Anda di halaman 1dari 7

Koreksi Radiometrik Citra Landsat menggunakan ENVI 4.

x ENVI (the Environment for Visualizing Images) merupakan sebuah revolusi dari sistem pengolahan citra digital. Dari permulaan lahirnya, ENVI telah didesain untuk banyak kebutuhan spesifik pada siapa yang biasanya menggunakan data penginderaan jauh satelit atau foto udara. ENVI menyediakan visualisasi data dan analisisnya secara komprehensif untuk citra dalam berbagai ukuran dan tipe apapun dalam lingkungan yang innovative dan user-friendly.

Koreksi atmosferik dilakukan pada citra yang mengalami distorsi radiometrik. Atau dikatakan juga bahwa Koreksi radiometrik dilakukan karena gangguan dari efek atmosfer sebagai sumber kesalahan utama. Distorsi dapat terjadi sewaktu akuisisi data dan transmisi atau perekaman detektor-detektor yang digunakan pada sensor dengan ciri-ciri kesalahan meliputi : - Adanya piksel yang hilang - Pengaruh atmosfer yang menyebabkan hamburan bayangan obyek - Adanya tampilan garis yang disebabkan oleh ketidak seragaman detektor Koreksi tersebut di atas dapat menggunakan metode penyesuaian histogram (histogram adjustment). Asumsi yang melandasi metode ini adalah nilai piksel terendah tiap saluran seharusnya bernilai 0. Apabila nilai lebih besar dari nol (>0), maka dihitung sebagai bias atau offset, dan koreksi dilakukan dengan cara menghilangkan bias tersebut, yaitu mengurangi keseluruhan nilai spektral pada saluran asli dengan nilai biasnya masing-masing. Di ENVI dapat dilakukan dengan Band Math atau Dark Substract Basic Tools > Band Math kemudian masukkan formula pengurangn nilai bias, misal : B1-54 lakukan untuk masing-masing band, dengan nilai biasnya masing-masing

Basic Tools > Preprocessing > General Purpose Utilities > Dark Substract pilih citranya, maka semua band akan terkoreksi (apabila semua band/saluran berada dalam satu file) Untuk cek nilai rentan band/saluran Pilih Basic Tools > Statistics > Compute Statistics

Koreksi Geometrik
Data asli hasil rekaman senseor pada satelit maupun pesawat terbang merupakan representasi dari bentuk permukaan bumi yang tidak beraturan. Meskipun kelihatannya merupakan daerah yang datar, tetapi area yang direkam sesungguhnya mengandung kesalahan (distorsi) yang diakibatkan oleh pengaruh kelengkungan bumi dan atau oleh sensor itu sendiri. Pada bagian ini akan diuraikan secara ringkas tentang bagaimana cara melakukan koreksi geometrik, khususnya menggunakan perangkat lunak ERDAS. Koreksi Geometrik (Rektifikasi) Rektifikasi adalah suatu proses melakukan transformasi data dari satu sistem grid menggunakan suatu transformasi geometrik. Oleh karena posisi piksel pada citra output tidak sama dengan posisi piksel input (aslinya) maka piksel-piksel yang digunakan untuk mengisi citra yang baru harus di-resampling kembali. Resampling adalah suatu proses melakukan ekstrapolasi nilai data untuk piksel-piksel pada sistem grid yang baru dari nilai piksel citra aslinya. Proyeksi peta Sebelum melakukan koreksi geometrik, analis harus memahami terlebih dahulu tentang sistem proyeksi peta. Untuk menyajikan posisi planimetris ada sejumlah sistem proyeksi. Untuk Indonesia, sistem proyeksi yang digunakan adalah sistem proyeksi UTM (Universal Tranverse Mercator) dengan datum DGN-95 (Datum Geodesi Nasional). Untuk tingkat internasional, DGN-95 sesungguhnya sama dengan WGS84, sehingga penggunaan WGS84 sama dengan DGN-95. Masing-masing sistem proyeksi sangat terkait dengan sistem koordinat peta. Registrasi Dalam beberapa kasus, yang dibutuhkan adalah penyamaan posisi antara satu citra dengan citra lainnya dengan mengabaikan sistem koordinat dari citra yang bersangkutan. Penyamaan posisi ini kebanyakan dimaksudkan agar posisi piksel yang sama dapat dibandingkan. Dalam hal ini penyamaan posisi citra satu dengan citra lainnya untuk lokasi yang sama sering disebut dengan registrasi. Dibandingkan dengan rektifikasi, registrasi ini tidak melakukan transformasi ke suatu koordinat sistem. Dengan kata lain, registrasi adalah suatu proses membuat suatu citra konform dengan citra lainnya, tanpa melibatkan proses pemilihan sistem koordinat. Georeferensi Georeferensi adalah suatu proses memberikan koordinat peta pada citra yang sesungguhnya sudah planimetris. Sebagai contoh, pemberian sistem koordinat suatu peta hasil dijitasi peta atau

hasil scanning citra. Hasil dijitasi atau hasil scanning tersebut sesungguhnya sudah datar (planimetri), hanya saja belum mempunyai koordinat peta yang benar. Dalam hal ini, koreksi geometrik sesungguhnya melibatkan proses georeferensi karena semua sistem proyeksi sangat terkait dengan koordinat peta. Registrasi citra-ke-citra melibatkan proses georeferensi apabila citra acuannya sudah digeoreferensi. Oleh karena itu, georeferensi semata-mata merubah sistem koordinat peta dalam file citra, sedangkan grid dalam citra tidak berubah. Titik Kontrol Lapangan (Ground Control Point/GCP) Titik kontrol lapangan (GCP) adalah suatu titik-titik yang letaknya pada suatu posisi piksel suatu citra yang koordinat petanya (referensinya) diketahui. GCP terdiri atas sepasang koordinat x dan y, yang terdiri atas koordinat sumber dan koordinat referensi. Koordinat-koordinat tersebut tidak dibatasi oleh adanya koordinat peta. Secara teoretis, jumlah minimum GCP yang harus dibuat adalah : Jumlah minimum GCP = (t+1) (t+2)/2 dimana t=orde Kenapa perlu rektifikasi? Koreksi geometrik merupakan proses yang mutlak dilakukan apabila posisi citra akan disesuaikan atau ditumpangsusunkan dengan peta-peta atau citra lainnya yang mempunyai sistem proyeksi peta. Ada beberapa alasan atau pertimbangan, kenapa perlu melakukan rektifikasi, diantaranya adalah untuk: 1. Membandingkan 2 citra atau lebih untuk lokasi tertentu 2. Membangun SIG dan melakukan pemodelan spasial 3. Meletakkan lokasi-lokasi pengambilan training area sebelum melakukan klasifikasi 4. Membuat peta dengan skala yang teliti 5. Melakukan overlay (tumpang susun) citra dengan data-data spasial lainnya 6. Membandingkan citra dengan data spasial lainnya yang mempunyai skala yang berbeda. 7. Membuat mozaik citra 8. Melakukan analisis yang memerlukan lokasi geografis dengan presisi yang tepat.

Pengolahan dan Koreksi Citra Satelit


Pengolahan dan Koreksi Citra Satelit

Dalam pembuatan peta dengan sekala besar dalam dima cakupan wilayah yang besar pada saat ini telah banyak menggunakan metode yang lebih modern dari pengukuran langsung dilapangan, metode ini dinamakan Remote Sensing atau sering disebut sebagai pengindraan jauh. Menggunakan metode pengindraan jaug peta dapat dibentuk dengan berbagai tema dan dapat disesuaikan dengan tujuan pemetaan tersebut.

Dalam penggunaanya metode pengingraan jauh selalu berhubungan langsung dengan data raster dalam hal ini disebut citra. Citra ini merupakan hasil penangkapan visual permukaan bumi yang dilakukan oleh sebuah satelit. Ada beberapa satelit yang menyediakan citra ini gratis kepada pengguna seperti Landsat. Data ini tidak akan berarti apa apa bila tidak ada proses yang lebih lanjut untuk mematangkan citra tersebut dengan tujuan agar citra tersebut dapat dijadikan data primer dalam pemetaan suatu wilayah. Untuk memperoleh citra yang diinginkan terhadap suatu wilayah bisa didapat dengan mendownload citra tersebut di beberapa beberapa sumber yang tersedia. Akan tetapi data yang didapat bukanlah data citra dalam format .ers melainkan data gambar dengan format .tif. untuk itu perlu dilakukan proses lebih lanjut agar data tersebut dapat digunakan. Selain itu, sebuah citra dapat menampilkan bentuk visual dari permukaan bumi secara luas sehingga apabila dari citra tersebut hanya dibutuhkan sebagian dari citra, maka diperlukan pemotongan citra atau cutting citra dengan tujuan agar apa yang ditampilkan citra sesuai dengan daerah yang diinginkan. Disisilain, ketelitian yang disajikan oleh citra yang begitu besar yang tidak sepadan dengan pengukuran langsung dilapangan, untuk itu perlu dilakukannya koreksi geometrik agar kesalahan dalam koordinat terhadap suatu titik dapat diminimalisir.

Pengolahan citra satelit

Karena data penginderaan jauh berupa data digital maka penggunaan datamemerlukan suatu perangkat keras dan lunak khusus untuk pemrosesannya.Komputer PC dan berbagai software seperti ERMapper, ILWIS, IDRISI, ERDAS, PCI, ENVIdan sebagainya dapat dipergunakan sebagai pilihan. Untuk keperluananalisis dan interpretasi dapat dilakukan dengan dua cara :

1. Pemrosesan dan analisis digital dan 2. Analisis dan interpretasi visual.

Kedua metoda ini mempunyai keunggulan dan kekurangan, setidaknya kedua metoda dipergunakan bersama-sama untuk saling melengkapi. Pemrosesan digital berfungsi untuk

membaca data, menampilkan data, memodifikasi danmemproses, ekstraksi data secara otomatik, menyimpan, mendesain formatpeta dan mencetak. Sedangkan analisis dan interpretasi visual dipergunakanapabila pemrosesan data secara digital tidak dapat dilakukan dan kurangberfungsi baik.

Pemrosesan data secara digital dilakukan dengan menggunakan perangkatlunak (software) yang khusus dibuat untuk keperluan tersebut. Berbagaialgoritma tersedia di dalam perangkat lunak tersebut yang memungkinkan datapenginderaan jauh diproses secara otomatik. Salah satu contoh misalnyaadalah menggabungkan data (3 -4 band) dalam citra gabungan denganmenggunakan filter merah, hijau dan biru (RGB) yang menghasilkan citrakomposit (color composite image). Masing-masing band diberi filter yangberbeda dan menghasilkan berbagai tampilan

Selain untuk mengubah tampilan citra pemrosesan digital dapat pula dipakaiuntuk memperoleh data secara otomatik (ekstraksi data). Ekstraksi ini antaralain dapat dipakai untuk memetakan tanaman hijau (NDVI), klasifikasi(supervise dan unsupervise) seperti dalam memetakan tutupan lahan (landcover), memetakan badan air dan sebagainya. Berbeda dengan pemrosesan digital dimana hampir seluruh pekerjaandilakukan oleh komputer, analisis visual sebagian besar dilakukan olehmanusia. Dengan analisis digital komputer hanya dapat mengenal danmengolah nilai spektralnya saja, sedangkan analisis visual manusia dapatmemperkirakan dan menentukan suatu obyek berdasarkan sifat fisiknyaseperti membedakan antara gajah dan kucing disamping berdasarkan nilaispektralnya. Ciri pengenal yang biasa dipakai dalam penafsiran potret udarasecara utuh dapat diterapkan pada data citra penginderaan jauh.Pada data potret udara, yang berupa data analog, penafsiran dalam bentukpenarikan garis dan penandaan dilakukan pada lembar potretnya (hard copy),sedangkan pada data digital selain dilakukan pada hard copy dapat jugadilakukan langsung dari layar monitor dan hasilnya langsung disimpan dalambentuk data digital.

Analisis

visual

hanya

dapat

dilakukan

oleh manusia

yang terlatih

dalam

bidangpekerjaannya.Dalam prakteknya tidak semua informasi di permukaan bumi dapat

diperolehmelalui pemrosesan digital maupun analisis visual. Untuk mendapatkan hasilmaksimak kedua cara harus digabungkan yang akan saling melengkapi.

Koreksi Geometrik Distorsi geometrik merupakan distorsi spatial, yaitu terjadi pergeseran posisispatial citra yang ditangkap. Distorsi geometrik ini disebabkan oleh kesalahanyang terjadi seperti kerusakan sensor (internal), platform (external) dangerakan bumi. Koreksi yang dilakukan bila terjadi distorsi bersifat sederhana,seperti centering (translasi), size (skala), skew (rotasi). Gambar dibawah menggambarkan matriks transformasi. Koreksi geometrik bila terdapat distorsiyang bersifat kompleks adalah image registration/rectification, misaldengan bilinear transformation dan least square method, seperti berikut :

X = aX + bY + cXY + d Y = eX + fY + gXY + h

Gambar dibawah menunjukkan suatu contoh adanya geometri distorsi, danakan direstorasi menggunakan interpolasi berdasarkan titik kontrol daratan(Ground Control Point (GCP))yang diambil langsung dengan mengunakanteknologi seperti Global Position System (GPS). Titik-titik tersebut diabandingkandengan posisi titik tersebut di citra.Persamaan yang digunakan untuk mendapatkan koreksi posisi secara pergeserangeometrik adalah dengan

menggunakan metode transformasi bilinierdan least square seperti pada persamaan diatas. Jumlah pasangan persamaandiatas adalah sebanyak ground control points yang digunakan. Salah satucitra dijadikan acuan (koordinat piksel (X, Y)), maka koordinat piksel citrayang diregistrasi ( X, Y ) dapat dihitung dari persamaan diatas denganmenyelesaikan koefisien a, b, c, dan d.

Koreksi Radiometrik

Koreksi Radiometrik muncul dalam bentuk distribusi intensitas yang tidaktepat. Sumber distorsi ini adalah kamera (internal) dalam bentuk shadingeffect, atmosfer (external) dalam bentuk besarnya intensitas yang tidak samawalaupun untuk obyek yang kategorinya sama, akibat adanya kabut, posisimatahari atau substansi atmosfir lainnya. Koreksi yang dilakukan untukjenis distorsi ini adalah dengan teknik filtering.Gambar dibawah adalah contoh adanya distorsi dalam bentuk skew (geometrikexternal rotasi ) dan adanya striping (radiometrik internal low pass filter ).