Anda di halaman 1dari 29

BY: MAITA SARAH

Kesehatan Wanita dan Anak Kesehatan wanita bertujuan untuk memberikan kesejahteraan. Salah satu pencegahan kesakitan pada wanita meliputi skrining dan diagnosis melalui manajemen pencegahan yang memahami bahwa wanita merupakan manusia yang unik. Dalam manajemen pencegahan ini meliputi identifikasi insidensi umum, tingkat keparahan dan faktor resiko.

Alasan mengapa kesehatan wanita menjadi penting adalah bahwa populasi wanita di dunia pada umumnya akan lebih banyak dibandingkan populasi laki-laki. Hal ini dikarenakan bahwa (ekpektansi) usia harapan hidup wanita lebih panjang dibandingkan usia harapan hidup laki-laki (familiar paradox). Umur Harapan Hidup (UHH) juga digunakan untuk menilai derajat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat baik tingkat kabupaten/kota, provinsi, maupun negara.

Kesehatan wanita dalam siklus kehidupan dipengaruhi oleh 1. Faktor biologi 2. Budaya 3. Perilaku dan 4. sosial

Mortalitas dan morbiditas pada wanita lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biologi. Salah satu peran faktor biologi adalah hormon. Dalam siklus kehidupan dan reproduksi peran hormon tersebut mempengaruhi kondisi kesehatan wanita. Wanita dalam masa usia reproduksi yaitu usia 15 - 45 tahun dari pubertas sampai menopouse tidak terlepas dari peran hormon estrogen.

Hormon estrogen ini akan mengalami penurunan sejalan dengan bertambahnya usia. Dampak dari penurunan hormon ini mempengaruhi kesehatan wanita. Selain faktor biologi terdapat faktor Faktor confounding yaitu kesehatan fisik, genetik, paparan lingkungan, diet dan akses kepada pelayanan kesehatan.

Dampak pada kesakitan dan kematian pada ibu/wanita. Sebagai contoh karena suatu proses persalinan lama menyebabkan cedera jalan lahir sehingga menimbulkan penurunan kesehatan ibu dan atau bayi. Keadaan malformasi kongenital dan target aborsi oleh karena seleksi jenis kelamin menyebabkan kematian pada ibu dan bayi.

Berikut ini adalah permasalahan kesehatan ibu dan anak dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan: 1. Pada masa infant : Bayi laki-laki lebih banyak yang dilahirkan dibandingkan dengan wanita karena adanya seleksi jenis kelamin dan tidak adekuatnya pelaporan dari regristrasi kelahiran. Kematian pada masa infant memiliki resiko pada minggu pertama oleh karena Komplikasi kehamilan Premature BBLR Tidak adekuat prenatal care

Faktor penyebab tidak langsung kesakitan dan kematian pada Infant adalah kemiskinan, tidak adekuat dukungan sosial dan kurang akses ke pelayanan kesehatan. 2. Masa Childhood: Resiko kematian 2 kali pada anak usia 1-4 tahun dibandingkan usia 5-14 tahun

Adanya perlakuan diskriminasi gender sebagai contoh bayi wanita lebih cepat disapih sehingga mempunyai resiko kontaminasi makanan, resiko kekurangan nutrisi, kurang akses ke pelayanan kesehatan dan pengobatan. Resiko morbiditas dan mortalitas karena kondisi Infeksi, terserang Parasit ISPA, kelainan kongenital, cedera dan keracunan. Anak dapat menjadi target dari: Violence Abuse Neglect

3. Masa Remaja Merupakan turbulance stage dalam siklus kehidupan

karena pada masa remaja terjadi perubahan fisiologis, psikologis dan sosial. Perubahan yang terjadi dipengaruhi proses adapatasi dari peran hormon. Resiko morbiditas dan mortalitas oleh perilaku seperti cedera dan keracunan. Morbiditas disebabkan oleh: STD HIV/AIDS

Peran penting dari faktor sosial yaitu ekspektasi peran gender pada remaja : Laki-laki dengan gambaran fisik tinggi dan atletis; Wanita dengan gambaran kurus, langsing berresiko kurang gizi, anoreksia, bulimia; Target konsumen seperti rokok, obat-obatan, alkohol, sport (motor, mobil).

4. Masa Dewasa : Peran sosial baru, dan tanggungjawab sosial Muncul Isu-isu reproduksi manusia, perkawinan dan karier 5. Masa Transisi manula : Perimenopouse dan menopouse Perubahan endokrin yang menimbulkan gejala rasa panas pada wajah, atropy vagina, penambahan berat badan, insomnia, perubahan mood dan depresi Resiko osteoporosis dan penyakit jantung Therapy sulih hormon (Human Replacement Therapy)

6. Menoupouse : Reaksi obat Ketidakseimbangan fungsi kognitif dan motorik Insomnia Gangguan afektif Resiko bunuh diri

Dalam konteks kesehatan wanita dalam kesehatan reproduksi terdapat permasalahan kesehatan wanita sepanjang siklus kehidupan : Infant dan masa anak-anak ( 0-9 tahun) Seleksi jenis kelamin Sunat wanita Diskriminasi dalam nutrisi Diskriminasi dalam pelayanan kesehatan

Remaja (10-19 tahun) Memilliki anak (Early childbearing) Aborsi PMS dan AIDS Defisiensi mikronutrien dan kekurangan gizi Peningkatan trend penyalahgunaan obat

Usia reproduktif Unplanned pregnancy Penyakit menular seksual (STDs) dan AIDS Aborsi Komplikasi kehamilan Malnutrisi khususnya defisiensi Fe

Post reproduksi Penyakit kardiovaskuler Kanker gynaecology Osteoporosis Osteoartritis Diabetes mellitus

Kesehatan Reproduksi : Komponen pelayanan kesehatan reproduksi komprehensif terdiri dari : 1. Kesehatan ibu anak 2. Remaja 3. Infertilitas 4. Kekerasan terhadap perempuan 5. Safe Motherhood 6. PMS dan HIV/AIDS 7. Penyakit kanker kesehatan reproduksi 8. Masalah usia lanjut

Visi dan Misi Departemen Kesehatan yaitu meningkatnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, maka untuk mencapai upaya tersebut adalah :

1. Pelayanan Kesehatan Dasar yang terdiri dari a. Pelayanan Kesehatan ibu dan anak : Kebijakan tentang KIA secara khusus berhubungan dengan pelayanan antenatal, persalinan, nifas dan perawatan bayi baru lahir yang diberikan di semua fasilitas kesehatan, dari posyandu sampai rumah sakit pemerintah maupun fasilitas kesehatan swasta.

Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) seperti 1. pengukuran berat badan 2. tekanan darah 3. pemeriksaan tinggi fundus uteri 4. imunisasi Tetanus Toxoid (TT) 5. pemberian tablet besi kepada ibu hamil selama masa kehamilannya sesuai pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif.

b. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi Kebidanan Komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa di sekitar persalinan. Hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional).

c. Deteksi Resiko, Rujukan Kasus Resti dan Penanganan Komplikasi Kegiatan deteksi dini dan penanganan ibu hamil berisiko/komplikasi kebidanan perlu lebih ditingkatkan baik di fasilitas pelayanan KIA maupun di masyarakat. Resti komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Resti/komplikasi kebidanan meliputi Hb <> 140 mmHg, diastole > 90 mmHg). Oedeme nyata, ekslampsia, perdarahan pervaginam, ketuban pecah dini, letak lintang pada usia kehamilan > 32 minggu, letak sungsang pada primigravida, infeksi berat/sepsis, persalinan prematur.

d. Kunjungan Neonatus (KN1 dan KN2) Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28hari) minimal dua kali, satu kali pada umur 0-7 hari (KN1) dan satu lagi pada umur 8-28 hari (KN2).

Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar 1. tindakan resusitasi 2. pencegahan hipotermia 3. pemberian ASI dini dan eksklusif 4. pencegahan infeksi berupa perawatan mata 5. tali pusat 6. Kulit 7. pemberian imunisasi 8. pemberian vitamin K

2. Pelayanan Keluarga Berencana (KB) Masa subur seorang wanita memiliki peranan penting bagi terjadinya kehamilan sehingga peluang wanita melahirkan menjadi cukup tinggi.

3. Pelayanan Imunisasi Kegiatan imunisasi rutin meliputi 1. pemberian imunisasi untuk bayi 0-1 tahun (BCG,DPT, Campak, Polio, HB) 2. imunisasi untuk wanita usia subur/ibu hamil TT 3. imunisasi untuk anak SD (kelas 1; DT dan kelas 2-3; TT) 4. sedangkan kegiatan imunisasi tambahan dilakukan atas dasar ditemukannya masalah seperti potensial/resti KLB, ditemukan/diduga adanya virus polio liar atau kegiatan lainnya berdasarkan kebijakan teknis.

Program-program kebijakan pemerintah terhadap kesehatan ibu dan anak di Indonesia yang sedang berlangsung diantara meliputi : Perawatan Penyakit Anak yang Terpadu (IMCI) Rencana Kesehatan Remaja Nasional kebijakan dan rencana untuk mencegah malaria dalam kehamilan dan malaria bawaan, penularan vertikal HIV dan syphilis dalam kehamilan Making Pregnancy Safer Peningkatan kesadaran akan HIV/AIDS