Anda di halaman 1dari 16

AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I Tahun Akademik 2007/2008

PENILAIAN PERSEDIAAN : PENDEKATAN DASAR BIAYA


MODUL 10-11 (Tatap Muka ke-11&12)

Oleh : FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si.

Program Perkuliahan Kelas Karyawan Fakultas Ekonomi-Universitas Mercu Buana Jakarta

Penilaian Persediaan : Pendekatan Dasar Biaya

PENILAIAN PERSEDIAAN : PENDEKATAN DASAR BIAYA

Tujuan dari bab ini adalah membahas dan mengilustrasikan sejumlah konsep penilaian dan estimasi yang digunakan untuk mengembangkan informasi persediaan yang relevan.

DEFINISI Persediaan ( inventory ) adalah pos-pos aktiva yang dimiliki untuk dijual dalam operasi bisnis normal atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam memproduksi barang yang akan dijual. Menurut PSAK No. 14 ( IAI : 2007 : Para. 03 ) , Persediaan adalah aset : a) Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal b) Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau c) Dalam bentuk bahan atau perlengkapan ( supplies ) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. Penentuan persediaan apakah termasuk barang dagangan atau bukan harus dilihat dari fungsinya. kembali dalam Pada perusahaan real estat, tanah dan bangunan yang akan dijual rangka untuk memperoleh pendapatan dikelompokkan sebagai

persediaan, tetapi yang digunakan untuk kantor adalah aktiva tetap. Surat berharga yang dikuasai oleh pialang dikelompokkan sebagai persediaan, tetapi yang dimiliki oleh perusahaan non pialang adalah sebagai investasi. Yang termasuk persediaan bagi perusahaan dagang adalah bahan habis pakai dan barang-barang dagangan. Sementara bagi perusahaan manufaktur adalah bahan baku, bahan habis pakai, barang dalam proses, dan barang jadi.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si. AKUTANSI KEUANGAN MENENGAH 1

Penilaian Persediaan : Pendekatan Dasar Biaya

SISTEM PENCATATAN PERSEDIAAN Terdapat dua metode ( sistem ) untuk mencatat dan menghitung kuantitas persediaan, yaitu : 1. Sistem Periodik/Fisik ( physical inventory system ) 2. Sistem Perpetual (sistem permanen atau sistem buku ) Dua sistem tersebut berbeda dalam mencatat transaksi pembelian, transaksi penjualan, dan prosedur penyesuaian akhir periode. Pada sistem periodik, akun persediaan digunakan hanya untuk mencatat persediaan awal periode dan akhir periode. Transaksi pembelian dicatat di akun Pembelian dan retur pembelian dicatat di akun Retur Pembelian. Biaya pengangkutan barang yang dibeli dicatat di akun Biaya angkut pembelian. Apabila ada potongan tunai dari transaksi pembelian kredit jangka pendek, potongannya dicatat di akun Potongan Pembelian. Berkurangnya persediaan pada saat terjadinya transaksi penjualan tidak dicatat. Harga pokok penjualan selama satu periode baru dihitung dan dicatat pada akhir periode, dengan terlebih dulu menghitung persediaan secara fisik di akhir periode. Perhitungan fisik persediaan yang diharuskan oleh sistem periodik dilakukan setahun sekali pada setiap akhir tahun. Akan tetapi, sebagian besar perusahaan membutuhkan informasi mutakhir mengenai tingkat persediaan untuk melindunginya dari stockout atau over-purchasing dan untuk membantu penyusunan data keuangan bulanan atau kuartalan. Contoh : Berikut ini data dari PT. Dwiva- sebuah perusahaan dagang : Persediaan 1 Januari 2006 Ikhtisar transaksi bulan Januari 2006 : Pembelian (secara kredit) Biaya angkut pembelian tunai Retur pembelian ( dari pembelian kredit ) Pelunasan utang usaha Rp 130.000 dengan potongan tunai Penjualan (kredit dengan harga pokok Rp 124.000) Persediaan 31 Januari 2006 130.000 11.000 20.000 3.000 200.000 9.000 Rp 15.000

Berdasarkan data di atas, ayat jurnal transaksi bulan Januari dan jurnal penyesuaian akhir

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si. AKUTANSI KEUANGAN MENENGAH 1

Penilaian Persediaan : Pendekatan Dasar Biaya

Januari adalah sebagai berikut : a. Mencatat pembeliaan persediaan Pembelian Utang Usaha Rp 130.000 Rp 130.000

b. Mencatat biaya angkut pembelian Biaya angkut pembelian Kas c. Mencatat retur pembelian Utang Usaha Retur Pembelian d. Mencatat pelunasan utang dengan potongan tunai Utang Usaha Potongan Pembelian Kas e. Mencatat penjualan Piutang Usaha Penjualan f. Jurnal penyesuaian Harga Pokok Penjualan Persediaan (akhir) Retur Pembelian Potongan Pembelian Persediaan (awal) Biaya angkut pembelian Pembelian 124.000 9.000 20.000 3.000 15.000 11.000 130.000 200.000 200.000 Rp 130.000 3.000 127.000 Rp 20.000 20.000 Rp 11.000 Rp 11.000

Menurut sistem perpetual, disediakan catatan yang secara permanen memonitor

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si. AKUTANSI KEUANGAN MENENGAH 1

Penilaian Persediaan : Pendekatan Dasar Biaya

perubahan persediaan. Catatan yang digunakan untuk itu adalah akun Persediaan. Setiap terjadi perubahan baik karena pembelian ataupun karena penjualan, dicatat di akun Persediaan. Karakteristik akuntansi dari sistem perpetual adalah : 1. Pembelian barang dagang untuk dijual atau pembelian bahan baku untuk produksi didebet ke Persediaan dan bukan ke Pembelian. 2. Biaya transportasi masuk (biaya angkut pembelian), retur pembelian, dan pengurangan harga serta diskon pembelian dicatat dalam Persediaan bukan dalam akun terpisah. 3. Harga pokok penjualan diakui untuk setiap penjualan dengan mendebet akun Harga Pokok Penjualan, dan mengkredit Persediaan. 4. Persediaan merupakan akun pengendali yang didukung oleh buku besar pembantu yang berisi catatan persediaan individual. Buku besar pembantu memperlihatkan kuantitas dan biaya dari setiap jenis persediaan yang ada di tangan. Sistem perpetual menyediakan catatan yang berkelanjutan tentang saldo baik dalam akun Persediaan maupun akun Harga Pokok Penjualan. Dengan mengacu pada contoh PT Dwiva, ikhtisar jurnal transaksi yang dibuat dengan sistem perpetual adalah sebagai berikut : 1. Mencatat pembelian Persediaan Utang Usaha 2. Mencatat biaya angkut pembelian Persediaan Kas 3. Mencatat retur pembelian Utang Usaha Persediaan 4. Mencatat pembayaran utang Utang Usaha Persediaan Kas 130.000 3.000 127.000 20.000 20.000 11.000 11.000 Rp 130.000 Rp 130.000

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si. AKUTANSI KEUANGAN MENENGAH 1

Penilaian Persediaan : Pendekatan Dasar Biaya

Harga Pokok Penjualan Persediaan

124.000 124.000

POS-POS YANG TERMASUK PERSEDIAAN


Menentukan barang yang akan dimasukkan dalam persediaan sering sulit , misalnya karena barang masih dalam perjalanan, atau dikonsinyasikan, atau merupakan barang titipan. Untuk menentukan apakah barang-barang tersebut termasuk sebagai persediaan atau bukan, berikut ini pembahasannya. Barang Dalam Perjalanan Permasalahan dalam hai ini adalah penentuan pemilik dari persediaan. Apabila syarat penjualan adalah franko gudang penjual ( FOB shipping point ), maka barang dalam perjalanan sudah menjadi milik pembeli. Sebaliknya jika syarat penjualannya adalah franko gudang pembeli ( FOB destination ), maka barang dalam perjalanan adalah masih milik penjual. Dalam praktik, biasanya pemegang buku ( berdasarkan pada manual atau buku pedoman sistem akuntansi ) segera mencatat pembelian pada saat faktur sudah diterima, tanpa memperhatikan syarat penjualan. Saat diterimanya faktur biasanya bersamaan dengan datangnya barang. Pemegang buku, dalam praktik, juga mengakui penjualan pada saat barang dikirimkan karena biasanya faktur dibuat tanpa memperhatikan syarat penjualan. Pada akhir tahun untuk keandalan informasi, harus diidentifikasi kembali barang yang masih dalam perjalanan tersebut. Apabila dalam praktik pencatatan mengakibatkan pengakuan yang tidak sesuai dengan standar akuntansi, maka diperlukan jurnal penyesuaian agar persediaan dilaporkan sesuai dengan standar akuntansi. Barang Konsinyasi (titipan) Barang konsinyasi adalah barang yang dititipkan perusahaan ( consignor ) ke perusahaan lain ( consignee ) untuk menjualkan. Barang konsinyasi masih tetap menjadi milik perusahaan penitip ( consignor ) sampai barang tersebut berhasil terjual. Barang konsinyasi dilaporkan terpisah dari persediaan non konsinyasi. Perusahaan yang menerima barang titipan ( consignee ) tidak boleh mengakuinya sebagai persediaan. Barang yang Dipisahkan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si. AKUTANSI KEUANGAN MENENGAH 1

Penilaian Persediaan : Pendekatan Dasar Biaya

Apabila barang diproduksi atas dasar pesanan khusus dan telah dipisahkan dari barang-barang lainnya untuk segera dikirimkan ke pelanggan, maka hak atas barang tersebut mungkin telah berpindah ke pelanggan, maka perusahaan harus mengakuinya sebagai penjualan dan tidak boleh memasukkannya sebagai bagian dari sediaannya.

HARGA POKOK PERSEDIAAN Harga pokok sediaan meliputi harga beli, biaya angkut, dan biaya-biaya lainnya yang dapat ditelusuri secara langsung pada proses pembelian sediaan tersebut, serta bea masuk dan pajak lainnya yang tidak dapat dikreditkan. Semua potongan pembelian seperti rabat, potongan tunai diperlakukan sebagai pengurang harga beli sebelum diperhitungkan potongan. Biaya bongkar muat dan penyimpanan sementara di pelabuhan transit merupakan contoh biaya-biaya yang dapat ditelusuri ke proses pembelian sediaan. Kata dikreditkan, pada kalimat sebelumnya adalah istilah yang dipakai dalam perpajakan, khususnya Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Atas Barang Mewah. Apabila perusahaan membeli barang kena pajak, maka ia diwajibkan membayar PPN, yang diebut PPN Masukan. Jika barang tersebut dijual kembali, maka dia harus memungut PPN Keluaran dari pelanggannya dan menyetorkannya ke kas negara. Jika jumlah PPN Keluaran yang disetorkan tersebut boleh dikurangi dengan PPN Masukan, berarti PPN Masukan dapat dikreditkan. Jika dapat dikreditkan, maka PPN Masukan tidak dimasukkan sebagai harga pokok, dan sebaliknya jika tidak dapat dikreditkan, maka PPN Masukan termasuk dalam elemen harga pokok. Metode Penilaian Persediaan Berdasarkan Assumption ) 1. Identifikasi khusus 2. Biaya Rata-rata 3. First-In First-Out ( FIFO ) 4. Last-In First-Out ( LIFO ) Asumsi Arus Biaya (Cost Flow

PENILAIAN PERSEDIAAN : MASALAH PENILAIAN TAMBAHAN

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si. AKUTANSI KEUANGAN MENENGAH 1

Penilaian Persediaan : Pendekatan Dasar Biaya

Tujuan dari bab ini adalah membahas dan mengilustrasikan sejumlah konsep penilaian dan estimasi yang digunakan untuk mengembangkan informasi persediaan yang relevan.

1. Nilai Terendah antara Biaya dan Harga Pasar Persediaan dapat dicatat pada biaya awalnya. Tetapi bila nilai persediaan menurun dari biaya awalnya dengan alasan apapun, maka persediaan harus diturunkan nilainya untuk mencerminkan kerugiannya. Persediaan yang mengalami penurunan nilai akan dinilai berdasarkan nilai terendah antara biaya dan harga pasar (Lower of Cost or Market-LCM), bukan berdasarkan biaya awal. Biaya atau harga pokok (cost) adalah harga perolehan persediaan yang dihitung dengan salah satu metode berdasarkan biaya historis, seperti- LIFO, FIFO, Nilai Ratarata, dan identifikasi khusus. Pasar dalam lingkup nilai terendah antara biaya dan harga pasar (LCM) adalah biaya untuk mengganti barang pembelian atau reproduksi. Dalam bisnis eceran istilah pasar mengacu pada tempat pembelian, sedangkan bisnis menufaktur pasar adalah biaya reproduksi. Nilai Terendah Antara Biaya Dan Harga Pasar-Batas Atas Dan Batas Bawah. Dua pembatasan penilaian tambahan akan digunakan untuk menilai persediaan akhir-Nilai Realisasi Bersih dan Nilai Realisasi Bersih dikurangi Marjin Laba Normal. Contoh: Jerry Mander Corporantion memiliki persediaan barang yang belum jadi dengan nilai $ 1.000, estimasi biaya penyelesaian $ 300, dan marjin laba normal 10% dari penjualan. Hal berikut dapat dihitung:

Persediaan - nilai jual Dikurangi: Estimasi biaya penyelesaian dari penjualan Nilai Realisasi Bersih Dikurangi: Penyisihan untuk marjin laba normal (10%-

$ 1.000 300 700

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si. AKUTANSI KEUANGAN MENENGAH 1

Penilaian Persediaan : Pendekatan Dasar Biaya

dari penjualan) nilai Realisasi Bersih dikurangi marjin laba normal

100 600

Biaya pengganti tidak kurang dari batas bawah (nilai realisasi bersih dikurangi marjin laba normal) dan tidak lebih dari batas (nilai realisasi bersih).

Bagaimana Nilai Terendah Antara Biaya Dan Harga Pasar Bekerja. Jumlah yang dibandingkan dengan biaya, yang sering disebut nilai pasar yang sering ditetapkan (designated market value), selalu merupakan nilai tengah dari tiga jumlah. Nilai pasar yang ditetapkan kemudian dibandingkan dengan biaya untuk menentukan yang terndah antara biaya dab harga pasar. Sebagai ilustrasi, nilai persediaa akhir Regner Foods dihitung sebagai berikut: Nilai Realisasi Bersih dikurangi Laba normal (batas bawah) $ 104.000 70.000 27.500 48.000 80.000

Makanan Bayam Wortel Buncis Kacang Polong Sayur Campuran

Biaya Pengganti $ 88.000 90.000 45.000 36.000 105.000

Nilai Realisasi Bersih (Batas Atas ) $120.000 100.000 40.000 72.000 92.000

Nilai Pasar yang ditetapkan $ 104.000 90.000 40.000 48.000 92.000

Metode Pengaplikasian LCM Kenaikan harga pasar barang cenderung mengoffset penurunan harga pasar barang lai, jika pendekatan kategori atau total persediaan yang utama digunakan dalam mengaplikasikan aturan LCM. Sebagai ilustrasi, asumsikan bahwa Regner Foods memisahkan produk-produk makanannya dalam dua kategori utama, yaitu makanan kaleng dan makanan beku.

Makanan

Biaya

Biaya Pengganti

Nilai Realisasi Bersih (Batas Atas )

Nilai Realisasi Bersih dikurangi Laba normal (batas

Nilai Pasar yang ditetapkan

Nilai Persediaan Akhir

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si. AKUTANSI KEUANGAN MENENGAH 1

Penilaian Persediaan : Pendekatan Dasar Biaya

Bayam Wortel Buncis Kacang Polong Sayur Campuran Total

$ 80.000 100.000 50.000 90.000 95.000

$ 88.000 90.000 45.000 36.000 105.000

$120.000 100.000 40.000 72.000 92.000

bawah) $ 104.000 70.000 27.500 48.000 80.000

$ 104.000 90.000 40.000 48.000 92.000

$ 80.000 90.000 40.000 48.000 92.000 $ 350.000

Pencatatan Harga Pasar Dan Bukan Biaya Untuk mencatatat persediaan pada harga pasar digunakan dua metode- metode langsung dan metode tidak langsung. Metode langsung biaya diganti dengan harga pasar ketika menilai harga persediaan. Metode tidak langsung tidak mengubah angka biaya, tetapi membentuk kontra aktiva yang terpisah dan akun kerugian untuk mencatat penghapusan. Evaluasi atas Aturan LCM Aturan LCM memiliki definisi dan kelemahan koseptual: 1. Penurunan kerugian aktiva dan pencatatannya sebagai beban diakui pada periode ketika kerugian utilitas ini terjadi, bukan pada periode penjualan. 2. Aplikasi aturan lcm menghasilkan inkonsistensi. 3. LCM menilai persediaan dalam neraca secara konservatif, tetapi dampaknya terhadap laporan laba-rugi mungkin atau tidak mungkin bersifat konservatif. 4. Aplikasi aturan lcm menggunakan laba normal dalam menentukan nilai persediaan.

DASAR PENILAIAN Penilaian menurut Nilai Realisasi bersih Realisasi bersih adalah jumlah yang akan diperoleh dari persediaan ini di masa depan dengan tujuan untuk pengaplikasian atuaran LCM. Pencatatan persediaan menurut nilai realisasi bersih (harga jual dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan penjualan)

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si. AKUTANSI KEUANGAN MENENGAH 1

Penilaian Persediaan : Pendekatan Dasar Biaya

Aturan pengakuan normal dibolehkan jika: 1. terdapat pasar terkendali dengan harga kuota yang berlaku bagi semua kuantitas. 2. tidak ada biaya penjualan yang signifikan. Perusahaan manufaktur menggunakan biaya terstandarisasi (standardized cost system) yang menetapkan terlebih dahulu biaya per unit bahan, tenaga kerja dan overhead manufaktur sera menilai persediaan bahan baku, barang dalam proses dan barang jadi pada biaya standarnya. Tujuan pelaporan keuangan, penetapan harga persediaan menurut biaya standar dibolehkan jika tidak terdapat pebedaan yang sigmifikan antara biaya aktual dan biaya standar. Biaya standar sebolehkan jika disesuaikan pada interval yang layak untuk mencerminkan kondisi ter baru, contohnya: Burington Industries dan Hewsett-packard. Persediaan kadang-kadang dilaporkan pada harga jual dikurangi biaya distribusi. Penilaian dengan Menggunakan Nilai Penjualan Relatif Harga lumpsum (lumpsum price) disebut basket purchase. Metode nilai penjualan relatif digunakan dalam industri minyak untuk menilai (pada biaya) banyak produk dan produk sampingan yang diperoleh dari satu barel minyak mentah. Komitmen Pembelian- Satu masalah Khusus Dalam banyak lini bisnis, kelangsungan hidup dan profitabilitas peruasahaan tergantugn pada tersedianya persediaan barang dagang yang mencukupi untuk memenuhi semua permintaan pelamggan. Umumya, hak atas barang dagang atau bahan baku yanag terkait dengan komitmen pembelian (purchase commiments) ini belum berpindah ke pembeli. Sebenarnya barang itu belum di tangan atau dalam kasus produk, masih berpa barang dalam proses. Untuk kontrak pembelian resmi, yang tidak dapat dibatalkan, tidak ada aktiva atau kewajiban yang diakui pada saat kontrak ditandatangani, karena kontrak tersebut bersifat executori, kedua belah pihak belum memenuhi kewajiban kontraktualnya. Akan tetapi, jika material, maka rincian kontrak semacam itu harus diungkapkan dalam neraca pembeli dengan catatan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si. AKUTANSI KEUANGAN MENENGAH 1

Penilaian Persediaan : Pendekatan Dasar Biaya

Jika harga kontrak melebihi harga pasar dan kerugian diperkirakan akan muncul pada saat pembelian dilaksanakan, maka kerugian ini harus diakui dalam periode terjadinya penurunan harga pasar. FASB concept statment No. 6 menyatakan bahwa komitmen pembelian melibatkan suatu pos yang bisa dicatat baik sebagai aktiva maupum sebagai kewajiban, yaitu komitmen pembelian melibatkan hak untuk menerima aktiva dan kewajiban untuk membayar.... . Jika hak untuk menerima aktiva dan kewajiban untuk membayar dicatat pada saat komtmen pembelian dilakukan, maka sifat dari kergian dan akun penilaian yang mencatat kerugian ini pada saat harga turun akan jelas terlihat.

Metode Laba Kotor untuk Mengestimasi Persediaan Metode laba kotor (gross profit method) didasarkan pada tiga asumsi: 1. persediaan awal ditambah pembelian sama dengan total barang yang diperhitungkan. 2. barang yang belum harus di tangan. 3. jika penjualan, dekutangi biaya, dikurangi dari jumlah persediaan awal ditambah pembelian, maka hasilnya adalah persediaan akhir. Biaya (cost) + lab kotor = harga jual (sp) Contoh: asumsikan anda diberi tahu bahwa mark up atas biaya untuk suatu barang tertentu adalah 25%, harga jual barang tersebut adalah $ 100. berapakah laba kotor atas harga jual? C + 0.25C = sp (1+0.25)C= sp 1.25C = $ 100 C = $ 0.80 1. laba kotor atas harga jual = persentase mark up atas biaya 100% - persentase mark up atas biaya 2. persentase mark up atas biaya = laba kotor atas haga jual 100% - laba kotor atas harga jual

METODE PERSEDIAAN ECERAN

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si. AKUTANSI KEUANGAN MENENGAH 1

Penilaian Persediaan : Pendekatan Dasar Biaya

Akuntansi untuk persediaan dalam bisnis eceran memberikan sejumlah tantangan. Retailer yang memiliki jenis persediaan tertentu bisa menggunakan metode identifikasi khusus untuk menilai persediaan, lain halnya dengan retailer yang bervolume tinggi yang memiliki banyak jenis persediaan maka akan sulit menentukan. Alternatif yang bisa dilakukan adalah menyusun persediaan menurut harga eceran. Dalam perusahaan terdapat pola yang dapat diamati anatara biaya dan harga, karena itu, harga eceran dapat dikonversikan menjadi biaya dengan suatu rumusyang dinamakan metode persediaan eceran (retail inventory methode) mensyaratkan bahwa pencatatan dilakukan atas (1) total niaya dan nilai eceran dari barang yang dibeli (2) total biaya dan nilai eceran barang yang tersedia untuk dijual dan(3) penjualan periode bejalan. Berikut ini adalah ilustrasi tentang metode eceran oleh Jordan Guess Inc. (peride berjangka). Biaya 14.000 63.000 77.000 harga eceran 20.000 90.000 110.000 85.000 25.000 70% 17.500

Persediaan awal Pembelian Barang tersedia untuk dijual Dikurangi penjualan Persediaan akhir pada harga eceran

Rasio biaya terhadap harga eceran (77.000 / 110.000) Pesediaan akhir pada biaya ( 70% x 25.000)

Ada beberapa versi metode persediaan eceran : metode konvensional (nilai terendah antara biaya rata-rata dan haraga pasar), metode biaya, metode eceran LIFO, dan metode eceran FIFO, nilai dolar. Metode eceran tersebut didukung oleh IRS, berbagai asosiasi perusahaan eceran dan profesi Akuntansi, serta dengan metode ini saldo persediaan dapat diestimasi tanpa perhitungan fisik. Metode ini juga berfungsi sebagai perangkat pengendalian (control device). Metode Persediaan Eceran dengan Mark Up dan Mark Down-Metode Konvensional Mark Up berarti tambahan atas harga eceran awal, mark down berarti penurunan tingkat harga eceran awal. Perusahaan menggunakan konsep ini untuk melakukan penilaian yang layak pada akhir periode Akutansi. Berikut ini adalah ilustrasinya: IN-FASHION STORES INC.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si. AKUTANSI KEUANGAN MENENGAH 1

Penilaian Persediaan : Pendekatan Dasar Biaya

Biaya Eceran Pesediaan awal Pembelian (bersih) Barang tersedia untuk dijual Ditambah Markup Dikurangi: pembatalan markup Markup bersih 20.500 rasio biaya terhadap harga eceran dikurangi: Markdown dikurangi: pembatalan markdown markdown bersih 20.500 rasio biaya terhadap harga eceran dikurangi: penjualan (bersih) persediaan akhir pada eceran 20.500 37.500 = 54.7% 20.500 = 53.9% 38.000 2.500 (2.000) 3.000 (1.000) 500 20.000 20.500

Harga 1.000 35.000 36.000

2.000 38.000

500 37.500

25.000 12.500

Format dasar dari metode persediaan eceran memakai pendekatan LCM. Karena adanya dampak perataan, maka penilaian LCM yang tidak diperoleh, tetapi perkiraan yang memadai dapat diperoleh. Sebaiknya penambahan markup bersih dan pengurangan markdown bersih menghasilkan perkiraan biaya. Pos-pos khusus yang berhubungan dengan metode eceran adalah: biaya pengangkutan (freight cost) retur pembelian (purchase return), diskon pembelian dan pengurangan harga (purchase discont and allowances), diskon penjualan dan pengurangan harga ( sales discount), transfer masuk (transfer-in), kekurangan normal ( normal shortages), kekurangan abnormal (abnormal shortages) dan diskon untuk karyawan ( employee discount). Metode persediaan eceran untuk menghitung persediaan telah digunakan secara

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si. AKUTANSI KEUANGAN MENENGAH 1

Penilaian Persediaan : Pendekatan Dasar Biaya

luas (1) agar laba bersih dapat dihitung tanpa harus melakukan perhitungan fisik persediaan (2) sebagai ukuran pengendalian dalam menentukan kekurangan persediaan (3) dalam pengaturan Akutansi barang dagang ditangan (4) untuk informasi Akutansi. Salah satu karakteristik dari metode persediaan eceran adalah bahwa metode itu memiliki pengaruh rata-rata terhadap berbagai tingkat laba kotor.

PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS Penyajian persediaan Standar akutansi mewajibkan laporan keuangan mengungkapkan komposisi dari persediaan, pengaturan pembiayaan persediaan, dan metode kalkulasi biaya persediaan yang digunakan. Standar Akuntansi ini juga mewajibkan metode kalkulasi biaya diaplikasikan secara konsisten dari satu periode ke periode berikutnya. Perusahaan manufaktur harus melaporkan komposisi persediaan baik alam neraca ataupun dalam skedul terpisah dari catatan ini. Pengakuan pembiayaab yang penting atau tidak biasa yang berhubungan dengan persediaan mungkin memerlukan catatan pengungkapan produk, komitmen pembelian perusahaan, dan penggadaian persediaan sebagai kolateral. Persediaan yang degadaikan sebagai kolateral pinjaman harus disajikan dalam kelompok aktiva lancar bukan sebagai pengoffset kewajiban. Dasat penilaian persediaan an metode yang dipakai dalam menghitung biaya (FIFO, LIFO, biaya rata-rata dan sebagainya)juga harus dilaporkan.

Analisis Persediaan Jumlah persediaan yang dicatat perusahaan dapat memiliki konsekuensi ekonomi yang signifikan. Akibatnya persediaan harus dikelola, namun pengelolaan persediaan membutuhkan perhatian yang terus-menerus. Rasio yang umum digunakan dalam pengelolaan dan evaluasi tingkat persediaan adalah rasio perputaran persediaan dan ukuran yang behubungan, jumlah hari rata-rata untuk menjual persediaan. Rasio perputaran persediaan (inventory turnover ratio) mengukur berapa kali, secara rata-rata, persediaan terjual selama suatu periode. Tujuannya adalah untuk mengukur likuiditas persediaan. Rumus dan rasio perputaran persediaan:

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si. AKUTANSI KEUANGAN MENENGAH 1

Penilaian Persediaan : Pendekatan Dasar Biaya

Perputaran persediaan =

HPP

Persediaan rata-rata Salah satu varian dari rasio perpuataran persediaan adalah jumlah hari rata-rata untuk menjual persediaan (average days to sell invertory), yang merupakan jumlah hari rata-rata penjualan persediaan yang ada di tangan. Tingkat persediaan umumnya berbeda-beda dalam setiap industri. Akan tetapi perusahaan yang mampu mempertahankan tingkat persediaan yang rendah, dan memiliki rasio perputaran persediaan yang lebih tinggi dari pada pesaingnya, serta mampu memenuhi kebutuhan adalan contoh perusahaan yang paling sukses.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si. AKUTANSI KEUANGAN MENENGAH 1