Anda di halaman 1dari 9

PENDEKATAN STUDENT CENTER DALAM PEMBELAJARAN PENDEKATAN STUDENT CENTER DALAM PEMBELAJARAN

Oleh: Sudirman Tamin

Pendahuluan Di kalangan para pengamat pendidikan muncul anggapan bahwa pendidikan saat ini tengah mengalami krisis yang cukup serius tidak hanya disebabkan oleh anggaran pendidikan yang kurang memadai tetapi juga lemahnya tenaga ahli dan visi pendidikan yang tidak jelas. Dalam berbagai kritikan dilontarkan bahwa pendidikan telah tereduksi menjadi pengajaran lalu menyempit menjadi kegiatan kelas semata. Sementara kegiatan yang berlangsung di kelas tidak lebih dari kegiatan guru mengajar dengan target pencapaian kurikulum untuk mendapatkan Nilai Ebtanas Murni (NEM) / Ujian Nasional (UN) yang tinggi. Kritikan di sisi lain juga menyorot persoalan proses pendidikan pada jenjang pendidikan pra universitas yang dinilai sangat minim memberi tekanan pada pembentukan watak atau karakter, tetapi lebih mengedepankan pemahaman secara kognitif yang dititikberatkan pada hafalan. Akibatnya, ketika mereka memasuki dunia perguruan tinggi mental akademik dan kemandiriannnya belum terbentuk. Dalam buku Development as Freedom yang dirilis oleh Amarta Sen, seorang pemenang hadiah nobel dari daratan India menyebutkan bahwa tolak ukur keberhasilan pendidikan adalah seberapa jauh semua usaha pendidikan itu dapat memberikan ruang dan fasilitas yang lebih luas bagi pengembangan kepribadian dan kebebasan bermasyarakat. Jika di abad 20 nuansa pendidikan hanya berorientasi pada kemampuan teknikal dalam melakukan eksplorasi dan eksploitasi alam, maka di abad 21 orientasi ini telah berganti pada pengembangan potensi manusia. Berdasarkan pada hasil penelitian neoropsikologi menunjukkan bahwa baru sekitar 10 % potensi manusia yang sudah teraktualisasi sehingga sulit untuk memprediksi peradaban manusia. Karena sangat besar kemungkinan akan terjadi perubahan yang sangat signifikan dengan munculnya berbagai inovasi baru. Dalam dunia pendidikan istilah-istilah baru bermunculan untuk menjawab tantangan yang berhubungan dengan potensi manusia antara lain quantum learning, acelerasi learning dan learning revolution. Istilah ini muncul sudah diasumsikan bahwa setiap manusia dapat menggunakan potensi nalar dan emosinya jika didukung oleh metode yang tepat. Hal ini merupakan peluang dan tantangan bagi praktisi di bidang pendidikan untuk tetap selalu memberikan apresiasi berbagai temuan maupun perubahan terakhir dalam bidang metodologi pendidikan. Dalam berbagai litetarul ditemukan adanya perubahan istilah student telah berganti dengan istilah learner. Hal ini menandakan adanya kesadaran bahwa peran

peserta didik harus diutamakan karena sesungguhnya peserta didik merupakan subjek bukan sebagai objek semata. Selama ini guru berperan sebagai aktor tunggal selama peserta didik objeknya ibarat botol kosong yang siap diisi air oleh guru/dosen. Asumsi ini sangat merugikan bagi peserta didik yang memiliki potensi besar. Akibatnya, potensipotensi yang mereka miliki tidak dapat berkembang secara baik bahkan akan mengkerdilkan potensi itu sendiri. Prinsip belajar dalam Quantum Learning disebut dengan suggestology (pemercepatan belajar) atau accelerated learning. Pemercepatan belajar didefinisikan sebagai memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan dengan upaya normal dan dibarengi kegembiraan. Menyatukan unsur-unsur persamaan , hiburan, permainan, warna. Cara berfikir positif, kebugaran fisik dan kesehatan emosional, semuanya ini menghasilkan pengalaman belajar yang efektif adalah bahwa belajar itu haruslah mengasyikkan dan berlangsung dalam suasana yang rileks dan menyenangkan sehingga pintu masuk berbagai informasi terbuka lebar dan memungkinkan peserta didik merekam informasi-informasi secara utuh. Misalnya dalam bidang olah raga nampak peserta didik belajar dengan aktivitas tinggi, mereka belajar secara spontan dan tanpa beban, hasilnya pun lebih efektif. Kegagalan atau kekalahan bertanding diterima secara wajar dan dijadikan sebagai umpan balik positif bahkan dijadikan sebagai motivasi untuk lebih baik di masa-masa mendatang. Ini bisa terjadi karena telah menyatunya perasaan dan aktifitas bermain, belajar dan bekerja tidak dapat dipisahkan lagi. Jika suasana batin semacam ini tumbuh dalam proses pendidikan, maka hasilnya akan sangat positif dan belajar akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Melihat proses pendidikan yang berlangsung, terdapat kesan kuat bahwa proses pembelajaran yang berlangsung kurang memperhatikan potensi individual dan potensi kinerja otak maupun emosi. Kinerja otak diibaratkan sebagai balon lampu yang dapat menyinari kegelapan demikian pula otak manusia jika dilatih dapat mengeluarkan cahaya pengetahuan ke segala penjuru karena jaringan saraf otaknya berkesinambungan membentuk bulatan bola yang dihubungkan dengan sel-sel saraf yang sangat banyak jumlahnya. Dalam kaitan ini, otak manusia bila mendapat stimulun akan semakin berkembang membuat jaringan baru yang akan menyimpan berbagai pengetahuan baru. Kalau pengetahuan baru tersebut diulang-ulang akan membentuk pemahaman yang kuat dan memori dalam otak manusia pun akan semakin kuat. Laksana tumbuhan yang selalu dipupuk dengan pupuk yang tepat sesuai takarannya akan menumbuhkan daun yang rimbun, ranting yang banyak dan subur. Demikianlah gambaran otak yang selalu diasah, dilatih akan berkembang dengan baik yang pada akhirnya akan melahirkan kerimbunan yang sarat dengan ilmu pengetahuan. Untuk dapat menjadikan proses pendidikan lebih baik, seorang guru tidak boleh berhenti dalam mencari dan melakukan uji coba berbagai model atau strategi pengajaran baik yang sudah lama ada maupun yang baru dikembangkan akhir-akhir ini guna memberikan nuansa pendidikan yang diharapkan. Kata pakar pendidikan guru yang baik adalah guru yang bisa belajar dari muridnya. Murid adalah gurunya guru. Setiap murid adalah sebuah dunia yang unik yang perlu dipahami secara individual. Dengan demikian seorang guru harus memiliki empati, fasilitator dan menjadi pendengar yang baik bagi

peserta didik.

Memperkaya Strategi dalam Pembelajaran Srategi dapat dikatakan sebagai siasat, taktik, denah pembelajaran tentang prosedur kegiatan yang direncanakan guru guna mencapai hasil yang efektif dan efesien. Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dick and Carey menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set meteri yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa. Selanjutnya Wina Sanjaya menjelaskan pula bahwa strategi adalah cara-cara tentang pendayagunaaan potensi dan sarana yang ada untuk meningkatkan efisiensi dan evektifitas pembelajaran. Dalam strategi terdapat ragam atau model belajar mengajar yang merupakan cara atau jalan menuju pencapaian tujuan pengajaran. Karena itu guru dapat menyeleksi model atau ragam stategi yang akan dilaksanakan. Proses seleksi ini hendaknya menjamin bahwa peserta didik dapat menguasai tugas belajar yang telah diidentifikasikan berdasarkan hasil analisis tugas. Pemilihan suatu model atau strategi dalam kegiatan pembelajaran bukan tanpa pertimbangan, tetapi sejumlah komponen ikut dilibatkan dalam pemilihan strategi seperti pertimbangan tujuan pembelajaran, bahan pengajaran, metode, pendekatan, tekhnik dan media-media pembelajaran. Mager menyampaikan beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam memilih strategi pembelajaran, yaitu: 1) berorientasi pada tujuan prmbelajaran; 2) memilih tekhnik pembelajaran sesuai dengan keterampilan yang diharapkan; 3) menggunakan macam-macam media yang dapat merangsang indra peserta didik Hamzah B. Uno menjelaskan bahwa kriteria pemilihan model strategi amat sangat tergantung pada tujuan pengajaran, materi pengajaran, peserta didik, pengajar, fasilitas, dan waktu yang tersedia. Sudah menjadi konsekuensi logis tugas para guru mengawali pembelajaran dengan perencanaan yang bijak serta didukung oleh komunikasi yang baik, tentang pengembangan strategi yang mampu membelajarkan peserta didik, karena mungkin mereka bisa lupa dengan apa yang guru lakukan tetapi mereka tidak akan pernah melupakan perasaan yang ditimbulkan dalam hati mereka. Sebab dengan adanya perencanaan dapat mengarahkan, mengurangi pengaruh lingkungan, mengurangi tumpang tindih serta merancang standar dan memudahkan pengawasan. Dengan demikian belajar bukan merupakan konsekuensi otomatis dari penyampaian informasi kepada peserta didik tetapi membutuhkan keterlibatan mental langsung dari peserta didik itu sendiri. Melibatkan peserta didik secara mental merupakan prinsip belajar secara aktif, di mana peserta didik melakukan sebagian besar pekerjaan yang harus dikerjakan dengan mengasah otak, mempelajari gagasan-gagasan memecahkan berbagai masalah dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif merupakan langkah cepat, menyenangkan dan menarik hati. Pertanyaan, apakah belajar aktif itu hanyalah sekelompok kegembiraan dan permainan? Belajar aktif bukan hanya sekedar kegembiraan, walaupun belajar dapat berupa kegembiraan dan berfaedah. Sebab banyak juga teknik belajar aktif menghadapkan peserta didik terhadap tantangan-tantangan yang

mengharuskan peserta didik bekerja keras. Belajar bukanlah merupakan peristiwa pendek, tetapi terjadi secara bergelombang sehingga memerlukan beberapa ekspos untuk mencerna dan memahaminya, oleh karena itu, diperlukan berbagai strategi untuk mengekspos materi agar dapat diterima dan difahami secara jelas. Alvin C.Ewrich mengemukakan beberapa prinsip belajar; 1) Apapun yang dipelajari murid , ia harus mepelajarinya sendiri, 2) Murid belajar menurut kecepatannya sendiri, masing-masing mereka mempunyai variasi dalam kecepatan belajar, 3) Murid belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segera diberikan penguatan, 4) Penguasaan secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti , 5) Murid diberikan tanggungjawab untuk mempelajari sendiri , ia lebih termotivasi belajar sendiri , belajar dan mengingat lebih baik. Ketika belajar secara pasif, maka peserta didik akan mengalami proses tanpa daya tarik, tanpa ingin tahu, dan hasil belajarpun kurang memuaskan. Sebaliknya, belajar secara aktif maka peserta didik akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk mencari informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang harus dikerjakan. Belajar aktif sangat diperlukan oleh siswa dan peserta didik khususnya untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Ketika peserta didik hanya menerima dari guru ada kecenderungan untuk melupakan apa yang diterimanya. Oleh karena itu, perlu disediakan perangkat khusus untuk mengikat informasi dan menyimpannya dalam memori. Mengapa suatu pesan yang diterima seringkali cepat dilupakan? Tentu jawabannya adalah karena faktor otak manusia yang lemah. Belajar yang hanya mengandalkan indra pendengaran memiliki kelemahan yakni cepat lupa. Sebagaimana Confusisus (filosof cina) mengatakan: Apa yang saya dengar, saya lupa; Apa yang saya lihat, saya ingat; Apa yang saya lakukan, saya faham. Ketika ada informasi yang baru, otak manusia tidak hanya sekedar menerima dan menyimpan, tetapi akan memproses informasi itu sehingga dapat dicerna dan disimpan. Ketika ada suatu pesan yang diterima oleh otak dia akan bertanya pernahkah saya mendengar sebelumnya? Dimana informasi ini akan disimpan? Ibarat sebuah komputer alat yang sering digunakan manusia untuk mengakses informasi tidak dapat digunakan jika computer dalam kondisi off. Artinya otak manusia pun tidak akan dapat memproses informasi kalau otak tidak on karena tidak dapat menghubungkan antara informasi yang baru dengan informasi yang lama. Untuk dapat membantu peserta didik memaksimalkan cara belajarnya sangat diperlukan adanya strategi pembelajaran aktif yang dapat digunakan secara variatif. Seorang guru hendaknya lebih bijak dalam memilih strategi yang dapat membantu melaksanakan tugas kesehariannya. Apalagi tugas guru tidak hanya sekedar mentransfer pengetahuan tetapi dapat membantu peserta didik untuk belajar. Guru bukan aktor tunggal dalam pembelajaran melainkan fasilitator yang siap memediasi perkembangan potensi yang ada dalam setiap diri manusia.

Ragam Pendekatan dalam Pembelajaran Proses pembelajaran atau perkuliahan merupakan interaksi yang dilakukan antara

peserta didik dan gurudalam suatu pembelajaran untuk mewujudkan tujuan yang ditetapkan. Berbagai strategi yang dapat dipergunakan tergantung kebutuhan dengan senantiasa mempertimbangkan berbagai komponen-komponen pengajaran yang meliputi tujuan pengajaran, materi pengajaran, jumlah siswa dalam kelas, kemampuan, gurumenggunakan strategi, fasilitas yang tersedia dan alokasi waktu yang tersedia. Bahwa tugas guru meningkatkan mutu proses belajar, dan juga bahwa deskripsi peranan guru itu tidak boleh menyimpang dari tujuan mengajar, maupun merintangi guru dalam melaksanakan fungsi dasar itu menurut cara apapun yang dipandang paling efektif. Upaya membelajarkan peserta didik dibutuhkan keterampilan untuk dapat menentukan stategi yang terbaik dalam rangka mendapatkan hasil yang maksimal. Laksana seorang juru masak yang memasak makanan membutuhkan keterampilan untuk dapat menentukan bumbu-bumbu yang diperlukan. Enak tidaknya suatu masakan amat sangat tergantung bumbu apa yang diturunkan. Jika seorang juru masak menyiapkan masakan berarti berbicara tentang cara mengelola dan memberi bumbu sehingga menghasilkan makanan yang lezat. Demikian pula pembelajaran, guru adalah pengelola, pengajaran akan maksimal bila dikelola dengan baik dan dengan berbagai strategi yang variatif. Ilustrasi ini menggambarkan betapa pentingnya strategi untuk suatu kegiatan pembelajaran atau perkuliahan. Selanjutnya Penulis akan menjelaskan berbagai strategi alternatif yang dapat dipilih dan digunakan dalam aktivitas pembelajaran yaitu: 1.Mencari informasi ( Information search) strategi ini cocok untuk meminimalisir kelemahan metode ceramah yang cenderung membosankan. Prosedur pelaksanaannya sebagai berikut: 1.1 Melakukan atau membuat panduan pertanyaan yang akan disajikan dalam mencari informasi seputar bahasan Membagi kelas kedalam dua kelompok kecil Memberikan panduan-panduan (key-words) kepada masing-masing kelompok Meminta siswa mencari jawaban atau informasi tentang panduan pertanyaan Meninjau kembali jawaban siswa (feedback)

1.2 1.3 1.4 1.5

Ini merupakan modifikasi dari : small lgroup discussion 2.Memilih kartu ( Card Sort ) strategi ini merupakan kegiatan kolaborasi yang cocok untuk pengajaran konsep, penggolongan sifat. Prosedur : 2.1.Memberikan kertas yang sudah berisi informasi 2.2.Menuliskan induk tulisan di papan tulis

2.3.Meminta siswa untuk menyusun kertas informasi pada induk tulisan 2.4.Meminta siswa untuk mempresentasikan Strategi ini merupakan modifikasi dari : Billboard ranking 3.Model pembelajaran dengan tekhnik pertukaran kelompok kekelompok lain dan cocok digunakan ketika ada materi yang dipelajari dapat disingkat atau dipotong, ini disebut Zigsaw . Prosedur pelaksanaannya sebagai berikut: 3.1 Membagi kelas kedalam beberapa kelompok 3.2. Meminta kepada masing-masing kelompok untuk menun-juk juru bicara 3.3 Memberikan pertanyaan atau tema bahasan kepada masing-masing kelompok. 3.4 Meminta masing-masing kelompok untuk mendiskusikan tema atau bahasan 3.5 Meminta juru bicara setiap kelompok untuk mempresen-tasikan hasil diskusinya kepada kelompok lainnya

3.6 Meminta juru bicara masing-masing kelompok untuk presentasi depan kelas dan diskusi panel. Strategi ini juga merupakan m odifikasi: small group discussion 4. Belajar yang dimulai dengan sebuah pertanyaan (Learning Starts With a Question ) Tekhnik ini cocok digunakan untuk merangsang peserta didik untuk bertanya. Prosedur pelaksanaannya: 4.1. Menentukan pokok bahasan 4.2.Melemparkan pertanyaan kepada peserta didik 4.3.Meminta jawaban atas pertanyaan yang diajukan 4.4. Memberi ulasan atau mendiskusikannya dengan peserta didik. 5. Setiap orang adalah guru (Every One is Teacher Here) strategi ini digunakan untuk memberi kesempatan pada peserta didik untuk bertindak sebagai seorang guru. Prosedur pelaksanaannya. 5.1.Memberikan bahan bacaan dan menyuruh peserta didik untuk membacanya 5.2.Menyuruh peserta didik membuat pertanyaan dalam secarik kertas

5.3.Mengocok dan mengacak mengembalikannya

secarik

kertas

tersebut

serta

sekaligus

5.4. Meminta relawan untuk menjawab pertanyaan tersebut Modifikasi: Reading Guide 6. Kekuatan berdua ( The Power of Two) strategi ini digunakan untuk meningkatkan belajar kolaboratif dan bersinergi, karena belajar dengan dua kepada akan lebih baik dari belajar satu kepala. Prosedur pelaksanaannya : 6.1.Mengajukan satu pertanyaan atau lebih sesuai dangan topik bahasan 6.2 Meminta peserta didik untuk menjawab secara individu 6.3 Meminta gtiap pasangan untuk mendiskusikan pertanyaan tersebut dengan memperbaiki jawabannya dengan memperbaiki jawaban individunya 6.4 Membandingkan jawaban masing-masing pasangannya. 7. Bola salju ( Snow Balling) Prosedur pelaksanaannya : 7.1 Melemparkan satu masalah yang berkenan dengan topik bahasan 7.2 Meminta peserta didik untuk menyampaikan argumentasinya 7.3 Mendiskusikan masalah dengan pasangannya 7.4 Mendiskusikan dengan pasangan lain dan seterusnya dengan kelipatannya Modifikasi: Every One. 8. Small Group Discussion 8.1 Membagi peserta didik kedalam beberapa kelompok 8.2 Memberikan bahan bacaan kepada tiap-tiap kelompok 8.3 Meminta peserta didik untuk mendiskusikan bacaan 8.4 Masing-masing kelompok menunjuk juru bicara 8.5 Meminta setiap juru bicara mempesentasikan hasil diskusi 8.6 Meminta kelompok lain untuk menanggapi

Kesimpulan : 1. Peran peserta didik dalam proses pembelajaran harus diutamakan karena peserta didik merupakan subjek pendidikan.

1. Guruharus mampu menciptakan proses belajar mengajar yang mengasyikkan,


rileks dan menyenangkan.

2. Gurutidak boleh terpaku dalam menerapkan metode metode pembelajaran yang


sudah ada , tetapi harus selalu kreatif dan inovatif menemukan metode-metode pembelajaran yang baru dan moderen. Saran-Saran

1. Guruagar selalu membangun hubungan yang menyenangkan dengan peserta


didik. 2. Peserta didik harus selalu kreatif dan tekun dalam menemukan metode belajar. 3. Peserta didik harus membangun konsep berfikir bahwa semua mata-pelajaran harus disenangi dan gurutidak boleh mengembangkan pemikiran bahwa suatu mata-pelajaran tertentu sulit dan menakutkan.

DAFTAR PUSTAKA

Amarta Sen, Development as Freedom, New Delhi Press, 1998. Boby De Porter, Quantum Learning, Un Learning the Genius in You, terjemahan Alwiyah Abdurrahman, Quantum Learning ; Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, kaifa, bandung, 1999. Dick and Cary, Working with Emotional Intelegence, New Press New York, 1985. Mager, Higher in Islam, terjemahan Hasan Asyary, Pendidikan Tinggi dalam Islam, Logos Publishing, Jakarta, 1994. Komarudin Hidayat, Pengajaran yang Membelajarkan, Jurnal Ditperta, Jakarta, 2002 Sanjaya, Wina, Dr, M.Pd. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta, Kencana Prenada Media Grup, 2008. Stella Van Petten Henderson, Introduction to Philosophy of Education, Chicago Press, 2001 Uno, Hamzah B. Prof, Dr, M.Pd. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar

Mengajar yang Kreatif dan Efektif, Jakarta, Bumi Aksara, 2007.

Komarudin Hidayat, Pengajaran yang Membelajarkan, Jurnal Dipperta, Jakarta, 2002, hal.12 Amarta Sen , Development as Freedom, New Delhi Press, 1998, hal.17 Stella Van Petten Henderson, Introduction to Philosophy of Education, Chicago Press, 2001, hal 87 Bobi De Porter, Quantum Learning; Unleashing The Genius in You, terjemahan, Alwiyah Abdur Rahman, Quantum Learning ; Membiasakan Belajar Nyaman, dan Menyenangkan, Kaifa, Bandung, 1999, hal. 14 Komarudin Hidayat, op.cit., hal.15 Dick And Carey, Working With Emosional Inteligence, New York, New Press, 1985, hal.35 Wina Sanjaya , Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2008, hal.126 Mager, Higher in Islam, Terjemahan Hasan Asyary, Pendidikan Tinggi dalam Islam, Logos Publishing, Jakarta, 1994, hal.54 Hamzah B.Uno, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif, Bumi Aksara, Jakarta, 2007, hal.28 Safrudin dan Irwan nasution, Managemen Pembelajaran , Ciputat Press, jakarta, 2005, hal.72 Ivor.K.Davis, The Management Of Learning, Terjemahan : Sudarsono Sudirjo et.all, Pengelolaan Belajar, Rajawali, Jakarta 1999, hal.32 Norman .M.Gobel, The Changing Rule Of The Teacher , Terjemahan : Suryatin, Perubahan Peranan Guru, Pt Gunung Agung, Jakarta, 1983, hal.11