Anda di halaman 1dari 13

2012

KETRAMPILAN
BATIK IKAT DAN CELUP

GLORI TYAS PRASETYO RINI XI IPA 1

SMAN 4 METRO

1. SEJARAH BATIK IKAT CELUP


Teknik ikat celup dalam bahasa Afrika adalah adire, dalam bahasa India bandhana, dan dalam bahasa Jepang shibiro. Istilah tersebut sudah digunakan selama berabad-abad untuk menggambarkan cara membuat desain pada kain, yang disebut seni ubar ikat/ikat ce)up/jumputan/tie dye. Pada proses pembuatan motif ini, kain dijumput pada beberapa bagian tertentu, kemudian diikat dengan karet atau tali lalu di celup. Kain akan menyerap warna kecuali bagian-bagian yang diikat. Dengan demikian terbentuklah pola-pola pada kain. Seni ikat celup/jumputan merupakan salah satu cara untuk mencegah terserapnya zat warna oleh bagian-bagian yang diikat. Benua Asia merupakan sumber sejarah dari kebudayaan kain dan tenun di dunia. Salah satunya ialah kain ikat-celup. Dibeberapa negara Asia Timur, seperti; India, Cina, dan Jepang, kain tradisional dengan motif ikat-celup sudah dikenal beberapa abad yang lampau, sebagai kain yang mempunyai makna dan symbol tradisi. Kain dengan teknik ikat-celup diperkirakan berkembang di Cina dan Persia yang dibuktikan oleh adanya jalur sutera dan penggalian kuburan Kerajaan. Pada jaman dinasti Tang, tahun 618-906 M, telah dikenal teknik ikat-celup sebagai bagian dari cara-cara menciptakan ragam hias dan motif di atas permukaan kain. Dari daratan Cina, budaya ikat-celup atau jumputan menyebar ke Jepang sebagai bahan busana. Busana kaftan dan sari yang menjadi pakaian adat di India memerlukan kain-kain berukuran panjang serta warna-warna untuk meningkatkan keindahannya. Dari beberapa sumber yang diyakini, proses teknik jumputan ternyata merupakan tradisi tertua yang berasal dari Peru yang kemudian menyebar ke Mexico hingga bagian barat daya Amerika Serikat. Hasil penernuan dari bebrapa ilmuwan ternyata teknik ikat-selup asal Peru lebih banyak ragamnya dibanding Asia Timur terutama dari segi material, simbol, serta kualitas kain dan teknik pewarnaannya. Seni ikat celup berasal dari timur Jauh, diperkirakan sejak 3000 tahun sebelum Masehi, terdapat orang Roma yaitu salah satu bangsa pertama yang mengimpor kain dari daerah Timur. Karena terpesona oleh cara mewarnai kain katun India dan kain sutera halus China. Meskipun teknik ikat celup itu tampaknya rumit, namun lambat laun kemudian teknik ikat celup ini digunakan dan menyebar di negara China dan Peru. Beberapa ahli berpendapat bahwa seni ikat celup ditemukan secara terpisah di berbagai bagian dunia. Di India, china, Jepang, Amerika Selatan, dan Afrika banyak orang desa yang masih mempunyai tempat lingi bak-bak untuk pencelupan, yang besarnya mencapai dua meter persegi yang berisi zat pewarna berwarnawarni. Beberapa kain yang sudah diikat dan dicelup kemudian di bilas di dalam air sungai, kemudian dibentangkan sampai kering. Ada kain yang diikat dan dicelup sampai delapan kali, hal ini tergantung pada rumitnya pola yang ingin dibuat.

2. IKAT CELUP/JUMPUTAN DI INDONESIA


Di Indonesia ikat celup ini lebih dikenal dengan istilah jumputan. Kain Jumputan terdapat di daerah Jawa, Bali, Palembang, Kalimantan, dan Toraja. Pembuatan kain dengan teknik ikat celup ini sudah menjadi bagian dari tradisi penduduk setempat, terutama bagi kaum wanita. Umumnya teknik yang dilakukan di tiap daerah dan negara memiliki kesamaan, yaitu menggunakan alat-alat seperti; tali rafia, jarum, benang, dan zat pewarna. Bahan yang digunakan untuk ikat celup ini antara lain: mori, katun, rayon, sutera, atau sintetis. Pada umumnya motif yang ada pada kain Jumputan berupa gelang, lingkaran-lingkaran kecil, kotak-kotak, geometris, bergelombang, garis lurus dan zigzag.

Batik Ikat Celup

Page 2

Di Indonesia kain jumputan ini dapat dipakai untuk cuaca apapun. Penduduk Jawa memakai kain jumputan untuk kemben atau penutup dada atau sebagai pelengkap pakaian penari Jawa. Motif yang dibuat kebanyakan bulat-bulat, dan orang Palembang menyebutnya kain Pelangi yang biasa dipakai sebagai selendang yang terbuat dari bahan sutera. Disebut Pelangi karena kain ini motifnya selalu mempunyai ciri khas titik 7 dan warna warni. Awalnya kain jumputan ini dikenakan kalangan b angsawan di kerajaan Sriwijaya untuk acara-acara tertentu seperti: pernikahan,kelahiran dan upacara siraman. Sedangkan di Kalimantan selatan dikenal dengan kain sasirangan.

3. BAHAN-BAHAN DAN ALAT BATIK IKAT CELUP / JUMPUTAN


Kain Mori / Cotton Alat perintang / penutup / penghalang masuknya warna ke kain : tali, plastic, jarum dan benang, alat pres dari kayu Klamp penjepit Kompor dan Panci Pewarna : pewarna panas atau dingi, alami maupun buatan pabrik (semua pewarna tekstil) dan zat apapun yang bias member warna kain missal teh, kopi, dan lain-lain. Gawangan

4. PROSES PEMBUATAN BATIK


a) Cara Pembuatan Batik Ikat Celup 1. Teknik merintangi / menutup sebagian kain sebelum dicelup Pewarna : Teknik ikat ; dengan teknik ikat dapat dihasilkan ornamen / motif berbentuk lingkaran dalam berbagai ukuran dengan variasi misal : lingkaran besar, lingkaran kecil, lingkaran ganda, setengah lingkaran, seperempat lingkaran, garis lurus sepanjang lebar kain, serta bentuk-bentuk tak beraturan seperti mendung dan lainlain.

Teknik Tutup & ikat ; dengan teknik ini dapat dihasilkan motif berbentuk bundaran dengan dengan berbagai variasi.

Teknik Jahit ; dengan teknik jahit jelujur dapat dihasilkan garis putus-putus baik lurus, zig-zag, lengkung, gelombang, serta bentuk bentuk kurva terbuka maupun tertutup. Teknik Press ; teknik ini merintangi/ menutup sebagaian kain dengan menjepit sebagian kain menggunakan bahan keras missal kayu yang dibentuk menjadi

Batik Ikat Celup

Page 3

bentuk-bentuk tertentuk sesuai selera missal bentuk segitiga, lingkaran, bunga, buah, maupun bentuk-bentuk tidak beraturan. Kayu yang digunakan sebaiknya tidak terlalu lunak / keras serta permukaannya rata/halus. Teknik press yang dikombinasikan dengan pelipatan kain berulang secara teratur dapat menghasilakan motif yang sama dalam jumlah yang banyak. Namun demikian makin banyak pelipatan kain menyebabkan lipatan kain bagian dalam warnanya pudar jika kurag lama dalam perendaman.

Teknik lukis ; teknik ini sebenanya bukan sebagai cara merintangi/menutup sebagian kain sebab tidak menggunakan alat perintang sama sekali, tetapi biasanya digunakan untuk memperindah ornament yang dibuat dengan teknik sebelumnya jika tampak kurang serasi / seimbang. Cara melukis dapat menggunakan kuas maupun alat apa saja missal botol pencet.

2. Teknik pembuatan sketsa / desain Membuat sketsa / desain batk ikat celup berbeda dengan batik tulis sebab ornament pada batik ikat celup kebanyakan bergaris tidak tegas (kecuali ornament yang dibuat dengan teknik Press). Jadi desain dalam pembuatan batik ikat celup hanyalah berupa sketsa secara garis besar dan juga pembagian bidang agar semua teknik perintangan yang akan digunakan dan perpaduan warna yang diinginkan dapat terlaksana dengan baik. Sebagus apapun sebuah sketsa/desain akan sia-sia jika tidak dapat dilaksanakan (dipraktikkan). 3. Teknik Pewarnaan Dalam proses pewarnaan batik ikat celup perlu diperhatikan susunan warna yang ingin dicapai dari yang paling muda / terang sampai warna yang paling tua / gelap. Terutama batik yang lebih dari satu warna dalam proses pewarnaannya harus mendahulukan warna muda / terang. Tetapi jika menggabungkan dua atau lebih warna primer maka pada saat mencelupkan ke salah satu warna, bagian kain yang lain yang akan diberi warna primer lain harus ditutup terlebih dahulu dan ketika mewarnai warna primer yang kedua, warna primer hasil pencelupan pertama harus ditutup. Dalam batik pencampuran dalam teori warna tidak sepenuhnya dapat diterapkan, sebab dalam pembauran warna dalam batik sangat dipengaruhi oleh jenis kain, jumlah air yang digunakan, lamanya pencelupan/pewarnaan, serta jenis pewarna yang digunakan. Perpaduan warna apapun sebaiknya tidak mengilangkan warna putih sama sekali agar perpaduan warna yang dihasilkan tampak lebih bercahaya.

Batik Ikat Celup

Page 4

5. CARA MEMBUAT IKAT CELUP PADA BERBAGAI BENDA


A. Berbagai Benda Interior Rurnah Taplak meja dengan motif ikatan donat Langkah-langkah pembuatan taplak meja dengan teknik ikatan clonat, yaitu : 1. Siapkan Alat clan bahan: Siapkan kain beludru rayon selebar 90 cm clan panjang 200 cm atau kain apapun yang agak tebal clan halus. Kalau menggunakan bahan beludru rayon, siapkan alat berupa 1 botol asam muriat (clapat clibeli di toko kimia), siapkan penjepit logam clan sarung tangan karet, tali karet/tali berlilin, botol pencet, zat pewarna bubuk/cair berwarna hijau permata, kuning, clan biru serta zat pewarna bubuk hijau tua sebagai pelengkap warna biru kehijauan, panci besar. Selain itu cliperlukan juga : penggaris; spidol; clan lern putih. 2. Agar kain clapat menyerap zat pewarna clan untuk mempertahankan warna yang berkilauan, hilangkan dahulu bekas setrika dengan memanaskannya dalam larutan berisi setengah senclok teh asam muriat di dalam 9 liter air yang clipanaskan kira-kira selama 30 menit. Kemudian angkatlah kain itu dengan penjepit, lalu bilaslah kain tersebut dengan air dingin, clan peraslah. 3. Lipatlah kain basah tadi memanjang di tengahnya, lalu letakkan di atas meja kerja. Dengan menggunakan penggaris dan spidol, buatlah garis titik-titik kirakira 25 cm dari tiap tepi-tepi kain yang tidak dilipat. Jarak tiap titik 2 cm. 4. Buatlah ikatan donat, yang mencakup kedua lapisan kain di sepanjang titik itu. Dekatkan ikatanikatan tersebut agar tepi desain tidak tertutup oleh warna tepi kain. Garis penunjuk segi empat itu tetap kelihatan di bawah ikatan sehingga ikatan-ikatan tersebut membentuk garis lurus. Jika segi empat tidak cukup untuk mernuat ikatan donat, buatlah ikatan mawar, walaupun bentuknya agak rusak tetap mengikuti garis lurus. 5. Selanjutnya isilah bagian dalam segi empat itu dengan ikatan donat yang saling berdekatan. Selama ikatan disatukan, lalu isilah botol pencet dengan zat pewarna berwarna hijau, kuning dan biru. bubuhkan pewarna kuning di tengah masing-masing ikatan. Buatlah lingkaran biru pada dasar tiap ikatan. Kemudian tebarkan pewarna hijau permata di antara ikatan-ikatan itu dan teteskan juga beberapa kali ditengah masingmasing ikatan. Seperti gambar berikut 6. Untuk bagian tepi kain, larutka 1 pak zat pewarna hijau tua sebanyak 30 gram dalam panci berukuran 10 liter yang tiga perempatnya berisi air panas. 7. Masukkan tepi beludru ke dalam panci sehingga seluruh tepinya terendam zat pewarna, sedangkan ikatan donat mengapung di permukaan cairan pewarnaitu. Ikatan-ikatan cenderung untuk ternbenam kalau dibiarkan saja, tetapi taruhlah di bibir panci kalau sedang tidak diaduk. 8. Biarkan tepi kain terendarn selama satu jam dalam larutan pewarna yang panas. Aduklah tiap 10 menit dengan memegang ikatan dan celuplah tepi kain itu perlahan-lahan agar semua gelembung udara menghilang. Seperti gambar di bawah ini

Batik Ikat Celup

Page 5

9. Walaupun digunakan berbagai warna, tidak menjadi masalah apabila warna hijau tua terpercik ke bagian yang diikat. Tetapi agar kontras antara desain yang diikat dan tepi lebih jelas, jagalah bagian yang diikat tetap di atas permukaan larutan pewarna. 10. kalau sudah cukup lama, angkat dan bilaslah kain dengan air dingin yang mengalir sampai airnya jernih. Kemudian lepaskan ikatan dan bilaslah lagi. Untuk membuang air yang masih terserap kain, masukkan kain ke dalam mesin cuci, lalu angin-anginkan supaya kering. Kemudian pinggiran kain dikelim denganjahitan selebar 3 cm. Hiasan dinding (wallhanging) Proses pembuatan walthanging dari kain batis dengan teknik balok 1. Siapkan alat dan bahan: kain batis katun berukuran 105 kali 60 cm, penggaris, balok kayu berukuran 25 X 50 X 200 mm, 2 klam G berukuran 10 cm, benang, panci berukuran 10 liter, botol pencet koso'ng, zat pewarna kuning dan merah hati, dan satu pak pewarna coklat. 2. Cucilah kain batis dan peraslah airnya dengan memasukkannya ke dalam mesin cuci, lalu lipatlah kain itu meman9ang. Tentukan titik tengah pada tepi lipatannya, lalu lipatlah lagi seperti gambar di bawah ini. 3. Kemudian lipatlah segi tiga di luar menjadi separuhnya seperti gambar di samping. 4. Lipatlah segitiga itu sekali lagi hingga bertemu di satu garis ttengah lipatan, seperti gambar(l) dan hasilnya dapat dilihat seperti gambar (2) 5. Selanjutnya, dengan menggunakan tangan peganglah lipatan di sepanjang garis tengah itu. Selanjutnya lipatlah bentuk segi tiga itu menjadi separuhnya dan letakkan di atas meja kerja dengan tepi yang panjangkain itu ke belakang seperti gambar di samping. 6. Dengan melihat arah panah, lipatlah ujung kain ke depan sehingga ujung itu terletak di tengah tepi miring lipatan seperti gambar di samping ini. 7. Sebelum membuat desain pada kain, celupkan dahulu kedua balok kayu dan tali katun sepanjang 30 cm ke dalam air hangat. Sewaktu tali diikatkan dan balok ditekankan pada kain, di tempat yang tertekan itu kain tidak menyerap zat pewarna. Letakkan balok di atas kain yang telah dilipat,

Batik Ikat Celup

Page 6

dengan kedudukan agak miring (berwarna hijau) seperti gambar di bawah ini

8. Kemudian gunakan pensil untuk menjiplak balok pada kain, lalu angkatlah baloknya. Kemudian dengan menggunakan penggaris dan pensil buatlah garis sejajar pada kain. Untuk membuat garis sejajar itu, tariklah garis lurus dari sudut kiri atas pinggir lipatan melewati titik tengah jiplakan balok sampai ke sudut kanan bawah. 9. Kemudian buatlah garis sejajar di kiri kanan garis ini masing-masing sejauh 2,5 cm. Lalu letakkan kembalibalokditempatnyadantopanglahbagianbawah kain dengan balok kedua. Kencangkan 2 klam-G yang dipasang 1 cm dari ujung tiap balok, dan balok itu tidak boleh meleset. Jangan sampai klam menyinggung kain. 10. Lalu isilah botol prencet dengan zat pewarna cair kuning dan merah. Bubuhkan zat pewarna kuning pada lajur selebar 2,5 cm yang dibentuk dengan pensil tadi. Dengan memakai sarung tangan karet, tekan-tekan zat pewarna hingga lapisan kain yang di bawah juga menyerap zat pewarna kain. Kemudian tambahkan zat pewarna di balik kain bila pewarna tidak rata. Di sebelah kanan lajur kuning, buatlah lajur selebar 2,5 dengan zat pewarna merah, seperti gambar 11. Selanjutnya satukan bagian yang telah dicelup itu dalam bentuk lipatan selebar 2 cm, mulai dari tepitepinya menuju ke balok. Tahanlah lipatan di bagian atas balok, sementara anda melipat kain di bagian bawah balok. Seperti gambar disamping. 12. Tekanlah lipatan dengan kuat ke arah balok dan dengan benang basah ikatlah sekeliling kain untuk memisahkan lajur kuning dan lajur merah. Lalu dengan benang lain ikatlah ujung masing-masing kain yang telah dilipat-lipat itu agar lipatan tidak lepas sewaktu akan meneruskan pengikatan kain disekeliling balok. Kemudian, ikatlah Wiling lajur kuning beberapa kali sampai seluruh lajur itu tertutup. 13. Ulangilah dengan cara yang sama sampai lajur merah -tertutup ikatan. Perhatikan gambar disamping.

14. Setelah lajur selebar 5 cm yang telah dicelup itu diikat kuat-kuat, siapkanlah pencelupan terakhir. Untuk pencelupan tersebut larutkan setengah pak pewarna bubuk coklat dalam panci berukuran 10 liter yang berisi air panas cukup banyak untuk merendam balok dan kain. Panasilah di atas nyala api yang kecil selama kira-kira satu jam. Supaya pencelupan merata, kemudian putarlah kain dengan mernegang klam yang menonjol di atas permukaan air, lalu goyang-goyangkan. Untuk mengangkat kain dari larutan zat pewarna, angkatlah secara bersarnaan dengan klamnya.

Batik Ikat Celup

Page 7

15. Kemudian bilaslah seluruh balok beserta kain dalam air dingin yang mengalir sampai airnya jernih. Karena zat pewarna merah lebih susah dibilas daripada zat pewarna kuning, maka lepaslah bagian yang merah dan bilaslah lebih dahulu sebelum melepaskan bagian yang berwarna kuning. Apabila kain telah bersih dari pengaruh warna kuning, bukalah balok-baloknya dan lepaskan lipatan kainnya. 16. Peraslah kain tadi dengan mesin cuci dan setrikalah sewaktu kain masih agak lembab. Untuk memajang hasil karya ini sebagai hiasan dinding, maka buatlah lipatan di bagian tepi atas dan bawah kain masing-masing selebar 3 cm. Kemudian masukkan besi/kayu gordin ke dalam lipatan tadi dan letakkan besi tersebut pada cantelan yang kuat di dinding. B. Ikat Celup pada Busana Kaos/T-Shirt yang diikat dan dilipat Semua kaos yang ada pada gambar di samping. Dari kiri ke kanan Kaos A, Kaos B, Kaos C,dan Kaos D. Berikut ini adalah proses pembuatan motif pada kaos C, yang berlajur biru. 1. Alat dan bahan : Siapkan kaos katun putih, pensil, penggaris, dua botol pencet, deterjen cair, tali karet atau tali berlilin, sarung tangan karet, setrika, panic besar, dan zat pewarna berwarna biru dan kuning serta 1 pak pewarna bubuk warna merah tua. 2. Basahi kaos dengan air dingin, kernudian keringkan kaos tadi dalam mesin cuci/peras dengan tangan.

3. Kemudian letakkan baju kaos dengan bagian depan menghadap ke atas pada papan yang datar. Buatlah garis penuntun untuk mebentuk lajur biru dengan pensil dan penggaris ke arah horizontal di bagian depan. Garis atas dihubungkan dengan kelim lengan, garis kedua diletakkan 7 cm di bawah garis pertarna. Seperti gambar di samping ini. 4. Isilah botol pencet dengan zat pewarna biru dan kuning. Kernudian pencetlah botol berisi warna biru di antara garis penuntun sebagai lajurtengah dan tekan-tekanlah pewarna tersebut sampai meresap ke dalam kaos. Ratakan zat pewarna di dekat garis-garis pensil, seperti gambar di samping ini. 5. Keringkan pewarna yang tersisa dengan karet busa, Ialu tekuklah bagian yang diwarnai dengan pewarna biru menjadi lipatan-lipatan selebar 1 cm. Kemudian ikatlah pada kedua

Batik Ikat Celup

Page 8

tepi atas dan bawah bagian yang dicelup biru itu dengan tali karet. Kencangkan paling sedlikit dengan 5 kali ikatan lagi di antara kedua tali tadi supaya zat pewarna tambahan terserap. Perhatikan gambar di samping ini. 6. Tidak perlu khawatir, apabila pewarna biru menyebar keluar lajur. Karena di bagian atas lajur lebar yang menyebar itu akan menjadi bagian desain atas dan di bagian bawah lajur akann tertutup oleh warna merah tua. Ikatlah lagi lipatan tadi dengan beberapa tali karet secara sembarangan supaya tidak menyerap warna lain. Kemudian teteskan pewarna kuning dan biru dengan menggunakan botol pencet pada bagian atas lajur biru sehingga pewarnaa menutup bagian leher, pundak dan lengan. Biarkan beberapa bagian tetap putih agar desain tampak cemerlang. Seperti di samping ini.

7. Kemudian kerutkan bagian atas kaos menjadi gumpalan dan ikatlah, lalu buatlah ikatan sembarang pada gumpalan tersebut. Bilaslah kaos dalam air dingin untuk menghilangkan kelebihan zat pewarna. 8. Setelah semua ikatan beres, larutkan zat pewarna bubuk merah tua di dalam panci berukuran 4,5 liter yang tiga perempatnya berisi air panas. Celupkan seluruh kaos ke dalam larutan, letakkan panci di atas nyala api kecil selama satu jam, dan aduklah. Perhatikan gambar di samping ini. Proses pembuatan motif pada kaos A yaitu a. Alat dan bahan : sama seperti pada pembuatan kaos C, yang berbeda adalah zat pewarnanya yang berwarna merah, kuning, dan biru laut. b. Untukmemberiwarnabentukjantungsepertipada kaos A, lipatlah kaos menurut garis tengahnya. Kemudian buatlah titik-titik penuntun sebesar 12 cm di bawah garis leher dan 25 cm di atas tepi bawah kaos. c. Buat pula titik-titik sebesar 2 cm dari tepi ketiak. Bentuklah gambarjantung menurut titik-titik tadi, dan kemudian buatjugajantung kedua di dalamnya berjarak 5 cm darijantung yang pertama. d. Kemudian bubuhkan zat pewarna merah di antara garis jantung. e. Lipit dan satukan bagian yang diberi zat pewarna menurut lengkung jantung, dan ikatlah. f. Teteskan zat pewarna kuning di luar lipitan. Buatlah ikatan gumpalan di atas dan di bawahjantung. Masukkan seluruhnya dalam larutan pewarna biru laut selama satu jam dan aduklah. Proses pembuatan pola pada kaos B, yaitu a. Siapkan alat dan bahan: semua peralatan dan bahan samaseperti pada pembuatan pola kaos A, hanya zat pewarna yang disiapkan adalah warna hijau, kuning, dan merahjambu. b. Untuk membentuk desain siku-siku yang tampak pada kaos, lipatlah baju kaos itu secara memanjang, lalu lipatlah lagi seperti yang ditunjukkan pada gambar. c. Dengan menggunakan pensil dan penggaris buatlah titik penuntun sejauh 15, 20, dan 25 cm dibawah garis leher dan 2, 7, dan 12 cm di bawah kelim ketiak. Lalu hubungkan titik-titik itu dengan garis lurus untuk membentuk 2 lajur.

Batik Ikat Celup

Page 9

e. Isilah lajur atas dengan zat pewarna kuning dan lajur bawah dengan zat pewarna hijau. Lipitlah secara miring pada bagian yang diberi pewarna itu dan ikatlah dengan tali karet dengan pebuh hati-hati. f. Teteskan zat pewarna merah jambu pada lengan dan buatlah gumpalan di bagian atas lajur, kemuthan masukkan kaos dalam zat pewarna coklat dan panaskan. Proses pembuatan polla pada kaos D, yaitu: a. Siapkan alat dan bahan: semua peralatan dan bahan sama seperti pada pembuatan pola kaos A, hanya zat pewarna yang disiapkan adalah warna merahjambu dan hijau tua. b. Untuk membentuk desain lengkung berwarna merah jambu dan hijau, lipatlah bagian bawah kaos ke arah atas dan tepi bawah kaos menempel bagian tepi dalam garis leher. c. Dengan menggunakan pensil buatlah titik, 5 cm dari tepi bawah kaos. Buatlah lengkung dengan pedoman titik-titik tersebut. d. Buatlah lengkung kedua sebesar 7 cm di bawah lengkung pertama. Kemudian bubuhkan zat pewarna merah jambu di antara garis lengkung, lipitlah bagian itu menjadi lipitan-lipitan sebesar 2 cm kemudian satukan e. Tutuplah lipitan itu dengan tali karet. Buatlah bercak biru dan hijau kekuningan di atas bagian yang diikat, lalu bentuklah bagian ini menjadi gumpalan. f. Masukkan seluruh bagian yang diikat dalam pewarna panas hijau tua. Proses pembuatan pola pada rok dan kerudung Proses pembuatan rok dan kerudung dengan pola kupu-kupu, yaitu: a. Siapkan Alat dan bahan: sehelai kain sutera pputih segi empat ukuran 55 kali 132 cm, jarum jahit, benang linen, kertas karton, gunting, pensil, tali karet,zatpewarnaungukemerahan,birukehijauan, dan kuning. Serta panci untuk pewarnaan. b. Buat setikan berbentuk kupu-kupu pada kain basah yang telah dilipat-lipat. Celuplah kain dalam zat pewarna yang berwarna terang. Setiap kali pewarna diganti, maka setiap kali pula dibuat setikan yang baru. c. Selain menggunakan kain sutera, dapat juga digunakan kain katun, sifon, batis, organdi atau kasa. d. Buatlah pola sayap kupu-kupu pada kertas karton. Kemudian gunting pola tersebut, basahilah kain yang akan dicelup dan peraslah. e. Letakkan kain di atas meja dan permukaan kain itu menghadap ke atas. Lalu lipatlah kain menurut diagonal atau lebar atau panjangnya. Kemudian dengan pensil jiplaklah pola sayap kupukupu tersebut beberapa kali di sepanjang lipatan tadi, dengan cara meletakkan tepi pola yang lurus pada lipatan kain dengan jarak yang teratur. Perhatikan gambar di samping. f. Setiklah di salah satu titik pada pola, dan setik garis bentuk pola dengan setik jelujur sebesar 5 mm, setikan harus menembus lapisan bawah. Untuk menyatukan kain yang basah ini, tiap kali gumpalkan dan ikat bagian yang sudah disetik. g. Kemudian satukan kain yang telah dijelujur itu dengan kencang dan ahirilah benang dengan ikatan ganda. Lilitkan tali karet pada ikatan itu untuk menekankan dan mencegah

Batik Ikat Celup

Page 10

bagian bertali agar tidak menyerap zat pewarna. Sayap akan tampak berjumbai. h. Untuk membuat pola sayap sewaktu menjelujur dan menyatukannya, gambarlah garis bentuk penuntun pada jarak yang teratur. Setelah setik selesai, masukkan dalam larutan pewarna ungu kemerahan. Kemudian bilaslah kain sebelum ikatan dilepas. i. Melalui setikan, ikatan dan lilitan buatlah banyak kupu-kupu pada kain sutera ungu tersebut. Larutkan satu pak pewarna kuning dan satu sendok teh deterjen di dalam panci yang tiga perempatnya berisi air panas. j. Panaskan kain dalam larutan warna kuning itu selama paling sedikit setengah jam. Pemanasan ini akan mengubah warna ungu menjadi coklat. k. Bilaslah kain sampai airnya jernih. Lalu bukalah ikatan tersebut dengan hati-hati. Bilaslah kain tersebut setiap kali ikatan dibuka. Bukalah kain mulai dari warna yang gelap ke warna yang terang sehingga tampaklah desain kupu-kupu berwarna ungu, biru kehijauan, dan putih. Setrika kain tersebut dalam keadaan lembab. Pemeliharaan Berbagai Benda yang Menggunakan Ikat Celup Cara mencuci kain dari ikat celup yaitu, dengan memasukkannya ke dalam air suam-suam kuku yang telah diberi bubuk deterjen/sabun yang netral, sebanyak 3-5 gram untuk satu liter air. Kemudian sampai air sabunnya hilang. Setelah itu, bilas dengan air suam-suam kuku yang telah dicampur dengan sedikit cuka supaya warnanya tidak luntur dan lebih hidup atau cerah. Tidak boleh dicuci menggunakan mesin cuci dan dipiuh untuk mengeluarkan airnya. Jemur dengan cara dibalik bagian buruk di luar dan digantung menggunakan honger lalu,jemurdi tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung atau tempat teduh. Proses penyetrikaan sebaiknya dilakukan dalam kondisi kain masih lembab (setengah kering) dengan air panas yang sedang. Sebelum disetrika di atas kain, lapisi kain dengan kain yang tipis dan lembab.

1.

2. 3. 4.

Pewarna Alami Zat warna alam memiliki potensi pasar yang tinggi sebagai komoditas unggulan produk Indonesia memasuki pasar global dengan daya tarik pada karakteristik yang unik, etnik dan eksklusif. Warna batik tradisional di beberapa daerah dan jogja khususnya adalah biru tua, hitam, soga coklat dan putih. Untuk membuat kain batik berkualitas bagus tentu saja dibutuhkan pewarna alami. Rancangan busana maupun kain batik yang menggunakan zat warna alam memiliki nilai jual atau nilai ekonomi yang tinggi karena memiliki nilai seni dan warna khas, ramah lingkungan sehingga berkesan etnik dan eksklusif.Bahan membuat pewarna alami antara lain: daun pohon nila (indofera), kulit pohon soga tinggi (Ceriops candolleana arn), kayu tegeran (Cudraina javanensis), kunyit (Curcuma), teh (Tea), akar mengkudu (Morinda citrifolia), kulit soga jambal (Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa orelana).

Bahan tekstil yang diwarnai dengan zat warna alam adalah bahan-bahan yang berasal dari serat alam contohnya sutera,wol dan kapas (katun). Sutera memiliki ikatan paling bagus terhadap zat warna alam dibandingkan dengan bahan dari kapas.

Batik Ikat Celup

Page 11

1. Warna Biru/Hitam Warna biru tua dan hitam umunya diambil dari daun tanaman indigofera yang disebut juga nila atau tom dengan proses fermentasi. 2. Warna Soga/Coklat Warna ini diambil dari campuran kulit pohon tinggi arah warna merah, kulit pohon jambal arah warna merah coklat dan kayu tegeran arah warna kuning. Untuk membuat soga terantung campuran ketiga bahan tersebut. Contohnya bisa diambil campuran kulit kayu tinggi 5kg, kulit kayu jambal 10kg dan kulit tegeran 3kg. Bahan-bahan itu dipotong kecil-kecil, dicuci dan direbus kemudian disaring diambil ekstraknya. Ekstrak atau air soga ini setelah dingin siap dipakai untuk menyoga kain. Langkah-langkah proses ekstraksi untuk mengeksplorasi zat pewarna alam dalam skala rumah tangga adalah sbb: 1. Potong menjadi ukuran kecil kecil bagian tanaman yang diinginkan misalnya: daun, batang , kulit atau buah. Bahan dapat dikeringkan dulu maupun langsung diekstrak. Ambil potongan tersebut seberat 500 gr. 2. Masukkan potongan-potongan tersebut ke dalam panci. Tambahkan air dengan perbandingan 1:10. Contohnya jika berat bahan yang diekstrak 500gr maka airnya 5 liter. 3. Rebus bahan hingga volume air menjadi setengahnya (2,5liter). Jika menghendaki larutan zat warna jadi lebih kental volume sisa perebusan bisa diperkecil misalnya menjadi sepertiganya. Sebagai indikasi bahwa pigmen warna yang ada dalam tumbuhan telah keluar ditunjukkan dengan air setelah perebusan menjadi berwarna. Jika larutan tetap bening berarti tanaman tersebut hampir dipastikan tidak mengandung pigmen warna. 4. Saring dengan kasa penyaring larutan hasil proses ekstraksi tersebut untuk memisahkan dengan sisa bahan yang diesktrak (residu). Larutan ekstrak hasil penyaringan ini disebut larutan zat warna alam. Setelah dingin larutan siap digunakan. Sebelum dilakukan pencelupan dengan larutan zat warna alam pada kain katun dan sutera perlu dilakukan beberapa proses persiapan sebagai berikut: Proses mordanting Bahan tekstil yang hendak diwarna harus diproses mordanting terlebih dahulu. Proses mordanting ini dimaksudkan untuk meningkatkan daya tarik zat warna alam terhadap bahan tekstil serta berguna untuk menghasilkan kerataan dan ketajaman warna yang baik. Proses mordanting dilakukan sebagai berikut: a. Potong bahan tekstil sebagai sample untuk diwarna dengan ukuran 10 X 10 Cm atau sesuai keinginan sebanyak tiga lembar. b. Rendam bahan tekstil yang akan diwarnai dalam larutan 2gr/liter sabun netral (sabun sunlight batangan) atau TRO (Turkey Red Oil). Artinya setiap 1 liter air yang digunakan ditambahkan 2 gram sabun netral atau TRO. Perendaman dilakukan selama 2 jam. Bisa juga direndam selama semalam. Setelah itu bahan dicuci dan dianginkan. c. Untuk bahan kain kapas : Buat larutan yang mengandung 8 gram tawas dan 2 gram soda abu (Na2CO3) dalam setiap 1 liter air yang digunakan. Aduk hingga larut. Rebus larutan hingga mendidih kemudian masukkan bahan kapas dan direbus selama 1jam. Setelah itu matikan api dan kain kapas dibiarkan terendam dalam larutan selama semalam. Setelah direndam semalaman dalam larutan tersebut, kain diangkat dan dibilas (jangan diperas) lalu dikeringkan dan disetrika. Kain kapas tersebut siap dicelup.

Batik Ikat Celup

Page 12

d. Untuk bahan sutera at: Buat larutan yang mengandung 8 gram tawas dalam setiap 1 liter air yang digunakan, aduk hingga larut. Panaskan larutan hingga 60C kemudian masukkan bahan sutera atau wol dan proses selama 1 jam dengan suhu larutan dijaga konstan (40 60C ). Setelah itu hentikan pemanasan dan kain dibiarkan terendam dalam larutan selama semalam. Setelah direndam semalaman dalam larutan tersebut, kain diangkat dan dibilas (jangan diperas) lalu dikeringkan dan disetrika. Kain sutera yang telah dimordanting tersebut siap dicelup dengan larutan zat warna alam. 2. Pembuatan larutan fixer (pengunci warna) Pada proses pencelupan bahan tekstil dengan zat warna alam dibutuhkan proses fiksasi (fixer) yaitu proses penguncian warna setelah bahan dicelup dengan zat warna alam agar warna memiliki ketahanan luntur yang baik. Ada 3 jenis larutan fixer yang biasa digunakan yaitu tunjung (FeSO4), tawas, atau kapur tohor (CaCO3).. Untuk itu sebelum melakukan pencelupan kita perlu menyiapkan larutan fixer terlebih dengan dengan cara : a. Larutan fixer tunjung : Larutkan 50 gram tunjung dalam tiap liter air yang digunakan. Biarkan mengendap dan ambil larutan beningnya. b. Larutan fixer Tawas : Larutkan 50 gram tawas dalam tiap liter air yang digunakan. Biarkan mengendap dan ambil larutan beningnya. c. Larutan fixer Kapur tohor : Larutkan 50 gram kapur tohor dalam tiap liter air yang digunakan. Biarkan mengendap dan ambil larutan beningnya. 3. Proses Pencelupan Dengan Zat Pewarna Alami Setelah bahan dimordanting dan larutan fixer siap maka proses pencelupan bahan tekstil dapat segera dilakukan dengan jalan sebagai berikut: 1. Siapkan larutan zat warna alam hasil proses ekstraksi dalam tempat pencelupan 2. Masukkan bahan tekstil yang telah dimordanting kedalam larutan zat warna alam dan diproses pencelupan selama 15 30 menit. 3. Masukkan bahan kedalam larutan fixer bisa dipilih salah satu antara tunjung , tawas atau kapur tohor. Bahan diproses dalam larutan fixer selama 10 menit. Untuk mengetahui perbedaan warna yang dihasilkan oleh masing masing larutan fixer maka proses 3 lembar kain pada larutan zat warna alam setelah itu ambil 1 lembar difixer pada larutan tunjung, 1 lembar pada larutan tawas dan satunya lagi pada larutan kapur tohor. 4. Bilas dan cuci bahan lalu keringkan. Bahan telah selesai diwarnai dengan larutan zat warna alam. 5. Amati warna yang dihasilkan dan perbedaan warna pada bahan tekstil setelah difixer dengan masing-masing larutan fixer. Pada umumnya hampir semua jenis zat warna alam mampu mewarnai bahan dari sutera dengan baik , namun tidak demikian dengan bahan dari kapas katun.

Batik Ikat Celup

Page 13