Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS KASUS Sehubungan dengan CONCURSUS

Oleh: Fajar Cahyanto (0906558155) FHUI Gadis ABG Ditengah Sawah Diperkosa Bergilir Semalaman Maret 6, 2008 SENGKANG Si Gadis bernasib sial. Gadis berusia 16 tahun ini digilir enam pemuda. Ia diperkosa secara bergiliran di sebuah gubuk, tengah hamparan sawah. Anak salah seorang warga di Kecamatan Maniangpajo, Wajo, itu diperkosa di Desa Macanang, Kecamatan Majauleng, Wajo, pada 3 Januari, namun baru terungkap setelah pihak Polsek Majauleng, menyerahkan kasus tersebut ke Polres Wajo, Senin, 22 Januari lalu.Si Gadis yang diperkosa tersebut, tidak dapat berbuat banyak karena dilakukan pada malam sekitar pukul 20.00 Wita. Berteriak pun hanya sia-sia karena TKP-nya di tengah hamparan sawah. Keenam tersangka yang melakukan pemerkosaan tersebut yakni: Jy, Th, Am, Ms, An, dan Ac. Dari enam tersangka yang menggilir Si Gadis itu, baru satu yang berhasil diamankan pihak kepolisian, sementara lima lainnya masih buron. Tersangka saat ini sudah mendekam di sel tahanan Polres Wajo. Mereka terus menjalani pemeriksaan, Selasa, 23 Januari kemarin. Menurut keterangan pihak kepolisian, sebelum kejadian, korban dijemput oleh salah seorang tersangka, Th, sekitar pukul 18.00 Wita. Korban dibawa ke Desa Macanang dengan alasan sebuah kegiatan. Namun sesampainya di desa itu, korban malah diajak ke tengah sawah di sebuah gubuk. Sesampainya di gubuk itu, korban diraba-raba oleh pelaku dan kemudian dengan dipengangi oleh teman-temannya, Th membuka pakaian korban hingga telanjang, korban kemudian diperkosa. Bahkan, pada saat diperkosa oleh Th yang ambil bagian pertama kali, karena dialah yang membawa gadis kesana, tangan korban dipegang pelaku lainnya. Usai melampiaskan nafsunya, teman-temannya yang lain kemudian ikut menggilir korban. Usai diperkosa oleh keenam pelaku, Gadis diikat

dalam keadaan tanpa busana digubuk tersebut untuk kemudian digilir lagi sampai para pelaku puas menjelang subuh, Th sempat mengantar korban pulang ke rumahnya dengan menggunakan sepeda motor, yang semula digunakan juga menjemputnya. Tersangka yang saat ini mendekam di sel tahanan Polres Wajo, mengakui dirinya turut memperkosa korban di tengah sawah. Bahkan kepada polisi, Ac, 20, mengaku siap bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukannya. Sumber: http://detektifromantika.wordpress.com/category/pemerkosaan/page/13/

ANALISIS
Dalam keadaan di atas, dapat diketahui bahwa: (1) Gadis pada awalnya dibawa pergi oleh seorang pelaku bernama Th, tetapi kemudian justru dibawa ke sebuah gubuk di tengah sawah. atau Keadaan seperti ini memenuhi Pasal 328 KUHP, untuk untuk Barangsiapa membawa pergi seseorang dari tempat kediamannya tempat tinggalnya atau sementara, dengan lain, maksud atau menempatkan orang itu secara melawan hukum di bawah kekuasaannya kekuasaan orang menempatkan dia dalam keadaan sengsara, diancam karena penculikan, dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Dalam hal ini, dapat diambil pengertian bahwa keadaan diperkosa merupakan salah satu penempatan seseorang dalam keadaan sengsara. (2) Th, Jy, Am, Ms, An, dan Ac merupakan pelaku-pelaku yang memerkosa Barangsiapa memaksa Gadis. dengan seorang Dalam wanita Pasal 285 atau KUHP ancaman dengan disebutkan, kekerasan di luar dia kekerasan

bersetubuh

pernikahan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Unsur-unsur dalam pasal ini terpenuhi. Kekerasan yang memaksa dapat dilihat bahwa Gadis ternyata dalam kondisi terikat untuk kemudian digilir. Antara para pelaku dan korban tidaklah terdapat pernikahan. Dalam hal ini dapat sebenarnya dilihat sebagai concursus realis di mana sebenarnya terdapat dua delik yang masing-masing dapat berdiri sendiri yaitu: (1) penculikan Pasal 328 KUHP; dan (2) perkosaan Pasal 285 KUHP. Hal ini dapat dikatakan dapat berdiri sendiri karena jika: (1) Hanya melakukan penculikan saja, tanpa perkosaan. Maka dapat saja Th menculik Gadis misalnya untuk meminta uang tebusan kepada orangtuanya.

(2) Hanya melakukan perkosaan saja, tanpa penculikan. Maka dapat diandaikan bahwa misalnya saja Th secara tidak sengaja melihat Gadis mandi, seketika naik birahi Th dan lantas memperkosa Gadis di tempat itu juga. Sehubungan dengan contoh ini, dapat pula diambil pengertian tentang ada tidaknya perencanaan pelaku. Jika yang terjadi adalah seperti contoh ini, maka tentulah perencanaan tidak ada, melainkan atas sebuah kesempatan yang hanya seketika saja datang. Tetapi pada kasus yang terjadi terlihat adanya perencanaan dari para pelaku untuk memperkosa Gadis. Pun demikian, dalam KUHP tidak ada peraturan khusus mengenai perkosaan dengan perencanaan. Mengenai hukuman dalam kasus (concursus realis) ini maka dapat dilihat ketentuan dalam Pasal 65 ayat (1) KUHP, Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri, sehingga merupakan beberapa kejahatan, yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis, maka hanya dijatuhkan satu pidana. Selain itu haruslah pula dilihat Pasal 65 ayat (2) KUHP, Maksimum pidana yang dijatuhkan ialah jumlah maksimum pidana yang diancamkan terhadap perbuatan itu, tetapi tidak boleh lebih dari maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga. Adapun terdapat peraturan yang lain mengenai concursus realis yaitu Pasal 66 ayat (1) KUHP, tetapi karena pidana antara penculikan dan perkosaan adalah sejenis yakni penjara, maka Pasal 66 ayat (1) KUHP tidaklah relevan. Mengenai ketentuan hukuman ini, terdapat tiga pendapat penting yang perlu diketahui, yaitu: (1) REMMELINK mempertegas pernyataan Prof. SIMON berkenaan dengan ketentuan Pasal 57 Sr. (Pasal 65 KUHP) berbicara tentang absorpsi atau penyerapan yang dipertajam: dijatuhkan hanya satu sanksi pidana (jadi ada penyerapan) namun dengan pemberatan

sampai dengan sepertiganya. Dalam hal ini REMMELINK berbicara tentang kumulasi terbatas (gematigde cumulatie). (2) LAMINTANG menegaskan penjelasan Memori van Toelichting tentang pemberlakuan gematigde cummulatie van straffen, Beratnya hukuman itu pada dasarnya selalu dibuat lebih berat sesuai dengan bertambah lamanya atau bertambah beratnya hukuman itu sendiri. Dua tahun hukuman penjara merupakan hukuman yang lebih berat daripada dua kali satu tahun hukuman penjara atau kurungan. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa berlakunya kumulasi (walaupun terbatas) adala dipandang lebih sesuai karena lebih berat daripada jika dilaksanakan secara terpisah saja. (3) Mengenai Pasal 65 KUHP, R.SOESILO memberikan komentar, Ini dalah bentuk gabungan beberapa perbuatan (meerdaadsche samenloop = concursus realis). Jika seorang pada suatu hari dituntut dimuka hakim yang sama karena melakukan beberapa kejahatan, hanya dijatuhkan satu hukuman kepadanya, apabila hukuman yang diancamkan bagi kejahatan itu sejenis, misalnya kesemuanya hukuman penjara, kesemuanya hukuman kurungan, atau kesemuanya hukuman denda. Hukuman ini tidak boleh lebih dari maksimum hukuman bagi kejahatan yang terberat ditambah dengan sepertiganya. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan hukuman adalah yang terberat (baik perkosaan ataupun penculikan) adalah 12 tahun penjara. Dengan demikian, maka ancaman hukuman maksimal yang dapat dilakukan terhadap pelaku adalah 12 tahun penjara ditambah dengan sepertiganya yaitu 4 tahun penjara sehingga total ancaman hukuman maksimal terhadap pelaku adalah 16 tahun penjara.