Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN 1.

Latar Belakang Kira-kira sepuluh hari setelah sel telur dibuahi sel sperma di saluran Tuba fallopii, telur yang telah dibuahi itu bergerak menuju rahim dan melekat padsa dindingnya. Sejak saat itula plasenta mulai berkembang dan memproduksi HCG yang dapat ditemukan dalam darah serta air seni. Keberadaan hormone protein ini sudah dapat dideteksi dalam darah sejak hari pertama keterlambatan haid, yang kira-kira merupakan hari keenam sejak pelekatan janin pada dinding rahim. Kadar hormon ini terus bertambah hingga minggu ke 14-16 kehamilan, terhitung sejak hari terakhir menstruasi. Sebagian besar ibu hamil mengalami penambahan kadar hormone HCG sebanyak dua kali lipat setiap 3 hari. Peningkatan kadar hormon ini biasanya ditandai dengan mual dan pusing yang sering dirasakan pada ibu hamil. Setelah itu kadarnya menurun terus secara perlahan, dan hampir mencapai kadar normal beberapa saat setelah persalinan. Tetapi adakalanya kadar hormone ini masih di atas normal sampai 4 minggu setelah persalinan atau keguguran. Kadar HCG yang lebih tinggi pada ibu hamil biasa ditemui pada kehamilan kembar dan kasus hamil anggur (mola). Sementara pada perempuan yang tidak hamil dan juga laki-laki, kadar HCG di atas normal bisa mengindikasikan adanya tumor pada alat reproduksi. Tak hanya itu, kadar HCG yang terlalu rendah pada ibu hamil pun patut di waspadai, karena dapat berarti kehamilan terjadi di luar rahim (ektopik) atau kematian janin yang biasa disebut aborsi spontan.

2. Tujuan Praktikum Mahasiswa dapat melakukan uji kehamilan dengan menggunakan katak Bufo Vulgaris jantan (Galli main), test immunologi 3. Judul Praktikum Uji kehamilan dengan metode biologi dengan kodok (Galli maini) dan metode immunologi (test pack). 4. Waktu Praktikum Praktikum dilaksanakan pada : Hari Tanggal Tempat : Jumat : 24 Februari 2012 : Laboratorium Mikrobiologi STIKes BTH Tasikmalaya
1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA HCG (Human Chorionic Gonadotrophin) Human chorionic gonadotropin (HCG) adalah hormon peptida yang diproduksi pada masa kehamilan, yang dibuat oleh embrio segera setelah pembuahan dan selanjutnya oleh syncytiotrophoblast (bagian dari plasenta). HCG mengatur untuk mencegah perpecahan dari corpus luteum pada ovarium dan juga mempertahankan produksi progesteron yang penting pada kehamilan pada manusia. HCG mungkin mempunyai fungsi tambahan, sebagai contoh diperkirakan HCG mempengaruhi toleransi imunitas pada kehamilan. HCG merupakan hormon yang bersifat luteotrofik pada beberapa spesies , termasuk manusia. HCG disekresi oleh plasenta, tidak seperti PMSG yang disekresi oleh endometrium uterus. HCG pada wanita berperan untuk mempertahankan corpora lutea selama tahaptahap permulaan kehamilan. Segera setelah ovulasi, korpus luteum akan cukup mendapat dorongan dari faktor-faktor luteotrofik hipofisa. Adanya dorongan ini menyebabkan korpus luteum tersebut secara fisiologis tetap aktif sampai HCG mulai dibentuk dalam jumlah yang cukup untuk bertindak sebagai luteotrofik. Sejumlah HCG yang dapat terukur timbul pada wanita hamil pada hari ke-5 sampai 16 setelah ovulasi, tetapi titer HCG tidak mencapai puncaknya sampai hari kehamilan yang ke-35 sampai 50 . HCG merupakan glikoprotein yang jauh lebih besar dengan berat molekul kira-kira 45.000 Dalton, tetapi lebih banyak mengandung residu gula dibandingkan dengan glikoprotein pituitary. Sifat-sifat khusus HCG yang diisolasi cenderung kurang seragam dibandingkan dengan sifat-sifat khusus hormon glikoprotein yang berasal dari pituitary, karena degradasi terutama rantai samping karbohidratnya dapat terjadi selama pembentukan urin. Hormon kehamilan ini hanya ditemukan pada tubuh seorang wanita hamil yang dibuat oleh embrio segera setelah pembuahan dan karena pertumbuhan jaringan plasenta. Hormon kehamilan yang dihasilkan oleh villi choriales ini berdampak pada meningkatnya produksi progesteron oleh indung telur sehingga menekan menstruasi dan menjaga kehamilan. Produksi HCG akan meningkat hingga sekitar hari ke 70 dan akan menurun selama sisa kehamilan. Hormon kehamilan HCG mungkin mempunyai fungsi tambahan, sebagai contoh diperkirakan HCG mempengaruhi toleransi imunitas pada kehamilan Tetapi adakalanya kadar hormon ini masih di atas normal sampai 4 minggu setelah persalinan atau keguguran. Kadar HCG yang tinggi dalam darah menyebabkan mual-muntah (morning sickness). Human Chorionic Gonadatrophin (HCG) adalah hormon yang bekerja mirip LH (luteinising hormone) yang secara normal diproduksi oleh kelenjar pituitari. Pada anak laki-laki LH dan juga HCG memberitahu testis untuk memproduksi hormon sex laki-laki (testosterone). Pada anak perempuan, HCG memberitahu ovarium untuk memproduksi progesteron tetapi hal ini terjadi hanya pada masa kehamilan. sehingga HCG lebih bemanfaat bagi anak laki-laki dibanding anak perempuan Jumlah kadar HCG yang ideal bisa berubah atau berbeda-beda tergantung pada usia kehamilan. Kadar HCG yang ideal adalah tidak terlalu rendah, maupun tidak terlalu tinggi. Jumlah hormon HCG tidak ditentukan oleh umur si ibu, jadi yang benar-benar mempengaruhi jumlah kadar HCG adalah usia kehamilan. Kadar beta HCG yang bisa terdeteksi pada kehamilan
2

5 minggu yakni sekitar 22 IU/ml. Bila kadar HCG-nya rendah bisa keguguran. Sedangkan kalau kadar HCG-nya terlalu tinggi harus dicurigai karena bisa menyebabkan hamil anggur atau bisa juga menyebabkan kanker kariokarsinoma.

Jika HCG orang hamil rendah:


Kesalahan perhitungan umur kahamilan Keguguran Kehamilan etropik (di luar rahim )

Jika HCG orang hamil tinggi:


Kesalahan perhitungan umur kehamilan Kehamilan molar ( hamil anggur ) Multiple pregnancy

Angka yang termasuk dalam range normal


Usia kehamilan 3 minggu : 5-50 mIU/L Usia kehamilan 4 minggu : 5-400 mIU/L Usia kehamilan 5 minggu : 20-7300 mIU/L Usia kehamilan 6 minggu : 1000-56000 mIU/L Usia kehamilan 8 minggu : 7500-220000 mIU/L

BAB III METODA PRAKTIKUM A.Metoda Galli Maini 1. Alat Dan Bahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Katak bengkerok jantan dewasa 2 ekor Spuit (pompa suntik) 5ml Urine wanita hamil muda Tempat katak Mikroskop cahaya Kaca obyek Lidi kapas

2. Prinsip HCG yang terdapat pada urine wanita hamil, bila disuntikkan pada kodok jantan (Bufo vulgaris) jantan akan merangsang system seksualnya sehingga dalam waktu 2-3 jam akan mengeluarkan sperma.

3. Cara Kerja 1. Menyediakan dua ekor katak bengkerok (bufo vulgaris) jantan dewasa. Ciri-ciri katak jantan antara lain; pada telapak kaki depan terdapat penebalan berwarna hitam, pada kulit leher bagian sentral terdapat warna agak merah kekuningan, warna tubuhnya biasanya agak gelap dibanding betina 2. Merangsang dengan menggunakan lidi berbungkus kapas pada bagian kloakanya kemudian kalau keluar sesuatu menaruhnya pada kaca objek dan memeriksa pada mikroskop. Jika sesuatu tersebut sperma maka yang harus dilakukan adalah membersihkannya terlebih dahulu. 3. Menyiapkan 5ml air kencing wanita yang diduga hamil sekitar 1-3 bulan kemudian gunakan pompa dan jarum suntik ( spuit) untuk menyuntikkan urine tersebut secara subkutan ( dibawah kulit) dengan cara mencubit/menarik kulit katak, kemudian suntikkan. Biasanya untuk penyuntikan ini dipilih tempat untuk kulit punggung. 4. Menyuntikkan katak yang satu dengan aquades digunakan sebagai kontrol. 5. Mengembalikan katak pada tempatnya, kemudian menunggu kurang lebih 25 menit untuk melihat reaksinya. Setelah itu merangsang bagian kloaka dengan lidi, jika keluar sesuatu kemudian memeriksanya dengan mikroskop. Apabila sesuatu itu adalah sperma maka reaksi positif.

B. Metoda Test Immunologi 1.Alat dan Bahan 1. test pack 2. Urine 3. wadah urine 2. Prinsip Urine wanita hamil mengandung alpha dan beta HCG (monoclonal HCG lengkap) pada sumur bahan ( sampel well) terdapat anti alpha HCG . 3. cara kerja 1. Siapkan urine dalam wadah yang bersih dan kering 2. Siapkan test pack 3. Celupkan test pack pada urine sampai tanda batas 4. Tunggu sampai adanya hasil kira-kira selama 1-5 menit , hasil positif ditandai dengan terbentuknya 2 garis merah, sedangkan negative terbentuk 1 garis merah. 5. Biasakan pemeriksaan dengan adanya control dari urine wanita yang tidak hamil maupun dari pria.

BAB IV HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN Pada pemeriksaan galli maini Setelah menyuntikkan urine wanita hamil secara sub-kutan (di bawah kulit) dengan cara mencubit / menarik kulit katak menggunakan pompa dan jarum suntik (spuit). Setelah 30 menit, kemudian merangsang bagian kloaka dengan lidi da ada cairan yang keluar. Setelah diperiksa di bawah mikroskop ternyata cairan tersebut adalah sperma, sehingga dapat dikatakan bahwa reaksi ini positif. Sperma terdiri dari 4 bagian yaitu kepala,leher badan dan ekor.

Keterangan: a. Kepala Mengandung lapisan tipis sitoplasma,dan sebuah inti yang lonjong yang hamper mengisi seluruh bagian kepala itu.Inti diselubungi oleh selubung perisai,didepan dan dibelakang.Di depan disebut tudung depan ( Akrosom0 dan di belakang disebut tudung depan. b. Leher Daerah genting sperma.Didalam terdapat sentriol depan dan bagian depan filament polos. c. Badan Mengandung filament polos,mitokondria dan sentriol belakang berbentuk cincin. d. Ekor
6

Merupakan alat gerak bagi sperma. Sperma katak memiliki panjang 0,03 mm. Kepala panjang dengan bentuk batang,akrosom berbentuk manik,ekor sukar dibedakan dari badan. Pada praktikum uji kehamilan (direct latex agglutination) kita menguji urin untuk menunjukkan pada urin wanita hamil tekandung hormon hCG (Human Chorionic Gonadtropine) dan menunjukkan tidak terkandung (negative) hCG (Human Chorionic Gonadtropine) pada urin wanita tidak hamil dan urin pria. Dengan menggunakan metode aglutinasi lateks. Hormon Chorionic Gonadotropin (hCG) adalah hormon gonadotropin yang disekresi oleh wanita hamil dan disintesa oleh sel-sel sintitio tropoblas dari placenta. Hormon hCG mempunyai dua rangkaian rantai peptide yaitu yang mengandung 92 asam amino dan mengandung 145 asam amin. Hormon Chorionic Gonadotropin (hCG) mempertahankan korpus luteum yang terbentuk ketika sel telur dibuahi yang dilanjutkan dengan terjadinya ovulasi. Hormon hCG berdampak pada meningkatnya produksi progesterone oleh indung telur sehingga menekan menstruasi dan menjaga kehamilan. Produksi hormon hCG akan meningkat hingga hari ke 70 dan akan menurun selama sisa kehamilan. Hormon ini di ekskresikan melalui urin juga terdapat dalam serum. Kali ini kta akan mendeteksi hormon hormon hCG di urin wanita hamil. Penentuan kehamilan dengan menggunakan urine dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara biologik dan cara imuno- logik. Percobaan biologik dengan tiga cara yaitu cara Ascheim Zondek, cara Friedman dan cara Galli Mainini; masing-masing cara biologik ini menggunakan binatang percobaan yaitu tikus putih, kelinci dan katak jantan. Sedangkan pemeriksaan secara imunologik dapat dilakukan secara langsung dengan cara Direct Latex Agglutination (DLA) atau secara tidak langsung dengan caraLatex Agglutination Inhibition (LAI) serta cara Hemaglutination Inhibition (HAI) (2,3,4,5) Sejak tahuri 1960 cara imunologik telah mendapat tempat yang luas. Hal ini disebabkan karena cara ini lebih mudah, cepat dan lebih sensitif dari cara biologic. Walaupun demikian cara Galli Mainini masih tetap digunakan sampai sekarang. Dewasa ini untuk pemeriksaan kehamilan di laboratorium-laboratorium yang paling banyak digunakan adalah cara imunologik dengan cara Latex Agglutination Inhibition. Prinsip tes imunologik ini adalah berdasarkan terjadinya reaksi imunologis kimiawi antara HCG dalam urine dengan antobodi HCG (anti HCG). Pada praktikum ini deteksi hormon hCG dilakukan dengan menggunakan metode aglutinasi lateks. Aglutinasi adalah Teknik yang dapat menentukan antigen atau antibodi secara semikuantitatif, aglutinasi dapat dilihat dengan mata atau dengan mikroskop. Metode aglutinasi yang sering dipakai adalah aglutinasi lateks dan hemaglutinasi, yang masing-masing menggunakan partikel lateks dan sel eritrosit yang dilapisi antibody atau antigen. Tergantung apakah yang hendak ditentukan itu antigen atau antibodi. Cara aglutinasi lateks banyak dipakai untuk menetapkan adanya rheumatoid faktor (RA) atau CRP dalam serum dan Human chorionic gonadotropin (hCG) dalam urin, sedangkan cara hemaglutinasi sering dipakai untuk menetapkan HBsAg dan anti--HBsAg, masing - masing cars reverse passive hemaglutination (RPHA) dan passive hemaglutination (PHA), disamping itu juga untuk menetapkan adanya antibodi terhadap Treponema pallidum. Prinsip tes imunologik ini adalah berdasarkan terjadinya reaksi imunologis kimiawi antara hormon hCG dalam urine dengan antobodi (anti HCG). Suspensi lateks mengandung antibody
7

monoclonal anti hCG dengan natrium azida sebagai pengawet sebagai anti hCG dan hormon hCG yang terkandung dalam urin sebagai antigen. Ketika anti hCG (antibodi) bertemu dengan antigen(hormon hCG) maka terbentuklah kompleks imun.

Pada praktikum ini hormon hCG akan dideteksi pada


Urin uji (urin wanita hamil) kontrol + (urin yg positif mengandung hCG) Kontrol- ( urin cowok dan urin cewek tidak hamil)

Semua urin diatas masing masing ditetesi pada plat kaca dan ditambahkan suspense lateks selanjutnya diaduk hingga seluruh lingkaran penuh. Positif hCG ditunjukkan dengan terbentuknya gumpalan bewarna putih pada urin. Pada hasil pengamatan menunjukkan bahwa hanya pada urin uji terbentuk gumpalan bewarna putih. Walaupun tidak terlihat jelas akan tetapi menunjukkan perbedaan warna dan tekstur dengan urin lainnya. Gumpalan tidak terlihat jelas disebabkan oleh urin uji / urin wanita hamil yang diambil telah memasuki kehamilan bulan ke 5. Dimana pada bulan tersebut hormon hCG yang disekresikan oleh placenta telah berkurang. Hormon hCG diproduksi banyak pada trimester pertama. Akan tetapi hCG tidak specific untuk menentukan kehamilan karena beberapa sekresi hCG disebabkan oleh adanya tumor . Kita tidak melakukan uji control + dikarenakan zat nya tidak tersedia di laboratorium. Kita juga melakukan uji kehamilan menggunakan test pack. Test pack sangat tergantung pada kerja sama antara antibody dan antigen. Antibodi zat kimia yang dihasilkan oleh limfosit dan struktur lain di dalam tubuh. Sedangkan antigen, zat asing yang masuk dan merangsang reaksi kimia tubuh. Jika antigen masuk ke dalam jaringan tubuh , antibody bereaksi sehingga antigen tidak berbahaya lagi. Tiap antibodi hanya bereaksi terhadap antigen tertentu. Antibodi-antibodi yang terdapat pada media tes, yang mempunyai dua strip (garis) indicator. Hormon hCG yang terdapat pada urine wanita hamil, berperan sebagai antigen. Antibodi yang digunakan pada media tes ini ada tiga tipe antibody. Sebagian terdapat enzim yang dapat menampilkan warna saat menangkap antibodi lainnya. Antibodi tipe 1 bertugas "menangkap" antigen, antibodi tipe 2 berjaga-jaga di salah satu strip untuk "menambatkan" antibodi tipe 1 (berikut antigen yang ditangkapnya) di strip A. Sedangkan antibodi tipe 3 menangkap antibodi tipe 1 yang tak "mendapat pasangan", lalu menambatkannya di strip B. Jika hanya strip B yang berwarna berarti tidak terdapat hormon hCG (tidak hamil ). Karena antibodi yang tertambat dan memberi warna strip itu bukan pembawa hCG melainkan antibody 3 yang menangkap antibody 1. Sebaliknya, kalau kedua strip menampilkan warna maka menunjukkan adanya hCG yang tertawan di strip A (hamil ). Alat uji kehamilan test pack mendeteksi hormon hCG dalam urin yang diproduksi selama masa kehamilan dengan kepekaan hingga 25 mIU/ml urin. Cara penggunaannya dengan urin pertama pagi hari di tampung pada wadah yang bersih dan kering. Buka kemasan alumunium foil, keluarkan strip. Celupkan strip kedalam sampel urin sampai batas maksimum selama 1/2 menit. Dan lihat hasilnya dua strip menunjukkan hamil dan satu strip menunjukkan tidak hamil.

BAB V PENUTUP 1. Kesimpulan Dari pemeriksaan kehamilan reaksi Galli Mainini, di dapatkan kesimpulan bahwa, urin wanita hamil bereaksi positif, ditandai dengan adanya sel sperma pada urin katak yang di periksa. Hormon hCG digunakan sebagai uji kehamilan Hormon hCG dihasilkan oleh plesenta untuk mempertahankan korpus luteum pada tri mester pertama Prinsip yang digunakan pada praktikum ini adalah immunokimia (reaksi antibody dan antigen) Hanya pada urin wanita hamil yang positif terkandung hormon hCG

2. Saran

Sebaiknya menggunakan urin orang hamil yang masih berusia 5 bulan karena pada usia tersebut, hormone HCG kadarnya sangat tinggi. Sebaiknya pada saat melakukan praktikum di gunakan sarung tangan karena urin katak mengandung toksin yang menyebabkan dermatitis pada kulit. Pada pengujian dengan tes immunologi biasakan menggunakan control.