Anda di halaman 1dari 12

BAB I STATUS PASIEN GYNEKOLOGI

I.

IDENTITAS : Nn. S : 17 tahun : G1P0A0 : Tani : Islam : Karangmangun selomanik 11/ 3 Kaliwiro : Tn. K : 26 tahun : Tani : 03 Juni 2009 : 05 Juni 2009 : Ruang Edelweis Lantai 3 ) : 43 64 91

Nama Pasien Umur Paritas Pekerjaan Agama Alamat Nama Suami Umur Suami Pekerjaan Tanggal Masuk Tanggal Keluar Mondok di bangsal No. RM

II.

ANAMNESA

Keluhan Utama Keluar darah dari jalan lahir sejak 3 hari yang lalu sebelum masuk Rumah Sakit. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dari poli dengan keterangan abortus iminens. Pasien merasa hamil 3,5 bulan dengan keluhan mengeluarkan darah dari jalan lahir sejak 3 hari yang lalu sebelum masuk

Rumah Sakit, warna kecoklat-coklatan, tidak prongkol-prongkol, dan tidak terdapat jaringan. Perut pasien merasa mules. Tadi pagi pukul 06.00 sebelum masuk Rumah Sakit pasien merasa keluar darah agak banyak dari jalan lahir. Riwayat post coitus (-), riwayat pijet (+) pada saat kehamilan 2 bulan. Kenceng- kenceng tidak dirasakan, Air Ketuban tidak dirasa merembes. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat penyakit jantung, asma, hipertensi dan diabetes mellitus pada pasien disangkal. Riwayat Fertilisasi Pasien menikah 1 kali dan sudah menikah 1 tahun. Riwayat Obstetri Anak I : Hamil ini Riwayat Menstruasi Umur Menarche Siklus Lama Banyak darah Keputihan Riwayat Kehamilan Sekarang Hari Pertama Haid Terakhir : 11 Pebruari 2009 Hari Perkiraan Lahir Umur Kehamilan : 18 Oktober 2009 : 16 minggu + 1 hari : 13 tahun : 21 hari, teratur : 7 hari : dalam batas normal : kadang- kadang

Riwayat ANC : Teratur tiap bulan, sejak awal kehamilan Riwayat KB Pasien belum pernah memakai KB sebelumnya

III.

PEMERIKSAAN FISIK : Baik, sadar, tidak anemis : 120/80 mmHg Nadi : 84x/menit Respirasi : 20x/menit Suhu : 36,8C

Keadaan Umum Vital Sign

Berat Badan Tinggi Badan

: 153 cm : 48 kg

a.

Status Generalis : Konjuntiva tidak anemis, pupil isokor : Tidak ada pembesaran kelenjar limfonodi dan kelenjar tiroid

Kepala Leher

Dada : Pernafasan kanan dan kiri simetris, tidak ada retraksi, tidak terdapat ronkhi, tidak terdengar wheezing. Abdomen Ekstremitas : Tidak ada sikatrik, perut terlihat membesar sesuai dengan usia kehamilan. : tidak ada edema pada kedua kaki. Tidak terdapat penurunan turgor kulit.

Status Ginekologis Inspeksi : vulva/uretra tenang, tak tampak tanda peradangan, tak tampak benjolan, discharge, perdarahan pervaginal minimal ( flek-flek ) : abdomen supel, TFU dipertengahan antara umbilicus dan simfisis, nyeri tekan (-) : vulva/uretra tenang, dinding vagina licin, servik utuh mencucu, OUE tertutup, tampak darah keluar dari OUE, jaringan (-), Cu sekepala bayi, parametrium kanan/ kiri lemas, air ketuban (-)

Palpasi Inspekulo

PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Darah WBC RBC HGB HCT PLT BT CT HbsAg Golongan Darah 15,09x 103 3,67x106 10,9 g/dl 32,40 % 363x103 2 40 4 55 -/ Negatif A

Hasil USG Vesica Urinaria : Terisi Urine

Uterus : Membesar berisi GS dengan janin didalamnya, DJJ +, gerakan +, UK CRL = 81. 1 mm, Letak di corpus uteri Placenta anterior janin menutupi OUI seluruhnya Kesan ( Ab imminens? ) DIAGNOSIS Abortus Imminens TERAPI Bed Rest total Premaston 1 x 1 tablet Asam Mefenamat 3 x 500 mg Fundamin E 1 x 1 Folavit 1 x 1 : Kehamilan intra uterine 14 mgg 1 hari dengan placenta letak rendah

USG Staff Observasi dan Follow up 04 Juni 2009 Vital Sign: TD : 110/70 mmHg Nadi : 80x/menit KU Keluhan Respirasi : 20x/menit

Suhu :37.0oC

: Baik, cm, tidak Anemis : darah masih keluar dari jalan lahir sedikit

Palpasi Abdomen : Flat, Supel, NT (-), MT (-) TFU dipertengahan antara umbilicus dan simfisis PPV : (+) sedikit

BAB/ BAK: (+) TX : Bed Rest total

Premaston 3 x 1 tablet Asam Mefenamat 3 x 500 mg Folavit 1 x 1 Fundamin E 1 x 1 05 Juni 2009 KU : Baik, CM, Tidak Anernis Vital Sign Nadi :80x/menit TD : 110/70 mmHg Suhu : 36C Respirasi : 20x/menu

Keluhan : darah masih keluar dari jalan lahir sedikit, perut mules (+) PalpasiAbdomen : Supel, NT (-), MT (-) TFU dipertengahan antara umbilicus dan simfisis, DJJ (+) 160 x / menit, Gerakan janin (+) PPV BAB/ BAK: (+) : (+) sedikit

DX : Abortus Imminens TX : Bed Rest total Premaston 3 x 1 tablet Asam Mefenamat 3 x 500 mg Folavit 1 x 1 Fundamin E 1 x 1

06 Juni 2009 KU Vital Sign Nadi : 84x/menit Keluhan : (-) umbilicus dan : Baik, CM, Tidak Anemis : TD : 110/70 mmHg Suhu : 36,8C Respirasi : 20x/menit

Palpasi Abdomen : Supel, NT (-), MT (-),TFU dipertengahan antara simfisis, DJJ (+) 140 x / menit, Gerakan janin (+) PPV (-) BAB/ BAK: (+) DX TX : Abortus Imminens : BLPL

Bed Rest total Premaston 3 x 1 tablet Asam Mefenamat 3 x 500 mg Folavit 1 x 1 Fundamin E 1 x 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. The Word Health mendefinisikan abortus adalah suatu ekspulsi atau ekstraksi dari sebuah embryo atau fetus dengan berat 500 gram atau kurang, usia kehamilan kurang dari 20 minggu1.

Etiologi Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab, yaitu. 1. a. Faktor janin Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi

Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat. Faktorfaktor yang dapat menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut : a) Perkembangan zigot yang abnormal

Hertig dan Sheldon (1943) menjumpai ovum patologis (blighted) yang separuh mudigah mengalami degenerasi atau tidak sama sekali dalam suatu analisa terhadap 100 abortus spontan. Poland dkk. (1981) menemukan disororganisasi morfologis pertumbuhan pada 40% abortus spontan sebelum minggu ke 20. Dari mudigah-mudigah yang menjalani pemeriksaan biakan jaringan dan analisis kromosom, 60% memperlihatkan kelainan kromosom. b) Abortus aneuploidi

Seperempat dari kelainan kromosom dapat disebabkan oleh karena kelainan gametogenesis ibu dan 5 % oleh kesalahan ayah, hal ini dilaporkan oleh Jacobs dan Hasold (1980), antara lain: Trisomi autosom Merupakan kelainan kromosom yang paling sering di jumpai pada trimester pertama. Monosomi

Kelainan kromosom yang memungkinkan lahirnya bayi perempuan hidup (sindrom turner) Kelainan struktural kromosom Jarang menyebabkan abortus dan baru teridentifikasi setelah diketemukan teknik pemitaan. Sebagian dari bayi ini lahir hidup dan mungkin normal. c) Abortus Euploid

Tiga perempat dari abortus aneuploidi terjadi sebelum minggu ke-8, sedangkan abortus euploidi memuncak pada usia gestasi 13 minggu (Kaji dkk. 1980)2. 2. a. Faktor Ibu lnfeksi

Temmeran, dkk (1992) melaporkan bahwa abortus spontan secara independen berkaitan dengan antibodi virus imunodefisiensi manusia 1 (HIV 1) dalam darah ibu, seroreaktifitas sifilis pada ibu, kolonisasi vagina ibu oleh streptokokus group B. Bakteri, virus, atau plasmodium masuk melalui plasenta ke janin, sehingga dapat menyebabkan kematian janin. b. Kelainan endokrin

v Hipotiroidisme v Diabetes Melitus v Defisiensi Progesteron c. Faktor lingkungan dan pemakaian obat

v Radiasi v Toksin lingkungan v Kontrasepsi v Tembakau / rokok v Alkohol v Kafein d. Nutrisi

e. f. g. h. i. j. 3.

Faktor imunologis Trombofilia herediter Gamet yang menua Laparatomi Trauma fisik Cacat uterus Faktor plasenta

Endartiritis dapat terjadi dalam villi koriales dan menyebabkan oksigenisasi plasenta terganggu, sehingga dapat menggangu pertumbuhan dan kematian janin3.

Patofisiologi Abortus biasanya disertai dengan perdarahan di dalam desidua basalis dan perubahan nekrotik dalam jaringan-jaringan yang berdekatan dengan tempat pendarahan. Ovum dapat terlepas sebagian atau seluruhnya dan mungkin menjadi benda asing dalam uterus, sehingga merangsang uterus berkontraksi dan mengakibatkan pengeluaran janin. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi itu biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi korialis belum menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan 8 minggu sampai 14 minggu villi korialis menembus desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu ke atas umumnya yang dikeluarkan setelah ketuban pecah adalah janin, disusul beberapa waktu kemudian plasenta. Peristiwa abortus ini menyerupai persalinan dalam bentuk miniatur4. Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Adakalanya kantong amnion kosong atau tampak didalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas (blighted ovum) mungkin juga janin telah mati lama (missed abortion)5.

Klasifikasi Ada berbagai jenis abortus, yaitu 1. Menurut jenisnya : : abortus yang berlangsung tanpa tindakan

v Abortus Spontan

v Abortus buatan : pengakhiran produk kehamilan sebelum umur kehamilan 20 minggu akibat tindakan. Terbagi dua yaitu ; 2. Abortus provokatus terapeutik : abortus buatan yang dilakukan atas tindakan medik Abortus provokatus kriminalis : abortus buatan yang dilakukan tanpa indikasi medik Menurut derajatnya

v Abortus iminens : perdarahan yang berasal dari uterus pada usia kehamilan yang kurang dari 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih didalam uterus dan tanpa adanya dilatasi serviks v Abortus insipien : perdarahan yang berasal dari uterus pada usia kehamilan, yang kurang dari 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih di uterus. v Abortus inkompletus : pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada usia kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa yang tertinggal di uterus. v Missed abortion : kematian janin sebelum usia 20 minggu tetapi tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. 3. Abortus irfeksiosus

Abortus yang disertai infeksi pada genital 4. Abortus septik

Abortus infeksiosus berat yang disertai penyebaran kuman atau toksin kedalam peredaran darah atau peritoneum. 5. Abortus habitualis

Abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut5. Diagnosis Abortus harus diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh adanya perdarahan pervaginam setelah mengalami haid terlambat, sering pula terdapat rasa mules. Kecurigaan tersebut diperkuat dengan ditentukannya kehamilan muda pada pemeriksaan bimanual dan dengan tes kehamilan secara biologic atau imunologik bilamana hal itu dikerjakan. Harus dipertimbangkan juga macam dan banyaknya perdarahan, pembukaan serviks, dan adanya jaringan dalam kavum uteri atau vagina6. Komplikasi

1.

Perdarahan

Kematian penderita terjadi karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya. Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian tranfusi darah. 2. Perforasi

Sering terjadi sewaktu dilatasi dan kuretase dilakukan oleh tenaga yang tidak ahli. 3. Infeksi

Infeksi sering terjadi pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan anti sepsis. 4. Syok

Syok dapat terjadi karena perdarahan dan karena adanya infeksi berat5.

Penanganan Penanganan pada abortus iminen adalah sebagai berikut: 1. Istirahat total sampai 2-3 hari bebas perdarahan. Istirahat atau tidur berbaring dapat menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik. 2. Jangan melakukan aktifitas fisik yang berlebihan atau berhubungan seksual.

3. Pemberian obat-obatan hormonal dan anti spasmodika diharapkan untuk mencegah keluarnya fetus. 4. Pemeriksaan USG sangat penting dilakukan untuk menilai kondisi janin atau apakah janin masih hidup3.

PEMBAHASAN

Pada kasus ini diagnosisnya adalah abortus iminens, hal ini berdasarkan kepada : Anamnesa :

seorang G1P0A0 usia 17 tahun merasa hamil 3,5 bulan, datang dengan keluhan mengeluarkan darah dari jalan lahir 3 hari yang warna kecoklat-coklatan, tidak prongkol-prongkol, dan tidak terdapat jaringan. Perut pasien merasa mules. Tadi pagi pukul 06.00 sebelum masuk Rumah Sakit pasien merasa keluar darah agak banyak dari jalan lahir. Riwayat hubungan suami istri sebelum perdarahan tidak ada. Pasien memiliki riwayat pijat saat usia kehamilan 2 bulan. Pemeriksaan fisik: Pasien tidak anemis yang menandakan pasien tidak mengeluarkan banyak darah. Pada palpasi abdomen didapatkan perut supel, nyeri tekan (-), masa tumor (-), tinggi fundus uteri 2 jari dibawah pusat. Pada pemeriksaan inspekulo didapatkan vulva uretra tenang, dinding vagina licin, serviks utuh mencucu. OUE tertutup, tampak darah keluar dari OUE, jaringan (-), Cu sekepala bayi, parametrium kanan/ kiri lemas, air ketuban (-). Dari pemeriksaan fisik ini disimpulkan kemungkinan perdarahan tidak banyak, besar uterus sesuai dengan umur kehamilan, dan OUE tertutup menunjukkan hasil konsepsi belum keluar. Dari pemeriksaan penunjang yaitu laboratorium dan darah rutin, didapatkan hasil yang menunjukkan angka yang normal pada hemoglobin, jumlah leukosit dan angka trombosit. Hal ini menunjukkan tidak adanya infeksi sistemik, gangguan karena jumlah trombosit, dan perdarahan yang banyak. Berdasarkan kesimpulan amanmnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dapat disimpulkan bahwa diagnosa abortus iminens yang mungkin disebabkan karena faktor trauma atau infeksi lokal. Untuk penanganan dari kasus ini adalah bed rest total, observasi perdarahan, dan pemeriksaan USG. Terapi yang diberikan adalah Premaston 1 x 1 tablet, Asam Mefenamat 3 x 500 mg, Folavit 1 x 1, Fundamin E 1 x 1.