Anda di halaman 1dari 45

kedahsyatan Bismilah

Fathiatul anwar

Kata Pengantar

Daftar Isi

Basmalah (bahasa Arab: ) adalah bahasa Arab yang digunakan untuk menyebutkan kalimat Islam bismi-llhi ar-ramni ar-rami. Kalimat ini tertera dalam setiap awalan Surat di dalam Al-Qur'an, kecuali Surat At-Taubah. Juga diucapkan setiap kali seorang Muslim melakukan salat, juga memulai kegiatan harian lainnya, dan biasanya digunakan sebagai pembuka kalimat (Mukadimah) dalam konstitusi atau piagam di negara-negara Islam. Kalimat Basmallah juga pernah ditulis pada zaman Nabi Sulaiman untuk ratu Bilqis sesuai dengan informasi dalam Al Qur'an yaitu di surat 27 ayat 30. bismi-llhi ar-ramni ar-rami "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang" Bismillah ( ) berasal dari bahasa arab yang berarti "Dengan menyebut nama Allah )". Bacaan ini disebut Tasmiyah dan bagi orang Islam sangat dianjurkan membacanya untuk memulai setiap kegiatannya. Sehingga apa yang dikerjakan diniatkan atas nama Allah dan semoga mendapatkan restu atas pekerjaan tersebut. : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Allah SWT telah menurunkan kitab suci Al Quran kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui malaikat Jibril as. Dengan bahasa Arab secara mutawatir dan menjadi ibadah bagi yang membaca dan sebagai petunjuk bagi manusia. Kitab suci Al Quran adalah kesimpulan dari semua kitab kitab-kitab suci yang pernah diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad SAW., seperti Taurat yang telah diturunkan kepada Musa as., Injil kepada Nabi Isa as., Zabur kepada Nabi Daud as. Al Quran yang terdiri atas 114 surah, terbagi ke dalam 6236 ayat, seluruh ayat 6236 itu disimpulkan Allah dalam satu surah yang pendek dan terdiri hanya atas 7 ayat saja, yaitu Surah Al Fatihah. Jadi surah Al Fatihah adalah kesimpulan seluruh isi al Quran atau kesimpulan dari seluruh kitab-kitab Suci, atau kesimpulan dari seluruh ajaran semua Nabi-Nabi dan rasul-rasul, atau kesimpulan dari ajaran semua agama yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul. 1 Sebab itulah gerangan Surah ini dinamai Allah dengan al Fatihah (pembuka), atau Ummul kitab (Induk Kitab) dan lain-lain nama yang kita bentang dalam makalah ini nantinya.

Dari surah al Fatihah ini yang terdiri atas 7 ayat ini terhimpun dalam ayat pertama yakni Basmalah (bismillahir rahmanir rahim). Yang mempunyai keistemawaan dan keajaiban yang perlu diungkap lebih dalam lagi. Berdasarkan tersebut diatas maka penulis mengangkat judul makalah Mengungkap Tabir Rahasia Basmalah. Dengan berbagai macam problematika pembahasan didalamnya, antara lain makna Basmalah, Tafsirnya, keutamaan membaca basmalah, dan permasalahan pada basmalah itu sendiri, apakah termasuk salah satu atau dalam al Quran atau tidak.

B. MAKNA DAN TAFSIR BASMALAH Basmalah artinya mengucapkan atau menulis kalimat , terjemahnya, dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dalam al Quran ada 114 kalimat basmalah, 113 diantaranya terdapat di awal setiap surat, kecuali surah al Taubah (QS. 9). Namun dalam surah al Naml terdapat dua basmalah, pertama, di awal surah, kedua pada ayat 30 ketika Allah berfirman mengabadikan surah Nabi Sulaiman as. Yang ia kirim kepada Ratu Balqis yang artinya: Sesungguhnya surat ini dari Sulaiman dan sesungguhnya (isinya) dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 2

Adapun makna kalimat basmalah itu dapat dilihat dari arti perkatanya sebagai berikut: dengan nama Allah Yang Maha Luas Kasih saying-Nya Maha kekal kasih saying-Nya. 3 dari kalimat basmalah ini ada terkandung tiga nama Allah yang termasuk dalam al asma al husna, yaitu Allah, ar rahman, dan ar rahim. Kalau Surah al Fatihah dibaca setiap muslim 17 kali sampai 50 atau 60 kali dalam sehari, maka bismillahir rahmaanir rahiim dibaca lebih banyak. Sebab menurut ajaran Islam, Bismillah ini harus kit abaca tiap memulai segala macam pekerjaan atau perbuatan, pekerjaan apa saja dengan tidak memperbedakan besar kecilnya, penting atau tidak pentingnya. Kita menyebut bismillahir rahmaanir rahiim sebelum makan dan memakan apa saja, sebelum minum, sebelum memasuki rumah, sekolah, auto, atau ruangan apa saja, sebelum tidur, mandi, berwudhu, sebelum membaca atau menulis, sebelum memompa sepeda atau menaikinya, sebelum berpidato dan lain-lain lagi. 4 Berikut ini penjelasan tafsir basmalah menurut beberapa ulama tafsir: { : } : : } { . : " " : . : [ :

. : ] Artinya: ( ) yakni mulailah atau bukalah dengan nama Allah dengan penuh keyakinan dan keberkahan, dan ( ) nama tunggal yang Maha suci, mengalir pada sifatnya nama-nama yang mulia, tidak dikenal kata itu asalnya. Dikatakan juga : maknanya adalah yang mempunyai ibadah yang dituju. ( ) dua sifat bagi Allah SWT, makna keduanya adalah yang mempunyai kasih saying, (yakni kasih sayang yang harus bagi-Nya), dia menginginkan kebaikan dan tidak membedakan antara keduanya, misalnya kata ( . Tafsir al Wajiz lil Wahidi) { } : .

??? ???? ?? : Artinya:

( ) ahli Qiraat Madinah, Bashrah, Syam dan para ahli fikihnya menjelaskan bahwa Basmalah itu bukan termasuk dari surah al Fatihah dan bukan bagian dari surah-surah al Quran, bahwasanya ditulis terpisah dan mengambil berakah memulai dengannya, ini adalah mazhab Abu Hanifah dan orang-orang yang mengikuti beliau rahimahullah. Dan untuk ini menurut mereka tidak di jaharkan(dinyaringkan) dalam shalat. Sedangkan Menurut ahli qiraat Mekkah dan Kufah bahwasanya Basmalah itu termasuk bagian dari Surah al Fatihah dan pada setiap surah dalam al quran, dan ini mazhab Imam Syafii rahimahullah, untuk ini menurut mereka di jaharkan (dinyaringkan) dalam shalat. Sehingga menurut ahli salaf bahwa mereka menetapkan dalam mushaf dan menyuruh untuk memuatnya dalamnya. Menurut Ibnu Abbas: barangsiapa meninggalkan basmalah itu, maka dia telah meninggalkan 114 ayat dari kitab Allah. (Tafsir An Nasafi).

C. KEUTAMAAN MEMBACA BASMALAH Dalam kalimah basmalah itu ada 3 nama yang terbesar dari nama-nama Allah yang banyak dan termasuk dalam al asma al Husna yaitu Allah, Ar Rahman, dan Ar Rahiim. Sebab itu maka kalimah basmalah ini dinamakan oleh Rasulullah SAW sendiri dengan nama al ismul al azham, yaitu nama teragung dari Allah SWT.

Berikut ini beberapa keutamaan kalimah basmalah yang disarikan dari beberapa hadis nabi Muhammad SAW, antara lain: 1. Kalimah basmalah itu merupakan nama-nama Allah yang teragung seperti dekatnya biji mata yang hitam dengan biji mata yang putih. 2. Basmalah merupakan ayat yang hanya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Kepada para nabi terdahulu tidak diturunkan. 3. ketika diturunkan basmalah ini awan lari ke Timur lalu awan menjadi diam, laut bergelombang, binatang-binatang memasang telinga mendengarkannya, setan dirajamdari langit. 4. Allah berjanji barang siapa ingin terhindar dari zabaniah 19, maka hendaklah ia membaca basmalah, dan Allah menjadikannya setiap hurufnya sebagai tameng dari masing-masing mereka. 5. Tidak sah wudhu kalau tidak membaca basmalah sebelumnya. 6. Ketika suami isteri berhubungan kalau tidak membaca basmalah, maka setan ikut didalamnya. 7. Setiap pekerjaan (urusan) yang penting yang tidak dimulai dengan menyebut basmalah, maka pekerjaannya itu akan terputus (dari Barakah). 8. Menyebut basmalah berarti menyebut, mengingat, mengerti, menyadari akan Allah. 5

D. PERMASALAHAN PADA BASMALAH Merata seluruh sahabat Rasulullah SAW menuliskan dan membaca basmalah di permulaan tiap-tiap surah dari Al Quran. Tetapi ulama-ulama yang datang kemudian berlainan pendapat (ikhtilaf), apakah kalimah basmalah diawal tiap-tiap surah itu termasuk salah satu ayat dari surah itu atau tidak. Tetapi mereka sepakat (ittifaq), bahwa kalimah basmalah dsalam surah al Naml ayat 30 termasuk salah satu ayat dari surah tersebut. 6 Umumnya ulama-ulama salaf (yang berdekatan masa hidup mereka dengan masa hidup Rasulullah SAW) begitu juga ulama-ulama khlaf (yang berjauhan masa hidup mereka dengan masa hidup Rasulullah SAW) berpendapat bahwa Basmalah di awal tiap surah itu tidak termasuk salah satu ayat dari surah, tetapi dimaksudkan sebagai tanda batas dari masingmasing surah saja. Pendapat ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad-sanad yang shahih berasal dari Ibnu Abbas ra. Yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW tidak membubuhkan tanda apa-apa antara masing-masing surah, sampai diturunkan kepada beliau kalimah basmalah. Diantara orang-orang yang mengatakan bahwa kalimah Basmalah iu termasuk salah satu ayat

dari masing-masing surah selain surah al baraah dari golongan sahabat ialah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Zubair, Abu Hurairah, dan Ali ra. Sedangkan dari golongan Tabiin ialah : Athaa, Thawwas, said bin Jubair, Makhuul, dan Az Zuhri. Begitu pula pendapat Imam Abdullah bin Mubarak, Imam syafii dan Imam Ahmad bin Hanbal menurut salah satu keterangan, Ishaq bin Rahawaih, Abu Ubaid al Qaasim bin salam ra. Sedangkan Imam Malik dan Imam Abu Hanifah beserta semua pengikut keduanya berpendapat bahwa kalimah basmalah itu tidak termasuk ayat dari al Fatihah dan tidak termasuk dari masing-masing surah. Menurut suatu keterangan lain dikatakan bahwa Imam Syafii dalam salah satu perkataan beliau mengatakan bahwa kalimah basmalah itu termasuk salah satu ayat dari masing-masing surah selain al Fatihah. Tetapi keterangan Imam Syafii bersifat Gharib. Sebagai akibat dari ikhtilaf tersebut di atas ini, terjadi pula ikhtilaf tentang menyaringkan (menjaharkan) pembacaan kalimah basmalah di dalam shalat. Orang yang berpendirian bahwa basmalah termasuk ayat dari al Fatihah, mereka menyaringkan membacanya. Tetapi bagi orang yang mengatakan tidak termasuk ayat al Fatihah, tidaklah menyaringkan bacaannya, yaitu mereka sirkan (tidak nyaring) membacanya, bahkan ada di antara mereka yang tidak membaca basmalah sama sekali, tidak secara jahar dan tidak pula secara sir (tanpa suara). Imam syafii menjaharkan basmalah dalam membaca al Fatihah dan setiap surah. Dan beginilah yang banyak dilakukan banyak golongan para sahabat dan tabiin dan ulama-ulama salaf dan khalaf. Diantara para sahabat yang selalu menjaharkan basmalah, ialah Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Muawiyah. Menurut Ibnu Abdul Baar juga Umar dan Ali. Menurut al Khatib juga keempat-empat khulafaur Rasyidin (ini gharib). Dan di antara tabiin yang menjaharkan basmalah ialah Said bin Jabir, ikrimah, Abu Qilabah, az Zuhri, Ali bin Hasan, dan anaknya yang bernama Muhammad, said bin Musayyab, Athaa, Thaawuis, Mujahid, salim, Muhammad Bin Kaab al quradhi, Ubaid, Abu Bakar bin Muhammad bin Amir bin Hazm, Abu Waail, Ibnu Siirin, Muhammad Ibnu Munkadir, Ali bin Abdullah bin Abbas dan anaknya bernama Muhammad, Nafi (maula Ibnu Umar), Zaid bin Aslam, Umar bin Abdul Aziz, al azraq bin Qais, Habib bin Abi Tsabit, Abusy Syatsaa, Mkhul, Abdullah ibnul Mughaffal bin Maqran. Dan ditambah oleh Baihaqi dengan Abdullah bin Shafwan, Muhammad Ibnul Hanifah dan ditambah lagi oleh Ibnu Abdul Baar dengan Umar bin Dinaar. 7 Kebalikan pendirian yang tersebut di atas ini, banyak pula di antara para sahabat, tabiin, dan ulama-ulama salaf dan khalaf yang tidak menjaharkan pembacaan basmalah atau tidak

membaca basmalah sama sekali. Dari beberapa hadis dan keterangan disebutkan bahwa keempat-empat khulafaurrasyidin, Abdullah Ibnu Mughaffal, beberapa golongan ulamaulama salaf golongan tabiin, begitu pula ulama khalafnya bahkan pendirian dalam mazhab Abu Hanifah, Mazhab As Tsauri dan Mazhab Ahmad bin Hanbal; bahwa semua mereka tidak menjaharkan tetapi tidak membaca basmalah sama sekali dalam shalat. Dan pendirian ini yang dianut oleh para imam Masjidil Haram di Mekkah dan di Masjid Nabawi di Madinah masa sekarang ini. Hal ini diperkuat dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik, berkata ia: Aku shalat di belakang Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar dan Usman. Mereka semuanya memulai al fatihah dengan Alhamdulillah rabbil alamin. Sedangkan hadis Muslim tentang ia menyatakan: mereka tidak menyebut bismilalahirrahmanir rahim pada permulaan bacaan (al Fatihah) dan tidak pula di akhirnya. Dan bersamaan dengan maksud hadis Bukhari dan Muslim yang diatas ini, diriwayatkan pula oleh ahli-ahli hadis lainnya, sehingga hadis yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW. Tidak membaca basmalah dalam shalat menjadi hadis yang masyhur dan mutawatir. 8 Dari berbagai perbedaan tersebut di atas dapat penulis simpulkan bahwa ada yang membaca basmalah nyaring dan ada pula yang di sirkan (tanpa suara) bahkan ada yang tidak membaca sama sekali, sesuai dengan keyakinannya masing. Akan tetapi, sesungguhnya dari berbagai hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW. Kadang membaca basmalah dengan nyaring, tapi ada pula beliau baca sir. Jadi semua itu pendapat itu ada dasarnya. Wallahu alam bish shawab.

E. KESIMPULAN Dari uraian makalah yang singkat ini dapat penulis simpulkan sebagai berikut: 1. Basmalah artinya mengucapkan atau menulis kalimat , terjemahnya, Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 2. Manfaat dan faedah basmalah itu itu banyak sekali. Paling tidak setiap pekerjaan dan perbuatan yang penting wajib dimulai dengan basmalah. Jika tidak pekerjaan, perbuatan itu akan menuai ketidakperolehan keberkahan, dalam arti sesungguhnya pekerjaan itu tidak berhasil secara sempurna dan maksimal di mata Allah SWT. 3. Ada berapa perbedaan tentang posisi basmalah itu dalam al Quran, ada yang mengatakan bagian dari surah dan pula yang tidak menyatakan bagi ayat dari surah, akan tetapi sebagai tanda batas saja. Sehingga berakibat, ada yang menjaharkan dalam shalat, tapi ada pula yang tidak membaca nyaring (sir) bahkan ada yang tidak membacanya sama sekali.

4. Ulama sepakat bahwa basmalah dalam surah al Naml ayat 30 adalah salah satu ayat dalam al Quran.

BAHAN REFENSI: Departemen Agama, Terjemah Al Quran, Proyek pengadaan kitab suci Al Quran Depertemen Agama RI, Jakarta, 1994. Bey Arifin, Samudera al Fatihah, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1994. KH. Husin Naparin, Lc, MA, Nalar Al Quran Refleksi Nilai-nilai Teologis dan Antropologis, el Kahfi, Jakarta, 2004. Dr. M. Hatta, MA, Tafsir Quran Perkata, Maghfirah Pustaka, Jakarta, 2009. Al Maktamah Al Syaamilah, edisi 1500 kitab

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Jar majrur (bi ismi) di awal ayat berkaitan dengan kata kerja yang tersembunyi setelahnya sesuai dengan jenis aktifitas yang sedang dikerjakan. Misalnya anda membaca basmalah ketika hendak makan, maka takdir kalimatnya adalah : Dengan menyebut nama Allah aku makan. Kita katakan (dalam kaidah bahasa Arab) bahwa jar majrur harus memiliki kaitan dengan kata yang tersembunyi setelahnya, karena keduanya adalah mamul. Sedang setiap mamul harus memiliki amil. Ada dua fungsi mengapa kita letakkan kata kerja yang tersembunyi itu di belakang: Pertama : Tabarruk (mengharap berkah) dengan mendahulukan asma Allah . Kedua : Pembatasan maksud, karena meletakkan amil dibelakang berfungsi membatasi makna. Seolah engkau berkata: Aku tidak makan dengan menyebut nama siapapun untuk mengharap berkah dengannya dan untuk meminta pertolongan darinya selain nama Allah .

Ikuti selanjutnya tafsir ringkas dari ayat yang mulia ini, ia (Bismillah) di awal setiap surat Al-Quran selain Surat At-Taubah. Syaikh selanjutnya menjelaskan tentang

tafsir Jalalah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim serta perbedaan pendapat tentang apakah Bismillah merupakan ayat tersendiri dalam surat Al-Fatihah atau bagian dari surat Al-Fatihah.

Ada sebuah cerita di kalangan sufi. Pada suatu hari Junaid Al-Baghdadi mikraj, naik ke langit. Pada perjalanannya, ketika sampai pada langit pertama, ia melihat ada kumpulan malaikat sedang ruku dan zikir. Junaid ditanya oleh para malaikat, Hai Junaid, bergabunglah bersama kami dengan berzikir mensucikan nama Tuhanmu. Junaid menjawab, Tidak. Ajakan kalian tidak aku kehendaki. Lalu ia naik ke tingkat yang kedua. Ia melihat ada kumpulan orang sedang ruku. Junaid diseru, Hai Junaid, bergabunglah bersama kami. Junaid menjawab, Tidak. Aku tidak ingin bergabung dengan kalian. Lalu ia naik ke tingkat ketiga. Ia melihat ada sekelompok orang yang sedang sujud. Junaid diseru oleh mereka untuk bergabung. Junaid menjawab, Aku tidak ingin bergabung denganmu. Lalu sampailah ia pada suatu tempat yang lebih tinggi, yang disebut Sidhratul Muntah. Pada tempat itu, ia mendengar perkataan, Apa yang kamu kehendaki, wahai Junaid? Junaid berkata, Aku berkehendak supaya aku tidak mempunyai kehendak lagi.

Inilah yang disebut sebagai puncak perjalanan tasawuf. Pada tingkat ini, kalimat basmalah mempunyai kedudukan sama dengan kata kun. Jika orang sudah sampai pada tingkat ini (mendahulukan kehendak Allah), ucapannya adalah sebuah kebenaran. Syekh Jawad Amuli menyebutkan contoh orang seperti ini adalah Abu Dzar Al-Ghifari. Semua perkataan Abu Dzar adalah kebenaran. Rasulullah bahkan pernah bersabda, Di bawah naungan langit dan di atas permukaan bumi ini tidak ada lidah yang lebih jujur selain lidah Abu Dzar. Mengapa Abu Dzar sampai pada tahap seperti itu? Karena, ia sudah sampai pada tingkat tawakal kepada Allah; ia menyerahkan seluruh kehendaknya hanya untuk Allah. Dalam kitab Nur Al-Tsaqalain disebutkan: Sesungguhnya basmalah itu lebih dekat dengan nama Allah yang Mahaagung daripada dekatnya hitam mata dengan putihnya. Basmalah adalah nama agung bagi orang yang sudah mencapai derajat tertentu.

Dalam basmalah itu terdapat asma-asma Allah yang menunjukkan sifat jalliyyah dan jamliyyah. Asma-asma yang disebut dalam Basmallah adalah Allah,Al-Rahmn, dan AlRahm. Menurut Al-Razi, asma Allah menunjukkan lafzh al-jallah. Allah adalah nama zat yang menunjukkan kebesaran-Nya. Dengan kata Allah itu, ditunjukkanlah kekuasaan, keMahabesaran, dan ke-Mahatinggian Allah. Sesudah itu, Allah menyebut Al-Rahman dan AlRahim. Dan itulah sifat jamliyyah (sifat kasih sayang). Allah hanya menggunakan satu nama untuk menggambarkan kebesaran-Nya, yaitu kata Allah. Tapi untuk menggambarkan kasih sayang-Nya, Allah menggunakan dua nama, yaitu Al-Rahman dan Al-Rahim. Ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar, lebih banyak, dan jauh lebih tinggi daripada ke-Mahakuasaan-Nya. Kita tahu ada dua wajah Allah. Pertama, wajah Allah yang keras, yang berat siksaan-Nya (Syadd Al-Iqb). Inilah yang menunjukkan sifat jalliyyah. Kedua, wajah lain dari Allah yang Pengasih dan Penyayang; wajah yang selalu siap mendengarkan keluhan dan penderitaan kita; wajah yang setiap malam menunggu kita untuk datang berdialog denganNya; wajah yang selalu melimpahi setiap makhluk dengan anugerah-Nya, walaupun makhluk-Nya itu setiap saat bertambah kemaksiatan dan kedurhakaan kepada-Nya. Itulah wajah yang dalam istilah tasawuf disebut sebagai sifat-sifat jamliyyah, yakni sifat-sifat keindahan Allah. Dalam basmalah ditunjukkan bahwa sifat jamliyyah Allah lebih besar daripada sifat jalliyyah-Nya. Kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kemurkaan-Nya. Dalam sebuah hadis Qudsi diriwayatkan: Aku ingin murka melihat kemaksiatan yang dilakukan oleh makhluk-Ku. Tetapi Aku melihat orang-orang tua yang ruku dan sujud, anak-anak yang menyusu pada ibunya, dan binatang-binatang yang mencari makanan. Maka berhentilah kemarahan-Ku. Jadi, kasih sayang Tuhan jauh lebih besar daripada kemurkaan-Nya. Sehingga di dalam doa Kumayl, disebutkan Wahai Zat yang lebih cepat rida-Nya. Tuhan memang murka juga. Tetapi rida-Nya jauh lebih cepat. Di majalah Ummat, saya membaca tulisan Bapak Alwi Shihab. Di universitasnya, di Amerika Serikat, beliau menyaksikan orang-orang kafir yang akhlaknya sangat bagus, yang mencurahkan perhatiannya kepada ilmu dengan tidak memperhatikan hal-hal duniawi. Mereka masih kafir. Lalu dalam pikiran beliau bergulat berbagai masalah: Bagaimana orang kafir bisa begitu baik akhlaknya dan mengabdi kepada Allah? Bagaimanakah (nasib) mereka

di akhirat nanti? Yang menarik dari kesimpulan Alwi Shihab adalah beliau menunjuk kepada besarnya kasih sayang Allah swt. Kalau kita memikirkan betapa besarnya kasih sayang Allah daripada murka-Nya, maka besar dugaan kita, kasih sayang Allah tidak hanya meliputi orang-orang Islam, tetapi juga orangorang kafir. Ustad Alwi Shihab menduga bahwa orang-orang saleh yang agamanya berlainan akan mendapat limpahan kasih sayang Allah swt juga. Sebagian ulama mengatakan bahwa azab Allah juga berarti percikan kasih sayang-Nya. Dalam hidup ini, seringkali Allah memberikan pelajaran, baik berupa ujian maupun azab, kepada kita. Sebetulnya itu adalah percikan dari kasih sayang Allah. Siksaan dan ujian yang kita terima dalam kehidupan ini, tetap berasal dari samudera kasih sayang Allah swt. Kita pernah menceritakan keluhan seorang sahabat kepada Nabi saw. Ia mengeluh karena setelah masuk Islam dagangannya rugi dan tubuhnya sering ditimpa penyakit. Ia berkata, Ya Rasulallah, tubuhku sakit dan hartaku hilang. Lalu Nabi menjawab bahwa ujiannya itu adalah tanda dari kasih sayang Allah, bukan tanda dari kemurkaan-Nya. Tak ada baiknya seseorang yang tubuhnya tidak pernah sakit dan hartanya tidak pernah rugi. Karena, apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah akan coba ia dengan berbagai ujian, Ujian adalah percikan kasih sayang Allah. Begitu juga halnya dengan azab Allah yang Ia berikan pada hari akhirat nanti, ia masih merupakan percikan dari rahmn rahm-Nya. Mungkin kita bisa memahami bahwa ujian-ujian yang Allah berikan kepada kita di dunia adalah salah satu jalan guna mengangkat diri kita menjadi orang yang lebih baik. Dan itu sudah merupakan sunatullh. Orang yang memiliki kualitas yang tinggi adalah orang-orang yang sudah teruji berkali-kali. Seperti sebuah peribahasa di negeri Barat yang menyatakan: Badailah yang membuat kuat bangsa Viking.

Keutamaan Basmalah

1. Membacanya dapat membuat setan menjadi kecil Imam Ahmad bin Hanbal dalam musnadnya meriwayatkan dari seseorang yang dibonceng oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam, ia berkata, Tunggangan Nabi shalallahu alaihi wa sallam tergelincir, maka aku katakan: Celaka setan. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, Janganlah engkau mengucapkan celakalah setan. Karena jika engkau mengucapkannya, maka ia akan membesar dan berkata: dengan kekuatanku, aku jatuhkan dia. Jika engkau mengucapkan bismillah, maka ia akan menjadi kecil hingga seperti seekor lalat.(HR. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani) Ini merupakan berkah dari ucapan Bismillah 2. Disunnahkan membaca basmalah sebelum memulai pekerjaan. Oleh karena itu disunnahkan membaca basmalah pada awal setiap ucapan maupun perbuatan. Disunnahkan juga membacanya pada awal khuthbah. Dan disunnahkan juga membaca basmalah sebelum masuk kamar mandi. 3. Tidak sempurna wudhu sebelum membaca basmalah Berdasarkan hadist dalam musnad Imam Ahmad dan juga dalam kitab Sunan dari riwayat Abu Huraira, Saiid bin Zaid dan Abu Said radhiyallahu anhum. Secara marfu, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, Tidak sah wudhu seseorang yang tidak menyebut nama Allah Taala (mengucap basmalah) (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, dan dishahihkan al-Albani) 4. Membaca Basmalah sebelum jima kelak anaknya akan dijauhkan dari gangguan setan. Berdasarkan hadist dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Ibn Abbas radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, Seandainya salah seorang dari kalian hendak mencampuri istrinya ia membaca : Bismillah allahumma janibnasy syaithaana wa janibisy syaithaana maa razaqtanaa

(dengan menyebut nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau anugrahkan kepada kami), maka jika Allah menaqdirkan lahirnya anak maka anak itu tidak akan diganggu oleh setan selamanya. 5. Menjauhkan rumah dari setan. Dari Jabir radhyallahu anhu berkata, saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, Jika seseorang masuk kedalam rumahnya lalu ia menyebut asma Allah Taala saat ia masuk dan saat ia makan, maka setan berkata kepada teman-temannya, tidak ada tempat bermalam bagi kalian dan tidak ada makan malam. Dan jika ia masuk, tanpa menyebut asma Allah Taala saat hendak masuk rumahnya berkatalah syaithan: kalian mendapatkan tempat bermalam, dan apa bila dia tidak menyebut nama Allah ketika hendak makan,maka setan berkata : kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam. (Muttafaqun alaih)

Begitu banyak khasiat yang terkandung dalam bacaan Basmalah, oleh karenanya para Guru spiritual selalu mengingatkan para muridnya untuk membiasakan membaca kalimat Basmalah, maka disusunlah dalam sebuah Hizib, yaitu HIZIB BASMALAH. Barang siapa yang bersedia mengamalkannya, maka akan mendapatkan berbagai faedah dan khasiat yang luarbiasa. Antara lain seperti yang akan diterangkan berikut ini (saya sertakan juga pengalaman-pengalaman nyata selama mengamalkannya). Yaitu : 1.Menumbuhkan Wibawa yang Besar. Bila kalimat bismillah (huruf arab) ditulis pada kertas sebanyak 600 kali dengan tatacara yang benar. Kemudian dilipat dan dibawa kemana pun anda pergi, InsyaAllah tidak ada orang yang akan mencelakai anda, pancaran aura anda akan terlihat berkali lipat lebih berwibawa dihadapan kawan maupun lawan. 2. Menghindarkan dari sesuatu yang tidak diinginkan.

Bila kalimat bismillah (huruf arab) ditulis pada kertas atau kain sebanyak 113 kali pada permulaan bulan Muharam disertai dengan tatacara yang benar kemudian dibawa kemana saja anda pergi. InsyaAllah anda akan terhindar dari sesuatu yang anda benci. Pengalaman Nyata: Pada tahun 1999, ada seorang remaja SMU (nonmuslim) yang datang kepada saya. Ia bercerita bahwa dirinya diancam oleh para berandalan sekolah. Takut akan terjadi hal yang membahayakan keselamatan ia meminta solusi alternatif, kemudian saya beri ia sebuah sabuk dari kain yang didalamnya tertulis kalimat basmalah ini. Dihari berikutnya, ia bercerita bahwa pada hari itu benar-benar menegangkan, beberapa orang berandalan sedang mencari dirinya. Namun ketika ditemui olehnya, tidak tahu kenapa, tiba-tiba semua orang berandalan tersebut langsung pergi. Akhirnya ia selamat tanpa perlu beradu fisik. Mengherankan..?! Bahkan saya sendiri juga heran dengan Kuasa Allah ini. 3. Mendatangkan Bermacam Hajat. Bacalah bacaan basmallah sebanyak 12000 kali dan setiap selesai 1000 kali baca shalawat:Allahumma sali wa sallim ala sayyidina Muhammad. Lalu berdoalah pada Allah apa yang diminta, InsyaAllah segera terkabul. Selama isi doa itu baik (positif). Pengalaman Nyata: Saya pribadi baru beberapakali mengamalkan Bacaan Basmalah 12000x ini. Efeknya sungguh sangat luar biasa dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah sering mendapat jalan keluar (solusi) dan rejeki dari arah yang tak diduga-duga, selalu ada saja jalan keluarnya. Syaratnya : harus peka mendengar dan MAU melakukan suara dari hati nurani. Subhanallah. 4. Melariskan Dagangan. Karomah / khasiat basmallah dapat juga untuk tujuan melariskan dagangan, selama barang dagang tersebut HALAL, dengan cara membaca kalimat basmallah sebanyak 786 kali, setiap hari selama 7 hari berturut-turut. InsyaAllah dagangan anda dalam waktu cepat atau lambat akan semakin laris. Pengalaman Nyata: Saya tidak ingat lagi berapa kali usaha saya dan para

pengusaha/pedagang yang datang kepada saya telah mendapatkan efek yang nyata dalam hal kemajuan omset (pendapatan) melalui ikhtiar amalan ini. Syarat: Ikhlas dan TIDAK boleh

berprasangka buruk terhadap pedagang lain atau siapapun! InsyaAllah omset usaha anda meningkat. 5. Mencerdaskan akal. Bacakan kalimat basmallah pada segelas air yang biasa kita minum (banyaknya air sesuai kebutuhan) sebanyak 786 kali pada saat matahari sedang terbit atau menjelang terbit. Kemudian minumkan pada orang yang dikehendaki. InsyaAllah akan mudah menghafal sesuatu dan otaknya bertambah cerdas. Lakukan ikhtiar ini selama 7 hari berturut-turut. Bisa untuk diri pribadi, anak, atau orang lain. 6. Aman dari gangguan setan. Bacalah kalimat basmallah sebanyak 21 kali ketika akan menjelang tidur. Usahakan jangan mengatakan sesuatu setelah membaca basmallah sampai akhirnya tertidur. InsyaAllah tidur anda akan tenang dan aman dari gangguan setan / mimpi buruk. 7. Memperlancar Persalinan. Caranya kalimat basmallah ditulis di dalam gelas, lalu dituang dengan air zam-zam atau air tawar kemudian diminumkan kepada orang yang susah melahirkan. InsyaAllah akan mempermudah melahirkan. Bagi tiap-tiap orang mu'min,ketika akan memulai pekerjaanya diawali dengan membaca Bismillah. Karena Bismillah diletakkan pada permulaan Qur'an dan Bismillah itu mengandung sekalian rahasia yang halus-halus.Diriwayatkan bahwa sekalian rahasia ilmu ada pada Bismillah. Perlu diketahui bahwa menepatkan Bismillah pada permulaan Qur'an atau pada

awal Al-Fatehah bukan karena kehendak Sayyidina Utsman dan bukan pula kehendak Sayyidina Abu Bakar.Tetapi Qur'an disusun dan dihimpun menjadi mashhaf,adalah atas petunjuk dan perintah Nabi Muhammad SAW ketika masih hidup.

Karena pada masa Nabi menerima wahyu/ayat-ayat suci dari malaikat Jibril,Nabilah yang menyusun, meletakkan serta menggabungkannya ayat yang satu dengan yang lainnya.Sehingga sempurna Qur'an 30 juz,sebagaiman yang kita baca sekarang ini. Syekh Muhd.Abdul berkata didalam tafsirnya : "Al-Qur'an itu Imam dan ikutan kita,karena itu Al-Qur'an dimulai dengan kalimat ini,yaitu dengan Bismillah.Itu satu petunjuk bagi kita agar sekalian perbuatan kita dimulai dengan membaca Bismillah. " Bilangan Bismillah ada 19 huruf,bilangan penjaga Neraka 19 orang pula.Dari keterangan Ibnu Mas'ud, orang yang bermaksud hendak lepas dari Api Neraka hendaklah dia memperbanyak membaca Bismillah dalam tiap-tiap gerak dan usahanya. Pengarang kitab Syamsul Ma'arifil kubra berkata : " Ketika diturunkan ayat Bismillah,ahli langit,yaitu malaikat merasa gembira dan suka dan Arasy bergerak serta turun pula Malaikat yang banyak bersama Bismillah itu." Dan Adalah Bismillah itu ditulis pada sayap Malaikat Jibril ketika Jibril turun menemui Nabi Ibrahim yang sadang dalam api bergolak.Pada cincin Nabi Sulaeman ditulis Bismillah.Juga pada tongkat Nabi Musa ditulis Bismillah. Bismillah terdiri dari 4 (empat) suku kata,sesuai dengan dosa yang dibuat manusia yang terdiri dari empat macam,yaitu : 1. Dosa yang diperbuat pada waktu malam hari 2. Dosa yang diperbuat pada waktu siang hari 3. Dosa yang diperbuat pada waktu sendiri 4. Dosa yang diperbuat dimuka orang banyak Orang-orang yang menyebut Bismillah dengan hati ikhlas serta memperhatikan makna yang terkandung didalamnya,mudah-mudahan Alloh mengampuni semua dosanya.Kelebihan membaca Bismillah itu sangat banyak,seperti termaktub dalam kitab Tuhfatul Ikhwan dan dianjurkan agar pembaca membaca kitab tersebut.Marilah kita membiasakan diri membaca Bismillah dalam tiap-tiap memulai pekerjaan, sebagai yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW : " Tiap-tiap pekerjaan yang baik tidak dimulai dengan Bismillah,maka pekerjaan itu akan potong atau terputus."

Bismillah banyak sekali manfaatnya,diriwayatkan dari tafsir Al-Khabir dari sahabat Abu Huraeroh ra. Sebenarnya Kanjeng Nabi sudah menerangkan : " Hai,Abu Huraeroh,dimanamana wudhu kamu harus membaca Bismillahirrohmanirrohim.Sebenarnya Malaikat tidak berhenti-henti menuliskan kebaikan untukmu sampai selesai.Kamu dari wudhu dan dimana melakukan sesuatu kepada istrimu , maka harus membaca Bismillahirrohmanirrohim.Sebenarnya Malaikat Khafaz pada menulis buatmu kebaikan sampai adus (mandi hadas),Kamu dari jinabat hingga dari hasilnya kamu pekerjaan itu anak,ditulis buatmu hingga kebaikan hingga napas itu anak,hingga anak cucunya." Bismillahirrohmanirrohiim itu ada 19 huruf mengandung faedah-faedahnya, 1. Sebenarnya Malaikat Jabaniah itu ada 19 maka Alloh ta'alla ba'la bakal menolak kepada Malaikat Jabaniah karena huruf Bismillah yang 19 itu. 2. Alloh Ta'alla sudah membuat hari dan malam 24 jam diwajibkan sholat 5 waktu dari 5 jam itu huruf yang 19 itu jadi kiparat,mudah-mudahan dosa yang 19 jam lagi. 3. Sebenarnya Alloh Ta'alla itu mempunyai 3000 nama,yang 1000 nama diterangkan kepada Malaikat,yang 1000 diterangkan kepadaNabi,yang 300 dari Taurat,yang 300 dari Injil,yang 300 dari Jabur dan 99 dari Al-Qur'an dan 1 dari lafadh Alloh. 4. Dari makna yang 3000 nama itu,ada 3 nama ini Bismillahirrohmanirrohiim,maka siapa-siapa orang yang melajimkan/mendawamkan membaca Bismillahirrohmanirrohiim maka itu sama dengan menyebut nama Alloh yang 3000 itu 5. Siapa orang yang membaca Bismillahirrohmanirrohiim serta memperbanyak dipakai mencari kebutuhan apa saja apalagi dipakai mencari rezeki,maka pasti diberi rezeki oleh Alloh Ta'alla serta yang tak terduga-duga,dan diberi rezeki haebah di hati makhluk-makhluk dan dari alam Ulwi dan di alam supli. Demikian penjelasan-penjelasan di atas itu,ini faedah-faedah Bismillah di bawah ini : 1. Nabi SAW telah bersabda : " Barangsiapa yang membaca Basmallah dan laa haula waladstnya maka Alloh akan menjauhkan darinya 70 pintu kesusahan dan maksiat. 2. Barangsiapamemperbanyak membaca Basmallah dalamsegala kebutuhan khususnya masalah rezeki maka dia mendapatkan keinginan nantinya dan diberikan rezeki yang tak terduga-duga dan dihormati oleh seluruh makhluk.

3. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali sebelum tidur,maka malam itu dia akan selamat dari gangguan syaithon,selamat dari kejahatannya manusia,jin dan selamat dari pencurian,kebakaran dan mati kaget. 4. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali,bisa menyembuhkan orang kerasukan dan orang gila.Insya Alloh cepat sembuh 5. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali,dihadapan orang dholim atau pejabat yang dholim maka mereka akan tunduk pada dia dan dia akan selamat dari semua kejahatan mereka. 6. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali,Untuk minta supaya turun hujan pada suatu tempat yang kita inginkan. 7. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali,Untuk menyembuhkan orang sakit atau orang kena sihir.dibacanya 3 hari atau 7 hari berturut-turut atau lebih sampai dia sembuh. 8. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali,Supaya cepat hasil maksudnya.dibacanya pada hari jum'at pada waktu khotib membaca khotbah dan berdoa minta dihasilkan maksud pada saat khotib membaca doanya :Keinginannya akan cepat terkabul. 9. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali,Supaya cepat hasil maksudnya, Puasa 7 hari dan malam harinya membaca doanya :.kali 10. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali,Mendapatkan rezeki tak terduga-duga.Pada hari ahad/minggu saat matahari terbit sambil menghadap kiblat membaca Basmalah.kali dan sholawat .kali Insya Alloh akan memberikan rezeki yang tidak terduga-duga/tak terkira jalannya. 11. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali,Supaya cepat hasil maksud dan menolak kejahatannya orang-orang dholim dan musuh.Caranya : puasa 7 (tujuh) hari dan malamnya sholat sunnah hajat 6 rokaat dengan 3 kali salam dan dalam tiap rokaat setelah S.Al-fatehah membaca Surat . Kali.Setelah beres membaca Basmalah kali,lalu membaca doanya : . 12. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali,Untuk asihan dan sayang orang, bacalah Basmalah.kali,pada segelas air lalu minumkan pada orang yang kita maksud/yang dituju. Bagaimana caranya bisa diminum sama orang yang kita maksud.Insya Alloh sangat Mujarrab 13. Supaya cerdas akal,hapal yang didengar,Bacalah Basmallah sebanyak.kali pada waktu matahari terbit selama 7 hari berturut-turut,(Untuk orang lain pun bisa)

14. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali tiap hari maka Alloh akan memudahkan segala keinginannya dunia maupun akhirat. 15. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali hari,kegunaanya untuk menghilangkan segala kesusahan dan supaya cepat bebas dari penjara. 16. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali hari,kegunaanya untuk asihan caranya : segelas air lalu minumkan pada orang yang kita tuju/yang kita maksud,Bagaimana caranya bisa diminum sama orang yang kita maksud. 17. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali,Kegunaanya untuk supaya cerdas akal,hapal akan apa yang didengar, pada waktu matahari terbit selama 7 hari berturut-turut, (Untuk orang lain pun bisa) 18. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali tiap hari habis sholat fardhu/lima waktu selama dan sesudah puasa,puasanya 41 hari.Kegunaanya untuk diziarahi Malaikat dan para khodam. 19. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali tiap hari habis sholat shubuh dengan hati yang ikhlash dan yakin dan harus puasa 40 hari.Kegunaanya untuk terbukanya ilmu-ilmu ghaib dan ilmu laduni serta mengetahui akan apa yang akan terjadi melalui mimpi. 20. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali tiap hari,Kegunaannya untuk menundukkan seluruh mahluk dan punya satu keistimewaan tersendiri. 21. Barangsiapa yang membiasakan membaca Basmallah.kali dan tiap dapat .kali sholat sunnah hajat 2 rokaat dan setelah salam berdoa minta supaya dihasilkan maksudnya.Terus membaca Basmallah lagi sebanyak .kali,sholat hajat berdoa dan seterusnya sampai dapat Basmallahnya sebanyak..kali.Kegunaaanya untuk supaya cepat hasil maksudnya. 22. Khasiat doa Basmallah.Supaya cepat hasilmaksudnya.Puasa pada hari kamis dan jum'at dan hari jumatnya sebelum berangkat sholat jum'at bersadaqohlah semampunya dan setelah beres sholat jum'at membaca doa Basmallah di bawah ini :.. 23. Khasiat menulis Basmallah.Menyembuhkan orang yang digigit kalajengking atau ular.Menulis Basmalahnya sebanyak dan ayat .. sebanyak..secara terputus-putus pada piring,lalu dihapus dengan air dan diminumkan pada orang yang digigit ular/kalajengking.

24. Khasiat menulis Basmallah.Untuk menarik ukan supaya masuk kedalam jarring atau memakan kail pancing.Menulis Basmallah sebanyak . Kali pada timah.Lalu timahnya diikatkan sama tali (benang) 25. Khasiat menulis Basmallah.Untuk Menjaga anak kecil dari gangguan syaithon dan tidak kaget pada waktu tidurnya.Menulis Basmallah sebanyak .kertas terus dikalungkan pada lehernya si bayi. 26. Khasiat menulis Basmallah.Untuk rumah supaya tidak dimasuki oleh jin dan syaithon serta berkah harta dan usahanya dan dijauhkan dari segala marabahaya.Kalau warung atau toko supaya untung dan selamat dari tipu dayanya orang-orang yang dengki.Basmallah ditulis dikertas sebanyak . kali lalu digantung ditoko atau diwarung. 27. Khasiat menulis Basmallah.Untuk menyembuhkan orang sakit dan mau melahirkan supaya gampang melahirkannya.Tulis Basmallah sebanyak . Kali pada piring beling terus di hapus dengan air zam-zam atau air sumur yang airnya tawar lalu diminumkan. 28. Khasiat menulis Basmallah.Apabila Basmalah ditulis sebanyak .kali pada kertas,terus dibawa-bawa oleh orang yang selalu mati meninggal.Insya Alloh anaknya yang akan datang akan panjang umur 29. Khasiat menulis Basmallah.Barangsiapa yang menulis Basmallah sebanyak . Kali pada kertas lalu disimpan pada kain kafan mayyit Insya Alloh mayyit itu akan selamatkan dari siksa kubur dan digampangkan dalam menjawab pertanyaan dari Malaikat Munkar Dan Nakir 30. Khasiat menulis Basmallah.Tanaman supaya subur,bebas dari hama penyakit serta barokah.Menulis Basmallah sebanyak kali pada kertas putih terus dipendam pada tanah (sawah atau kebun) tanaman tersebut 31. Khasiat menulis Basmallah.Selamat dari segala marabahaya seumur hidupnya begitu juga keluarganya.Tulislah Basmallah sebanyak kali pada kertas putih polos pada tanggal 1 (satu) bulan muharram terus dibawa 32. Khasiat menulis Basmallah.Supaya cepat hasil maksud dan untuk masuk kepada para pejabat. Puasa pada hari Kamis dan buka puasanya memakai kurma atau anggur atau anggur kering ( kismis ).Beres sholat magrib membaca Basmallah sebanyak kali lalu setelah beres sholat isya membaca Basmalah sebanyak-banyaknya sampai tertidur.Dan besoknya hari jum'at setelah sholat shubuh membaca Basmallah lagi sebanyak . Kali terus menulis Basmallah sebanyak . Kali pada kertas

dengan memakai misik,jafaron dan air mawar sambil memakai membakar buhur ud.Tapi dalam menulis Basmallahnya hurupnya harus terputus-putus,terus dibawabawa. Maka orang yang melihatnya akan sayang dan hormat 33. Khasiat menulis Basmallah.Dijauhkan dari segala marabahaya,dirinya dan keluarganya seumur hidupnya.Tulislah Basmallah sebanyak . Kali pada kertas pada hari pertama bulan muharram,terus di bawa 34. Khasiat menulis Basmallah.Supaya punya kharisma dan wibawa dimata orang lain.Tulislah Basmallah sebanyak. Kali pada kertas terus di bawa. 35. Khasiat menulis Basmallah.Dtakuti arang sehingga tak aka nada orang yang bisa berbuat celaka pada dirinya.Tulislah Basmallah sebanyak . Kali pada kertas putih polos lalu kertasnya dibawa kamana-mana 36. Khasiat menulis Basmallah.Ditakuti musuh,disayang dan dimulyakan oleh manusia,dibukakan segala pintu kebaikan dan dalam keselamatan segalanya.Tulislah Basmalah sebanyak . Kali pada kertas putih dan polos lalu dibawa kemana saja 37. Khasiat menulis Lafadh . Untuk membakar dan membunuh jin yang menganggu manusia.Menulis lafadh secara terputus-putus pada kain yang berwarna biru terus ujung kain tersebut dibakar dan diciumkan pada hidung orang yang kerasukan insya Alloh dia akan sembuh dan kalau ingin membakar dan membunuh jinnya bakarlah seluruh kain tersebut. 38. Khasiat menulis Lafadh . Pada suatu wadah semuatnya wadah tersebut terus,dihapus dengan air lalu airnya dikepretkan pada orang yang kerasukan insya Alloh dia akan sembuh dan jinnya akan terbakar. 39. Khasiat menulis Lafadh . Untuk menyembuhkan orang yang sakit.Tulis lafadh . Pada piring atau gelas yang bersih terus dihapus dengan air lalu diminumkan pada orang yang sakit.Insya Alloh dia akan cepat sembuh. 40. Khasiat menulis Lafadh . Untuk masuk kepada pejabat atau orang-orang yang dholim supaya aman dari kejahatannya.Tulis lafadh pada kertas terus dibacaksn lafadh . Kali terus ditiupkan pada kertas itu dan kertas itu dibawa bila hendak masuk kepada mereka Insya Alloh mereka akan menghormati kita 41. Khasiat menulis Lafadh . Untuk menyembuhkan sakit kepala.Tulislah lafadh sebanyak kali secara terputus-putus,terus dibawa-bawa Insya Alloh akan cepat sembuh

Hikayat : Dahulu kaisar romawi mengirim surat pada sayyidina Umar ra.dia mengatakan bahwa dia selalu sakit kepala yang tak kunjung sembuh dan sudah banyak tabib yang berusaha mengobatinya tapi selalu gagal dan dia meminta obat pada sayyidina Umar maka sayyidina unar pun mengirimkan sebuah paci/topi untuk dia pakai oleh kaisar tersebut.Terus pecinya itu dipakai maka kontan sakit kepalanya sembuh tapi bila peci itu dibuka sakit kepalanya kambuh lagi.Maka dia pun heran,lalu diperiksa peci itu ternya dalam pecinya itu ada lafadh . 42. Khasiat menulis Lafadh . Pada kertas terus dibawa berperang maka dia akan mendapatkan kemenangan dan tak mempan senjata 43. Khasiat menulis Lafadh . Secara terputus-putus terus dibawa dalam peperangan maka dia akan mendapatkan kemenangan dan selamat tak mempan senjata 44. Khasiat menulis Lafadh .pada kertas putih polos terus dibacakan . Kali dan kertas dibawa-bawa masuk kepada pejabat dan orang-orang dholim maka mereka akan menghormati dia,tak akan berbuat jahat pada kita 45. Khasiat menulis Lafadh . pada kertas putih polos terus dibacakan . Kali dan kertas polos.Untuk masuk kepada pejabat dan orang-orang dholim supaya dihormati

Apakah diharuskan membaca bismillahirrahmanirrahim setelah selesai (membaca) AlFatihah, langsung saat mulai membaca surat? Bagaimana kalau dimulai dari pertengahan surat, apa yang dia katakan? Bacaan basmalah adalah sunnah bukan wajib, disunahkan jika dia akan membaca surat dari awal. Maka orang yang shalat disunnahkan membaca basmalah sebelum Al-Fatihah. Adapun bacaan setelah Al-Fatihah, jika membaca dari permulaan surat, maka basmalah sunnah dibaca

kecuali pada surat Taubah, tidak membaca basmalah dipermulaannya. Adapun jika membacanya di tengah surat, maka tidak disunahkan membaca basmalah. Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan: Sudah menjadi ketetapan dalam sunah bahwa Beliau sallallahualaihi wasallam membaca basmalah di dalam shalat sebelum Al-Fatihah dan sebelum surat-surat lainnya kecuali surat At-Taubah. Akan tetapi beliau tidak mengeraskan (bacaa basmalah) dalam shalat jahriyah. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepadanya. Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah (6/378) Berkata pula (Al-Lajnah Ad-Daimah): Basmalah itu dianjurkan (untuk dibaca) pada setiap rakaat dalam shalat sebelum membaca Al-Fatihah, dan sebelum membaca semua surat (dalam Al-Quran) kecuali surat Baraah (At-Taubah). Ditambahkan: Jika akan membaca surat setelah Al-Fatihah, maka basmalah dibaca dengan suara pelan. Kalau akan membaca beberapa ayat saja di tengah atau di akhir (surat) maka tidak dianjurkan baginya membaca basmalah. Fatawa AL-Lajnah Ad-Daimah (6/380) Wallahualam

Menurut Syaikh Nawawi, kalimat Basmalah merupakan kesatuan dari empat kata yang berdiri secara berjajar: . , , , Hal ini sebagai isyarat adanya pertolongan Allah kepada para hamba-Nya yang beriman dari gangguan setan. Sebagaimana firman-Nya:

Kemudian Saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Qs. Al-A`raf: 17) Berdasar ayat di atas, menurut Syaikh Nawawi, dengan membaca Basmalah Allah akan memberikan perlindungan dan pengayoman dari segala mara bahaya dan rasa was-was. Di samping itu, sebagai petunjuk bahwa kemaksiatan seseorang berporos pada empat hal: kemaksiatan yang dilakkan secara sembunyi-sembunyi, terang-terangan, di waktu pagi, dan di waktu siang. Dengan membaca Basmalah, dosa aneka kemaksiatan terhapus dan pupus berkat membaca Basmalah. Lebih lanjut, Syaikh Nawawi memberi arti di balik tiap huruf yang menempel pada kalimat Basmalah ini. Pertama, Ba` : Bar-atullah. Artinya jaminan keselamatan kepada orangorang yang berbahagia dengan iman dalam dadanya. Dalam makna yang lebih dalam, orang beriman tidak boleh alpa dari membaca Basmalah dalam keadaaa apapun, selama perbuatan itu berada dalam kebaikan. Kedua, Sn : Satrullah. artinya perlindungan Allah. Makna ini memberi penjelasan bahwa orang mukmin tidak pernah melewatkan tiap langkahnya dengan membaca Basmalah yang dengannya, kala ia bertemu orang yang melawan Allah, ia berlindung dari kebodohannya. Ketiga, Mm : mahabbattuhu. Artinya rasa cinta Allah kepada seorang Muslim yang membaca Baslamah. Seseorang yang ingin memperoleh cinta Allah, tentulah bibirnya tidak kering dari Basmalah. Keempat, Alif : ulfatuhu. Artinya keramahan Allah. Allah itu Maharamah, Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Keramahan Allah akan semakin muncul kepada mereka yang membaca Basmalah. Kelima, Lm: lathfatuhu. Artinya kelembutan Allah. Hikmah di balik membaca Basmalah mendapat kenyamanan dan kelembutan dalam hatinya. Sikap dan sifat jelek akan hilang berganti kebaikan dan hati berhias kelembutan. Keenam, h` : hidyatuhu. Artinya petunjuk Allah. Seseorang yang membaca Basmalah, akan terbimbing dan terarah dalam naungan hidayah.

Ketujuh, R` : ridhwnuhu. Artinya kerelaan Allah. Ridha Allah akan menempel pada sosok insane yang melafalkan Basmalah. Jika Allah telah ridha pada seseorang, tidak ada lagi gunda dan gulana, karena ridha-Nya telah hinggap dalam diri. Pelaku maksiat pun yang membaca Basmalah dengan niat taubat kepada Allah, maka bacaan tersebut menjadi jembatan ridha Allah. Kedelapan, H : Hilmuhu. Artinya Kesabaran Allah. Hikmah ini memberi pelajaran tentang kesabaran Allah pada orang-orang yang berdosa. Mereka yang berbuat aniaya, kezaliman, kegaduhan yang merugikan umat manusia, kekrisuhan, akan tetap memperoleh kesabaran dari Allah dengan bacaan Basmalah. Kesembilan, Mm : Minnatuhu. Anugerah Allah. Orang-orang beriman yang membaca Basmalah mendapat anugerah, kebajikan, dan anugerah Allah. Oleh karenanya, setiap perbuatan dan perkataan yang diawali dengan Basmalah, menjadi berkah untuk semua. Kesepuluh, Nn : Nrul Ma`rifah. Artinya cahaya pengetahuan. Dengan kata lain, kalimat basmalah mengandung unsur cahaya Ilahi. Dan cahaya itu diberikan kepada hamba-hambaNya yang bertakwa. Kesebelas, Y` : Yadullh. Artinya tangan (penjagaan) Allah. Allah memberikan penjagaan pada diri orang yang membaca basmalah. Bacalah pada saat di rumah, kendaraan, tempat kerja, dan di mana saja. Dengan membaca tersebut, Allah turunkan penjagaan dan pengayoman kepadanya.

) Di dalam Alquran ada 114 surah, semuanya dimulai dengan Basmalah, kecuali surah AtTaubah. Surah At-Taubah ini tidak dimulai dengan Basmalah karena memang tidak serasi kalau dimulai dengan Basmalah. Di samping pada permulaannya Basmalah ada disebutkan satu kali di pertengahan surah An-Naml:30; dengan demikian Basmalah itu

didapati di dalam Alquran 114 kali. Ada beberapa pendapat ulama berkenaan dengan Basmalah yang terdapat pada permulaan sesuatu surah. Di antara pendapat-pendapat itu yang termasyhur ialah: 1.Basmalah itu adalah suatu ayat yang tersendiri, diturunkan Allah untuk jadi kepala masing-masing surah, dan pembatas antara surah dengan surah yang lain. Jadi dia bukanlah satu ayat dari Al-Fatihah atau dari sesuatu surah yang lain, yang dimulai dengan Basmalah itu. Ini adalah pendapat Imam Malik beserta ahli qiraat dan fuqaha Madinah, Basrah dan Syam dan juga pendapat Imam Abu Hanifah dan pengikut-pengikutnya. Sebab itu menurut Imam Abu Hanifah Basmalah itu tidak dikeraskan membacanya dalam salat bahkan Imam Malik tidak membaca Basmalah sama sekali. 2.Basmalah adalah salah satu ayat dari Al-Fatihah, dan dari sesuatu surah yang lain, yang dimulai dengan Basmalah. Ini adalah pendapat Imam Syafii beserta ahli qiraat Mekah dan Kufah. Sebab itu menurut mereka Basmalah itu dibaca dengan suara keras dalam salat (Jahar). Kalau kita perhatikan bahwa sahabat-sahabat Rasulullah saw. telah sependapat menuliskan Basmalah pada permulaan sesuatu surah dan surah-surah Alquranul Karim itu, kecuali surah At-Taubah (karena memang dari semula turunnya tidak dimulai dengan Basmalah) dan bahwa Rasulullah saw. melarang menuliskan sesuatu yang bukan Alquran supaya tidak bercampur aduk dengan Alquran. Sebab itu oleh mereka tidak dituliskan amin di akhir surah Al-Fatihah. Basmalah itu adalah salah satu ayat dari Alquran atau dengan perkataan lain bahwa basmalah-basmalah yang terdapat di dalam Alquran itu adalah ayat-ayat Alquran, lepas dari pendapat apakah satu ayat dari Al-Fatihah atau dari sesuatu surah yang lain, yang dimulai dengan Basmalah atau tidak. Sebagai disebutkan di atas surah Al-Fatihah itu terdiri dari tujuh ayat. Mereka yang berpendapat bahwa basmalah itu tidak termasuk satu ayat dari Al-Fatihah, memandang: adalah salah satu ayat, dengan demikian ayat-ayat Al-Fatihah itu tetap tujuh. )1( Dengan menyebut nama Allah, maksudnya dengan menyebut nama Allah saya baca atau saya mulai. Seakan-akan Nabi berkata: Saya baca surah ini dengan menyebut nama Allah, bukan dengan menyebut nama saya sendiri, sebab dia wahyu dari Tuhan, bukan dari saya

sendiri. Maka basmalah di sini mengandung arti bahwa Alquranul Karim itu wahyu dari Allah, bukan karangan Muhammad saw. dan Muhammad itu hanyalah seorang pesuruh Allah yang dapat perintah menyampaikan Alquran kepada manusia. Pemakaian kata Allah Allah nama bagi Zat yang ada dengan sendiri-Nya (wajibul wujud). Kata Allah itu hanya dipakai oleh bangsa Arab kepada Tuhan yang sebenarnya, yang berhak disembah, yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan. Mereka tidak memakai kata itu untuk tuhan-tuhan atau dewa-dewa mereka yang lain. Kata Ar-Rahman terambil dari Ar-Rahmah yang berarti belas kasihan, yaitu suatu sifat yang menimbulkan perbuatan memberi nikmat dan karunia. Jadi kata Ar-Rahman itu ialah: Yang berbuat (memberi) nikmat dan karunia yang banyak. Kata Ar-Rahim juga terambil dari Ar-Rahmah, dan arti Rahim ialah: Orang yang mempunyai sifat belas kasihan, dan sifat itu tetap padanya selama-lamanya. Maka Ar-Rahman Ar-Rahim (Arrahmanirrahim) itu maksudnya: Tuhan itu telah memberi nikmat yang banyak dengan murah-Nya dan telah melimpahkan karunia yang tidak terhingga, karena Dia adalah bersifat belas kasihan kepada makhluk-Nya, dan oleh karena sifat belas kasihan itu adalah suatu sifat yang tetap pada-Nya maka nikmat dan karunia Allah itu tidak ada putus-putusnya. Dengan demikian maka kata-kata Ar-Rahman dan Ar-Rahim itu kedua-duanya adalah diperlukan dalam susunan ini, karena masing-masing mempunyai arti yang khusus. Tegasnya bila seseorang Arab mendengar orang mensifati Allah dengan Ar-Rahman, maka terpahamlah olehnya bahwa Allah itu telah melimpahkan nikmat dan karunia-Nya dengan banyak dan berlimpah-limpah. Tetapi bahwa limpahan nikmat dan karunia yang banyak itu tetap, tidak putus-putus tidak dapat dipahami dari lafaz Ar-Rahman itu saja. Karena itu perlulah diikuti dengan Ar-Rahim, supaya orang mengambil pengertian bahwa limpahan nikmat dan karunia serta kemurahan Allah itu tidak ada putus-putusnya. Hikmah membaca basmalah Seorang muslim disuruh membaca basmalah di waktu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang baik. Yang demikian itu untuk mengingatkan bahwa pekerjaan yang dikerjakannya itu adalah suruhan Allah, atau karena telah diizinkan-Nya. Maka karena Allahlah dia mengerjakan pekerjaan itu dan kepada-Nya dia meminta pertolongan supaya pekerjaan itu terlaksana dengan baik dan berhasil. Nabi saw. bersabda:

Sesuatu pekerjaan yang penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah adalah buntung, yakni tidak ada hasilnya. Orang Arab sebelum datang Islam mengerjakan sesuatu pekerjaan adalah dengan menyebut Al-Lata dan Al-`Uzza, yaitu nama-nama berhala mereka. Sebab itu Allah swt. mengajarkan kepada penganut-penganut agama Islam yang telah mengesakan-Nya supaya mereka mengerjakan dengan menyebut nama Allah.

PENJELASAN 1) Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah Senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.

alam QS. Al-Hijr 87 Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung. Dalam Shahih Muslim 355 - Juga pada Bukhari Muslim Dari Anas bin Malik r. A., katanya, " Aku biasa shalat di belakang Nabi saw., di belakang Abu Bakar, 'Umar dan 'Usman. Mereka hanya memulai bacaan dengan 'Alhamdulillahi rabbil 'alamin' dan tidak pernah kudengar mereka membaca 'Bismillahirrahmanirrahim' pada awal bacaan (Al-Fatihah) dan tidak pula penghabisannya. "

Antara ayat Al-Quran dan hadits nabawi yang anda pertentangkan itu memang sepintas kelihatan saling bertentangan. Namun bukan berarti keduanya harus bertentangan, karena kalau kita teliti lebih dalam, sesungguhnya pertentangan antara keduanya tidak perlu terjadi. Ayat Al-Quran memang menjelaskan bahwa surat Al-Fatihah itu terdiri dari 7 ayat. Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung. (QS. Al-Hijr:87) Dan hadits yang anda pertentangkan juga termasuk hadits yang shahih, setidaknya menurut mayoritas umat Islam yang menempatkan kedudukan kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim sebagai kitab tershahih kedua dan ketiga di dunia setelah Al-Quran. Dari Anas bin Malik ra, " Aku biasa shalat di belakang Nabi saw., di belakang Abu Bakar, 'Umar dan 'Usman. Mereka hanya memulai bacaan dengan 'Alhamdulillahi rabbil 'alamin' dan tidak pernah kudengar mereka membaca 'Bismillahirrahmanirrahim' pada awal bacaan (Al-Fatihah) dan tidak pula penghabisannya.(HR Bukhari Muslim) Dari segi kekuatan periwayatan, hadits ini sudah tidak ada masalah. Tinggal masalah cara memahaminya Mari kita periksa matan hadits ini dengan teliti. Anas bin Malik ra melaporkan bahwa dirinya tidak pernah mendengar Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu 'anhum mengucapkan basmalah di dalam shalat. Dari sini kita bisa mengambil beberapa hal. Pertama, kalau Anas bin Malik ra tidak merasa pernah mendengar basmalah, bukan berarti hal itu menjadi suatu kepastian bahwa kapan dan di mana pun Rasulullah SAW dan ketiga shahabatnya itu tidak pernah mengucapkannya. Boleh jadi apa yang dilaporkan oleh Anas bin Malik itu benar menurut pengalaman pribadinya, namun laporan itu tidak harus menggugurkan orang lain yang misalnya melaporkan hal yang sebaliknya. Kedua, kalau Anas bin Malik ra menyatakan tidak pernah mendengar lafadz basmalah diucapkan nabi SAW dalam shalat, bukan berarti beliau sama sekali tidak mengucapkannya. Ada kemungkinan beliau membaca dengan sirr (suara direndahkan) sehingga pastilah Anas ra tidak mendengarnya. Tetapi hadits ini tidak bisa dijadikan dasar bahwa basmalah bukan termasuk ayat dalam surat Al-Fatihah.

Sebab kita pun mendapatkan hadits lainnya yang menegaskan bahwa basmalah termasuk bagian dari surat Al-Fatihah. Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Bila kamu membaca Alhamdulillah(surat Al-Fatihah), maka bacalah bismillahirrahmanirrahim, karena AlFatihah itu ummul Quran`, ummul kitab, Sab`ul matsani. Dan bismillahirahmanirrahim adalah salah satu ayatnya." (HR Ad-Daruquthuny). Hadits yang senada juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan isnad yang shahih dari Ummi Salamah. Dan dalam kitab Al-Majmu` ada 6 orang shahabat yang meriwayatkan hadits tentang basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah. (lihat kitab Al-Majmu` jilid 3 halaman 302) Khilaf Para Ulama Kalau kita perhatikan semua dalil yang ada, memang kita menemukan adanya perbedaan. Sehingga sangat wajar bila para ulama pun ikut berbeda pendapat tentang kedudukan basmalah dalam surat Al-Fatihah. 1. Pendapat Imam Malik Pandangan Imam Malik sebagai pendiri mazhab Al-Malikiyah bahwa basmalah bukan bagian dari surat Al-Fatihah. Sehingga tidak boleh dibaca dalam shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Dan juga baik dalam shalat jahriyah maupun sirriyah. Dalil mereka adalah hadits di atas tentunya. 2. Pendapat Imam Asy-Syafi'i Lain lagi dengan pendapat Al-Imam Asy-Syafi'i, beliau berpandangan bahwa basmalah adalah bagian dari surat Al-FAtihah dan dibaca secara keras (jahar) di dalam shalat jahriyah. 3. Pendapat Imam Ahmad bin Hanbal Sedangkan dalam pandangan Al-Hanabilah, basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah, namun tidak dibaca secara keras (jahr), cukup dibaca pelan saja (sirr).

Bila anda perhatikan imam masjidil al-haram di Makkah, tidak terdengar membaca basmalah, namun mereka membacanya umumnya orang-orang di sana bermazhab Hanbali. Lihatlah bagaimana dinamisnya dalil dan kesimpulan hukum Islam, penuh dengan pernik perbedaan namun tidak melahirkan perpecahan di kalangan ulama yang paham. Perpecahan dan saling menyalahkan hanya terjadi di level paling bawah, di kalangan yang paling tidak mengerti syariah, terbatas di komunitas yang baru mengenal Islam pada kulit terluarnya saja. Semangat untuk mempelajari Islam yang harus kita bangun bukanlah semangat untuk saling berdebat dan saling menjelekkan sesama muslim.

Soal Ta'awwudz dan Basmalah


Ta'awwudz Ta'awwudz berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata Ta'awwadza-Yata'awwadzu. Ta'awwudzan yang berarti membaca atau mengucapkan kalimat yang bermakna perlindungan. Ta'awwudz atau Istiadzah menurut terminologi adalah meminta perlindungan kepada Allah SWT dari godaan syaitan yang terkutuk yaitu dengan mengucapkan kalimat "A'udzubillahi Minasy-syaithanir-rajim (aku berlindung kepada Allah dengan godaan setan yang terkutuk). Ternyata lafal Ta'awwudz atau Istradzah yang pernah dicontohkan Nabi SAW bermacammacam bentuknya tetapi intinya sama yaitu meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Dalam pembahasan tentang Ta'wwudz, terdapat beberapa bahasan, diantaranya: Ulama bersepakat bahwa membaca Ta'awwudz dianjurkan bagi setiap orang yang mau membaca Al Quran. Dasar nash (dalil) yang dipakai QS. An-Nahl (16): 98, yang artinya : "Maka apabila engkau membaca Al Quran maka mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk " Perbedaan pendapat terjadi ketika memahami kata "fas-ta'idz" (mintalah perlindungan) yang berbentuk Amar (perintah) yang terdapat pada ayat tersebut: apakah menunjukkan pada Nadb (anjuran yang sifatnya tidak wajib) atau Wujub (suatu keharusan atau wajib).

Sebagian ulama berpendapat membaca lafal Ta'awwudz setiap hendak membaca Al Quran hukumnya wajib. Tapi ada yang berpendapat bahwa cukup membacanya sekali saja seumur hidup (Baca kitab alBuduruz-Zahirah, karya Abdul Fatah alQadly, (madinah : maktabah adDar, 1404 H), hal.9) Lafal yang banyak digunakan para Qurra (ahli bacaan) adalah "A'udzubillahi minasya-syaithanir-rajim", sesuai dengan lafal aslinya yang ada pada surah An Nahl. Mereka juga membolehkan membaca dengan mengurangi kaiimatnya. Misalnya

"A'udzubillahi minas-syaithan ". Atau dengan menambah kalimatnya misalnya A'udzubillahis samiil alimi inas syaithanir-rajim, A'udzubillahil 'Adhinni minas-syaithanir-rajimi, serta lafal-lafal yang lain yang pernah dilakukan para ahli Qira'at. (Baca kitab at-Tibyan fi Adabi hamalatilrQuran, karya Abu Zakariyya anNawawy, (Surabaya : maktabah al-Hidayah, t.t.), hal.64-65, dan kitab al-Igna' fi-QiraatisSab'i, karya Abu Ja'far al-Ansary, (Beirut : DarulKutub al-`11miyah, 1999 M), hal.93) Tetapi jumhur (mayoritas ulama) dan Ahlul Ada' atau para praktisi Qiraat (bacaan) berpendapat Amar (kata perintah) yang terdapat pada ayat tersebut menunjukkan pada Nadb (sunah) artinya membaca lafal Ta'awwudz sebelum membaca Al Quran tidak merupakan sebuah keharusan. Artinya tidak berdosa bagi orang yang tidak membacanya (Baca Tafsir Qurthuby Jilid 1).

Basmalah Basmalah, berasal dari akar kata "basmala-yubasmilu-basmalatan" yang berarti mengucapkan lafadz Bismillahirrahmanir-rahim. Kata basmalah merupakan "masdar" yaitu kata benda yang berasal dari kata kerja. Para ulama sepakat bahwa basmalah yang termaktub dalam QS An Naml (27) : 30 yaitu : "innahu min sulaiman wa innahu bismillaahir-rahmaanir-rahiim " adalah termasuk bagian dari ayat Al Quran. Disini timbul perbedaan, apakah basmalah termasuk surah Al Fatihah dan setiap surah Al Quran.

Menurut madzhab Maliki, basmalah tidak termasuk ayat dari surah Al Fatihah dan juga tidak termasuk ayat dalam setiap surah Al Quran, kecuali QS An Naml (QS.27). Argumentasi mereka adalah sebagai berikut : Dalil Naqly 1.Dari 'Aisyah r.a. ia berkata : " ketika Rasululllah SAW shalat beliau mulai dengan takbir kemudian langsung membaca "Alhamdulillahi rabbil "alamin". (Hadits riwayat Muslim) 2. Dari Anas r.a. sebagaimana ada dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim, ia berkata : "Aku pernah shalat di belakang Nabi SAW, Abu Bakar, Umar, dan Ustman. Mereka membaca Al Fatihah langsung Alhamdulil-lahirabbil'alamin tanpa basmalah". Dalam riwayat muslim ditambahkan : " Mereka tidak menyebut lafal basmalah baik di awal bacaan (Al Fatihah) maupun akhir bacaan". 3. Dan Abu Hurairah r.a ia berkata : "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : "Allah SWT berfirman: "Aku membagi surah Al Fatihah separuh-separuh antara Aku dan hambaKu. Dan hambaKu berhak mendapatkan apa yang dia minta. Jika ada seorang hamba berkata alhamdulillahirabbil'alamin, Allah berfirman: hambaKu memujiKu, jika ia membaca : alrahmanir-rahim, Allah berfirman: hambaKu memujiKu, jika ia membaca lagi: maliki yaumid din, Allah berfirman: hambaKu mengagungkanKu dan memasrahkan dirinya kepadaKu, maka jika ia membaca : lyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in, Allah berfirman: "ini antara Aku dan hambaKu, untuknya apa yang ia minta, maka jika ia membaca lagi : ihdinas shiratal mustaqim...dst Allah berfirman : ini untuk hambaKu dan baginya apa yang ia minta. (Hadist Qudsi dalam kitab Syarhun Nawawi 'Ala Shahih Muslim, juz 3 halaman 12). Dalil `Aqly (Logika) Andaikata basmalah termasuk Al Fatihah maka terdapat pengulangan dalam satu surah dalam " ar-rahmanir-rahim". Satu hal yang janggal dalam ilmu balaghah. Adapun penulisan basmalah pada setiap surah adalah lit-tabarruk (mengharapkan berkah), dan melaksanakan hadits yang menganjurkan membaca basmalah pada setiap urusan, sekalipun penulisannya dianggap mutawatir tetapi tidak dalam keberadaannya sebagai bagian dari surah Al Fatihah dan setiap surah Al-Quran.

Di masjid Nabawi yang terletak di kota Madinah, dimana shalat telah dilaksanakan selama kurun waktu ratusan tahun dari zaman Rasulullah SAW sampai zaman Imam Malik ra, namun, tidak satupun imam shalat yang membaca basmalah. Ini mengindikasikan bahwa basmalah bukan termasuk Al Fatihah dan ayat setiap surah. Atas dasar madzhab inilah, Metode Struktur Al Quran tidak menyertakan basmalah dalam setiap terapinya. Imam Al Qurthuby menegaskan bahwa pendapat Imam Malik yang paling shahih, karena periwayatan Al Quran harus mutawatir dan pasti. Bukan didasarkan atas riwayat yang Ahad (dzanny) yang masih diperselisihkan keabsahannya. Hal senada diungkapkan lbnu Al 'Araby.

Hukum Tasmiyyah (Membaca Basmalah) Ketika Berwudlu


Dari Abu Saiid Al-Khudriy radliyallaahu anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam : . Tidak ada (kesempurnaan) wudlu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah padanya. Diriwayatkan oleh Ahmad 3/41, Ibnu Abi Syaibah 1/1-2, Abu Yalaa no. 1060, Ibnu Maajah no. 397, Ibnu Adiy dalam Al-Kaamil 3/173, Al-Haakim dalam Al-Mustadrak 1/147, AlBaihaqiy 1/43, Ibnus-Sunniy dalam Amalul-Yaum wal-Lailah no. 26, dan Ibnul-Jauziy dalam At-Tahqiiq fii Ahaaditsil-Khilaaf 1/137; dari jalan Zaid Hubbaab. Diriwayatkan oleh Abd bin Humaid no. 910, Ad-Daarimiy no. 691, Ibnu Maajah no. 397, Ad-Daaruquthniy 1/71, dan Ibnul-Jauziy; dari jalan Abu Aamir Al-Aqadiy. Diriwayatkan oleh Ahmad 3/41, Abu Yalaa no. 1221, At-Tirmidziy dalam Al-Ilal 1/112113, Ibnu Maajah no. 397, Ibnul-Jauziy dalam Al-Ilal Al-Mutanaahiyyah no. 552 dan AtTahqiiq 1/137; dari jalan Abu Ahmad Az-Zubairiy. Ketiganya (Zaid bin Hubbaab, Abu Aamir, dan Abu Ahmad) dari Katsiir bin Zaid, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Rubaih bin Abdirrahmaan bin Abi Saiid Al-Khudriy, dari ayahnya, dari kakeknya Abu Saiid secara marfuu. Hadits ini lemah karena Rubaih bin Abdirrahmaan dan Katsiir bin Zaid.

Tentang Rubaih bin Abdirrahmaan, berikut sebagian perkataan ulama tentangnya : Al-Bukhaariy berkata : Munkarul-hadiits. Ahmad berkata : Bukan seorang yang dikenal (laisa bi-maruuf). Ibnu Adiy berkata : Aku harap tidak mengapa dengannya. Abu Zurah berkata : Syaikh. Ibnu Hajar berkata : Maqbuul. Adapun Katsiir bin Zaid, berikut perkataan sebagian perkataan ulama tentangnya : Ibnu Maiin berkata : Tidak mengapa dengannya. Abu Haatim berkata : Jujur, tidak kuat, namun ditulis haditsnya. Abu Zurah berkata : Jujur, padanya ada kelemahan. Muhammad bin Abdillah Al-Muushiliy berkata : Tsiqah. Ibnu Hajar berkata : Jujur, terkadang salah. Dari Abu Hurairah radliyallaahu anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam : . Tidak sah shalat bagi orang yang tidak berwudlu, dan tidak ada (kesempurnaan) wudlu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah padanya. Diriwayatkan oleh Ahmad 2/418, Abu Dawud no. 101, At-Tirmidziy dalam Al-Ilal 1/111, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 8076, Ad-Daaruquthniy 1/79, Al-Haakim 1/146, AlBaihaqiy 1/41 & 43, Al-Mizziy 11/332-333, dan Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 209; dari Qutaibah bin Saiid. Diriwayatkan oleh Abu Yalaa no. 6409, Ibnu Maajah no. 399, dan Ad-Daaruquthniy 1.79; dari Ibnu Abi Fudaik. Keduanya (Qutaibah bin Saiid dan Ibnu Abi Fudaik) dari Muhammad bin Muusaa, dari Yaquub bin Salamah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah secara marfuu. Jalan riwayat ini lemah karena tiga sebab, yaitu : Pertama, Yaquub bin Salamah seorang yang majhuul haal, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar.

Kedua, jahalah dari ayahnya (Salamah bin Al-Laitsiy). Al-Mundziriy berkata : Salamah tidaklah diketahui. Tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali anaknya yang bernama Yaquub. Selain itu, ia juga seorang yang layyinul-hadiits, sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar. Adz-Dzahabiy berkata : Laisa bi-hujjah. Ketiga, keterputusan (inqithaa) antara Yaquub dengan ayahnya, dan antara ayahnya (Salamah) dengan Abu Hurairah radliyallaahu anhu; sebagaimana dikatakan Al-Bukhaariy dalam At-Taariikh Al-Kabiir 4/76. Hadits Abu Hurairah ini juga mempunyai jalan lain, yaitu dari Mahmuud bin Muhammad Abu Yaziid Adh-Dhafariy, dari Ayyuub bin An-Najaar, dari Yahyaa bin Abi Katsiir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah secara marfuu; sebagaimana diriwayatkan oleh AdDaaruquthniy 1/71 dan Al-Baihaqiy 1/44. Namun riwayat ini juga lemah karena Mahmuud bin Muhammad Adh-Dhafariy. Al-Haafidh berkata dalam At-Talkhiishul-Habiir 1/251 : Dan Mahmuud bukan seorang yang kuat. Sedangkan Ayyuub bin An-Najaar meskipun ia tsiqah, namun ia seorang mudallis, dan di sini ia membawakan dengan ananah. Dari Saiid bin Zaid radliyallaahu anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda : . Tidak ada (kesempurnaan) wudlu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah padanya. Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 25, Ahmad 4/70 & 5/381-382 & 6/382, Ad-Daaruqthniy 1/72-73, Ibnu Abi Syaibah 1/2 & 4, Ibnul-Jauziy dalam Al-Ilal Al-Mutanaahiyyah 1/336 no. 551, Al-Uqailiy 1/77, dan Al-Baihaqiy 1/43; dari Abdurrahmaan bin Harmalah, dari Abu Tsiqaal, dari Rabbaah bin Abdirrahmaan bin Huwaithib, dari neneknya, dari ayahnya (Saiid bin Zaid), dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Maaanil-Aatsaar 1/27 dan Al-Haakim 4/60 dari jalan Sulaimaan bin Bilaal, dari Abu Tsiqaal, dari Rabbaah, dari neneknya, dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam. Di sini tanpa menyebut ayah nenek Abu Tsiqaal (yaitu Saiid bin Zaid).

Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy 1/27 dari jalan Ad-Daraawardiy, dari Ibnu Harmalah, dari Abu Tsiqaal, dari Rabbaah, dari Ibnu Tsaubaan, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Ahmad 4/70, Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal 9/46, At-Tirmidziy no. 26, dan Ibnu Maajah no. 398; dari Yaziid bin Iyaadl, dari Abu Tsiqaal, dari Rabbaah, dari neneknya, dari ayahnya (Saiid bin Zaid), dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Ath-Thayaalisiy no. 240 dari Al-Hasan bin Abi Jafar, dari Abu Tsiqaal, dari Rabbaah, dari neneknya, dari ayahnya (Saiid bin Zaid), dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam. Hadits ini lemah, karena berporos pada Abu Tsiqaal. Ia bernama Tsumaamah bin Waail bin Hushain. Ibnu Abi Haatim menyebutkannya dalam Al-Jarh wat-Tadiil 2/467, namun ia tidak memberikan jarh maupun tadiil. Al-Bukhaariy berkata : Abu Tsiqaal, dari Rabbaah bin Abdirrahman. Haditsnya perlu dikritik (fii hadiitsihi nadhar). Dari Aisyah radliyallaahu anhaa, ia berkata : . - - Adalah Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam apabila berwudlu, beliau meletakkan tangannya di bejana dengan menyebut nama Allah, lalu berwudlu dan menyempurnakannya (sampai dengan selesai). Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih dalam Al-Musnad no. 999, Ibnu Abi Syaibah 1/3, AlBazzaar 1/137 (Kasyful-Astaar), dan Ibnu Adiy dalam Al-Kaamil 2/616; semuanya dari jalan Haaritsah bin Muhammad, dari Abdah, dari Aaisyah. Hadits ini lemah dikarenakan Haaritsah bin Abi Rijaal, seorang perawi yang disepakati kelemahan oleh para ahli hadits [lihat Tahdziibul-Kamaal, 5/313-316]. Dan masih banyak jalan yang lainnya. Bagi yang menginginkan, silakan baca beberapa jalan hadits lain sebagaimana disebutkan disebutkan Ibnu Hajar dalam At-Talkhiishul-Habiir (1/250-257; Daarul-Kutub, Cet. 1/1419).

Jalan-jalan hadits yang semakna dengan hadits di atas tidak lepas dari kritikan atas kelemahannya. Namun secara keseluruhan, hadits tersebut adalah hasan lighairihi[1] dan dapat dipergunakan sebagai hujjah. Telah berkata Al-Haafidh Al-Mundziriy : Dalam bab ini terdapat banyak hadits yang kesemuanya tidak luput dari pembicaraan. AlHasan, Ishaaq bin Raahawaih, dan ahludh-dhaahir berpendapat wajibnya tasmiiyah (membaca basmalah) ketika wudlu. Sampai-sampai mereka berpendapat jika ditinggalkan dengan sengaja wajib untuk mengulangi wudlunya. Ini adalah salah satu riwayat (yang ternukil) dari Al-Imam Ahmad. Tidak diragukan lagi bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan dalam masalah ini meskipun tidak luput dari pembicaraan (tentang ke-dlaif-annya) namun saling menguatkan satu dengan lainnya karena banyaknya jalan [At-Targhiib watTarhiib, 1/225]. Al-Haafidh Ibnu Hajar berkata : Dhahirnya, hadits-hadits ini secara keseluruhan saling menguatkan dan menunjukkan bahwa hadits ini ada asalnya [At-Talkhiishul-Habiir, 1/257]. Ada hadits lain dari beliau shallallaahu alaihi wa sallam tentang tasmiyyah ini : : Dari Anas, ia berkata : Sebagian shahabat Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam hendak berwudlu, namun mereka tidak mendapatkan air untuk itu. Maka Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda : Di sini ada air. Aku melihat beliau meletakkan tangannya ke dalam sebuah bejana yang berisi air. Lalu beliau kembali bersabda : Berwudlulah kalian dengan menyebut nama Allah (mengucapkan basmalah). Aku melihat air keluar di antara jari-jemari beliau. Orang-orang pun berwudlu hingga orang terakhir di antara mereka. Tsaabit berkata :

Aku bertanya kepada Anas : Berapa kamu melihat jumlah mereka. Ia menjawab : Sekitar tujuhpuluh orang. Diriwayatkan oleh Abdurrazzaaq no. 20535, Abu Yalaa no. 3036, Ahmad 3/165, AnNasaaiy no. 78, Ibnu Khuzaimah no. 144, Ibnu Hibbaan no. 6544, dan Ad-Daaruquthniy 1/71; semuanya dari jalan Abdurrazzaaq, dari Mamar, dari Qataadah dan Tsaabit (alBunaaniy), Anas radliyallaahu anhu. Para perawi hadits ini adalah tsiqah, namun ia mempunyai illat tersembunyi. Pertama; riwayat Mamar dari Tsaabit (Al-Bunaaniy) adalah lemah (dlaiif). Ali bin AlMadiniy berkata : Dalam hadits Mamar dari Tsaabit adalah hadits-hadits gharib dan munkarah. Al-Uqailiy berkata : Mereka (para ulama) mengingkari hadits-hadits Mamar yang berasal dari Tsaabit. Ibnu Abi Khaitsamah menyebutkan dari Yahyaa bin Maiin, bahwa ia berkata : Hadits Mamar dari Tsaabit adalah goncang (mudltharib) dan banyak kelirunya [Syarh Ilal At-Tirmidziy oleh Ibnu Rajab, 2/691]. Kedua; riwayat Mamar dari Qataadah juga lemah (dlaiif). Ibnu Rajab berkata : Telah berkata Ad-Daaruquthniy : Mamar jelek hapalan haditsnya dari Qataadah dan Al-Amasy. Yahyaa bin Maiin berkata : Telah berkata Mamar : Aku duduk di hadapan Qataadah saat aku masih kecil. Aku tidak menghapal darinya sanad-sanad (hadits) [idem, 2/698]. Ketiga, Mamar telah menyendiri dalam periwayatan tambahan lafadh menyebut nama Allah (mengucapkan basmalah). Ia telah menyelisihi Sulaiman bin Al-Mughiirah, Hammaad bin Zaid, dan Hammaad bin Salamah yang ketiganya meriwayatkan dari Tsaabit, dari Anas tanpa ada lafadh tasmiyyah. Juga menyelisihi Saiid bin Abi Aruubah, Hammaam bin Yahyaa, Hisyaam bin Al-Dustuwaaiy, dan Syubah bin Al-Hajjaaj; yang semuanya meriwayatkan dari Qataadah, dari Anas tanpa ada lafadh tasmiyyah. Oleh karena itu, status hadits ini adalah munkar. Ada hadits lain dari beliau shallallaahu alaihi wa sallam tentang tasmiyyah ini, yaitu hadits Jaabir yang panjang dimana disebutkan di dalamnya : ". ! . : " : . .

Dan beliau bersabda : Ambillah wahai Jaabir dan tuangkan untukku. Ucapkanlah : Bismillah. Maka aku (Jaabir) lihat air mengalir di antara jari-jemari Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam [Diriwayatkan oleh Muslim no. 3013]. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca basmalah sebelum wudlu. Ada yang berpendapat hukumnya sunnah. Ini merupakan pendapat madzhab Hanafiyyah[2], Syaafiiyyah[3], dan satu riwayat dari Ahmad[4]. Ada yang berpendapat bahwa ia termasuk dari keutamaan-keutamaan wudlu. Ini adalah pendapat masyhur dari madzhab Malikiyyah[5]. Ada yang berpendapat hukumnya mubah, dan ini merupakan satu pendapat dari madzhab Maalikiyyah.[6] Ada yang berpendapat hukumnya makruh, dan ini satu pendapat dari Maalik (bin Anas).[7] Ada yang berpendapat hukumnya wajib; namun jika lupa membacanya, gugur kewajiban tersebut dan sah wudlunya. Pendapat ini masyhur di kalangan ulama Hanabilah mutaakhkhirin.[8] Ada yang berpendapat bahwa tasmiyyah termasuk syarat sahnya wudlu. Ini merupakan pendapat Dhahiriyyah, sebagaimana dikatakan oleh pengarang Aunul-Mabuud.[9] Melihat dhahir dalil di atas, perintah untuk mengucapkan tasmiyyah adalah wajib selagi tidak ada dalil shahih dan sharih yang memalingkannya. Para ulama yang berpendapat tidak wajibnya mengucapkan tasmiyyah menjawab bahwasannya Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam saat menyebutkan menyebutkan kewajiban wudlu pada seseorang yang buruk shalatnya, tidak menyebutkan tasmiyyah : : .....

Dari Rifaaah bin Raafi : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam pernah duduk di dalam masjid pada suatu hari. Pada waktu itu kamu bersama beliau ketika datang seorang laki-laki Baduwi kepada beliau. Ia lalu shalat dengan cepat. (Setelah selesai), lalu berpaling dan mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu alaihi wa sallam. Maka Nabi shallallaahu alaihi wa sallam menjawab : Hendaknya kamu kembali lalu ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat. Ia pun mengulanginya sampai dua atau tiga kali, dimana setiap selesai shalat, ia mengucapkan salah kepada Nabi shallallaahu alaihi wa sallam dan beliau pun menjawab : Kembalilah lalu ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat. Orangorang menjadi khawatir dan menjadi besarlah perkara itu bagi mereka, bahwasannya barangsiapa yang paling cepat shalatnya, maka dianggap belum melakukan shalat. Orang tersebut berkata pada akhirnya : Nasihatilah aku dan ajarkanlah kepadaku, karena aku hanyalah manusia yang kadang benar dan kadang pula salah. Maka beliau bersabda : Baiklah. Jika engkau berdiri hendak melakukan shalat, berwudlulah sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadamu. [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 302, AthThayaalisiy no. 1469, Ahmad 4/340, Ad-Daarimiy no. 1335, Al-Bukhaariy dalam AlQiraaatu Khalfal-Imaam no. 101 & 102 & 103 & 108 & 109 & 111 & 112, Abu Dawud no. 858 & 860-861, Ibnu Maajah no. 460, An-Nasaaiy 2/20 & 2/193 & 3/59-60, Ibnu Khuzaimah no. 545 & 597 & 638, Ath-Thahaawiy dalam Syarh Maaanil-Aatsaar 1/232, AlHaakim 1/243, Al-Baihaqiy 2/380, dan yang lainnya; semuanya dari jalan Aliy bin Yahyaa bin Khallaad, dari ayahnya, dari Rifaaah secara marfu kecuali riwayat Tirmidziy dimana ia membawakan tanpa menyebutkan Aliy bin Yahyaa bin Khallaad. Ini adalah kekeliruan dari sebagian perawi At-Tirmidziy, wallaahu alam. Diriwayatkan juga oleh Ahmad 4/340, Ath-Thahawiy dalam Syarh Maaanil-Aatsaar 1/232, dan Abu Dawud no. 857 & 859 dari jalan Aliy bin Yahyaa bin Khallaad, dari Rifaaah. Hadits ini shahih]. Yang dimaksud dari sabda beliau shallallaahu alaihi wa sallam : berwudlulah sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadamu ; adalah firman Allah taala : .... Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki [QS. Al-Maaidah : 6].

Pada ayat tersebut tidak disebutkan tasmiyyah (saat berwudlu) sebagai satu perintah dari Allah taala [Al-Majmuu oleh An-Nawawiy, 1/346]. Dan dalam riwayat lain dari Abu Dawud sangat jelas tidak disebutkan tasmiyyah dalam perintah Nabi shallallaahu alaihi wa sallam kepada Arab Baduwiy yang harus dilaksanakan : : : Dari Rifaaah bin Raafi, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam : Sesungguhnya shalat salah seorang di antara kalian tidak mencukupi hingga menyempurnakan wudlunya sebagaimana diperintahkan Allah azza wa jalla. Hendaknya ia membasuh wajah dan kedua tangannya sampai siku, dan menyapu kepala dan (membasuh) kedua kakinya hingga mata kaki [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 858; shahih]. Pendapat inilah yang shahih dalam permasalahan ini yaitu tidak wajibnya tasmiyyah, dan ia hanya merupakan sunnah saja. Oleh karena itu, maka makna kalimat ( tidak ada wudlu) adalah penafikkan adanya kesempurnaan (pahala) wudlu bagi orang yang tidak ber-tasmiyyah. Bukan penafikkan keabsahannya. Ini seperti sabda Nabi shallallaahu alaihi wa sallam : .... Tidak ada shalat saat makanan dihidangkan [Diriwayatkan oleh Muslim no. 560]. Hadits tersebut tidak memberikan konsekuensi shalat seseorang menjadi batal jika ia melaksanakannya saat makanan telah dihidangkan. Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Ibraahiim dan Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumallah.[10]

Namun sudah selayaknya bagi kaum muslimin tidak meninggalkan tasmiyyah ketika berwudlu sebagai langkah hati-hati dan keluar dari perselisihan dengan selalu mengharapkan keridlaan-Nya semata.