Anda di halaman 1dari 11

TUGAS RESUME MATA KULIAH PEREKONOMIAN INDONESIA

SN221022

BAB 5 Pembangunan Ekonomi Daerah BAB 6 Sektor Pertanian BAB 7 Sektor Industri BAB 8 UMKM BAB 9 Neraca Pembayaran dan Tingkat Ketergantungan Terhadap Modal Asing Dari Buku Tulus Tambunan, Perekonomian Indonesia Beberapa Masalah Penting. Penerbit Ghalia : 2003.

Disusun Oleh: NUR ADHINI MUTIARA NPM 110100084 Program Studi Administrasi Bisnis Kelas B

SEKOLAH ADMINISTRASI BISNIS DAN KEUANGAN

2011

RESUME: BAB 5 PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH

Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses saat pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumber daya yang ada dan selanjutnya membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut. (Lincolin Arsyad, 1999). Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Untuk mencapai tujuan tesebut, pemerintah daerah dan masyarakat harus secara bersama-sama mengambil inisiatif pembangunan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah beserta daerah beserta partisipasi masyarakatnya dan dengan dengan menggunakan sumberdaya yang ada harus memperkirakan potensi sumberdaya yang diperlukan untuk merancang dan membangun perekonomian daerah. (Lincolin Arsyad, 1999). Pembangunan ekonomi sejak Pelita I hingga krisis 1997 memang telah memberi hasil yang positif terhadap perekonomian Indonesia, apalagi jika dilihat dari kinerja ekonomi makronya. Tingkat PN riil per kapita mencapai peningkatan yang pesat dari US$50 (1960) dan lebih dari US$1000 (1990-an). Oleh karena itulah, Indonesia sempat disebut-sebut sebagai calon negara industri baru di Asia Tenggara. Indikator untuk menganalisis derajat kesenjangan dalam pembangunan ekonomi antarprovinsi adalah: 1. Distribusi PDB Nasional Menurut Provinsi merupakan indikator utama di antara indikator lain yang umum untuk mengukur derajat penyebaran dari hasil pembangunan ekonomi di suatu negara. Jika PDRB relatif sama antar povinsi, maka PDB nasional relatif merata antar provinsi, sehingga ketimpangan pembangunan antar provinsi relatif kecil. 2. PDRB Rata-rata per Kapita antar Provinsi di atas 2 juta rupiah dianggap tinggi dan sebaliknya di bawah 2 juta dianggap rendah, sedangkan pertumbuhan PDB per kapita tinggi jika di atas 3%, dan rendah jika lebih kecil dari 3%. 3. Konsumsi rumah Tangga per Kapita antar Provinsi merupakan salah satu indikator alternatif yang dapat dijadikan ukuran untuk melihat perbedaan dalam tingkat kesejahteraan penduduk antar provinsi. Konsepnya adalah semakin tinggi pendapatan per kapita suatu daerah, maka akan semakin tinggi juga pengeluaran konsumsi per kapita di daerah tersebut. Dalam hal ini juga terdapat 2 asumsi, yaitu sifat menabung dari masyarakat tidak berubah (S terhadap PDRB tidak berubah) dan pangsa kredit di dalam Rumah Tangga yang konstan. Tinggi rendahnya pengeluaran konsumsi (C) rumah tangga tidak dapat selalu mencerminkan tinggi rendahnya pendapatan per kapita di suatu daerah, tanpa kedua asumsi tersebut. Tingkat ketimpangan dikatakan tinggi jika 40% penduduk berpendapatan rendah (berpengeluaran rendah), hanya menikmati pendapatan kurang dari 12% dari seluruh pendapatan. Jika 40% penduduk berpendapatan rendah dapat menikmati kurang dari 12% sampai dengan 17% dari seluruh pendapatan, maka hal ini berarti telah terjadi ketimpangan sedang. Dan bila 40% penduduk berpendapatan rendah menikmati lebuh dari 17% dari seluruh pendapatan penduduk, tingkat ketimpangan rendah. 4. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan ukuran agregat dari dimensi dasar pembangunan manusia denganmelihat perkembangannya. Penghitungan IPM sebagai indikator pembangunan manusia memiliki tujuan penting, yaitu: (1) Membangun indikator guna mengukur dimensi dasar pembangunan manusia dan perluasan kebebasan memilih. (2) Memanfaatkan sejumlah indikator untuk menjaga ukuran tersebut sederhana. (3) Membentuk satu indeks komposit dibanding menggunakan sejumlah indeks dasar. (4) Menciptakan suatu ukuran yang mencakup aspek sosial dan ekonomi. Indeks tersebut merupakan indeks dasar yang tersusun dari dimensi umur panjang dan

kehidupan yang sehat, dengan indikator angka harapan hidup, pengetahuan, yang diukur dengan angka melek huruf dan kombinasi dari angka partisipasi sekolah, dan standar hidup yang layak, dengan indikator PDRB per kapita (Purchasing Power Parity). 5. Tingkat Kemiskinan yang tinggi pada satu daerah mencerminkan ketidakmerataan pembangunan ekonomi regional. 6. Kontribusi Sektoral terhadap PDRB. Dalam kurun waktu 5 tahun pengamatan, dapat kita lihat dari kontribusi rata-rata per sektor, sumbangan sektor pertanian adalah sebesar 36% dari total PDRB. Kemudian di posisi kedua adalah sektor jasa-jasa dengan kontribusi sebesar 17%, dan pada posisi ketiga adalah sektor pertambangan dan penggalian sebesar 14%. Faktor Penyebab Ketimpangan A. Konsentrasi Kegiatan ekonomi B. Alokasi Investasi. Berdasarkan teori pertumbuhan ekonomi Harrod-Domar, bahwa krangnya I di suatu wilayah membuat pertumbuhan ekonomi dan tingkat pendapatan masyarakat per kapita di wilayah tersebut menjadi rendah, karena tidak adanya kegiatan ekonomi yang produktif, seperti industri manufaktur. C. Mobilitas antar Faktor Produksi yang Rendah antar Daerah D. Perbedaan SDA dan Teknologi antar Provinsi E. Perbedaan Kondisi Demografis antar Provinsi F. Kurang Lancarnya Perdagangan antar Provinsi Ketidaklancaran perdagangan ini mempengaruhi pembangunan dan pertumbuhan lewat sisi permintaan (Demand) dan sisi penawaran (Supply). Teori Pembangunan Ekonomi Daerah A. Teori Basis Ekonomi adalah teori yang berdasarkan pada ekspor barang (komoditas) dengan sasaran peningkatan laju pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan. Proses pengembangan kawasan adalah merespon permintaan luar negeri atau dalam negeri atau di luar nodalitas serta multiplier effect ( Geltner, 2005). B. Teori Lokasi adalah suatu teori yang dikembangkan untuk memperhitungkan pola lokasi kegiatan-kegiatan ekonomi termasuk di dalamnya kegiatan industri dengan cara yang konsisten. Lokasi dalam ruang dibedakan menjadi dua yaitu: (1). Lokasi absolut yaitu yang berkenaan dengan posisi menurut koordinat garis lintang dan garis bujur (letak astronomis), dan (2). Lokasi relatif.Lokasi yaitu lokasi suatu tempat yang bersangkutan terhadap kondisi wilayah-wilayah lain yang ada di sekitarnya. C. Teori Daya Tarik Industri adalah model pembangunan ekonomi yang paling banyak digunakan oleh masyarakat. Teori ekonomi yang mendasarinya adalah bahwa suatu masyarakat dapat memperbaiki posisi pasarnya terhadap industri melalui pemberian subsidi dan insentif. Faktor-faktor daya tarik industri adalah: (1). Nilai tambah tinggi per pekerja. (2). Industri-industri ikatan. (3). Daya saing di masa depan. (4). Spesialisasi industri.

RESUME: BAB 6 SEKTOR PERTANIAN

Peranan sektor pertanian menurut Kuznets adalah mengkontribusikan terhadap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi nasional dalam 4 bentuk yaitu: (1) Kontribusi Produk. Dalam sistem ekonomi terbuka, besar kontribusi produk sektor pertanian bisa melalui pasar atau melalui produksi dengan sektor non pertanian. (2) Kontribusi Pasar. Keberhasilan kontribusi pasar dari sektor pertanian ke sektor non pertanian tergantung pada pengaruh keterbukaan ekonomi dan jenis teknologi sector pertanian. (3) Kontribusi Faktor Produksi. Faktor produksi yang dapat dialihkan dari sektor pertanian ke sektor lain tanpa mengurangi volume produksi pertanian ditunjang dengan adanya tenaga kerja dan modal yang memadai. (4) Kontribusi Devisa melalui ekspor produk pertanian dan mengurangi impor (secara langsung) atau peningkatan ekspor dan pengurangan impor produk (secara tidak langsung). Kontradiksi kontribusi produk dan kontribusi devisa pada peningkatan ekspor produk pertanian menyebabkan suplai dalam negeri kurang sehingga disuplai dari produk impor. Untuk menghindari trade off dapat dilakukan dengan meningkatkan kapasitas produksi dan meningkatkan daya saing produk produk pertanian. Sektor Pertanian di Indonesia Selama periode 1995-1997 : PDB sektor pertanian (peternakan, kehutanan & perikanan) menurun & sektor lain spt menufaktur meningkat. Sebelum krisis moneter, laju pertumbuhan output sektor pertanian lebih kecil dari ouput sektor non pertanian. 1999 semua sektor turun kecuali listrik, air dan gas. Rendahnya pertumbuhan output pertanian disebabkan: (1) iklim, (2) lahan, (3) kualitas SDM rendah, dan (4) penggunaan teknologi yang rendah. Sistem perdagangan dunia pasca putaran Uruguay (WTO/GATT) ditandatangani oleh 125 negara anggota GATT telah menimbulkan sikap optimisme & pesimisme Negara berkembang. Butir penting dalam perjanjian untuk pertanian: (1) Negara dengan pasar pertanian tertutup harus mengimpor minimal 3 % dari kebutuhan konsumsi domestik dan naik secara bertahap menjadi 5% dlm jk waktu 6 tahun berikutnya, (2) Trade Distorting Support untuk petani harus dikurangi sebanyak 20% untuk Negara maju dan 13,3 % untuk Negara berkembang selama 6 tahun, (3) Nilai subsidi ekspor langsung produk pertanian harus diturunkan sebesar 36% selama 6 tahun & volumenya dikurangi 12%, dan (4) Reformasi bidang pertanian dlm perjanjian ini tidak berlaku untuk negara miskin. Liberalisasi perdagangan berdampak negatif bagi Indonesia terhadap produksi padi & non gandum. Untuk AFTA & APEC, liberalisasi perdagangan pertanian menguntungkan Indonesia dengan meningkatnya produksi jenis gandum lainnya (terigu, jagung & kedelai). AFTAIndonesia menjadi produsen utama pertanian di ASEANdan output pertanian naik lebih dari 31%. Ekspor pertanian naik 40%. Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan selisih harga output pertanian dg harga inputnya (rasio indeks harga yang diterima petani dg indeks harga yang dibayar). Dasar Tukar (DT) terbagi menjadi: (1) DT dalam negeri dan (2) DT internasional / Terms Of Trade. Semakin tinggi NTP semakin baik. NTP setiap wilayah berbeda dan ini tergantung: (1) Inflasi setiap wilayah, (2) Sistem distribusi input pertanian, (3) Perbedaan ekuilibrium pasar komoditi pertanian setiap wilayah (Demand=Supply). Jika D>S maka harga naik sebaliknya jika D<S maka harga turun.

Investasi di Sektor Pertanian tergantung pada: (1) Laju pertumbuhan output dan (2) Tingkat daya saing global komoditi pertanian. Investasi di sektor pertanian dapat berupa: investasi Langsung (membeli mesin) atau investasi tidak Langsung dengan melakukan penelitian dan pengembangan. Hasil penelitian Supranto (1998) membuktikan bahwa laju pertumbuhan sektor pertanian rendah, karena penanaman modal dalam negeri dan penanaman modal asing serta kredit yang mengalir kecil. Hal ini karena resiko lebih tinggi (gagal panen) dan nilai tambah lebih kecil di sektor pertanian. Sedangkan Simatupang (1995) menyatakan bahwa kredit perbankan lebih banyak megalir ke sektor non pertanian & jasa dibanding ke sektor pertanian. Keterkaitan Pertanian dengan Industri Manufaktur Salah satu penyebab krisis ekonomi adalah kesalahan industrialisasi yang tidak berbasis pertanian. Hal ini terlihat bahwa laju pertumbuhan sektor pertanian yang meningkat walaupun kecil, sementara sektor manufaktur menurun. Jepang, Taiwan & Eropa dalam memajukan industri manufaktur diawali dengan revolusi sektor pertanian. Alasan sektor pertanian harus kuat dalam proses industrialisasi: 1. Apabila Sektor pertanian kuat maka pangan terjamin sehingga kondisi sosial dan politik stabil. 2. Ditinjau dari sudut Permintaan apabila sektor pertanian kuat maka pendapatan riil perkapita naik yang berarti permintaan oleh petani terhadap produk industri manufaktur naik. Hal ini membuat industri manufaktur berkembang dan output industri menjadi input sektor pertanian. 3. Ditinjau dari sudut Penawaran apabila penawaran pada sektor pertanian kuat maka akan terjadi permintaan dari industri manufaktur terhadap produk pertanian sebagai bahan baku. 4. Kelebihan output sektor pertanian digunakan sebagai sumber investasi sektor industri manufaktur seperti industri kecil di pedesaan. Kenyataannya di Indonesia, keterkaitan produksi sektor pertanian dam industri manufaktur sangat lemah. Kedua sektor tersebut sangat bergantung kepada barang impor.

RESUME: BAB 7 SEKTOR INDUSTRI

Konsep dan Tujuan Industrialisasi Industrialisasi merupakan suatu proses interkasi antara perkembangan teknologi, inovasi, spesialisasi dan perdagangan dunia untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mendorong perubahan struktur ekonomi. Industrialisasi merupakan salah satu strategi jangka panjang untuk menjamin pertumbuhan ekonomi. Hanya beberapa Negara dengan penduduk sedikit dan kekayaan alam melimpah seperti Kuwait dan libya yang ingin mencapai pendapatan tinggi tanpa industrialisasi. Faktor pendorong industrialisasi (perbedaan intesitas dalam proses industrialisasi antar negara): a) Kemampuan teknologi dan inovasi, b) Laju pertumbuhan pendapatan nasional per kapita, c) Kondisi dan struktur awal ekonomi dalam negeri, d) Besar pangsa pasar DN yang ditentukan oleh tingkat pendapatan dan jumlah penduduk. Indonesia dengan 200 juta orang menyebabkan pertumbuhan kegiatan ekonomi, e) Ciri industrialisasi yaitu cara pelaksanaan industrialisasi seperti tahap implementasi, jenis industri unggulan dan insentif yang diberikan, f) Keberadaan SDA. Negara dengan SDA yang besar cenderung lebih lambat dalam industrialisasi, dan g) Kebijakan/strategi pemerintah seperti tax holiday dan bebas bea masuk bagi industri orientasi ekspor. Perkembangan Sektor Industri Manufaktur di Indonesia Industri diklasifikasikan menjadi: a) Industri primer/hulu yaitu mengolah output dari sektor pertambangan (bahan mentah) menjadi bahan baku siap pakai untuk kebutuhan proses produksi pada tahap selanjutnya b) Industri sekunder/manufaktur yang mencakup: industri pembuat modal (mesin), barang setengah jadi dan alat produksi, dan industri hilir yang memproduksi produk konsumsi Pertumbuhan output yang tinggi disebabkan oleh permintaan eksternal yang tinggi. Laju pertumbuhan output rata rata pertahun untuk sektor manufaktur (22,9 %) lebih tinggi dari pertanian (13,9%) periode 1970 1995. Kontribusi terhadap pertumbuhan PDB 1970 1980 (21,3 %) dan 1990 1995 (32,1%). Pertmbuhan output sektor manufaktur karena permintaan eksternal merupakan indikator tingkat ekspor yang tinggi. Laju pertumbuhan PDB wilayah ini rata rata pertahun 7,4% periode 1970 1995 lebih tinggi dari pertumbuhan PDB dunia 2,9 % dan laju pertumbuhan PDB negara berkembang 4,6 %. Tingkat perkembangan industri manufaktur dapat dilihat dari pendalaman struktur industri itu sendiri. Struktur industri meliputi: (1) Ragam, (2) Intensitas pemakain faktor produksi, dan (3) Orinetasi pasar. Pendalaman Struktur Industri. Pembangunan ekonomi jangka panjang dapat merubah pusat kekuatan ekonomi dari pertanian menuju industri dan menggeser struktur industri yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif. Perubahan struktur industri disebabkan oleh a) Penawaran aggregat berupa perkembangan teknologi, kualitas SDM, inovasi material baru untuk produksi serta b) Permintaan aggregat berupa peningkatan pendapatan perkapita yang mengubah volume & pola konsumsi. Tingkat Teknologi produk manufaktur mencakup: a) Tekonolgi tinggi mencakup: komputer, obat-obatan, produk elektronik, alat komunikasi dan sebagainya. b) Teknologi sedang mencakup: plastik, karet, produk logam sederhana, penyulingan minyak, produk mineral bukan logam.

c) Teknolgi rendah mencakup: kertas, percetakan, tekstil, pakaian jadi, minuman, rokok, dan mebel. Ketergantungan Impor merupakan indikator keberhasilan pembangunan sektor industri. Permasalahan dalam Industri Manufaktur. Industri manufaktur di Negara berkembang lebih terbelakang dibandingkan di Negara maju. Hal ini karena: (1) Keterbatasan teknologi, (2) Kualitas Sumber daya Manusia rendah, (3) Keterbatasan dana pemerintah (selalu difisit) dan sektor swasta, dan (4) Kerja sama antara pemerintah, industri dan lembaga pendidikan dan penelitian yang masih rendah. Masalah dalam industri manufaktur nasional: 1. Kelemahan struktural berupa: (a) basis ekspor dan pasar yang masih sempit, (b) ketergantungan impor yang sangat tinggi, (c) tidak ada industri berteknologi menengah, dan (d) konsentrasi regional. 2. Kelemahan organisasi berupa: (a) Industri kecil & menengah masih terbelakang menyebabkan produktivitas rendah sehingga jumlah tenaga kerja tidak produktif. (b) Konsentrasi Pasar. (c) Kapasitas menyerap dan mengembangkan teknologi masih lemah. (d) SDM yang lemah.

Strategi Pengembangan Sektor Industri dapat meliputi pelaksanaan industrialisasi berupa: 1. Strategi substitusi impor (Inward Looking) yang bertujuan mengembangkan industri berorientasi domestic yang dapat menggantikan produk impor. Negara yang menggunakan strategi ini adalah Korea dan Taiwan. Pertimbangan menggunakan strategi ini: (a) Sumber daya alam & Faktor produksi cukup tersedia (b) Potensi permintaan dalam negeri memadai (c) Sebagai pendorong perkembangan industri manufaktur dalam negeri (d) Kesempatan kerja menjadi luas (e) Pengurangan ketergantungan impor, shg defisit berkurang 2. Strategi promosi ekspor (outward Looking) yang beorientasi ke pasar internasional dalam usaha pengembangan industri dalam negeri yang memiliki keunggulan bersaing. Rekomendasi agar strategi ini dapat berhasil adalah: (a) Pasar harus menciptakan sinyal harga yang benar yang merefleksikan kelangkaan barang ybs baik pasar input maupun output. (b) Tingkat proteksi impor harus rendah. (c) Nilai tukar harus realistis. (d) Ada insentif untuk peningkatan ekspor.

RESUME: BAB 8 UMKM

Dalam perekonomian Indonesia Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM) merupakan kelompok usaha yang memiliki jumlah paling besar. Kelompok ini terbukti tahan terhadap berbagai macam goncangan krisi ekonomi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) ada beberapa kriteria yang dipergunakan untuk mendefinisikan Pengertian dan kriteria Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Pengertian-pengertian UMKM tersebut adalah : 1. Usaha Mikro. Kriteria kelompok Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. 2. Usaha Kecil. Kriteria Usaha Kecil Adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. 3. Usaha Menengah. Kriteria Usaha Menengah Adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. Kriteria Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Kriteria Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM) menurut UU ini digolongkan berdasarkan jumlah aset dan Omset yang dimiliki oleh sebuah usaha. 1. Usaha Mikro: Aset Maksimal 50 Juta dan dengan omset Maksimal 300 Juta 2. Usaha Kecil: Aset di atas 50 sampai dengan 500 Juta dengan omset dengan 2,5 Miliar di atas 300 Juta sampai

3. Usaha Menengah : Aset di atas 500 Juta sampai 10 Miliar dengan omset di atas 2,5 Miliar sampai dengan 50 Miliar Kriteria Usaha Kecil Dan Menengah Berdasar Perkembangan Selain berdasar Undang-undang tersebut, dari sudut pandang perkembangannya Usaha Kecil Dan Menengah dapat dikelompokkan dalam beberapa kriteria Usaha Kecil Dan Menengah yaitu: (a) Livelihood Activities, merupakan Usaha Kecil Menengah yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai sektor informal. Contohnya adalah pedagang kaki lima. (b) Micro Enterprise, merupakan Usaha Kecil Menengah yang memiliki sifat pengrajin tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan. (c) Small Dynamic Enterprise, merupakan Usaha Kecil Menengah yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor (d) Fast Moving Enterprise, merupakam Usaha Kecil Menengah yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Usaha Besar (UB). Kriteria Usaha Kecil Dan Menengah Menurut World Bank: Menurut World Bank Usaha Kecil Dan Menengah dikelompokkan menjadi tiga kelompok:

1. Medium Enterprise, dengan kriteria: (a) Jumlah karyawan maksimal 300 orang, (b) Pendapatan setahun hingga sejumlah $ 15 juta, (c). Jumlah aset hingga sejumlah $ 15 juta 2. Small Enterprise, dengan kriteria: (a) Jumlah karyawan kurang dari 30 orang, (b) Pendapatan setahun tidak melebihi $ 3 juta, (c) Jumlah aset tidak melebihi $ 3 juta 3. Micro Enterprise, dengan kriteria: (a) Jumlah karyawan kurang dari 10 orang, (b) Pendapatan setahun tidak melebihi $ 100 ribu, (c) Jumlah aset tidak melebihi $ 100 ribu Kriteria Usaha Kecil Dan Menengah Negara Singapura: Singapura mendefinisikan Usaha Kecil dan Menengah sebagai usaha yang memiliki minimal 30% pemegang saham lokal serta aset produktif tetap (fixed productive asset) di bawah SG $ 15 juta. Kriteria Usaha Kecil Dan Menengah Negara Malaysia: Malaysia, menetapkan definisi UKM sebagai usaha yang memiliki jumlah karyawan yang bekerja penuh (full time worker) kurang dari 75 orang atau yang modal pemegang sahamnya kurang dari M $ 2,5 juta. Definisi ini dibagi menjadi dua, yaitu : (1) Small Industry (SI), dengan kriteria jumlah karyawan 5 50 orang atau jumlah modal saham sampai sejumlah M $ 500 ribu dan (2) Medium Industry (MI), dengan kriteria jumlah karyawan 50 75 orang atau jumlah modal saham sampai sejumlah M $ 500 ribu M $ 2,5 juta. Kriteria Usaha Kecil Dan Menengah Negara Jepang: Jepang, membagi Usaha Kecil dan Menengah sebagai berikut : 1. Mining and manufacturing, dengan kriteria jumah karyawan maksimal 300 orang atau jumlah modal saham sampai sejumlah US$2,5 juta. 2. Wholesale, dengan kriteria jumlah karyawan maksimal 100 orang atau jumlah modal saham sampai US$ 840 ribu 3. Retail, dengan kriteria jumlah karyawan maksimal 54 orang atau jumlah modal saham sampai US$ 820 ribu 4. Service, dengan kriteria jumlah karyawan maksimal 100 orang atau jumlah modal saham sampai US$ 420 ribu Kriteria Usaha Kecil Dan Menengah Negara Korea Selatan: Korea Selatan, mendefinisikan UKM sebagai usaha yang jumlahnya di bawah 300 orang dan jumlah assetnya kurang dari US$ 60 juta. European Commision, membagi UKM ke dalam 3 jenis, yaitu : 1. Medium-sized Enterprise, dengan kriteria: (1). Jumlah karyawan kurang dari 250 orang, (2) Pendapatan setahun tidak melebihi $ 50 juta, (3) Jumlah aset tidak melebihi $ 50 juta. 2. Small-sized Enterprise, dengan kriteria: (1) Jumlah karyawan kurang dari 50 orang, (2) Pendapatan setahun tidak melebihi $ 10 juta, (3) Jumlah aset tidak melebihi $ 13 juta. 3 Micro-sized Enterprise, dengan kriteria: (1) Jumlah karyawan kurang dari 10 orang, (2) Pendapatan setahun tidak melebihi $ 2 juta, (3) Jumlah aset tidak melebihi $ 2 juta.

RESUME: BAB 9 NERACA PEMBAYARAN DAN TINGKAT KETERGANTUNGAN TERHADAP MODAL ASING Neraca pembayaran yaitu catatan yang sistematis tentang transaksi ekonomi internasional antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lainnya dalam jangka waktu tertentu. Penyusunan neraca pembayaran mempunyai tujuan diantaranya: (a) Sebagai bahan keterangan kepada pemerintah mengenai posisi internasional negara yang bersangkutan, (b) Sebagai bahan bagi pemerintah dalam mengambil keputusan dibidang pilitik perdagangan dari urusan pembayarannya, dan (c) Sebagai bahan untuk membantu pemerintah dalam mengambil keputusan di bidang politik moneter dan fiskal. Sementara fungsi neraca pembayaran adalah: (a) Sebagai suatu alat pembukuan dan alat pembayaran luar negeri agar pemerintah dapat mengambil keputusan, apakah negara dapat melanjutkan masuknya barang-barang luar negeri dan dapat menyelesaikan pembayaran tepat pada waktunya; (b) Sebagai suatu alat untuk menjelaskan pengaruh dan trnsaksi luar negeri terhadap pendapatan nasional; (c) Sebagai suatu alat untuk mengukur keadaan perekonomian dalam hubungan internasional dari suatu negara, (d) Sebagai suatu alat kebijakan moneter yang akan dilaksanakan oleh suatu negara. Komponen Neraca Pembayaran : (a) Neraca perdagangan/Neraca Barang yaitu selisih nilai ekspor dan impor barang. Neraca perdagangan termasuk kategori neraca berjalan atau Current Acount. Neraca perdagangan Indonesia umumnya mengalami surplus, artinya nilai ekspor melebihi nilai impor; (b) Neraca Jasa-jasa yaitu selisih antara ekspor jasa dan impor jasa. Neraca jasa termasuk kategori neraca berjalan atau Current Acount Neraca jasa Indonesia selalu mengalami defisit dan defisitnya lebih besar dari surplus pada neraca perdagangan; (c) Neraca Modal atau Capital Account merupakan selisih antara aliran modal masuk dan modal keluar. Selama masa krisis ekonomi terlihat neraca modal Indonesia negatif karena banyaknya arus modal jangka pendek ke luar negeri; (d) Neraca Emas atau Gold Account adalah transaksi emas ebagai alat bayar atas uang, sedangkan transaksi non monetary gold termasuk ke dalam kategori current account karena diperlukan sebagai barang komoditas biasa. Sistem Pencatatan Neraca Pembayaran dilakukan dengan menggunakan variabel debet dan kredit. 1. Transaksi Debet adalah transaksi yang menyebakan terjadinya pembayaran kepada penduduk negara lain atau transaksi yang menyebabkan arus uang keluar yang terjadi antar negara. Transaksi debet meliputi: (a) impor barang dari negara lain, pembayaran jasa transfortasi, jasa asuransi, dan ongkos makelar kepada penduduk negara lain, (b) pembayaran bunga dan deviden kepada penduduk negara lain, (c) pemberian hadiah dan pengiriman uang kepada penduduk negara lain, (d) investasi jangka panjang yang ditanamkan oleh penduduk negara lain, (e) investasi jangka pendek yang ditanamkan oleh penduduk negara lain, (f) penduduk yang melakukan pembelian emas dari negara lain, (g) penduduk yang menabungkan uangnya di bank luar negeri . 2. Transaksi Kredit transaksi yang menyebabkan terjadinya penerimaan dari penduduk negara lain atau transaksi yang menyebabkan arus uang masuk yang terjadi antarnegara. Transaski kredit meliputi: (a) ekspor barang ke negara lain, (b) penerimaan jasa transfortasi, asurasni, ongkos makelar dari negara lain, (c) penerimaan bunga dan deviden dari penduduk negara lain, (d) penerimaan hadiah dan kririman uang dari penduduk negara lain, (e) investasi jangka panjang yang ditanamkan oleh penduduk negara lain di dalam negeri, (f) investasi jangka pendek yang ditanamkan oleh penduduk negara lain di dalam negeri, (g) penjualan emas kepada penduduk dari negara lain, (h) penduduk negara lain yang menabungkan uangnya di bank dalam negeri. Keseimbangan Neraca Pembayaran Dalam menganalisa keseimbangan neraca pembayaran, dapat dilakukan dengan menganalisis setiap komponen neraca pembayaran yang meliputi:

1. Keseimbangan Transaksi Berjalan: dihitung dari transaksi barang, jasa, hasil modal dan transaksi unilateral. Transaksi dinyatakan seimbang apabila arus uang yang masuk sama besarnya dengan arus barang yang keluar dari hasil transaksi barang, jasa, hasil modal dan transaksi unilateral yang terjadi antarnegara. 2. Keseimbangan Transaksi Modal: dihitung dari transaksi investasi jangka panjang, investasi jangka pendek, pemindahan emas, dan transaksi pengangkatan mata uang. Neraca transaksi modal dinyatakan seimbang bila arus uang dan tabungan yang keluar sama besarnya dengan arus uang yang masuk dari transaksi-transaksi tersebut yang terjadi antarnegara. 3. Keseimbangan Neraca Pembayaran: terjadi akibat transaksi berjalan dan transaksi modal. Keseimbangan neraca pembayaran akan terajdi bilamana arus uang masuk yang terjadi akibat transaksi berjalan dan transaksi modal sama besar dengan arus uang keluar dari transaksi tersebut di atas yang terjadi antarnegara. Arus Modal Asing bisa mendatangkan manfaat yang lebih besar daripada risikonya jika dikelola dengan benar. Diperkirakan hingga akhir tahun ini arus modal asing yang masuk ke Indonesia mencapai sekitar US$25 miliar. Manfaat tersebut antara lain: (a) penurunan biaya bunga APBN, (b) sumber investasi swasta, (c) pembiayaan Foreign Direct Investment (FDI), dan (d) kedalaman pasar modal. Sementara risikonya adalah terjadinya pembalikan, tekanan penguatan rupiah dan gelembung ekonomi.Pemerintah perlu lebih aktif lagi untuk mendorong perusahaan swasta untuk masuk bursa lewat penawaran saham perdana (IPO) atau right issue. kemudian, memperbanyak penerbitan obligasi negara dengan berbagai macam seri dan jangka waktu. Utang Luar Negeri atau pinjaman luar negeri, adalah sebagian dari total utang suatu negara yang diperoleh dari para kreditor di luar negara tersebut. Penerima utang luar negeri dapat berupa pemerintah, perusahaan, atau perorangan. Bentuk utang dapat berupa uang yang diperoleh dari bank swasta, pemerintah negara lain, atau lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Pembayaran utang: Utang luar negeri pemerintah memakan porsi anggaran negara (APBN) yang terbesar dalam satu dekade terakhir. Jumlah pembayaran pokok dan bunga utang hampir dua kali lipat anggaran pembangunan, dan memakan lebih dari separuh penerimaan pajak. Pembayaran cicilan utang sudah mengambil porsi 52% dari total penerimaan pajak yang dibayarkan rakyat sebesar Rp 219,4 triliun. Jumlah utang negara Indonesia kepada sejumlah negara asing (negara donor) di luar negeri pada posisi finansial 2006, mengalami penurunan sejak 2004 lalu sehingga utang luar negeri Indonesia kini 'tinggal' USD 125.258 juta atau sekitar Rp1250 triliun lebih. Pada tahun 2006, pemerintah Indonesia melakukan pelunasan utang kepada IMF. Pelunasan sebesar 3,181,742,918 dolar AS merupakan sisa pinjaman yang seharusnya jatuh tempo pada akhir 2010. Ada tiga alasan yang dikemukakan atas pembayaran utang tersebut, adalah meningkatnya suku bunga pinjaman IMF sejak kuartal ketiga 2005 dari 4,3 persen menjadi 4,58 persen; kemampuan Bank Indonesia (BI) membayar cicilan utang kepada IMF; dan masalah cadangan devisa dan kemampuan kita (Indonesia) untuk menciptakan ketahanan. Angka kemiskinan dan pengangguran sejak krisismasih tinggi. Berdasarkan data BPS bahwa 17,7 persen atau 39 juta penduduk Indonesia tergolong kategori penduduk miskin. Pengangguran sebanyak 10,4 persen. Diantara 100 juta angkatan kerja menganggur, 10,5 juta pengangguran terbuka. Perbaikan ekonomi makro ditandai dengan: (a) Rendahnya angka inflasi pada September 2006 yang hanya mencapai 0,38 persen yang membuat ekspektasi inflasi tahun 2006 kembali satu digit dibawah 8 persen; (b) Pembayaran utang yang berimbang (balance of payment) yang membaik; (c) Nilai tukar rupiah yang cukup stabil, yaitu sebesar Rp.9.200 per USD.