Anda di halaman 1dari 17

1

PEMBELAJARAN KONTRUKTIVISME DAN KONTEKSTUAL


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah pendidikan Psikologi Pendidikan

Oleh 1. Euis Komariah S. 2. Henny Hendrawati K. 3. Setyana Laspar Vianti 4. Adidya Hendra Prananta
5. Nugroho Janu Mustofa 6. Titis Elia Kusumowati 7. Meliana Rakhman

(014011025) (014011026) (014011027) (014011028) (014011030) (014011033) (014011037) (014011040) (014011042)

8. Doni Eko Noviantoro(014011038) 9. Efi Mayla Shofa

10. Teza Febriana Pramustika (014011041) 11. Diana Martuti Nugraheni

JURUSAN S1-KKT PGSD FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2012

2 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Berdasarkan PP no 19 tahun 2005 tentang Sistem Pendidikan Nasional pemerintah mengeluarkan kebijakan bahwa pengembangan kurikulum sekolah tingkat satuan pendidikan (KTSP), Kurikulum ini sangat menuntut peserta didik mempunyai kompetensi dan keterampilan dalam berbagai bidang yang nantinya sangat berguna dalam kehidupan yang akan datang ketika mereka terjun dalam kehidupan bermasyarakat. Di dalam KTSP juga dituntut interaksi aktif dalam pendidikan. Interaksi di bidang pendidikan dapat diwujudkan melalui interaksi siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan masyarakat, guru dengan guru, guru dengan masyarakat di sekitar lingkungannya.
..Paradigma

metodologi pembelajaran saat ini disadarai atau tidak telah mengalami

suatu pergeseran dari behaviorisme ke konstruktivisme yang menuntut guru di lapangan harus mempunyai syarat dan kompetensi untuk dapat melakukan suatu perubahan dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Guru dituntut lebih kreatif, inovatif, tidak merasa sebagai teacher center, menempatkan siswa tidak hanya sebagai objek belajar tetapi juga sebagai subjek belajar dan pada akhirnya bermuara pada proses pembelajaran yang menyenangkan, bergembira, dan demokratis yang menghargai setiap pendapat sehingga pada akhirnya substansi pembelajaran benar-benar dihayati. Belajar adalah lebih dari sekedar mengingat. Peserta didik yang memahami dan mampu menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari, mereka harus mampu memecahkan masalah, menemukan (discovery) sesuatu untuk dirinya sendiri, dan berkutat dengan pelbagai gagasan. Pendidik adalah bukan orang yang mampu memberikan pengetahuan kepada peserta didik, sebab peserta didik harus mengkrontruksikan pengetahuan di dalam memorinya sendiri. Tugas pendidikan tidak hanya menuangkan atau menjejalkan sejumlah informasi ke dalam benak siswa, tetapi mengusahakan bagaimana agar konsep-konsep penting dan sangat berguna tertanam kuat dalam benak siswa. Oleh karena itu muncullah suatu inovasi dalam pembelajaran berupa pembelajaran kontuktivisme dan kontekstual. Pembelajaran menurut pandangan konstruktivisme adalah : Pembelajaran dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pembelajaran bukanlah seperangkat fakta, konsep 1 atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi

3 pembelajaran itu dan membentuk makna melalui pengalaman nyata (Depdiknas,2003 : 11). Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Dalam teori ini, penekanan diberikan kepada siswa lebih dari pada guru. Hal ini karena siswalah yang berinteraksi dengan bahan dan peristiwa dan memperoleh kepahaman tentang bahan dan peristiwa tersebut. B. RUMUSAN MASALAH Rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana deskripsi tentang pembelajaran kontruktivisme? 2. Bagaimana deskripsi tentang pembelajaran kontekstual?

C. TUJUAN PENULISAN

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk :


1. Menjelaskan deskripsi tentang pembelajaran kontruktivisme 2. Menjelaskan deskripsi tentang pembelajaran kontekstual

BAB II ISI A. PEMBELAJARAN KONTRUKTIVISME

4 1. Pengertian dan Tujuan Konstruktivisme Pandangan kontruktivisme dikembangkan oleh Seymour Papert, yang memandang bahwa manusia membangun dan memaknai pengetahuan dari pengalamannya sendiri. Pembelajaran konstruktivisme memandang bahwa peserta didik secara terus-menerus memeriksa informasi baru berlawanan dengan aturanaturan lama dan merivisi aturan-aturan tersebut jika tidak sesuai lagi. Sedangkan menurut Tran Vui konstruktivisme adalah suatu filsafat belajar yang dibangun atas anggapan bahwa dengan memfreksikan pengalaman-pengalaman sendiri, sedangkan teori konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut denga bantuan fasilitasi orang lain. Dari keterangan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi, 1988: 132). Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran, sedangkan akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi 3 skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno, 1996: 7). Kontruktivisme merupakan teori yang menggambarkan bagaimana belajar itu pada individu, berkenaan dengan apakah peserta didik menggunakan pengalamannya

5 untuk memahami pelajaran atau mengikuti pembelajaran dalam membuat suatu model. Dalam hal ini, konstruktivisme menyatakan bahwa peserta didik membangun pengetahuan diluar pengalamannya. Salah satu tujuan penggunaan pembelajaran konstruktivisme adalah peserta didik belajar cara-cara mempelajari sesuatu dengan cara memberikan pelatihan untuk mengambil prakarsa belajar. Untuk mendorong agar peserta didim terlibat aktif dalam kegiatan belajar, maka: a) Lingkungan belajar harus menunjukkan suasana demokratis
b) Kegiatan pembelajaran berlangsung interaktif terpusat pada peserta didik

c) Pendidik memperlancar proses belajar sehingga mampu mendorong peserta didik melakukan kegiatan belajar mandiri dan bertanggung jawab atas kegiatan belajarnya. Adapun tujuan lain dari pembelajaran konstruktivisme adalah sebagai berikut:
a) Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu

sendiri b) Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya c) Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap d) Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri e) Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.

2. Karakteristik Pembelajaran Konstruktivisme Karakteristik belajar dengan pendekatan konstruktivisme menurut Slavin (1997) ada empat yaitu :
a. Proses Top-Down, yang berarti bahwa siswa mulai dengan masalah-masalah yang

kompleks untuk dipecahkan dan selanjutnya memecahkan atau menemukan (dengan bantuan guru) ketrampilan-ketrampilan dasar yang diperlukan. Sebagai contoh siswa dapat diminta untuk menuliskan suatu susunan kalimat, dan baru kemudian belajar tentang mengeja, tata bahasa, dan tanda baca.

6 b. Pembelajaran kooperatif yaitu siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temanya.
c. Generative learning (pembelajaran generatif) yaitu belajar itu ditemukan meskipun

apabila kita menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka harus melakukan operasi mental dengan informasi itu untuk membuat informasi masuk kedalam pemahaman mereka.
d. Pembelajaran dengan penemuan, yaitu siswa didorong untuk belajar sebagian besar

melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsipprinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang mmungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.

3. Prinsip Dasar Pembelajaran Konstruktivisme Belajar merupakan proses konstruksi pengetahuan melalui keterlibatan fisik dan mental peserta didik secar aktif, dan juga merupakan proses asimilasi dan menghubungkan bahan yang dipelajari dengan pengalaman-pengalaman yang dimiliki seseorang sehingga pengetahuannya mengenai objek tertentu menjadi lebih kokoh. Semua pelajar benar-benar mengkonstruksikan pengetahuan untuk dirinya sendiri, dan bukan pengetahuan yang datang dari guru diserap oleh murid. Ini berarti bahwa setiap murid akan mempelajari sesuatu yang sedikit berbeda dengan pelajaran yang telah diberikan. Suparno (1997) mengidentifikasi 3 prinsip kontruktivis dalam belajar yakni sebagai berikut: a. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri baik secara personal maupun sosial b. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari pengajar kepada pembelajar, kecuali dengan keaktifan siswa itu sendiri untuk menalar c. Pengajar sekedar membantu pebelajar dengan menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi pebelajar berlangsung secara efektif dan efisien. Berdasarkan uraian diatas maka secara umum ada empat prinsip dasar konstruktivisme dalam pembelajaran :

7 a. Pengetahuan terdiri atas konstruksi masa silam, memberikan arti bahwa manusia mengkonstruksi pengetahuannya tentang dunia melalui suatu kerangka logis yang mentransformasi, mengorganisasi dan menginterpretasikan pengalamnnya. b. Pengkonstruksian pengetahuan terjadi melalui proses asimilasi dan akomodasi. Manusia menggunakan asimilasi sebagai suatu kerangka logis dalam menginterpretasikan informasi baru dan dengan akomodasi dalam memecahkan kontradiksi-kontradiksi sebagai bagian dari proses regulasi diri yang lebih luas. c. Belajar merupakan suatu proses organic penemuan lebih dari proses mekanik yang akumulatif. Penganut konstruktivisme menganut posisi bahwa belajar harus memperoleh kognitif. d. Mengacu pada mekanisme yang memungkinkan terjadinya perkembangan struktur kognitif. Belajar bermakna, akan terjadi melalui proses refleksi dan resolusi konflik. Implikasi prinsip-prinsip belajar tersebut dalam proses pembelajaran diantaranya bahwa mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari pembelajar kepada pebelajar, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan pembelajar membangun sendiri pengetahuannya, mengajar berarti berpartisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Dasar pemikiran seperti ini menjadikan teori konstruktivistik sebagai landasan teori-teori belajar yang pernah ada, seperti teoru perubahan konsep, teori belajar bermakna dan teori skema. Dari penjelasan ini tergambar bahwa konstruktivisme merupakan teori yang berlandaskan pada pembelajaran siswa dalam membentuk pengetahuannya sendiri dan guru sebagai mediator dan fasilitator yang relevan. Berdasarkan hal ini, terdapat beberapa prinsip yang menjadi foundation dalam constructivistic learning : a. Pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif b. Tekanan proses belajar terletak pada siswa c. Mengajar adalah membantu siswa belajar pengalaman berhipotesis, memprediksi, memanipulasi objek berimajinasi dan melakukan penemuan dalam upaya mengembangkan struktur

8 d. Penekanan dalam prpses belajar lebih kepada proses bukan hasil akhir e. Kurikulum menekankan partisipasi siswa f. Guru adalah fasilitator. Oleh karena itu, paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuam awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Untuk itu, guru dituntut untuk memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar. guru tidak dapat mengklaim bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemampuannya.

4. Pendekatan Pembelajaran Konstruktivisme Pendekatan konstruktivisme menekankan pembelajaran dari atas ke bawah (topdown instruction), dan bukan dari bawah ke atas (bottom-up instruction). Pembelajaran dari atas ke bawah berarti peserta didik mulai memecahkan masalah yang kompleks kemudian menemukan (dengan bantuan pendidik) keterampilan dasar diperlukan. Sedangkan pembelajaran dari bawah ke atas berarti menekankan pada belajar keterampilan dasar terlebih dahulu sebelum mempelajarai keterampilan yang kompleks. Pemebelajaran yang sangat berpengaruh terhadap prinsip-prinsip konstruktivisme adalah diskaveri, penangkapan, dan belajar terbimbing (assited learning) atau scaffolding.
a. Diskaveri (discovery learning)

Belajar disakveri pertama kali dikembangkan oleh Jerome Brunner yang menekankan bahwa pembelajaran harus mampu mendorong peserta didik untuk mempelajarai apa yang telah dimiliki. Belajar dengan menggunakan pendekatan diskaveri memiliki keuntungan yaitu: 1) Belajar diskaveri mampu memunculkan hasrat ingin tahu peserta didik, dan memotivasi peserta didik untuk bekerja keras sampai menemukan jawaban atas pertanyaan yang muncul. 2) Peserta didik belajar keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah karena mereka harus menganalisis dan memanipulasi informasi.
b. Penangkapan (reception learning)

9 Belajar penangkapan pertama kali dikembangkan oleh David Ausubel, menurutnya peserta didik tidak selalu mengetahui apa yang penting atau relevan untuk dirinya sendiri sehingga mereka memerlukan motivasi eksternal untuk melakukan kerja kognitif dalam mempelajari apa yang diajarkan disekolah. Inti dari pendekatan belajar penangkapan yaitu pengajaran ekspositori, yakni pembelajaran sistematik yang direncanakan pleh pendidik mengenai informasi yang bermakna (meaningful information). Pembelajaran ekspositori terdiri atas tiga tahap penyajian: 1) Penyajian advance organizer Advance organizer merupakan pernyataan umum yang memperkenalkan bagian-bagian utama tercakup dalam urutan pengajaran. 2) Penyajian materi atau tugas belajar Dalam tahap ini, pendidik menyajikan materi pembelajaran baru dengan menggunakan metode cerammah, diskusi, film, atau menyajikan tugas-tugas belajar kepada peserta didik. 3) Memperkuat organisasi kognitif Dalam tahap ini, pendidik mengikatkan informasi baru ke dalam struktur yang telah direncanakan di dalam permulaan pelajaran, dengan cara mengingatkan peserta didik bahwa rincian yang bersifat spesifik itu berkaitan dengan gambaran informasi yang bersifat umum.
c. Belajar terbimbing (scaffolding)

Scaffolding merupakan strategi pembelajaran yang berkaitan dengan dukungan kepada peserta didik dengan cara membatasi kempleksitas konteks dan secara perlahan-lahan mengurangi batas-batas tersebut karena peserta didik telah memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri dalam mengatasi kompleksitas konteks tersebut (Young, 1993). Scaffolding atau belajar terbimbing meliputi kegiatan pemberian struktur kepada peserta didik pada awal pelajaran kemudian secara gradual menyerahkan tanggung jawab belajar kepada peserta didik. Pendidik memberi saran tentang cara menyusun pertanyaan, membuat model pertanyaan yang dapat diajukan kepada peserta didik, kemudian peserta didik membuat pertanyaan sendiri.

10

B. PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL 1. Pengertian Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu pendidik mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Tujuan penerapan dan pendekatan pembelajaran kontekstual adalah untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik melalui peningkatan pemahaman makna materi pelajaran yang dipelajari dengan mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari sebagai individual, anggota keluarga, anggota masyarakat dan anggota bangsa. 2. Landasan Pemikiran Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut: a. Proses Belajar 1) Belajar tidak hanya sekedar menghafal. 2) Peserta didik belajar dari mengalami. 3) Pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang suatu persoalan. 4) Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau propossi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. 5) Manusia memiliki tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru. 6) Peserta didik perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. 7) Proses belajar dapat mengubah struktur otak. b. Transfer Belajar 1) Peserta didik belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain.

11 2) Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit). 3) Penting untuk peserta didik tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu. c. Peserta Didik 1) Manusia mempunya kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu. 2) Strategi belajar itu penting. 3) Peran orang dewasa membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui. 4) Tugas pendidik memfasilitasi peserta didik. d. Lingkungan Belajar 1) Belajar efektif dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada peserta didik. 2) Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara peserta didik menggunakan pengetahuan baru mereka. 3) Umpan balik amat penting bagi peserta didik, yang berasal dari penilaian yang benar. 4) Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting. 3. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual Karakteristik yang melekat pada pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut: a. Proses pembelajaran Proses pembelajaran dalam pendekatan pembelajaran kontekstual mencakup berbagai disiplin pengetahuan sehingga peserta didik memperoleh pesrpektif terhadap kehidupan nyata. b. Tujuan pembelajaran Tujuan pembelajaran dalam pembelajaran kontekstual berbasis pada: (1) standar disiplin pengetahuan yang ditetapkan secara nasional atau lokal, atau oleh asosiasi profesi, (2) pengetahuan dan keterampilan yang ditetapkan dalam tujuan memiliki daya guna dan kompetensi tertentu, (3) peserta didik perlu menggunakan keterampilan berpikir tinggi seperti pemecahan masalah, berpikir kritis, dan pembuatan keputusan.

12 c. Pengalaman belajar Pengalaman belajar dalam pembelajan kontekstual mampu mendorong peserta didik membuat hubungan konteks internal dan eksternal. d. Integrasi pendidikan akademik dan karier Integrasi pendidikan akademik dan karier akan membantu peserta didik memahami isi materi pelajaran dan pemahaman tentang karier atau bidang kajian teknis tertentu. e. Komponen Pembelajaran Kontekstual Ada tujuh komponen utama pembelajaran aktif, yaitu konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian otentik. 1) Konstruktivisme Konstruktivisme merupakan landasan berpikir yang digunakan dalam pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melaui konteks yang tak terbatas. Dalam pandangan konstruktivis, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak peserta didik memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas pendidik adalah memfasilitasi proses tersebut dengan: 1) Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi peserta didik. 2) Memberi kesempatan peserta didik menemukan dan menerapkan idenya sendiri. 3) Menyadarkan peserta didik agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar. 2) Inkuiri Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL (Contekstual Teaching and Learning). Langkah-langkah kegiatan inkuiri dalam pembelajaran kontekstual mencakup kegiatan sebagai berikut: 1) Merumuskan masalah. 2) Mengamati atau melakukan observasi. 3) Menganaisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya.

13
4) Mengkomunikasikan atau menyajikan jasil karya pada pembaca, teman

sekelas, pendidik, atau audience.

3) Bertanya Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Questioning (bertanya) merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Hampir pada semua kativitas belajar, bertanya dapat diterapkan. Aktivitas bertanya juga ditemukan ketika peserta didik berdiskusi, bekerja dalam kelompok, ketika menmui kesulitan, ketika mengamati, dan sebagainya. 4) Masyarakat belajar Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Masyarakat belajat bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Dalam masyarakat belajar, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. 5) Pemodelan Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melaflkan bahasa inggris, contoh karya tulis atau pendidik memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, pendidik memberi model tentang bagaimana cara belajar. 6) Refleksi Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima. 7) Penilaian otentik

14 Penilaian adalah proses pengumpulan berbagi data yang bisa memberikan gambaran perkembangan peserta didik. Gambaran perkembangan belajar peserta didik perlu diketahui oleh pendidik agar bisa memastikan bahwa peserta didik mengalami proses pembelajaran dengan benar. 4. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kontekstual Tiga prinsip pokok pembelajaran kontekstual adalah: kesalingbergantungan (interdependence), deferensiasi (defferentiation), dan pengauran diri (self-regulation). a. Prinsip kesalingbergantungan Prinsip kesalingbergantungan mengajak pendidik mengenali keterkaitan mereka dengan pendidik lain, peserta didik, masyarakat dan lingkungan alam. Prinsip kesalingbergantungan juga mendukung adanya kerjasama antar komunitas belajar. b. Prinsip deferensiasi Prinsip ini menyumbangkan kreativitas dan mendorong kecenderungan entitasentitas yang berbeda untuk bekerjasama dalam bentuk yang disebut simbiosis. c. Prinsip pengauran diri Prinsip ini menyatakan bahwa setiap entitas terpisah di alam semesta memiliki potensi bawaan yang sangat berbeda antara satu entitas dengan entitas lainnya. Dalam primsip ini, kegiatan belajar diatur sendiri, dipertahankan sendiri, dan disadari sendiri oleh peserta didik. 5. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Pembelajarn kontekstual menggunakan berbagai pendekatan, yaitu pendekatan berbasis masalah, penggunaan keragaman konteks, pengelompokan peserta didik, dukungan belajar peserta didik mengatur diri sendiri, pembentukan kelompok belajar saling bergantung, dan menggunakan assesment autentik. a. Pendekatan berbasis masalah Pendekatan berbasis masalah merupakan pendekatan yang melibatkan peserta didik dalam pengkajian pemecahan masalah yang memadukan keterampilan dan konsep dari berbagai isi pelajaran. Pendekatan ini meliputi perolehan informasi yang berkaitan dengan masalah, mensintesis informasi, dan menyajikan temuan kepada orang lain. b. Penggunaan keragaman konteks

15 Pengalaman pembelajaran kontekstual dapat diperkaya apabila peserta didik belajar keterampilan di berbagai lingkungan, seperti sekolah, tempat kerja, keluarga dan masyarakat . c. Pengelompokkn peserta didik Esensi pengelompokkan peserta didik adalah agar mereka mampu berbagi pengalaman atau informasi. Pengelompokan peserta didik anggotanya berasal dari berbagai macam konteks belakang seperti kebiasaan, kemampuan dan sejenisnya, agar mereka memiliki sudut pandang terhadap suatu masalah. d. Dukungan belajar peserta didik mengatur diri sendiri Dalam pembelajarn kontekstual diharapkan dapat mendorong pesera didik menjadi pelajar sepanjang hayat. Pengalaman pembelajaran kontekstual juga memberikan peluang kepada peserta didik untuk melakukan percobaan, menyediakan waktu dan struktur kegiatan untuk melakukan refleksi atas kegiatan belajarnya.
e. Pembentukan kelompok belajar saling bergantung

Kelompok belajar yang dibangun di sekolah atau tempat kerja dimaksudkan untuk berbagai pengetahuan, terfokus pada tujuan, dan memberikan peluang kepada peserta didik untuk saling membelajarkan. f. Menggunakan assesmen autentik Assesmen autentik menunjukkan bahwa belajar terjadi, terpadu dengan proses belajar mengajar, dan memberikan kesempatan dan arah perbaikan kepada peserta didik.

16

BAB III PENUTUP A. SIMPULAN Berdasarkan ulasan pada makalah ini, maka dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut : 1. Pembelajaran kontruktivisme merupakan pembelajaran bahwa seseorang harus menggali suatu pengetahuannya sendiri berdasarkan pengalaman yang diperolehnya. Pembelajaran kontruktivisme memandang bahwa peserta didik harus terus menerus memeriksa informasi baru. 2. Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu pendidik mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
B. SARAN. 1.

Pembelajaran yang dilakukan guru sebaiknya menggunakan pembelajaran yang inovatif untuk membantu peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu inovasi pembelajaran itu adalah dengan menerapkan pembelajaran kontruktivisme dan kontekstual.

2. 3.

Perlu adanya peningkatan pengetahuan guru tentang pembelajaran inovatif agar dapat menciptakan suatu pembelajaran bermakna Guru harus selalu membangun pengetahuan siswa berdasarkan pengalaman mereka dan mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari siswa agar pembelajaran tersebut bermakna bagi siswa sehingga akan terus diingat oleh siswa.

17

15 DAFTAR PUSTAKA Anni, CT dan dkk. 2007. Psikologi Belajar. Semarang: UNNES Press http://007indien.blogspot.com/2011/12/prinsip-dasar-dan-karakteristik.html [diakses tanggal 4 Maret 2012]

http://surianto200477.wordpress.com/2009/09/17/teori-pembelajaran-konstruktivisme/ [diakses tanggal 4 Maret 2012]

Rifai, Achmad dan Catharina Tri Anni. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarrang: UNNES Press Suparno, Paul. 1997. Filsafat Kontruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

Anda mungkin juga menyukai