P. 1
PRIMASTO_ARDI_MARTONO

PRIMASTO_ARDI_MARTONO

|Views: 77|Likes:
Dipublikasikan oleh Iin Inni Basyarah

More info:

Published by: Iin Inni Basyarah on Mar 15, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/24/2012

pdf

text

original

KETERKAITAN ANTAR SEKTOR EKONOMI DAN ANTAR DAERAH DI WILAYAH KEDUNGSEPUR

TESIS
Disusun Dalam Rangka Memenuhi Persyaratan Program Studi Magister Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota

Oleh: PRIMASTO ARDI MARTONO L4D007014

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER TEKNIK PEMBANGUNAN WILAYAH DAN KOTA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008

KETERKAITAN ANTAR SEKTOR EKONOMI DAN ANTAR DAERAH DI WILAYAH KEDUNGSEPUR

Tesis diajukan kepada Program Studi Magister Teknik Pembangunan Wilayah Dan Kota Program Pascasarjana Universitas Diponegoro

Oleh : PRIMASTO ARDI MARTONO L4D007014

Diajukan pada Sidang Ujian Tesis Tanggal 30 Desember 2008

Dinyatakan Lulus Sebagai Syarat Memperoleh Gelar Magister Teknik

Semarang,

Desember 2008

Pembimbing Pendamping

Pembimbing Utama

Sri Rahayu, SSi, MSi

Ir. Jawoto Sih Setyono, MDP

Mengetahui Ketua Program Studi Magister Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota Program Pascasarjana Universitas Diponegoro

Dr. Ir. Joesron Alie Syahbana, MSc

PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi. Sepanjang Pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diakui dalam naskah ini dan disebutkan dalam Daftar Pustaka. Apabila dalam Tesis saya ternyata ditemui duplikasi, jiplakan (plagiat) dari Tesis orang lain/Instiusi lain maka saya bersedia menerima sangsi untuk dibatalkan kelulusan saya dan saya bersedia melepaskan gelar Magister Teknik, dengan penuh rasa tanggung jawab.

Semarang, 30 Desember 2008

PRIMASTO ARDI MARTONO NIM L4D007014

tempatku bekerja yang mengilhami penulisan Tesis ini.Dalam hidup ini baiknya bukan untuk melebihi orang lain. Amien . tetapi untuk menjadi diri kita yang lebih baik dari hari kemarin Kupersembahkan Tesis ini untuk: Badan Penanaman Modal Provinsi Jawa Tengah. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan Kerjasama Regional Kedungsepur.

jasa ataupun manusia. hal ini mengindikasikan terjadi potensi yang cukup besar bagi pengembangan industri pengolahan hasil pertanian di wilayah Kedungsepur. Keterkaitan antar daerah pada industri pengolahan hasil pertanian tersebut berpeluang terjadi antara Kota Semarang. Kemudian dilakukan identifikasi keterkaitan antar daerah di wilayah Kedungsepur melalui keterkaitan ekonomi dan keruangan yang merupakan penelitian dengan penggabungan kedua identifikasi sebelumnya.. Input-Output . Dengan demikian wilayah ini direncanakan sebagai pusat pertumbuhan nasional.ABSTRAK Wilayah Kedungsepur merupakan Kawasan Tertentu yang terdapat di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN). Besarnya aliran tersebut akan menentukan besarnya keterkaitan antar daerah. Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang dan Kabupaten Grobogan. Sebagai akibat dari adanya keterkaitan antar daerah dalam wilayah Kedungsepur adalah terjadinya aliran barang. diantaranya dengan menggali sektor-sektor potensial lintas daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antar sektor ekonomi dan keterkaitan antar daerah dalam perekonomian wilayah Kedungsepur. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa Sektor Industri merupakan sektor yang paling berperan karena merupakan pemberi input bagi sektor-sektor lainnya. maka diperlukan adanya kerjasama antar daerah di wilayah Kedungsepur. kependudukan dan ekonomi. Sektor Ekonomi. Sektor Pertanian dan Industri memiliki keterkaitan langsung ke depan yang cukup besar.     Kata Kunci: Keterkaitan. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut. Pendekatan ini dilakukan dengan cara memandang wilayah Kedungsepur sebagai wilayah nodal yang masing-masing bagian wilayah memiliki karakteristik yang berbeda dan wilayah-wilayah tersebut saling terkait sesuai dengan spesialisasi wilayah. dilakukan pengidentifikasian wilayah Kedungsepur yang meliputi: identifikasi karakteristik fisik. Identifikasi yang kedua adalah identifikasi sektor basis yaitu sektor yang dapat diandalkan potensinya dibandingkan dengan daerah-daerah sekitarnya dan memilki keunggulan komperatif yang merupakan faktor penentu bagi peningkatan pendapatan suatu daerah. Usaha-usaha yang dilakukan dalam mendorong terjadinya kerjasama antar daerah tersebut sangat diperlukan. Alat analisis yang digunakan adalah analsis Location Quotient (LQ) dan analisis Input-Output. dengan menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Keterkaitan antar daerah dalan bidang usaha yang lain yaitu: Keterkaitan antar daerah dalam industri tekstil dan produk tekstil berpeluang terjadi antara Kabupaten Semarang. Kota Semarang dan Kota Salatiga. Identifikasi ini untuk mengetahui potensi wilayah yang dapat menunjang interaksi antara daerah kabupaten/kota di wilayah Kedungsepur. keterkaitan antar daerah dalam industri otomotif dan komponen elektronik berpeluang terjadi antara Kota Semarang dan Kabupaten Kendal. Guna mendorong terjadinya pertumbuhan wilayah secara lebih optimal.

is to identify the basic sector. Based on the result. Other linkages such as: the linkage between Semarang District. it is known that Industrial sector plays the main role since it supplies input for other sectors. it is needed the solid relationship interregion in Kedungsepur Region. Semarang City and Salatiga City in textile and garment industry and the linkage between Semarang City and Kendal District in automotive and electronic parts industry. Kendal District. Semarang District and Grobogan District in agriculture processing industry. Next. that is such sector which can be counted on than those found in other regions. or human resource. . This study applied Location Quotient (LQ) and Input-Output analysis. There is a significant linkage between Semarang City. This approach was carried out by observing Kedungsapur as the nodal region in which each region has its own characteristic. Besides. Keywords: Linkages. In encouraging the region development optimally. This study aims to review the linkage across the economic sectors and the linkage across the region within the economy of Kedungsapur Region. As a result of this linkage within Kedungsapur Region is the flow of goods. service. Such flow will determine the linkage inter-region In reaching the aim. Besides. Economic Sector. This also applied both qualitative and quantitative approach.ABSTRACT Kedungsepur is a Particular Region which is included in the National Spatiai Planning. second identification. citizenship and economic factor. it has the comparative excellence which can be said as the determinant factor for the development of in cane of such region. for example is by discovering the potential sectors across the region. the identification of correlation found in Kedungsepur Region through the previous combination. besides each region is linked one and another based on its region’s specialization. Input-Output. the Agriculture and Manufacturing Industry Sectors have forward linkage which indicates that there is great potency of agriculture processing industry in Kedungsepur Region. this region is planned to be the center of national growth. This identification aimed at recognizing the potency which support the interaction among the region/city in Kedungsepur. Such efforts in supporting the relationship. it is needed to do such identification which includes: identification of physical characteristics. Therefore.

12. Bapak Bening selaku Ketua FEDEP Kabupaten Demak atas kesediaan waktu dalam wawancara serta masukan dalam penelitian ini. Bapak Ir. Bapak Dr. MDP selaku Pembimbing Utama yang telah banyak memberikan arahan dan masukan selama penelitian ini. Atas selesainya penyusunan Tesis ini tidak lupa saya sampaikan terimakasih kepada: 1. 6. Msi. Ibu Sri Rahayu. Mukti Ali. Agus Suryono. Kepala Pusat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan PerencanaBAPPENAS yang telah memberikan beasiswa untuk menempuh studi di MTPWK . Ir. 10. Lies Suryani serta anak-anakku Natya dan Daiva yang telah banyak memberikan pengorbanan waktu serta semangat dan doa selama menempuh studi di MTPWK-UNDIP. 4. MT selaku Penguji I yang telah banyak memberikan arahan dan masukan selama penelitian ini. 11. Bapak Dr. Bapak Didik Sukmono selaku Ketua Himpunan Kawasan Industri Kota Semarang atas kesediaan waktunya dalam wawancara dan memberikan masukan dalam penelitian ini. MSc selaku Ketua Program Studi MTPWK. 3. 7. Bapak Ir. SSi. Jawoto Sih Setyono. SU selaku Penguji II yang telah banyak memberikan arahan dan masukan selama penelitian ini. Bapak Drs.UNDIP Semarang. 9. Harapan saya hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembangunan ekonomi di Jawa Tengah umumnya serta mampu memberikan masukan bagi daerah Kabupaten/Kota di wilayah Kedungsepur dalam meningkatkan kerjasama regional. SE. . MM selaku Kepala Badan Penanaman Modal Daerah Provinsi Jawa Tengah atas segala bimbingan dan masukan dalam penelitian ini. Istri tercinta. H.UNDIP 2. Joesron Alie Syahbana. Solichedi selaku Ketua KADINDA Jawa Tengah atas segala masukan dalam penelitian ini. 5. Msi selaku Pembimbing Pendamping yang telah banyak memberikan arahan dan masukan selama penelitian ini. Syafrudin Budiningharto. 8. Bapak M. Kepala Bidang Perekonomian BAPPEDA Provinsi Jawa Tengah atas segala masukan dan memperoleh akses data dalam penelitian ini. Tesis ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan Program Studi Magister Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota. karena atas rahmat dan karuniaNya penyusunan Tesis dengan judul “Keterkaitan Antar Sektor Ekonomi dan Antar Daerah di Wilayah Kedungsepur” dapat terselesaikan.KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT.

Teman-teman di MTPWK-UNDIP atas segala bantuan dan dukungannya sehingga dapat terselesaikannya penelitian ini. Tesis ini jauh dari sempurna. MM selaku Kabag Tata Pemerintahan Setda Kabupaten Semarang atas kesediaan waktu dalam wawancara serta masukan dalam penelitian ini. 15. Bapak Putut Cahyo Nugroho selaku Kabag. Semua pihak yang telah terlibat dan mendukung penelitian ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Semarang. Desember 2008 Penulis .13. Dengan segala keterbatasan yang ada. SH. 16. Ibu Endang Ani Suesti. Teman-teman di Kantor Badan Penanaman Modal Daerah Provinsi Jawa Tengah atas segala bantuan dan dukungannya sehingga dapat terselesaikannya penelitian ini 17. Untuk itu masukan dan kritik membangun sangat diharapkan bagi perbaikan dimasa mendatang. Pemerintahan Umum Setda Kota Semarang atas kesediaan waktu dalam wawancara serta masukan dalam penelitian ini. 14.

.............................................................................................................2...........1... 1.............................................................................. DAFTAR TABEL ... ABSTRACT .....10........................................ 1..............................................................................3 Analisis Input-Output . 1..................... 1....................................................................................2 Analisis Location Quotient (LQ) ...........................3.......2 Perumusan Masalah .............................................................................. DAFTAR GAMBAR .................................1.............................2 Sasaran Penelitian ................ BAB I PENDAHULUAN .........................................1 Latar Belakang ..................................9 Teknik Pengumpulan Data ..............................................................................4............................... 30 2...................... 1........................ DAFTAR LAMPIRAN ..............................4 Sektor Ekonomi Potensial .. 1................................................2 Perencanaan Pengembangan Wilayah....1 Wilayah.........1..................................... 1............................. 30 2.....................7 Kerangka Analisis......................... 1......... 1.......... 1........................................................2 Konsep Perwilayahan ..................................................1 Pengertian Wilayah dan Daerah ........................... 1................ 1............ 34 2.. 1........................ 36 2....................1 Tujuan Penelitian ..........6 Pendekatan Penelitian ...........3 Pembangunan Ekonomi Lokal dan Pembangunan Ekonomi Regional ....... 1......................................................................................... 1...... 30 2................. 1...................................................................4 Ruang Lingkup ............................................................................................... 1.......................... 30 2.................................... Perwilayahan dan Pengembangan Wilayah.........11 Sistematika Penulisan ....................................5 Kerangka Pemikiran .......3...........2 Ruang Lingkup Wilayah .......1......................................................................................................................................................................................................2........................ ABSTRAK ............................ LEMBAR PERNYATAAN ......... 38 .... DAFTAR ISI ............. 36 2..................................... 1...............................................................10....................................................................................... i ii iii iv v vi vii ix xii xiv xv 1 1 6 6 6 7 7 7 8 10 12 14 17 17 20 22 22 24 28 BAB II PERWILAYAHAN DAN INTERAKSI EKONOMI ..........................................10 Teknik Analisis Data ..... LEBBAR PERSEMBAHAN .....................................................................................1 Pengertian Pembangunan Wilayah ................................................................. 33 2............................................................................................................4............................................................... KATA PENGANTAR ...........................1 Analisis Statistik Deskriptif ................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................3 Tujuan dan Sasaran Penelitian ...................1 Ruang Lingkup Substansial .....................................................10.................................2 Konsep Perencanaan Pembangunan Daerah ........................................................................................................ LEMBAR PENGESAHAN ...8 Kebutuhan Data ......................................

...........4 Kondisi Geologi ..................1............................................................2... 3..................... 3.............................................................................2.................4 Sintesis Kajian Pustaka .......4..........2 Kerangka Teoritis Penelitian ...................2......................... 47 2..2............................ 57 57 57 58 61 62 62 63 64 64 64 64 65 65 67 71 71 74 77 78 80 83 83 86 87 89 89 94 98 98 99 100 ... 3............................................................1 Letak Administrasi dan Kedudukan Geografis Kawasan Kedungsepur .................................................1 Geomorfologi ...................1 Kondisi Topografi dan Morfologi .. 3........................................................ Transportasi Laut .......................................................1 Kaitan Intrasektoral dan Antarsektor ...... 3.........3 Kondisi Hidrologi .................................................4 Kondisi Perekonomian ............................................................................................................................................4..5.............2 Potensi Pemanfaatan Ruang ............................3 Struktur Geologi ............3 Struktur Penduduk.....3...................... 3.............4.... 3........................3 Transportasi Udara .................................3...................5 Potensi Sumber Daya Alam ........................................ 48 2.......................................1 Jumlah Penduduk ...........................................3.............................................. 3...........................4..................... 47 2.......................... 44 2........................3 Keterkaitan Antar Wilayah ......................................2 Posisi Strategis Kawasan Kedungsepur .............................. 3................ 3..2......... 3.....5 Potensi Sumber Daya Manusia .......................3 Sistem Perkotaan dan Kawasan Tertentu dalam Lingkup Provinsi Jawa Tengah ......................... 3....3 Potensi Ekonomi . 3..................4.....................................2 Kaitan Antar Daerah ...................... 3. 3.... 3.....1 Ringkasan .............3............................................................................ 51 2...........................................................6 Kondisi Sistem Transportasi ............5... 3..2.........................................3.......... 3............................. 3............4.6...............3 Kondisi Kependudukan .............. 3.......... 3................6.................. 3..................2..... Pertumbuhan Ekonomi ............................4..........2 Kondisi Klimatologi ...........2....3.3....................................................... 51 2............ 3......................................1 Struktur Ekonomi ... 40 2..........2 Kondisi Fisik Dasar ................2...............3 Kajian Pertumbuhan Wilayah ......................2..........4 Jenis Tanah .....5 Pemanfaatan Ruang .. 3............2................61 Transportasi Darat ........ 3.............................2...........2..... 3................. 3...................... 3......4......................................................4....4 Penduduk berdasarkan Lapangan Pekerjaan Utama ......2 Stratigrafi ....1.... 3......... 3.........................................2...............................2...................1........................... Distribusi dan Kepadatan Penduduk ....... 55 BAB III GAMBARAN UMUM DAN POTENSI WILAYAH KEDUNGSEPUR ..................................................1 Lokasi dan Posisi Kawasan Kedungsepur .............................................1 Kondisi Pemanfaatan Ruang ................. 3....4 Paradigma Baru Pembangunan Wilayah ....................................................

..... 117 4..................... 135 LAMPIRAN ..........5 Temuan Studi ................................................... 132 DAFTAR PUSTAKA ....................4 Keterkaitan Antar Daerah ...... 127 BAB V PENUTUP ..........................................1 Kesimpulan ......................................2 Interaksi Ekonomi .................2 Rekomendasi .......................................................................................................................BAB IV ANALISIS KETERKAITAN ANTAR SEKTOR EKONOMI DAN ANTAR DAERAH DI WILAYAH KEDUNGSEPUR .......................1 Analisis Sektor Basis .....................................................................................................................................................................................3 Keterkaitan ke Depan dan Keterkaitan ke Belakang..................................................................................................................... 130 5................ 130 5.... 103 4......................... 119 4... 139 ...................... 103 4........................................................................................ 112 4.......................

.....................4 : Jumlah.......................................... 79 TABEL III...................... 51 2005 .................. 83 TABEL III............................2 : Jenis Tanah di Wilayah Kedungsepur ..............1 : Hasil Analisis Location Quotient di Wilayah Kedungsepur Tahun 2005 .......................................2 TABEL II.DAFTAR TABEL TABEL I............................... 94 TABEL IV.............................................................. 113 65 TABEL III.................5 : Persentase Penduduk Wilayah Kedungsepur Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2005 .........3 : Koefisien Input Wilayah Kedungsepur Tahun 2004 ......4 : Prosentase Penerimaan Input Sektoral Dalam Tabel Koefisien Input Wilayah Kedungsepur Tahun 2004 (%) ..9 : Pemanfaatan Ruang di wilayah Kedungsepur (Ha) Tahun 2005 ........ 72 TABEL III.......... Laju Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk di Wilayah Kedungsepur Tahun 2005 ..............................1 : PDRB Wilayah Kedungsepur Tahun 2005 Menurut Harga Konstan Tahun 2000 .......................................................... TABEL III............. 63 TABEL III.....................1 : Curah Hujan dan Hari Hujan di Kawasan Kedungsepur Tahun TABEL III...............................................8 : Rata-Rata Kontribusi Sektor Ekonomi Terhadap PDRB Wilayah Kedungsepur Tahun 2005 (%) ........ 108 TABEL IV................................................................ 115 109 TABEL IV............. 84 TABEL III....6 : Penduduk Berumur 10 Tahun ke atas Yang Bekerja Menurut Kabupaten/Kota dan Lapangan Pekerjaan Utama di Wilayah Kedungsepur Tahun 2005 ............. 4 : Kebutuhan Data ................................................1 TABEL I..............2 : Rata-Rata Pertumbuhan PDRB Tiap Sektor Tahun 2001-2005 di Wilayah Kedungsepur dan Nilai Perbandingannya dengan Jawa Tengah ................. 68 ... TABEL IV...................................................................................................3 : Potensi Cekungan Air Tanah di Wilayah Kedungsepur .................... 18 : Sintesis Kajian Pustaka Perwilayahan dan Interaksi Ekonomi .............7 : Indeks Pembangunan Manusia Wilayah Kedungsepur ....... 78 TABEL III.............................

................................... 117 .................5 : Keterkaitan ke Depan dan Keterkaitan ke Belakang Wilayah Kedungsepur Tahun 2004 ..TABEL IV............

..................................5 GAMBAR 4..............................6 GAMBAR 3.. 23 : Matriks Tabel Input-Output ....2 GAMBAR 3.................2 GAMBAR 4... 16 : Komponen Dalam Analisis Data (Interactive Model) .... 9 : Kerangka Pemikiran .............1 GAMBAR 1......................................DAFTAR GAMBAR GAMBAR 1................... 120 : Peta Keterkaitan Antar Sektor Ekonomi dan Antar Daerah Wilayah Kedungsepur ..........................3 GAMBAR 4...................................4 GAMBAR 1........................................................5 GAMBAR 1... 66 : Grafik Laju Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Kedungsepur Tahun 2001-2005 ............. 102 : Pengelompokan Sektor Kabupaten/Kota di Wilayah Kedungsepur ...................3 GAMBAR 1....3 GAMBAR 3............................................... 95 : Peta Jaringan Transportasi Wilayah Kedungsepur ....................................... 21 : Pengelompokan Sektor Menurut Nilai Location Quotient (LQ) dan Nilai Perbandingan Rata-Rata Pertumbuhan (NP) ...1 GAMBAR 4............. : Pengelompokan Sektor dalam Keterkaitan ke Depan dan Keterkaitan ke Belakang Wilayah Kedungsepur Tahun 2004 ....2 GAMBAR 1................ 88 : Peta pola Pemanfaatan Lahan Wilayah Kedungsepur ..............................4 : Peta Administrasi Wilayah Kedungsepur ......... 87 : Perbandingan PDRB Kabupaten/kota Dengan Wilayah Kedungsepur dan Jawa Tengah Tahun 2005 ................................... 26 : Peta Jenis Tanah Wilayah Kedungsepur ..... : Penerimaan Input Sektoral Terbesar Dalam Tabel Koefisien Input Wilayah Kedungsepur .............................................................. 11 : Diagram Kerangka Analisis ..... 129 116 110 .....1 GAMBAR 3.4 GAMBAR 3......................................................

.................................... Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Wilayah Kedungsepur Tahun 2002 (Juta Rupiah) ....... 163 Tabel Input-Output Jawa Tengah Kjlasifikasi 19 Sektor Tahun 2004 (Jutaan Rupiah) ...... 175 174 170 171 172 173 ....................................................................... 166 Perbedaan Klasifikasi 9 Sektor dan 19 Sektor Tabel Input-Output Regional Jawa Tengah 2004 ... 140 Laporan Hasil wawancara Dengan Kepala BPMD Provinsi Jawa Tengah Tanggal 14 Oktober 2008 ...................................................................................................................................... 139 Pedoman Wawancara Dengan Kadin/Asosiasi Usaha ........................................................................................................................................... 141 Laporan Hasil wawancara Dengan Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Provinsi Jawa Tengah Tanggal 27 Oktober 2008 . Tabel Input-Output Wilayah Jawa Tengah 9 Sektor (Juta Rupiah) Tahun 2004 .....DAFTAR LAMPIRAN Pedoman Wawancara Dengan Instansi Pemerintah ........................................................................................................................................... 144 Laporan Hasil wawancara Dengan Kepala Bagian Pemerintahan Umum Setda Kota Semarang Tanggal 10 Nopember 2008 .................. Analisis Location Quotient (LQ) .......................... Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Wilayah Kedungsepur Tahun 2001 (Juta Rupiah) ............................... 147 Laporan Hasil wawancara Dengan Kepala Bagian Tata Pemerintahan Setda Kabupaten Semarang Tanggal 2 Desember 2008 ............. 157 Laporan Hasil wawancara Dengan Ketua FEDEP Kabupaten Demak Tanggal 20 Nopember 2008 ...................................................................................................................................................................... 160 Analisis Input-Output ........................................................ Tabel Koefisien Input Wilayah Jawa Tengah Tahun 2004 ....................................................... 153 Laporan Hasil wawancara Dengan Ketua Himpunan Kawasan Industri Kota Semarang Tanggal 28 Nopember 2008 ................ 150 Laporan Hasil wawancara Dengan Ketua Kadinda Jawa Tengah Tanggal 15 Nopember 2008 .......................................................

...................... 96 Pedoman Wawancara Dengan KADIN/Asosiasi Usaha .....................Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Wilayah Kedungsepur Tahun 2003 (Juta Rupiah) ... 97 .................................... Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Wilayah Kedungsepur Tahun 2004 (Juta Rupiah) ................................................................................................................................................... 178 179 177 176 DAFTAR LAMPIRAN Pedoman Wawancara Dengan Instansi Pemerintah .................................................. Riwayat Hidup Penulis ... Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Wilayah Kedungsepur Tahun 2005 (Juta Rupiah) ................................

33 Tahun 2004 tentang “Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah” telah memberi kewenangan yang lebih besar kepada daerah untuk melaksanakan pemerintahannya serta mengatur wilayahnya. sumber daya manusia dan sumber daya teknologi (Mehrtens dan Abdurahman. 1 . sudah saatnya daerah otonom harus menggali semua potensi yang dimilikinya. sumber daya manusia maupun pengelolaan keuangan. baik dalam pengaturan sumber daya alam. Pelimpahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah atau biasa disebut dengan desentralisasi berimplikasi pada munculnya daerah otonom. 32 tahun 2004 tentang ”Pemerintahan Daerah” dan Undang-Undang No. Pada tahap awal.1 Latar Belakang Undang-Undang No. 2007).BAB I PENDAHULUAN 1. Guna menuju kemandirian. Selain dampak positif tersebut di atas. otonomi daerah juga dapat menimbulkan dampak negatif berupa ego sektoral daerah. Guna mengantisipasi dampak negatif tersebut. pemerintah Kabupaten/Kota harus mampu mengidentifikasi tiga pilar pengembangan wilayah yang dimilikinya yaitu potensi sumber daya alam. birokrasi daerah yang terlalu tinggi serta euforia daerah yang merasa tidak memerlukan lagi pemerintah pusat ataupun daerah lain. Otonomi daerah khususnya di Kabupaten/Kota diharapkan dapat memberikan dampak positif karena daerah otonom dapat dengan leluasa mengoptimalkan pemanfaatan potensi yang dimilikinya guna mensejahterakan masyarakatnya.

Kabupaten Kendal. Kerjasama Regional Sapta Mitra Pantura yang meliputi kabupaten/kota di wilayah pantai utara Jawa Tengah yaitu: Kabupaten Batang. Klaten. Banyumas. Sragen. Purbalingga. Kemudian pada tanggal 15 Juni 2005 dilakukan perpanjangan nota kesepahaman (MoU) yang baru yang berisi kesepakatan . Di Jawa Tengah ada beberapa kerjasama regional yang telah terbentuk. Kedungsepur merupakan Kawasan Tertentu yang terdapat di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN). Kerjasama regional wilayah Kedungsepur sangat diperlukan guna meningkatkan daya saing yang lebih besar. Brebes. Pemalang. Pekalongan. Kabupaten Kendal. Kota Salatiga. Cilacap dan Kebumen. Kota Pekalongan dan Kota Tegal.Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong setiap Kabupaten/Kota untuk melakukan kerjasama antar wilayah/regional dalam rangka meningkatkan daya saingnya di perekonomian global. Solo Raya yang terdiri dari Kota Surakarta. Dengan demikian wilayah ini direncanakan sebagai pusat pertumbuhan nasional. Kabupaten Demak dan Kabupaten Grobogan. Kabupaten Semarang. Kabupaten Semarang. Boyolali dan Sukoharjo dan yang terakhir adalah Kerjasama Regional Kedungsepur yang terdiri dari Kota Semarang. seperti: Kerjasama Regional Barlingmascakeb yang meliputi wilayah Kabupaten Banjarnegara. Kabupaten Karanganyar. Wonogiri. Namun demikian kerjasama tersebut tidak berjalan efektif hingga perjanjian kerjasama tersebut telah habis masa berlakunya pada 20 Desember 2003. Kota Salatiga. Kabupaten Demak dan Kabupaten Grobogan). Kerjasama Regional Kedungsepur telah dijalin sejak 21 Desember 1998 dengan penandatanganan MoU oleh Bupati/Walikota di 6 (enam) wilayah (Kota Semarang. Tegal.

000. kependudukan. pembangunan sarana dan prasarana. terjadinya kesenjangan antar daerah diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap masalah tersebut di atas. Kesenjangan yang terjadi antar dearah akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah Kedungsepur. (Suara Merdeka. lingkungan hidup. kebersihan dan kesehatan. Kesenjangan terjadi antara kota Semarang sebagai pusat pertumbuhan dengan daerah hinterland-nya maupun antar daerah kabupaten/kota hinterland itu sendiri. 16 Juni 2005).-. Kerjasama regional Kedungsepur yang belum berjalan secara efektif tersebut kemungkinan terjadi karena masing-masing daerah kabupaten/kota belum memiliki kesatuan dan kesamaaan pandangan dalam melihat potensi yang dimiliki secara bersama. ketenagakerjaan. hal ini dapat dilihat dari kontribusi setiap kabupaten/kota terhadap PDRB Kedungsepur.747. pendidikan dan kebudayaan. pertanian dan pengairan.1 menunjukkan bahwa kota Semarang sebagai pusat pertumbuhan memberikan kontribusi terbesar bagi PDRB Kedungsepur dibandingkan dengan wilayah sekitarnya yaitu sebesar 52.menjalin kemitraan di bidang tata ruang.49%. Selain itu. nampak bahwa Kabupaten Kendal dan kabupaten Semarang memberikan kontribusi yang lebih besar dibanding dengan kota Salatiga. Disamping itu jika dilihat PDRB antar kabupaten/kota hinterland Semarang. Tabel I. Sedangkan Kabupaten/kota yang lain hanya memberikan kontribusi sebesar 2.942. industri dan perdagangan. kabupaten Demak dan Kabupaten Grobogan. 30.48% hingga 14. perhubungan dan pariwisata. masalah sosial.230. . serta keamanan dan ketertiban.88% dari total PDRB Kedungsepur tahun 2005 sebesar Rp.

38 766. 2002). alam.283.10 4. teknologi dan keuangan.470.38 2. maka diperlukan suatu kajian potensi masing-masing Kabupaten/Kota di wilayah Kedungsepur dan keterkaitan antar sektor ekonomi serta keterkaitan antar daerah sehingga diharapkan dapat mendorong tumbuhnya ekonomi regional.942.841.23 % 52.00 Sumber: Jawa Tengah Dalam Angka 2006.279. Senada dengan hal tersebut. Kaitan intrasektoral (kaitan antar perusahaan dalam sektor yang sama) dan kaitan antar sektor adalah suatu cara untuk melihat eksternalitas aglomerasi. Mehrtens dan Abdurahman (2007) menggambarkan bahwa faktor-faktor yang mendorong suatu kerjasama meliputi: faktor keterbatasan daerah (kebutuhan): hal ini dapat terjadi dalam konteks sumber daya manusia.28 4.34 14.00 2.794. Semarang Kab.862.88 2.48 13.361. Keterkaitan ekonomi pada dasarnya menggambarkan hubungan antara perekonomian suatu daerah dengan lingkungan sekitarnya dan eksternalitas aglomerasi dipandang sebagai faktor penentu yang penting dalam konsentrasi geografis kegiatan ekonomi di daerah perkotaan.83 8. baik yang dipicu oleh input (pemasok) ataupun output (pelanggan) (Kuncoro.484.49 7.747. Demak Total PDRB (Juta Rp) 16. data diolah Guna mendorong terjadinya kerjasama antar daerah secara lebih efektif. Grobogan Kab.777.09 30.579.98 100.1 PDRB WILAYAH KEDUNGSEPUR TAHUN 2005 MENURUT HARGA KONSTAN TAHUN 2000 Kab/Kota Kota Semarang Kota Salatiga Kab. faktor kesamaan kepentingan: adanya persamaan visi pembangunan dan memperbesar peluang .TABEL I. Kendal Kab.189.

Selain itu. namun fungsi dan perannya adalah sama yaitu sebagai platform pelaksana teknis amanat kesepakatan regional yang telah disetujui oleh masing-masing DPRD terkait. fungsi dan tugas masingmasing daerah dengan mekanisme yang disepakati. Sesuai dengan Undang-Undang 32 Tahun 2004 Bab IX pasal 78 disebutkan bahwa Pemeritah Daerah dapat melakukan kerjasama dengan pihak lain atas dasar prinsip saling menguntungkan dan kerjasama tersebut ditetapkan oleh masing-masing daerah terkait melalui Peraturan Daerah dan masuk dalam APBD. Visi dan misi umum kerjasama antar daerah yang tertuang pada SKB dapat dipertegas kembali dan dijabarkan melalui program dan kegiatan bersama yang menjadi salah satu tugas penting Sekretariat Bersama.memperoleh keuntungan. Daerah yang bekerjasama dapat menuangkan kesepakatan mereka melalui Surat Keputusan Bersama (SKB). baik finansial maupun non-finansial. faktor sinergi antar daerah: tumbuhnya kesadaran bahwa dengan kerjasama antar daerah dapat meningkatkan dampak positif dari berbagai kegiatan pembangunan yang semula sendiri-sendiri menjadi suatu kekuatan regional. Di dalam SKB tersebut dapat dituangkan pengelolaan melalui Sekretariat Bersama (Sekber). peran. . dituangkan pula latar belakang. Informasi mengenai potensi wilayah yang ada pada masing-masing kabupaten/kota sangat berguna dalam menentukan sektor unggulan serta mengkaji bagaimana keterkaitan antar sektor ekonomi dan antar daerah daerah di wilayah Kedungsepur. Dengan diketahuinya potensi ekonomi yang bersifat antar daerah diharapkan mampu mendorong terciptanya kerjasama regional di Kedungsepur yang lebih efektif dalam rangka peningkatan ekonomi regional. maksud dan tujuan kerjasama.

Belum adanya kerjasama yang sistematis antar daerah Kabupaten/Kota di Wilayah Kedungsepur dalam menggali potensi ekonomi kewilayahan. Hal ini disebabkan antara lain: 1. 3.3. Hal tersebut sangat penting sebagai pedoman dalam menggali keterkaitan antar sektor ekonomi dan keterkaitan antar daerah di wilayah Kedungsepur. melainkan merupakan suatu sistem yang saling berhubungan. Terjadinya kesenjangan perekonomian antara wilayah Kota Semarang sebagai pusat pertumbuhan dengan wilayah sekitarnya. 1.3 Tujuan dan Sasaran Penelitian 1.1 Tujuan Penelitian Sesuai dengan perumusan masalah dan research question tersebut.1. belum melihat potensi kekuatan yang lebih besar jika melakukan kerjasama. 2. Daerah kabupaten/kota di Wilayah Kedungsepur masih menunjukkan adanya ego sektoral. Berdasarkan uraian tersebut maka perumusan masalah penelitian adalah bahwa potensi Wilayah Kedungsepur belum digali secara optimal dalam rangka meningkatkan perekonomian regional. Dari perumusan masalah di atas maka pertanyaan studi (research question) dalam penelitian ini adalah: Bagaimana keterkaitan antar sektor ekonomi dan keterkaitan antar daerah mampu mendorong tumbuhnya kerjasama regional di wilayah Kedungsepur. maka .2 Perumusan Masalah Perekonomian wilayah bukan lagi merupakan kumpulan sektor-sektor unggulan.

2. Sektor Unggulan.2 Sasaran Penelitian Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut. Keterkaitan antar sektor ekonomi dan keterkaitan antar daerah di wilayah Kedungsepur. 2.4. 1.1.3. Potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di wilayah Kedungsepur. Sektor Strategis Merupakan sektor yang telah di analisis berdasarkan prioritas untuk dikembangkan karena di anggap memberikan keuntungan dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi regional. Adalah sektor yang memiliki keunggulan. memiliki prospek yang lebih . Sektor unggulan yang merupakan faktor penentu pendapatan di kabupaten/kota wilayah Kedungsepur. Merupakan sektor-sektor riil yang perlu dikembangkan agar perekonomian daerah tumbuh lebih cepat. Ruang Lingkup Substansial Ruang lingkup substansial meliputi: 1.4. 1. Sektor ekonomi. Ruang Lingkup 1. maka sasaran penelitian yang akan dilakukan adalah untuk mengidentifikasikan: 1. 3.tujuan penelitian ini adalah mengkaji keterkaitan antar sektor ekonomi dan keterkaitan antar daerah dalam perekonomian Wilayah Kedungsepur. 3.

meliputi 14 kecamatan. Kabupaten Demak. Magelang dan Temanggung. Untuk memberikan gambaran tentang ruang lingkup wilayah dapat dilihat pada Gambar I.2. : Kabupaten Pati. 4. Kota Semarang. 16 kelurahan 6. 247 desa. meliputi 19 kecamatan. Blora dan Kudus. 265 desa dan 20 kelurahan. meliputi 4 kecamatan. 280 desa. . Keterkaitan. : Kabupaten Sragen. 220 desa dan 15 kelurahan. 1.4. 117 kelurahan 5.1 tentang Peta Administrasi Wilayah Kedungsepur. Kabupaten Semarang. 3. Menggambarkan hubungan antara perekonomian suatu daerah dengan lingkungan sekitarnya.baik untuk dikembangkan dan diharapkan dapat mendorong sektor-sektor lain untuk berkembang. Kabupaten Kendal. 4. Kota Salatiga. : Kabupaten Batang. Boyolali. Sedangkan untuk batas-batas wilayah Kedungsepur adalah sebagai berikut: • • • • Sebelah Utara Sebelah Timur Sebelah Barat Sebelah Selatan : Laut Jawa dan Kabupaten Jepara. 2. Kabupaten Grobogan. Ruang Lingkup Wilayah: Lingkup wilayah studi meliputi seluruh wilayah Kedungsepur yang terdiri atas: 1. meliputi 19 kecamatan. meliputi 16 kecamatan. meliputi 17 kecamatan.

1 PETA ADMINISTRASI WILAYAH KEDUNGSEPUR .1 UTARA SUMBER BAPPEDA PROVINSI JAWA TENGAH 1. SKALA 1.MAGISTER PEMBANGUNAN WILAYAH DAN KOTA PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG TESIS: KETERKAITAN ANTAR SEKTOR EKONOMI DAN ANTAR DAERAH DI W ILAYAH KEDUNGSEPUR PETA ADMINISTRASI W ILAYAH KEDUNGSEPUR LEGENDA Wilayah Perairan No.

masih adanya ego sektoral dan belum melihat potensi yang lebih besar jika melakukan kerjasama antar daerah serta terjadinya kesenjangan perekonomian antara wilayah kota Semarang sebagai pusat pertumbuhan dengan wilayah sekitarnya. Dengan diketahuinya keterkaitan tersebut di atas. kerjasama regional di bidang ekonomi sampai saat ini belum dapat berjalan secara efektif hal ini disebabkan karena belum adanya kerjasama yang sistematis antar daerah Kabupaten/Kota di Wilayah Kedungsepur dalam menggali potensi ekonomi kewilayahan. diharapkan dapat memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai hubungan antar sektor dalam suatu wilayah dan transaksi antar daerah diantara beberapa sektor. Guna memberikan motivasi yang lebih besar kepada Kabupaten/Kota di wilayah Kedungsepur.5 Kerangka Pemikiran Kajian ini dilatarbelakangi oleh inisiatif Pemerintah Kabupaten/Kota di Wilayah Kedungsepur untuk melakukan kerjasama pengembangan regional. Hasil dari analisis ini diharapkan dapat digunakan untuk mengetahui bacward linkage yang merupakan daya tarik terhadap sumber bahan baku dan forward linkage yang merupakan daya tarik terhadap pasar dari setiap sektor sehingga mudah menetapkan sektor mana yang dijadikan sebagai sektor strategis dalam perencanaan pembangunan perekonomian wilayah Kedungsepur.1. Dalam perkembangan selanjutnya. . Salah satu sektor yang dikerjasamakan adalah sektor ekonomi. dilakukan penelitian tentang sektor apa saja yang menjadi sektor unggulan dengan melihat potensi dan karakteristik masing-masing wilayah kabupaten/kota serta meneliti lebih jauh bagaimana keterkaitan antar sektor ekonomi dan keterkaitan antar daerah dalam perekonomian wilayah Kedungsepur.

2 KERANGKA PEMIKIRAN .11 Kerjasama Regional dalam rangka meningkatkan daya saing perekonomian global Kerjasama Regional Kedungsepur Belum ada kerjasama sistematis dalam menggali potensi ekonomi Adanya ego sektoral serta belum melihat potensi yang lebih besar jika melakukan kerjasama Terjadi kesenjangan perekonomian antar wilayah Perekonomian wilayah masih berupa kumpulan sektorsektor unggulan yang tidak saling berhubungan Latar Belakang Bagaimana keterkaitan antar sektor ekonomi dan keterkaitan antar daerah mampu mendorong tumbuhnya kerjasama regional di wilayah Kedungsepur Research Question Mengkaji keterkaitan antar sektor ekonomi dan antar daerah di Wilayah Kedungsepur Identifikasi PDRB Identifikasi Potensi wilayah Analisis LQ Sektor Unggulan Analisis Deskriptif Statistik Analisis Input-Output dan Diskriptif Kualitatif Proses Keterkaitan sektor ekonomi dan keterkaitan antar daerah Kesimpulan dan Rekomendasi Output GAMBAR 1.

sempit dan reduksionistik. Pendekatan kuantitatif diidentifikasikan sebagai proses kerja yang berlangsung secara ringkas. Penelitian kuantitatif akan mereduksi hal-hal yang dapat membuat bias.6 Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif.12 Selain itu hasil dari analisis ini dapat digunakan untuk perencanaan pembangunan ekonomi wilayah karena bisa melihat permasalahan secara komprehensif. Peneliti kualitatif bermaksud untuk memberi makna atas fenomena secara holistik dan harus menerapkan dirinya secara aktif dalam keseluruhan proses studi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar I. Dalam penelitian kualitatif.2 1. antara lain melalui penggunaan instrumen yang telah di uji validitas dan realibilitasnya. Penelitian kuantitatif sangat ketat menerapkan prinsip-prinsip objektivitas yang diperoleh. Jika dalam penelitian muncul adanya bias itu. kedua pendekatan berbeda satu dengan yang lain menurut area permasalahan yang akan di kaji. Analisis tersebut dirangkum dalam analsis Location Quotient (LQ) dan analisis Input-Output yang akan memberikan gambaran yang lebih jelas bagaimana keterkaitan antar daerah yang sekaligus menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi pengembangan dan peningkatan ekonomi di wilayah Kedungsepur. fokus penelitian adalah kompleks dan luas. Menurut Danim (2002). penelitian kuantitatif akan jauh dari kaidahkaidah teknik ilmiah yang sesungguhnya. Reduksionistik melibatkan pembedahan atas keseluruhan menjadi bagian-bagian yang dapat di uji secara kuantitatif. Oleh . misalnya akibat masuknya persepsi dan nilai-nilai pribadi.

2002). sektor basis dan keterkaitan antar sektor ekonomi di Wilayah Kedungsepur. menentukan signifikansi hubungan dan mengidentifikasikan perbedaan antar kelompok. temuan atau hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada situasi populasi. terutama wawancara mendalam (in depth interview) dan peneliti menjadi instrumen utamanya. Sedangkan penelitian kualitatif menggunakan observasi terstruktur dan tidak terstruktur dan interaksi komunikatif sebagai alat pengumpulan data. Generalisasi merupakan aplikasi atas kecenderungan atau tendensi umum yang diidentifikasi melalui sampel studi terhadap populasi tempat diambilnya subjek studi tersebut. Pendekatan pertama yaitu pendekatan kuantitatif dilakukan untuk mengkaji potensi. Analisis statistik data yang diperoleh dilaksanakan untuk mereduksi dan mengorganisasikan data. maka pendekatan penelitian kualitatif digunakan yaitu dengan cara melakukan wawancara mendalam dengan . Peneliti kuantitatif menggunakan instrumen atau alat-alat pengumpul data yang akan menghasilkan data numerik. Sedangkan pendekatan kedua yaitu pendekatan kualitatif digunakan untuk menduga keterkaitan antar daerah di Wilayah Kedungsepur. Data yang dihasilkan merupakan sumbangsih penafsiran peneliti dan lebih banyak subjektif serta tidak ada usaha untuk membuat kontrol dari interaksi tersebut. Data pada penelitian kualitatif berbentuk kata-kata dan dianalisis dalam terminologi respon-respon individual.13 karena itu temuan-temuan dalam studi kualitatif sangat dipengaruhi oleh nilai dan persepsi peneliti (Danim. 2002). Dengan demikian. Pendekatan kedua dipilih karena dalam mengkaji keterkaitan antar daerah tidak tersedia data sekunder. Untuk mengantisipasi kekurangan tersebut. kesimpulan deskriptif atau keduanya (Danim.

7 Kerangka Analisis Keterkaitan antar daerah pada sektor ekonomi pada dasarnya menggambarkan hubungan antara perekonomian suatu daerah dengan lingkungan sekitarnya. Beberapa hal tersebut dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada perekonomian suatu wilayah. yang meliputi para pejabat di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota. spasial ekonomi daerah dengan melihat distribusi barang. pelaku usaha dan ketua Kadin/Asosiasi usaha. Sebagai akibat dari adanya keterkaitan antar daerah dalam wilayah Kedungsepur adalah terjadinya aliran barang. bahan baku serta tenaga kerja serta bagaimana keterkaitan antar sektor-sektor ekonomi yang saling mempengaruhi dalam suatu wilayah. Hubungan perekonomian suatu wilayah dapat dilihat dengan memperhatikan beberapa hal yang meliputi: potensi dan karakteristik wilayah. 2. Pendekatan pertama dilakukan dengan cara memandang wilayah Kedungsepur sebagai wilayah nodal yang masing-masing bagian wilayah memiliki karakteristik yang berbeda dan wilayah-wilayah tersebut saling terkait sesuai dengan spesialisasi wilayah.14 tokoh kunci atau narasumber. . 1. Pendekatan kedua adalah pendekatan keruangan. Besarnya aliran tersebut akan menentukan besarnya keterkaitan antar daerah. sektor-sektor ekonomi basis yang berorientasi meningkatkan pendapatan daerah. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dengan menggunakan kedua pendekatan tersebut adalah sebagai berikut: 1. jasa ataupun manusia.

sebagai berikut: 1. baik dilihat dari kontribusi sektoral terhadap PDRB maupun dilihat dari jumlah penduduk yang bekerja di kedua sektor tersebut. bahan baku dan tenaga kerja. kependudukan dan ekonomi. 3. Identifikasi ini untuk mengetahui potensi wilayah yang dapat menunjang atau menghambat interaksi antara daerah kabupaten/kota di wilayah Kedungsepur. Untuk melihat keterkaitan antar daerah di wilayah Kedungsepur hanya dibatasi pada sektor pertanian dan industri saja.3 . Identifikasi keterkaitan antar daerah dengan menggunakan keterkaitan keruangan yang diperoleh dari aliran distribusi barang. Identifikasi sektor basis yaitu sektor yang dapat diandalkan potensinya dibandingkan dengan daerah-daerah sekitarnya dan memilki keunggulan komperatif yang merupakan faktor penentu bagi peningkatan pendapatan suatu daerah.15 Berdasarkan kerangka analisis di atas dilakukan tahap-tahap analisis untuk mengidentifikasikan keterkaitan sektor ekonomi dan keterkaitan antar daerah pada di Wilayah Kedungsepur. 2. Secara lebih lengkap. Identifikasi potensi Wilayah Kedungsepur yang meliputi: identifikasi karakteristik fisik. tahap-tahap analisis dapat dilihat pada Gambar 1. 4. Identifikasi keterkaitan antar sektor ekonomi yang dapat diketahui dari tabel Input-Output Wilayah Kedungsepur yang diturunkan dari tabel Input-Output Jawa Tengah dengan koefisien LQ wilayah. Hal ini dilakukan karena kedua sektor tersebut merupakan sektor yang paling menonjol di wilayah Kedungsepur.

3 DIAGRAM KERANGKA ANALISIS .2005 Analisis sektor basis wilayah Kedungsepur dengan metode LQ Data Input – Output Tahun 2004 Analisis Input – Output Keterkaitan antar Sektor Ekonomi • Mobilitas Tenaga Kerja • Distribusi Barang • Distribusi Bahan Baku Analisis Deskriptif Kualitatif Sektor Pertanian dan Industri Keterkaitan antar Daerah di Wilayah Kedungsepur Kesimpulan dan Rekomendasi GAMBAR 1.16 Input Proses Output Data Karakteristik wilayah Kedungsepur Letak Geografis Guna Lahan Kependudukan Sekrtor Unggulan Analisis Deskriptif Statistik Deskripsi sektor basis untuk menentukan potensi wilayah Kedungsepur Data PDRB wilayah Kedungsepur tahun 2001 .

pengumpulan data langsung dari lapangan berdasarkan keadaan yang sesungguhnya (naturalistic inquiry) dengan menggabungkan berbagai teknik pengumpulan data. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara: A. Dinas Perhubungan. dkk (2001:16-20) mengingat pentingnya data sebagai bahan baku analisis dan pengambilan keputusan. adapun kebutuhan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari sumber-sumber yang berkaitan dengan kebijakan pembangunan ekonomi di Wilayah Kedungsepur baik dari BAPPEDA.8 Kebutuhan Data Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data harus sesuai dengan kondisi yang dihadapi di lapangan sehingga memudahkan dalam menganalisa. Kebutuhan data primer yaitu dengan pengamatan lapangan dan wawancara kepada para narasumber. Menurut Sugiarto. Kadin serta dinas/instansi terkait lainnya.17 1. . Secara lebih lengkap. maka data yang benar merupakan kebutuhan mutlak. Studi Literatur Studi literatur yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan literaturliteratur yang berkaitan dengan objek penelitian. catatan. kebutuhan data dapat dilihat pada Tabel I. dokumen maupun arsip-arsip.2 1. berupa data.9 Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini.

4. Provinsi Kab/Kota Provinsi Provinsi Kab/Kota Sekunder Studi literatur Mendatangi instansi Studi literatur Mendatangi instansi Wawancara Observasi Studi literatur Mendatangi instansi 3.18 TABEL I. mata pencaharian) PDRB Provinsi PDRB Kabupaten/Kota Tabel Input-Output Provinsi 2001 – 2005 2004 Data Unit Data Kab/Kota Sekunder Sumber Data Bappeda BPS Dinas Perhubungan BPS Jateng BPS Kab/Kota Bappeda Bappeda BPM Kadin HKI Tehnik Pengumpulan Data Studi literatur Mendatangi instansi 2.2 KEBUTUHAN DATA No. Sekunder Primer Sekunder Analisis Deskriptif Jumlah pergerakan barang. Jenis Analisis Analisis deskriptif karakteristik fisik dan kependudukan wilayah Kedungsepur Analisis Location Quotient (LQ) Analisis Input-Output Kebutuhan Data Nama Data Tahun Terbaru Letak geografis Guna lahan dan kekayaan alam Jenis dan kelas fasilitas perhubungan Kependudukan (jumlah. 1. angkatan kerja. bahan baku 2001 – distribusi barang. dan tenaga kerja sektor pertanian dan 2005 bahan baku dan industri tenaga kerja .

yaitu pedoman wawancara. • Menguji hasil pengumpulan data lainnya. Wawancara Wawancara merupakan cara pengumpulan data dengan jalan tanya-jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematik dan berlandaskan kepada tujuan penelitian. Adapun wawancara itu sendiri berguna untuk: • Mendapatkan data di tangan pertama (primer). Seorang interviewer (pewaancara) menggunakan guide (panduan) wawancara yang telah ditentukan sebelumnya untuk mengarahkan pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam panduan wawancara . Pengamatan langsung juga dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik Wilayah Kedungsepur. wawancara biasanya dilakukan kepada sejumlah responden yang jumlahnya relatif terbatas dan memungkinkan bagi peneliti untuk mengadakan kontak langsung secara berulang-ulang sesuai dengan keperluan. Salah satu teknik pengumpulan data kualitatif adalah wawancara mendalam. C.19 B. 2002:70). Instrumen yang digunakan di sini. Teknik pengumpulan data melalui wawancara dilakukan terhadap tokoh kunci (key person) yang mengetahui secara rinci masalah dengan jalan dialog/bercakap-cakap/berhadapan langsung. Pengamatan Langsung (Observasi Visual) Pengamatan langsung merupakan alat pengumpulan data yang dilakukan dengan mengamati secara sistematik gejala-gejala yang diamati (Narbuko dan Achmadi. Jika angket dimaksud untuk menjangkau responden yang jumlahnya relatif banyak. Observasi dilakukan untuk mendapatkan data kondisi eksisting fisik/lingkungan lokasi penelitian. • Pelengkap teknik pengumpulan lainnya.

setelah mempertimbangkan kelebihan dan kelemahan masing-masing teknik wawancara. yaitu data reduction. namun juga tidak terlalu memberi ruang bagi penyimpangan masukan responden dari topik bahasan. Miles and Huberman dalam Sugiyono (2005) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisa data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga tuntas dan datanya sampai jenuh. Dinas Perhubungan dan Kadin.10 Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif dan teknik analisis data kuantitatif. Hal ini mengingat bahwa teknik campuran ini masih memberi kebebasan kepada responden dalam batas tertentu. Persepsi responden mengenai variabel tersebut menjadi penopang utama dalam penelitian ini. meskipun variabel tersebut masih dimungkinkan untuk berubah (bertambah luas) sesuai masukan pendapat responden. Aktivitas dalam analisis data. data display dan conclusion . Dalam penelitian ini wawancara mendalam yang dipilih menggunakan teknik wawancara bebas terpimpin (atau bebas terstruktur).20 dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi kualitatif yang mendalam mengenai persepsi dan pengalaman masyarakat terhadap topik yang ditentukan. 1. Karakateristik peserta sebaiknya mencerminkan populasi yang diinginkan. Responden terpilih diminta untuk memberikan tanggapan mengenai variabel penelitian yang telah ditetapkan. Wawancara akan dilakukan kepada pejabat instansi pemerintah maupun para pelaku usaha atau asosiasi usaha di wilayah Kedungsepur yang meliputi Bappeda.

Langkah-langkah analisis seperti ditunjukkan pada Gambar 1. Analisis data model Miles and Huberman.4 KOMPONEN DALAM ANALISIS DATA (INTERACTIVE MODEL) . Pada tahap selection. focus dan selection).4. analisis data dilakukan dengan analisis domain. Selanjutnya menurut Spradley dalam Sugiyono (2005). data display dan verification dilakukan pada setiap tahapan penelitian (penjelajahan. yang meliputi data reduction. teknik analisis data disesuaikan dengan tahapan dalam penelitian. Data collection Data display Data reduction Conclusions: Drawing/verifying Sumber: Miles dan Huberman (1992:20) GAMBAR 1. analisis data dilakukan dengan komponensial. Pada tahap penjelajahan dengan teknik pengumpulan data grand tour question. Selanjutnya untuk sampai menemukan judul dilakukan dengan analisis tema. Pada tahap menentukan fokus analisis data dilakukan dengan analisis taksonomi.21 drawing/verivication.

Koefisien LQ yang kurang dari 1 memiliki arti bahwa sektor/komoditi yang bersangkutan tidak memiliki keunggulan komparatif. Analisis tersebut berupa ratarata. Koefisien LQ sama dengan 1 mengindikasikan bahwa sektor yang bersangkutan memiliki keunggulan relatif sama dengan rata-rata semua daerah.10. perbandingan/rasio atau tingkat perubahan/laju pertumbuhan dalam jangka waktu tertentu.2 Analisis Location Quotient (LQ) Teknik Analisis LQ digunakan untuk mengidentifikasi sektor/komoditi basis yang memiliki keunggulan komparatif.1 Analisis Statistik Deskriptif Tehnik ini digunakan untuk menganalisis data yang sudah tersedia melalui sensus. Koefisien LQ berkisar dari 0 sampai dengan positif tak terhingga. Koefisien LQ digunakan untuk menentukan sektor basis komparatif di suatu daerah. Nilai LQ adalah angka koefisien yang menunjukkan tingkat keunggulan relatif suatu sektor daerah dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Selain itu juga untuk menganalisis interaksi keruangan antara daerah-daerah di Wilayah Kedungsepur. Dalam penelitian ini penggunaan statistik deskriptif adalah untuk menganalisis karakteristik fisik Wilayah Kedungsepur yang akan menghasilkan potensi Wilayah Kedungsepur yang dapat mempengaruhi interaksi antar wilayah dan karakteristik ekonomi wilayah berupa tingkat pertumbuhan masing-masing sektor ekonomi sebagai penunjang analisis Location Quotient.10. analisis dilakukan pada aliran barang dan manusia. prosentase. survei atau laporan statistik instansi terkait. 1. Koefisien LQ yang lebih besar dari 1 . yaitu sektor yang dapat diandalkan potensinya dibandingkan dengan daerah-daerah sekitarnya.22 1.

23

memiliki makna bahwa sektor yang bersangkutan memiliki keunggulan komparatif yang lebih tinggi dari rata-rata. Pendekatan yang digunakan adalah perbandingan antara fungsi relatif besaran PDRB suatu sektor/produksi suatu komoditi pada suatu daerah dengan fungsi relatif besaran PDRB suatu sektor/produksi suatu komoditi pada pada tingkat daerah diatasnya. Dengan demikian secara matematis, LQ dapat dirumuskan dengan persamaaan berikut : LQi = (ei/e) / (Ei/E)
Sumber: Tarigan (2005)

Keterangan : LQi ei e Ei E = = = = = nilai LQ untuk sektor i di Kabupaten analisis PDRB sektor i di Kabupaten analisis PDRB seluruh sektor di Kabupaten analisis PDRB sektor i di Provinsi Kabupaten analisis PDRB seluruh sektor di Provinsi Kabupaten analisis

NP > 1 Kelompok sektor non basis dengan rata-rata pertumbuhan di atas wilayah acuan LQ < 1 Kelompok sektor nojn basis dengan rata-rata pertumbuhan di bawah wilayah acuan Kelompok sektor basis dengan rata-rata pertumbuhan di atas wilayah acuan LQ > 1 Kelompok sektor basis dengan rata-rata pertumbuhan di bawah wilayah acuan

NP < 1

Sumber: Hasil Analisis, 2008

GAMBAR 1.5 PENGELOMPOKAN SEKTOR MENURUT NILAI LOCATION QUOTIENT (LQ) DAN NILAI PERBANDINGAN RATA-RATA PERTUMBUHAN (NP)

24

Hasil perhitungan dengan analisis LQ ini kemudian dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan tiap sektor dalam kurun waktu 5 (lima) tahun, yaitu dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 yang merupakan nilai perbandingan ratarata tiap Kabupaten/Kota dengan nilai rata-rata Jawa Tengah. Kemudian sektorsektor dikelompokkan ke dalam empat kuadran berdasarkan nilai LQ dan nilai perbandingan rata-rata pertumbuhan seperti terlihat dalam Gambar 1.5. Sektor Unggulan merupakan sektor-sektor yang berada pada kuadran I, yaitu sektor basis dengan rata-rata pertumbuhan di atas wilayah acuan.

1.10.3 Analisis Input - Output Merupakan alat analisis atas perekonomian wilayah secara komprehensif karena melihat keterkaitan antar sektor ekonomi di wilayah tersebut secara keseluruhan. Dengan demikian, apabila terjadi perubahan tingkat produksi atas sektor tertentu, dampaknya terhadap sektor lain dapat dilihat. Selain itu analisis ini juga terkait dengan tingkat kemakmuran masyarakat di wilayah tersebut melalui input primer (nilai tambah). Artinya, akibat perubahan tingkat produksi sektor-

sektor tersebut, dapat dilihat seberapa besar kemakmuran rakyat bertambah atau berkurang. Dalam melakukan analisis input-output diperlukan adanya tabel InputOutput. Tabel Input-output adalah suatu uraian statistik dalam bentuk matriks baris dan kolom yang menggambarkan transaksi barang dan jasa serta keterkaitan antara satu sektor dengan sektor lainnya. Seberapa besar ketergantugan suatu sektor dengan sektor lainnya ditentukan oleh besarnya input yang digunakan

25

dalam proses produksi. Dengan kata lain pengembanngan suatu sektor tidak akan tercapai apabila tidak didukung oleh input dari sektor lain. Kerangka umum tabel I-O terdiri dari 4 kuadran, yaitu: Kuadran I: menunjukkan arus barang an jasa yang dihasilkan oleh sektorsektor ekonomi untuk digunakan dalam proses produksi. Transaksi yang terjadi pada kuadran I lebih dikenal sebagai transaksi antara (intermediate transaction) Kuadran II: menunjukkan permintaan akhir (final demand) dari impor dan secara keseluruhan menggambarkan penyediaan barang dan jasa. Permintaan akhir terdiri atas konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi dan ekspor. Kuadran III: menunjukkan input primer sektor-sektor ekonomi dan bukan merupakan output dari suatu kegiatan produksi. Cakupan input primer meliputi balas jasa faktor produksi berupa upah gaji, surplus usaha, penyusutan dan pajak tidak langsung netto. Kuadran IV memperlihatkan input primer yang langsung didistribusikan ke sektor-sektor permintaan akhir. Informasi ini digunakan dalam Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE). Tiap kuadran tersebut di atas dinyatakan dalam suatu bentuk matriks, misalnya kuadran I yang berukuran matriks n x n menunjukkan banyaknya sektor yang dihitung berdasarkan hasil kualifikasi sektor dengan memperhatikan

kegiatan ekonomi yang berotensi dari perekonomian wilayah/daerah. Namun demikian tabel I-O mencakup seluruh kegiatan ekonomi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1.6.

Persamaan menurut baris. . Xj = ∑xj + Vj Xj ∑xj Vj = output sektor j = jumlah input antara sektor j = jumlah input primer (nilai tambah) sektor j Berdasarkan Gambar 1. . Xin .6 MATRIKS TABEL INPUT-OUTPUT Berdasarkan gambar tersebut di atas. Mn X X1 X2 . . Xi1 .Mi Xi ∑xi Fi Mi = output sektor i = jumlah permintaan antara sektor i = jumlah permintaan akhir sektor i = impor i 2. . Xi . . X = (I-A) -1 F . . Xi = ∑xi + Fi . Xn GAMBAR 1. Xn1 v1 x1 Sektor Produksi 2 J X12 X1J X22 X2J . masing masing merupakan fungsi hubugan antara permintaan akhir dengan output dan nilai tambah sebagai berikut: 1. i . Fn M M1 M2 . . . . . Xi2 XiJ . . Xn2 XnJ v2 v3 x2 x3 n X1n X2n . . . .6 dapat diturunkan dua matriks invers yaitu (I-A) -1 dan B(I-A)-1. Mi . dapat dirangkum dalam bentuk persamaan umum seperti persamaan di bawah ini: 1. n V X Sumber: BPS 1 X11 X21 . . Fi .26 1 2 . Persamaan menurut kolom. . Xnn vn xn F F1 F2 . . .

untuk meningkatkan daya guna analisis dan berdasarkan ketersediaan data yang ada. Tabel dasar ini terdiri atas tabel transaksi total atas dasar harga pembeli. Tabel dasar adalah tabel yang menggambarkan nilai transaksi barang dan jasa antar sektor ekonomi. Dalam penelitian ini digunakan tabel transaksi total atas dasar harga produsen karena tabel ini menyajikan hubungan langsung antar sektor tanpa dipengaruhi biaya transportasi.27 dimana (I-A) -1 merupakan matriks kebalikan dari koefisien input atau dapat juga disebut sebagai matriks pengganda output yang digunakan untuk pengembangan model input-output 2. 2. Adapun langkah-langkah penurunan tabel Input-Output Jawa Tengah menjadi tabel Input-Output wilayah Kedungsepur dapat dilakukan sebagai berikut (Ugoy dalam Damayanti. Dalam penelitian ini dipergunakan tabel Input-Output 19 sektor dan akan direduksi menjadi 9 . V = B(I-A) -1 F dimana B merupakan matriks koefisien komponen nilai tambah Dalam penelitian ini akan digunakan tabel Input-Output Jawa Tengah tahun 2004. tabel transaksi total atas dasar harga produsen dan tabel transaksi domestik atas dasar harga produsen. namun demikian dikarenakan wilayah penelitiannya hanya mencakup Wilayah Kedungsepur maka tabel Input-Output Jawa Tengah ini akan diturunkan menjadi tabel Input-Output wilayah Kedungsepur melalui pendekatan Location Qoutient (LQ). Pengelompokan sektor-sektor ekonomi. 1999): 1. Pemilihan tabel Input-Output. karena dalam buku Input-Output terdiri atas tiga tabel dasar 14 tabel analisis yang merupakan penurunan tabel dasar.

. tujuan dan sasaran penelitian. Nilai LQ ≥ 1. Penurunan tabel transaksi/tabel Input-Output. kerangka pemikiran dan metodologi penelitian.28 sektor dengan jalan perkalian matriks (19X19) X (19X9) = (19X9). 3. 1. perumusan masalah. berisi latar belakang penelitian. transaksi dikalikan dengan koefisien wilayah. nilai koefisien tersebut harus dikalikan angka koefisien Jawa Tengah untuk menyerapnya sebagai nilai koefisien wilayah Kedungsepur. BAB II Perwilayahan dan Interaksi Ekonomi.11 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan Tesis dengan judul ”Keterkaitan Antar Sektor Ekonomi dan Antar Daerah di Wilayah Kedungsepur” adalah: BAB I Pendahuluan. maka nilai koefisien Jawa Tengah dapat langsung diserap sebagai nilai koefisien Wilayah Kedungsepur. Kemudian dikalikan dengan matriks (9X19) dan hasilnya adalah matriks (9X9). ruang lingkup. mengemukakan teori-teori serta referensi lainnya yang mendukung pelaksanaan penelitian dan dapat menjawab secara teoritis permasalahan yang di angkat. perilaku Jawa Tengah dalam tabel I-O dapat langsung diturunkan menjadi perilaku wilayah dalam tabel I-O Kedungsepur (penurunan perilaku dilakukan per kolom). 4. Sedangkan sektor yang memiliki koefisien <1. bagi sektor-sektor yang memiliki nilai koefisien ≥1. sedangkan LQ < 1. Estimasi koefisien Input-Output wilayah dengan menggunakan metode Location Qoutient (LQ).

analisis sektor basis dan unggulan. berisi gambaran umum masing-masing wilayah kabupaten/kota di Kedungsepur serta kondisi eksisting perekonomian dan potensi yang berhubungan dengan pengembangan wilayah. . interaksi ekonomi wilayah Kedungsepur dan keterkaitan antar daerah dalam sektor Industri dan Pertanian. BAB V Kesimpulan dan Rekomendasi.29 BAB III Gambaran Umum dan Potensi Wilayah Kedungsepur. berisi kesimpulan hasil penelitian dan rekomendasi. BAB IV Analisis Keterkaitan Antar Sektor Ekonomi dan Antar Daerah di Wilayah Kedungsepur. berisi analisis potensi wilayah Kedungsepur.

Daerah (region) adalah lebih menunjuk kepada wilayah administrasi yang lebih luas dibandingkan dengan kota. Pengertian Wilayah dan Daerah Wilayah memiliki pengertian suatu daerah geografis yang memiliki luas tertentu atau ada batas administrasi. 2. Perwilayahan dan Pengembangan Wilayah 2. 3.2. Wilayah. daerah ini disebut daerah nodal.BAB II PERWILAYAHAN DAN INTERAKSI EKONOMI 2. 2. Pengertian daerah dapat dilihat dari beberapa disiplin ilmu yang menyangkut studi dalam bidang regional serta tergantung pada tujuan yang hendak dicapai dalam menganalisa suatu daerah. kabupaten. hal yang perlu 30 . Suatu daerah dibedakan menurut batas-batas administratif dalam suatu daerah atau wilayah. Perbatasan diantara pelbagai daerah ditentukan oleh tempat-tempat dimana pengaruh dari satu atau beberapa pusat kegiatan ekonomi digantikan dengan pengaruh dari pusat lainnya.1. ekonomi maupun politik yang dikenal dengan sebutan daerah homogen. Daerah atau wilayah adalah suatu ruang atau area geografis dipelbagai pelosok yang mempunyai kesamaaan sifat baik menurut kriteria sosial. Sukirno (1981) menjelaskan bahwa dalam menganalisa wilayah dapat dibedakan dalam tiga pengertian yaitu: 1.1.1. Konsep Perwilayahan Dalam melakukan studi mengenai pembangunan wilayah. dapat berupa daerah provinsi. kecamatan atau desa.1.

saling hubungan antara bagian-bagian dan didefinisikan menurut koherensi fungsional. . yaitu yang mencerminkan kemajuan ekonomi dari perekonomian sederhana ke sistem industri yang kompleks. walaupun latar belakang sifat fisik sudah barang tentu tidak dapat diabaikan. iklim dan vegetasi dikaitkan dengan konsep determinasi geografik.31 dijelaskan adalah beberapa konsep tentang wilayah (region). Wilayah formal adalah wilayah geografik yang seragam atau homogen menurut kriteria tertentu. terutama adalah bersifat fisik seperti topografi. Perhatian kepada bentuk klasifikasi wilayah ini sebagian timbul karena dari kenyataan bahwa faktor-faktor fisik adalah lebih stabil dari pada faktor ekonomi dinamik dan dengan demikian lebih mudah untuk dipelajari. Sedang wilayah formal ekonomi pada umumnya didasarkan pada tipe-tipe industri atau pertanian. John Glasson (1978) mengemukakan konsep tentang wilayah sebagai metode klasifikasi muncul melalui dua fase yang berbeda. seperti tipe industri atau tipe pertanian. tingkat pengangguran dan laju pertumbuhan ekonomi. Wilayah alamiah adalah wilayah formal fisik. Usaha-usaha yang dilakukan pada waktu-waktu berikutnya untuk menentukan batas daerah-daerah formal ekonomi telah didasarkan pada kriteria seperti tingkat pendapatan. Pada awalnya kriteria yang digunakan untuk mendefinisikan daerah formal. Fase kedua memperlihatkan perkembangan “wilayah fungsional” yaitu berkenaan dengan interdependensi. Tetapi berikutnya terjadi peralihan kepada penggunaan kriteria ekonomi. Pada fase pertama memperlihatkan “wilayah formal” yaitu berkenaan dengan keseragaman dan didefinisikan menurut homogenitas.

goegrafi. Wilayah-wilayah tersebut saling melengkapi tetapi dengan fungsi yang berbeda. bila didefinisikan berdasarkan kriteria tertentu. Wilayah menurut tipe-tipenya dapat dipilah menjadi 3 (tiga) macam: 1. Contohnya . sosial budaya dan aspek-aspek lainnya. Keseragaman ciri-ciri tersebut bisa dilihat menurut faktor ekonomi.32 Wilayah fungsional adalah wilayah geografik yang memperlihatkan suatu koherensi fungsional tertentu. Wilayah diartikan sebagai satu kesatuan ruang secara geografis yang mempunyai tempat tertentu tanpa terlalu memperhatikan soal batas dan kondisinya. Wilayah homogen (homogeneous region). Wilayah fungsional ini kadang-kadang disebut sebagai wilayah nodal atau polarized region dan terdiri dari satuan-satuan yang heterogen. yaitu wilayah-wilayah yang saling berhubungan secara fungsional karena adanya heterogenitas (ketidakmerataan). yaitu wilayah-wilayah yang mempunyai karakteristik seragam. Wilayah heterogen (nodal region). seperti desa-kota yang secara fugsional saling berkaitan. Wilayah perencana (planning region). pada umumnya berlangsung antara wilayah pusat (core) dengan wilayah pinggiran (periphery/hinterland). 2. Klasifikasi tentang wilayah di atas tidak jauh berbeda dengan klasifikasi yang dikemukakan oleh Tarigan (2004). 3. Wilayah formal atau wilayah fugsional ataupun gabungan keduanya memberikan suatu kerangka bagi klasifikasi tipe wilayah yang ketiga yaitu wilayah perencanaaan. suatu interdependensi dari bagian-bagian. yaitu wilayah-wilayah administrasi yang berada dalam kesatuan kebijakan atau administrasi.

1999). 2002). kecamatan dan desa. etl. Pembangunan ekonomi wilayah adalah suatu usaha mengembangkan dan meningkatkan hubungan interdepensi dan interaksi antara sistem ekonomi (economic system).1. sistem masyarakat (social system). kota. (Ambardi. Menurut Arsyad (1999). lingkungan hidup (environtment) dan sumber daya alam (eco system).33 adalah wilayah yang tergolong dalam provinsi. Sedangkan ilmu ekonomi regional menurut Tarigan (2004) adalah cabang ilmu ekonomi yang dalam pembahasannya memasukkan unsur perbedaan potensi satu wilayah dengan wilayah lain. Pembangunan Ekonomi Lokal dan Pembangunan Ekonomi Regional Ilmu ekonomi pembangunan didefinisikan sebagai cabang ilmu ekonomi yang menganalisa masalah-masalah yang dihadapi oleh negara sedang berkembang dan mencari cara-cara untuk mengatasi masalah-masalah ini agar negara-negara berkembang dapat membangun ekonominya lebih cepat lagi (Arsyad.3. Pemahaman perbedaan pembangunan ekonomi lokal dan pembangunan . pembangunan ekonomi biasanya didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan kenaikan pendapatan riil per kapita penduduk suatu negara dalam jangka panjang yang disertai oleh perbaikan sistem kelembangaan. 2. kabupaten. Ilmu regional tidak membahas kegiatan individu melainkan menganalisis suatu wilayah (atau bagian wilayah) secara keseluruhan atau melihat bebagai wilayah dengan potensinya yang beragam dan bagaimana mengatur suatu kebijakan yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi seluruh wilayah.

2003). mencarikan solusi dan kegiatan pengaturan/manajemen wilayah (Stamer. teknik atau metode pembangunan ekonomi regional dapat pula dipergunakan dalam pembangunan lokal.1. Tetapi secara pendekatan. 2.34 ekonomi regional (wilayah) masih menjadi bahan perdebatan. Menurut Muhadjir (2004). yang meliputi kegiatan menganalisa. Sektor Ekonomi Potensial Sektor ekonomi potensial atau sektor unggulan dapat diartikan sebagai sektor perekonomian atau kegiatan usaha yang produktif dikembangkan sebagai potensi pembangunan serta dapat menjadi basis perekonomian suatu wilayah dibandingkan sektor-sektor lainnya dalam suatu keterkaitan baik secara langsung maupun tak langsung (Tjokroamidjojo. Pembangunan lokal dibatasi dengan pembangunan dengan lokasi geografisnya lebih kecil dari regional. Dalam skop nasional makna regional mencakup kawasan yang luas dari provinsi. Jadi pembangunan regional menitikberatkan pada pembangunan yang melibatkan beberapa kabupaten/kota sedangkan pembangunan lokal hanya melibatkan satu kabupaten atau satu kota saja.4. 1993). Sektor ekonomi potensial ini dapat berupa sektor basis. Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa regional adalah wilayah yang melibatkan beberapa kabupaten atau kota. regional dapat disalin dengan istilah wilayah atau kawasan. tetapi lebih sempit dari nasional. dimana menurut Glasson (1978) sektor basis merupakan sektor yang mengekspor barang dan jasa ke wilayah-wilayah diluar batas-batas perekonomian setempat. Besarnya pendapatan pengeluaran dalam sektor basis merupakan fungsi dari permintaan .

Memiliki kemampuan daya saing (competitive advantage) yang relatif . Perluasan kegiatan-kegiatan ekonomi disalurkan sektor basis kepada sektor-sektor non basis yang mendukungnya secara langsung maupun tidak langsung. Kegiatan-kegiatan lokal yang melayani kebutuhan para pekerja tersebut turut terkena imbas perkembangan sektor basisnya. Sektor ekonomi dapat disebut sebagai sektor potensial jika memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut: 1. modal dan jasa produksi. sehingga kemampuan produksi sektor basis menjadi faktor penentu pendapatan wilayah. Keterkaitan langsung berupa aliran faktor-faktor produksi yang meliputi bahan baku. Keterkaitan tidak langsung berupa transaksi pengeluaran para pekerja sektor basis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.35 wilayah-wilayah lain. Tingkat pendapatan yang diperoleh sektor basis tercermin dari tingkat produksinya. Dengan demikian perkembangan sektor non basis tergantung pada perkembangan sektor basisnya. Adapun untuk sektor non basis menyediakan barang dan jasa untuk masyarakat setempat termasuk kebutuhan sektor basisnya. Peningkatan sektor basis ditentukan oleh pembelanjaan pendapatan sektor basis baik berupa faktor-faktor produksi maupun barang dan jasa yang dibutuhkan pekerja sektor basis. sehingga semakin besar barang dan jasa yang dapat diekspor maka semakin besar pula tingkat pendapatan yang diperoleh suatu wilayah. Merupakan sektor ekonomi yang dapat menjadi sektor basis wilayah. dengan demikian adanya keterkaitan yang kuat antara sektor basis dan sektor non basis merupakan syarat mutlak untuk menyebarluaskan pertumbuhan dalam wilayah. tenaga kerja. 2.

antara lain sebagai berikut: a.36 baik dibanding sektor sejenis dari wilayah lain. Perencanaan Pengembangan Wilayah 2. Konsep pembangunan wilayah seperti di atas menekankan pengambilan keputusan yang tersentralisasi secara cepat dan efektif pada tingkat nasional. Memiliki sumberdaya yang dapat mendukung bagi pengembangannya yang meliputi sumber daya alam dan sumber daya manusia. 1981). Pada teori ini pembangunan dilihat sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan perwujudan ruangnya adalah konsep pusat pertumbuhan (the growth concept) (Misra. Neoklasik Hipotesis dasar dari konsep pembangunan wilayah neoklasik adalah pembangunan dijalankan oleh kebutuhan eksternal dan dorongan-dorongan inovatif (pembaruan) dari beberapa kelompok sektor dan lokasi geografi yang dinamis. 3. Semakin tinggi tingkat ketersediaan sumber daya yang dimiliki maka semakin tinggi pula tingkat pertumbuhan sektor ekonomi wilayah tersebut. Teritorial nasional dianggap sebagai unit agregat sehingga pengembangan wilayah . Perkembangan sektor ini akan merangsang perkembangan sektor-sektor lain baik yang terkait langsung maupun tidak langsung yang pada akhirnya akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian wilayah. 2.2.1. Pembangunan akan secara spontan atau induksi menetes (trickling down) ke sektor-sektor yang tertinggal dan lokasi-lokasi geografis yang lain. Pengertian Pembangunan Wilayah Pengertian pembangunan wilayah secara teoritis dikemukakan oleh berbagai ahli.2.

b. c. 1981:17). dan lain-lain (Mabogunje. Keuntungan pembangunan didistribusikan melalui self-sufficiency subregional yang digiatkan dengan investasi yang disebarkan secara lokal.37 dengan berdasarkan teori ekonomi neoklasik dan konsep pusat. . Penekanan model ini adalah pada ekonomi pembangunan. yaitu ekonomi untuk memenuhi kebutuhan regional secara langsung. memobilisasi surplus desa untuk menyokong pembangunan kota. Konsep pengembangan wilayah tersebut bertujuan pada penyatuan sumber-sumber daya ekonomi. Stohr Konsep ini memandang bahwa pembangunan harus didasarkan kepada memobilisasi maksimum dari sumber-sumber alam. disintegrasi desa kota. Sehingga hal ini menggambarkan pembangunan yang mandiri dan juga mengurangi efek-efek negatif akibat ketergantungan eksternal. Model ini didasarkan pada pandangan bahwa wilayah dan sub areanya seharusnya mempunyai kemampuan merencanakan dan menerapkan kegiatan pembangunan dengan mencukupi diri mereka sendiri. manusia dan institusional masing-masing wilayah dengan tujuan utama memuaskan atau memenuhi kebutuhan dasar penduduk di wilayah tersebut. Bendavid-Val Konsep ini sejalan dengan konsep yang dikemukakan oleh Walter Stohr adalah model integrasi teritorial yang terdesentralisasi. lingkungan dan sosial yang tersedia secara regional semaksimal mungkin. pertumbuhan ternyata juga menyebabkan terjadinya disintegrasi antara sektor modern dan tradisional.

2. yakni lingkungan yang berada . konsep pengembangan wilayah tersebut juga mirip dengan strategi kebutuhan dasar. Aspek lingkungan dibagi menjadi dua bagian. pertama lingkungan internal. guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber-sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu ingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu. yakni lingkungan yang berada di dalam populasi dimana perencanaan pembangunan daerah dilaksanakan. Konsep Perencanaan Pembangunan Daerah Menurut Bratakusumah (2003). yang berorientasi kepada pemenuhan 2. Pembangunan yang kurang memperhatikan aspek lingkungan akan memiliki nilai relevansi yang rendah terhadap perubahan. perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur di dalamnya. terutama yang terkait dengan masalah-masalah kemasyarakatan sebagai ornamen penting dalam proses pembangunan. kedua lingkungan eksternal. Dalam perencanaan pembangunan daerah ada beberapa aspek yang perlu mendapatkan perhatian agar perencanaan pembangunan dapat menghasilkan rencana pembangunan yang baik serta dapat diimplementasikan di lapangan.2. Aspek lingkungan memiliki dampak yang sangat besar terhadap berhasil tidaknya program pembangunan. Aspek-aspek tersebut antara lain: 1. Aspek Lingkungan.38 Sejalan dengan model integrasi teritorial yang terdesentralisasi di atas. yaitu strategi pembangunan kebutuhan masyarakat.

perencanaan daerah harus mencapai suatu pemahaman tentang kerangka organisasi perencana dimana perencanaan akan dilaksanakan. Sebagai suatu tahapan maka perencanaan pembangunan akan terikat dalam dimensi ruang dan waktu. 3. pelaksanaan dan evaluasi dari pelaksanaan tersebut. Aspek ruang dan waktu harus menjelaskan suatu kebutuhan dalam timing yang tepat tentang kapan mulai diberlakukan. untuk berapa lama masa pemberlakuannya serta kapan dilakukan evaluasi atau perencanaan ulang (replanning). Aspek Institusi Perencana.39 diluar populasi tetapi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap tingkat keberhasilan suatu program pembangunan. 2. Aspek Potensi dan Masalah. Dalam perencanaan pembangunan daerah. Institusi perencana adalah organisasi pemerintah yang bertanggung jawab melakukan perencanaan pembangunan daerah. Perencanaan dalam hal ini adalah perencanaan. Bahkan hal tersebut dapat menjadi suatu pijakan awal dalam proses penyusunan perencanaan yang dapat menjadi dasar analisis berikutnya. Manfred Poppe (1995) dalam Batakusumah mengemukakan bahwa untuk merancang dan menciptakan proses perencanaan yang partisipatif di tingkat daerah. Aspek Legalisasi Kebijakan. 4. 5. Potensi dan masalah merupakan fakta yang ada di lapangan dan sangat berpengaruh terhadap proses pembangunan. Aspek Ruang dan Waktu. masalah legalisasi kebijakan .

Kajian Pertumbuhan Wilayah Suatu wilayah akan tumbuh dan berkembang diawali dari pusat kota yang berinteraksi melalui pusat-pusat pertumbuhan lainnya mengikuti hierarki dalam suatu pusat-pusat pertumbuhan. Sejalan dengan penjelasan tersebut. Kenyataan yang terjadi menurut teori sektor.3.40 memilki peranan yang tidak kalah penting dibandingkan dengan aspek-aspek lainnya. Aspek ini menjadi penting ketika hasil perencanaan pembangunan daerah dipandang sebagai suatu keputusan dari suatu kebijakan yang harus dilaksanakan.2. maka Perroux dalam Daldjoeni (1997) menjelaskan bahwa konsep pertumbuhan kutub (growth pole) yang terpusat dan mengambil tempat tertentu sebagai pusat pengembangan diharapkan menjalarkan perkembangan ke pusat-pusat yang tingkatannya lebih rendah. Wilayah diidentifikasikan sebagai suatu area kekuatan yang didalamnya terdapat pusat-pusat atau kutub-kutub. menurut Sujarto (1981) bahwa dalam ruang ekonomi akan tercipta pusat-pusat pertumbuhan dengan berbagai ukuran hierarki dan pembangunan akan terstruktur secara makro melalui hierarki wilayah pusat dan secara regional dari pusat tersebut ke masing-masing wilayah belakangnya. 2. Dalam konsep tersebut terdapat istilah spread dan trickling down (penjalaran dan penetesan) serta backwash dan polarization (penarikan dan pemusatan). dimana ruang lingkup dari relokasi sumber daya internal adalah besar di daerah-daerah pertanian yang . Jika ditinjau dari aspek ruang ekonomi. Setiap pusat atau kutub mempunyai kekuatan pengembangan keluar dan kekuatan tarik ke dalam.

berpindah atau mengalirnya tenaga-tenaga terampil dan terdidik serta modal atau sumber daya alam ke pusat kota atau ke wilayah yang besar. Selain itu juga disebabkan karena kurangnya prasarana dan sarana perhubungan di daerah perdesaan. Dalam hal ini konsentrasi pembangunan sarana dan prasarana serta pemasaran akan lebih terpusat dan lebih baik di daerah perkotaan. khususnya prasarana dan sarana yang menghubungkan suatu daerah miskin dengan daerah-daerah yang lebih maju. Keterbatasan sumber daya manusia yang berkualitas di daerah perdesaan menyebabkan produktivitas dan kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan menjadi rendah. Backwash effect diartikan sebagai mengalirnya faktor-faktor produksi potensial dari tempat atau daerah miskin ke daerah kaya. Kartasasmita (1996) mengatakan bahwa faktor-faktor kesenjangan pertumbuhan wilayah disebabkan terutama oleh lemahnya keterkaitan kegiatan ekonomi antar daerah perkotaan dan perdesaan. Sebagai contoh migrasi penduduk usia produktif. Konsekuensi yang timbul dari proses tersebut adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Myrdal (1957) bahwa suatu daerah yang lebih maju akan berkembang lebih cepat dari peda yang kurang maju. sehingga terjadi pemusatan kegiatan ekonomi yang akan mendorong tingkat pertumbuhan. Hal ini disebabkan karena backwash effect yang ditimbulkan oleh daerah yang maju adalah lebih besar dari pada spread effect. Kondisi wilayah pusat pertumbuhan dihadapkan pada masalah yang merupakan konsekuensi logis dari mengelompoknya penduduk dan aktivitas di .41 miskin dari pada di daerah-daerah yang lebih berkembang. Penduduk yang kurang terampil dan produktivitasnya relatif rendah akan tertinggal.

seperti yang dikemukakan oleh Oppeinheim bahwa pertambahan jumlah penduduk tidak hanya disebabkan oleh faktor alami melainkan juga disebabkan oleh adanya migrasi. Sejalan dengan hal itu pertumbuhan dari daerah yang berada di sekitar pusat kota akan mengalami pertumbuhan yang lambat karena adanya daya tarik dari pusat kota. Pergerakan penduduk erat hubungannya dengan pemusatan penduduk di suatu kota atau daerah. sedang dan besar serta berpenduduk jarang dan padat sengan kondisi ekonomi. mulai yang kecil. . sosial. keagamaan yang beragam merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pola pertumbuhan wilayah tersebut. khususnya sumber daya manusia yang produktif dan sumber daya ekonomi. Namun menurut Sujarto (1981) bahwa tanpa adanya hierarki yang jelas maka akan sulit mekanisme penjalaran perkembangan dari pusat-pusat pengembangan wilayah ekonomi yang terbentuk. hal ini dapat membantu dalam mengetahui lokasi pusat kegiatan dan pola pusat kegiatan di suatu wilayah. Menurut Branch (1995) daerah-daerah yang ada sangat beraneka ragam bentuknya. Richardson (1974) menyebutkan sistem pusat pertumbuhan merupakan sistem yang paling efisien dalam menjalarkan perkembangan wilayah dan juga sistem ini dapat dipergunakan sebagai suatu alat untuk mendistribusi pelayanan barang dan jasa bagi masyarakat luas. politik. malah kemungkinan besar akan mempertajam kesenjangan yang ada antara kotakota kecil dengan kota-kota yang lebih besar atau antara wilayah perdesaan dengan wilayah perkotaan. dimana terdapat kesempatan lapangan kerja atau pusat kegiatan yang dominan maka disanalah arus pergerakan penduduk terjadi.42 tempat-tempat tertentu.

2.43 Lebih lanjut May (1984) menyatakan bahwa permasalahan umum pertumbuhan yang terjadi pada daerah-daerah di Indonesia adalah pola pemanfaatan lahan yang belum optimal. pemerintah dan sosial belum memadai. faktor kegiatan manusia dan 3. faktor manusia. perkembangan status sosial dan kemampuan ilmu pengetahuan serta penyerapan teknologi. tingkat pelayanan jasa. Faktor pola pergerakan disebabkan oleh faktor perkembangan penduduk yang disertai dengan perkembangan fungsi kegiatannya yang akan membentuk pola hubungan antara pusat-pusat kegiatan dengan sub-sub pusat kegiatan lainnya. tingkat pertumbuhan perdesaan dan perkotaan yang tidak seimbang. Faktor kegiatan manusia menyangkut segi-segi kegiatan kerja. wilayah yang berperan sebagai penghasil produksi primer yang hasilnya harus dipasarkan keluar tidak dapat terlaksana dengan baik karena lemahnya transportasi dan tidak mempunyai hubungan yang kuat dalam pemasaran hasil tersebut. Menurut Sujarto (1991) bahwa faktor-faktor pertumbuhan dan perkembangan pola struktur pusat-pusat pelayanan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: 1. tingkat pendidikan dan keterampilan yang relatif rendah. kemampuan mengelola sumber daya yang ada masih rendah. kegiatan fungsional. faktor pola pergerakan manusia pada suatu pusat kegiatan ke pusat kegiatan lainnya. kegiatan perekonomian kota dan kegiatan hubungan regional yang lebih luas. belum terjangkau oleh teknologi yang memadai. . Selanjutnya diterangkan bahwa faktor manusia menyangkut segi-segi perkembangan penduduk kota naik karena kelahiran maupun karena migrasi ke kota. perkembangan tenaga kerja.

Fasilitas-fasilitas yang khas tertentu (specialized fasilities). Kedua. 1978). 3. yang akan menghasilkan pola-pola keruangan yang khas yaitu: 1.4. Kegiatan ini banyak sekali mengadopsi dilakukan di negara-negara maju. Dalam beberapa dekade terakhir ini. 2. perencanaan wilayah bukan sekedar aktivitas ekonomi tradisional tetapi lebih memusatkan pada alokasi sumber daya antar wilayah guna mencapai tujuan pembangunan nasional. seringkali menekankan pada kontrol pembangunan tata guna lahan (Glasson. Paradigma Baru Pembangunan Wilayah Pengertian perencanaan wilayah memiliki arti yang berbeda-beda khususnya di negara-negara berkembang. ekonomi dan perencanaan sosial baik regional maupun nasional.2. faktor kemampuan fungsi ekonomi yang berbeda. Faktor yang saling merugikan antar fungsi yang tidak serupa dan 4. Pertama. perencanaan wilayah lebih mengembangkan pada kegiatan-kegiatan fisik. Faktor ekonomi eksternal (external economies). sarana komunikasi dan fasilitas lainnya. Perencanaan pembangunan wilayah juga sering kali dihubungkan dengan pembangunan infrastruktur.44 Yunus (1999) mengatakan bahwa ada beberapa faktor penyebab perbedaan pertumbuhan pada suatu wilayah. perencanaan wilayah mulai memperhatikan pada masalah-masalah sosial seperti kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat lokal yang melibatkan kegiatan fisik. 2. tetapi secara umum mereka setuju bahwa perencanaan wilayah merupakan aktivitas yang mendasar dari suatu dari kegiatan yang pemerintahan. . seperti jalan raya.

Konsep Pembangunan dari Atas (Development from above) Pendekatan pengembangan dari atas melihat pengembangan wilayah pada dasarnya adalah bersumber dari inti atau pusat pertumbuhan yang kemudian menyebar ke wilayah pinggiran atau wilayah belakangnya. Akar teori pengembangan wilayah ini adalah model teori neoklasik. Pertama adalah model pembangunan dari atas (Development from above) dan yang kedua adalah model pembangunan dari bawah (Development from below) (Edgington et al. Pergeseran perencanaan wilayah ini praktis selalu diinterpretasikan dalam teori dan penelitian-penelitian yang memperdebatkan antara dua model atau pendekatan yang berbeda. Tujuan dari perubahan ini adalah untuk mendorong dinamisasi pembangunan lokal serta mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah yang berbasis lokal. yang tertuang dalam konsep pertumbuhan berimbang (balanced and unbalanced growth) pada tahun . kemudian menurun pada tingkatan nasional.1993). Pada negara-negara maju mulai melakukan desentralisasi pada agen pembangunan dan institusi pengambil kebijakan regional serta kebijakan-kebijakan baru yang berorientasi lokal didesain untuk mendorong pembangunan endogen. a. 2001).45 Pada tahun 1970-an dan 1980-an. subnasional. ada pergeseran dalam perencanaan wilayah di beberapa negara. satuan kota dan pada akhirnya satuan wilayah belakang (Nelson. Paradigma pengembangan ini muncul disebabkan adanya sudut pandang yang melihat bahwa pengembangan wilayah dimulai dari adanya permintaan skala dunia (worldwide demand).

Terdapatnya beberapa sektor atau kelompok wilayah yang menjadi penggerak dan mampu menciptakan efek penetesan ke wilayah lainnya (Trikle Down Effect). Dengan asumsi yang demikian maka orientasinya lebih cenderung mengarah keluar (outward-looking). Pengembangan teritorial. 2. Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembangunan akan mengarah kepada pertumbuhan karena adanya dua faktor. Tujuan dari aliran pengembangan dari bawah adalah untuk membentuk pola pengembangan sehingga mendapatkan karakteristik wilayah.46 1950-an. Membangun wilayah berdasarkan pada homogenitas politik-ekonomi dan orientasi sosial dari dua hal tersebut. Permintaan yang berasal dari luar. pada modal (capital intensive). 2. yaitu: 1. penggunaan teknologi tinggi dan pendekatan proyek skala besar. . mengarah pada perkotaan dan industri. yaitu: 1. termasuk didalamnya ekspansi dan konsolidasi dalam proses pembangunan negara. kedua model mencerminkan kebutuhan terhadap kemungkinan perubahan yang sangat cepat dalam perencanaan wilayah. Markusen (1987) mengamati sejarah perkembangan dari kebijaksanaan lokal di Amerika yang dipengaruhi oleh dua hal yang dominan. Konsep Pembangunan dari Bawah (Development from below). Meskipun terdapat perbedaan substansial pada kedua pendekatan. b.

Analisis I-O mencoba untuk menghitung ketergantungan ekonomi dalam suatu daerah tertentu. Kaitan intrasektoral (kaitan antar perusahaan dalam sektor yang sama) dan kaitan antar sektor adalah suatu cara untuk melihat eksternalitas aglomerasi. daerah atau sebuah daerah metropolitan. Keterkaitan Antar Wilayah 2. Lebih jauh Kuncoro menjelaskan bahwa untuk melihat eksternalitas aglomerasi dan kaitan antar sektor digunakan model Input-Output (I-O). 2002). Analisis I-O adalah suatu analisis atas perekonomian wilayah secara komprehensif karena melihat keterkaitan antar sektor ekonomi wilayah tersebut . Data I-O memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai hubungan antar sektor dalam suatu daerah dan transaksi antar daerah diantara banyak sektor. ekonomi dan spasial. Kaitan Intrasektoral dan Antarsektor Keterkaitan ekonomi pada dasarnya menggambarkan hubungan antara perekonomian suatu daerah dengan lingkungan sekitarnya dan eksternalitas aglomerasi dipandang sebagai faktor penentu yang penting dalam konsentrasi goegrafis kegiatan ekonomi di daerah perkotaan. 2.3.1. baik yang dipicu oleh input (pemasok) ataupun output (pelanggan) (Kuncoro.47 Lebih lanjut Edgington et al (2001) mengemukakan bahwa pada tahun 1980-an dimulai babak baru perencanaan wilayah yang terjadi di negara-negara berkembang. Perencanaan Wilayah merupakan proses integrasi dari berbagai dimensi pembangunan yaitu: sosial.3. baik sebuah negara. Perencanaan wilayah telah melibatkan aktivitas-aktivitas multisektor dan multilevel dalam pemerintahan serta aktor pembangunan lainnya di daerah.

sedangkan keterkaitan komplementer diasosiasikan dengan pembentukan klaster akibat memproduksi barang/jasa berkaitan/sejenis. Hubungan antara kedua tempat tersebut yang oleh Tarigan (2005) dikatakan sebagai hubungan antara kota dengan wilayah belakangnya (hinterland). Kaitan Antar Daerah Dalam analisis ekonomi regional harus disadari bahwa dalam suatu wilayah terdapat perbedaan yang menciptakan suatu hubungan yang unik antara suatu bagian dengan bagian lain dalam wilayah tersebut. dampaknya terhadap sektor lain dapat dilihat. Lebih lanjut Tarigan menerangkan bahwa . Hal ini dapat dilihat apabila terjadi perubahan tingkat produksi sektor tertentu. keterkaitan vertikal meliputi kaitan ke belakang (backward linkage) yaitu daya tarik terhadap sumber bahan baku dan kaitan ke depan (forward linkage) yaitu daya tarik terhadap pasar.2. dapat dilihat seberapa besar kemakmuran masyarakat akan bertambah ataupun berkurang (Tarigan.3. apabila terjadi perubahan tingkat produksi atas sektor tertentu. I-O juga terkait dengan tingkat kemakmuran masyarakat di suatu wilayah. Hoover dalam Kuncoro (2002) menjelaskan bahwa model I-O merupakan alat yang populer untuk menganalisis tiga jenis keterkaitan spasial yang menjelaskan pertumbuhan ekonomi regional. Selain itu. Keterkaitan horisontal meliputi persaingan antar pelaku ekonomi. keterkaitan vertikal dan keterkaitan komplementer. yaitu: keterkaitan horisontal. yang saling melengkapi ataupun yang 2. Dengan demikian. 2005). Ada tempat-tempat dimana penduduk/kegiatan berkonsentrasi dan ada tempat dimana penduduk/kegiatan kurang terkonsentrasi.48 secara keseluruhan.

Kota ini seakan-akan terpisah sama sekali dari daerah sekitarnnya. . kota parasitif dan kota enclave. baik untuk dirinya sendiri maupun untuk daerah belakangnya sehingga bersifat saling menguntungkan/mengembangkan. Selain kedua bentuk hubungan tersebut. Faktor Keterbatasan Daerah (Kebutuhan): hal ini dapat terjadi dalam konteks sumber daya manusia. daerah belakang perlu lebih didorong dengan melakukan kerjasama agar pertumbuhan daerah belakang bisa lebih sejajar dengan pertumbuhan kota. ia tidak membutuhkan input dari daerah sekitarnya melainkan dari luar. Hal ini membuat daerah belakang itu makin ketinggalan dan keadaan antara kota dengan desa makin pincang. sehingga suatu kebersamaan dapat menutupi kelemahan dan mengisinya dengan kekuatan potensi daerah lainnya. Secara umum sebab-sebab perlunya suatu kerjasama antar daerah menurut Mehrtens dan Abdurahman (2007) dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Kota parasitif umumnya adalah kota yang belum berkembang industrinya dan masih memiliki sifat daerah pertanian tetapi juga perkotaan sekaligus. Kota parasitif adalah kota yang tidak banyak berfungsi untuk menolong daerah belakangnya dan bahkan bisa mematikan daerah belakangnya.49 hubungan antara kota dan daerah belakangnya dapat dibedakan antara kota generatif. teknologi dan keuangan. masih ada satu bentuk hubungan yang tidak menguntungkan daerah belakangnya yaitu kota yang bersifat enclave (tertutup). Kota generatif adalah kota yang menjalankan bermacam-macam fungsi. alam. Untuk menghindari hal ini.

Faktor Kesamaan Kepentingan: adanya persamaan visi pembangunan dan memperbesar peluang memperoleh keuntungan. namun amat jarang didasarkan pada analisis transaksi ekspor dan impor. baik finansial maupun non-finansial untuk mencapainya. Menjawab kekhawatiran disintegrasi: dimana kerjasama dapat menjadi instrumen yang efektif dalam rangka menggalang persatuan dan kesatuan nasional (sinkronisasi dan harmonisasi). Sebagai pendorong dalam mengefektifkan potensi dan menggalang kekuatan endogen dalam kegiatan pembangunan wilayah. model ekonomi regional dan perkotaan dengan pendekatan I-O telah umum diterapkan. 4. Analisis I-O antar daerah (IRIO) relatif baru di Indonesia. IRIO yang pertama tahun 1985 untuk 5 (lima) pulau utama di Indonesia dikompilasi . 5. Berkembangnya paradigma baru di masyarakat: perlunya pengembangan sistem perencanaan dan pembangunan komunikatif-partisipatif sesuai dengan semangat otonomi daerah. 2002). 6. Tidak tersedianya data regional yang memadai mempersulit dilakukannya pantauan dan evaluasi kinerja ekonomi suatu daerah dan kaitannya dengan daerah lain (Harris dan Liu dalam Kuncoro.50 2. Dalam analisis keterkaitan antar daerah ini. 3. bahwa dengan kerjasama antar daerah dapat meningkatkan dampak positif dari berbagai kegiatan pembangunan yang semula sendiri-sendiri menjadi suatu kekuatan regional. Sinergi antar daerah: tumbuhnya kesadaran.

1. fungsional perencanaan. saling hubungan antara bagian-bagian dan didefinisikan menurut koherensi fungsional. Wilayah homogen (homogeneous region) 2. 2.1.4. (John Glasson.4. Pada fase pertama memperlihatkan “wilayah formal” yaitu berkenaan dengan keseragaman dan didefinisikan menurut homogenitas. Definisi Konsep Perwilayahan Konsep tentang wilayah sebagai metode klasifikasi muncul melalui dua fase yang berbeda.51 pada tahun 1989 dan laporan pendahuluan pertama untuk diskusi dipublikaksikan pada tahun 1990. Fase kedua memperlihatkan perkembangan “wilayah fungsional” yaitu berkenaan dengan interdependensi. yaitu yang mencerminkan kemajuan ekonomi dari perekonomian sederhana ke sistem industri yang kompleks. dan Pengelompokan Definisi Unsur yang diperhatikan . Ringkasan Dari kajian pustaka tersebut di atas. prinsip fungsional dan prinsip perencanaan Homogenitas. Wilayah menurut tipetipenya dapat dipilah menjadi 3 (tiga) macam: 1. Sintesis Kajian Pustaka 2.1 SINTESIS KAJIAN PUSTAKA PERWILAYAHAN DAN INTERAKSI EKONOMI No. Wilayah heterogen (nodal region) 3. Wilayah perencana (planning region) Konsep perwilayahan memperhatikan prinsip homogenitas. 1977) Menurut Tarigan (2004) Wilayah diartikan sebagai satu kesatuan ruang secara geografis yang mempunyai tempat tertentu tanpa terlalu memperhatikan soal batas dan kondisinya. dapat ditarik beberapa rumusan yang dapat digunakan sebagai referensi dalam penelitian ini sebagai berikut: TABEL II.

Dalam konsep tersebut terdapat istilah spread dan trickling down (penjalaran dan penetesan) serta backwash dan polarization (penarikan dan Pertumbuhan wilayah adalah kondisi terciptanya pusat pertumbuhan secara regiional dan menjalar ke wilayah yang lebih rendah tingkatannya serta terciptanya suatu sistem distribusi barang dan jasa yang efisien. mobilisasi sumber daya dan pemenuhan kebutuhan regional Pengelompokan Definisi Unsur yang diperhatikan . Keuntungan pembangunan didistribusikan melalui self-sufficiency subregional yang digiatkan dengan investasi yang disebarkan secara lokal. penjalaran dan sistem distribusi Pembangunan Wilayah adalah dorongan inovatif dari berbagai sektor dalam memobilisasi sumber daya pada wilayah dalam rangka memenuhi kebutuhan regional secara langsung Kegiatan inovatif. (Bendavid – Val) 3. Pusat pertumbuhan.52 Lanjutan No. 2. Definisi Pembangunan Wilayah Pembangunan dijalankan oleh kebutuhan eksternal dan dorongandorongan inovatif (pembaruan) dan dari beberapa kelompok sektor dan lokasi geografi yang dinamis pembangunan akan secara spontan atau induksi menetes (trickling down) ke sektorsektor yang tertinggal dan lokasi-lokasi geografis yang lain. 1981) Konsep pertumbuhan kutub (growth pole) yang terpusat dan mengambil tempat tertentu sebagai pusat pengembangan diharapkan menjalarkan perkembangan ke pusat-pusat yang tingkatannya lebih rendah. manusia dan institusional masing-masing wilayah dengan tujuan utama memuaskan atau memenuhi kebutuhan dasar penduduk diwilayah tersebut. Sehingga hal ini menggambarkan pembangunan yang mandiri dan juga mengurangi efek-efek negatif akibat ketergantungan eksternal. Pertumbuhan Wilayah Dalam ruang ekonomi akan tercipta pusat-pusat pertumbuhan dengan berbagai ukuran hierarki dan pembangunan akan terstruktur secara makro melalui hierarki wilayah pusat dan secara regional dari pusat tersebut ke masing-masing wilayah belakangnya (Sujarto. (Stohr) Pembangunan wilayah ditujukan untuk memenuhi kebutuhan regional secara langsung. 1981) Pembangunan wilayah harus didasarkan kepada memobilisasi maksimum dari sumber-sumber alam. (Misra.

sektor unggulan Pengelompokan Definisi Unsur yang diperhatikan . Faktor yang saling merugikan antar fungsi yang tidak serupa dan 4. faktor kegiatan manusia dan 3. 1974) Faktor-faktor pertumbuhan dan perkembangan pola struktur pusat-pusat pelayanan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: 1. Definisi pemusatan). 2. (Yunus. 1993) Sektor ekonomi potensial ini dapat berupa sektor basis. yang akan menghasilkan pola-pola keruangan yang khas yaitu: 1. faktor kemampuan fungsi ekonomi yang berbeda. Fasilitasfasilitas yang khas tertentu (specialized fasilities). 1977) Sistem pusat pertumbuhan merupakan sistem yang paling efisien dalam menjalarkan perkembangan wilayah dan juga sistem ini dapat dipergunakan sebagai suatu alat untuk mendistribusi pelayanan barang dan jasa bagi masyarakat luas (Richardson. faktor pola pergerakan manusia pada suatu pusat kegiatan ke pusat kegiatan lainnya. dimana menurut Glasson (1978) sektor basis merupakan sektor yang mengekspor barang dan jasa ke wilayah-wilayah diluar batasbatas perekonomian setempat Sektor ekonomi potensial atau sektor unggulan dapat diartikan sebagai sektor yang mengekspor barang dan jasa ke wilayahwilayah diluar batasbatas perekonomian setempat Sektor basis.faktor manusia. Sektor Ekonomi Potensial Sektor ekonomi potensial atau sektor unggulan dapat diartikan sebagai sektor perekonomian atau kegiatan usaha yang produktif dikembangkan sebagai potensi pembangunan serta dapat menjadi basis perekonomian suatu wilayah dibandingkan sektorsektor lainnya dalam suatu keterkaitan baik secara langsung maupun tak langsung (Tjokroamidjojo.53 Lanjutan No. 1999) 4. (Perroux dalam Daldjoeni. Faktor ekonomi eksternal (external economies). 1991) Beberapa faktor penyebab perbedaan pertumbuhan pada suatu wilayah. 3. 2. (Sujarto.

Untuk melihat eksternalitas aglomerasi dan kaitan antar sektor digunakan model InputOutput (I-O). Pendekatan pengembangan dari atas melihat pengembangan wilayah pada dasarnya adalah bersumber dari inti atau pusat pertumbuhan yang kemudian menyebar ke wilayah pinggiran atau wilayah belakangnya. baik sebuah negara.54 Lanjutan No. dampaknya terhadap sektor lain dapat dilihat. (Kuncoro. 1993) Menurut Markusen (1987). Analisis I-O mencoba untuk menghitung ketergantungan ekonomi dalam suatu daerah tertentu. Aktor pembangunan. dan proses integrasi berbagai demensi pembangunan Keterkaitan ekonomi menggambarkan hubungan perekonomian suatu wilayah yang melibatkan kaitan antar sektor ekonomi secara komprehensif Keterkaitan ekonomi. pembangunan dari bawah dipengaruhi oleh dua hal: Perencanaan wilayah telah melibatkan aktivitas-aktivitas multisektor dan multilevel dalam pemerintahan serta aktor pembangunan lainnya di daerah. (Tarigan 2005) 6. 2002) Analisis I-O adalah suatu analisis atas perekonomian wilayah secara komprehensif karena melihat keterkaitan antar sektor ekonomi wilayah tersebut secara keseluruhan. Dengan demikian. Sektor ekonomi. (Nelson. Definisi Keterkaitan Ekonomi Keterkaitan ekonomi (economic linkage) pada dasarnya menggambarkan hubungan antara perekonomian suatu daerah dengan lingkungan sekitarnya dan eksternalitas aglomerasi dipandang sebagai faktor penentu yang penting dalam konsentrasi goegrafis kegiatan ekonomi di daerah perkotaan. Pertama adalah model pembangunan dari atas (Development from above) dan yang kedua adalah model pembangunan dari bawah (Development from below) (Edgington dan Fernandez. Input-Output Pengelompokan Definisi Unsur yang diperhatikan . Paradigma Baru Pembangunan Wilayah Pergeseran perencanaan wilayah selalu diinterpretasikan dalam teori dan penelitian-penelitian yang memperdebatkan antara dua model atau pendekatan yang berbeda. 2001). daerah atau sebuah daerah metropolitan. Perencanaan Wilayah merupakan proses integrasi dari berbagai dimensi pembangunan yaitu: sosial. ekonomi dan spasial. 5. aktivitas multisektor. apabila terjadi perubahan tingkat produksi atas sektor tertentu.

mengindikasikan kemampuan dari sumbersumber alam.2. Keterkaitan antar sektor ekonomi mengindikasikan hubungan antara sektor perekonomian suatu wilayah secara keseluruhan sehingga dapat terlihat dampak dari perubahan tingkat produksi sektor tertentu terhadap sektor lain. termasuk didalamnya ekspansi dan konsolidasi dalam proses pembangunan negara.55 Lanjutan No. 3. . Beberapa aspek tersebut antara lain: 1. Definisi 3. 4. Tujuan dari aliran pengembangan dari bawah adalah untuk membentuk pola pengembangan sehingga mendapatkan karakteristik wilayah.4. Membangun wilayah berdasarkan pada homogenitas politik-ekonomi dan orientasi sosial dari dua hal tersebut. manusia dan institusional masing-masing wilayah dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar penduduk di wilayah tersebut. Sumber: Hasil Analisis. 2. 2008 Pengelompokan Definisi Unsur yang diperhatikan 2. Potensi sumber daya wilayah. Potensi atau sektor unggulan mengindikasikan sebagai sektor perekonomian atau kegiatan usaha yang produktif untuk dikembangkan sebagai potensi pembangunan serta dapat menjadi basis perekonomian suatu wilayah. Kerangka Teoritis Penelitian Berdasarkan kajian pustaka yang telah dibahas sebelumnya. Pengembangan teritorial. didapatkan beberapa aspek yang digunakan dalam melihat hasil penelitian dengan teori yang berkaitan dengan perwilayahan dan interaksi ekonomi yang terjadi di dalam wilayah tersebut.

. Keterkaitan antar daerah mengindikasikan hubungan perekonomian antar daerah di suatu wilayah tertentu yang menunjukkan adanya aliran atau distribusi barang.56 4. bahan baku dan tenaga kerja.

579 m dpl 57 .256. Ketinggian masing-masing daerah Wilayah Kedungsepur. Kabupaten Pati dan Kabupaten Blora. : Kabupaten Temanggung. Secara topografi.BAB III GAMBARAN UMUM DAN POTENSI WILAYAH KEDUNGSEPUR 3. sedang bagian Selatan memiliki ketinggian antara 0-2. Sebelah Timur Sebelah Barat : Kabupaten Kudus. terletak di bagian utara Provinsi Jawa Tengah.7°32’ LS.25% dari total keseluruhan luas wilayah Provinsi Jawa Tengah. dan 6°43’26’’ . 3.1 Lokasi dan Posisi Kawasan Kedungsepur Letak Administrasi dan Kedudukan Geografis Kawasan Kedungsepur Kawasan Kedungsepur merupakan gabungan dari enam Kabupaten/Kota. Kabupaten Boyolali. dan Kabupaten Magelang.1. dengan batas administrasi dan fisiografi sebagai berikut: Sebelah Utara Sebelah Selatan : Laut Jawa dan Kabupaten Jepara. Kabupaten Sragen. yaitu: • Kabupaten Kendal : 50-2. Kawasan Kedungsepur bagian utara terletak pada ketinggian antara 025 m dan merupakan daerah dataran rendah.1 Luas keseluruhan Wilayah Kedungsepur sebesar 5. Wilayah ini secara geografis terletak diantara 109°10’ .579 m yang merupakan daerah tanah pegunungan.53 Km2 atau sekitar 16.1. : Kabupaten Batang Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar I.111°25’ BT.

Kota Semarang ke Demak. terdapat daerah rawan banjir yaitu di daerah Demak.2 Posisi Strategis Kawasan Kedungsepur Kawasan Strategis Kedungsepur merupakan salah satu kawasan strategis di Provinsi Jawa Tengah. Posisi strategis ini antara lain meliputi: . dengan puncaknya yaitu Gunung Ungaran. serta tambang mineral. Kawasan ini merupakan kawasan pantai yang dibudidayakan sebagai kawasan tambak serta menjadi daerah hilir/muara beberapa sungai besar di Sub Regional Kedungsepur.1.950 m dpl : 11-129 m dpl : 0. • Bagian Selatan. • Bagian Timur dan Tenggara.58 • • • • • Kabupaten Demak Kabupaten Semarang Kabupaten Grobogan Kota Semarang Kota Salatiga : 3-100 m dpl : 310-1. Kawasan ini memiliki posisi yang strategis dalam pengembangan perwilayahan Provinsi Jawa Tengah maupun dalam konteks perwilayahan yang lebih luas. membentang dari Kendal. Daerah ini merupakan daerah yang cukup subur. 3. yaitu: • Pesisir Utara. yang terdiri dari 6 (enam) kabupaten/kota.75-359 m dpl : 525-675 m dpl Kondisi fisik wilayah ini mempunyai karakteristik. hulu sungai. banyak mata air. merupakan daerah pegunungan dan dataran tinggi yang sudah tidak aktif lagi.

Di Kota Semarang terdapat pelabuhan laut skala nasional sehingga mempermudah pula hubungan dengan pulau-pulau lain di Indonesia. Pada Kota Semarang terdapat Bandara Ahmad Yani dan Pelabuhan Tanjung Mas. Di bidang transportasi udara. Letak ini akan memberikan peluang di bidang perdagangan. Kudus. Tegal. • Dilalui oleh jalur utama Provinsi Jawa Tengah. pemerintahan. dan Bawen-Magelang-Yogyakarta. • Dilalui oleh jalur-jalur nasional. Selain pelabuhan di Kota Semarang. Bawen-Surakarta. Pekalongan. Kedua fasilitas ini merupakan akses penghubung wilayah Kedungsepur menuju arus pergerakan internasional. jasa. dan sekitarnya) dan bagian Selatan sampai Barat (Surakarta. • Memiliki akses pada pergerakan internasional. Jalur ini merupakan jalur yang menghubungkan Jawa Tengah bagian utara (Semarang.59 • Kota Semarang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah. sosial dan budaya bagi wilayah lainnya di Provinsi Jawa Tengah. Kota Semarang merupakan pusat kegiatan perekonomian. yaitu jalur SemarangBawen. atau kegiatan lain. telah tersedia Bandara Ahmad Yani di Kota Semarang sebagai bandar udara nasional yang menghubungkan kota-kota besar di Indonesia. Purwokerto dan sekitarnya). di Kabupaten Kendal nantinya juga akan dikembangkan Pelabuhan Samudra yang merupakan pelabuhan dengan skala internasional. Magelang. • Berada di jalur utara Pulau Jawa yang merupakan penghubung Provinsi Jawa Timur dengan Provinsi Jawa Barat. Sebagai ibu kota Provinsi. pariwisata. Karenanya wilayah Kedungsepur memiliki potensi .

kawasan pariwisata berkembang seperti Bandungan. • Merupakan salah satu kawasan pusat pengembangan di Provinsi Jawa Tengah selain Kawasan Joglosemar. dan Ungaran-Bawen. Hal ini akan memberikan peluang bagi perkembangan sektor-sektor perekonomian. seperti pertanian. Ungaran. Ungaran. Ambarawa dan sekitarnya. perdagangan. Selain itu. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa peluang-peluang yang dimiliki berkaitan dengan kedudukan Kawasan Strategis Kedungsepur adalah cukup besar. dan kawasan potensial produksi buah-buahan dan sayursayuran seperti Bandungan. Museum Kereta Api Ambarawa. Kawasan Strategis Kedungsepur juga berhimpit dengan kawasan-kawasan andalan yang ditetapkan dalam RTRW Nasional (Subosuka). Jalan KA Tuntang-AmbarawaBedono. Semarang-Kendal.60 pengembangan yang besar. industri. • Melingkupi kawasan-kawasan strategis yang mempunyai peran penting dalam skala regional. Kopeng dan sekitarnya. dapat juga ditawarkan paket wisata terpadu antar lokasi wisata yang ada. sehingga hasil yang didapat tidak hanya dinikmati oleh satu daerah saja. Rawa Pening. Hal ini dapat menjadi potensi pengembangan wilayah bila disediakan sarana dan prasarana pendukung. Rawa Pening. yaitu diantaranya kawasan industri sepanjang jalur Semarang-Demak. diantaranya Kota Lama Semarang. tapi dinikmati bersama. dan Bledug Kuwu. • Memiliki cukup banyak objek wisata yang tersebar pada daerah Kabupaten/Kota di Kedungsepur. . dan pariwisata. Masjid Agung Demak. jasa.

Hal ini disebabkan oleh adanya Kota Semarang yang merupakan kota utama dalam hirarki lingkup perkotaan regional-nasional. skala pelayanan wilayah. Kawasan Kedungsepur merupakan kawasan yang menjadi pusat pelayanan dalam skala provinsi.1. dan skala pelayanan lokal. Kota Pusat Pelayanan Kegiatan Wilayah (KPPKW): Koridor Kota UngaranBawen-Ambarawa. 2. kota-kota yang ada berdasarkan skala pelayanannya dikelompokkan ke dalam skala pelayanan nasional. Dalam lingkup Provinsi Jawa Tengah. Kota Salatiga. meliputi wilayah yang dataran rendah hingga perbukitan.61 terutama peluang perekonomian yang bersifat sekunder dan tersier (industri. Kota Purwodadi. Kota Pusat Pelayanan Kegiatan Lokal (KPPKL): Kota Kendal. 3.3 Sistem Perkotaan dan Kawasan Tertentu dalam Lingkup Provinsi Jawa Tengah Sistem pelayanan perkotaan di Provinsi Jawa Tengah didasarkan pada dua aspek. perkembangan kawasan di Jawa Tengah diusahakan agar dapat menyebar dan tidak terpusat pada satu kawasan 3. Pengelompokkan kota-kota tersebut adalah: 1. perdagangan. 3. dan jasa). Kota Pusat Pelayanan Kegiatan Nasional (KPPKN): Kota Semarang. yaitu potensi dan permasalahan yang berkembang di lapangan dan arahan kebijakan yang tertuang dalam RTRWN. Kondisi Fisik Dasar Kondisi fisik Kawasan Kedungsepur secara umum cukup beragam.2. Kota Demak. sebagai bentukan akibat . Meskipun demikian. Di Kawasan Kedungsepur.

Wilayah Kedungsepur bagian Utara terletak pada ketinggian antara 0-25 m dan merupakan daerah dataran rendah. : 310-1950 m dpl. : 50-2579 m dpl. klimatologi dan sumber daya mineral. hidrologi.62 dilingkupi oleh beberapa gunung dan pegunungan.129 m dpl. Secara lengkap akan dibahas mengenai kondisi fisik wilayah meliputi: topografi dan morfologi. geologi dan jenis tanah. Kondisi topografi ini menghasilkan klasifikasi kelerengan dalam kawasan Kedungsepur.2. terdapat daerah rawan banjir yaitu di daerah Demak. • Bagian Timur dan Tenggara.75-359 m dpl. sedang bagian selatan memiliki ketinggian antara 0-2. . : 3-100 m dpl. Kota Semarang ke Demak. 3.579 m yang merupakan daerah tanah pegunungan. yaitu: • • • • • • Kota Semarang Kota Salatiga Kabupaten Kendal Kabupaten Demak Kabupaten Semarang Kabupaten Grobogan : 0. : 525-675 m dpl.1 Kondisi Topografi dan Morfologi Secara topografi. Ketinggian masing-masing daerah Wilayah Kedungsepur. : 11 . membentang dari Kendal. Kondisi fisik kawasan Kedungsepur mempunyai karakteristik sebagai berikut: • Pesisir utara. Kawasan ini merupakan kawasan pantai yang dibudidayakan sebagai kawasan tambak serta menjadi daerah hilir/muara beberapa sungai besar di Sub Regional Kedungsepur.

63

Bagian Selatan, merupakan daerah pegunungan dan dataran tinggi yang sudah tidak aktif lagi, dengan puncaknya yaitu Gunung Ungaran. Daerah ini merupakan daerah yang cukup subur, banyak mata air, hulu sungai serta tambang mineral.

3.2.2

Kondisi Klimatologi

Iklim merupakan kondisi rata-rata dari semua peristiwa yang terjadi di atmosfer yang terdapat pada suatu daerah yang luas serta pada waktu relatif lama. Secara umum Kawasan Kedungsepur beriklim tropis, curah hujan rata-rata tahunan sebesar 3.846,4 mm dan hari hujan rata-rata adalah 124 hari/tahun (Lihat Tabel III.1). TABEL III.1 CURAH HUJAN DAN HARI HUJAN DI WILAYAH KEDUNGSEPUR TAHUN 2005
No 1 2 3 4 5 6 Kabupaten/ Kota Kota Semarang Kota Salatiga Kabupaten Kendal Kabupaten Demak Kabupaten Semarang Kabupaten Grobogan Rata-rata Hari Hujan (hari) 172 120 104 128 123 102 124 Curah Hujan (Mm) 11.182 2.191 2.110 3.004 2.527,2 2.064 3.846,4

Sumber : Kabupaten/Kota dalam Angka 2006

Temperatur udara maksimum-minimum di Kawasan Kedungsepur ratarata 33,7 °C dengan temperatur tertinggi pada bulan September dan temperatur terendah pada bulan Juli dan Agustus (22,4°C). Sedangkan kelembaban nisbi ratarata mencapai 79 % dengan prosentase terbesar pada bulan Desember yang

64

mencapai rata-rata 85%, sedangkan arah angin sebagian besar bergerak dari arah tenggara barat laut dengan kecepatan rata-rata antara 5,90 km per jam.

3.2.3

Kondisi Hidrologi

Sumber-sumber air di Wilayah Kedungsepur berupa sumber air di permukaan tanah dan air tanah. Sumber air di permukaan tanah berasal dari sungai-sungai, bendungan, laut dan pantai. Sungai-sungai utama yang terdapat di Wilayah Kedungsepur meliputi: Kali Bulawan, Sungai Garang, Sungai Bodri, Sungai Babon/Penggaron, Sungai Jragung, Sungai Tuntang dan Sungai Serang. Adapun sumber-sumber mata air selain sungai terdiri atas danau, waduk dan mata air yang antara lain meliputi: Rawa Pening, beberapa mata air dan Waduk Kedung Ombo.
3.2.4 Kondisi Geologi

3.2.4.1 Geomorfologi Struktur geomorfologi di Kawasan Kedungsepur dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu dataran rendah dan perbukitan. Dataran rendah terutama pada wilayah kabupaten/kota yang terletak di pesisir pantai utara. Sedangkan daerah perbukitan mencakup wilayah Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kota Semarang serta Kabupaten Kendal bagian Selatan.

3.2.4.2 Stratigrafi Kondisi stratigrafi di Kawasan Kedungsepur disusun oleh struktur batuan yang terbagi menjadi dua bagian. Daerah dataran rendah memiliki struktur geologi berupa batuan endapan atau alluvium yang berasal dari endapan sungai.

65

Sedangkan daerah perbukitan memiliki susunan batuan beku. Secara keseluruhan struktur geologi Kawasan Kedungsepur terdiri dari batuan alluvium berupa aluvial kelabu kuning dan aluvial yodimorf.

3.2.4.3 Struktur Geologi Pada dasarnya struktur geologi yang menyusun Kawasan Kedungsepur cenderung bervariasi tergantung dari letak wilayah terhadap daerah sekitarnya. Struktur geologi di Kawasan Kedungsepur terdiri dari berbagai batuan yang meliputi: Batuan Endapan Aluvial, Batuan Formasi Kerek, Batuan Formasi Damar, Batuan Formasi Kaliteng, Batuan Formasi Kaligetas, Batuan Gunung Api Gajahmungkur, Batuan Gunung Api Gilipetung, Batuan Formasi Penyatan, Batuan Gunung Api Merbabu, Batuan Formasi Bulu, Batuan Gunung Api Tak Terpisahkan 3.2.4.4 Jenis Tanah Jenis tanah di Kawasan Kedungsepur dapat dilihat pada Tabel III.2 dan Gambar 3.1 berikut: TABEL III.2 JENIS TANAH DI WILAYAH KEDUNGSEPUR
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Jenis Tanah Alluvial Latosol Regosol Mediteran Litosol Grunosol Luas Lahan (Km2) 1968,86 959,32 457,32 849,98 494,11 393,19 Prosentase (%) 37,45 18,25 8,70 16,17 9,40 7,48

Sumber: Bappeda

GAMBAR 3.1 PETA JENIS TANAH WILAYAH KEDUNGSEPUR

SKALA 3.1 UTARA SUMBER BAPPEDA PROVINSI JAWA TENGAH .66 MAGISTER PEMBANGUNAN WILAYAH DAN KOTA PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG TESIS: KETERKAITAN ANTAR SEKTOR EKONOMI DAN ANTAR DAERAH DI WILAYAH KEDUNGSEPUR PETA JENIS TANAHI WILAYAH BLORA KEDUNGSEPUR LEGENDA Wilayah Perairan No.

dan Banyubiru. danau ini dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik. yaitu Kecamatan Ambarawa. Sungai ini juga dapat berfungsi sebagai jaringan drainase primer untuk mengalirkan air hujan. Wilayah Kedungsepur juga memiliki potensi cekungan air tanah yang cukup tinggi serta mempunyai banyak sumber mata air yang dapat digunakan sebagai sumber air baku. . serta pariwisata dan rekreasi. Tuntang. terutama pada kawasan yang berbatasan dengan Kota Semarang sebagai kota dengan pertumbuhan yang sangat pesat. yaitu: a. Sumber-sumber mata air selain sungai terdiri atas danau. irigasi. Sumber-sumber air di Wilayah Kedungsepur berupa sumber air di permukaan tanah dan air tanah. hingga daerah yang merupakan dataran tinggi. Rawa Pening Danau ini terletak di tiga wilayah kecamatan. Selain itu. Cadangan lahan untuk pembangunan fisik masih tersedia cukup luas. Kondisi daerah hilir Wilayah Kedungsepur yang relatif datar sangat potensial untuk dijadikan daerah pengembangan fisik kawasan.67 3. Kondisi hidrologi Wilayah Kedungsepur sangat potensial untuk dijadikan sebagai sumber air baku dan sumber air irigasi karena banyaknya sungai yang ada dan mengalir secara lintas daerah dari hulu ke hilir. Sumber air di permukaan tanah berasal dari sungai-sungai.5 Potensi Sumber Daya Alam Topografi Wilayah Kedungsepur yang bervariasi menghasilkan bentang alam yang unik karena terdiri dari daerah dataran rendah (dataran pantai). perikanan darat. bendungan.2. laut dan pantai. Dalam penggunaannya. waduk dan mata air yang antara lain.

Grobogan. . Mata air dengan tingkat produktivitas kecil. meliputi Kecamatan Kedungjati. . Air tanah langka meliputi daerah Kecamatan Purwodadi.2 693. Godong. Klambu. Gubug. Untuk sumber air tanah terdapat potensi cekungan air tanah yang cukup tinggi seperti dijelaskan pada Tabel III.8 166.3 2852. yaitu 15% dari luas wilayah. TABEL III. . Tawangharjo.3 Air Tanah Dalam (juta m3/th) 6. c.6 o .3 88.1 4.68 b. Gabus. Ngaringan. Brati. dan Tanggungharjo.7 5.3 111. Wirosari. .1 325.6 873 352. dan Tegowanu.4 46.5 5.1 11.5 9. Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Tengah Potensi sektor pertanian di wilayah Kedungsepur didukung oleh lahan pertanian sawah beririgasi teknis merupakan lahan yang berpotensi memberikan . Waduk Kedung Ombo Sumber air yang berasal dari waduk Kedung Ombo difungsikan sebagai potensi sunber daya alam dalam memenuhi kepentingan kehidupan penduduk beserta aktivitasnya juga berfungsi dalam menjaga keseimbangan ekosistem (lingkungan). . .3.3 POTENSI CEKUNGAN AIR TANAH DI WILAYAH KEDUNGSEPUR Nama Cekungan Kendal SemarangSubah Ungaran Ambarawa Purwodadi Demak Kudus Jumlah Air Tanah Dangkal (juta m3/th) 330. Klambu.

mempertahankan keberadaan lahan ini diharapkan akan mampu menjaga keseimbangan kawasan terbangun dan non terbangun. Masih luasnya lahan sawah di ketiga daerah tersebut karena sebagai produsen padi untuk Jawa Tengah Wilayah Kedungsepur memiliki potensi komoditas pertanian yaitu padi dan palawija. sirtu dan tanah urug yang .30% dari luas lahan sawah Wilayah Kedungsepur dan Demak sebesar 27.63%.000 ton / tahun. Sehingga dalam perkembangan selanjutnya.702 Ha dan tersebar hampir di setiap kecamatan Lahan sawah yang masih luas yaitu di Kabupaten Grobogan sebesar 36. dan keramik. Penetapan Kabupaten Demak sebagai sentra produksi padi didasarkan pada terjadinya surplus padi sebesar 200. dan peningkatan lahan pertanian beririgasi sederhana maupun setengah teknis tertentu menjadi lahan beririgasi teknis. Kedungsepur juga kaya akan sumber daya mineral yang terdiri dari bahan galian bangunan. Untuk itu dalam pengembangan wilayah di masa datang. perlu tetap mempertahankan lahan sawah beririgasi teknis untuk tidak dikonversi menjadi penggunaan lahan jenis lain. keberadaan lahan pertanian ini perlu untuk dipertahankan. terutama padi karena lahan beririgasi teknis ini biasanya mampu menghasilkan padi sedikitnya dua kali panen setiap tahunnya. industri.100 hektar. Sawah beririgasi teknis pada Wilayah Kedungsepur seluas 59. Di sisi lain. Kawasan yang menjadi sentra produksi padi sawah yaitu di Kabupaten Demak dengan luas sawah 31.000-210. andesit.69 produktivitas tinggi dalam budidaya pertanian sawah.71% serta Kendal 20.

. Adapun sirtu yang tidak layak untuk ditambang karena jika sirtu sebagai peredam arus diambil akan berakibat pada terbawanya material hasil erosi sehingga dapat mempercepat pendangkalan rawa. dengan memenuhi persyaratan penambangan harus dengan metode lateral dan dibuat teras-teras dengan ketinggian tertentu. atau bukit-bukit dan gunung sehingga penambangannya harus memperhatikan fungsi kawasan dimana bahan galian tersebut berada. Bahan galian tanah liat layak ditambang pada daerah pedataran umumnya berupa persawahan dan tegalan. Bahan galian yang paling besar yaitu batu gamping yang terdapat di Kabupaten Grobogan. Bahan galian ini layak tambang. karena jika ditambang secara besar-besaran akan mengakibatkan peningkatan erosi arus sungai baik secara vertikal maupun lateral yang akan terbawa dan membentuk sedimentasi di hilir sungai. Sirtu layak ditambang secara terbatas (tidak ditambang besar-besaran). penggalian dilakukan secara lateral dengan kedalaman yang teratur dan menghindari lubang-lubang galian. Persyaratan yang harus diperhatikan dalam penambangan ini antara lain kedalaman tidak melebihi permukaan air tanah setempat. Bahan galian yang juga layak tambang yaitu tanah liat yang terdapat di Kabupaten Grobogan dan Kendal. Bahan galian andesit yang layak tambang di Kabupaten Kendal. dengan persyaratan penggalian harus dilakukan secara teras dengan ketinggian yang teratur dan menghindari lubang-lubang galian. Bahan galian andesit umumnya terletak pada daerah dataran tinggi.70 termasuk ke dalam jenis bahan galian bangunan banyak dijumpai di Wilayah Kedungsepur.

Berdasarkan tabel tersebut. dan diutamakan menggunakan peralatan sederhana. serta wilayah Kabupaten Grobogan (Kecamatan Purwodadi. Pedurungan.623 jiwa) dan Kecamatan Kaliwungu (91. dan Kecamatan Semarang Utara). wilayah Kabupaten Demak (Kecamatan Mranggen).3.801. Kota Salatiga dan Kabupaten Kendal masing-masing hanya memiliki satu kecamatan dengan jumlah penduduk tertinggi (namun di bawah 100. Sedangkan penambangan yang tidak layak dilakukan karena terdapat jaringan fasilitas perkotaan dan rentan terhadap erosi. Demikian pula pada daerah yang memiliki lahan lebih produktif untuk tanaman perkebunan disamping tanah penutup cukup tebal. Tembalang.000 jiwa. Seperti misalnya wilayah Kota Semarang (Kecamatan Banyumanik. Kondisi Kependudukan Jumlah Penduduk Data jumlah penduduk di Kawasan Kedungsepur ditinjau per kecamatan pada tahun 2005 dapat dilihat pada Tabel III.1.3. . diketahui jumlah total penduduk kawasan mencapai 5.71 Trass layak ditambang dengan memperhatikan penempatan tanah penutup.995 jiwa dan dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk Kawasan Kedungsepur. sudut kelerengan. 3. jumlah penduduk tinggi cenderung terdapat di kecamatan-kecamatan yang berada di wilayah Central Bisnis District (CBD).4.515 jiwa). Taroh dan Pulokulon) yang mencapai jumlah lebih dari 100.000 jiwa) yaitu Kecamatan Sidorejo (51. wilayah Kabupaten Semarang (Kecamatan Ungaran). 3. Semarang Barat.

371 12.97 6.4 JUMLAH.12 33.347 91.593 46.20 20.69 34.41 -0.354 25.61 1.619 3.492 Laju Pertum -buhan (%) 3.738 60.515 45.931 35. LAJU PERTUMBUHAN DAN KEPADATAN PENDUDUK DI WILAYAH KEDUNGSEPUR TAHUN 2005 Kabupaten/Kota Kota Semarang Mijen Gunungpati Banyumanik Gajahmungkur Semarang Selatan Candisari Tembalang Pedurungan Genuk Gayamsari Semarang Timur Semarang Utara Semarang Tengah Semarang Barat Tugu Ngaliyan Jumlah Kabupaten Kendal Plantungan Sukorejo Pageruyung Patean Singorojo Limbangan Boja Kaliwungu Brangsong Pegandon Ngampel Gemuh Ringinarum Luas Wilayah (Km2) 57.752 62.78 37.712 33.40 0.430 72.661 124.44 1.14 21.146 804 2.39 6.865 11.46 0.060 Kepadatan (Jiwa/ Km2) 760 1.82 3.72 64.69 9.256 1.72 Jumlah penduduk yang cukup besar tersebut merupakan potensi yang cukup penting dalam memenuhi kebutuhan sumber daya manusia dalam proses pembangunan.549 99.88 38.204 66.39 1.317 2.620 7.17 23.55 54.679 34.33 -0.626 47.23 .798 652 733 663 523 377 413 988 850 1.82 76.86 1.14 1.741 77.93 0.43 92.01 51.09 0. terutama dalam pemenuhan kebutuhan tenaga kerja terampil yang pada akhirnya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi regional.55 71.551 115.704 80.15 1.224 35.88 3.710 83.111 111.309 1.23 0. TABEL III.54 44.478 31.489 1.636 10.14 2.581 7.09 107.70 48.74 31.419.18 7.53 0.920 29.148 4.07 5.794 10.75 1.54 31.83 1.78 0.99 373.70 10.60 0.453 12.21 0.34 2.812 154.72 27.107 48.57 0.19 1.93 6.349 6.27 1.5 Jumlah Penduduk 43.662 14.94 124.14 0.605 63.148 993 1.827 55.453 2.48 1.11 25.28 -0.248 155.424 85.

63 1.841 70.590 1.82 2.29 98.35 47.14 1.209 1.13 57.285 909 957 998 775 1.50 0.196 1.28 32.60 0.11 1.98 30.485 Kepadatan (Jiwa/ Km2) 1.88 61.43 65.669 63.782 44.723 905.510 31.99 897.872 896.180 1.49 1002.255 52.001 61.31 -0.42 2.25 1.22 18.845 903 1.95 950.521 47.174 1.96 64.720 43.61 47.97 56.88 55.590 124.874 1.23 Kabupaten/Kota Weleri Rowosari Kangkung Cepiring Patebon Kota Kendal Jumlah Kabupaten Demak Mranggen Karangawen Guntur Sayung Karangtengah Bonang Demak Wonosalam Dempet Gajah Karanganyar Mijen Wedung Kebonagung Jumlah Kabupaten Semarang Getasan Tengaran Susukan Kaliwungu Suruh Pabelan Tuntang Banyubiru Jambu Sumowono Ambarawa Bawen Bringin Bancak Pringapus Bergas Ungaran Jumlah Kota Salatiga Argomulyo Tingkir Sidomukti Jumlah Penduduk 56.63 56.12 1.262 39.075 638 605 582 1.55 83.582 57.042 1.631 1.73 Lanjutan Luas Wilayah (Km2) 30.12 0.210 1.39 0.27 1.65 68.23 72.41 0.80 47.591 1.880 37.76 41.155 720 1.131 78.02 2.84 1.18 1.238 69.02 47.759 46.12 57.12 1.043 47.451 127.3 27.33 73.048 41.401 28.22 66.241 39.133 49.60 0.18 78.239 1.166 1.503 1.531 97.49 0.83 67.66 1.603 50.630 56.67 1.86 29.03 3.59 1.23 1.252 4.87 1.724 22.036.138 87.83 0.507 79.739 57.08 44.95 57.63 1.970 43.83 10.573 42.036 727 698 560 1.116 1.24 54.50 0.57 37.41 60.760 1.68 2.26 0.64 0.301 91.01 0.754 49.446 .998 71.64 38.24 61.69 51.353 38.42 1.497 45.67 1.696 97.46 Laju Pertum -buhan (%) 0.400 60.26 1.197 856 979 1.550 1.170 58.689 943 2.049 53.30 48.44 1.144 803 919 1.53 78.48 1.57 0.35 1.76 50.07 1.51 1.101 3.55 11.

104 jiwa/km2 dan laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2005 sebesar 0.11 51.68 0.86 5256.78 0.59 0. kepadatan penduduk rata-rata 1.307 5.75 0.60 104.72 0.63 1975.18 119.623 176.64 0.568 810 726 972 1.177 3. Adapun kondisi distribusi dan kepadatan penduduk tiap kabupaten/kota di Wilayah Kedungsepur dapat dilihat pada Tabel III.31 0.456 33.65 0.19 133.821 1.104 Sumber: Kabupaten/Kota Dalam Angka 2006.89 0.024 48.406 62.25 57.34 140.826 84.37 116.055 940 657 693 1.73 0.53 Laju Pertum -buhan (%) -0.75 0.65 107.4.176 96.65 0.53 0.697 73.607 121.30 83.995 Kepadatan (Jiwa/ Km2) 3.57 0. data diolah 3.419.70 km2 dan jumlah penduduk sebesar 1.556 67.56 77.22 -0.090 43.78 0.72 154.801.09 130.64 0.048 88.488 81.874 106.65 54.238 51.40 0.56 86.478 jiwa.01 0.91%.54 0.368.3.91 Kabupaten/Kota Sidorejo Jumlah Kabupaten Grobogan Kedungjati Karangrayung Penawangan Toroh Geyer Pulokulon Kradenan Gabus Ngaringan Wirosari Tawangharjo Grobogan Purwodadi Brati Klambu Godong Gubug Tegowanu Tanggungharjo Jumlah Kedungsepur Jumlah Penduduk 51.78 71.67 60.74 165.740 44.548 69.59 74.398 75.2 Distribusi dan Kepadatan Penduduk Kondisi distribusi dan kepadatan penduduk di Kawasan Kedungsepur ditinjau per kecamatan pada tahun 2005 adalah sebagai berikut: luas wilayah 5.74 Lanjutan Luas Wilayah (Km2) 16. Kota Semarang terdiri dari 16 kecamatan dengan luas wilayah pada tahun 2005 sebesar 373.577 39.83 0.31 196.881 113.55 0.084 331 686 848 952 356 797 758 447 557 572 617 647 1.946 65. .90 46.256.53 km2.

Kepadatan penduduk tinggi cenderung terdapat di kecamatan-kecamatan yang berada di wilayah Central Bisnis District (CBD).2 Jumlah penduduk total di Kabupaten Semarang pada tahun 2005 adalah sebesar 896. Kota Salatiga. Semarang Tengah.000 jiwa/km2.75 Kepadatan penduduk terbesar di Kota Semarang terdapat pada Kecamatan Semarang Selatan yaitu 14. Wilayah dengan kepadatan penduduk yang besar terdapat pada wilayah yang dilewati oleh jalur regional Semarang-Solo dan Semarang-Yogyakarta.22 km.453 jiwa/km2. Candisari. terdapat pada Kecamatan Tingkir yaitu sebesar 4.048 jiwa dengan kepadatan sebesar 943 jiwa/km2. Sedangkan wilayah yang terletak pada daerah belakang dan jauh dari pusat aktivitas. karena lokasi kecamatan yang dekat dengan Kota Semarang yang merupakan kota dengan hirarki tertinggi dalam lingkup Jawa Tengah dan merupakan kutub pertumbuhan bagi perkembangan wilayah. Semarang Selatan dan Semarang Utara dengan kepadatan mencapai lebih dari 10. relatif rendah angka kepadatan penduduknya. Kepadatan penduduk terbesar di Kota Salatiga pada tahun 2005.090 jiwa. yang hanya terdiri dari empat kecamatan. Kepadatan penduduk tertinggi terdapat pada Kecamatan Ungaran. memiliki luas sebesar 57. Untuk kecamatan-kecamatan yang terletak di wilayah pinggiran Kota Semarang cenderung memiliki kepadatan yang lebih rendah. Kabupaten Semarang memiliki 17 kecamatan dengan luas total wilayah sebesar 950. antara 700 sampai 7. dengan kepadatan .101 jiwa/km2. Rata-rata kepadatan penduduk di Kota Salatiga adalah 3.000 jiwa/km2. yaitu Kecamatan Semarang Timur.09 km2 dengan total jumlah penduduk pada tahun 2005 sebesar 176.084 jiwa/km2. Gayamsari.

451 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata adalah 903 jiwa/km2. Wilayah yang mempunyai kepadatan penduduk tinggi adalah wilayah yang berada pada jalur Pantura yaitu Kecamatan Weleri. yaitu mencapai lebih dari 1. Kepadatan penduduk yang cukup besar ini merupakan ciri khas kawasan perkotaan yang berkembang dengan cepat dan mempunyai aktivitas perekonomian yang berkembang dengan baik. Wilayah yang berada pada jalur regional SemarangSurabaya dan Semarang-Purwodadi cenderung memiliki kepadatan penduduk .600 jiwa/km2. Wilayah Kabupaten Demak terdiri dari 14 kecamatan dengan luas 897. Hal ini dikarenakan daya tarik Kota Semarang yang sangat besar sehingga cenderung menarik penduduk yang berada pada daerah perbatasan untuk datang dan tinggal di Kota Semarang. Cepiring.76 yang cukup merata. Hal ini disebabkan karena Pantura merupakan daya tarik yang sangat besar dalam perkembangan wilayah. yaitu Kecamatan Boja dan Kaliwungu.521 jiwa. Jumlah penduduknya 1. Sedangkan wilayah yang berada di perbatasan dengan Kota Semarang sebagai kota dengan hirarki pertama relatif tidak begitu padat penduduknya. dan Kecamatan Ringinarum. Wilayah yang kepadatannya terlihat lebih tinggi dari rata-rata adalah Kecamatan Mranggen dengan kepadatan lebih dari 1700 jiwa/km2. relatif kecil kepadatan penduduknya. Kota Kendal. Rowosari. dengan kepadatan rata-rata 1155 jiwa/km2.036. Kepadatan penduduk di Kabupaten Demak relatif lebih merata.800 jiwa/km2.43 km2. Jumlah penduduk Kabupaten Kendal adalah 905. Wilayah-wilayah yang berada pada daerah belakang dan jauh dari jalan regional. dengan range antara 900 jiwa/km2 sampai 1.

Bila dilihat dari penduduk yang berumur 0-14 tahun.307 jiwa. Wilayah lain yang kepadatannya cukup besar adalah kecamatan yang dilewati oleh jalur utama. Wilayah yang memiliki kepadatan penduduk terbesar adalah wilayah yang menjadi simpul aktivitas perekonomian dan pemerintahan yaitu Kecamatan Gubug dan Kecamatan Purwodadi dengan kepadatan rata-rata di atas 1000 jiwa/km2.66%. sedangkan pada daerah lain hanya sejumlah kurang dari 70%. Sedangkan wilayah yang berada pada wilayah perbatasan dengan Kabupaten Kudus dan Kabupaten Grobogan serta wilayah yang berada pada daerah pantai cenderung memiliki kepadatan yang lebih rendah.53%.71%. sehingga mampu menarik penduduk usia produktif untuk tinggal dan beraktivitas di dalamnya. Jumlah penduduk usia produktif terbesar berada di Kota Semarang yang mencapai 70.3 Struktur Penduduk Penduduk usia produktif di Kawasan Kedungsepur rata-rata adalah 69. 3.77 yang lebih tinggi daripada wilayah lainnya.3. lebih kecil bila . dengan kepadatan penduduk rata-rata sebesar 693 jiwa/km2. Hal ini menunjukkan bahwa Kota Semarang merupakan magnet yang sangat kuat dalam pertumbuhan ekonominya.368. Kabupaten Grobogan memiliki 19 kecamatan dengan jumlah total penduduk pada tahun 2005 adalah 1. Sedangkan wilayah yang berada pada wilayah perbatasan dengan kabupaten lain dan berada pada daerah belakang cenderung memiliki kepadatan penduduk yang rendah. Kota Salatiga adalah daerah dengan persentase penduduk terkecil yaitu 23.

6.5. Dari tabel dapat dilihat distribusi dan deskripsi penduduk berumur 10 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan usaha utama di Wilayah Kedungsepur pada tahun 2005.47 5.53 24.13 69. Dari enam wilayah di Kedungsepur empat wilayah yaitu Kabupaten .50 23.90 29.36 Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka 2006.23 8. Dengan demikian.92 6.4 Penduduk berdasarkan Lapangan Pekerjaan Utama Struktur kependudukan Wilayah Kedungsepur berdasarkan mata pencaharian pada tahun 2005 selengkapnya dapat dilihat pada Tabel III. kecenderungan yang akan terjadi di masa mendatang adalah Kota Salatiga akan menyedot tenaga kerja yang cukup besar dari wilayahwilayah belakangnya dan wilayah belakang tersebut akan mengalami perpindahan penduduk usia produktif ke Kota Salatiga.3.35 7. Penduduk yang bekerja di sektor pertanian sangat mendominasi di wilayah Kedungsepur.18 63. TABEL III. Lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel III. Di masa mendatang hal ini berarti Kota Salatiga kurang memiliki calon tenaga kerja potensial.78 dibandingkan dengan daerah lain yang jumlahnya lebih dari 24%. data diolah 3.42 70.83 30 26.04 4.79 65.5 PERSENTASE PENDUDUK WILAYAH KEDUNGSEPUR BERDASARKAN KELOMPOK UMUR TAHUN 2005 No 1 2 3 4 5 6 Kabupaten/Kota Kabupaten Demak Kabupaten Grobogan Kabupaten Kendal Kabupaten Semarang Kota Salatiga Kota Semarang 0-14 30.66 65+ 4.98 15-64 64.70 64.

79 Semarang. Kabupaten Kendal. Hal ini menggambarkan bahwa s ektor pertanian masih menjadi mata pencaharian . Kabupaten Demak dan Kabupaten Grobogan mempunyai jumlah penduduk yang besar yang bekerja pada sektor tersebut.

295 445.10 100 Kab.91 20.69 9.15 5.630 71.246 81.14 1.88 0.495 104.78 0.00 6.000 41.764 21.07 0.14 100 Sumber: Jawa Tengah Dalam Angka 2006.665 45.82 0.00 4. Demak Jumlah 188.235 % 7.104 22.312 4.496 6.896 % 38.736 16.076 % 60.67 13. Grobogan Jumlah 425.14 0.304 440 633.360 137.762 996 113.37 3.97 0.202 20.23 0. data diolah . Semarang Jumlah 190.112 89.12 0.354 397 467.34 0.30 29.20 22.20 9.60 3.917 370 35.976 201.00 7. Kendal Jumlah 215.890 92.07 4.68 0.830 52.44 16.546 1.515 % 48.987 2.6 PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS YANG BEKERJA MENURUT KABUPATEN/KOTA DAN LAPANGAN PEKERJAAN UTAMA DI WILAYAH KEDUNGSEPUR TAHUN 2005 Lapangan Usaha Utama Pertanian Pertamb & Galian Industri Listrik.512 144.08 0.29 100 Kab.49 1.36 10.298 32.400 62.51 19.696 19.27 0.60 10.395 1.432 % 2.490 674 500.96 3.33 0.08 100 Kab.330 40.20 0.122 62.000 700.768 711 5.40 22.74 7.57 5.952 3.160 21.362 72 71.07 100 Kab.00 10.84 22.48 0.41 5.57 1.30 22.19 4.054 64.00 13.38 0.072 46.360 2.13 100 Kota Salatiga Jumlah 5.850 20.229 216 15.21 14. Gas dan Air Konstruksi Perdagangan Komunikasi Keuangan Jasa Lainnya Jumlah Kota Semarang Jumlah 14.336 4.826 % 40.93 0.06 21.08 7.784 521 29.931 3.380 5.TABEL III.05 0.569 23.62 0.84 4.94 31.550 2.

06%.74%. Untuk sektor perdagangan Kota Semarang merupakan wilayah di Kedungsepur yang mempunyai penduduk tertinggi yang bekerja di sektor tersebut yaitu 31. Begitu juga pada sektor komunikasi. sedangkan pada daerah lain hanya sejumlah kurang dari 70%. Pergerakan penduduk yang cukup tinggi antar wilayah terutama sepanjang jalur utama regional merupakan potensi dalam pengembangan wilayah karena dapat men-generate pertumbuhan ekonomi. Sedangkan Kota Semarang merupakan wilayah yang sedikit sekali penduduknya yang bekerja di sektor pertanian yaitu hanya 2. Penduduk usia produktif di Wilayah Kedungsepur rata-rata adalah 69.27% . Jumlah dan angka pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi berada pada kawasan di sekitar jalur utama regional. Kepadatan yang lebih tinggi pada daerah yang menjadi pusat aktivitas menandakan bahwa daerah tersebut menjadi penarik bagi penduduk untuk datang dan melakukan aktivitas. 3. karena dapat menjadi tenaga kerja yang potensial. Kabupaten Grobogan merupakan wilayah yang jumlah penduduknya tertinggi yang bekerja di sektor pertanian yaitu 60. sedangkan yang bekerja di sektor keuangan adalah 3. .3.37%. Penduduk Kota Semarang yang bekerja di sektor komunikasi 7. keuangan dan Jasa masih didominasi oleh Kota Semarang. dan pada sektor jasa 21.82 %.5 Potensi Sumber Daya Manusia Jumlah penduduk yang cukup banyak terdapat pada Wilayah Kedungsepur menjadi potensi yang dapat dioptimalkan dalam mendukung perkembangan kawasan.71%.68%.80 utama di wilayah Kedungsepur.84%. Jumlah penduduk usia produktif terbesar berada di Kota Semarang yang mencapai 83.

kualias sumber daya manusia dapat ditunjukkan oleh kualitas hidup yang merupakan penilaian kesejahteraan masyarakat dan tingkat kepuasannya. IPM paling rendah dan berada di bawah IPM Jawa Tengah terletak di Kabupaten . Semakin tinggi angka IPM atau HDI suatu wilayah menunjukkan keadaan wilayah yang bersangkutan semakin baik. Ketiga komponen IPM tersebut merepresentasikan kualitas kesehatan. Indeks Komposit Pendidikan yang dihitung dari ratarata lama sekolah dan Angka Melek Huruf (%). IPM atau Human Development Index (HDI) merupakan indeks gabungan (komposit) dari komponen: Indeks Harapan Hidup yang dihitung dari Angka Harapan Hidup waktu lahir. di antara kabupaten/kota di Wilayah Kedungsepur.81 Pergerakan penduduk ini secara otomatis akan membawa modal (uang) dan barang sehingga pertumbuhan ekonomi juga akan ikut berkembang. pengetahuan dan keterampilan. Data dari Indonesia Human Development Report 2004 menunjukkan bahwa IPM pada semua kabupaten/kota di Wilayah Kedungsepur mengalami peningkatan dari tahun 1999 ke tahun 2002. serta Indeks Daya Beli yang dihitung dari pengeluaran riil perkapita yang disesuaikan dan Indeks Harga Konsumen. Sebagai indikator pembangunan manusia adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada tahun 2002. Untuk mengukur kesejahteraan masyarakat dapat dilihat dari keberhasilan pembangunan manusia. Selain itu. serta standar hidup masyarakat. Demikian juga terjadi pada masingmasing indikator IPM yang menunjukkan peningkatan ke arah yang lebih baik pada semua kabupaten/kota.

kecuali Kota Semarang dan Kabupaten Kendal.000. Data dari Indonesia Human Development Report 2004 memperlihatkan bahwa Angka Melek Huruf dari penduduk dewasa di atas 85% dari jumlah penduduk dewasa dan berada di atas Angka Melek Huruf Propinsi Jawa Tengah. Namun berdasarkan ranking IPM seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Paparan . Rata-rata lama sekolah memperlihatkan bahwa penduduk usia 15 tahun keatas pada kabupaten/kota di Wilayah Kedungsepur sudah menjalani pendidikan formal selama lebih dari 6 tahun.per bulan.6. Indeks komposit pendidikan yang diukur dari Angka Melek Huruf dan Rata-rata lama sekolah merupakan representasi dari kualitas pengetahuan dan keterampilan penduduk. Kabupaten Grobogan. empat kabupaten/kota di Wilayah Kedungsepur (Kabupaten Demak..900.5) dan Kabupaten Grobogan (65.82 Kendal (65.5). Sedangkan IPM paling tinggi terletak di Kota Semarang. Kabupaten Semarang. yaitu sebesar 73. Data standar hidup yang diukur dengan pengeluaran perkapita menunjukkan bahwa pengeluaran riil perkapita yang disesuaikan pada kabupaten Kendal dan Grobogan di bawah Rp 600. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk usia 15 tahun keatas di kabupaten/kota Wilayah Kedungsepur telah berhasil menyelesaikan pendidikan sekolah dasar. dan Kota Salatiga) mengalami penurunan ranking.. Pengeluaran riil perkapita tertinggi berada di Kota Salatiga. Dan hanya penduduk usia 15 tahun keatas di Kota Semarang dan Salatiga yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan dasar 9 tahun.per bulan. yaitu sebesar Rp 617.

7 95.1 Kondisi Perekonomian Struktur Ekonomi Struktur ekonomi suatu daerah sangat ditentukan oleh besarnya kemampuan masing-masing sektor ekonomi dalam memproduksi barang dan jasa.5 65.7 TABEL III.7 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA WILAYAH KEDUNGSEPUR Provinsi/ Kabupaten/ Kota JAWA TENGAH Kota Semarang Kab.5 2002 66.0 68.6 595.6 84.8 88.8 6. BPS BAPPENAS 3.2 62.8 589.2 615. Grobogan Kota Salatiga Usia Harapan Hidup (Tahun) 1999 2002 68.5 584.5 6.4 85.4 6.6 5.1 65.0 602.6 65.4 6.9 70.8 591.5 93.3 68.5 86.4. Demak Kab.7 5.6 85.3 73.5 68.5 88. Semarang Kab.4 65.2 89.6 591.3 617. 3.0 6.9 64.8 607. .3 9.5 Pengeluaran Per Kapita (000 RP) 1999 2002 583.0 585.7 594.7 70.5 70.2 64.7 68. dalam hal ini dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di Wilayah Kedungsepur.8 604.0 8.1 70.1 6.9 583.2 71.5 66.4 69.8 93.4. Struktur yang terbentuk dari nilai tambah yang diciptakan oleh masing-masing sektor tersebut menggambarkan ketergantungan suatu daerah terhadap kemampuan berproduksi dari masing-masing sektor.9 67. Titik berat pembahasan struktur dan pertumbuhan ekonomi adalah masalah pertumbuhan yaitu tentang laju pertumbuhan ekonomi.3 Rata-Rata Lama Sekolah (Tahun) 1999 2002 6. Kendal Kab.5 10.7 2002 85.2 6.2 Angka Melek Huruf (%) 1999 84.5 72.8 Sumber : Indonesia Human Development Report 2004.3 70.6 9.9 71.83 mengenai Indeks Pembangunan Manusia di Wilayah Kedungsepur terangkum dalam tabel III.9 IPM 1999 64.6 67.3 89.8 69.6 95.

Struktur ekonomi Kota Semarang.83 24.8 RATA-RATA KONTRIBUSI SEKTOR EKONOMI TERHADAP PDRB WILAYAH KEDUNGSEPUR TAHUN 2005 (%) Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.92 100 Kab.70 9.70 100 Sumber : Kabupaten/ Kota Dalam Angka 2006.79 4.84 Berdasarkan pada Tabel III. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.83 16. Grobogan 41. Apabila dilihat dari tenaga kerja yang terserap.73 %.08 0.59 20.21 11.48 4.20 17. Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang didominasi oleh sektor Industri Pengolahan.34 % dari total PDRB. Kendal 24.33 13.79 21. struktur ekonomi pada kabupaten/kota kawasan Kedungsepur bervariasi. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.8.63 17.34 0.50 7.78 2. Sementara itu struktur ekonomi Kota Salatiga didominasi oleh sektor Pengangkutan dan Komunikasi.11 1.66 6.93 0. Industri Pengolahan menyerap tenaga kerja sekitar TABEL III.65 1.08 3.05 11. Hotel dan Restoran yang menyumbang pembentukan PDRB sebesar 17.48 19. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Jumlah Kota Smg 1. secara riil (atas dasar harga konstan 2000).46 100 Kota Salatiga 6.86 100 Kab.34 1. data diolah .91 100 Kab.83 100 Kab.40 3. Demak 42.36 2.54 0. Kabupaten Demak dan Kabupaten Grobogan berstruktur Pertanian.73 9.90 40.06 2. Gas.39 2.81 3.41 4.40 3. namun tidak boleh diabaikan begitu saja kontribusi sektor Perdagangan.84 3.28 0. Smg 13.21 9.74 18.44 1.27 4.03 0.01 6.15 7.30 16.51 4.32 0.32 40. Struktur ekonomi Kota Semarang didominasi oleh sektor Industri Pengolahan yang menyumbang sebesar 40.12 47.39 17.

11 %.01 %) sektor industri dan pengolahan (19. yaitu sektor Pengangkutan dan Komunikasi (24. sedangkan sektor Perdagangan. sektor industri dan pengolahan memberikan kontribusi .79 %) dan sektor Jasa (16.85 30% dari total pekerja dan cenderung meningkat selama kurun waktu 2 0022005. Perekonomian di Kota Salatiga didukung oleh tiga sektor utama. Pada umumnya daerah agraris dalam pembentukan PDRB banyak bergantung pada alam. Kabupaten Demak dan kabupaten Grobogan menggantungkan diri pada sektor pertanian yang masing-masing memiliki kontribusi lebih dari 40%. dan Restoran menyerap sekitar 22 %. sedangkan di Kabupaten Semarang. Struktur ekonomi yang bertumpu pada sektor Industri Pengolahan selain di Kota Semarang adalah di Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang. Ini menunjukkan bahwa di kedua kabupaten tersebut merupakan wilayah agraris. dan rata-rata pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan dengan daerah industri. industri tekstil dan pakaian jadi) perlu dikembangkan secara optimal dengan melalui pemberian insentif perpajakan atau kemudahan prosedur bagi pelaku usaha yang ingin mengembangkan usahanya.7 %). maka industri yang ada sekarang (terutama industri makanan dan minuman. Hotel. Mengingat sektor Industri pengolahan mempunyai nilai tambah yang tinggi dan menyerap tenaga kerja yang cukup besar. dimana perekonomiannnya sebagian besar ditopang oleh sektor pertanian. Di Kabupaten Kendal kontribusi Industri Pengolahan sebesar 40. Hal ini dibuktikan dengan PDRB total di Kabupaten Demak dan Kabupaten Grobogan yang lebih rendah dibandingkan dengan PDRB total kabupaten/kota lainnya di Kawasan Kedungsepur (kecuali Kota Salatiga).

4. Dalam prakteknya.2. Indikator ini penting untuk mengetahui keberhasilan pembangunan yang telah dicapai dan berguna untuk menentukan arah pembangunan di masa yang akan datang. Laju pertumbuhan ekonomi secara riil di kabupaten/kota Kawasan Kedungsepur pada tahun 2001-2005 menunjukkan angka yang bervariasi. Semua kabupaten/kota di kawasan Kedungsepur mengalami pertumbuhan ekonomi yang positif di atas 2% pada tahun 2001-2005.2 Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi merupakan pertumbuhan yang dibentuk oleh berbagai macam sektor ekonomi (lapangan usaha) yang secara tidak langsung menggambarkan tingkat perubahan ekonomi yang terjadi di suatu daerah. bahkan ada beberapa yang terpaksa menutup . laju pertumbuhan ekonomi suatu negara atau wilayah ditunjukkan dengan kenaikan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) atau Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB). laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang mengalami penurunan. Namun bila dilihat dari perkembangannya. Bahkan di kota Semarang dan Kabupaten Grobogan mengalami pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 3%. 3.03 %.86 sebesar 47. Lebih lengkap dapat dilihat pada Gambar 3. Sektor yang kegiatannya mengolah lebih lanjut hasil pertanian dan pertambangan menjadi produk yang lebih bermanfaat ini mempunyai peranan yang sangat strategis dalam perekonomian kabupaten Kendal dan kabupaten Semarang. Hal ini disebabkan banyaknya perusahaan industri di Kabupaten Kendal dan Semarang yang mengalami kesulitan usaha.

hotel dan Restoran Pengangkutan dan K unikasi om K euangan. K ota Grobogan Salatiga Total Kabupaten/Kota Sumber: Hasil Analisis. Gas dan Air Bersih K onstruksi Perdagangan. yang selalu . 2008 GAMBAR 3.3 Potensi Ekonomi Laju pertumbuhan ekonomi secara riil di kabupaten/kota Wilayah Kedungsepur pada tahun 2001-2005 menunjukkan angka yang bervariasi. Pertumbuhan ekonomi ini perlu didukung dengan kondisi sarana dan prasarana yang memadai sehingga akan berjalan dengan optimal. K ab.4. Hal yang sama juga terjadi pada pertumbuhan PDRB perkapita.2 GRAFIK LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI WILAYAH KEDUNGSEPUR TAHUN 2001-2005 usahanya. K ab. Semua kabupaten/kota di wilayah Kedungsepur mengalami pertumbuhan ekonomi yang positif di atas 2% pada tahun 2001-2005. Bahkan di kota Semarang dan Kabupaten Grobogan mengalami pertumbuhan ekonomi rata-rata diatas 4%. Persewaan dan Jasa Perusahan Jasa-jasa % 10 5 0 -5 K ota Sm g K ab.87 Pertanian 25 20 15 Pertam bangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Kendal Dem ak Sm g K ab. 3.

Semarang 3% Kab/Kota di luar Kedungsepur 78% Kab.3 PERBANDINGAN PDRB KABUPATEN/KOTA DENGAN WILAYAH KEDUNGSEPUR DAN JAWA TENGAH TAHUN 2005 .88 Kab. Demak 8% Kab. Kendal 14% Kota Salatiga 2% Kota Semarang 54% Kedungs epur 22% Kab/Kota di luar Kedungs epur 78% . Demak 2% Sumber: Hasil Analisis. Semarang 14% Kab. 2008 GAMBAR 3. Kota Semarang 11% Kab. Kendal Kab. Grobogan 8% Kab. Grobogan 3% Kota Salatiga 2% 1% Kab.

98%) dan Kota Salatiga (2. perdagangan.44%).54%). kecuali pada Kota Salatiga yang sempat mengalami penurunan.73%) dan Kota Salatiga (0. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 3. Kabupaten Kendal (13. Kabupaten Demak (1. Kemudian berturut-turut adalah Kabupaten Semarang (14. Kabupaten Kendal (2. Peluang-peluang yang dimiliki yang berkaitan dengan kedudukan Wilayah Strategis Kedungsepur cukup besar.94 trilyun.89 mengalami kenaikan. kontribusi PDRB masing-masing Kabupaten/Kota terhadap wilayah Kedungsepur dapat dilihat bahwa Kota Semarang memiliki kontribusi yang terbesar yaitu 52. dan jasa).88% dari total PDRB Kedungsepur sebesar Rp. Kontribusi PDRB wilayah Kedungsepur jika dibandingkan dengan wilayah Jawa Tengah maka wilayah Kedungsepur memiliki kontribusi sebesar 21.1 Kondisi Pemanfaatan Ruang Kondisi pemanfaatan ruang di Wilayah Kedungsepur dipengaruhi oleh .5.13%). Kabupaten Demak (7.34%). Kabupaten Grobogan (8. 143.80%).99%). Kabupaten Semarang (3.49%).63%. Kabupaten Grobogan (1.3 3. Pada tahun 2005. Kontribusi masing-masing Kabupaten/Kota terhadap Jawa Tengah adalah sebagai berikut: Kota Semarang (11. dari total PDRB Jawa Tengah sebesar Rp. Peranan sektor ekonomi Wilayah Kedungsepur dapat dilihat dari perbandingan kontribusi PDRB wilayah Kabupaten/Kota terhadap Kedungsepur maupun terhadap Jawa Tengah secara keseluruhan.83%). 31. 1 trilyun.48%). terutama peluang perekonomian yang bersifat sekunder dan tersier (industri.5 Pemanfaatan Ruang 3.

dan Kecamatan Semarang Tengah. Genuk.90 kondisi topografinya. yaitu meliputi daerah pesisir dengan pemanfaatan ruang sebagai kawasan budidaya perikanan atau tambak. Pudakpayung-Ungaran yang melebar hingga ke daerah Bergas dan Pringapus (Kabupaten Semarang). serta Tugu-Kaliwungu. kawasan pertanian dengan topografi yang relatif datar dan kawasan bukit atau pegunungan yang banyak dimanfaatkan untuk perkebunan dan kawasan lindung. dan Kecamatan Ngaliyan yang berada pada daerah pinggir kota. Semarang Timur.47% dari total luas wilayah. Kawasan industri juga berkembang pada daerah pinggiran Kota Semarang yaitu koridor Genuk-Sayung. guna lahan didominasi oleh guna lahan bangunan. Tidak ada kecamatan yang luas tanah sawahnya melebihi 30% dari luas total wilayah. sehingga cenderung melebar pada wilayah sub urban dengan mengikuti jaringan jalan yang ada. Kawasan industri ini . Gunungpati. Guna lahan yang berupa hutan juga tidak banyak terdapat. hanya ada di Kecamatan Mijen dan Kecamatan Ngaliyan. Dari luas tanah yang ada. PedurunganMranggen. Tembalang. Gayamsari. Pada daerah pusat kota yang menjadi simpul aktivitas. tanah sawah hanya mencakup 6. bahkan mencapai di atas 80% yaitu di Kecamatan Gajahmungkur. Semarang Utara. Candisari. Wilayah kota Semarang memerlukan pengembangan lebih lanjut guna memenuhi kebutuhan akan kegiatan-kegiatan sebagai kota pusat pertumbuhan. Kecenderungan yang ada menunjukkan bahwa perkembangan fisik pada pusat kota ini sudah jenuh. Wilayah rencana pengembangan yang cukup potensial adalah wilayah Kecamatan Mijen. Tanah sawah relatif tidak banyak terdapat di Kota Semarang.

terutama di Kecamatan Bringin (845 ha) dan Kecamatan Pringapus (593 ha). sekaligus menampung limpahan pertumbuhan Kota Semarang. kawasan industri yang ada harus dibatasi perkembangannya agar tidak masuk ke dalam CBD kota dan tidak mengkonversi lahan produktif yang ada. meskipun luasnya tidak begitu besar.91 perlu dimantapkan karena dapat berfungsi sebagai generator pertumbuhan wilayah. Guna lahan yang berupa hutan terdapat cukup luas. pemanfaatan lahan di Kota Salatiga sangat dominan berupa pekarangan/bangunan. rata-rata mencapai 30%. Hanya saja. khususnya Kota Semarang. kecuali di Kecamatan Tingkir yang seluas 49. Di sisi lain. Penggunaan lahan yang berupa . dengan cara menyediakan sarana dan prasarana penunjang serta ditopang dengan kebijakan yang mendukung seperti perijinan satu atap dan penetapan kawasan berikat dengan insentif bagi industri. karena potensi pencemaran yang ditimbulkan. Pemanfaatan lahan yang berupa hutan juga ada di Kota Salatiga. penggunaan lahan dominan adalah sebagai tanah tegalan atau hutan. pengembangan ini harus mempertimbangkan aspek konservatif. Open space yang masih cukup luas menjadikan wilayah Kabupaten Semarang cukup potensial untuk dikembangkan. mengingat kedudukan Kabupaten Semarang sebagai daerah hulu yang berpengaruh langsung pada wilayah hilirnya. Pada wilayah yang luas sawahnya kurang dari 30%.64% dari luas wilayah. Kondisi pemanfaatan ruang di Kabupaten Semarang tidak sepadat kondisi pemanfaatan fisik Kota Semarang. Tanah sawah masih banyak terdapat pada tiap wilayah kecamatan. yang pada semua kecamatan mencapai di atas 50%. Seperti halnya pemanfaatan lahan di Kota Semarang.

Kecamatan Weleri. sehingga rencana pengembangan harus memperhatikan aspek ekologis dan daya dukung lahan. Perkembangan fisik di Kabupaten Kendal cenderung berkumpul pada pusat aktivitas dan simpul kegiatan ekonomi. serta linier mengikuti jaringan jalan. Kota Salatiga juga berfungsi sebagai wilayah konservasi dan daerah tangkapan air bagi daerah hilir. Wilayah yang banyak daerah terbangunnya adalah wilayah yang berada pada jalur Pantura yaitu Kota Kendal. karena posisi Kota Salatiga yang merupakan kota transit. wilayah Kabupaten Kendal terbagi dalam dua bagian. yaitu Kecamatan Gemuh. serta bagian bawah yang berupa dataran rendah yang cenderung berfungsi sebagai wilayah pusat aktivitas serta wilayah yang berbatasan dengan Laut Jawa yang berkembang sebagai areal pertambakan. terutama jalan regional pantura.92 lahan terbangun berada pada daerah pusat kota dan di sepanjang jalur regional. terutama pada daerah-daerah pinggiran.84%. Kecamatan Patebon. Pemanfaatan lahan di Kabupaten Kendal didominasi oleh lahan terbuka yaitu tanah sawah seluas 33.23% dari luas wilayah yang ada. serta wilayah yang berbatasan dengan Kota Semarang yaitu Kecamatan Boja. bagian atas yang berupa dataran tinggi dengan dominasi berupa hutan dan tegalan yang berfungsi sebagai kawasan lindung dan penyangga. serta lahan kering non terbangun. Guna lahan yang berupa bangunan hanya ada seluas 17. Wilayah yang cenderung cepat perkembangannya . dan Kecamatan Ringinarum. Sedangkan wilayah open space berada pada daerah belakangnya. Secara umum. Guna lahan yang berupa hutan sebagai daerah konservasi terdapat pada daerah sebelah selatan yang berupa pegunungan.

sedangkan wilayah yang berbatasan dengan Laut Jawa berkembang sebagai areal pertambakan. Jalur pantura menjadi daya tarik yang sangat besar.02% dari luas keseluruhan. Wilayah terbangun yang ada berkembang mengikuti jaringan jalan Semarang-Purwodadi. Perkembangan fisik di masa datang harus mempertimbangkan kondisi bahwa sebagian besar lahan Kabupaten Demak adalah sawah produktif. Pemanfaatan lahan di Kabupaten Demak didominasi oleh tanah sawah seluas 56. hanya ada di Kecamatan Mranggen (100 ha) dan Kecamatan Karangawen (1. sedangkan .35%. yaitu pada Kecamatan Sayung dan Kecamatan Mranggen yang mendapat limpahan pertumbuhan industri dan aktivitas lainnya dari Kota Semarang. Wilayah Kabupaten Demak cenderung datar dan guna lahan yang berupa hutan relatif tidak banyak terdapat. Wilayah yang berupa dataran rendah dan berfungsi sebagai kawasan budidaya terdapat pada bagian tengah wilayah Kabupaten Grobogan. sedangkan tanah sawah hanya terdapat sebesar 36. sedangkan wilayah yang berbatasan dengan Kota Semarang telah mengalami konurbasi. Pemanfaatan lahan di Kabupaten Grobogan didominasi oleh tanah kering seluas 63.23% dari luas wilayah.13%.472 ha).93 adalah wilayah bawah yang memiliki akses pembagi ke arah selatan yaitu Kecamatan Weleri dan Kecamatan Kaliwungu. dan tumbuh secara sporadis. Wilayah yang berkembang dengan cukup pesat adalah wilayah yang dilewati jalur pantura dan wilayah yang berbatasan dengan Kota Semarang. sedangkan yang berupa pekarangan/bangunan hanya sebesar 15.87%. yang sebaiknya tidak dikonversi menjadi tanah kering. Sebagian besar tanah kering berupa tegalan dan hutan. Guna lahan terbangun hanya seluas 15.

786 13.94 wilayah pinggiran adalah kawasan penyangga dan kawasan lindung.751.96 30.268.5 1. Kebanyakan lahan yang berada di bagian hilir kawasan merupakan lahan dengan daya dukung lahan sebagai kawasan budidaya.92 0 2.327 2. Yang perlu diingat adalah perubahan guna lahan menjadi daerah terbangun harus memperhitungkan guna lahan sebelumnya dan tidak boleh mengkonversi lahan yang merupakan lahan pertanian subur serta lahan yang berfungsi sebagai penahan intrusi air laut.861.3 Jumlah 37.9 12.1261 9.572 14.029. TABEL III.903. Smg Salatiga Kendal Demak Grobogan Bangunan 13.024.425 Tanah Kering Padang Rawa Tambak 651.897.131 0 23 3. Dengan banyaknya kawasan penyangga.817.33 20.7 805.9 PEMANFAATAN RUANG DI WILAYAH KEDUNGSEPUR (Ha) TAHUN 2005 Tanah Sawah 3.119 Tegalan 6. .632 1.623 19 0 0 0 27 0 3.292 Hutan 1.72 7.004 31.939.01 1.62 145 1.056 0 9.007 63.119 6.653. maka pengembangan yang ada harus memperhatikan aspek ekologis agar sesuai dengan daya dukung lahan yang ada.5.1 59.89 12.100 1.668.43 5.2 Potensi Pemanfaatan Ruang Potensi pemanfaatan ruang di wilayah Kedungsepur ditunjukkan dengan peruntukan daya dukung lahan sebagai kawasan budidaya cukup luas.678.279 55.890 2 15 14 Kab/Kota Semarang Kab.03 10.314 3.02 8. data diolah 3.515.7 5. 3.877. terutama di wilayah Kecamatan Tanggungharjo. Hal ini merupakan potensi bagi ketersediaan cadangan lahan untuk mengantisipasi perkembangan secara fisik.101.100 22.237 Sumber: Kabupaten/Kota Dalam Angka 2006.7 Lainnya 8.032 195.370 66.

4 PETA POLA P MAGISTER PEMBANGUNAN WILAYAH DAN KOTA PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG TESIS: KETERKAITAN ANTAR SEKTOR EKONOMI DAN ANTAR DAERAH DI WILAYAH KEDUNGSEPUR PETA POLA PEMANFAATAN LAHAN I WILAYAH KEDUNGSEPUR LEGENDA Wilayah Perairan No.4 UTARA SUMBER BAPPEDA PROVINSI JAWA TENGAH EMANFAATAN LAHAN . SKALA 3.95 GAMBAR 3.

dan CBD akan menjadi kota yang lebih manusiawi. Pergerakan regional maupun lokal pada dasarnya menggunakan Jalur Pantura maupun jalur tengah. Purwokerto dan sekitarnya). kawasan yang bukan merupakan kawasan perkotaan dapat berkembang dengan berorientasi pada sektor agraris atau mengandalkan pariwisata. Pekalongan. Kudus. Di sisi lain. Pemerataan perkembangan ini yang didukung dengan pengalokasian pusat-pusat perkembangan wilayah akan meningkatkan kondisi perekonomian wilayah dan mengurangi disparitas antar wilayah. Magelang. Dengan demikian. seperti jalan arteri dan jalan kolektor yang menghubungkan wilayah atau kota-kota besar lainnya di dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah maupun dengan wilayah provinsi lain. Kecenderungan perkembangan yang tidak lagi berorientasi pada daerah pusat kota (CBD) akan dapat mengurangi beban daerah CBD. perkembangan kota akan berjalan dengan lebih luas. Tegal. Jalur ini menjadi urat nadi pergerakan terutama . Perkembangan wilayah perkotaan tersebut tidak dapat dilepaskan dari potensi transportasi yang dimiliki. daerah suburban yang menjadi daerah yang terpengaruh perkembangan CBD akan lebih berkembang. Di sisi lain. pelayanan prasarana di pusat kota akan optimal. dan sekitarnya) dan bagian Selatan sampai Barat (Surakarta. Jalur ini merupakan jalur yang menghubungkan Jawa Tengah bagian Utara (Semarang. yaitu jalur Semarang-Bawen.96 Perkembangan wilayah perkotaan yang cenderung berbentuk linier mengikuti jaringan jalan akan mempermudah akses pelayanan prasarana. Bawen-Surakarta. dan Bawen-Magelang-Yogyakarta.

Jaringan jalan lainnya yang menuju atau dapat menjangkau wilayah Kedungsepur adalah jalur Grobogan-Sragen atau Solo di bagian Selatan. Sistem angkutan penumpang dan barang di wilayah Kedungsepur sebagian besar sudah terlayani dan menjangkau sampai kedesa-desa berupa angkutan kota dan desa. . Karenanya Wilayah Kedungsepur memiliki potensi pengembangan yang besar. telah tersedia Bandara Ahmad Yani di Kota Semarang sebagai bandar udara nasional yang menghubungkan kota-kota besar di Indonesia. Di Kabupaten Demak sistem transportasi sudah melayani sampai ke desa-desa dan ke sentra-sentra produksi pertanian. seperti rute Demak-Godong-Purwodadi. Di Kabupaten Demak terdapat dua terminal bus dan non bus yang dijadikan simpul pergerakan barang dan jasa untuk sistem transportasi yang ada.97 sebagai lintasan pergerakan internal dan eksternal. Di Wilayah Kedungsepur terdapat simpul-simpul pergerakan berupa terminal dan sub terminal dimasing-masing kabupaten yang dijadikan sebagai titik awal dalam pergerakan barang dan jasa serta pergantian moda transportasi. Pergerakan ini dapat diidentifikasi dengan adanya rute angkutan dan dukungan prasarana terminal di masing-masing wilayah. Selain pelabuhan di Kota Semarang. di Kabupaten Kendal nantinya juga akan dikembangkan Pelabuhan Samudra yang merupakan pelabuhan dengan skala internasional. Kedua fasilitas ini merupakan akses penghubung Wilayah Kedungsepur menuju arus pergerakan internasional. Di bidang transportasi udara. Di Kota Semarang terdapat pelabuhan laut skala nasional sehingga mempermudah pula hubungan dengan pulau-pulau lain di Indonesia.

98 Serlain itu adanya rencana jalan tol Semarang-Solo dan Semarang-Demak akan dapat mengurangi kemacetan yang sering terjadi pada beberapa simpul di jalan utama. Sifatnya yang fleksibel dan layanan yang door to door merupakan keunggulan yang dimiliki oleh transportasi jalan. Moda ini juga sangat baik digunakan untuk jarak dekat dan sedang. . Yaitu melalui Jalur Pantai Utara yang menghubungkan Provinsi Jawa Timur-Jawa Tengah-Jawa Barat serta DKI Jakarta dan Jalur Pantai Selatan yang menghubungkan Jawa Tengah dengan DI Yogyakarta.6. Rencana ini juga akan dapat membagi dan mengarahkan perkembangan wilayah agar tidak terlalu linier dan daerah belakang juga dapat ikut berkembang. 3.6 Kondisi Sistem Transportasi 3. Perencanaan sarana maupun transportasi membutuhkan penanganan yang khusus sehingga dapat mendukung penyebaran aktivitas yang pada akhirnya dapat mengurangi disparitas antar wilayah. Hal yang paling mendasar dalam penyediaan sistem jaringan jalan untuk skala wilayah adalah menjamin aksesibilitas dan efisiensi. Selain itu transportasi jalan memiliki daya jangkau yang tinggi. Kabupaten/kota yang termasuk dalam Kawasan Kedungsepur terletak di jalur antara kota-kota Orde I dan juga penghubung utama antar provinsi.1 Transportasi Darat Transportasi jalan merupakan jaringan transportasi penting dalam sistem transportasi darat. Dengan posisi yang strategis tersebut.

prasarana transportasi laut di Kawasan Kedungsepur juga memiliki potensi besar untuk pengembangan pelabuhan laut. Pelabuhan Tanjung Emas yang terletak di Kota Semarang merupakan pelabuhan utama di Jawa Tengah yang cukup penting dan .2 Transportasi Laut Jaringan transportasi laut sebagai salah satu bagian dari jaringan moda transportasi air mempunyai perbedaan karakteristik dibandingkan moda transportasi lain yaitu mengangkut penumpang dan barang dalam jumlah besar dan jarak jauh antar pulau maupun antar negara. Di Kawasan Kedungsepur. dll • Jalan Tol Semarang yang menghubungkan jalan Perintis Kemerdekaan-Teuku Umar-Krapyak-Majapahit-Kaligawe (Terminal). Ruang lalu lintas pada transportasi jalan berupa ruas jalan yang ditentukan hirarkinya menurut peranannya yang terdiri atas jalan arteri. dan jalan lokal. menghubungkan Kota Semarang-Bawen-Yogyakarta. Bergas-Jimbaran-BandunganSumowono ke Temanggung.99 Jaringan prasarana jalan terdiri dari simpul yang berwujud terminal baik terminal penumpang maupun barang dan ruang lalu lintas. 3. menghubungkan Kota Semarang-Purwodadi.6. Bandungan-Ambarawa. prasarana jalan utama dapat dijabarkan sebagai berikut: • Arteri Primer Utama. Sebagai kawasan yang memiliki potensi laut yang cukup besar. jalan kolektor. serta Semarang-Bawen-Solo. • Jalan Arteri primer bagian utara yang menghubungkan Weleri-KendalSemarang-Demak. • Kolektor Primer. AmbarawaBanyubiru-Salatiga.

6. Pelabuhan Tanjung Emas sendiri termasuk dalam pelabuhan internasional (utama sekunder) yang memiliki peran dan fungsi melayani kegiatan dan alih muat penumpang dan barang dalam volume yang relatif besar karena kedekatan dengan jalur pelayaran nasional dan internasional serta mempunyai jarak tertentu dengan pelabuhan internasional lainnya. Dengan status ini Bandara Ahmad .100 strategis karena menjadi simpul perekonomian dan pintu gerbang ekspor dan impor. Selain itu Pelabuhan Tanjung Emas juga memiliki potensi daerah penyangga yaitu Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan daerah Perbatasan Jawa Timur dan Jawa Barat. 64 tahun 2004 tanggal 10 Agustus 2004. regional. nasional (utama tersier). Berdasarkan peran dan fungsinya. internasional (utama sekunder).3 Transportasi Udara Transportasi udara sangat efektif digunakan untuk angkutan jarak jauh. Bandara Ahmad Yani yang merupakan satu-satunya bandara yang ada di kawasan Kedungsepur baru saja memiliki status bandara internasional sesuai KM No. 3. Hal ini dikarenakan jangkauan kecepatan dan daya jangkauannya yang cukup fleksibel dan hampir di setiap wilayah yang memiliki sarana lapangan terbang maka dapat disinggahi . pelabuhan laut dibedakan menjadi pelabuhan internasional hub (utama primer). dan lokal. Peranan ini tidak hanya berlaku bagi Kota Semarang saja namun juga Kedungsepur secara kawasan maupun secara administratif Jawa Tengah.

juga jumlah kedatangan serta keberangkatan pesawat terbang yang singgah juga mengalami peningkatan. Mulai dari penggantian status bandara menjadi bandara internasional. Bandara Ahmad Yani selama empat tahun terakhir mengalami peningkatan dan pengembangan yang cukup pesat. .101 Yani mulai melayani penerbangan internasional yang saat ini dibuka jalur penerbangan Semarang-Singapura.

5 UTARA SUMBER BAPPEDA PROVINSI JAWA TENGAH PETA JARINGAN TRANSPORTASI .102 GAMBAR 3. SKALA 3.5 MAGISTER PEMBANGUNAN WILAYAH DAN KOTA PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG TESIS: KETERKAITAN ANTAR SEKTOR EKONOMI DAN ANTAR DAERAH DI WILAYAH KEDUNGSEPUR PETA JARINGAN TRANSPORTASI I WILAYAH KEDUNGSEPUR LEGENDA Wilayah Perairan No.

1 Analisis Sektor Basis Salah satu tujuan dari pada kebijaksanaan pembangunan adalah mengurangi perbedaan dalam tingkat perkembangan atau pembangunan dan kemakmuran antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Dengan analisis ini dapat 103 . Kemampuan pemerintah daerah untuk melihat sektor yang memiliki keunggulan dan kelemahan di wilayahnya menjadi semakin penting. Keterkaitan perekonomian Kabupaten/Kota di Wilayah Kedungsepur dengan wilayah yang lebih luas seperti Jawa Tengah dapat diidentifikasi dari penghitungan analisis Location Quotient (LQ). sedangkan bagi sektor yang baru atau sedang tumbuh apalagi yang selama ini belum pernah ada. Sektor yang memiliki keunggulan. memiliki prospek yang lebih baik untuk dikembangkan dan diharapkan dapat mendorong sektor-sektor lain untuk berkembang. masing-masing daerah sudah lebih bebas dalam menentukan sektor/komoditi yang diprioritaskan pengembangannya. Location Quotient (LQ) adalah suatu perbandingan tentang besarnya peranan suatu sektor ekonomi di suatu daerah terhadap besarnya peranan sektor ekonomi tersebut secara nasional. Menggunakan LQ sebagai petunjuk adanya keunggulan komparatif dapat digunakan bagi sektor-sektor yang telah berkembang. Setelah otonomi daerah. LQ tidak dapat dipergunakan karena produk totalnya belum menggambarkan kapasitas riil daerah tersebut.BAB IV ANALISIS KETERKAITAN ANTAR SEKTOR EKONOMI DAN ANTAR DAERAH DI WILAYAH KEDUNGSEPUR 4.

Rata-rata pertumbuhan tiap sektor tersebut kemudian dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan tiap sektor di Jawa Tengah. Kondisi ini sekaligus menunjukkan sektor ekonomi yang strategis dan merupakan sektor basis. maka dilihat pula bagaimana kondisi ratarata pertumbuhan tiap sektor dalam kurun waktu 5 (lima) tahun. maka sektor dimaksud kurang potensial untuk dikembangkan. Sektor-sektor basis di kota Semarang meliputi sektor Industri Pengolahan. Indikator yang digunakan untuk melihat kondisi tersebut adalah sebagai berikut: • Jika nilai LQ>1 berarti sektor tersebut dapat memenuhi konsumsi daerahnya sendiri. juga konsumsi daerah lain (potensi eksport). Selanjutnya dari kemungkinan nilai-nilai LQ yang diperoleh. Jika nilai perbandingan tersebut lebih besar dari 1 (satu). Gas dan Air Bersih. Untuk memberikan gambaran yang lebih teliti terhadap kondisi tiap sektor pada masing-masing Kabupaten/Kota. sektor Bangunan. sektor Pengangkutan dan .104 dideskripsikan dampak perbandingan relatif sumbangan sektor suatu daerah dengan daerah yang lebih luas. sektor Listrik. • Jika nilai LQ<1 berarti sektor tersebut tidak cukup untuk memenuhi konsumsi daerahnya sendiri bahkan cenderung mengimpor dari daerah lain. dapat diperlihatkan adanya sumbangan sektor yang mempunyai nilai LQ lebih besar dari 1. maka sektor dimaksud memiliki potensi untuk dikembangkan sebaliknya jika nilai perbandingan kurang dari 1 (satu). • Jika nilai LQ=1 berarti sektor tersebut hanya dapat memenuhi konsumsi daerahnya sendiri.

sektor Pengangkutan dan Komunikasi serta sektor Keuangan. Gas dan Air Bersih. Jika dibandingkan dengan kota Semarang. Adapun sektor Listrik. Sektor Industri Pengolahan di kota Semarang masih cukup mendominasi. sedangkan penduduk yang bekerja pada sektor-sektor tersebut rata-rata sebesar 8%. namun mampu memberikan outputnya ke wilayah lain seperti suplai listrik.83% dengan jumlah penduduk yang bekerja di sektor ini sebesar 21. hal ini bisa dilihat dari jumlah penduduk yang bekerja di sektor ini pada tahun 2005 sebesar 22.68%. sektor Keuangan. jasa perbankan dan jasa transportasi. sektor Bangunan serta sektor Pengangkutan dan komunikasi. hal ini merupakan ciri kota metropolitan yang mulai menunjukkan peralihan peran dari sektor sekunder ke sektor tersier. Kontribusi sektor-sektor basis tersebut terhadap PDRB tahun 2005 berkisar antara 10% sampai dengan 25%. provider telepon selular. Persewaan dan Jasa Perusahaan walaupun memiliki kontriibusi PDRB dan penduduk yang bekerja di sektor ini relatif kecil. Adapun sektor-sektor basis tersebut yang potensial untuk dikembangkan karena memiliki rata-rata pertumbuhan di atas Jawa Tengah adalah sektor Industri Pengolahan. sektor Keuangan. Sektor Listrik.78% dengan kontribusi PDRB sebesar 40. sektor Bangunan.34%. Kontribusi PDRB sektor Jasa pada tahun 2005 sebesar 11. Persewaan dan Jasa Perusahaan serta sektor Jasa-jasa merupakan sektor-sektor basis di kota Salatiga. sektor Pengangkutan dan Komunikasi. Gas dan Air Bersih.105 Komunikasi. Sektor Jasa juga merupakan sektor yang cukup maju di kota Semarang. nampak ada kemiripan sektor basisnya hal ini mengindikasikan bahwa kota Salatiga memiliki ciri yang mirip . Persewaan dan Jasa Perusahaan serta sektor Jasajasa.

14%. namun rata-rata pertumbuhannya sebesar 3% sedikit di bawah rata-rata pertumbuhan Jawa Tengah sebesar 3. sedangkan yang bekerja pada sektor Industri sebesar 10. Sektor-sektor basis di Kabupaten Demak meliputi: sektor Pertanian.106 dengan kota Semarang.38%.93% dan jumlah penduduk yang bekerja di sektor ini sebesar 40. Kondisi tersebut didukung oleh penggunaan lahan di wilayah ini yang sebagian besar masih berupa tanah sawah yaitu 49.20%. Persewaan dan Jasa Perusahaan.15%. Penggunaan lahan di Kabupaten Kendal juga menunjukkan bahwa sebagian besar lahan masih berfungsi sebagai sawah (33. Gas dan Air bersih merupakan sektor basis di Kabupaten Kendal dengan nilai kontribusi terhadap PDRB tahun 2005 masing-masing sebesar 24. Gas dan Air Bersih serta sektor Pengangkutan dan komunikasi. sektor Industri dan sektor Listrik. 40.08%.06%. Sektor pertanian sebenarnya merupakan sektor unggulan di Kabupaten Demak. Industri yang cukup menonjol di wilayah ini meliputi industri manufaktur.21%. Jumlah penduduk yang bekerja pada sektor Pertanian sebesar 48. Hal tersebut mengindikasikan adanya peningkatan produktivitas sektor pertanian dalam beberapa tahun terakhir ini di Kabupaten Kendal. industri otomotif dan industri komponen elektronik. Sektor Pertanian memiliki rata-rata pertumbuhan di atas Jawa Tengah.9%). sektor Bangunan dan sektor Keuangan. Adapun produk . Adapun sektorsektor basis tersebut yang potensial untuk dikembangkan karena memiliki ratarata pertumbuhan di atas Jawa Tengah adalah sektor Listrik. yaitu sektor-sektor tersiernya lebih maju. Sektor Pertanian.11% dan 1. Kontribusi sektor Pertanian terhadap PDRB Kabupaten Demak tahun 2005 sebesar 42.

jambu merah delima dan pisang. Sektor Industri Pengolahan dan sektor Perdagangan merupakan sektor basis di Kabupaten Semarang.1. Persewaan dan Jasa Perusahaan serta sektor Jasa-jasa. hal ini bisa terlihat dari kontribusinya terhadap PDRB Kabupaten Grobogan tahun 2005 sebesar 41. namun sektor-sektor ini mampu menjual produknya ke luar daerah serta memiliki ratarata pertumbuhan di atas Jawa Tengah. Sektor-sektor basis di Kabupaten Grobogan meliputi: sektor Pertanian. sektor Keuangan. Tabel IV. sektor Pertambangan dan Galian.2 dan Gambar 4. sektor Listrik.1 . Gas dan Air Bersih. Sektor Pertanian merupakan sektor yang paling menonjol di Kabupaten Grobogan. Kontribusi sektor Industri terhadap PDRB Kabupaten Semarang tahun 2005 sebesar 47. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai sektor-sektor basis dan sektor-sektor yang potensial untuk dikembangkan dapat dilihat pada Tabel IV. palawija dan buah-buahan seperti: belimbing.03% dengan jumlah penduduk yang bekerja di sektor ini sebesar 38.107 unggulan sektor pertanian meliputi: padi.82%.65% dan jumlah penduduk yang bekerja di sektor Pertanian sebesar 60. Sektor basis yang lain walaupun kontribusinya relatif kecil. Sektor ini juga memiliki rata-rata pertumbuhan di atas Jawa Tengah.08%.

8754 0.8887 0.9916 Kota Semarang 0. Demak 1.4255 0.4590 0.9832 0.5957 1.2098 0.7857 2.7727 0.2821 0.TABEL IV.8878 1.8440 1.9150 1.9004 1.0614 0.7128 0.9645 0.3753 0.4932 0.3128 0.3513 0.4825 0.1137 1.9910 1. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.6377 0.7881 0. Grobogan 1.0365 0.0522 0.6141 5.7972 1.0443 0.6693 Kab.7909 Sumber : Hasil Analisis 2008 Keterangan: Sektor Basis .9276 1.7452 Kab.6073 2.8008 4. Persewaan & Jasa Prsh Jasa-Jasa Sektor Ekonomi Location Quotient Kab.7055 0.1067 1.1 HASIL ANALISIS LOCATION QUOTIENT DI WILAYAH KEDUNGSEPUR TAHUN 2005 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan dan Galian Industri Pengolahan Listrik.4499 0.9404 1. Semarang 0.1828 Kota Salatiga 0.4718 0.2444 1.1509 0.8493 0.4748 0.6580 2. Kendal Kab.3179 1.1843 0.2515 1. Hotel & Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.6809 1.1424 1.

74 4.39 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Ekonomi Pertanian Pertambangan dan Galian Industri Pengolahan Listrik.63 -5.48 10.06 0.68 31.66 0.89 5.85 8.25 2.75 4.94 2.37 Kota Salatiga NRP (%) NP 11.13 Kab.03 2.91 2.55 3.83 1.52 6.39 3.22 0.18 -1.02 0.99 1.98 17.32 0.35 -2.18 Kota Semarang NRP (%) NP 28.29 Kab.57 2.109 TABEL IV.47 -0.34 -0.04 -12.19 6.94 0.37 72.37 42.11 3.78 5.08 -0.51 0.37 -0.56 -0.88 5. Persewaan & Jasa Prsh Jasa-Jasa Sumber : Hasil Analisis. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.75 9.78 4.36 2.17 -0.54 7.57 -9.22 -0.22 -9.37 Kab.45 Kab.93 9.89 -0.67 -0.16 5.21 5.77 -1. Kendal NRP (%) NP 10.09 2. Hotel & Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.23 0.55 12.28 3.12 6.58 0.77 1.45 1.81 3.02 -0.26 -7.30 3.41 6. Semarang NRP (%) NP -2.32 -0. 2008 Keterangan: NRP NP : Nilai Rata-rata Pertumbuhan : Nilai Perbandingan : Sektor yang potensial untuk dikembangkan .84 3.04 2.41 0.94 0.31 7.16 35.73 -1.76 13.51 16. Demak NRP (%) NP 3.92 -2.57 16.57 2.67 1.96 3.00 0.2 RATA-RATA PERTUMBUHAN PDRB TIAP SEKTOR TAHUN 2001-2005 DI WILAYAH KEDUNGSEPUR DAN NILAI PERBANDINGANNYA DENGAN JAWA TENGAH Jateng NRP (%) 3.70 1.92 0.72 -2.46 -4.70 1.48 5. Grobogan NRP (%) NP 1.07 -1.41 20.90 0.31 0.30 -0.09 -1.31 0.62 4.35 13.45 -1.93 0.37 -7.76 3.64 0.52 -3.21 -1.64 0.99 0.81 37.23 -0.06 35.12 2.

60 0.001.10.00 3.20 0.20 1.00 -4.40 Pertanian Pertambangan Industri Listrik Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa -1.50 3.00 -2.00 3.1 PENGELOMPOKAN SEKTOR KABUPATEN/KOTA DI WILAYAH KEDUNGSEPUR (Lanjutan) .00 6.40 0.00 1.00 5.00 0.00 1.00 5.00 0.00 Pertambangan Industri Listrik Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa Kota Semarang 6.00 2.00 LQ Kabupaten Kendal Sumber: Hasil Analisis.00 LQ 1.00 6.00 -1.00 -2.001.00 -2.00 0. 2008 GAMBAR 4.80 0.00 Pertanian Pertambangan Industri Listrik Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa Kota Salatiga 5.00 0.00 1.00 4.50 0.00 3.00 4.00 2.00 0.00 NP 2.50 2.00 NP 4.00 1.00 0.00 LQ 2.00 NP 2.00 4.00 Pertanian 8.

00 LQ Kabupaten Semarang 1.50 2.00 2.00 2.00 0.00 0.00 -0.00 8.50 3.501.00 LQ 1.50 1.00 0.00 3.50 Pengangkutan Keuangan Jasa NP 0.00 2.00 1.00 Pertanian Pertambangan Industri Listrik Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa Kabupaten Grobogan 5.00 Pertanian Pertambangan Industri Listrik Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa .00 -1.00 1.00 10.00 0.50 2.001.50 4.50 2.00 NP 2.00 4.00 4.00 -2.00 0.50 0.00 NP 6.00 0.50 0.00 -2.00 LQ Pertanian Pertambangan Industri Listrik Bangunan Perdagangan 1.00 3.111 Lanjutan 4.00 0.50 2.00 2.00 1.50 -1.50 Kabupaten Demak 12.50 3.

Pembacaan tabel ke samping (baris) menunjukkan bahwa jumlah keluaran masing-masing sektor didistribusikan sebagai permintaan antara dan permintaan akhir. sedangkan masukan primer berupa balas jasa atas pemakaian faktor produksi yang terdiri dari upah tenaga kerja. Pembacaan tabel ke bawah (kolom) menunjukkan bahwa jumlah masukan masing-masing sektor diperoleh dari masukan (input) antara dan masukan (input) primer. Tabel tersebut mengambarkan hubungan dinamis antar sektor produksi ekonomi melalui penyebaran input maupun output sektor-sektor ekonomi tersebut. Permintaan . keahlian.3) yang merupakan turunan dari Tabel Input-Output Wilayah Jawa Tengah dengan menggunakan metode Location Quotient (LQ). Koefisien input adalah besarnya input yang dibutuhkan dari sektor lainnya agar sektor tersebut dapat menghasilkan produk senilai 1 (satu). Tabel Input-Output mempunyai manfaat untuk kegiatan perencanaan pembangunan maupun analisis.2 Interaksi Ekonomi Interaksi ekonomi wilayah merupakan wujud keterkaitan antar sektor ekonomi dalam suatu wilayah. Masukan antara berupa masukan dari tiap sektor dalam proses produksi (kode 190). pemilik tanah/peralatan dan penyertaan modal (kode 209). Interaksi ekonomi di wilayah Kedungsepur dapat dilihat dalam Tabel Koefisien Input Wilayah Kedungsepur (Tabel IV. sebab perencanaan sektoral dengan menggunakan model yang diturunkan dari tabel Input-Output dapat dilakukan secara simultan dan memperlihatkan aspek keterkaitan antar sektor. Sehingga jumlah masukan antara dan masukan primer menunjukkan jumlah total input (kode 210).112 4.

1069 0.3697 0.0337 0.1843 0.0520 0.0008 0.0000 5 0.0004 0.5171 0.0072 0.1069 0.0120 0.6620 0.0000 9 0.0002 0.0077 0.0000 180 0.0032 0.1850 0.0118 0.1224 0.0112 0.0040 0.0061 0.0000 Sumber: Hasil Analisis.0977 0.0000 0.0410 0.1180 0.6470 1.3284 1.5669 1.0008 0.0412 0.3530 0.0473 0.0077 0.0005 0.0291 0.0109 0.8339 1.1976 0. Gas dan Air Bersih 5 = Sektor Bangunan 6 = Sektor Perdagangan.0005 0.0000 3 0.0218 0.0044 0.0214 0.0604 0.0114 0.0844 0.0017 0.1909 0.0012 0.1661 0.0198 0.8157 1.1005 0.0012 0.6716 0.0007 0.0236 0.0135 0.0000 8 0.3723 1.0133 0.0675 0.1874 0.1147 0.0076 0.0000 0.0272 0.6303 1.0087 0.0000 6 0.0031 0.0000 7 0.3 TABEL KOEFISIEN INPUT WILAYAH JAWA TENGAH TAHUN 2004 Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 190 209 210 1 0.0312 0. Hotel & Restoran 7 = Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 8 = Sektor Keuangan.0241 0.3380 1.4829 1.0248 0.6211 1.0027 0.0234 0.0078 0.0949 0.0271 0.0250 0. Persewaan & Jasa Perusahaan 9 = Sektor Jasa-Jasa 190 = Input Antara 209 = Input Primer / Nilai Tambah Bruto 210 = Input Total 180 = Output Antara .0914 0.0310 0.0005 0.2320 0.0158 0.0541 0.0152 0.0219 0.0039 0.0000 2 0.0000 4 0.3546 0.0795 0.4331 0.6277 0.0026 0.0030 0.0593 0.3789 0.0036 0.0123 0.0013 0.0072 0.113 TABEL IV.0159 0.0168 0.0196 0. 2008 Keterangan: 1 = Sektor Pertanian 2 = Sektor Pertambangan dan Galian 3 = Sektor Industri Pengolahan 4 = Sektor Listrik.0061 0.0346 0.5469 0.1079 0.0000 0.1150 0.

Sehingga jumlah permintaan antara dan permintaan akhir menunjukkan jumlah total output (kode 310). sektor Industri memerlukan input terbesar dari sektor Industri itu sendiri dan sektor pertambangan. Persewaan dan Jasa Perusahaan. . sektor Pertanian membutuhkan input terbesar dari sektor Industri dan sektor Pertanian sendiri. Sektor Pertambangan memerlukan input terbesar dari sektor Industri dan sektor Perdagangan. sektor Pengangkutan memerlukan input terbesar dari sektor Industri dan Perdagangan. sektor Keuangan memerlukan input terbesar dari sektor Perdagangan dan sektor Industri sedangkan sektor Jasa memerlukan input terbesar dari sektor Industri dan sektor Perdagangan. Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa sektor Industri merupakan sektor pemberi input terbesar bagi semua sektor kecuali sektor Listrik. sektor Listrik memerlukan input terbesar dari sektor Pertambangan kemudian sektor Bangunan memerlukan input terbesar dari sektor Industri dan sektor Perdagangan. Penerimaan input sektoral yang cukup besar tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antar sektor yang cukup besar pula.3 menurut kolom menunjukkan bahwa untuk menghasilkan produknya. Gas dan Air Bersih serta sektor Keuangan.114 antara yaitu permintaan yang dipakai dalam proses produksi (kode 180) sedangkan permintaan akhir adalah permintaan yang digunakan oleh masyarakat sebagai barang konsumsi (kode 309). Adapun sektor perdagangan untuk menghasilkan produknya memerlukan input terbesar dari sektor Industri dan sektor Perdagangan itu sendiri. Pembacaan Tabel IV.

01 30.43 34.64 1.37 100.42 1.17 45.56 0.78 100.21 13.25 8.36 50. Gas dan Air Bersih = Sektor Bangunan 6 = Sektor Perdagangan.115 Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas.40 4.97 100. sektor Pengangkutan dan Komunikasi (45.00 7 0.02 30. Sedangkan sektor Listrik.08 0.54 1.35 9.78%) serta sektor Perdagangan.48%).98 13.87 27.23 32.25 0..00 2 0.44 6.62 6.81 25.00 8 3.00 47.00 Sumber: Hasil Analisis. Hotel & Restoran 7 = Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 8 = Sektor Keuangan.4 dan Gambar 4.43 2. 2008 Tabel IV.64 0.04 7. sektor Industri Pengolahan (34.07 2.24 1.17 100.16 11.27 3.54%).67 33.48 0.78 0.31 0.30 0.25 5. pemberian input sektor Industri ke sektor-sektor lain tersebut berkisar antara 30% sampai dengan 50%.90 100.58 0.83 1.10 1.44 100.25 28.17 0.66 13.08 28.69 5.89 0.88 0. kemudian berturut-turut adalah sektor Jasa (50.00 9 2. Sektor penerima input terbesar dari sektor Industri adalah sektor Bangunan(56.19 2.62 6.35%).16 0.04%).00 3 17.19 4.00 6 5.89%).10 1.4 PROSENTASE PENERIMAAN INPUT SEKTORAL DALAM TABEL KOEFISIEN INPUT WILAYAH KEDUNGSEPUR TAHUN 2004 (%) Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 190 Keterangan: 1 2 3 4 5 = Sektor Pertanian = Sektor Pertambangan dan Galian = Sektor Industri Pengolahan = Sektor Listrik. sektor Pertambangan dan Galian (32.42 0.00 4 0.00 82.45 56. sektor Pertanian (47.00 5 3. keterkaitan antar sektor tersebut di atas disajikan dalam Tabel IV.79 3.04 4.2 menjelaskan bahwa sektor Industri merupakan pemberi input terbesar bagi hampir semua sektor.30 100.2 TABEL IV.4 dan Gambar 4.64 22.08 14.14 3.14 0.21 3.46 1. Persewaan & Jasa Perusahaan 9 = Sektor Jasa-Jasa 190 = Input Antara 1 32. Hotel dan Restoran (30.64%).50 3.16 100.20 0.13 19.89 14.55 3.20 15.56 13.73 8.19 5.18 100. Gas dan Air Bersih .13 3.58 0.

2008 GAMBAR 4.44% dari sektor Perdagangan.116 memperoleh input 82.2 PENERIMAAN INPUT SEKTORAL TERBESAR DALAM TABEL KOEFISIEN INPUT WILAYAH KEDUNGSEPUR .62% dari sektor Pertambangan dan sektor Keuangan memperoleh input sebesar 33. LISTRIK PERTANIAN JASA PERTAMBANGAN BANGUNAN INDUSTRI PERDAGANGAN PENGANGKUTAN KEUANGAN Keterangan: Penerimaan Input: 30% -40% Penerimaan Input: 41% -50% Penerimaan Input: 51% -60% Penerimaan Input: > 60% Sumber: Hasil Analisis.

1. Keterkaitan langsung ke depan menggambarkan dampak sektor tertentu terhadap sektor-sektor lainnya yang menggunakan keluaran sektor tersebut sebagai masukan antara untuk setiap unit kenaikan permintaan akhir.2133 0. Penjumlahan koefisien input sektor ke kanan atau elemen kolom akan menunjukkan keterkaitan langsung ke depan (forward linkage).3697 0.3354 0. Sektor Ekonomi Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.6716 0.0830 0. Keterkaitan langsung ke depan menggambarkan daya tarik terhadap pasar. 2.2126 0.117 4. 2008 .0830 0. Keterkaitan langsung ke belakang menggambarkan daya tarik terhadap bahan baku. Keterkaitan langsung ke belakang menggambarkan dampak sektor tertentu terhadap sektor-sektor lain yang keluarannya digunakan sebagai masukan antara untuk setiap unit kenaikan permintaan akhir.1032 0. Persewaan dan Jasa Prsh Jasa-jasa Rata-rata Keterkaitan ke Depan 0.5 KETERKAITAN KE DEPAN DAN KETERKAITAN KE BELAKANG WILAYAH KEDUNGSEPUR TAHUN 2004 No.1024 0.0901 0. 5. 6. 8. 9.6620 0. Tabel IV. Penjumlahan koefisien input sektor ke bawah atau menurut elemen baris akan menunjukkan keterkaitan langsung ke belakang (backward linkage).5 menjelaskan tentang keterkaitan langsung ke depan dan keterkaitan langsung ke belakang.1083 0. TABEL IV.2955 0. 3. hotel dan restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.3530 0. 4.8422 1.3 Keterkaitan ke Depan dan Keterkaitan ke Belakang Pengaruh sektor ekonomi terhadap sektor eknomi lainnya dapat juga dilihat dengan menjumlahkan koefisian input baik menurut baris maupun kolom. 7.4331 0.40 Sumber: Hasil Analisis.40 Keterkaitan ke Belakang 0.6277 0.6914 0.

00 Keterkaitan ke Depan Sumber: Hasil Analisis.118 Tabel IV.40 0.70 Listrik Bangunan Industri 0.60 0.50 Pengangkutan Jasa 0.00 1.5 menunjukkan bahwa keterkaitan ke belakang maupun ke depan terbesar dimiliki oleh sektor Industri Pengolahan. yaitu meminta output sektor lain sebagai input kegiatan produksinya maupun menyediakan input bagi kegiatan produksi sektor lain.60 Keterkaitan ke Belakang 0.10 Pertambangan 0.3 PENGELOMPOKAN SEKTOR DALAM KETERKAITAN KE DEPAN DAN KETERKAITAN KE BELAKANG WILAYAH KEDUNGSEPUR TAHUN 2004 .40 0.30 0.20 Keuangan 0.20 Pertanian 0.40 0. Adapun posisi tiap sektor dalam keterkaitan langsung ke depan maupun ke belakang dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) kelompok sesuai dalam Gambar 4. hal tersebut mengindikasikan bahwa sektor Industri Pengolahan memiliki peran yang besar dalam menarik sektor lain untuk berkembang.3 0.00 0.80 Perdagangan 1.80 0. 2008 GAMBAR 4.20 1.

4. Gas dan Air Bersih. karena memiliki nilai Keterkaitan ke Depan dan Keterkaitan ke Belakang yang cukup tinggi. Adapun sektor Listrik.4. nampak bahwa sektor Industri Pengolahan merupakan sektor unggulan. Gas dan Air Bersih.119 Dengan melihat pengelompokan sektor seperti pada Gambar 4. artinya perubahan permintaan input sektor ini akan memberi dampak dampak yang cukup besar bagi sektor tertentu yang keluarannya digunakan sebagai masukan antara untuk setiap unit kenaikan permintaan akhir. sektor Listrik. sektor Pertambangan dan Penggalian. Selain sektor Industri Pengolahan terdapat sektor lain yang merupakan sektor unggulan di wilayah Kedungsepur yaitu sektor Perdagangan. maka peneliti melakukan wawancara dengan beberapa tokoh kunci yang mengetahui potensi pengembangan kerjasana regional Kedungsepur yaitu. Keterkaitan Antar Daerah Untuk mengetahui keterkaitan antar daerah di wilayah Kedungsepur terutama pada sektor Industri Pengolahan dan sektor Pertanian. Sektor Perdagangan. sektor Pengangkutan dan Komunikasi serta sektor Bangunan mempunyai keterkaitan langsung ke belakang (bacward linkage) cukup besar. Kepala Badan Penanaman . artinya perubahan output sektor ini akan memberi dampak yang cukup besar terhadap sektor-sektor lainnya yang menggunakan keluaran sektor tersebut sebagai masukan antara untuk setiap unit kenaikan permintaan akhir.3 di atas. Hotel dan Restoran. Hotel dan Restoran serta sektor Pertambangan dan Penggalian mempunyai keterkaitan langsung kedepan (forward linkage) cukup besar. sektor Pengangkutan dan Komunikasi serta sektor Bangunan.

Keterkaitan antara daerahdaerah kabupaten/kota di wilayah Kedungsepur sangat kuat terjadi di wilayah Pantura yaitu Kabupaten Kendal. serta komponen elektronik. peningkatan jalan dan jembatan serta perencanaan tata ruang. seperti pengolahan air bersih. Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Provinsi Jawa Tengah. Kota Semarang dan Kabupaten Demak serta jalur selatan Semarang-Solo yang meliputi Kota Semarang dengan Kabupaten Semarang. Kerjasama dalam pengembangan infrastruktur juga sangat potensial dikembangkan di wilayah Kedungsepur. sektor Industri yang paling banyak diminati diantaranya mebel. Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Provinsi Jawa Tengah lebih menekankan tentang pentingnya menata kembali kawasan industri yang ada di . Kedungsepur juga memiliki potensi sum berdaya yang sangat melimpah. Menurut Kepala Badan Penanaman Modal Daerah Provinsi Jawa Tengah. Ketua Himpunan Kawasan Industri Semarang. Pertumbuhan sektor Industri di wilayah ini sangat pesat terutama terjadi pada jalur-jalur yang disebutkan di atas. Kepala Bagian Pemerintahan Umum Setda Kota Semarang serta Kepala Bagian Tata Pemerintahan Setda Kabupaten Semarang. Lebih lanjut Kepala BPMD Provinsi Jawa Tengah menyampaikan sebagai berikut: Banyak sekali para investor yang berminat untuk menanamkan modalnya di wilayah Kedungsepur.120 Modal Daerah Provinsi Jawa Tengah. tekstil dan produk tekstil. Ketua Forum Economic Development and Employment Promotion (FEDEP) Kabupaten Demak. Ketua Kadinda Jawa Tengah. Sektor pertanian sebenarnya cukup potensial dikembangkan di wilayah ini terutama di Kabupaten Demak dan Grobogan terutama dalam mendukung supply bahan baku industri pengolahan makanan yang ada di Kota Semarang. kerjasama regional Kedungsepur sangat potensial untuk dikembangkan karena selain kedudukan atau letak wilayah ini yang sangat strategis.

terutama industri berat dan padat karya. Kawasan industri yang selama ini terpusat di Kota Semarang terlalu membebani kota karena sebagian besar industri ini tergolong industri berat. Perkembangan kota Semarang mengarah ke sektor jasa dan perdagangan serta merupakan pintu gerbang bagi siapa saja yang akan mengakses wilayah-wilayah disekitarnya. Sementara itu Ketua Kadinda Jawa Tengah menyoroti pentingnya kota Semarang sebagai pusat kegiatan bagi wilayah Kedungsepur karena Semarang memiliki sarana dan prasarana penunjang yang cukup lengkap seperti: Pelabuhan . Demak dan Ungaran serta distribusi barang kebutuhan pokok di kota Semarang juga banyak disuplai dari wilayah di sekitar Kota Semarang. Idealnya industri-industri berat direlokasi dari kota Semarang ke kabupaten/kota lain disekitarnya seperti Kabupaten Kendal dan Kabupaten Demak. Selain itu. Lebih lanjut disampaikan bahwa di Kota Semarang lebih cocok untuk industri-industri padat modal. daerah-daerah di sekitar Kota Semarang harus dikembangkan agar dapat menunjang pendirian kawasan industri. bukan industri berat seperti manufaktur karena kebutuhan ruang industri padat modal tidak sebesar industri padat karya. kebutuhan tenaga kerja untuk industri padat modal tidak sebanyak industri padat karya sehingga arus perpindahan penduduk di Kota Semarang dapat ditekan.121 Kota Semarang. Wilayahwilayah itulah yang akan menunjang Kota Semarang. Keterkaitan dalam bidang ekonomi dapat dilihat dari banyaknya tenaga kerja di kota Semarang yang berasal dari wilayah-wilayah disekitarnya seperti Kendal. Untuk itu ke depan.

karena pada kawasan ini juga akan dilengkapi dengan pelabuhan ekspor. Konsep KEK disusun untuk meningkatkan daya saing serta mengoptimalkan pemanfaatan banyaknya industri dari negara-negara maju yang melakukan relokasi ke kawasan Asia. Selain itu. kabupaten Demak dan kabupaten Kendal serta Kota Salatiga. Disamping itu kebutuhan akan tenaga kerja walaupun sebagian besar dipenuhi dari kabupaten Semarang sendiri. Ketua Kadin Jawa Tengah menyampaikan bahwa: Keterkaitan dalam sektor Industri di Wilayah Kedungsepur salah satunya dapat dilihat pada industri unggulan di Jawa Tengah yaitu industri Tekstil dan Produk Tekstil. Kabupaten Kendal akan menjadi wilayah penyangga bagi Kota Semarang yang saat ini jumlah industrinya sudah semakin padat. sebagain tenaga kerja juga dipenuhi dari kota Semarang dan kota Salatiga. Apac Inti Corpora yang terdapat di Kabupaten Semarang. KEK merupakan kawasan bagi industri-industri yang berorientasi ekspor. di daerah perbatasan antara Semarang-Kendal juga akan di bangun Terminal Kayu. Dengan adanya rencana-rencana pembangunan sarana dan . Menanggapi masalah keterkaitan antar daerah dalam sektor Industri di Wilayah Kedungsepur.122 Tanjung Emas. Rencana pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Kabupaten Kendal diharapkan akan memperkuat posisi Kedungsepur. Dengan adanya Terminal Kayu ini diharapkan dapat mensuplai kebutuhan kayu bagi industri mebel di Wilayah Kedungsepur yang selama ini para pengusaha mebel mendatangkan langsung dari Kalimantan melalui Surabaya. Bandara A. Salah satu industri Tekstil terbesar di Asia Tenggara adalah PT. Dengan adanya KEK ini. Industri ini selain berorientasi ekspor juga memasok kebutuhan bahan baku kain bagi industri-industri garmen di kota Semarang. Yani dan Jalan Tol serta rencana pembangunan jalan tol Semarang-Solo yang akan sangat mendukung bagi perkembangan wilayah Kedungsepur.

industri ini harus ditempatkan di wilayah penyangga Semarang seperti Demak.123 prasarana tersebut. Kedungsepur akan menjadi posisi yang sangat strategis bagi Jawa Tengah. Untuk mendorong Kedungsepur sebagai wilayah Metropolitan. . belum banyak diserap oleh sektor industri walaupun sebenarnya memiliki potensi yang cukup besar. Untuk mendorong peningkatan keterkaitan pada wilayahwilayah tersebut perlu di bangun jaringan jalan yang lebih memadai sehingga lebih memperlancar jalur distribusi hasil pertanian antar wilayah. Selanjutnya Ketua Kadinda Jateng memprediksikan bahwa: Perkembangan wilayah Kedungsepur ini ke depan berkaitan erat dengan fungsi Kota Semarang sebagai financial hub dan logistic hub. Kota Semarang harus menjadi pelopor terealisasinya kerjasama regional Kedungsepur dengan memberikan semacam insentif bagi daerah penyangga karena secara ekonomi Kota Semarang lebih diuntungkan. Sektor pertanian di wilayah ini memang sebagian besar masih dipakai untuk memenuhi kebutuhan konsumsi langsung. Pembangunan jalan tol ini akan semakin mempermudah distribusi hasil pertanian di wilayah selatan Kedungsepur. Kendal dan Kabupaten Semarang sehingga dapat mengurangi beban arus tenaga kerja commuter yang cukup besar di wilayah ini. Pada bagian selatan cukup berkembang pula sektor Pertanian dan Pariwisata yang akan semakin maju dengan terealisasinya pembangunan jalan tol Semarang-Solo.Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Demak. perlu diperkuat dengan mendorong keterkaitan antar wilayah hinterland Sematang yang masih lemah seperti wilayah-wilayah Kabupaten Semarang dengan Kebupaten Kendal serta Kabupaten Semarang. Industri besar sudah tidak cocok bagi Kota Semarang. Dengan melihat potensi keterkaitan antar daerah yang cukup besar tersebut.

000 tenaga kerja. yaitu kebutuhan akan tenaga kerja antar daerah yang cukup besar. Hal ini jauh lebih besar jika dibandingkan sektor pertanian yang memperkerjakan 50. Namun sampai saat ini belum ada investor yang tertarik untuk mengolah sayur-sayuran yang . Lebih jauh ketua HKI menyampaikan bahwa sektor pertanian khususnya sayur-sayuran dari wilayah kabupaten Semarang memiliki peluang yang cukup besar untuk memasok kebutuhan sayur kering pada industri mi instan di kota Semarang.778.124 Ketua Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kota Semarang juga berpendapat senada bahwa beban Kota Semarang untuk industri sudah sangat jenuh. Kawasan Industri Bukit Semarang Baru dan Kawasan Industri Candi banyak menggunakan tenaga kerja dari kabupaten Kendal. 556 industri sedang dan 2048 industri kecil dan menengah. Ketua HKI berpendapat bahwa: Keterkaitan antar daerah di Wilayah Kedungsepur dapat dilihat pada sektor industri. Seperti pada Kawasan Industri Terboyo dan Kawasan Industri Tanah Makmur banyak menggunakan tenaga kerja dari kabupaten Demak dan industri-industri yang berlokasi di Kawasan Industri Tugu Wijayakusuma. Menanggapi pertanyaan mengenai keterkaitan antar daerah di Wilayah Kedungsepur.000 tenaga kerja. tenaga kerja diperoleh dari daerah sekitar. Sektor industri memperkerjakan lebih dari 98.772 buah terdiri dari 132 industri besar. Sebagian besar industri-industri di kota Semarang. Secara keseluruhan jumlah industri di Kota Semarang sebesar 2. Bahkan tenaga kerja dari wilayah Kabupaten Semarang juga banyak memenuhi kebutuhan industri-industri di Kota Semarang seperti industriindustri yang terdapat di Tanjung Emas Export Processing Zone (TEPZ) Peluang yang cukup besar pada sektor pertanian sebenarnya belum diolah secara maksimal dalam kaitannya untuk memenuhi sektor Industri. terutama yang berlokasi di kawasan industri. Kawasan Industri berjumlah 9 (sembilan) dengan luas wilayah ± 1500 ha dan jumlah industri yang berada di dalam kawasan sebanyak 1.

Kabupaten Demak memiliki potensi perikanan yang melimpah baik perikanan laut dan perikanan darat. jambu merah delima dan pisang. pakan ternak dan lain-lain serta kacang hijau menjadi berbagai produk olahan dan pembuatan tepung dengan daerah pemasaran yang masih terbuka lebar yaitu di wilayah Kota Jakarta. Kudus dan kota-kota besar lainnya.125 jumlahnya cukup melimpah di wilayah Kabupaten Semarang ini. pengolahan beras dan tepung beras. Terbukanya prospek investasi untuk pengolahan jagung menjadi bahan makanan olahan. Surplus produksi beras telah mendorong berkembangnya usaha penggilingan padi sebanyak 164 unit dan yang terbesar adalah Mutiara Prima (Demak). Pemerintah daerah sedang giat mengembankan usaha perikanan yaitu melengkapi TPI Morodemak (Bonang) . Sementara itu industri mie instan masih mengimpor sayur kering dari luar negeri. Ketua FEDEP Kabupaten Demak juga menyoroti akan pentingnya keterkaitan antara sektor Pertanian dan Industri di Wilayah Kedungsepur. Saat ini hasil buah-buahan dari Kabupaten Demak yang cukup potensial untuk diolah adalah belimbing demak. Yogyakarta. Banyak sekali potensi sektor pertanian yang belum diolah secara maksimal seperti hasil buah-buahan yang dapat diolah menjadi sari buah ataupun buah kaleng. Karanganyar dan wilayah lainnya. Dalam tiga tahun terakhir hasil produksinya meningkat secara signifikan terutama di Kecamatan Demak dan Wonosalam. Surabaya. penyediaan sarana produksi pertanian. Semarang. Masih terbuka kesempatan bagi pemilik modal untuk menanamkan investasinya di bidang pengadaan bibit.

tenggiri. tongkol masih terbuka pasar ekspor. Yani dengan baik. Untuk mengembangkan usaha pengolahan hasil perikanan. Dari uraian tersebut di atas dan melihat hasil wawancara dengan beberapa narasumber. umumnya sulit terjaga kesinambungannya bila tidak ada penyandang dana. Disamping itu kedua jalur jalan utama tersebut mampu mengakses pelabuhan Tanjung Emas serta Bandara A. karena masalah dana. Kerjasama antar daerah yang tergolong kurang maju dan kurang memilki sumber daya. atau bila kerjasama ini memiliki prospek ekonomi yang baik. Karena itu tingkat pemerintah yang lebih tinggi diharapkan membantu. dapat dilihat bahwa: • Keterkaitan antar daerah di Wilayah Kedungsepur paling kuat terjadi di daerah Pantura yaitu antara Kota Semarang. rajungan. Kabupaten Kendal dan Kabupaten Demak serta keterkaitan yang terjadi pada jalur selatan yaitu antara Kota Semarang dan Kabupaten Semarang. . Hal tersebut didorong oleh peranan Kota Semarang sebagai pusat kegiatan serta tercukupinya jaringan infrastruktur yang ada seperti jalur pantura yang merupakan jalan nasional yang cukup luas serta jalur selatan Semarang-Solo yang juga cukup memadai. stasiun pengisian BBM untuk nelayan dan peningkatan pelayanan yang lebih baik. Kepala Bagian Pemerintahan Umum Kota Semarang serta Kepala Bagian Tata Pemerintahan Kabupaten Semarang menyampaikan bahwa beberapa inisiatif kerjasama daerah yang telah disepakati kadang terputus atau tersendat-sendat pelaksanaannya.126 dengan pabrik es. maka pihak swasta di ajak berpartisipasi. pengolahan teri nasi.

Semarang dan Grobogan. . Kota Salatiga. 4. sektor Perdagangan. Daerah yang memiliki keterkaitan sektor pertanian meliputi: Kabupaten Kendal.5 Temuan Studi Berdasarkan analisis yang telah dilakukan sebelunya maka dapat dirumuskan suatu temuan studi sebagai berikut: • Sektor Unggulan di Wilayah Kedungsepur meliputi: sektor Industri Pengolahan. Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang. • Sektor-sektor unggulan yang menjadi sektor basis adalah sebagai berikut: sektor Industri Pengolahan merupakan sektor basis di Kota Semarang. sektor Listrik. • Sektor pertanian memiliki potensi yang cukup besar jika dikaitkan dengan sektor industri.127 • Keterkaitan tersebut di atas paling dominan ditunjukkan oleh keterkaitan sektor Industri yaitu berupa bahan baku. Hotel dan Restoran serta sektor Pengangkutan dan komunikasi. • Keterkaitan antar daerah hinterland Semarang belum begitu menonjol hal ini disebabkan jaringan infrastruktur jalan yang menghubungkan daerah-daerah tersebut masih terbatas seperti jalur Kabupaten Semarang-Kabupaten Kendal dan jalur antara Kabupaten Semarang-Grobogan-Demak. tenaga kerja serta pemasaran hasilhasil produksi di Wilayah Kedungsepur. sektor Pertambangan dan Penggalian merupakan sektor basis di Kabupaten Grobogan. Gas dan Air Bersih. sektor Listrik. terutama industri yang mengolah hasil hasil pertanian. sektor Pertambangan dan Penggalian. Gas dan Air Bersih merupakan sektor basis di Kota Semarang. Demak. sektor Bangunan.

Keterkaitan antar kedua sektor tersebut mengindikasikan bahwa industri yang berkembang dan potensial di wilayah Kedungsepur adalah industri pengolahan hasil pertanian. Kabupaten Kendal dan Kabupaten Grobogan. Kota Semarang dan Kota Salatiga. Kabupaten Semarang dan Kota Semarang. • Terjadi keterkaitan langsung ke depan yang cukup besar antara sektor Pertanian dan Industri. maka akan terbagi menjadi 2 yaitu: wilayah yang berbasis industri (Kota Semarang. sektor Perdagangan. • Keterkaitan antar daerah dalam industri pengolahan hasil pertanian berpeluang terjadi antara Kabupaten Demak. Sektor Bangunan merupakan sektor basis Kota Semarang dan Kabupaten Demak. Keterkaitan antar sektor ekonomi dan antar daerah di Wilayah Kedungsepur diilustrasikan dalam Gambar 4. • Keterkaitan antar daerah dalam industri tekstil dan produk tekstil berpeluang terjadi antara Kabupaten Semarang. • Jika dikaitkan dengan potensi wilayah masing-masing Kabupaten/Kota. • Keterkaitan antar daerah dalam industri otomotif dan komponen elektronik berpeluang terjadi antara Kota Semarang dan Kabupaten Kendal.128 Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Kendal. artinya bahwa peningkatan/penurunan output sektor Pertanian akan mempengaruhi peningkatan/penurunan sektor Industri.4 .). Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang) dan wilayah berbasis pertanian (Kabupaten Demak. Hotel dan Restoran merupakan sektor basis Kabupaten Semarang serta sektor Pengangkutan dan Komunikasi merupakan sektor basis Kota Semarang dan Kota Salatiga. Kabupaten Grobogan.

129 MAGISTER PEMBANGUNAN WILAYAH DAN KOTA PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG TESIS: KETERKAITAN ANTAR SEKTOR EKONOMI DAN ANTAR DAERAH DI WILAYAH KEDUNGSEPUR PETA KETERKAITAN ANTAR SEKTOR EKONOMI DAN ANTAR DAERAH WILAYAH KEDUNGSEPUR LEGENDA Keterkaitan antar daerah dalam industri pengolahan hasil pertanian Keterkaitan antar daerah dalam industri tekstil dan produk tekstil Keterkaitan antar daerah dalam industri otomotif dan komponen elektronik No. SKALA 4.4 UTARA SUMBER HASIL ANALISIS 2008 .

memiliki akses pada pergerakan internasional serta merupakan salah satu kawasan pusat pengembangan. Posisi kawasan yang sangat strategis yang didukung oleh Kota Semarang sebagai Ibu Kota Provinsi. sumber air. 3. memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Kajian tentang potensi ekonomi kewilayahan yaitu dengan melihat bagaimana keterkaitan antar sektor ekonomi serta mengetahui keterkaitan antar daerah di dalam Wilayah Kedungsepur dapat mewujudkan suatu kerjasama antar daerah yang lebih sistematis. maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. potensi sektor pertanian dan kehutanan serta didukung oleh sektor industri yang cukup maju. 130 .1 Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab terdahulu. Potensi sumber daya alam yang melimpah meliputi: potensi tambang. 2. hal ini merupakan modal dasar bagi setiap Kabupaten/Kota di Wilayah Kedungsepur untuk bersinergi melakukan kerjasama yang saling menguntungkan membentuk satu kekuatan ekonomi dan sumber daya yang lebih luas. b. Potensi sumber daya yang sangat menonjol yang dimiliki oleh wilayah Kedungsepur didukung oleh tiga hal yaitu: a.BAB V PENUTUP 5. Wilayah Kedungsepur memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan dalam rangka mendukung perekonomian Jawa Tengah.

Kabupaten Kendal dan Kabupaten Grobogan. sektor Listrik. .131 c. 4. sektor Industri Pengolahan merupakan sektor basis di Kota Semarang. Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang. Selain itu sektor Industri juga merupakan penyerap output terbesar dari sektor lain. Perdagangan (22%) dan Industri (15. sektor Perdagangan. Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Kendal.8 juta jiwa atau 18% dari total populasi Jawa Tengah dengan penduduk usia produktif rata-rata 69. Sektor Industri merupakan sektor yang paling berperan karena merupakan pemberi input bagi sektor-sektor lainnya. Potensi sumber daya manusia yang cukup besar.9%). Kota Salatiga. jumlah penduduk ± 5. Sektor utama yang menjadi mata pencaharian penduduk adalah Pertanian (32. sektor Pertambangan dan Penggalian merupakan sektor basis di Kabupaten Grobogan. Gas dan Air Bersih merupakan sektor basis di Kota Semarang.9%). Hotel dan Restoran merupakan sektor basis Kabupaten Semarang serta sektor Pengangkutan dan Komunikasi merupakan sektor basis Kota Semarang dan Kota Salatiga 5. Keterkaitan antar sektor ekonomi di Wilayah Kedungsepur secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Sektor-sektor yang memilki peranan dalam memajukan perekonomian dan menjadi sektor basis di Wilayah Kedungsepur meliputi: sektor Pertanian yang menjadi sektor basis di Kabupaten Demak. Sektor Bangunan merupakan sektor basis Kota Semarang dan Kabupaten Demak.7%.

2. Dalam rangka mendorong peningkatan ekonomi di Wilayah Kedungsepur perlu dilakukan upaya-upaya yang lebih serius dalam menyatukan persepsi antar daerah menuju terciptanya suatu kerjasama yang saling menguntungkan. Keterkaitan ini didukung oleh adanya sektor basis yang menjadi sektor unggulan di wilayah tersebut. c. 6. Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang. Keterkaitan antar daerah juga terjadi pada sektor basis Pertanian. Strategi yang dapat digunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah adalah sebagai berikut: .2 Rekomendasi Dari hasil penelitian ini dapat dihasilkan beberapa rekomendasi sebagai berikut: 1. b. Keterkaitan antar daerah yang cukup kuat terjadi antara Kota Semarang. perlu dilakukan sinergitas keterkaitan antara daerah-daerah yang berbasis Industri dengan daerah-daerah yang berbasis Pertanian 5.132 b. Sedangkan keterkaitan antar daerah di Wwilayah Kedungsepur dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Sektor Pertanian dan Industri memiliki keterkaitan langsung ke depan yang cukup besar. hal ini mengindikasikan terjadi potensi yang cukup besar bagi pengembangan industri pengolahan hasil pertanian di Wilayah Kedungsepur. Untuk mendorong terciptanya daya saing yang lebih besar di Wilayah Kedungsepur. yaitu antara Kabupaten Demak dan Kabupaten Grobogan.

3. . dan Kabupaten Grobogan) dengan meningkatkan nilai tambah melalui teknologi pasca panen dan pemasarannya. pemberian insentif. e. Kabupaten Kendal dan Kota Salatiga).133 a. Pengembangan sektor pertanian pada wilayah basis (Kabupaten Demak. Pengembangan dan intensifikasi kawasan industri yang ada serta kemungkinan pembangunan/penyediaan kawasan industri baru di wilayahwilayah penyangga Kota Semarang dengan perluasan infrastruktur yang akan meningkatkan investasi. Memperkuat jaringan sistem ekonomi antar daerah penghasil komoditas pusat produksi dan wilayah distribusi utama serta pengembangan jaringan transportasi wilayah hinterland Semarang d. b. Kabupaten Semarang. c. maka dibutuhkan peran BAPPEDA Provinsi Jawa Tengah dan Institusi Pusat untuk mendorong komitmen yang ada dalam merealisasikan kegiatan yang dimaksud. Dalam rangka meningkatkan perencanaan menjadi realisasi kegiatan pembangunan yang berasal dari Pemerintah Kabupaten/Kota di Wilayah Kedungsepur. Mendorong pengembangan sektor industri. Penciptaan ”iklim investasi” yang kondusif melalui kebijakan-kebijakan daerah yang merangsang timbulnya investasi baru seperti kemudahan perijinan. perdagangan dan jasa pada wilayah pusat pertumbuhan (Kota Semarang. pemetaan kebijakan penataan tata ruang yang mendukung peluang investasi. dll.

Studi pengembangan Ekonomi dan Keruangan Wilayah Kedungsepur dalam era Otonomi. Partisipasi masyarakat dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan di Wilayah Kedungsepur. g. Beberapa penelitian lanjutan yang direkomendasikan adalah: a. f. Peluang dan Kendala dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kedungsepur.134 4. Keterkaitan sektor Industri dan Pertanian di Wilayah Kedungsepur dalam rangka mengkaji potensi pengembangan industri pengolahan hasil pertanian. Pengaruh perkembangan ekonomi kota Semarang terhadap perkembangan Wilayah Kedungsepur. Sektor Unggulan yang berpengaruh terhadap peningkatan pertumbuhan Daerah Belakang di Wilayah Kedungsepur. Studi untuk menggali potensi dan kendala pengembangan wilayah penyangga Kota Semarang yang dapat meningkatkan peran Wilayah Kedungsepur sebagai pusat pertumbuhan c. e. . b. d.

London: Queen Mary College 135 . Jakarta: PT Gramedia Pustaka Jaya. Jawa Tengah Dalam Angka 2005. Methods and Applications. Bulmer V.DAFTAR PUSTAKA BUKU Arsyad. Bratakusumah. Pengantar dan Penjelasan. Input-Output Analysis in Developing Countries. 2006. Semarang: BPS-BAPPEDA Jawa Tengah Bintoro. ______________________________. 2004. ______________________________. 1999. Semarang: BPS-BAPPEDA Jawa Tengah. Lincoln. 2005. Jawa Tengah Dalam Angka 2006. Semarang: BPS-BAPPEDA Jawa Tengah. Semarang: BPS-BAPPEDA Jawa Tengah. Semarang: BPS-BAPPEDA Jawa Tengah. Pengantar Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah. Edward. 2003. 1983.S. Planning Local Economic Development. Perencanaan Kota Komprehensif. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1999. Branch. Perencanaan Pembangunan Daerah: Strategi Menggali Potensi Dalam Mewujudkan Otonomi Daerah. Riyadi D. 1982. Tabel Input-Output Jawa Tengah Tahun 2004. 2003. Melvive C. Ekonomi Pembangunan. ______________________________. 1994. Terjemahan. Interaksi Desa-Kota dan Permasalahannya. Yogyakarta:YKPN. Jawa Tengah Dalam Angka 2003. Badan Pusat Statistik Jawa Tengah. Theory and Practice . 1995. 2007. Jakarta: Ghalia Indonesia Blakely J. R. Jawa Tengah Dalam Angka 2004. ______________________________. 2005. Penerbit Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi. Sources. Jawa Tengah Dalam Angka 2002. ______________________________. Yogyakarta: BPFE. Semarang: BPS-BAPPEDA Jawa Tengah. ______________. London: SAGE Publication.

136

Daldjoeni, N. 1997. Geografi Baru. Bandung: Alumni. Danim, Sudarwan. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: CV. Pustaka Setia. Davey, Kenneth et al. 1996. Urban Management, The Challenge of Growth. England: Avebury Edgington, David W et al. 2001. New Regional Development Paradigms: New Regions-Concepts, Issues, and Practices. London: Greenwood Press Evans, Hugh Emrys. 2001. Regional Development Through Rural-Urban Linkages: The PARUL Program in Indonesia New Regional Development Paradigsm, Volume 3. Edited by Walter B Stohr. London: Greenwood. Glasson, John. 1978. An Introduction to Regional Planning. London Hoover, Edgar M. 1974. An Introduction To Regional Economi, Second Edition. New York: Alfred A. Knopf Kartasasmita, G. 1996. Pembangunan Untuk Rakyat, Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. Bandung: Pustaka Cidesindo. Kuncoro, Mudrajad. 2002. Analisis Spasial dan Regional. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. Lynch, Kenneth. 2005. Rural-Urban Interaction in the Developing World. New York: Rotledge Mehrtens, Jana Marie dan Benjamin Abdurahman. 2007. Regional Marketing, Buku Panduan untuk Manarik Investasi Melalui Aliansi Pembangunan Daerah. Jakarta: Konrad-Adenauer-Stiftung e.V. Miles, Mathew B dan A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber tentang Metode-Metode Baru. Terjemahan Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: UI Press Muhadjir, Noeng. 2004. Metodologi Penelitian Kebijakan dan Evaluation Reserach: Integrasi Penelitian, Kebijakan dan Perencanaan. Edisi I, Yogyakarta: Penerbit Rake Sarasin. Munir, Risfan dan Bahtiar Istanto. 2005. Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif, Masalah, Kebijakan dan Panduan Pelaksanaan Kegiatan. Local Governance Support Program

137

Myrdal, Gunnar. 1957. Economic Theory in Underdeveloped Regions. London: Duckworth. Nasir, Mohammad. 1998. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. PDPP, Perform. 2004. Program Dasar Pembangunan Semarang: PDPP. Partisipatif (PDPP).

Richardson, Harry. 1974. Dasar dan Ilmu Ekonomi Regional. Edisi Indonesia. Terjemahan Paul Sitohang. Jakarta; FEUI. Rondinelli, Dennis A dan Kenneth Ruddle. 1978. Unbanization and Rural Development. New York: Praeger Publishers Safi’i. 2007. Strategi dan Kebijakan Pembangunan Ekonomi Daerah. Averroes Press. Sirojuzilam. 2005. Beberapa Aspek Pembangunan Regional. Bandung: Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Stamer, Jorg Meyer. 2003. Participatory Appraisal of Competitive Advantages (PACA): Manual How to Conduct a PACA. Surakarta: GTZ-RED Stohr, W. 1979 Spatial Equity: Some Antitheses to Current Regional Development Doctrine. Boston: Leiden Nijhoff) Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. ALFABETA. Sukirno, Sadono. 1981. Beberapa Aspek Persoalan Dalam Pembangunan Daerah. Jakarta: FEUI. Suparmoko. 2002. Ekonomi Publik Untuk Keuangan dan Pembangunan Daerah, Edisi Pertama. Yogyakarta: Andi Tarigan, Robinson. 2004. Ekonomi Regional, Teori dan Aplikasi. Edisi Revisi. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara. ________________. 2005. Perencanaan Pembangunan Wilayah. Edisi Revisi. Jakarta : Penerbit Bumi Aksara. Tjokroamodjojo, Bintoro. 1993. Perencanaan Pembangunan. Jakarta: CV. Haji Masagung. Yunus, Hadi Sabari. 1999. Struktur Tata Ruang Kota Yogyakarta. Pustaka Pelopor

138

SKRIPSI/TESIS/DISERTASI Damayanti, Maya. 1999. ”Peran Semarang sebagai Pusat Pertumbuhan di Wilayah Tengah Indonesia” Tugas Akhir tidak diterbitkan, Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik UNDIP, Semarang. Sareng, Alexander K, 2005. ”Sektor Unggulan Yang Berpengaruh Terhadap Peningkatan Pertumbuhan Daerah Belakang di Kabupaten Alor” Tesis tidak diterbitkan, Program Studi MPWK, Fakultas Teknik UNDIP, Semarang. Widiyanti, Sri Hestiningsih. 2006. ”Kebijakan Pembangunan Ekonomi Lokal di Klaster Handicraft dan Mebel Kabupaten Blora” Tesis tidak diterbitkan, Program Studi MPWK, Fakultas Teknik UNDIP, Semarang. HASIL PENELITIAN Sujarto, Djoko. 1981. Implikasi Faktor-Faktor Perkembangan Kota Secara Fungsional. Bandung: ITB. SURAT KABAR/MAJALAH Suara Merdeka, 16 Juni 2005. Kompas, 17 Nopember 2009 Kompas, 11 Desember 2008 PERATURAN Undang - Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang - Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Keputusan Bersama Pemerintah Kabupaten Kendal, Pemerintah Kabupaten Demak, Pemeritah Kabupaten Semarang, Pemerintah Kota Salatiga, Pemerintah Kota Semarang dan Pemerintah Kabupaten Grobogan. Nomor: 30 Tahun 2005, Nomor: 130.1/0975.A, Nomor: 130/02646, Nomor: 63 Tahun 2005, Nomor: 130.1/A. 00016, Nomor: 130.1/4382 tentang Kerjasama Program Pembangunan di wilayah Kedungsepur

Faktor-faktor apa saja yang merupakan prioritas terjalinnya kerjasama regional Kedungsepur? 7. Selain dalam bentuk anggaran.(1) PEDOMAN WAWANCARA DENGAN INSTANSI PEMERINTAH 1. Hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi wilayah kedungsepur dan siapa saja yang seharusnya berperan. Bagaimana keterkaitan yang terjadi antara daerah kabupaten/kota di wilayah Kedungsepur baik secara ekonomi maupun spasial (keruangan) misalnya aliran distribusi barang. Bagaimana hal tersebut pada butir 4 jika dikaitkan dengan pembangunan ekonomi wilayah? 6. Bagaimana dukungan Pemerintah daerah terhadap kerjasama regional Kedungsepur? a. Apa potensi unggulan yang dapat dikembangkan guna mendorong pertumbuhan ekonomi lokal? dalam mendukung 139 . Apakah bentuk dukungan tersebut berupa anggaran? b. bahan baku serta tenaga kerja? 5. bentuk dukungan apa saja yang diberikan oleh pemerintah daerah? 2. 8. Apakah ada kendala serta hambatannya? 4. Bagaimana dengan kebijakan – kebijakan yang mengarah pada terbentuknya kerjasama regional Kedungsepur? 3.

140

(2) PEDOMAN WAWANCARA DENGAN KADIN/ASOSIASI USAHA 1. Bagaimana dukungan Kadin/Asosiasi Usaha terhadap kerjasama regional Kedungsepur? 2. Apakah ada kendala serta hambatannya? 3. Bagaimana keterkaitan yang terjadi antara daerah kabupaten/kota di wilayah Kedungsepur baik secara ekonomi maupun spasial (keruangan) misalnya aliran distribusi barang, bahan baku serta tenaga kerja? 4. Apakah aliran distribusi barang, bahan baku dan tenaga kerja mempunyai pengaruh yang cukup kuat dalam pengembangan dunia usaha di Kedungsepur. 5. Secara lebih spesifik, daerah-daerah mana di wilayah Kedungsepur yang memiliki keterkaitan ekonomi paling kuat ? 6. Bidang usaha apa yang paling menonjol yang dapat menunjukkan adanya keterkaitan ekonomi wilayah Kedungsepur? 7. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu terhadap pentingnya kerjasama regional Kedungsepur? 8. Faktor-faktor apa saja yang merupakan prioritas dalam mendukung

terjalinnya kerjasama regional Kedungsepur, khususnya bagi dunia usaha? 9. Hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi wilayah kedungsepur dan siapa saja yang seharusnya berperan?

141

LAPORAN HASIL WAWANCARA DENGAN KEPALA BPMD PROVINSI JAWA TENGAH TANGGAL 14 OKTOBER 2008

1. Pertanyaan tentang dukungan Pemerintah daerah terhadap kerjasama regional Kedungsepur Jawaban: Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam hal ini melalui APBD Provinsi memang mengalokasikan anggaran guna mendukung terealisasinya kerjasama regional Kedungsepur, namun jumlah anggaran tersebut sangat terbatas hanya untuk mendukung kegiatan berupa penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka menentukan peluag investasi antar daerah di wilayah Kedungsepur. Selain itu BPMD Provinsi Jawa Tengah juga berperan aktif dalam mencarikan mitra lembaga-lembaga donor yang dapat mendukung terealisasinya kerjasama ini. Salah satu lembaga donor yang bersedia membantu mewujudkan kerjasama adalah International Finance Corporation (IFC) – World Bank 2. Pertanyaan tentang kebijakan – kebijakan yang mengarah pada terbentuknya kerjasama regional Kedungsepur Jawaban: Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui BPMD Provinsi Jawa Tengah mendorong terbentuknya kerjasama regional Kedungsepur melalui Rapat Koordinasi Penanaman Modal guna mendorong terbentuknya kerjasama wilayah regional yang ada di Jawa Tengah yang salah satunya adalah kerjasama regional Kedungsepur. 3. Pertanyaan tentang kendala serta hambatannya

142

Jawaban : Kendala yang sering terjadi antara daerah Kabupaten/Kota masih terjadi adanya ego daerah, dimana Kab/Kota belum melihat adanya potensi yang lebih besar jika mereka melakukan sinergi 4. Pertanyaan tentang keterkaitan antara daerah kabupaten/kota di wilayah Kedungsepur Jawaban: Keterkaitan antara daerah-daerah kabupaten/kota di wilayah Kedungsepur sangat kuat terjadi di wilayah Pantura yaitu Kabupaten Kendal. Kota Semarang dan Kabupaten Demak serta jalur selatan Semarang-Solo yang meliputi Kota Semarang dengan Kabupaten Semarang. 5. Pertanyaan tentang pembangunan ekonomi wilayah Jawaban: Banyak sekali para investor yang berminat untuk menanamkan modalnya di wilayah Kedungsepur, sektor Industri yang paling banyak diminati diantaranya mebel, tekstil dan produk tekstil, serta komponen elektronik. Sektor pertanian sebenarnya cukup potensial dikembangkan di wilayah ini terutama di Kabupaten Demak dan Grobogan terutama dalam mendukung supply bahan baku industri pengolahan makanan yang ada di Kota Semarang. Kerjasama dalam pengembangan infrastruktur juga sangat air

potensial dikembangkan di wilayah Kedungsepur, seperti

pengolahan

bersih, peningkatan jalan dan jembatan serta perencanaan tata ruang. 6. Pertanyaan tentang faktor-faktor yang mendukung terjalinnya kerjasama regional Kedungsepur Jawaban: Faktor kesamaan budaya dan potensi sumber daya alam serta didukung oleh lokasi kawasan yang ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional

industri kayu/mebel serta pembangunan infrastruktur seperti jalan tol. Jawaban: Untuk mendukung keberhasilan pembangunan di wilayah Kedungsepur diperlukan kerjasama semua pihak khususnya pada unsur birokrasi pemerintah yang didukung oleh sektor swasta. Promosi bersama potensi dan peluang investasi kabupaten/kota di wilayah Kedungsepur sangat strategis dilakukan karena investasi memiliki multiplier effect guna mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah. Pertanyaan tentang potensi unggulan Jawaban: Potensi unggulan di wilayah Kedungsepur adalah pada sektor industri. terutama industri tekstil dan produk tekstil. 8.143 7. Pertanyaan tentang hal-hal yang mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi wilayah kedungsepur. air bersih serta kawasan industri di wilayah hinterland Semarang .

2. Pertanyaan tentang dukungan Pemerintah daerah terhadap kerjasama regional Kedungsepur Jawaban: Bappeda Provinsi Jawa Tengah mendukung rencana terbentuknya kerjasama regional Kedungsepur dan bertindak selaku koordinator Kabupaten/Kota se wilayah Kedungsepur serta mengalokasikan anggaran dalam APBD melalui Dinas/Instansi teknis tingkat Provinsi seperti BPMD dan Dinas Kimtaru. 3.144 LAPORAN HASIL WAWANCARA DENGAN KEPALA BIDANG EKONOMI BAPPEDA PROVINSI JAWA TENGAH TANGGAL 27 OKTOBER 2008 1. Pertanyaan tentang kendala serta hambatannya Jawaban : Kendala yang dihadapi adalah masing banyaknya programprogram kegiatan di wilayah ini yang belum sinkron. Pertanyaan tentang kebijakan – kebijakan yang mengarah pada terbentuknya kerjasama regional Kedungsepur Jawaban: Melakukan revisi dan evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah yang didalamnya memuat Satuan Wilayah Pembangunan I yaitu Wilayah Kedungsepur. misalnya penetuan Wilayah Industri pada daerah perbatasan yang berdekatan dengan kawasan pemukiman 4. Pertanyaan tentang keterkaitan antara daerah kabupaten/kota di wilayah Kedungsepur Jawaban: Keterkaitan dalam bidang ekonomi dapat dilihat dari banyaknya tenaga kerja di kota Semarang yang berasal dari wilayah-wilayah disekitarnya .

kebutuhan tenaga kerja untuk industri padat modal tidak sebanyak industri padat karya sehingga arus perpindahan penduduk di Kota Semarang dapat ditekan. daerah-daerah di sekitar kita Semarang harus dikembangkan agar dapat menunjang pendirian kawasan industri. Pertanyaan tentang faktor-faktor yang mendukung terjalinnya kerjasama regional Kedungsepur Jawaban: Faktor lokasi kawasan yang ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional serta keuntungan komparatif wilayah 7. 5. Kota Semarang lebih cocok untuk industri-industri padat modal. terutama industri berat dan padat karya.145 seperti Kendal. Kawasan industri yang selama ini terpusat di kota semarang terlalu membebani kota. . Pertanyaan tentang hal-hal yang mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi wilayah kedungsepur. bukan industri berat seperti manufaktur karena kebutuhan ruang industri padat modal tidak sebesar industri padat karya. Perkembangan kota Semarang mengarah ke sektor jasa dan perdagangan serta merupakan pintu gerbang bagi siapa saja yang akan mengakses wilayahwilayah disekitarnya. Selain itu. maka diperlukan penataan kembali kawasan industri yang ada di kota Semarang. 6. Pertanyaan tentang pembangunan ekonomi wilayah Jawaban: Untuk menunjang pembangunan ekonomi wilayah. Untuk itu kedepan. Demak dan Ungaran serta distribusi barang kebutuhan pokok di kota Semarang juga banyak disuplai dari wilayah disekitar kota Semarang.

termasuk simpul transportasi provinsi. nasional dan internasional. perkebunan. . peternakan. simpul pariwisata dan pendidikan tinggi bertaraf internasional.146 Jawaban: Untuk mendukung keberhasilan pembangunan di wilayah Kedungsepur diperlukan kerjasama semua pihak serta menyatukan persepsi masing-masing daerah Kabupaten/Kota dalam menyusun rencana kegiatan sehingga dapat tercipta sinergi kegiatan yang positif. menengah dan kecil yang menghasilkan berbagai jenis produk pertanian. 8. perdagangan dan jasa-jasa. kayu. perikanan dan hasil kelautan. Pertanyaan tentang potensi unggulan Jawaban: Industri besar. pertambangan (pasir besi).

147 LAPORAN HASIL WAWANCARA DENGAN KEPALA BAGIAN PEMERINTAHAN UMUM SETDA KOTA SEMARANG TANGGAL 10 NOPEMBER 2008 1. yang oleh BPK hal ini dapat menjadi permasalahan 4.1/A. Surat Keputusan ini sebagai dasar ditertapkannya MoU kerjasama Kedungsepur yang ditandatangani oleh 6 (enam) Bupati/Walikota sewilayah Kedungsepur pada tanggal 15 Juni 2005 3. 200 juta melalui APBD Kab/Kota 2. Pertanyaan tentang kebijakan – kebijakan yang mengarah pada terbentuknya kerjasama regional Kedungsepur Jawaban: Pemerintah Kota Semarang mengeluarkan Surat Keputusan No. Pertanyaan tentang keterkaitan antara daerah kabupaten/kota di wilayah Kedungsepur . Pertanyaan tentang kendala serta hambatannya Jawaban : Adanya kendala penggunaan APBD Kab/Kota untuk membiayai operasional Sekretariat Bersama Kedungsepur. tiap Kabupaten/Kota memberikan kontribusi anggaran sebesar Rp. 00016 Tentang Kerjasma Program Pembangunan di Wilayah Kedungsepur. 130. Pertanyaan tentang dukungan Pemerintah daerah terhadap kerjasama regional Kedungsepur Jawaban: Guna mendukung terealisasinya kerjasama regional Kedungsepur.

minuman. Jawaban: Untuk mendukung keberhasilan pembangunan di wilayah Kedungsepur diperlukan kemauan setiap Kabupaten/Kota serta dukungan dari pemerintah provinsi dan pemerintah pusat serta dunia usaha 8. percetakan. agro. 6. Semarang memiliki peranan yang cukup dominan karena Semarang dapat dilihat melalui dua sisi. mebel. . makanan. Pertanyaan tentang pembangunan ekonomi wilayah Jawaban: Dalam mendukung pembangunan ekonomi wilayah. Demak dan Ungaran. Pertama adalah fungsi kota Semarang sebagai ibu kota provinsi dimana seluruh kegiatan kewilayahn akan berpusat disini dan yang kedua adalah posisi kota Semarang yang strategis didukung oleh tersedianya infrastruktur jalan. Pertanyaan tentang potensi unggulan Jawaban: Industri kecil yang terdiri dari industri kimia. hasil hutan. Pertanyaan tentang hal-hal yang mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi wilayah kedungsepur. industri logam serta industri aneka. 5. Pertanyaan tentang faktor-faktor yang mendukung terjalinnya kerjasama regional Kedungsepur Jawaban: Faktor kebersamaan serta kemauan seluruh Kabupaten/Kota di wilayah Kedungsepur dalam rangka meningkatkan daya saing di era globalisasi 7.148 Jawaban: Keterkaitan antara Kota Semarang dengan wilayah sekitarnya adalah dari banyaknya tenaga kerja di kota Semarang yang berasal dari wilayah-wilayah disekitarnya seperti Kendal. pelabuhan laut dan bandara.

potensi unggulan kota semarang meliputi sektor pertanian. sektor perdagangan. sektor perhotelan dan pariwisata.149 Selain sekktor industri. .

130/02646 Tentang Kerjasma Program Pembangunan di Wilayah Kedungsepur. Pertanyaan tentang keterkaitan antara daerah kabupaten/kota di wilayah Kedungsepur Jawaban: Keterkaitan antara Kabupaten Semarang dengan wilayah sekitarnya yang paling menonjol terjadi dengan Kota Semarang. 200 juta melalui APBD Kab/Kota 2. 4. tiap Kabupaten/Kota memberikan kontribusi anggaran sebesar Rp. Pertanyaan tentang dukungan Pemerintah daerah terhadap kerjasama regional Kedungsepur Jawaban: Guna mendukung terealisasinya kerjasama regional Kedungsepur. yang oleh BPK hal ini dapat menjadi permasalahan. Surat Keputusan ini sebagai dasar ditertapkannya MoU kerjasama Kedungsepur yang ditandatangani oleh 6 (enam) Bupati/Walikota sewilayah Kedungsepur pada tanggal 15 Juni 2005 3.150 LAPORAN HASIL WAWANCARA DENGAN KEPALA BAGIAN TATA PEMERINTAHAN SETDA KABUPATEN SEMARANG TANGGAL 2 DESEMBER 2008 1. Pertanyaan tentang kendala serta hambatannya Jawaban : Adanya kendala penggunaan APBD Kab/Kota untuk membiayai operasional Sekretariat Bersama Kedungsepur. Pertanyaan tentang kebijakan – kebijakan yang mengarah pada terbentuknya kerjasama regional Kedungsepur Jawaban: Pemerintah Kabupaten Semarang mengeluarkan Surat Keputusan No. hal ini didukung oleh .

Pertanyaan tentang potensi unggulan Jawaban: Potensi Unggulan: budidaya sayur-sayuran. Rawa . peningkatan SDM dan kajian peluang investasi. Bawen. 7. buah-buahan. Sumowono. Jambu. 8. Pertanyaan tentang faktor-faktor yang mendukung terjalinnya kerjasama regional Kedungsepur Jawaban: Faktor kebersamaan serta kemauan seluruh Kabupaten/Kota di wilayah Kedungsepur dalam rangka meningkatkan daya saing wilayah. Selain itu Kabupaten Semarang memiliki potensi sektor pariwisata yang dapat mendongkrak peningkatan perekonomian daerah yang terbagi menjadi sembilan klaster yang meliputi : klaster Ungaran. pengembangan infrastruktur. 6.151 adanya jalur transportasi antara kedua wilayah yang cukup memadai. Bandungan-Gedongsongo. Pertanyaan tentang pembangunan ekonomi wilayah Jawaban: Dalam tahun anggaran 2007 s/d 2013 direncanakan beberapa kegiatan yang mendukung pembangunan ekonomi melalui kebijakan iklim usaha kondusif diantaranya: Pelayanan Perizinan Satu Pintu. kepastian hukum. selain itu Kabupaten Semarang merupakan wilayah penyangga bagi kota Semarang 5. promosi investasi bersama. Pertanyaan tentang hal-hal yang mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi wilayah kedungsepur. Ambarawa. Jawaban: Untuk mendukung keberhasilan pembangunan di wilayah Kedungsepur diperlukan kemauan setiap Kabupaten/Kota serta dukungan dari pemerintah provinsi dan pemerintah pusat serta dunia usaha. tanaman hias dan peternakan sapi.

Agrowisata Banaran dan Mata Air Senjoyo.152 Pening. Agrowisata Asinan. . Dari sembilan klaster tersebut terdapat obyek wisata unggulan yaitu: Wana Wisata Penggaron. Kopeng dan klaster Tengaran. Museum Kereta Api Ambarawa. Candi Gedongsongo.

2. Industri ini selain berorientasi ekspor juga memasok kebutuhan bahan baku kain bagi industri-industri garmen di kota Semarang. Pertanyaan Kedungsepur Jawaban: Secara langsung dukungan Kadin yang berupa anggaran memang tidak ada. Jawaban: Keterkaitan dalam sektor Industri di Wilayah Kedungsepur salah satunya dapat dilihat pada industri unggulan di Jawa Tengah yaitu industri Tekstil dan Produk Tekstil. Pertanyaan tentang kendala dan hambatannya Jawaban: Kendala yang dihadapi adalah masih adanya ego kepala daerah Kabupaten/Kota yang merasa bahwa mereka bisa melakukan kegiatan pengembangan ekonomi daerahnya dengan meningkatkan PAD tanpa melalui kerjasama antar daerah. Disamping itu kebutuhan akan tenaga kerja walaupun sebagian besar dipenuhi dari kabupaten Semarang tentang dukungan Kadin terhadap kerjasama regional . 3. Pertanyaan tentang keterkaitan yang terjadi antara daerah kabupaten/kota di wilayah Kedungsepur. Apac Inti Corpora yang terdapat di Kabupaten Semarang.153 LAPORAN HASIL WAWANCARA DENGAN KETUA KADINDA JAWA TENGAH TANGGAL 15 NOPEMBER 2008 1. Salah satu industri Tekstil terbesar di Asia Tenggara adalah PT. akan tetapi Kadin berperan secara aktif dalam forum-forum diskusi dengan pemerintah daerah guna mendorong terbentuknya kerjasama regional Kedungsepur. kabupaten Demak dan kabupaten Kendal serta Kota Salatiga.

Semarang dan Demak dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerjanya. keterkaitan yang terjadi relatif kecil karena jalur transportasi yang menghubungkan wilayah-wilayah tersebut belum memadai. Selanjutnya untuk wilayah ”pinggiran” seperti Ungaran – Kendal. Ungaran – Demak dan Purwodadi. yaitu Kota Semarang dengan Ungaran dan Salatiga. sebagain tenaga kerja juga dipenuhi dari kota Semarang dan kota Salatiga.154 sendiri. Pertanyaan tentang bidang usaha yang paling menonjol . 4. bahan baku dan tenaga kerja dalam pengembangan dunia usaha di Kedungsepur. 5. Jawaban: Keterkaitan ekonomi paling kuat terjadi pada daerah-daerah di jalur Pantura. yautu antara Kota Semarang – Kendal dan Semarang – Demak serta pada jalur Semarang – Solo. Jawaban: Keterkaitan antar daerah di wilayah Kedungsepur sangat mempengaruhi pengembangan dunia usaha di wilayah ini. 6. Demikian pula sebaliknya banyak sekali industri kecil dan menengah di wilayah hinterland Semarang yang memasarkan produknya di kota Semarang. Pertanyaan tentang daerah-daerah yang memiliki keterkaitan ekonomi paling kuat. Pertanyaan tentang pengaruh aliran distribusi barang.Kendal. misalnya banyak industri di kota Semarang sangat tergantung oleh wilayah sekitarnya seperti Kab.

Untuk mendorong Kedungsepur sebagai wilayah Metropolitan. Kendal dan Kabupaten Semarang sehingga dapat mengurangi beban arus tenaga kerja commuter yang cukup besar di wilayah ini. Demak: industri mebel dan kayu olahan. Semarang & Salatiga: tekstil dan produk tekstil Kota Semarang: jasa dan perdagangan. Jawaban: Kerjasama Regional Kedungsepur diharapkan dapat meningkatkan daya saing wilayah baik di tingkat regional. kota Semarang harus menjadi pelopor . 7. Pertanyaan tentang hal-hal yang harus dilakukan dan siapa saja yang seharusnya berperan. Jawaban: Untuk mendorong akselerasi terciptanya kerjasam Kedungsepur diperlukan adanya kesadaran dari setiap kepala daerah bahwa dengan bekerjasama antar darah dapat meningkatkan dampak positif menjadi suatu kekuatan yang lebih besar. industri ini harus ditempatkan di wilayah penyangga Semarang seperti Demak. Pertanyaan tentang faktor-faktor yang merupakan prioritas dalam mendukung terjalinnya kerjasama regional Kedungsepur. Industri besar sudah tidak cocok bagi kota Semarang. Jawaban: Perkembangan wilayah Kedungsepur ini kedepan berkaitan erat dengan fungsi Kota Semarang sebagai financial hub dan logistic hub.155 Jawaban: Kendal: indistri otomotif dan komponennya. 9. Kab. nasional maupun global karena dengan kerjasama ini akan lebih memperluas potensi dan peluang wilayah dibandingkan jika tiap daerah kabupaten/kota melakukannya sendiri –sendiri. 8. Pertanyaan tentang pentingnya kerjasama regional Kedungsepur.

156 terealisasinya kerjasama regional Kedungsepur dengan memberikan semacam insentif bagi daerah penyangga karena secara ekonomi kota Semarang lebih diuntungkan .

yaitu kebutuhan akan tenaga kerja antar daerah yang cukup besar. Jawaban: Keterkaitan antar daerah di wilayah Kedungsepur dapat dilihat pada sektor industri. Sebagian besar industri-industri di kota Semarang. tenaga kerja diperoleh dari daerah sekitar. 3. terutama yang berlokasi di kawasan industri. Pertanyaan tentang kendala dan hambatannya Jawaban: Pertemuan-pertemuan dalam rangka pembahasan rencana kerjasama masih terbatas pada lingkungan birokrasi saja. belum banyak melibatkan sektor swasta serta belum fokus pada tujuan yang akan dicapai. Kawasan Industri Bukit Semarang Baru dan Kawasan Industri Candi banyak menggunakan tenaga kerja dari kabupaten Kendal. . Seperti pada Kawasan Industri Terboyo dan Kawasan Industri Tanah Makmur banyak menggunakan tenaga kerja dari kabupaten Demak dan industri-industri yang berlokasi di Kawasan Industri Tugu Wijayakusuma.157 LAPORAN HASIL WAWANCARA DENGAN KETUA HIMPUNAN KAWASAN INDUSTRI KOTA SEMARANG TANGGAL 28 NOPEMBER 2008 1. Pertanyaan tentang dukungan HKI terhadap kerjasama regional Kedungsepur Jawaban: Selain ikut berperan secara aktif dalam forum-forum diskusi dengan pemerintah daerah guna mendorong terbentuknya kerjasama regional Kedungsepur. 2. HKI juga mendorong perluasan kawasan industri ke wilayah hinterland Semarang. Pertanyaan tentang keterkaitan yang terjadi antara daerah kabupaten/kota di wilayah Kedungsepur. Bahkan tenaga kerja dari wilayah kabupaten Semarang juga banyak memenuhi kebutuhan industri-industri di .

Jawaban: Dibandingkan dengan Semarang – Demak. Untuk itu diperlukan penataan ruang yang efisien dan konsisten bagi lokasi-lokasi industri di wilayah ini. bahan baku dan tenaga kerja dalam pengembangan dunia usaha di Kedungsepur. Namun sampai saat ini belum ada investor yang tertarik untuk mengolah sayur-sayuran yang . keterkaitan yang terjadi relatif kecil.158 kota Semarang seperti industri-industri yang terdapat di Tanjung Emas Export Processing Zone (TEPZ) 4. Keterkaitan ekonomi antara Semarang – Kendal lebih baik hal ini disebabkan karena Demak ditarik oleh dua magnit yaitu Semarang dan Kudus. 6. dan Kab. Pertanyaan tentang bidang usaha yang paling menonjol Jawaban: Sektor pertanian khususnya sayur-sayuran dari wilayah kabupaten Semarang memiliki peluang yang cukup besar untuk memasok kebutuhan sayur kering pada industri mi instan di kota Semarang. seperti Kab. bahan baku dan tenaga kerja yang sangat efektif akan memberikan dampak positif bagi pengembangan dunia usaha di wilayah Kedungsepur. 5. Semarang – Kendal. Jawaban: Aliran distribusi barang. Semarang – Demak. Keterkaitan Kota Semarang dengan Kabupaten semarang dan Salatiga juga cukup kuat karena didukung oleh banyaknya industri pada wilayah tersebut. Pertanyaan tentang daerah-daerah yang memiliki keterkaitan ekonomi paling kuat. Sedangkan wilayah lainnya . Pertanyaan tentang pengaruh aliran distribusi barang.

7. teknologi dan keuangan 8. Jawaban: Daerah harus segera melakukan aksi dengan menunjuk Regional Manager yang profesional untuk mengelola organisasi kerjasama antar daerah karena organisasi ini tidak mungkin dikelola oleh birokrat murni yang masingmasing telah mempunyai tugas pokok dan fungsi sendiri. Jawaban: Faktor yang paling penting adalah adanya kesamaan visi pembangunan pada setiap daerah dalam rangka pengembangan ekonomi regional.159 jumlahnya cukup merlimpah di wilayah kabupaten Semarang ini. baik berupa sumber daya manusia. sumber daya alam. .. Sementara itu industri mi instan masih mengimpor sayur kering dari luar negeri. Pertanyaan tentang hal-hal yang harus dilakukan dan siapa saja yang seharusnya berperan. Jawaban: Kerjasama Regional Kedungsepur diharapkan dapat mengatasi keterbatasan sumberdaya yang dimiliki masing-masing daerah. 9. Pertanyaan tentang pentingnya kerjasama regional Kedungsepur. Pertanyaan tentang faktor-faktor yang merupakan prioritas dalam mendukung terjalinnya kerjasama regional Kedungsepur.

bahan baku dan tenaga kerja sangat menentukan dalam pengembangan dunia usaha karena adanya distribusi yang lancar akan sangat membantu perkembangan dunia usaha. 4. 3. belum mengarah pada peluang usaha yang lebih luas yang mencakup antar daerah. Pertanyaan tentang pengaruh aliran distribusi barang. Pertanyaan tentang kendala dan hambatannya Jawaban: Masih banyak dijumpai peluang usaha yang bersifat internal daerah. Pertanyaan Kedungsepur Jawaban: FEDEP ikut serta dalam perencanaan penyusunan rencana program yang berkaitan dengan peluang usaha serta merintis kerjasama antar FEDEP se wilayah Kedungsepur..160 LAPORAN HASIL WAWANCARA DENGAN KETUA FEDEP KABUPETEN DEMAK TANGGAL 20 NOPEMBER 2008 1. 2. Banyak sekali potensi sektor pertanian yang belum diolah secara maksimal seperti hasil buah-buahan yang dapat diolah menjadi sari buah ataupun buah kaleng. Pertanyaan tentang keterkaitan yang terjadi antara daerah kabupaten/kota di wilayah Kedungsepur. tentang dukungan FEDEP terhadap kerjasama regional . bahan baku dan tenaga kerja dalam pengembangan dunia usaha di Kedungsepur. Jawaban: Keterkaitan antara sektor Pertanian dan Industri di wilayah Kedungsepur masih belum dimanfaatkan secara optimal. Jawaban: Aliran distribusi barang.

Surplus produksi beras telah mendorong berkembangnya usaha penggilingan padi sebanyak 164 unit dan yang terbesar adalah Mutiara Prima (Demak). Pertanyaan tentang bidang usaha yang paling menonjol Jawaban: Saat ini hasil buah-buahan dari kabupaten Demak yang cukup potensial untuk diolah adalah belimbing demak. jamu merah delima dan pisang. Untuk mengembangkan usaha pengolahan hasil . Dalam tiga tahun terakhir hasil produksinya meningkat secara signifikan terutama di Kecamatan Demak dan Wonosalam. Pertanyaan tentang daerah-daerah yang memiliki keterkaitan ekonomi paling kuat. Masih terbuka kesempatan bagi pemilik modal untuk menanamkan investasinya dibidang pengadaan bibit. Surabaya. Karanganyar dan wilayah lainnya.161 5. stasiun pengisian BBM untuk nelayan dan peningkatan pelayanan yang lebih baik. Terbukanya prospek investasi untuk pengolahan jagung menjadi bahan makanan olahan. pengolahan beras dan tepung beras. penyediaan sarana produksi pertanian. Jawaban: Kabupaten Demak memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan Kota Semarang dibandingkan dengan wilayah lainnya di Kedungsepur. Semarang. Yogyakarta. pakan ternak dan lain-lain serta kacang hijau menjadi berbagai produk olahan dan pembuatan tepung dengan daerah pemasaran yang masih terbuka lebar yaitu di wilayah Kota Jakarta. Kabupaten Demak memiliki potensi perikanan yang melimpah baik perikanan laut dan perikanan darat. Kudus dan kota-kota besar lainnya. 6. Pemerintah daerah sedang giat mengembankan usaha perikanan yaitu melengkapi TPI Morodemak (Bonang) dengan pabrik es.

yaitu semangat untuk bekerjasama antar daerah dalam memajukan perekonomian secara bersama bukan semangat untuk saling bersaing sehingga lupa akan melihat potensi yang lebih besar jika melakukan kerjasama.162 perikanan. dunia usaha serta masyarakat. Pertanyaan tentang faktor-faktor yang merupakan prioritas dalam mendukung terjalinnya kerjasama regional Kedungsepur. apalagi kalau kita melihat daerah lain memiliki semangat yang sama dan mereka juga bisa. Jawaban: Terbentuknya kerjasama Kedungsepur merupakan kenisnacaan. Pertanyaan tentang pentingnya kerjasama regional Kedungsepur. pengolahan teri nasi. 7. baik pemerintah. Pertanyaan tentang hal-hal yang harus dilakukan dan siapa saja yang seharusnya berperan. tongkol masih terbuka pasar ekspor. 9. Jawaban: Adanya semangat otonomi yang benar. tenggiri. 8. . rajungan. Untuk itu diperlukan peran semua pihak. Jawaban: Sebagai pendorong dalam mengefektifkan potensi serta peluang yang ada di wilayah Kedungsepur.

Sistem perhitungan ini mengikuti arus barang dan jasa dari satu sektor produksi ke sektor lainnya. Intisari skema input-output merupakan satu kesatuan perhitungan yang menunjukkan transakksi antar sektor utama (Hoover.163 ANALISIS INPUT-OUTPUT Analisis Input-Output merupakan teknik analisis antar sektor. bangunan dan barang kimia • Sektor rumah tangga (household). berupa aktivitas-aktivitas swasta yang diperlakukan sebagai sektor antar industri. Tiap sektor akan dihitung du kali dan tampil sebagai produsen (mengeluarkan output) dan konsumen (menggunakan input). GAMBAR ALIRAN BARANG DAN JASA ANTAR SEKTOR DALAM SUATU WILAYAH Pemerintah Barang & Jasa Pelayanan Bisnis Wilayah Luar Rumah Tangga Barang Konsumsi Tenaga Kerja Ekspor Impor Swasta Konsumsi Modal Investasi Luar Negeri Modal 163 . Sistem input-output disusun berdasarkan asumsi perilaku ekonomi yang merupakan penyederhanaan kerangka untuk mengukur aliran masukan (input) dan keluaran (output) berbagai sektor kegiatan ekonomi dalam suatu wilayah. karena aktivitas input-output yang terjadi antar industri itu sendiri. yang meliputi aktivitas pertambangan. merupakan perseorangan yang diperlakukan baik sebagai konsumen barang dan jasa maupun sebagai penjual (terutama jasa buruh yang mereka miliki). Model I-O ini dikembangkan oleh Leontief yang mengembangkan sistem perhitungan antar industri. 1975: 223-225) yaitu: • Sektor antara (intermediate). pengolahan bahan makanan.

Di Indonesia penyusunan Tabel I-O ini melibatkan berbagai departemen dan bermacam-macam lembaga. mencakup pemerintahan pusat. Pengumpulan dan pengurutan data kuantitatif di atas memerlukan waktu dan biaya yang banyak. bahkan untuk validasi data perlu dilakukan survei baik dengan cara sampel atau sensus. tergantung dari sektor-sektor yang ditanganinya. Besarnya manfaat model I-O mendorong ahli-ahli perencanaan wilayah untuk mempergunakannya. baik di dalam maupundi luar wilayah.. berupa persediaan modal swasta baik modal tetap maupun investasi. diambil dari dua sumber. Sebagai contoh data pertanian. 1977:57 Penyusunan Tabel I-O berdasarkan gabungan informasi dari berbagai lembaga. maupun lokal/daerah. berupa aktivitas-aktivitas non pemerintahan di luar wilayah Sektor modal (capital). 1975: 224 dan Glasson dalam sitohang. memperlihatkan proses kegiatan ekonomi yang terjadi pada waktu tertentu. memperlihatkan sifat struktural perekonomian dan sebagai dasar pengambilan keputusan. namun hambatan yang dihadapi dalam pembuatan tabel I-O wilayah adalah waktu survei yang sangat lama dan mahalnya biaya . Secara sederhana bentuk Tabel Input-Output wilayah dapat dilihat sebagai berikut: GAMBAR BENTUK SEDERHANA TABEL INPUT-OUTPUT WILAYAH Output Input Industri Industri (Intermediate) A B C Permintaan Akhir Rumah Tangga Pemerin tahan Ekspor Modal Total Output A B C Sektor Penyedia Utama: • Rumah Tangga • Pemerintahan • Ekspor • Modal Total Input Sumber: Hoover. yaitu Biro Pusat Statistik dan Departemen Pertanian dan masih banyak lembaga terkait pada masing-masing sektor ekonomi. Manfaat penggunaan model I-O terdiri atas manfaat yang bersifat analisis yang mampu memberikan besaran-besaran kuantitatif aspek ekonomi yang ditelaah dan manfaat diskriptif yang dapat menggambarkan hubungan timbal balik antar sektor kegiatan ekonomi.164 • • • Sektor Pemerintah (government). Sektor dunia luar (outside world).

. CIQ-Cross Industry Quotient dan SLQ-Semi Logaritmic Quotient). transaksi dikalikan dengan koefisien wilayah. Sedangkan LQ < 1 maka nilai quotient tersebut harus dikalikan angka koefisien Jawa Tengah untuk menyerapnya sebagai nilai koefisien wilayah Kedungsepur • Penurunan Tabel Transaksi/Tabel I-O Bagi sektor-sektor yang memiliki nilai koefisien ≥ 1. Dalam penelitian ini tabel I-O 19 sektor akan direduksi menjadi 9 sektkor. Sedangkan sektor yang memiliki koefisien < 1. Untuk mengantisipasinya diterapkan metode non-survei dengan menggunakan data-data sekunder/statistik yang sudah ada (Thomas. Sebagian besar ahli membuat Tabel I-O wilayah dengan cara menurunkan Tabel I-O nasional denganberbagai teknik. Tabel dasar ini terdiri atas: tabel transaksi total atas dasar harga pembeli. terlampir) • Estimasi Koefisien I-O wilayah Estimasi ini menggunakan metode Location Quotient. CIQ. Khusus pada pendekatan quotient. pendekatan penawaran dan permintaan atau teknik interasi matriks. Tabel dasar adalah tabel yang menggambarkan nilai transaksi barang dan jasa antar sektor ekonomi. Langkah-langkah penurunan Tabel I-O Jawa Tengah menjadi Tabel I-O wilayah Kedungsepur dapat dilakukan sebagai berikut (Uguy. Dalam penelitian ini digunakan tabel transaksi total atas dasar harga produsen karena tabel ini menyajikan hubungan langsung antar sektor tanpa dipengaruhi oleh biaya transportasi. 1980: 72-77) • Pemilihan Tabel I-O Jawa Tengah Tabel I-O Jawa Tengah terdiri dari tabel dasar dan tabel analisis yang merupakan penurunan dari tabel dasar. seperti: pendekatan quotient( LQ-Location Qoutient. • Pengelompokan sektor-sektor ekonomi Maksud pengelompokan ini untuk meningkatkan daya guna analisis dan berdasarkan ketersediaan data yang ada. Nilai LQ > 1 atau LQ = 1.165 untuk melakukan survei tersebut. tabel transaksi total atas dasar harga produsen dan tabel transaksi domestik atas dasar harga produsen. 1982: 44-45). perilaku Jawa Tengah dalam tabel I-O Jawa Tengah dapat langsung diturunkan menjadi perilaku wilayah dalam tabel I-O wilayah (penurunan perilaku dilakukan per kolom). klasifikasi berdasarkan kegiatan sejenis atau yang mendekati (tabel Klasifikasi. hasil yang diperoleh baik melalui LQ. yaitu tabel I-O 19 sektor dan tabel I-O 89 sektor. maka nilai koefisien Jawa Tengah dapat langsung diserap sebagai nilai koefisien wilayah Kedungsepur. Tabel I-O Jawa Tengah tahun 2004 terdiri atas 2 macam. Selanjutnya dalam penelitian ini dilaukan dengan pendekatan LQ. atau SLQ adalah hampir sama.

00 14.249.435.39 445.31 268.08 0.509.07 0.57 4.00 243.85 8.598.50 9.532.19 0.00 9.694.935.422.244.63 172.205.594.561.62 0.097.250.00 47.57 2.99 2.14 13.00 6.334.00 17.731.35 42.00 35.13 3.98 11.62 6.37 220.43 1.00 1.00 2.803.00 1.00 4.130.574.92 9.160.09 494.02 0.972.453.83 3.869.73 0.11 238.15 17.765.93 132.84 10 0.17 642.794.192.19 305.590.00 5.00 377.583.971.575.644.281.00 0.11 3.421.601.00 0.91 35.00 0.89 4.91 52.132.738.91 89.460.12 2.329.65 43.532.39 280.005.74 1.23 2.38 469.448.65 1.45 632.00 4.77 530.110.309.53 81.33 0.30 825.899.93 2 0.039.30 0.268.797.54 160.86 34.63 177.335.241.522.856.00 26.41 75.409.293.625.43 8.79 47.04 106.49 17.25 150.03 9.61 2.54 66.59 1.424.894.567.957.446.07 1.368.67 7.86 329.95 0.37 73.91 19.65 119.072.50 0.89 995.906.03 0.77 2.76 6.181.111.688.80 16.132.997.00 2.98 1.636.504.341.279.80 56.055.413.71 4.29 15.72 0.888.00 7.873.00 0.420.794.605.72 58.604.524.855.73 489.651.687.831.80 2.650.13 3.77 4.071.20 31.915.00 201.595.924.61 47.015.010.255.636.795.938.95 6 3.20 184.263.05 0.772.00 1.05 0.39 0.47 56.00 943.46 69.788.84 0.86 543.79 0.84 64.96 0.973.815.00 2.560.723.62 93.429.186.414.91 55.17 53.619.179.844.692.00 419.886.17 52.01 473.30 0.591.09 0.06 458.531.90 889.74 8.070.765.39 18.38 82.129.61 0.40 4.122.74 5.304.955.594.15 474.189.22 2.525.599.351.00 1.00 0.730.44 0.119.429.88 68.93 5 0.01 13.730.672.57 538.00 0.00 47.32 0.60 23.94 8.891.01 1.71 2.00 3.494.967.229.824.984.24 38.413.72 3 4.10 474.05 0.384.15 10.38 1.436.934.08 0.68 0.86 80.10 50.926.68 50.00 739.62 41.01 1.82 4.274.00 307.323.240.964.220.43 25.16 23.00 2.031.125.00 186.935.038.21 2.641.475.83 5.166.20 0.493.79 567.158.71 4.64 0.97 11.367.960.00 153.08 3.717.139.41 73.263.00 0.30 226.00 628.610.92 0.598.297.63 172.039.316.75 7.521.844.280.41 3.232.50 2.735.00 0.476.49 0.23 69.593.972.68 0.571.00 149.72 11.926.878.700.00 0.13 81.29 0.60 2.22 2.19 14.83 -46.600.00 49.225.46 7.55 724.456.96 0.778.684.775.752.426.359.610.27 2.82 5.10 0.603.26 42.330.499.446.17 1.74 447.545.60 26.00 1.940.00 9.704.026.55 14.00 34.00 1.35 0.064.062.74 26.TABEL INPUT-OUTPUT JAWA TENGAH KLASIFIKASI 19 SEKTOR TAHUN 2004 (Jutaan Rupiah) Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1 1.361.49 1.05 8 10.25 8.579.804.02 4 158.266.805.24 0.867.52 1.681.96 0.00 17.686.107.371.00 0.00 571.89 .684.66 0.309.460.93 7 0.090.166.171.230.929.285.247.44 0.66 2.00 934.22 27.169.256.85 2.75 53.785.32 5.03 1.88 0.866.00 0.725.67 31.65 15.50 14.327.545.601.33 9 26.779.64 34.740.390.19 229.518.504.38 990.69 2.52 99.346.38 213.15 1.213.37 18.087.76 42.497.06 650.00 0.069.376.396.634.637.36 15.101.918.334.00 32.50 0.874.26 0.01 545.796.253.00 483.154.773.870.06 0.21 81.772.475.536.11 43.068.00 1.804.598.23 35.00 32.36 2.00 8.00 0.260.36 359.221.761.

565.466.434.00 18.455.27 1.802.00 1.010.405.23 0.589.473.83 0.20 5.104.093.17 114.463.987.30 148.66 3.23 2.946.99 7.642.110.362.535.29 21.528.14 7.14 2.16 3.279.292.368.382.79 53.00 4.47 2.598.56 635.35 6.02 3.680.01 1.302.41 19.173.23 31.349.60 3.593.608.523.81 2.220.31 135.28 19 180 11.630.03 112.00 6.28 187.75 670.02 19.774.00 0.969.142.97 177.473.147.935.842.22 0.439.00 4.00 640.311.52 136.444.00 111.986.43 80.00 18.00 15.40 10.02 447.349.393.743.901.253.034.98 25.18 1.01 12 0.436.71 26.43 1.455.00 737.11 149.97 14 0.94 -9.10 11.179.276.434.337.273.982.63 7.04 63.27 223.12 8.408.748.75 0.333.28 0.562.00 2.202.31 0.84 0.958.154.850.107.930.61 602.614.459.60 383.55 63.099.00 10.00 7.14 10.41 14.900.83 2.723.50 1.904.981.603.331.659.92 337.892.334.440.09 304.73 7.01 2.278.203.401.692.246.856.66 -1.63 0.248.385.681.909.00 0.10 878.168.69 15.82 1.62 46.40 18.27 106.372.00 417.664.637.341.781.641.200.75 351.001.753.11 998.959.24 2.14 0.153.225.151.50 0.80 82.793.828.688.783.300.54 303.00 3.00 6.48 0.06 232.00 0.361.64 126.773.00 2.79 8.179.99 0.00 2.82 1.969.244.611.367.88 627.67 18 847.34 0.45 16.00 7.031.548.87 41.385.263.558.04 32.16 108.450.884.00 0.544.555.19 124.55 95.98 49.79 1.32 496.422.00 8.29 1.69 0.517.863.565.005.28 4.00 16.00 207.625.97 43.54 2.37 0.71 -969.345.77 444.544.689.30 1.148.825.232.103.315.44 17 6.07 0.16 0.593.72 340.809.55 3.848.824.27 7.96 11.75 47.813.346.285.710.958.19 2.469.554.060.112.497.530.99 0.64 2.60 491.39 21.049.167.24 863.83 0.736.926.03 22.899.000.07 4.377.138.21 524.38 1.256.329.06 13.873.00 14.41 4.66 6.718.442.41 310.00 727.303.66 541.20 16 0.53 10.116.167 Lanjutan Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 190 200 201 202 203 204 205 209 210 11 0.34 1.95 597.84 0.169.551.13 3.481.784.69 766.825.10 0.897.00 58.29 11.017.486.770.263.240.30 298.854.103.476.68 0.037.292.00 730.00 1.450.46 209.00 0.47 3.868.65 0.349.17 8.96 29.821.600.435.00 2.24 16.479.252.071.232.670.05 400.639.00 0.00 0.358.34 1.384.94 1.40 139.336.33 665.36 24.729.88 13 4.86 4.449.00 32.237.131.484.515.00 54.977.131.913.41 1.82 349.025.54 193.345.845.00 636.167.96 9.205.091.440.225.00 0.05 59.79 0.94 47.496.730.113.670.93 368.455.00 5.338.752.69 3.35 129.11 2.092.66 0.56 585.23 0.252.379.90 808.386.05 6.973.08 3.89 - .96 600.08 23.78 235.92 323.99 150.140.614.10 850.160.386.739.606.942.959.858.877.85 15 0.91 0.06 0.79 0.84 0.29 935.532.773.79 0.184.933.35 295.137.186.412.491.928.675.240.07 36.839.498.830.438.874.553.08 761.04 18.370.471.00 0.756.00 8.39 2.203.081.66 29.331.21 11.19 18.00 10.98 123.33 1.22 3.94 3.393.145.608.244.214.999.099.772.098.00 2.823.364.95 0.99 64.59 10.78 542.163.639.085.29 100.426.149.23 599.809.30 4.88 85.05 1.371.730.00 5.86 133.

36 22.809.780.74 910.177.786.660.44 3.981.114.203.055.338.623.906.892.07 19.362.24 -817.20 9.949.422.12 305 AD 5.470.222.120.93 377.739.13 25.29 305 AP 233.40 313.629.512.712.74 17.786.309.37 20.468.684.149.165.605.799.17 709.63 16.825.331.391.62 49.140.240.929.17 27.83 -314.222.887.97 19.169.69 13.002.20 26.015.217.90 6.737.578.727.949.87 -525.05 32.88 23.603.844.116.216.73 5.909.849.47 219.67 6.349.39 2.070.047.934.75 309 7.135.30 -461.608.872.075.58 305 LN 51.539.434.168 Lanjutan Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 10.065.823.763.540.858.703.609.88 49.01 1.17 23.883.605.996.60 272.40 4.087.557.025.88 38.781.623.969.81 1.052.664.351.93 303 504.407.664.277.969.600.07 5.49 2.333.612.338.93 19.103.396.444.48 -596.55 50.753.732.45 48.54 262.051.347.84 202.255.06 4.919.44 25.693.197.827.181.34 6.465.29 5.93 19.276.25 14.366.026.704.933.951.06 -220.82 1.105.22 10.32 6.385.842.715.391.04 109.163.88 24.343.994.96 1.221.211.149.978.58 5.780.427.79 20.821.45 310 11.545.624.640.09 8.83 1.90 302 19.210.04 6.34 369.12 77.68 1.047.12 -885.16 26.29 - .80 3.86 17.482.28 479.37 97.45 1.171.99 3.429.830.141.685.563.88 5.437.303.169.200.601.987.122.84 -2.581.070.14 334.260.46 15.826.20 10.85 2.477.69 1.047.591.338.450.37 1.27 45.70 10.666.065.267.537.481.776.46 9.660.01 29.111.393.08 261.55 126.99 304 2.97 13.396.84 2.99 1.57 61.450.524.83 3.05 50.709.450.655.177.915.294.47 1.751.127.816.454.519.997.99 96.962.071.422.709.67 15.87 158.954.582.77 918.60 4.046.53 4.545.312.988.08 968.497.800.88 305 5.863.45 38.607.439.16 26.88 5.278.45 42.06 4.74 7.899.825.181.61 -3.59 278.206.78 597.567.343.687.85 19.89 87.664.438.693.32 8.13 206.362.453.083.75 1.40 -2.095.

103.681.274.36 546.01 29.90 6.929.97 13.163.753.333.76 409 933.85 19.331.96 290.93 18.439.200.868.220.37 13.162.67 6.787.413.18 2.739.309.382.28 400.088.899.563.160.95 342.790.60 8.603.192.457.98 7.96 1.36 9.895.34 103.170.977.556.225.29 - .482.967.76 86.825.545.103.98 401 LN 808.362.263.84 403 62.607.629.99 3.419.27 170.309.436.61 0.06 7.656.940.02 15.169 lanjutan Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 190 200 201 202 203 204 205 209 210 401 AD 115.74 7.481.105.38 4.200.114.03 2.451.93 2.816.448.236.58 20.21 3.02 8.135.55 101.527.08 3.362.899.34 203.626.20 9.393.489.74 125.90 107.276.892.413.93 889.30 1.961.72 379.355.77 119.997.753.331.497.509.01 29.91 454.71 4.52 237.01 79.18 1.809.385.80 402 7.784.625.221.569.303.80 2.969.333.44 25.87 851.368.667.481.56 700 1.438.197.02 2.88 0.763.25 401 AP 2.784.99 78.44 25.82 17.25 2.268.45 3.197.07 3.02 17.171.60 600 11.45 42.70 3.837.79 77.460.025.04 28.871.64 878.897.00 68.11 116.481.051.548.267.825.12 77.092.30 30.85 2.772.929.57 401 926.88 49.775.210.456.849.696.37 97.604.67 6.81 5.321.959.097.276.987.055.389.393.273.600.236.398.97 13.954.313.375.72 4.17 32.396.748.55 50.09 8.537.93 19.739.05 73.06 2.809.522.068.17 40.921.685.610.24 169.165.892.20 9.302.54 99.538.88 49.561.387.52 40.34 2.59 41.825.54 28.841.814.89 6.862.593.85 19.969.29 33.331.497.583.228.586.000.267.82 3.20 26.84 50.95 2.28 479.280.240.45 170.

170 PERBEDAAN KLASIFIKASI 9 SEKTOR DAN 19 SEKTOR TABEL INPUT-OUTPUT REGIONAL JAWA TENGAH 2004 Kode 9 Sektor 1 Nama Sektor Pertanian Kode 19 Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama Sektor Padi Tanaman Bahan Makanan Lainnya Tanaman Pertanian Lainnya Peternakan dan Hasil-hasilnya Kehutanan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Makanan. Real Estate dan Jasa Perusahaan Pemerintahan Umum dan Pertahanan Jasa-jasa Kegiatan yang Tidak Jelas Batasannya 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Minuman dan Tembakau Industri Lainnya Industri Pengilangan Minyak Listrik. Gas dan Air Minum Bangunan Perdagangan. Gas dan Air Minum Bangunan Perdagangan Restoran dan Hotel Pengangkutan dan Komunikasi Lembaga Keuangan. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa . Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.

Hotel & Restoran 7 = Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 8 = Sektor Keuangan.0000 Sumber: Hasil Analisis.3789 0.5469 0.0077 0.1661 0.0005 0.0004 0.0061 0.0977 0.0604 0.0039 0.0159 0.0198 0.0114 0.6303 1.171 TABEL KOEFISIEN INPUT WILAYAH JAWA TENGAH TAHUN 2004 Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 190 209 210 1 0.0000 6 0.0072 0.0412 0.0000 0.0271 0.1976 0.0040 0.1069 0.0012 0.0078 0.0248 0.0000 180 0.0026 0.0168 0.0133 0.0002 0.0109 0.0007 0.3530 0.1843 0.0000 2 0.0000 0.3380 1.8157 1.0123 0.0000 5 0.0005 0.0410 0.0000 4 0.0000 3 0.8339 1.0030 0.6620 0.0120 0.0000 7 0. Persewaan & Jasa Perusahaan 9 = Sektor Jasa-Jasa 190 = Input Antara 209 = Input Primer / Nilai Tambah Bruto 210 = Input Total 180 = Output Antara .1224 0.1180 0.0005 0.0000 0.1874 0.0077 0.1850 0.0044 0.0241 0.0844 0.1147 0.0218 0. Gas dan Air Bersih 5 = Sektor Bangunan 6 = Sektor Perdagangan.3546 0.0087 0.0032 0.0520 0.0072 0.3697 0.0312 0.6470 1.5669 1.0541 0.6277 0.0219 0.4331 0.0272 0.1069 0.5171 0.0675 0.0008 0.0310 0.0291 0.0118 0.0027 0.0236 0.4829 1.0000 9 0.0000 8 0.0158 0.0031 0.1079 0.1909 0.3723 1.0112 0.0012 0.1150 0.2320 0.0795 0.6211 1.0214 0.0008 0.3284 1.6716 0.0914 0.1005 0.0036 0.0337 0.0346 0.0473 0.0250 0.0949 0.0013 0.0196 0.0593 0.0135 0.0234 0. 2008 Keterangan: 1 = Sektor Pertanian 2 = Sektor Pertambangan dan Galian 3 = Sektor Industri Pengolahan 4 = Sektor Listrik.0061 0.0152 0.0017 0.0076 0.

756.20 26.263.49 22.773. Hotel & Restoran 7.892.987.38 56.35 202.665.228.19 43.41 4.758. 190 209 210 180 309 310 = Sektor Jasa-Jasa = Input Antara = Input Primer / Nilai Tambah Bruto = Input Total = Output Antara = Jumlah Permintaan Akhir = Jumlah Permintaan / Total Output .292.62 124.00 18.484.616.158.104.28 189.435.39 9.604.103.217.197.987.78 38.413.463. = Sektor Industri Pengolahan 4.913.82 7 25.32 6.68 207.596.31 3.262.76 771.84 193.96 686.65 2.66 452.01 7.16 3.380.419.842.09 137.598.69 4.977.647.33 1.60 272.45 463.296.00 1.88 38.371.279.493.61 2.229.928.528.99 286.28 479.01 5 730.23 4.05 6.92 3.698.755.825.563.20 34.828.333.892.81 2.09 304.61 36.38 129.35 36.899.331.195.463.45 310 52.118.739.431.04 388.66 29.437.225.365.103.822.539.276.163.181.34 4.250.671.71 36.45 6.276.557.309.179.88 62.12 224.202.329.097.816.824.21 825. = Sektor Bangunan 6.010.942.83 8.589.445.968.41 19.385.548. = Sektor Pertanian 2.710.479.60 46.45 59.035.426.01 29.172.720.129.714.889.17 26.69 75.095.05 3 22.614.26 4.451.047.789.29 3.70 2.471.30 345.006.03 7.53 2. Gas dan Air Bersih 5.047.17 107.30 1.55 82.61 34.145.496.20 8 470.391.913.464.15 8.11 6.44 1.653.63 108.958.48 4.100.626. = Sektor Listrik.82 6.136.845.94 34.28 180 27.05 400.59 18. = Sektor Pertambangan dan Galian 3.098.714.82 32.530.563.96 11.136.04 62.496.278.478.45 746.052.63 8.22 10.773.73 419.48 627.698.825.26 53.240.07 30.79 10.20 150.89 309 25.901.248.77 101.35 421.67 63.548.103.67 48.445.565.904.103.409.625.274.10 3.403.401.57 149.83 1.69 3.988.172 TABEL INPUT OUTPUT WILAYAH JAWA TENGAH 9 SEKTOR (JUTA RUPIAH) TAHUN 2004 Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 190 209 210 1 2.333.98 1.680.05 42.261.049.184.025.377.270.088.624.56 2.703.09 762.347.131. = Sektor Keuangan.049.825.485.062.337.600.211.612.87 599.578.654.090.209.37 18.55 1.641.29 Sumber : Hasil Analisis.702.112.498.821.309.149.739.39 192.06 4 0.079.855.057.95 2.697.331.67 10.23 7.583.59 12.286.523. 2008 Keterangan: 1.959.17 22.57 812.356.116.83 10.982.882.48 2 1.08 23.467.076.820.217.773.29 1.699.239.121.689.901. Persewaan & Jasa Perusahaan 9.069.629.86 -596.163.877.623.35 135.66 2.476.756.661.29 21.422.394.91 177.429.492.75 571.956.40 14.391.11 9 52.35 6.13 4.440.934.147.97 1.93 44.54 66.361.84 235.82 19.45 145.451.784.545.88 6 1.884.361.583.302.324. = Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 8.748.386.05 114.440. = Sektor Perdagangan.225.813.98 23.

173 . merupakan sektor basis yang memiliki potensi ekspor.173 ANALISIS LOCATION QUOTIENT (LQ) Analisis Location Quotient (LQ) digunakan untuk mengetahui sektor basis dan non basis di wilayah Kedungsepur. • KL < 1. Sektor basis dan non basis tersebut akan menggambarkan spesialisasi wilayah (masing-masing Kabupaten/Kota) yang akan menunjukkan potensi ekonomi wilayah studi. Pendapatan masing-masing sektor baik dalam wilayah studi maupun wilayah nasional dapat diperoleh melalui tabel PDRB masing Kabupaten/Kota di wilayah Kedungsepur. merupakan sektor non-basis dan wilayah sudi harus melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan sektor tersebut . Location Quotient dirumuskan sebagai berikut: LQi = (ei/e) / (Ei/E) Sumber: Tarigan (2005) Keterangan : LQi ei e Ei E = = = = = nilai LQ untuk sektor i di Kabupaten analisis PDRB sektor i di Kabupaten analisis PDRB seluruh sektor di Kabupaten analisis PDRB sektor i di Provinsi Kabupaten analisis PDRB seluruh sektor di Provinsi Kabupaten analisis Penentuan sektor basis dan non-basis dapat dikeahui dari nilai LQ yaitu: • KL > 1. Sektor-sektor basis yang dihasilkan oleh masing-masing wilayah merupakan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan dan pemanfaatannya akan mendorong spesialisasi wilayah yang bersangkutan dan menunjukkan sektor-sektor basis yang akan digunakan dalam mengkaji keterkaitan antar sektor dan keterkaitan antar daerah di wilayah Kedungsepur. namun belum dapat melakukan ekspor atau impor ke wilayah lainnya. sector tersebut mampu dipenuhi secara swasembada di wilayah studi. • KL = 1.

220.72 274.286.97 20.61 1.56 1.849.59 78.47 26.915.023.85 689.100.716.14 Kab.293.239.700.461.559.001.361.008.43 105.34 115.61 128.705.631.35 494.626.293.818.19 65.206.01 8.235.87 1.380.20 882.881.52 349.451.849.97 194.299. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.078.07 36.71 7.666.61 1.125.88 Kedungsepur 3. Grobogan 1. Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Jumlah Total PDRB Kota Semarang 92.320. Demak 958.31 1.552.85 20.328.821.905.780.64 62.97 4.160.123.33 Sumber: Jawa Tengah Dalam Angka 2002.174 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 WILAYAH KEDUNGSEPUR TAHUN 2001 (JUTA RUPIAH) No.20 4.801.477.803.62 250.14 3.121.48 1.784.384.36 185. data diolah .544.224.889.849.262.78 2.634.665.91 2.44 54.02 151.161.87 457.21 12.30 21.624.444.36 Kab.52 91.49 446.229.251.60 7. Lapangan Usaha 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan dan Galian Industri Pengolahan Listrik.547.65 5.04 821.234.353.611.842.177.60 85.94 13.826.476.204.310.95 3.94 81.456.253.422.13 3.43 Kota Salatiga 33.90 72.741.440.862.442.54 93.73 Kab.67 4.32 351.178.53 116.490.31 62.108.047. Semarang 663.87 12.24 76.251.20 Kab.54 528.64 89.66 673.47 653.54 90.169.16 88.195.644.466.905.774. Hotel & Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.58 382.70 35.95 73.500.553.589. Kendal 710.284.393.

Hotel & 6 Restoran Pengangkutan dan 7 Komunikasi Keuangan.025.306.85 69.463.38 26.86 710.419.96 No. Lapangan Usaha 1 Pertanian 2 Pertambangan dan Galian 3 Industri Pengolahan 4 Listrik.01 49.501.581.23 64. Grobogan 978.553.892.119.807.350.616.55 Kab.23 1. Demak 984.87 Kab.642.94 134.498.03 30.132.80 Sumber: Jawa Tengah Dalam Angka 2003.66 2.06 2.127.30 93.25 31.308.03 3.781.117.271.935.752.344.459.69 205.10 458.697.182.481.73 117. data diolah .998.231.002.639.570.673.77 30.835.72 94.051.37 35.647.321.237. Semarang 699.29 101.00 14.47 Kedungsepur 3.53 1.364.947.35 7. Kendal 998.105.798.203.01 297.14 460.66 78.37 557.708.761.826.191.80 1.48 727.85 1.034.662.01 60.949.821.821.33 35.393. Persewaan & Jasa 8 Perusahaan 9 Jasa-Jasa Jumlah Total PDRB Kota Salatiga 42.047.36 3.055.74 4.24 282.085.348.175 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 WILAYAH KEDUNGSEPUR TAHUN 2002 (JUTA RUPIAH) Kota Semarang 190.467.46 72.046.93 1.362.561.01 2.225.119.97 4.844.324.33 408.062.325.358.04 159.56 381.76 Kab.720.221.123.403.60 119.97 65.274.13 108.72 7.30 13.80 414.94 Kab.27 1.128.59 257.126.49 95.920.836.94 6.594.203.503.874.44 3.39 129.16 146.64 5.61 79.750.84 1.431.21 27.647. Gas dan Air Bersih 5 Bangunan Perdagangan.02 4.436.050.26 180.221.529.27 678.531.359.54 122.

588.48 130.74 141.619.389.421.60 216.52 8.785.322.578.81 1.40 7.57 79.313.581.73 185.372.32 117.749.22 165.604.40 126.176 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 WILAYAH KEDUNGSEPUR TAHUN 2003 (JUTA RUPIAH) No.850.515.785.274.496.804.91 1.082.55 26.711.709.904.366.40 12.10 14.613.648.94 230.78 578.491.95 2.133.930.137.13 468.177.836.305.82 741.611.22 382.74 4.730.283.714.09 421. Hotel & Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.16 105.22 71.671.28 4.82 50.43 33. Demak 997.060.089.56 1.959.85 4.397. Lapangan Usaha 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan dan Galian Industri Pengolahan Listrik.82 1.853.50 Kab.575.577. data diolah .621.378.51 28.10 97.439.13 Kota Salatiga 46. Semarang 725.23 157.41 Kedungsepur 3.079.922.905.260. Kendal 979.66 1.578.89 36.55 122.89 2.243.139. Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Jumlah Total PDRB Kota Semarang 196.957.80 249.92 3.118.552.061.377.334.86 32.375.09 2.65 3.408.665.91 7.754.55 Kab.82 4.132.667.68 1.413.70 319.492.300.28 110.18 754.104.537.553.583.272.726.14 472.913.284.932.71 Kab.39 422.580.432.289.095.49 38.966.930.10 93.004.889. Grobogan 984.308.735.038.19 1.32 Sumber: Jawa Tengah Dalam Angka 2004.16 75.15 82.92 Kab.08 154.06 52.98 68.286.37 103.98 713. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.25 31.14 4.

806.740.75 33. Kendal 1.167.609.328.149.26 586.880.61 4.65 2.403.08 3.73 2.72 3.605.755. Persewaan & Jasa 8 Perusahaan 9 Jasa-Jasa Jumlah Total PDRB Kota Semarang 203.04 437.855.78 78.496.384.74 109.409.361. Grobogan 1.343.01 27. Semarang 736.62 759.84 4.996.92 37.504.530.82 4.992.40 486.021.769.678.955.04 128.509.12 225.26 73.061.553.485.65 765.963.681.591.86 1.345.07 147.062.059.35 85.177 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 WILAYAH KEDUNGSEPUR TAHUN 2004 (JUTA RUPIAH) No.708.46 237.160.76 87.354.847.61 5.34 167.345.97 334.636.78 1.501.75 33.880.26 Kab.379.36 98.119.853.329.253.549.43 8.06 Kab.38 Kota Salatiga 46.52 14.44 1.900.75 130.012.25 120.013.297. Hotel & 6 Restoran Pengangkutan dan 7 Komunikasi Keuangan.46 55.313.462.811.28 735.04 260.29 37.65 Kab.39 2.583.81 Kedungsepur 4.09 159.64 15. Demak 1.24 7.124.76 4.11 69. Lapangan Usaha 1 Pertanian 2 Pertambangan dan Galian 3 Industri Pengolahan 4 Listrik.916.340.641.523.15 29.90 7.69 Sumber: Jawa Tengah Dalam Angka 2005.661.210.680.172.080.42 124. data diolah .94 2.956.415.563.445.887.52 204.76 157.027.444.837.430.101.34 436.595.991.641.26 115.626.36 481.113. Gas dan Air Bersih 5 Bangunan Perdagangan.42 1.85 1.822.073.729.97 2.19 Kab.86 44.78 100.642.487.370.87 402.600.16 105.11 35.722.498.027.609.499.

32 3.80 129.179.942.19 45.120.97 52.129.909.269.19 91.223. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.974.181.074.608.228.718.715.714.47 385.623.841.437.361.178 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 WILAYAH KEDUNGSEPUR TAHUN 2005 (JUTA RUPIAH) No.230.336.60 2.409.470.82 2.89 5. Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Jumlah Total PDRB Kota Semarang 210.061.283.72 766.40 2.678.37 36.263.023.14 336.741.30 2.364.747.049. Lapangan Usaha 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan dan Galian Industri Pengolahan Listrik.189.93 2.23 Sumber: Jawa Tengah Dalam Angka 2006.48 662.030.291.35 151. data diolah .26 1.176.784.901.22 100.383.52 162.916.00 Kab.126.77 4.845.22 108.82 450.794.31 117.579.56 36.63 4. Semarang 598.843.14 976.599.911.10 52.365. Hotel & Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.173.10 Kab.70 141.257.176.05 500.177.75 Kedungsepur 4.699.49 787.02 2.032.252.874.09 Kab.484.551.97 36.84 5.911.456.447.701.91 16.32 3.451.20 34.279.28 Kab.777.074.626. Demak 1.126.85 6.210.029.36 245.50 1.827.40 82.65 88.705.716.04 237.959.38 30.945.936.403.76 460.862.50 2.00 128.550.00 354.78 113.95 141.20 1.825.07 38.27 10.843.692.258.75 106.889.755.38 Kota Salatiga 50.24 216.10 169.206.22 93.72 16. Grobogan 1.73 5.524.00 1.373. Kendal 1.839.67 32.777.060.245.94 184.02 279.108.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->