Anda di halaman 1dari 40

DAFTAR ISI

Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penulisan

2 2 3

BAB II PEMBAHASAN A. Struktur Makroskopik Saluran Pencernaan B. Struktur Mikroskopik Saluran Pencernaan C. Mekanisme Pencernaan D. Enzim enzim dan Hormon Pencernaan E. Faktor yang Mempengaruhi dan Gangguan Pencernaan F. Pemeriksaan Fisik Abdomen 4 13 18 25 27 31

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Daftar Pustaka 32 33

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penulisan makalah ini dilatarbelakangi skenario B, yaitu mengenai keluar darah dari dubur dan tubuh merasa lemas. Jabaran skenario : Seorang pria berumur 40 tahun datang ke dokter dengan keluhan keluar darah dari duburnya dan merasa lemas. Keluhan tersebut dialaminya sejak 3 bulan yang lalu. Pasien suka makan yang pedas-pedas dan tidak suka makan sayuran sehingga BAB-nya keras dan harus mengedan terlebih dahulu.

B. Perumusan Masalah Dari latar belakang skenario diatas, rumusan masalah diatas yang menjadi masalah utama dalam skenario adalah keluarnya darah dari dubur dan tubuh merasa lemas. Hipotesa : Makan yang pedas-pedas dan tidak suka makan sayuran dapat menyebabkan konstipasi sehingga dapat terjadi keluarnya darah dari dubur dan merasa lemas.

C. Tujuan Penulisan Dengan adanya suatu perumusan masalah tersebut, mahasiswa diharapkan mampu untuk : 1. Menjelaskan mengenai struktur makroskopik dan mikroskopik pencernaan.
2

2. Menjelaskan mengenai mekanisme pencernaan. 3. Menjelaskan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi dan gangguan pencernaan. 4. Menjelaskan mengenai sistem kerja enzim dan hormon pencernaan. 5. Menjelaskan mengenai pemeriksaan abdomen.

BAB II PEMBAHASAN A. Struktur Makroskopik Saluran Cerna.


CAVUM ORIS Mulai dari rima oris dan berakhir di isthmus faucium. Selain merupakan sistem pencernaan, rongga mulut juga berfungsi sebagai rongga yang dilalui oleh udara pernapasan dan juga penting untuk pembentukan suara. Rongga mulut dibagi dalam : 1. Vestibulum oris 2. Cavum oris propium

KELENJAR-KELENJAR LUDAH 1. Glandula Parotis Glandula parotis berbentuk piramida dan terletak di fossa retromandibulare antara os mandibula dan m. Sternocleidomastoideus.

2. Glandula submandibularis Pada glandula submandibulari dapat dibedakan 2 bagian : yang dangkal dan yang dalam. Bagian yang dangkal terletak dibawah m. Mylohyoideus, antara m. Stylohyoideus, m. Digastricus dan mandibula. Bagian yang dalam melalui tepi dorsal m.mylohyoideus dan kelenjar ini membelok ke sisi atasnya.

3. Glandula sublingualis Glandula sublingualis berbentuk memanjang dan terletak di dasar rongga mulut dekat frenulum linguae, di antara m.geniohyoideus dan m.genioglossus sebelah medial dan m.hyoglossus sebelah lateral.

OTOT OTOT PENGUNYAH Terdapat 4 otot pengunyah yang melekatkan mandibula pada basis cranii, ialah; Otot yang dangkal : m.masster dan m.temporalis. Otot yang dalam : m.pterygoideus lateralis/externus dan m. Pterygoideus medialis/internus. Persarafan otot-otot ini : n. Mandibularis (portio minor N. Trigemini V3)

PHARYNX Pharynx adalah suatu pipa musculo-fascial yang contractil. Ia terbentang di antara basis cranii sebelah kranial dan berakhir pada oesophagus disebelah kaudal setinggi vertebra cervicalis ke-6. Pada sisi lateral, pharynx berbatasan dengan aa. Carotides communis et internae, vv. Jugulares internae, cornu majus os hyoid dan lamina cartilago tyhyreoidea. Fungsinya : sebagai tempat yang dilalui oleh aliran udara pernapasan dan makanan. Sesuai dengan ruang-ruang yang terletak di depannya, pharynx terbagi dalam 3 bagian : Nasopharyx ( pars nasalis pharyngis ), dorsal terhadap cavum nasi. Oropharynx ( pars oralis pharyngis ), dorsal terhadap cavum oris. Laryngopharynx ( pars laryngis pharyngis ), dorsal terhadap larynx.

OESOPHAGUS Oesophagus adalah suatu pipa musculair sepanjang 25 cm, yang merupakan lanjutan pharynx dan mulai di tepi bawah cartilago cricoidea setinggi vertebra C6, dan berakhir di cardia ventriculi setinggi vertebra thorakal X-XI. Selama perjalanannya ke distal, ia mengikuti lengkung-lengkung columna vertebralis, yang terletak tepat dibelakangnya. Pada oesophagus dapat dibedakan 3 bagian : pars cervicalis, pars thoracalis, dan pars abdominalis. Persarafan : Simpatis : cabang-cabang truncus symphaticus pars thoracalis atas. Parasimpatis : cabang-cabang N.vagus dan N.recurrens. Dibawah hilus pulmonalis, nn. Vagi membentuk plexus pada dinding oesophagus ; yang kiri ke sisi depannya dan yang kanan ke sisi belakangnya.

REGIO ABDOMEN Abdomen merupakan bagian dari batang tubuh ( truncus ) yang terletak di sebelah caudal thorax. Abdomen mempunyai cavum ( rongga ) besar yang disebut cavun abdominis yang ditempati / diisi : 1. Cavum peritonei 2. Tractus digestivus 3. System urogenitalis ( ren, ureter ) 4. Hepar, vesica fellea, pancreas dan lien. 5. Vasa, system lymphatica dan nervus.

Cavum abdominis dibedakan menjadi : 1. Cavum abdominis propius 2. Cavum pelvis Kedua cavum tersebut dipisahkan oleh suatu bidang khayal yang melalui : 1. Promontorium ossis sacri 2. Linea terminalis 3. Crista pubica Bidang pembatas ini juga disebut aditus pelvis atau apertura pelvis superior atau pintu atas panggul ( PAP ). Dinding bagian dalam cavum abdominis dilapisi cavum peritonei yang disebut peritonium parietale.

Abdomen terbagi menjadi beberapa regio oleh 2 bidang horizontal dan 2 bidang sagital. Dengan kedua garis horizontal dan sagital maka pada abdomen terdapat 9 regio, yaitu : 1. Regio epigastrica 2. Regio hypochondrica dextra 3. Regio hypochondrica sinistra 4. Umbilicalis 5. Lumbalis dextra 6. Lumbalis sinistra 7. Regio hypogastrica 8. Ingunalis dextra 9. Ingunalis sinistra

ALAT ALAT INTRA ABDOMEN Alat alat intra abdomen terbagi dua oleh mesocolon transversum menjadi : 1. Alat- alat supra mesocolica adalah alat-alat yang terletak antara diaphragma dan mesocolon transversum, yang terdiri dari : gaster, duodenum, pancreas, hepar, vesica fellea dan lien. 2. Alat- alat intra mesocolica adalah alat- alat yang terletak dibawah mesocolon transversum atau alat-alat yang terletak antara mesocolon transversum dan linea terminalis pada panggul, yaitu : intestinum tenuae ( usus halus ) dan intestinum crassum ( usus besar ).

GASTER Nama lain gaster : ventriculus atau lambung Struktur anatomis gaster : Mempunyai 2 muara : cardia ( oesophagus gaster ) dan pylorus ( gaster duodenum ). Mempunyai 2 tepi : curvatura minor ( cekung ke kanan atas ) dan curvatura major ( cembung ke kiri ). Mempunyai 2 permukaan : facies anterior dan facies posterior. Mempunyai 2 lekukan : incisura cardiaca ( peralihan oesophagus pada curvatura major ) dan incisura angularis : batas bagian vertikal dan horizontal pada curvatura minor. Bagian bagian gaster : 1. Fundus 2. Corpus 3. Pylorus ( pars pylorica vebtriculi ) dibedakan menjadi : anthrum pyloricum dan canalis pyloris.

Pendarahan : 1. A. Gastrica sinistra 2. Aa. Gastricae berves, memperdarahi fundus ventriculi 3. A. Gastroepiploica ( gastro omentalis ) sinistra, memperdarahi curvatura major dan omentum majus.
7

Vena mengikuti jalannya arteri. 1. Darah dari v. Gastrica dextra dan sinistra dialirkan ke dalam v.porta. 2. Darah dari v. Gastrica brevis. V. Gastroepiploica sinistra, dialirkan ke dalam v. Lienalis yang bergabung dengan v. Mesenterica superior menuju v. Porta.

Getah bening : Nnll. Gastroomentalis. Getah bening terdapat pada pembuluh nadi sepanjang curvaturamajor dan minor akan dialirkan ke dalam nnll. Coeliaca.

Persarafan : oleh sistem saraf otonom. 1. Parasimpatis berasal dari N. X anterior dan posterior 2. Simpatis berasal dari nervi spinales T6-T9 melalui plexus coeliacus dan mendistribusikan melalui anyaman saraf di sekitar a. Gastrica dan a. Gastroomentalis. DUODENUM Bentuk : tapal kuda, berjalan dari pylorus ke arah belakang. Panjang 25-28 cm. Bagian- bagian duodenum : Pars superior duodeni. Terletak pada bidang transpyloric. Pars superior duodeni dimulai dari pylorus menuju ke belakang dan berakhir pada flexura duodenalis superior. Panjang 5 cm. Pars descendens duodeni. Bermula dari flexura duodeni superior beralih ke bawah kemudian membelok ke kiri, disebut flexura duodeni. Panjang 10 cm. Pars inferior duodeni. Terletak setinggi vertebra L3. Panjang 7,5 cm. Pars ascendens duodeni. Terletak setinggi vertebra L2, kurang lebih 2,5 cm sebelah kiri bidang tengah. Panjang 5 cm. Pendarahan duodenum oelh a. Gastroduodenalis, a. Pancreaticoduodenalis superoir ( anterior dan posterior ), dan a. Pancreaticoduodenalis inferior ( cabang a. Mesenterica superior ). Darah dari v. Pancreaticoduodenalis superior dialirkan ke v. Porta dan darah dari v. Pancreaticoduodenalis inferior dialirkan ke v. Mesenterica superior ke v. Porta.

HEPAR Hepar menempati sebagian besar rongga abdomen kanan atas. Konsistensi hati ; kenyal seperti jeli. Berat hati bervariasi, rata-rata 1 kg. Hepar dilapisi peritonium, kecuali bagian belakang yang langsung melekat pada diaphragma dan disebut BARE AREA ( area nuda ). Pada penampang sagital hepar, tampak bagian depan lebih rendah daripada bagian belakang. Hepar dibedakan menjadi dua lobus, yaitu lobus kanan dan kiri. Batas lobus kanan dan kiri adalah sebuah alur berbentuk huruf H yang ditempati oleh lig. Teres hepatis dan lig. Venosum Arantii diselah caudal, dan lig. Falciforme hepatis disebelah cranial. Secar anatomis dan fungsional batas lobus kanan dan kiri sesuai bidang yang melalui alur yang dibentuk oleh kantung empedu dan v. Cava inferior ( tidak terlihat dari luar ). Lobus kanan terbagi menjadi lobus caudatus dan quadratus oleh porta hepatis dan fossa sagitalis dextra. Dari luar hepar terlihat sebagai berikut : Bagian yang berhubungan dengan diafragma ( facies diaphragmatica ) Bagian yang menghadap cavum abdomen ( facies visceralis/ facies inferior)

Peralihan dari facies superior ke facies inferior di sebelah belakang tidak jelas, sedangkan peralihan disebelah depan jelas sekali, yaitu pada tepi yang tajam atau margo anterior/ margo inferior. Pendarahan hepar : Pembuluh nadi : a. Hepatica communis, a. Hepatica propia, a. Hepatica dextra dan sinistra. Pembuluh balik : menampung darah balik dari alat-alat tractus

gastrointestinal melalui v. Porta. V. Porta merupakan bagian dari pembuluh balik sistema portal yang mengumpulkan darah dari alat-alat

gastrointestinal untuk dialirkan ke hepar.

VESICA FELLEA Sinonim : kantung empedu. Letak : sesuai perpotongan batas lateral M. Rectus abdominis dan arcus costae dextra. Vesica fellea diliputi peritonium, kecuali bagian yang melekat pada hepar. Bagian bagian : fundus vesica fellea, corpus vesica fellea dan collum vesica fellea. Saluran empedu : ductus cysticus. Mucosa ductus cysticus mempunyai lipatan
9

berbentuk spiral = valvula spiralis Heisteri. Ductus cycsticus bersama-sama saluran empedu intrahepatal membentuk ductus choledochus. Ductus choledochus berjalan dalam lig. Hepatoduodenale bersama-sama v. Porta dan a. Hepatica propia. Pendarahan oleh a. Cystica.

LIEN Sinonim : spleen, limpa. Konsistensi : kenyal, lebih lembek daripada hepar, dan dapat berkontraksi. Warna merah keabu-abuan. Letak : intra peritoneal, pada regio hypochondrica sinistr, setinggi iga 9,10,11. Sumbu panjang sesuai iga 10. Proyeksi pada dinding abdomen ; kira-kira 4 cm sebelah kiri garis tengah dan setinggi ujung processus spinosus vertebra Th 9- L1 sampai linea axillaris media sinistra. Fungsi lien : Membersihkan darah Reservoir darah Alat reticulo endothelial yang di dalamnya terdapat jaringan limfoid yang berbeda dengan jaringan jaringan limfoid lain karena lien berhubungan dengan aliran darah.

INTESTINUM Intestinum dibedakan menjadi : Intestinum tenue ( usus halus ) Intestinum crassum ( usus besar )

INTESTINUM TENUE Intestinum tenue memiliki panjang 6-8 meter, dan terdiri dari : 2/5 bagian jejunum 3/5 bagian ileum

Intestinum tenue terletak intraperitoneal dan berkelok-kelok. Jejunum mengisi rongga perut kiri atas sedangkan ileum mengisi rongga perut kanan bawah. Kelokan ileum mengisi sampai ke pelvis minor untuk kemudian bermuara pada caecum ( kantung buntu ). Proyeksi muara ileum pada coecum pada dinding abdomen disebut titik Mc. Burney yang dapat ditentukan dengan : Titik potong tepi lateral m. Rectus abdominis kanan dengan garis Monro ( garis yang menghubungkan SIAS kanan dan umbilikus ).
10

1/3 lateral 1/3 tengah garis Monro.

Besarnya penampang dari jejunum kearah ileum makin mengecil. Intestinum tenue berhubungan dengan dinding belakang perut melalui lipatan peritonium yang disebut mesostienium, mulai dari flexura duodenajejunalis setinggi vertebra L2 berjalan kearah kanan miring ke bawah, menyilang garis tengah setinggi vertebra L3 di depan pars inferior duodeni dan v. Cava inferior, berakhir ke bawah pada fossa iliaca dextra di depan articulatio sacroiliaca. Pendarahan usus halus : aa. Jejunales et ilei dan Vv. Jejunales et ilei dan V. Mesenterica superior. Pembuluh getah bening : melalui 3 kelompok ; nnll. Intestinales, nnll. mesentericus, nnll. Superior. Getah bening dari ileum berakhir pada nnll. Ileocolica. Getah bening usus halus dialirkan ke dalam truncus intestinalis cysterna chyli. Persarafan : simpatis ( n. Splanicus major dan minor ) dan parasimpatis ( N.X ).

INTESTINUM CRASSUM Berbentuk seperti huruf U terbalik. Terdiri atas : coecum, colon ascendens, flexura coli dextra/hepatica, colon transversum, flexura coli sinistra/lienalis, colon descendens, colon sigmoideum, dan rectum-anus.

COECUM Terletak pada fossa iliaca dextra dan diproyeksikan pada dinding abdomen pada pertengahan garis SIAS kanan-symphysis pubis.

COLON ASCENDENS Colon ascendens dimulai pada junctura ileocoecalis sampai flexura coli dextra. Pendarahan oleh a. Colica dextra.

APPENDIX VERMIFORMIS Appendix vermiformis sering dianggap bagian usus yang tidak mempunyai fungsi. Appendix mempunyai lipatan peritonium yang disebut mesenteriolum. Pendarahan : aa. Appendiculares.

11

COLON TRANSVERSUM Terletak dibawah bidang transpyloric dan menyilang pars descendens duodeni, melengkung di antara flexura coli dextra dan flexura coli sinistra. Pendarahan : a. Colica media dan a. Colica sinistra.

COLON DESCENDENS Pendarahan : a. Coli sinistra yang merupakan cabang a. Mesenterica inferior.

COLON SIGMOIDEUM Colon sigmoideum berbentuk menyerupai huruf S dan memanjang dari crista iliaca sampai vertebrae S2-3. Pendarahan : aa.sigmoideum (2-4 buah) yang merupakan cabang a. Mesenterica inferior.

RECTUM Panjang : 12-15 cm. Rectum merupakan lanjutan colon sigmoideum yang memanjang dari vertebra S3 sampai anus. Setinggi vertebra S3 taenia colon sigmoideum berubah menjadi lapisan otot polos longitudinal dan appendices epiploicae menghilang. Berbeda dengan colon, rectum tidak mempunyai haustra, taenia, appendices epiploicae, mesocolon. Pendarahan : a. Rectalis superior, a. Rectalis media, a. Rectalis inferior. Persarafan : simpatis ( melalui saraf spinalis Nn splanchnicus lumbales dan plexus hypogastricus/plexus pelvicus ) dan parasimpatis ( berasal dari nervus spinalis S2-4 melalui N. Splanchnicus pelvicus, plexus hypogastricus inferior kanan dan kiri menuju plexus rectalis/pelvicus )1.

12

B. Struktur Mikroskopik Saluran Cerna.

Mulut Struktur histologis bagian-bagian yang terdapat disini: Labium oris Buccal Dent Gingivae Linguae Palatum molle & durum

Labium oris dapat dibagi dalam 3 area: Area cutanea: Daerah permukaan bibir ini merupakan lanjutan kulit disekitar

mulut. Maka gambaran hstologisnya sebagai kulit pula. Paling luar dilapisi oleh epidermis yang merupakan epitel gepeng berlapis berkeratin. Dibawah epidermis terdapat jaringan pengikat yang disebut corium yang membentuk tonjolan-tonjolan ke arah epidermis yang disebut sebagai papila corii. Sel-sel basal epidermis mengandung butir-butir pigmen. Seperti juga pada struktur kulit lainnya pada permukaan kulit ini dilengkapi oleh alat-alat tambahan kulit seperti glandula sudorifera, glandula sebacea dan folikel rambut.

Area merah bibir (area intermedia ): Epitelnya berlapis gepeng tidak bertanduk

epitelnya transparan (jernih) karena mengandung butir-butir eleidin. Papilla jaringan ikatnya tinggi-tinggi dan mengandung banyak kapiler.

Area oral mukosa: Bagian ini mempunyai struktur histologis yang sama dengan pipi Epitelnya berlapis gepeng tidak bertanduk Lamina propianya agak kompak Pada tunika submukosa didapati kelenjar labialis yang bersifat seromukus Dibawah submukosa didapati otot lurik (M.orbicularis oris).

13

Oesophagus dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Dalam submukosa terdapat kelompokan kelenjar penghasil mukus kecil, yaitu kelenjar esofageal. Pada lamina propria dekat lambung terdapat kelompokan kelenjar yang disebut kelenjar kardia esofagus yang juga menghasilkan mukus. Pada ujung distal esofagus, lapisan ototnya terdiri atas serat otot polos, pada bagian tengah terdapat campuran serat otot bergaris (rangka) dan serat otot polos, pada ujung proksimal terdapat serat otot rangka. Hanya bagian esofagus dalam rongga peritoneum yang ditutupi oleh serosa. Sisanya ditutupi lapisan jaringan ikat longgar yang disebut adventisia.

1. -

Tunika mukosa Epitel berlpais gepeng tanpa lapisan tanduk T. M.M hanya satu lapis longitudinal Pada lamina propria didapati kelenjar mukus tubulosa kompleks (kel

superfisial) yang merupakan perluasan kelenjar kardia 2. Tunika submukosa terdapat kelenjar mukus tubulosa kompleks yang disebut kelenjar submukosa

(oesophageal glands) 3. Tunika muskularis Pada 1/3 proksimal terdiri dari otot lurik 1/3 tengah terdiri dari campuran otot polos dan lurik 1/3 distal seluruhnya otot polos.

Gaster Seluruh permukaan mukosa gaster terdapat gastric pits atau foveola gastrica Epitel mukosa selapis torak tanpa sel goblet 3 daerah: cardia, fundus, pilorus Lapisan otot tebal untuk menggiling/mencampur makanan Mensekresikan enzim-enzim dan asam untuk memulai pencernaan Dindingnya sangat berlipat yang dinamakan rugae Sitoplasma pada permukaan apikalnya mengandung musigen Intinya oval Pada lamina propria terdapat kelenjar di cardia, fundus maupun pilorus
14

Kelenjar mulai dari dasar gastric pit meluas ke arah TMM.

Pankreas kubus Duktus interklarisnya (isthmus) panjang-panjang dan epitelnya selapis gepeng Bentuk sel asinusnya lebih kecil dari sel asinus parotis Pars terminalisnya 100% terdiri serous dan di tengah pars terminal sering Merupakan kelenjar eksokrin dan endokrin Epitel duktus ekskretorius bervariasi dari torak rendah bersel goblet ke sel

dijumpai sel-sel sentroasini yang merupakan bagian dari isthmus Tidak ada sel myoepitel.

Hati Diliputi kapsula Glissoni Septa membagi hepar menjadi lobuli-lobuli Porta hepatis berisi: pebuluh limfe, pembuluh empedu, V.Portae dan

A.Hepatika Unit fungsional hepar ialah 1 lobulus Bentuknya poligonal Bagian sentral lobulus hati: Vena sentralis Sel-sel hepar tersusun radier Segitiga kiernan berisi cabang A.hepatika, cabang Vena porta, duktus biliaris

dan pembuluh limfe Setiap sel hati pada salah satu permukaannya harus berhubungan dengan

sistem empedu dan pada permukaan yang lain harus berhadapan dengan pembuluh darah Sel hati berbentuk poligonal dengan inti ovoid, sitoplasma bergranula dengan

banyak mitokondria, mikrovili, glikogen, protein dan pigmen lipofuchsin Sel hati dikelilingi berkas serat retikulin yang dengan pewarnaan

Bielschwosky berwarna hitam

15

Vasularisasi hati: A.hepatika dan V.porta-A/V interlobularis sinusoid hati

V.sentralis V.sublobularis V.hepatika V.cava inferior Sinusoid hati dibatasi oleh sel endotel sinus dan sel kupffer (termasuk RES) Sel kupffer ovoid, kromatin pucat, dengan pewarnaan tripan blue terbukti

bersifat fagositer.

Kantung Empedu Kanalikuli biliaris-preduktuli biliaris (saluran Hering) duktus biliaris-duktus

hepatikus vesika felea-duktus cysticus duktus koledokus Arah aliran empedu: dari sentral ke perifer hati Arah aliran darah: dari perifer ke sentral lobulus.

Usus Halus Dibagi dalam 3 bagian yaitu: duodenum, jejunum dan ileum Epitel terdiri dari selapis torak dan sel goblet Sel torak pada bagian apikalnya terdapat brush border/mikrovili

memperluas permukaan absorptif. Juga mengandung enzim-enzim pencernaan (alkaline fosfatase, maltase, dan lain-lain) Sel goblet ke arah distal makin banyak Terdapat vili intestinal Vili di duodenum bentuknya lebar, di jejunum bundar seperti lidah dan pada

ilem berbentuk jari Plika Sirkularis Kerkringi: lipatan mukosa dan submukosa Pada jejunum plika kerkringi tinggi-tinggi Sepanjang membran mukosa terdapat kelenjar Intestinalis (cryptus

Lieberkuhn), tubulosa simpleks, yang bermuara di antara vili intestinalis Pada dasar cryptus terdapat sel paneth, di bagian apikalnya mengandung

granula eosinofilia Sel-sel cryptus menggantikan sel-sel epitel permukaan yang rusak.

16

Duodenum Ciri khas: terdapat kelenjar Brunner, kompleks tubulosa bercabang, mukus. Jejunum Tidak terdapat kelenjar Brunner ataupun agmina peyeri Plica sirkularis Kerckringi tinggi-tinggi.

Ileum Terdapat agregat limfonodus atau Agmina Peyeri/Plaque Peyeri di lamina propria meluas ke Tunika submukosa2.

Usus Besar Colon Tunika mukosa tidak mengandung plica sirkularis dan vili intestinal Sel goblet banyak di antara sel epitel Cryptus Lieberkuhn ada Sel paneth dan sel argentafin sedikit sekali Terdapat limfonodus solitarius Tunika longitudinal membentuk 3 pita longitudianal taenia coli3.

17

Rektum Bagian sebelah bawah disebut Anal Canal Mukosa mempunyai lipatan longitudinal Rectal collumn (Anal column,

Collumn of Morgagni) berakhir kira2 inchi dari orrificium anal Epitel selapis torak Terdapat cryptus Pertemuan rektum dengan anus disebut Linea Pectinata2,3.

C. Mekanisme Pencernaan. Di dalam mulut, makanan bercampur dengan saliva dan didorong ke dalam esofagus. Gelombang peristaltik di esofagus menggerakkan makanan ke dalam lambung. Pengunyahan ( mastikasi ) memecahkan partikel makanan besar dan mencampur makanan dengan sekret kelenjar saliva. Aksi pembasahan dan homogenisasi ini membantu penelanan dan pencernaan selanjutnya. Meskipun potongan makanan besar dapat dicerna, tetapi menyebabkan kontraksi otot-otot esofagus yang kuat dan sering menyakitkan. Potongan makanan yang kecil cenderung menyebar bila saliva sedikit dan juga menyebabkan proses penelan menjadi sulit karena tidak membentuk bolus.
18

Jumlah pengunyahan yang optimal bergantung kepada jenis makanan, tetapi biasanya berkisar antara 20 dan 25. Menelan ( deglutition ) adalah suatu respons refleks yang dicetuskan oleh impuls aferen N. Trigeminus, glossofaryngeus, dan vagus. Impuls impuls ini diintegrasi di nukleus traktus soliatrius dan nukleus ambigus. Serat serat eferen berjalan ke otot otot farings dan lidah melalui N. Trigeminus, facialis, dan hipoglossus. Menelan diawali oleh gerakan volunter mengumpulkan isi mulut di lidah dan mendorongnya ke belakang menuju farings. Hal ini mencetuskan serangkaian gelombang kontraksi involunter pada otot-otot farings yang mendorong makanan ke dalam esofagus. Inhibisi pernapasan dan penutupan glotis merupakan bagian dari respons refleks ini. Dibatas faringoesofagus, terdapat segmen esofagus berukuran 3 cm yang tegangan dinding istirahatnya tinggi. Segmen ini melemas secara refleks sewaktu menelan dan memungkinkan benda yang ditelan masuk ke badan esofagus. Dibelakang benda yang ditelan akan terbentuk kontraksi cincin peristaltik, yang kemudian mendorong benda turun dalam esofagus dengan kecepatan sekitar 4 cm/detik. Pada manusia, dalam posisi berdiri cairan dan makanan setengah padat umumnya turun akibat gaya tarik bumi ke esofagus bagian bawah mendahului gelombang peristaltik. Apabila makanan masuk lambung, fundus dan bagian atas korpus lambung melemas dan mengakomodasi makan yang masuk tanpa peningkatan tekanan yang berarti relaksasi reseftif. Peristaltis lalu mulai dari bagian bawah korpus, mencampur dan menggerus makanan dan memungkinkan sebagian yang telah setengah cair melewati pilorus dan masuk duodenum. Relaksasi reseftif ini dikendalikan oleh vagus dan dicetuskan oleh gerkan farings dan esofagus. Gelombang peristaltik diatur oleh BER dan langsung dimulai untuk mendorong makanan ke arah pilorus. Kontraksi bagian distal lambung yang disebabkan oleh tiap gelombang kadang-kadang disebut sistole antrum dan dapat berlangsung sampai 10 detik. Gelombang ini terjadi 3 s/d 4 kali per menit4,6.

KARBOHIDRAT

Pencernaan Di dalam mulut, zat tepung dicerna oleh -amilase saliva. Tetapi, pH optimal enzim ini adalah 6,7, sehingga kerjanya dihambat oleh getah lambung yang asam bila makanan masuk ke lambung. Di dalam usus halus, -amilase saliva dan pankreas
19

keduanya juga bekerja pada polisakarida yang dimakan. Akibatnya, hasil akhir pencernaan -amilase adalah oligosakarida : maltosa (disakarida), maltitriosa ( trisakarida ) ; beberapa polimer yang sedikit lebih besar dengan glukosa pada ikatan 1:4, dan -dekstrin, yaitu polimer molekul glukosa yang terdiri atas rata-rata sekitar 8 molekul glukosa dengan ikatan 1:6.

Penyerapan Heksosa dan pentosa cepat diserap melalui dinding usus halus. Hal yang penting adalah bahwa semua heksosa diserap sebelum sisa makanan mencapai bagian ujung ileum. Molekul molekul gula bergerak dari sel-sel mukosa ke dalam darah kapiler lalu masuk ke dalam vena porta. Transpor sebagian besar heksosa secara unik dipengaruhi oleh jumlah Na+ di dalam usus halus ; konsentrasi Na+ yang tinggi pada permukaan mukosa sel mempermudah dan konsentrasi yang rendah menghambat influks gula ke dalam sel-sel epitel. Ini disebabkan oleh glukosa dan Na+ menggunakan kontransporter yang sama, atau simport, sodium-dependent glucose transporter ( SGLT, kotransporter glukosa Na+ ). Kelompok transporter ini, SGLT 1 dan SGLT 2 menyerupai transporter glukosa yang berperan pada difusi terfasilitasi karena dapat menembus membran sel 12 kali dan mempunyai terminal COOH dan NH2 pada sisi sitoplasmik membran. Akan tetapi, tidak ada homologi terhadap transporter seri GLUT. SGLT 1 dan SGLT 2 bertanggung jawab pada transpor glukosa keluar dari tubuli ginjal. Oleh karena kadar Na+ intraseluler di dalam usus halus dan sel ginjal rendah, seperti juga di dalam sel-sel lainnya, Na+ bergerak ke dalam sel sesuai dengan beda konsentrasinya. Glukosa bergerak bersama Na+ dan dilepaskan di dalam sel. Na+ diangkut ke dalam ruang interseluler lateral, dan glukosa diangkut oleh GLUT 2 ke dalam interstitium lalu masuk ke dalam kapiler. Jadi, transpor glukosa merupakan contoh transpor aktif sekunder ; energi untuk transpor glukosa diperoleh tidak langsung, melalui transpor aktif Na+ keluar sel. Ini akan mempertahankan beda konsentrasi di kedua sisi batas sel luminal, sehingga lebih banyak Na+ dan akibatnya lebih banyak glukosa yang masuk . Mekanisme transpor glukosa juga mengangkut galaktosa. Fruktosa menggunakan mekanisme berbeda. Penyerapannya tidak bergantung pada Na+ atau transpor glukosa dan galaktosa; transportnya dengan difusi fasilitasi dari lumen usus halus ke dalam enterosit melalui GLUT 5 dan keluar dari enterosit masuk ke dalam interstitium
20

melalui GLUT 2. Sebagian fruktosa diubah menjadi glukosa di dalam sel-sel mukosa. Pentosa diserap dengan difusi sederhana. Insulin sedikit berpengaruh pada transpor glukosa dalam usus. Sehubungan dengan ini, penyerapan kembali glukosa dalam tubulus kontortus proksimal ginjal ; kedua proses tidak memerlukan fosforilasi, dan keduanya normal pada diabetes tetapi dihambat oleh obat florizin. Kecepatan absorpsi maksimal glukosa dari usus kira-kira 120g/jam.

PROTEIN DAN ASAM NUKLEAT

Pencernaaan Protein Pencernaan protein dimulai di dalam lambung, di situ pepsin menguraikan beberapa ikatan peptida. Pepsin menghidrolisis ikatan ikatan antara asam amino romatik seperti fenillalanin atau tirosin dan asam amino kedua, sehingga hasil pencernaan peptik adalah berbagai polipeptida dengan ukuran yang sangat berbeda Oleh karena pH optimum untuk pepsin adalah 1,6 3,2 kerjanya terhenti bila isi lambung bercampur dengan getah pankreas yang alkali di duodenum dan jejunum. pH isi usus halus di bagian superior duodeni 2,0 4,0, tetapi pada bagian lain ialah kirakira 6,5. Di usus halus, polipeptida yang terbentuk melalui pencernaan di lambung dicerna lebih lanjut oleh enzim-enzim proteolitik kuat yang berasal dari pankreas dan mukosa usus halus. Jadi pencernaan akhir terhadap asam amino terjadi di 3 tempat : lumen usus halus, brush border, dan sitoplasma sel-sel mukosa.

Penyerapan Ada paling sedikit 7 sistem transpor yyang berbeda yang mengangkut asam amino ke dalam enterosit. Lima darinya memerlukan Na+ dan kotransport asam amino dan Na+ dengan cara yang mirip dengan kotranspor Na+ dan glukosa. Dua dari 7 sistem transpor ini membutuhkan Cl-. Pada 2 sistem, transpor tidak membutuhkan Na+. Transpor di- dan tripeptida ke dalam enterosit dilakukan oleh sistem yang membutuhkan H+ dan Na+. Sedikit sekali peptida berukuran besar yang diabsorpsi. Di dalam enterosit, asam amino yang dilepaskan dari peptida oleh hidrolisis intrasel ditambah asam amino yang di absorpsi dari lumen usus halus dan brush border akan diangkut keluar enterosit sepanjang tepi basolateral melalui paling sedikit 5 sistem transpor. Dari sini, asam amino ini akan masuk peredaran darah portal hepatik. Dua

21

diantara sistem ini bergantung pada Na+, dan yang tidak. Cukup banyak peptida kecil yang juga masuk ke dalam darah portal. Penyerapan asam-asam amino di duodenum dan jejunum berlangsung cepat tetapidi dalam ileum lambat. Hampir 50% protein yang dicerna berasal dari makanan yang dimakan, 25% dari protein getah pencernaan, dan 25% dari deskuamasi sel-sel mukosa. Hanya 2-5 % protein dalam usus halus lolos dari pencernaan dan penyerapan. Sebagian protein yang dimakan masuk ke dalam kolon dan kemudian dicerna oleh kuman. Protein dalam feses tidak berasal dari makanan tetapi dari kuman.

Asam Nukleat Asam nukleat diuraikan menjadi nukleotida dalam usus halus oleh nuklease pankreas, dan nukleotida itu diuraikan menjadi nukleosida dan asam fosfor oleh enzim-enzim yang terdapat pada permukaan luminal sel-sel mukosa. Nukleosida kemudian diuraikan menjadi unsur gula serta basa pirimidin dan purin. Unsur unsur basa tersebut diserap dengan transport aktif.

LIPID

Pencernaan Lemak Kebanyakan pencernaan lemak mulai di duodenum, dengan melibatkan salah satu enzim terpenting, yaitu lipase pankreas. Kebanyakan kolesterol makanan berbentuk ester kolesteril, dan ester kolesteril hidrolase menghidrolisis ester-ester ini di dalam lumen usus halus. Lemak diemulsifikasi dengan halus didalam usus halus oleh kerja garam empedu, lesitin, dan monogliserida. Bila konsentrasi garam empedu dalam usus halus tinggi, seperti setelah kontraksi kandung kemih, lipid dan garam empedu berinteraksi spontan membentuk misel. Agregat agregat silindris ini mengikat lipid, dan meskipun konsentrasi lipidnya berbeda-beda, umunya mengandung asam lemak, monogliserida, dan kolesterol pada pusat hidrofobiknya. Pembentukan misel selanjutnya melarutkan lipid dan memungkinkan mekanisme untuk transpornya ke
22

enterosit. Jadi, misel bergerak ke konsentrasi yang lebih rendah melalui lapisan statis ke brush border sel-sel mukosa. Lipid berdifusi keluar dari misel, dan suatu larutan cair jenuh lipid dipertahankan kontaknya dengan brush border sel-sel mukosa.

Penyerapan Di dalam sel lipid lipd ini akan mengalami esterifikasi cepat, sehingga gradien konsentrasi yang memudahkan zat masuk ke sel dipertahankan. Berbeda dengan mukosa ileum, kecepatan penyerapan garam empedu oleh mukosa jejunum rendah, dan sebagian besar garam empedu tetap berada dalam lumen usus halus, dan dapat digunakan untuk pembentukan misel baru. Nasib asam lemak di enterosit bergantung pada ukurannya. Asam lemak yang atom karbonnya kurang dari 10-12 dari sel mukosa langsung masuk kedarah portal, dan akan ditransport sebagai asam lemak bebas ( tanpa esterifikasi ). Asam lemak yang atom karbonnya lebih dari 10 12 mengalami esterifikasi kembali menjadi trigliserida dalam sel-sel mukosa. Selain itu, sebagian kolesterol yang diserap diesterifikasi. Trigliserida dan ester kolesteril kemudian dilapisi oleh lapisan protein, kolesterol, dan fosfolipid membentuk kilomikron. Zat ini kemudian meninggalkan sel dan masuk ke peredaran limfatik. Dalam sel-sel mukosa, sebagian besar trigliserida dibentuk oleh asilasi 2monogliserida yang diserap, terutama di dalam retikulum endoplasma halus. Akan tetapi, sebagian trigliserida dibentuk dari gliserofosfat, yang adalah hasil katabolisme glukosa. Gliserofosfat juga dikonversi menjadi gliserofosfolipid yang ikut berperan dalam pembentukan kilomikron. Asilasi gliserofosfat dan pembentukan lipoprotein terjadi di dalam retikulum endoplasma kasar. Bagian molekul karbohidrat ditambahkan pada protein dalam aparatus golgi, dan kilomikron yang telah selesai dikeluarkan melalui eksositosis dari bagian basal atau lateral sel. Penyerapan asam lemak rantai panjang terutama di usus halus bagian atas, tetapi sejumlah tertentu juga diserap dalam ileum. Pada masukan lemak sedang, 95% atau lebih lemak yang dimakan diserap5,6.

23

Motilitas dan Sekresi Kolon Gerakan mencampur ( haustrasi ). Dimulai oleh ritmis otonom sel-sel otot polos kolon. Seperti gerakan segmentasi tetapi sangat jarang ( interval antara 2 haustrasi mencapai 30 menit ). Letak haustra berubah yang semula melemas akan berkontraksi dan sebaliknya, bersifat non propulsif/ tidak mendorong. Gerakan maju mundur, mengaduk isi kolon sehingga semua terpapar ke mukosa absortif. Gerakan ini dikontrol oleh refleks-refleks lokal yang melibatkan plexus intrinsik. Gerakan Massa ( Mass Movement ) Gerakan mendorong isis kolon ke bagian distal usus besar. Dicetuskan oleh : refleks gastroileum dan refleks gastrokolon. Refleks gastroileum ialah memindahkan isi usus halus yang tersisa ke dalam usus besar. Refleks gastrokolon adalah gerakan mendorong isi kolon ke dalam rektum yang memicu refleks defekasi. Diperantarai oleh gastrin dari lambung ke kolon dan oleh saraf otonom ekstrinsik. Jelas terlihat setelah sarapan pagi dan sering diikuti oleh keinginan kuat untuk segera defekasi. Gerakan massa dapat juga ditimbulkan oleh perangsangan kuat sistem saraf parasimpatis atau peregangan yang berlebihan pada satu segmen kolon. Defekasi Gerakan massa di kolon mendorong isi kolon ke rektum sehingga terjadi peregangan rektum merangsang reseptor regang di dinding rektum sehingga memicu refleks defekasi. Refleks disebabkan oleh : sfingter anus internus ( otot polos ) melemas dan rektum & kolon sigmoid berkontraksi kuat. Bila sfingter anus externus ( otot rangka ) melmas maka terjadi defekasi. Bila defekasi ditunda, dinding rektum yang semula teregang akan melemas sehingga keinginan untuk buang air besar mereda sampai gerakan massa berikutnya mendorong lebih banyak feses ke rektum. Pada periode non aktif, kedua sfinter anus berkontraksi untuk memastikan tidak ada pengeluaran feses4,5.

24

D. Enzim enzim dan Hormon Pencerrnaan.


Peran hormon gastrointestinal ; Gastrin Bersumber dari sel-sel G di daerah kelenjar pilorus lambung. Stimulus utama untuk sekresi prtein di lambung. Fungsi ; merangsang sel parietal dan sel utama, meningkatkan motilitas lambung, merangsang motilitas ileum, melemaskan sfingter ileosekum, menginduksi gerakan massa di kolon, dan bersifat trofik bagi mukosa lambung dan usus halus. Sekretin Bersumber dari sel-sel endokrin di mukosa duodenum. Stimulus untuk sekresi asam di lumen duodenum. Berfungsi ; menghambat pengosongan lambung, menghambat sekresi lambung, merangsang sekresi NaHCO3 encer oleh sel-sel duktus pankreas, merangsang sekresi empedu kaya NaHCO3 oleh hati dan bersifat trofik bagi pankreas eksokrin. Kolesistokinin Bersumber dari sel-sel endokrin di mukosa duodenum. Stimulus utama untuk sekresi nutrien di lumen duodenum, terutama produk lemak dan protein dengan tingkat yang lebih rendah. Berfungsi sebagai penghambat

pengosongan lambung, menghambat sekresi lambung, merangsang sekresi enzim-enzim pencernaan oleh asinus pankreas, menyebabkan kontraksi kandung empedu, menyebabkan relaksasi sfingter Oddi, bersifat trofik bagi pankreas eksokrin, dapat menimbulkan perubahan-perubahan adaptif jangka panjang proporsi enzim-enzim pankreas serta berperan dalam rasa kenyang. Gastric Inhibitory peptide ( GIP ) Sumber dari sel-sel endokrin di mukosa duodenum. Stimulus utama untuk sekresi lemak, asam, hipertonisitas, glukosa dan peregangan duodenum. Berfungsi untuk menghambat pengosongan lambung, menghambat sekresi lambung dan menghambat sekresi insulin oleh pankreas.

25

Enzim enzim pencernaan ; Kelenjar Saliva : -amilase saliva, berfungsi untuk menghidrolisis ikatan molekul glukosa menghasilkan dekstrin, maltotriosa, dan maltosa. Kelenjar Lingualis : lipase lingual, untuk asam lemak dan 1,2-diasilgliserol. Lambung : a. Pepsin (pepsinogen) berfungsi memecah ikatan peptida yang berdekatan dengan asam amino aromatik. b. Lipase lambung untuk asam lemak dan gliserol. Eksokrin pankreas : a. Tripsin (tripsinogen) berfungsi memecah ikatan

peptida di sisi karboksil asam amino basa, b. Kimotripsin berfungsi memecah ikatan peptida di sisi karboksil asam amino aromatik, c. Elastase (proelastase) berfungsi memecah ikatan di sisi dengan karboksil asam amino karboksil alifatik, d. Karboksipeptidase berfungsi memecah asam amino terminal yang mempunyai rantai samping, e. Kolipase (prokolipase) berfungsi untuk memudahkan terbukanya bagian aktif lipase pankreas, f. Lipase pankreas untuk monogliserida dan asam lemak, g. Ester kolesteril hidrolase untuk kolesterol, h. -amilase pankreassama seperti -amilase saliva, i. Ribonuklease & Deoksiribonuklease untuk nukleotida, j. Fosfolipase untuk lisofosfolipid dan asam lemak. Mukosa usus halus : a. Enteropeptidase untuk tripsin, b. Aminopeptidase untuk memecah asam amino terminal dari peptida, c. Karboksipeptidase untuk memecah terminal karboksil asam amino dari peptida, d. Endopeptidase untuk memecah antara gugus residudi bagian tengah peptida, e. Dipeptidase untuk hidrolisa dua asam amino, f. Maltase untuk memecah glukosa, g. Laktase -galaktosa dan glukosa, h. Sukrase fruktosa dan glukosa, i. - dekstrinase glukosa, j. Trehalaseglukosa5,6.

26

E. Faktor faktor yang mempengaruhi & Gangguan Pencernaan.

IMPAKSI FESES (tertahannya feses) Impaksi feses dapat didefenisikan sebagai suatu massa atau kumpulan yang mengeras, feses seperti dempul pada lipatan rektum. Impaksi terjadi pada retensi yang lama dan akumulasi dari bahan-bahan feses. Pada impaksi yang gawat feses terkumpul dan ada di dalam colon sigmoid. Impaksi feses ditandai dengan adanya diare dan kotoran yagn tidak normal. Cairan merembes keluar feses sekeliling dari massa yang tertahan. Penyebab dari impaksi feses biasanya kebiasaan buang air besar yang jarang dan konstipasi. Pada orang yang lebih tua faktor-faktor yang beragam dapat menyebabkan impaksi ; asupan cairan yang kurang, diet yang kurang serat, rendahnya aktivitas, melemahnya tonus otot.

KONSTIPASI Konstipasi berhubungan dengan jalan yang kecil, kering, kotoran yang keras, atau tidak ada lewatnya kotoran di usus untuk beberapa waktu. Ini terjadi ketika pergerakan feses melalui usus besar lambat, hal ini ditambah lagi dengan reabsorbsi cairan di usus besar. Konstipasi berhubungan dengan pengosongan kotoran yang sulit dan meningkatnya usaha atau tegangan dari otot-otot volunter pada proses defekasi. Gejala-gejala ini tidak disebabkan oleh penyerapan zat-zat toksik, karena gejala tersebut menghilang setelah pengosongan rektum dan dapat ditimubulkan kembali dengan meregangkan rektum dengan zat inert. Gejala-gejala lain yang dikaitkan dengan konstipasi oleh orang awam disebabkan oleh kecemasan atau penyebab lain.

27

DIARE Diare berhubungan dengan pengeluaran feses yang cair dan meningkatnya frekuensi dari proses defekasi. Ini adalah lawan dari konstipasi dan dampak dari cepatnya perjalanan feses melalui usus besar. Cepatnya perjalanan chyme mengurangi waktu untuk usus besar mereabsorbsi air dan elektrolit. Sebagian orang mengeluarkan kotoran dengan frekuensi yang meningkat, tetapi bukan diare, dikatakan diare jika kotoran tidak berbentuk dan cair sekali. Pada orang dengan diare dijumpai kesulitan dan ketidakmungkinan untuk mengontrol keinginan defekasi dalam waktu yang lama. Sering kram abdomen yang sangat sakit berhubungan dengan diare. Kadangkadang penderita mengeluarkan darah dan lendir yang banyak ; mual dan muntah juga bisa terjadi. Pada diare persisten, secara umum bisa terjadi perluasan iritasi pada daerah anus ke daerah perineum dan bokong., Fatique, kelemahan, malaise dan berat badan yang berkurang merupakan dampak dari diare yang berkepanjangan. Ketika penyebab diare adalah iritasi pada saluran intestinal, diare diperkirakan sebagai mekanisme pembilasan sebagai perlindungan. Itu bisa menyebabkan hilangnya cairan dan elektrolit dalam tubuh, bagaimanapun, itu bisa berkembang menjadi sesuatu yang menakutkan dalam waktu yang singkat, terutama pada bayi dan anak kecil.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DEFEKASI

1. UMUR Umur tidak hanya mempengaruhi karakteristik feses, tapi juga pengontrolannya. Anak-anak tidak mampu mengontrol eliminasinya sampai sistem neuromuskular berkembang, biasanya antara umur 2 3 tahun. Orang dewasa juga mengalami perubahan pengalaman yang dapat mempengaruhi proses pengosongan lambung. Di antaranya adalah atony (berkurangnya tonus otot yang normal) dari otot-otot polos colon yang dapat berakibat pada melambatnya peristaltik dan mengerasnya (mengering) feses, dan menurunnya tonus dari otot-otot perut yagn juga menurunkan tekanan selama proses pengosongan lambung. Beberapa orang dewasa juga mengalami penurunan kontrol terhadap muskulus spinkter ani yang dapat berdampak pada proses defekasi.
28

2. SERAT MAKANAN Makanan adalah faktor utama yang mempengaruhi eliminasi feses. Cukupnya selulosa, serat pada makanan, penting untuk memperbesar volume feses. Makanan tertentu pada beberapa orang sulit atau tidak bisa dicerna. Ketidakmampuan ini berdampak pada gangguan pencernaan, di beberapa bagian jalur dari pengairan feses. Makan yang teratur mempengaruhi defekasi. Makan yang tidak teratur dapat mengganggu keteraturan pola defekasi. Individu yang makan pada waktu yang sama setiap hari mempunyai suatu keteraturan waktu, respon fisiologi pada pemasukan makanan dan keteraturan pola aktivitas peristaltik di colon. Zat seperti makanan pedas, toxin bakteri dan racun dapat mengiritasi saluran intestinal dan menyebabkan diare dan sering menyebabkan flatus. Pada manusia, selulosa dan tumbuhan karbohidrat terkait lain, produk-produk tumbuhan ini tidak mengalami pencernaaan yang bermakna. Selulosa, hemiselulosa, dan lignin dalam makanan merupakan komponen penting serat makanan, yang berdasarkan definisi adalah semua makanan yang mencapai usus besar dalam keadaan tidak mengalami perubahan mendasar. Berbagai liur, polisakarida alga, dan zat pektat ikut membentuk serat makanan. Apabila jumlah serat makanan kecil, makanan dikatakan tidak memiliki masa ( bulk ). Oleh karena jumlah zat dalam kolon kecil, kolon menjadi tidak aktif dan frekuensi buang air besar berkurang.

3. CAIRAN Pemasukan cairan juga mempengaruhi eliminasi feses. Ketika pemasukan cairan yang adekuat ataupun pengeluaran (cth: urine, muntah) yang berlebihan untuk beberapa alasan, tubuh melanjutkan untuk mereabsorbsi air dari chyme ketika ia lewat di sepanjang colon. Dampaknya chyme menjadi lebih kering dari normal, menghasilkan feses yang keras. Ditambah lagi berkurangnya pemasukan cairan memperlambat perjalanan chyme di sepanjang intestinal, sehingga meningkatkan reabsorbsi cairan dari chyme.

29

4. TONUS OTOT Tonus perut, otot pelvik dan diafragma yang baik penting untuk defekasi. Aktivitasnya juga merangsang peristaltik yang memfasilitasi pergerakan chyme sepanjang colon. Otot-otot yang lemah sering tidak efektif pada peningkatan tekanan intraabdominal selama proses defekasi atau pada pengontrolan defekasi. Otot-otot yang lemah merupakan akibat dari berkurangnya latihan (exercise), imobilitas atau gangguan fungsi syaraf.

5. FAKTOR PSIKOLOGI Dapat dilihat bahwa stres dapat mempengaruhi defekasi. Penyakit-penyakit tertentu termasuk diare kronik, seperti ulcus pada collitis, bisa jadi mempunyai komponen psikologi. Diketahui juga bahwa beberapa orang yang cemas atau marah dapat meningkatkan aktivitas peristaltik dan frekuensi diare. Ditambah lagi orang yang depresi bisa memperlambat motilitas intestinal, yang berdampak pada konstipasi. 6. GAYA HIDUP Gaya hidup mempengaruhi eliminasi feses pada beberapa cara. Pelatihan buang air besar pada waktu dini dapat memupuk kebiasaan defekasi pada waktu yang teratur, seperti setiap hari setelah sarapan, atau bisa juga digunakan pada pola defekasi yang ireguler. Ketersediaan dari fasilitas toilet, kegelisahan tentang bau, dan kebutuhan akan privacy juga mempengaruhi pola eliminasi feses. 7. OBAT-OBATAN Beberapa obat memiliki efek samping yang dapat berpengaruh terhadap eliminasi yang normal. Beberapa menyebabkan diare; yang lain seperti dosis yang besar dari tranquilizer tertentu dan diikuti dengan prosedur pemberian morphin dan codein, menyebabkan konstipasi. Beberapa obat secara langsung mempengaruhi eliminasi. Laxative adalah obat yang merangsang aktivitas usus dan memudahkan eliminasi feses. Obat-obatan ini melunakkan feses, mempermudah defekasi. Obat-obatan tertentu seperti dicyclomine

30

hydrochloride (Bentyl), menekan aktivitas peristaltik dan kadang-kadang digunakan untuk mengobati diare5,7.

F. Pemeriksaan Fisik Abdomen. Pada pemeriksaan fisik abdomen kita dapat merasakan/meraba beberapa struktur/ organ normal yang terletak di dalam rongga abdomen. Untuk memudahkan pemeriksaan, abdomen seringkali dibagi menjadi beberapa bagian dengan suatu garis imajiner yang melewati umbilikus ditengah dari kiri ke kanan, menjadi kuadran atas kanan, kuadran atas kiri, kuadran bawah kanan dan kuadran bawah kiri. Sistem lain membagi abdomen menjadi sembilan bagian, dengan tiga bagian yang ditengah ialah daerha epigastrik, umbilikal, dan hipogastrik ( suprapubik )8. Pemeriksaan fisik abdomen meliputi ; 1. Inspeksi Untuk melihat bentuk (contour) abdomen, warna kulit, dan gerakan peristaltis. 2. Palpasi Palpasi ringan terutama berguna untuk mengidentifikasi kekakuan dinding abdomen, resistensi otot dan beberapa organ dan massa yang terletak superficial. Palpasi dalam biasanya untuk menemukan adanya massa abdominal. 3. Perkusi Pemeriksaan perkusi dapat membantu adanya udara yang berlebihan di dalam rongga abdomen dan untuk mengidentifikasi adanya massa yang solid atau cair. 4. Auskultasi Pemeriksaan auskultasi memberikan gambaran penting mengenai motilitas usus dan untuk mendengar suara usus.

31

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Sistem gastrointestinal merupakan pintu gerbang masuknya bahan makanan, vitamin, mineral dan cairan ke dalam tubuh. Protein, lemak dan karbohidrat kompleks diuraikan menjadi unit-unit yang dapat diserap / dicernakan , terutama di dalam usus halus. Pencernaan bahan makanan utama merupakan proses yang teratur yang melibatkan sejumlah besar enzim pencernaan dan hormon pencernaan. Peregangan rektum oleh feses akan mencetuskan kontraksi refleks otot-otot rektum dan keinginan buang air besar. Beberapa faktor yang mempengaruhi defekasi, terutama serat makanan. Selulosa, hemiselulosa, dan lignin dalam makanan merupakan komponen penting dalam serat makanan, yang berdasarkan definisi adalah semua makanan yang mencapai usus besar dalam keadaan tidak mengalami perubahan mendasar. Cukupnya selulosa, serat pada makanan, penting untuk memperbesar volume feses. Makanan tertentu pada beberapa orang sulit atau tidak bisa dicerna. Ketidakmampuan ini berdampak pada gangguan pencernaan, di beberapa bagian jalur dari pengairan feses.

32

DAFTAR PUSTAKA

1. Winami W, Kindangen K, Listiawati E : Tractus digestivus.edisi 2. Jakarta :Fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida wacana, 2010. 2. Junqueria LC, Carneiro J : Histologi dasar:teks & atlas, 10 ed. Jakarta :EGC, 2007. 3. Gunawijaya F, Kartawiguna E : Penuntun pratikum, kumpulan foto mikroskopik histologi. Jakarta : universitas Trisakti, 2007. 4. Sherwood L : Fisiologi manusia:dari sel ke system, ed 2. Jakarta:EGC,2001. 5. Ganong WF: Fisiologi kedokteran, ed 20. Jakarta:EGC,2002: 450-89. 6. Guyton, arthur C : Fisiologi manusia dan mekanisme penyakit, ed 8.alih bahasa, Petrus Adrianto. Jakarta:EGC, 2006. 7. Diunduh dari google http://www.gangguan pencernaan.com/v1/web/index.php?to=article&id=16. Defekasi. Posted at 07 Desember 2007 by Dr. Damayanti Soetjipto. Diunduh pada 25 juli 2010. 8. Kurnia Y, Santoso M, Winami W, dkk : Buku panduan ketrampilan medik. Jakarta: fk ukrida,2010.

33

34

35

36

37

38

39

40