MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

STANDAR PROSEDUR OPERASI (STANDARD OPERATING PROCEDURE) LAYANAN UNGGULAN BIDANG PERBENDAHARAAN KEMENTERIAN KEUANGAN 1. Pelayanan Penelaahan dan Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Pusat a. Deskripsi: a.1. Penelaahan DIPA merupakan serangkaian proses dan prosedur penilaian yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan terhadap konsep DIPA yang diajukan Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran satuan kerja untuk menjamin kesesuaian konsep DIPA dengan Peraturan Presiden mengenai Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat, dan prinsip pembayaran/pencairan dana, serta Standar Akuntansi Pemerintah; a.2. Pengesahan DIPA merupakan penetapan oleh Bendahara Umum Negara atas konsep DIPA yang disusun oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran dan memuat pernyataan bahwa rencana kerja dan anggaran pada DIPA berkenaan tersedia dananya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan dapat menjadi dasar pembayaran/pencairan dana atas beban APBN. b. Dasar Hukum: Peraturan Menteri Keuangan tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga, dan Penyusunan, Penelaahan, Pengesahan dan Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran. c. Pihak yang Dilayani/Stakeholder: Kementerian Negara/Lembaga. d. Janji Layanan: d.1. Jangka waktu penyelesaian selambat-lambatnya tanggal 31 Desember sebelum tahun anggaran berkenaan, DIPA telah disahkan. d.2. Tidak ada biaya atas jasa pelayanan. d.3. Persyaratan administrasi: a) Peraturan Presiden tentang Rincian ABPP; b) Konsep DIPA dari Kementerian/Lembaga; c) Arsip Data Komputer (ADK). e. Proses: e.1. Awal : Direktur Jenderal Perbendaharaan menerima Peraturan Presiden tentang Rincian ABPP; e.2. Akhir : Seksi pada Subdirektorat Data dan Bantuan Teknis mengkompilasi dokumen DIPA dan Surat Pengesahan DIPA yang telah ditandatangani Direktur Jenderal Perbendaharaan serta menyampaikan kepada Kementerian Negara/Lembaga. f. Keluaran/Hasil Akhir (output): Surat Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (SP DIPA).

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

-2-

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

-32. Pelayanan Penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) Belanja Non Pegawai (UP/TUP/GUP/LS) pada KPPN Percontohan a. Deskripsi: merupakan mekanisme pengujian yang bersifat substantif dan formal terhadap Surat Perintah Membayar (SPM) Belanja Non Pegawai yang diajukan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran untuk diterbitkan SP2D. b. Dasar Hukum: b.1. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran Dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara; b.2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 91/PMK.05/2007 tentang Bagan Akun Standar; b.3. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-66/PB/2005 tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran Atas Beban Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara. c. Pihak yang Dilayani/Stakeholder: Satuan Kerja (Satker). d. Janji Layanan: d.1. Jangka waktu penyelesaian paling lambat 1 (satu) jam sejak SPM diterima lengkap. d.2. Tidak ada biaya atas jasa pelayanan. d.3. Persyaratan administrasi: a) Surat Perintah Membayar: - Untuk keperluan pembayaran Uang Persediaan (UP): • Surat Pernyataan Kuasa Pengguna Anggaran/pejabat yang ditunjuk, yang menyatakan UP tidak untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang menurut ketentuan harus dengan LS. - Untuk keperluan pembayaran Langsung (LS) Belanja Non Pegawai: • Resume Kontrak/SPK atau Daftar Nominatif Perjalanan Dinas; • Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja (SPTB); • Faktur Pajak dan Surat Setoran Pajak (SSP). - Untuk keperluan pembayaran Tambahan Uang Persediaan (TUP): • Rincian Rencana Penggunaan Dana; • Surat dispensasi Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk TUP di atas Rp200.000.000 (dua ratus juta rupiah); • Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk yang menyatakan bahwa: Dana TUP tersebut akan digunakan untuk keperluan mendesak dan akan habis digunakan dalam waktu 1 bulan terhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D; Apabila terdapat sisa dana TUP harus disetorkan ke Rekening Kas Negara; Tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

-4Untuk keperluan Pembayaran Penggantian Uang Persediaan (GUP): • SPTB; • Faktur Pajak dan SSP. b) Arsip Data Komputer (ADK) e. Proses: e.1. Awal : Satker terkait menyampaikan SPM, dokumen pendukung, dan ADK; e.2. Akhir : Seksi Pencairan Dana (petugas front office) pada KPPN menyampaikan SP2D lembar ke-2 dan SPM lembar ke-2 kepada Satker yang bersangkutan. f. Keluaran/Hasil Akhir (output): Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) Belanja Non Pegawai. g. Bagan Arus (flowchart):

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

-53. Pelayanan Revisi DIPA pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan a. Deskripsi: merupakan tata cara perubahan dan/atau pergeseran rincian anggaran dalam DIPA. b. Dasar Hukum: b.1. Peraturan Menteri Keuangan tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga, dan Penyusunan, Penelaahan, Pengesahan dan Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran; b.2. Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Perubahan Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat dan Perubahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran. c. Pihak yang Dilayani/Stakeholder: Satuan Kerja (Satker). d. Janji Layanan: d.1. Jangka waktu penyelesaian paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah usulan pengesahan revisi dan data pendukung diterima secara lengkap. d.2. Tidak ada biaya atas jasa pelayanan. d.3. Persyaratan administrasi: a) Surat Usulan Revisi DIPA; b) Surat Rincian Alokasi Anggaran (SRAA). e. Proses: e.1. Awal : Satker menyampaikan permohonan usulan revisi DIPA kepada Kepala Kanwil; e.2. Akhir : Kepala Kanwil meneliti dan menandatangani Net Surat Revisi DIPA, serta meneruskan kepada Pelaksana pada Bagian Umum untuk disampaikan kepada Satker yang bersangkutan. f. Keluaran/Hasil (output): Surat Pengesahan Revisi DIPA.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

-6g. Bagan Arus (flowchart):

4. Pelayanan Pengajuan Permintaan Tambahan Uang Persediaan (TUP) pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan a. Deskripsi: merupakan tata cara pemberian dispensasi permintaan tambahan uang persediaan yang diajukan oleh Satker. b. Dasar Hukum: Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor 66/PB/2005 tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran Atas Beban Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara. c. Pihak yang Dilayani/Stakeholder: Satuan Kerja (Satker). d. Janji Layanan: d.1. Jangka waktu penyelesaian paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah pengajuan permintaan TUP dan data pendukung diterima secara lengkap. d.2. Tidak ada biaya atas jasa pelayanan. d.3. Persyaratan administrasi: a) Surat Permintaan TUP; b) Rincian Rencana Penggunaan Dana; c) Rekening Koran yang menunjukkan saldo terakhir; d) Surat Pernyataan bahwa kegiatan tidak dilaksanakan/dibayarkan melalui penerbitan SPM-LS.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

-7e. Proses: e.1. Awal : Satker mengajukan permohonan permintaan Tambahan Uang Persediaan (TUP) kepada Kepala Kanwil; e.2. Akhir : Kepala Kanwil meneliti dan menandatangani surat persetujuan TUP serta meneruskan kepada Pelaksana pada Bagian Umum untuk disampaikan kepada Satker yang bersangkutan. f. Keluaran/Hasil Akhir (output): Surat Persetujuan Tambahan Uang Persediaan (TUP). g. Bagan Arus (flowchart):

5. Pelayanan Rekonsiliasi Tingkat KPPN a. Deskripsi: merupakan proses pencocokan data transaksi keuangan yang diproses dengan beberapa sistem/subsistem yang berbeda berdasarkan dokumen sumber yang sama. b. Dasar Hukum: b.1. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat; b.2. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-66/PB/2006 tentang Pedoman Rekonsiliasi Dan Analisa, Dan Penyusunan Laporan Keuangan Tingkat Kuasa Bendahara Umum Negara Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Dan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan;

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

-8b.3. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-19/PB/2008 tentang Pengenaan Sanksi Atas Keterlambatan Penyampaian Laporan Keuangan Sesuai Dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. c. Pihak yang Dilayani/Stakeholder: Satuan Kerja (Satker). d. Janji Layanan: d.1. Jangka waktu penyelesaian paling lambat 7 (tujuh) hari kerja setelah bulan bersangkutan berakhir. d.2. Tidak ada biaya atas jasa pelayanan. d.3. Persyaratan administrasi: a) Register Pengiriman; b) Laporan Realisasi Anggaran (LRA); c) Neraca; d) Arsip Data Komputer (ADK). e. Proses: e.1. Awal : Satker menyampaikan Register Pengiriman, LRA, Neraca, dan ADK kepada Seksi Verifikasi dan Akuntansi; e.2. Akhir : Pelaksana pada Subbagian Umum mengirimkan Berita Acara Rekonsiliasi (BAR) kepada Satker yang bersangkutan. f. Keluaran/Hasil Akhir (output): Berita Acara Rekonsiliasi dan Catatan Hasil Rekonsiliasi.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

-9g. Bagan Arus (flowchart):

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

ttd

SRI MULYANI INDRAWATI

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful