Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM ETNOBOTANI PRODUKSI TAHU DI DESA KALISARI KECAMATAN CILONGOK

Oleh : Eny Sri Lestari Anasia Kinanti Mila Haerulummah R.M. Angga Retno B1J008011 B1J008012 B1J008013 B1J0090 B1J009

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2010

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tahu merupakan salah satu makanan tradisional yang sudah dimiliki negara kita sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Makanan yang berbentuk kubus dan umumnya berwarna putih ini sudah menjadi makanan yang mentradisi, selain karena harganya yang terjangkau juga faktor kandungan protein nabati yang cukup tinggi yang terdapat di dalamnya. Pengolahan tahu cukup mudah untuk dijadikan berbagai variasi masakan. Meskipun berharga murah dan bentuknya sederhana, ternyata tahu mempunyai mutu yang istimewa dilihat dari segi gizi. Hasil-hasil studi menunjukkan bahwa tahu kaya protein bermutu tinggi, tinggi sifat komplementasi proteinnya, ideal untuk makanan diet, rendah kandungan lemak jenuh dan bebas kolesterol, kaya mineral dan vitamin, makanan alami yang sehat dan bebas dari senyawa kimia yang beracun. Tahu juga merupakan makanan yang sangat baik jika dikombinasikan dengan biji-bijian seperti beras, gandum dan jagung. Hal ini disebabkan tahu kaya akan asam amino lisin yang merupakan asam amino pembatas (jumlahnya sedikit) pada biji-bijian, sebaliknya biji - bijian kaya akan asam amino belerang (metionin dan sistein) yang jumlahnya kurang pada kacang-kacangan. Protein kedelai dan protein biji-bijian mempunyai kekurangan dan kelebihan yang berlawanan, sehingga jika digabungkan atau dimakan bersama-sama akan menjadi pasangan yang serasi karena asam aminonya saling melengkapi, membentuk susunan yang sesuai dengan pola kebutuhan tubuh. Masyarakat Indonesia mengkonsumsi makanan pokoknya adalah beras (nasi) yang termasuk kelompok biji-bijian. Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa pemberian biji-bijian utuh bersama-sama dengan produk kedelai (termasuk tahu) menggunakan karbohidrat dari biji-bijian sebagai bahan bakar atau sumber energi sehingga proteinnya secara penuh dapat digunakan sebagai fungsi dasarnya, yaitu secara penuh dapat digunakan sebagai fungi dasarnya, yaitu untuk pertumbuhan (perbanyakan sel jaringan) dan pengganti bagian tubuh yang aus atau rusak, dan tidak digunakan sebagai sumber energi. Ibu-ibu rumah tangga banyak mengkonsumsi tahu ini dalam berbagai macam pilihan makanan yang dapat disajikan karena melihat begitu banyak keistimewaan yang dimiliki oleh tahu. Anak - anak banyak yang tidak menyukai makanan ini karena bentuk dan rasanya yang kurang atraktif. Pembuatan tahu sudah banyak dilakukan pada skala

industri rumah tangga, maupun dalam skala pabrik tahu secara kecil-kecilan. Dasar pembuatan tahu adalah melarutkan protein yang terkandung dalam kedelai dengan menggunakan air sebagai pelarutnya, setelah protein tersebut larut diusahakan untuk diendapkan kembali dengan penambahan bahan pengendap sampai terbentuk gumpalan-gumpalan protein yang akan menjadi tahu. Salah satu cara pembuatan tahu ialah dengan menyaring bubur kedelai sebelum dimasak, sehingga cairan tahu yang sudah terpisah dari ampasnya, namun tahu yang dibuat oleh semua pabrik tahu selalu monoton, tidak ada inovasi baru yang membuat tahu tersebut. Pembuatan tahu skala industri rumah tangga masih banyak kendala yang dihadapi oleh masyarakat, diantaranya segi bahan baku dan permodalan. Pengelolaan permodalan yang tidak dapat meningkatkan perkapita industri tahu rumah tangga akan membuat golung tikarnya pengusaha tahu. Persaingan pada industri makanan sudah sangat ketat, industri rumah tangga lebih kurang diminati daripada pembuatan tahu secara industri besar. Tahu yang dihasilkan dari industri besar dan industri rumah tangga memiliki rasa yang berbeda. Pembuatan tahu dari industri besar biasanya menggunakan pengawet agar tahu tersebut dapat tahan lama, sedangkan industri rumah tangga hanya memanfaatkan bahan dari alam yang tidak ada campuran bahan - bahan sintetik atau pengawet. B. Tujuan Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui cara pembuatan tahu, serta untuk mengetahui pemanfaatan tahu dilihat dari etnobotani, yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok.

MATERI DAN METODE A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum lapangan etnobotani di Desa Kalisari, kecamatan Cilongok adalah wajan, pengaduk, pisau, alat pencetak tahu (dari bambu), rak bambu (untuk menyimpan tahu), tungku. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum lapangan di Desa Kalisari, kecamatan Cilongok ini adalah kacang kedelai, minyak goreng, bilah kayu (bahan bakar), air. B. Metode Tahap - tahap proses pembuatan tahu meliputi: a) Perendaman Pada tahapan perendaman ini, kedelai direndam dalam sebuah bak perendam yang dibuat dari semen. Langkah pertama adalah memasukan kedelai ke dalam karung plastik kemudian diikat dan direndam selama kurang lebih 3 jam (untuk 1 karung berisi 15 kg biji kedelai). Jumlah air yang dibutuhkan tergantung dari jumlah kedelai, intinya kedelai harus terendam semua.

b) Pencucian kedelai Proses pencucian merupakan proses lanjutan setelah perendaman. Sebelum dilakukan proses pencucian, kedelai yang di dalam karung dikeluarkan dari bak pencucian, dibuka, dan dimasukan ke dalam ember-ember plastik untuk kemudian dicuci dengan air mengalir. Tujuan dari tahapan pencucian ini adalah membersihkan biji-biji kedelai dari kotoran-kotoran supaya tidak mengganggu proses penggilingan dan agar kotoran-kotoran tidak tercampur ke dalam adonan tahu. Setelah selesai proses pencucian, kedelai ditiriskan dalam saringan bambu berukuran besar.

c) Penggilingan

Proses penggilingan dilakukan dengan menggunakan mesin penggiling biji kedelai dengan tenaga penggerak dari motor lisrik. Tujuan penggilingan yaitu untuk memperoleh bubur kedelai yang kemudian dimasak sampai mendidih. Saat proses penggilingan sebaiknya dialiri air untuk didapatkan kekentalan bubur yang diinginkan.

d) Perebusan/Pemasakan Proses perebusan ini dilakukan di sebuah bak berbentuk bundar yang dibuat dari semen yang di bagian bawahnya terdapat pemanas uap. Uap panas berasal dari pembakaran bilah kayu hasil sisa rumah tangga. Tujuan perebusan adalah untuk mendenaturasi protein dari kedelai sehingga protein mudah terkoagulasi saat penambahan asam. Titik akhir perebusan ditandai dengan timbulnya gelembunggelembung panas dan mengentalnya larutan/bubur kedelai. Kapasitas bak perebusan adalah sekitar 7,5 kg kedelai.

e) Penyaringan Setelah bubur kedelai direbus dan mengental, dilakukan proses penyaringan dengan menggunakan kain saring. Tujuan dari proses penyaringan ini adalah memisahkan antara ampas atau limbah padat dari bubur kedelai dengan filtrat yang diinginkan. Pada proses penyaringan ini bubur kedelai yang telah mendidih dan sedikit mengental, selanjutnya dialirkan melalui kran yang ada di bagian bawah bak pemanas. Bubur tersebut dialirkan melewati kain saring yang ada diatas bak penampung.

Setelah seluruh bubur yang ada di bak pemanas habis lalu dimulai proses penyaringan. Saat penyaringan secara terus-menerus dilakukan penambahan air dengan cara menuangkan pada bagian tepi saringan agar tidak ada padatan yang tersisa di saringan. Penuangan air diakhiri ketika filtrat yang dihasilkan sudah mencukupi.

Kemudian saringan yang berisi ampas diperas sampai benar-benar kering. Ampas hasil penyaringan disebut ampas yang kering, ampas tersebut dipindahkan ke dalam karung. Ampas tersebut dimanfaatkan untuk makanan ternak ataupun pembuatan krupuk tahu.

f) Pengendapan dan Penambahan Asam Cuka Proses penyaringan diperoleh filtrat putih seperti susu yang kemudian akan diproses lebih lanjut. Filtrat yang didapat kemudian ditambahkan asam cuka dalam jumlah tertentu. Fungsi penambahan asam cuka adalah mengendapkan dan menggumpalkan protein tahu sehingga terjadi pemisahan antara whey dengan gumpalan tahu. Setelah ditambahkan asam cuka terbentuk dua lapisan yaitu lapisan atas (whey) dan lapisan bawah (filtrat/endapan tahu). Endapan tersebut terjadi karena adanya koagulasi protein yang disebabkan adanya reaksi antara protein dan asam yang ditambahkan. Endapan tersebut yang merupakan bahan utama yang akan dicetak menjadi tahu. Lapisan atas (whey) yang berupa limbah cair merupakan bahan dasar yang akan diolah menjadi Nata De Soya. g) Pencetakan dan Pengepresan Proses pencetakan dan pengepresan merupakan tahap akhir pembuatan tahu. Cetakan yang digunakan adalah terbuat dari kayu berukuran 70x70cm yang diberi lubang berukuran kecil di sekelilingnya. Lubang tersebut bertujuan untuk memudahkan air keluar saat proses pengepresan. Sebelum proses pencetakan yang harus dilakukan adalah memasang kain saring tipis di permukaan cetakan. Setelah itu, endapan yang telah dihasilkan pada tahap sebelumnya dipindahkan dengan menggunakan alat semacam wajan secara pelan-pelan. Selanjutnya kain saring ditutup rapat dan kemudian diletakkan kayu yang berukuran hampir sama dengan cetakan di bagian atasnya. Setelah itu, bagian atas cetakan diberi beban untuk membantu

mempercepat proses pengepresan tahu. Waktu untuk proses pengepresan ini tidak ditentukan secara tepat, pemilik mitra hanya memperkirakan dan membuka kain saring pada waktu tertentu. Pemilik mempunyai parameter bahwa tahu siap dikeluarkan dari cetakan apabila tahu tersebut sudah cukup keras dan tidak hancur bila digoyang.

h) Pemotongan tahu Setelah proses pencetakan selesai, tahu yang sudah jadi dikeluarkan dari cetakan dengan cara membalik cetakan dan kemudian membuka kain saring yang melapisi tahu. Setelah itu tahu dipindahkan ke dalam bak yang berisi air agar tahu tidak hancur. Sebelum siap dipasarkan tahu terlebih dahulu dipotong sesuai ukuran. Pemotongan dilakukan di dalam air dan dilakukan secara cepat agar tahu tidak hancur.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan hasil yang didapat dari praktikum lapangan etnobotani di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok adalah: a. b.

Keterangan gambar : a. Pohon aren yang produktif b. Pohon aren menyediakan 2 tandan bunga jantan yang siap diperlakukan sebelum penyadapan. Nira yang disadap pagi hari (waktu lebih lama) menghasilkan satu liter nira, dan yang disadap pada sore hari menghasilkan setengah liter nira. Manggar (bunga kelapa) tumbuh setiap satu bulan sekali, dan banyaknya nira yang dihasilkan tergantung panjang atau pendeknya manggar. Rasa gula kelapanya manis. Warna gulanya coklat matang. Kadar pohon kelapa yang muda, warna nira putih adalah 15%. Kadar nira mentah (pohon kelapa yang tua), warna nira agak kemerah-merahan dan mengental adalah sekitar 20-30%.

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Gambar 4

Gambar 5

Gambar 6

Gambar 7

Gambar 8

Gambar 9

Gambar 10

Gambar 11 Keterangan gambar: 1. Kulit pohon selasih 2. Kulit pohon selasih di masukan ke dalam air, hasil air tersebut dijadikan bahan pengawet nira. 3. Air kapur. 4. Air kapur dan kulit manggis sebagai bahan pengawet nira. 5. Bumbung yang digunakan untuk tempat nira. 6. Pohon kelapa yang akan dipasang bumbung. 7. Tungku untuk memasak nira. 8. Nira dimasak sampai mengental. 9. Alat pencetak gula. 10. Nira yang telah diolah menjadi gula kelapa.

11. Hasil olahan dari gula kelapa yang disebut cimplung.

B. Pembahasan Pembuatan tahu yang bertempat di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas sudah sangat dikenal oleh masyarakat sekitar. Varietas kedelai yang digunakan untuk pembuatan tahu yaitu kedelai amerika dan lokal. Perbedaan antara kedelai lokal dan amerika adalah ketahanan biji kedelai yang lebih tinggi. Kedelai amerika lebih unggul daripada kedelai lokal. Hasil produksi yang dihasilkan dari Desa Kalisari adalah pembuatan tahu dan krupuk tahu. Pemasaran produk terdapat pada daerah Banyumas dan sekitarnya. Pembuatan tahu menghasil limbah tahu yang angat banyak sehingga memerlukan memanfaatan kembali. Limbah tahu di Desa Kalisari terbagi menjadi dua, berbentuk padatan dan cairan. Pemanfaatan limbah tahu padatan di Desa Kalisari menjadi krupuk tahu dan pemanfaatan limbah tahu cairan di Desa Kalisari menjadi biogas. Nira diperoleh dari tandan bunga, sehingga bila kelapa menghasilkan nira, dia tidak lagi berikan buah. Pembuatan gula kelapa merupakan suatu usaha untuk meningkatkan pendapatan petani, bahkan dengan menghasilkan gula kelapa pendapatannya dapat jauh lebih meningkat ketimbang bila menjual kelapa segar, bila harga kelapa lagi merosot di pasaran. Jenis gula kelapa berdasarkan bentuknya ada gua semut, gula petak dan gula tempurung. Salah satu petani gula aren yang berada di kawasan Purwokerto yaitu berada di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok dengan petani gula aren yaitu Bapak Tarkim dan

Ibu Sainah. Proses pembuatannya hampir sama, hanya saja ada beberapa tambahan perlakuan guna menghasilkan produk tersebut. Nira aren adalah hasil utama dari pohon aren yang akan diolah untuk aneka macam produk, utamanya adalah diolah menjadi gula. Mutu nira sangat menentukan mutu dari gula. Nira yang berkualitas tinggi akan menjadi kunci usaha gula aren. Nira aren dihasilkan dari penyadapan atau pengirisan tandan buah jantan atau tandan betina dari pohon aren. Biasanya para penyadap aren melakukan penyadapan dan pengambilan nira sebanyak 2 (dua) kali dalam sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Pada pagi hari nira diambil antara jam 05.00 sampai jam 07.00 dapat menghasilkan satu liter nira. Pada sore hari nira diambil sekitar jam 17.00 sampai jam 19.00 dapat menghasilkan setengah liter nira. Banyaknya nira yang dihasilkan tergantung panjang atau pendeknya manggar (bunga kelapa). Nira aren harus berkualitas baik, maka untuk diolah menjadi gula, terasa manis dan tidak berubah sifat. Biasanya nira aren cepat sekali mengalami perubahan menjadi masam karena proses fermentasi telah terjadi. Proses fermentasi mulai terjadi pada saat nira keluar dari tandan pohon aren atau bagian yang teriris lainnya. Beberapa bahan secara tradisional juga ditambahkan untuk menghambat terjadinya fermentasi pada nira yang tertampung di wadah penampungan seperti : Kulit buah manggis (Garcinia mangostana, L.). Kulit pohon manggis. Kulit buah langsat/ duku (Lansium domesticum). Kulit pohon langsat/duku. Kayu angin (Usnea dasypoga). Kayu atau getah nangka (Artocarpus heterophyllus). Getah pepaya (Carica papaya) dengan Sistein. Sabut kelapa (Cocos nucifera). Kulit pohon kosambi (Schleichera oleosa, MERR). Kulit batang laru atau raru atau kawao (Millettia Sericea). Kulit kayu atau akar nirih (Xylocarpus spp.) atau sejenis manggis hutan (Garcinia). Akar kayu wangi. Kulit batang dan daun api-api (Avicennia germinans). Cacahan biji buah picung atau luwak (Bhs. Jawa) (Pangium edule Reinw). Kapur atau gamping atau enjet.

Asap cair tempurung kelapa dan yang lainnya masih banyak. Apabila produk utama yang dikehendaki adalah gula, maka penanganan nira

agar tidak cepat mengalami fermentasi menjadi kunci bagi usaha bisnis gula aren. Demikian upaya-upaya pengawetan nira aren menjadi sangat penting supaya kualitas produk gula yang dihasilkan bisa maksimal. Kalau yang dikehendaki adalah produk gula organik, maka pengawetan juga harus diusahakan dengan cara dan bahan yang alami, bukan dari bahan pengawet kimia atau yang tidak aman bagi bahan pangan. Produk organik semakin menjadi trend karena aman bagi kesehatan manusia. Selain itu nilai harga produk oganik juga lebih mahal dan memliki nilai keunggulan kompetitif yang tinggi dibanding produk yang tidak organik. Akumulasi bahan-bahan kimia yang terkonsumsi kedalam tubuh manusia akan menimbulkan permasalahan kesehatan di kemudian hari. Ada beberapa upaya untuk mempertahankan mutu nira tetap baik bertahan seperti pada saat nira baru keluar dari jaringan pohon yang terluka, yaitu berasa manis, segar dan berkesan aroma alam yang khas. Untuk mencari gambaran cara mempertahankan mutu, sebaiknya kita mencoba merunut dulu, sejak kapan perubahan mutu nira itu terjadi. Pertama, upaya mengurangi terjadinya kontak antara nira dengan udara di sekitarnya sejak setelah nira keluar dari tandan pohon aren. Selain udara itu membawa oksigen, udara juga menjadi vector yang membawa beraneka macam mikroba yang berhamburan di alam bebas. Aneka mikroba ini saking kecilnya terbawa oleh udara yang mengalir atau angin yang bergerak atau berhembus yang akhirnya terikut aneka mikroba dari tempat satu ke tempat lain. Apalagi jika keadaan kebun kotor atau berdebu, karena keadaan yang panas dan kering, semak belukar dan gulma yang tumbuh di sekitar pohon Aren, atau kegiatan manusia atau hewan yang lain di sekitar pohon. Maka apabila angin berhembus dan bersinggungan dengan nira yang baru menetes atau nira yang tertampung di wadah, maka nira akan terkontaminasi dengan berbagai mikroba alam. Keadaan dedaunan yang ada disekitarnya yang tidak sehat, kusam dan berjamur akibat dari pohon yang tidak terkena basuhan air hujan dan terpaan sinar matahari langsung, keadaan kebun yang terbiarkan tidak pernah diurus atau dibersihkan. Kalau di sekitar tempat penampungan nira aren ini keadaannya seperti tadi, maka kemungkinan terfermentasi akan semakin besar. Keadaan ini akan menjadi vektor bagi mikroba untuk berkembang biak. Jika udara bersih atau kontak dengan

udara kotor sangat minimal, maka nira akan lebih aman dari kemungkinan terkontaminasi dengan aneka mikroba yang berakibat terjadinya fermentasi. Oleh karena itu, keadaan ini seharusnya bisa dihindari jika kebun terawat secara periodik, dijaga kebersihan dan kesehatan kebun serta tanamannya. Kedua, selanjutnya nira yang keluar dari bagian sayatan atau tandan bunga yang terluka akan jatuh dan berkontak dengan wadah penampung nira atau media penghubung menuju wadah penampungan nira. Wadah penampungan nira yang bersih dan sudah dilakukan upaya disinfektasi atau treatment anti mikroba maka akan dapat menghambat nira untuk terfermentasi. Oleh karena itu, para penyadap nira aren biasanya mencuci wadah penampung nira dengan air bersih, malah kadang-kadang membilasnya dengan air panas, atau mengasapi wadah di atas perapian atau pipa penyalur asap dari tungku atau cerobong pemasakan gula. Upaya sederhana ini secara tradisi sudah bisa menghambat terjadinya fermentasi pada nira aren, sehingga nira menjadi awet segarnya dan pH (keasamannya) dapat dipertahankan selama pemungutan dan pengangkutan menuju tempat pemasakan nira menjadi gula. Kecepatan fermentasi yang terjadi pada nira akan menyebabkan mutu nira untuk Gula ini menurun, karena sebagian gula dirombak oleh enzim yang dihasilkan dari proses fermentasi menjadi asam dan alcohol. Kejadian ini menyebabkan Nira Aren menjadi masam (kecut) dan sedikit pahit. Semakin lama proses fermentasi ini terjadi maka semakin banyak zat asam yang terbentuk, semakin banyak terjadi perombakan gula, artinya gula semakin sedikit, dengan demikian angka pH (keasaman) semakin rendah. Nira yang baru keluar dari tandan bunga aren biasanya mempunyai nilai keasaman antara 6,5 sampai 7 (netral). Proses fermentasi yang terjadi pada nira bisa menyebabkan pH nira turun dari angka tersebut. Beberapa pabrik gula yang mengolah nira biasanya masih menerima nira dari petani atau memberi toleransi pada nira aren sampai pada pH 6. Di bawah pH 6 nira sudah dianggap tidak baik untuk diolah menjadi gula dengan mutu yang baik. Jika pH nira sudah dibawah 6, maka sebaiknya tidak diolah menjadi gula, tetapi nira bisa diolah menjadi Bioethanol, Saguer atau cuka. Kandungan yang terdapat pada nira sangat banyak. Nira merupakan makanan yang sangat bergizi sebab mempunyai kandungan air sebesar 75 - 90K zat padat total sebesar 15 -19,7% yang meliputi kadar sukrosa sebesar 12,3 -17.4%, gula reduksi 0,5

-1%, protein 0,23 - 0,32% dan abu 0,11 - 0,41% (Child, 1974). Karakteristik nira adalah 84,4% air, 14,35 % karbohidrat (terutama sukrosa), 0,66% abu, 0,11% protein, 0,17% lemak dan 0,31% lain-nya (Anonim, 1989). Sedangkan Gautara dan Wijandi (1972) menyatakan bahwa nira kelapa segar mengandung gula sebanyak 14 -15 %, 8 21% diantaranya adalah sukrosa. Mutu gula kelapa dibagi dalam : 1. Mutu Super, adalah gula kelapa yang keras dan berwarna cerah coklat kekuning-kuningan. 2. Mutu A, adalah gula kelapa yang keras dan berwarna ke-coklat-coklatan; dan 3. Mutu B, adalah gula kelapa yang agak lembek, berwarna coklat ke-hitamhitaman. Berdasarkan pengamatan secara langsung di lokasi pembuatan gula aren yang berada di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, proses pembuatan gula aren masih dilakukan secara tradisional. Prosesnya tidak menggunakan bahan kimia mulai dari bahan pewarna yaitu menggunakan cangkang kulit manggis, bahan pengeras dari kulit celastri. Hal ini sesuai dengan aspek dari etnobotani yaitu pemanfaatan tanaman yaitu dari pohon aren atau pohon kelapa untuk dijadikan bahan makanan berupa gula aren, tanpa menggunakan bahan kimia. Semua pemanfaatannya benar-benar alami dari alam serta masih secara tradsional. Nira merupakan cairan bening yang terdapat dalam mayang kelapa yang pucuknya belum membuka. Nira ini didapatkan dengan cara penyadapan. Nira kelapa diperoleh dengan cara menyadap nira yang keluar dari tongkol bunga kelapa. Penyadapan nira kelapa biasanya dilakukan pada pagi hari atau sore hari. Bila penyadapan dilakukan pada pagi hari, maka pada sore harinya nira yang dihasilkan sudah dapat diambil. Sedangkan bila penyadapan dilakukan pada sore hari, maka pada pagi harinya nira hasil sadapan sudah dapat diambil. Satu buah mayang dapat disadap selama 10-35 hari bergantung kondisi pohon kelapa, namun produksi optimal hanya selama 15 hari. Hasil yang diperoleh sekitar 0,5-1 liter nira setiap mayang, atau sekitar 2-4 liter nira per pohon setiap harinya. Beberapa faktor yang mempengaruhi banyaknya nira yang diperoleh adalah sebagi berikut: 1. Iklim Penyadapan yang dilakukan pada musim penghujan akan mendapatkan nira lebih banyak daripada penyadapan pada musin kemarau. 2. Umur Tanaman

Penyadapan mayang dari pohon kelapa yang muda akan di dapatkan nira yang lebih banyak daripada penyadapan mayang dari pohon kelapa yang sudah tua. Hal tersebut diperkirakan karena perbedaan proses pertumbuhan tanaman. 3. Keterampilan Menyadap 4. Frekuensi Penyadapan Pohon kelapa tidak selamanya secara terus-menerus disadap. Frekuensi penyadapan dapat berupa setahun menyadap, 3-4 tahun kemudian tidak disadap dan dibiarkan menghasilkan buah kelapa, tahun berikutnya disadap lagi, dan seterusnya.

KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum lapangan di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, antara lain : 1. 2. 3. Nira aren dapat menghasilkan gula aren yang sangat bermanfaat dan banyak terdapat kandungan gizi yang baik pada nira aren. Salah satu produksi gula aren yang terdapat di Purwokerto terdapat di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok. Pemafaatan nira aren untuk diolah sebagai gula aren masih secara tradisional dan menggunakan bahan alami mulai dari bahan pewarna dari cangkang kulit manggis dan bahan pengeras gula aren dari kulit celastri. 4. Selain dimafaatkan sebagi gula aren, nira aren dapat menjadi bahan makanan seperti singkong rebus dengan rasa yang manis gula aren (dalam bahasa Jawa dikenal dengan Cimplung), pisang rebus, kelapa sedang tidak terlalu tua yang diaduk secara bersamaan saat perebusan nira aren untuk menjadi gula aren maka diperoleh rasa yang manis dari gula aren (dalam bahasa Jawa dikenal dengan Anggleng). DAFTAR PUSTAKA Dinas Perkebunan Dati I Kalimantan Barat. 1993. Membuat gula kelapa. Balai Informasi Pertanian Irian Jaya. Jayapura. Kusumanto, Dian. 2010. Mencari cara pengawetan alami nira aren untuk produksi gula organik. http://kebunarean.blogspot.com. Diakses tanggal 14 Nopember 2010.