir benar-benar terjadi. Anak-anak ini harus mengetahui kebenaran dan hal-hal yang mencemaskan kita, kata Tirius, para Orang Tua sudah waktunya digantikan oleh yang lebih muda. Beberapa rahasia tentu akan diungkap. Beberapa kemungkinan dan pertanyaan yang membutuhkan pemahaman akan terjawab. Tapi beberapa yang tak semestinya diketahui, akan tetap menjadi misteri, kata Angladf. Tapi tentu saja, aku akan menceritakan semua hal yang kuketahui pada anak-anak ini, Tiriusku yang baik, Angladf duduk bersandar di kursinya dan mengambil pipa kayu dari balik jubahnya, mengisinya dengan tembakau yang diambil dari tas kecil di pinggangnya dan dengan menggumamkan sesuatu yang tak jelas, tembakau di dalam pipa itu tiba-tiba menyala dan berasap. Angladf menghisapnya pelan dan dalam. Hoo, kau tak berubah Angladf, kata Tirius, masih suka merokok. Hanya kadang-kadang saja. Tidak begitu sering belakangan ini, jawab Angladf tersenyum. Fisikku sudah tak sekuat dulu lagi, Angladf menghembuskan nafas pelan. Kau tahu kawanku yang baik, kata orang-orang di Aepalee; merokok sangat tidak baik bagi kesehatan, terutama untuk jantung dan paru-paru. Asap yang kita hisap masuk ke dalam organ tubuh dalam dan meracuni darah serta mengganggu pernafasan. Begitulah yang kudengar dari para ilmuwan. Tapi meskipun begitu, aku belum bisa lepas sama sekali dari benda ini, sebuah ironi yang menyedihkan Angladf mendesah, mengangkat pipa kayunya yang kuno dan tua. Pipa ini adalah sahabatku selama 50 tahun belakangan ini. Ia telah menemaniku berkeliling Rnegard dan Negeri-negeri Timur.

Baiklah, Tirius berkata, aku salut jika kau sekarang berusaha mengurangi ketergantunganmu. Oh ya, aku akan ke belakang sebentar. Akan kusiapkan teh untuk menemani bincang-bincang kita, Ia bangkit dan mengajak Reva dan Runa, tolong bantu aku, anak-anak. Angladf menahannya, tidak perlu repot-repot Tirius. Kita harus cepat memberitahu kebenaran pada anak-anak ini. Well, tentu saja... Tirius segera bergegas ke dalam. Angladf kemudian berpaling pada kedua anak laki-laki. Ada berita apa di sini, anak-anak? Aku yakin kalian sudah mendengar ini-itu? tanya Angladf. Ya, kami mendengarnya, kata Rava. Beberapa hari yang lalu ada serangan goblin di Rig dan Nor Eressa, lalu kami juga mendengar bahwa Westdowns juga diserang. Orang-orang sudah mengungsi, ada yang naik ke Magarsari, bahkan ada juga yang ke Norby dan Wilayah Utara, jelas Rayya. Apakah memang keadaan di luar sana sudah sangat menakutkan? Angladf meletakkan pipanya, Memang benar. Tapi itu baru permulaan. Para goblin sudah ditarik kembali ke Brzdur. Kabarnya mereka mempunyai semacam sarang di Farfang, jelasnya, goblin-goblin itu sebenarnya hanyalah para pengacau untuk mengalihkan perhatian. Pengalih perhatian? tanya Rayya. Ya, pengalih perhatian, jawab Angladf. Dengan begitu, kaum Dundlings lebih leluasa bergerak di sekitar pesisir utara Valadien. Mungkin kalian tak tahu tentang peperangan di Nanlustan, delapan tahun yang lalu. Dataran Tenang? kata Rayya, ia ingat Pak Tua pernah mengatakannya. Ya, beberapa tahun yang lalu, kaum Nanlustan diserang oleh sekawanan ksatria misterius. Dari desas-desus yang kudengar, mereka adalah kaum Dundlings, yang sedang berusaha mencari alasan untuk bisa menyerang Valadien. Ada beberapa pertempuran kecil yang terjadi belakangan ini, yang mungkin luput dari perhatian dunia. Perampokan di Karotte, peperangan di pesisir Palsa dan penyerangan di Ingrod. Tapi kami, para penyihir selalu berusaha mencari alasan dan arti di balik kejadian-kejadian itu. Kami sudah merasa bahwa dunia akan segera berganti. Era manusia mungkin akan segera berakhir, jelas Angladf. Mungkin Tirius masih menyimpan peta tuanya. Mari kita tunggu dia sebentar. Akan kuberi tahu kalian beberapa hal penting tentang kejadian yang terjadi di Rnegard belakangan

ini dan juga beberapa hal yang ingin kalian ketahui. Tapi aku tidak akan membicarakan tentang hal-hal yang gelap dan menyangkut Negeri Hitam. Hal-hal seperti itu sebaiknya tidak dibicarakan ketika hari mulai gelap.

Matahari memang sudah selesai menjalankan tugasnya hari itu dan selimut gelap sudah mulai menutupi Rnegard. Malam telah datang, dan di Maglavar, hanya tinggal sedikit rumah yang lampunya belum menyala. Broken Broom dan White Dove menjadi lebih ramai pengunjung, baik dari Maglavar maupun dari beberapa pengembara yang kemalaman. Jalan Besar Winyaway yang biasanya sering dilalui kereta yang kemalaman, kini menjadi sunyi senyap. Malam itu, cuaca tiba-tiba menjadi sangat dingin. Tapi dari arah timur laut, ada seorang penunggang kuda yang bergerak perlahan menuju Tingal. Kudanya berwarna hitam dan gagah, sepertinya berasal dari keluarga kuda di Parth Solem. Penunggang itu memakai mantel hitam bepergian yang sudah usang. Dan ia berhenti di depan Broken Broom. Tak ada seorangpun yang tahu siapa orang itu.

Sementara itu, di rumah Tirius, Angladf memulai ceritanya. Dia duduk dikelilingi Tirius dan anak-anak, sementara di meja terhidang teh masala dan keripik jamur. Aku akan mulai dengan menceritakan berita-berita yang kudengar selama perjalananku ke Maglavar ini, kata Angladf. Dimulai dari Valadien, bencana terjadi di mana-mana. Di sekitar Tol drim dan Groduin, sering terjadi perampokan dan pembunuhan. Padahal sebentar lagi, Sagresia akan mengadakan Pemilihan Anggota Senat. Ah, ini sudah waktunya ya... komentar Tirius. Sementara itu, lautan di sekitar Tol Angmorod dijaga oleh kapal-kapal berbendera hitam. Banyak juga kapal bajak laut yang sering lalu lalang di lautan itu, mereka biasanya berlabuh di Teluk Moroch. Serangan-serangan yang terjadi di Nor Eressa dan Westdowns itu adalah permulaan. Karena yang sebenarnya, kekuatan jahat sedang bangkittapi aku tak akan membicarakannya, tidak untuk malam ini, kata Angladf serius. Salah satu hal penting yang perlu kita tahu, anak-anak... kata Tirius, desasdesus tentang bangkitnya Negeri Hitam.

Kita akan membicarakannya besok siang Tirius, potong Angladf. Rasanya tidaklah menyenangkan bila kita membicarakan tentang kegelapan, ketika kegelapan itu sendiri menyelimuti kita. Ah, baiklah, kata Tirius kemudian, aku mengerti maksudmu. Nah, lebih baik kita membicarakan tentang kejadian kira-kira 1 minggu yang lalu, ketika ada bintang jatuhapakah kau melihatnya Tirius? tanya Angladf. Ya, jawab Tirius, dan sepertinya jatuh di bagian selatan. Ya, tepatnya di Tudor, di Lembah Gildor. Di tempat dimana Erion dulu jatuh. Dan pertanda-pertanda dari Ragvaldhir juga semakin dekat. Apa yang dikatakan Ramalan Kuno kini telah terjadi, kata Angladf. Jadi benar begitu? tanya Tirius. Ya, Angladf mengangguk. Ngomong-omong, apakah kau masih mempunyai peta lama-mu? tanya Angladf pada Tirius. Ah iya, Peta dari Vermundar, kata Tirius, aku masih menyimpannya. Sebentar kuambilkan, Tirius bergegas masuk ke kamarnya. Kita membutuhkannya untuk menunjukkan dunia pada anak-anak ini, kata Angladf. Tak berapa lama kemudian, Tirius keluar dengan membawa sebuah gulungan perkamen yang sudah tua dan usang, lalu menghamparkannya di atas meja. Ini dia, sudah sangat tua, tapi masih bisa di baca, kata Tirius bersemangat. Peta itu adalah peta kuno yang mengggambarkan wilayah Rnegard serta pembagian wilayahnya. Nama-nama tempat ditulis dengan tinta hitam dan sudah agak pudar. Tapi peta itu menyimpan informasi yang lengkap tentang topografi Rnegard. Pegunungan Timur Agung, Pegunungan Timur Tinggi dan Durgandine tampak jelas dan diwarnai kecoklatan. Sementara dataran rendah dan lembahlembah diwarnai hijau pucat. Tol Calda, Tol Canaloa dan Tol Angmorod digambarkan dengan jelas di pinggir kanan atas peta, serta Lautan Timur dan Laut Utara berwarna biru pucat. Negeri-negeri ditulis dengan warna merah kecoklatan. Kota-kota dan desa-desa berupa titik-titik merah dan hitam. Ini dia! mari kita lihat! kata Angladf mencondongkan diri ke depan. Jari-jari keriputnya meraba permukaan peta.

Sekarang ini, kalian harus tahu situasi yang terjadi di Rnegard, kata Angladf, karena dunia di luar pulau ini tidaklah sama seperti tempat tinggal kalian di sini. Maglavar, jauh dari pusat dunia, sementara dunia ini luas, sangat luas dan liar. Hanya dengan keberanian, kesiagaan, kesanggupan berusaha, berjuang dan berkorban, kesiapan mental, kesabaran dan ketabahan serta semangat pantang menyerah yang bisa menghadapi kerasnya kehidupan dunia. Kecemasan tengah melanda setiap wilayah dan kewaspadaan sangat diperlukan. Kita masih belum tahu, siapa-siapa yang akan menjadi teman atau malah menjadi musuh. Siapa yang ada di sisi kita dan juga siapa yang menjadi sekutu kegelapan. Semuanya masih menjadi pertanyaan. Valadien kini tengah diancam kekuatan jahat yang bangkit di Negeri Hitam. Nanlustaen kini telah dikuasai makhluk-makhluk liar, mereka juga menghancurkan Kuil Gamathak di Gamathel. Sementara itu pertahanan di Gemina kian melemah. Valadien kini sangat membutuhkan bantuan dari seluruh wilayah. Kenapa? tanya Rayya. Alasannya sederhana, Angladf tersenyum, Valadien adalah pusat

kebudayaan manusia di Rnegard. Valadien juga memiliki tanah yang subur, kaya akan hasil alam dan rempah-rempah. Valadien adalah negeri yang menjadi harapan semua makhluk hidup, terutama manusia. Para manusia adalah makhluk yang bodoh, tetapi mereka mampu belajar dari alam, berkreasi dan berkarya, hingga mereka mampu untuk berkuasa. Valadien adalah harapan terbesar manusia. Manusia juga memiliki ambisi, yang bahkan lebih rumit daripada goblin, kurcaci ataupun bangsa-bangsa lain. Dan yang paling penting, alasan musuh menyerang Valadien, ada sedikit hubungannya dengan kalian. Anak-anak terkejut mendengar kata-kata Angladf, Apa?? teriak Rava dan Reva. Kau bilang ada hubungannya dengan kami? tanya Rayya. Nah...apa maksudnya? tanya Reva tak mengerti. Tunggu saja, dengarkan dulu penjelasan Angladf, kata Tirius, ceritanya sangatlah panjang, apa sebaiknya kita ceritakan dari awal Angladf? Mereka harus tahu hal itu, kurasa kita harus menceritakan semuanya dari awal, kata Angladf.

Kisah ini mungkin tidaklah lengkap, tapi nanti Tirius akan menambahkan beberapa hal pada kalian. Kisah ini dimulai dari 200 tahun yang lalu, di tahun Tolothd, Bulan Ivannethatau September, menurut kalender kita. Saat itu terjadi peperangan besar di tempat yang sekarang kita sebut Daratan Hitam. Goblin dan Pasukan Hitam menyerang Annon Paleg, yang menjadi gerbang Valadien di sebelah barat. Monster-monster ini ternyata mempunyai kekuatan yang lebih besar daripada yang selama ini kita kira, mungkin dengan bantuan dari Orang-orang Barat yang sebelumnya telah menguasai Doretsir dan daerah sekitar Morduin. Mereka lalu berhasil merebut Annon Paleg dari Valadien. Perang besar pun terjadi di tanah itu. Saat itu pasukan manusia terdesak hingga ke Palindur, Angladf menggerakkkan telunjuknya, memperlihatkan tempat-tempat yang diceritakannya di peta. Pasukan Manusia terdiri dari gabungan Pasukan Valadien, para ksatria Solem, Pejuang-pejuang Harnun dan kaum Habadian, jumlahnya puluhan ribu. Tapi pasukan itu masih kalah jumlah dari Pasukan Hitam yang dibantu para goblin dan makhluk-makhluk liar dari Pegunungan Gargantua; minotaur, beruang dan troll. Perang besar terjadi selama lebih dari 40 hari, kata Tirius. Manusia kalah jumlah dan persenjataan. Tapi tiba-tiba keajaiban terjadi. Ketika Pasukan Manusia sudah semakin terdesak, tiba-tiba muncullah; idolon. idolon? kata anak-anak terkejut. Apa itu? tanya Rava. Angladf tersenyum, Makhluk berkekuatan luar biasa yang selama ini hanya ada dalam mitos dan legenda-legenda kuno. Mungkin kalian harus tahu terlebih dulu tentang on. Ah, apakah itu ada hubungannya dengan yang dikatakan Pak Tua kemarin? tanya Reva. Apa yang dimaksud dengan on? kata Rayya. Ya... kata Reva, apa hubungannya on dengan idolon? Tirius memberi penjelasan, on adalah kata lain dari elemen atau bagianbagian dasar yang mendasari sesuatu. ona adalah orangnya atau pengguna kekuatan on, lebih gampangnya kita akan menyebutnya Elementer, sementara idolon adalah bentuk kekuatan dari on, bisa dikatakan idolon adalah bentuk fisik dari on. Ya, kata Angladf melanjutkan; dan idolon itu telah membantu Pasukan Manusia mengalahkan musuh sehingga musuh pun akhirnya mundur hingga ke

rawa-rawa. Pasukan gabungan yang dipimpin oleh Gibral akhirnya menyerang ke markas musuh di Dormyr, dan akhirnya kita berhasil menghancurkan kekuatan mereka di sana. Akan tetapi, mulai saat itu Orang-orang Dundlings pun mulai tahu bahwa di Rnegard ini ada kekuatan maha dahsyat yang disebut on. Sebelumnya mereka sudah pernah mendengar tentang kekuatan tersebut, yang berasal dari negerinegeri mitos; tapi keberadaan negeri itu sendiri tidak diketahui karena tersembunyi jauh di Lembah-lembah Hitam Mithea. Orang-orang Barat pun mulai mencari informasi tentang idolon ini, lalu mereka pun mengetahui Ramalan Kuno yang menceritakan tentang akhir dunia, yang diceritakan dalam Bahasa Peri. Dalam Bahasa Umum, Ramalan itu berbunyi seperti ini ;

Akan datang hari, akhir dari semua kehidupan Dimana-mana penuh kesesatan, kehancuran datang Bermula dari munculnya kegelapan di atas Dataran Gersang Dan Petualang Angkasa melewati Mata Merah langit malam Bangkitlah kejahatan dengan penuh kekuatan Mengejar mimpi melalui darah dan tulang pahlawan

Dan teror Sancossi menakuti bangsa yang hilang Mengancam kehidupan bumi Rnegard dengan perang Maka segeralah temukan, putra-putri on, kunci dari kemenangan Kebaikan melawan kegelapan yang meresahkan Bangkitkan ksatria perkasa yang menakutkan Dan orang-orang tua yang lama dilupakan semua insan

Tataplah esok bersama sinar timur matahari Hingga akhir kedamaian kembali tercipta di bumi Kebenaran atau kegelapan, salah satu hanya bisa bertahan Dan tak bisa hidup berdampingan

Inilah Ramalan Kuno yang diceritakan bangsa peri kepada manusia. Ramalan ini telah terdengar lama, mungkin lebih dari ribuan tahun, mungkin diramalkan jauh sebelum Zaman Manusia dimulai. Dan dari Ramalan itulah, Orang-orang Dundlings

kemudian mengambil tindakan untuk mewujudkan isi Ramalanmenyebarkan kegelapan dan kejahatan dengan menguasai Valadien dan seluruh Rnegard. Orang-orang Dundlings mempunyai kepercayaan, bahwa seluruh tanah di dunia ini adalah bebas untuk dikuasaisiapa yang kuat, dialah yang menang dan berkuasadan mereka juga mempunyai keyakinan, bahwa sesungguhnya dunia ini diciptakan untuk mereka: mereka yang memiliki ilmu pengetahuan tinggi, mereka yang juga orang-orang yang dijanjikan akan kejayaan abadi. Mereka lalu berencana untuk menemukan kekuatan idolon Rnegard, yang bisa membantu mewujudkan keinginan mereka. Orang-orang Dundlings lebih dulu menyerang Valadien, karena Valadien adalah negeri yang menjadi benteng manusia, negeri terbesar dan terkuat di Rnegard. Dan mereka telah memulai serangan mereka, jauh-jauh hari sebelum kita menyadarinya. Untungnya, Orang-orang Dundlings tidak tahu tentang rahasia-rahasia kuno Rnegard, kata Tirius, mereka memang memiliki akal yang cerdas, ilmu yang tinggi, peradaban yang lebih maju, tapi mereka terlalu sombong, seru Tirius. Mereka menganggap bahwa bangsa merekalah yang paling agung di dunia ini, sementara bangsa lain diciptakan untuk tunduk kepada mereka. Mereka tidak tahu bahwa di Rnegard terdapat mantra, para ona yang tak akan tinggal diam dan juga kaum penyihir Forofar... atau apa namanya, aku lupaaa...??? Saimar, kata Angladf menimpali. Ah, itu dia! seru Tirius, aku lupa nama sebutannya. Saimar? tanya Rayya. Negeri para penyihir di negeri jauh di utara Benua Besar. Aku sendiri berasal dari sana, tapi aku tumbuh besar di Rsselienor dan semasa muda aku pernah tinggal di Nandeluin di Barat Daya, jelas Angladf. Oh kata Rava terkejut. Anak-anak pun mengangguk-angguk. Mereka baru tahu, Anglaf bukanlah orang asli Rnegard. Pantas rambutnya tampak aneh, bisik Runa pada Reva. Aku malah baru tahu, kata Tirius keheranan. Ya, tak banyak yang tahu tentang masa lalukumasa lalu Lima Penyihir. Tapi mari kita lanjutkan tentang kisah ini.

Para penyihir telah menyingkap beberapa misteri yang ada di Rnegard ini. Delapan Mantra dan benda-benda kuno yang konon dibuat untuk melindungi Rnegard di masa lalu. Delapan mantra? kata Rayya, apakah itu? Angladf lalu menjelaskan, Delapan mantra adalah mantra kuno yang sudah ada turun temurun di bumi Rnegard ini. Delapan mantra ini adalah kekuatan penyeimbang bumi. Bisa dikatakan, Delapan Mantra adalah Pilar Bumi. Delapan Mantra ini tersebar di delapan penjuru mata angin. Yang di Barat disebut Gorodal, yang di Timur disebut Reficul, di Utara disebut Dulshara, di Selatan disebut Taclab. Sementara di Tenggara adalah Amdad, di Barat Daya adalah Uz, Barat Laut adalah Qaum dan Timur Laut disebut Allad. Delapan mantra ini harus selalu ada dan melengkapi satu sama lain, dan kedelapan mantra ini tersegel dan dijaga oleh Para Penjaga Sakti. Penjaga Sakti? kata Rava. Ya, mereka adalah makhluk yang dianugerahi kekuatan untuk menjadi Penjaga Bumi, jawab Angladf. Lalu dimana kedelapan mantra itu berada? tanya Rayya. Tak seorang pun yang tahu, jawab Tirius. Hal-hal seperti itu sebaiknya tidak diketahui banyak orang, kata Angladf kemudian. Ya, Angladf benar, kata Tirius. Kenapa? apa alasannya? tanya Rayya. Karena kedelapan mantra juga disimpan bersama Kitab Penciptaan Dunia, kata Angladf. Tapi sudahlah, nanti kalian akan lebih banyak tahu tentang delapan mantra jika kalian pergi ke Sagresia. Ada hal yang lebih penting yang harus kalian tahu, yaitu tentang idolon dan on, karena ada hubungannya dengan kalian. Ada hubungannya dengan kami? kata Rava, apa maksudnya? tanya Rava. Mungkin kalian tak pernah tahu bahwa ayah kalian memiliki kekuatan itu, kata Angladf dengan kata-katanya yang pelan dan bijak. Keheningan yang terus menekan menyelimuti ruangan, Rayya bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Semuanya rupanya tak pernah menyangka. Ayah kalian, Renon Reis, adalah ona yang dicari-cari oleh Orang-orang Barat, kata Angladf kemudian. Bagaimana bisa? tanya Rayya masih belum hilang keterkejutannya.

Angladf tersenyum, lalu melanjutkan penjelasannya, aku mendapatkan informasi dari beberapa sumber yang kupercayai. Kekuatan on itu diturunkan dari generasi ke generasi. Dalam tiap generasi akan ada satu yang mewarisi kekuatan itu. Sayangnya, kini ayah kalian tidak diketahui ada dimana, beberapa mengabarkan hilang, tapi mayatnya tak pernah ditemukan, bahkan teman-temannya sendiri tidak mengetahui tentang hari-hari terakhir ayah kalian di perbatasan Moram. Tapi beberapa sumber ku mengatakan bahwa ayah kalian meninggal dalam perang itu. Kalian, anak-anak Renon, dianggap mewarisi kekuatan on dari ayah kalian. Ah... gumam Reva, sementara Rava nampak sangat terkejut. Rayya diam saja, begitu juga Runa. Tapi sebenarnya apa kekuatan on itu? tanya Runa lugu. Kakak-kakaknya pun mengangguk serius, karena mereka memang belum jelas memahami tentang apa dan bagaimana kekuatan on itu sebenarnya. on adalah kekuatan intisari bumi, dasar dari segala sesuatu di dunia ini Bisa dikatakan seperti ruh bagi manusia, tapi lebih tua dan lebih kecil lagi. Bisa dikatakan kekuatan sejati yang membentuk bumi dan segala kehidupannya. Kekuatan maha dahsyat ini sudah ada sejak ribuan tahun yang silam, tersimpan dalam kurun waktu yang sangat lama. Asalnya dari energi yang ada di bumi, yang berasal dari semua benda yang ada di bumi. Kekuatan ini bisa berwujud apa saja. Yang paling mendasar adalah air, api, udara dan tanah. Dengan menguasai kekuatan ini, pemiliknya bisa mengetahui banyak hal tentang dunia, sebabmusabab, cuaca, dan hal-hal lain yang diluar kewajaran. Penggunanya bisa kita sebut Elementer. Kekuatan tertinggi on ini bisa digunakan untuk memanggil apa yang kita sebut idolon; makhluk-makhluk panggilan yang memiliki kekuatan maha dahsyat. Mereka bisa berupa apa saja. Pemanggilnya sering disebut Summoner. Ada banyak idolon misterius dan hanya diketahui dalam kisah-kisah legenda yang diceritakan dari mulut ke mulut, jelas Angladf. Kalian harus tahu bahwa leluhur kalian adalah salah satu dari ona yang dikisahkan dalam kisah-kisah lama, kata Tirius menjelaskan. Leluhur kami? kata Rayya, kami tidak pernah tahu tentang silsilah keluarga. Ya, kami tidak punya siapa pun selain Pak Tua, kata Reva. Diam-diam Tirius menahan air mata.

Angladf tersenyum, lalu melanjutkan penjelasannya, leluhur kalian, Roth sang Singa dari Nan Lothion, adalah keturunan terakhir Rah-hai atau ogwaith; ras manusia di pedalaman Mithea, sebuah wilayah hutan yang sangat luas dan liar di sebelah barat Rnegard yang dipenuhi sihir dan ilmu hitam, kita biasa menyebutnya Dataran Hitam Berkabut Gard-Galadh. Roth adalah seorang yang baik, suka berpetualang, menempuh perjalanan berleague-league, jauh dari kaumnya dan berperang dengan para vampir di Barat Daya, dan kemudian sampai di Rnegard. Dia merupakan generasi awal dari manusia yang datang ke Rnegard. Di negeri inilah, dia mengabdi di bawah naungan Arahian, Penguasa Valadien awal di kala itu. Roth menggunakan kekuatannya untuk membantu manusia melawan kekuatan vampir dan raksasa dari Aenslad dan Gargantua. Roth memiliki sebuah pedang yang disebut Eldmung, salah satu dari Esgrima yang kini hilang tidak diketahui keberadaannya. Hingga akhir hayatnya, Roth membaktikan dirinya pada Valadienkalian bisa melihat lukisannya di Perpustakaan Sagresia.

Menurut kisah yang kudengar, pada suatu ketika Roth bertemu dengan salah satu gadis ogwaith di sekitar Ingrod. Roth pun jatuh cinta. Gadis itu bernama Amara. Dari hubungan keduanya lahirlah Ramuh, salah satu Ksatria Ilsar Valadien. Ramuh inilah yang memiliki kekuatan aneh yang mampu membangkitkan, mengembalikan atau memangggil dan menggunakan idolon, yang telah terkubur ribuan tahun lalu. Mereka adalah sepasukan ksatria kuno yang telah menjadi legenda dalam kisah-kisah yang diceritakan Para Peri. Dan dengan kekuatannya itu, Ramuh pun menjadi pelindung Laiquaninwamalos, hutan di bagian utara Ered Mor. Kekuatan Ramuh pun diwariskan ke Radion, yang bergelar Singa dari Ipsen, yang terkuat dari semua Ksatria Ipsen di masa lampau. Lalu kekuatan itu menurun pada Rehima: Pelindung Astor, petualang sejati yang menghabiskan hidupnya di gunung dan hutan-hutan dan akhirnya menurun pada ayah kalian; Renon Reis. Dan ayah kalian, dengan kekuatan onnya, menghancurkan Tembok-tembok Hitam Moram, 20 tahun yang lalu. Dan kini ayah kalian tidak diketahui ada dimana, maka kalian berempatlah yang kini menjadi incaran Orang-orang Barat, karena menganggap bahwa kalian adalah pewaris kekuatan itu.

Jadi goblin-gonlin itu mencari kami? kata Rayya, karena menginginkan kekuatan on yang mereka kira ada pada kami? Angladf mengangguk. Apakah mereka tahu keberadaan kami? tanya Rava. Angladf menghela nafas panjang. Belum! jawab Angladf, Mereka masih belum tahu keberadaan kalian. Aku membawa kalian ke tempat ini atas permintaan Istakir, 10 tahun lalu, agar kalian jauh dari dunia luar ketika kalian masih kecil. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa kalian adalah putra-putri Renon dan mempunyai garis keturunan Ramuh dan Roth. Tapi kemungkinan selalu ada, mereka mungkin menduga-duga keberadaan kalian. Mata-mata kegelapan banyak berkeliaran dan berita bisa dengan cepat menyebar. Kuingatkan, pepohonan dan unggas yang terbang bisa saja menjadi penyebar berita yang bisa diandalkan kecepatannya, dan musuh selalu memanfaatkan mereka. Lalu apa yang harus kami lakukan? tanya Rayya. Angladf melirik Tirius, kemudian berkata, Untuk saat ini kalian harus istirahat dan tidur, karena kita akan melanjutkan membahas hal ini besok pagi, Angladf tersenyum. Ah, ini sudah larut malam, kata Tirius. Benar, kata Angladf. Anak-anak, mari kita semua tidur. Hari masih panjang dan esok menunggu kita. Tapi kami masih belum mengantuk, kata Rayya, ayolah, ceritakan lebih banyak lagi... Angladf bangkit dari duduknya dan mengintip ke luar lewat celah di jendela. Malam sudah semakin larut, aku lelah dan kalian pun pasti juga lelah. Lebih baik kita mengistirahatkan pikiran kita sejenak malam ini, sebelum aku menceritakan lebih banyak hal pada kalian. Karena besok masih banyak hal yang harus kita kerjakan. Jadi tidurlah sekarang anak-anak. Percayalah, aku akan memberi tahu semua hal yang ingin kalian ketahui besok pagi, katanya. Anak-anak pun dengan malas-malasan akhirnya beranjak dari tempat duduk mereka. Yah... baiklah, gerutu anak-anak itu.

Setelah keempat anak itu beranjak ke kamar mereka, Angladf dan Tirius pindah duduk di luar, di belakang rumah. Keduanya menatap langit malam yang

cerah. Bintang-bintang berkilauan dan bernyanyi dalam simfoni malam yang tenang dan misterius. Apa kau masih ingat syair Fltemar para peri? kata Angladf pada Tirius. Ah... aku sedikit lupa-lupa ingat, jawab Tirius. Dia lalu bersenandung pelan, berusaha mengingat-ingat beberapa hal, lalu mulai bernyanyi dengan nada-nada pelan dan lembut; Angin berhembus di atas lautan, Gelombang beriak di lautan, bisikan desau dedaunan Sinar matahari yang mencerahkan Sorot cahaya bulan dan bintang Kekuatan pepohonan yang tumbuh menjulang Kuncup yang mekar menjadi bunga Gerak renang ikan salmon Keberanian babi hutan yang berkelahi Kecepatan lari rusa jantan Kekuatan kerbau yang menarik bajak Kebesaran oak yang perkasa; Adalah pikiran dari semua orang, kekuatan sejati yang penuh misteri Yang memuji keindahan dan keagungan Maha Tinggi yang Abadi Yang diturunkan dari generasi ke generasi Yang berkewajiban menjaga dan melindungi bumi... Kau sama sekali tak lupa isi Linyenwalairi m Frimacuinar, kata Angladf mengomentari. Hanya bagian itulah yang kuingat, jawab Tirius tersenyum. Memangnya ada apa dengan syair Fltemar ini Angladf? Sepertinya takdir kita sudah dekat Tirius. Tugas kita sebagai orang tua sudah hampir selesai. Istakir berkata, bahwa nasib dunia ini sudah sampai di titik akhir. Apa-apa yang sudah terjadi akan segera menemukan akhirnya dan semua perbuatan akan mendapatkan hasilnya. Kurasa dalam pertempuran yang akan terjadi kelakdan pasti akan terjadi, kita akan menjadi salah satu bagiannya, jelas Angladf.

Ya... akupun lelah Angladf, kata Tirius, tapi biarkan semuanya terjadi, karena aku bangga menjadi bagian dari kisah ini. Tirius pun tersenyum, dan senyumnya sedemikian ikhlas dan bijak.

Di larut malam, Rayya berbaring dalam mimpi, cahaya menyilaukan datang dari atas. Rayya kemudian mencoba berdiri. Entah darimana, tiba-tiba di tangannya ada pedang yang berkilauan. Bilah pedangnya berwarna merah darah, dan memiliki cuatan-cuatan seperti taring di bagian pegangannya. Anehnya, pedang itu sepertinya memiliki pikiran sendiri yang bersuara berisik dan mencoba untuk berbicara pada Rayya, tapi bahasanya sangat sulit dimengerti. Telinga Rayya berdenging keras dan ia tiba-tiba merasa pusing. Rayya meringkuk di tanah, menancapkan pedang aneh itu ke tanah. Rayya menatap sekelilingnya, mencoba mencari tahu dimana ia sekarang. Sebuah lapangan terbuka yang sangat luas dan gelap. Rayya tak tahu seberapa luas karena di bagian sana sepertinya kegelapan lebih pekat. Samar-samar terdengar suara, bukan suara berisik si pedang, tapi suara lain yang lebih berat, tajam dan berwibawa. Lalu jauh di depannya muncul satu sosok hitam, berkerudung dan berjalan ke arah Rayya. Rayya mengawasinya, tangannya menggenggam erat pedang yang tertancap di tanah. Sosok hitam itu semakin mendekat. Lalu ketika tinggal beberapa langkah lagi, sosok hitam itu mengayunkan sesuatu. Pedang di tangan Rayya bergerak sendiri, mengangkat tangannya ke atas, menangkis serangan sosok hitam. Bunyi denting pedang bertemu, lalu sosok hitam itu mendesis, kerudungnya terbuka. Lalu tampaklah kepala tengkorak dengan sepasang mata merah yang dingin menatapnya. Rayya terkejut, dan ia terbangun. Nafasnya berpacu, tubuhnya gemetar. Apa itu? pikirnya mengingat-ingat sosok dalam mimpinya. Ia lalu merasa takut untuk tidur kembali, tapi tubuhnya tak mau mengikuti. Ia berbaring kembali dan segera terlelap, tenggelam dalam mimpi-mimpi lain yang tak lagi di ingatnya.

Sementara itu Rava tidur dengan nyaman; tapi mimpinya mulai berubah, dan ia pun membalikkan badan sambil mengerang. Tiba-tiba ia terjaga, atau mengira ia terjaga; meski begitu, dalam kegelapan ia masih mendengar bunyi sayup-sayup yang mengganggu mimpinya; woo-woo, hrah-hoo, bunyi seperti teriakan-terikan dan seruan banyak orang yang terdengar dari jauh. Ia duduk tegak, dan merasakan bantal-bantal lembut tersentuh tangannya, maka ia berbaring kembali dengan lega.

Ada bisikan-bisikan lembut yang seakan-akan menenangkannya. Lalu ia pun tertidur lagi.

Reva mendengar bunyi denting dalam tidurnya yang tenang, bunyi denting itu terus menerus terdengar dengan irama pelan dan teratur. Lalu samarsamar terdengar pula bunyi; tip-tap, seperti suara langkah kaki sepasukan bersepatu boot berat. Perlahan-lahan suara-suara itu semakin mendekat, dan perlahan tapi pasti semakin mendekat. Siapa kalian? teriak Reva. Ia melihat sosok-sosok hitam yang mendekat mengelilinginya. Tiba-tiba udara menjadi semakin dingin. Udara yang berat mengelilingi sekitar tempat itu. Lalu sosok-sosok hitam itu pun semakin jelas. Wajah mereka bertopeng perak dengan seringaian lebar. Di balik mantel hitam mereka terlihat baju besi hitam. Sosok-sosok hitam itu semakin mendekat, dan semakin memperpendek jarak dengan Reva. Lalu mereka mulai mencabut pedang mereka yang berkilauan. Tiba-tiba sosok-sosok itu berlutut di depan Reva dan terdiam. Reva terkejut, menarik nafas panjang dan ia gelisah sepanjang tidurnya.

Sejauh yang diingat Runa, tidurnya nyenyak sepanjang malam, bermimpi bahwa ia terbang menaiki burung elang yang besar sekali. Ia terbang tinggi menembus awan-awan dingin di langit, kemudian menukik cepat ke bumi. Ia sempat melihat, berdiri di atas batu besar, jauh di bawahnya; seekor singa besar melihatnya dan mengaum. Aumannya membuat Runa semakin tertidur pulas.

Pagi berikutnya, setelah sarapan siang sekali, Angladf si Penyihir mengajak Tirius dan anak-anak duduk di dekat jendela terbuka di teras samping. Matahari terasa panas, dan angin berhembus dari selatan. Semua kelihatan segar; kehijauan hutan di lerenglereng Amon Radit dan ujung jemari pepohonan yang berkilauan. Angladf memikirkan banyak hal dari pagi sebelum semuanya bangun, dan ia sudah siap dengan selusin ceritacerita lain untuk anakanak. Aku akan menceritakan tentang kaum Dundlings atau Orang-orang dari Barat. Di Wilayah Timur ini, mereka juga disebut Westeros karena mereka datang dari Barat. Tubuh mereka sangat kekar dan lebih tinggi dari rata-rata manusia Rnegard. Mereka datang ke Rnegard sekitar 230 tahun yang lalu. Mereka berasal dari sebuah negeri jauh di Barat, di bagian barat Benua Lama. Mereka mendiami Negeri Hitam dan sekitar Perbatasan Barat. Mereka bersekutu dengan goblin, troll

dan ogre dari Gargantua, dan mereka membangun kembali istana di ujung semenanjung Brzdur, yang mereka namai Dum-Ghasburz. Selain itu mereka juga telah membangkitkan kekuatan jahat yang lama telah hancur di Dormyrr. Ada masanya ketika mereka menyebar teror pada Rnegard dengan sihir hitam dan pasukannya yang mengerikan. Dimulai dengan penyerangan atas Annon Paleg dan Barad Durgad, 200 tahun yang lalu. Tahun 1666 hingga 1686 adalah tahun-tahun kegelapan yang tercatat dalam sejarah Rnegard sebagai Tahun Hitam. Dunia saat itu benar-benar mengerikan. Kegelapan dan kejahatan memiliki kekuatan yang teramat besar. Manusia saat itu dilanda ketakutan dan kekhawatiran. Lalu terjadilah perang yang tercatat sebagai Perang Durgad, yang menewaskan banyak korban manusia. Kaum Valadien pun bersatu dengan kaum lain di Rnegard; Orang-orang Habadian dan Ksatria Harnun membentuk Barisan Pertahanan yang mempertahankan Rnegard agar jangan sampai dikalahkan Orang-orang Barat. Persatuan ini juga melibatkan kaum peri dari Negeri Kabut. Dengan bantuan merekalah maka penyerangan musuh bisa di gagalkan. Ada masanya ketika kekuatan jahat melemah dan kita bisa merasakan kembali kedamaian. Namun perlahan-lahan, Musuh telah memperkuat diri. Pertahanan-

pertahanan mulai dibangun. Tembok Moram, yang merupakan benteng sekaligus markas mulai didirikan dan dibangun oleh makhluk-makhluk terkutuk, penuh kuasa sihir dan tipu muslihat. Tembok itulah yang menandai dimulainya era baru Dundlings. Tapi beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1872, Raja mengambil kebijaksanaan untuk menghancurkan benteng tersebut. Perang besar kembali terjadi. Dan kemenangan berpihak pada kaum Manusia. Di tahun itulah ayah kalian mempunyai peran besar bagi kemenangan kaum Manusia. Renon telah

menunjukkan jati dirinya sebagai Summoner dengan memanggil idolon besar berbentuk ksatria raksasa bertangan enam, yang menghancurkan keperkasaan Tembok Moram yang tak bisa dihancurkan oleh peralatan dan senjata-senjata buatan manusia maupun peri. Akhirnya, kekuasaan kegelapan melemah, istana Dormyrr mereka runtuh dan dihancurkan, dan kedamaian sejenak meliputi Rnegard. Tapi rupanya kini setelah lama berselang, kekuatan jahat itu telah kembali. Dormyrr kini telah bangkit kembali. Dan Tembok Moram kini mulai dibangun kembali. Bayangan gelap kembali menyelimuti wilayah itu, yang kini disebut Mordia. Goblin-

goblin berkembang biak dan muncul Orang-orang Liar yang merupakan pelarian dari Aenslad. Dan mereka telah membangkitkan kekuatan mereka kembali yang lebih besar untuk kembali menguasai Rnegard. Beberapa serangan goblin yang terjadi belakangan ini telah cukup membuktikan bahwa kali ini kekuatan mereka lebih besar. Kaum manusia kembali diguncang kekhawatiran dan kecemasan. Apalagi kini, Manusia Barat telah mengetahui rahasia-rahasia on. Mereka sedang berusaha untuk mendapatkannya. Ditambah lagi kekuatan mereka semakin lama semakin besar dan kuat. Goblin-goblin kini dipersenjatai zweihander, palu, kapak dan mattock. Mereka juga bisa bergerak lebih cepat. Belum lagi troll gunung yang semakin banyak turun ke lembah-lembah. Kekhawatiran dan kecemasan kini memenuhi udara di sekitar Pegunungan Hitam dan Durgandine. Manusia Barat juga menyebarkan terror untuk memisahkan komunikasi antar manusia dan memecahbelah persatuan. Inilah saatnya bagi kita semua untuk bersatu, bersama-sama menyatukan pikiran dan tenaga kita untuk menyelamatkan dan mempertahankan Rnegard, jelas Angladf panjang lebar. Itulah sebabnya, kenapa mereka menyerang Rig dan Westdowns, kata Tirius. Mereka sudah memulai perang, kata Rava, licik sekali. Tak ada kata licik dalam peperangan, karena semua hal diperbolehkan, kata Angladf. Perang tidak pernah mempunyai aturan dan nilai-nilai moral.

Mulanya Tirius dan anak-anak gelisah sekali. Tapi lama kemudian mereka bisa lebih memahami situasi. Siap atau tidak perang tentu akan segera terjadi, dan sayangnya mereka akan terjebak dalam perang itu. Angladf yang mengetahui pikiran anak-anak kemudian tersenyum dan berkata; Untuk itulah aku datang ke sini, katanya sambil membuka lipatan peta yang tadi malam ia gunakan untuk memberi penjelasan. Aku diberi tugas untuk membawa kalian ke sini, ia menunjuk sebuah tempat di peta, diantara Pegunungan Berkabut dan Lautan Timur. Tempat apa itu? tanya Rava dan Reva hampir bersamaan. Tanah Berkabut, jawab Tirius, begitu dulu mereka menyebutnya.

Aku membawa tugas dari Persekutuan untuk membawa kalian ke Benua Besar. Tujuannya tempat ini, dimana kalian akan dibekali banyak cerita dan pengetahuan untuk mempersiapkan masa depan kalian, karena secara tidak langsung, perang yang akan terjadi, adalah milik kalian. Sebuah perjalanan panjang akan kita lakukan, berleague-league jaraknya; diam dan cepatsebisa mungkin, karena musuh mungkin akan mengejar kita. Kalian harus siap menghadapi segala kemungkinan yang terburuk, kata Angladf. Seburuk apa? tanya Rayya, mungkinkah perang? Mungkin saja, kata Angladf. Dan dalam perang, terdapat pula ketakutan, putus asa, kecemasan, luka-luka dan... kematian. Semua yang mendengar terkejut dan bergidik ngeri. Runa mundur dari tempat duduknya, seburuk itukah? Kemungkinan bisa saja terjadi, atau bahkan tak pernah sama sekali, kata Tirius menenangkan, kita tak pernah tahu, anakku. Satu hal lagi yang harus kalian tahu, kata Angladf kemudian, menjadi Elementer adalah tugas yang amat berat sekaligus agung. on adalah kekuatan yang maha dahsyat. Tak pernah ada yang mampu mengendalikan kekuatan itu sepenuhnya, kecuali Bangsa ogwaith, yang memang mempunyai kecakapan dalam ilmu itu. Kekuatan itu telah menimbulkan kegemparan dan kecemasan selama hampir seribu tahun belakangan ini. Karena satu kekuatan on bisa saja menghancurkan sebuah negeri. Jadi berhati-hatilah dengan kekuatan itu dan gunakanlah untuk kebaikan umat manusia. Jika salah satu dari kalian nanti mewarisi kekuatan itu, ingatlah kata-kataku: kekuatan yang hebat membawa tanggung jawab yang besar. Kalian harus mengerti, bahwa hidup ini ibarat lagu, yang dibuat dengan rasa serta naluri, ketimbang dengan peraturan belaka. Jadi perhatikanlah setiap tindakan dan keputusan yang kalian ambil. Pastikan hal itu tidak bertentangan dengan hati nurani kalian dan juga jalan kebaikan. Keempat anak terdiam mendengar kata-kata Angladf. Mereka memahami dengan benar apa yang dicemaskan penyihir itu. Ternyata beban dan tanggung jawab yang teramat besar ada di pundak mereka. Masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri-sendiri. Sebagai yang tertua, Rayya merasa bahwa dia akan menjadi pembimbing adik-adiknya, maka ia harus memberi contoh yang baik dan teladan yang berguna. Itulah gunanya seorang kakak. Sementara Rava teringat

dengan pesan ibunya dulu; setiap dari kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri. Hati, pikiran, indera kita, haruslah kita pergunakan untuk hal yang benar. Reva terdiam, tiba-tiba ia teringat mimpinya semalam. Sosok-sosok hitam bertopeng perak itu terlalu menakutkan. Siapa mereka sebenarnya? Mungkinkah mereka utusan kematian yang mengirim tanda pada mereka berempat? Diam-diam Reva merasa perlu menceritakan hal ini pada Angladf, tapi ia mengurungkan niatnya. Runa hanya terdiam mendengarkan. Baginya kekuatan on begitu besar hingga ia tak sanggup memikirkan apa-apa. Pikirannya masih terlalu polos dan lugu layaknya anak berumur 14 tahun. Jadi kau akan membawa anak-anak ini ke Tanah Berkabut? kata Tirius. Ya, kau pasti tahu tujuannya, jawab Angladf. Tirius tampak sedikit terkejut, Mungkinkah kau akan membawa mereka ke Negeri Bayang-Bayang? Eluenmyrra, kata Angladf singkat. Matanya tampak bersinar-sinar. Anak-anak terkejut mendengar kata itu. Eluenmyrra? jerit Rava tertahan. Bukankah itu negeri peri? kata Rayya. Negeri peri? tanya Runa kebingungan. Bukankah tempat itu hanya ada dalam kisah-kisah dan mitos lama? Bukankah bangsa peri sudah lama meninggalkan Benua Besar? kata Reva. Ya, jawab Angladf, Kau benar anakku. Eluenmyrra adalah negeri yang tertutup kabut dan misteri, hingga keberadaaannya sulit dijangkau manusia normal. Jadi banyak yang menganggap bahwa tempat itu hanya ada dalam kisah-kisah kuno. Memang kaum Peri sendiri sudah lama meninggalkan Benua Besar, jauh di masa-masa awal ketika manusia baru muncul. Tapi beberapa Peri Tinggi masih tetap tinggal di sana. Benarkah begitu? kata Rava. Angladf mengangguk dan tersenyum. Kalau memang tempat tinggal peri itu tertutup kabut dan misteri, tentunya tempat itu akan sulit ditemukan, kata Rava. Tempat itu memang sulit ditemukan dan memang sengaja dibuat demikian. Para peri mendiami tempat itu selama waktu yang lama sekali. Dimasa awal ketika Zaman Pertama, yang bisa dianggap sebagai Era Peri. Saat itu bangsa peri sudah berkelana di bumi ini, jauh sebelum manusia dibangkitkan. Tempat mereka mendarat di Benua Besar, yang akhirnya menjadi tempat berkumpulnya semua peri di Wilayah Timur ini, akhirnya berubah menjadi negeri yang memiliki otoritas sendiri.

Mereka menamakannya Edhelia Eluenmyrra. Seperti juga para penyihir, kaum peri tak ingin kehidupan mereka dicampuri kaum yang lain. Kaum peri mempunyai pekerjaan dan masalah sendiri, dan mereka tak peduli dengan kehidupan kaum Manusia atau mahkluk-makhluk lain di bumi. Kisah kaum peri mungkin dikisahkan dalam kisah-kisah manusia, dan mungkin mereka hidup bersama menjadi satu dalam kisah-kisah tersebut, tapi jalan kaum peri jarang bersilangan dengan jalan Manusia, baik secara kebetulan atau sengaja. Tapi kaum peri tak ingin rahasiarahasia mereka yang tidak seharusnya terbuka dicampuri oleh kaum-kaum lain. Terlalu banyak rahasia peri yang akan menarik perhatian mereka yang tergoda akan ambisi dan nafsu yang berlebihan, jelas Angladf. Lalu bagaimana kita akan kesana? tanya Rayya. Tirius berdehem pelan, mengenai itu, percayalah pada Angladf. Angladf mengangguk lagi, entah dengan cara apa, tapi aku akan membawa kalian ke sana. Karena disanalah takdir kalian yang sebenarnya menunggu. Anak-anak mengangguk mendengar penjelasan Angladf. Dalam hati mereka ingin segera bertemu dengan kaum peri. Menurut cerita, kaum peri adalah kaum yang sangat elok, tubuh mereka bercahaya dan rambut mereka berkilau keperakan. Jadi kapan kita akan pergi? kata Rava tak sabar. Secepatnya, setelah kalian semua memutuskan apa saja yang akan kalian bawa dalam perjalanan, termasuk bekal dalam perjalanan. Lebih cepat bergegas, lebih cepat kita berangkat, dan lebih baik perjalanan kita. Kusarankan, bawalah apaapa yang penting; lebih banyak pakaian hangat dan tebalyang mudah digulung dan dibawajika kalian mempunyainya, dan senjata, karena kurasa perjalanan mungkin akan sedikit berbahaya, mengingat bahwa kita akan melewati Westdowns maupun Rig. Senjata? Tapi kami disini cuma berkebun, kata Rayya. Hanya ada, kapak, pisau tumpul dan cangkul... kita tidak bisa membawanya kan? Angladf tersenyum, meskipun begitu, cangkul juga bisa melukai kan? tapi aku yakin, kalian bisa menemukan beberapa cutlas di Ivory maupun Firion di harihari seperti ini.

Sisa hari itu dihabiskan anak-anak untuk berkemas dan menyiapkan perbekalan. Tirius mengeluarkan beberapa barang dari perjalanan dulu; sebuah tenda kecil yang agak usangtapi sepertinya masih bisa digunakan, dan sebuah kompas perjalanan

yang terbuat dari besi putih yang menunjukkan delapan arah mata angin, namun sayangnya, jarumnya sudah rusak. Beberapa pakaian tebal dan mantel dimasukkan dalam ransel-ransel bersama pakaian anak laki-laki. Reva dan Runa membawa ransel kecil yang berisi pakaian mereka sendiri. Lalu beberapa tempat makan, botolbotol air dan alat memasak dikumpulkan dalam satu tas besar. Mereka memutuskan untuk membawa beberapa bahan makanan. Beberapa berry kering yang disimpan di lemari makan dibungkus menjadi satu bersama keripik kentang dan roti kering (Hanya ini yang kita punya, kata Runa) dan juga sisa jamur yang dibawa Rayya dari hutan kemarin, serta semua rempah-rempah dan herbal yang tersisa dari hasil panen terakhir kebun mereka; cendana, kunyit, jahe, kapulaga, senna, ketumbar, dan wijen, dibungkus menjadi satu bungkusan. Tak lupa Tirius membawa salep buatannya sendiri yang sangat manjur untuk mengobati lukaluka ringan. Mereka masih membicarakan tentang beberapa hal mengenai kisah-kisah lama; beberapa kisah tentang asal mula Valadien dan Harnun, juga para penguasanya. Menjelang malam hari, mereka makan bersama di ruang tengah; beberapa potong roti, selada, dan irisan ikan yang dibeli Reva di Pasar Tingal. Lalu setelah larut malam mereka pun mulai tidur. Entah dalam mimpi atau di luarnya, anak-anak mendengar bisikan-bisikan aneh dan suara seperti gesekan daun; ssss srek, srek, lalu menyusul dengan samar-samar suara nyanyian pelan yang tak jelas, yang kemudian segera dilupakan anak-anak ketika pagi hari mereka bangun.

Malam itu, di Tingal, seorang pengembara tampak menuntun kudanya. Sehari sebelumnya dia menginap di Broken Broom, dan malam ini, ketika bulan tidak begitu bersinar terang, ia berniat melanjutkan perjalanannya. Dia menyusuri Winyaway, ke arah barat menuju Westdowns.

Bab IV Perjalanan Dimulai


Pagi hari berikutnya, suasana tiba-tiba menjadi gempar dan ramai. Para tetangga berkata bahwa telah terjadi serangan lagi di Rumina dan Wilayah Barat. Sebentar lagi mungkin mereka akan menyerang Maglavar, komentar beberapa orang. Jangan-jangan seluruh Tol Calda sudah dikuasai, komentar beberapa yang lain. Lalu mereka diberi tahu beberapa pengembara yang melewati Lembah-lembah Soka; katanya jalan-jalan di Westdowns hingga Forway banyak berkeliaran gerombolan goblin. Semua orang yang cemas dan ketakutan segera melakukan migrasi besar-besaran ke Tenggara. Pelabuhan Tengaril penuh sesak dengan orang-orang yang berusaha mencari kapal yang bisa membawa mereka keluar dari Tol Canaloa.

Maglavar berubah menjadi desa yang sibuk. Di Firion dan Tengaril banyak berkumpul orang-orang yang saling bertukar informasi tentang kedatangan kapalkapal. White Dove dan Broken Broom tiba-tiba saja menjadi lebih ramai, orangorang berkumpul membicarakan rencana-rencana; pelarian, pengungsian bahkan cara-cara mempertahankan desa mereka. Tapi sebagian besar memilih untuk pergi; entah naik ke bukit-bukit atau berlayar lewat laut menuju Benua Besar. Orang-orang juga mendengar berita bahwa di Benua Besar keadaan juga sedang tidak beres. Tapi orang-orang berharap banyak; di sana perlindungan akan lebih baik, mengingat di sanalah pusat pemerintahan. Desas-desus memang berkembang sangat cepat di Maglavar. Mereka yang menjadi pengunjung setia Broken Broom dan White Dove, tentu saja selalu mendengar cerita yang terkadang, mungkin terlalu berlebihan untuk dipercaya. Tapi mereka kebanyakan memang mempercayainya, karena mereka memang jarang keluar dari wilayah mereka sendiri. Mereka mendengar bahwa wilayah Habadia kini sebagian besar menjadi daerah liar yang kosong. Banyak orang-orang Habadia yang telah mengungsi ke Sagresia. Mereka juga mendengar kabar, bahwa Forogaer kini banyak dilayari kapal-kapal aneh berlayar hitam. Dan kabarnya Tol Angmorod kini banyak dihuni goblin.

Kabar-kabar itu sampai juga di telinga Angladf dan Tirius. Mereka sempat membicarakan tentang rute yang akan mereka ambil, tapi Angladf mempunyai rencana lain. Dia yang memiliki penglihatan lebih baik daripada manusia biasa, merasakan bahwa perjalanan ke arah barat daya akan lebih baik. Menuju bahaya, tapi tidak terlalu langsung. Kita mungkin akan menemukan celah-celah aman yang bisa kita lewati, kata Angladf memperingatkan. Mereka pun berencana akan berangkat siang hari itu juga. Semua bekal, ransel dan barang-barang sudah dikemas dan dinaikkan ke kereta Angladf. Angladf juga sudah memberi makan kudanya, dan juga memandikannya. Segalanya sudah siap siang itu. Menjelang siang hari, beberapa kereta kuda tampak bergerak turun dari jalanjalan di Maglavar dan Jalan Tiga-nol melewati Jalan Dua-delapan. Tirius yang kebetulan ada di luar rumah, mengenali penumpang kereta-kereta itu. Kalian pergi juga Bern? teriak Tirius pada salah satu kusir kereta. Ya, jawab Bern. Dia adalah salah satu tetangga yang tinggal di Jalan Tigaempat, di pinggir Malagan. Tirius tak pernah tahu apa pekerjaan tetapnya, tapi Bern biasa meminjamkan gerobak atau keretanya ke tetangga-tetangga dekatnya. Tubuhnya kurus dan tinggi, tapi dia rela melakukan pekerjaan apa saja, membantu merawat kebun dan sebagainya. Dia mempunyai seorang istri cantik bernama Mathilda dan dua anak; yang pertama perempuan bernama Brenda, kira-kira seumuran dengan Rayya, dan yang kedua anak laki-laki, Brad namanya, umurnya sedikit lebih tua daripada Runa. Bern mengarahkan keretanya ke depan rumah Tirius. Kalian belum berangkat juga? tanya Bern, keadaaan di sekitar Winyaway kudengar semakin gawat. Aku dan beberapa tetangga memutuskan untuk melewati pinggiran hutan, lalu menyeberangi Lembah-lembah Soka menuju Tengaril, jelas Bern. Ikutlah dengan kami. Ia melompat turun dari kereta dan menyalami Tirius. Bern memperhatikan kuda putih Angladf dengan pandangan seorang ahli kuda. Kuda siapa ini? Milik temanku, Angladf, jawab Tirius. Oh, si penyihir itu, kata Bern mengerti. Ini kuda yang bagus sekali. Tegap dan gagah. Aku yakin kuda ini berasal dari Ford Ering, Bern masih asyik mengamati

kuda itu, sementara Mathildaistrinyamemanggil; Ayo cepat, kita harus sampai Lembah sebelum malam! Pada saat itu, Angladf keluar dan berkata; Kita bisa pergi bersama. Ah, boleh saja, sahut Bern. Ya, pergi bersama-sama selalu mempunyai keuntungan dan keberuntungan yang lebih besar, kata Angladf. Tapi bukankah kita akan lebih mencolok? Pergi dalam rombongan besar? bisik Tirius khawatir, gerombolan goblin mungkin akan lebih mudah menemukan kita. Tenanglah, kawanku yang baik, Angladf mencoba menenangkan, Kita akan hadapi semua rintangan bersama, apapun yang akan terjadi. Itulah gunanya dari sahabat dan tetangga yang baik. Kita akan saling membantu dan mendukung. Aku setuju, kata Bern. Ia tersenyum memandang si penyihir.

Angladf kemudian memberitahukan rute yang kira-kira aman dilewati. Tirius dan Bern mendengarkan penjelasan Angladf dengan seksama; Melewati rute di sebelah Lereng-lereng Ivory, lalu menyusuri hutan di Lembah-lembah Soka, di selatan Thunderhill. Dari sana kita mengikuti Winyaway hingga Sungai Harfing. Kita bisa menyeberangi Sadyahaspur hingga ke sisi selatan Westdowns. Kita akan mencari kapal di Elmina. Salah seorang kawan akan menjemput kita di sana. Kemungkinan kita akan bertemu goblin, kalau mereka masih berkeliaran di sekitar Westdowns. Tapi menurutku, mungkin mereka sudah mulai mendaki ke arah Thunderhill. Semoga saja perkiraanku benar, mari kita semua berharap. Bern menyetujui usul Angladf. Dia pun memberitahukan rencana itu pada keluarganya, dan beberapa tetangga lain yang belakangan muncul dari arah Jalan Tiga-nol. Mereka pun setuju dan akan mengikuti rombongan Bern dan Tirius.

Sementara itu, Tirius yang masih saja khawatir, berbicara terus terang pada Angladf, Tidak apa-apakah? Melakukan perjalanan ini dengan lebih banyak orang? Kau khawatir dengan goblin yang mungkin saja akan menyerang tiba-tiba, atau kau khawatir pada anak-anak itu? tanya Angladf. Aku khawatir dengan keduanya banyak hal malah, yang kurasa jadi lebih mengkhawatirkan, jawab Tirius.

Jangan berlebihan kawanku, semuanya pasti bisa kita hadapi. Segala sesuatu yang baik akan berjalan dan berakhir dengan baik pula; meski mungkin kita tak boleh mengatakan begitu sebelum sampai di tujuan masing-masing. Tapi mari kita lebih yakin dengan kekuatan diri kita sendiri, kata Angladf tanpa bermaksud menasehati. Bersama dengan orang-orang itu kita pasti bisa melawan rintangan yang mungkin dan pasti ada di depan kita. Baiklah, aku menurut saja. Kata-kata yang di ucapkan penyihir sepertimu bisa saja menjadi kekuatan. Semua orang adalah sama, hanya kebaikan dan kehalusan budi yang membedakan mereka. Tapi aku yakin, di setiap hati manusia pasti terdapat kebaikan, yang berupa hati nurani. Tinggal bagaimana sikap kita untuk menuruti kata hati nurani itu ataukah malah mengabaikannya.

Siang itu cuaca nampak suram. Mendung tipis menggantung di langit, dan angin tiba-tiba saja berubah arah, menuju ke selatan yang kering. Ada samar suara-suara aneh yang jauh di selatan dan barat daya, tapi tak ada yang yakin darimana asal suara-suara itu. Udara semakin lama semakin lembab dan tertutup oleh bayangbayang gelap. Namun begitu, tiga kereta kuda tampak berjalan beriringan menyusuri jalan-jalan kecil di Lereng-lereng Ivory. Mereka adalah kereta Angladf, Bern dan salah seorang tetangga lain; Octesian, yang setuju ikut bergabung setelah diberi penjelasan oleh Bern. Octesian mengajak istrinya; Sue, dan kakaknya; Rhein, turut serta di dalam kereta. Bersama mereka, turut juga beberapa orang yang naik kuda. Ada tiga lelaki dewasayang kalau tidak salah bernama Darek, Yorri dan Logan, istri Darek dan Yorri; Lelia dan Yolanda, dan seorang pemuda bernama Villian yang menaiki kuda besar berwarna coklat. Diam-diam Villian menyukai Reva. Dia sudah lama sering main bersama Rayya, maka ia pun memutuskan ikut bersama rombongan Tirius. Villian sering memacu kudanya di sebelah kereta Angladf dan berusaha mencuri-curi kesempatan untuk mengajak bicara Reva. Tapi Reva purapura tidak melihatnya. Rombongan Magle itu merayap perlahan menyusuri lembah-lembah bagian selatan Amon Radit. Sebuah jalan yang jarang dilalui di sebelah selatan perbukitan dan banyak ditumbuhi semak-semak gorse dan broom. Jalan itu sebenarnya merupakan jalan kuno menuju reruntuhan kota yang hilang; Sadyahaspur. Jalan itu membentang sejauh lima puluh league dari Malagan hingga ke Thunderhill di barat

daya, melewati dataran rendah terbuka di reruntuhan Sadyahaspur dan Sungai Harfing.

Ada masanya ketika Sadyahaspur menjadi kota yang sangat terkenal di Tol Canaloa, sekitar tahun seribu dua ratusan ketika kaum peri masih banyak mengembara. Sadyahaspur menjadi pusat kebudayaan dan perdagangan di masa itu. Tapi gempa hebat yang terjadi sekitar tahun 970 telah membuat para penduduknya mengungsi. Sebagian membangun kota di pesisir barat daya, yang kini disebut Elmina, sedangkan yang lainnya berpindah lebih ke utara dan membangun kota baru yang disebut Rumina. Itulah sebabnya kenapa hampir semua orang yang tinggal di Westdowns dan sekitar Sungai Ellowine memiliki banyak kesamaan; bahasa, dialek dan adat istiadatnya.

Cahaya sudah semakin meredup ketika rombongan itu mulai sampai di pinggiran hutan Soka. Bayang-bayang mulai menyelimuti pepohonan, hingga efeknya membuat daun-daun yang tertiup angin seperti tangan-tangan troll yang melambai-lambai. Kereta Octesian di depan, diikuti oleh kereta Bern dan Angladf. Sepanjang jalan Angladf tampak waspada mengawasi sekitarnya; hutan, bayangan di lereng-lereng dan di balik pepohonan tak luput dari perhatiannya. Diam-diam Octesian memperhatikannya. Dia tak bisa mengerti kenapa penyihir itu malah memilih rute menuju Elmina. Setahunya, gerombolan goblin banyak berkeliaran di Westdowns. Tapi Bern memberitahunya untuk mempercayai kata-kata penyihir itu. Para penyihir lebih tahu tentang jalan yang ada di depan, mereka memiliki penglihatan yang lebih baik daripada manusia biasa, kata Bern memberi alasan.

Tepat

ketika matahari

terbenam

dan kegelapan mulai menyelimuti,

Rombongan Magle sampai di perbatasan wilayah selatan. Ada tempat terbuka tak jauh dari hutan berakhir. Sungai Harfing tak jauh jaraknya, kira-kira lima ratus yard lagi ke barat. Dan reruntuhan Sadyahaspur tampak dari kejauhan, di sisi sebelah selatan Winyaway yang tertutup semak-semak heather. Jalan itu tampak sepi sampai sejauh yang bisa dilihat rombongan. Lewat celah-celah pepohonan hutan di sebelah barat, mereka bisa melihat asap tipis di bagian barat daya, di arah dimana Elmina berada. Bern mengatakan, mungkin itu asap dari sisa-sisa pembakaran dan

Octesian berkata; mungkin itu ulah goblin yang membakar kota. Kata-kata ini rupanya menciutkan semuanya. Tapi Angladf kemudian menenangkan mereka dengan memberi sebuah harapan; Goblin-goblin itu pastinya sudah bergerak jauh dari Westdowns, karena kita tak bertemu salah-satupun dari mereka, dan ku harap kita tak akan bertemu satu pun goblin, mereka mungkin mulai bergerak ke Utara. Nortfar dan Lembah-lembah di Utara mungkin menjadi target mereka selanjutnya. Jadi kurasa, kita hanya akan menemukan tanah kosong di Westdowns. Kata-kata Angladf itu mungkin ada benarnya. Karena jika seandainya gerombolan goblin bergerak di selatan, maka tempat mereka sekarang tidak akan setenang saat itu. Rombongan segera saja mendirikan tenda sederhana. Mereka juga menyalakan api dari ranting-ranting kering yang banyak berserakan di sekitar mereka, untuk menghangatkan makanan, juga penerangan tempat itu. Namun Angladf berpesan agar apinya dijaga untuk tidak terlalu besar, karena asapnya mungkin akan mengundang perhatian makhluk lain, yang mungkin berkeliaran di tempat itu. Para perempuan memasak oncom dan jamur (Sue memiliki resep enak cara mengolah jamur) dan mereka semua kebagian jatah lumayan cukup untuk mengisi perut mereka, dengan ditambah kue kenari dan kacang pistachio sebagai camilan. Makan malam itu terasa menyenangkan walaupun hanya sederhana. Selanjutnya diputuskanlah siapa yang bergiliran jaga. Bern menawarkan diri menjadi yang pertama, lalu Tirius, Octesian, Rayya, Villian, Yorri, Darek, dan terakhir Logan. Masing-masing akan berjaga bergantian setiap dua jam. Angladf

mengatakan bahwa ia akan menemani mereka semua ketika berjaga. Penyihir mempunyai cara-cara sendiri untuk melupakan dan mengalihkan tidurnya melalui hal-hal yang lain.

Malam itu cuaca sangat dingin. Angin mengalir dari lereng-lereng di atas mereka, bertemu dengan angin sejuk yang keluar dari hutan, lalu mengalir ke selatan. Bintang-bintang tampak enggan menghias kegelapan langit malam itu, hanya sebuah rasi bintang tak cemerlang yang kelihatan di horizon selatan. Sebuah karpet tebal di gelar di sebelah kereta Angladf, tempat dimana Rayya, Rava, Brad dan Villian tidur. Sementara anak-anak perempuan tidur di dalam tenda. Beberapa yang lain tidur di dalam hudfat, di sekeliling api. Kuda-kuda beristirahat tak jauh dari

mereka, di awasi oleh Angladf yang juga menjaga agar api tetap menyala. Hampir tak ada kejadian apapun malam itu. Suasananya begitu hening dan sepi. Kemudian ketika tiba giliran Tirius berjaga, Angladf berbicara padanya dengan suara pelan, tak jauh dari kereta. Mereka saling berbagi kisah-kisah; lama dan baru, saling berbagi pengalaman, saling menukar pikiran-pikiran baik, meluaskan jiwa mereka dalam ekstase di tengah kegelapan malam yang menyelimuti mereka. Malam ini tidak begitu bagus. Ada yang aneh dengan udara dan angin, kata Angladf, ia menerawang jauh ke arah barat, dimana Ford-ford Thunderhill tampak samar-samar dalam kegelapan malam. Cuaca memang sekarang ini tak menentu. Terkadang pagi hari terasa panas, tapi siang harinya hujan turun dengan deras. Lagipula, bukankah ini bulan Juni? kemana rasi Mintuna yang cemerlang itu? kata Tirius. Itulah yang terjadi, awan dan kabut tebal terlalu banyak di langit belakangan ini. Pertanda bahwa dunia memang sudah mendekati kehancurannya. Konstelasikonstelasi yang indah pun kini semakin menghilang, digantikan oleh kegelapan malam. Jadi apa yang dikatakan Ragvaldhir memang benar adanya? kata Tirius. Ya, jawab Angladf, Apa yang tertulis dalam manuskrip Averi memang benar. Angladf kemudian bersenandung; Mi huina l en coucalina mi indofa mi mora en vandacalina... Angladf mendongak, memandang kegelapan langit malam. Ya, hari kedua puluh bulan Juni, atau hari kelima belas bulan Nri menurut Kalender Peri. Seharusnya Narion, bintang Juni sudah menerangi malam dengan cahaya mistiknya; yang terang, hingga para centaur dan astrolog dapat membaca hal-hal yang berhubungan dengan alam. Tapi tahukah kau Tirius, darimana asal kegelapan ini? Aku dengar kabar-kabar dan juga menduga: mungkinkah Dataran Hitam? Ya, jawab Angladf, mereka telah bangkit kembali Tirius. Tanah itu tak lagi menjadi tanah kosong, tempat reptil dan orang-orang buangan. Lebih dari satu tahun belakangan ini. Dewan persekutuan telah mengetahui bahwa Orang-orang Barat di Mordia menguasai sihir-sihir hitam jenis baru. Wah, jadi mereka juga menguasai sihir?

Kemungkinan besar ya, kata Angladf. Banyak makhluk-makhluk yang tinggal di sana adalah makhluk-makhluk liar, yang tentu saja hanya dapat dikuasai melalui sihir. Kita tentu saja harus tetap waspada. Lalu bagaimana tindakan Persekutuan selanjutnya? Aku masih belum tahu. Keputusan itu ada di tangan Istakir, Galfagar dan Amrudil, Angladf terdiam sejenak. Ia sepertinya teringat sesuatu tapi tak jadi mengatakannya. Ada apa Angladf? kata Tirius yang merasa aneh dengan sikap Angladf. Tidak, Angladf kembali memandang rombongan yang tertidur. Aku hanya merasa sesuatu yang tak baik tentang Galfagar, tapi semoga saja itu tidak benar. Banyak berita-berita tidak benar belakangan ini tersebar di sekitar Durgandine dan Ered Mor.

Tiba-tiba terdengar suara berderak. Angladf dan Tirius segera menoleh ke arah barisan pohon cemara tak jauh di sekitar pinggiran Sungai Harfing. Angladf menggenggam erat tongkatnya, lalu berbisik; cala! Dalam sekejap barisan pohon cemara itu menyala terang, seperti ada cahaya terang yang menyinarinya. Seekor burung hantu hutan tampak terbang terburu-buru, menghindar dari cahaya dan melesat naik ke arah Thunderhill. Hanya burung hantu, komentar Tirius. Bukan hanya, potong Angladf, saat ini banyak mata-mata kegelapan berkeliaran dan burung hantu adalah binatang malam yang cocok digunakan untuk tujuan itu. Beberapa penyihir menggunakan mereka untuk maksud-maksud tertentu yang kurang baik. Jadi kau mencurigai sesuatu? tanya Tirius. Sejak kembali dari Carnataur, aku merasa keadaan tidaklah aman. Ada sesuatu yang tak diketahui Persekutuan. Banyak misteri yang masih tertutup bayang-bayang kelabu. Beberapa masih tersembunyi dalam gelap. Jadi kau sudah bertemu dengan Ygg? kata Tirius. Ya, dan dia mengkhawatirkan sesuatu, kata Angladf. Dia lalu menceritakan apa yang diketahuinya; Hari itu tanggal 17 April, cuaca sangat dingin di antara Willowhill. Tapi Ygg langsung menemuiku begitu aku mengirim pesan kepadanya. Dia mengatakan;

Mungkin inilah saatnya bagi mereka untuk berhenti tumbuh pelan-pelan. Mereka harus segera turun ke dunia bawah. Mereka mengatakan kaum centaur telah melihat pertanda-pertanda. Ygg juga mendengar kabar bahwa beberapa tamarisk dan terebinth di sekitar Timberast mulai mengeluh. Ada udara panas yang keluar dari tanah di antara Eredmor dan Mordia. Lagipula Ygg juga melihat bahwa awanawan cumulonimbus yang luar biasa hitam datang dari Taumor dan Dormyrr. Tanah Mordemar tertutup bayang-bayang. Mereka yakin Orang-orang Barat membuat awan-awan itu. Awan-awan itu meluas hingga ke perbatasan Valadien. Mereka merasa, masa peradapan manusia akan mengalami perubahan. Mereka yakin akan adanya kebangkitan. Kisah para manusia akan menjadi legenda:

A Laita te, Rmenlie, Edain o Valadien, Andave laituvalmet!... Rmenlie, enga et ho Uma; pesan Ygg pada kita.

Jadi tidaklah bijaksana jika kita menunda-nunda sesuatu untuk dilakukan. Sesuatu yang meresahkan menghadang kita di depan, kata Angladf. Jadi apa rencanamu selanjutnya? tanya Tirius. Segera setelah matahari terbit di ufuk timur, kita akan langsung menyeberangi Sadyahaspur. Berjalan di sisi selatan akan mempunyai banyak keuntungan; jarak ke Elmina akan lebih dekat, dan dataran rendahnya yang datar lebih memungkinkan kita untuk mempercepat perjalanan, kata Angladf. Sekarang sebaiknya kau istirahat dulu, kawanku. Bangunkan Octesian. Perjalanan masih panjang dan di akhir kita yang makin tua, sebaiknya kita menjaga stamina dan tubuh kita. Ah, baiklah Angladf. Tetaplah waspada, karena kami mengandalkanmu. Tirius segera membangunkan Octesian, sambil berkata: tapi jujur saja, perjalanan ini membuatku merasa muda lagi. Malam itu berlalu dengan tenang. Ada sedikit suara aneh di arah timur ketika giliran Yorri berjaga. Tapi Angladf memastikan tidak ada apa-apa sejauh beberapa ratus meter. Mungkin suara itu berasal jauh dari Lembah-lembah Soka.

Keesokan paginya, sesuai dengan rencana Angladf, begitu matahari tampak di ufuk timur memancarkan cahayanya yang kuning keemasan, Angladf segera

membangunkan semuanya. Tirius dan Bern sudah bangun terlebih dulu, mereka membantu para perempuan menyiapkan sarapan. Mereka segera membereskan barang-barang mereka dan (dengan sedikit gerutuan anak-anak) segera menaikkannya kembali ke kereta-kereta. Mereka sarapan dengan singkat dan cepat, dengan tidak begitu memperdulikan rasanya (yang sebetulnya sangatlah enak). Tidak berapa lama, tampaklah Rombongan Magle itu kembali menyusuri jalan setapak kecil diantara semak gorse dan heather yang tumbuh hingga seluas dataran itu, subur hingga ke selatan, dimana tebing-tebing curam akhirnya turun hingga ke Lautan. Mereka melewati Winyaway dan menyeberangi Jembatan Harfing hingga ke sisi sana-nya Sungai, dimana beberapa rubah mengawasi mereka. Siang harinya mereka sudah sampai di tempat Reruntuhan Sadyahaspur. Ada banyak puing-puing yang berserakan, seperti bekas bangunan atau benteng. Beberapa masih berdiri tegak; tiang-tiang bangunan kuno, tembok-tembok, bagian-bagian yang dulunya lebih mirip pilar-pilar istana. Ketika mencapai tempat ini, Rombongan menemukan bahwa tempat ini sering digunakan sebagai persinggahan. Terbukti dengan adanya bagian-bagian tanah yang terbakar dan sisa-sisa abu api unggun. Mereka harus mencari jalan di antara batu-batu besar yang pecah-pecah dan di antara bongkahanbongkahan serta menemukan jalan, bagaimana keluar dari puing-puing reruntuhan yang berserakan. Benar-benar perjalanan yang sulit, mengingat tidak mudah mengendalikan kuda-kuda untuk meliuk-liuk di antara reruntuhan dan semak-semak heather yang cukup tinggi. Namun begitu, kereta Angladf berjalan di depan, sementara yang lain di belakangnya. Seperti memiliki pengalaman dengan tempat itu, kuda putih Angladf dengan pintar memilih jalan yang bisa dilalui kereta, dan kuda-kuda yang lain pun segera mengikutinya. Mereka berjalan terus menuju perbatasan Westdowns di barat daya. Angladf mengawasi setiap belokan dan tikungan di antara reruntuhan. Mendadak pandangannya terpaku pada sebuah ornamen yang terukir di salah satu pecahan dinding. Angladf turun dari kereta dan mendekati ornamen itu. Tirius dan yang lain mendekatinya dengan penasaran. Ada apa Angladf? tanya Tirius, Kau menemukan sesuatu yang mencurigakan? Ah, tidak juga, jawab Angladf.

Lalu ada apa dengan ornamen-ornamen itu? kata Tirius. Ia mengamati ornamen itu, hanya seperti gambar jalinan ranting dan dedaunan. Ini adalah tulisan bangsa Averi. Aku heran kenapa tulisan ini bisa ada di sini, kata Angladf. Averi? kata Octesian. Siapa mereka? tanya anak-anak ingin tahu. Angladf menjawab; Mereka bangsa yang melindungi pohon kehidupan. Mereka hidup lebih dari seribu tahun yang lalu. Aku hanya terkejut menemukan tulisan mereka di reruntuhan ini. Mungkin kota ini sudah berumur lebih dari ribuan tahun, dan mungkin saja ada hubungannya dengan sejarah yang hilang, Angladf mengawasi sekitarnya, berharap menemukan suatu petunjuk lain. Tapi tak ada apaapa di sekitar tempat itu selain batu dan reruntuhan. Aku lahir dan besar di Magle, tapi aku belum pernah mendengar tentang sejarah tempat ini. Yang ku ingat, tempat ini memang sudah jadi reruntuhan sejak dulu, kata Bern yang langsung disetujui Darek, Yorri dan Logan. Sementara Octesian berkata bahwa dia tidak tahu-menahu tentang tempat itu, dia lahir di Karotte. Hari semakin panas, sebaiknya kita cepat meneruskan perjalanan, kata Villian tak sabar. Kudanya mulai bergerak-gerak kepanasan. Ya, kita lanjutkan perjalanan, jawab Angladf kemudian. Dia menaiki kembali keretanya dan memimpin yang lain bergerak melintasi reruntuhan itu. Sepanjang perjalanan ia masih mengawasi sekitarnya. Dia merasa ada yang aneh, mengawasi jauh dari belakang mereka, tapi Angladf tak bisa memastikannya dengan jelas. Tapi sejauh ini dia masih menyimpan kecurigaannya. Beberapa rubah yang menjadi penghuni tempat itu, sesekali muncul dan mengawasi Rombongan, tapi tidak berbuat apa-apa. Mereka menghabiskan hampir sepanjang siang itu, untuk melintasi dataran berumput tebal yang terbentang antara Sadyahaspur hingga Westdowns. Sesekali mereka melihat burung peewit yang menghuni tempat itu. Sementara angin berhembus menerpa wajah-wajah mereka. Menjelang sore hari, mereka sudah sampai di Perbatasan. Tanah menurun, membentuk bagian melandai yang cukup panjang dan luas ke Barat. Jauh di bawah sana, asap-asap tipis tampak mengambang. Pemukiman terdekat hanya sejauh kurang dari setengah mil. Petang itu mereka sudah memasuki Westdowns.

Westdowns yang merupakan pemukiman baru, dulunya hanyalah tanah-tanah kosong tak bertuan yang terhampar luas hingga ke utara, di sisi barat wilayah utara Tol Canaloa. Dataran itu merupakan tanah subur yang kemudian dibuat menjadi petak sawah dan kebun. Belakangan menjelang beberapa puluh tahun terakhir, didirikanlah dua kota; Elmina di sisi selatan Sungai Ellowine dan Rumina di sisi utaranya. Kedua kota inilah yang akhirnya menjadi roda perekonomian Wilayah Barat dan Selatan Canaloa. Orang-orang yang tinggal di Westdowns memiliki banyak kesamaan dengan orang-orang Wilayah Utara; keras, ulet tapi ramah dan pintar berbicara. Maka banyak didirikan toko dan pasar di kedua tempat itu. Rayya sendiri pernah berkelakar, bahwa Elmina sebetulnya adalah pasar yang berubah menjadi kota, karena baginya, ia melihat dimana-mana, di setiap sudut dan penjuru kota, orang-orangnya memiliki toko dan menjual sesuatu. Hari sudah gelap, bintang-bintang putih bersinar di langit malam ketika Rombongan mulai memasuki Elmina. Waspadalah dan lihat sekeliling kalian. Kita tak tahu keadaan tempat ini, setelah penyerangan-penyerangan itu, kata Angladf mengingatkan yang lain. Mereka memasuki Gerbang Timur Desa dan segera menemukan bahwa tidak jauh dari jalan gerbang, ada sebuah penginapan yang bernama Blue Bear. Sebuah papan besar tergantung di pinggir jalan, menunjukkan tempat-tempat penting yang ada di Elmina. Kita menginap di sini? kata Bern meminta pendapat Angladf. Tak ada salahnya, kasihan anak-anak. Lagipula kuharap tempat ini aman, setidaknya, kata Angladf. Tirius pun menyetujuinya. Bahkan dari luar, penginapan itu kelihatan seperti rumah nyaman bagi mata yang sudah lama bepergian dan tubuh yang lelah. Bagian depannya menghadap selatan, dengan beranda yang cukup luas dengan beberapa tempat duduk yang saat itu terisi penuh. Bangunannya besar, dua lantai, dengan dua sayapnya memanjang ke belakang. Di sepanjang sisinya, jendela-jendela menyala redup dan terdengar obrolan-obrolan tak jelas dari dalamnya. Pintunya yang besar, berdaun ganda dan saat itu terbuka lebar, mengalirkan cahaya keluar yang menarik siapa saja yang keletihan dan sedang mencari tempat istirahat. Di atas lengkungan atapnya, tergantung papan besar bergambar beruang berwarna biru yang sedang memegang piala.

Rombongan menghentikan kereta mereka dan Angladf segera melepaskan kudanya. Ada sebaskom dedak dan rumput yang disiapkan pelayan penginapan. Anak-anak segera turun dari kereta dan segera melangkah mendekati beranda. Bisakah kami kata Brenda memulai. Tunggu sebentar anak-anak, kata Tirius. Kita tunggu Angladf dan Bern. Tapi anak-anak itu sudah tak sabar untuk beristirahat. Setidaknya, tidur sebentar di kasur yang lembut, lebih baik daripada tidur di luar, di dalam hudfat dan tenda-tenda mereka yang bergetar terkena angin malam. Ayo kita masuk! kata Darek tak sabar. Mereka segera disambut suasana muram dan sedih. Sebuah ruangan besar yang cukup terang, di isi dengan banyak kursi dan meja-meja rendah yang saat itu penuh sesak dengan orang-orang yang dudukbeberapa sedang makan. Ada yang sekedar minum, tapi kebanyakan dari mereka sedang berbicara dengan suara-suara sedih. Suasananya terlihat seperti habis ada orang yang meninggal. Tak ada nyanyian ataupun celoteh kebahagiaan. Semuanya tampak sedang bersedih. Rombongan Magle masuk, dipimpin Angladf. Mereka duduk di pojokan. Seorang gadis pelayan berwajah sedih dan berbaju lusuh mendekati mereka dan menanyakan pesanan. Kopi? Tirius menawari yang lain. Ya, aku mau, jawab Bern, segera disusul dengan anggukan Yorri dan Octesian. Aku juga, kata Villian. Mereka juga memesan sup panas, roti, dan kentang.

Angladf mengawasi keadaan tempat itu; orang-orang yang sedih, berwajah muram. Diantara mereka ada juga orang-orang misterius, berkerudung dan bermantel, mungkin mereka para pengembara yang singgah, batin Angladf dalam hati. Namun begitu, ia tetap waspada. Dua orang laki-laki berambut kusut datang membawakan pesanan mereka. Apakah masih ada kamar yang bisa kami tempati? tanya Angladf pada keduanya. Maafkan kami, tapi tempat ini sekarang penuh sesak. Mereka yang ada di ruang makan ini kebanyakan adalah pengungsi yang tak kebagian kamar, jawab salah satu laki-laki itu.

Kami tak tahu ada urusan apa kalian di sini, tapi tempat ini tidak aman. Goblin masih saja menjarah dan menakut-nakuti kami. Kami di sini sedang menunggu giliran pergi, kata salah satu dari mereka sambil menata makanan di meja. Pergi kemana? tanya Tirius. Mengungsi, pergi dari tempat terkutuk ini, jawab pelayan laki-laki itu. Jadi tempat ini akan di tinggalkan? tanya Angladf. Ya, jawab pelayan itu. Beberapa sudah pergi ke Benua Besar. Beberapa lagi yang tak sabar menunggu kedatangan kapal, telah melarikan diri ke bukit-bukit, tapi kami mendapat kabar, bahwa mereka diserang goblin, dan entah bagaimana nasib mereka sekarang. Kami merasa, pulau ini sudah tidak lagi aman, kata pelayan yang satu lagi. Ya, kau benar, Angladf mengangguk menyetujui. Kedua orang itu lalu pergi setelah menyelesaikan tugasnya. Jadi apa rencana kita? tanya Tirius. Kita pergi ke Dermaga, kata Angladf. Lebih mudah mengetahui kedatangan kapal bila kita dekat dengan sungai. Dia berpaling ke arah anak-anak, Maafkan aku, tapi kita tidak akan menginap di tempat ini, lagipula sepertinya tempat ini sudah penuh. Anak-anak pun mendengus kecewa.

Rombongan pun segera menyantap makan malam itu. Sebisa mungkin mereka tak terganggu dengan suasana suram yang menyelimuti tempat itu. Rayya makan dengan sesekali melirik ke arah orang-orang di sekitar mereka. Dia tahu Angladf juga melakukan hal yang sama, begitu juga Tirius, Octesian, Yorri dan Logan. Hampir dua jam mereka menikmati makan malam mereka. Lalu setelah itu mereka segera keluar dari tempat itu dan kembali ke kereta dan kuda-kuda mereka. Anak-anak sangat kecewa mengetahui bahwa malam itu mereka akan tidur lagi di kereta dan bukannya di kasur yang empuk dan hangat. Orang-orang tampak tak peduli; sepertinya mereka beranggapan bahwa ada atau tidak Rombongan itu sama sekali tidak menjadi kecemasan. Mereka sudah terlanjur sedih dan tenggelam dalam perasaan menunggu yang sangat membosankan. Memang akibat dari penyerangan goblin beberapa hari sebelumnya telah merusak dan menghancurkan sebagian besar rumah dan juga bangunan lain di

Elmina. Banyak orang yang terluka karena berusaha melawan dan mempertahankan kota mereka, dan untungnya tak ada korban jiwa. Namun kerugian materi begitu banyaknya, hingga akhirnya banyak yang memutuskan untuk segera pergi dari Elmina. Pemimpin Kota telah memberikan perintah pada warganya untuk segera mengungsi, namun karena begitu banyaknya, maka dibagi menjadi beberapa kloter, meskipun ada juga yang berusaha berangkat sendiri secara swadaya. Selain itu, mereka yang menunggu giliran dikumpulkan di tempat-tempat umum seperti bar, penginapan dan juga rumah makan yang masih berdiri. Hal inilah yang akhirnya mengakibatkan terjadi semacam ketakutan massa. Orang-orang mengalami trauma, dan juga depresi, hingga akhirnya mereka tak mampu lagi melakukan tindakan preventif, selain menunggu dan berharap. Hal ini terlebih di dukung dengan kenyataan bahwa beberapa orang yang dipercaya memimpin kota, rupanya telah lebih dulu mengungsi, sehingga akhirnya orang-orang pun kehilangan keyakinan dan juga kepercayaan loyalitas. Bentrok antara depresi sosial dan trauma ini akhirnya membuat keadaan semakin buruk. Kota menjadi terlantar dan terbengkalai, banyak kerusakan yang terjadi dibiarkan begitu saja, dan orang-orang pun akhirnya menjadi kehilangan semangat hidup. Dalam tujuan mereka sekarang hanyalah penyelamatan agar segera keluar dari kengerian tempat itu, juga agar tidak mengalami lagi kejadian penyerangan membabi-buta yang dilakukan goblin. Akhirnya Rombongan meneruskan perjalanan malam itu juga. Anak-anak dan wanita tertidur di kereta, sementara kuda-kuda yang tak di naiki di ikat di belakang kereta. Mereka menyusuri jalanan setapak menuju ke pinggir barat Elmina, dimana Sungai Ellowine mengalir menuju muara di Laut Forogaer. Di sepanjang jalan, banyak rumah-rumah rusak dan tumpukan kayu serta dinding bata yang berserakan menjadi puing-puing. Rupanya semua orang yang masih tersisa sudah berkumpul di penginapan Blue Bear, jadi tak ada seorang pun yang masih berkeliaran malam itu. Menjelang subuh, mereka mulai melihat bangunan-bangunan besar seperti gudang. Dermaga sudah tak jauh di depan mereka. Hanya Angladf, Tirius, Octesian dan Logan yang terus berjaga sepanjang malam yang melelahkan itu. Demikianlah, akhirnya mereka sampai di dekat sungai dan satu-per-satu, anggota Rombongan mulai bangun dan bersemangat kembali.

Angladf mengajak yang lain menuju ke sebuah tempat terbuka, tak jauh dari sebuah gudang perahu. Kita tunggu di sini. Dirikan tenda-tenda. Kita akan menunggu di sini, entah untuk berapa hari. Tapi kurasa tidak akan sampai berhari-hari. Jadi kapan pastinya temanmu akan datang? tanya Octesian. Entahlah, jawab Angladf, aku tak tahu pastinya, karena waktu adalah hal yang tidak bisa aku kuasai. Aku telah meminta dia menjemputku setidaknya tanggal 25, tapi semoga lebih cepat dia datang, dan keadaan akan menjadi lebih baik. Jadi kita akan disini kurang lebih empat sampai lima hari, kata Tirius. Rayya langsung menduga bahwa teman Angladf juga salah seorang penyihir.

Malam itu dihabiskan dengan tidur dan mempersiapkan perbekalan. Bern dan Darek sudah memeriksa gudang-gudang di sekitar mereka. Tapi rupanya kini telah dikosongkan semua. Dimana-mana hanya tercium bau amis ikan busuk. Beberapa bangkai ikan dan udang menggunung di pojokan salah satu gudang. Bern dan Tiriuslah yang kemudian berinisiatif untuk mencoba membakarnya. Dan efeknya, bau yang sangat menyengat segera memenuhi udara. Rayya dan Villian menemukan beberapa perahu tak terpakai yang kondisinya masih lumayan bagus. Mereka membawanya ke dekat tenda, menunjukkannya pada yang lain. Tapi Angladf berkata; Kapal yang dibawa kawan kita nanti, cukup untuk menampung semua. Rayya berpikir, pasti kapal itu sangat besar.

Sementara itu, tanpa diketahui siapapun, sepasang mata tampak mencaricari dalam gelap, jejak kereta kuda dan jejak-jejak lain yang menuju ke selatan. Semalam sebelumnya, Pengembara bermantel hitam itu telah menunggu di Penginapan Blue Bear. Tapi yang ditunggunya tak kunjung datang, dan ia beranggapan, mungkin saja mereka sudah di depan jalannya. Maka dia pun mencari-cari jejak mereka dalam kegelapan malam.

Bab V Bahaya Di Laut


Di hari kedua, anak-anak mulai tak sabar. Mereka sudah bosan dengan bau laut dan ikan busuk yang ada di sekeliling mereka. Mereka memang tidak kekurangan makanan, tapi persediaan mereka semakin menipis. Bern, Logan dan yang lain berinisiatif untuk mencoba memancing di sungai, berharap mendapatkan ikan, tapi air yang kotor dari hilir Sungai Ellowine bercampur dengan limbah-limbah muara membuat sebagian makhluk hidup yang tinggal dalam habitat sungai itu menjadi musnah. Hanya beberapa molluska yang masih terlihat menempel di batu-batu pinggir sungai dan reruntuhan pagar. Dan mereka mencoba memasaknya menjadi makanan yang lezat. Lalu sore harinya, menjelang senja, angin tiba-tiba saja bertiup dari arah lautan. Ada bisik-bisik aneh yang dibawa angin. Suara samar-samar dari kejauhan. Rayya dan Rava yang kebetulan sedang membersihkan alat-alat masak mereka di tepi sungai, sayup-sayup mendengar suara-suara dari kejauhan, yang

kedengarannya seperti nyanyian. Mereka segera memberitahukan hal ini pada Angladf. "Ya, aku mendengarnya. Tapi masih terlalu jauh, aku tak bisa

memastikannya," kata Angladf bergegas menuju tepi sungai. Dia memandang ke arah muara. Memang ada suara-suara indah yang mengalir di angin, pelan-pelan bergerak semakin dekat, semakin jelas dari arah barat daya. Angladf mendengarkan lebih seksama, sementara yang lain sudah menyusulnya. Mereka membawa senjata; pedang, pisau dan tongkat yang ujungnya diruncingkan. "Apakah bahaya yang sedang mendekat?" tanya Bern. "Aku belum bisa memastikannya," jawab Angladf. "Suaranya lembut, aneh tapi memiliki kekuatan lembah-lembah dan pegunungan. Bukan suara Aramir, tapi ini adalah suara penyihir, seperti suara Galfagar, tapi entahlah. Kurasa kita akan mengetahuinya sebentar lagi." Kemudian tak berapa lama, suara-suara itu mulai terdengar lebih jelas. Awalnya hanya beberapa patah kata yang terdengar; kata-kata tanpa arti, seperti kata-kata;

aku... kawan maka... lautan sampai... dedaunan salam... pegunungan

Kata-kata itu terus terdengar berulang. Hingga kemudian ketika tampak noktah kecil putih di kejauhan, Angladf pun tersenyum. Sebuah kapal tampak di kejauhan. Layarnya putih berkibar-kibar dan berlatar belakang langit senja yang kemerahan. Kapal itu bergerak menuju muara. Lalu suara-suara yang tadi terdengar samar, kini menjelma menjadi sebuah nyanyian merdu yang dilagukan seorang laki-laki tua;

Aku datang untuk menjemput seorang kawan Maka muluskanlah jalan-jalan dan lautan Sampaikan pada angin dan dedaunan Salam dari lembah-lembah dan pegunungan Aku datang demi sebuah kebaikan Maka tunggulah di seberang tepian Nyanyikanlah lagu selamat datang Sambut aku dengan senyuma Aku datang membawa pertolongan Tak usah siapkan upacara sambutan Karena aku datang dengan keikhlasan Menolong sesama untuk semua insan

Kapal itu berhenti di salah satu karang di muara. Lalu tiga perahu kecil diturunkan. Ketiganya mulai bergerak ke arah sungai, dimana Angladf dan yang lain berdiri mengawasinya. Perahu yang pertama dinaiki dua orang laki-laki, yang satu berjubah putih. Rambutnya yang juga putih berkibar-kibar diterpa angin, dan jenggotnya panjang seperti milik Angladf. Bahkan kalau dipandang sekilas, mereka berdua memang mirip, hanya saja auranya berbeda. Angladf memiliki aura yang sejuk, tenang, bijaksana, bersahaja dan lebih kalem, sementara Galfagar terlihat angkuh, bijak dan

penuh kekuatan. Di belakangnya, seorang laki-laki pelaut mendayung perahu itu dengan gerakan kuat bertenaga. Sementara dua perahu lainnya masing-masing dinaiki oleh pelaut. Kedua perahu itu kemudian berhenti di depan Angladf dan yang lain. Laki-laki tua itu turun dari perahu, mengambil tongkatnya dan berjalan menuju Angladf. "Mae govannen, creoso, mellonamin," sambut Angladf sambil sedikit membungkukkan badan. "Saesa Omentien lle. Terima kasih Angladf. Ve Yni ntim aldaron, Nae saian luum. Kita akhirnya bertemu kembali," kata Galfagar. "Aku yakin kau pasti sudah menungguku. Gellert sedikit tak enak badan, jadi dia tak bisa ikut turun menjemput kalian. Dia menunggumu di kapal sana, menyiapkan segala sesuatu untuk kalian," Galfagar memandang ke arah rombongan di belakang Angladf. "Mereka yang akan kau bawa ke Benua Besar?" "Ya," jawab Angladf. "Tapi aku heran Galfagar, kemana Aramir? Aku memintanya untuk menjemputku?" "Aramir memiliki urusan di Habad, maka dia memintaku menyampaikan maafnya padamu. Kebetulan aku ada sedikit urusan di wilayah Utara, jadi sekalian saja kugantikan Aramir," kata Galfagar. "Kau tak keberatan kan?" "Tentu saja tidak," sahut Angladf, "aku berterima kasih kau mau datang ke sini. Aku berhutang satu ramuan padamu." "Ya... ya... " Galfagar tersenyum. "Sekarang apa yang akan kau lakukan? kau mau segera berangkat? Gellert mengirim perahu-perahu itu untuk menjemput kalian, karena tak mungkin kapal sebesar itu bisa berlabuh sampai ke dekat sini." Angladf menoleh ke rombongan di belakangnya, "Mari kita segera bersiapsiap semuanya. Lebih cepat kita meninggalkan pulau ini, lebih baik."

Rombongan segera bersiap-siap. Anak-anak dan Tirius mengemasi barangbarang mereka, begitu juga Bern dan keluarganya, juga yang lainnya; Octesian, Villian, Darek dan yang lain-lain. Di sela-sela kesibukan itu, Galfagar dan Angladf berunding serius. Kedua penyihir itu adalah sahabat lama yang sama-sama berasal dari Bukit Penyihir. Mereka juga sama-sama menjadi bagian dari sebuah kelompok yang disebut Ithryn Leben. "Katakan padaku Angladf, benarkah Para Pewaris ada diantara orang-orang ini?" kata Glafagar. Dia memperhatikan satu-per-satu orang-orang Magle itu; Tirius,

Rayya, Rava, Reva, Runa, Octesian, Bern, Mathilda, Brad, Brenda, Villian, Darek, Yorri, Logan, dan keempat wanita lain; Rhein dan Sue serta Lelia dan Yolanda. "Kau tahu juga rupanya," kata Angladf, mengikuti pandangan Galfagar. "Secara tidak langsung; iya," jawab Galfagar. "Aku memikirkan kata-kata Istakir; mungkin kita harus mengupayakan sesuatu." "Katakan padaku Galfagar, kau punya pandangan-pandangan lain?" tanya Angladf. "Belum, tapi pasti akan segera ku temukan," jawab Galfagar, "kau tahu tentang legenda Ashtor?" "Ashtor?" Angladf berpikir sebentar, "Orang-orang kabut dari Emyn Nandin?" kata Angladf kemudian, "ada apa dengan mereka?" Galfagar tersenyum sekilas, "Mereka mempunyai legenda sendiri tentang kehidupan abadi." "Maksudmu ir?" "Benar," kata Galfagar. Sekilas tampak raut muka bangga dan keji di wajahnya, tapi langsung hilang ketika dia tersenyum, "dan legenda itu berkata benar. Aku menemukan beberapa petunjuk tentang kebenaran ir. Aku yakin pasti bisa menemukannya. Dengan begitu, mungkin mitos tentang Para Pewaris yang dikatakan Ragvaldhir akan lebih mudah dimengerti." Apa maksudmu Galf? Kau pasti paham maksudku, terutama tentang kegelisahan kaum kita tentang keberadaan idolon, "Jadi kau masih meragukan tentang keberadaan idolon?" kata Angladf. "Mungkin," jawab Galfagar. "Kau tahu, bangsa peri sendiri tidak mempunyai bukti-bukti kuat tentang keberadaan makhluk idolon. Hanya desas-desus tentang perang dua ratus tahun lalu, dan kisah-kisah ogwaith ribuan tahun yang lalu. Tak ada bukti-bukti konkrit tentang keberadaan idolon." "Jadi maksudmu, mereka tidak ada? Bagaimana dengan perang dua puluh tahun lalu?" kata Angladf penuh selidik. "Bukan begitu, aku cuma belum bisa yakin," kata Galfagar. "Aku tak melihatnya ketika perang dua puluh tahun lalu, saat tembok-tembok Moram diruntuhkan." Angladf menarik nafas; "pengetahuan dan pemahamanmu lebih bijak dariku, Galfagar. Aku tidak tahu harus berkata apa."

"Diam saja, dan jangan berkata-kata," kata Galfagar. Dia lalu melantunkan sebuah syair; Diamlah tentang semua ketakjuban bahwa bumi telah naik ke atas langit ini yang seharusnya kau indahkan sebagai sebuah ketakjuban bumi di atas, langit di bawah lebih dari segalanya, pertimbangkan untuk menjadi takjub atas ketakjuban

"Kau terlalu takjub pada kisah-kisah yang kau ketahui, hingga kau merasa meyakininya, meski kau belum tahu kenyataannya. Tapi sikapmu itulah yang bisa dikatakan sebagai sebuah ketakjuban, dimana kau sangat menghargai kisah-kisah yang kau tahu dan pernah kau dengar," jelas Galfagar. "Mungkin memang begitu," kata Angladf kemudian. "Lalu apa yang akan kau lakukan setelah sampai di Benua Besar? apa kau akan membawa mereka ke Sagresia?" tanya Galfagar. "Mungkin," jawab Angladf, "akan lebih aman membawa orang-orang Magle ini ke sana." "Asalkan saja perang tidak segera terjadi," kata Galfagar. "Aku mendengar beberapa berita tidak baik dari Wilayah Barat, dan juga dari sekitar Ered Mor. Tapi meskipun begitu, Istakir belum memanggil kita, dan para peri juga masih tetap berjaga-jaga. Semuanya bisa begitu saja terjadi dengan cepat. Tapi dalam beberapa hari ini mungkin beberapa kejadian akan menjadi pemicu terjadinya perang. Mungkin benar yang selalu dinyanyikan para centaur;

Nuruhuuine mel-lumna Morion tule nahamna lantier Rmen unuhuine Rmenli ilu terhante Rmenr ataltane tenn' Ambarmetta

"Ya, aku setuju," kata Angladf, "Lralumbor tulyo Ringeluro, carma..." "Kau melihat tanda-tanda itu juga," kata Galfagar.

"Tentu saja," jawab Angladf. "Tak bisa disangkal lagi, kekuatan Morion telah bangkit, dan dia bangkit di tempat yang tepat. Tak ada yang lebih gelap daripada Mordia. Disanalah kekuasaan Nagruk yang besar pernah berkuasa di Dormyrr, dan kekuatan itu akan bangkit sekali lagi, di waktu kita masih membicarakan tentang kelanjutan kisah bumi." "Ya," Galfagar mengangguk, "kekuatan itu telah bangkit perlahan-lahan. Aku bisa merasakan getarannya, merambat melalui gunung dan lembah-lembah. Dalam perjalananku ke sini, aku banyak mendengar bisik-bisik aneh." "Kau tahu sesuatu? berita atau apapun?" "Lautan bukanlah kajian ilmuku Angladf, tapi aku merasakan kebencian dan kerakusan, mengalir bersama ombak-ombak Forogaer. Mungkin Laut tidak akan setenang perkiraanmu," jelas Galfagar. "Kau punya nasehat?" "Hanya beberapa nasehat kecil Angladf," kata Galfagar, "hati-hatilah dengan gaeric. Mereka banyak berkeliaran di lautan. Kau pasti sudah dengar bahwa Tol Angmorod telah dikuasai goblin." "Ya, aku mendengarnya," jawab Angladf, "sepertinya keadaan sudah menjadi sedemikian parah." "Ya," kata Galfagar, ia menatap sedih ke arah Rombongan. "Kenapa kau banyak membawa orang-orang ini Angladf? mereka semua dari Maglavar?" Angladf tersenyum, "Mereka adalah para tetangga dari sahabatku, Tirius." Angladf menunjukkan Tirius pada Galfagar. "Kurasa tidak adil, kalau aku hanya menolong sahabatku saja, sementara orang-orang ini kebingungan menyelamatkan diri mereka." "Ya...alasanmu bisa diterima," kata Galfagar. Ia sejenak mengamati Rayya dan Rava yang menaikkan barang-barang ke atas perahu. "Kau sendiri ada urusan apa di Tol Canaloa ini, Galfagar?" tanya Angladf. Galfagar tersenyum. Dia lalu mengeluarkan sebuah buku tebal yang sudah usang dari tasnya. Buku itu bertuliskan Bestiary, sebuah buku kuno dengan alfabet Cirth dan huruf peri di pinggirannya. Galfagar membuka dan membolak-balik beberapa halaman, kemudian menunjukkannya pada Angladf. "Ormarr," kata Galfagar, menunjukkan gambar naga bersisik hijau yang tampangnya sangat jelek dan menakutkan, "Kabarnya makhluk ini terlihat beberapa hari yang lalu di sekitar Norby. Ada berita-berita, disana terdapat situs peninggalan

kuno bangsa Nabatean, Aku hanya akan melihatnya dan berharap menemukan jejak-jejak Ormarr. Sisa-sisa para naga masih ada," jelas Galfagar dengan bersemangat. "Ormarr..." Angladf merasa aneh mendengar nama itu. "Tapi kami di Maglavar tidak mendengar apapun tentang serangan di Norby." "Mungkin kalian sudah lebih dulu melakukan perjalanan. Lagipula, tak banyak yang tahu tentang serangan naga itu," kata Galfagar.

Hari sudah gelap ketika mereka selesai berkemas. Semuanya naik ke perahu, kecuali Angladf yang masih berbicara dengan Galfagar. Para pelaut sudah bersiapsiap mengantarkan mereka ke kapal. Angladf melepas tali kekang kudanya dan membisikinya untuk kembali ke Lembah-lembah Ering di Ford Timur Emyn Radit. Di sanalah, Angladf menemukan kuda itu. Keretanya dibakar, bersama dengan kereta Bern. Sementara kereta Octesian ditinggalkan di dekat gudang. "Aku masih berharap suatu saat kembali ke sini lagi," gerutu Octesian. Kuda-kuda yang lain pun dilepaskan. "Aku akan mengantar mereka ke lereng," kata Galfagar. "Aku tak akan biarkan mereka sampai ditangkap goblin." "Wah, terima kasih Galfagar, kata Bern, Aku sangat bersyukur mengenal orang seperti kalian. Dia mengangguk dalam. Galfagar tersenyum dan menjawab, Kita harus selalu menolong mahklukmahkluk di sekitar kita, bukan begitu Angladf? Kau benar sekali, Galf, kata Angladf.

Mereka pun berpisah dengan Galfagar dan mereka menyaksikan ketika Galfagar (yang ditinggal sendirian di dermaga itu) mulai menggiring kuda-kuda dan mengarahkan mereka ke arah lereng-lereng Thunderhill. Perahu mulai bergerak. Mereka membantu para pelaut itu mendayung. Perahu itu menyusuri Sungai Ellowine menuju muara, tempat dimana kapal telah menunggu. Kapal itu adalah kapal besar berjenis galleon, dengan tiga tiang layar yang kokoh, kabin yang luas dan peralatan lengkap serta perbekalan yang cukup. Kaptennya bernama Gellert, adalah seorang pelaut asli yang berasal dari Foroheledor, negerinya para pelaut, yang terletak di wilayah bagian utara Benua

Besar. Gellert sudah menjadi pelaut selama lebih dari dua puluh tahun, dan sudah mengarungi hampir semua samudra di dunia. Dia juga terkenal sebagai salah satu dari Tujuh Ksatria Samudra. Angladf telah sengaja meminta bantuannya lewat seorang teman bernama Aramir, yang juga penyihir, untuk menjemputnya di Elmina. Tapi rupanya Aramir terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, hingga ia meminta bantuan Galfagar. Angladf khawatir, jangan-jangan keadaan di Harad juga sudah sedemikian genting. Beberapa menit kemudian mereka sampai di kapal. Gellert menamakan kapalnya itu Isilharan, yang berarti Seratus Rembulan, dengan lambang lingkaran putih yang banyak sekali di layarnya. Sementara layar utamanya dihiasi dengan lambang rumit bergambar perahu, tengkorak dan pedang.

Gellert sudah menunggu mereka di dek utama. Berdiri gagah dan tersenyum ramah. Tangga tali dijulurkan dari kapal, dan rombongan pun segera naik ke atas kapal. Mereka menemui Gellert. Selamat datang di Isilharan. Angladf dan kawan-kawan semua, sambut Gellert. Dia disertai dengan dua orang anak buahnya, menyambut rombongan itu. Maaf aku tidak bisa turut serta menjemput kalian, karena kondisi badanku tidak begitu sehat. Terima kasih kau mau memenuhi permintaanku, Gellert, kata Angladf. Itulah guna persahabatan, jawab Gellert tersenyum. Angladf pun kemudian memperkenalkan anggota rombongan pada Gellert, yang mengangguk dan tersenyum pada semua orang. Gellert pun kemudian mempersilahkan mereka semua ke kabin, dan menyuruh salah seorang anak buah kapalnya menunjukkan kamar bagi tamu-tamunya. Berikan pelayanan terbaik bagi tamu-tamu kita, teman-teman, kata Gellert pada anak buahnya, dan layani para lady ini dengan baik, tambahnya. Silahkan, istirahatkan dulu tubuh kalian di kabin-kabin yang telah disiapkan, sementara koki-koki kami menyiapkan sesuatu, kata Gellert. Dia segera berbalik dan naik ke dek atas di haluan. Angkat jangkar, putar kapal, ikuti angin. Kita segera berangkat, kembangkan layar! seru Gellert memberi perintah yang segera dijawab dengan sorakan; Ayeaye, Cap!

Maka malam itu, Isilharan pun segera bertolak. Angin darat bertiup sangat kencang, memungkinkan pelayaran mereka menjadi lebih ringan. Para kelasi sibuk mengatur arah layar agar sesuai dengan arah angin. Berapa lama kita sampai di Benua Besar? tanya Rayya pada Angladf. Mungkin tiga hari, jika tak ada gangguan. Angin sedang bagus, jawab Angladf. Percayalah pada Gellert. Dia adalah kapten terbaik yang bisa ditemukan di lautan Forogaer ini. Semuanya kebagian kabin yang nyaman di bagian buritan dan mereka beristirahat melewatkan malam itu. Ada saat-saat dimana mereka (terutama Rava, Reva, Runa dan Brad) sangat mengharapkan untuk bisa tidur di atas kasur lagi, dan kini mereka kebagian kabin yang sangat nyaman; lengkap dengan kasur, selimut dan bantal. Satu-per-satu, mereka pun segera tertidur, tanpa pernah tahu apa yang bakal menimpa mereka.

Keesokan paginya, Rayya bangun dengan penuh semangat. Dia menemukan Rava dan Villian sedang sarapan di salah satu kabin. Rayya mengambil beberapa iris roti dan daging, lalu segera naik ke dek atas di haluan. Kini mereka sudah berlayar di laut lepas. Sepanjang mata melihat hanya ada lautan biru di sekeliling kapal. Matahari tampak bersinar terang di sebelah kiri kapal. Sementara samarsamar terlihat pulau, jauh di sebelah kanan mereka, itu adalah Tol Calda. Di haluan, Rayya menemukan Angladf, Tirius, Bern, Octesian dan Logan sedang berbincang-bincang dengan Gellert. Angladf memberitahukan rencananya; Kita sudah melewati Tol Calda. Dari sini kita langsung ke Benua Besar. Aku mengusulkan kita bergerak agak ke timur, jadi kita bisa berlabuh di Karotte. Dari sana kita bisa mencari angkutan darat untuk pergi ke Sagresia. Kita pasti bisa menemukan kereta kuda yang bisa disewa. Kenapa tidak berlabuh di Palsa saja? kata Gellert, kami bisa mengantar kalian ke sana. Dari Palsa, perjalanan sudah lebih dekat ke Sagresia. Angladf mengangguk, Aku perlu bertemu dengan seseorang di Karotte. Dan aku juga harus bertemu Aramir, jelas Angladf pada yang lain. Aku setuju, kata Logan. Aku punya saudara di Karotte. Pasti dia bisa membantu kita. Ya, aku juga, kata Octesian, aku ada sedikit urusan di Habad. Kurasa lebih baik kita mendarat di Karotte.

Bagaimana dengan yang lain? tanya Gellert. Kurasa mereka setuju, jawab Tirius. Kupikir lebih baik kalau kita bisa mendarat di sebuah kota atau desa, karena persediaan makanan kami hampir habis. Lagipula aku perlu beberapa barang dan peralatan. Kau bisa mendapatkan yang terbaik di Karotte nanti, kata Angladf.

Gellert kini mengajak mereka berkeliling kapal, walau mereka sudah melihat sebagian besarnya. Villain dan Logan naik ke dek atas di haluan dan bergabung dengan mereka. Mereka melihat pria yang bertugas sebagai pengawas berdiri di atas puncak tiang layar mengawasi keadaan laut dan meneriakkan arah angin pada pria lain yang mengendalikan kemudi besar di buritan. Di dalam dek atas ada ruang kecil yang digunakan sebagai dapur kapal dan ruangan-ruangan untuk orang-orang; seperti pendayung, tukang kayu, juru masak dan ahli panah. Jangan berpikiran aneh memiliki dapur di bagian depan kapal dan membayangkan asap dari cerobongnya berarak di atas ke arah belakang kapal seperti pada kapal uap yang selalu mendapatkan angin dari depan. Isilharan adalah kapal layar, yang juga memiliki dayung-dayung yang digunakan ketika tidak ada angin atau ketika masuk atau keluar pelabuhan. Pada kapal layar, angin datang dari belakang, dan apa pun yang berbau diletakkan sebisa mungkin di paling depan. Di dek ada dua pintu tingkap yang besar dan panjang, di depan dan di belakang tiang layar, dan keduanya terbuka, seperti yang selalu terjadi ketika cuaca cerah, untuk membiarkan cahaya dan udara memasuki perut kapal. Gellert memimpin jalan menuruni tangga melewati pintu tingkap depan. Di sini mereka mendapati anak-anak perempuan; Brenda, Reva dan Runa sedang duduk di bangku yang digunakan untuk mendayung, yang memanjang dari sisi ke sisi (yang saat itu kosong dan hanya diduduki oleh beberapa orang, termasuk Brad yang sedang membaca tumpukan surat kabar usang di salah satu pojokan). Cahaya masuk melalui lubang dayung yang terbuka dan menari-nari di langit-langit, menciptakan efek cahaya yang fantastis. Di bagian bawah tengah ruangan ini ada semacam lubang dalam yang terus menurun hingga ke balok rusuk kerangka kapal, dan lubang ini dipenuhi segala macam barangberkarung-karung terigu, bergentong-gentong air, berbarel-barel daging, bertoples-toples madu, berbotol-botol kulit minuman buah, kacang, keju, biskuit, berlembar-lembar bacon dan berkarung-karung bumbu. Dari langit-langit

bagian bawah dek itu, tergantung daging ham dan bertali-tali bawang bombai, juga para pria pengawas yang sedang beristirahat dari tugas mereka di ranjang gantung. Mereka kemudian naik kembali dan keluar ke buritan melalui pintu tingkap di dek belakang. Gellert memperkenalkan juru mudinya; Gregory dan asistennya; Seamus, yang saat itu sedang bertugas mengendalikan kemudi. Dan akhirnya mereka sampai di bagian paling belakang buritan kapal tempat mereka bisa memandangi buih-buih putih yang menari dan tertinggal di telan gelombang dari kapal, sementara nyanyian camar kadang-kadang terdengar di atas mereka.

Isilharan berlayar perlahan sepanjang hari itu. Angladf, Tirius, Bern, Logan, Yorri dan Gellert berbincang di dek atas. Sementara anak-anak memiliki kesibukan tersendiri; Reva, Runa dan Brenda belajar memasak di dapur, ditemani istri Bern; Mathilda, Yolanda dan Rhein. Dan bersama dengan juru masak kapal, para perempuan itu juga membantu memasak untuk semua kru kapal. Sementara Rava dan Brad mengikuti kursus kilat membuat simpul dari tali bersama Octesian dan Darek. Rayya dan Villian berkeliling kapal, bertanya ini-itu pada kru kapal, yang dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Rayya tentu saja bertanya tentang kejadian-kejadian yang terjadi di Benua Besar, yang mungkin diketahui oleh orang-orang kapal, dan mereka berbaik hati memberitahunya. Beberapa hari yang lalu, terjadi perang kecil di Dataran Tenang. Sepasukan kecil Ksatria Perak dari Sagresia diserang oleh gerombolan goblin yang menaiki serigala. Untunglah, Pasukan Patroli dari Gemina datang membantu hingga kawanan goblin itu melarikan diri ke Reruntuhan Gamathel. Sementara itu, ada berita-berita yang tersebar di Palsa, bahwa utusan-utusan dari berbagai negeri silih berganti datang ke Sagresia. Kabarnya juga terlihat beberapa ksatria Lnmahtar yang melewati Groduin dan Tol drim. Entah ada peristiwa apa, hingga para Orang Kuat itu menampakkan diri. Ada juga berita yang mengabarkan bahwa kapal-kapal berbendera merah banyak berlabuh di sekitar Teluk Moroch. Orang-orang di kapal berkata bahwa mereka beberapa kali bertemu dengan kapal-kapal bajak laut di sekitar Forogaer, tapi anehnya bajak laut itu tidak menyerang mereka. Tapi hal yang paling mengejutkan adalah bahwa di Karotte kini diberlakukan jam malam. Setelah jam tujuh malam, tidak boleh ada seorang pun yang keluar dari

kota mereka. Kabarnya, hal itu diberlakukan karena sekarang ini banyak terlihat goblin yang berkeliaran sepanjang Jalan Besar Waycall. Sepertinya, dunia luar sangat menarik, kata Villian, selama ini kita hanya mendengar berita-berita saja di White Dove dan Broken Broom. Itupun dari para pengembara yang melewati Winyaway. Tak kusangka, kita akan mengetahui secara langsung, berita-berita yang selama ini diceritakan di Maglavar. Ya, jawab Rayya. Tapi siapkah kau dengan segala sesuatu yang akan terjadi nanti? Villian menegakkan tubuhnya dan berkata; Siap! Mereka berdua kemudian tertawa.

Di pinggiran Sungai Ellowine, setelah berpisah dengan Angladf dan rombongan Magle, Galfagar melepas kuda-kuda dan membiarkan mereka berlarian menuju ke Ford-ford Thunderhill. Galfagar mengawasi perahu-perahu bergerak ke muara dan melihat Isilharan perlahan-lahan berlayar meninggalkan muara dan menuju lautan lepas. Galfagar menunggu hingga malam tiba. Dia lalu mengangkat tongkatnya, mengucapkan beberapa kata sulit dalam bahasa aneh, dan mengacungkan tongkatnya tinggi ke arah langit Selatan. Angin bergerak, bertiup ke selatan, berkumpul menjadi satu dan melesat menuju Forogaer. Angin itu kemudian menukik menghantam air laut, menciptakan pusaran air yang besar di tengah laut selama beberapa menit, kemudian tiba-tiba saja menghilang. Lenyap begitu saja. Laut menjadi tenang kembali, seperti tak terjadi apa-apa. Namun jauh di dasar laut sana, dua pasang mata berwarna merah menyala, mata yang menakutkan milik makhlukmakhluk dasar laut yang bertubuh panjang dan bergeligi mematikan. Dan makhluk-makhluk itu menunggu. Semua kejadian itu dilihat oleh pengembara bermantel hitam dari tempat persembunyiannya. Dan dia pun menunggu sampai Galfagar pergi. Galfagar sempat memperhatikan sekelilingnya, dan pengembara itu beringsut sembunyi, tapi kemudian Galfagar berjalan ke arah desa, menuju Blue Bear. Pengembara bermantel hitam keluar dari persembunyiannya. Dan dengan bantuan cahaya bintang yang remang-remang, dia mulai mencari-cari perahu yang ditemukan Rayya sehari sebelumnya. Dan dia segera menyusul Isilharan.

Selama dua hari berikutnya, Isilharan disambut angin barat laut, kehilangan pandangan akan semua daratan dan bahkan tidak bisa melihat ikan ataupun camar. Kemudian sore harinya, hujan turun terus menerus dengan deras hingga malam hari. Gregory sudah mengkhawatirkan terjadinya badai, dan Gellert menyuruh yang lainnya siaga terhadap apa saja yang mungkin akan terjadi. Sebelumnya, menurut perhitungannya, mereka akan sampai di Karotte pada keesokan pagi, ketika fajar terbit di ufuk timur. Tapi dengan segala cuaca dan angin malam yang tidak bersahabat, Gellert sangsi dengan perhitungannya. Mungkin mereka akan sedikit tertunda. Mereka akhirnya hanya bisa melewatkan malam itu dengan duduk-duduk di bangku pendayung sambil berharap tidak akan terjadi badai. Sampai Runa melihat ke luar jendela kabin belakang dan berkata; Apa itu? Mereka semua (yang laki-laki) berlari menuju dek belakang, terpaksa diguyur hujan yang sepertinya semakin deras, dan memandangi lekat-lekat benda yang berada di belakang kapal. Atau lebih tepatnya beberapa benda. Benda-benda itu agak tampak seperti bebatuan halus dan bulat, berderet dengan jarak kira-kira dua belas meter antara satu sama lain, dari kejauhan kelihatan seperti pulau-pulau. Mungkinkah itu pulau? kata Bern. Tapi itu pulau yang janggal, jawab Gellert. Pulau-pulau itu berpunuk-punuk bagaikan serangkaian bukit yang terbenam. Mereka tidak ada di sana lima menit yang lalu, kata Seamus. Dan salah satunya baru saja menghilang, kata Rava. Ya, dan satu lagi ada yang muncul, kata Tirius, lebih dekat ke kapal. Tunggu dulu, kata Gellert, semua benda itu bergerak ke arah kita. Lebih baik kita semua bersiap, kata Angladf memberi nasehat. Aku mempunyai firasat buruk. Dia menghunus pedangnya dengan tangan kanan dan menggenggam erat tongkatnya di tangan kiri. Mereka bergerak lebih cepat dari kemampuan kita berlayar, Cap, kata Seamus panik. Bersiap semua! perintah Gellert. Mereka semua menahan nafas, karena sangatlah tidak menyenangkan dikejar sesuatu yang tidak dikenal, baik di daratan ataupun di lautan. Mata mereka waspada mengawasi setiap gerakan benda-benda yang muncul dan tenggelam di

dekat kapal mereka. Tapi yang sebenarnya terjadi ternyata jauh lebih buruk daripada dugaan siapapun. Tiba-tiba kepala-kepala raksasa muncul dari dalam laut di depan mereka. Ada dua, satu di sebelah kanan haluan, dan satunya lagi di sebelah kiri. Kepala-kepala itu seluruhnya hijau dan kemerahan dengan bintik-bintik ungukecuali di bagian yang ditumbuhi sirip-sirip yang menyerupai hiasan buludan berbentuk seperti kepala kuda, walaupun tanpa telinga. Kepala-kepala itu memiliki sepasang mata miring berkilat yang seakan-akan mengejek dari bawah kelopak mata yang tebal, mata luar biasa yang diciptakan untuk melihat di kedalaman gelap samudera, yang saat itu menyala merah bagaikan bulan menjelang maut, penuh keinginan membunuh. Dan mulut mereka yang terbuka dipenuhi dua baris geligi ikan yang tajam. Kepala-kepala itu muncul di atas sesuatu yang dikira leher raksasa, tapi ketika bagian dari makhluk itu lebih banyak yang muncul, semua orang pun tahu bahwa bagian itu bukanlah leher, melainkan tubuhnya. Dan akhirnya mereka pun menyadari bahwa itu adalah ular laut raksasa seperti yang diceritakan orang-orang. Ekor yang melingkar luar biasa besar bisa dilihat berada jauh sekali, muncul cukup tinggi di permukaan laut. Kini salah satunya mengangkat kepalanya, menjulang tinggi ke atas lebih tinggi dari tiang utama kapal. Semua orang bergegas mengambil senjata, tapi mereka masih bingung bagaimana melawan monster itu. Tembak! Tembak! teriak Gellert, dan beberapa orang segera melepaskan anak panahnya, tapi monster itu jauh dari jangkauan. Kemudian selama beberapa menit yang mencekam mereka semua hanya bisa memandangi mata dan mulut monster-monster tersebut, dan mengira-ngira dimana keduanya akan menyerang. Salah satu monster itu menjulurkan kepalanya ke depan melintasi kapal, kirakira setinggi tali layar utama. Kepalanya tepat berada di sebelah puncak pengawas. Sementara monster yang satunya tetap berenang di sisi kapal. Ular itu terus menjulurkan tubuh hingga kepalanya berada di atas pagar sisi kanan kapal, kemudian dia mulai menukikbukan ke dek yang dipenuhi awak kapal yang siap dengan pedang-pedang mereka, tapi ke dalam air, hingga kini seluruh kapal berada di bawah lengkungan tubuh ular. Monster itu mengulangi gerakannya selama beberapa kali, hingga kemudian semua orang mengerti, dan sadar apa yang sebenarnya terjadi.

Salah satu ular itu telah melilitkan tubuhnya mengelilingi Isilharan dan mulai menarik lilitannya seperti mengikat kencang. Kalau ikatannya sampai kencangtrak!akan ada kayu-kayu mengambang di tempat sebuah kapal dulu berada dan dia bisa menangkap mereka dari air satu-per-satu. Pertahankan kapal! teriak Seamus. Dia dan beberapa orang maju ke pagar di sisi kanan, dan segera setelah tubuh ular itu cukup dekat, mereka mulai menusuknusuk sekuat tenaga. Meski itu tindakan hebat, tapi tindakan itu hanya menghancurkan pedang mereka menjadi potongan-potongan kecil. Seluruh tubuh ular itu dilapisi sisik-sisik kuat seperti besi berwarna hitam. Tembak kepalanya! teriak Gellert, dan segera beberapa orang

mengarahkan anak panah mereka ke salah satu kepala ular. Tapi justru ular yang satu lagi mulai menukik ke arah dek dan menyambar-nyambar, menyeret apa saja yang bisa digigitnya dan melemparnya ke laut. Angladf berdiri di haluan, mengacungkan tongkatnya dan berseru; Aiya ICalina, hanyasilma ancalima s Herunr s! Seketika ada cahaya kilat menyilaukan disusul ledakan, membakar sirip-sirip ular laut di sisi kapal dan menyentakkan kepalanya mundur menjauhi kapal. Tapi ular yang satu lagi juga telah bergerak cepat menjauhi kapal. Begitu cepatnya, lalu disusul bunyikrak-trak!, ekor ular itu yang berduri, menghantam lambung kapal cukup keras dan ikatannya mulai mengencang. Kapal terbelah tepat di haluan, tiang kapal patah, dan layarnya sobek berterbangan. Tali-talinya putus, lalu air laut mulai membanjiri dek. Selamatkan diri kalian! teriak Gellert pada anak buahnya dan orang-orang Magle. Hampir setiap usaha yang dilakukan untuk mempertahankan kapal itu, kini menjadi sia-sia. Gerakan ular itu terlalu cepat dan terlalu kuat. Isilharan dengan suara keras gemeretak hancur menjadi tiga bagian. Dan kengerian bukan hanya sampai di situ saja, karena monster itu langsung menyelam, dan menangkapi orangorang yang terlempar dari kapal dengan mulut mereka. Beberapa tetap bertahan dan melempari ular itu dengan tombak dan pedang. Tapi gerakan ular itu begitu gesit; satu kepala keluar dari air, menyambar orang-orang, lalu kembali menyelam, sementara ular yang lain giliran muncul dan menyambar orang-orang lagi. Begitu seterusnya.

Angladf memanggil Tirius dan anak-anak. Tapi rupanya mereka sudah terpisah. Badai segera menghantam mereka, sementara hujan masih turun dengan deras. Tirius bersama Bern, Octesian dan Derek berhasil bertahan di buritan, yang dengan cepat mulai tenggelam. Mereka berhasil menyelamatkan Mathilda, Brad, Sue, Rhein dan Yolanda. Seamus dan beberapa awak kapal juga bersama dengan mereka. Sementara Gellert dan Gregory tak jauh dari mereka, mengapung-apung berpegangan pada papan kayu yang terombang-ambing dimainkan badai. Mereka juga melihat beberapa awak kapal yang tak bergerak, mengambang diantara potongan-potongan kayu. Sementara Angladf berdiri di salah satu tiang yang mencuat miring, diantara pecahan-pecahan badan kapal. Pedangnya siap di tangan kanan dan tongkatnya di tangan kiri. Selamatkan diri kalian, daratan sudah dekat. Aku akan mencoba menahan ular-ular itu! kata Angladf pada Tirius dan yang lain. Anak-anak itu hilang! teriak Tirius, aku tak bisa menemukan mereka! Mereka tidak akan jauh! kata Angladf, kuserahkan padamu Tirius!

Monster-monster itu kemudian muncul kembali dari dalam air. Satu ular laut naik tinggi, mengawasi mangsanya yang masih hidup, sementara ular yang satu lagi tampak lemah dan penuh kesakitan. Mereka tidak begitu terganggu dengan badai yang terjadi, malah hal itu sangat menguntungkan mereka. Lalu salah satu ular melihat Angladf yang berdiri menunggunya, dan ular itu bersiap membalas dendam pada orang yang telah membakar temannya. Monster itu bergerak menerjang ke arah Angladf, dengan moncongnya terbuka lebar. Sementara ular yang satunya menyambar salah satu awak kapal yang berenang menyelamatkan diri. Angladf menyabetkan pedangnya, berusaha melukai kepala ular yang menyerangnya. Tapi dengan gesit, ular itu bergerak ke samping, lalu terjun ke dalam air. Angladf tetap mengejarnya, dimasukkan tongkatnya ke dalam air, lalu ia berdesis membaca mantranya; dan kemudian air di sekelilingnya meledak. Kedua ular itu terlontar naik beberapa meter, tapi kemudian mereka kembali menyelam dan keduanya muncul di kanan kiri Angladf. Rasakan ini! teriak Angladf mengayunkan tongkatnya. Seberkas sinar terang menyala disekelilingnya, lalu membakar kedua kepala ular itu yang menjerit kesakitan dan segera menyelam kembali ke dalam air.

Sisa-sisa kapal kini mulai tenggelam, potongan-potongan papan dan bagianbagian lain dari kapal terapung-apung dipermainkan badai yang memisahkan mereka. Diantara gulungan ombak, Tirius masih bisa melihat bagaimana Angladf bertarung melawan kedua ular tersebut. Dia mencari-cari di sekelilingnya; berharap menemukan anak-anak. Tapi tak ada tanda-tanda yang menyatakan keberadaan mereka.

Bab VI Terpisah
Ketika Isilharan terbelah dan badai menghantam mereka, Rayya dan Villian terlempar sejauh beberapa meter dan terus terseret arus ke Tenggara. Mereka berdua berpegangan pada sebilah papan yang terlepas dari dek Isilharan. Mereka mencoba bertahan dalam ganasnya badai, dan mencari-cari keberadaan yang lain. Seorang pelaut mengapung di dekat mereka, tanpa nyawa. Rupanya mereka terlempar cukup jauh. Mereka sempat melihat kilat yang melemparkan kedua ular laut itu dari kejauhan. Kita berenang ke sana, usul Villian, pasti yang lain juga tak jauh dari tempat ini. Rayya mengangguk setuju. Tapi mereka segera melihat bahwa itu sangat sulit dilakukan. Badai terlalu keras mengelilingi mereka, malahan membawa mereka semakin ke Tenggara, menjauh dari Isilharan. Kemudian setelah susah-payah berusaha, dan tidak berhasil juga, akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti arus yang membawa mereka. Selama hampir empat jam mereka terombang-ambing dihempas gelombang dan merasa sangat membeku dalam dinginnya air laut dan kegelapan malam. Lalu setelah waktu yang terasa lama sekali, akhirnya mereka melihat fajar di sebelah kiri mereka. Badai mereda dan rasa kantuk yang teramat sangat menyiksa mereka, dan dinginnya air laut membuat mereka menggigil. Tapi sebuah harapan mulai terbentuk di diri mereka. Jauh di selatan, mereka melihat daratan; dan angin membawa mereka semakin mendekat.

Matahari yang terbit pada pagi hari di lautan bisa tampak sangat indah. Sangat sulit melukiskannya dengan kata-kata, tapi awalnya awan-awan kelabu terangkat dari langit timur dan berkas-berkas putih menjadi lebih lebar dan terus melebar hingga seluruh langit menjadi putih dan laut berkilauan seperti perak. Lama kemudian Timur mulai berubah menjadi merah dan akhirnya tanpa awan. Matahari terbit keluar dari lautan dan berkas panjang datarnya menyinari lautan. Sinar-sinar putih keemasan tampak menyilaukan, menari-nari diantara buih-buih gelombang, membuat warna laut seakan berubah menjadi keemasan. Rayya dan Villian

biasanya melihat matahari terbit dari pegunungan dan lembah-lembah Emyn Radit, tapi kini keduanya terheran-heran dan takjub melihat pemandangan pagi yang ada di lautan. Cuaca sangat cerah dan sepanjang mata melihat, langit tampak menjadi satu bersama lautan di horizon; datar, biru dan tenang. Lalu ketika matahari sudah naik tinggi ke atas kepala, dan panas terasa terik menyiksa, Rayya dan Villian terdampar di daerah pantai berawa yang air laut dan air tawar dari rawa itu bergabung menjadi air payau yang berbau manis dan asin. Sementara batang-batang pohon tumbang berserakan, menjadi sarang yang nyaman bagi reptil dan serangga. Inikah Habad? gumam Rayya. Bagaimana kita bisa tahu? tanya Villain, sambil mengibaskan pakaiannya yang basah. Entahlah, sepertinya tempat ini memberitahukan padaku, jawab Rayya. Dia teringat peta tua Tirius. Kau lihat pegunungan di barat daya itu; itu adalah Pegunungan Berkabut. Bagian sininya yang lebih rendah disebut Emyn Galen. Tempat kita sekarang ini mungkin adalah Rawa-rawa Taunalagos. Ah, kau mungkin benar, kata Villian, dan di rawa biasanya ada buaya, Katanya sambil berusaha berlari ke salah satu pohon terdekat, karena dari semaksemak tak jauh di depan mereka, muncul kepala-kepala runcing yang segera meluncur cepat ke arah mereka. Rayya juga melihatnya dan bergegas naik memanjat salah satu pohon birch yang melengkung. Rawa-rawa Taunalagos adalah daerah di ujung timur laut Habad. Tanah yang lembab dan luas yang terbagi-bagi menjadi pulau-pulau kecil yang tak terhitung banyaknya oleh saluran air yang juga tak terhitung banyaknya. Pulau-pulau itu tertutup rumput kasar dan dibatasi ilalang serta rumput rawa, kadang ada gerumbul rumput rawa selebar satu ekar. Di beberapa tempat juga tumbuh pohon-pohon besar; dan beberapa ekar tumbuhan bakau di sisi yang lebih dekat dengan laut. Pantai seakan-akan hilang karena banyaknya tumbuhan menjalar yang tumbuh subur seperti membentuk sebuah dinding pertahanan. Meskipun demikian, rupanya Rayya dan Villian terdampar di salah satu bagian pantai yang cukup terbuka; daerah rawa yang cukup luas dan berlumpur. Tapi tempat itu juga menjadi tempat tinggal bagi makhluk-makhluk penghuni rawa; berang-berang, dan terutama buaya. Rayya melihat, ada tiga buaya yang meluncur dengan cepat ke arahnya. Villian sudah duduk di salah satu cabang pohon di dekatnya. Buru-buru Rayya

melompat menyusul ke pohon yang lain sebelum buaya-buaya itu menggapainya, kemudian berputar-putar di bawahnya. Inilah hari sial kita, kata Villian, diamuk badai dan ular laut, lalu terpisah dari yang lain dan sekarang terjebak di rawa penuh buaya. Tenang, kata Rayya, pasti kita bisa mengusir mereka. Rayya mengeluarkan ketapelnya, lalu menembak buaya itu dengan berharap buaya-buaya itu akan minggir menjauh. Tapi rupanya buaya-buaya itu tak merasakan apa-apa, mereka tidak bergerak sedikitpun untuk membiarkan mangsanya. Mereka bukan anjing, kata Villian kesal.

Buaya-buaya itu berukuran lebih besar dari buaya yang pernah dilihat Rayya, dan punggungnya yang bergeligi tampak lebih banyak dan kasar. Kulit mereka berwarna coklat kehitaman, dan saat bergerak di dalam air yang kotor, hampir-hampir mereka tidak kelihatan. Orang-orang mungkin akan melihat mereka seperti batang kayu yang terhanyut, dan kemudian ketika sudah dekat, maka mulut mereka akan terbuka lebar dan siap menelan mangsa sebesar apapun. Rayya dan Villian kemudian menunggu, berharap buaya-buaya itu akan sama bosannya dengan mereka dan kemudian memutuskan pergi mencari mangsa lain. Selama beberapa saat buaya-buaya itu berusaha memanjat pohon, tapi itu tak mungkin dilakukan dengan perut mereka menempel di lumpur. Kemudian karena melihat dua anak manusia itu tetap bertengger di atas pohon, buaya-buaya itupun memutuskan untuk menunggu juga. Mereka diam tak bergerak di bawah pohon bagaikan batangan kayu. Mereka juga menunggu, kata Villian, disinilah kesabaran kita di uji, katanya kecut. Ya, dan kita akan mati kelaparan di atas sini, atau jadi santapan di bawah sana, kata Rayya, pilihannya sama-sama tidak menyenangkan. Tak adakah manusia yang tinggal di tempat seperti ini? kata Villian, pandangannya menyelidik ke semak dan pepohonan yang tumbuh di kanan kirinya, bagian yang lebih kering di kanan kiri dari tempat mereka, memanjang membentuk hutan hingga ke selatan. Ada jalur-jalur aneh tergambar di tanah berlumpur dan ranting-ranting yang disusun menjadi seperti tempat berpijak.

Hoiiiadakah seseorang yang bisa membantu kami? Villian berteriak pada tempat sunyi itu. Seketika jawabannya keluar. Suara cicit dan jeritan bersahut-sahutan. Burung-burung kecil berterbangan, mereka kaget dan terganggu oleh suara teriakan Villian. Beberapa serangga aneh melompat kaget, berusaha mencari tahu penyebab pemecah kesunyian tempat itu. Tak ada yang tinggal di sini, kecuali burung dan buaya, kata Rayya, dan mereka tak suka melihat kau teriak-teriak begitu. Jadi kita memang harus menunggu, sampai buaya-buaya itu bisa memanjat, atau kita yang terjatuh karena lemas akibat kelaparan yang akan segera kita rasakan, kata Villian memutuskan. Kurasa tidak demikian, bisik suara serak menjawab. Rayya dan Villian berpandangan, tak ada orang lain selain mereka berdua. Tapi suara itu sangat dekat dengan mereka. Siapa kau? kata Rayya, menoleh kanan kirinya, berharap menemukan si pemilik suara. Tapi kemudian cabang pohon yang didudukinya tiba-tiba bergerak, dan kulit pohon itu meliuk terbuka, hingga tampak sebuah ceruk di batangnya yang besar. Rayya, pohonmu bergerak! kata Villian ketakutan. Dan ia juga melihat ranting-rantingnya yang bergerak turun, awas Rayya! Rayya menghindari ranting-ranting di atasnya, yang tiba-tiba saja bergerak. Lalu dari dalam pohon itu tiba-tiba meloncat keluar sesosok tubuh kecil dan ramping, yang langsung bertengger di salah satu cabang tak jauh dari tempat Rayya duduk. Rayya terkejut memandangi makhluk aneh di depannya. Tubuh makhluk itu mirip manusia, tapi amat sangat ramping dan kurus. Bahkan seakan-akan tubuhnya mudah dipatahkan begitu saja. Tapi tubuh itu sangat lentur, seperti ranting-ranting pohon. Wajahnya lebih mirip goblin, dengan hidung runcing dan mata bulat aneh dan seperti juling. Kulitnya berwarna kecoklatan dan terbungkus seperti kulit pohon. Di atas kepalanya terdapat sejumput rambut yang lebih mirip lumut berwarna hijau gelap. Jari-jarinya berbonggol seperti rhizome, dan masing-masing tangan jarinya berjumlah enam, begitu juga dengan jari kakinya. Sekilas makhluk itu benar-benar tampak seperti ranting pohon. Siapa kau? tanya Rayya.

Makhluk itu menatap Rayya agak lama, baru kemudian berbisik dengan suaranya yang serak; Namaku Dingel, tapi mereka lebih sering memanggil Diggi, ya begitulah mereka memanggilhuhg, Kau apa? tanya Villian tak bisa menyembunyikan perasaan anehnya, karena baru sekarang dia bertemu makhluk seperti itu. Makhluk itu menoleh menatap Villian, memutar matanya, lalu berkedip dan kemudian membuang muka, kata-katamu merendahkanku, ya merendahkan kami bangsa Cortavari. Ya, mereka pasti kecewahuhg, Jadi kau Manusia Ranting! kata Rayya bersemangat. Manusia Ranting? Apa itu? kata Villian bingung. Rayya teringat cerita-cerita Pak Tua. Mereka bangsa yang tinggal di dalam pohon. Kita menamakannya Sproutling; Manusia Ranting, karena mereka bertubuh mirip ranting dan berkulit kayu. Mereka mencintai rawa dan pepohonan, dan hidup dari berburu ikan dan memakan serangga. Kau tahu tentang kami? makhluk itu menoleh dan meringis, mungkin itu caranya tersenyumpikir Rayya. Ya, aku pernah mendengar cerita tentang kalian. Huhg ini baru namanya manusia, makhluk itu meringis lagi, kau berasal dari Rumah Kristal? Rumah Kristal? kata Rayya dan Villian. Aku tak tahu dimana Rumah Kristal itu, kata Rayya, kami berasal dari Maglavar. Oh kau manusia bukan dari Rumah Kristal, kata makhluk itu. Kemudian dia diam dan menatap buaya-buaya di bawahnya. Kau tersesat di sarang buayahuhg dan ketakutan hingga memanjati rumahku. Maafkan kami. Kami tak tahu ini rumahmu, kata Rayya. Kau bisa mengusir buaya itu? tanya Villian. Suruh saja mereka pergi, jawab makhluk itu meringis lagi. Bagaimana caranya? kata Villian penasaran. Makhluk itu lalu mengeluarkan suara seperti bunyi pohon tumbang, krakbam, naim krulun dobam, dan perlahan-lahan, buaya-buaya di bawah mereka pergi dan bergerak menuju sungai agak jauh. Diggi sudah mengusir mereka, kata Diggi. Begitukah? Sesederhana itu, komentar Villian keheranan, dan Rayya tertawa terbahak-bahak.

Kau harus mengusirnya dengan menirukan bunyi pohon tumbang.

Rayya dan Villian pun kemudian turun dari atas pohon, diikuti oleh Diggi si Manusia Ranting. Begitu sampai di darat, barulah Rayya menyadari bahwa Diggi ternyata lebih tinggi dari manusia biasa. Tubuhnya yang jangkung tampak menjulang seperti tiang. Rayya membayangkan, apa jadinya kalau makhluk ini memakai pakaian dan mantel, pasti jadi mirip boneka kebun. Rayya pun bertanya tentang bagaimana cara keluar dari tempat itu, dan Diggi dengan senang hati memberitahukan tentang daerah rawa itumeski dengan kata-kata lambat dan diselingi tatapan kosong. Tempat ini luas hingga ke selatanhuhg, di bagian hilir Sungai Rinduin. Agak naik ke barat ada tanah-tanah berumput yang dibenci mereka, kalian akan sampai di tempat manusia, seperti kalian di sana, di HrettaDiggi mendengar ada orang bijak di sanadesis dedaunan samar terdengarhuhg, tapi Diggi tak begitu mengerti Bahasa Daunkalau kalian ingin keluar dari rawa, ikuti saja Sungai Rinduin sampai di jembatan sana itu lebih aman, daripada kalian harus melewati selusin mereka, bisik Diggi. Siapa mereka yang kau maksud itu? kata Rayya penasaran. Diggi memandang berkeliling, mereka yang dibenci kalian, dan mereka membenci kalian, bisiknya agak keras, Diggi takut mengatakannya. Ya, baiklah, aku tak memaksa. Diam-diam Villian berbisik pada Rayya, kau tahu siapa mereka? Rayya mengangguk, goblin.

Susah payah, Rayya dan Villian mengikuti Diggi melompat melewati tumpukan-tumpukan batang pohonhal yang mudah bagi Diggi tapi sangat sulit bagi kedua manusia. Sepanjang mata memandang hanya ada air, rumput dan beberapa pepohonan. Rupanya, Diggi sangat mengenal daerah itu. Sambil berjalan, Diggi memberitahu beberapa hal tentang tempat itu pada Rayya dan Villian. Ada banyak lemuria di sana, juga di sana. Daun-daun di sana berbau asam dan pahit. Tapi kalian bisa menemukan patchouli dan sabdariffa di sana. Jangan sampai tersesat ke timur, air besar di sana menunggu di balik tebing-tebing terjal. Beberapa kumbang dan serangga melompat menghindar ketika mereka lewat. Mereka berjalan terus menembus hutan, melewati tanah lembab yang tertutup

dedaunan. Ada jejak goblin di tanahkelihatan dari bekas tapak sepatu mereka yang berujung lancip, menuju ke arah barat. Mereka melewati tempat ini lagi huhg, dengus Diggi. Lalu air mulai menipis dan beberapa yard kemudian, tanah mulai mengeras. Lalu barisan hazel mulai tampak di depan mereka dan tak jauh kemudian, padang rumput luas terbentang di depan mereka.

Habad adalah sebuah dataran rendah, yang terbentang sepanjang dua puluh lima league dari Perbukitan Emyn Galen di Selatan, menurun hingga ke pesisir Pantai Utara dan Teluk Habad. Daratan ini juga sering disebut Pesisir Timur Laut. Tempat dimana banyak penduduknya sebagian besar menjadi nelayan dan petani ikan. Yang paling ramai adalah Karotte, kota pelabuhan di sisi barat Teluk Kabad. Selain itu juga ada Hretta, di sisi timurnya dan juga Haron di pesisir timur yang mengarah ke Amrnluingaer. Menurut sejarahnya, Habad adalah tempat yang pertama kali menjadi tujuan bangsa peri, ribuan tahun yang lalu. Sisa-sisa peradaban yang ditinggalkan bangsa peri masih terlihat di sekitar Jalan Besar Waycall, yang menghubungkan Habad dengan Sagresia. Selama ratusan tahun berselang, Habad juga menjadi tempat persinggahan bangsa-bangsa pengembara; Nabatean, Averian, Quimmerian, Lalafella dan ada juga cerita-cerita bahwa kaum penyihir sempat mempunyai tempat tinggal di dekat Haron. Tak heran apabila sekarang ini, masih banyak penyihir yang berkeliaran di Habad, entah dalam perjalanan mereka atau urusan-urusan mereka yang sulit dijelaskan. Beberapa rombongan kurcaci kadang terlihat di sekitar Waycall, tapi urusan mereka selalu bisa ditebak; mereka mencari tempat yang bisa digali dan ditambang di sekitar Emyn Galen. Di bagian selatan, tempat dimana seluruh daratan naik menjadi bagian Emyn Galen, terdapat tanah bukaan yang cukup luas sepanjang dua puluh league, yang ditumbuhi bunga-bunga putih. Tempat itu disebut Pant-o-ailinon, yang menjadi tempat berlangsungnya Festival Bunga tiap tahunnya. Di tempat itulah para pemusik dari seluruh negeri berkumpul dan menggelar acara. Pesta Dansa, Pesta Masak, Pasar Makanan Tradisional dan gadis-gadis cantik yang menjual bunga dan membawa panji-panji; SELAMATKAN BUNGA-BUNGA, meramaikan tempat itu di bulan September setiap tahunnya. Selain terkenal dengan nelayannya, Pelabuhan Karotte dan Festival Bunganya, Habad juga terkenal dengan pasukan pesisir-nya, Habader. Laki-laki pemberani yang berasal dari Karotte diberi gelar ksatria oleh Raja. Demi menjadi Pasukan

Pelindung Daerah Pesisir dari serangan bajak laut maupun bangsa asing. ksatriaksatria ini bersumpah setia pada Raja Agung Sagresia dan memiliki kekuasaan mengatur keamanan di Habad. Wah, panas sekali, Villian mendongak memandang matahari yang bersinar cerah di atasnya. Diggi memandang keheranan. Sekarang kemana tujuan kita? kata Villian. Rayya teringat, Angladf mendapat tugas untuk membawa mereka ke Tanah Berkabut. Tapi kini mereka terpisah dengan Angladf dan yang lain, terutama adik-adiknya. Dia tak tahu bagaimana nasib ketiganya, tapi ia yakin, pasti mereka baik-baik saja, karena ada Tirius dan yang lainnya. Kita ke Karotte, siapa tahu kita bisa mendapatkan perbekalan dan berita tentang Isilharan, kata Rayya memutuskan. Baiklah, jawab Villian. Rayya memandang Diggi si Manusia Ranting, yang saat itu sedang merasakan rumput di dekat kakinya. Terima kasih banyak Diggi, kau sudah mengantar kami keluar dari rawa. Diggi memandang Rayya, Tak apa-apa manusia, Diggi senang melakukannya. Diggi melihat sesuatu di wajah manusia, entah apa, Diggi gelenggeleng kepala, berusaha menyembunyikan apa yang dirasakannya, lalu mendengus lagi. Apapun itu, pokoknya terima kasih buat Diggi, kata Rayya. Diggi meringis.

Mereka pun berpisah, Rayya dan Villian berjalan menuju Hretta, desa terdekat di sebelah barat Taunalagos. Sementara Diggi memandangi mereka di kejauhan, cukup lama, hingga akhirnya melesat kembali ke dalam hutan. Manusia Ranting itu mengetahui sesuatu tentang Ramalan, batin Rayya. Dan ia teringat katakata Angladf, bukan mungkin di Rnegard ini takdirnya akan lebih jelas. Sewaktu di kapal, Angladf mengatakan bahwa mereka akan mendarat di Karotte. Jadi mungkin mereka bisa bertemu lagi kalau dia dan Villian juga pergi ke Karotte. Tapi dia juga teringat tujuan mereka sebelumnya; Eluenmyrra, negeri Kaum Peri. Tapi Rayya sama sekali tak punya petunjuk bagaimana menemukan tempat itu. Maka dia pun memutuskan untuk pergi ke Hretta terlebih dahulu. Dari sana, dia akan berusaha mencari angkutan untuk pergi ke Karotte, yang berarti tinggal

menyeberangi Teluk Pieta. Dia mengatakan rencananya pada Viliian, yang langsung menyetujuinya. Aku setuju, kita mungkin akan bertemu dengan mereka di Karotte, kata Villian optimis.

Jarak Taunalagos dengan Hretta tidaklah terlalu jauh, sekitar tiga sampai empat jam berjalan kaki melewati dataran berumput heather yang terbentang setelah menyeberangi Rinduin. Jauh di sebelah kanan mereka, di balik hutan-hutan yang mengelilingi Taunalagos, mereka melihat kepulan asap. Mungkin itu perkemahan goblin, seperti yang diceritakan awak kapal Isilharan. Mereka menebang pohon dan membakar kayu-kayunya untuk memasak dan senjata. Burung-burung hitam tampak melayang di kejauhan, sementara di dekat mereka, kelinci-kelinci putih bermunculan dari dalam tanah: mengendus-endus, sebelum akhirnya kembali masuk ke liang mereka. Burung putih kecil keluar dari semaksemak ketika Rayya dan Villian berjalan menembus rerumputan, berusaha menemukan jalan setapak yang mungkin digunakan. Tapi Taunalagos adalah tempat yang jarang didatangi, kecuali beberapa pencari kayu. Jadi tak ada jalan setapak permanen yang menghubungkan tempat itu dengan Hretta.

Hretta adalah sebuah desa kecil yang juga menjadi pusat perdagangan di Habad, selain Karotte. Desa ini memiliki dermaga yang cukup besar, menghadap ke Teluk Kabad, berseberangan dengan Karotte. Selama lebih dari 10 tahun belakangan, Hretta menjadi lebih ramai didatangi orang-orang: pedagang, pencari kerja, pengembara dan orang-orang yang kemudian menetap di sana. Hretta pun tumbuh menjadi desa yang ramai. Sore harinya, dua anak itu sampai di pinggiran Hretta. Ada kesibukan luar biasa yang terjadi di salah satu pondok. Beberapa laki-laki dewasa membawa pentungan, kapak dan pedang, sedang berkumpul. Salah satu dari mereka melihat kedatangan Rayya dan Villian, dan laki-laki itu memanggil mereka berdua. Hei, kalian berdua, seru laki-laki itu memanggil Rayya dan Villian agar mendekat. Rayya dan Villian mendekatinya, sementara laki-laki yang lain berdiri dan mengawasi. Siapa kalian? Kalian bukan anak-anak sini, tanya laki-laki itu.

Namaku Rayya, dan ini Villian, kami dari Maglavar, kata Rayya, kapal kami terkena badai, dan kami terpaksa berjalan ke sini, ijinkan kami menginap di desa. Maglavar? kata seorang laki-laki berhidung bengkok, sepertinya pernah ku dengar nama itu. Tunggu, sepertinya itu yang dikatakan Aramir, kata laki-laki yang lain. Yaa yaa.. aku dengar Aramir menyebut nama itu, kata yang lainnya lagi. Bawa saja ke Aramir, usul yang lain. Ya aku setuju! seru yang lain lagi menyetujui. Laki-laki berhidung bengkok yang tadi memanggil Rayya dan Villian kemudian berkata; Kalau kalian benar dari Maglavar, maka kalian harus menemui Aramir, laki-laki itu menunjuk sebuah rumah, tak jauh dari tempat mereka berkumpul, pergilah ke Rumah Besar. Rayya dan Villian menurut. Mereka bergegas menuju ke rumah itu. Aramir? Apakah kita pernah mendengarnya sebelumnya? Bukankah itu nama teman Angladf? kata Villian. Kurasa ya. Angladf pernah mengatakannya di atas kapal, jawab Rayya.

Rumah Besar yang dimaksud adalah sebuah rumah kayu berukuran besar dan luas, yang mungkin sering digunakan sebagai tempat pertemuan atau acara-acara penting di desa. Bagian depan rumah itu dipenuhi oleh beberapa orang bersenjata; laki-laki dewasa, dan beberapa remaja yang sudah mampu memegang dan menggunakan pedang. Beberapa yang lain sibuk membuat anak panah dan perisai kayu. Rayya bertanya pada seorang laki-laki tua yang sedang mengasah pisau. Dimana kami bisa bertemu Aramir? Laki-laki itu menunjuk ke dalam. Rayya dan Villian kemudian masuk ke dalam, dan memandang ruangan itu, yang saat itu dipenuhi beberapa orang yang berbaring sakit dan terluka, juga beberapa perempuan yang merawat mereka yang luka-lukaRayya langsung bisa menemukan Aramir. Dia mirip sekali dengan Angladf maupun Galfagar; laki-laki tua berambut panjang dan berjenggot, bedanya, rambut Aramir diikat di ujung bawahnya menggunakan tali yang sepertinya terbuat dari kulit pohon. Jubahnya yang kelabu panjang tampak kotor di beberapa tempat. Tapi aura kebijaksanaan yang terpancar di wajahnya tak meredup sedikitpun. Aura yang hanya dimiliki oleh para penyihir. Dia memegang tongkatnya, yang terbuat dari oak.

Rayya mendatanginya dan mengangguk. Salam, benarkah anda yang bernama Aramir? Laki-laki tua itu balas mengangguk dan tersenyum, Mae govannen, kalian benar sekali anakku. Akulah Aramir putra Sabram dari Sarca. Apa yang bisa kulakukan untuk kalian anak-anakku? Namaku Rayya, dan ini temanku Villian. Kami berasal dari Maglavar, jawab Rayya. Mendengar kata Maglavar, Aramir tampak terkejut. Dia bangkit memegang bahu Rayya, Maglavar! Kalian bersama Angladf? Ya, jawab Rayya. Aaye, yallume! Creoso abaramin, mellon en mellonamin, seru Aramir. Maaf, aku tak bisa menjemput kalian. Urusanku terlalu banyak di sini. Lagipula Galfagar mengatakan bahwa dia yang akan menjemput kalian, agar dia sendiri tahu apa yang belakangan ini menjadi pikiran Istakir. Tapi, sudahlah, sekarang dimana Angladf? Rayya menunduk, Sayangnya kami terpisah dengannya. Badai tiba-tiba menyerang kami, dan dua ular laut yang ganas muncul dan menyerang kapal Gellert. Lalu kami terpisah dan terbawa gelombang hingga sampai di Taunalagos. Kami berencana pergi ke Karotte. Jangan kesana anak-anak! larang Aramir dengan nada tajam, jalan ke Karotte kini di bawah kekuasaan Ksatria Hitam. Dan banyak goblin berkeliaran; keluar masuk melewati Waycall, kejahatan dan kegelapan kini banyak di luar sana, memecah belah kita. Tapi kami harus bertemu Angladf dan yang lain di sana, bantah Villian. Tentu saja, jawab Aramir, tapi tadi kalian mengatakan bahwa kalian terpisah karena diserang ular laut? tanya Aramir. Ya, dua ular laut, kata Rayya, kami menaiki kapal Isilharan milik Gellert. Tapi di tengah pelayaran, kami diserang ular laut. Ular laut di Forogaer itu terlalu aneh, kata Aramir, tak seharusnya ada ular laut di Laut Utara. Apa yang dicemaskan Amrudil benar-benar terjadi. Siapa Amrudil? tanya Villian, sepertinya aku pernah dengar Angladf membicarakannya dengan Gellert dan Pak Tua. Amrudil, kata Aramir, penyihir yang dijuluki Sahabat Bangsa Timur. Bersama dengan Istakir, Galfagar, Angladf dan Ranulf, mereka dijuluki Ithryn Leben, atau Dewan Lima Penyihir; kelompok penyihir terhebat yang ada di Rnegard ini.

Amrudil merasa, bahwa akhir-akhir ini banyak keanehan di Rnegard ini; hal-hal yang tak semestinya terjadi, hal-hal yang di luar kewajaran; hal-hal yang tidak biasa. Dia khawatir bahwa musuh ada di depan dan di belakang kita. Aku tak begitu jelas dengan maksudnya, tapi dia tampak sangat gelisah ketika mengatakannya. Dia salah satu dari Elean yang terhebat, Hodoerea. Angladf juga pernah mengatakannya, kata Rayya, menurutnya, memang ada hal-hal aneh yang terjadi akhir-akhir ini. Darimana kau tahu? tanya Villian. Aku mendengarnya, ketika malam hari kita menginap di bawah Thunderhill, jawab Rayya. Ya, aku yakin Angladf pun berpikiran sama. Dua orang itu memang mempunyai kesamaan pandangan, kata Aramir. Jadi kalian terpisah di Laut Utara, dan kalian sekarang berencana pergi ke Karotte? kata Aramir kemudian. Ya, itu tujuan Angladf ketika kami masih di kapal, jawab Rayya. Tapi sangat berbahaya pergi ke Karotte saat ini, seperti yang tadi ku katakan, kata Aramir, apakah kalian tidak punya tujuan lain? Rayya terdiam. Dia ingat bahwa Angladf berniat membawa mereka ke Eluenmyrra. Dia hampir mengatakannya, ketika Aramir berkata; Pergilah ke Eluenmyrra, kata Aramir sambil tersenyum, seperti bisa membaca pikiran Rayya. Eluenmyrra? Dimana itu? tanya Villian. Aramir menjawab; Tenggara. Pergilah ke sana. Aku tahu apa yang kau sembunyikan, Putra Reis. Aku yakin Angladf pun pernah memberitahumu, karena itu memang tugasnya. Pergilah ke sana. Itu adalah takdirmu. Tapi kami tak tahu letaknya. Angladf tak pernah memberitahuku, kata Rayya. Tunggu dulu, aku tak tahu tentang Eluenmyrra. Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan? kata Villian bingung. Tak seharusnya aku memberitahu tentang keagungan dan keindahan Eluenmyrra. Biarlah kalian sendiri menyaksikannya dengan mata kalian sendiri. Tapi aku akan memberitahu jalannya. Tapi meskipun begitu, jalan itu sulit untuk ditemukan. Hanya orang-orang yang memang berniat menemukannya, dengan niat yang tulus dan kemantapan hati yang mampu menemukan jalan itu, jelas Aramir.

Pergilah ke Tenggara, di bagian dimana Emyn Galen bermula. Kalian akan menemukan Desa Haron, di kaki Bukit Hijau. Pergilah mengikuti jalur yang ditempuh oleh para pencari dedaunan. Jika kalian tiba di puncak Bukit Hijau pada pagi hari, ikutilah jalur cahaya yang ditunjukkan matahari, pohon willow dan bunga iris-sword akan menunjukkannya pada kalian. Jika kalian mampu membaca tanda-tanda itu, kalian akan menemukan jalan itu. Ikutilah hingga ke selatan, mendaki bukit-bukit Emyn Galen, melewati ngarai dan jurang-jurang, lalu sampai di puncak Hthilien. Sampai di sana, temukanlah jalan ke Tenggara, menurun melewati Tunrn. Kemudian kalian akan sampai di Eluenmyrra. Temuilah Aurel, pemimpin tertinggi kaum peri di Izlamaril. Aku yakin semua kegelisahan dan kebingunganmu selama ini akan terjawab. Kaum peri? kata Villian, apa maksudnya? Itulah tujuan kalian, kata Aramir, aku yakin Angladf pun mempunyai rencana demikian. Begitukah? kata Rayya, lalu bagaimana dengan adik-adikku? Merekacepat atau lambatakan menyusulmu. Angladf pasti memberitahu mereka, ataupun kalau mereka terpisah, aku yakin mereka akan tahu. Di sekitar Laut Utara ini, teman-teman Angladf banyak berkeliaran; penyihir ataupun Penjaga Hutan yang juga tahu tentang misi ini. Aku yakin, kalian semua nantinya akan bertemu di Eluenmyrra, kata Aramir, tapi nasehatku; hati-hatilah di Emyn Galen. Kenapa? Ada apa di Perbukitan itu? tanya Rayya. Emyn Galen mempunyai banyak goa dan lorong-lorong bawah tanah yang membingungkan. Goblin dan troll banyak berkeliaran di sisi baratnya, menunggu orang-orang yang melewati Waycall dan merampoknya. Tapi mereka bersembunyi di dalam tanah, di dalam lorong-lorong bercabang yang gelap, yang banyak di perut bukit. Dan disana juga ada desas-desus tentang Kaum Bawah Tanah yang liar. Tak ada yang tahu lebih banyak tentang Emyn Galen, bahkan para penyihir, karena tempat itu memang bukan untuk kami. Angladf dan Istakir pernah beberapa waktu masuk ke lorong-lorong itu, tapi selebihnya aku tak tahu. Para peri sangat menjaga wilayah mereka, maka mereka membiarkan daerah di sekitar negeri mereka menjadi tanah liar. Hanya Waycall, yang merupakan Jalan Besar Utama yang

menghubungkan tempat-tempat di Rnegard yang benar-benar aman, meskipun tidak sepenuhnya. Jadi ku sarankan, hati-hatilah kalian saat sampai di Emyn Galen.

Bawalah perbekalan yang cukup dan peralatan yang kalian butuhkan, kata Aramir memberi nasehat.

Rayya dan Villian pun akhirnya menghabiskan sisa hari itu untuk menyiapkan perbekalan. Aramir berbaik hati memberi mereka dua tas ransel yang meskipun sudah usang, tapi berukuran besar, yang mereka gunakan untuk membawa persediaan makanan, termasuk juga beberapa mantel dan obat-obatan. Seorang laki-laki penduduk desa membuatkan dua bilah pedang untuk berjaga-jaga dalam perjalanan, dan seorang wanita tua telah membuatkan masakan untuk mereka. Mereka makan malam bersama penduduk desa yang lain, yang dihantui kecemasan dan ketakutan ketika malam merayap perlahan, menyelimuti desa. Sepertinya semua penduduk desa sudah di evakuasi ke Rumah Besar dan dua rumah di sisi kanan-kirinya. Kaum wanita, anak-anak dan orang tua berkumpul di rumah bagian kiri, bertugas memasak dan menyiapkan perbekalan-perbekalan. Sementara kaum laki-laki dewasa, berjaga-jaga di sekitar rumah. Aramir berkeliling memeriksa tempat itu, ditemani beberapa laki-laki dewasa bersenjata, mengecek setiap tempat dan sudut-sudut, mengawasi jalan dan berharap sesuatu yang menakutkan muncul dan bisa menjadi sasaran tembak. Belakangan Rayya mengetahui situasi tempat itu dari seorang wanita tua. Beberapa hari ini, goblin-goblin menyerang desa kami. Dibantu troll dan Manusiamanusia Bertopeng dari Selatan. Mereka merampas makanan dan menculik anakanak kami. Mereka juga membakar dan menghancurkan desa. Untunglah Aramir cepat datang ke sini. Dia sangat membantu, mendirikan pertahanan dan memberi perintah pada orang-orang untuk berjaga-jaga. Kami tak tahu alasannya, kenapa goblin-goblin itu menyerang desa ini. Beberapa hari yang lalu, mereka sudah menjarah Haron. Akhir-akhir ini memang mereka banyak bermunculan dimanamana; merampok, menjarah dan menghancurkan desa-desa. Kejahatan di manamana. Entah apa yang terjadi di Sagresia. Para ksatria sepertinya tidak lagi peduli pada wilayah yang harus dijaganya. Raja dan bangsawan sepertinya telah lupa dengan rakyatnya. Sejak kematian Raja, keadaan tiba-tiba menjadi kacau begini, jelas wanita tua itu. Sambil bersedih. Dia telah kehilangan cucunya beberapa hari sebelumnya. Malam itu, Rayya dan Villian mencoba untuk tidur, tapi selewat tengah malam, mereka dikagetkan oleh suara-suara teriakan. Di bagian utara desa terjadi

kebakaran. Serombongan goblin berusaha masuk ke desa dan membakar beberapa rumah di perbatasan desa. Orang-orang pun berlarian membawa senjata. Rayya dan Villian mengikuti mereka. Aramir dan beberapa orang desa tengah berperang dengan goblin-goblin yang muncul dari gang gelap. Mereka berusaha menjarah persediaan makanan, beberapa pengintai memergoki mereka. Orang-orang pun berdatangan dan menembaki monster-monster itu dengan panah. Usir mereka! Jangan sampai mendekati Rumah Besar, seru Aramir. Dia memukulkan tongkatnya ke tanah dan mengirim gelombang kejut ke arah goblingoblin yang segera berjatuhan ke tanah. Rayya dan Villian hanya mampu memandangi pertempuran itu, dari balik reruntuhan sebuah rumah. Ternyata keadaan di luar sangat mengerikan. Untung selama ini kita tinggal di Maglavar, kata Villian. Ya, tapi mungkin Maglavar pun sekarang keadaannya juga seperti ini, atau malah lebih buruk lagi, sahut Rayya. Mereka pun memutuskan untuk membantu orang-orang yang lain,

memadamkan api agar tidak merembet hingga mengenai rumah-rumah sebelahnya.

Menjelang pagi, serangan berhenti. Goblin-goblin telah melarikan diri dan kembali ke tempat persembunyian mereka. Orang-orang berhasil memadamkan api. Tak ada korban jiwa dalam perang itu, tapi banyak orang terluka karena pedang dan gigitan goblin, serta luka bakar karena api. Mereka pun dirawat di Rumah Besar. Aramir mendekati Rayya dan Villian, dan mengatakan bahwa semakin cepat mereka berdua meninggalkan desa, maka mereka akan selamat. Aramir berencana akan memimpin orang-orang desa yang selamat menuju ke Sagresia. Kalau begitu biarkan kami ikut ke sana, kata Villian. Tidak, anak muda, kata Aramir menolak, takdirmu bukan ke Barat, melainkan ke Tenggara. Temani Rayya ke Eluenmyrra. Takdir? Bagaimana bapak tahu? tanya Villian agak kesal. Aramir tersenyum, Itu tergambar di wajahmu.

BAB VII Padang Nanlustan


Saat ular laut meremukkan Isilharan menjadi berantakan, badai menghantam Rava, Reva, Runa dan Brenda yang saat itu berdiri di tepi pagar samping kapal. Gelombang melemparkan mereka hingga ke barat. Untungnya Brenda berhasil meraih potongan papan dari pecahan dek Isilharan. Bersama Rava dan Reva, mereka pun akhirnya berpegangan pada papan itu dan berharap menemukan yang lain. Tapi badai menutupi pandangan mereka ke segala arah dan pakaian mereka basah kuyup. Di sisi kiri mereka, di arah timur, sempat terlihat kilatan cahaya, dan Runa berkata; mungkin itu berasal dari tongkat Angladf. Tapi Rava dan Brenda tak yakin apakah itu benar. Mereka semua takut pada kepala-kepala ular laut yang mungkin tiba-tiba saja muncul dari bawah mereka. Mereka pun akhirnya terjebak dalam badai yang mengombang-ambingkan mereka dan bergerak dengan cepat ke arah barat, semakin menjauh dari Isilharan. Rava hampir tak ingat lagi, berapa lama mereka terhanyut mengikuti arus gelombang. Mereka melihat fajar pagi, setelah malam yang rasanya lama sekali, dan terpesona, ketika melihat sinar merah yang berubah keemasan muncul dari belakang mereka. Sinar itu perlahan-lahan naik dan berubah menjadi warna-warna merah, lalu kuning emas, dan mereka melihat seluruh permukaan laut menjadi berwarna sama. Langit tanpa awan dan di horizon tampak warna-warna emas dan merah menyatu, seakan-akan mereka sedang terapung-apung di lautan emas. Lalu matahari tampak mengintip di horizon Timur, membagikan sinarnya yang hangat ke punggung anak-anak itu. Reva berpendapat bahwa seharusnya mereka bisa berenang ke selatan, dan mungkin akan sampai ke Karotte, seperti yang direncanakan Angladf dan yang lain. Tapi arus tetap memaksa mereka ke barat. Lalu setelah dua jam lebih berlalu, dan mereka masih terapung-apung di laut, tibalah saat-saat yang menyakitkan. Matahari yang naik tinggi, kini mulai terasa panas membakar. Begitu juga dengan udara di sekeliling mereka. Belum lagi air laut yang membuat kaki mereka kebas. Beruntung papan itu cukup kuat untuk dinaiki empat orang, jadi mereka tidak lagi terendam, dan mereka memakainya sebagai rakit. Tapi rasa lapar segera menyerang mereka, padahal tak ada yang bisa

dimakan. Runa bahkan hampir pingsan, menahan panas dan nyeri di perutnya. Brenda mengkhawatirkan mereka akan terkena dehidrasi. Tapi kemudian daratan mulai terlihat di depan. Pantai yang luas, biru dan berpasir. Gelombang berubah menjadi ombak pelan, mengantarkan mereka mendekati bibir pantai. Begitu mereka mencapai daerah yang cukup dangkal, Rava dan Reva langsung melompat dan berlari ke arah pantai. Tempat itu luas dan datar, terbentang sepanjang hampir tujuh puluh league dari utara ke selatan. Pantainya yang berpasir putih tampak menyenangkan. Tapi pantai itu sangat sepi dan sunyi sekali. Sesekali kawanan burung putih menukik turun, mengais-ngais pasir lalu kembali terbang setelah mendapatkan udang atau kepiting. Dari pantai berpasir, tanah mulai naik menanjak setelah dua puluh yard dan berubah menjadi padang rumput heather dan semak-semak ilalang hingga seluas mata memandang. Beberapa pohon seperti alder tampak tumbuh jarang-jarang di beberapa tempat. Tapi sesungguhnya sangat sulit untuk mengamati tempat itu lebih detil lagi. Karena setiap kita memicingkan mata untuk melihat obyek yang ada di tempat itu, seakan-akan ada kabut yang menutupi dan membuat kepala kita pusing jika lama-lama menatapnya. Seperti ada kekuatan yang aneh di tempat itu. Sementara jauh di Selatan, tampak hutan yang samar-samar mulai mendaki hingga jauh ke Selatan, menuju pegunungan yang tinggi sekali di Selatan. Sementara tak jauh dari tempat anak-anak itu, sepertinya tampak sebuah reruntuhan bangunan batu di sebelah utara. Itulah reruntuhan kuil Gamathak, sisa-sisa dari peradaban Gamathel yang masyhur. Dimana ini? kata Reva, dia agak takut dengan kesunyian tempat itu, karena tempat itu memang begitu sunyi, seperti tak ada kehidupan, selain rumput heather yang bergoyang pelan tertiup angin. Tempat ini dinamakan Nanlustan, kata Brenda, Dataran Tenang. Jadi kita terdampar jauh sekali sampai ke sini, kata Rava. Berarti kita jauh sekali dari Karotte, kata Reva. Kalian benar, jawab Brenda, arus membawa kita jauh sekali. Dia kemudian naik ke tanah yang lebih tinggi, mengamati bangunan batu yang nampak di kejauhan. Tempat itu seperti sebuah kuil, sepertinya cukup aman. Kita bisa beristirahat dan bermalam di sana. Tapi tanpa makanan? kata Rava.

Mereka pun memutuskan untuk beristirahat sebentar di dekat salah satu karang. Mereka melepas pakaian mereka yang basah dan menjemurnya di atas batu. Rava berjalan ke arah pohon alder terdekat, dan mengamati sekitar tempat itu. Suasana yang begitu tenang dan aneh memang menyelimuti seluruh tempat itu. Dia jadi berpikir, apakah ada yang tinggal di tempat aneh seperti ini. Dia menanyakan hal ini pada Brenda. Brenda hanya mengangkat bahunya. Matanya hanya menatap jauh ke arah reruntuhan yang samar-samar tampak damai. Lalu ia melihat seseorangatau lebih tepatnya sesuatu di sana. Apa itu? tanya Runa tercekat. Entahlah, tapi sepertinya bukan sesuatu yang buruk, kata Reva. Kita ke sana, kata Rava memutuskan. Dialah satu-satunya laki-laki di saat itu, dan laki-laki sudah seharusnya menjadi pelindung dan pemimpin perempuan. Brenda tersenyum, dia teringat Rayya. Kakak-beradik ini memiliki sifat yang hampir sama, dan dia tahu sudah lama, bahwa Rava bisa diandalkan. Dia sudah sering mendengar cerita tentang Rava dari ayahnya, dan dia tahu bahwa Rava selalu menjadi harapan bagi Tirius dan yang lain. Langit cerah dan angin bertiup pelan. Ada bau manis yang samar-samar dibawa angin, sementara sekitar tempat itu benar-benar sepi, dan keempat anak itu merasa asing. Mereka berempat kemudian berjalan perlahan menuju ke arah reruntuhan. Pandangan mereka terus mengawasi sesuatu yang samar-samar bergerak-gerak di sekitar reruntuhan. Pohon alder tumbuh rapat di sisi selatan dan ilalang di sekitar tempat itu cukup tinggi, dengan campuran heather dan broom yang tumbuh liar. Mereka menemukan bunga-bunga kecil berwarna putih di antara kaki-kaki mereka, juga beberapa tumbuhan yang daunnya bisa digunakan sebagai herbal. Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah cukup dekat dengan reruntuhan dan akhirnya mereka melihat apa yang terlihat bergerak-gerak dari kejauhan. Ternyata itu adalah kain-kain yang di ikatkan pada tonggak kayu dan berkibar-kibar tertiup angin. Ternyata hanya kain, kata Reva, tapi siapa yang memasangnya di sini?

Reva melihat ke sekelilingnya. Banyak benda-benda aneh berserakan di sekitar mereka; rompi baja yang koyak, tas-tas hitam dan patahan pedang bengkok. Ini sisa-sisa perang yang tempo hari di ceritakan Angladf, kata Rava. Kuil yang ada di depan mereka, dibangun dari batu-batu besar kotak yang disusun sedemikian rupa hingga menjadi bangunan tinggi persegi dengan puncaknya berbentuk seperti panggung. Beberapa tumpukan batu berserakan di sekitar tempat itu. Kuil itu sangat besar, berukuran kira-kira 80 x 80 meter, dengan delapan tiang kokoh di setiap sudut dan sisi-sisinya berdinding rendah. Sebuah kriya hebat manusia yang telah runtuh dimakan zaman, hasil dari sisa-sisa peradaban masyhur yang terlupakan. Bagian lantainya juga terbuat dari batu-batu besar datar yang diletakkan dan diatur sedemikian rupa. Tepat di tengah ruangan, terdapat altar dengan patung burung yang sangat besar di atasnya dan terbuat dari batu hitam. Bentuknya mirip elang raksasa, tapi dengan ekor yang panjang. Matanya tajam mengawasi depan dan paruhnya sedikit terbuka. Tapi salah satu sayap burung itu rupanya patah dan serpihannya berserakan di lantai. Semua yang ada pada bangunan itu mengungkapkan seberapa jauh arsitektur itu adalah suatu seni primitif. Demikian pula Gamathak memperagakan bahwa dari hasil karya arsitektur itu sulit dibedakan apakah itu hasil karya perorangan atau hasil karya masyarakat, malah lebih bisa dikatakan sebagai hasil pekerjaan suatu bangsa, dalam hal ini orangorang Gamathel, ketimbang penemuan para jenius; karena memang kebanyakan yang terjadi adalah, para pelaku individu dan perancang suatu bangunan besar yang bersejarah, terkadang hilang dan dilupakan orang, hingga hasil karya mereka hanya di akui sebagai hasil karya bangsa itu. Gelombang waktu dan struktur dalam masyarakat terkadang membantu menciptakan kondisi seperti itu. Berbeda dengan patung burung yang telah mulai merapuh itu, yang sebenarnya adalah simbol dari kepercayaan tertentu suatu lapisan masyarakat dalam bangsa Gamathel kuno. Simbol itu juga merupakan refleksi religius dari nilai dan tatanan masyarakat pada masa itu, yang mungkin telah mulai pudar dimakan zaman. Burung apa ini? kata Runa berdiri di depan patung itu. Rava dan Brenda berdiri di belakangnya. Aduragrumis, jawab suara berat di belakang mereka. Rava segera berbalik, di ikuti Brenda, Reva dan Runa yang terkejut. Siapa kau? tanya Brenda pada sosok yang berdiri di depan mereka.

Seorang lelaki berdiri di luar kuil, sedikit tersembunyi di balik dinding. Rambutnya panjang kecoklatan dan matanya juga berwarna coklat. Laki-laki itu mengenakan pakaian hitam seperti yang biasa dipakai pengembara. Sepatu bootnya tampak kotor karena lumpur. Laki-laki itu juga menyandang sebilah pedang besar di belakang pinggangnya. Dia mengawasi keempat anak yang berdiri di depan patung dengan pandangan tajam, dan tersenyum. Namaku Targar. Aku sudah lama menunggu kalian di sini, kata laki-laki itu. Menunggu? kata Rava, memangnya siapa kau sebenarnya? Aku berasal dari Tol drim. Kalian melewati tempatku sepuluh tahun yang lalu, waktu Angladf membawa kalian ke Sutri, jelas Targar, mendekati anak-anak itu. Kau sudah tahu kami sebelumnya? tanya Reva. Ya, jawab Targar, aku di utus oleh Amrudil untuk mengikuti Angladf. Aku mencarinya di Sirila dan kehilangan jejaknya di Ford Ering. Informasi tentang kalian sangat sedikit. Aku tak tahu kalau kalian keluar Maglavar tanpa melewati Winyaway. Aku pun menunggu di Elmina, dan aku melihat kalian di Blue Bear. Sejak itu aku mengikuti dan mengawasi kalian dari jauh. Lalu aku lihat kalian sudah ada di kapal Gellert, dan berlayar ke Forogaer. Lalu kenapa kau bisa sampai di sini lebih dulu? tanya Reva. Aku mengikuti kalian dengan perahu yang kutemukan di pinggir sungai Ellowine, atau lebih tepatnya, perahu yang ditemukan kakak kalian, Rayya. Badai menghantam perahuku yang kecil, dan melemparkan ku hingga kemari Jadi kau juga tahu waktu kami diserang ular laut? kata Brenda. Ya, jawab Targar, dan aku tahu siapa yang mungkin memanggil ular laut itu. O ya? Siapa? tanya anak-anak itu bersamaan. Targar tersenyum dan mengajak anak-anak duduk di salah satu sudut. Mereka pun berkumpul dan duduk di lantai. Targar kemudian bercerita tentang apa yang dilihatnya dari tempat persembunyiannya, ketika Galfagar mengangkat tongkatnya, mengucapkan katakata aneh dan sulit lalu mengirim badai. Dia juga bercerita bagaimana ia bisa lepas dari penglihatan Galfagar, dan akhirnya menyusul mereka. Dalam badai aku terus berenang dan berenang, aku yakin bahwa akhirnya aku akan mencapai daratan, dan disinilah aku, terdampar seperti kalian.

Tapi tidak mungkin Galfagar yang membuat badai itu, kata Rava tak percaya. Aku melihatnya sendiri, ujar Targar, lagipula, Amrudil sendiri sudah lama mengawasinya. Galfagar telah berubah, tidak seperti Galfagar si Bijak yang dulu. Tapi bukankah Galfagar teman Angladf, kata Runa mengingatkan, tidak mungkin dia mengkhianati temannya sendiri. Kalian mungkin tak tahu, bahwa Ithryn Leben sedang mengalami perpecahan, kata Targar. Perpecahan? seru Reva dan Brenda, apa maksudnya? kata Reva. Saat ini Ithryn Leben sudah tidak lagi seperti dulu. Persatuan Penyihir kini telah terpecah, karena masing-masing memiliki pandangan dan pengikut sendirisendiri. Yang Tiga mungkin masih bisa berjalan bersama, terutama Angladf yang memiliki pengetahuan luas tentang dunia ini, maupun Istakir yang bijaksana, dan juga Amrudil. Tapi Ranulf telah memilih jalan untuk memusatkan pikiran dan tenaganya untuk suatu kajian yang misterius di Lembah Tudor, bersama Alamar dan beberapa penyihir lain dari Klan Selatan. Sementara Galfagar memiliki pengaruh kuat di antara Ksatria Lnmahtar, dan dia memiliki ambisi yang tak pernah terpuaskan, terlebih setelah dia pulang dari perjalanannya di Emyn Nandin dan Durgandine. Dia tampak semakin bijak, kuat, namun juga angkuh dan liar. Entah apa yang ia temukan di sana. Tapi Amrudil berpendapat, bahwa mungkin saja ia berbahaya. Terlebih lagi setelah ia mendapatkan tongkat sakti yang konon adalah milik Raja Peri kuno di Rnegard, yang telah sekian lama terkubur di dalam tanah. Amrudil mengkhawatirkan Angladf, yang tahu tentang Rahasia Kuno dari perang dua puluh tahun yang lalu, akan diperdaya oleh Galfagar, mengingat Angladf sangat tunduk dan hormat sekali pada Galfagar. Rahasia apa? tanya Rava. Entahlah, aku tak tahu. Hanya para penyihir yang tahu tentang hal-hal misterius. Aku sendiri hanya diberi tugas untuk mengikuti Angladf dari jauh. Meskipun aku yakin, Angladf lebih kuat dariku. Dia pasti tahu kalau aku mengikutinya. Lalu kenapa kau bisa sampai di sini lebih dulu? kata Rava. Seperti yang sudah kubilang, aku berenang ketika badai menghantam perahuku, dan aku terbawa arus hingga ke sini, beberapa jam lebih dulu daripada

kalian, jawab Targar, sebenarnya aku juga tak menduga bahwa kalian juga akan terdampar ke tempat ini. Jadi kau menunggu dan mengagetkan kami di sini, kata Reva. Tidak juga, jawab Targar, tadinya aku ingin bersembunyi dan menjaga agar kalian tetap tak melihatku. Tapi setelah melihat prasasti di sekitar kuil ini, kurasa kalian akan butuh bantuanku, dan aku juga perlu teman seperti kalian. Lagipula, Amrudil juga berpesan agar aku juga mengawasi kalian jika seandainya kalian dalam bahaya. Bahaya? Memangnya ada apa di tempat ini? kata Rava dan Brenda. Kalian lihat patung itu, tunjuk Targar pada patung burung di tengah ruangan. Makhluk itu dinamakan Aduragrumis, atau biasa disebut Adurag. Makhluk itu adalah elang suci dalam kisah-kisah rakyat Nanlustan. Kalian tahu kenapa tempat ini dinamakan Nanlustan? kata Targar. Karena suasana tempat ini memang sepi seperti ini? Lusta bisa berarti sepi jawab Brenda. Karena tak ada manusia yang tinggal di sini, sahut Rava. Targar tersenyum mendengar jawaban anak-anak itu. Bukan, bukan itu, jawabnya. Tempat ini disebut Nanlustan karena tempat ini ditakuti oleh penghuninya. Dahulu, ini adalah tanah kutukan dimana mata kita tertipu dengan apa yang ada. Kita bisa saja melihat bahwa dataran ini begitu luas dan rata, serta kaya dengan rumput yang baik buat ternak, terutama sapi dan kambing. Tapi sebenarnya kita telah ditipu oleh penglihatan kita sendiri. Tak semua yang dilihat di tempat ini benar adanya. Banyak sekali fatamorgana yang ada di tempat ini. Ada suatu kekuatan kuno yang melindungi tempat ini dan mengaburkan penglihatan makhluk fana seperti kita. Dahulu ada manusia yang tinggal di tempat ini. Dahulu mereka membangun istana yang dinamakan Gamathel. Kuil Gamathak ini adalah salah satu peninggalan dari masa itu, Targar menunjuk sekitar kuil yang banyak berserakan puing-puing. Lalu kemana orang-orang itu pergi? Dan apa yang terjadi? Ribuan tahun yang lalu, mereka diserang oleh Angmoria, hingga rakyat negeri ini terpecah belah dan tercerai berai. Sebagian besar melarikan diri ke Selatan, hingga Gemina dan Sagresia. Sementara yang lain menyebar ke Pesisir Barat. Lama berselang, dimulailah tahun-tahun sepi di tanah ini. Jarang sekali ditemukan manusia atau makhluk hidup lain di tempat ini. Terlebih lagi dengan

munculnya kabar tentang terror Aduragrumisburung raksasa yang terbang kesanakemari untuk membalas dendam. Membalas dendam? Pada siapa? tanya Rava. Pada orang-orang yang telah merusak negeri ini. Ada kisah lama, legenda kuno, yang diceritakan turun temurun di negeri ini tentang Aduragrumis. Dia adalah makhluk suci yang di anggap sebagai pelindung para pahlawan oleh orang-orang Nanlustan kuno. Tepat sebelum Gamathak dihancurkan, seorang Summoner memanggil Aduragrumis untuk menyelamatkan negeri ini. Tapi yang terjadi, setelah itu, Aduragrumis malah menyebabkan terror bagi keturunan Kaum Nanlustan. Katamu tadi, Adurag adalah pelindung Nanlustan, kata Reva, bagaimana bisa, pelindung berbalik menjadi terror bagi yang seharusnya ia lindungi? Kau benar. Tapi lihatlah buktinya di sana, Targar membawa anak-anak itu ke salah satu dinding kuil. Di sana terpahat pada batu besar, terlihat jelas relief burung besar dengan kedua sayap terkembang. Di dadanya terdapat perisai dengan simbol-simbol kuno, dan kedua cakarnya memegang pita di sebelah kiri, dan botol ramuan di sebelah kanan. Di bawahnya terdapat pita bertuliskan: Ai eta pad Aran, Ai eta pad Noran, Ai eta Eru Halla Ontan, sebuah janji Kaum Nanlustan pada Raja, Negeri dan Tuhan mereka. Lalu di dinding berikutnya, terdapat relief, dimana burung besar itu dikelilingi oleh manusia, lalu ada juga relief seorang manusia yang seperti sedang berbicara pada burung besar itu, juga ada relief yang menggambarkan burung besar itu terbang, dan di bawahnya tampak gunung dan lembah yang terbakar. Apakah makhluk ini masih ada? kata Rava, maksudku, apakah mungkin kita akan melihatnya? Entahlah, jawab Targar. Ada kisah Adurag masih ada di sekitar Nanlustan, tapi tidak ada yang tahu pasti dimana sarangnya. Tempat ini sangat luas, datar dan menyimpan misteri yang sulit dijelaskan. Kesunyian yang ada di tempat ini terasa sangat menekan dan mengerikan. Anak-anak memandang keluar kuil, berharap akan melihat sesuatu, tapi hanya ilalang dan heather yang terbentang jauh hingga berleague-league ke Selatan. Kita aman selama masih di tempat ini, dan kurasa sebaiknya malam ini kita bermalam di sini, usul Targar. Sepertinya itu usul yang sangat baik, kata Brenda. Rava, Reva dan Runa pun akhirnya setuju.

Malam itu mereka bermalam di Gamathak. Targar berhasil menyalakan api di luar kuil, dan mereka semua kemudian berkumpul di sekitar api, menikmati udara malam yang dingin sambil menatap bintang-bintang berkedip-kedip di langit malam yang cerah. Beruntung mereka mempunyai beberapa tumbuhan gam dan ilant, yang daunnya bisa dimakan. Lalu entah dari mana, Targar membawa air yang cukup untuk persediaan mereka. Air itu bukanlah air laut yang asin, tapi air biasa. Rupanya ada mata air kecil yang keluar dari sela-sela rerumputan, tak jauh di belakang kuil. Targar berhasil menyaringnya dengan kain dan mengumpulkannya untuk mereka minum. Mereka membicarakan rencana-rencana mereka selanjutnya. Targar

mengusulkan agar mereka pergi ke Selatan. Ada sebuah desa, bernama Nanirin di

dekat Sungai Tanquild di arah Selatan. Dari sana mereka bisa menempuh jalan darat hingga ke Persimpangan Egil. Dari sana, jalan ke Sagresia sudah tidak jauh lagi. Berapa jaraknya? kata Rava. Mungkin tiga atau empat hari perjalanan, jawab Targar. Kalau kita bisa mendapatkan kereta di Nanirin, maka perjalanan akan lebih mudah dan cepat. Tapi apakah tempat itu aman? Dari ceritamu tadi, ada kisah Adurag berkeliaran di tempat ini, kata Reva. Asal kita berhati-hati dan waspada, kurasa kita bisa melewati tempat ini dengan selamat, kata Targar.

Di langit malam itu, gugusan bintang Atoqille bercahaya terang, membagi sinar-sinar jagad raya hingga ke bumi, menerangi kuil dimana anak-anak itu bermalam. Targar berjaga hingga tengah malam, berusaha menjaga api agar tetap menyala, tapi rasa kantuk yang sangat mulai menyerangnya dan tak lama kemudian dia mulai tertidur. Saat itulah tiba-tiba muncul sosok besar bersayap di atas kuil. Matanya yang berwarna merah menatap anak-anak yang tertidur. Lalu ketika Runa bergerak dan mengigau, makhluk itu segera mengembangkan sayapnya dan terbang kembali ke langit malam. Mimpi-mimpi yang menakutkan kembali mendatangi Reva. Ada suatu saat dimana dia tak memikirkan hal ini, tapi malam ini, hal itu mengusiknya lagi. Bunyi denting terus menerus dan bunyi tip-tap berirama, pelan dan teratur, terdengar samar-samar di sekelilingnya. Lalu sosok-sosok hitam itu muncul lagi dan mengelilinginya. Udara menjadi berat, sepertinya Reva ada di tengah kerumunan orang yang penuh sesak. Lalu sosok-sosok itu seperti memegang sesuatu. Pedang berkilauan di tangan mereka. Reva tercekat, dan ia tiba-tiba terbangun dari mimpinya. Reva merasa kepalanya pusing, tapi dia melihat di dekatnya, Runa dan Brenda tertidur pulas. Targar duduk tertidur di dekat api, dan sekitar tempat itu sangat sepi. Reva pun memutuskan untuk tidur kembali. Rava yang tertidur di dekat perapian juga mengalami mimpi yang sama ketika masih di rumah Tirius. Suara-suara teriakan; woo-woo, hoo-hoo, terdengar seperti dari jauh, tapi perlahan-lahan semakin jelas dan dekat. Dan Rava gelisah sepanjang malam itu. Sementara jauh di tempat lain, terbentang ratusan league, Rayya dan

Villian tengah terjebak dalam pertempuran dan hanya bisa bersembunyi di balik reruntuhan rumah di Hretta.

Pagi pun datang, membawa sinar-sinar keemasan cerah. Matahari tersenyum menerangi seluruh bumi, sinar-sinar itu dipantulkan kembali oleh embun-embun yang menempel di sela-sela heather, membuat tempat itu menjadi berkilauan dari kejauhan. Seluruh Nanlustan tampak bercahaya, berkelap-kelip indah sekali. Reva yang bangun pertama kalidisusul Brenda dan Targar, Runa, baru kemudian Rava. Udara terasa begitu menyegarkan. Angin bergerak pelan, terasa bersahabat, dan dari kejauhan terdengar kicau burung. Mereka pun segera berkemas. Ada sedikit sisa dedaunan yang mereka makan untuk sarapan dan Targar mengisi penuh semua botol yang ia miliki. Targar lalu melepaskan kain yang diikatnya di tiang, lalu memasukkannya ke dalam ranselnya yang besar. Sementara anak-anak hampir tidak membawa apa-apa karena ransel mereka ada di dalam kabin mereka di Isilharan yang kini telah ada di dasar laut. Mereka pun segera berangkat, Targar berjalan di depan memimpin mereka. Ada jalan setapak kuno tepat di tengah dataran ini. Kita akan coba mencarinya. Jalan setapak itu menuju ke selatan, hingga ke tengah daratan, yang disebut Nanirin. Di sana, di dekat Sungai Tanquild, kita bisa bermalam dan mencari perbekalan. Dari desa itu, kita bisa terus mengikuti jalan setapak yang ada hingga ke Perempatan Egil. Dari sana Sagresia sudah tak jauh lagi, jelas Targar, menjelaskan jalan yang akan mereka lewati. Daratan di depan mereka tampak sangat luas, datar dan jauh. Hanya terlihat hamparan heather dan beberapa gerumbul pepohonan di sana-sini. Di arah tenggara yang jauh, terlihat daratan mulai naik dan terlihat bayangan hutan, lalu pegunungan yang berdiri angkuh, jauh di selatan. Itulah Ered Mor, yang membentang kokoh hingga ke barat daya. Rombongan itu berjalan perlahan menembus semak-semak heather yang cukup tinggi. Sepanjang perjalanan itu, mereka menemukan banyak sekali jamur dan tanaman-tanaman asing; thistles, chickweed, dan juga bunga-bunga yang indah. Targar berhasil menangkap beberapa kelinci liar, yang kemudian mereka masak sebagai makan siang. Kita perlu makan daging untuk mengembalikan stamina, kata Targar beralasan. Tapi meskipun begitu, Runa menolak memakannya. Dia lebih

memilih makan jamur daripada daging binatang yang semasa hidup dianggapnya imut dan lucu. Mereka beristirahat di bawah sebuah pohon ek yang rindang; mereka bisa mendengar suara burung peewit dan kadang-kadang melihat elang. Mereka memandang ke Selatan, dimana dataran rumput luas terbentang, berleague-league hingga ke desa yang menjadi tujuan mereka. Mereka menghabiskan hampir sepanjang siang itu untuk beristirahat, karena udara yang panas dan sinar matahari yang terik seakan-akan membakar siapa saja yang memaksa berjalan kaki di antara semak-semak heather. Rava menggunakan kesempatan itu untuk bertanya pada Targar. Apakah benar akan terjadi perang? Kau pasti sudah mendengar kisahnya dari Angladf, jawab Targar. Rava mengangguk membenarkan. Sejujurnya aku tak tahu apa yang sedang terjadi. Yang ku tahu dari Amrudil hanyalah kisah-kisahyang mungkin sama dengan yang kau dengar dari Angladf; tentang pertanda yang hanya diketahui bangsa peri dan kaum penyihir. Dia juga menceritakan tentang Perang Mordemar tahun 1666 dan Perang Durgad tahun 1686. Juga kisah-kisah tentang dibangunnya Tembok-tembok Hitam di Moram dan bagaimana tembok itu diruntuhkan pada perang tahun 1872. Ada banyak kisah tentang manusia dan kaum-kaum yang lain yang tinggal di masa-masa itu, tapi kisah-kisah itu penuh misteri. Para penyihir selalu menceritakan kisah-kisah yang penuh rahasia-rahasia. Belum saatnya bagiku untuk memahami semua kisah-kisah itu, jelas Targar. Lalu apa yang kau lakukan selama ini? kata Reva. Aku hidup bersama kaumku di Tol drim, berdagang dan juga belajar tentang alam pada Istakir dan Ranulf. Kami mempunyai desa kecil disana, yang tenang dan damai seperti tempat asalmu, Maglavar. Kami kadang-kadang berniaga dengan mereka yang singgah di Sutrikau tahu, penyihir dan kurcaci yang sering singgah di tempat itu. Kami saling menukar kabar berita dan barang-barang, juga makanan. Percayalah, di tempatku, gastronomi berkembang pesat seperti di Maglavar. Kalian bisa menemukan berbagai macam masakan lezat dan juga kuekue enak, kalian harus berkunjung ke sana lain waktu, jawab Targar sambil tersenyum. Benarkah? kata Reva dan Rava bersamaan.

Ya, Targar terkekeh, aku yakin kalian akan menyukai Tol drim, Apakah kita akan melewatinya? kata Brenda. Tidak, kata Targar. Tol drim terletak dua puluh league ke selatan dari Sagresia. Kita tak akan berjalan sampai sejauh itu. Tapi kami harus ke Eluenmyrra, kata Rava. Semua tiba-tiba terdiam. Targar menatap tajam ke arah Rava. Apa maksudmu? Kami harus pergi ke Eluenmyrra. Itulah yang dikatakan Angladf, jawab Rava. Dari awal dia menjemput kami untuk dibawa ke Eluenmyrra, kata Reva menambahkan. Kalian pasti bercanda! kata Targar terkejut. Tempat itu tertutup kabut dan misteri di balik liarnya Pegunungan Berkabut. Makanya disebut Negeri Bayangbayang. Kita tidak akan bisa menemukannya, hanya penyihir-penyihir hebat yang bisa menemukan tempat itu. Apalagi sekarang ini makin sedikit peri-peri yang berkeliaran melakukan perjalanan. Tempat itu benar-benar tidak diketahui. Bahkan tidak sedikit yang menganggap tempat itu telah menjadi mitos. Tapi kami harus ke tempat itu, kata Reva. Targar terdiam. Tak pernah terlintas sedikit pun dalam benaknya, bahwa anak-anak ini harus pergi ke Eluenmyrra. Dia jadi penasaran, apa yang sebenarnya disembunyikan Angladf dan para penyihir, dan apa maksud Amrudil memberikan tugas ini padanya. Amrudil hanya menyuruhnya menyusul Angladf dan

membantunya sampai ke Sagresia. Tapi kini masalahnya semakin rumit. Dia tahu bahwa anak-anak ini pasti mempunyai peran penting bagi kejadian-kejadian di masa yang akan datang. Tapi menemukan keberadaan Negeri Peri, bukanlah hal mudah. Aku tak tahu bagaimana caranya menemukan tempat itu, kata Targar kemudian. Tapi mungkin di Sagresia kita akan mendapatkan informasi, atau mungkin kita bisa pergi ke tempatku, di Tol drim, mungkin nanti kita bisa bertemu seseorang yang tahu jalan ke tempat itu. Reva dan Rava pun mengangguk setuju. Boleh juga. Kurasa itu satu-satunya cara yang mungkin, kata Targar. Aku tak tahu apa yang kalian maksud dengan harus pergi ke Eluenmyrra, sepertinya itu adalah sebuah tugas yang harus kalian lakukan. Terus terang, aku tak begitu tahu tentang bangsa peri, di tempatku, kami jarang bertemu dengan peri, dan menurutku

mereka itu anggun, tapi liar dan penuh misteri. Tapi pergi ke negeri mereka mungkin akan menyenangkan.

Akhirnya mereka pun sepakat. Targar akan mengantar mereka ke Sagresia dan mencari informasi tentang bagaimana pergi ke Eluenmyrra. Lalu mereka akan pergi ke Tol drim, berharap bertemu dengan penyihir atau mungkin kaum peri sendiri di Sutri. Setelah hari mulai gelap, mereka pun memulai perjalanan lagi. Menurut perhitungan Targar, selepas tengah malam mungkin mereka akan sampai di Desa Nanirin. Mereka berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang mereka temukan di sela-sela rerumputan, dipandu oleh cahaya bulan yang redup. Targar membuat obor dan berjalan di depan, memimpin rombongan. Bintang-bintang bersinar terang di atas kepala mereka, dan bulan menerangi langit dengan cahaya redup. Gugusan Adelaid tampak di timur, pertanda bahwa musim panas akan segera datang. Dua jam kemudian, mereka masih berjalan mengikuti jalan setapak yang hilang ditumbuhi heather dan rumput liar. Targar memimpin di depan, disusul Brenda, Runa, Reva dan Rava berjaga di belakang. Samar-samar Rava merasa bahwa mereka di ikuti, entah seseorang atau sesuatu. Reva membisikkan sesuatu tentang bayangan aneh yang terbang, ketika mereka beristirahat sehari sebelumnya. Tapi mereka tak berani menduga apa-apa. Mereka berjalan terus ke Selatan, menyongsong angin dingin yang berhembus dari Pegunungan Tinggi di selatan. Hingga kemudian, setelah waktu yang rasanya lama sekali, dengan tubuh kedinginan dan wajah kena tamparan angin, mereka akhirnya melihat samar-samar cahaya lampu. Mula-mula satu lampu di kejauhan, lalu tiba-tiba saja muncul banyak titik-titik terang. Lalu tampaklan bahwa itu cahaya lampu dari rumah-rumah. Desa Nanirin sudah dekat di depan mereka. Harapan itu segera memicu anak-anak untuk segera sampai ke desa. Mereka berjalan bergegas. Terbayang semua makanan dan kenyamanan tempat tidur yang bisa mereka dapatkan di sana.

Nanirin adalah desa kecil yang terletak tepat di tengah-tengah padang rumput Nanlustan. Desa ini terbagi menjadi dua wilayah, utara dan selatan, karena dipisahkan oleh Sungai Tanquild yang mengalir di tengah desa. Nanirin bagian

utara lebih luas dan memiliki pemandangan padang rumput di sebelah utara dan timurnya. Sementara bagian selatan lebih dekat dengan hutan kecil di jalur hulu Tanquild. Desa ini di huni oleh beberapa kelompok keluarga kecil yang semakin hari jumlahnya semakin berkurang. Para penduduk asli Nanlustan sudah banyak yang memilih untuk pindah ke tempat lain karena keadaan Nanlustan yang tidak cocok untuk melakukan usaha apapun. Terlebih lagi setelah pertempuran tiga bulan yang lalu, antara Ksatria Putih dan goblin dari Mordia, yang membuat keadaan menjadi tidak aman. Memang tanah Nanlustan banyak ditumbuhi rumput; heather, broom, calluna dan daboecia. Tapi selain itu, tanaman lain jarang sekali bisa tumbuh di tanah itu. Menurut kisah-kisah orang tua di Nanlustan, hal itu disebabkan karena tanah Nanlustan yang mengandung darah. Pernah pada masanya, di awal-awal Zaman Kedua, Nanlustan menjadi tempat pertempuran dahsyat antar beberapa bangsa. Darah mereka yang gugur, meresap dan mengendap di tanah, membuat daratan Nanlustan sampai sekarang hanya bisa ditumbuhi rerumputan. Karena itulah banyak penduduknya yang kemudian pergi meninggalkan tanah mereka, karena berharap akan kehidupan yang lebih baik. Hingga kemudian membuat Nanlustan menjadi negeri yang sepi tanpa penghuni. Hanya sebagian kecil yang masih bertahan, kemudian berkumpul di Nanirin, satu-satunya desa yang ada di Nanlustan. Dalam kesehariannya, mereka masih mengandalkan hubungan dagang dengan Gemina, dan juga mengolah heather dan rumput-rumputan yang tumbuh di sekitar mereka menjadi anyaman, yang digunakan sebagai bahan dasar alas duduk, tikar dan lain-lain.

Targar dan anak-anak sampai di Nanirin menjelang fajar. Beruntung masih ada penginapan yang melayani 24 jam. Mereka segera bergegas ke sana dan memesan kamar-kamar, satu untuk Targar dan Rava, dan satunya lagi untuk anakanak perempuan. Setelah makan malam yang sangat terlambat tapi cukup memuaskan, mereka pun segera beristirahat. Dan begitulah, akhirnya mereka bisa kembali merasakan kehangatan selimut dan nikmatnya tidur berbantal empuk berisi bunga-bunga heather. Tanpa sepengetahuan mereka, ada seorang pengunjung penginapan yang mengawasi ketika Targar dan anak-anak itu masuk. Tampangnya sangat licik dan ia menyembunyikan wajahnya dibawah topi. Orang itu segera bergegas keluar ketika Targar dan anak-anak naik ke kamar mereka.

Orang ini, sebenarnya berasal dari Wilayah Selatan. Sudah lama, dia mengembara, dan kini menetap sementara di Nanirin, dan memulai bisnis menangkap orang-orang yang tersesat dan kemudian dijual sebagai budak, untuk dikirim ke Negeri-negeri Selatan Jauh. Dia banyak mendengar berita-berita tentang kejadian-kejadian di kota-kota besar, maupun di desa-desa kecil, juga desas-desus perang dan lain-lain. Dan dia selalu berharap bisa mendapat keuntungan dari itu semua. Dia memiliki beberapa pengikut yang setia; orang-orang yang tak segan melakukan apapun untuk mendapatkan uang dan kepuasan bagi diri mereka. Dan malam itu, tanpa sengaja dia mendengar percakapan antara Targar dan pemilik penginapan, dan menerka-nerka bahwa mereka akan pergi ke Sagresia, dan anakanak itu berasal dari Tol Canaloa. Beberapa hari sebelumnya, dia mendengar desas-desus bahwa Negeri Mordia mencari-cari pelarian yang berasal dari Tol Canaloa dan Tol Calda. Kabarnya, para pelarian ini memiliki sesuatu yang selama ini dicari-cari oleh Penguasa Mordia. Orang itu pun kemudian segera mengumpulkan teman-temannya dan membuat rencana.

Bab VIII Yang Terjadi Dengan Tirius


Ketika Angladf melawan ular laut itu, Tirius berusaha mencari anak-anak. Dia berenang kesana kemari, namun gelombang terlalu besar, akibat pertarungan Angladf dengan kedua ular laut itu. Gellert mengatakan, bahwa badai telah mencerai-beraikan mereka, tapi ia yakin, anak-anak dan awak kapalnya pasti selamat. Jarak mereka dengan daratan sudah tidak begitu jauh, mungkin saja mereka terbawa arus hingga ke daratan. Gellert pun kemudian mulai mengumpulkan mereka yang selamat. Dia mengajak mereka untuk berenang, menjauh dari pertempuran Angladf dan dua ular laut itu. Maka Tirius, Bern, Mathilda, Brad, Octesian, Rhein, Sue, Darek, Lelia, Yorri dan Yolanda; Gregory, Seamus dan beberapa awak Isilharan yang selamat, mulai berenang ke selatan. Mereka tak berhasil menemukan Logan, tapi mereka berharap dia juga selamat. Seamus memimpin di depan, berenang sambil sesekali membaca angin dan arus, meskipun agak sakit karena badai yang mengamuk malah semakin besar.

Orang-orang yang ada di Karotte, mereka sempat melihat kilatan-kilatan cahaya nun jauh di tengah laut, lalu menyusul dengan cuaca yang tidak menentu. Langit tiba-tiba tertutup mendung dan suara-suara gemuruh tiba-tiba memenuhi langit. Beberapa nelayan memberitahu bahwa badai besar terjadi di laut dan mereka menghindarinya. Berita-berita pun segera tersebar. Awalnya dari para nelayan di tepi pantai, lalu mulai menyebar di antara pedagang-pedagang di pasar. Badai besar di laut, pertanda buruk! teriak orang-orang rami membicarakan. Lebih-lebih lagi berita itu tercampur dengan berita-berita lain. Goblin menguasai Tol Canaloa dan Tol Calda,, Ada nelayan yang melihat ular laut besar berenang ke arah selatan. Berita-berita itu saling tumpang tindih dan dibumbui macam-macam disanasini hingga keseluruhannya menjadi berita yang benar-benar heboh dan

membingungkan. Dan berita ini kemudian disebarkan oleh anak-anak yang membuat berita itu menjadi terkesan menyebalkan, karena anak-anak itu bercerita

pada teman-teman mereka seperti layaknya membicarakan kisah kepahlawanan dari buku dongeng bergambar. Berita ini akhirnya tersiar ke seluruh penjuru kota, hingga akhirnya sampai ke telinga para Pengurus Kota. Pesan-pesan pun segera dikirim ke Sagresia, dan para ksatria mulai berjaga-jaga. Orang-orang pun mulai bersiap-siap. Beberapa sudah membicarakan tentang kemungkinan pindah ke Palsa atau Sagresia, apalagi setelah mereka mendengar kabar dari Hretta dan Haron yang beberapa hari belakangan ini juga diserang goblin. Seluruh kota akhirnya bisa dikatakan dalam keadaan benarbenar siaga. Selama beberapa bulan terakhir, daerah di selatan kota Karotte telah dihuni Ksatria-ksatria Berbaju Hitam yang berasal entah dari mana. Orang-orang menyebut mereka Ksatria Hitam, karena selain jubah dan halberd mereka yang berwarna hitam, mereka juga dikabarkan berasal dari sebuah negeri aneh, Morthondrunim, yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Umum bisa berarti Negeri Besi Hitam. Para ksatria ini mendirikan tenda-tenda dan perkemahan, dan anehnya, goblingoblin sering terlihat keluar masuk di salah satu tenda.

Tirius, Gellert dan yang lain berhasil mencapai pantai, dan mereka segera mencari tempat untuk beristirahat. Ada sebuah rumah penginapan kecil di dekat pasar ikan Karotte, dan mereka pun bermalam di sana. Pagi harinya, Gellert, Gregory dan Seamus mulai mengatur rencana mereka selanjutnya. Gellert berkata, bahwa dia akan menemani Tirius dan penduduk Magle ke Sagresia, dan untuk sementara menyerahkan jabatan kapten Isilharan pada Seamus, dan

memerintahkan untuk segera pergi secepat mungkin ke Palsa melewati jalan laut dengan perahu atau sampan yang bisa mereka temukan di Karotte. Mereka harus segera memberitahukan situasinya pada Gubernur di sana, dan bila mungkin, meminta perlindungan dan bantuan untuk menyusul Gellert dan rombongan Tirius yang melewati jalan darat. Gellert pun memberitahukan rencana ini pada Tirius, yang segera berterima kasih atas kebaikan Gellert dan anak buahnya selama ini.

Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Octesian dan keluarganya masih mempunyai saudara di Karotte, dan mereka berniat akan mencarinya, jadi dengan sangat berat hati, mereka pun berpisah dengan rombongan, sementara Yorri dan Yolanda, akan mengikuti Tirius ke Sagresia, begitu juga Bern dan

keluarganya, lagipula mereka masih khawatir dengan keadaan Brenda, tapi mereka berharap Brenda selamat dan bersama anak-anak yang lain. Bern pun memutuskan akan segera berangkat ke Sagresia secepatnya. Darek dan Lelia akan menyusul belakangan, karena mereka masih punya sedikit urusan yang harus di selesaikan di Karotte, dan berharap siapa tahu, Logan akan ditemukan, dan bisa bersama-sama mereka menyusul yang lain ke Sagresia. Maka sisa hari itu pun digunakan untuk mengurus urusan masing-masing. Gellert, Tirius, Yorri dan Yolanda mempersiapkan bekal mereka untuk perjalanan berikutnya, sementara Seamus dan Gregory mencari perahu nelayan yang bisa membawa awak kapal Isilharan kembali berlayar. Keluarga Octesian sudah pergi pagi-pagi sekali, dan berjanji akan secepatnya menyusul yang lain ke Sagresia, begitu juga Darek dan istrinya. Malam harinya, berita-berita kembali beredar di antara orang-orang Karotte. Telah terjadi invasi goblin besar-besaran di Tol Calda. Orang-orang mulai cemas. Di wilayah Habad, hanya Karotte yang belum tersentuh serangan goblin, meskipun mereka diketahui ada di perkemahan di luar kota. Mungkin karena Karotte memiliki pelabuhan besar yang dijaga banyak prajurit dan orang-orang kuat, jadi goblin itu belum berani menyerang Karotte. Orang-orang pun mulai bersiap-siap. Beberapa ada yang memutuskan pergi ke tempat lain, tapi sebagian besar tetap bersikeras akan mempertahankan kota mereka tercinta. Di dalam kamarnya, Tirius membuka ranselnya (satu-satunya barang yang berhasil dia selamatkan dari Isilharan yang hancur berantakan). Di dalam ranselnya itu, dia masih menyimpan kompas, jurnal perjalanan dan peta Vermundar. Dia menghamparkannya di atas meja, dan kembali menelusuri ingatan-ingatannya akan perjalanannya dulu. Dia tak pernah menyangka, bahwa di umurnya yang sudah tua sekarang ini, dia harus kembali berpetualang. Memang ada kalanya, dia merasa bosan ketika di Maglavar. Dia rindu dengan petualangannya yang dulu; mendaki pegunungan, menemukan bunga-bunga yang indah dan tanaman-tanaman herbal, juga bertemu makhluk-makhluk yang jarang ditemui manusia lain; kurcaci, goblin, gnome, minotaur, dan bangsa lallafella. Dia tersenyum teringat kelucuan sahabatnya; Grimdal dan Hurgin, dua kurcaci yang menemaninya dalam perjalananya melewati lorong-lorong aneh Ulugrotto, tempat dimana banyak sekali ular api bersarang dan memenuhi tiap lubang-lubangnya. Dia juga teringat Seo,

gadis lallafella yang selalu bernyanyi di dekat telinganya untuk membangunkan dia ketika ia menginap di dekat Taur-na-Tasarin. Tirius pun bersenandung;

Seperti daun yang jatuh di jalan terbawa angin selatan Kita seperti itu di jalan kehidupan Terombang-ambing di udara, bingung menentukan arah Lalu luruh ke tanah, mengubur semua kisah...

Tirius kemudian teringat Angladf. Dia tahu, bahwa Angladf adalah penyihir yang hebat dan kekuatannya tak perlu diragukan lagi. Tapi laut berbeda dengan daratan, dan pertempuran di atas laut yang dilanda badai sangatlah tidak menguntungkan. Terlebih lagi, kedua ular laut itu tampak sangat ganas. Pertempuran itu benar-benar tidak seimbang. Tirius hanya bisa berharap, Angladf selamat dan lolos dari kedua ular laut itu. Tapi kemudian dia bertanya-tanya darimana kedua ular laut itu, karena selama ini tak pernah ada laporan bahwa ada ular laut di Forogaer. Dan kenapa ular itu tiba-tiba menyerang kapal mereka. Tirius lama sekali memikirkan hal ini, sampai-sampai dirinya mengantuk. Lalu tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya. Tirius yang terkejut segera bangkit dan membukanya, ternyata Yorri; Gellert medapat kabar bahwa sepasukan goblin baru saja datang dari laut. Sepertinya perkemahan Ksatria Hitam semakin lama semakin kuat. Gellert mengajak kita segera meninggalkan kota ini. Segeralah berkemas, sebelum fajar kita harus sudah jauh dari kota ini. Baiklah, aku akan segera berkemas, jawab Tirius mengangguk. Tirus kemudian segera memasukkan semua barang-barangnya. Dia telah mendapatkan ransel yang cukup besar untuk perjalanan dan cukup menampung semua barang-barangnya yang masih tersisa dari Isilharan. Tirius memasukkan peta, kompas dan jurnal catatannya. Kemudian setelah mengecek bahwa tak ada yang terlupakan, dia segera menyusul Yorri menuju ke kamar Gellert. Gellert ternyata sudah siap, dan ketika segalanya sudah tak ada yang ketinggalan, mereka pun segera berangkat, tanpa memperdulikan dinginnya malam. Keesokan paginya, suasana kota menjadi sangat ramai. Sepanjang hari itu dilakukanlah persiapan-persiapan untuk mengevakuasi seluruh kota. Di pinggiran kota sudah beberapa hari dibangun pertahanan-pertahanan dan blokade-blokade

jalan untuk menahan goblin yang mungkin saja akan segera menyerang kota mereka. Orang-orang pun dikerahkan lebih banyak untuk menjaga pelabuhan dan kegiatan-kegiatan di tiap pasar dikurangi hingga siang hari. Banyak orang-orang yang sudah mulai mengisi kereta dan gerobak-gerobak mereka. Tapi lebih banyak yang tetap tinggal di dalam kota, membantu para prajurit memasang blokadeblokade jalan dan membuat senjata sederhana; tombak-tombak panjang untuk di tempatkan di tiap pintu masuk kota saat malam tiba. Suasana benar-benar mencekam. Sementara itu Gellert, Tirius, Yorri dan Yolanda sudah sampai di Padang Biru. Sebuah tempat landai di sebelah barat Karotte, tempat dimana banyak tinggal nelayan. Alasan kenapa dinamakan Padang Biru adalah dikarenakan adanya tanaman tulip greigii biru yang tumbuh di sekitar tempat itu. Para nelayan juga memelihara tanaman itu sebagai tambahan penghasilan mereka. Selain itu, Padang Biru juga berarti 'tempat luas yang ditinggali orang-orang yang senang melaut', itu menurut beberapa nelayan tua yang tinggal di tempat itu. Gellert sengaja memilih jalan memutar untuk menghindari goblin yang ada di sekitar Waycall. Mereka beristirahat semalam di Padang Biru. Lalu pagi berikutnya, dari Padang Biru mereka menuju sisi pinggiran pantai, melewati Pant-o-Ailinon, hingga ke Wiff Point. Wiff Point adalah sebuah tempat terbuka, seperti lapangan yang biasa menjadi tempat singgah para pedagang dan pengembara. Karena Waycall di sisi ini mulai menyempit ke arah barat, di himpit oleh bukit-bukit terjal dan jurang. Inilah sisi paling berbahaya Waycall. Di sisi selatan, dinding-dinding Pegunungan Berkabut tampak mengancam, karena bisa saja goblin atau apapun yang menyeramkan tibatiba meloncat dari atas sana, sementara sisi utara berupa tebing-tebing terjal yang langsung mengarah ke laut, dimana di bawahnya karang-karang cadas menunggu siapa saja yang terjatuh atau melompat ke sana. Mereka melihat beberapa pedagang yang bergegas melewati Wiff Point, dan mendengar orang-orang berbicara bahwa ketika malam tiba, tempat ini akan banyak dipenuhi goblin, yang mengganggu dan merampas para pedagang atau

pengembara yang kemalaman. Maka mereka pun bergegas menuju ke Tarin, menumpang salah satu kereta milik pedagang yang kebetulan berhenti. Jadi perjalanan mereka sore itu lebih cepat daripada yang diperkirakan, karena begitu malam tiba, mereka sudah sampai di perbatasan Tarin. Dan mereka pun menginap di sana.

Di lain tempat, Seamus dan Gregory, serta sisa-sisa awak kapal Isilharan (yang semuanya hanya tinggal 11 orang, karena beberapa yang lain telah memutuskan untuk tinggal di Karotte), telah berhasil mendapatkan sebuah kapal yang cukup besar. Gellert telah memberikan sebagian besar uangnya untuk mereka, juga menjual jubahnya, pisau dan gelang-gelang peraknya, dan Seamus menjual semuanya itu di pelelangan dengan harga yang lumayan tinggi. Lalu ditambah dari uang yang mereka miliki, akhirnya mereka mampu mendapatkan kapal lagi. Hari berikutnya, setelah mendapatkan kapal dan mengisi perbekalan, mereka

memberitahukan hal ini pada Gellert, tapi rupanya kapten mereka telah pergi malam hari sebelumnya. Mereka pun memutuskan untuk tidak lagi menunda pelayaran. Seamus mengambil keputusan untuk memimpin mereka sementara, dan mereka pun segera bertolak dari Pelabuhan Karotte pada sore hari, dan segera berlayar di lautan menuju Sagresia.

Tarin, adalah sebuah kota kecil di pinggir Waycall, di kaki Pegunungan Berkabut bagian tengah. Kota ini menjadi gerbang barat Waycall, sebelum masuk ke Waycall yang menyempit ke arah timur menuju Wiff Point. Tarin memiliki fasilitas yang banyak dibutuhkan oleh para pedagang dan pengembara. Banyak penginapan dan rumah minum, serta pasar yang hampir beroperasi setiap hari. Benar-benar kota yang ramai, dan sepertinya tidak terpengaruh dengan kabar-kabar tentang penyerangan goblin yang terjadi di beberapa tempat. Gellert, Tirius, Yorri dan Yolanda bermalam di salah satu penginapan di pinggir kota, jauh dari keramaian rumah minum di pinggir Waycall. Menurut perhitungan Gellert, jika pagi berikutnya mereka langsung pergi meneruskan perjalanan, maka dua hari kemudian mereka bisa sampai ke Sagresia, jika dengan kuda, maka perjalanan akan lebih cepat lagi. Maka Yorri pun mengusulkan agar mereka mencari kuda, entah di Tarin atau di Palsa. Keesokan paginya, ternyata mereka dengan mudah bisa menemukan kuda. Ada seorang penduduk yang mau menjual kuda-kudanya, bahkan dengan harga yang menurut Gellert sangatlah pantas. Mereka pun membelinya dengan seluruh sisa-sisa uang mereka dan segera meneruskan perjalanan. Gellert mendengar kabar bahwa di sebelah selatan sedang berkecamuk perang. Di daerah Parth drim, diantara muara Sungai Valduin dan Hithun,

kabarnya goblin dan pasukan troll menyerang dan membakar rumah-rumah pemukiman di sana. Sepasukan Ksatria Putih pun segera dikirim ke sana, yang berarti pertahanan di benteng menjadi berkurang. Tepat sehari kemudian, Rombongan Gellert dan Tirius bertemu dengan Pasukan Putih di seberang Jembatan Besar Valduin, yang memisahkan drim dan Sagresia. Alangkah gagahnya mereka, para Pasukan Putih. Helm mereka yang dibuat dari baja kualitas tinggi, dengan hiasan kelopak daun di bagian pinggirnya, lalu baju besi mereka yang berkilauan, terang memantulkan sinar matahari. Seluruhnya menaiki kuda jantan yang gagah, yang berderap dengan kecepatan tinggi menuju Parth drim. Pedang mereka di pinggang, tombak-tombak panjang dan perisai siap di tangan. Sepertinya mereka sudah siap menghadang setiap musuh yang akan mereka temui.

Terpujilah mereka, yang membawa Panji Elang Putih Di dadanya, Perak Sagresia berkilauan Di kepalanya, berkah raja memberkati mereka Terpujilah mereka, ksatria-ksatria perkasa Pedang Perak dan Perisai Baja Terpujilah para Ksatria Putih Sagresia... Salam, wahai Ksatria Putih yang gagah. Ada apakah gerangan, kenapa kalian begitu tergesa? sapa Tirius pada salah satu Ksatria Putih yang melintas di depan mereka. Serangan besar di drim dan Hithrin, jawab ksatria itu. Begitukah? Jadi mereka menyerang kita dari segala arah, kata Gellert. Entahlah, kami tak tahu, tapi keadaan sekarang benar-benar

membingungkan. Serangan di mana-mana, dan kami tak berhasil menahan invasi besar-besaran goblin dan troll yang turun gunung dan berkeliaran. Segeralah berlindung di kota, agar kalian selamat, karena di malam hari, jalan dan tempat terbuka menjadi tidak aman. Kemudian ksatria itu segera memacu kudanya menyusul yang lain. Gellert dan yang lain segera mempercepat kudanya. Siang hampir berakhir, dan matahari sudah siap bersembunyi di balik selimut senja. Sinar-sinar keemasan sudah mulai terbentuk di langit barat dan seperti menjadi pertanda, bahwa hari itu

akan ada pertumpahan darah. Dan malam harinya, mereka mulai memasuki gerbang kota Sagresia.

Targar dan anak-anak pergi meninggalkan Nanirin pagi-pagi sekali. Mereka menyusuri jalan setapak buatan para pedagang. Jalan itu menuju ke arah selatan, yang nantinya akan berakhir di Persimpangan Egil, yang menjadi titik temu dari ke empat jalan besar; Waycall dari timur, Eldall di barat daya, sebuah jalan lain dari arah Gemina di Barat Laut dan jalan dari Nanirin yang kini dilalui anak-anak dan Targar. Mereka berjalan secepat kaki mereka bisa, karena mereka berharap sebelum sore hari mereka sampai di hutan kecil di sisi utara Sagresia. Targar mengusulkan untuk memotong jalan melewati bukit, hingga akhirnya mereka akan sampai di gerbang utara Sagresia.

Bab IX Teman Yang Tak Terduga


Ternyata perjalanan tak semulus yang dibayangkan. Rava, Reva, Runa, Brenda dan Targar, baru saja sampai di tepi hutan kecil pada sore hari itu, ketika tiba-tiba di depan mereka, muncul dari balik pepohonan, orang-orang bertopeng dan bersenjata. Orang-orang ini tanpa dikomando langsung mengepung mereka. Anak-anak pun terkejut dan mereka segera berbalik. Siapa mereka? kata Reva. Entahlah, jawab Targar. Dia segera menghunus pedangnya dan melindungi Reva dan yang lain. Dalam waktu singkat, orang-orang itu berhasil mengepung Rava dan yang lain, yang tak berkutik melawan orang-orang itu. Rava menghitung, sedikitnya ada lima belas orang. Semuanya bertopeng dan bersenjata cutlass, beberapa juga membawa pisau panjang. Siapa kalian, dan kenapa kalian tiba-tiba menghadang kami? tanya Targar pada orang-orang itu. Tak ada jawaban. Hanya cekikikan dan bisik-bisik tawa. Katakan apa mau kalian? kata Reva lantang. Lalu salah satu dari orang-orang itu, yang adalah pemimpinnya, maju ke depan dan menjawab; Kau tak perlu tahu siapa kami, tapi percayalah bahwa kami ini adalah kumpulan profesional dalam merampok dan merampas.hahahaha. Selama ini kami mendengar desas-desus dan juga berita-berita. Negeri Hitam sedang bangkit dan mereka mencari-cari sesuatu. Kebetulan aku mengikuti kalian sejak dari Nanirin. Dan aku menduga-duga, seperti aku mencocokkan berita-berita yang kudengar dari orang-orang Karotte dan para pengembara. Negeri Hitam mencari anak-anak. Pelarian dari luar benua. Entah apa maksudnya, tapi ada petunjuk bahwa mereka bukan berasal dari Benua Besar, dan mungkin saja mereka melakukan perjalanan secara sembunyi-sembunyi dan diam-diam. Aku sudah mencurigai kalian sejak melihat kalian datang kemarin malam. Jadi kalian akan menangkap kami? kata Reva.

Tentu saja, jawab orang bertopeng, karena ada hadiah untuk mereka yang menemukan anak-anak itu dan membawanya ke Negeri Hitam. Penghianat! desis Targar. Kalian memanfaatkan situasi kacau sekarang ini untuk urusan kalian sendiri. Hey, jangan berburuk sangka dulu, seru pimpinan gerombolan itu. Dari pakaianmu, aku tahu kalau kau adalah seorang pemburu. Apa sebenarnya yang kau cari di tempat rendah seperti ini? Itu bukan urusan kalian, jawab Targar. Jangan-jangan dia punya maksud terselubung, pura-pura berjalan bersama anak-anak itu, tapi kemudian menangkapnya untuk dirinya sendiri, kata salah seorang bertopeng. Aku tidak serendah itu, jawab Targar, dia kemudian menoleh ke arah anakanak, jangan percaya apa yang kalian dengar. Rava, Reva dan Brenda mengangguk. Apa sebabnya kalian ingin membawa kami ke Negeri Hitam? seru Reva. Sangat sederhana, karena hidup ini susah, jawab orang bertopeng, Istana sibuk mengurus perang di sana-sini, lagipula pemimpin yang baru belumlah layak memimpin, sementara hasil panen tahun ini gagal total. Apa boleh buat, kami harus tetap bertahan hidup. Lagipula kekuatan hitam telah bangkit dengan kekuatan besar. Tak ada pilihan selain bergabung dengan mereka. Kenapa kalian menyerah begitu saja? kata Reva, perang belum dimulai, dan ada kemungkinan-kemungkinan tak terduga yang mungkin akan terjadi. Tak mungkin! seru orang bertopeng, kita tak mungkin melawan kekuasaan Negeri Hitam. Kalian kata Reva tertahan. Baiklah, tak perlu banyak bicara lagi. Biarkan kami menangkap kalian, kata pemimpin bertopeng. Ia memberi isyarat dengan jari-jarinya dan beberapa temannya segera maju. Asal kalian mampu menjatuhkanku! seru Targar. Ia mengangkat pedangnya, begitu juga Rava, Reva dan Brenda. Apa yang bisa dilakukan dua laki-laki dan tiga perempuan kecil seperti kalian. Kami berjumlah lima belas orang!. Hahaha seru orang bertopeng itu. Tangkap mereka!

Maka terjadilah perkelahian yang tak seimbang. Dengan cepat, Reva, Brenda dan Runa bisa ditangkap dan diikat, sementara Targar dan Rava berusaha keras melawan orang-orang itu. Lalu tiba-tiba saja, datang angin kencang dan bersuara gemuruh. Daun-daun berterbangan. Lalu dari atas pepohonan hutan di belakang, muncul sosok hitam besar. Bentuknya seperti elang besar. Burung itu menukik, menyambar orang-orang bertopeng dan melemparkan mereka ke udara. Mereka lalu berusaha menghindar, berlarian dan berhamburan ke sana kemari. Rava dan Targar menarik anak-anak perempuan agar menjauh. Mereka lari ke dekat hutan, bersembunyi di antara pepohonan. Sementara burung hitam besar itu masih menyerang orang-orang bertopeng. Apa itu? kata Rava. Entahlah. Aku baru melihat ada burung sebesar itu, jawab Brenda. Itu garuda, jawab Targar. Garuda?? kata anak-anak serempak. Ya, jawab Targar singkat.

Garuda itu masih mengamuk, menerjang kesana kemari, menyambar dan melemparkan orang-orang bertopeng ke segala arah. Mereka yang melarikan diri juga tak luput dari sambarannya. Lalu setelah beberapa saat, setelah semuanya dikalahkan atau dilempar ke segala arah, garuda itu mendarat, tak jauh dari tempat persembunyian anak-anak dan Targar. Sudah aman sekarang, tak perlu kalian takut, kata sebuah suara aneh melengking, yang mirip seperti kaokan burung. Rupanya, garuda itu bisa berbicara. Hei, dia bicara! kata Rava. Aneh, kata Targar. Tenanglah. Aku tak berniat buruk pada kalian, kata garuda itu. Siapa kau? Maksudku, apa kau punya nama? tanya Reva. Namaku Elwin, aku yang terakhir dari bangsaku, jawab garuda itu, mengangguk perlahan. Anak-anak dengan perlahan mendekati garuda itu. Sementara Targar masih ragu-ragu dengan makhluk itu. Runa yang pertama kali maju. Tidak apa-apa. Aku tak akan mencelakai kalian. Mungkin, memang sudah seharusnya, aku menemui kalian, kata garuda.

Menemui kami? Apa maksudmu? kata Reva. Ada sebuah pesan turun temurun di antara bangsaku, bahwa bangsaku akan mengabdi pada manusia, ketika dunia sudah di ambang batas. Juga pada mereka yang berasal dari Lembah Waith. Maksudmu Nanwaith? kata Targar. Mungkin begitu. Hanya saja dalam bahasa bangsaku, tempat itu disebut Lembah Waith, jawab garuda. Kau tahu tempat itu? tanya Rava. Aku memang pernah mendengarnya. Tempat itu ada di pedalaman Gard Galadh. Disana, kabarnya orang-orang ogwaith mempelajari on, jawab Targar. Aku ingat, kadang-kadang Istakir dan para tetua menyebut-nyebut tentang tempat itu. Reva dan Rava saling berpandangan. Mereka teringat tentang cerita Angladf dan Pak Tua. Berarti ada hubungan antara garuda ini dengan para idolon. Mungkin juga garuda ini ada hubungan dengan ayah mereka, atau mungkin, setidaknya tahu tentang nasib ayah mereka. Reva mendekati Elwin, yang masih diam menatap mereka. Makhluk itu berdiri diam, dengan kepala sedikit menunduk. Kami bukan berasal dari lembah yang kau maksudkan. Tapi kami senang kau mau menolong kami. Aku tahu kalian tak berasal dari tempat itu, tapi kakek-kakek kalian berasal dari sana, jawab Elwin. Anak-anak pun terkejut mendengarnya. Mereka tak menyangka garuda itu tahu tentang silsilah mereka. Bagaimana kau tahu? tanya Reva. Karena aku sudah hidup ketika Ramuh masih seumuran kalian, jawab Elwin. Anak-anak semakin terkejut mendengarnya. Mereka tak menyangka bahwa makhluk itu sudah berumur ratusan tahun. Bangsaku mempunyai umur yang panjang, bahkan lebih panjang daripada umur manusia. Kami bangsa yang tua, bahkan lebih tua dari penguasa manapun di benua ini. Kecuali Ygg, tentu saja. Aku tahu pergantian tahta di Sagresia, aku juga tahu perang-perang yang ada di Mordia. Aku juga tahu bahwa kaum bijak pulangpergi dari negeri mereka dan berkelana ke pegunungan dan lembah-lembah, membaca pertanda dan menolong orang-orang yang membutuhkan. Aku juga tahu tentang ayah kalian.

Kata-kata terakhir Elwin membuat jantung Rava, Reva dan Runa seperti berhenti berdetak. Mereka tak menyangka, garuda itu pernah mengenal ayah mereka. Sekarang bergegaslah, pergilah ke Sagresia. Aku akan mengawasi kalian dari atas. Tak jauh dari tempat ini, ada desa kecil di sebelah timur. Istirahatlah kalian di sana, lalu pagi berikutnya lanjutkan perjalanan kalian. Aku akan menunggu kalian di Sagresia. Karena ku rasa, Tirius pun telah sampai di sana, kata garuda itu. Pak Tua sudah sampai di Sagresia, seru Runa. Mungkin saja, jawab Elwin. Ah, tapi kalau tak keberatan, aku mempunyai satu permintaan, kata Rava. Ya? Katakan saja, jawab Elwin. Dia melihat ke arah Rava dengan satu matanya. Apakah kau bersedia menceritakan tentang ayah kami? Tidak, Elwin menggoyangkan kepalanya, sebelum Istakir dan Amrudil bertemu kalian. Tapi suatu hari nanti, pasti akan ku ceritakan. Bersabarlah. Kemudian, garuda itu mulai mengepakkan sayapnya dan melesat ke atas. Garuda itu terbang begitu cepat, hingga beberapa menit kemudian, hanya tinggal noktah kecil yang terlihat di antara awan-awan. Baiklah, kita teruskan perjalanan, kata Targar. Anak-anak pun mengangguk setuju.

Kini setelah mereka tahu bahwa ada yang mengawasi mereka dari ketinggian, maka perjalanan pun menjadi lebih menyenangkan. Mereka bergegas ke desa kecil (yang tak terlalu kecil sebenarnya), yang telah ditunjukkan Elwin. Sepanjang perjalanan, Rava dan Reva terus saja membicarakan tentang burung itu, juga berbagai kemungkinan kenapa burung itu bisa mengenal ayah mereka, dan juga Ramuh, kakek mereka. Reva berkata, bahwa mungkin ada hubungannya dengan kekuatan on. Sementara Runa dan Brenda malahan berdebat tentang betapa menyenangkannya bila bisa terbang menaiki burung sebesar itu.

Sementara itu, Tirius, Gellert, Yorri dan Yolanda, telah sampai di Sagresia. Tepat di depan Tugu Peringatan, Yorri dan Yolanda memisahkan diri, mereka berterima kasih pada Tirius dan juga Gellert, yang sudah memberi tumpangan

perahu, dan mereka juga menyesal tentang nasib Angladf. Mereka kemudian berdoa untuk keselamatan mereka dan teman mereka dan kemudian mulai menuju kota. Tirius dan Gellert akhirnya memutuskan untuk naik ke arah Istana.

Sagresia adalah kota besar, yang dibangun di atas sebuah bukit kecil, dengan dikelilingi tembok-tembok tinggi nan kokoh sebagai benteng, sementara di luarnya terdapat parit-parit pertahanan, dan keempat gerbangnya memiliki jembatan yang bisa di naik-turunkan dengan sistem katrol. Ada lima menara pengawas, yang dijaga dan diawasi siang malam, juga penjaga yang bertugas tanpa kenal lelah. Sementara kota, terbagi-bagi menjadi lima distrik, dan pusatnya di bagian paling atas bukit, adalah Distrik Istana; dimana puncaknya terdapat Istana Sagresia yang masyur, yang disebut Istana Kristaldan kadang-kadang juga disebut Rumah Kristal, karena puncak dari istana ini, berupa kubah tinggi persegi lima yang terbuat dari kristal murnii yang merupakan kriya hebat peninggalan bangsa Peri Tua. Kristal inilah yang sering disebut sebagai Perak Sagresia, dan menjadi semacam monumen perlambang kekuasaan di Valadien. Orang-orang mengatakan, bahwa selama Kristal itu masih tegak di tempatnya, maka Valadien dan Rnegard tak akan pernah jatuh. Jika berdiri tepat di bawah kristal ini, konon katanya bisa terlihat Ipsen, Tlaparol, Puncak Sarca di Bukit Penyihir, Ozniquetil dan Puncak Durgandine. Kristal ini juga mempunyai fungsi sebagai penyimpan cahaya matahari dan melalui alat-alat khusus dan mesin-mesin aneh buatan kurcaci, diubah menjadi energi yang bisa digunakan sebagai penerangan ketika malam hari, untuk menyinari tempat-tempat tertentu di dalam dan sekitar istana. Selain itu, Istana Sagresia juga terdiri dari empat tingkat yang setiap lantai dan dindingnya dibangun dari batu putih. Tingkat yang pertama, dibangun oleh para kurcaci, disebut sebagai Aula Putih, tempat dimana hampir segala aktivitas terjadi. Juga terdapat tempat tinggal para ksatria dan pejuang Sagresia di tingkat ini. Sementara tingkat dua, adalah tempat para petinggi dan pejabat istana, serta orang-orang penting. Juga terdapat taman bunga indah yang disebut Hanagar: dimana di tempat ini, putri-putri istana menanam seribu satu macam bunga dari seluruh negeri. Di tingkat tiga, tinggal raja dan seluruh anggota keluarganya, juga sanak saudaranya. Sementara di tingkat empat, atau puncak, hanya ada ruangan observasi dan ruang kubah, dimana di atasnya, kristal menjulang nan tinggi ke atas setinggi 132 meter.

Keseluruhan yang ada pada bangunan Sagresia mengungkapkan seberapa jauh arsitektur itu adalah suatu seni primitif tinggi, hasil perpaduan dari seni kriya kurcaci, ditambah dengan sentuhan halus peri; demikianlah Sagresia

memperagakan bahwa hasil karya arsitektur itu menjadi warisan yang ditinggalkan oleh suatu bangsa, akumulasi yang dibentuk selama berabad-abad. Pendeknya, suatu spesi lapisan bumi. Setiap gelombang waktu melapisi aluviumnya, setiap generasi menyumbangkan stratumnya, setiap individu membawa usungan batunya. Demikianlah proses yang dilakukan untuk membangun sebuah bangunan maha megah. Sebagaimana halnya gunung-gunung raksasa, maka bangunan-bangunan besar juga merupakan hasil karya berabad-abad. Begitu juga dengan Sagresia yang sudah berumur lebih dari seribu lima ratus tahun. Seringkali terjadi bahwa seni mengalami perubahan-perubahan pada waktu ia sedang bergerak maju. Seni yang baru itu mempengaruhi bangunan itu ketika menemukannya, menghunjamkan dirinya ke bangunan itu, mengasimilasikan dirinya kalau bisa pada struktur tersebut, maju bersamanya sesuai dengan gagasan sendiri, kemudian menyelesaikan bangunan itu. Itulah sebabnya, Istana Sagresia terbilang sebagai bangunan seni kuno bagi manusia, tapi juga bangunan seni yang masih baru bagi bangsa-bangsa lain yang hidup lebih dulu daripada manusia. Peri, kurcaci dan penyihir menganggap bahwa Istana Sgresia, berikut semua bagian-bagiannya, adalah perspektif dari pandangan-pandangan maju para revolusi seni dari banyak bangsa, yang menyatukan ide-ide kreatif mereka demi membangun bangunan maha megah milik bangsa manusia. Sayangnya, manusia-manusia baru, yang dianggap sebagai makhluk berbudaya tinggi, ternyata kurang mampu untuk merawat, menjaga dan melestarikan peninggalan kuno itu, bahwa dengan teledornya telah mengacuhkan semangat dan kerja keras mereka yang telah membangun bangunan itu. Sagresia sudah berdiri tegak, lebih dari seribu lima ratus tahun, dan sudah mengalami banyak pergantian kekuasaan; tiga belas kali dari tiga dinasti. Sekarang ini, Penguasa Sagresia adalah juga Pemimpin Valadien, yang juga berarti pemimpin Persekutuan semua bangsa yang ada di Rnegard. Raja juga dibantu dewan kerajaan, berjumlah dua belas orang. Kedua belas orang ini masing-masing mengurusi dua belas urusan dalam tata Negara Sagresia. Dua orang adalah pengatur perekonomian, dua di bidang sosial kemasyarakatan, dua orang lagi mengurusi masalah kebudayaan, lalu tiga orang di bidang pertahan dan keamanan.

Dua orang mengurusi urusan dalam istana dan satu orang sebagai pengawaspengawas umum di tingkat bawah. Bisa dikatakan, perekonomian Sagresia tumbuh dengan sangat baik. Sebagian besar penduduknya adalah pedagang, sekitar 60% dari keseluruhan yang berjumlah lebih dari 1,3 jiwa. Dengan pembagian, 118.376 di distrik istana, dan lebih dari 1.181.916 jiwa di ke-empat distrik lainnya. Dan jumlah ini semakin bertambah tiap tahunnya. 30% hidup sebagai nelayan, di sekitar Valduin dan Teluk Utara, sementara sisanya terbagi menjadi petani dan peternak yang tinggal di pinggiran kota dan juga perbatasan gerbang. Distrik Timur dan Distrik Tenggara, yang lebih dekat dengan laut, mempunyai banyak gudang yang menyimpan hasil laut. Di distrik ini juga, banyak dihasilkan berbagai macam makanan olahan laut, entah dalam bentuk asinan kalengan maupun masih segar. Sementara Distrik Selatan, lebih banyak digunakan sebagai gudang penyimpanan senjata dan perbekalan perang. Juga terdapat banyak bangunan yang digunakan sebagai markas Pasukan Putih dan para ksatria. Bengkel-bengkel dan gudang produksi logam juga ada di tempat ini. Di distrik ini juga, penduduknya lebih sedikit. Sementara Distrik Barat dan Distrik Utara lebih dikenal sebagai penghasil pertanian dan peternakan. Bagian luar tembok, yang berupa lembah, ditanami kebun yang luas dan rimbun. Tembok-tembok kota di bagian barat, memiliki lebih banyak pintu gerbang kecil, yang memungkinkan orangorang bisa lebih leluasa keluar masuk menuju ke Dataran Rendah Egil. Tapi ini juga berarti bahwa musuh pun bisa lebih gampang menyerang dari sisi ini, karena itu, di sepanjang dinding atasnya terdapat pos-pos pasukan pemanah dan mesin pelontar sebagai pertahanan. Adat istiadat dan budaya orang-orang Sagresia hampir tak ada bedanya dengan tempat-tempat lain, bahkan bisa dikatakan, merupakan asimilasi dari beberapa budaya yang ada di Rnegard. Seni menghias dinding, kaligrafi dan musik, sangat berkembang di Sagresia, terbukti dengan banyak didirikannya sanggar dan balai seni, terutama di sekitar distrik istana. Selain itu, kerajinan tangan berupa pernik-pernik perhiasan juga berkembang pesat. Sejarah dan masa lalu Sagresia sebagai salah satu kota tertua di Rnegard bisa ditemukan di Perpustakaan Sagresia yang ada di distrik istana. Juga silsilah dan tata urutan bangsawan yang pernah tinggal dan berkuasa di Sagresia.

Akhirnya, sampai juga kita disini. Kemana tujuanmu selanjutnya? kata Gellert. Kini mereka sudah ada di Pearl Square, sebuah taman di tengah-tengah kota bagian selatan. Kuharap Cidolfar masih tinggal di sini, kata Tirius. Ah berita terakhir yang kudengar, dia masih menjadi pemimpin Ilsar, jawab Gellert. Kalau begitu, kita harus menemuinya, kata Tirius. Gellert memandang keramaian di sekitarnya. Kabar tentang perang di drim dan Hithrin rupanya membuat kesibukan di kota. Banyak sekali prajurit yang lalu lalang, para pembawa pesan yang mondar-mandir dan para pengungsi dari tempat lain. Semuanya membuat suasana kota menjadi sangat sibuk dan sumpek. Ayo kita ke Distrik Istana, ajak Tirius. Gellert pun mengangguk menyetujui.

Ilsar adalah salah satu kesatuan ksatria dalam jajaran keprajuritan Sagresia. Jadi di dalam sistem keprajuritan Sagresia, ada empat kesatuan; yang pertama, Ksatria Putih, yang mempunyai tugas dalam hal pengamanan di seluruh Sagresia dan wilayah Valadien. Mereka adalah pria-pria terlatih yang terdiri dari berbagai macam kalangan. Mereka melakukan patroli bergilir di tiap wilayah perbatasan. Pasukan Putih memiliki simbol Elang Putih di tunik dan mantelnya, juga di perisai yang mereka bawa. Kemudian satuan Pengawal Perak, yang bertugas menjaga dan mempertahankan benteng. Pasukan khusus ini adalah pasukan dalam keistanaan, yang juga bertugas mengawal raja maupun para pangeran dan putri ketika melakukan kunjungan kenegaraan, maupun sekedar jalan-jalan di sekitar Sagresia. Selanjutnya Ilsar, yaitu satuan khusus ksatria yang sangat terlatih dan hanya bertugas dalam perang dan juga kegiatan mata-mata serta ekspedisi. Dan yang terakhir adalah Maester, yaitu bangsawan istana dan petugas raja, sekaligus merangkap sebagai Dewan Istana. Mereka inilah yang melaksanakan sistem pemerintahan dan kebijakan pertahanan negeri. Tirius dan Gellert kemudian mulai menyusuri kota dan naik menuju Distrik Istana. Mereka melewati lorong-lorong yang penuh sesak dengan orang-orang dan sempat berpapasan dengan beberapa kurcaci yang berjalan tergesa-gesa. Ada juga beberapa pengembara dan perempuan-perempuan aneh dari ras yang tidak

diketahui; mereka mempunyai tubuh mirip wanita, tapi memiliki telinga panjang seperti kucing dan kulit mereka berwarna cerah atau kelabu. Jalan menuju ke Distrik Istana sangatlah mudah, karena Distrik Istana dikelilingi oleh sebuah jalan melingkar, yang kemudian masing-masingnya bercabang-cabang menjadi empat jalan besar. Tirius dan Gellert kemudian menuju ke Jalan Timur, dan setelah melalui beberapa blok rumah, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah kuno yang agak besar, dengan lengkungan gerbang yang terbuat dari untaian ranting-ranting pohon bercabang kecil, tapi mampu tumbuh tinggi menjulang hingga setinggi lima meter. Rumah itu juga mempunyai pelataran berumput yang cukup luas, yang saat itu terdapat lima kuda yang sedang merumput. Seorang pelayan wanita bergegas menyambut mereka dan menanyakan maksud kedatangan mereka. Setelah tahu bahwa kedua orang itu mencari tuannya, maka dia segera mempersilahkan keduanya masuk dan menungu di ruang tamu. Tirius dan Gellert diantar oleh pelayan lain menuju ke ruang tamu yang cukup besar. Disana tampak tujuh orang laki-laki bangsawan yang sudah cukup umur sedang berkumpul dan merundingkan sesuatu. Tapi salah satu dari mereka, yang berambut putih pendek dan berjenggot, bangkit dan menyambut mereka berdua. Selamat datang para petualang, lama sekali tak bertemu. Apa yang membuatmu sampai kembali ke tempat ini? Apakah perang telah sampai di negerimu yang nyaman? Apakah perang telah memanggil jiwa pemberani dalam hatimu? tanya pria itu tersenyum. Salam Cidolfar, kata Tirius mengangguk. Benar apa yang kau katakan. Itulah sebabnya kenapa aku datang ke tempat ini meminta perlindunganmu. Hahahaa Cidolfar tertawa, apakah ini ejekan, ataukah sekedar kelakar orang tua? Bagaimana mungkin dia yang memiliki kekuatan mengalahkan Gerombolan Barg, meminta bantuan pada seorang yang masih hijau seperti aku, kata Cidolfar. Karena sekarang dia sudah tua dan merapuh, jadi tentu saja dia butuh bantuan dari mereka yang masih muda dan bersemangat, jawab Tirius. Cidolfar tertawa lagi, lalu mempersilahkan mereka berdua duduk. Bila aku tak salah menebak, mungkinkah ini Gellert, pemimpin pelaut Isilharan yang terkenal di Lautan Utara? tanya Cidolfar sambil memandang Gellert. Benar sekali, jawab Gellert, tapi tidak begitu dengan julukan itu. Kami hanyalah pelaut biasa yang membaktikan diri pada raja.

Senang sekali kita bisa bertemu, kata Cidolfar. Kami sedang merundingkan sesuatu, masalah dalam istana. Sekiranya kalian memaafkan ketidakramahanku, tapi tunggulah sebentar di sini, kami hampir selesai dengan pembicaraan membosankan ini, Cidolfar tersenyum sambil menoleh ke arah orang-orang yang duduk di sisi lain ruang tamu itu. Silahkan, jawab Tirius, semoga kedatangan kami tidak mengganggu kalian. Oh, tidak, jawab Cidolfar, tunggulah sebentar. Cidolfar kemudian kembali ke tempat duduknya, bergabung kembali bersama keenam laki-laki bangsawan. Sementara menunggu, Tirius memandang berkeliling tempat itu. Sebuah vas antik dengan gambaran tangan tentang pegunungan, patung besi aneh berbentuk seperti perempuan menari, tertata rapi di dalam lemari kaca. Ada juga erdapfel; sebuah model tiruan bumi yang memberikan gambaran bentuk bumi sehingga mendekati bentuk sebenarnya, berukuran besar dan kecil, terjejer rapi di salah satu rak di sudut. Sementara di salah satu dindingnya terdapat lukisan istana Sagresia dari kejauhan. Ada juga sebuah helm ksatria kuno, yang terbuat dari perunggu, diletakkan di salah satu meja kecil. Dan dinding lainnya, digantungkan beberapa medali kesatriaan dan juga penghargaan-penghargaan dari raja. Rumah yang sederhana, tapi sangat sejuk, komentar Gellert. Cidolfar adalah satu dari banyak nama ksatria yang membaktikan diri atas nama Herbert Argilac, raja yang terdahulu. Dia pernah menjabat sebagai salah satu Maester, tapi segera mengundurkan diri ketika raja wafat. Akhirnya dia diangkat menjadi pemimpin Ilsar, sebagai penghargaan dan pengalamannya memimpin Pasukan Putih. Kini dia tinggal di rumah sederhana, di salah satu sudut distrik istana. Rumah itu dihuni oleh Cidolfar dan istrinya, yang bernama Aida; adalah seorang wanita cantik keturunan bangsawan Ipsen. Mereka belum dikaruniai keturunan, tapi meskipun begitu, Cidolfar mengangkat beberapa anak dari keluarga kurang mampu untuk menjadi anaknya, yang kini telah tumbuh besar dan bekerja menjadi Pengawal Istana, dan juga ksatria. Selain itu dia juga memperbantukan beberapa pelayan wanita di rumahnya. Senja mulai datang, ketika akhirnya Cidolfar membubarkan pertemuan itu dan rekan-rekannya para bangsawan mulai berpamitan satu-per-satu dan pulang. Cidolfar akhirnya mendekati Tirius dan Gellert. Jadi apa sebabnya kau kembali ke kotapraja? tanya Cidolfar pada Tirius setelah ia duduk di kursi di depan Tirius.

Angladf yang mengajakku, dan juga panggilan kota ini, jawab Tirius. Oh-ah panggilan ksatria tentu saja, kata Cidolfar, tapi dimana Angladf? Aku tak melihatnya bersama kalian? Tirius mendesah, kisahnya sangat panjang dan juga menyedihkan. Kami semua berjumlah sembilan belas orang, dari Maglavar, lalu dengan bantuan Gellert, kami menyeberangi Forogaer Tirius memulai ceritanya. Ceritakanlah, kata Cidolfar. Tirius pun kemudian mulai menceritakan pada Cidolfar, dari awal tentang serangan goblin di Westdowns, hingga perjalanan mereka keluar dari Maglavar dan akhirnya pertolongan Galfagar dan Gellert. Lalu Tirius juga menceritakan tentang perjalanan mereka di laut, yang akhirnya diserang oleh ular laut raksasa, dan juga bagaimana Angladf dengan gagah berani melawan makhluk jahat itu, serta kemalangan mereka yang akhirnya terpisah dalam badai ketika Isilharan pecah dan hancur. Entah bagaimana nasib Angladf, Tirius tentu saja mendoakan agar dia selamat, begitu juga anak-anak yang dibawanya dan juga nasib tetangga-tetangga yang ikut bersamanya. Wah aku tak percaya kalau Angladf kini tak diketahui kabarnya, ya tentu saja, aku berharap dia selamat dari kemalangan yang menimpa kalian, komentar Cidolfar, ada titik bening di matanya ketika menyampaikan keluhannya tentang Angladf, tak mungkin orang hebat itu dikalahkan begitu saja oleh badai dan ular laut, katanya bergetar. Kami setuju, tapi mungkin perlu waktu sampai dia ditemukan kembali, kata Gellert. Cidolfar mengangguk. Lalu bagaimana kisahnya setelah kalian selamat dari amukan makhluk itu? Tirius menceritakan tentang kejadian di Karotte, dan juga perjalanan mereka melewati Waycall. Gellert juga menambahkan ceritanya tentang perintah-perintah yang dia berikan pada anak buahnya untuk menghubungi Palsa. Akhir-akhir ini, gelombang sedang tak menentu akibat dari Siklon Heid yang biasa terjadi di bulan Juli, dan laporan dari pengawas laut di distrik utara sangatlah buruk; badai sering terjadi, dan ketinggian air laut naik sampai 1,5 meter. Aku ragu anak buahmu bisa sampai di Palsa tepat waktu, kata Cidolfar. Benar sekali, apalagi kami kehilangan semua peralatan navigasi di kapal kami, kata Gellert.

Semoga mereka baik-baik saja, kata Tirius. Tenang saja, mereka orang-orang yang terlatih, hibur Gellert, tapi memang gelombang laut akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan. Kita hanya bisa berharap, semoga semuanya baik-baik saja, kata Tirius. Baiklah, sepertinya kalian sudah sangat lelah. Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan kamar buat kalian, kata Cidolfar setelah Tirius dan Gellert mengakhiri kisah mereka. Terima kasih Cidolfar, kata Tirius dan Gellert mengangguk.

Senja perlahan mulai bergerak ke barat, seiring dengan sinar-sinar merah keemasan yang akhirnya mulai diganti dengan hitamnya malam. Kegelapan itu seakan-akan menjadi pertanda dari berakhirnya segala kesenangan dan

kegembiraan hari itu, yang telah memberikan kelelahan dan kepuasan pada para petualang. Namun orang-orang tetap percaya, bahwa di balik kegelapan, fajar baru akan datang, membawa harapan-harapan baru yang lebih baik.

Bab X Rencana-rencana
Awal bulan Juli tahun 1892, dalam hitungan Tahun Manusia. Biasanya, seperti pada tahun-tahun sebelumnya, cuaca sangat cerah disertai angin bulan Juli yang lembut bertiup, membawa wangi bunga dari Laiquaninwamalos. Tapi pada tahun ini, ada awan-awan hitam gelap aneh yang mengambang di atas langit Rnegard bagian barat, dimana negeri Mordia dan Pegunungan Ered Mor terhampar luas di bawahnya. Sementara itu kabut-kabut aneh menyebar di sekitar lembah-lembah Baranduin, dan semakin hari semakin meluas hingga ke perbatasan Gemina. Kotapraja Sagresia yang disibukkan dengan segala kegiatan menyangkut perangperang kecil yang terjadi selama beberapa bulan belakangan ini, semakin penuh dan ramai dengan berkumpulnya orang-orang dan sukarelawan yang ingin membela negerinya. Seruan Valadien telah memanggil kita! Begitu alasan orang-orang itu. Sementara di Ipsen, keadaan pun sama saja. Pertahanan ditingkatkan, dan gerbang-gerbang gunung mulai ditutup. Meskipun begitu, banyaknya goblin dan Pasukan Hitam yang ada di Habad tetap tak terbendung, karena kapal-kapal terus berdatangan dari Forogaer, berlayar hitam dan sebagian berbendera bajak laut. Beberapa utusan dari berbagai negeri tampak melewati jalan-jalan utama, bersama dengan para penyihir. Orang-orang pun mulai yakin, bahwa perang besar akan segera terjadi, cepat atau lambat, dan nasib Rnegard dipertaruhkan di tangan mereka.

Setelah semalaman beristirahat di sebuah desa kecil, tak jauh dari Persimpangan Egil; akhirnya Rava, Reva, Runa, Brenda dan Targar meneruskan perjalanan. Pagi-pagi sekali sebelum fajar mereka berangkat. Mereka melewati sebuah lembah yang ditanami kebun yang sangat rimbun sehingga nyaris terlihat seperti hutan. Tapi dari balik pohon-pohon, bisa terlihat rumah-rumah panggung mungil, yang biasa digunakan petani untuk beristirahat. Reva kemudian mulai menyadari wangi luar biasa dari bunga dan buah. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka berada di antara bunga-bunga dan bebuahan itu, berjalan pelan di jalan rata, sementara di setiap sisi dan sekelilingnya, pepohonan membungkuk menaungi jalan. Selamat datang di Valadien! seru Targar sambil membuka kedua tangannya.

Wah, menakjubkan!

hebat,

kata

Rava

dengan

penuh

kekaguman.

Tempat

ini

Aku sependapat denganmu, sahut Targar. Ini sangat nyata, kata Reva, kita tak bisa menemukan tempat seindah ini di Magle.

Jalan yang mereka lalui akhirnya bertemu dengan jalan-jalan lain, menjadi jalan besar yang mengarah ke gerbang. Mereka berjalan pelan, hingga kemudian terlihat gerbang batu di depan mereka; yang ramai oleh kerumunan, sementara pengawas di kedua sisi atas gerbang tampak berjada-jaga. Beberapa pengelana berkumpul di dekat pintu masuk, mengobrol atau saling melakukan barter. Sebagian besar petani mengendarai keledai dan kerbau-kerbau yang mengangkut banyak beban, atau membawa keranjang di kepala mereka. Selain manusia, juga terlihat ras-ras lain yang juga keluar masuk gerbang; kurcaci-kurcaci yang bergerombol, beberapa makhluk berkerudung yang berekor; lollahoppa, suku pegunungan yang mirip troll tapi lebih pintar dan bijak, dan juga perempuan-perempuan aneh bertelinga panjang dan berkulit cerah. Targar berkata; bahwa akhir-akhir ini, ras aneh itu sering terlihat di Rnegard, terutama di tempat-tempat seperti Sagresia, Ipsen dan Sutri. Mereka tidak banyak bicara, tapi mahir menggunakan alat-alat dan perkakas. Targar dan anak-anak kemudian segera menggabungkan diri dengan kerumunan. Gerbang Utara dan keempat gerbang lainnya; Gerbang Laut, Gerbang Valduin, Gerbang Besar Depan dan Gerbang Barat Daya, adalah pintu masuk Sagresia. Gerbang-gerbang ini kontruksinya dibangun dari batu-batu besar nan kokoh yang diukir sedemikian rupa menjadi pintu-pintu raksasa yang digerakkan dengan teknologi katrol dan engsel, hasil olah kriya bangsa Kurcaci. Ada ruanganruangan khusus di bagian atas gerbang, yang digunakan sebagai pos penjagaan, dan tangga darurat untuk keperluan pertahan dan mobilitas pasukan pemanah jika terserang bahaya. Di dalam gerbang, dinding-dinding kota menjulang tinggi di depan mereka, dan rumah-rumah tembok berdiri di kanan kiri mereka. Masing-masing bangunan memiliki struktur kuat serta dibangun berdasarkan pola tertentu. Seni tata kota tinggi yang dipadukan dengan kerja keras para pembangunnya, menjadikan kotapraja Sagresia sebagai kota besar yang serba sibuk, ramai dan menjadi pusat dari

pemerintahan, ekonomi dan kekuasaan. Targar dan anak-anak kini ada di Distrik Utara, dan terjebak dalam keramaian. Ketika itu langir benar-benar cerah. Beberapa bintang yang masih tertinggal mulai padam di berbagai titik langit, tetapi masih ada satu bintang yang bersinar cemerlang di sebelah timur di bagian cakrawala paling terang. Matahari sudah naik cukup tinggi. Sagresia mulai hidup. Beberapa bagian kota sudah mulai melantunkan berbagai ragam suara. Di Distrik Selatan terdengar bertalu-talu bunyi godam pandai besi dan bunyi palu tukang kayu, dan di Distrik Barat terdengar derak-derak bunyi gerobak ketika lewat sepanjang jalan, membawa hasil pertanian dan juga perkebunan, sebagian dibawa ke pasar, tapi sebagian besar dikirim ke istana sebagai persediaan cadangan perbekalan perang. Asap berkepul-kepul keluar dari berbagai macam titik hamparan luas atap-atap, seolah-olah keluar dari celah kepundan yang besar. Air sungai menghempas di tiang-tiang jembatan di Distrik Timur dan Gerbang Valduin, demikian pula Gerbang Laut yang berbataskan dermaga-dermaga di mana kapal-kapal tertambat pada tal-tali pancangnya, terombang-ambing perlahan dimainkan ombak yang lembut. Di sekeliling menara Kristal, dekat dinding-dinding kubahnya, cakrawala nampak mencair membentuk suatu lingkaran lebar dan kabut tipis berwarna, yang juga dilihat dari kejauhan seperti hamparan pelangi indah yang menaungi langit istana dengan kelembutan cahayanya. Sebenarnya itu adalah hasil dari efek permainan cahaya matahari yang dipantulkan oleh Kristal dan mengenai embun-embun dan juga udara basah yang mulai menguap di atas kota. Orang-orang yang baru pertama kali datang ke kotapraja dan melihat pemandangan ini akan terkejut dan takjub luar biasa, tapi bagi orang-orang asli Sagresia sendiri, hal ini sudah biasa terjadi, apalagi di awal bulan Juli ketika cuaca cerah. Berbagai macam suara mendengung, hingar bigar di atas kota yang mulai terbangun sejak fajar tadi. Ke arah Timur, angin sepoi-sepoi pagi hari meniup melintasi langit berbercak-bercak putih bagaikan direnggut dari selubung kabut yang menutupi bukit-bukit batu. Beberapa orang yang kebingungan, ramai saling berceloteh dengan berbagai bahasa dalam ragam dialek yang berbeda, saling menunjuk keheranan ke arah jalan besar. Dari Gerbang Barat Daya ke arah Distrik Istana. Ada serombongan iringiringan besar yang bergerak perlahan di sekitar jalan itu. Siang itu rupanya ada beberapa utusan dari Dormyrr, Kota Hitam yang menjadi ibukota Mordia; ksatria-

ksatria berbaju besi hitam dan membawa panji-panji hitam bergambar matahari merah. Semua orang tampak ketakutan melihat mereka. Utusan kegelapan, kata Targar begitu melihat panji-panji dari kejauhan. Untuk apa mereka mengirim utusan ke sini? kata Rava. Entahlah, mungkin hanya sekedar basa-basi, jawab Targar, sekaligus untuk menakuti. Utusan-utusan itu lewat di depan mereka, berjumlah lima orang dan semuanya memakai topeng menyeramkan yang menutupi wajah mereka. Di depan dan di belakang utusan-utusan itu, beberapa Ksatria Putih mengawal mereka, sekaligus memberitahu orang-orang agar memberi jalan. Targar mengatakan pada anak-anak, bahwa sebaiknya mereka mengikuti rombongan itu. Rava dan yang lain setuju, karena mereka memang bingung dengan apa yang harus mereka lakukan setelah sampai di Sagresia. Tentu saja, mereka harus bertemu Tirius, seperti yang dikatakan Elwin, tapi mereka sama sekali tak tahu harus mencari dimana. Mungkin ke istana, kata Reva. Pak Tua mungkin menunggu kita di sana. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke istana. Mereka mengikuti jalan lurus dari Gerbang Utara menuju Distrik Istana, lalu berbelok melewati Jalur Barat, menuju ke pusat distrik. Banyak orang-orang yang juga menuju ke tempat itu, dimana terdapat pelataran besar di depan Aula Putih yang biasa digunakan untuk upacara-upacara istana dan juga upacara-upacara penting. Pelataran itu terhampar seluas 120 x 90 meter, dengan rumput halus dan lantai granit di bagian pinggirannya yang juga berfungsi sebagai jalan. Tepat di tengah alun-alun itu, berdiri kokoh sebuah pohon besar yang aneh, mirip Adansonia, setinggi 25 meter, dengan daun yang minim, cabang-cabang yang mencuat ke udara, seolah-olah telah ditanam terbalik, dan diameternya diperkirakan sekitar 15,9 meter. Pohon itu telah tumbuh sangat lama dan berusia ratusan tahun, yang menjadi simbol kemakmuran dan pemberi kehidupan. Saat itu alun-alun sudah dipenuhi banyak orang. Rupanya banyak yang penasaran dengan kedatangan utusan-utusan Dormyrr, dan mereka ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Setibanya di pelataran itu, diantara banyak orang yang berkumpul, beberapa dalam rombongan-rombongan dan tampak sibuk mengobrol, sementara yang lain berusaha bertanya-tanya pada para pengawal yang berjaga. Para utusan Dormyrr

sudah masuk ke dalam Aula Putih. Saat itulah terlihat Tirius dan Gellert yang sedang menaiki tangga, masuk ke dalam Aula, diantara barisan para pengawal. Itu Pak Tua!! seru Runa memberitahu yang lainnya. Pak Tua!! panggilnya. Runa berlari, menembus kerumunan dengan susah payah, sementara Rava berusaha mengikutinya. Targar, Reva, dan Brenda menyusul di belakang mereka. Pak Tua!! Runa terus memanggil-manggil Tirius sambil berusaha

menerobos kerumunan pengawal. Tiba-tiba saja, Tirius menoleh dan melihat ke arah Runa, dan segera saja berlari ke arahnya. Anakku! kata Tirius. Beberapa pengawal bergerak merintangi jalan, tapi Gellert memberitahu mereka agar memberi jalan pada anak-anak itu, hingga akhirnya Runa dengan mudah bisa menyusul Tirius di depan Aula. Pak Tua! Runa berlari ke pelukan Tirius. Hahaha syukurlah kau selamat, tapi dimana yang lain? tanya Tirius. Saat itulah muncul Rava, Reva, Brenda dan Targar. Kalian semua selamat, syukurlah, kata Tirius terharu. Bagaimana dengan Rayya, dimana dia? Dan juga Villian? Lalu siapa pemuda ini? Targar mengangguk, namaku Targar, dari drim. Kak Rayya tidak bersama kami, jawab Rava, ku kira dia bersamamu Pak Tua. Tirius menggeleng, tidak, jawabnya sedih, aku berhasil selamat bersama kapten dan yang lain, tapi Rayya tak bisa kutemukan, begitu juga Villian. Badai benar-benar telah memisah-misahkan kita. Tapi kuharap dia juga selamat, entah terdampar dimana Ya, kami juga berharap begitu, jawab Reva. Tentu saja, kata Tirius. Tapi tunggu, tak ada waktu untuk bercerita sekarang, karena pertemuan akan segera dimulai. Ayo masuk ke sana, Cidolfar sudah menunggu di dalam. Mereka pun akhirnya bersama-sama masuk ke dalam Aula.

Aula Putih Sagresia merupakan ruangan sangat besar berdinding pualam yang disangga oleh enam belas tiang dan satu tiang besar utama yang disebut Tiang Perak, karena konon terbuat dari perak, tapi sekarang telah berubah menjadi seperti tiang batu biasa. Aula ini juga merupakan ruangan pertama dan terluas dari

bagian depan istana. Sepanjang dindingnya dipenuhi ukiran dan relief ksatria dan sepanjang sisi kanan dan kiri, berderet kursi-kursi panjang, yang saat itu penuh oleh para bangsawan, ksatria dan petinggi istana. Tirius, Gellert, Targar dan anak-anak, duduk di bagian paling belakang. Rava melihat bahwa Raja belumlah hadir, dan kursi tahtanya masih kosong, tapi kursi-kursi lain di ruangan itu sudah dipenuhi oleh mereka yang ingin mengetahui tentang pertemuan hari itu. Duduk di barisan paling depan, kedua belas Dewan Istana, lalu di belakangnya para Maester, lalu para kapten, marsekal dan ksatria. Kemudian tirai di sisi kanan tahta terbuka, dan seorang anak muda berpakaian bangsawan dan bermahkota seumuran Rava dan Reva, keluar diiringi oleh seorang laki-laki tua. Dialah sang Raja Sagresia, penguasa muda Valadien, Oberyn Mellario. Rava sangat terkejut, ketika mengetahui bahwa ternyata sang Raja masih sangat muda. Oberyn Mellario adalah anak kedua dari Herbert Argilac, generasi ketujuh yang memimpin Sagresia dari Dinasti Argilac yang masyhur. Kakeknya adalah Argilac Orys Mellario, yang terkenal karena kepemimpinannya melawan Pasukan Bertopeng Sothfarlad, dimasa Perang Besar berlangsung (sekitar tahun 1872). Namun sayangnya, karena tubuhnya yang merapuh dan semakin melemah akibat perang, maka di usianya yang seharusnya mencapai keemasannya, sang Raja justru meninggal karena sakit yang aneh. Kekuasaannya pun diteruskan putra satusatunya, Herbert Argilac Mellario. Beliau mempunyai tiga orang anak; Edward Mellario, yang juga gugur dalam suatu serbuan orc di tahun 1883; dan juga Oberyn si Anak Emas, dan adiknya; Arryn, yang kini masih berusia 12 tahun dan tinggal bersama ibunya, permaisuri Dayne Myrtell, di Harnun. Baginda sendiri wafat di tahun 1883, dalam suatu kecelakaan saat berburu di padang Hithrn, dan kekuasaan akhirnya berpindah pada Oberyn. Dalam usia yang masih sangat belia, Oberyn menduduki tahta dan langsung menunjukkan sifat remajanya; yang egois, pemarah dan selalu mengambil jalan pintas. Wajahnya yang tampan, sama sekali jauh dari wajah bijak seorang raja, dan tubuhnya yang tinggi dan terlatih, sebenarnya tidak pernah dipakainya selain untuk memeriksa pasukan ketika apel siaga berlangsung tiap minggunya. Dia sama sekali tidak suka berburu, tapi sangat mahir dalam ilmu pedang. Dia juga mampu berbicara menggunakan kata-kata terhormat dalam beberapa bahasa dengan sangat baik dan sopan, serta sikapnya mirip dengan orang dewasa. Dia mengambil penasehat dari kerabat-kerabatnya sendiri, termasuk Lord Sandor Myrtell, adik ibunya, yang akhirnya, keputusannya itu sangat disesalkan

oleh sebagian besar anggota Dewan. Beberapa keputusan terakhir yang dibuat Raja, dirasakan sangat tidak bijaksana, tapi meskipun begitu tidak banyak orang yang melawannya, karena selain mata dan telinga Raja yang banyak beredar di kalangan bangsawan, tak sedikit pula para ksatria yang menjadi penjilat dan melaporkan segala tindakan mencurigakan yang dilakukan orang-orang yang tidak sepaham dengan Raja. Tingkat konsumsi kerajaan meningkat drastis; banyak pesta dan kegiatan makan-makan yang dilaksanakan selama Oberyn naik tahta, dan kas istana semakin lama semakin menipis. Anehnya, banyak para bangsawan dan ksatria yang kini bertambah kaya dari sebelumnya, dan sebagian besar dari mereka menjadi anggota Dewan Istana. Sayangnya, kenyataan ini hanya diketahui oleh sebagian kecil orang, seperti yang diceritakan Cidolfar pada Tirius. Cidolfar, sebagai salah satu pejabat istana, yang pernah mengabdi pada Argilac Orys, sebenarnya sangat tidak setuju bila Oberyn diberi kekuasaan memimpin, ketika usianya masih sangat belia. Tapi beberapa orang di Dewan Istana sangat menyetujui penobatan Oberyn sesegera mungkin, hingga akhirnya tak ada yang bisa dilakukan lagi. Tapi beberapa pejabat istana yang tidak setuju, diam-diam sering mengadakan pertemuan, yang gunanya membahas langkah-langkah kebijakan Raja yang sebenarnya tidak terlalu bijak, dan bagaimana mengatasinya, terutama bila menyangkut kepentingan rakyat. Saat itu Raja duduk di tahta, memandang semua orang yang ada di Aula dan tersenyum. Terima kasih semuanya, Raja kemudian mengangguk pada Lord Sandor, yang berdiri di samping kanannya, persilahkan utusan-utusan itu maju. Lord Sandor mengangguk, kemudian memberi isyarat pada salah satu pengawal. Tak berapa lama, utusan-utusan dari Dormyrr maju ke depan. Lima ksatria bertopeng dan berbaju hitam melangkah dengan langkah-langkah berat. Badan mereka dilapisi halberd dan lengan serta kaki mereka dilindungi pelindung besi. Salah seorang dari utusan itu juga membawa panji berbendera hitam, dengan gambar matahari berwarna merah. Pemimpin Utusan itu maju dan membungkuk sedikit. Wajahnya ditutupi topeng hitam bergambar wajah monster yang menyeringai, dengan mata berwarna merah. Dari yang tertinggi di Mordia, beserta sekutunya. Pesannya adalah; Demi persatuan kekuasaan, Sagresia harus mengakui kekuatan Mordia, dan menarik penjagaan di perbatasan, agar Mordia bisa melakukan niaga dan penaklukan pada

daerah-daerah yang bukan kekuasaan Mordia, juga pada negeri yang melawan kehendak Mordia, kata Utusan itu dengan Bahasa Umum yang tidak terlalu jelas. Segera saja terjadi kegaduhan, bahkan beberapa ksatria berteriak-teriak bahwa pesan itu adalah pernyataan perang. Raja Oberyn mengangkat tangannya, dan kegaduhan itu perlahan-lahan terhenti. Jadi kami harus mengakui kekuasaan Mornia dan membuka penjagaan kami di perbatasan, kata Raja. Lalu bagaimana dengan goblin dan Pasukan Hitam yang belakangan ini menyerang wilayah-wilayah kami? Tidakkah itu perbuatan Mordia? Tidak, jawab sang Utusan. Mereka bukan kami, sang Utusan memperlihatkan panji-panji mereka. Kamilah yang sekarang menguasai Mordia dan seluruh Mordemar. Kami telah mengusir mereka yang dulunya menguasai tempat kami. Dan sekarang mereka mengusik ketenangan rakyat negeri ini, potong Raja dengan sinis. Itu adalah hukum alam, kata sang Utusan. Jadi apa yang harus kami lakukan? kata Sang Raja, apakah mengakui kekuasaan Mordia yang sekarang bisa menghentikan goblin yang menyerang negeri ini? Kami tidak memastikan hal itu, jawab sang Utusan, itu adalah urusan negeri ini. Ada goblin-goblin di pihak kami, tapi lebih banyak yang tidak patuh pada perintah Pemimpin Tertinggi. Kami berani memastikan, bahwa goblin yang menyerang Sagresia saat ini bukanlah goblin Mordia. Raja berembuk dengan penasehatnya, kemudian berkata; Kami tidak tahu siapa pemimpin kalian, atau siapakah penguasa Mordia sekarang ini, jadi bisakah kalian memberitahu semua yang ada disini, siapakah kalian sebenarnya? Sang Utusan terdiam sebentar, kemudian salah seorang dari mereka, yang membawa panji hitam, maju dan berkata; Mordia telah ditaklukkan dari bangsa Dundlings, yang sebelumnya kalian kenal, menguasai wilayah Dataran Mordia. Dua puluh tahun yang lalu, bangsa ini telah dikalahkan oleh kalian, bangsa Rnegard yang bersatu. Tapi kini, kami telah menguasai tempat mereka. Tujuan kami hanyalah perdagangan, pertukaran bisnis dan perekonomian, dan juga bantuan persekutuan bagi Negara asal kami.

Penguasa kami berasal dari jauh, negerinya bernama Emperia, dan dia bergelar Emperor. Dia menguasai sihir tingkat tinggi dari bangsanya. Dialah yang kini memimpin Mordia dan akan membawa negeri kami ke dalam kemasyhuran dan nama besar. Dia mengirim kami ke sini, agar negeri ini juga mengakui kehebatannya, dan bersedia menjadi sekutunya. Segera saja terdengar kegaduhan sekali lagi di antara orang-orang yang hadir di Aula itu. Ibarat melemparkan sebutir kerikil ke dalam suatu telaga yang penuh kodok atau menembakkan panah ke arah sekelompok burung, maka efek dari perkataan Utusan Mordia itu dijawab dengan teriakan-teriakan, cemoohan dan juga kutukan semua orang yang ada di Aula itu. Itu adalah tantangan perang! jerit seorang kapten dari bangku deretan belakang di sisi kanan. Tidak tahu diri, tidak sopan! seru seorang bangsawan di sisi kiri. Kami tidak mau tunduk pada orang-orang yang tidak tahu sopan santun! seru salah seorang marsekal yang duduk di dekat Cidolfar. Perang, perang!! jerit beberapa orang dari deretan bangku di dekat Rava. Meskipun suara gaduh itu memenuhi seluruh Aula, bahkan tampak beberapa orang mulai berdiri dan mengacung-acungkan tinjunya, para Utusan Mordia itu merasa tidak terganggu sama sekali. Menganggap insiden itu sebagai keramaian biasa, gairah para ksatria yang lama tidak berperang dan hanya unggul di dalam wilayahnya sendiri. Cidolfar dan Tirius menatap kejadian itu dengan pandangan aneh. Para Utusan Mordia ternyata orang-orang pemberani yang tak takut pada tekanan dan gertakan. Sang Raja berkata; besarnya keberanian kalian untuk datang ke tempat ini, kami sangat menghargai. Tapi sangat disayangkan tentang permintaan Mordia. Bukankah seharusnya itu ditujukan pada Dewan Rnegard? Lagipula Mordia masih menyimpan masa lalu dan menyembunyikan sesuatu. Kami di sini, belum bisa menentukan jawaban kami, karena haruslah dirundingkan dulu dengan Dewan Istana dan juga Dewan Persekutuan. Jadi ku harap, Mordia memakluminya. Sang Utusan memandang teman-temannya, dan beberapa dari mereka mengangguk. Kami paham, dan akan menunggu. Tapi secepat bulan baru berganti, jawaban sangat kami kehendaki, entah membuka tangan atau melempar belati,

kata sang Utusan. Kemudian dia dengan ragu-ragu membungkuk dan kemudian segera berbalik. Lalu diikuti teman-temannya mereka segera keluar dari Aula. Setelah para utusan itu pergi, maka Raja mengundang semua anggota Dewan dan Maester untuk mengadakan rapat lanjutan. Sementara yang lain diminta meninggalkan Aula. Kuharap agar semua orang berpikiran baik dan tetap tenang. Apa yang baru saja terjadi, hanyalah sebuah basa-basi antar negeri. Kita akan tetap berdiri sendiri demi kemerdekaan tanah air kita sendiri, kata Raja Oberyn. Panjang umur sang Raja, hidup Sagresia! seru orang-orang di Aula, lalu satu-per-satu mulai beranjak meningggalkan Aula. Cidolfar mendekati Tirius dan berkata; sebaiknya kalian menunggu di rumahku, kurasa mereka pasti lelah setelah perjalanan jauh, sambil melirik ke arah anak-anak. Tirius mengangguk, baiklah, kami mengerti, lalu dia mengajak Gellert dan anak-anak keluar dari tempat itu.

Setelah semua yang tidak termasuk anggota Dewan dan mereka yang tidak berkepentingan keluar dari Aula, maka Raja Oberyn segera memimpin rapat. Banyak dari anggota Dewan yang menolak permintaan utusan Mordia. Namun mereka juga mengkhawatirkan serangan yang mungkin akan dilakukan Mordia. Perang mungkin memang tak bisa dihindarkan, tapi persiapan dan evakuasi perlu segera dilakukan. Lagipula, Barad Annun juga kabarnya sudah mulai bersiap. Dan tentang terlihatnya para Ksatria Lnmahtar di beberapa tempat, beberapa orang mengatakan bahwa perang-perang dalam skala kecil mungkin sudah terjadi. Tirius dan Gellert membawa anak-anak itu ke rumah Cidolfar. Mereka beristirahat dan saling berbagi kisah masing-masing. Tirius menceritakan perjalanannya, setelah dia mendarat di Karotte, berpisah dengan Bern dan Mathilda. Dia juga bercerita tentang perjalanannya melewati Waycall hingga sampai di Sagresia dan bertemu Cidolfar. Di akhir cerita, Tirius mempunyai keyakinan bahwa Angladf mungkin saja selamat. Kemudian giliran anak-anak bercerita. Reva mengisahkan, bagaimana mereka terdampar di Nanlstaen, dan bagaimana mereka bisa bertemu Targar yang menemani mereka melewati Dataran Sunyi hingga ke Nanirin. Rava menambahkan tentang pertarungan mereka dengan orang-orang

jahat yang ingin menangkap mereka untuk dijadikan tawanan, dan Runa bertanya tentang Elwin pada Tirius. Garuda? kata Tirius terkejut. aku tak ingat ada garuda bisa bicara bernama Elwin. Satu-satunya garuda yang ku kenal, tinggalnya di Laikumalos, dan namanya Thondor. Anak-anak pun berpandangan. Lalu ketika giliran Targar menceritakan tentang kejadian yang dilihatnya di malam ketika Tirius, Angladf dan orang-orang Magle meninggalkan pesisir Westdowns dan naik ke Isilharan; Targar mengatakan bahwa dia melihat Galfagar ketika mengirim angin-angin hingga membentuk pusaran raksasa yang sangat besar. Angin itulah yang menyebabkan badai yang telah menghantam dan mempersulit pelayaran Isilharan. Tirius dan Gellert tentu saja tak percaya, dan beranggapan bahwa Galfagar adalah teman Angladf, dan salah satu penyihir yang terkenal. Tapi Targar meyakinkan mereka berdua, dengan dalih bahwa tindakan Galfagar terlalu aneh, bahkan setelah dia melihat Angladf dan orang-orang Magle pergi. Dan dia juga menceritakan alasan dan kecemasan Amrudil hingga mengutusnya untuk menyusul Angladf. Jadi Amrudil curiga dengan sikap Galfagar belakangan ini? kata Tirius. Ya, terlebih setelah perjalanan terakhirnya dari Emyn Nandin dan Durgandine, jawab Targar. Jadi benar dugaan Angladf, kata Tirius. Apa maksudmu? tanya Gellert. Tirius menarik nafas panjang, kemudian melanjutkan; Angladf pernah berkata padaku, bahwa sikap Galfagar berubah setelah pulang dari Emyn Nandin. Dia juga lebih banyak berkata tentang hal-hal yang menyangkut kekuatan dan kehidupan abadi. Ada beberapa hal yang disembunyikan Galfagar dari Ithryn Leben, dan Angladf sedang mencari tahu tentang hal itu. Tapi teringat pertemuan kami ketika di Westdowns, rasa-rasanya keuda orang itu seperti menjaga jarak masingmasing, keduanya tetap saling berbicara layaknya teman lama, tapi lebih penuh kehati-hatian daripada sikap bersahaja. Benar juga, Amrudil juga mengatakan hal itu, tambah Targar. Ini benar-benar sulit, kata Gellert, di satu pihak, kita mengkhawatirkan tentang Mordia, dan di sisi lain, gangguan-gangguan kecil yang meresahkan dari goblin. Dan kini, ditambah satu lagi dari pihak kita sendiri, Galfagar yang pintar,

ternyata mempunyai kehendak-kehendak lain di luar Ithryn Leben. Padahal, pada merekalah kita berharap, selain daripada para peritentu saja. Itulah yang ku khawatirkan, seperti juga yang pernah dikatakan Angladf, kata Tirius. Jadi apa rencanamu berikutnya? tanya Gellert pada Tirius Aku tetap akan mengantar anak-anak ini ke Eluenmyrra, seperti yang disarankan Angladf, jawab Tirius, bagaimana denganmu? Besok aku akan mencari tahu lagi di kota, mungkin Gregory dan Seamus, serta anak buahku sudah sampai di kota. Semoga berita-berita yang terjadi selama ini sudah sampai ke telinga Lord Wylde. Baiklah, kurasa kini kita tinggal menunggu Cidolfar dan mendengarkan apa hasil rapat Dewan, kata Tirius. Kemudian merekapun beristirahat dan berharap cemas menunggu

kepulangan Cidolfar.

Targar hampir selesai mengecek barang-barangnya, ketika Rava dan Runa mendekatinya. Apa kau ingat kata-kata Elwin setelah meninggalkan kita? tanya Rava. Targar mengemasi barang-barangnya, dan berkata; garuda itu menunggu kita di Sagresia, jawabnya. Nah itu dia, kata Rava, aku penasaran, benarkah dia ada di kota ini? Lalu bagaimana menemukannya? Tirius berkata bahwa dia tidak mengenal Elwin, tapi garuda itu sendiri mengatakan bahwa mungkin Tirius sudah sampai di kota ini, kata Targar. Memang itulah yang dikatakannya, tapi ada beberapa keganjilan, tentang garuda itu yang tahu tentang Pak Tua, dan sebaliknya, Pak Tua malah tidak tahu menahu tentang Elwin. Bahkan katanya, garuda yang bisa bicara bernama Thondor, dan tinggal di Laikumaloskalau aku tidak salah dengar. Targar diam sebentar, lalu berkata entahlah, aku sendiri juga bingung, lalu dia balik bertanya pada Rava, benarkah Gellert adalah kapten kapal Isilharan? Ya, jawab Rava, dia kapten Isilharan, kapal yang kami naiki. Jadi benar bahwa dia salah satu dari Tujuh Ksatria Samudra? tanya Targar. Sepertinya begitu. Itu yang dikatakan Angladf, jawab Rava. Hmm Targar mengangguk-angguk.

Cidolfar pulang ketika hari menjelang malam. Wajahnya tampak letih. Dia segera memberitahu Tirius dan Gellert tentang hasil pertemuan Dewan. Raja benar-benar telah kehilangan kebijaksanaan. Negeri ini tak lagi mampu bertahan, kata Cidolfar sambil menahan marah. Apa maksudmu? tanya Tirius. Perang akan terjadi lebih cepat dari yang kita perkirakan, jawab Cidolfar. Raja telah memerintahkan beberapa ksatria agar membunuh utusan-utusan Mordia, ketika mereka sudah keluar jauh dari perbatasan Sagresia. Itu sama saja menyulut perang. Padahal belum ada kabar dari pasukan yang pergi ke drim dan Hithrn. Jadi Raja memilih memulai perang ini lebih cepat, kata Tirius. Itu suatu keputusan yang sangat gegabah, ujar Cidolfar. Benar sekali, kata Gellert. Perang memang akan terjadi. Tapi memulai lebih dulu, bahkan memancing kemarahan musuh, adalah tindakan yang berbahaya. Itulah yang kusesalkan, kata Cidolfar, dan dewan malah menyetujui keputusan itu. Sepertinya, kehancuran memang telah mengintai negeri ini, kata Tirius. Tidak! seru Cidolfar, tak akan kubiarkan hal itu terjadi, selama aku masih ada di negeri ini. Semangat yang dibawa Argilac tidak boleh berhenti, dan akan ku buat keturunannya mewarisinya. Aku sudah berjanji pada Raja yang terdahulu untuk tetap mempertahankan Sagresia agar tetap berdiri di Rnegard ini An I Aran an I Noranan I Oronan An I Laiquenan an lyefarnan An Tur I Tuo ana an Mahta - I Hermord Tuo Amin an ilya sere...

Semua yang mendengarnya merasa terharu. Semangat Cidolfar telah membakar semua yang ada di rumah itu menjadi lebih bersemangat. Tapi ada beberapa hal yang mengganggu pikiranku, kata Cidolfar kemudian. Apakah itu? kata Tirius. Cidolfar menjawab; tentang pernyataan utusan Mordia tadi siang. Mereka mengatakan, bahwa tak ada hubungannya dengan serangan-serangan yang terjadi sebelum ini. Mereka juga memberitahu, bahwa sisa-sisa Orang-orang Barat yang

dulu menguasai Mordia, kini telah dikuasai mereka. Aku merasa aneh dengan pernyataan mereka. Kenapa Mordia harus mengirim utusan? Kalau mereka sudah menyerang kita sebelumnya? Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres dengan kejadian-kejadian belakangan ini. Emperia adalah negeri besar yang termasuk dalam wilayah Arlia, sebuah negeri di bagian paling barat dari Benua Besar. Entah kenapa mereka bisa sampai ke tanah Rnegard yang ada di bagian Timur benua ini. Dan menurut Utusan Mordia itu, pemimpin mereka yang bergelar Emperor, kini menjadi penguasa Mordia. Jadi siapakah sebenarnya mereka? Dan siapa sebenarnya musuh kita? Perang ini rupanya menimbulkan banyak sekali pertanyaan dan misteri. Aku tak paham maksudmu? kata Tirius. Cidolfar menghela nafas panjang, maksudku, sepertinya ada sesuatu di balik kejadian dan serangan-serangan di perbatasan dan wilayah Habad. Mungkin ada pihak-pihak tertentu, yang sengaja memanfaatkan situasi dengan

mengatasnamakan Mordia. Atau mungkin juga ini bagian dari rencana mereka, entahlah. Tapi kurasa, harus ada yang mencari tahu tentang hal ini. Sejenak Tirius teringat cerita Targar tentang Galfagar, dan juga kecurigaan Angladf tentang penyihir itu. Begitu juga berita dari Amrudil yang disampaikan Targar, dan akhirnya Tirius memberitahukan masalah itu pada Cidolfar, yang tentu saja menjadi sangat terkejut. Jadi begitu?!? Cidolfar berseru, salah satu penyihir terhebat Rnegard kehilangan kebijaksanaannya Semoga saja tidak begitu, sebaiknya kita tunggu kabar selanjutnya, kata Tirius buru-buru.

Maka Tirius pun mulai mengatur rencana; bagaimana mereka keluar dari Sagresia dan melakukan perjalanan ke Eluenmyrra dengan selamat. Sementara Cidolfar berunding dengan Gellert tentang bagaimana melaporkan keadaan ini pada sekutu-sekutu Valadien yang ada di luar Rnegard. Bantuan sangat diperlukan di masa sulit ini, entah itu kekuatan pasukan ataupun perbekalan. Aku berharap Istakir dan para penyihir masih ada di pihak kita pada perang ini. Tentu saja mereka ada di pihak kita, jawab Tirius, tapi rupanya konflik internal mereka sendiri sedang terjadi.

Keesokan paginya, Cidolfar menyarankan agar Tirius segera pergi meninggalkan kota, sebelum suasana kota berubah karena persiapan disana-sini yang mungkin tidak karuan, dan sekaligus demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Cidolfar juga sepenuhnya mendukung rencana Gellert yang bermaksud mencari bantuan ke Palsa. Apalagi dia merasa, bahwa perang akan semakin dekat, lebih cepat dari perkiraan siapapun jika keputusan Raja benar-benar telah dilaksanakan. Cidolfar paham sepenuhnya, itulah akibatnya dari suatu sistem pemerintahan yang dikuasai oleh segelintir orang yang mempunyai kemewahan berlebih, dan secara turun temurun mewarisi tahta kerajaan, tanpa sebelumnya pernah merasakan perjuangan bagaimana tahta itu bisa didapatkan. Keresahan itu juga sebelumnya sudah dirasakan oleh Raja yang terdahulu, Herbert Argilac, yang memahami sepenuhnya, bahwa mungkin saja, karena terdorong oleh kedamaian yang telah diciptakan oleh para pendahulu mereka, maka keturunannya yang akan berkuasa setelahnya, tentunya akan sedikit mengalami kemunduran semangat juang, karena terbiasa hidup dalam masa damai dan penuh kemewahan. Dan hal itu kini benar-benar terjadi. Maka pada siang hari itu, Cidolfar dan Gellert pergi ke kota dan mengunjungi Gerbang Laut, dan mengecek kapal-kapal yang ada di pelabuhan. Tapi tak ada tanda-tanda Gregory dan Seamus, serta anak buah Gellert yang lain. Tirius pun mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk bekal dan lain-lain; obat-obatan, senjata, tenda dan sebagainya. Tentu saja, perjalanan ke Eluenmyrra sangatlah jauh, dan dia tak mempunyai persiapan yang matang, terutama fisiknya yang sudah tua. Anak-anak tentu saja terlihat sangat senang, setelah kelelahan dari perjalanan mereka sebelumnya hilang, dan kini mereka akan mengalami petualangan baru dalam perjalanan mereka ke Eluenmyrra. Brenda sudah memutuskan, bahwa dia akan tetap tinggal di Sagresia, sambil menunggu kabar selanjutnya tentang ayah, ibu dan adiknya, yang menurut Tirius, mungkin mereka dalam perjalanan dari Karotte ke Sagreisa. Jadi Brenda memutuskan untuk tinggal di rumah Cidolfar, yang langsung disambut baik oleh istri Cidolfar.

Malam harinya, Cidolfar kembali bertemu dengan orang-orang Dewan. Mereka membahas tentang keputusan Raja yang ingin membunuh utusan Mordia.

Mereka mengkhawatirkan tentang hal-hal yang akan terjadi, terutama rencana Mordia berikutnya. Cidolfar menyampaikan keciurigaannya, tentang perang yang terjadi di beberapa tempat; di perbatasan, di Wilayah Selatan dan Habad, serta kabar dari Utusan Mordia. Ada beberapa hal yang perlu dikaji dan diselidiki ulang. Maka, Dewan pun setuju mengirim mata-mata dan menunggu terkumpulnya berita yang lebih jelas. Saat ini jumlah Ksatria Putih dan Pengawal Perak sedang terbagibagi menjadi beberapa kekuatan. Terlebih lagi dengan adanya kekacauan dimanamana. Penjagaan benteng dan kota juga lebih diperketat, terutama kediaman raja dan bangsawan. Dewan pun mengkhawatirkan ancaman Mordia. Tapi menolak perintah Raja sama saja melawan hukum. Maka diambillah persetujuan, mereka akan menggunakan jasa para mercenary untuk melakukan pembunuhan Utusan Mordia, setelah mereka keluar dari Perbatasan Sagresia.

Maka demikianlah, pada hari selanjutnya, Tirius, Rava, Reva, Runa, dan Targar berangkat menuju Eluenmyrra. Targar berkata, bahwa sebaiknya mereka mampir dulu ke Tol drim, baru kemudian ke Sutri. Tirius pun menyetujui usul itu, dan berkata; sebaiknya mereka melewati Tarnalom; lembah sempit di selatan Sutri. Dari tempat itu, mereka bisa melintasi Pegunungan Berkabut dengan lebih mudah. Ya benar, kata Targar, itu jalan yang biasa dilalui para pedagang dan petualang dari Parth Mithren dan negeri-negeri di sebelah selatan. Maka mereka pun mulai mengikuti rencana semula, dan bergegas menuju Parth drim.