Anda di halaman 1dari 14

Management Project

osing markosing Bapak2 yang terhormat, Mohon di share pemahaman bagaimana management sebuah project besar? baik dari sisi engineering, procurement, construction, pendanaan dan waktu mungkin dalam hal project di atas 1 juta US Dollar. Reza Ismiriadi Pak Osing Sekedar share dan bantu rembuk, tanpa bermaksud menggurui di pagi hari. mungkin pertanyaannya masih terlalu lebar. Mohon maaf Pak, pertanyaannya masih terlalu general. karena yang ditanyakan "management" untuk fase E, P dan C. Karena kalau coba ambil rujukan ke PMBoK saja ada 9 knowledge area, dengan tools dan techniques tersendiri pada masing-masing proses (initating, planning, executing, controlling dan closing). Kalau boleh saya coba modifikasi pertanyaannya: "bagaimana me-manage sebuah project besar dari fase engineering, procurement kemudian construction (EPC Project)?" kenapa pertanyaan nya jadi begitu, karena biar lebih mudah kita berpijak pada triple constraint, teori dasar project management (PM) : cost (dana), time (waktu) and scope, di tambah Quality. Jadi rekan-rekan disini bisa berbagi pengalaman dan cerita nya akan lebih rinci. Project besar? project kecil? pada dasarnya yang di manage ya hal diatas tadi di fase E atau P atau C. Yang perlu di jadikan catatan adalah bahwa project itu secara alami akan berbeda satu sama lain. Jadi mungkin pengalaman dan cerita masing-masing orang akan beda, karena project itu "unique". Semoga berkenan, saya sendiri berharap diskusi ini berlanjut lebih rinci, karena saya juga baru dalam hal ini. Gunawan Raharjo Pada prinsipnya sebenarnya sebuah perusahaan ketika akan memulai sebuah project, di awal sudah membentuk team Project Management.Di

dalam project management ini, sebuah project di "manage" dalam setiap aspek dan kegiatan. Organisasi team dibangun yang terdiri dari (minimal):1. Seorang Project Director (jika diperlukan) sebagai personal in charge yang responsible terhadap keseluruhan project dan biasanya bertanggung jawab ke direksi perusahaan.2. Seorang Project Manager (wajib ada) sebagai penanggung jawab project yang day by day berhubungan langsung dengan seluruh stake holder. Seorang Project Manager membawahi seluruh struktur organisasi (team) project management ini.3. Cost controler (atau bisa juga cost engineer), yang bertugas memonitor project cost. Biasanya cost control tidak menyusun budget karena budget sudah ditentukan di awal sebelum project dimulai. Budget sudah disiapkan oleh owner (perusahaan), dan tugas cost controler adalah memonitor penggunaannya.4. Scheduller, bertugas mengatur dan memonitor jalannya perkembangan project day by day yang disesuaikan dengan master plan (master schedule) yang seharusnya sudah disusun di awal. Tugas ini cukup berat karena hampir sebagian besar project di Indonesia selalu terjadi perubahan dari milestone (master schedule), disinilah peran scheduller untuk selalu update perubahan, termasuk perubahan kurva s-nya.5. Project control, secara umum mengontrol jalannya project. Biasanya project control lebih kepada tugas-tugas member team project management. Seorang project control wajib menguasai salah satu project software (primavera, ms project, artemis, clarity, dll).6. Dokumen control, bertugas mencatat dan mendokumentasikan semua kegiatan project.Selanjutnya untuk sebuah Project Management Services (Project Management Total), diperlukan lagi:1. Team Engineering (civil, electrical, mechanical, instrument, dan spesific engineer jika dibutuhkan, misal engineer turbin, welding, piping, dll). Tugas team engineering adalah sebagai pendamping engineering dari kontraktor jika terjadi perubahan design, revew design, saran-saran atas pekerjaan engineering project. Tapi team engineer ini tidak memiliki authority terhadap pengawasan pekerjaan engineer atau pekerjaan konstruksi project. (nantinya tugas ini ada di team supervision construction management).2. Team procurement (logistic, shop inspector, dll), bertugas mengawasi procurement dan logistic project. Biasanya team procurement bersama kontraktor terlibat dalam inspection untuk mengontrol pengadaan. Inspector dalam Project Management Team tidak memiliki authority untuk menerima atau menolak spec sebuah barang (yg tdk sesuai dengan design), melainkan hanya mengawasi dan membuat laporan ketsesuaian atau ketidaksesuaian. Tugas menerima atau menolak ada di bagian (biasanya pihak ke-3) seperti surveyor dan QA. Untuk test inspection bisa menggunakan jasa surveyor bersertifikasi.3. Team Construction Management (didalamnya terdapat team supervisor - civil, mecanical, electrical, instrument, dan spesific engineer). Team ini bertugas mengawasi jalannya konstruksi. Apakah sesuai dengan master design

dan master plan. Dan mengawasi kegiatan para engineer contractor.4. Pihak ke-3, seperti surveyor dan inspector.Selain itu, Project Management Team akan semakin bagus jika dalam struktur organisasi juga dicantumkan Risk Management dan HSE Management. Mereka langsung berada di bawah Project Management.Risk Management dan HSE Management bertugas di awal membuat risk register dan HSE procedure untuk mengantisipasi kemungkinan2 resiko yang terjadi. Selanjutnya saat berlangsungnya project, Team ini bertugas memonitor pelaksanaan dan membuat report jika terjadi risk.Sekedar catatan:Biasanya pihak kontraktor sudah memiliki team project management sendiri, sehingga seringkali owner (pemilik project) cukup meminta laporan dan memantau team project management kontraktor ini.Ada kalanya pula si owner (perusahaan) juga membentuk team project management sendiri untuk mengawasi jalannya project.Kedua hal di atas sudah umum dilakukan, namun hal ini memiliki kekurangan dan kelebihan.Kelebihannya adalah : menghemat biaya.Kekurangannya adalah : independensi pengawasan jalannya project. Biasanya ada konflik interest, baik disisi kontraktor maupun owner.Untuk itu sebaiknya diperlukan pihak luar yang independent, yaitu perusahaan project management services.Intinya adalah, dengan mempercayakan pengawasan project kepada project management services company, si owner bisa tidur pulas dan si kontraktor bekerja sesuai schedule karena di awasi oleh pihak luar yang tidak memiliki keterikatan apapun.Demikian penjelasan singkat, mohon maaf jika kurang memuaskan. Jika anda berminat ingin tahu lebih banyak atau bermaksud menggunakan jasa project management services baik keseluruhan atau sebagain (personal), silakan menghubungi saya lewat japri.Salam,Gunawan R Sukra Arnaldi Ahda Bagaimana dengan Contract Administrator / Engineer? Apakah hanya optional saja di PMT dan cukup ada di company management saja? Faber Nababan Klu boleh menambahi sedikit: salah satu area dalam 9 knowledge of areas in project managment yang terkait dengan besar/kecilnya organisasi project adalah : Project Scope Management. Pemahaman dan Identifkasi WBS (work breakdowns Structure), sangat menentukan posisi posisi yang dibutuhkan dalam sebuah project. Terimakasih

imam_maretdhioko Pak Sukra, Contract Administrator/Engineer dalam PMT mempunyai tanggung jawab dalam hal: 1. Pre Contract Memanage contract pada saat contract belum award ke EPC/Contractor dimulai dari request tender, bid opening, technical & commercial bid evaluation sampai contract award. 2. Post Contract Memanage contract pada saat contract sedang berjalan sampai closing contract/project. Tugasnya berkaitan dengan perubahan contract/ change management seperti adanya Change Order/Variation Order dan Claim. Sukra Arnaldi Ahda Terima kasih Pak Imam,

Dalam penjelasan Pak Gunawan Raharjo, disebutkan posisi yg mesti ada di PMT. Beliau tidak menyebutkan Contract Engineer / Administrator dalam PMT, saya jadi bertanya2 apakah posisi Contract E/A cukup di Company management/organization saja? Apakah tidak perlu terjun langsung menjadi bagian PMT? Sepertinya untuk urusan Change/Variation Order (yang notabene sering terjadi) sangat diperlukan seorang yg expert di bidang contract & negotiation. Mohon pencerahannya. Yuyus Uskara Kalo refer ke Pak Gunawan Raharjo kan emang posisi yang "minimal" ada, jadi posisi apapun selama itu dibutuhkan, ya kenapa ngga? Nicolaus Baskoro Benar sekali masukan dari Pak Imam.

Kalau Contract Engineer, bertanggung jawab atas pembuatan kontrak dari mulai draft sampai jadi tender dok, award kemudian me-manage dan meng update kontrak (CO's/VO's) hingga closing (closed out Contract). Nah biasanya Contract Admin. tidak membuat dari awal (makanya disebut Admin) biasanya kontraknya sudah award, tugasnya adalah memanage dan meng update kontrak yg sudah award tadi hingga closing (closed out Contract). Taufiq.Firnandi Dear Bapak2, Penjelasannya cukup comprehensive. Tapi coba Bapak2 lihat lagi pertanyaan awalnya dari Pak Osing: "Mohon di share pemahaman bagaimana management sebuah project besar? baik dari sisi engineering, procurement, construction, pendanaan dan waktu mungkin dalam hal project di atas 1 juta US Dollar." Cuman mau menambahkan buat Pak Osing, kalau memang ini menyangkut project2 di Oil&Gas, rasanya kalau menggunakan patokan "di atas 1 juta" itu kecil sekali, teramat kecil malah. Kalau anda mengatakan "sebuah project besar" normally kita bicara nilai project yang di atas 100 juta US Dollar, nah itu baru project besar. Kalau yang anda alami itu memang project2 yg nilainya "di atas 1 juta US Dolar" (artinya tidak jauh2 amat dari nilai itu), Project Management effort yg dibutuhkan masing2 bidangnya minim sekali dan tidak perlu terlalu lengkap spt penjelasan dibawah, nantinya malah gak efisien, alias kebesaran Project Management Costnya nanti, karena pastinya projectnya very very simple. Faber Nababan Menurut saya, penentuan personil dan posisi yang dibutuhkan dalam project tidak ditentukan oleh nilai project tetapi scope project.....Mohon koreksi klu salah???

Oky Ade Wisuda Pak Faber, Bukannya dengan semakin besar scope yang mencerminkan nilai project tersebut besar pula. ditangani maka

Untuk Manage project baik skup besar/kecil (relatif memang) harus dimulai dengan langkah yang tepat, tiap phase yang dilalui harus di manage dengan benar (initiating, planning, executing, monitoring & controlling sampai closing). cholid mahmud Menurut saya yang pertama di laksanakan adalah develop project charter & definisikan preliminary project scope Baru setelah itu kita buat project execution plan, disini sudah berbicara lebih detail) yang terdiri dari Develop scope project (Statement of scope, project deliverables, product, justification & objective), kemudian develop project schedule plan lengkap dengan milestone yang harus dilalui, dimulai dari create WBS, activity list, network planning, activity duration & estimasi resources yang akan digunakan. Dengan dua hal di atas baru kita bisa estimasi cost yang dibutuhkan untuk execute project. Disamping itu kita juga develop quality planning. Setelah itu baru kita bisa develop human resources planning Mulai dari Role, responsibility & authority nya, staffing plan sampai org chart nya. Setelah ketahuan human resources plan nya kita buat communication plan dengan client (project owner). Untuk mengantisipasi risiko kita juga harus buat risk management planning, mulai dari identifikasi, qualitative & quantitative risk analysis sampai risk response planning. Dari activity WBS yang kita develop dengan durasi, cost, quality dan risiko yang kemungkinan terjadi kita juga harus membuat rencana procurement & subcontracting untuk material/equipment & jasa. Yang tidak kalah penting (bahkan utama) kita juga harus develop Project HSE Plan mengacu kepada pekerjaan yang akan dilaksanakan & area kerja. Project Execution Plan yang telah di approve Client kita jadikan acuan dalam mengendalikan (monitoring & controlling) project. Di level management cukup dengan melihat executive summary & performance

index dari project tersebut : menggunakan metode earned value analysis. Project Management team harus mampu menganalisa performance project dan merencanakan action plan nya. Seni Project Management saya kira ada pada fase monitoring & controlling ini, karena tiap project pasti unik, punya problem & karakter berbeda-beda yang menarik untuk dipecahkan. Setelah mencapai fase completion jangan lupa untuk closing project sehingga tuntas semua pekerjaan. Mohon dikoreksi juga kalau ada yang kurang pas.. osing markosing Bapak2 yang terhormat, Terima kasih atas urun rembuk dan informasinya, mohon maaf yang sebesar2nya, dalam bidang oil n gas saya masih baru, masih memerlukan pengalaman dari bapak2 mengenai pemahaman memanage sebuah project. Saya sependapat dengan bapak reza dari JGC mengenai pertanyaannya "bagaimana me-manage sebuah project besar dari fase engineering, procurement kemudian construction (EPC Project)?" Dalam hal ini project tersebut pada sisi engineering dan construction berjalan bersama dan juga untuk procurement ada sebagian material yang sudah di beli duluan sehingga fase engineering mengikuti material yang sudah di beli.

Management Project (9 Knowledge Area)


Re : Management Project Adia Rachman Pak Osing,

Sy coba bantu untuk menjelaskan secara general 9 knowledge area yang disebutkan oleh pak reza dalam email sebelumnya : Fungsi pokok (core function) terdiri dari : - Manajemen Lingkup Proyek, menjelaskan proses-proses yang dibutuhkan, agar dapat dipastikan bahwa proyek telah mencakup seluruh pekerjaan yang benar-benar dibutuhkan, agar proyek berhasil diselesaikan. Terdiri dari persiapan, perencanaan lingkup, penetapan lingkup, verifikasi dan pengendalian perubahan lingkup. - Manajemen Waktu Proyek, menjelaskan proses-proses yang dibutuhkan agar dapat dipastikan proyek selesai tepat waktu. Terdiri dari penetapan aktifitas, pengurutan aktifitas, perkiraan lama aktifitas, serta penyusunan dan pengendalian jadwal. - Manajemen Biaya Proyek, menjelaskan proses-proses yang dibutuhkan agar dapat dipastikan proyek selesai, sesuai dengan anggaran yang disetujui. Terdiri dari perencanaan sumber daya, perkiraan biaya, anggaran biaya dan pengendalian biaya. Fungsi penunjang terdiri dari : - Manajemen Sumber Daya Manusia Proyek, menjelaskan proses-proses yang dibutuhkan untuk menggunakan sumber daya manusia yang terlibat dalam proyek, secara paling efektif. Terdiri dari perencanaan organisasi, perekrutan staff dan pembangunan tim kerja. - Manajemen Komunikasi Proyek, menjelaskan proses-proses yang dibutuhkan untuk dapat dipastikan agar informasi proyek dapat dikumpulkan, disusun, disebar, dan disimpan. Terdiri dari perencanaan komunikasi, distribusi informasi, pelaporan kinerja, dan penyelesaian administratif. - Manajemen Resiko Proyek, menjelaskan proses-proses yang berhubungan dengan pengidentifikasian resiko, kuantifikasi resiko, penyusunan penanggulangan resiko dan pengendalian penanggulangan resiko. - Manajemen Pengadaan Proyek, menjelaskan proses-proses yang dibutuhkan untuk menghasilkan barang atau jasa dari pihak lain. Terdiri dari perencanaan pengadaan, perencanaan tata cara undangan ke peserta, rapat undangan peserta, pemilihan peserta, pemilihan mitra, pelaporan serta administrasi kontrak kerja dan penyelesaian kontrak.

Dan untuk menggabungkan seluruhnya harus dipelajari manajemen integrasi proyek. - Manajemen Integrasi Proyek, menjelaskan berbagai proses yang dibutuhkan, agar dapat dipastikan, berbagai elemen dari proyek dikoordinasikan dengan baik. Manajemen integrasi terdiri dari pembuatan rencana proyek, pelaksanaan rencana proyek dan pengendalian perubahaan secara keseluruhan. mungkin rekan2 yang lain bisa menambahkan, banyak member Milis Migas yang juga sudah menjadi certified PMP (Project Management Professional) yang tentunya pengalaman dan pemahamannya bisa membantu bapak di milis ini. Soleh Sudarmaji Selamat Siang, saya coba melontarkan satu pertanyaan yang lama mengganjal dalam benak saya, mengenai praktik salah salah satu cakupan Project Management yaitu tentang project cost management. Sewaktu saya mengelola project ada kendala yang sangat signifikan dalam mengkompare antara pelaporan cost site dengan F-WBS yang ada di HO, karena di site pengeluaran cenderung apa adanya dan selalu cenderung melenceng dari ketentuan cost code yang ada apalagi F-WBS yang sudah disepakati cenderung tidak mengakomodir pengeluaran site. Jadilah kita ujungnya sulit untuk mengetahui secara jela performance project tersebut ? pertanyaan saya bagaimana mengatasi ini adakah satu sistem diperusahaan lain mungkin yang berpengalaman yang bisa efective mengatur semua ini ? Sehingga kita dengan mudah mengetahu cost varian, schedule varian (SPI, CPI) based on BCWS, BCWP,ACWP atau tools lainnya. Thanks, atas pencerahaannya. Adia Rachman Sepertinya blm ada yg respon ya pak, padahal sy pgn tau jg mengenai tools2 yg bapak sebutkan dibawah, cost on project mungkin bersifat variabel, karena cost itu sendiri tidak bisa kita tentukan besarannya karena banyak terpengaruh oleh faktor eksternal..

sama kasusnya ketika kita melakukan planning n scheduling untuk kegiatan yang bersifat probabilistik... yang bisa dilakukan yaitu dengan melakukan pendekatan dari latest project data, tools2 yang bapak sebutkan sebenarnya cukup mengakomodasi berbagai kesulitan yg dihadapi pada framework project cost management, klo saya, biasanya pada saat menyusun BCWS (budgeted Cost of Work Scheduled) melakukan pendekatan cost dr range Min, Max hingga Modus-nya sehingga diharapkan cost estimated tidak terlampau jauh dari nilai cost actual,.. diharapkan, cost actual masuk pada range yg saya sebutkan diatas pada saat menerima report BCWP (budgeted Cost of Work Performed) dan ACWP (Actual Cost of Work Performed) silakan disharing pengetahuannya pak, biar qta sama2 belajar disini.. Rusydi My 2 cent from contractor point of view.... Pada saat suatu proyek sudah di Acc oleh Sponsor untuk dieksekusi, appointed PM segera mengajukan Budget yang dituangkan ke dalam Cost Breakdown Structure (CBS). Dalam tiap2 CBS element dibuatlah Cost Code dengan allocated budget. Management tentunya telah menetukan Profirt Margin, sehingga budget yang diajukan PM tidak boleh melebihi Contract Value dikurangi Profit margin. Apabila sudah di approve oleh Management maka ini CBS ini dijadikan Baseline. Nah cost code inilah yang digunakan untuk tracking semua actual cost yang timbul dalam pelaksanaan proyek. Bila dalam pelaksanaannya ada activity yang belum tercover atau belum ada cost codenya (seperti kasusnya pak Osing), maka yang perlu dilakukan adalah: 1). Bila activity tersebut ternyata overlooked waktu menyiapkan budget (bagian dari SOW), maka PM perlu mengajukan amendment Cost Code. 2). Bila activity tersebut di luar SOW (Perkerjaan tambahan), maka diperlakukan sebagai VO dengan Cost Code tersendiri. Pada intinya, tidak boleh ada cost yang tidak tercover dalam cost code yang ada (Base Scope maupun VO).

Soleh Sudarmaji Dear All, Setahu saya memang seperti itu secara teoritis, jangan lupa menambahkan step "project charter" setelah presentasi dengan BOD ( di PMBOK Third edition sudah disebutkan itu). Kemudian dilanjutkan langkah untuk penyusunan budget yang disebutkan oleh Bapak Rusydi dibawah, dengan tools yang sama kita prepare juga penyebaran cost seuai Task WBS kita apakah kita memakai metode dispersi matrix atau common methode, sesuai kebiasan kita saja, setelah itu tentunya SCurve untuk monitor physical progress dan cost progress tidak lupa tabel Earned Value Monitor dan terakhir pada penyiapan grafik dari earned value yang ada sehingga performance project kita terlihat jelas, cost varian atau schedule varian nampak jelas terbaca, tools yang digunakan banyak yang pakai methode classic yaitu dengan format Microsoft excel atau mungkin perusahaan yang lebih canggih sudah pakai Primavera 6 (saya sendiri hanya pengamat dr software2 ini, jadi bukan bermaksud promosi hanya mana ang user friendly saja toh ujung-ujungnya juga alat bantu pekerjaan kita - saya lihat diprimavera earned value monitor ini sudah dipersiapkan sebagus mungkin sehingga kita bisa gunakan, setahu saya hanya salah satu yang bisa kita gunakan based on cost atau MH). Ini kalau lancar bila stake holder yang terlibat dalam project itu memahami aturan masing-masing ada FCN-pun tidak masalah, sayangnya hal ini dalam praktek terkadang tidak berjalan mulus kendala-kendala seperti : 1. Intern company sendiri tidak punya aturan baku tentang WBS. 2. Adanya pemahaman yang berbeda antar stake holder apakah itu dari intern company maupun dari ekstern tentang WBS yang ada. 3. Comunication channel yang masih simpang siur. 4. Format pelaporan progress yang berbeda antara kebutuhan head office dengan pelaporan dari site project. 5. etc. Mungkin hal ini tidak dijumpai di-company yang sudah mapan atau pernah mengerjakan 100 project lebih, tapi pada dasarnya problem ini sering dijumpai sehingga mempengaruhi performance project yang sedang dieksekusi. Project cost management cuman salah satu dari 9 area knowledge lainnya, tapi uniknya sering dalam area ini consent stake holder palig banyak sebagai hal yang paling menyentuh aspek commercial (tanpa mengurangi rasa hormat terhadap praktisi teknis lainnya), sebagai indicator apakah jalan dan jalan terus atau menyiapkan langkah-langkah pengamanan lainnya. (UUD-ujung ujungnya duit) Saya juga setuju dengan pendapat PMBOK tidak mengenal project kecil maupun besar

karena logika-nya tentu kalau dibedakan akan menjadi PMBOK kecil dan PMBOK besar. Demikian yag saya tahu.....yang jelas planning yang benar adalah 80% kesuksesan anda. Ayo donk yang punya PMP angkat suara...... Thanks. Arif Trihariyadi Dear Bapak-Bapak, Sekedar informasi bahwa PMI sudah mengeluarkan PMBOK 4th Edition. Ada yang sudah memiliki dan mempelajarinya belum, ya? Mungkin tolong bisa di-share dimana saja revisi/perubahannya, sejauh apa perbedaannya dengan 3th edition. Terima kasih banyak sebelumnya, Adia Rachman Sip dech, makin rame nich buat nambah2 ilmu.. makasih pak soleh buat alternatif penjelasannya,... Pak arif, PMBOK 4th edition bakal di-implementasikan pada PMP Exam mulai 30 Juni 2009, so bila anda berniat mengikuti PMP Exam dgn PMBOK 3rd Edition, siap2 dari sekarang utk ikutan test sblm 30 Juni 2009. sy jg lg dalam persiapan, hehe mengenai revisi2 yg ada pada 4th Edition PMBOK, sy ada source-nya, tp mesti nyari dulu nich, ato browse aja ke pmi.org, mungkin disana ada announcement ama penjelasan resminya, Soleh Sudarmaji Dear All, Mohon satu bantuan pencerahan lagi nich........

Saya dapat model performance trend memakai base line detailed MH consumtion, biasanya sich kami cost dalam artian murni rupiah atau dollar . Apakah ada yang pernah memakainya ini ? bagaimana cara penyesuannya dengan yang memakai base line cost murni ? Thanks Bantuannya. (Kalau ada PMP gratis boleh-lah saya ikut nimbrung ...he...he...he).

Tonny Soeharsono Pak Soleh.. Saya pernah punya mengalaman men-generate S-curve sebagai baseline dan actual dengan memakai manhour base untuk proyek Arun Booster dan North Sumatra Offshore di Aceh beberapa tahun yang lalu dengan mengunakan Primavera secara penuh termasuk trending methodnya. Yang kami lakukan adalah : 1. Membuat estimasi manhour yang dibutuhkan dari setiap pekerjaan. Untuk ini peranan dan pengalaman kawan-kawan dilapangan sangat dibutuhkan sebagai Productivy base. 2. Setelah semuanya dibuat dan digabungkan perdisciplinenya dan dimintakan approval dari client. Waktu itu client saya adalah Mobil Oil. 3. Setelah total manhour perdiscipline setujui baru disandingkan dengan total costnya . 4. Monitor nya dilakukan dengan actual manhour yang di spend vs dgn manhour yang di plan. 5. Ini hanya berlaku untuk fase : Engineering, Procurement services dan tentunya construction. Sedang utk Procurement atau pembelian barang di tread terpisah. Semoga berguna. Soleh Sudarmaji Thanks Pak penjelasannya, Problemnya saya pikir juga begitu dimasalah pembelian barang karena tentu ini tidak sama dengan product diciplin lain yang bisa disejarkan antara cost dan MH Spend (atau ditukar-tukarkan antara keduanya dengan equivalensi), kita tidak bisa mengukur tentunya berapa material plate atau berapa jumlah equipment yang sudah terbeli dengan MH

Spend yang dikeluarkan oleh Procurement dept. untuk yang lain (Eng dan Const. Dept) kita ada rate productivity-nya detail. Atau ada tambahan penjelasana tambahan dari teman-teman lainnya ?