Anda di halaman 1dari 2

Pemuliaan Padi Sawah Tipe Bengawan (1943 1967) Menurut Harahap et al.

. (1972), per- silangan padi di Indonesia dimulai pada tahun 1920-an dengan memanfaatkan gene pool yang dibangun melalui introduksi tanaman. Sampai dengan tahun 1960-an, pemuliaan padi diarahkan pada lahan dengan pemupukan yang rendah, atau tanaman kurang responsif terhadap pemupukan. Pemuliaan Padi Sawah Tipe PB5 (1967 1985) Kebutuhan akan beras yang terus meningkat menuntut peningkatan produktivitas padi dengan segera. Oleh karena itu, dilakukan introduksi galur- galur/varietas dari IRRI yang memiliki potensi hasil tinggi. Pada tahun 1967 dilepas dua varietas introduksi, yaitu PB8 (1967) dan PB5 (1968) dengan potensi hasil 4,505,50 t/ha. Pemuliaan Padi Sawah Tipe IRxx (Multiple Resistance) (1977 ...) Peningkatan produksi padi dapat ditempuh melalui dua jalur, yaitu peningkatan potensi hasil dan peningkatan stabilitas hasil (Daradjat et al. 2001b). Potensi hasil yang tinggi tidak akan teraktualisasi jika terjadi gangguan berupa cekaman biotik maupun abiotik. Oleh karena itu, stabilitas hasil juga perlu ditingkatkan, dalam arti varietas tertentu tetap berproduksi tinggi meskipun terjadi cekaman biotik berupa hama dan penyakit tanaman, atau abiotik berupa kondisi cuaca yang tidak menguntungkan atau tanah keracunan besi, aluminium, dan sebagainya. Berbagai varietas yang memiliki gen ketahanan terhadap cekaman biotik atau abiotik tertentu dapat menjadi sumber gen. Pemuliaan Padi Sawah Tipe IR64 (1986 ...) Varietas IR64 diintroduksi dan dilepas sebagai varietas unggul di Indonesia pada tahun 1986. Varietas ini sangat digemari oleh petani dan konsumen, terutama karena rasa nasi yang enak, umur genjah, dan hasil relatif tinggi. Menurut Direktorat Bina Perbenihan (2000), IR64 merupakan varietas yang paling luas ditanam di Indonesia (2.118.000 ha), disusul varietas lokal (355.336 ha), Memberamo (271.557 ha), Way Apo Buru (285.985 ha), IR66 (216.020 ha), dan Cisadane (195.768 ha). Pemuliaan Padi Hibrida Padi hibrida merupakan salah satu terobosan untuk mengatasi terjadinya stagnasi peningkatan potensi hasil varietasvarietas tipe sebelumnya. Kunci kemampuan padi hibrida untuk memecahkan kemandekan peningkatan hasil adalah potensi heterosisnya (hybrid vigor), yaitu superioritas F1 hibrida atas tetuanya (Virmani et al. 1997). Pengembangan padi hibrida diawali dengan penemuan cytoplasmic male sterile (CMS) dan paket teknologi produksi benih padi hibrida. Teknologi padi hibrida dalam hal ini memerlukan pemanfaatan tiga galur, yaitu CMS, galur pemulih kesuburan (restorer), dan galur pelestari (maintainer), sehingga biasa disebut dengan teknik tiga galur. Selanjutnya berkembang teknik hibrida dua galur yang memanfaatkan galur environment genic male sterility (EGMS). Galur EGMS dapat menjadi steril pada kondisi tertentu sehingga dapat digunakan sebagai mandul jantan, tetapi dapat menjadi fertile pada kondisi yang lain sehingga digunakan untuk memperbanyak galur EGMS tersebut. Satu galur yang lain adalah tetua jantan. Pemuliaan Padi Tipe Baru Sejak varietas IR8 yang sangat responsive terhadap pemupukan tersebar luas di berbagai negara, Revolusi Hijau dimulai dan produksi padi meningkat luar biasa. Namun, sejak tahun 1980-an produktivitas padi sawah relatif tidak meningkat karena keragaman genetik yang sempit. Upaya terobosan dilakukan untuk membentuk arsitektur tanaman yang memungkinkan peningkatan produktivitas tanaman. Padi yang dihasilkan kemudian dikenal dengan padi tipe baru. IRRI mulai mengembangkan padi tipe baru pada tahun 1989 dan pada tahun 2000 hasilnya telah didistribusikan ke berbagai negara untuk dikembangkan lebih lanjut.

1. Menurut saya, upaya yang dilakukan untuk menanggulangi bencana banjir adalah dengan menciptakan
padi seperti padi inpara 4 yang mempunyai keunggulan tahan terhadap kekeringan, pada kondisi terendam selama 10 hari produksi padi inpara 2 kali lebih banyak dari IR42 selain itu padi inpara 4 agak tahan terhadap wereng coklat dan tahan terhadap penyakit hawar daun yang disebabkan bakteri prototype VI dan VII. Padi inpara 4 ini dapat hidup terendam air dikarenakan adanya gen submergence 1 yang menyebabkan tanaman dapat terendam 1-2 minggu pada fase vegetative. Inpara mengandung indeks glikemiks yang rendah yaitu 50,9 yang baik bagi penderita diabetes. Sedangkan untuk Keunggulan padi seperti ini sangat cocok untuk tantangan global saat ini. Sementara untuk memecahkan masalah pertumbuhan penduduk yang pesat, serangan hama dan penyakit, dan kesejahteraan petani, sudah ditemukan solusi yang tepat walaupun kurang optimal banyak varietas padi yang memiliki keunggulan hasil yang banyak dan rasa yang enak yang bias digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang meningkat. Belum lagi ada varietas padi jenis baru yang konon dapat ditanam di berbagai macam jenis lingkungan yaitu varietas padi pandan putri hasil rekayasa nuklir. Jika varietas ini benar-benar dapat ditanam di jenis lingkungan yang cukup ekstrem, maka permasalahan lahan untuk pertanian akan berkurang, belum lagi masalah petani yang sering terkena puso pada lahannya karena kekeringan akan jauh berkurang karena varietas ini dan varietas tahan kering. Jika factor penyebab gagal panen yang seing terjadi di Indonesia sudah terpecahkan seharusnya kesejahteraan petani akan jadi lebih baik karena petani akan jarang terkena gagal panen.