Anda di halaman 1dari 16

Kitab asli diterbitkan oleh: Ri`asah Idarah Al-Buhuts Al-Ilmiah wa Al-Ifta`, Riyadh KSA Cetakan: IV tahun 1423 H/2003

M Bismillahirrahmanirrahim BIOGRAFI RINGKAS PENULIS Risalah yang berada di depan kita ini berisi penjelasan sebab-sebab dari kebahagian yang hakiki yang senantiasa didambakan oleh setiap orang dan diusahakan oleh setiap orang yang cenderung berkemanusiaan. Dalam penulisan risalah ini, penulis bersandarkan atas dalil-dalil yang kuat dari Al-Qur`an Al-Azhim dan tuntunan nabawi yang bijaksana. Yang mana hal ini (bersandar pada kedua wahyu) sebenarnya juga merupakan kebahagiaan yang diimpikan oleh setiap orang yang beriman dan yang berusaha dihidupkan oleh masyarakat yang beriman. Karena hanya itulah satu-satunya jalan yang bisa mengatur jalannya masyarakat dalam kehidupan ini di atas ketakwaan dan keridhaan Allah. Penulis risalah ini adalah seorang ulama terkemuka, Asy-Syaikh Al-Alim Al-Allamah Abdurrahman bin Nashir bin Abdullah Alu As-Sadi. Dilahirkan di kota Unaizah, Qasim, yang berada di wilayah Najd, Kerajaan Saudi Arabia. Kedua orang tua beliau meninggal dunia saat beliau masih kecil, hanya saja beliau memiliki kecerdasan dan kecerdikan yang luar biasa ditambah keinginannya yang sangat besar untuk menuntut ilmu. Beliau mulai menghafal Al-Quran di usia dini beliau berhasil menyelesaikannya dan menghafalnya dengan sempurna pada usia 12 tahun. Kemudian setelah itu beliau mulai menuntut berbagai ilmu agama dan beliau berguru langsung kepada sejumlah ulama di negeri beliau dan selain mereka dari ulama yang datang ke negeri beliau. Beliau betul-betul mengerahkan seluruh potensi beliau dalam menuntut ilmu tersebut hingga pada akhirnya beliau mendapatkan bagian yang terbanyak dan perolehan yang terbesar dalam hal ilmu dan pengetahuan agama. Pada usia 23 tahun, beliau mulai menggabungkan antara menuntut ilmu dan mengajar, mengambil manfaat dan memberikan manfaat. Begitulah seterusnya beliau habiskan waktu dan seluruh kehidupannya. Dan sudah banyak sekali orang yang telah menimba ilmu dan mengambil manfaat dari beliau. Di antara guru-gurunya adalah: 1. Asy-Syaikh Ibrahim bin Hamd bin Jasir, kepadanyalah beliau pertama kali membaca kitab. 2. Asy-Syaikh Saleh bin Utsman, hakim agung di Unaizah. Darinya beliau mempelajari ilmu: Ushulul fiqh, fiqh, tauhid, tafsir, dan bahasa Arab. Beliau mulazamah kepada gurunya ini sampai gurunya wafat. Asy-Syaikh (As-Sadi) adalah seorang ulama yang sangat menguasai fiqh dan ushulnya, memiliki pengetahuan yang sempurna tentang tauhid. Hal itu dikarenakan beliau berkonsentrasi pada kitab-kitab mutabarah (terpercaya) dan memberikan perhatian khusus pada karangan-karangan Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayim. Beliau juga memberikan perhatian yang tinggi terhadap ilmu tafsir dan cabang-cabang ilmunya. Beliau membaca mengaji kitab-kitab tafsir hingga beliau mapan dan menguasainya, dan jadilah beliau mempunyai pengetahuan yang banyak dalam ilmu tafsir ini. Di antara karangan-karangan beliau dalam ilmu tafsir adalah: 1. Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan (Kemudahan dari Yang Maha Pengasih dalam Tafsir Kalam Yang Maha Pemberi), terdiri dari delapan juz. 2. Taisir Al-Lathiif Al-Mannan fi Khulasah Tafsir Al-Quran (Kemudahan dari Yang Maha Halus lagi Maha Pemberi dalam ringkasan tafsir Al-Qur`an).

3. Al-Qowaidul Hisan li Tafsir Al-Quran (Kaidah-kaidah yang bagus dalam tafsir Al-Qur`an). Karangan-karangan beliau lainnya yang dianjurkan untuk dibaca dan dipetik pelajaran darinya -selain dari kitab-kitab yang telah disebutkan- adalah: 4. Al-Irsyad ilaa Marifat Al-Ahkam (Petunjuk untuk memahami hukum-hukum). 5. Ar-Riyadh an-Nadhirah (Taman-taman yang bercahaya) 6. Bahjah Qulub Al-Abrar (Kegembiraan hati orang-orang yang bertaqwa) 7. Manhajus Salikin wa Taudhih Al-Fiqh fi Ad-Diin (Pedoman orang yang beribadah dan pejelasan fiqh dalam agama) 8. Hukmu Syurb Ad-Dukhan wa Baiuhu wa Syirouhu (Hukum menghisap rokok, menjual, dan membelinya). 9. Al-Fatawa As-Sadiyah (Fatwa-fatwa Asy-Syaikh As-Sadi). 10. Beliau juga memiliki tiga kumpulan khutbah-khutbah yang bermanfaat. 11. Al-Haqq Al-Wadhih Al-Mubin bi Syarhi Tauhid Al-Anbiya` wa Al-Mursalin (Kebenaran yang jelas dan nyata mengenai penjelasan tauhid para nabi dan rasul). 12. Taudhih Al-Kafiyah As-Syafiah (Penjelas yang cukup dan memuaskan) (syarah Nuniah Ibnu Al-Qayyim). Dan masih banyak lagi karangan beliau yang lain dalam bidang fiqh, tauhid, hadits, ushul, kajian-kajian sosial, dan fatwa-fatwa tentang berbagai hal. Wafatnya beliau: Beliau tiba-tiba mengalami sakit keras yang mengisyaratkan akan dekatnya kematian beliau. Maka pada malam kamis tanggal 23 Jumadil Tsaniah tahun 1376 H, beliau dijemput oleh ajal di kota Unaizah. Beliau meninggalkan pengaruh besar dan kesedihan yang mendalam di dalam jiwa orang-orang yang mengenal beliau atau yang mendengar tentang beliau atau yang membaca karangan beliau. Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas dan menjadikan ilmu dan karangan-karangannya bermanfaat bagi kita. Amiin.

PENDAHULUAN PENULIS Segala pujian hanya milik Allah, yang hanya milik-Nya pujian seluruhnya. Aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang haq untuk disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhamamad adalah hamba dan Rasul-Nya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam-Nya kepada beliau, kepada keluarga beliau, dan para sahabat beliau. Amma badu: Sesungguhnya Ketentraman dan kebahagiaan hati serta hilangnya keresahan dan kesedihan darinya adalah tujuan setiap orang. Dengan itulah kehidupan yang bahagia akan terwujud dan kesenangan serta kegembiraan yang sebenarnya akan sempurna. Untuk menggapai semua hal ini diperlukan untuk menempuh tiga jenis sebab (sarana): Sebab diniah (yang bersifat religi), sebab thabiiah (yang bersifat alami), dan sebab amaliah (yang bersifat amalan). Dan ketiga sebab ini tidak mungkin dimiliki kecuali oleh kaum muskminin. Adapun selain mereka maka kalaupun mereka bisa mendapatkan satu sisi kebahagian dan sebab yang diusahakan secara maksimal oleh orang-orang bijak di antara mereka, maka tetap saja akan ada sisi-sisi lain yang tidak akan bisa mereka dapatkan, yang mana sisi-sisi ini jauh lebih bermanfaat, lebih mantap, dan lebih bagus keadaannya, baik yang dirasakan secara langsung di dunia ataupun kelak di hari kemudian. Melalui buku kecil yang aku tulis ini, aku akan mencoba untuk memaparkan -sebatas apa yang saya bisa ingat- beberapa sebab untuk meraih tujuan luhur ini, yang mana setiap orang berupaya untuk meraihnya. Di antara manusia ada yang mendapatkan banyak dari sebab-sebab itu, sehingga diapun bisa menjalani kehidupan dengan bahagia lagi menyenangkan. Sebagian di antara mereka ada yang sama sekali gagal dalam meraih sebab apapun, yang karenanya dia menjalani kehidupan yang sengsara lagi melelahkan. Dan sebagian lainnya berada di pertengahan, yaitu mereka yang hanya meraih sebatas apa yang telah ditetapkan untuk mereka. Hanya Allah pemberi taufiq dan pertolongan dalam meraih segala kebaikan dan dalam menolak semua keburukan.

FASAL 1. Sebab yang paling agung yang merupakan pokok dan dasar dari semua sebab tergapainya kehidupan bahagia adalah: Beriman dan beramal shalih. Allah Taala berfirman, "Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia beriman, maka sesungguhnya akan Kami karuniakan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka lakukan." (QS. AnNahl: 97) Maka dalam ayat ini Allah Taala memberitahukan dan menjanjikan kehidupan yang baik di dunia dan pahala yang baik di dunia dan akhirat, kepada siapa saja yang memadukan antara iman dan amal shalih. Sebabnya jelas. Karena orang-orang yang beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar lagi membuahkan amalan shalih yang bisa memperbaiki hati, akhlak, urusan duniawi dan ukhrawinya, mereka ini memiliki prinsip-prinsip mendasar dalam menghadapi semua sebab yang datang kepadanya, baik sebab-sebab kesenangan dan kegembiraan maupun sebab-sebab datangnya keguncangan, kegundahan, dan kesedihan. Mereka menghadapi semua hal yang menyenangkan dan menggembirakan dengan cara menerima, mensyukurinya, dan mempergunakannya pada sesuatu yang bermanfaat. Jika mereka memanfaatkan semua sebab kebahagiaan seperti ini, niscaya hal itu akan menambah kegembiraan mereka, mereka akan senantiasa berharap agar nikmat tersebut tetap terus ada dan berberkah, dan senantiasa mengharapkan pahala yang diperoleh oleh para hamba Allah yang bersyukur. Semua prinsip dasar di atas merupakan nilai-nilai agung, yang mana semua kebaikan dan keberkahannya akan mengungguli semua kegembiraan yang merupakan buah dari semua prinsip dasar ini. Mereka menghadapi semua kejelekan, mudharat, kegundahan, dan kesedihan dengan menghilangkan apa yang dia bisa hilangkan, memperingan apa yang bisa diringankan, dan bersabar dalam menghadapi apa yang tidak mungkin bagi dia untuk menghindar darinya. Dengan demikian, di balik kejelekan-kejelekan yang menimpa mereka itu, lahirlah nilai-nilai agung berupa hal-hal bermanfaat yang bisa menghilangkan kejelekan tersebut, juga lahir pengalaman dan kekuatan dalam menghadapi musibah, serta kesabaran dan ketulusan untuk hanya berharap pahala kepada Allah Taala. Dengan lahirnya semua nilai-nilai agung ini di dalam hati, maka semua kejelekan yang dibenci akan sirna dan akan digantikan oleh kesenangan, cita-cita yang mulia, dan keinginan untuk bisa mendapatkan karunia dan pahala dari Allah. Sebagaimana yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam- ungkapkan dalam sebuah hadits yang shahih dimana beliau bersabda, Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah kebaikan baginya. Jika dia mendapat hal yang menyenangkan maka dia bersyukur, dan kesyukuran itu adalah kebaikan bagi dirinya. Jika dia tertimpa hal yang menyakitkan maka dia bersabar, dan kesabaran itu juga merupakan kebaikan baginya. Dan sifat seperti ini tidaklah dimiliki oleh siapapun kecuali oleh seorang mukmin. (HR. Muslim) Maka dalam hadits ini beliau -shallallahu alaihi wa sallam- menerangkan bahwa keberuntungan, kebaikan, dan buah amalan seorang mukmin akan berlipat ganda, apapun perkara yang menimpa dirinya, baik berupa kesenangan ataupun hal yang dibenci. Oleh sebab itu, bisa jadi kamu menjumpai dua orang yang sama-sama mengalami ujian berupa kebaikan atau kejelekan, akan tetapi terdapat perbedaan sikap yang sangat jauh di antara mereka berdua dalam menghadapi ujian tersebut. Yang mana perbedaan tersebut disesuaikan dengan perbedaan kadar iman dan amal shalih yang ada pada diri masing-masing.

Orang yang beriman dan melakukan amal shalih akan menghadapi kebaikan dengan rasa syukur dan semua amalan yang menjadi konsokuensi dari rasa syukur itu, dan dia akan menghadapi kejelekan dengan bersabar dan semua amalan yang menjadi konsekuensi kesabaran itu. Dengan demikian hal itu akan membuahkan kesenangan dan kegembiraan di dalam hatinya serta hilangnya semua kegundahan, kesedihan, kegelisahan, kesempitan dada, dan kesengsaraan hidup. Yang pada akhirnya dia akan mendapatkan kehidupan bahagia yang sempurna di dunia ini. Sedangkan yang lainnya (yang tidak bersyukur dan bersabar, pent.), dia akan menghadapi kebaikan yang datang kepadanya dengan kecongkakan, kesombongan, dan sikap melampui batas, sehingga moralnya akan melenceng dari kebenaran. Dia menghadapi kesenangan hidup sebagaimana layaknya binatang yang menyambut kesenangan dengan serakah dan rakus. Seiring itu, hatinya tidak mendapatkan ketenteraman, bahkan hatinya bercerai berai oleh berbagai hal: Oleh kekhawatirannya akan sirnanya segala kesenangan yang dia dapatkan, oleh banyaknya penghalang yang menghalanginya dari mendapatkan kesenangannya, oleh faktor jiwanya tidak pernah merasa cukup. Bahkan jiwanya akan terus-menerus menuntut keinginan-keinginan yang lain, yang bisa jadi keinginan itu terwujud dan bisa jadi juga tidak terwujud. Anggaplah keinginannya itu bisa terwujud maka dia tetap akan gelisah oleh hal-hal yang disebutkan tadi. Di sisi lain dia menghadapi hal-hal yang dia tidak senangi dengan perasaan gelisah, keluh kesah, khawatir, dan gusar. Maka tidak usah kamu bertanya bagaimana besarnya dampak buruk dari itu semua, yaitu: Kesengsaraan hidup di dunia, penyakit-penyakit pada pikiran, kegelisahan, serta rasa kekhawatiran bercampur ketakutan yang pada gilirannya akan menyeretnya ke dalam kondisi yang paling buruk dan malapetaka yang paling mengerikan. Semua itu karena dia tidak pernah mengharapkan pahala dan dia tidak memiliki kesabaran yang mampu menghibur hatinya dan meringankan beban yang dirasakannya. Semua perkara di atas telah terjadi dan disaksikan melalui pengalaman. Contoh salah satu dari perkara di atas, jika kamu mengamatinya dan mencocokkannya dengan keadaan orang-orang pada umumnya, niscaya kamu akan melihat perbedaan yang sangat mencolok antara orang mukmin yang mengamalkan semua konsokuensi keimanannya dengan yang tidak demikian sifatnya. Hal itu karena agama yang dimiliki seseorang bisa memotifasi dirinya untuk bersifat qanaah (merasa cukup) dengan rezeki dari Allah dan dengan semua keutamaan dan kemurahan-Nya yang beraneka ragam yang Dia berikan kepada para hamba-Nya. Jika seorang mukmin diuji dengan penyakit atau kemiskinan atau yang semacamnya dari keadaan yang bisa saja dialami oleh setiap orang, maka dengan keimanannya, sifat qanaahnya, serta keridhaannya terhadap apa yang Allah berikan kepadanya, kamu akan menjumpainya sebagai orang yang menyenangkan. Hatinya tidak menuntut sesuatu yang tidak ditakdirkan untuknya, dia memandang kepada orang yang lebih rendah (keadaan dunianya) dibandingkan dirinya dan tidak memandang kepada orang yang lebih kehidupan dunianya dibandingkan dirinya. Bahkan bisa jadi kegembiraan, kesenangan, dan ketentraman batin yang dia dapatkan, melebihi perasaan orang yang meraih semua keinginan duniawinya tapi dia tidak dikaruniai sifat qanaah. Demikian pula sebaliknya, kamu akan menjumpai orang yang tidak mempunyai amalan yang sesuai dengan keimanannya. Jika dia diuji dengan sedikit kemiskinan atau hilangnya sedikit dari kebaikan duniawinya, maka kamu akan menjumpainya dalam keadaan kehancuran dan kesengsaraan yang sudah mencapai pada puncaknya. Contoh yang lain: Jika seseorang mengalami hal-hal yang menakutkan dan dia tertimpa bencana yang hebat, maka kamu orang yang benar imannya akan kamu dapati tetap berhati teguh, berjiwa tenteram, lagi tegar menangani dan mengarahkan apa yang menimpanya itu dengan menggunakan pikiran, ucapan, dan tindakan yang sanggup dia lakukan. Yang

dengan demikian maka jiwanya akan menjadi terbiasa untuk menghadapi bencana dan kesusahan seperti itu. Sikap-sikap semacam inilah yang bisa membantu menentramkan dan mengokohkan hati seseorang. Sebaliknya kamu akan mendapati orang yang tidak memiliki iman akan bersikap sebaliknya ketika dia mengalami peristiwa-peristiwa yang menakutkan. Hatinya akan goncang dalam menghadapinya, batinnya gelisah, dan pikirannya tercerai-berai, dan jiwanya akan dirasuki kekhawatiran dan ketakutan. Rasa ketakutan dari luar dan gejolak batinnya yang luar bisa kacaunya akan tertumpuk menjadi satu di dalam hatinya. Manusia semacam ini, jika mereka tidak mempunyai sebagian sebab alami yang mana sebab alami ini membutuhkan banyak latihan-, maka ketahanan dirinya akan melemah dan kegelisahan akan senantiasa menyelimuti hatinya. Itu semua karena dia tidak mempunyai keimanan yang bisa membantunya untuk bersabar, terutama dalam situasi sulit dan kondisi yang menyedihkan lagi mengguncang. Maka orang yang baik dan orang yang jahat, demikian pula orang yang mukmin dan orang yang kafir, semuanya mempunyai persamaan dalam hal kemampuan untuk memunculkan sifat keberanian dan naluri (insting) yang bisa menurunkan dan memperingan ketakutan yang dia rasakan. Akan tetapi orang yang beriman mempunyai kelebihan (dibandingkan orang kafir) dengan kekuatan imannya, kesabarannya, tawakkal dan penyandaran hatinya kepada Allah, serta harapannya pada pahala-Nya. Dengan semua itu keberaniannya akan bertambah dan ketakutan yang dia rasakan akan berkurang, dan musibah yang menimpa dirinya akan terasa ringan. Sebagaimana pada firman Allah Taala, Jika kalian menderita kesakitan, sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula) sebagaimana apa yang kalian derita. Sedangkan kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. (QS. An-Nisa`: 104) Mereka (orang-orang yang beriman) juga akan mendapatkan maunah (pertolongan), maiyyah (rasa Kebersamaan) yang bersifat khusus dan madad (bantuan) dari Allah yang bisa menghilangkan semua ketakutan yang dia rasakan. Allah Taala berfirman, Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang bersabar. (QS. Al-Anfal: 46) 2. Di antara sebab yang bisa menghilangkan kegundahan, kesedihan, dan kegelisahan adalah: Berbuat baik kepada orang lain dengan ucapan, perbuatan, dan segala bentuk kebajikan. Semua itu adalah kebaikan dan kebajikan. Dengan semua kebaikan inilah Allah menghilangkan segala kegundahan dan kesedihan dari orang yang baik dan dari orang yang jahat, hanya saja penghilangan itu disesuaikan dengan kebaikan yang ada pada orang tersebut. Karenanya, penghilangan kesedihan yang diperoleh seorang mukmin itu lebih sempurna, karena dia unggul (daripada selainnya) dari sisi kebaikannya itu lahir dari keikhlasan dan mengharapkan pahala Allah. Dengan sebab itulah Allah memudahkan baginya untuk berbuat baik pada sesuatu yang dia harapkan sebagai kebaikan. Dan dengan keikhlasan dan harapannya kepada pahala-Nya, Allah menghilangkan darinya segala sesuatu yang tidak dia senangi. Allah Taala berfirman, Tidak ada kebaikan pada kebanyakan pembicaraan-pembicaraan mereka, kecuali pembicaraan orang yang menyuruh (manusia) bersedekah, atau melakukan kebajikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami mengaruniakan kepadanya pahala yang besar. (QS. An-Nisa`: 114] Allah Taala menerangkan bahwa semua perkara di atas adalah kebaikan yang lahir dari pelakunya. Dia juga menerangkan bahwa kebaikan itu akan menghasilkan kebaikan selanjutnya dan akan menghilangkan kejelekan. Dan bahwasanya orang mukmin yang hanya berharap pahala Allah, maka Allah akan memberikannya pahala yang besar, dan di antara bentuk pahala yang besar itu adalah hilangnya kegundahan, kesedihan, keruwetan hati, dan semacamnya.

FASAL

3. Di antara sebab untuk menghilangkan kesedihan yang ditimbulkan oleh kegelisahan

4.

dan kekalutan hati oleh beberapa hal yang mengeruhkan pikiran adalah: Menyibukkan diri dengan melakukan suatu amalan atau dengan mengkaji suatu ilmu dari ilmu-ilmu yang bermanfaat. Karena hal ini bisa membuat hati melupakan kesedihan yang ditimbulkan oleh kegelisahan tersebut. Mungkin saja dengan hal tersebut dia bisa melupakan semua perkara yang menyebabkan dia gundah dan sedih. Dengan demikian jiwanya akan menjadi senang dan semangatnya akan bertambah. Sebab ini juga bisa diamalkan oleh setiap mukmin dan selainnya (kafir), hanya saja seorang yang mukmin lebih unggul dengan keimanannya, keikhlasannya, dan harapannya akan pahala, dalam kesibukannya mempelajari atau mengajarkan ilmu yang bermanfaat tersebut atau dalam kesibukannya mengamalkan amalan kebaikan tersebut. Jika dia meniatkan amalan itu sebagai ibadah maka itu akan bernilai ibadah walaupun amalan itu merupakan urusan duniawi atau aktivitas keseharian yang bersifat duniawi, tapi tentu saja selama dia mendasari aktivitas duniawi itu dengan niat yang benar dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai penolong baginya dalam melakukan ketaatan kepada Allah. Hal ini memiliki pengaruh yang sangat efektif dalam menghilangkan kegundahan, kesedihan dan kesusahan. Sudah banyak orang yang mengalami keguncangan dan kekalutan batin sehingga dia terkena berbagai jenis penyakit, tetapi ternyata obatnya yang paling manjur adalah melupakan perkara yang menyebabkan jiwanya kalut dan guncang serta menyibukkan diri dengan amalan yang dia anggap penting untuk dikerjakan. Seyogyanya amalan yang dia jadikan sebagai kesibukan adalah hal-hal yang disenangi dan digandrungi oleh jiwa. Karena hal itu akan lebih cepat mewujudkan tujuan yang bermanfaat itu. Wallahu Alam. Di antara sebab yang bisa menghilangkan kesedihan dan keguncangan hati adalah: Memusatkan pikiran sepenuhnya untuk memberikan perhatian kepada amalan hari ini (yang sedang dihadapinya), dan tidak memikirkan amalan yang akan dia kerjakan di masa yang akan datang, serta melupakan kesedihan yang terjadi di masa lampau. Karenanya Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- senantiasa berlindung kepada Allah Taala dari al-hamm (kegundahan) dan al-hazn (kesedihan)1. Al-hazn adalah kesedihan terhadap perkara-perkara yang telah lampau yang tidak mungkin dikembalikan dan tidak mungkin diperbaiki. Sedangkan al-hamm adalah kesedihan yang disebabkan oleh kekhawatiran terhadap sesuatu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Karenanya, hendaknya seorang hamba itu menjadi anak dari hari ini (yang tengah dia jalani, pent.), dia mengerahkan semua kesungguhan dan usahanya guna memperbaiki amalannya pada hari dan waktu yang dia tengah berada padanya. Jika dia mengkonsentrasikan hatinya pada hal tersebut maka itu akan melahirkan amalan yang sempurna dan kegembiraan bagi hamba tersebut dari kegundahan dan kesedihannya. Setiap kali Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- memanjatkan doa apapun atau mengajari umatnya untuk berdoa, maka pasti beliau selalu menganjurkan -seiring memohon pertolongan dan karunia Allah- agar mereka senantiasa serius dan sungguh-sungguh dalam mewujudkan sesuatu yang dia berdoa kepada Allah agar sesuatu itu terwujud dan dalam menghindari apa yang dia berdoa kepada Allah agar dijauhkan darinya, karena doa itu senantiasa bergandengan dengan perbuatan. Karenanya, setiap hamba hendaknya bersungguh-sungguh dalam meraih apa yang bermanfaat baginya dalam kehidupan agama dan duniawinya, serta tetap senantiasa meminta dan memohon pertolongan kepada Rabbnya agar tujuannya itu bisa terwujud. Sebagaimana yang disabdakan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam-, Bersemangatlah untuk mencapai apa

Sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah serta janganlah kamu lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu maka janganlah kamu berkata, Seandainya aku berbuat demikian niscaya akan terjadi demikian dan demikian. Akan tetapi katakanlah, Allah telah menakdirkan ini dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki. Karena kata seandainya membuka pintu perbuatan setan. (HR. Muslim) Dalam hadits ini, beliau -shallallahu alaihi wa sallam- memadukan antara perintah untuk berusaha keras dalam mencapai hal-hal yang bermanfaat dalam berbagai kondisi, memohon pertolongan kepada Allah, dan tidak tunduk pada sikap lemah yang dia merupakan kemalasan yang membahayakan, beliau memadukan semua itu dengan sikap pasrah dan menerima semua kejadian yang telah lampau serta menerima ketentuan dan taqdir dari Allah Taala. Beliau -shallallahu alaihi wa sallam- membagi setiap perkara menjadi dua bagian: Bagian pertama: Perkara (jika dia kebaikan) yang bisa diusahakan terwujudnya oleh seorang hamba atau terwujudnya sebagian yang mungkin darinya, atau perkara (jika dia berupa kejelekan) yang bisa dihilangkan atau diperingan bebannya. Di sini hendaknya seorang hamba berusaha semaksimal mungkin dengan kedua tangannya seraya meminta pertolongan kepada sesembahannya. Bagian kedua: Perkara yang tidak mungkin bagi dia untuk melakukannya atau mendapatkannya. Di sini seorang hamba hanya harus tenang, ridha, dan pasrah kepada ketentuan Allah. Dan tidak diragukan bahwa menjaga prinsip ini merupakan sebab lahirnya kegembiraan di dalam hati serta sebab hilangnya kegelisahan dan kegundahan.

FASAL

5. Di antara sebab terbesar dalam mendapatkan kelapangan dan ketenangan hati adalah

6.

7.

memperbanyak zikir kepada Allah, karena zikir ini mempunyai pengaruh yang mengagumkan dalam melahirkan kelapangan dan ketentraman dada serta dalam menghilangkan kegelisahan dan kegundahan. Allah Taala berfirman, Ketahuilah, hanya dengan berdzikir kepada Allah, hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Rad: 28) Maka zikir kepada Allah betul-betul mempunyai pengaruh yang besar dalam mewujudkan maksud ini, hal ini karena keistimewaan zikir itu sendiri dan karena harampan hamba akan pahala dan balasannya. Begitu juga (di antara sebab kelapangan hati adalah) dengan menyebut-nyebut semua nikmat Allah yang zhahir maupun yang bathin. Karena mengetahui dan menyebutnyebut semua nikmat Allah adalah di antara sebab Allah akan menghilangkan kegelisahan dan kegundahan. Allah menganjurkan kepada setiap hamba-Nya untuk bersyukur -yang mana syukur ini adalah tingkatan yang tertingggi dan terluhur-, sampai walaupun hamba itu dalam keadaan miskin atau terkena penyakit, atau cobaan dan musibah lainnya. Karena jika seandainya dia mau membandingkan jumlah antara semua nikmat Allah kepadanya -yang tentu saja jumlahnya tidak terhitung dan tidak berbilang- dengan semua kejelekan yang menimpanya, niscaya dia akan mendapati kalau kejelekan yang menimpanya itu tidak ada apa-apanya dibandingkan semua nikmat yang telah dia peroleh. Bahkan kejelekan dan musibah itu sendiri, jika Allah menguji hamba-Nya dengannya lalu sang hamba menunaikan kewajiban dalam hal ini berupa bersabar, ridha, dan pasrah terhadapnya, niscaya kesusahan musibah itu akan menjadi mudah dia hadapi dan beban cobaan itu akan menjadi ringan baginya. Maka perenungan hamba terhadap balasan dan pahala dari musibah itu serta ibadahnya kepada Allah dengan melaksanakan kewajibannya untuk bersabar dan ridha terhadapnya, semua itu akan dapat mengubah semua hal yang pahit menjadi manis, sehingga manisnya pahala di balik musibah itu akan membuatnya melupakan pahitnya kesabaran dalam menghadapinya. Di antara sebab yang paling bermanfaat dalam hal ini adalah: Menerapkan bimbingan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- yang terdalam dalam hadits yang shahih tatkala beliau bersabda, Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian (dalam hal dunia, pent.) dan janganlah kalian melihat kepada orang yang lebih baik dari kalian. Karena itu lebih pantas bagi kalian, agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang Dia berikan kepada kalian. (HR. Muslim) Jika seorang hamba memusatkan perhatiannya pada ajaran yang agung ini, maka dia akan melihat dirinya mengungguli banyak orang dalam hal afiah (kesejahteraan) dan rezki serta kelaziman dari keduanya, dalam kondisi apapun yang dia alami. Dengan itu, semua kebimbangannya, kegundahannya, dan kesedihannya akan sirna, serta semua kegembiraan dan keinginannya terhadap nikmat-nikmat Allah akan bertambah, yang dalam hal ini dia akan mengungguli selainnya dari kalangan orang-orang yang berada di bawahnya. Semakin lama seorang hamba merenungi semua nikmat Allah yang zhahir maupun yang batin, baik itu dalam perkara agama maupun duniawinya, niscaya dia akan melihat Rabbnya telah mengaruniakan kepadanya kebaikan yang sangat banyak dan telah menghilangkan darinya berbagai macam bentuk kejelekan. Dan tidak diragukan bahwa perenungan seperti ini bisa menghilangkan kegundahan dan kesedihan serta melahirkan kegembiraan dan kebahagiaan.

FASAL

8. Di antara sebab lahirnya kegembiraan serta sirnanya kesedihan dan kegelisahan

9.

adalah: Berupaya keras untuk menyingkirkan semua penyebab munculnya kesedihan itu serta berupaya keras untuk mewujudkan semua sebab yang bisa mendatangkan kegembiraan. Hal itu dengan cara melupakan semua perkara buruk yang telah menimpanya di masa lampau, serta dengan menyadari bahwa menyibukkan pikirannya untuk memikirkan semua hal itu adalah suatu tindakan sia-sia dan tidak dibenarkan oleh akal yang sehat, dan bahwa hal semacam adalah kebodohan dan kegilaan. Karenanya dia harus menekankan hatinya agar jangan sampai dia memikirkan semua hal yang telah berlalu itu, demikian juga dia menekankan hatinya agar tidak selalu gelisah dalam menghadapi masa yang akan datang, dengan memikirkan kemungkinan apa yang dia kira akan menimpa dirinya, berupa kemiskinan atau kekhawatiran atau selainnya dari hal-hal buruk yang dia khayalkan akan terjadi pada masa depannya. Maka hendaknya dia mengetahui bahwa semua perkara di masa yang akan datang, baik itu kebaikan maupun keburukan, baik harapan maupun derita, semuanya adalah perkara yang belum diketahui, dan hendaknya dia meyakini bahwasanya semua itu berada di tangan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan hamba tidak mempunyai urusan apa-apa selain berusaha untuk mewujudkan semua kemungkinan yang baik dan menghindari semua kemungkinan yang buruk di masa mendatang itu. Dan hendaknya sang hamba mengetahui bahwa jika dia mengalihkan pikirannya dari menggelisahkan sesuatu yang akan terjadi di masa depannya lalu dia bersandar kepada Allah dalam memperbaikinya dan percaya penuh kepada-Nya saat melakukan itu semua, niscaya hatinya akan menjadi tenteram, semua keadaannya akan membaik, dan akan sirna semua kegundahan dan kegelisahannya. Di antara sebab yang paling bermanfaat dalam menghadapi semua perkara yang akan terjadi di masa yang akan datang adalah mengamalkan doa yang sering diucapkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam berdoa, Ya Allah, perbaikilah kehidupan agamaku, yang mana dia adalah benteng bagi segala urusanku. Perbaikailah urusan duniaku yang padanya ada kehidupanku. Perbaikilah akhiratku, yang kepadanya tempatku kembali. Jadikanlah hidupku ini sebagai sarana bagiku untuk menambah kebaikan, dan jadikanlah kematianku sebagai peristirahatanku dari semua kejelekan. (HR. Muslim) Juga doa beliau, Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang kuharap, karenanya janganlah Engkau menyerahkan aku pada diriku sendiri walaupun sekejap mata. Perbaikilah keadaanku seluruhnya, tiada sembahan yang haq disembah kecuali Engkau. (HR. Abu Dawud dengan sanad Shahih) Jika seorang hamba sering mengucapkan doa ini -yang mana doa ini mengandung kebaikan masa depan agama dan dunianya- dengan hati yang khusyu, niat yang benar, dan disertai dengan upaya keras untuk merealisasikan hal tersebut, niscaya Allah akan mengabulkan doanya mewujudkan harapannya dan tujuan usahanya, dan kesedihannya pun akan berubah menjadi kegembiraan dan kebahagiaan.

FASAL

10. Di antara sebab yang paling bermanfaat dalam menghilangkan keguncangan dan

kegundahan manakala seorang hamba tertimpa berbagai bencana adalah: Hendaknya dia berusaha untuk meringankan pikirannya dalam menanggung bencana tersebut, yaitu dengan cara membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi dari musibah tersebut, lalu dia membiasakan dan menyiapkan jiwanya untuk menghadapinya. Jika dia telah melakukan itu, maka hendaknya dia berupaya semaksimal mungkin untuk memperingan apa-apa yang mungkin diringankan. Dengan persiapan hati dan upaya yang bermanfaat semacam ini maka semua kegelisahan dan kegundahannya akan sirna, bahkan semua hal itu akan berganti menjadi: Usaha untuk meraih berbagai hal yang bermanfaat dan menolak berbagai madharat yang menimpa hamba. Jika dia ditimpa oleh sebab-sebab ketakutan, sebab-sebab penyakit, sebab-sebab kemiskinan dan ketidakpunyaan pada apa-apa yang dia senangi, maka hendaklah dia menghadapinya dengan tenang dan mempersiapkan hatinya untuk menghadapinya, bahkan untuk menanggung kemungkinan yang terburuk darinya. Karena mempersiapkan hati untuk menghadapi kemungkinan yang terburuk bisa membantu untuk meringankan dan menghilangkan beratnya tekanan musibah tersebut, apalagi jika dia menyibukkan dirinya untuk menolak musibah itu sesuai kemampuannya. Karena dengan demikian akan terkumpullah pada dirinya kesiapan batin dan usaha yang bermanfaat, yang mana kedua hal ini bisa menyibukkan dia dari memikirkan musibah-musibah yang menimpanya. Hendaknya dia menekan dirinya agar selalu memperbaharui kekuatannya untuk melawan berbagai bencana, tapi tetap disertai dengan tawakkal dan percaya penuh kepada Allah Taala. Tidak diragukan bahwa manfaat terbesar dari semua usaha di atas adalah terwujudnya kegembiraan dan kelapangan dada, serta harapannya akan pahala, baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini telah disaksikan dengan mata kepala dan terbukti dalam kenyataan. Bukti-bukti keberhasilannya bagi mereka yang telah mencobanya sudah banyak sekali.

FASAL

11. Di antara pengobatan yang paling hebat dalam mengobati semua penyakit hati yang

12.

menggelisahkan, bahkan juga untuk penyakit tubuh adalah: Ketahanan hati serta tidak mudah terguncang dan larut oleh bayangan-bayangan dan khayalan-khayalan buruk yang ditimbulkan oleh pikiran-pikiran yang jelek. Karena kapan seorang manusia takluk pada khayalan-khayalannya dan hatinya mudah terpengaruh oleh emosional seperti: rasa takut terhadap penyakit atau semacamnya, mudah marah, ataupun terganggunya pikiran oleh hal-hal yang menyedihkan, dan membayangkan akan terjadinya suatu bencana atau akan hilangnya segala yang disenanginya, kapan manusia takluk pada semua perkara di atas maka hal itu akan menjatuhkan dirinya ke dalam kegundahan, kesedihan, penyakit hati dan badan, serta kegelisahan hati yang mempunyai berbagai efek negatif, yang orang-orang telah menyaksikan sendiri banyaknya bahaya yang ditimbulkan olehnya. Kapan hati seseorang bersandar dan bertawakkal kepada Allah, tidak takluk kepada bayangan-bayangan buruk dan tidak pula dikuasai oleh khayalan-khayalan jelek, serta dia percaya penuh kepada Allah dan senantiasa mengharapkan karunia-Nya, maka dengan semua perasaan ini, semua kegelisahan dan kegundahan akan tertolak darinya, dan sejumlah penyakit badan maupun hati akan sirna darinya, serta akan tercipta di dalam hatinya kekuatan, kelapangan, dan kegembiraan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Betapa banyak rumah sakit yang dipenuhi oleh pasien akibat bayangan-bayangan dan khayalan-khayalan yang rusak. Dan betapa besarnya pengaruh dari perkara-perkara ini kepada hati banyak dari orang-orang yang kuat, apatahlagi dari kalangan orang-orang yang lemah. Betapa banyak hal ini mengakibatkan kepandiran dan kegilaan! Orang yang selamat darinya adalah orang yang diselamatkan oleh Allah dan dikarunia taufiq oleh-Nya untuk dapat menekan jiwanya guna meraih sebab-sebab bermanfaat yang bisa menguatkan hatinya dan mengusir kebimbangannya. Allah Taala berfirman, Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya, (QS. Ath-Thalaq: 3) yakni: Mencukupi semua yang dia inginkan, baik dalam urusan agamanya maupun urusan dunianya. Maka orang yang bertawakkal kepada Allah adalah orang yang kuat hatinya sehingga dia tidak akan terpengaruh oleh bayangan-bayangan buruk dan tidak pula akan terguncang oleh peristiwa-peristiwa yang pahit. Karena dia mengetahui bahwa yang demikian itu adalah tanda kelemahan jiwa serta tanda kekalahan dan ketakutan yang tidak berdasar. Di samping itu dia juga mengetahui bahwa Allah telah menjamin orang yang bertawakal kepada-Nya dengan kecukupan dengan sempurna. Karenanya dia percaya penuh kepada Allah dan yakin terhadap janji-Nya. Dengan semua itu, sirnalah semua kegelisahan dan keguncangannya, semua kesulitan yang dihadapinya berubah menjadi kemudahan, tarh2 yang dia rasakan berubah menjadi kegembiraan, dan rasa takutnya berubah menjadi rasa aman. Kita memohon kepada Allah kesejahteraan, dan agar Dia menganugerahi kita kekuatan dan keteguhan hati, dengan cara bertawakkal sepenuhnya kepadaNya, yang mana Dia telah menjamin bagi orang-orang yang bertawakkal bahwa mereka akan mendapatkan semua kebaikan dan Dia akan menjauhkan dari mereka semua hak yang tidak dia senangi dan dhair3.

2 3

At-tarh maknanya kesedihan Adh-dhair maknanya mudharat

FASAL

13. Pada sabda Nabi -shallallahu alaihi wa sallam-, "Janganlah seorang Mukmin membenci

wanita Mukminah, jika dia membenci salah satu perangainya, niscaya dia akan ridha dengan perangainya yang lain." (HR. Muslim) ada dua manfaat yang berharga: Pertama: Tuntunan dalam bergaul dengan isteri, kerabat dekat, teman, pegawai, dan semua orang yang kamu mempunyai keterkaitan dan hubungan dengannya. Yaitu hendaknya kamu menyiapkan dirimu terhadap kepastian akan adanya aib atau kekurangan atau hal lain yang tidak kamu sukai dari diri mereka. Jika kamu mendapati hal tersebut maka segeralah bandingkan antara aib tersebut dengan apa yang wajib atau sepantasnya kamu lakukan -karena kuatnya pertalian dan kesinambungan cinta di antara anda dengan dia-, yaitu senantiasa mengingat sisi-sisi kebaikan dan tujuantujuan yang bersifat khusus dan umum dari adanya keterkaitan di antara kalian berdua. Dengan menundukkan pandangan dari keburukan pasanganmu dan sebaliknya kamu memandang sisi-sisi kebaikannya, niscaya persahabatan dan hubungan di antara kalian akan langgeng, serta ketenteraman batin yang sempurna akan kamu dapatkan. Pelajaran kedua: Yaitu sirnanya kegelisahan dan keguncangan, langgengnya ketulusan cinta dan senantiasa menunaikan semua hak yang wajib maupun yang sunnah dalam hubungan tersebut, serta terwujudnya ketentraman batin di antara kedua belah pihak. Barangsiapa yang tidak mengikuti tuntunan yang Nabi -shallallahu alaihi wa sallamsebutkan ini, bahkan dia melakukan sebaliknya, yaitu dengan memperhatikan semua sisi keburukan dan buta dari melihat semua sisi kebaikan pasangannya, maka hatinya pasti akan mengalami goncangan, cinta yang terjalin antara dia dia dengan orang yang mempunyai hubungan dengannya akan ternodai, dan akan terputuslah sejumlah hak dan kewajiban yang sepantasnya dijaga oleh mereka berdua. Banyak orang yang mempunyai semangat yang tinggi bisa menyiapkan dirinya dengan kesabaran tatkala dia mengalami bencana atau gangguan. Akan tetapi tatkala dia menghadapi perkara-perkara yang remeh dan sederhana, justru mereka mengalami goncangan dan kesucian hatinya ternodai. Hal ini terjadi karena mereka hanya mempersiapkan jiwa-jiwa mereka dalam menghadapi perkara-perkara yang besar, akan tetapi mereka tidak mempersiapkannya ketika menghadapi perkara-perkara kecil, sehingga perkara-perkara kecil itu mendatangkan mudharat bagi mereka dan mempengaruhi ketentraman hati mereka. Karenanya orang yang berkepribadian kokoh hendaknya senantiasa mempersiapkan hatinya untuk menghadapi semua perkara yang kecil maupun yang besar. Dia memohon pertolongan kepada Allah untuk menghadapinya dan memohon agar Allah tidak menyerahkan dia kepada dirinya sendiri walaupun sekejap mata. Jika dia melakukan hal itu maka perkara kecil akan menjadi mudah baginya sebagaimana mudahnya dia menghadapi perkara yang besar. Jiwanya akan tetap tenteran dan hatinya akan tetap tenang.

FASAL

14. Orang yang berakal mengetahui bahwa hidupnya yang benar adalah kehidupan yang

15.

16.

17.

18.

bahagia dan tentram, dan dia juga mengetahui bahwasanya kehidupannya itu pendek sekali. Karenanya tidaklah patut bagi dia untuk lebih memendekkannya lagi dengan kegundahan dan menuruti pikirannya yang keruh, karena hal itu bertentangan dengan hidup yang benar. Maka hendaknya dia kikir untuk menggunakan hidupnya terbuang begitu saja, dirampas oleh kegundahan dan kekeruhan pikiran. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara orang yang baik dan orang yang jahat, hanya saja mukmin yang mempunyai sifat seperti ini mempunyai bagian yang lebih banyak dan perolehan yang lebih bermanfaat bagi kehidupan duniawi maupun ukhrawinya. Dan jika dia tertimpa sesuatu yang tidak menyenangkan atau khawatir akan tertimpa olehnya, maka juga sepantasnya bagi dia untuk membandingkan antara semua nikmat keagamaan dan duniawi yang telah dia dapatkan dengan semua cobaan yang telah menimpanya itu. Karena ketika dia membandingkannya maka akan nampak jelas baginya betapa banyaknya nikmat yang telah dirasakannya dan betapa kecilnya cobaan yang pernah menimpanya. Begitu juga sepantasnya bagi dia untuk membandingkan antara mudharat yang dia khawatirkan akan menimpa dirinya dengan banyaknya peluang kemungkinan dia selamat darinya. Maka janganlah dia membiarkan kemungkinan yang lemah tadi mengalahkan banyaknya kemungkinan yang kuat itu. Dengan melakukan ini maka semua kegundahan dan kekhawatirannya akan sirna. Dan hendaknya dia memperkirakan kemungkinan terbesar yang akan menimpanya, lalu dia menyiapkan hatinya untuk menghadapinya jika dia terjadi, serta tetap berusaha untuk mencegah apa yang belum terjadi, dan berusaha menghilangkan atau meringankan apa yang sedang terjadi. Di antara sebab yang bermanfaat adalah: Hendaknya kamu mengetahui bahwa gangguan orang-orang kepadamu -khususnya yang berupa kata-kata yang jelek-, semua itu tidaklah berbahaya bagi dirimu, bahkan justru berbahaya bagi diri mereka sendiri. Kecuali jika kamu menyibukkan dirimu untuk terus memikirkan gangguan tersebut dan kamu membiarkan hal itu menguasai perasaanmu, maka saat itulah gangguan mereka itu akan membahayakan dirimu sebagaimana membahayakan mereka. Namun jika kamu sama sekali tidak memperhatikan gangguan tersebut niscaya gangguan itu tidak akan membahayakan dirimu sedikitpun. Ketahuilah bahwa hidupmu mengikuti alur pikiranmu. Jika pikiranmu itu mengarah kepada hal-hal yang bermanfaat bagi dirimu dalam urusan agama dan duniamu, niscaya kehidupanmu akan menjadi kehidupan yang indah lagi bahagia. Namun jika tidak demikian, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Di antara sebab yang paling bermanfaat untuk mengusir kesedihan adalah: Hendaknya kamu menyiapkan hatimu untuk tidak akan meminta ucapan terima kasih kecuali dari Allah. Jika kamu berbuat baik kepada orang yang kamu wajib berbuat baik kepadanya atau kepada orang yang kamu tidak wajib berbuat baik padanya, maka ketahuilah bahwa sebenarnya itu adalah muamalah yang kamu arahkan kepada Allah. Karenanya, janganlah kamu menaruh perhatian pada ucapan terima kasih dari orang yang telah kamu bantu itu. Sebagaimana dalam firman Allah Taala tentang sikap para hamba pilihan-Nya, Sesungguhnya kami memberi makan kepada kalian hanyalah karena mengharapkan wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (QS. Al-Insan: 9) Prinsip ini lebih ditekankan lagi ketika kamu berhubungan dengan keluarga, anak-anak, dan orang-orang yang kuat hubungannya denganmu. Kapan kamu menyiapkan hatimu

untuk tidak berbuat jelek kepada mereka, maka berarti kamu telah membuat orang lain tenteram dan kamupun tenteram. Di antara sebab yang bisa mendatangkan ketentraman adalah meraih dan melakukan al-fadhail (amalan-amalan utama), sesuai dengan dorongan batin tanpa memaksakan diri yang justru akan membuatmu terganggu dan mundur ke belakang dalam keadaan rugi karena tidak mendapatkan keutamaan itu. Hal itu terjadi karena kamu melalui jalan yang berliku-liku. Dan mengamalkan sebab ini termasuk dari bentuk hikmah dalam beramal. Hendaknya kamu bisa memetik perkara-perkara yang jernih lagi manis dari perkaraperkara tidak mengenakkan yang menimpa. Dengan demikian, jernihnya kelezatan hidup ini akan bertambah dan suasana-suasana yang keruhpun akan sirna. 19. Pusatkan perhatianmu pada hal-hal yang bermanfaat, meramallah guna mewujudkannya, dan janganlah kamu menoleh kepada hal-hal yang memudharatkan dirimu. Jika kamu melakukannya maka kamu akan terlupakan semua sebab yang mendatangkan kegundahan dan kesedihan. Jadikanlah ketenangan batin dan pemusatan jiwa sebagai pembantumu dalam mengerjakan amalan-amalan yang penting. 20. Di antara sebab yang bermanfaat adalah: Menyelesaikan amalan yang sedang dikerjakan dan berkosentrasi menghadapi amalan yang akan datang. Karena jika setiap amalan itu tidak kamu selesaikan, maka akan bertumpuk di depanmu sisa-sisa pekerjaan yang telah lalu (yang belum kamu selesaikan) plus pekerjaan yang akan datang berikutnya, sehingga beban untuk menyelesaikannya pun akan menjadi berat. Akan tetapi jika kamu menyelesaikan segala sesuatu tepat pada waktunya, maka kamu bisa menghadapi semua perkara yang akan datang dengan pikiran dan amalan yang optimal. 21. Sepantasnya bagimu untuk memilih amalan yang bermanfaat, yang terpenting dahulu baru yang penting setelahnya. Juga hendaknya kamu memilah mana amalan yang kamu senangi dan berminat untuk mengerjakannya (dan mana yang tidak). Karena mengerjakan sebaliknya akan melahirkan kebosanan, menurunnya semangat, dan keruhnya pikiran. Jadikanlah pemikiran yang benar dan musyawarah sebagai penolongmu sebelum mengerjakan amalan itu, karena tidak akan menyesal orang yang meminta pendapat dari orang lain. Pelajarilah dengan cermat apa yang hendak kamu lakukan. Jika kamu telah memastikan adanya kemaslahatan dari amalan tersebut dan kamu telah membulatkan tekad untuk melakukannya, maka bertawakkallah kepada Allah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal. Segala pujian hanya milik Allah Rabbnya alam semesta, shalawat dan salam Allah semoga senantiaa tercurah kepada pimpinan kita, Muhammad, dan kepada seluruh keluarga dan sahabat beliau.

Daftar Isi Biografi ringkas penulis Pendahuluan penulis Sebab-sebab yang bermanfaat dalam meraih kehidupan bahagia: 1. Iman dan amal saleh 2. Berbuat baik kepada sesame manusia dengan ucapan, perbuatan, dan semua jenis kebajikan 3. Menyibukkan diri dengan salah satu amalan atau ilmu yang bermanfaat 4. Memperhatikan amalan hari ini dan tidak memperhatikan amalan di masa mendatang 5. Memperbanyak zikir kepada Allah Taala 6. Menyebut-nyebut nikmat Allah yang lahir dan yang batin 7. Melihat kepada orang yang lebih rendah darimu dalam masalah dunia 8. Berusaha menghilangkan semua sebab yang mendatangkan kesedihan, dengan cara melupakan kejadian buruk yang telah terjadi 9. Berdoa untuk kebaikan agama, dunia, dan akhirat 10. Berusaha meringankan kegundahan dengan memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi 11. Kekuatan hati serta tidak terganggu dan tidak larutnya dia dalam bayangan-bayangan buruk 12. Bertawakkal dan bersandar kepada Allah 13. Membalas kejelekan dengan kebaikan 14. Membandingkan hal-hal yang tidak menyenangkan dengan nikmat yang diperoleh 15. Tidak meminta ucapan terima kasih kecuali dari Allah 16. Menyelesaikan amalan hari ini dan berkonsentrasi untuk amalan yang akan datang 17. Daftar isi