Anda di halaman 1dari 20

DIBALIK PEKERJA KEMANUSIAAN

Tugas Akhir Kualitatif

Nama

: Ginda Rahmita Sari

No. Peserta : 07/03/2011

Program Pra-Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH Dengan berbagai macam bencana yang terjadi pada berbagai belahan dunia dalam skala kecil maupun besar, kita semakin sering mendengar istilah bantuan kemanusiaan atau humanitarian aid. Dari Somalia, Indonesia hingga Amerika pernah menerima bantuan kemanusiaan akibat bencana yang menimpa umat manusia. Dari bencana kelaparan, perang, banjir, gempa, tsunami, gunung meletus dan berbagai macam bencana lainnya menjadi fokus dari pemberian bantuan kemanusiaan. Bantuan kemanusiaan berbeda dengan bantuan sosial atau bantuan

pengembangan. Agar lebih memahami perbedaan antara bantuan kemanusiaan dan bantuan sosial maka diperlukan pengertian definisi bantuan kemanusiaan yaitu, sebagai berikut: Humanitarian aid is material or logistical assistance provided for humanitarian purposes, typically in response to humanitarian crises including natural disaster and man-made disaster. The primary objective of humanitarian aid is to save lives, alleviate suffering, and maintain human dignity. It may therefore be distinguished from development aid, which seeks to address the underlying socioeconomic factors which may have led to a crisis or emergency. (source Wikipedia) Berdasarkan kutipan diatas bantuan kemanusian diberikan untuk tujuan kemanusiaan terutama pada saat krisis kemanusiaan, termasuk bencana alam dan bencana akibat manusia. Tujuan utama dari bantuan kemanusiaan adalah menyelamatkan hidup, mengentaskan penderitaan dan mempertahankan harga diri manusia. Bantuan kemanusiaan dibedakan dari bantuan pengembangan, yang tertuju pada faktor sosioekonomi, yang dapat menimbulkan krisis atau situasi darurat.

Dunia kemanusiaan pada saat ini tidak hanya berisi para sukarelawan, namun telah menjadi bagian dari dunia bisnis, dimana orang bekerja dan diberikan gaji atau upah berdasarkan jenis pekerjaan yang dilakukan seperti layaknya melakukan pekerjaan profesional. Jenis pekerjaan yang dapat dilakukan pun beragam dari segi bidang kesehatan fisik dan mental, pangan, sipil dan berbagai macam lainnya. Mereka yang bekerja dalam dunia kemanusiaan disebut sebagai humanitarian aid worker atau pekerja bantuan kemanusiaan. Kesulitan yang dihadapi pekerja bantuan kemanusiaan lebih kompleks dibandingkan dengan pekerja profesional lainnya. Mereka tidak hanya mempertaruhkan keprofesionalan pekerjaan namun terkadang mereka juga harus mempertaruhkan nyawa mereka. Daerah-daerah bencana yang mereka datangi memiliki situasi yang berbeda-beda, ada yang memiliki resiko rawan bencana, rawan penyakit, rawan konflik sosial hingga daerah peperangan. Setiap tahun tercatat sejumlah kematian pekerja bantuan kemanusiaan di berbagai Negara dengan berbagai sebab. Walau demikian, mereka yang memilih untuk bekerja sebagai pekerja bantuan kemanusiaan telah mengetahui resiko tersebut dan tetap memilih untuk bekerja dalam dunia bantuan kemanusiaan. Mereka yang memilih untuk terjun kedalam dunia kemanusiaan pada umumnya ingin mencari makna hidup dalam pekerjaan mereka dengan membantu sesama manusia yang dirundung kesulitan dan sekaligus memenuhi kebutuhan hidup mereka. Banyak dari pekerja bantuan kemanusiaan yang memulai awal karir mereka sebagai sukarelawan namun ada pula yang langsung bekerja sebagai pekerja profesional.

B. RUMUSAN MASALAH

Setelah melihat latar belakang yang ada dan juga untuk menghindari kemungkinan terjadinya kerancuan, penulis akan diteliti lebih lanjut adalah sebagai berikut :
1. Apakah yang menjadi sumber motivasi dari para pekerja bantuan kemanusiaan?

akan membatasi dan merumuskan

permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini. Adapun rumusan masalah yang

2. Bagaimana para pekerja bantuan kemanusian mendapatkan makna kehidupan mereka?


3. Apakah pekerjaan mereka dapat memberikan kepuasan bagi mereka?

C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui motivasi para pekerja bantuan kemanusiaan 2. Untuk mengetahui makna kehidupan para pekerja bantuan kemanusiaan
3. Untuk mengetahui apakah pekerjaan mereka merupakah salah satu sumber

kepuasan hidup mereka Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Peneliti a. Untuk mengetahui motivasi pekerja bantuan kemanusiaan
b. Diharapkan agar dapat mengembangkan motivasi diri yang baik dalam

pekerjaan apapun

2. Keilmuan Diharapkan mampu memberikan sumbangan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai dunia pekerja bantuan kemanusiaan, dan untuk

mengetahui apakah pekerjaan dapat menjadi salah satu sumber dari kepuasan hidup.

BAB II KAJIAN TEORI

A. PENGERTIAN MOTIVASI

Terdapat banyak teori motivasi yang telah berkembang pada saat ini. Salah satu yang terkenal adalah teori motivasi Abraham Maslow yang dikenal dengan teori hirarki kebutuhan. Menurut Maslow, motivasi seseorang mengikuti hirarki kebutuhannya. Pada level pertama terdapat kebutuhan fisiologis yaitu kebutuhan dasar manusia seperti makan, minum, tidur serta sex. Pada level kedua terdapat kebutuhan akan keamanan, seperti kebutuhan akan tempat tinggal untuk keamanan dan stabilitas. Pada level ketiga terdapat kebutuhan akan cinta dan menjadi bagian yang merupakan bentuk dari kebutuhan sosial seperti cinta, afeksi, pertemanan, diterima oleh orang lain. Pada level keempat terdapat kebutuhan akan penghargaan, yaitu kebutuhan dihargai dan dihormati oleh orang lain. Pada level terakhir atau kelima adalah kebutuhan untuk mengaktualisasi diri dimana kita membutuhkan untuk mengeluarkan potensi yang ada dalam diri dan menyadari kemampuan diri. Teori motivator-hygiene atau teori penggerak-higienis yang diajukan oleh Frederick Herzberg mengintegrasikan antara motivasi dan kepuasan dalam bekerja. Menurut Herzberg terdapat dua jenis kebutuhan yaitu motivator needs atau kebutuhan penggerak yang menghasilkan kepuasan dalam bekerja dan hygiene needs atau kebutuhan higienis yang menyebabkan ketidakpuasan dalam bekerja. Kebutuhan penggerak merupakan sifat internal dari pekerjaan tersebut. Yang termasuk didalamnya adalah sifat dasar tugas, level dari tanggung jawab, prestasi, pengakuan, promosi, dan perkembangan karir. Kebutuhan penggerak disini mirip dengan kebutuhan aktualisasi pada teori Maslow. Mereka dapat dipuaskan dengan memberikan pekerjaan yang menstimulasi, menantang dan membuai. Ketika kondisi ini tercapai maka akan menghasilkan kepuasan bekerja, namun ketika kondisi ini tidak tercapai, belum tentu mengarah kepada ketidakpuasan bekerja.

Kebutuhan higienis mengarah kepada bentuk dari lingkungan pekerjaan, seperti peraturan perusahaan, supervise, hubungan interpersonal, kondisi bekerja, serta gaji dan tunjangan. Ketika kebutuhan higienis tidak terpenuhi akan menghasilkan ketidakpuasan akan pekerjaan. Kebutuhan higienis mirip dengan teori Maslow akan kebutuhan fisiologis, keamanan dan menjadi bagian. Maslow dan Herzberg menyatakan bahwa kebutuhan dasar harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum menuju kebutuhan lebih tinggi. Namun untuk meningkatkan performa pekerjaan, kebutuhan penggeraklah yang memiliki peran yang penting.

B. PENGERTIAN MAKNA KEHIDUPAN Roy Baumeister menyatakan bahwa penciptaan makna merupakan proses pencarian agar hidup kita masuk akal dan dapat dipahami. Baumeister memberikan empat alasan mengapa manusia membutuhkan makna kehidupan. Yang pertama adalah untuk membantu menemukan tujuan hidup. Kedua, makna hidup memberikan rasa efikasi atau control dimana makna hidup membuat kita dapat mempercayai bahwa kita lebih dari sekedar bidak yang digulirkan dalam peristiwa yang terjadi di dunia. Yang ketiga adalah membantu menciptakan jalan untuk melegitimasi atau menjustifikasi aksi. Yang terakhir adalah makna kehidupan membantu dalam menghadirkan rasa berharga pada diri. Pada berbagai penelitian yang telah dilakukan mengenai makna kehidupan menyimpulkan bahwa manusia harus menciptakan makna kehidupan yang personal dan berdasarkan pengalaman yang mereka alami. Compton, 2005, dalam buku Positive Psychology menyebutkan bahwa ada berbagai macam cara untuk mendapatkan makna dalam kehidupan, namun beberapa cara yang diketahui secara umum dalam mencari makna hidup, adalah sebagai berikut:

1. Harmoni yang luas, koherensi, dan kesesuaian antara berbagai aspek dari

identitas diri dan tujuan dalam hidup. 2. Pengembangan dari skema kehidupan yang konsisten. 3. Kesesuaian dari situasi saat ini dengan tujuan secara keseluruhan.
4. Pelayanan untuk sesama.

5. Berdedikasi untuk misi berharga. 6. Kreatifitas. 7. Hidup secara menyeluruh dan semendalam mungkin. 8. Penderitaan.
9. Pengalaman spiritual.

C. PENGERTIAN KEPUASAN KERJA

Rata-rata manusia dewasa menghabiskan separuh waktu hidupnya dalam pada pekerjaannya. Sehingga seringkali kepuasan kerja menjadi fokus utama penelitianpenelitian psikologi industri dan organisasi. Menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan, kepuasan dalam pekerjaan dapat mempengaruhi kebahagian rumah tangga seseorang yang berakibat pula pada well being atau kesejahteraan diri seseorang. Salah satu definisi kepuasan kerja dari Locke, 1976 mengatakan kepuasan kerja didefinisikan sebagai reaksi emosional yang berasal dari persepsi bahwa pekerjaan seseorang memenuhi atau memperkenankan pemenuhan nilai-nilai penting pekerjaannya. Maka dari itu, kepuasan kerja secara erat terkait dengan nilai dan kebutuhan seseorang. Kepuasan secara lebih lanjut didefinisikan sebagai reaksi emosional yang berasal dari bagaimana kebutuhan kita dipuaskan dan nilai kita tersangga. Menurut Amy Wrzesniewski dan rekan (Wrzesniewski, McCauly, Rozin & Schwartz, 1997) orang-orang melihat profesi mereka dalam 3 cara mendasar. Pertama melihat profesi hanya sebagai pekerjaan dimana mereka hanya fokus untuk

mendapatkan pendapatan finansial dan sebagai keharusan serta memenuhi kebutuhan hidup. Kedua memandang pekerjaannya sebagai karir dimana pekerjaannya merupakan cara untuk memfasilitasi motivasi prestasi, menstimulasi kebutuhan mereka untuk berkompetisi, atau meningkatkan prestise dan kepuasan. Ketiga memandang pekerjaan mereka sebagai panggilan. Untuk orang-orang ini, pekerjaan mereka merupakan sumber dari kepuasan personal. Untuk banyak orang, makna dan kepuasan berasal dari kesadaran atau karena mempercayai bahwa apa yang mereka lakukan memiliki tujuan yang bermanfaat secara sosial, memberi pelayanan bagi diri sendiri maupun orang lain.

BAB III METODE PENELITIAN

1. PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN Metode merupakan aspek yang sangat penting dan berpengaruh dalam menentukan keberhasilan suatu penelitian karena data yang diperoleh akan menjadi gambaran dari objek penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Untuk penelitian yang menggunakan metodologi kualitatif, data diperoleh dengan menggunakan wawancara dan observasi lapangan.

2. KEHADIRAN PENELITI Peneliti bertindak sebagai instrument aktif sekaligus sebagai pengumpul data dengan bertindak sebagai pengamat penuh dan diketahui kehadirannya oleh subjek. Sedangkan instrument pengumpulan data lainnya yang berupa alat-alat bantu dan dokumen digunakan oleh peneliti sebagai penunjang dari keabsahan hasil penelitian sekaligus instrument pendukung.

3. LOKASI PENELITIAN Dalam rangka pelaksanaan penelitian ini peneliti akan mendatangi beberapa lokasi dimana subjek bekerja atau pernah bekerja atau bertempat tinggal yaitu di daerah Kaliurang, Jogjakarta.

4. SUMBER DATA

Data primer penelitian ini didapatkan dengan melakukan wawancara langsung dengan subjek dan juga berdasarkan hasil observasi. Sedangkan data sekunder penelitian ini akan didapatkan melalui dokumentasi dan dokumen lainnya yang dapat mendukung data primer penelitian.

5. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Teknik pengumpulan data pertama yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dengan melakukan pengamatan mendetil dan mencatat hal-hal, perilaku, perkembangan pada subjek. Teknik pengumpulan data kedua adalah dengan melakukan wawancara kepada subjek dengan bertatap muka ataupun menggunakan alat bantu seperti telpon atau media internet skype serta menggunakan alat yang dinamakan panduan wawancara. Teknik pengumpulan data terakhir adalah dokumentasi dimana setiap bahan tertulis atau tercetak yang dapat berupa CV, artikel, jurnal, foto, berita yang tersiar di media cetak ataupun media massa dikumpulkan dan diteliti untuk dijadikan penunjang hasil penelitian.

6. ANALISIS DATA Analisis data merupakan proses mengorganisir dan mengurutkan data kedalam pola, kategori dan menjadi satuan uraian dasar yang membentuk tema dan dapat dirumuskan menjadi hipotesis kerja yang sesuai dengan saran data. Setelah data dari lapangan terkumpul dengan menggunakan metode pengumpulan data, maka selanjutnya peneliti akan mengolah dan menganalisis data dengan menggunakan analisis deskriptif-kualitatif. Analisis deskriptif-kualitatif memberikan gambaran dan interpretasi dari data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek yang diteliti pada saat itu, sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya.

7. PENGECEKAN KEABSAHAN TEMUAN Untuk melakukan pengecekan keabsahan temuan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik triangulasi, sumber, pengecekan anggota, perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, diskusi teman sejawat dan pengecekan kecakupan referensi untuk membuktikan kredibelitas penelitian.

8. TAHAP-TAHAP PENELITIAN Tahap penelitian ini dilakukan dengan menggunakan empat tahapan, yaitu:
1. Tahap sebelum ke lapangan yang meliputi kegiatan penentuan fokus,

penyesuaian paradigma dengan teori, penjajakan alat peneliti, mencakup observasi lapangan dan permohonan ijin kepada subjek yang diteliti, konsultasi fokus penelitian, penyusunan usulan penelitian. 2. Tahap pekerjaan lapangan dilakukan dengan mendatangi tempat kerja atau tempat tinggal subjek, mengamati dan melakukan tanya jawab dengan subjek serta melakukan dokumentasi.
3. Tahap analisis data yang dilakukan akan meliputi data hasil observasi, data

hasil wawancara mendalam dengan subjek dan data yang berasal dari dokumentasi. Kemudian dilakukan penafsiran data sesuai dengan konteks permasalahan yang diteliti. Langkah yang selanjutnya adalah melakukan pengecekan keabsahan data dengan cara mengecek sumber data yang didapat dan mengecek metode perolehan data untuk memastikan kevalidan data sebagai dasar dan bahan dalam menentukan makna data yang merupakan proses penting dalam memahami konteks penelitian yang sedang diteliti.

4. Tahap penulisan pelaporan merupakan penyusunan hasil penelitian yang berasal

dari seluruh rangkaian kegiatan pengumpulan data hingga pemberian makna data.

BAB IV ANALISA DATA

Bab ini akan menguraikan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dan disertai dengan pembahasannya. Hasil penelitian ini berdasarkan pada pengelolahan data dengan menggunakan tehnik analisis data yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya.

A. Analisis Data Pekerja kemanusiaan bukanlah sebuah pekerjaan umum yang dikenal banyak orang. Secara umum para pekerja kemanusiaan diketahui sebagai orang-orang yang bekerja demi peningkatan kesejahteraan manusia yang dilanda bencana. Pekerja kemanusiaan bukanlah relawan yang bekerja tanpa bayaran, mereka adalah pekerja professional yang dipekerjakan berdasarkan kompetensi yang mereka miliki melalui proses seleksi layaknya pekerja profesional lainnya. Subjek dalam penelitian ini merupakan pekerja kemanusiaan yang telah menekuni dunia kemanusiaan lebih dari dua tahun dan pernah menggeluti dunia kerja dengan bekerja pada pada organisasi profit-oriented dan memiliki usaha pribadi. Subjek pertama, Sigit Cahyono yang mulai memasuki dunia kemanusiaan pada tahun 2004, sebagai mahasiswa Atmajaya ditugaskan untuk membantu korban bencana Tsunami Aceh. Subjek kedua, Wahyu Sulastomo direkrut oleh ASB pada tahun 2007 karena pada saat tersebut ASB membutuhkan pegawai yang memiliki pengetahuan mengenai penyandang cacat. Kedua subjek terlibat dalam dunia kemanusiaan dengan cara yang berbeda namun mereka sama-sama terjun kedalam dunia kemanusiaan dimana pekerjaan yang mereka miliki dapat memenuhi kebutuhan mendasar yang sama, yaitu sebagai fasilitator untuk memenuhi kebutuhan secara ekonomi dan sebagai sumber dari

kepuasan personal. Kepuasan personal yang didapatkan dari pekerjaan kemanusiaan tersebut tergambarkan pada pernyataan salah satu subjek seperti kutipan dibawah ini:
saya bisa merasakan kepuasan dengan cara bersosialisasi kepada masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Saya bisa langsung memberikan bantuan kepada masyarakat dengan memberikan apa yang mereka butuhkan. (Sigit Cahyono)

Untuk banyak orang, makna dan kepuasan berasal dari kesadaran atau karena mempercayai bahwa apa yang mereka lakukan memiliki tujuan yang bermanfaat secara sosial, memberi pelayanan bagi diri sendiri maupun orang lain.

Karakteristik Pekerja Kemanusiaan Dibalik persamaan kepuasan personal yang diberikan oleh pekerjaan kemanusiaan, kedua subjek penelitian ini memiliki beberapa persamaan karakteristik yaitu, keduanya sama-sama memiliki rasa senang akan petualangan, rajin, bertanggung jawab, mudah percaya kepada orang lain, memiliki kepedulian tinggi, dan senang berbagi kepada orang yang membutuhkan sedari kecil. Persamaan ini dapat menjadi penjelasan bagi pilihan pekerjaan mereka yang sesuai dengan karakteristik mereka seperti kutipan berikut ini:
gue suka pekerjaan gue karena pekerjaan ini membutuhkan nyali dan tantangannya gede, gak harus duduk dikantor dari jam 8 sampe jam 4 dan gue bisa bantu orang yang memang butuh bantuan (Wahyu Sulastomo)

Faktor persamaan karakteristik ini dapat menjadi acuan dari jenis pekerjaan yang mereka pilih yang seringkali dianggap tidak lazim dalam kacamata masyarakat

pada umumnya. Pekerjaan kemanusiaan yang menyediakan tantangan dan kesempatan untuk menolong banyak orang ini sesuai dengan karakteristik kedua subjek. Tantangan Pekerja Kemanusian Tidak sedikit tantangan yang dihadapi pekerja kemanusiaan dalam melakukan pekerjaannya. Tantangan tersebut dapat berasal dari internal (organisasi maupun diri sendiri) atau eksternal (kondisi lingkungan, masyarakat, atau organisasi lain). Tantangan internal dari organisasi dapat berupa konflik antar rekan kerja, perbedaan visi-misi dalam bekerja, staf yang tidak memiliki kompetensi memadai hingga menghambat keberhasilan program dan berbagai jenis konflik dan permasalahan yang umum terjadi dalam organisasi. Sedangkan tantangan internal dari diri sendiri adalah ketika kekecewaan muncul dalam pekerjaan yang mengakibatkan adanya keinginan untuk mundur dari pekerjaan atau menjadi bermalas-malasan menghindar dari pekerjaan yang seharusnya dikerjakan harus dihadapi oleh diri sendiri. Tantangan eksternal pekerja kemanusiaan dapat berupa daerah yang rawan bencana, rawan konflik, kontur lahan yang sulit dan susah terjangkau oleh transportasi ataupun kesulitan untuk bisa berkomunikasi jika dalam kondisi jarak jauh karena buruknya sinyal, rawan penyakit, masyarakat yang sulit untuk diajak bekerja sama, organisasi lain yang saling bersaing ataupun mempersulit kerjasama yang telah disepakati sebelumnya dan sebagainya. Permasalahan-permasalahan yang harus dihadapi bahkan terkadang harus diselesaikan dengan mengorbankan kepentingan pribadi. Tidak jarang hanya sekali kedua subjek mengeluarkan dana pribadi untuk kelancaran program yang sedang dikerjakan, hal tersebut dapat tergambarkan dengan kutipan berikut ini;
Pernah beberapa kali, nombok hari kerja maupun nombok dana. Hal tersebut biasanya terjadi karena regulasi administrasi keuangan kantor dan juga hasil keputusan di kantor yang tidak tepat menyesuaikan keadaan lapangan yang serba dinamis serta serba tak terprediksi. Saya

memberi contoh tentang pembayaran tukang/pekerja lapangan yang terlambat, kebutuhan konsumsi pekerja lapangan, material yang hilang/rusak (padahal harus dipasang saat itu, tetapi tidak mungkin lagi diminta dari kantor) dan lain-lain (Sigit Cahyono)

Bagi para subjek, tantangan yang mereka hadapi merupakan resiko dari pekerjaan yang mereka pilih namun keluhan-keluhan yang sering terucap dan menjadi sumber utama tekanan bagi mereka adalah konflik internal. Bagi mereka rintangan internal lebih memberatkan dibandingkan dengan rintangan eksternal. Rintangan eksternal lebih dianggap sebagai tantangan yang menarik dan patut untuk dibanggakan. Keputusan untuk keluar dari pekerjaan yang pernah dilakukan oleh Sigit Cahyono berasal dari konflik internal. Begitupula dengan Wahyu Sulastomo yang hampir mengambil keputusan keluar dari pekerjaannya karena adanya konflik internal dalam organisasi maupun konflik dalam diri. Tantangan internal maupun tantangan eksternal akan selalu hadir dalam dunia pekerja kemanusiaan. Walaupun Sigit pernah memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dari salah satu organisasi kemanusiaan namun tidak berarti ia berhenti sebagai pekerja kemanusiaan. Ia masih terus bergelut dalam dunia kemanusiaan sebagai pekerja kemanusiaan dalam organisasi kemanusiaan lainnya karena ia telah menemukan makna dirinya dalam pekerjaan ini.

Makna Pekerja Kemanusiaan Pekerja kemanusiaan bukanlah pekerja tanpa bayaran atau yang dikenal sebagai relawan. Mereka dibayar sesuai dengan standar kompetensi mereka. Perilaku kerja mereka tidak dapat dikatakan sebagai perilaku altruisme karena mereka mendapatkan bayaran atas apa yang mereka lakukan. Namun pekerjaan ini memberikan makna lebih

bagi mereka, bukan hanya sekedar penyambung hidup mereka namun juga penyambung hidup bagi banyak manusia lainnya. Dengan terjun langsung ke lapangan melihat penderitaan yang dialami oleh korban bencana dan mendengar kesedihan hidup yang dirasakan oleh masyarakat yang tertimpa bencana membuat kedua subjek semakin menghargai kehidupan dan merasa keberadaan mereka semakin berarti dengan memberi bantuan kepada korban bencana. Pekerjaan ini memberikan kepuasan lebih yang tidak didapatkan dari pekerjaan umum lainnya, yaitu dapat menyaksikan secara langsung manfaat dari bantuan yang diberikan kepada korban bencana dan menyaksikan bagaimana bantuan tersebut membuat para korban tampak senang dan bahagia karena merasa penderitaan yang sedikit berkurang. Pekerjaan kemanusiaan bukanlah pekerjaan yang bersifat altruistik. Gaji yang diberikan cukup memadai bahkan cukup besar bagi beberapa orang yang memiliki kompetensi tinggi. Pekerjaan ini menjadi semakin menarik bagi kedua subjek karena selain gaji dan tantangan yang cukup tinggi, pekerjaan ini juga memberikan rasa kebanggaan karena dapat membantu banyak orang. Makna dibalik pekerjaan kemanusiaan membuat kedua subjek sebagai pekerja kemanusiaan menghargai hidup mereka karena manfaat yang mereka dapat berikan kepada orang yang membutuhkan.

BAB V KESIMPULAN

Pekerjaan kemanusiaan adalah pekerjaan yang memerlukan kompetensi tertentu dan dibayar sesuai kompetensi yang dimilikinya sesuai dengan bidang keahliannya dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan kemanusiaan. Pekerja kemanusiaan bukanlah relawan yang bekerja tanpa bayaran. Pekerja kemanusiaan adalah para pekerja yang dipekerjakan oleh organisasi kemanusiaan melalui proses seleksi dan ditugaskan sesuai kompetensi dan bidang keahliannya. Mereka bukanlah orang-orang bekerja tanpa pamrih, mereka adalah orangorang yang bekerja dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarga mereka sehari-hari namun sekaligus juga memenuhi kebutuhan instrinsik mereka. Mereka mendapatkan pemenuhan kebutuhan mereka dari pekerjaan mereka sebagai pekerja kemanusiaan. Kedua subjek ini bukanlah orang yang idealis dan sempurna yang rela mengorbankan segala yang mereka miliki demi kebaikan umat manusia. Mereka manusia biasa yang mencari kehidupan yang lebih baik bagi diri mereka dan bagi orang lain. Tantangan dan rintangan yang harus mereka hadapi tidaklah sedikit dan mudah namun tampaknya tantangan dan rintangan tersebut bukanlah halangan yang menghentikan mereka untuk terus terjun dalam bidang kemanusiaan karena pekerjaan mereka tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka secara finansial namun sekaligus memberikan makna kehidupan dan tujuan hidup yang lebih besar. Pekerjaan dalam dunia kemanusiaan telah memberikan kepuasan hidup dan meningkatkan subjective well being pada kedua subjek.

DAFTAR PUSTAKA

Duane Schultz & Sydney Ellen Schultz, Psychology and Work Today, International edition, Pearson Education Inc. 2010 William C. Compton, An Introduction to Positive Psychology, Thomson Wadsworth, 2005 Michael W. Passer & Ronald E. Smith, Psychology the Science of Mind and Behavior, International edition, McGraw-Hill Companies Inc, 2008 http://en.wikipedia.org/wiki/Humanitarian_aid Shinta Nawawi dan Dharmayati Utoyo Lubis, Gambaran Altruisme pada Diri Relawan dalam Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, JPS vol. 13 no. 03 Agustus 2007
.