Anda di halaman 1dari 12

Tugas Mata Kuliah Studi Kasus Hukum Internasional Kasus Utama CASE CONSERNING THE ARREST WARRANT OF 11 APRIL

2000

Disusun Oleh : Rendy Ilyandi 11011109098 Arissandra 11011109082 Aini Nurul Iman 11011109068

Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung 2012

[Type text]

CASE CONSERNING THE ARREST WARRANT OF 11 APRIL 2000 (DEMOCRATICREPUBLIC OF THE CONGO V. BELGIUM) ICJ, 14 FEBRUARI 2002

I. Fakta Hukum

1. Pihak yang bersengketa dalam kasus ini adalah Republik Demokratik Kongo dan Belgia. Kongo menuntut Kerajaan Belgia ke ICJ. 2. Pada tahun 1993, Parlemen Kerajaan Belgia mengadakan pemungutan suara untukLaw of Universal Jurisdiction yang memungkinkan untuk menangkap orang yang didakwa atas kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, atau genosida. Pada tahun 2001, empat orang Rwanda diproses dan diberi hukuman yang bervariasi antara 12-20 tahun penjara karena keterlibatan mereka dalam Genosida Rwanda pada tahun 1994. 3. Pada tanggal 11 april 2000 Pemerintah Belgia mengeluarkan surat penangkapan internasional terhadap Menteri Luar Negeri dari Kongo Abdulaye Yerodia Ndombasi. 4. Surat Penangkapan didasarkan kepada dugaan adanya pelanggaran berat terhadap Geneva Convention dan Additional Protocol dan kejahatan kemanusiaan. 5. Pelanggaran yang dimaksud terkait dengan Pidato yang dilakukan oleh Abdulaye Yerodia Ndombasi pada Agustus 2008. Pidato tersebut diduga memprovokasi konflik rasial terjadi di Kongo yang mengakibatkan terbunuhnya ratusan pendududuk tutsi. 6. Didalam tuduhan kejahatan yang dilakukan oleh Abdulaye Yerodia Ndombasi, tindakan tersebut tidak terjadi diwilayah Belgia dan tidak ada satupun warga negara Belgia yang menjadi korban. Bahkan tempat dilakukannya pidato tersebut berada diluar yurisdiksi Negara Belgia. 7. Tanggal 7 Juni 2000 Interpol mengirimkan surat penangkapan ke Kongo dan pengiriman surat penangkapan ini pun disebarkan secara global. Surat penangkapan ini kemudian diterima oleh pihak berwenang di Kongo. Selanjutnya, pihak Kongo menanggapi surat penangkapan ini dengan mendaftarkan registrasi ke Mahkamah Internasional pada tanggal 17 Oktober 2000. Registrasi yang dilakukan oleh Kongo ini meminta Mahkamah
[Type text]

Internasional untuk membatalkan surat penangkapan internasional yang ditujukan oleh Belgia pada tanggal 11 Juni 2000 kepada Abdulave Yerordia.

II. Permasalahan Hukum 1. Apakah keberatan yang diajukan kerajaan belgia ditolak oleh hakim? 2. Apakah aplikasi yang diajukan yurisdkisi oleh Republik Demokrasi Kongo dapat diterima? 3. Apakah terdapat objek didalam aplikasi Republik Demokrasi Kongo? 4. Apakah aplikasi yang diajukan Republik Demokrasi Kongo dapat dipertimbangkan? 5. Apakah persoalan mengenai penangkapan Mr Abdulaye Yerodia Ndomasi merupakan pelanggaran hukum? 6. Apakah kerajaan Belgia menjamin atas pembatalan penangkapan Mr Abdulaye Yerodia Ndomasi pada tanggal 11 April 2000? III. Argumentasi Para Pihak Kerajaan Belgia Pemerintah Belgia menganggap pidato yang diberikan oleh Abdulaye Yerodia Ndombasi memprovokasi untuk melakukan suatu tindakan rasial terhadap Etnik Tutsi selama konflik bersenjata di Republik Demokrasi Kongo pada tahun 1998. Sesuai dengan Undang-Undang Belgia Tanggal 19 Februari 1999 Tentang The Punishment of The Serious Violations of International Humanitarian Law pasal 7 pengadilan di Belgia memiliki jurisdiksi yang berifat universal terhadap kasus yang berkenaan dengan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, genosida, pelanggaran terhadap territorial yang mengganggu kedaulatan negara terhadap pelaku dan juga korban Sesuai dengan Undang-Undang Belgia Tanggal 19 Februari 1999 Tentang The Punishment of The Serious Violations of International Humanitarian Law pasal 5 ayat 3 Hukum Belgia memberikan kemungkinan atas segala tuntutan terhadap imunitas yang dimiliki oleh seorang pejabat

[Type text]

Republik Demokrasi Kongo Surat penangkapan yang dikeluarkan oleh Belgia dianggap sebagai tindakan yang tidak menghormati kekebalan hukum dari yurisdiksi pidana dan hak untuk tidak diganggu gugat yang dimiliki oleh Abdulaye Yerodia Ndombasi sebagai menteri luar negeri Kongo

IV. PUTUSAN MAHKAMAH INTERNASIONAL 1. Untuk 15 suara untuk 1, Menolak keberatan Kerajaan Belgia menghubungkannya ke Yuridiksi, mootness (diperdebatkan) dan diterima. 2. Untuk 15 suara untuk 1, Menemukan bahwa itu mempunyai yuridiksi untuk entertain (memperlalaikan) aplikasi yang diajukan oleh Repulik Demokrasi Kongo pada 17 oktober 2000 3. Untuk 15 suara untuk 1, Menemukan bahwa aplikasi Republik Demokrasi Kongo tidak terdapat objek dan kasus ini tidak dapat diperdebatkan 4. Untuk 15 suara untuk 1, Menemukan bahwa aplikasi Republik Demokrasi Kongo dapat dipertimbangkan 5. Untuk 13 suara untuk 3, Menemukan bahwa persoalan melawan Mr Abdulaye Yerodia Ndombasi berdasarkan surat perintah penahanan pada 11 April 2000, dan sirkulasi Internasionalnya, Merupakan pelanggaran kewajiban hukum Kerajaan Belgia kepada Republik Demokrasi Kongo, karena tidak menghormati kekebalan Yurisdiksi kriminal dan hal ini tidak dapat digugat dimana menteri yang masih menjabat urusan luar negeri Republik Demokrasi Kongo yang hal ini dilindungi oleh undang-undang internasional. 6. Untuk 10 suara untuk 6, Menemukan bahwa Kerajaan Belgia harus dengan cara yang dipilihnya yaitu menjamin atas pembatalan penangkapan 11 April 2000 dan memberitahukan yang berwenang untuk mengedarkan surat perintah tersebut.
[Type text]

V. Pertimbangan Putusan dissenting opinions


1

Belgia juga melanggar sovereign equality (persamaan kedaulatan) luar negeri Kongo dan telah melanggar kekebalan yurisdiksi pidana dan inviolability (keadaan yang tidak bisa diganggu gugat) yang dimilikinya berdasarkan Hukum Internasional.

1.

Mahkamah Internasional mengobservasi bahwa di dalam Hukum Internasional yang

berlaku mengenai agen-agen diplomatik dan konsuler, di mana terdapat peringkat agen negara, yang terdiri dari Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, dan Menteri Luar Negeri; 2. Di dalam Hukum Internasional yang berlaku, dalam hal ini ketentuan di dalam:

a. Vienna Convention on Diplomatic Relations (1961) Article 1 For the purpose of the present Convention, the following expressions shall have the meanings hereunder assigned to them: (a) The head of the mission is the person charged by the sending State with the duty of acting in that capacity; (b) The members of the mission are the head of the mission and the members of the staff of the mission; (c) The members of the staff of the mission are the members of the diplomatic staff, of the administrative and technical staff and of the service staff of the mission; (d) The members of the diplomatic staff are the members of the staff of the mission having diplomatic rank;

1Dissenting Opinion adalah suatu pendapat hakim yang tidak setuju dengan satu atau

beberapa hal dari putusan Mahkamah, khususnya dasar hukum dan argumentasi dari putusan dan akibatnya mengeluarkan putusan atau pendapat yang menentang putusan Mahkamah tersebut.
[Type text]

(e) A diplomatic agent is the head of the mission or a member of the diplomatic staff of the mission; (f) The members of the administrative and technical staff are the members of the staff of the mission employed in the administrative and technical service of the mission; (g) The members of the service staff are the members of the staff of the mission in the domestic service of the mission; (h) A private servant is a person who is in the domestic service of a member of the mission and who is not an employee of the sending State; (i) The premises of the mission are the buildings or parts of buildings and the land ancillary thereto, irrespective of ownership, used for the purposes of the mission including the residence of the head of the mission.

Article 10 The engagement and discharge of persons resident in the receiving State as members of the mission or private servants entitled to privileges and immunities.

Article 29 The person of a diplomatic agent shall be inviolable. He shall not be liable to any form of arrest or detention. The receiving State shall treat him with due respect and shall take all appropriate steps to prevent any attack on his person, freedom or dignity

article 31 Article 31 1.A diplomatic agent shall enjoy immunity from the criminal jurisdiction of the receiving State. He shall also enjoy immunity from its civil and administrative jurisdiction, except in the case of: (a) A real action relating to private immovable property situated in the territory of the receiving State, unless he holds it on behalf of the sending State for the purposes of the mission; (b) An action relating to succession in which the diplomatic agent is involved as executor, administrator, heir or legatee as a private person and not on behalf of the sending State;
[Type text]

(c) An action relating to any professional or commercial activity exercised by the diplomatic agent in the receiving State outside his official functions. 2.A diplomatic agent is not obliged to give evidence as a witness. 3.No measures of execution may be taken in respect of a diplomatic agent except in the cases coming under subparagraphs (a), (b) and (c) of paragraph 1 of this article, and provided that the measures concerned can be taken without infringing the inviolability of his person or of his residence. 4.The immunity of a diplomatic agent from the jurisdiction of the receiving State does not exempt him from the jurisdiction of the sending State.

Article 32 (1) Article 32 1.The immunity from jurisdiction of diplomatic agents and of persons enjoying immunity under

article 37 may be waived by the sending State.

article 38 1.Except insofar as additional privileges and immunities may be granted by the receiving State, a diplomatic agent who is a national of or permanently resident in that State shall enjoy only immunity from jurisdiction, and inviolability, in respect of official acts performed in the exercise of his functions. 2.Other members of the staff of the mission and private servants who are nationals of or permanently resident in the receiving State shall enjoy privileges and immunities only to the extent admitted by the receiving State. However, the receiving State must exercise its jurisdiction over those persons in such a manner as not to interfere unduly with the performance of the functions of the mission.

article 39 1.Every person entitled to privileges and immunities shall enjoy them from the moment he enters the territory of the receiving State on proceeding to take up his post or,
[Type text]

if already in its territory, from the moment when his appointment is notified to the Ministry for Foreign Affairs or such other ministry as may be agreed. 2.When the functions of a person enjoying privileges and immunities have come to an end, such privileges and immunities shall normally cease at the moment when he leaves the country, or on expiry of a reasonable period in which to do so, but shall subsist until that time, even in case of armed conflict. However, with respect to acts performed by such a person in the exercise of his functions as a member of the mission, immunity shall continue to subsist. 3.In case of the death of a member of the mission, the members of his family shall continue to enjoy the privileges and immunities to which they are entitled until the expiry of a reasonable period in which to leave the country

article 40 1.If a diplomatic agent passes through or is in the territory of a third State, which has granted him a passport visa if such visa was necessary, while proceeding to take up or to return to his post, or when returning to his own country, the third State shall accord him inviolability and such other immunities as may be required to ensure his transit or return. The same shall apply in the case of any members of his family enjoying privileges or immunities who are accompanying the diplomatic agent, or travelling separately to join him or to return to their country.

article 41 (1) Without prejudice to their privileges and immunities, it is the duty of all persons enjoying such privileges and immunities to respect the laws and regulations of the receiving State. They also have a duty not to interfere in the internal affairs of that State.

Article 44 The receiving State must, even in case of armed conflict, grant facilities in order to enable persons enjoying privileges and immunities, other than nationals of the receiving State, and members of the families of such persons irrespective of their nationality, to leave at the earliest possible moment. It must, in particular, in case of need, place at their disposal the necessary means of transport for themselves and their property
[Type text]

b. Consular Relations (1963) c. New York Convention on Special Mission (1969) article 9 (2) When members of a permanent diplomatic mission or of a consular post in the receiving State are included in a special mission, they shall retain their privileges and immunities as members of their permanent diplomatic mission or consular post in addition to the privileges and immunities accorded by the present Convention.

Article 21 Article 21 Status of the Head of State and persons of high rank 1.The Head of the sending State, when he leads a special mission, shall enjoy in the receiving State or in a third State the facilities, privileges and immunities accorded by international law to Heads of State on an official visit. 2.The Head of the Government, the Minister for Foreign Affairs and other persons of high rank, when they take part in a special mission of the sending State, shall enjoy in the receiving State or in a third State, in addition to what is granted by the present Convention, the facilities, privileges and immunities accorded by international law.

Mahkamah mendasarkan kepada ketentuan di dalam Vienna Convention on Diplomatic and Consular Relations, dan New York Convention on Special Missions 1969. Dalam Konvensi ini berisikan ketentuan dan kesepakatan dari para pihak didalamnya, ada pejabat-pejabat negara yang memiliki kekebalan diplomatic meskipun tidak dinyatakan secara jelas apakah termasuk didalamnya Menteri Luar Negeri.

VI. Analisis Dalam Hukum Internasional, dikenal Jurisdiksi Universal/Universal criminal jurisdiction adalah prinsip hukum internasional dimana suatu negara dapat menggunakan yurisdiksi pidana kepada seseorang yang dituduh telah melakukan kejahatan diluar negara penuntut, terlepas

[Type text]

dari kebangsaan, negara tempat tinggal, atau hubungan lain dengan negara penuntut. Konsep ini terkait dengan prinsip hukum internasional yaitu erga omnes dan konsep jus cogens bahwa kewajiban hukum internasional tertentu mengikat kepada seluruh negara dan tidak dapat diubah dengan perjanjian. Universal Criminal Jurisdiction merupaka Yurisdiksi terhadap tindakan-tindakan Criminal yang dianggap sebagai kejahatan terhadap semua umat manusia, Sehingga setiap negara memiliki wewenang untuk mengadili perbuatan tersebut. Biasnya parameter dari Universal Jurisdiction menjadikan dasar adanya pembentukan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) pada tahun 2002. Pembentukan ICC diharapkan dapat mengurangi kebutuhan untuk menciptakan yurisdiksi hukum universal yang diklaim oleh suatu negara. Belgia mendasarkan surat penangkapannya dengan Universal Jurisdiction, Sehingga Belgia menganggap bahwa negaranya memiliki hak untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional dibawah hukum nasional tahun 1993 negaranya yang menyebutkan bahwa dimanapun kejahatan tersebut dilakukan maka pengadilan negara Belgia berhak untuk mengadili.2 Namun Mahkamah Internasional beranggapan bahwa Universal Jurisdiction tidak dapat diaplikasikan dalam kasus ini sesuai dengan pertimbangan putusan diatas. Namun tindakan yang dilakukan oleh Belgia dinggap sebagai tindakan yang tidak menghormati karena telah melakukan penangkapan terhadap Mr Abdulaye Yerodia Ndomasi. Dalam kasus apabila Mr Abdulaye Yerodia Ndomasi terbukti bersalah maka yang berhak untuk mengadili Yerodia adalah negaranya sendiri yaitu Kongo. Dalam Kasus ini terdapat Dissenting Opinion dari beberapa hakim yang berpendapat bahwa mahkamah telah membuat kotak Pandora, yang secara tidak langsung memberikan imunitas terhadap dugaan-dugaan pelanggaran perang dan kejaharan terhadap kemanusiaan. Dissenting Opinion adalah suatu pendapat hakim yang tidak setuju dengan satu atau beberapa hal dari putusan Mahkamah, khususnya dasar hukum dan argumentasi dari putusan dan akibatnya mengeluarkan putusan atau pendapat yang menentang putusan Mahkamah tersebut. Di dalam hukum kebiasaan internasional imunitas yang dimiliki oleh Menteri Luar Negeri tidak diberikan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk memastikan bahwa mereka dapat
2 Dj. Harris, Cases and Materials on International Law 6th edition, London, Sweet & Maxwell, 2004, p. 295.

[Type text]

bekerja secara efektif demi kepentingan negara yang mereka wakili. Imunitas dari yurisdiksi pengadilan tidak berarti pemegangnya juga memiliki imunitas dari hukum nasional negaranya sendiri, kewajiban dari hukum nasionalnya tetap mengikat pada dirinya.3 Kasus Jurisdictional Immunities of the State (Germany v. Italy: Greece intervening) - Judgment of 3 February 2012, kasus ini membahas mengenai Negara Itali yang tidak mempunyai wewenang untuk menyita aset Negara Jerman (Villa Vigoni) dikarenakan Villa Vigoni merupakan tempat pertukaran budaya Jerman Itali yang digunakan untuk kepentingan publik. Berdasarkan teori imunitas negara, terdapat dua doktrin imunitas yaitu imunitas mutlak (absolut immuity) dan imunitas terbatas (restrictive immunity). Setiap negara yang beradaulat memiliki kesamaan derajat dengan negara lain sehingga tidak ada negara yang tunduk pada hukum negara lain atau dalam artian negara yang beradaulat tidak dapat menjalankan yurisdiksi terhadap negara berdaulat lainnya (par in parem non habet imperium). Sebagai akibat dari adanya kekebalan tersebut maka sebuah negara pemegang kedaulatan akan memiliki kekebalan terhadap hukum negara lain sehingga antar negara tidak saling mengganggu satu sama lain. Doktrin imunitas terbatas ( restrictive immunity) adalah imunitas yang tetap mengakui atau memberikan kekebalan apabila menyangkut kegiatan pemerintahan (governmental activity), tetapi apabila negara melakukan kegiatan komersial (commercial activity) maka kekebalan tersebut tidak dapat diberikan. Tindakan pemerintah yang dilakukan untuk kepentingan publik dan membuat kekebalan tetap diberikan disebut dengan istilah acts jure imperii, sementara tindakan pemerintah yang berkaitan dengan komersial disebut dengan istilah acts jure gestionis.

3 Peter Malanczuk, Akehursts: Modern Introduction To International Law, New York, Routledge, p. 128.

[Type text]

Daftar Pustaka
Dj. Harris, Cases and Materials on International Law 6th edition, London, Sweet & Maxwell, 2004 Peter Malanczuk, Akehursts: Modern Introduction To International Law, New York, Routledge

[Type text]