Anda di halaman 1dari 165

Masa pra-Permesta

Maret 1950 Ny. A.M. Waworuntu menjadi Waikota Manado untuk tahun 1950-1951. Pada pemilihan umum di kota Manado pada akhir tahun 1949, Ny. A.M. Waworuntu terpilih menjadi Walikota Manado, dan baru disahkan pada bulan Maret 1950. Dengan demikian Ny. Waworuntu adalah walikota wanita pertama di Indonesia. Sejarah kota Manado dimulai tahun 1919 dengan membentuk Dewan Kota (gemeente-raad). Pada awalnya, Asisten-Residen afdeling Manado merangkap Kepala Kota Manado. Nanti pada tahun 1928 barulah kota Manado memiliki seorang Walikota. pada tahun 1947 Manado dijadikan kotapraja tak sejati (neostadsgemeente) dan merupakan bagian dari Daerah Minahasa. Pada tahun 1954 barulah Manado dijadikan Kota-Besar setingkat Daerah Swatantra Tingkat II (DATI II) - Kota Madya Manado (Kodya Manado), dan memiliki Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Kemudian pada Masa Orde Reformasi, Kota Madya Manado berubah menjadi Kota Manado, dengan memiliki Dewan Kota (sebelumnya DPRD). 20 Juni 1950 Wilayah Komando Tentara & Territorium VII - Indonesia Timur (TT-VII/TTIT) didirikan. Wilayah ini meliputi daerah 4 provinsi, yaitu provinsi Sulawesi, provinsi Sunda Kecil (Nusatenggara), provinsi Maluku, provinsi Irian Barat (yang masih dikuasai Belanda). Pada tahun 1951, Letkol Alex Kawilarang menjadi Panglima Komando TT-VII/TTIT selama beberapa bulan lamanya sampai bulan November, ketika tanggal 10 November ia secara resmi menjadi Panglima Komando TT-III/Siliwangi dengan pangkat Kolonel.

7 Agustus 1950

Langkah Kolonel Alex Kawilarang yang sulit dilupakan masyarakat politik pada tahun limapuluhan ialah ketika ia menempeleng Letkol Soeharto di Makassar saat sedang menumpas pemberontakan RMS dan pasukan KNIL/KL (KNIL=Koninklijke Nederlands Indisch Leger /Tentara Hindia Belanda, KL=Koninlijk Leger /Tentara Kerajaan Belanda). Kolonel Alex Kawilarang marah karena selaku Panglima TTVII/TTIT ia baru melaporkan kepada Presiden Soekarno (tanggal 4-5 Agustus) bahwa keadaan di Makassar sudah aman. Tetapi Soekarno menyodorkan radiogram yang baru diterimanya bahwa pasukan KNIL Belanda sudah menduduki Makassar hari Jumat, tanggal 5 Agustus. Ternyata pasukan yang harus mempertahankan kota Makassar yaitu Brigade Garuda Mataram telah melarikan diri ke Lapangan Udara Mandai. Maka tidaklah mengherankan bahwa Kolonel Alex Kawilarang menjadi marah dan hari Senin ini buru kembali ke Makassar. Setibanya di lapangan udara Mandai ia langsung memarahi komandan Brigade Garuda Mataram Letkol Soeharto: "sirkus apaan nih?" kata Kolonel Alex Kawilarang sambil menempeleng pipi Letkol Soeharto. Maka dapatlah dimengerti, akibat peristiwa tersebut, hingga saat Alex Kawilarang meninggal, Presiden Soeharto tidak pernah berbicara dengan bekas atasannya itu. Penghargaan kepada A.E. Kawilarang secara resmi baru diberikan pada 1999 yang lalu, sewaktu Presiden B.J. Habibie berkuasa. Pembentukan Kabinet Natsir, kabinet pertama setelah Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dari Negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Kabinet ini merupakan Zaken Kabinet, dan intinya adalah Masyumi. Kabinet ini menyerahkan mandatnya pada tanggal 21 Maret 1951. Serah terima jabatan Panglima Komando Tentara & Territorium III/Siliwangi dari Kolonel Sadikin kepada Kolonel Alex E. Kawilarang di Bandung. Upacara tersebut dihadiri oleh KSAD Kolonel A.H. Nasution, Menteri Sewaka, Menteri Suwiryo, Menteri Arnold Mononutu, Kapolri Sukanto, Jaksa Agung Suprapto dan Letkol Sutoko.

6 September 1950

10 November 1950

Serah terima jabatan Panglima TT-IIII/Siliwangi kepada Kol. A.E. Kawilarang

27 April 1951

Kabinet Soekiman terbentuk di bawah Perdana Menteri Soekiman. Kabinet ini adalah suatu kabinet koalisi antara kedua partai terbesar waktu itu, yakni Masyumi dan PNI. Kabinet ini jatuh pula dan menjadi kabinet demisioner sejak tanggal 23 Februari 1952 sampai terbentuknya kabinet baru. Kabinet Wilopo terbentuk dibawah Perdana Menteri Wilopo (PNI), yang juga merupakan koalisi kedua partai terbesar, yaitu Masyumi dan PNI. Kabinet ini jatuh pada tanggal 3 Juni 1953, dan menjadi kabinet demisioner sejak saat itu. Kolonel Alex E. Kawilarang mendirikan Kesatuan Komando Tentara Territorium III/Siliwangi (Kesko Terr-III). Komando pasukan khusus ini memakai baret merah mengikuti kesatuan komando Belanda. Ide pembentukan kesatuan komando ini timbul oleh pengalamannya melawan Pemberontakan RMS di Maluku. Saat itu ia bersama Letkol Slamet Ridjadi (Brigjen Anumerta) cukup mengalami kesulitan menghadapi RMS Baret Merah dan bercita mendirikan satuan komando semacam itu yang tangkas dan cepat. Kol. Kawilarang sangat menaruh perhatian yang besar pada latihan komando ini. Komandan Kesko Terr-III/Siliwangi adalah Mayor Mohammad Idjon Djanbi (seorang berkebangsaan Belanda yang dulunya bernama Visser), dengan markas komandonya di Batujajar - Jawa Barat. Begitu pesatnya perkembangan dan keunggulan kesatuan ini sehingga pada tahun 1953 Kesko TT-III/ Siliwangi ditimbangterimakan kepada Inspektorat Infanteri MBAD. Namanya kemudian diubah menjadi Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD), kemudian diubah lagi menjadi

3 April 1952

15 April 1952

RPKAD (Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat), Palu RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat), kemudian Kopassandha (Komando Pasukan Sandhi Yudha), kemudian terakhir menjadi Kopassus (Komando Pasukan Khusus). Kelak pada masa Pergolakan Permesta (Pemberontakan PRRI) pada tahun 1958-1961, kesatuan ini menjadi tulang punggung untuk menumpas Permesta dimana saat itu Alex Kawilarang sebagai Panglima Besar pasukan Permesta, dengan demikian seluruh bekas anak buahnya berbalik menyerangnya sebagai lawan dalam pertempuran. 17 Oktober 1952 Momen yang dikenal sebagai Peristiwa 17 Oktober 1952, dilakukan oleh para perwira militer /TNI-AD yang merasa tidak puas akan kinerja pemerintahan RI saat itu, dimana pemerintah terlalu mencampuri urusan dalam tubuh TNI dan menyingkirkan perwira yang tidak disukai mereka. KSAD - Kolonel Abdul Harris Nasution, KSAP - Jenderal Mayor Tahi Bonar Simatupang, Panglima TT-III/Siliwangi Kolonel Alexander Evert Kawilarang, serta beberapa perwira tinggi TNI lainnya menemui Presiden Soekarno di istananya di Jakarta, menuntut presiden untuk membubarkan Parlemen dan membentuk Parlemen baru. Hal ini menimbulkan kemarahan dari Presiden. Kemudian, KSAD menyatakan bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa itu dan mengajukan permohonan berhenti kepada Pemerintah. Juga Jenderal Mayor T.B. Simatupang mengundurkan diri, dan jabatan KSAP selanjutnya ditiadakan. Kepala Staf TT-VII/TTIT Letkol Jacob Frederik (Joop) Warouw mendaulat Kolonel Gatot Subroto sebagai Panglima TT-VII/TTIT akibat Panglima TT-nya berada di Kelompok pro-17 Oktober. Reaksi rakyat di Makassar atas tahanan rumah bagi Kolonel Gatot Subroto dan tahanan asrama bagi polisi militer Jawa ini cukup besar (CPM), menangkap inti dimensi daerah dalam peristiwa ini: "Orang Jawa dilucuti orang Manado." Kemudian ia menjadi penjabat sementara Panglima TT-VII/TTIT tanggal 5 Januari 1953, dan pada tanggal 1 Agustus 1954 resmi sebagai Panglima TT-VII/Indonesia Timur dengan pangkat Kolonel. Kepala Staf TT-VII/Wirabuana saat itu dijabat oleh Letkol H.N. Ventje Sumual, yang sebelumnya adalah Kasi-I Inspektorat Infanteri di Bandung. Tahun 1955 Mayor D.J. Somba menjadi Assisten II/Personalia di TT-VII/Wirabuana, dan pada bulan Desember 1956 menggantikan Letkol H.V.Worang sebagai Komandan RI-24 di

16 November 1952

Manado. Saat Joop Warouw inilah TT-VII diberi nama WIRABUANA (oleh Kolonel Ahmad Yani) dari bahasa Sansekerta yang artinya: negeri yang terang, dimana Wira = satria, terang, dan Buana = wilayah/daerah, karena wilayah ini adalah wilayah matahari terbitnya Indonesia, dan juga wilayah/daerah ini disiapkan untuk suatu wilayah militer. 20 Juni 1953 Wilayah Komando Tentara & Territorium VII resmi diberi nama WIRABUANA (oleh Kolonel Ahmad Yani) dari bahasa Sansekerta yang artinya: negeri yang terang, dimana Wira = satria, terang, dan Buana = wilayah/daerah, karena wilayah ini adalah wilayah matahari terbitnya Indonesia, dan juga wilayah/daerah ini disiapkan untuk suatu wilayah militer. Hari ini diperingati KODAM VII/Wirabuana sebagai HUT-nya. Setelah krisis 58 hari lamanya, Kabinet Ali-Wongso terbentuk dengan Perdana Menteri Mr. Ali Sastroamidjojo (PNI) dan Wakil Perdana Menteri Mr. Wongsonegoro (Partai Indonesia Raya, PIR). Dalam kabinet ini Masyumi tidak turut serta, tetapi Nahdlatul Ulama (NU) duduk di dalamnya. Kabinet ini menyerahkan mandatnya pada tanggal 24 Juli 1955. Status kota Manado dijadikan Kota-Besar dengan kedudukan sebagai Daerah Swatantra Tingkat II dipisahkan dari Kabupaten/Daerah Swatantra II Minahasa pada tahun 1954. Dengan peningkatan status Manado menjadi Kota-Besar, timbullah persoalan pemindahan ibukota Daerah Minahasa dari kota Manado. Hal ini berlarut sehingga nanti pada tahun 1959 dengan melalui Parlemen RI, Pemerintah Agung di Jakarta menetapkan Tondano menjadi ibu kota dari Daerah Minahasa. Pemindahan Pemerintahan Daerah Minahasadari Manado ke Tondano telah direncanakan mulanya akan berlaku pada tahun 1961. Tahun 1954 ini juga kota Bitung dijadikan pelabuhan samudera. Pembangunan Bitung menjadi pelabuhan telah dipersiapkan sejak tahun 1950. Peresmiannya nanti berlaku pada tahun 1954. Mayor Jan Maximillian Johan "Nun" Pantouw dinonaktifkan dari dinas militer TNI dalam kapasitasnya sebagai Asisten I (Intelegen) pada TT-VII/Wirabuana akibat keterlibatannya dalam penyelundupan kopra atas nama Staf Komando TTVII/Wirabuana.

1 Agustus 1953

1954

September 1954

1 Oktober 1954

Wilhelmina Bertha (Nona) Politon memelopori pendirian Universitas (swasta) Pinaesaan (yang berarti persatuan) di Tondano, ibu kota Kabupaten Minahasa, pada 1 Oktober 1953. "Kota Tondano dipilih menjadi lokasi pusat Universitas Pinaesaan, karena pertimbangan banyak anak muda yang nakal dan miskin hidup di kota itu pada masa itu," katanya. Semula dibentuk sebuah Panitia Perguruan Tinggi Sulawesi Utara pada tanggal 8 Februari 1953 yang kemudian diubah menjadi Yayasan Universitas Pinaesan yang diketuai Nona Politon. Universitas Pinaesaan waktu itu hanya memiliki Fakultas Hukum. Pada tahun 1958 saat pergolakan Permesta, Universitas Pinaesaan dipindahkan dari Tondano ke Manado. Lewat proses pengembangan Universitas Pinaesaan, wanita kelahiran 4 Agustus 1923 ini berhasil membangun hubungan kuat dengan Menteri Pendidikan RI saat itu, Prof Mr Moh Yamin. Bersama sejumlah pejuang pendidikan lainnya, Nona Politon meminta pemerintah pusat mendirikan perguruan tinggi di Manado. Alasannya sederhana. Akan makan biaya mahal, bila setiap anak muda Sulawesi Utara yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi, harus pergi ke Pulau Jawa. Kalaupun terpaksa ke Jawa, kata Nona Politon, juga tidak banyak orang yang mampu membiayai dan bisa mengecap bangku pendidikan tinggi. Usaha ini ternyata mendapat tanggapan positif Prof Mr Moh. Yamin. Nasib Universitas Pinaesaan sendiri tidak cerah terutama karena kendala pergolakan Permesta, 1958-1960. Menyusul selesainya pergolakan, minat kaum muda, lulusan SLTA, lebih terarah ke perguruan tinggi negeri, IKIP dan Universitas Sam Ratulangi. Universitas Pinaesaan ini kemudian oleh pemerintah digabung dengan Universitas Permesta pada masa pergolakan Permesta menjadi Perguruan Tinggi Manado (PTM), lalu Universitas Sulawesi Utara (UNISUT, kemudian menjadi UNSRAT)pada tanggal 17 September 1961.

November 1954

Panglima TT-VII/Wirabuana (Indonesia Timur), Letkol Joop Warouw mulai bulan ini mengizinkan ekspor kopra tanpa melalui prosedur yang biasa, yaitu dengan melakukan barter. Kegiatan ini memang akhirnya dihentikan oleh Jakarta setelah salah satu kapal yang mengangkut kopra ditahan pihak Angkatan Laut (ALRI). Letkol Warouw dan stafnya diperiksa Jaksa Agung Abdul Mutalib Moro serta pihak ALRI. Beberapa orang dibebastugaskan, sekalipun Letkol Warouw sendiri tetap menjabat panglima.

1955

Dalam sebuah statistik, penduduk Minahasa berjumlah 525.606 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0,8%. Para petani di Sulawesi Utara mengambil alih kantor dan fasilitas Yayasan Kopra di Manado yang dikelola oleh Kementrian Perekonomian, dan mendirikan Yayasan Kelapa Minahasa bulan berikutnya. Kegiatan ini mendapat sokongan penuh dari pimpinan militer setempat. Yayasan Kopra didirikan pada masa penjajahan, berpusat di Makassar, tetapi pada tahun 1950 dipindahkan ke Jakarta. Yayasan itu dianggap kurang bijaksana terutama karena melakukan diskriminasi harga. Mutu kopra di Minahasa yang jauh lebih tinggi dari pada mutu kopra Jawa dihargai lebih rendah oleh Yayasan Kopra. Selain itu, karena kekurangan dana, Yayasan Kopra membayar para petani dengan bon, yang menurut perjanjian akan ditebus dengan uang yang sesuai jumlahnya. Tetapi pelunasan itu tidak kunjung dilaksanakan, sehingga sejumlah petani terpaksa memperjualbelikan bon (kupon) tersebut untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pada bulan November 1955, wilayah penghasil kopra lainnya pun menyusul mendirikan yayasan sendiri. Maka berdirilah Yayasan Kelapa Sangir Talaud, Yayasan Kelapa Bolaang Mongondow, dan Yayasan Kelapa Gorontalo. Terbentuknya Yayasan Kelapa Minahasa (YKM) dengan tokohnya Jan M.J. (Noen) PANTOUW, kemudian mengadakan perdagangan barter Kopra sebagai penyelundupan terselubung ke luar negeri yang memuncak pada bulan Februari April 1956 dengan masuknya 6 buah kapal asing di pelabuhan Bitung yang mengangkut 25.000 ton kopra. YKM lalu melebarkan sayapnya sampai di Singapura dengan nama Eastern Produce Agency, Ltd.. Disamping itu, dua orang tokoh yang cukup berperan dalam perdagangan barter kopra di Minahasa yang dimulai oleh Letkol Hein Victor Worang (Komandan Resimen Infanteri 24 /RI-24 di Manado) dan penggantinya, Panglima KDM-SUT (sebelumnya Resimen Infanteri / RI-24) Mayor D.J. Somba. Namun nasib Mayor H.V. Worang selanjutnya setelah pihak pusat memantau aksi perdagangan barter tersebut adalah diganti bulan Desember 1956 dan ditawari studi lanjut ke luar negeri, kemudian ditugasi di Sumatera Selatan selaku Komandan RI-6/TT-II di Tanjungkarang, Lampung. Di sana ia bertindak sebagai Komandan TT-II, Letkol. Barlian, pada Musyawarah Nasional bulan September 1957.

Januari 1955

4 Februari 1955

12 Februari 1955

Panglima TT-VII/Wirabuana menyusun organisasi untuk menyelenggarakan kegiatan ekonomi dengan cara barter yaitu dengan cara melegalisasikan kegiatan barter tersebut. Hari ini, ia mengangkat Mayor M. Saleh Lahede sebagai perwira yang menangani "OPI X TT-VII" (Opsir Pekerjan Istimewa X TT-VII) yang langsung berada di bawah panglima. Tugas Mayor Saleh Lahede adalah mengkoordinasi ekspor di Bitung dan di Morotai (besi tua). Namun penyelenggaraan perjudian kasino di kota besar, yang telah dilakukan dalam rangka mencari dana itu, dihapus oleh Mayor Saleh Lahede. Dana yang diperoleh OPI X TT-VII digunakan untuk membiayai opeasi militer dan kegiatan sosial ekonomi. Mayor M. Saleh Lahede mendapat kepercayaan Pejabat Gubernur untuk menangani Yayasan Kopra di Makassar dengan mendirikan Yayasan Kopra Sulawesi berkedudukan di Makassar yang berusaha mengkoordinasi seluruh perdagangan kopra di pulau Sulawesi. Kabinet Burhanuddin Harahap terbentuk, yang merupakan kabinet koalisi dengan Masyumi sebagai intinya, sedangkan PNI menjadi partai oposisi. Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) berdiri di Tondano atas usaha Nona Politon dan Prof Mr G.M.A. (Laan) Inkiriwang yang menjadi Dekannya, berdasarkan SK Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan RI No. 2450/Kab/55.. Karena pengalaman Nona Politon dalam memroses dan mendirikan Universitas Pinaesaan (yang berarti persatuan), Prof Moh Yamin lalu menugaskan Nona Politon menyiapkan pendirian Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) di Sulawesi Utara. Perguruan Tinggi ini mulanya menjadi cabang fakultas pada Universitas Hasanuddin Makassar di Tondano. Dana yang dipakai antara lain atas bantuan dari TT-VII/Wirabuana dengan ekspor kopra (oleh administrasi pemerintah dianggap penyelundupan kopra). PTPG ini kemudian berubah namanya menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Tondano di Manado yang berafiliasi ke FKIP Makassar (FKIP Unhas Tondano) pada tahun 1956-1958, dan akhirnya berkembang menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Tondano di Manado pada waktu pergolakan Permesta berakhir. Karena gangguan keamanan FKIP Unhas di Tondano hijrah dari Tondano ke Manado pada bulan Agustus 1958 tanpa perntah dari Depdikbud atau Pemerintah Pusat. Setelah itu, pada tahun 1994, IKIP Negeri

April 1955

12 Agustus 1955

22 September 1955

Manado secara resmi dipindahkan dari Manado ke Tondano dan menjadi IKIP Negeri Tondano (Fakultas POK, FMIPA, Fakultas Pendidikan Teknik sudah menyusul sebelumnya), akhirnya menjadi Universitas Negeri Manado (UNIMA) pada bulan September 2000. Sebelum IKIP menjadi UNIMA, waktu itu namanya adalah Universitas Negeri Walanda Maramis yang akhirnya tidak disetujui namanya sehingga ternyata yang disetujui adalah nama UNIMA. UNIMA kini menempati kampus seluas 400 hektar di areal perkebunan Tonsaru Tondano. Sejak didirikan hingga sekarang, UNIMA telah menghasilkan ribuan sarjana dari berbagai strata (S1, S2, dan S3). 29 September 1955 PEMILIHAN UMUM Pertama di Indonesia, untuk memilih anggota DPR, dengan sistem demokrasi liberal. Hasilnya Masyumi (60 kursi), PNI (58 kursi), NU (47 kursi), PKI (32 kursi) sebagai partai terbesar. DPR hasil pemilihan umum beranggota 272 orang, yang dilantik pada tanggal 20 Maret 1956. Sedangkan di Minahasa, partai yang mendominasi adalah PNI, PSI dan Parkindo. Kabinet Ali-Wongso memutuskan untuk mengangkat Kolonel A.H. Nasution sebagai KSAD, yang mengisi kekosongan pimpinan Angkatan Darat yang dijabat sementara oleh Wakil Kepala Staf AD Kolonel Zulkifli Lubis. Sebelumnya, KSAD yang lalu, Jenderal Mayor Bambang Sugeng mengundurkan diri, dan pelantikan penggantinya Kolonel Bambang Utojo sebagai KSAD pada tanggal 27 Juni 1955 diboikot oleh perwira Angkatan Darat. A.H. Nasution selanjutnya dinaikkan pangkatnya menjadi Jenderal Mayor.
(pangkat Brigadier Jenderal belum dikenal dalam sistem perpangkatan TNI saat itu).

28 Oktober 1955

10 November 1955

Yayasan Kopra di daerah Sangihe-Talaud (Satal), BolaangMongondow (Bolmong), dan Gorontalo diambil alih ; sekalipun hanya Yayasan Kopra Sangihe-Talaud yang diakui Pemerintah Pusat. Pemilihan Umum kali ini untuk pemilihan anggota-anggota Konstituante (Sidang Pembuat Undang Dasar). Anggota Konstituante berjumlah 542 orang, yang dilantik pada tanggal 10 November 1956

15 Desember 1955

1956

Dalam statistik Balai Konsultasi Ekonomi - R.C. Lasut, penduduk Minahasa pada tahun 1956 berjumlah 543.936 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0,8%. Kabinet Burhanuddin Harahap menyerahkan mandatnya kepada Dewan Perwakilan Rakyat hasil pemilihan umum tahun 1955. Kabinet Ali II terbentuk, dipimpin oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo. Kabinet ini merupakan kabinet pertama setelah DPR hasil pemilihan umum terbentuk. Partai pendukung Kabinet ini ialah PNI, Masyumi dan NU serta beberpa partai kecil lainnya. PKI sendiri tidak masuk dalam Kabinet karena masuknya komunis dalam Kabinet masih ditentang oleh beberapa pihak mengingat tindakan PKI di masa lalu, terutama Pemberontakan PKI di Madiun. RUU yang membatalkan seluruh perjanjian KMB secara unilateral yang diajukan Kabinet, disetujui secara bulat oleh DPR. RUU ini ditandatangani oleh Presiden pada tanggal 8 Mei 1956. Inilah awal dari ketegangan baru antara Indonesia dengan pihak Belanda sejak KMB ditandatangani. Pembatalan persetujuan KMB secara sepihak oleh Indonesia pada prinsipnya didasarkan kepada sikap Belanda yang tidak mau menepati persetujuan KMB yang menyangkut soal Irian Barat. Andi Pangerang Petta Rani (Andi Pangerang Daeng Parani) diangkat menjadi Gubernur Sulawesi, jabatan yang dipangkunya sampai dengan tanggal 20 April 1960. Pemerintah Pusat memutuskan, Yayasan Kopra secara resmi akan dibubarkan pada tanggal 26 Juli 1956, dan akan digantikan setahun kemudian oleh Koperasi Kopra Pusat. Panglima TT-VII/Wirabuana, Kolonel Joop Warouw, dalam konferensi persnya yang terakhir sebelum serah-terima jabatan Panglima TT-VII, sebelum pemindahannya ke Peking, mengatakan bahwa ia menerima semua tanggung jawab penyelundupan kopra yang melewati Bitung. Pada hari ini, CPM di dalam TT-III/Siliwangi menangkap mantan Menteri Penerangan dalam kabinet Burhanuddin Harahap, Syamsudin Sutan Makmur, dan Direktur Percetakan Negara, Pieter de Queljoe, karena urusan korupsi yang melibatkan Lie Hok Thay yang lebih dulu ditahan. Hok Thay mengaku

3 Maret 1956

24 Maret 1956

2 April 1956

12 Juli 1956

25 Mei 1956

13 Agustus 1956

memberikan uang satu setengah juta rupiah kepada Roeslan Abdulgani yang berasal dari ongkos mencetak kartu suara pemilu. Akibatnya, Roeslan yang telah menjadi Menteri Luar Negeri dalam kabinet Ali Sastroamidjojo hendak ditahan oleh CPM dua jam sebelum keberangkatannya tanggal 14 Agustus ke London untuk menghadiri konferensi internasional mengenai Terusan Suez. Presiden Gamal Abdel Mesir Nasser baru saja menasionalisasikan Suez. Berkat intervensi PM Ali dan KSAD A.H. Nasution, penangkapan dibatalkan, dan Roeslan akhirnya bisa berangkat ke luar negeri. 14 Agustus 1956 Timbang terima Panglima TT-III/Siliwangi dari Kolonel Alex E. Kawilarang kepada Kolonel Suprayogi, untuk selanjutnya bulan Desember tahun itu pergi ke Washington, D.C. menjadi Atase Militer pada Kedutaan Besar RI di sana. Selama memimpin TT-III/Siliwangi, Kolonel Kawilarang bermasalah antara lain pernah menangkap menteri Ruslan Abdulgani karena dituduh korupsi. Pembentukan provinsi Papua Barat (Irian Barat) dengan ibukota di Soa Siu. Gubernur yang pertama pada bulan September 1956 adalah Sultan Tidore - Zainal Abidin Syah. Provinsi tersebut meliputi wilayah yang masih diduduki Belanda dengan daerah Tidore, Oba, Weda, Patani, serta Wasile di Maluku Utara. Kolonel J.F. (Joop) Warouw hari ini meletakkan jabatannya sebagai Panglima Komando TT-VII/ Wirabuana dalam rangka pergantian pimpinan Komando Tentara & Territorium VII/Wirabuana. Serah-terima Panglima TT-VII/Wirabuana - Indonesia Timur dari Kolonel J.F. Warouw kepada Letkol H.N. Ventje Sumual, Kepala Staf TT-VII/Wirabuana sebelumnya. Kemudian Joop Warouw dipindahkan sebagai Atase Militer pada Kedubes RI di Peking - Cina. Komandan Batalyon 714 Kapten Dolf Runturambi memerintahkan untuk menahan kapal "Susane Skow" di pelabuhan samudera Bitung, karena surat yang tidak lengkap untuk menurunkan mobil dan mengangkutnya. Hal ini didasarkan pada radiogram Panglima TT VII pertengahan Juni tahun itu - penahanan mana segera dilaporkan kepada

17 Agustus 1956

22 Agustus 1956

23-26 Agustus 1956

8 September 1956

Panglima TT VII/Wirabuana Let.Kol. H.N.V. Sumual dan Komandan RI-24 Let.Kol. H.V. Worang. 5 Oktober 1956 Opsir Pekerdja Istimewa X (OPI X) TT-VII/Wirabuana dibubarkan hari ini ketika M. Saleh Lahede dijadikan Kepala Staf Komando Pengamanan Sulawesi Selatan & Tenggara (KoDPSST atau KDP-SST) oleh KSAD. Kegiatan OPI X selanjutnya dilaksanakan oleh Yayasan Wirabuana dan Yayasan Sulawesi Selatan. Diadakan reuni ulang tahun Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD, sekarang Seskoad) di Bandung. . Mayor D.J. Somba sebagai Assisten II/Personalia di TTVII/Wirabuana bulan Desember 1956 ini menggantikan Mayor H.V. Worang sebagai Komandan Resimen Infanteri 24 (RI-24) di Manado, karena Worang saat itu terlibat upaya penyelundupan/barter kopra. Dwitunggal Soekarno-Hatta pecah dengan mundurnya Drs. Mohammad HATTA dari Wakil Presiden. KSAD Jenderal Mayor A.H. Nasution mengeluarkan pengumuman yang melarang perwira Angkatan Darat melakukan kegiatan politik. Laurens F. Saerang diangkat menjadi Kepala Daerah Minahasa definitif, dan merupakan kepala daerah termuda di waktu itu (1956-1958). Ia bekas komandan kompi dalam Batalyon 3 Mei berpangkat Kapten. Ia dikenal sebagai pengusaha sukses dalam perdagangan besi rongsokan sisa Perang Dunia II di Morotai. Pada saat Pergolakan Permesta di Sulawesi Utara pecah, ia kemudian membentuk Brigade Manguni serta memimpinnya. Masa kepemimpinan resminya sampai tanggal 16 Juni 1958 dan digantikan Kapten Bert Supit (sampai tanggal 23 September 1958). Meskipun demikian, pemerintahan sipil Permesta masih mengakui kepemimpinannya sebagai Kepala Daerah Minahasa (KDM) Permesta, yang tugas kesehariannya dijabat oleh Wakil KDM Pati Arie Mandagi sebagai pejabat KDM Permesta dan berkantor di desa Pinaras - Tomohon yang terletak di tengah hutan.

21 November 1956

Desember 1956

1 Desember 1956

9 Desember 1956

24 Desember 1956

27 Desember 1956

Kongres Masyumi di Bandung yang berlangsung tanggal 22-29 Desember menyatakan menarik menterinya keluar dari Kabinet Ali II (serta kehilangan 57 suara dalam Dewan Perwakilan Rakyat). Presiden Soekarno sebagai Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi, menyatakan daerah Sumatera Selatan atau daerah Komando Tentara & Territorium II (TT-II) dalam keadaan bahaya perang. Rencana TT-VII/Wirabuana diajukan kepada KSAD A.H. Nasution. Letkol M. Saleh Lahede (Kastaf KDPSST) dan Mayor Andi Muhammad Jusuf (Kastaf Resimen Hasanuddin) membicarakan masalah di Indonesia Timur guna mengatasi masalah gangguan keamanan di wilayah Sulawesi (terutama DI/TII Kahar Muzakhar), dengan mengajukan alternatif jalan keluar, yaitu agar tanggung jawab keamanan daerah diserahkan sepenuhnya kepada putra daerah. Selain itu juga mereka berbicara mengenai keadaan politik & ekonomi di Indonesia Timur. Gubernur Sulawesi - Andi Pangerang, dan rombongan berada di Jakarta untuk memperjuangkan realisasi rencana pembangunan di wilayahnya. Selain menghubungi berbagai pihak dan instansi selama sekitar satu bulan, juga Presiden Soekarno dan Bung Hatta mereka kunjungi. Sekitar 47 organisasi pemuda di Makassar mengadakan rapat. Mereka sepakat bahwa penyelesaian keamanan di Indonesia Timur serta peningkatan kesejahteraan masyarakat harus bisa dilakukan melalui pelaksanaan pembangunan. Kemudian mereka membentuk organisasi yang mengkoordinasikan antar-organisasi pemuda yang ada dengan nama Dewan Pemuda Sulawesi, yang dipimpin presidium dengan badan pekerja untuk tugas harian, yang kepengurusannya sbb: Presidium: Nurdin Johan, Mustafa Tari, Abdul Chalik, Mattulada, Ismael Habi, J.B. Rumbayan, G.W. Bawengan Sekjen: R.A. Daud Seksi: Indra Chandra, Abdul Muis (Sastrawan Pujangga), Husein Achmad, Djihan Njompa, Nahariah Terbentuknya Dewan Manguni di Sulawesi Utara, atas inisiatif Kapten G.K. Montolalu, dkk. Pimpinannya terdiri atas:

31 Desember 1956

7-8 Januari 1957

Awal Februari 1957

3 Februari 1957

10/18 Februari 1957

Ketua : Henk L. Lumanauw Sekretaris: Jan Torar Anggota: Hein Montolalu & A.C.J. (Abe) Mantiri (direktur Pelayaran Rakyat Indonesia di Manado) 19 Februari 1957 Penyelenggaraan reuni tokoh tokoh PKRS di Kantor Pembangunan Daerah yang dihadiri 19 orang. Kemudian mereka membentuk wadah perjuangan baru yaitu Pusat Konsentrasi Tenaga untuk Keselamatan Rakyat Sulawesi (disingkat Konsentrasi Tenaga) dengan Pengurus Sementara: Ketua : Andi Burhanudin (residen di gubernuran Sulawesi/Ketua Umum PKR) Wakil Ketua: J.Latumahina (Kepala Departemen Politik di Kantor Provinsi Sulawesi) Sekretaris: Henk Rondonuwu (Ketua Partai Kedaulatan Rakyat/PKR) Bendahara: Ny. Mathilda Towoliu-Hermanses (Ketua Dewan Kota Makassar) Komisaris: Achmad Siala (Dg.Masalle), Intje Tadjuddin, Abdul Muluk Makatita Dewan Pemuda se-Sulawesi mengadakan sidang sekali lagi hari ini dan menyetujui garis pimpinan organisasi dan suatu program terperinci mengenai politik, ekonomi, dan kebudayaan. Pokok pertama program itu adalah suatu tuntutan akan otonomi seluasnya. Presiden Soekarno mengemukakan konsepsinya yang dikenal sebagai "Konsepsi Presiden Soekarno" atau "Konsepsi Presiden" yang isinya adalah menolak sistem demokrasi parlementer secara Barat yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia dan menggantinya dengan sistem demokrasi terpimpin, dan menyatakan perlunya suatu kabinet gotong royong yaitu Kabinet Kaki Empat dengan Nasakom -nya (Nasional, Agama, Komunis). Bekas Wakil Presiden Drs. Moh.Hatta menyatakan bahwa ia tidak menyetujui konsepsi itu. Perencanaan formal proklamasi 2 Maret mulai pada suatu pertemuan para perwira senior Sulawesi pada hari ini. Pertemuan ini diadakan di rumah Letkol dr. O.E. Engelen, ketua Ikatan Perwira Republik Indonesia - Indonesia Timur (TT-VII). Letkol dr. O.E. Engelen, sekretaris IPRI TT-VII/Wirabuana - Indonesia Timur Kapten Bing Latumahina, Letkol Saleh Lahede,dan Mayor M. Jusuf berbicara dalam pertemuan itu.

20 Februari 1957

21 Februari 1957

23 Februari 1957

25 Februari 1957

Setelah mengadakan rapat komite perwira TT-VII/Wirabuana yang mengadakan rapat di kediaman Mayor Eddy Gagola untuk menyusun dan merumuskan rencana Perjuangan Semesta, kemudian Panglima TT-VII/Wirabuana Letkol Ventje Sumual hari ini berangkat ke Jakarta untuk menjelaskan langkah yang akan diambilnya kepada temannya di MBAD terutama Korps Perwira SSKAD, terutama mengatasi keamanan daerahnya dengan pemberlakuan SOB/darurat perang. Komite sebelas orang ini dikepalai oleh Letkol M. Saleh Lahede. Letkol Saleh Lahede dengan bantuan Kapten Bing Latumahina dan Kapten Lendy R. Tumbelaka, menyusun Piagam Perjuangan Semesta, yang meringkas berbagai keluhan, tuntutan, dan saran pejabat dan rakyat dari Sulawesi. Mayor M. Jusuf ditunjuk sebagai perwira operasi. Anggota komite yang lain adalah: Letkol dr. O.E. Engelen, Ketua IPRI - Indonesia Timur; Letkol Andi Mattalatta, Komandan Kota Militer Kota Besar (KMKB) Makassar dan wakil komandan KoDPSST; Mayor Jan Wellem (Dee) Gerungan, Asisten IV/Logistik TT-VII; Mayor Sjamsuddin, Kepala Staf Komando Militer Kota Besar (KMKB) Makassar; Mayor Eddy Gagola, dari stafko TT-VII. Selain itu, anggota kesebelas yang disebutkan adalah Letkol tituler Arnold Achmad Baramuli, Jaksa Agung Provinsi Sulawesi dan Komando Indonesia Timur; Kapten John Ottay, Komandan Batalyon 702; Kapten Arie W.Supit, stafko TT-VII.

28 Februari 1957

Letkol Ventje Sumual saat mengadakan kunjungan di Jakarta selama dua hari dengan Mayor Andi M. Jusuf dan Arnold Baramuli, SH (Jaksa Tinggi Provinsi dan Militer), ia mengirimkan kawat/telegram kepada komandan resimen seperti RI-23, RI-25. Komandan RI-24 Mayor D.J. Somba datang ke Makassar hari ini, dan hanya bertemu dengan Mayor Jan Wellem (Dee) Gerungan. Yus Somba kembali lagi ke Manado pada tanggal 1 Maret. Pada petang hari, semua pejabat di Makassar yang bertolak ke Ibukota - Jakarta, yaitu rombongan Gubernur, delegasi Konsentrasi Tenaga dan rombongan Panglima Letkol Sumual, tiba kembali di pesawat dengan menumpang satu pesawat. Setibanya di Makassar, diputuskan untuk mengadakan rapat sebelum rencana itu dilaksanakan. Rapat berlangsung hingga pukul 01:00 dinihari tanggal 2 Maret.

1 Maret 1957

Masa Awal Permesta (Pembangunan I)

2 MARET 1957

Jumat dinihari tanggal 2 Maret 1957, sejumlah pejabat, tokoh politik dan tokoh masyarakat di kota Makassar dijemput kendaraan yang dikawal militer (sekitar 49 tokoh & 2 wartawan) untuk menandatangani piagam yang telah disusun oleh Panitia Perwira TT-VII yang lalu, untuk berkumpul di gubernuran. Mereka hendak mengadakan rapat untuk persiapan sebuah proklamasi dari suatu hasrat luhur yang sudah sangat lama menggejolak. Malam telah merambat dini hari. Pukul 3 dinihari rapat dibuka oleh Panglima TTVII/Wirabuana Letkol H.N. Ventje SUMUAL yang kemudian membaca naskah Proklamasi SOB Inilah Proklamasi SOB (Staat van Oorlog en Beleg = negara dalam keadaan perang & darurat perang) PERMESTA tersebut, yang memulai babak baru dalam sejarah Indonesia Bagian Timur:

Demi

keutuhan

Republik

Indonesia,

serta

demi keselamatan dan kesedjahteraan Rakjat Indonesia pada umumnja, dan Rakjat Daerah di Indonesia Bahagian Timur pada chususnja, maka dengan ini kami njatakan

seluruh wilajah Territorium VII dalam keadaan darurat perang serta pasal berlakunja 129 pemerintahan militer Dasar 33 sesuai dengan

Undang - Undang Pemerintah No.

Sementara , dan 1948 dari

Peraturan

tahun

Republik Indonesia. Segala dilakukan dalam waktu jang sesingkat-singkatnja dalam peralihan dan penjesuaiannja

arti tidak ulangi tidak melepaskan diri dari Republik Indonesia. Semoga Tuhan Jang Maha Esa

beserta kita dan menurunkan berkat dan hidajatNja atas

ummatNja.-

Makassar, 1957.-

Panglima Tentara & Territorial VII

tertanda

Letkol : H.N.V. Sumual Nrp : 15958

Proklamasi Keadaan SOB ini berdasarkan pasal 129 UUD Sementara yang memberikan keleluasaan kepada panglima militer di daerah memberlakukan SOB (keadaan darurat perang/militer) dan Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 1948 (Peraturan yang memberlakukan SOB sehubungan dengan Pemberontakan PKI Madiun Pada saat Proklamasi Permesta itu). Dari kiri ke kanan: Letkol HNV Sumual, Mayor Gerungan, tahun Mayor Dolf Runturambi, Letkol Saleh Lahede. Selanjutnya Letkol M. Saleh Lahede selaku Komando Pengamanan Sulawesi Selatan & Tenggara (KoDPSST), membacakan Piagam Perdjuangan Semesta, yang lebih dikenal sebagai Piagam PERMESTA , yang menjadi landasan pelbagai program pembangunan yang segera dilancarkan. Pukul 07:00 keluar pengumuman pertama Letkol Sumual sebagai Kepala Pemerintahan Militer mengenai organisasi kepemimpinan dibantu dua staf. Staf pertama: sebuah staf militer (yang terdiri atas staf TTVII/Wirabuana yang ada), Staf kedua: sebuah staf Pemerintahan yang dipimpin oleh Letkol M. Saleh Lahede sebagai Kastaf, Mayor Eddy Gagola sebagai Wakil Kastaf, & Sekretariat yang dipimpin Kapten W.G.J. Kaligis. Hubungan dengan seluruh daerah di wilayah Wirabuana (Indonesia Timur) tetap terpelihara, sekalipun menjelang pertengahan 1957, beberapa daerah telah dipengaruhi oleh pemerintah pusat serta MBAD. Melalui jaringan pemerintah daerah serta organisasi pemuda, wanita, mahasiswa dan pers, Permesta merencanakan pembangunan

mewujudkan

kesejahteraan

rakyat.

Penerangan melalui pers dan RRI dilancarkan segera setelah upacara di Gubernuran itu. Sejak itu berkumandang semboyan "Sekali Dua Maret, Tetap Dua Maret" yang diciptakan oleh Letkol Saleh Lahede, dan singkatan Permesta untuk Piagam "Perjuangan Semesta" diciptakan dan dipopulerkan oleh G. Kairupan, seorang pejabat Kantor Penerangan kota Makassar. Kedua semboyan itu senantiasa terdengar melalui RRI Makassar, Manado, dan Ambon.

Sejak hari ini, Kepala Pemerintahan Letkol Ventje Sumual mengambil langkah darurat memulihkan keamanan dan ketertiban. Jam malam dinyatakan mulai berlaku pukul 22.00. Pengiriman uang melalui bank ke luar wilayah TT-VII/Wirabuana dinyatakan terlarang, kecuali dengan ijin khusus. Juga barang kebutuhan pokok masyarakat dilarang dibawa ke luar wilayah itu. Para pengusaha pun dilarang mengadakan penimbunan atau menaikkan harga. 3 Maret 1957 Rapat di Balai Perwira oleh Tim Asistensi Staf Pemerintahan Permesta yang dipimpin oleh Letkol M. Saleh Lahede (yang terbagi atas 10 Salah satu rapat Permesta. seksi). Dalam Dari kiri: Henk Rondonuwu (berdiri), Letkol Saleh Lahede, rapat ini Letkol Andi Mattalatta, Mayor CPM Her Tasning. dijelaskan bahwa tindakan 2 Maret bertujuan utama untuk mengatasi kekacauan di wilayah itu. Hari ini juga Letkol Sumual sebagai Panglima TT-VII/Wirabuana & Kepala Pemerintahan Militer Indonesia Timur mengirim laporan tertulis kepada KSAD di Jakarta mengenai tindakan 2 Maret tersebut yang yang tetap mengakui Jakarta sebagai pemimpin yang sah. Ia juga melaporkan bahwa ia telah meningkatkan ketiga wilayah hukum Resimen Infanteri TT-VII/Wirabuana menjadi Komando Daerah Militer (KDM), yaitu KDM Sulutteng dengan Mayor D.J. Somba sebagai komandan, KDM Maluku/Irian Barat dengan Mayor Herman Pieters sebagai komandan, KDM Nusa

Tenggara dengan Mayor Minggu sebagai komandan; sedangkan Sulawesi Selatan dirangkap oleh Gubernur Andi Pangerang dengan pangkat Letkol Tituler. Keempat tokoh ini juga merangkap sebagai Gubernur Militer di masing daerah sesuai dengan ketentuan SOB (Staat von Oorlog en Beleg = Negara dalam Keadaan Perang & Darurat Perang). 4 Maret 1957 Hari ini diadakan pelantikan terhadap Team Asistensi Staf Pemerintahan Permesta, yang meliputi baik anggota militer maupun sipil. Tim Asistensi ini dibentuk untuk tugas sehari dalam Staf Pemerintahan, yang dipimpin oleh Kepala Staf Pemerintahan Letkol M. Saleh Lahede, yang dibagi dalam 10 seksi, yaitu: 1. Seksi Politik, Tata Negara, Hukum dan Tata Tertib dipimpin Letkol M. Saleh Lahede Sendiri. 2. Seksi Moneter dipimpin Kapten Arie W. Supit. 3. Seksi Ekonomi dan Pembangunan dipimpin Baharuddin Rachman. 4. Seksi Makanan Rakyat, Bahan Vital, dan Pertanian dipimpin Sampara Daeng Lili. 5. Seksi Pendidikan, Kebudayaan, Kesehatan dan Perburuhan dipimpin Letkol Oscar E. Engelen. 6. Seksi Perhubungan, Pekerjaan Umum, Tenaga, dan Irigasi dipimpin Kapten J.H. Tamboto. 7. Seksi Penerangan dan Informasi dipimpin Kapten Bing Latumahina. 8. Seksi Koordinasi Keamanan dipimpin Mayor J.W. (Dee) Gerungan. 9. Seksi Agama dipimpin Kapten Anwar Bey. 10. Seksi Pemuda dan Veteran dipimpin A.N. Turangan. Rapat yang dipimpin oleh Letkol Ventje Sumual dengan seluruh stafnya (yang hadir 120 perwira & bintara). Ia menekankan bahwa tindakan 2 Maret sama sekali bukan tindakan kudeta. Hari ini juga, KSAD Mayjen A.H. Nasution menginstruksikan kepada Letkol R. Sudirman - Panglima KoDPSST (Komando Daerah Pengamanan Sulawesi Selatan/Tenggara), yang memimpin 9 batalyon dari Divisi Brawijaya di Sulawesi yang diperbantukan untuk menumpas pemberontakan DI/TII), untuk tidak perlu mengambil tindakan apapun terhadap Letkol Ventje Sumual dan Gerakan Permesta-nya. 5 Maret 1957 Pemerintah Pusat mengirimkan utusan menemui Letkol Sumual di Makassar guna membicarakan masalah Permesta.

Dukungan dari kelompok pemuda terutama melalui Dewan Pemuda Se-Sulawesi, yang hari ini menyatakan dukungannya bagi proklamasi Permesta juga mengganti namanya menjadi Dewan Pemuda Indonesia Timur. 7 Maret 1957 Hari ini diumumkan di Manado, bupati Minahasa Laurens F. Saerang sudah menemui Jan Timbuleng, Komandan Pasukan Pembela Keadilan (PPK) yang mengacau di daerah ini terutama di daerah Minahasa Selatan. Perlu diketahui, bahwa Timbuleng adalah ipar dari Laurens F. Saerang. Pada tanggal 8 Maret 1957 (keesokan harinya), Laurens F. Saerang menyertai Jan Timbuleng dan istrinya ke suatu pertemuan dengan Mayor D.J. Somba, dan dirundingkan pengaturan penyerahan dan rehabilitasi 3.000 orang pengikut PPK. Penyerahan Jan Timbuleng disebut Letkol Ventje Sumual dalam jumpa pers tanggal 13 Maret sebagai suatu contoh hasil yang bisa diharapkan dari kebijaksanaan keamanan kepada gubernur militer yang diangkat belum lama berselang. (Walaupun begitu, Jan Timbuleng dan pasukannya kemudian akhirnya kembali ke hutan menjelang akhir tahun. Ia dikatakan tidak merasa puas dengan perlakuan yang diberikan kepadanya dan orangnya). Doktrin Eisenhower (dari Presiden AS waktu itu- Dwight Eisenhower) dijadikan UU oleh Senat Kongres AS sebagai sikap politik anti-komunis. Doktrin ini membawa AS untuk terlibat lebih jauh lagi dalam perpolitikan Indonesia untuk menjatuhkan komunis dengan memberi bantuan senjata kepada pihak yang meminta mereka untuk melawan komunisme internasional. (Permesta pada masa Pergolakan akhirnya menerima bantuan senjata tersebut (dalam "PRRI"), namun menyatakan bahwa semuanya dibeli dengan cara barter). 8 Maret 1957 Dilantiknya 111 orang anggota Dewan Pertimbangan Pusat Permesta yang dipimpin Residen Andi Sultan Daeng Raja (Haji Makkaraeng Daeng Mandjarungi). Dewan Petimbangan Pusat (DPP) Permesta ini telah diangkat sehari sebelumnya. Gubernur Sulawesi, Andi Pangerang Petta Rani (Andi Pangerang Daeng Parani), secara formal dilantik sebagai Gubernur Militer Sulawesi Selatan-Tenggara, dengan kekuasaan penuh bagi kebijaksanaan keamanan daerah itu. 10 Maret 1957 Rapat umum di Lapangan Karebosi Makassar yang diselenggarakan

oleh Tim Assistensi Staf Pemerintahan Permesta dan DPP Permesta untuk menyambut Piagam Permesta, yang dihadiri oleh sekitar 100.000 orang dari berbagai lapisan masyarakat. Ada 8 pembicara yang berorasi di rapat umum ini. 11 Maret 1957 Hari ini diadakan pelantikan di Manado terhadap Mayor D.J. Somba sebagai Gubernur Militer Sulawesi Utara-Tengah oleh Panglima TT-VII/Wirabuana - Kapala Pemerintahan Militer Indonesia Timur dalam keadaan darurat perang (SOB). Hari ini juga, 387 orang bekas KNIL dilantik menjadi TNI oleh Mayor D.J. Somba, yang telah mengusulkan kepada MBAD agar kekuatan RI-24 ditingkatkan menjadi dua batalyon. Ia mendapat izin untuk membentuk kira dua kompi baru dari bekas serdadu KNIL di daerah Minahasa. Tadinya Minahasa merupakan daerah pengerahan utama bagi KNIL dan taksiran jumlah veteran KNIL di daerah ini berkisar antara 18.000 sampai 30.000 orang. 12 Maret 1957 Mahkama Agung RI menyatakan bahwa Konsepsi Presiden tentang Kabinet Kaki Empat tidak menyalahi Undang Dasar (Konstitusi). Satu setengah jam setelah Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo (dan Kabinet Ali II nya) menyerahkan mandatnya, maka Presiden Soekarno menyatakan bahwa seluruh wilayah teritorial Republik Indonesia "DALAM KEADAAN DARURAT PERANG" (SOB=Staat van Oorlog en Beleg). Salah satu sebab utama dari keadaan ini adalah karena Proklamasi SOB yang telah dikumandangkan Panglima TT-VII/Wirabuana dalam wilayah Indonesia Timur, yang adalah komando daerah terluas di Indonesia saat itu (mencakup setengah wilayah NKRI) yang seharusnya hanya boleh dikumandangkan oleh presiden suatu negara. Hari ini, suatu delegasi yang ditugasi Kepala Pemerintahan Militer Permesta Letkol Ventje Sumual dan disetujui DPP Permesta, pergi ke Jakarta untuk menjelaskan latar belakang proklamasi 2 Maret kepada Presiden dan pemerintah pusat. Delegasi ini dipimpin oleh Henk Rondonuwu dan Ny. Mathilda (Milda) Tololiu-Hermanses (Ketua Dewan Kota Makassar), Haji Makareng Daeng Manjarungi, Sun Bone (Masyumi), Achmad Siala (PNI), J. Latumahina dan Andi Burhanuddin (PKR dan pejabat kantor Gubernur).

14 Maret 1957

Dektrit Darurat Perang

15-22 Maret 1957

Rapat para Panglima Territorium dan SUAD di MBAD di Jakarta, yang dihadiri semua panglimanya kecuali Letkol Achmad Husein yang berhalangan. Konperensi itu dimulai dengan kunjungan kehormatan pada Presiden Soekarno di Istana Merdeka. Pembicaraan dalam pertemuan itu berkisar sekitar pengembangan dan perbaikan tentara, dan melindunginya dari pengaruh politik, yang hanya menggangu kesatuan tentara. Dalam rapat itu, KSAD Mayjen A.H. Nasution memutuskan untuk membubarkan TT-VII/ Wirabuana dan membaginya menjadi 4 KDM (Kodam) terpisah seperti yang telah dilakukan Letkol Ventje Sumual sebelumnya, walaupun KSAD menyatakan menyetujui Piagam Permesta. Pada penutupan pertemuan itu, juru bicara Tentara mengomentari situasi di TT-VII: "...MBAD mengerti dan memahami "proklamasi 2 Maret" itu, tetapi demi menjaga hukum dan ketertiban tak bisa membenarkan cara yang ditempuh. MBAD berpendapat, keinginan dan hasrat proklamasi itu bisa disalurkan melalui lembaga yang ada." Sementara KSAD A.H. Nasution berunding dengan Letkol Ventje Sumual secara formal, Kolonel Sukendro, Asisten I (Intelijens) KSAD melancarkan operasi intelijennya. Para perwira bawahan dipecah-belah, emosi kesukuan dibakar, tindakan palsu dilontarkan. Banyak orang yang menjadi bingung dan guncang. Persatuan di antara para perwira berbagai suku bangsa itu mulai retak.

20 Maret 1957

Panglima TT-VII/Wirabuana Letkol Ventje Sumual mengeluarkan rencana pembagian wilayah TT-VII/ Wirabuana dari 4 provinsi menjadi 6 provinsi: 1. Sulawesi Selatan/Tenggara --> ibukota Makassar 2. Sulawesi Utara/Tengah --> ibukota Manado 3. Maluku --> ibukota Ambon 4. Irian Barat --> ibukota Soasiu

5. Nusa Tenggara Barat --> ibukota Singaraja 6. Nusa Tenggara Timur --> ibukota Kupang Surat Keputusan Panglima/Penguasa Militer TT VII Wirabuana No.Kpts.0139/36/1957 tentang pembagian Indonesia Bagian Timur dalam enam provinsi otonom dan No. Kpts. 0140/36/1957 dan No. Kpts. 0141/36/1957 yang dikeluarkan di Makassar masing tentang pembagian wilayah provinsi Sunda Kecil (Nusa Tenggara) menjadi dua yaitu Barat dan Timur serta provinsi Sulawesi menjadi Utara dan Selatan. 21 Maret 1957 Seluruh anggota Tim MBAD Korps Perwira SSKAD (sebuah korps reuni siswa SSKAD) mengadakan rapat yang menilai bahwa masalah pergolakan daerah mempunyai aspek sangat penting yang justru diabaikan dan dianggap sepele oleh KSAD Mayjen A.H. Nasution dalam keputusan dan tindakannya. Hasil rapat ini kemudian menimbulkan kemarahan KSAD Mayjen A.H. Nasution. Petisi 45 orang perwira tersebut dipaksa untuk mencabut pernyataan tersebut. Hanya 10 orang yang bertahan atas petisi tersebut. Sesuai dengan Piagam Permesta, Dewan Pertimbangan Pusat (DPP) Permesta menyusun delegasi untuk bertemu dengan para pejabat di Jakarta. Henk Rondonuwu bertindak sebagi ketua delegasi dengan Andi Burhanuddin, Achmad Siala, dan Ny. Towoliu-Hermanses sebagai anggotanya. Delegasi ini ternyata bisa bertemu dengan Presiden Soekarno dan Bung Hatta, tetapi tidak sempat bertemu dengan Kabinet yang saat itu telah demisioner menyusul berita Peristiwa Proklamasi Permesta - 2 Maret di Makassar tersebut. Kepada Presiden, delegasi DPP mengusulkan agar 70% anggota Dewan Nasional yang akan dibentuknya itu terdiri atas wakil daerah. Selain itu sangat diharapkan agar Dwitunggal kembali rujuk untuk memimpin bangsa Indonesia selanjutnya. Delegasi juga menyampaikan undangan kepada Presiden dan Bung Hatta untuk menghadiri Kongres Bhinneka Tunggal Ika yang akan diselenggarakan pada bulan Mei 1957 mendatang. Dalam kesempatan ini, tentu saja delegasi mengalami hambatan dari pihak yang kurang senang dengan perkembangan di Indonesia Timur. Malah beberapa tokoh asal daerah Sulawesi menerima surat kaleng yang mengancam jiwa mereka. Pada awal bulan April, Tokoh Utama Permesta Letkol Ventje Sumual tiba di Manado. Di lapangan Mapanget, rakyat berduyun menyambutnya. Seorang gadis dengan pakaian khas Minahasa mengalunginya dengan rangkaian bunga sedang para pemuda menyambutnya dengan tari perang cakalele. Dengan pengawalan

April 1957

ketat iringan mobil Panglima TT-VII/Tokoh Utama Permesta tiba di manado melalui ribuan rakyat serrta anak sekolah yang berjajar di pinggir jalan sepanjang Mapanget-Manado sambil melambaikan bendera merah-putih dan meneriakkan pekik "Hidup Permesta". Siang itu juga dilangsungkan upacara pelantikan Mayor D.J. Somba sebagai Gubernur Militer Sulutteng dan Mayor Dolf Runturambi sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Sulutteng. Sore harinya diadakan pertemuan besar yang dihadiri oleh semua tokoh militer, sipil dan masyarakat Sulutteng yang telah diundang. 1 April 1957 Gubernur Sulawesi Andi Pangerang diangkat oleh Kepala Pemerintahan Militer Permesta Letkol Ventje Sumual sebagai Gubernur Militer Sulawesi Selatan-Tenggara dengan pangkat Letkol tituler TNI. Presiden Soekarno mencoba membentuk kabinet baru setelah Kabinet Ali II meletakkan jabatan pada tanggal 4 Maret yang lalu. Setelah Suwirjo (dari PNI) gagal membentuk kabinet, maka Soekarno mengajak KSAD Mayjen A.H. Nasution ke Cipanas Bogor untuk bersama membentuk kabinet itu. Kabinet Darurat Ekstraparlementer ini tidak tergantung pada dukungan partai. Kabinet ini dipimpin oleh Perdana Menteri-nya seorang tokoh tak berpartai yaitu Ir. H. DJUANDA. Kabinet Djuanda ini diberi nama Kabinet Karya dan di dalamnya duduk dua orang Kabinet Djuanda (Kabinet Karya) anggota Angkatan Bersenjata. Program Kabinet Karya disebut pancakarya, yaitu: 1. membentuk Dewan Nasional 2. normalisasi keadaan Republik Indonesia 3. melancarkan pelaksanaan pembatalan KMB 4. perjuangan Irian Barat 5. mempergiat pembangunan Kedudukan Ir. Djuanda juga pada hakikatnya tidak terlalu kuat. Yang menentukan perkembangan yang sesungguhnya di pusat adalah Presiden Soekarno (Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi) dan KSAD Mayjen A.H. Nasution. 14 April 1957 Lanjutan Sidang Pleno Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Permesta ke-4 diadakan hari ini. Dalam risalah sidang ini, ada keluhan bahwa

9 April 1957

Kepala Badan Urusan Kopra (BUK), Drs. Baharuddin Rachman, atas wewenang sendiri telah menjual kopra di luar negeri dengan harga yang lebih rendah daripada jika dijual di pulau Jawa, dan beberapa bulan kemudian Drs. Baharuddin diam lari ke Singapura dengan membawa keuntungan yang diperolehnya. 16 April 1957 Lanjutan Sidang Pleno Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Permesta ke-7 diadakan hari ini. Dalam risalah sidang ini, topik pembicaraan adalah perundingan dengan DI/TII pimpinan Kahar Mudzakkhar. Administrator militer dan gubernur sipil dari seluruh Indonesia mengadakan rapat di Jakarta untuk membicarakan penyelesaian masalah yang dihadapi negeri ini. Mereka menyimpulkan, bila kerja sama antara Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta bisa terlaksana, beberapa penyelesaian mengenai persoalan nasional mungkin akan dicapai. Mereka juga menganjurkan supaya Dewan Nasional yang telah diusulkan tersusun dari wakil provinsi, supaya suatu kebijaksanaan yang konsekuen dijalankan terhadap para pemberontak, supaya administrasi diperbaiki dan korupsi diberantas, supaya pembangunan provinsi dipercepat, dan supaya soal di dalam TNI diselesaikan dengan cara damai, tanpa mengabaikan "tata tertib militer." Upaya pembersihan Permesta diadakan terhadap semua anggota pimpinan PKI / orang komunis di Minahasa dan anak organisasinya, termasuk beberapa pemuka PNI yang disebut golongan ASU, atas perintah Gubernur Militer Sulutteng, berdasarkan bukti yang ada tentang usaha mereka menentang Permesta. Kemudian mereka ini dikarantinakan di Gorontalo. Anggota PKI dan PNI-ASU yang masih bebas berkeliaran terus diikuti dan bila terbukti bahwa mereka juga membahayakan, mereka akan segera ditahan. Kemudian organisasi PKI dilarang dan dianggap sudah tidak ada lagi oleh Permesta pada beberapa bulan mendatang. Namun, gebrakan Permesta terhadap orang komunis ini justru menimbulkan reaksi keras di tingkat nasional. Kemelut politik mulai terjadi terutama di tingkat pemerintah pusat. Karena gerakan Permesta dipelopori oleh tokoh militer, dengan sendirinya menimbulkan pula friksi di kalangan militer ketika itu. Puncaknya kemudian, adalah Letkol Ventje Sumual dibebaskan dari jabatannya sebagai Panglima TT-VII/Wirabuana, dengan dihapuskannya jajaran TT-VII dari strategi komando TNI AD. Bulan ini, Perdana Menteri Ir. H. Djuanda dapat disebutkan disini juga mengadakan kunjungan ke daerah Minahasa.

26-28 April 1957

Mei 1957

5 Mei 1957

Pengumuman dalam komunike TNI tanggal 5 dan 27 Mei dimana diputuskan bahwa Komando TT-VII /Wirabuana (akan ditiadakan) dan KoDPSST (Komando Daerah Pengamanan Sulawesi SelatanTenggara) akan disatukan dalam satu komando, dibawah pengawasan KSAD, dan sebagai akibatnya, Letkol H.N.V. Sumual dan Letkol Sudirman akan dipindahkan ke jabatan lain, yang belum ditentukan. Juru bicara TNI, Letkol Rudy Pirngadie mengatakan bahwa TNI akan meneruskan rencananya untuk mengadakan reorganisasi teritorial, dengan membagi Indonesia Timur menjadi 4 daerah militer: Sulawesi Selatan dan Tenggara, Sulawesi utara dan Tengah, Maluku dan Irian Barat, dan Nusa Tenggara. Gubernur Sulawesi Andi Pangerang Petta Rani, ditunjuk sebagai gubernur militer Sulawesi Selatan dan Tenggara, dengan pangkat tituler kolonel, yang mulai berlaku sejak 1 April 1957. Penunjukan gubernur militer di daerah lainnya masih dalam pertimbangan, begitulah komunike itu diakhiri. Presiden Uni Soviet, Vorosylov, pemimpin Komunis Internasional berkunjung di Indonesia sampai tanggal 19 Mei 1957, memastikan bahwa Komunis Internasional mendukung Soekarno, antara lain dengan mengirim persenjataan dan menumpas Permesta yang anti Nasakom, anti-Komunis. Kongres Bhinekka Tunggal Ika untuk memenuhi Piagam Permesta, dengan panitia yang dipimpin oleh Henk Rondonuwu, dan ada 122 orang yang hadir (47 dari Sulsel, 12 dari Sulteng, 6 Gorontalo, 6 Bolmong, 6 Minahasa, 6 Manado, 6 Satal, 6 Malut, 5 Maluku Tengah dan Selatan, 7 Ambon, 8 Irian Barat, 7 Bali, 1 Flores.), dari 30 kabupaten se-Indonesia Timur, wakil dari kodya Makassar, tokoh asal Papua, para anggota DPP Permesta, wakil daerah di DPR (di Jakarta) dan Konstituante (di Bandung), yang mana seluruhnya berjumlah sekitar 1500 orang (merupakan pertemuan terbesar pertama di Indonesia Timur waktu itu). Undangan juga dikirim kepada para pejabat di Jakarta & para gubernur se-Indonesia. Presiden Soekarno yang sebelumnya menyanggupi akan hadir, ternyata tidak hadir. Bung Hatta mengirimkan prasarannya melalui rombongan pimpinan adat Sumatra Barat, namun rombongan tersebut ditahan di Bandar Udara Kemayoran oleh KMKB Jakarta. Beberapa pemimpin yang juga diundang namun tidak hadir antara lain Perdana Menteri Ir. Djuanda, Letjen T.B. Simatupang (bekas KSAP), Kolonel M. Simbolon, Letkol Ahmad Husein, Gubernur Sulawesi Andi Pangerang, Mayor M. Jusuf (padahal sudah dimasukkan dalam acara untuk berbicara pmengenai persoalan keamanan). Beberapa rombongan dari Ibukota Jakarta yang akan ke kongres tersebut juga

6 Mei 1957

8-12 Mei 1957

ditahan. Para delegasi tersebut dibagi dalam seksi yang pada dasarnya didasarkan pada Piagam Permesta. Dalam rancangan mengenai pembangunan yang dirumuskan dalam kongres, ditetapkan adanya rencana jangka pendek dan jangka panjang. Rencana jangka pendek terutama bertujuan menggerakkan industri rakyat seperti penggaraman, modernisasi alat penangkap ikan, pengolahan sabuk kelapa, benang tenun, penggergajian kayu, pembuatan genteng, alat dari kulit, pembuatan perahu, pabrik sabun, penyelaman mutiara, berbagai minyak cengkeh, dan tembakau rakyat. Rencana jangka panjang meliputi pembangunan pembangkit tenaga listrik, pabrik tekstil, minyak kelapa, semen, kapal, belerang, rokok, assembling kendaraan bermotor, pertambangan nikel di Pomala dan Sanggalopi, besi di Sumbawa, aspal di Buton, emas, perak, niel, bauksit, asbes, minyak tanah, dan lain sebagainya. Rencana lain yang dihasilkan Kongres Bhinneka Tunggal Ika dari Seksi Pertahanan, berjudul "Doktrin Pertahanan Wilayah Indonesia Bagian Timur". Ditinjau dari segi strategi militer, Indonesia Bagian Timur menduduki posisi penting untuk perjuangan Irian Barat. Selain itu, diperlukan juga kewaspadaan agar konflik antara Blok Timur (komunis) dan Blok Barat tidak menjalar ke wilayah ini sehubungan dengan letaknya yang berbatasan dengan negara yang terikat dengan Blok Barat (Filipina dan Australia). Untuk itu, sangat diperlukan satu komando untuk seluruh Wilayah Indonesia Timur. Sebab itu TT-VII/Wirabuana harus dipertahankan (Wilayahnya mencakup 4 provinsi: Sulawesi, Maluku, Kep.Sunda Kecil, Irian Barat). Dari segi ekonomi, dokrin pertahanan tersebut mengandalkan pembangunan ekonomi yang bermaksud agar daerah ini mandiri (selfsupporting), dalam hal ini bahan vital yang akan juga membuka lapangan kerja baru. 14 Mei 1957 Direktur CIA, Allan Dulles dalam rapat National Security Council (NSC) Amerika Serikat melaporkan bahwa proses dis-integrasi di Indonesia telah terjadi, dimana hanya Pulau Jawa saja yang masih dikendalikan oleh pemerintah pusatnya. State Departement AS mengirim Gordon Mein, Wakil Direktur kantor Urusan Pasifik Barat Daya, ke Jakarta untuk meneliti kebenaran berita disintegrasi tersebut. Dua hari di Jakarta, Gordon Mein mengirim laporan, membantah teori disintegrasi tersebut.

18 Mei 1957

Rp 15.000.000 dipinjam dari Bank Indonesia Cabang Manado oleh Permesta untuk mendanai beberapa proyek pembangunan. Ada juga laporan bahwa Rp 12.000.000 telah diambil oleh Permesta dari Bank Indonesia Cabang Ambon. Panglima TT-VII Letkol Ventje Sumual secara resmi mengadakan perjanjian pinjaman darurat sebesar Rp.100.000.000 dengan Bank Indonesia Cabang Makassar, sebagai dana pembangunan Indonesia Timur. Pada hari ini juga dikeluarkan perintah kepada semua Daerah Tingkat II di wilayah Wirabuana (enam provinsi) untuk membentuk Panitia Pembangunan Daerah yang diketuai oleh kepala daerah dengan 10 anggota (tokoh Ormas, partai dan militer). Panitia ini bertugas melaksanakan perbaikan pembangunan di daerah berdasarkan semangat gotong-royong, seperti perbaikan jalan dan sebagainya yang langsung dapat dipahami dan dirasakan faedahnya oleh rakyat banyak. Untuk itu, setiap kabupaten di Indonesia Timur menerima jatah 2 juta rupiah untuk proyek pembangunan yang direncanakan daerah bersangkutan. Misalnya di Sulawesi Selatan, PLTD (Pusat Listrik Tenaga Diesel) Makale, Tana Toraja, dibangun dengan dana Permesta. Demikian pula pasar seperti di Matoangin (Makassar), Markas Resimen 23 di Pare-pare, pusat latihan infanteri di Bilibili, depot batalion di Malino, dan Markas Resimen Hasanuddin di Jalan Lanto Daeng Pasewang. Kemudian, setiap provinsi diwajibkan menyusun rencana pembangunan lima tahun sesuai dengan ketetapan dalam Piagam Permesta dan keputusan Kongres Bhinneka Tunggal Ika. Dana pembangunan diperoleh melalui ekspor kopra wilayah Sulawesi Utara, Malaku Utara dan beberapa tempat lain. Seperti ditentukan dalam Piagam, daerah yang tidak memiliki komoditi ekspor, ditunjang daerah lainnya, sehingga pembangunan bisa dilaksanakan secara merata.

20 Mei 1957

22 Mei 1957

Rp 1.000.000 dipinjam dari Bank Indonesia Cabang Makassar oleh Permesta untuk mendanai beberapa proyek pembangunan. Ada laporan bahwa adanya penyalangunaan uang tersebut. Beberapa orang yang berhubungan dengan gerakan Permesta kelihatannya menjadi makmur. KDMSST (Komando Daerah Militer Sulawesi Selatan/Tenggara) dengan Panglimanya Letkol Andi Mattalatta & Kastaf Mayor CPM Hairuddin Tasning, diubah menjadi Komando Darah Militer (KDM) XIV/ Hasanuddin terpisah dari jajaran TT-VII Wirabuana oleh

26 Mei 1957

MBAD. 27 Mei 1957 Komando Daerah Militer (KDM) XVI/Udayana terbentuk, terpisah dari jajaran TT-VII/Wirabuana. KSAD Mayjen A.H. Nasution tiba di Makassar hari ini untuk melantik Komando Daerah Militer Sulawesi Selatan-Tenggara (KDM-SST). KDM-SST secara resmi dibentuk, dengan Letkol Andi Mattalatta sebagai panglima, dan Mayor Her Tasning sebagi pejabat kepala staf. Gubernur Militer SST Andi Pangerang dan Kolonel Sudirman menghadiri upacara itu; Letkol Ventje Sumual mendampingi Mayjen A.H. Nasution. Mayor M. Jusuf menjelaskan kepuasannya akan persetujuan yang dicapai dengan KSAD A.H. Nasution pada pertemuan 4 Juni oleh perwira yang pertama kali merencanakan Permesta, yaitu mengenai terbentuknya KDM-SST. Sejak saat itu, Mayor M. Jusuf jelas merupakan pimpinan kelompok yang anti-Permesta. Ia dengan teguh didukung kepala staf KDM-SST, Mayor Her Tasning. Letkol M. Saleh Lahede, perwira senior asal Sulawesi Selatan yang dianggap paling dekat dengan Permesta jelas menjadi pimpinan kekuatan yang pro-Permesta di Makassar. Perwira lainnya, termasuk Letkol Andi Mattalatta, Panglima KDM-SST sikapnya kurang jelas. Letkol Ventje Sumual menemui Mayjen A.H. Nasution serta membuat persetujuan kompromi. Letkol Sumual akan dijadikan kepala staf sebuah unit yang akan merencanakan pembentukan Staf Komando Koordinasi Antar Daerah Indonesia Timur (KADIT). Briefing KSAD Mayjen A.H. Nasution kepada semua perwira TTVII/Wirabuana yang akan dibubarkan di kediaman Gubernur Sulawesi dibatalkan kemudian dan diganti dengan rapat tertutup yang hanya dihadiri oleh Panglimanya Letkol Ventje Sumual, Kastaf KoDPSST Letkol M. Saleh Lahede, KSAD Mayjen A.H. Nasution, Kolonel Ahmad Yani serta Kolonel Dahlan Djambek. Dalam pertemuan tertutup ini, ia mengingatkan kembali akan pengkhianatan PKI di Madiun pada tahun 1948: "Kalau tuan ingin digantung PKI, silahkan, tetapi kami di Indonesia Timur menolak." Dalam rapat itu juga Letkol Ventje Sumual mengusulkan membentuk Komando Antar Daerah Indonesia Timur (KADIT, kemudian menjadi KOANDAIT) yang akan mengkoordinasikan

30 Mei 1957

1 Juni 1957

4 Juni 1957

5 Juni 1957?

6 Juni 1957

keempat KDM di eks TT-VII/ Wirabuana. Usul ini diterima KSAD. Sebagai panglima KOANDAIT ditetapkan adalah Letkol Ventje Sumual sendiri. Namun sebelum upacara serah terima dan pembubaran TT-VII 8 Juni mendadak KSAD mengumumkan bahwa KOANDAIT yang akan dibentuk akan dipimpinnya sendiri dan Letkol Ventje Sumual hanya akan menjadi kepala staf saja dengan menerima kenaikan pangkat menjadi Kolonel.
(NB: KOANDAIT ini menjadi cikal bakal Kowilhan/Komando Wilayah Pertahanan).

Masa Awal Pergolakan Permesta (Pembangunan II)


8 Juni 1957 Serah terima & pembubaran TT-VII/Wirabuana serta KDPSST (Komando Daerah Pengamanan Sulawesi Selatan/Tenggara) dilaksanakan di Lapangan Karebosi Makassar. Pembubaran TT-VII/Wirabuana dan pembentukan empat KDM yang terpisah di Indonesia Timur merupakan pukulan berat bagi Permesta. Beberapa perwira Permesta yang jabatannya hilang sehubung dengan pembubaran TT-VII/Wirabuana dan KoDPSST, diberi tugas belajar, atau kedudukan staf yang tidak fungsional tanpa tugas tertentu. Karena tugas belajar sering digunakan untuk membebaskan perwira yang tidak disukai atau tak mampu, mereka ini sering diremehkan. Kedudukan yang tidak berfungsi itu juga tidak disukai, karena ini biasanya berarti tamatnya karier militer. Perwira yang mendapatkan kedudukan seperti itu dinamakan / diistilahkan "perwira yang diperbantukan" dan kalimat ini sering diplesetkan menjadi "perwira yang diperhantukan." Perpecahan antara perwira Permesta yang berkembang sekitar bulan Juni ini kadang digambarkan sebagai perpecahan antara mereka yang disebut "Permesta damai" dan mereka yang merupakan "Permesta perang". Tetapi, perpecahan ini juga terjadi antara mereka yang mempunyai kedudukan dan mereka yang tidak mempunyai kedudukan. 10 Juni 1957 Letkol Ventje Sumual memerintahkan Letkol Saleh Lahede untuk mengumpulkan para eks. perwira TT-VII pendukung Permesta untuk mengadakan rapat di kediaman Saleh Lahede di Jl. Sam Ratulangi Makassar. Hadir dalam rapat itu para Perwira seperti Mayor Andi M. Jusuf, Mayor CPM Her

Tasning, Letkol Andi Mattalatta, Mayor Dee Gerungan, Kapten Bing Latumahina, Letkol dr. O.E. Engelen, Mayor Eddy Gagola, Kapten Lendy R. Tumbelaka, Mayor Sjamsuddin, dan Kapten Arie W. Supit. Para perwira tersebut banyak yang mengusulkan agar Permesta bertahan terus, kalu perlu dengan cara kekerasan. Rapat itu ditutup dengan perjanjian akan merahasiakan keputusan itu agar tidak disabot rombongan KSAD. Namun malam itu juga, Mayor Andi M. Jusuf & Mayor CPM Her Tasning membocorkan keputusan rahasia tersebut ke rombongan KSAD di Gubernuran Sulawesi. (Waktu itu ada isu di kalangan rombongan KSAD bahwa Permesta telah mengarahkan meriam ke tempat tinggal rombongan KSAD, sehingga dipersiapkanlah sebuah panser untuk 'menjaga segala kemungkinan' penyerangan). Karena secara formal Staf TT-VII telah dibubarkan, dengan demikian, juga Staf Pemerintah Militer yang dipimpin Saleh Lahede, maka sebelum meninggalkan Makassar menuju Manado, Ventje Sumual membentuk Dewan Tertinggi Permesta sebagai pucuk pimpinan Permesta. Susunan Dewan Tertinggi Permesta adalah sebagai berikut: Ketua : Letkol H.N. Ventje Sumual Wakil Ketua : Letkol M. Saleh Lahede Sekretaris : Kapten Bing Latumahina Anggota : antara lain Letkol dr. O.E. Engelen, Ny. Mathilda Towoliu-Hermanses, Makaraeng Mandarungi, Mochtar Lintang, Hutagalung, J. Mewengkang, J.E. Tatengkeng, Laodo Manoarfa, Abdul Muluk Makatita. Letkol H.N. Ventje Sumual dan sebagian besar perwira TT-VII dari Sulawesi Utara/Minahasa, seperti Mayor J.W. (Dee) Gerungan, Mayor Eddy Gagola, Kapten Lendy R. Tumbelaka, Kapten John Ottay, kembali ke Minahasa. Anggota Batalyon 702 yang berasal dari Minahasa/Sulawesi Utara juga pergi ke Utara pada waktu itu, dan dua kompi di Sulawesi Utara yang terdiri dari sebagian besar orang Bugis dan Makassar pergi ke Selatan Sulawesi dan menduduki tempat yang ditinggalkan mereka di KDM-SST. Letkol Ventje Sumual kemudian membuat markas Permesta di kompleks peristirahatan Persanggrahan Indraloka yang kala itu bernama "Thermo mandi Kinilow". Tercatat P.M. Tos anggota Kopedua (KoP2) yang menjadi kurir dari Panglima Permesta tersebut.

13 Juni 1957

Dalam sebuah siaran radio hari ini, Mayor D.J. Somba menyatakan, ia akan selalu mendukung Letkol Ventje Sumual sebagai Panglima TT-VII/Wirabuana, dan mengulangi pernyataan tanggal 8 Mei tentang hal yang sama. Hari ini, sekitar 30 orang, diantaranya banyak anggota PKI, ditangkap di Minahasa dan ditahan di Gorontalo. Di Sulawesi Utara-Tengah diproklamirkan provinsi Sulawesi Utara, dihadiri Letkol Ventje SUMUAL, Mayor D.J. SOMBA, Kolonel Dahlan DJAMBEK, dll. Konferensi dinas yang diselenggarakan di Kotamobagu itu dihadiri oleh Letkol H.N. Ventje Sumual dan stafnya, Kolonel Dahlan DJAMBEK, dll. Malah Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, yang ketika itu berada di Manado juga menghadirinya (Prof. Soemitro memang telah berada di Manado yaitu menyingkir ke sana sejak tahun 1956 (Mei 1957?) akibat kemelut politik karena ia adalah salah satu pimpinan Partai Sosialis Indonesia/PSI dan menikah dengan orang Minahasa yaitu Dorah Sigar asal Langowan, nanti pada Konferensi Sungai Dareh di Sumatera pada akhir 1957, ia baru keluar daerah itu, berangkat dengan Letkol H.N. Ventje Sumual dan stafnya). Dalam rapat itu diputuskan, mengangkat Henny Djusuf MANOPPO, seorang Residen-koordinator Sulawesi Tengah (sekaligus Bupati/Kepala Daerah Bolaang Mongondow dan bekas raja Bolaang Mongondow terakhir) yang banyak pengalaman dalam masalah pemerintahan daerah, sebagai Gubernur Sulawesi Utara dan Tengah. Wilayahnya dibagi dalam enam kabupaten dan satu kotamadya yaitu: 1. Kotamadya Manado 2. Kabupaten Minahasa 3. Kabupaten Gorontalo 4. Kabupaten Bolaang Mongondow 5. Kabupaten Sangir Talaud 6. Kabupaten Sulawesi Tengah 7. Kabupaten Tanah Toraja O.F. Pua, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Minahasa dan sebagai anggota PNI, dipenjarakan oleh Pemerintahan Militer Permesta dengan alasan yang tidak diterangkan, tetapi hanya sebentar saja. Dalam sebuah rapat di Kinilow, Letkol Ventje Sumual mengumumkan kesediaannya untuk memenuhi keinginan

19 Juni 1957

20 Juni 1957

21 Juni 1957

23 Juni 1957

masyarakat untuk mempertahankan dirinya sebagai Panglima TT-VII/Wirabuana. Namun ia menandaskan, gerakan Permesta bukanlah gerakan separatisme. Penyelesaian yang wajar dengan pemerintah pusat, tetap tujuannya. Sepanjang sejarah Permesta, lambang kebangsaan Indonesia seperti bendera Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, lambang Bhineka Tunggal Ika, serta hari Proklamasi, tetap dijunjung tinggi dan bermakna seperti wilayah lain di Indonesia. Perayaan hari Proklamasi 1957, umpamanya tidak kurang meriah daripada tahun sebelumnya. Rapat umum yang diselenggarakan di lapangan Sario Manado, dihadiri sekitar 40.000 orang, dilanjutkan dengan resepsi di Gubernuran. Gubernur Manoppo, Panglima Sumual dan Mayor D.J.Somba memberi sambutan yang meyakinkan. 25 Juni 1957 Pengumuman dari Seksi Penerangan Team Bantuan Sulawesi Utara yang disiarkan dalam pers Manado: "Sesuai dengan maksud dan tudjuan tertjantum dalam Rentjana Undang-Undang "Wadjib Bela Umum," maka untuk pertama kalinja di seluruh Indonesia akan diadakan pertjobaan milisi di wilajah GubMil Sul-Ut. Pertjobaan milisi tersebut akan dilakukan dalam waktu jang singkat, sedangkan mereka jang akan dilatih diutamakan mereka jang sudah pernah memanggul sendjata. Demikian..." Pengumuman ini sampai di Jakarta bersamaan dengan berita proklamasi pembentukan provinsi Sulawesi Utara secara sepihak oleh Konferensi Kerja Permesta di Gorontalo. Letkol Herman Pieters dilantik sebagai komandan Komando Daerah Militer Maluku dan Irian Barat. Kopra yang diekspor dari wilayah Minahasa selama periode bulan Januari-Juni 1957: - Antar pulau sejumlah 13.972 ton - Ke luar negeri 34.170 ton kopra * Barter kopra dengan beras per kilogram yang oleh Permesta perbandingannya adalah 1:1 kg, serta yang dibarter di Singapura ada sekitar 230.000 ton kopra 3 Juli 1957 Dalam awal pertemuan rapat pemuda bersama utusan Kongres Pemuda yang akan dibuka tanggal 5 Juli, Letkol Ventje Sumual

26 Juni 1957

Januari - Juni 1957

di Markas Permesta di Kinilow Tomohon, menegaskan bahwa dengan atau tanpa izin dari pusat, ia adalah pimpinan militer tertinggi di Indonesia Bagian Timur. Ia berkata bahwa hanya ada dua pilihan: "hidup dan berjuang dengan Permesta, ataukah mengekor dengan pusat." Ia berkata seterusnya: "bila ternyata ada tokoh tertentu yang mau dengan sengaja membendung Permesta, namun kami akan berusaha menerima, mempersatukan serta mempertemukan mereka dengan kita. Tetapi kalau dalam kenyataan ada gejala yang kuat seolah tindakan terlalu merugikan maka demi keselamatan Permesta kita terpaksa menjalankan hukum revolusioner." 4 Juli 1957 Letkol M. Saleh Lahede diperiksa hari ini oleh tim bentukan Mabes TNI-AD (MBAD) berkaitan dengan keterlibatannya yang nyata dalam gerakan Permesta. Letkol Herman Pieters, Letkol Minggu, Mayor D.J. Somba, ditunjuk sebagai administrator militer dari daerah mereka sesuai dengan Hukum Darurat Perang oleh Pemerintah Pusat. Kongres Pemuda Indonesia Timur digelar di Tondano. Ide Kongres itu lahir setelah Bhinneka Tungga Ika di Ujungpandang, Mei 1957. Ketika itu, Ketua Badan Musyawarah Dewan Pemuda Indonesia Timur, R.A. Daud, mengusulkan para pemuda harus juga mengadakan kongresnya sendiri. Pelaksanaannya diserahkan kepada Komando Pemuda Sulawesi Utara oleh tokoh yang pernah bergabung dalam Dewan Manguni di Manado sebelum 2 Maret 1957. Kongres Pemuda Indonesia Timur yang dilangsungkan di Tondano ini dengan Jan Torar sebagai Ketua Panitia. Berbagai organisasi pemuda pelajar dan mahasiswa seluruh Indonesia Timur mengirimkan wakilnya ke Tondano, malah wakil tersebut diambil dari wilayah tingkat II dan mendapat bantuan pemerintah setempat. Hadir dalam kongres itu utusan dari Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara (Bali). Ketua Dewan Pemuda Indonesia Timur itu ternyata tidak hadir. Salah satu keputusan penting dalam Kongres Pemuda Indonesia Timur ini adalah pembentukan suatu wadah tunggal yang dinamakan Komando Pemuda Permesta (KoP2) dengan suatu pimpinan utama dan beberapa departemen, seperti Departemen Pengerahan Tenaga, Pertahanan, Pendidikan dan Kebudayaan, Ekonomi dan Sosial, Keuangan, Agama dan Umum. Untuk periode pertama Kongres memilih Jan Torar yang memimpin Departemen Pengerahan Tenaga untuk

5 Juli 1957

5-11 Juli 1957

menjadi Pemimpin Umum KoP2. Pimpinan lainnya adalah P.M. Tos (Departemen Pertahanan), Badar Alkatiri (Departemen Agama), Assegaf (--> K.H. Arifin Assegaf ? ) (Departemen Sosial Ekonomi), Abdul Chalil (Departemen Umum). Komando Pemuda Permesta yang dibentuk dalam kongres diberi status setengah resmi oleh Letkol Ventje Sumual. Ketika timbul konflik senjata pada 1958, sejumlah besar anggota KoP2 di wilayah Sulawesi Utara dan Tengah dengan sukarela mendaftarkan diri menjadi anggota pasukan Permesta. Sebelum itu, kegiatan KoP2 adalah membantu pemerintah daerah masing mengerahkan tenaga dan dana untuk melancarkan pembangunan di daerah. Hasil yang dicapai organisasi pemuda ini secara swadaya, misanya seperti pembangunan berbagai gedung sekitar 80 buah, dan yang dijadikan kantor Gubernur Daerah Sulawesi Utara selama 40 tahun - serta jalan raya cukup membanggakan. Selain itu di Sulawesi Selatan terbentuk Parlemen Pemuda Permesta Wirabuana dengan pimpinan Matulada. Pada tanggal 11 November 1957, Letkol Ventje Sumual, sebagai pimpinan tertinggi Permesta, menggabungkan organisasi pemuda itu menjadi Dewan Tertinggi Pemuda Permesta dengan kedudukan di Makassar. 17 Juli 1957 Pemerintah Pusat mengirimkan sebuah misi ke Sulawesi Utara yang terdiri dari pejabat tinggi yang berasal dari Minahasa, yaitu Menteri Kehakiman Gustaf A. MAENGKOM, Menteri Perindustrian Ir. Fred J. INKIRIWANG, Duta Besar RI di Kanada Lambertus Nicodemus PALAR, Anggota Konstituante Arnold Isaac Zacharias MONONUTU. Mereka mengadakan perjalanan ke Sulawesi Utara dari tanggal 17 Juli sampai 5 Agustus 1957. Pada saat yang sama, Gubernur Sulawesi Utara H.D. MANOPPO sedang menghadiri Konferensi Gubernur seIndonesia di Jakarta. Ia mendapat kepastian dari beberapa menteri di Jakarta, bahwa pembentukan provinsi di Sulawesi Utara adalah maksud pemerintah pula. Sebelum mengadakan pembicaraan dengan Dewan Tertinggi Permesta, misi Maengkom mengadakan peninjauan ke pelbagai daerah. Mereka menyaksikan sendiri, pembangunan wilayah ini memang benar berhasil. Di mana rakyat menyambut mereka dengan gembira. Rapat umum diselenggarakan di berbagai tempat untuk memberikan kesempatan kapada rombongan dari pusat itu untuk menjelaskan kepada rakyat

tentang maksud tujuan kedatangan mereka. 23 Juli 1957


Persetudjuan Kinilow antara Pemerintah Pusat dan Pimpinan Permesta.

Dalam pertemuan jang bersifat ramah-tamah jang diadakan di Pesanggrahan Kinilow, pada tanggal 23 Djuli 1957 antara Pemerintah Pusat jang diwakili (1) Menteri Kehakiman G.A. Maengkom, (2) Menteri Perindustrian Ir. F. Inkiriwang, (3) Duta Besar RI di Canada L.N. Palar, (4) Anggota Konstituante Arnold Mononutu di satu pihak, dan Penguasa Militer Sulawesi Utara dan Stafnja di lain pihak, maka jang disebut pertama dengan maksud membuka kesempatan guna membitjarakan persoalan pokok sebagai jang tertjantum dalam Piagam Permesta, dengan ini menjatakan menjetudjui hal tersebut di bawah ini:

1. Surat Keputusan Panglima/Penguasa Militer TT VII Wirabuana 2. No.Kpts.0139/36/1957 tentang pembagian Indonesia Bahagian Timur 3. dalam enam provinsi otonom sebagai jang dimaksud dalam 4. Surat Keputusan No.Kpts.0149/36/1957 dan 5. Surat Keputusan No.0141/36/1957. 6. 7. Anggaran Belandja Provinsi Sulawesi Utara diterima langsung 8. oleh Provinsi tersebut mulai pada hari pembentukannja. 9. 10. Routine bergrontingen daerah Tingkat II serta 11. verticale diensten 12. jang belum lagi diterima segera akan dikirimkan oleh 13. pemerintah pusat. 14. 15. Penjelenggaraan import dan ekspor sejak 2 Maret 1957 di dalam 16. wilajah Sulut tetap berlaku sehingga adanja penjelesaian 17. terachir dari pada persoalan antara pemerintah pusat 18. dan daerah. 19. 20. Pemerintah Pusat mendjamin perhubungan laut dan udara 21. interinsulair. 22. 23. Pemerintah Pusat akan melenjapkan segala kesulitan jang 24. dialami oleh Sulut dalam perdagangan intersulair. 25. 26. Pembentukan Universitas di Sulawesi Utara. 27.

Demikianlah keputusan Pemerintah Pusat dalam menjatakan menjetujui hal jang disebut di atas, lepas dari pada persoalan pokok sebagai jang tertjantum dalam Piagam Perdjuangan Semesta Wilajah TT-VII Wirabuana. Dikeluarkan di: Kinilow Pada tanggal: 23 Juli 1957 Mengetahui: Panglima/Penguasa Militer TT-VII Wirabuana

Tertanda: G.A. Maengkom Ir. F. Inkiriwang A. Mononutu

Demikianlah pernjataan resmi kedua pihak untuk kepentingan umum (khalajak ramai). Selain itu, kesimpulan akhir pembitjaraan kedua belah pihak adalah, Delegasi Misi Pemerintah Pusat akan mengadjukan kepada Pemerintah Pusat hal sebagai berikut: 1. Gubernur Militer Nusa Tenggara, Maluku dan Sulawesi Utara segera dilantik. 2. Letkol Sumual dilantik sebagai Panglima Komando Indonesia Timur. 3. Staf Komando Indonesia Timur ditentukan atas usul Panglima. 4. Stabilitas Angkatan Darat harus ditjapai melalui musjawarah collegial dengan ketentuan bahwa musjawarah jang dimaksud sudah harus dimulai dalam waktu satu bulan sesudah Misi tiba di Djakarta.

Kemudian Misi Pemerintah Pusat itu kembali ke Jakarta serta melaporkan hasil perundingan tersebut. Namun tampaknya Pemerintah Pusat (Kabinet Djuanda) seolah tidak mempedulikan isi dari persetujuan tersebut.

Salah satu permasalahan utama yang dihadapi para pemerintahan daerah daerah adalah sebagai berikut: Pada tahun sebelumnya anggaran pembelanjaan daerah telah dibuat dan dikirim pada setiap akhir tahun untuk tahun-anggaran baru. Tetapi anggaran tersebut setelah diteliti di Pusat akan mengalami potongan dan otorisasinya baru akan diterima pada pertengahan tahunPermesta membangun jalan anggaran dan biasanya antara Manado-Tomohon baru dapat diuangkan pada akhir September atau awal Oktober dalam tahun-anggaran berjalan. Karena itu dana yang ada jelas tidak mungkin habis digunakan pada akhir tahun-anggaran, padahal pada awal tahun-anggaran baru kelebihan itu harus disetor kembali. Kemudian kembaliakan diadakan pengajuan anggaran baru, pemotongan, otorisasi dan keterlambatan, dan akhirnya mengembalikan dana lebih. Demikian dari tahun ke tahun, sehingga daerah secara nyata tidak pernah mendapat kesempatan untuk menikmati anggarannya secara penuh. Akibatnya pembangunan tidak ada yang dapat dikerjakan, daerah tetap terkebelakang dan rakyat tetap miskin dan tidak akan mampu meningkatkan taraf hidupnya. Keadaan yang sudah bertahun menimpa daerah ini telah menjadikan rakyatnya kecewa sehingga menjadi calon pengikut komunis (PKI) atau DI (barisan sakit hati) yang potensial.

Dari seluruh daerah di Indonesia Timur, wilayah Sulawesi Utara-lah yang paling giat membangun. Ini terutama berkat hasil kopra yang demikian besar di daerah ini. Penanganan ekspor kopra di wilayah ini dikendalikan suatu badan

koordinasi yang dipimpin Nun Pantow. Penjualan kopra di luar negeri diatur oleh Prof. Soemitro Djojohadikusumo, Boetje Wantania, Mayor Jan Walandouw, dan Mayor (Purn.) Nun Pantouw sendiri. Dari dana yang terkumpul itu, setiap bupati kepala daerah mendapat sejumlah dana untuk melaksanakan pelbagai proyek menyangkut pembuatan jalan, jembatan, sekolah dan sebagainya. Dari luar negeri Permesta Manado menerima barang untuk pembangunan, antara lain truk, traktor medium dan besar, alat besar untuk pembuatan jalan seperti stomwals, alat pemecah batu, semen besi beton dan keperluan untuk irigasi dan jembatan serta beras. Pada pertengahan tahun 1957 barang masuk sudah memenuhi gudang pelabuhan Bitung, membuktikan pada rakyat bahwa Permesta tidak mau bekerja setengah. Disamping alat besar dan bahan bangunan juga dimasukkan beras dan tekstil. Truk pengangkut barang hilir-mudik antara Bitung dengan Manado, Tomohon, Kawangkoan, Amurang dan Kotamobagu. Sebagian diangkut dengan kapal ke Gorontalo, Buol, Donggala, Palu, Poso dan Sangir-Talaud. Rakyat yang selama masa kemerdekaan belum pernah melihat kesibukan yang begitu besar, dengan penuh suka cita menyambut setiap angkutan dengan pekik: "Hidup Permesta!". Pada masa itu tercatat harga beras Rp 2,- per kg di Minahasa, sedangkan di Kotamobagu hanya Rp 1,75 sedangkan di Makassar sendiri harga bulan Juni naik dari Rp 2,9 menjadi Rp 3,Alat pertanian seperti traktor, pertama dikirim ke Sulawesi Tengah, Gorontalo dan Bolaang Mongondow kemudian barulah dikirim ke daerah Minahasa. Tetapi alat besar untuk pembuatan jalan dan jembatan tetap berada di Manado yang ketika itu sedang membangun jalan baru antara Modoinding Minahasa Selatan - Modayag - Kotamobagu. Rute Modoinding - Modayag, panjangnya 19 km dan sudah lama diproyeksikan oleh Kepala PU Bolaang Mongondow Johan Pontoh. Pekerjaan lainnya adalah memperbaiki dan menarik jalan raya Inobonto Lolak - Boroko yang sudah ada terus ke pelabuhan alam Labuan Uki sepanjang 6 km. Pelabuhan Labuan Uki sangat baik untuk kapal berukuran 3.000 sampai 6.000 ton. Sudah sejak Juni 1957, rakyat berbondong melaksanakan pelbagai proyek dengan semangat mapalus (gotong-royong). Lebih dari 100 orang desa Tompaso, Amurang, Radey, Sapa, Tenga, Pakuweru dan Pakuure berhasil membangun jalan 6 km yang menghubungkan desa itu. Jalan antara Manado dan

Tomohon sepanjang 25 km pun mulai ditingkatkan dan diperlebar. Dengan bantuan TNI, rakyat berhasil membangun jalan yang menghubungkan Kinalawiran dan Tompaso Baru di Minahasa Selatan. Pada akhir tahun 1957 rute Manado - Kawangkoan - Amurang - Tompaso Baru - Modoinding - Modayag - Kotamobagu sudah dapat ditempuh dengan mobil dalam waktu 3 - 4 jam. Jarak sebelumnya memakan waktu sehari penuh. Jembatan yang rusak dan tua antara Poigar di Minahasa Selatan dan Inobonto melalui pesisir pantai utara Bolaang Mongondow diganti atau diperlebar dan dialas dengan kayu besi yang banyak ditemui di daerah ini. Jalan antara Inobonto - Kotamobagu diperbaiki dan diperlebar, begitu pula pada tempat tertentu. Juga dibuat ponton yang lebih kuat yang dapat dilalui alat angkut bermuatan penuh, sehingga jalan dapat digunakan untuk melancarkan pengangkutan hasil rakyat yang sangat membantu usaha peningkatan kesejahteraan rakyat di Gorontalo. Pada awal tahun 1958, jarak Manado - Inobonto - Boroko Atinggola -Kwandang - Gorontalo sepanjang 300 km, sudah dapat dilalui dengan kendaraan truk dalam waktu 17 jam. Bupati Kepala Daerah Minahasa Laurens F. Saerang berhasil melaksanakan crash program pelebaran jalan raya dan pembuatan jalan desa termasuk gang, sehingga dapat dilalui kendaraan bermotor. Dengan alat sederhana, tetapi dengan semangat yang tinggi, penduduk dapat melaksanakan pekerjaan pelebaran jalan atau pembuatan jalan baru tanpa menuntut upah. Pada waktu makan, kaum ibu sudah siap menyajikan makanan dan minuman (saguer). Kepada petugas teknis dari instansi pemerintah yang memberi petunjuk dan bimbingan dengan para pekerja sukarela disuguhi makan dan minum oleh para ibu setempat. Desa Liningaan, Kinaweruan dan Tumani berhasil membangun sebuah bendungan di Sungai Ranoyapo untuk mengairi sekitar 100 hektar lahan pertanian. Rakyat Tonsea juga berhasil merehabilitasi jalan di wilayah itu sepanjang 120 km. Di Tombasian-Amurang, rakyat bermapalus membangun pelbagai proyek seperti rumah sakit umum, gedung SMP, gedung SD, saluran air, serta jalan baru yang menghubungkan desa itu dengan desa sekitarnya. Di desa Pinangsungkulan, sebuah bank desa berhasil dibangun. Di daerah Minaahsa utara dibuka tanah kosong di daerah Likupang, bagian barat/utara Gunung Dua Sudara dan di daerah sekitar Bitung. Dan masih banyak lagi proyek yang tidak seluruhnya dapat dilaporkan dalam pers setempat.

Tidak saja Kabupaten Minahasa mendapat alokasi dana untuk pembangunan. Juga Kabupaten Bolaang Mongondow memperlihatkan kegairahan yang luar biasa pada 1957. Demikian pula Kabupaten Sangir Talaud. Setiap distrik mendapat kesempatan membangun jalan baru atau merehab jalan lama, serta membangun dan merehab gedung sekolah, poliklinik dan lainnya. Di Sulawesi Tengah, pembangunan berjalan lancar di sekitar kota Poso, Banggai sampai Kabupaten Makale, Rentepao di Tanah Toraja. Sulawesi Utara mampu mengerahkan sekitar 10.000 tenaga kerja untuk pembangunan. Terutama pembangunan jalan arteri yang menghubungkan Manado dan Bitung. Jalan antara Manado dan Gorontalo lewat Kotamobagu mulai dirintis Permesta dengan menggunakan tenaga pemuda yang tergabung dalam KoP2 itu. Pemerintah Militer senantiasa menyediakan pelbagai peralatan seperti truk, buldoser, semen, aspal, dan lainnya untuk pelbagai proyek yang spontan direncanakan penduduk desa. Di daerah Kabupaten Poso, baru sebuah jalan yang dapat diperbaiki yaitu jalan raya Poso ke arah selatan sepanjang 30 km dan di daerah Kabupaten Palu, dari negeri Parigi melalui leher Sulawesi Tengah bagian timur ke arah barat sampai ke Palu sepanjang 70 km. Untuk melintasi jalan ini kendaraan harus berhati, sebab kiri-kanan jalan terdapat jurang yang amat dalam. Di Kabupaten Poso maupun di Kabupaten Palu/Donggala belum terdapat jaringan jalan, sehingga daerah ini harus mendapat perhatian penuh dari Jawatan PU (Pekerjaan Umum). Awal bulan Juni, Kastaf Gubmil Sulutteng bersama beberapa anggota staf tim asistensi mengadakan kunjungan ke daerah Gorontalo, Buol, Toli, Palu, Donggala, Parigi dan Poso dengan menggunakan kapal putih milik pemerintah, dengan membawa cukup uang di dalam karung (uang waktu itu hanya uang kertas pecahan Rp 100 bergambar pahlawan Diponegoro). Daerah yang ditinjau pertama ialah daerah Buol, dimana masih berlaku sistem feodal kerajaan. Baru pertama kali ini Buol dikunjungi seorang penguasa militer Sulutteng, sehingga cara penerimaan tamu dan rombongan disesuaikan dengan upacara adat kerajaan. Pembangunan di daerah ini sangat memprihatinkan. Jalan yang termasuk baik tidak lebih dari km, sedangkan usaha untuk menambahnya tidak ada, lagi pula tenaga kerja tidak terdapat di sana. Sebuah jip kemudian diberikan kepada kepala daerah Buol, untuk merangsang

mereka membangun jalan beraspal. Di daerah Toli rombongan tiba pada pagi hari. Meskipun keadaan pembangunan di sana sudah relatif lebih baik namun masih dianggap memprihatinkan: jalan dan gedung pemerintahan serta asrama kesatuan Polri masih perlu diperbaiki; sekolah rakyat (SD) masih kurang disamping tenaga pengajar yang masih sangat kuran; dan jembatan yang sangat vital untuk daerah ini harus segera diperbaiki sebelum ambruk. Untuk mengerjakan pembangunan itu daerah meminta anggaran yang relatif kecil, sehingga Kastaf Penguasa Militer Sulutteng menugaskan para ahli tim asistensi untuk menghitung ulang dan ternyata bahwa jumlah yang dibutuhkan hampir dua kali lipat dari yang dianggarkan itu. Hari itu juga tim dapat menetapkan anggaran yang dianggap wajar yang diambil dari beberapa karung uang yang dibawa serta. Sore hari rombongan berangkat dari Toli menuju Donggala. Setelah mengikuti upacara penyambutan di Donggala yang dinilai rombongan terlalu berlebihan, langsung saja meninjau keadaan proyek yang dianggarkan. Banyak sekali proyek yang diajukan, sehingga tim asistensi perlu meneliti proyek mana yang harus didahulukan yaitu yang diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu enam bulan mendatang. Dalam peninjauan itu, dapat dilihat bahwa pembangunan sekolah, asrama, poliklinik dan rumah sakit sama sekali tidak memadai. Jalan dan bangunan banyak yang diterlantarkan. Banyak sekolah dasar yang berlantai tanah dan hanya mempunyai satu atau dua bangku, atapnya rata bocor dan pada malam hari tempat tersebut menjadi menjadi kandang kambing, sehingga di lantai dan bangku terdapat kotoran kambing. Keadaan rumah sakit yang kekurangan tenaga perawat serta obat dan alatnya tidak memadai kendati hanya untuk perawatan penyakit biasa. Keadaan di daerah Poso tidak banyak berbeda dengan keadaan di Palu-Donggala. Untuk biaya pembangunan di daerah Poso, rombongan memberikan uang tunai sebesar Rp 3.500.000,(yang diambil dari karung uang yang dibawa serta) yang dianggarkan untuk pembangunan daerah sampai akhir 1957. Di samping itu untuk menutupi gaji yang sudah terlambat beberapa bulan, termasuk guru, dikeluarkan Rp 200.000,-. Rombongan Tim Penguasa Militer Sulutteng ini tinggal selama 2 hari 2 malam dan seperti biasanya pada malam terakhir dihibur dengan tarian daerah yang dilanjutkan dengan tari polonese. Keesokan harinya melanjutkan peninjauan ke Gorontalo.

Keadaan di sini sudah agak lebih baik dari kabupaten sebelumnya. Bupati Sam Bia giat membangun daerahnya dengan 12 traktor untuk pertanian yang sudah dikirim beberapa waktu sebelumnya yang sudah dipekerjakan di sawah dan ladang. Selain itu Gorontalo sudah dapat membangun jaringan irigasi yang dapat mengairi ratusan hektar tanah yang pada waktu kunjungan tersebut diresmikan pemakaiannya. Bupati Sam Bia juga telah membangun sebuah stasiun radio, lapangan pacuan kuda, lapangan olahraga untuk atletik dan sebuah lapangan sepakbola. Kunjungan ke daerah Gorontalo sudah dijadwalkan berlangsungnya pekan olah raga pelajar antar-Kabupaten dan pacuan kuda se-Sulawesi. Pada malam terakhir sebelum tim tersebut meninggalkan Gorontalo, maka bekas Residenkoordinator Sulawesi Tengah, H.D. (Wim) Manoppo dilantik menjadi Gubernur/Kepala Pemerintahan Sipil Permesta di Sulutteng yang berkedudukan di Manado. Bekas Residen Wim Manoppo baru diberitahu tentang pengangkatannya 6 jam sebelum dia dilantik, yaitu pukul 09.00 pagi. Sore harinya dengan kapal cepat milik Bea Cukai Manado, rombongan tim asistensi Kastaf Gubmil Sulutteng Mayor Dolf Runturambi dengan Gubernur Wim Manoppo dan rombongan Letkol Ventje Sumual dan Kolonel Dahlan Djambek kembali ke Manado. Agustus 1957 John M. Allison, Duta Besar Amerika di Jakarta dalam bulan ini, mengingatkan dalam satu laporan rahasia bahwa pergolakan di Indonesia bukan soal anti komunis lawan komunis semata. Pembangkangan oleh pemimpin di daerah disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap pemerintah Pusat dan adanya perasaan masyarakat di Pulau Jawa yang merasa diri mereka lebih (superior) dibanding penduduk di daerah lainnya. Pidato radio Letkol H.N. Ventje Sumual dalam rangka menyambut Hari Proklamasi 17 Agustus 1957 membuat pihak umum di Jakarta mengetahui sikapnya. Dalam pidato tersebut Sumual menyerukan mutlaknya diusahakan adanya situasi tenang, baik di ibukota negara maupun di daerah, sebagai prasyarat berlangsungnya Musyawarah Nasional bulan September yang akan datang. Ia juga menganjurkan agar penyelenggaraan Munas itu diselenggarakan kepada phak yang dapat diandalkan, termasuk pihak Angkatan Darat. Selain itu, Sumual juga menjelaskan beberapa masalah mendasar yang menyangkut fungsi dan tugas pemerintah, serta

16 Agustus 1957

peran Permesta. Menurut pendapatnya, "Kemakmuran rakyat adalah wewenang tertinggi suatu negara." Dalam hal ini, Permesta telah meberi contoh nyata, seperti tampak dalam usaha pembangunan serta swadaya masyarakat yang dibangkitkannya. Ia juga menilai, pembentukan Permesta serta tindakannya didasarkan pada prinsip yang luas, yaitu 'legal idealisme'. 17 Agustus 1957 Perayaan hari Proklamasi 1957 di Sulut tidak kurang meriah daripada tahun sebelumnya. Rapat umum yang diselenggarakan di lapangan Sario (Manado), dihadiri 40.000 orang, dilanjutkan dengan resepsi di Gubernuran. Gubernur H.D. Manoppo, Panglima Letkol Ventje Sumual dan Mayor D.J. Somba memberi sambutan yang meyakinkan. Pameran alat pembangunan seperti truk, tippers, alat besar untuk pembuatan jalan seperti stoomwals-buldozer-grader, dll.

Pawai Pembangunan Permesta 1957

Hari ini, 6.228 bekas pemberontak TKR dan TRI di Sulawesi Selatan/Tenggara secara resmi diterima ke dalam TNI, yang membuat kekuatan dibawah komando KDM-SST hampir dua kali lipat. Untuk memberi latihan pada pasukan ini, dan kursus "penataran" untuk eks-batalyon CTN (Coprs Tjadangan Nasional, yang dulunya juga pasukan gerilya), Pendidikan Pendahuluan Ulangan Perwira dibuka di Malino di sebelah selatan Makassar, pada tanggal 28 Oktober 1957. Setelah pertempuran hebat di Kota Makassar pada bulan Desember 1957 antara Batalyon 718 dari RI-Hasanuddin dan Batalyon 513 dari Divisi brawijaya, diputuskan untuk menarik kesembilan batalyon Brawijaya yang masih tinggal di Sulawesi

Selatan. Sebelum bulan Juli 1958, semua batalyon itu telah ditarik. KDM-SST sekarang tersusun dari satuan yang terdiri hampir seluruhnya dari anak daerah. Pada tanggal 22 Januari 1958, satuan ini dibagi lagi antara komando Kota Makassar (KMKB), RI-Hasanuddin, dan RI-23. 31 Agustus 1957 Negara Malaya (Malaysia) menyatakan kemerdekaannya dari Inggris. Pemerintah Malaya yang telah merdeka secara resmi tidak ingin mencampuri urusan dalam negeri Indonesia, tetapi tidak dapat menghalangi hubungan pribadi antara beberapa tokoh dari daerah bergolak dengan, golongan tertentu di Malaya. Trauma akibat jatuhnya Cina ke tangan Komunis begitu pahit bagi Amerika Serikat sehingga hari ini Tim Antar-Departemen Tentang Masalah Indonesia dibentuk oleh State Departement & CIA (c.q. Kepala Desk Indonesia-Malaysia CIA, J.B. Smith) tanpa mengikutsertakan Duta Besar AS di Jakarta, John M. Allison. Pertemuan tiga Panglima daerah bergolak di Palembang (Letkol Barlian, Letkol Achmad Husein, Letkol Ventje Sumual) bersama staf sekitar 30 orang dan hasil perundingan tersebut dirumuskan dalam Piagam Pelembang yang ditandatangani oleh semua yang hadir (namun naskah yang disebarluaskan ternyata hanya mencantumkan nama Letkol A. Husein, Letkol Barlian, Letkol H.N.V. Sumual). Piagam Palembang yang intinya berisi: (1) Rukunnya/pulihnya kembali Dwitunggal SoekarnoHatta, (2) penggantian kepemimpinan Angkatan Darat, (3) pembentukan Senat, (4) otonomi daerah (desentralisasi), (5) pelarangan terhadap komunisme. Kelima masalah ini merupakan intisari rencana (tuntutan) dari Dewan Banteng, Dewan Garuda, pemikiran Kolonel Maludin Simbolon dan Permesta.

3 September 1957

8 September 1957

10-14 September 1957

Munas (Musyawarah Nasional) diadakan di Gedung Proklamasi, Jl.Proklamasi No.56 Jakarta yang dipimpin Presiden Soekarno. Delegasi dari Sulawesi Utara adalah Komandan KDM-SUT Mayor D.J. SOMBA, Letkol H.N. Ventje SUMUAL (penasihat delegasi), Gubernur H.D. Manoppo (secara resmi, ia adalah Residen-koordinator Sulawesi Tengah), W.J. Ratulangie (Residen-koordinator Sulawesi Utara), Sabu, Musyawarah Nasional Sam Kesaulya, Bija (M. Biga?), A.C.J. (Abe) Mantiri. Delegasi dari Sulawesi Selatan adalah Gubernur/Gubernur Militer SST Kol.Tituler Andi Pangerang, Letkol M. Saleh Lahede (penasihat delegasi), Mayor Andi Muhammad Jusuf (Kastaf KMDSST), Henk Rondonuwu (Ketua Komite Eksekutif Dewan Pimpinan Permesta), Andi Burhanuddin (Residen Makassar), Haji Makkaraeng Daeng Mandjarungi (Ketua Dewan Pertimbangan Pusat Permesta).

Munas ini membicarakan 3 masalah: (1) Pemulihan kembali Dwitunggal Soekarno-Hatta, (2) Pelaksanaan pembangunan Nasional, (3) Perubahan pimpinan Angkatan Darat. Sedangkan masalah "larangan terhadap komunisme" tidak diangkat untuk dibicarakan dalam Munas ini. Pada hari pertama tidak kurang dari 19 orang yang mengajukan sarannya, yaitu para Panglima/Penguasa Militer serta Komandan KDM. dan para gubernur. Diantaranya adalah Komadan KDM Maluku/Irian Barat Letkol Herman Pieters, Gubernur Nusa Tenggara T.M. Daudsjah, Gubernur Militer

Sulawesi Selatan dan Tenggara Kolonel Tituler Andi Pangerang, Panglima TT-II Letkol Barlian, Komandan KDM Sulawesi Utara Mayor D.J. Somba. Banyak diantara para perwira, yang bersangkutan dengan masalah Angkatan Darat justru tidak diundang. Letkol Ventje Sumual pun angkat bicara dan mempersoalkan perlunya Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Maludin Simbolon dan Kolonel Sukanda Bratamanggala, diundang dalam musyawarah yang bertekad menyelesaikan semua persoalan bangsa dan negara. Hasil keputusan Munas ini adalah: (a) masalah Dwitunggal, setuju untuk dipulihkan kembali (b) pembangunan, segera akan diadakan Munap (c) masalah AD ditangani oleh Panitia-7 (Ir.Soekarno, bekas Wapres Drs. Moh.Hatta, Waperdam III Dr.J. Leimena, bekas Menhan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Menteri Kesehatan Kol.Dr. Azis Saleh, KSAD Mayjen A.H. Nasution)

Presiden Soekarno dgn Ventje Sumual serta D.J.Somba dlm Munas tsb

Beberapa catatan tambahan: Pada waktu Munas dilaksanakan, KSAD Mayjen Nasution mengadakan rapat dengan para pemimpin TNI dari daerah bergolak. Dalam rapat tersebut terjadi suatu perdebatan tajam antara KSAD Mayjen Nasution dengan Panglima Kolonel Ventje Sumual. KSAD tetap berpegang pada legalitas dan disiplin militer tanpa menghiraukan kenyataan yang memaksa TT-VII menyimpang dari disiplin. Dalam rapat itu KSAD Nasution sudah menyatakan niatnya untuk menggeser Ventje Sumual dari kursi panglima TT-VII dan mengirimnya ke Filipina untuk menjadi Atase Militer KBRI di sana. Suatu saat Ventje Sumual sudah tidak lagi dapat menguasai emosinya, sehingga dia memukul meja di depan Nasution. Dalam keadaan marah dia langsung meninggalkan

rapat, disertai Kastaf Gubmil Sulut Mayor Dolf Runturambi, dan menuju ke tempat penginapan di Hotel des Indes. Setibanya di sana, Mayor Rumturambi langsung memberi perintah kepada para pengawal yang terdiri dari prajurit Kawanua Jakarta yang setelah proklamasi Permesta atas kesepakatan mereka sendiri menjaga keamanan rombongan Ventje Sumual selama berada di Jakarta, supaya baku rako, jika ada yang coba menangkap Bung Ventje. Banyak prajurit kawanua dalam kesatuan TNI di Jakarta RPKAD, KKO dan garnisun - secara bergiliran mengadakan penjagaan siang-malam dengan senjata lengkap. Mereka tidur dan makan di tempat penginapan Ventje Sumual sampai rombongan mereka kembali lagi ke Sulawesi. Mereka sangat loyal kepada Permesta. 17 September 1957 Menteri Kehakiman G.A. MAENGKOM yang memimpin Misi Pemerintah Pusat ke Sulawesi Utara/Minahasa dan menemui tokoh Permesta untuk penyelesaian secara damai masalah Permesta, hari ini mengadakan rapat umum di Lapangan GMIM Pinaesaan Langowan guna menjelaskan maksud misi pemerintah pusat ini. Turut berbicara dalam rapat itu yaitu Panglima TT-VII Wirabuana Letkol H.N.Ventje SUMUAL.

Rapat raksasa penyelesaian konflik di Lapangan Langowan dengan pidato dari Letkol Sumual dan Menteri Kehakiman GA Maengkom

21-22 September 1957

Setelah Munas, kolonel Sumatera bertemu kembali di Palembang, dan menyusun suatu lampiran bagi Piagam Palembang yang berjudul "Gagasan Dasar, Prinsip, dan Program Bersama Perjuangan Daerah," yang oleh Letkol Ahmad Husein dan Letkol Barlian dibawa ke Makassar untuk ditandatangani Letkol Ventje Sumual; mereka datang dengan alasan akan menghadiri PON. Dokumen ini, sebagaimana halnya dengan Piagam Palembang sendiri, tidak diumumkan pada waktu itu. Letkol Ahmad Husein juga mengunjungi

markas Resimen Infanteri Hasanuddin (RI-Hasanuddin) dan pusat latihan militer di Malino; ia disertai Mayor Andi M. Jusuf pada kunjungan kepada Raja Gowa, yang juga adalah seorang pendukung cita Permesta. 23 September 1957 Universitas Permesta didirikan di Manado, yang merupakan salah satu proyek yang penting Permesta. Pada mulanya, digunakan sebuah bangunan di Kawasan Sario. Rektor pertamanya, Mayor Dolf Runturambi, yang memegang jabatan Kepala Staf Gubernur Militer Sulawesi Utara Tengah.
Universitas Permesta ini akhirnya digabungkan dengan Universitas Pinaesaan menjadi Universitas Sulawesi Utara (UNISUT, kemudian menjadi UNSRAT) tanggal 17 September 1961.

Juga PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru) di Tondano yang didirikan Prof. Mr. GMA Inkiriwang, SH dan Nona Politon pada tahun 1955, mendapat perhatian istimewa. Gedung baru serta perpustakaan dibangun di sini. Para mahasiswa pun mendapat tunjangan pendidikan yang memuaskan. 27 September 1957 Pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) IV di Makassar dilakukan oleh Presiden Soekarno. Kemudian Presiden Soekarno berangkat ke Sulawesi Utara untuk mengadakan kunjungan selama dua hari. Komando Daerah Militer Sulawesi Utara-Tengah (KDM-SUT) dibentuk secara resmi oleh KSAD Mayjen A.H. Nasution menggantikan komando Resimen Infanteri 24 (RI-24), dengan Mayor Daniel Julius (Yus) Somba sebagai komandannya dengan kenaikan pangkat secara otomatis menjadi Letnan Kolonel (Overste). Diantara yang hadir dalam upacara ini hadir juga Letkol Ventje Sumual dan Gubernur Sulawesi Utara Permesta H.D. Manoppo. Dalam pidatonya Mayor D.J. Somba memberikan gambaran, ia dan perwira lain tidak akan dapat menyelesaikan konflik kesetiaan yang ada pada bulan mendatang: "Ideologi TNI, ialah mempertahankan negara, dan bagi Sulawesi Utara ideologi tentara harus disesuaikan dengan keinginan dan hasrat rakyat." Pada bulan November 1957 KDMSUT mengumumkan rencana melaksanakan suatu reorganisasi atas satuan militer yang berada dibawah wewenangnya. Batalyon 714 akan dipecah menjadi dua batalyon, masing dengan tanda pengenal "P" dan "S", dan seterusnya dua batalyon, "Q" dan "R", akan dibentuk dari kedua kompi dari Batalyon 719 dibawah Mayor Lukas J.

28 September 1957

Palar dan kompi yang satu dibawah Kapten Frans Karangan di Sulawesi Tengah, dan masing perwira akan menjadi komandan masing batalyon yang baru terbentuk itu. 29 September 1957 Presiden Soekarno tiba di Sulawesi Utara untuk mengadakan kunjungan selama dua hari. Ia menginap di pinggiran kota Manado, di daerah Kairagi, atas saran pengawalnya karena situasi saat itu tidak kondusif. Presiden Soekarno berkunjung ke Minahasa selama beberapa hari didampingi oleh tokoh nasional Ruslan Abdulgani dan Duta Besar AS untuk Indonesia John M. Allison serta diterima oleh Gubernur Militer/Panglima KDMSUT (KDM/Kodam Sulutteng) Overste D.J. Somba dan Gubernur Sulawesi Utara yang diangkat Permesta, H.D. Manoppo. Sebagai Ketua Panitia Penyambutannya adalah Mayor Wim Tenges selaku Kepala Seksi Logistik Tim Assistensi Pemerintahan Militer KDM-SUT. Beliau mengadakan kunjungan resmi di Universitas Permesta di Sario Manado serta mengadakan kuliah umum serta dialog terbuka dengan para mahasiswanya. Di Universitas Permesta ini, Presiden disambut dengan spanduk yang berbunyi "Takut akan Tuhan adalah Permulaan Pengetahuan" (Amsal 1:7a) yang diartikan sebagai sein alus kepada Soekarno akan paham komunis, serta spanduk lainnya yang berbunyi, "maaf Bung Karno, kami tidak menghendaki komunisme." Presiden kemudian berpidato di Sekolah Tinggi Seminari Katholik di Desa Pineleng dan kemudian berkunjung ke Tomohon dan Tondano dengan mobil jeep terbuka, dan berkacamata hitam serta menghadiri perayaan HUT Sinode GMIM ke-23 di Gereja SION Tomohon dan berpidato: "...bahwa Ketuhanan itulah sendi utama Republik Indonesia. Demikian Tuhan adalah pegangan kita," serta ayat dalam Injil Yohanes pasal 1 ayat 1: "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama dengan Allah dan Firman itulah adalah Allah." Dalam amanat itu ada ucapan Bung Karno yang menjadi sangat terkenal mulai waktu itu tentang falsafah tudingan. Ia mengingatkan agar setiap orang harus sadar jika hendak menuding kesalahan orang lain. Sebab pada saat jari telunjuk kita menuding orang lain, pada saat itu pula katanya, tiga jari kita menuding diri kita sendiri. Jamuan makan HUT GMIM tersebut dilaksanakan di Kantor Sinode GMIM dan dihadiri oleh Duta Besar Amerika Serikat dan Letkol D.J. Somba yang masih mengenakan badge TTVII/Wirabuana.

30 September 1957

Kemudian Presiden Soekarno kembali ke Jakarta via Gorontalo dan Palu, didampingi Kastaf KDM-SUT Mayor Dolf Runturambi. Di Gorontalo, ia menginap satu malam, kemudian meneruskan perjalanan ke Makassar menghadiri (penutupan) PON-IV yang sedang berlangsung di Makassar. Mayor Dolf Runturambi juga ikut selaku Ketua Rombongan olahragawan se-Sulutteng. Situasi dan kondisi saat itu sedang memanas, antara Pusat dengan Permesta, sehingga peristiwa ini mendapatkan keuntungan tersendiri bagi Permesta, dan menambah dukungan moril bagi Permesta, menumbuhkan keyakinan pada masyarakat umum bahwa gerakan Permesta adalah sah saja oleh pemerintah pusat.

Presiden RI Soekarno dlm acara peringatan HUT GMIM di Tomohon

1 Oktober 1957

Rencana rahasia RRC di Peking (Beijing) untuk menguasai seluruh kepulauan di Pasifik dan Asia Tenggara sampai Pakistan hingga tahun 1968. Kelompok yang tergabung dalam pendeklarasian Piagam Palembang mengadakan rapat evaluasi Munas hari ini. Pertemuan yang diselenggarakan hari ini dihadiri oleh para perwira di Sumatra yaitu Letkol Ahmad Husein dan Letkol Barlian. Letkol Ventje Sumual berada di Manado sehingga tidak bisa mengikuti pertemuan. Tetapi, kemudian Letkol Ahmad Husein pergi ke Makassar dan bertemu dengan Letkol Ventje Sumual yang juga sengaja datang ke tempat itu. Di sinilah naskah "Dasar, Program Bersama dari Perdjuangan Daerah (Realisasi Piagam Persetudjuan Palembang)" ditandatangani oleh Letkol Ventje Sumual. Karenanya, tempat penandatanganan itu hanya disebut Kota Perjuangan. Keputusan 5 Oktober ini merupakan pedoman dasar bagi daerah bergolak. Pokoknya disampaikan juga kepada Panitia Tujuh. Letkol Ventje Sumual dimasukkan dalam suatu rapat kerja KADIT (Komando Antar Daerah Indonesia Timur) yang diadakan di Bali. Tetapi pada tanggal 26 Oktober diumumkan, ia akan ditempatkan di MBAD di Jakarta, dan kedudukannya akan ditentukan Panitia Tujuh. Letkol Saleh Lahede, walaupun tidak mempunyai kedudukan resmi semenjak KoDPSST dibubarkan, tidak menerima tawaran mengikuti SSKAD (sekarang SESKOAD) di Bandung. Letkol Ventje Sumual menggabungkan organisasi pemuda Permesta menjadi Dewan Tertinggi Pemuda Permesta yang berkedudukan di Makassar. Musyawarah Nasional Pembangunan (MUNAP) dilaksanakan di Jakarta. Tujuannya terutama adalah membahas dan merumuskan usaha pembangunan sesuai dengan keinginan daerah.

5 Oktober 1957

22-25 Oktober 1957

11 November 1957

25 November 1957

Musyawarah Nasional Pembangunan

Letkol H.N. Ventje SUMUAL mengikuti MUNAP (Musyawarah Nasional Pembangunan) di Jakarta yang dipimpin Presiden Soekarno ini. Ia dan beberapa perwira daerah bergolak sempat ditangkap sebelum mengikuti MUNAP akibat Peristiwa Cikini yang terjadi tanggal 30 November (yang menuduh pihak Daerah Bergolak sebagai dalangnya) namun segera dibebaskan. Kemudian Letkol Ventje Sumual melaporkan esensi Proklamasi Permesta 2 Maret 1957. MUNAP ini tidak dihadiri oleh Letkol Achmad HUSEIN dari KDM Sumatera Tengah yang memimpin pemerintah sendiri di Sumatera Barat dengan Dewan Bantengnya. MUNAP ini berakhir tanggal 4 Desember tahun itu. 30 November 1957 Terjadinya Tragedi Nasional: Peristiwa Cikini. Aksi spontanitas penggranatan sebagai percobaan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno di Perguruan Cikini yang dituduhkan oleh orang tertentu (terutama PKI) untuk mendiskreditkan dan memfitnah Daerah Bergolak sebagai dalangnya. Beberapa tokoh politik dan militer di Ibukota mulai menyingkir ke daerah yang dianggap aman dari fitnahan dan aksi kekerasan (dari golongan komunis) akibat dari Tragedi Cikini ini. Mereka antara lain Mr. Sjarifuddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Prof. Soemitro Djojohadikusumo, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Dahlan Djambek, dan lain. Letkol Ventje Sumual dan beberapa perwira yang sedang mengikuti Musyawarah Nasional Pembangunan (Munap) sempat ditahan namun segera dibebaskan dan diijinkan untuk mengikuti lanjutan Munap tersebut. Komando Daerah Militer (KDM) XIII/Merdeka - Sulawesi Utara/Tengah dibentuk, terlepas dari jajaran TT-VII/Wirabuana yang dibubarkan KSAD TNI. Pembubaran TT VII/Wirabuana dan pembentukan empat KDM yang terpisah di Indonesia Timur, merupakan pukulan berat bagi Permesta. Hal ini menyebabkan perkembangan kegiatan Permesta di berbagai daerah, kecuali Sulawesi Utara, mengalami kemunduran. Para Panglima KDM yang sebelumnya menyetujui gagasan Permesta, telah mengubah haluan, kecuali Letkol D.J. Somba dan Letkol Minggu. "Operasi Intelijen" Sukendro untuk memecah belah para perwira pro Permesta ternyata berhasil; selain itu, para Panglima KDM juga otomatis mendapat kenaikan pangkat menjadi Letnan Kolonel.

Desember 1957

Desember 1957

Barnabas Banggur, seorang mahasiswa Fakultas Hukum di Makassar (kemudian menjadi Pengacara di Jakarta) - kembali ke kampung halamannya, Flores, untuk mengkoordinasikan para pemuda setempat. Dengan dana yang disediakan Permesta, mereka berhasil membangun sebuah gedung Pemuda Permesta yang digunakan pertama kalinya untuk menyelenggarakan suatu Kongres Pemuda setempat pada Desember 1957. Gedung ini berdiri dengan megah di pinggir pantai Kota Ende, ibu kota Kabupaten Ende (Flores Tengah), dan digunakan sebagai gedung pemerintahan daerah. Juga dibangun dermaga di Larantuka yang digunakan pihak Misi Katolik untuk menyimpan/menyandarkan kapal motor mereka. Untuk pembangunan Flores bagian Barat yang dikenal sebagai Daerah Swapraja dengan ibu kota Ruteng, Permesta menyumbangkan beberapa ribu sak semen untuk membantu pembangunan rumah pegawai, pegawai negeri, guru yang berpenghasilan rendah yang bertempat tinggal di Kota Ruteng. Penyerahan ribuan sak semen itu disaksikan Penguasa Militer setempat (Flores) Fredy Lumanauw, Kepala Pemerintahan Swapraja Manggarai (KPS), P. Salasa dan Barnabas Banggur yang saat itu masih mahasiswa. Permesta mempersiapkan pula pembentukan provinsi Nusa Tenggara Timur dengan singkatan NTT. Pembentukannya direalisasikan Pemerintah Pusat, Desember 1958, dengan gubernur pertamanya adalah W.J. Lalamentik, dan pemekaran kabupaten menjadi 12 buah. Bersamaan dengan persiapan pembentukan Provinsi NTT, Permesta juga mempersiapkan pemekaran pembentukan daerah tingkat II/Kabupaten, antara lain, Daerah Flores yang sebelumnya hanya satu Kabupaten, direncanakan dan direalisasikan menjadi 5 Kabupaten, yaitu: 1. Kabupaten Manggarai dengan Ibu kota Ruteng 2. Kabupaten Ngada dengan Ibu kota Bajawa 3. Kabupaten Ende-Lio dengan Ibu kota Ende 4. Kabupaten Sika dengan Ibu kota Maumere 5. Kabupaten Flores Timur dengan Ibu kota Larantuka Realisasi pemekaran provinsi Sunda Kecil (Nusatenggara) baru dilakukan tahun 1958 oleh pemerintah pusat, dengan membaginya menjadi Daerah Swantara Tingkat Pertama: Bali, Nusatenggara Barat (NTB), dan Nusatenggara Timur (NTT).

7 Desember 1957

Hari ini terbentuk pula Persatuan Wanita Permesta Wirabuana

dengan Ny. Mathilda Towoliu-Hermanses sebagai ketua. Anggota pengurus lainnya, antara lain, Ny. E.Sigar, Ny. Fachruddin, Ny. Sam Kesaulya, Ny. Saleh Lahade, dengan Ny. Andi Burhanuddin, Ny. R. Warouw, dan Ny. Depu sebagai penasihat. Pada hari ini juga, di daerah Poso - Sulawesi Utara (Tengah), dua peleton TNI dengan senjata lengkap masuk hutan menentang kelompok Permesta (Lukas J. Palar?). Tindakan ini diikuti pula oleh sejumlah anggota kepolisian, pimpinan pemerintahan sipil serta lebih kurang 2000 orang rakyat daerah tersebut. Tindakan ini juga karena tuntutan mereka agar supaya daerah Sulawesi Tengah dijadikan Daerah Swantara Tingkat Pertama (provinsi) tidak dikabulkan Permesta. 9 Desember 1957 Hari ini diadakan percobaan terakhir untuk menghidupkan kembali organisasi Permesta di Makassar, yaitu ketika Letkol Ventje Sumual meresmikan Dewan Tertinggi Permesta dan Dewan Tertinggi Pemuda Permesta. Dektrit tersebut adalah "Dektrit Permesta Se-Wirabuana" No.001/Dok/10/1957, Makassar. Letkol Ventje Sumual sendiri mengepalai Dewan Tertinggi Permesta, Letkol Saleh Lahede sebagai wakilnya, dan Kapten Bing Latumahina sebagai sekretaris. Setiap dewan mempunyai tujuh belas anggota, mereka ini kebanyakan - jika tidak semua - adalah penduduk Makassar. Panitia Sembilan yang dibentuk Munas untuk memulihkan kembali kerja sama antara Soekarno dan Drs. Moh. Hatta mengumumkan pada hari ini, bahwa ia gagal melakukan tugasnya karena Moh. Hatta "bersedia ikut mengambil bagian dalam pemerintahan hanya jika selain memikul tanggung jawab moral harus pula memperoleh wewenang." Keadaan darurat perang oleh Presiden ditingkatkan menjadi "KEADAAN BAHAYA PERANG" sehingga APRI (TNI) lebih leluasa mengambil tindakan tegas. Kolonel Ventje Sumual meninggalkan markasnya di Kinilow beberapa hari sebelum Hari Natal tiba, dan tanggal 9 sampai 13 Januari 1958 berada di Sungaidareh, Sumatera Barat. Gubernur Sulut Permesta, H.D. Manoppo, mengumumkan berakhirnya pengawasan keuangan dan pemerintahan yang selama ini dilakukan Makassar atas Utara (pemerintah pusat

16 Desember 1957

17 Desember 1957

25 Desember 1957

31 Desember 1957

masih tetap mengakui Makassar sebagai ibu kota provinsi seluruh Sulawesi). 1 Januari 1958 Pimpinan Pemerintah di Manado menyatakan bahwa di provinsi SUT (Sulawesi Utara) telah dibentuk jawatan tingkat provinsi mendahului sesuatu putusan dari Pemerintah Pusat di Jakarta. Pemerintahan Sulawesi Utara tersebut dipimpin oleh Gubernur H.D. Manoppo, bekas Residen-koordinator Sulawesi Tengah. Pangkat Letnan Kolonel (Overste) resmi disandang oleh Daniel J. Somba selaku Komandan KDM-SUT terhitung mulai hari ini, meski belum ada upacara pelantikannya. Selain itu, Mayor Andi M. Jusuf (komandan RI Hasanuddin), dan A. Rifai (komandan RI-23) juga mendapatkan kenaikan pangkat Letnan Kolonel. 6 Januari 1958 Presiden Soekarno meninggalkan tanah air guna memulai perjalanan kunjungan kenegaraan ke berbagai negara seperti Jepang, India, dan negara Asia lainnya. KSAD Mayjen A.H. Nasution memberikan ceramah di Magelang mengharapkan sebuah dual role untuk militer: baik untuk kekuatan militer (pertahanan negara) dan organisasi untuk pengembangan sosial kemasyarakatan (pertahanan kemasyarakatan). Permulaan dari doktrin "Dwifungsi TNI" (Dwifungsi ABRI). 7 Januari 1958 Dalam harian Pedoman terbitan hari ini, Henk Rondonuwu sebagai Ketua Badan Pekerja Dewan Pertimbangan Pusat Permesta memberikan reaksi terhadap wacana bentuk negara federasi yang muncul dalam berita pers Amerika Serikat "jang menggambarkan seakan daerah di luar Djawa sedang bergerak menudju negara federal". "Djikalau jang dimaksud bahwa djuga gerakan daerah jang hidup dalam rangka `Permesta' selaku satu usaha ke arah negara federal maka tafsiran jang demikian adalah keliru. Patokan serta dasar perdjuangan 'Permesta' tetap berlandaskan pada negara Republik Indonesia jang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Dalam ruang gerak dari 'Permesta' adalah di dalam djiwa ini, tidak berkisar". Hari ini, Gubernur Sulawesi Utara H.D. Manoppo mengumumkan pembentukan jawatan vertikal pemerintah

yang terpisah dari jawatan serupa di Makassar. Suatu konferensi keamanan yang dihadiri perwira senior dari Jawa dan Indonesia Timur diadakan dari tanggal 7 sampai 9 Januari di Tretes, Jawa Timur. Dari KDM-SST hadir Letkol Andi Mattalatta, Mayor Her Tasning, dan Letkol M. Jusuf; KDM-SUT diwakili Mayor Eddy Gagola, Mayor Wim Joseph, dan Mayor Wim Tenges. Selain itu, PAnglima TTIV/Diponegoro, Kolonel Soeharto dalam rapat itu duduk bersebelahan dengan Mayor Wim Tenges. Dikatakan bahwa Letkol D.J. Somba sakit dan tidak hadir. Mayjen A.H. Nasution mempertanyakan kepada delegasi Sulawesi Utara mengenai ketidakhadiran Letkol D.J.Somba, dan meminta keterangan dimana Letkol Ventje Sumual berada (walaupun ada berita pers yang mengatakan, ia berada di Sumatera). 8 Januari 1958 Perdana Menteri Ir. Djuanda memerintahkan ADRI, ALRI, AURI dan Jawatan Pabean untuk menghentikan semua perdagangan barter. Daerah yang tidak memenuhi larangan perdangangan barter tersebut diancam akan diblokir. Letkol Ventje Sumual meninggalkan markasnya di Kinilow sesaat sebelum Natal 1957, dan menghadiri pertemuan di Sungai Dareh - Sumatera Barat yang dihadiri oleh para tokoh TNI di daerah seperti Letkol Achmad Husein, Letkol Ventje Sumual sendiri, Kol. M. Simbolon, Kol. Dachlan Djambek, Kol. Zulkifli Lubis, serta tokoh sipil (yang menyingkir akibat tekanan golongan komunis) seperti Moh. Natzir, Sjarif Usman, Burhanuddin Harahap, Sjafruddin Prawiranegara, Prof. Soemitro Djojohadikusumo. Saat itu Dewan Perjuangan (dewan yang menghadapi konflik intern TNI pusat-daerah) yang semula hanya terdiri atas Ahmad Husein, Sumual, Simbolon dan Barlian, disempurnakan dengan memasukkan tokoh politik sehingga susunan keanggotaannya menjadi sbb:
Ketua: Achmad Husein Sekjen: Dahlan Djambe Anggota: H.N.V. Sumual, M. Simbolon, Zulkifli Lubis, Sjoeib, Anwar Umar,

9 - 13 Januari 1958

Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Sumitro Djojohadikusumo, W.P. Nainggolan, Nawawi, S.P. Hutabarat, A.N. Nusjirwan, Amelz.

Kolonel Sumual mengatakan dalam rapat itu, bahwa menurt perkiraannya pemerintah pusat akan menjawab tuntutan mereka dengan kekerasan, tetapi dalam rapat itu mereka hanya memiliki rencana saja, tidak memiliki senjata yang dapat mereka gunakan menghadapi serangan pihak Jakarta. Setelah pertemuan di Sungai Dareh, Letkol Ahmad Husein dan Letkol Ventje Sumual ditugaskan mengupayakan pembelian senjata di luar negeri. Selain itu, Prof. Sumitro Djojohadikusumo juga ikut dalam rombongan ini dan kemudian meneruskan perjuangan di luar negeri. Letkol Ventje Sumual ditemani Kapten Arie W. Supit dan Letnan Tema, sedangkan Jan M.J. Pantouw meneruskan perjalanan ke Amerika Serikat. Tetapi Letkol Ahmad Husein hanya sampai di Singapura. Sebagai Ketua Dewan Perjuangan, kehadirannya di Padang sangat diperlukan. Menurut Ventje Sumual, di Singapura ia menemui sejumlah orang yang bersedia menjual senjata kepadanya (dari Amerika Serikat, Taiwan, dan Italia), tetapi tidak berhasil memperoleh izin ekspor bagi penjualan perorangan. Kemudian ia pergi ke Hongkong menemui Kolonel Joop Warouw. Ventje Sumual menghubungi Joop Warouw di posnya sebagai Atase Militer pada Kedutaan Besar Indonesia di Peking (Beijing).Mereka berdua lalu berangkat bersama ke Tokyo. Di sana, Joop Warouw menemui Presiden Soekarno tanggal 5 Februari. 11 Januari 1958 Pemerintah pusat mengeluarkan suatu pengumuman yang menyatakan tidak sah "semua peraturan dan keputusan baik yang diambil pejabat militer ataupun sipil di daerah dalam bidang perdagangan luar negeri yang menyimpang dari peraturan yang dikeluarkan pemerintah." Daerah yang membangkang diperingatkan, jika mereka tidak menaati

ketentuan ini, pemerintah akan mempertimbangkan penghentian subsidi kepada mereka. Keputusan pemerintah ini pertama kali ditentang di Sulawesi Utara. Kepala berita di surat kabar menyatakan "Permesta dan Barter djalan terus!". Dalam suatu konperensi dengan para perwira Sulawesi pada bulan Januari ini Mayjen A.H. Nasution menunjukkan bahwa ia mempunyai informasi tentang pengapalan senjata dari luar negeri untuk kaum pemberontak. Menurut Mayor Wim Tenges, senjata yang dikirimkan dari Taiwan sudah rusak, bekas Perang Dunia II, mortir yang sudah tidak menyala, dll; sedangkan senjata dari Eropa kualitasnya bagus. KSAD Mayjen A.H. Nasution menaksir hilangnya pendapatan pemerintah pusat sebesar $ 40.000.000 per bulannya. 13 Januari 1958 Menteri Dalam Negeri mengatakan, subsidi pemerintah pusat untuk seluruh pulau Sulawesi (provinsi Sulawesi) akan dikirim melalui Makassar. Seorang juru bicara Provinsi Sulawesi Utara mengatakan, soal uang bukanlah problem "karena kita sekarang bandjir uang." Pada bulan Januari, frekuensi penerbangan Garuda (GIA) ke Manado dikurangi, dan pada hari ini diumumkan, hubungan Garuda dengan Sulawesi Utara akan dihentikan sama sekali. Seminggu kemudian diumumkan, penerbangan ke Manado akan dibuka kembali sekali seminggu, tetapi akan lewat Banjarmasin di Kalimantan dan bukannya Makassar. Dalam pengiriman kawat (cable tersebut juga diterima S.S. 'Artemis') kepada Letkol D.J. Somba di Sulawesi Utara, sehabis pertemuan di Sungai Dareh dan memberitahukan garis besar keputusan yang diambil dan keanggotaan pemerintah revolusioner yang diusulkan. Walaupun kawat itu mengingatkan agar hati terhadap "provokasi Jakarta", ia juga memerintahkan agar Mayor Dee Gerungan, dengan dibantu para perwira staf lainnya, "membuat rentjana atau studie untuk perebutan Kota Djakarta setjara physiek termasuk segala djumlah kebutuhan materiaal, operatie planning akan dilaksanakan oleh tiga daerah bergolak..." KDM-SST (Komando Daerah Militer Sulawesi SelatanTenggara) hari ini dibagi lagi antara Komando Militer Kota Besar (KMKB), Resimen Infateri Hasanuddin (RI-

14 Januari 1958

17 Januari 1958

22 Januari 1958

Hasanuddin), Resimen Infanteri 23 (RI-23). Dengan pembentukan KDM-SST dan permulaan penarikan pasukan Jawa dari Sulawesi Selatan, Mayor M. Jusuf telah berhasil dengan salah satu tujuannya. Ia menjelaskan kepuasannya akan persetujuan yang dicapai dengan KSAD A.H. Nasution pada pertemuan 4 Juni 1957 lalu oleh perwira yang pertama kali merencanakan Permesta. Sejak saat itu, Mayor M. Jusuf jelas merupakan pimpinan kelompok yang anti- Permesta. Ia dengan teguh didukung kepala staf KDM-SST, Mayor Her Tasning. Letkol M. Saleh Lahede, perwira senior asal Sulawesi Selatan yang dianggap paling dekat dengan Permesta jelas menjadi pimpinan kekuatan yang pro-Permesta di Makassar. Perwira lainnya, termasuk Letkol Andi Mattalatta, Panglima KDM-SST sikapnya kurang jelas. 1 Februari 1958 Letkol D.J. Somba bertemu Mayjen A.H. Nasution di Jakarta. Dalam pertemuan ini, Letkol Yus Somba meminta agar tuntutan politik dan ekonomi Piagam Permesta dipenuhi secepatnya mengingat ketegangan yang semakin memuncak di dalam negeri. Mayjen A.H. Nasution menjawab, itu adalah urusan yang harus ditangani DPR. Mayjen Nasution kembali meminta daftar senjata yang diimpor; namun Letkol Somba menjawab bahwa tidak ada senjata yang dimasukkan. Memang Letkol Somba telah menyetujui penghentian perdagangan barter di Sulawesi Utara. Letkol Somba kemudian kembali ke Manado pada tanggal 6 Februari. KADIT, Komando Antardaerah Indonesia bagian Timur (akhirnya menjadi KOANDA-IT) yang telah ditetapkan tanggal 20 Agustus 1957, akhirnya memiliki komandan/panglimanya, dengan dilantiknya Brigjen Gatot Subroto sebagai panglima KOANDAIT. Letkol Jonosewojo, bekas Kepala Staf TT-VII/ Wirabuana telah menjadi penjabat kepala stafnya sejak KADIT diumumkan. Letkol Ventje Sumual pada pers di Tokyo menyatakan bahwa dia dan kawannya akan berjuang terus melawan kaum komunis dan semua kaki tangan mereka. Di Tokyo juga dia sempat bertemu dan mengadakan pembicaraan dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Letkol Sumual juga diberitakan bahwa ia telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Foster Dulles (yang baru usai menghadiri Konferensi SEATO di Manila), di Taipei - Taiwan. Sebelumnya, Letkol Sumual sudah menghubungi Kolonel Joop Warouw di posnya sebagai Atase Militer RI pada

4 Februari 1958

5 Februari 1958

KBRI di Peking (Beijing). Ia kemudian bertemu dengan Kolonel Joop Warouw di Hongkong. Kolonel J.F. (Joop) Warouw hari ini bertemu dengan Presiden Soekarno di Tokyo yang saat itu sedang mengadakan kunjungan ke luar negeri dengan harapan, krisis yang memuncak akan menjadi reda selama ketidakhadirannya di dalam negeri. Joop Warouw sudah dikenal sejak dahulu sebagai anak-mas Presiden; ia bertindak keres atas namanya sesudah peristiwa 17 Oktober 1952, dan menyertai Presiden dalam perjalanan ke Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Cina pada tahun 1956. Sebelumnya pada masa Perang Kemerdekaan, ia menyelamatkan nyawa Presiden Soekarno saat sedang mendarat di bandara Surabaya yang hendak ditembak oleh pasukan musuh yang sedang berada di bandara. Saat itu Joop Warouw sedang bertugas di bandara dan mendapat info bahwa pesawat itu ditumpangi Presiden Soekarno, dan meminta pasukan itu untuk tidak menembak. 10 Februari 1958 Ultimatum Dewan Perjuangan agar PM Djuanda dan kabinetnya mengundurkan diri disampaikan oleh tokoh TNI di daerah yang bertemu di Sungai Dareh dengan nama Dewan Perjuangan yang dipimpin Letkol Achmad Husein pada pukul 10:00 mengumumkan keputusan sidang dewan tersebut: "5 x 24 jam Kabinet Djuanda menyerahkan mandat kepada Presiden atau Presiden mencabut mandat Kabinet Djuanda; dan Presiden menugaskan Drs. Moh. HATTA dan Sri SULTAN HAMENGKUBUWONO IX untuk membentuk Zakine Kabinet".
(zaken kabinet=kabinet para pakar/ahli dibidangnya masing)

Ultimatum ini disiarkan oleh 37 pemancar dan zender radio di Sumatera Barat. Saat itu rombongan Letkol Ventje Sumual belum kembali dari luar negeri dalam rangka pembelian senjata. Letkol Ventje Sumual mengirim kawat kepada Letkol D.J. Somba di Minahasa agar menunggu kedatangannya sebelum mengambil keputusan. 11 Februari 1958 Kabinet Djuanda menolak tuntutan Piagam Sungaidareh tersebut dan memerintahkan agar KSAD memecat Letkol Achmad Husein dan Kolonel Maludin Simbolon serta membekukan komando KDMSTT (Komando Daerah Militer Sumatera Tengah), Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Dahlan Djambek dan menghentikan sama sekali hubungan darat maupun udara dengan Sumatra Tengah seperti yang telah

dilakukan di Sulawesi Utara. KDM-SST ditempatkan langsung dibawah KSAD. 12 Februari 1958

kemudian

Dua hari kemudian, Kota Padang dibom oleh AURI sebagai jawaban atas ultimatum tersebut. Para pegawai sipil Minahasa pada hari ini mengadakan sumpah setia secara resmi kepada para pemimpin Permesta dalam rangka melaksanakan Piagam Permesta dengan dukungan kepada PRRI. Seleksi kilat tentara pelajar CTP (Corps Tentara Peladjar Permesta) dilaksanakan di beberapa daerah Minahasa. Antara lain di asrama Desa Sumarayar - kompleks kediaman Bupati/KDM Minahasa Laurens F. Saerang (pemimpin Batalyon Manguni, kemudian dijadikan Brigade Manguni) dan memulai latihan kemiliteran dalam Kompi I Batalyon Manguni dengan Kapten Penjata Gustaf Rungkat sebagai Komandan Kompi.

15 Februari 1958

KDM Laurens Saerang dan Staf menjelang Permesta Ia kemudian memimpin pasukan Brigade Manguni

Hari ini, kabinet tandingan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) diumumkan di Bukittinggi - Sumatera Tengah pukul 22.30 sebagai jawaban atas ultimatum yang tidak dijawab pemerintah pusat, dengan Sjafruddin Prawiranegara sebagai Perdana Menteri. Susunan Kabinet PRRI adalah: - Perdana Menteri & Menteri Keuangan : Mr. Sjafruddin Prawiranegara - Menteri Luar Negeri : Kolonel Maludin Simbolon

- Menteri Dalam Negeri : Kolonel Dahlan Djambek - Menteri Pembangunan & Pekerjaan Umum / Wakil Perdana Menteri : Kolonel J.F. Warouw - Menteri Pertahanan & Menteri Kehakiman : Burhanuddin Harahap - Menteri Perhubungan/Pelayaran : Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo - Menteri PP&K & Menteri kesehatan : Mohammad Sjafei - Menteri Pertanian dan Perburuan : S. Sarumpait - Menteri Agama : Mochtar Lintang - Menteri Penerangan : Letkol Mohammad Saleh Lahede - Menteri Sosial : A. Gani Usman Angkatan perangnya bernama Angkatan Perang Revolusioner dengan Angkatan Darat Revolusioner (ADREV), Angkatan Udara Revolusioner (AUREV), Angkatan Laut Revolusioner (ALREV). Selain kepolisiannya yang bernama Polisi Revolusioner (Polrev). Ketika tersebar berita bahwa Letkol Saleh Lahede dan Mochtar Lintang telah dijadikan menteri penerangan dan menteri agama PRRI, pihak Jakarta mendesak agar kedua orang itu menyatakan sikapnya. Dalam situasi itu, M. Saleh Lahede menerima undangan rapat dengan para perwira TNI di Makassar untuk membicarakannya. Dalam rapat itulah diputuskan agar Sulawesi Selatan tidak mengakui PRRI. Masalah ganguan keamanan Kahar Mudzakkhar merupakan prioritas utama di wilayah itu. Sekalipun tidak menerima keputusan ini, Saleh Lahede tidak bisa berbuat banyak. 16 Februari 1958 Para perwira dalam lingkungan KDM-SUT mengadakan rapat semalam sebelum rapat raksasa di Lapangan Sario, Manado. Pilihan yang dihadapi anggota TNI di Sulawesi Utara yang diajukan dalam pertemuan itu adalah: (1) memihak rakyat dan mendukung PRRI - tetapi hal ini akan bertentangan dengan disiplin militer; atau (2) setia kepada pemerintah pusat dan berjuang melawan rakyat - kendatipun tuntutan rakyat itu adil. Letko, D.J. Somba sendiri mengatakan bahwa ia mendapat tekanan untuk mendukung PRRI dan memutuskan hubungan dengan Kabinet Djuanda, tidak saja dari pejabat dan golongan sipil melainkan juga dari para angoota stafnya sendiri, Mayor J.W. Gerungan, Mayor Eddy Gagola, Mayor Mamesah, Mayor Eddy Mongdong. Menurut pengakuannya, ia sekalipun mendukung program Permesta, ia tidak suka memutuskan hubungan dengan pemerintah pusat. Letkol Somba kemudian

menginstruksikan Mayor Dee Gerungan, Mayor Gagola, Mayor Mongdong dan Mayor Lendy Tumbelaka untuk menyusun pernyataan baginya yang akan disampaikan dalam pertemuan keesokan harinya. 16 Februari 1958 Soekarno yang kembali ke Jakarta dari luar negeri menyatakan "kita harus menghadapi penyelewengan pada 15 Februari 1958 di Padang itu dengan tegas dan dengan segala kekuatan yang ada pada kita." Pada dasarnya Presiden Soekarno menyokong rencana PM Ir. Djuanda dan KSAD Mayjen A.H. Nasution untuk menggunakan kekerasan senjata. Kabinet Djuanda juga mengeluarkan perintah untuk menangkap Sjafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, dan Soemitro Djojohadikusumo. Hari ini diadakan rapat kilat di kediaman Mayor Dolf Runturambi di Sario yang dihadiri oleh Letkol D.J.Somba, Mayor Dolf Runturambi, Mayor Dee Gerungan, Mayor Eddy Gagola, guna membicarakan masalah yang sedang dihadapi sekarang ini. Pembesar sipil dan militer di Sulawesi Selatan mengeluarkan pernyataan dengan nada yang hati dan mengimbau rakyat agar tenang dan melakukan kewajibannya sebagaimana biasa dan mengikuti tujuan utama perjuangan nasional - menyelamatkan keutuhan negara dan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang merupakan dasar perjuangan tsb.

17 Februari 1958

Pada pukul 07.00 diadakan pertemuan di ruang rapat gedung Universitas Permesta di Sario Manado dengan tokoh politik, masyarakat dan cendikiawan. MC (moderator) saat itu adalah Kapten Wim Najoan. Secara singkat, Panglima KDM-SUT memberikan gambaran tentang perkembangan di Sumatera dan putusan dibentuknya PRRI. Selanjutnya Panglima KDM-SUT memberitahukan pada rapat tersebut, putusan sbb: "Permesta di Sulutteng menyatakan solider dan sepenuhnya mendukung pernyataan PRRI. Oleh sebab itu, mulai saat ini juga Permesta memutuskan hubungan dengan Pemerintah RI Kabinet

Djuanda". Tanpa dikomando hadirin bersama berdiri dan menyambutnya dengan pekik: "Hidup PRRI! Hidup Permesta! Hidup Somba!" berulang. Setelah rapat diskors 30 menit untuk menyusun teks pemutusan hubungan dengan pusat oleh 3 orang (Mayor Eddy Gagola, Kapten Wim Najoan,...), maka pertemuan dibuka kembali dan teks tersebut dibacakan. Setelah itu emosi hadirin meledak. Pekik "Hidup Permesta! Hidup PRRI! Hidup Somba-Sumual!" menggema selama beberapa menit. Setelah itu Mayor Dolf Runturambi bertanya kepada hadirin, "Bagaimana, saudara setuju?" Serentak dijawab: "Setuju! Setuju!". Kembali suasana dipenuhi oleh antusiasme yang berapi, walau tampak beberapa orang yang tetap bungkam. Kemudian diadakan pertemuan umum raksasa di Lapangan Sario Manado pada pukul 11.00. Letkol D.J. SOMBA selaku Panglima/Gubernur Militer KDM-SUT (Komando Daerah Militer Sulawesi Utara-Tengah) atas nama rakyat dan tentara Sulutteng, membacakan teks pemutusan hubungan dengan Pemerintah Pusat di Jakarta. Isi dari teks tersebut adalah: "RAKYAT SULUTTENG TERMASUK MILITER SOLIDER PADA KEPUTUSAN PRRI DAN MEMUTUSKAN HUBUNGAN DENGAN PEMERINTAH RI"

Rapat Raksasa di Lapangan Sario Overste DJ Somba: Putus hubungan dengan Pusat

Kemudian, sebuah pesawat komersil Garuda dari maskapai penerbangan nasional GIA yang baru tiba, dibiarkan terbang kembaliberangkat ke Jakarta dan pada semua orang yang ingin segera meninggalkan Manado dengan pesawat tersebut hari ini juga diberikan kelonggaran sepenuhnya. Sekalipun demikian, banyak juga

yang menemui Mayor Dolf Runturambi selaku Kastaf KDM-SUT untuk meminta semacam surat pas buat naik pesawat GIA terakhir ini, supaya mereka merasa aman. Pukul 20.00 malam hari, Kastaf KDMSUT Mayor Dolf Runturambi membacakan teks pemutusan hubungan dengan pusat dalam bahasa Inggris melalui RRI (Radio Permesta).

Kemudian oleh Pemerintah Pusat (dan tentu saja PKI), gerakan ini disebut sebagai "pemberontakan PRRI/Permesta". Pada saat itu Kolonel Permesta H.N.Ventje Sumual sedang berada di Manila. Beberapa hari kemudian, KDMSUT menerima radiogram bahwa Letkol Ventje Sumual telah bertolak ke luar negeri, Singapura, Manila terus ke Tokyo (Sebelumnya diketahui oleh para perwira KDM-SUT bahwa Letkol Sumual masih berada di Sumatera). Ia pergi bersama Mayor Jan M.J. Pantouw (Nun), sedangkan Mayor Arie W. Supit ditugaskan untuk pergi ke Roma. Hari itu juga Pemerintah Pusat kemudian mengumumkan pemecatan dengan tidak hormat atas Letkol H.N. Ventje Sumual (pangkat yang dinaikkan KSAD menjadi Kolonel, namun belum dilantik secara resmi), Mayor D.J. Somba (Saat itu ia telah menerima kenaikan pangkat otomatis Overste (Letkol) selaku Gubernur Militer/KDM, tapi belum ada kenaikan pangkat resmi) dan Mayor Dolf Runturambi. Beberapa hari kemudian KSAD memerintahkan untuk menangkap Letkol D.J. Somba, Mayor Dolf Runturambi, Gubernur SUT H.D. Manoppo dan Jan Torar. Sebetulnya, dengan memutuskan hubungan dengan pusat maka gerakan Permesta sudah mati, karena hanya sekitar 16 dari 51 deklarator Piagam Permesta saja yang berasal dari Sulawesi Utara yang meneruskan gerakan Permesta. Istilah "Permesta" sendiri secara resmi tidak dipergunakan lagi oleh pejabat sipil dan militer di Sulawesi Utara karena sudah menjadi bagian (cabang) dari PRRI di Sumatera; tetapi dalam kenyataannya cabang pemberontakan PRRI Sulawesi utara sering disebut PRRI/Permesta. Selain itu, kata Permesta adalah kata bahasa baku yang dipergunakan oleh kalangan masyarakat umum untuk menyebutkan gerakan ini, bahkan ada yang tidak mengetahui sama sekali bahwa gerakan Permesta sudah dilebur ke dalam PRRI sedangkan yang lainnya menyebutkan "PRRI" sebagai suatu gerakan pemberontakan lain yang berdiri sendiri disamping gerakan Permesta (maupun DI/TII Kahar Muzakhar, Daud Beureueh,

dll).

Sejak saat itu, semua penduduk terutama kaum muda, yang semula dikerahkan memanggul alat pembangunan, tiba diminta berganti peran. Pendaftaran mulai dilakukan dimana, baik untuk mendukung barisan pemuda maupun untuk dinas militer Permesta. Latihan kemiliteran pun mulai tampak dimana. Para pemuda, tak terkecuali gadis, mulai raib dari kampung. Mereka ikut mendaftarkan diri, lalu dikirim ke pusat latihan. (Kaum wanita Permesta tergabung dalam Pasukan Wanita Permesta (PWP) dengan potongan rambut seperti Kowad/Polwan). Pendidikan dan latihan secara militer dengan memakai senjata dipusatkan di daerah Mapanget, dilatih oleh para penasehat dari Korps Marinir AS. Pendidikan dengan latihan tempur dalam satuan kompi dan batalyon dilakukan di Remboken, Tompaso dan di daerah perbukitan Langowan. Latihan di sana dipimpin oleh seorang Mayor AD Filipina dengan beberapa perwira APRI (TNI) yang berpendidikan kompi. Sejumlah penasehat militer Amerika Serikat diselundupkan ke Sumatera dan Minahasa. Berbagai macam persenjataan dikirimkan lewat kapal dan sejumlah pesawat terbang (antara lain pesawat pengangkut DC-3 Dakota, pesawat pemburu Mustang F-51, Beachcraft, Catalina dan pembom B-26 Invander yang berada dibawah Angkatan Udara Revolusioner (AUREV) dengan sekitar 40 awak pesawatnya) juga ikut diperbantukan. Mereka melancarkan kegiatan tersebut dari Pangkalan Udara Militer Amerika Serikat di Clark Airfield, Filipina. Ada juga satuan kepolisian PRRI yang bernama Polisi Revolusioner (Polrev), dan badan intelejen Permesta yang diberi nama Permesta Yard. Kiriman pertama yang terdiri dari berbagai senjata ringan serta amunisi untuk pasukan infanteri segera dikeluarkan dan dibagikan. Beberapa pucuk mitraliur anti pesawat terbang segera dipasang di tempat strategis di sekitar daerah pelabuhan dan lapangan udara yang sudah ditetapkan sebelumnya. Bersama kiriman persenjataan tersebut juga tiba beberapa instruktur asing, sehingga latihan pasukan baru dapat segera dimulai. Permesta saat itu tidak pernah kekurangan senjata. Salah

seorang pemasok peralatan militer Permesta dari luar negeri yaitu Mayor Daan E. Mogot mengakui bahwa dari Italia pernah menawarkan kapal perang, tetapi tidak pernah bisa diambil karena alasan teknis. Demikian juga bantuan dana dan perbekalan, dengan mudah bisa didapatkan dari Taiwan, Jepang, Korea Selatan dan Filipina. Timbunan senjata dan perlengkapan militer terkumpul di Okinawa dan di Filipina. Orang PRRI dan Permesta, Filipina, Cina, Amerika Serikat dan para sedadu sewaan 'dari negara lain' juga telah dilatih dan siap di Okinawa dan di Filipina untuk membantu PRRI dan Permesta. Sekitar satu peleton anggota RPKAD (sekarang Kopassus) yang berasal dari Minahasa yang sedang cuti pulang kampung terjebak Pergolakan. Pasukan Nicholas Sulu tersebut kemudian menjadi tulang punggung WK-III di wilayah Tomohon. Selain itu ada juga sepasukan yang dipimpin oleh bekas anggota RPKAD fam Lahe yang merekrut pemuda di kampungnya dan membentuk Kompi Lahe yang terkenal kejam akan pembantaian Pasukan Combat (kompi) Lahe di Raanan dan Tokin: Peristwa itu didahului oleh Simon Ottay dari GAP (Gerakan Anti Permesta) - yaitu salah satu organisasi bentukan komunis (PKI) yang menyamar dengan memakai pangkat Kapten Permesta (APREV) mendaftarkan penduduk dari kedua desa tersebut untuk menjadi "anggota" Pasukan Permesta. Setelah ia lari karena diburu pasukan PRRI (Permesta), didapatilah daftar "anggota" tersebut. Tanpa pemeriksaan, langsung saja Kompi Lahe yang dipimpin oleh Montolalu membantai penduduk kedua desa tersebut. Karena tindakan ini dinilai sebagai kejahatan kemanusiaan dan hukum (tanpa pemeriksaan secara saksama), maka Lahe dan Montolalu dikejar pasukan antara lain dari Kapten (?) Tumanduk. Montolalu ditangkap di Sinisir, dan dieksekusi di Mokobang, sedangkan Lahe ditangkap di Remboken. Sejumlah besar anggota Komando Pemuda Permesta (KoP2) di wilayah Sulawesi Utara dan Tengah dengan sukarela mendaftarkan diri menjadi anggota pasukan Permesta. KoP2 atau yang lebih dikenal sebagai Kopedua ini dipimpin oleh Yan Torar. Sebelum itu, kegiatan KoP2 adalah membantu pemerintah daerah masing mengerahkan tenaga dan dana untuk melancarkan pembangunan di daerah.

Sebagian lagi, khususnya pelajar dan mahasiswa, disusun dalam satuan Permesta dengan nama Corps Tentara Peladjar (CTP) dipimpin Jimmy Noya, seorang pemuda asal Ambon (Maluku) serta Wilson H. Buyung. Lambang Corps-TP dan Badge dengan dasar hitam garis lima merah diagonal tersebut hasil inspirasi dari film perang 'To Hell and Back' yang hanya bergaris tiga sebab kebetulan sewaktu tercetusnya Permesta hanya film perang itu saja yang diputar berulang di bioskop Manado. Arti warnanya adalah merah hitam berarti berani mati untuk mempertahankan 5 [lima] garis merah berarti Pancasila. Penciptanya adalah Krishna Sumanti [Kris] ex. CTP Manado Jimmy boys. Semangat pasukan Permesta ini dibakar oleh para ahli psywar dan agitasi, lewat teknik pendekatan dan pembinaaan yang jitu. Patahlangi, Putera Bugis yang terkenal sebagai orator dan agitator berbakat, setiap sore terdengar suaranya lewat Radio Permesta Manado, berpidato berapi mengobarkan semangat Permesta di kalangan pendengar. Berbagai kehebatan dan keunggulan serta kekuatan Permesta ditonjolkan. Sebaliknya setiap kelemahan pihak lawan dipaparkan, dan keburukan ditelanjangi. Slogan perjuangan saat itu adalah: "Permesta Pasti Menang".

Fenomena yang terjadi akibat situasi Pergolakan ini antara lain mewabahnya demam mistik. Kepercayaan terhadap kekuatan mistik Opo yang sangat diyakini leluhur orang Minahasa, kembali mengental. Kekebalan tubuh terhadap bacokan atau tembakan senjata merupakan hal yang paling laris dalam situasi yang siap bertempur tersebut. Orang pintar yang disebut Tonaas bermunculan di kampung. Jimat tersebut ada yang berbentuk batu cincin, keris, sapu tangan, atau ikat pinggang jimat. Yang paling disukai dan dianggap hebat kesaktiannya adalah ikat pinggang jimat, berupa batu kecil ataupun akaran yang telah dibungkus dengan kain merah, beruas yang disebut Sembilan Buku (Ruas). Selain itu ada jimat penghilang tubuh serta jimat terbang yang juga menjadi 'dagangan' laris saat itu, dan ada juga jimat yang diberikan dalam bentuk air yang diminum atau dimandikan. Tokoh sakti yang menjadi idola saat itu antara lain adalah Nok Korompis, Daan Karamoy, Gerson (Goan) Sangkaeng, Len Karamoy, Yan Timbuleng, serta banyak lagi orang sakti lainnya yang menjadi pimpinan Permesta ketika itu.

Salah satu akibat utama dari mistik ini adalah banyak menimbulkan perpecahan bahkan lucut- melucuti senjata, serta kudeta kekuasaan di antara sesama pasukan. Hal ini merupakan kelemahan fatal bagi keutuhan dan kekuatan Permesta, sebab seorang bawahan yang merasa dirinya sakti, bisa saja melawan atasannya).

18 Februari 1958

Dalam putusannya, Pemerintah Pusat di Jakarta melalui siaran radio RRI Pusat, menyatakan bahwa Letkol D.J. Somba dan Mayor Dolf Runturambi dipecat dari dinas militer TNI-AD dalam APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia). Letkol D.J. Somba hari ini secara sepihak melaksanakan pembagian KDM-SUT yang sudah lama direncanakan itu dalam dua resimen. Mayor Dolf Runturambi ditugaskan menjadi Komandan Sektor I/Resimen Team Pertempuran (RTP) "Ular Hitam", yang meliputi Sangihe-Talaud, Minahasa, dan Bolaang Mongondow; dan Mayor Jan Wellem (Dee) Gerungan dilantik sebagai komandan Sektor II Resimen Team Pertempuran "Anoa", di Sulawesi Tengah dengan markas besar di Poso. KSAD Mayjen A.H. Nasution menyatakan bahwa Angkatan Darat mendukung Demokrasi Terpimpin. Masa ini adalah untuk pertama kalinya Presiden Soekarno merasa berada dalam dukungan ideologis dari pimpinan tentara. Ini menjadi salah satu kedekatan yang istimewa antara Presiden Soekarno dengan KSAD Jenderal Mayor A.H. Nasution. Sugesti dari pihak militer jelas sangat berperan pada keputusan Soekarno, yang kendati sejak awal berusaha berbaik dengan para panglimanya di daerah. Presiden Ir. Soekarno bertemu dengan Drs. Mohammad Hatta guna membicarakan situasi yang terjadi akhir ini. Mereka bertemu lagi tanggal 3 Maret.

19 Februari 1958

Areal Gunung Lokon dilihat dari udara

Hari ini, Gunung Lokon mulai menampakkan kegiatannya dengan sebuah letusan kecil yang memuntahkan lapili di sekitar kawah. Kemudian letusan Lokon terjadi pada tanggal 4, 16-17 Maret, 3-4 Mei tahun ini juga. Kegiatan letusan Lokon ini berlangsung sepanjang tahun. Letusan ini dilanjutkan hingga berakhir pada tanggal 23 Desember 1959- tahun berikutnya. Selama tahun 1959 Lokon memuntahkan abu diselingi letusan kuat yang melontarkan batu. Hujan abu turun di sekitarnya. Dalam bulan Agustus, September dan November tahun 1959 tidak terjadi letusan. Konon, letusan Gunung Lokon ini dipercaya orang terjadi akibat peringatan dewa Minahasa (opo) berkaitan dengan mulainya prahara Pergolakan Permesta - perang saudara antara Pemerintah Pusat dengan PRRI di Minahasa. 20 Februari 1958 Perintah untuk melakukan operasi militer secara terbuka bergulir dari Jakarta pada tanggal 20 Februari 1958. Keputusan ini diambil Jakarta sehubungan berakhirnya ultimatum pemerintah pusat kepada PRRI untuk menyerah. Maka hari itu, dua pesawat B-25 dengan penerbang Kapten Sri Muljono dan Mayor Soetopo mendapat perintah menyebarkan pamflet yang berisi himbauan agar PRRI menyerah. Sebelum menuju daerah tujuan, kedua pesawat mendarat di Astra Setra, Lampung agar tidak diketahui Letkol Barlian, Komandan Sumatera Selatan. Barulah esok paginya kedua pesawat terbang menyusuri pantai barat Sumatera. Setelah terbang sekitar hampir dua jam, mereka mulai memasuki pantai Padang dan menebarkan pamflet. Permesta membalas perintah tersebut dengan mengumandangkan semboyan: "HANJA KALAU KERING DANAU TONDANO, RATA GUNUNG

LOKON, KLABAT DAN SOPUTAN BARU TENTARA DJUANDA DAPAT MENGINDJAKKAN KAKINJA DIMINAHASA." 21 Februari 1958 Hari ini, pemerintahan PRRI-Permesta di Sulut menerima radiogram dari Letkol Ventje Sumual, yang memerintahkan untuk mengadakan telaahan staf mengenai persiapan militer menghadapi ofensif Jakarta. Selanjutnya kepada Mayor J.W. (Dee) Gerungan ditugaskan untuk membuat konsep rencana ofensif terhadap ofensif pusat bersama Mayor Eddie Gagola, yang menyusun rencana pembentukan WK (Wehrkreisse). Pada pagi hari, pesawat B-25 Mitchell AURI yang dikemudikan oleh Mayor (Pnb) Leo Wattimena dan Mayor (Pnb) Omar Dhani, menjatuhkan bom pada beberapa sasaran yang dianggap vital, antara lain studio RRI Manado (yang waktu itu adalah Studio Radio Permesta), Asrama Tentara, Markas Angkatan Darat Permesta di Jl. Sario, kompleks perumahan perwira pimpinan Permesta di Sario, serta rumah mertua Ventje Sumual, dan juga Rumah Sakit "Gunung Maria" Tomohon, walaupun sudah dicat Palang Merah di atapnya. Batalyon 714 hanya memiliki beberapa pucuk mitraliur 12,7 mm. Satuan itu segera diperintahkan untuk menempatkan di atas jip guna menghadapi serangan ulang AURI.

22 Februari 1958

atap studio Radio Permesta yang hancur dibom

Pemboman terhadap Manado ini mempercepat kepulangan dua tokoh militer asal Minahasa yang berpengaruh yaitu Kolonel Alex E. Kawilarang (Atase Militer KBRI Wshington,DC/USA) dan Kolonel J.F. Warouw (Atase Militer KBRI Peking/Cina) ke daerah asalnya. KSAD Mayjen A.H. Nasution sebelumnya telah menerima beberapa kawat telegram dari Alex Kawilarang dan sebuah kawat dari Joop Warouw. Namun, kawat terakhir dari Alex Kawilarang beberapa saat sebelum pemboman atas Manado berisi kecaman keras atas tindakan Pemerintah Pusat terhadap daerah yang bergolak.

23 Februari 1958

Pukul 14.00, muncul pesawat terbang dengan kode Filipina di Lapangan Mapanget yang membawa KSAD PRRI Letkol Ventje Sumual. Landasan beton saat itu telah dibarikade dengan truk, dan beberapa stomwals. Kemudian, pesawat yang membawanya lepas landas beberapa menit kemudian. Pengiriman senjata terhadap Permesta telah tiba hari ini di Manado. Bersamaan dengan tibanya Letkol Ventje Sumual dari luar negeri. Kolonel Sumual mengatakan bahwa mereka memperoleh persenjataan pertama untuk Permesta di Manila, Filipina dan Taipei, Taiwan. Dua hari setelah Manado dibom, KDM-SUT mengeluarkan seruan kepada semua bekas KNIL yang telah mendapat latihan dalam pasukan antipesawat udara dan senjata berat agar melapor untuk didinaskan. Kira 2.000 orang melaksanakan seruan tersebut, termasuk diantaranya ayah Kolonel Joop Warouw. Letkol H.N.Ventje Sumual (NRP 15958) secara resmi dipecat dari TNI.
RESOLUSI Konferensi Veteran Sulawesi Utara/Tengah jang dilaksanakan di Manado dan dihadiri oleh tokoh Veteran, wakil kelaskaran serta wakil dari daerah Luwuk Banggai, Posso, Palu/Donggala, Bolaang Mongondow, Minahasa, Manado, Sangir Talaud dan Gorontalo membahas setjara mendalam pergolakan di tanah air pada saat itu, menjimpulkan keputusan sebagai berikut: A. 1. Mendukung sepenuhnja pernjataan KDM/Gubernur Militer SUT jang ditetapkan tanggal 17-2-1958. 2. Mengutuk tindakan Djuanda & KSAD terhadap pergolakan di Sumatera Tengah dan Sulawesi Utara. 3. Sehidup semati dengan tokoh Permesta seraja menentang keras perintah KSAD tentang pemetjatan/penangkapan Somba cs. B. 1. Mendesak supaja semua anggota Veteran dipersendjatai kembali, untuk merealisasikan dan mempertahankan PERMESTA. 2. Supaya dibentuk kesatuan Veteran bersendjata jang dipimpin oleh Veteran. 3. Agar penjusunan kesatuan tersebut dipertjajakan kepada Veteran, jang disesuaikan dengan ketentuan Gubernur Militer. 4. Supaya segera menempatkan tenaga Veteran pada segala bidang. Atas nama Konperensi Veteran, t.t.d. - 1. John F. Malonda (Ketua), 2. S.D. Wuisan, 3. Dj.A. Musmar, 4. A.F. Nelwan, 5. Theo Najoan, 6. H. D. Johannis, 7. W. Malele, 8. Kol. Tinangon, 9. R.R.Lumi,

24 Februari 1958

26 Februari 1958

26-27 Februari 1958

10. Wim Gerungan, 11. John Somba, 12. Se8l Ali Sakibu, 13. Abd. Haris Renggah, 14. Anang Idjah, 15. F.S.U. Siwu, 16. Ibu Lasut-Monding, 17. Ibu Mewengkang-Tampi.

28 Februari 1958

Menurut harian Tan Kung Pau, Jan Pantouw berada di Hongkong hari ini. Dalam bulan ini, ada beberapa peristiwa penting: Keadaan yang genting di Sulawesi Utara akibat pemutusan hubungan Permesta dengan Pusat menjadi faktor penting penentu situasi di kota Manado. Kota Manado pada waktu itu semakin dicekam rasa tak aman. Setiap detik warga kota seakan menanti meletusnya perang terbuka antara Pasukan Permesta dengan Tentara Pusat yang diperkirakan tak lama lagi bakal datang menyerbu daerah yang dikuasai Permesta. Karenanya warga kota Manado, berangsur mulai mengungsi ke luar kota. Tak terkecuali instansi pemerintah juga mulai melakukan evakuasi ke pedalaman. Kota Tomohon kemudian menjadi kota alternatif sesudah Manado. Ketika Padang diserang, KSAD Mayjen A.H. Nasution memerintahkan agar Letkol Saleh Lahede dan semua tokoh Permesta di Makassar ditangkap. J.M.J. "Noen" PANTOUW diutus ke Amerika Serikat untuk mendapatkan dukungan moril dan materil bagi Permesta. Kemudian bertemu Kolonel Ventje SUMUAL di Taipei serta tokoh Kuomintang. Kolonel Alexander Evert Kawilarang (saat itu ia telah mendapat kenaikan pangkat otomatis Brigjen, namun belum ada pelantikan secara resmi) berhenti sebagai Atase Militer RI pada Kedubes RI di Washington, DC - AS (yang dijabatnya sejak bulan September 1956), kemudian berhenti dari dinas militer, selanjutnya bergabung dengan Permesta (ia menolak sebutan PRRI). Ia waktu itu didesak para perwira bekas bawahannya yang saat itu

Maret 1958

sedang mengikuti pendidikan di Fort Benning, AS agar mengirim kawat kepada KSAD A.H. Nasution. Dengan enggan ia mengirim beberapa kawat (telegram) protes atas tindakan pemerintah pusat terhadap daerah yang bergolak. Jawaban yang diterimanya dari KSAD ringkasnya berbunyi "Tidak akan mengubah kebijaksanaan yang telah diambil, karena baru kembali dari kunjungan ke daerah dan ternyata semua daerah mendukungnya." Selain itu, tembusan jawaban ini dikirim juga kepada semua atase pertahanan/militer di luar negeri. Komentarnya kepada para perwira yang sedang mengikuti pendidikan tersebut "...memang saya sudah menduga akan menerima jawaban semacam ini. Saya sudah pikir dari semula bahwa hal ini (kawat protes) akan percuma saja." Dalam bukunya yang berjudul "A.E. Kawilarang, Untuk Sang Merah Putih" ia menuliskan: "Bulan Maret 1958 saya menghadap Duta Besar
Mukarto dan mengatakan, bahwa saya akan ke Sulawesi Utara. Sebelumnya saya sudah mengirimkan kawat ke KSAD, mengabarkan bahwa saya meletakkan jabatan saya, berhubung tidak setuju dengan tindakan Pemerintah Pusat di Jakarta. Sebelum saya keluar dari kantor KBRI itu, saya adakan dulu timbang terima. Keuangan saya bereskan dan saya serahkan seluruhnya. Begitu juga barang dan dokumen milik pemerintah RI yang ada pada saya, saya serahkan kepada yang harus menerimanya. Saya tinggalkan suasana hidup aman di Washington, DC dan saya tinggalkan ketenangan bekerja di kantor KBRI, menuju ke kehidupan yang bakal serba gelap dan tidak menentu. Untuk daerah memang nasi sudah jadi bubur. Deburan hati pula yang saya ikuti. Bentrokan intern Indonesia tentu dipergunakan oleh beberapa negara lain untuk manfaatnya sendiri. Tiga tahun lebih terjadi konfrontasi bersenjata yang berakhir dengan Permesta kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Saya sendiri menganggap bahwa kehidupan saya sebagai tentara sudah berhenti sejak Maret 1958. Sesudah kembali ke Jakarta tahun 1961, saya melihat hari depan sangat gelap untuk saya. Tetapi waktu itu saya melihat juga, bahwa untuk seluruh Indonesia hari depan sangat gelap. Barulah sesudah peristiwa Oktober 1965 saya dan teman saya dapat bernapas lebih lega dan mulai kelihatan terang untuk tahun-tahun kemudian. Di tahun 1966 ada seorang dari surat khabar yang bertanya, "Apakah sudah direhabilitasi?" Saya jawab "Siapakah yang harus merehabilitasikan siapa?!

"

Presiden Republik Korea, Sygngman Rhee menyatakan bahwa Korea siap membantu PRRI dan Permesta di Indonesia dengan kekuatan Angkatan Darat, Laut dan Udaranya. Pers (terpimpin) Korea melancarkan berita tentang kemungkinan Republik Rakyat Cina mengirim "Tentara Sukarelawan" ke Indonesia.

Presiden Republik Cina-Taipei (Taiwan) Chiang Kai Shek pernah merencanakan untuk mengirimkan 1 resimen marinir dan 1 skuadron pesawat tempur untuk merebut Morotai bersama Permesta (PRRI), namun Menteri Luar Negeri Republik Cina (Taiwan) Yen Kung Chau menentang gagasan itu. Cina Daratan (RRC Komunis) dikhawatirkan akan ikut serta membantu Pemerintah Pusat di Jakarta dan memiliki alasan untuk mengintervensi Taiwan. Taiwan telah mengirimkan bantuan berupa sejumlah perwira menengah untuk melatih pasukan Permesta, persenjataan dan dua squadron pesawat tempur ke Minahasa untuk Angkatan Udara Revolusioner atau AUREV. Bantuan Cina Taipei (Taiwan) kepada Permesta mengakibatkan pemerintah Indonesia mengambil tindakan terhadap WNI pro Kuomintang (WNI Keturunan Cina). Sekolah, surat kabar dan Perangko Permesta beberapa perusahaan Cina ditertibkan. Tokoh Cina yang pro Kuomintang ditahan, dicurigai mengadakan kegiatan subversif. Bulan Agustus 1958, militer mengambil alih bisnis yang dipegang oleh penduduk WNI asal Taiwan. Banyak perbekalan dan peralatan yang dibuat di Taiwan. Misalnya saja seragam berikut senapannya, dan perangko Permesta yang terdiri dari 50 sen, Rp 1,-, Rp 2,-, dan Rp 2,50 , dan juga ada granat Taipeh yang mirip botol kayu yang dilengkapi sumbuh yang diproduksi secara besaran dan murah dilihat dari kualitasnya. Senjata semacam Bar Bren yang kemampuannya lebih dibandingkan Bren biasa, yaitu terletak pada untaian rantai pelurunya yang panjang. Ada pula senjata antitank yaitu Super Bazooka, juga senjata ringan jenis Thomson dan PM atau Parabuelem yang disebut juga pistol mitraliur. PM ini sekelas sten gun, tetapi keampuhannya karena magazinnya berisi sekitar empat puluh butir peluru, dan daya tembakan otomatisnya sangat cepat rentetannya, sehingga mampu menebas sebatang pohon. Senjata berat lainnya yang sangat dibanggakan, baik untuk penangkis udara maupun pemusnah jarak jauh, adalah senjata bernama recoilless-gun 75 mm yang juga disebut pom-pom. Pemancar Radio Permesta diselamatkan sementara ke Tomohon, dan mendirikan pemancar darurat di desa Matani. Puluhan pria dari desa Kakaskasen Tomohon dikerahkan untuk mengangkut peralatan pemancar Radio Permesta di Sario Manado itu. Sebagian peralatan Percetakan Negara Manado, yang digunakan untuk

mencetak uang kertas Permesta juga sudah diungsikan ke Minahasa Selatan. Setelah dibawa ke desa Kanonang - Kec. Kawangkoan, kemudian diangkut lagi kedesa Tombasian Atas, lalu diteruskan ke lokasi perkebunan Kotamenara. Pemancar Radio Permesta I juga kemudian dipindahkan ke desa Tombasian atas, lalu diteruskan ke lokasi perkebunan Kotamenara yang kelak di tempat itu berdiri desa Kotamenara, dan ditempatkan di sana sampai pergolakan Permesta berakhir. Kepala seksi pemberitaan Radio Permesta I ini adalah Freddy Ratag. Staf Pemerintahan Sipil Permesta yang dipimpin oleh Kolonel Joop Warouw sebagai Waperdam (Wakil Perdana Menteri) PRRI/Kepala Pemerintahan Sipil PRRI di Sulawesi juga membangun markas di sini. Pemancar Radio Permesta II ditempatkan di Modoinding dengan memanfaatkan radio pemancar bekas milik kantor telegraf (TT) Manado. Mutu cetak uang kertas Permesta dan juga mutu kertasnya agak rendah, kadang dicetak pada kertas HVS bahkan pada kertas dinas bergaris. Uang kertas ini terdiri dari pecahan Rp 100, Rp 500,- dan Rp 1.000,- dan ditandatangani oleh Joop Warouw selaku Waperdam PRRI - Permesta. Uang kertas Rp.100,- nilainya masih dapat membayar ongkos makan dan minum kopi di warung, sedangkan uang kertas Rp.500,- masih cukup untuk membeli dua ekor ayam di pasar. Selain uang kertas cetakan Permesta, beredar juga secara sah uang lama RI yaitu uang kertas seri ZG pecahan seratus rupiah bergambar pahlawan Diponegoro yang dinamakan uang "ketek" atau keras. Uang seri ZG ini adalah uang yang dikuasai Permesta dari Bank Indonesia Cabang Manado, ketika terjadi pemutusan hubungan dengan pemerintah pusat. Uang kertas seri ini dinyatakan tidak berlaku lagi sebagai alat pembayaran yang sah oleh pemerintah pusat. Di Singapura, sebagai pangkalan lalu lintas orang PRRI dan Permesta, telah ditawarkan oleh makelar berupa sejumlah helikopter, kapal pendarat, dan tank pendarat kepada PRRI (dan Permesta). Singapura sendiri, pada akhir bulan Maret 1958 terkesan bahwa banyak partisan PRRI (dan Permesta). Permesta kemudian berhasil membeli pesawat pembom diantaranya 2 pesawat pembom jarak jauh B-29 berikut menyewa penerbangnya dan mempergunakan pangkalan udara Amerika Serikat Clark Airfield di dekat Manila Filipina. Penerbang yang disewa itu terdiri antara lain anggota pasukan Jenderal Claire Chenault dari pasukan Flying Tigers bekas penerbang Perang Dunia II, dan penerbang dari Taiwan. Direktur CIA, Allan Dulles (saudara Menteri Luar Negeri AS, John Foster Dulles), bersaksi di depan Senat Kongres Amerika, bahwa AS

tidak "mencampuri urusan dalam negeri" Indonesia. "Pos X", demikian nama pos informasi intelejen PRRI (dan Permesta), yang sebenarnya tidak banyak melebihi kualitas sebuah biro informasi. Kabar yang diperoleh umumnya berasal dari orang yang menyebut diri simpatisan PRRI-Permesta, yang sendirinya masih belum 100% dapat dipercaya. "Biro X" ini terdapat di Jakarta dan Singapura. Pusatnya berada di Singapura, dikepalai Jaksa E. Pohan yang masih aktif di perwakilan Ri di Singapura (KBRI). 3 Maret 1958 Hari ini diumumkan bahwa Letkol Saleh Lahede dipecat dari TNI, yang telah berlaku surut sejak tanggal 17 Februari 1958. Rapat rahasia Menlu negara SEATO (South East Asia Treaty Organization) di Manila diadakan dengan tokoh-tokoh PRRI. Dipertimbangkan untuk memberikan belligerent status (status negara yang sedang berperang) kepada PRRI, status demikian memungkinkan daerah lain dapat memberikan bantuan terbuka kepada PRRI. Menteri Luar Negeri Australia Robert Casey berpendirian lebih keras, menghendaki pesawat Australia beroperasi di Indonesia, dan melakukan tindakan menghambat ekonomi Indonesia. Namun gagasan tersebut tidak disetujui Menteri Pertahanan Australia. Dalam merampungkan persiapan operasi di Sumatera menghadapi PRRI, Pangkalan Udara Tanjung Pinang dijadikan pangkalan induk pasukan APRI. Di pangkalan ini segala persiapan dilakukan untuk merebut Pekanbaru dan pangkalan udaranya. Menduduki pangkalan udara Pekanbaru menjadi prioritas utama APRI, sebelum memutuskan untuk menduduki Padang, Medan dan Palembang. Persiapan telah rampung, tanggal 10 Maret diputuskan sebagai D-day. Namun rencana ini ditunda dan operasi diundur selama 48 jam. Khusus selama Operasi Tegas di Sumatera, semua pesawat B-25 tidak dimuati bom. Setidaknya empat B-25 dan enam P-51 mengudara pagi itu. Tugasnya adalah membersihkan daerah penerjunan (DZ) bagi satu Batalion PGT (Pasukan Gerak Tjepat) dan satu Kompi RPKAD dari tentara APRI. Beberapa jam sebelumnya, pada pukul 01.30 dini hari, sebuah pesawat PBY-5A Catalina mendahului operasi subuh itu untuk memantau situasi sekaligus melaporkan keadaan cuaca di daerah operasi. Sekitar pukul 4, pesawat Catalina berputar di atas Pangkalan Udara Simpang Tiga, Pekanbaru. Ada beberapa orang pasukan PRRI berkeliaran di sekitar landasan. Mereka tidak sedikitpun curiga ketika mendengar suara pesawat menderu di kegelapan malam. Begitu juga dengan penerbang Catalina, tidak menyadari adanya kegiatan di

11-12 Maret 1958

12 Maret 1958

bawah. Barulah ketika tiba banyak lampu menyala, di sisi lain terlihat api unggun dihidupkan, seperti isyarat. Ternyata saat bersamaan, orang PRRI tengah menunggu pasokan senjata dari CIA. Sesuai dengan flight plan, pukul 06.00 ditentukan semua pesawat sudah harus berada di atas Pangkalan Simpang Tiga. Kemudian sekonyong pesawat P-51 disusul B-25 bergantian menghamburkan rentetan senapan mesin kaliber 12,7 ke pasukan PRRI yang tengah menunggu pasokan senjata dari CIA. 12 Maret 1958 Badan Pekerja Sinode GMIM dalam sidangnya mencetuskan sebuah seruan yang meminta agar kedua kubu (Permesta dan Pemerintah Pusat) segera meninggalkan dan menghentikan kekerasan dengan pemboman dan perang saudara antara 'kita dengan kita'. Seruan ini disampaikan selaku Badan Pekerja Sinode GMIM yang memegang pimpinan atas 400.000 jiwa Kristen di Minahasa sampai daerah Gorontalo, Donggala, Palu dan Parigi. Dan ditandatangani oleh Ketua dan Panitera (Sekum) BPS GMIM masing A.Z.R. Wenas dan P.W. Sambow.
Ds. A.Z.R. Wenas memangku jabatan Ketua Sinonde mulai tanggal 15 Mei 1956 bertepatan dengan terpilihnya Ds.M. Sondakh sebagai anggota DPR RI pada Pemilihan Umum, dan digantikan oleh Ds. R.M. Luntungan, namun juga R.M. Luntungan sudah menjadi Ketua GPI di Jakarta. Nanti pada tanggal 26 Mei 1957 dipilih dengan suara bulat selaku Ketua Sinode. Bulan Agustus 1959 beliau ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI namun ditolaknya, juga oleh Sidang Sinode darurat tanggal 26-30 Oktober 1959

15 Maret 1958

Kolonel J.F. Warouw (Joop) sebagai Atase Militer RI di Peking (Beijing) Cina, hari ini diskors dari dinas militer TNI. Dalam suatu pengakuannya, Mayor Daan E. Mogot mengakui bahwa dialah yang membujuk langsung Joop Warouw untuk bergabung dengan PRRI (gerakan Permesta). Empat hari setelah menduduki Pekanbaru, dua B-25 dengan penerbang Mayor Soetopo dan Kapten Sri Muljono serta sebuah P-51 yang diterbangkan Kapten Udara Rusmin Nurjadin dikerahkan ke Medan untuk menghadapi pasukan PRRI pimpinan Mayor Boyke Nainggolan. Peristiwa yang terkenal dengan "Peristiwa Nainggolan" itu dibungkam setelah serangan udara disusul penerjunan prajurit PGT, RPKAD, dan Batalion 332 Siliwangi. Sebagian lainnya melarikan diri ke Aceh dan Tapanuli. Letnan Satu Yus Tiendas (asal Sangir) dengan satu peleton pasukan Permesta berhasil merebut kembali kota Gorontalo dari tangan pasukan Nani Wartabone. Pasukan Nani Wartabone (dikenal sebagai Pasukan Rimba) kemudian masuk hutan.

16 Maret 1958

17 Maret 1958

31 Maret 1958

Pasukan TNI berhasil mendarat di daerah Palu-Donggala, Sulawesi Tengah, dengan bantuan dari kompi TNI setempat dibawah Kapten Frans Karangan (asal Toraja) yang telah bergabung dengan TNI, dan pasukan Mobile Brigade (Mobrig, sekarang Brimob) setempat. (Dikabarkan bahwa komandan batalyon Mayor Lukas J. Palar gugur dalam peristiwa ini) Menjelang akhir bulan Maret, dicapai persetujuan dengan gerombolan Jan Timbuleng (Pasukan Pembela Keadilan/PPK) untuk bekerja sama dengan Permesta di bawah naungan PRRI. Juga, turut bergabung gerombolan pemberontak lainnya, kurang lebih 300 orang dari satu kelompok (Sambar Njawa) yang dipimpin Daan Karamoy dan Len Karamoy (yang disebut terakhir ini adalah bekas istri Jan Timbuleng). Len Karamoy yang mempunyai nama baik sekali sebagai komadan pasukan, menawarkan diri untuk melatih sebuah laskar wanita untuk Permesta (PWP). OPERASI "DJAKARTA II" dilancarkan Permesta (PRRI) dibawah komando Panglima KDP II/Minahasa Letkol D.J. Somba. Rencana ofensif secara bertahap terhadap ibukota RI Jakarta ini dibekali dengan persediaan senjata dan amunisi untuk satu divisi dan tenaga prajurit yang cukup militan dalam latihan, serta air-cover (perlindungan udara) dari pesawat AUREV. Rencana Operasi Djakarta II itu adalah sebagai berikut: a. merebut kembali daerah Palu/Donggala yang telah dikuasai Tentara pusat; dari sana menyerang & menduduki Balikpapan dengan kekuatan 1 resimen RTP; b. sasaran kedua adalah Bali; c. sasaran ketiga adalah Pontianak; d. sasaran terakhir adalah Jakarta. Operasi ini bertujuan untuk menekan Pemerintah Pusat di Jakarta agar berunding dengan PRRI. Perebutan kembali Parigi dan Toboli di Sulawesi Tengah oleh Overste D.J. Somba dengan membawa Bn.Q pimpinan (Mayor Lukas J. Palar) Mayor J. Lumingkewas, pasukan Daan Karamoy dengan beberapa ex KNIL yang membawa senjata recoillesss-gun 75 mm, basoka serta senjata berat lainnya, satu pasukan dari ex Pasukan Pembela Keadilan (PPK) - Brigade 999 yaitu sebanyak tiga batalyon (sebenarnya cuma berkekuatan beberapa kompi riil), antara lain dari Mayor Gerson (Goan) Sangkaeng dan Batalyon 2-nya, satu peleton pasukan RPKAD (21 orang) pimpinan Nicholas Sulu; dan Panglima KDP IV/Sulawesi Tengah Letkol J.W. (Dee) Gerungan. Semuanya berjumlah kira 600 orang.

Akhir Maret 1958

April 1958

Sekitar 2/3 penduduk Poso masuk hutan karena takut pada pertikaian Pergolakan Permesta ini, dan kurang lebih 200 orang pemuda Poso dijadikan anggota pasukan PRRI (Permesta). Pos pasukan Permesta di daerah itu antara lain Poso, Tentena, Pendalo, Luwuk, Kolonedale, Parigi, Toboli, dan ada beberapa kota lainnya. 12 April 1958 Tiga pesawat pertama yang diperbantukan dalam pertahanan udara PRRI (dalam AUREV - Angkatan Udara Revolusioner) berupa pesawat B-26 Bomber diberangkatkan dari US Clarck Airfield di Filipina. Kemudian AUREV PRRI (Permesta) menjatuhkan Slogan dan phamplet dari pesawat yang berisi pernyataan "maaf Bung Karno, kami tidak butuh Komunisme", yang dijatuhkan di daerah Manado, Tomohon, Gorontalo, dan Palu. 13 April 1958 Permesta yang tidak ingin diserang lebih dulu menyerang pada pertengahan bulan dengan pesawat AUREV yaitu B-25 (pesawat Taiwan), pertama kali di Lapangan Mandai (sekarang Bandara Hasanuddin) Makassar pukul 5:35-5:51 pagi hari dibom oleh AUREV/Permesta. Sebelumnya, pengeboman di LU Mandai Makassar sebenarnya akan menggunakan 2 pesawat pembom B-26. Namun pesawat yang satunya, yang dikendalikan oleh penerbang berkebangsaan AS jatuh setelah mengadakan take off dari LU Mapanget. Peristiwa ini mengakibatkan gugurnya 2 pilot AS, dan seorang serdadu telegrafis Permesta. Menyusul Pelabuhan Donggala, Balikpapan, Ambon, Ternate, dan tempat lainnya menjadi target gempuran. Kapal perang TNI AL RI Hang Tuah satu dari empat korvet yang dihibahkan Belanda yang sedang buang sauh di pelabuhan Balikpapan, dibom hingga kemudian tenggelam. Lalu pengeboman dilakukan di Balikpapan (4 x yaitu 16 April, 22 April, 28 April dan 19 Mei), Ambon dengan lapangan udara Pattimura (7 x, mulai 27 April, 28 April, 1 Mei, 8 Mei, 15 Mei, 18 Mei), Ternate (5 x), Morotai (3x), Bitung, pelabuhan Palu-Donggala-Balikpapan (16 dan 20 April), Gorontalo, dll.

Angkatan Udara Revolusioner (AUREV) PRRI dipimpinan oleh KSAU Comodore Muda (APREV) Petit Muharto Kartodirdjo, bekas Atase Militer AURI di Manila berpangkat Mayor AURI. Dan sebagai

Wakil KSAU adalah Kapten AURI (Purn.) Hadi Sapandi, bekas komandan Squadron III - Pemburu di Cililitan (sekarang LU Halim Perdanakusumah) - Jakarta. Sebelum bergabungnya kedua orang etnis Jawa itu dengan PRRI, AUREV dipimpin oleh Z. Rambing yang menguasai Lapangan Udara Tasuka. Markas AUREV terletak di sebuah rumah yang bernama "HUISE SABANG" di Jl. Sario Manado. AUREV diperkuat oleh pesawat pembom B-26, Mustang, B-26 B, B29, dan beberapa pesawat pengangkut tipe C,/P-51, Catalina, Lochkeed, yang didatangkan dari luar negeri. Lapangan Udara Mapanget diperkuat oleh "BAZOKA bolak-balik", Bar-bren, Panser-Wagen, Alertcraft, Dublelop (18 buah), 12.7, Watermantel dan senjata berdiameter 20mm. Pesawat pengangkut tipe C diserahkan kepada penerbang Taiwan yang berpangkalan di Lapangan Udara Tasuka (Kalawiran). 13 April 1958 Kepala Staf Angkatan Perang PRRI Alex Kawilarang (yang pada hari tiba di/dari Manila), Wakil Perdana Menteri PRRI Kolonel Joop Warouw bersama Menteri Perekonomian PRRI, tiba di Manado. Untuk menyambut kedatangan mereka diadakan pertemuan di gedung bioskop Tomohon dengan tokoh politik dan masyarakat, pimpinan pemerintahan sipil dan militer, polisi, gerakan pemuda dan mahasiswa serta para cendikiawan. Dalam pertemuan itu berturut berbicara: Panglima Ventje Sumual, Panglima Alex Kawilarang dan Waperdam Joop Warouw sebagai pembicara terakhir. Luapan pernyataan dukungan masyarakat terhadap ketiga tokoh itu luar biasa gemuruhnya. Ucapan selamat disertai pekik: "Hidup PRRI! Hidup Permesta!" bergema di sekitar gedung bioskop tersebut yang penuh sesak oleh masyarakat yang menonton. Koran Manado pada tanggal 14 April mencetak perintah harian yang dikeluarkan atas nama Alex Kawilarang sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang PRRI, yang minta dukungan dari para pegawai negeri dan rakyat untuk berjuang melawan "mis management dan penjalahgunaan kekuasaan" pusat Jakarta. Letkol dr. Oscar E. Engelen, Ketua IPRI-Indonesia Timur, dan Kapten Bing Latumahina, Sekretaris IPRI-InTim, yang adalah perwira militer pro-Permesta yang paling penting yang masih berada di Makassar, hari ini dipecat dari TNI dan ditahan rumah sejak kira tanggal 6 Mei. Letkol dr. Engelen dan Kapten Bing Latumahina dikatakan telah mengadakan campur tangan dalam urusan Sersan Mayor Pangkey, yang mendaulat komandan artileri kompinya yang anti-Permesta itu dan mengarahkan enam buah meriamnya ke arah kota Makassar; mereka meyakinkan Serma Pangkey, jika tembakan dilepaskan maka bencana akan terjadi. Serma Pangkey ditangkap pada waktu

15 April 1958

bersamaan dengan Letkol dr Engelen dan Kapten Bing Latumahina ditangkap.


Setelah ditahan, tahun 1961, dr O.E.Engelen menjadi dokter pada PN Nupiksa Yasa Jakarta, dan pada tahun 1972-1987 menjadi Rektor Universitas Kristen Djaya (UKRIDA). Pada tanggal 2 Maret 1995, ia mendapat rehabilitasi oleh Presiden RI Soeharto akibat keterlibatannya dalam Permesta dan mendapat hak pensiun sesuai dengan SK No.14/ABRI/1995.

16 April 1958

Kota Balikpapan mulai diserang pesawat AUREV Permesta, dimana terjadi pengeboman dan penembakan atas obyek di lapangan udara yang menyebabkan sebuah pesawat terbang milik BPM mengalami kerusakan dan beberapa bangunan mengalami rusak berat. Tanggal 22 April, Balikpapan juga diserang dua pesawat pemburu AUREV Permesta. Selanjutnya, Balikpapan juga diserang tanggal 28 April dan 19 Mei. Pagi itu, pukul 04.00, empat pembom B-25 berangkat dari Lanud Palembang menuju Lanud Pekanbaru. Hari itu juga terus dilakukan penerbangan formasi bersama pesawat P-51 yang disusun secara bergelombang dalam bentuk dua flights. Red Flight dan Blue Flight. Flight pertama bertugas melindungi pendaratan KKO di pantai Sumatera Barat dari kapal laut ALRI. Sementara Blue Flight melindungi penerjunan PGT dan RPKAD di Lanud Tabing. PGT dan RPKAD kemudian mulai diterjunkan dari beberapa pesawat Dakota. Sebagian pasukan PRRI yang melihat pasukan payung mulai berebutan turun, memilih lari masuk hutan. Dengan cepat landasan Tabing dibersihkan dari ranjau dan paku yang sengaja ditebarkan PRRI. Akhirnya perlawanan PRRI dapat dihentikan dan hari itu juga Padang dapat diduduki APRI, namun sebuah B-25 nomor M-464 yang diterbangkan Pedet Soedarman tertembus dihantam peluru musuh. Esoknya, sekitar pukul 11.30, pesawat B-25 yang diterbangkan Kapten Sri Muljono segera mendarat di Lanud Tabing dengan selamat. OPERASI "DJAKARTA I" dilancarkan Permesta (PRRI) terhadap kedudukan pasukan Tentara Pusat di Morotai. Operasi ini dikomandoi oleh Panglima KDP I/Maluku Utara yang baru (menggantikan Mayor Abdul Kadir) yaitu Mayor Nun Pantouw dan wakilnya Letnan Jonkhy Robert Kumontoy dengan bantuan air-cover dari AUREV. Morotai diserang oleh pesawat terbang Permesta sebanyak 3 kali (dan terakhir kalinya diserang tanggal 28/29 April), disusul pendaratan dengan kapal perang asing (2 buah) dan kapal pengangkut (2 buah) yang mengangkut satu batalyon Permesta dibawah pimpinan Mayor

17 April 1958

29 April 1958

Nun Pantouw. Dari pulau kecil ini Nun Pantouw menggeser pasukannya menyeberang ke Pulau Halmahera hingga menduduki Jailolo yang berada di bagian tengah Halmahera. Melihat perkembangan ini, Pangdam XV/Pattimura Kolonel Herman Piters segera mengadakan rapat khusus dengan seluruh staf inti Kodam. Dari Jakarta muncul permintaan laporan situasi terakhir dari KSAD Jenderal Mayor A.H. Nasution, KSAL Laksamana Subyakto dan KSAU Laksamana Suryadi Suryadarma. Laporan yang sama juga diberikan ke istana atas permintaan Bung Karno. Mei 1958 Dukungan Presiden Filipina Gracia dan Menteri Pertahanan Filipina Vargas untuk PRRI (dan Permesta). Hal ini dikecam keras oleh Duta Besar Filipina di Jakarta, Jose Fuentabella. Begitu juga surat kabar Filipina, menuduh Menteri Luar Negeri Serano sebagai alat Amerika Serikat. Dalam menghadapi masalah pergolakan di Indonesia, Filipina dianggap terlalu banyak dikendalikan kedutaan Amerika Serikat di Manila. Filipina juga telah mengirimkan bantuan berupa persenjataan dan 2 squadron pesawat tempur - yang dibeli Permesta (PRRI di Sulawesi Utara) dengan cara barter - ke Minahasa untuk Angkatan Udara Revolusioner PRRI (AUREV). Pada pertengahan bulan ini, pemerintah Amerika Serikat mengubah kebijakan politik terhadap Indonesia, namun pemerintah Filipina tidak diberitahu, sehingga Menteri Luar Negeri Serano menyesalkan sikap Amerika Serikat ini. Dalam upaya dukungan pemerintah Filipina tersebut, tercatat nama wartawan Ninoy Aquino, tokoh pers yang terkemuka, ikut dalam operasi tersebut sebagai reporter/wartawan. Dalam sebuah pengakuannya, Ninoy Aquino menyatakan sikap pemerintah Filipina dan juga Amerika Serikat yang menerlantarkan serta meninggalkannya dalam hutan di Minahasa setelah pemerintah AS menarik diri segala operasinya di Indonesia akibat jatuhnya pesawat yang dikendalikan pilot Allan Lawrence Pope, seorang anggota CIA, yang membongkar keterlibatan pemerintah AS dalam masalah dalam negeri Indonesia (kelak istrinya akan menggulingkan Presiden Ferdinand Marcos pada dekade tahun 80-an dan tampil sebagai Presiden negara itu.) 4 Mei 1958 5 Mei 1958 Bukittinggi sebagai ibukota PRRI diduduki oleh pasukan APRI. Pesawat tempur AURI membom posisi pasukan PRRI (Permesta) di pulau Jailolo.

6 Mei 1958

Kolonel J.F. Warouw (alias Joop Warouw) sebagai Atase Militer RI di Peking (Beijing) Cina, setelah diskors dari dinas TNI, hari ini secara resmi dipecat dari TNI. Kota Parigi berhasil dikuasai pasukan Overste D.J. Somba dan 1 batalyonnya, yang menggunakan 4 buah kapal pengangkut (dua diantaranya berbendera asing/Belanda) dilindungi oleh 2 pesawat Permesta (B-26 dan Mustang). Dalam waktu beberapa hari, Permesta juga berhasil menguasai Toboli dan Kebon Kopi. Ikut juga dalam operasi tersebut yaitu Mayor J.W. Gerungan (Dee Gerungan) dan Mayor Lukas Palar. Hari ini, di Teluk Ambon, Kapal "Sonny" dihujani bom dari pesawat Bomber B-26 AUREV namun tidak kena. Sejumlah pendukung Permesta di Makassar yang berani menyatakan pendapat ditangkap dan dipenjarakan hari ini. Empat buah Kapal Permesta yang digunakan untuk pendaratan di Parigi berhasil ditenggelamkan oleh pesawat AURI. (Komandan batalyon Mayor Lukas Palar bersama pasukan pengawalnya gugur di perairan Poso, ketika sedang menyeberangi teluk dengan motorboat, disergap dan ditenggelamkan pesawat tempur AURI) Setelah itu pasukan Palar terpencar; sebagian mengikuti Dee Gerungan masuk hutan Sulutteng, dan sebagian lagi menggabungkan diri dengan satuan Resimen Ular Hitam. Terjadi pengiriman senjata secara besaran ke Sulawesi Utara melalui laut - pada peti kayu dengan jelas terlihat tanda Angkatan Laut Amerika Serikat (US Naval). Kebanyakan muatan pertama kapal dikatakan terdiri dari senjata ringan dan hal ini menimbulkan beberapa persoalan karena para veteran KNIL yang bertanggung jawab melatih sukarelawan muda Permesta kebanyakan ahli di bidang artileri berat. Pengiriman senjata pertama itu diterima pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus (Isa Al-Masih) yang jatuh pada hari ini. (Menurut perhitungan Dr. Barbara Sillars Harvey, Ph.D., Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus ini jatuh pada tanggal 16 Mei) Kekhawatiran pasukan "tentara pusat" bahwa pesawat B-29 akan dikerahkan Permesta dan CIA, bahwa kemungkinan akan terjadi dog fight. Untuk itulah, sembilan pesawat tempur yang terdiri dari empat B-25 (strafer dan bomber) serta lima P-51 digerakkan ke Indonesia Timur untuk menggelar operasi merebut keunggulan di udara pada tanggal 14 Mei 1958. Target telah ditentukan: Pangkalan Udara Mapanget.

8 Mei 1958

9 Mei 1958

10 Mei 1958

10 (16) Mei 1958

14 Mei 1958

Secara keseluruhan, Mayor Udara Leo Wattimena ditunjuk sebagai flight leader dan Sri Muljono khusus leader pembom Letnan Udara I Pedet Soedarman, Kapten Udara Suwondo, dan Letnan Udara I Suwoto Sukendar. Seperti juga di Sumatera, demi keamanan keberangkatan dilakukan dari pangkalan yang berbeda. Dari Pangkalan Laha sebuah B-25 (Suwoto Sukendar) diberangkatkan dengan kawalan dua P-51. Lalu dari Liang dua B-25 (Sri Muljono dan Pedet Soedarman), dikawal sebuah P-51. Dan terakhir dari Amahai sebuah B-25 (Suwondo) disertai dua P-51. Tepat pukul 04.00 subuh, mereka rendezvous di atas Pulau Manggole. Dari titik pertemuan, secara formasi mereka akan menuju pantai timur Manado. Rencana operasinya: Sortie pertama, semua pesawat secara bersamaan akan menggempur dua target, Mapanget dan Tasuka. Teknisnya, setelah semua pesawat mendekati pantai Manado, kedua flight akan memecah menuju target masing. Jika gelombang pertama sukses, semua pesawat harus segera kembali ke pangkalan semula untuk reloading. Selanjutnya bergegas menuju Morotai dan Jailolo dengan tugas serupa. Sebaliknya jika serangan pertama gagal, dalam arti tidak berhasil menghancurkan setidaknya setengah dari jumlah pesawat AUREV, diperintahkan untuk menjauhi Morotai dan Jailolo dan menghindari kejaran pesawat AUREV. Dalam situasi seperti itu, penerbang harus terbang menjauh dan terbang menuju pangkalan lain untuk menyiapkan diri dan kembali berkumpul di tempat semula malam harinya. Barulah besoknya mereka akan kembali terbang menyerang Morotai. Dalam briefing juga disepakati "Plan B". "Kalau tertembak, usahakan loncat di laut yang persis di depan Kota Manado, karena di situ sudah stand by pasukan intel yang siap sewaktu untuk menolong. Setiap pembom diawaki oleh lima crew (pilot, co-pilot, bombardier, montir, dan radio telegrafis/gunner). 15 Mei 1958 Upaya Kedutaan Besar Amerika Serikat pada hari ini agar diadakan gencatan senjata antara pemberontak dengan pemerintah ditolak oleh PM Ir. Djuanda dan Presiden Ir. Soekarno dengan mengeluarkan pengumuman resmi, perundingan hanya akan dipertimbangkan setelah kaum pemberontak menyerah dengan tidak bersyarat dan Kementrian Penerangan menyatakan politik pemerintah adalah menumpas kaum pemberontak, tidak berunding dengan mereka. Pesawat AUREV/Permesta yang terakhir berupa B-26, P-51, Catalina, Lochkeed dihancurkan AURI di Lapangan Udara Mapanget di Manado.

15 Mei 1958

Dalam operasi itu, tiga pesawat B-25 plus tiga P-51 milik AURI menuju ke arah Mapanget, dan sebuah pesawat B-25 (Suwondo) dikawal dua pesawat P-51 membom pangkalan udara Tasuka. Serangan B-25 dan P-51 secara bergantian telah melumpuhkan setengah dari kekuatan AUREV yang diperkirakan diperkuat delapan pesawat P-51, B-26, Catalina, dan DC-3. Begitu juga di Tasuka, Suwondo menghancurkan landasan dengan baik. Serangan mendadak itu tidak hanya menghancurkan pesawat diparkir di apron tapi juga tanki bahan bakar AUREV. Akibatnya dalam beberapa jam setelah serangan itu asap hitam membumbung ke angkasa pertanda terjadi kebakaran hebat, dan tidak ada lagi pesawat AUREV yang selamat serta landasan Mapanget dipenuhi lubang.

Pada Hari Doa Sedunia (hari ini?), 2 pesawat pembom AURI menghancurkan 4 buah pesawat pembom B-26 yang diawaki orang Taiwan (?) yang belum sempat tinggal landas di Lapangan Kalawiran - Kakas pada sore hari, sementara itu 4 pesawat Mustang AURI lainnya melancarkan tembakan mitraliurnya di tempat yang dicurigai menjadi sarana vital Permesta. Peristiwa ini membuat umat Kristen Oikoumene yang sedang mengadakan Ibadah Hari Doa Sedunia di Lapangan GMIM Pinaesaan Langowan dalam posisi tiarap.

Pesawat Permesta yang hancur dibom

Saat itu, J.Harry Rantung (kopral AURI di pangkalan Morotai yang kemudian bergabung dengan Permesta) dan Allan Laurence Pope (pilot berkebangsaan Amerika Serikat) dengan pesawat Pembom B-26 Invander lepas landas dari lapangan udara Mapanget dengan pesawat P-51 Mustang yang diterbangkan oleh seorang pilot berkebangsaan AS yang bernama Connie Seigrist. Sasaran utamanya adalah Ambon.
Pesawat B-26 Invander yang diawaki Allan L. Pope ini menghancurkan PBY Catalina, yang berlokasi di Liang. Dalam peristiwa itu hampir menewaskan Kolonel AURI Sunardi dan Marsekal AURI Alamsyah (Deputi KSAU-AURI Ashadi

Saat itu pesawat P-51 Mustang yang diterbangkan Letnan Udara I Nayarana Soesilo ditembak jatuh oleh senjata Penangkis Serangan Udara Permesta yang masih tersisa di sekitar landasan udara Morotai dalam operasi udara yang dipimpin Mayor Leo Wattimena. Penerbang lainnya yang pesawatnya kena tembak adalah Letnan Udara I Loely Wardiman. Tidak seperti Nayarana, Loely masih sempat melompat sebelum pesawatnya jatuh ke laut. Loely diselamatkan oleh pasukan Magenda yang sudah menguasai pulau di depan Kota Manado. Pesawat Pedet juga tertembak dalam second running dan bolong di beberapa tempat. Dalam waktu 12 jam saja, Lapangan Udara Mapanget dan Kalawiran sudah memperoleh pesawat pengganti, malah memperoleh tambahan beberapa buah lagi (menurut buku Dolf Runturambi).
Tjahyadi).

16 Mei 1958

Pendaratan rahasia oleh pasukan APRI di pantai Wori dekat Manado, oleh satu peleton RPKAD pimpinan Letnan I Leonardus Benyamin (Benny) MOERDANI (yang kelak menjadi Panglima ABRI), dan satu peleton RPKAD pimpinan Letnan Soewono. Tujuan dari pendaratan dan penyerbuan saat itu adalah lapangan udara Mapanget. Pertempuran di lapangan Mapanget menewaskan dua orang RPKAD yaitu Miskan, prajurit asal Madiun dan Sersan Mayor Tugiman, mantan anggota KNIL. Tugiman konon salah menduga bunyi tembakan Bar Bren Pasukan Permesta sebagai bunyi tembakan senjata jenis Bren biasa. Setelah menghitung jumlah tembakan otomatis senjata itu sesuai kapasitas peluru dalam magazin, ia mengira tembakan akan berhenti. Ia lalu melakukan gerakan maju sambil koprol. Padahal senjata yang digunakan Permesta adalah jenis Bar Bren yang pelurunya bersistem rantai. Ia gugur karena salah perhitungan. Jenasah anggota pasukan RPKAD tersebut dimakamkan oleh Permesta secara militer. Sepuluh hari lamanya gerak pasukan pusat tersebut yang kemudian tertahan di sekitar Gunung Potong. Saat pasukan pusat menduduki lapangan Mapanget itu kelak, diberi nama Lapangan Tugiman sementara waktu, untuk mengenang prajurit yang gugur tersebut. Allan Lawrence POPE, pilot sewaan/serdadu bayaran (soldier of fortune) Permesta (digaji sebesar USS 10.000,-) berkewarganegaraan AS dan merupakan anggota CIA, dengan disertai copilotnya, J.Harry Rantung yang berada di pesawat Pembom B-26, jatuh di Pulau Tiga Teluk Ambon oleh AURI dan ALRI. Saat itu mereka serta sebuah P-51 Mustang yang dibawa oleh Connie Seigrist (seorang pilot Amerika

18 Mei 1958

juga), sedang menjalankan aksi membom kota Ambon yang menewaskan 6 warga sipil dan 17 tentara tewas. Saat itu satu armada yang didukung oleh beberapa kapal perang, kapal pengangkut, dan penyapu ranjau, yang dipimpin oleh Letkol Herman Piters, komandan "Operasi Mena I", bergerak dari Pelabuhan Halong, Ambon, menuju Morotai untuk mendudukinya kembali dari pasukan pimpinan Mayor Permesta Nun Pantouw. Pengakuan Harry Rantung mengenai peristiwa itu adalah sbb:
Pagi hari itu sekitar pukul 06.00-07.00 di pelabuhan Ambon, penangkis udara menyambut kedatangan B-26 tersebut. Allan Pope yang punya pengalaman tempur sejak dari Perang Korea, santai saja menuju sasaran. Sebuah bom dijatuhkan di lapangan terbang. Tembakan senapan mesin diarahkan ke kubu pertahanan yang tersebar di sekitar lapangan terbang dan pinggiran Kota Ambon. Pertempuran jadi ramai. Pope tanpa ampun menghantam obyek militer. Harry Rantung, sebagai operator radio melapor ke Manado tentang operasi yang sedang berlangsung di Ambon. B-26 yang digunakan AS pada PD II itu masih lincah. Ketika pesawat berada pada ketinggian sekitar 10.000 kaki, Pope berkata bahwa di bawahnya ada satu konvoi kapal dan langsung dilaporkan ke Manado. Dari Manado kemudian menginstruksikan untuk diteliti. Atas instruksi Manado itu, Pope turun sampai pada ketinggian sekitar 4.000 kaki, dan terlihat bahwa titik itu adalah konvoi armada yang sedang melaju dalam kecepatan tinggi menuju utara. Pope melaporkan lagi ke Manado bahwa yang mereka lihat adalah satu konvoi armada kapal perang dan pengangkut RI. Untuk itu dia minta instruksi Manado. Hanya dalam waktu tidak cukup satu menit, datang instruksi dari Manado yang meminta agar armada yang sedang bergerak ke arah utara itu diserang. Tanpa banyak komentar, Pope turun pada ketinggian hanya beberapa meter di atas permukaan laut. Allan Pope dengan pengalaman tempur yang cukup, langsung menukik dan menjatuhkan bom. Sasarannya Sawega. Namun meleset hanya beberapa meter dari buritan kapal. Berbarengan dengan jatuhnya bom, datang rentetan tembakan pengangkis udara dari kapal perang yang mengawal Sawega. Saat itu saya melapor ke Manado bahwa pertempuran sudah berkobar. "Kami sudah menyerang dengan bom, tetapi sayang meleset," lapor Harry ke Manado. Sesudah menghamburkan peluru maut dari mulut pesawat ke atas geladak kapal, Pope berputar naik keatas. Saat itu mereka merasa ada goncangan keras. "Kita kena tembak, pesawat terbakar, segera lapor Manado," kata Allan Pope. Api berkobar di bagian ekor pesawat. Manado sudah menerima laporan tentang tertembaknya B-26 itu dan menginstruksikan agar mereka berusaha untuk terbang ke arah Irian Barat. Dengan segala keahliannya, Pope berusaha mengendalikan B-26. Pope berusaha untuk berputar dan naik. Tetapi tidak bisa. Kobaran api semakin menjadi. Menghadapi situasi yang sangat gawat, Pope memerintahkan saya untuk terjun. Mereka jatuh di sebuah pulau kecil. Paha Pope robek. Dari pinggangnya Pope mencabut pistol dan menyerahkan kepada saya. Kemudian dia membuka mulut, maksudnya agar Harry tembak. "No no", tolak Harry. Beberapa saat kemudian dua buah perahu karet merapat. Satu regu Marinir langsung mengepung. Pope dan Harry dibawa ke atas perahu karet. Dalam pemeriksaan awal, saya mengaku bernama Pedro, berkewarganegaraan Filipina. Akan tetapi saya tidak bisa menyembunyikan samaran. Soalnya di atas Sawega kebetulan ada seorang sersan AURI satu angkatan dengan saya di Morotai." Dokumen di tangan Pope disita. Namun sebuah dompet yang berisi uang dan selembar foto istrinya dikembalikan. Dokumen itu berisi informasi yang

fatal bagi perkembangan PRRI dan Permesta selanjutnya, karena Allan Pope sengaja membawa dokumen rahasia CIA. Dari dokumen yang ada diketahui bahwa Pope adalah seorang penerbang CAT (Civil Air Transport) dari Taiwan, dan punya kode 11 (sebelas) sebagai tentara sewaan yang digerakan CIA (Central Intelligence Agency) untuk mengacau Pasifik. Kejadian ini membuat heboh dunia dan hal ini antara lain yang menyebabkan pihak AS/CIA menarik diri dari operasi ini karena desakan agar tidak mencampuri urusan dalam negeri suatu negara.

Perubahan kebijakan Amerika Serikat tidak terlepas dari upaya keras dan pendekatan yang dilakukan Duta Besar Amerika Serikat Howard Jones dan Atase Militer Kolonel George Benson di Jakarta, meyakinkan State Allan L. Pope yang dirawat di atas KRI Sewaga Departement AS dan Pentagon. Mereka berhasil meyakinkan Washington bahwa satunya kekuatan masa depan yang bisa diandalkan melawan komunis di Indonesia justru berada ditangan para perwira di pemerintah Pusat. Hal ini membuat para pemimpin Permesta marah terhadap AS karena, pihak AS hanya mengutamakan kepentingannya sendiri dibandingkan dengan kemitraannya terhadap gerakan Permesta yang se-'ideologi' (anti-komunis) dengannya. 18 Mei 1958 Letkol Andi M. Jusuf kembali ke Makassar setelah bertemu dengan Letjen A.H. Nasution dan juga dengan Presiden Soekarno, diberi wewenang untuk memangku komando KDM-SST dan diperintahkan untuk menangkap Letkol M. Saleh Lahede yang sebelumnya ditolak oleh Letkol Andi Mattalatta selaku Panglima KDM-SST. Gubernur Sulawesi Andi Pangerang sebagai ketua penguasa Perang Daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara mengumumkan pelarangan apa yang dinamakan "Pemerintah Revolusioner" Republik Indonesia (PRRI) dan "pembekuan" organisasi Permesta, termasuk semua cabang dan rantingnya. Morotai jatuh kembali ke tangan APRI (sekarang TNI) dalam operasi khusus AURI "Nunusaku" dibawah pimpinan Letkol Huhnholz dari Angkatan Laut. Di Pulau Halmahera, Operasi Mena I (Mena berarti menang) di bawah pimpinan Kapten Suptandar berhasil merebut kembali Jailolo dari

19 Mei 1958

20 Mei 1958

tangan Permesta (PRRI di Indonesia Timur). Jailolo merupakan kota cukup strategis di Halmahera dengan lapangan terbangnya yang pernah digunakan oleh Jepang pada PD II. Operasi tidak berjalan mulus. Medan terlalu berat hingga hampir tidak ada samasekali hubungan darat. Letnan Thom Nusi, mantan Komandan Baret Merat RMS (Republik Maluku Selatan) yang memimpin satu kompi Pattimura Muda terlibat dalam pertempuran sengit dengan pasukan Permesta yang bertahan di atas bukit kecil di pinggiran timur laut Jailolo. Walau pasukan Permesta dapat dipukul mundur hingga lari ke pedalaman Halmahera, beberapa orang anggota Nusi terluka. Karena medan sangat berat Kapten Suptandar, Komandan Operasi Mena I akhirnya naik kapal Bekaka ukuran 100 ton untuk bertolak menuju Desa Ibu yang terletak di pesisir barat Halmahera Tengah. Maksud Suptandar akan mengadakan gempuran dengan memotong dari pantai Desa Ibu. Perhitungannya dari Ibu untuk menjangkau pedalaman Halmahera lebih mudah. Akan tetapi pasukan bergerak ke arah pedalaman, hingga pasukan Suptandar mendapat perlawanan keras. Dua orang komandan peleton melapor bahwa medan sangat berat. Menghadapi medan yang sangat berat itu, Kapten Suptandar beserta beberapa orang staf dengan kapal Bekaka menuju Morotai yang telah diduduki. Tiba di Morotai, mereka langsung menuju markas AURI. Di lapangan berjejer beberapa buah pesawat tempur P-51 Mustang (cocor merah) dan pembom PBY-5A Catalina. Beberapa hari kemudian, Radio Australia yang cukup populer di Maluku menyiarkan berita tentang munculnya Mayor Nun Pantouw dan pasukannya di Irian Barat yang waktu itu masih dijajah Belanda. Penduduk Desa Kao (Teluk Kao) dan Desa Maba di pesisir timur Pulau Halmahera sebagai saksi mata mengatakan, pasukan Permesta turun dari hutan Halmahera tengah menuju Teluk Kao. Dengan perahu kecil mereka menyeberangi Teluk Kao, untuk selanjutnya memotong gunung tiba di Desa Maba. Dari Maba dengan menggunakan perahu menyeberang ke Irian Barat. Menteri Luar Negeri AS, John Foster Dulles hari ini mengadakan konferensi pers mengenai masalah Indonesia. Sejumlah tokoh Permesta di Sulawesi Selatan hari ini ditangkap oleh Pemerintah Pusat. Mereka diantaranya Letkol M. Saleh Lahede (Kastaf TTVII/Wirabuana), Mochtar Lintang, Anwar Bey, Naziruddin Rachmat, Kapten W.G.J. Kaligis, Letkol dr.Oscar E. Engelen (Ketua Ikatan

Perwira RI - Indonesia Timur), Kapten Bing Latumahina. Setelah melewati proses pemeriksaan, mereka dipenjarakan di Madiun dan Jakarta. Sejumlah perwira lainnya juga dikeluarkan dari dinas militer. 22 Mei 1958 Hari ini, kota Gorontalo dilepaskan pasukan Permesta dari pasukan Bn. S dibawah komando Mayor Wim Sigar ke tangan tentara TNI. Saat itu, Pasukan Rimba dari Nani Wartabone dengan bantuan aircover dari AURI, berhasil menghalau pasukan PRRI (Permesta) yang harus mundur dan mengadakan pertahanan di luar kota Gorontalo. Pemerintah AS terpaksa menyetujui bantuan senjata dan ekonomi kepada Indonesia setelah bantuan operasi kepada Permesta (PRRI di Sulawesi) ditarik akibat peristiwa jatuhnya pesawat yang dikemudikan Allan L.Pope. Salah satu alasannya adalah, bahwa di tubuh TNI di pusat, masih banyak perwiranya yang anti-komunis yang dapat diajak kerja sama. 23 Mei 1958 Daerah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sangir dan Morotai secara praktis sudah tidak dapat diharapkan lagi untuk dikuasai oleh Pasukan Permesta - serta jatuh ke tangan Pemerintah Pusat di Jakarta. Kota Parigi, Toboli dan Kebon Kopi dikuasai kembali oleh pasukan gabungan APRI dari Divisi Brawijaya, Kapten Frans Karangan (ia dan batalyon kecilnya membelot di Poso), kesatuan Polisi dibawah pimpinan Inspektur Polisi Suaeb, dengan bantuan pesawat terbang AURI. Operasi ini menewaskan 30 orang pasukan Permesta, dan 14 orang pasukan Permesta berhasil ditawan. Tanggal 23 dan 27 Mei di daerah Situjuh dan Suliki terjadi teror terhadap kedua daerah tersebut, dimana terjadinya pembunuhan (pembantaian) massal oleh anggota pasukan ADREV PRRI (Permesta). Karena pasukan ADREV PRRI (Permesta) sudah tidak lagi mendapatkan bantuan air-cover dari AUREV, maka operasi/ekspedisi untuk menguasai Sulawesi Tengah, Balikpapan, kemudian menyeberang ke pulau Jawa, terpaksa dibatalkan, dan dinyatakan gagal oleh Letkol D.J. Somba. Ia dan pasukannya kemudian mengadakan perjalanan long march kembali ke Minahasa selama dua bulan, dengan membagi dua pasukan yaitu satu menggunakan perahu (di Buol) dan lainnya berjalan kaki. Tiba di pelabuhan kecil Kwandang (sebelah utara Kabupaten Gorontalo), sebagian pasukannya naik perahu menuju Minahasa, serta sebagian lagi tetap

23-27 Mei 1958

melanjutkan perjalanan darat melewati Atinggola-Boroko di Bolmong. Setelah mereka berada di daerah Sumalata-Bolmong, mereka dijemput dengan truk oleh pasukan Resimen (RTP) Ular Hitam pimpinan Mayor Dolf Runturambi (pada bulan Juli 1958), dan baru tiba bulan Juli saat Minahasa Utara telah dikuasai Tentara Pusat. 27 Mei 1958 Peristiwa tertembaknya pesawat yang dikemudikan Allan Lawrence Pope hari ini diumumkan Pemerintah Pusat kepada pihak publik. Alasan diumumkan kepada publik baru pada haru ini yaitu dengan maksud untuk tetap menjaga kerahasiaan operasi di Morotai yang masih dalam tahap penuntasan. Bersama dengan Letkol Saleh Lahede, juga yang ditangkap hari ini adalah Mochtar Lintang, dan 3 orang sekutunya yang turut dalam perundingan dengan Kahar Muzakkhar yaitu Kapten W.G.J. Kaligis yang bekerja di Sekretariat Team bantuan Pemerintah Militer dan erat hubungannya dengan Letkol Ventje Sumual; Kapten Anwar Bey, anggota Korps kerohanian KADIT, dan Naziruddin Rachmat dari Inspektorat Pendidikan Agama (yang dipimpin Mochtar Lintang). Saleh Lahede dan Mochtar Lintang (keduanya termasuk dalam kabinet menteri PRRI) ditahan di Makassar hingga November 1958, lalu mereka mula dikirim ke Denpasar dan kemudian ke Madiun tempat mereka ditahan hingga 1962. Ketiga orang yang ditangkap bersama dengan mereka itu (Kaligis, Anwar Bey, Naziruddin Rachmat), dr. Engelen, Bing Latumahina dan Sersan Mayor Pangkey pada tanggal 29 Mei dikirim ke Jakarta dan ditahan di sana dan di Madiun hingga tahun 1962. Jadi dalam sepekan, 15-23 Mei 1958, Permesta sudah tidak punya harapan lagi mendapat dukungan dari Sulawesi Selatan. Juni 1958 Menjelang bulan Juni 1958, kekuatan bersenjata Permesta seluruhnya ditaksir lebih dari 15.000 orang. Kota Manado mulai ditembaki oleh ALRI; dan AURI ikut serta menyerang Pelabuhan Udara Mapanget di Manado, Tondano, dan Tomohon pada tanggal 11 dan 13 Juni. Pasukan pemerintah, yang dirintis oleh RPKAD dan KKO, hari ini mulai mendarat di sebelah utara kota Manado.

8 Juni 1958

13 Juni 1958

16 Juni 1958

Pendaratan pertama kali pasukan APRI secara besaran di pantai Kema Minahasa dalam Komando Operasi Merdeka dibawah pimpinan Letkol Inf. Roekmito Hendraningrat dengan sekitar 4.000 orang prajuritnya. Pertempuran membendung Tentara Pusat ini dipimpin langsung oleh Kolonel Permesta Ventje Sumual selaku Komandan Angkatan Darat Revolusioner (ADREV) PRRI, setelah ia kembali dari operasi pembebasan pangkalan udara Morotai di Halmahera. Overste D.J. Somba waktu itu masih dalam perjalanan long march dari Sulawesi Tengah bersama pasukannya, setelah menarik diri dari kawasan itu. Kapten Bert Supit diangkat pemerintah pusat sebagai bupati/Kepala Daerah Minahasa (KDM) (menggantikan Laurens F. Saerang yang bergabung dengan Permesta) sampai tanggal

23 September 1958 karena menyatakan digantikan E. Alfianus (Nus) Kandou. 21 Juni 1958

berhenti

dan

Tanggal 21 dan 24 Juni dilakukan pendaratan pasukan APRI dari pantai Wori di Teluk Manado (sebelah utara Manado) dengan kapal perang jenis korvet, dibawah tembakan KRI "Rajawali" dibawah pimpinan Mayor (Overste?) John LIE dan beberapa peleton RPKAD dibawah pimpinan Letnan I Leonardus Benyamin (Benny) MOERDANI serta Komandan B.T.P. KKO Mayor Tukiran. Waperdam PRRI Joop Warouw kemudian memerintahkan agar orang mengungsi keluar dari kota Manado. Kota Airmadidi hari ini jatuh ke tangan Tentara Pusat. Gerakan pasukan APRI ini dihadang Mayor John Ottay selaku Komandan Komando Militer Daerah Kota Besar (KMKB) Manado didampingi Mayor Willy (Wim) Joseph. Pukul 14.45 pasukan KKO masuk di kota Manado dari jurusan Kairagi/Airmadidi. Menjelang malam, pusat kota di Jl. Samrat berhasil diduduki pasukan gabungan APRI. Pasukan Gabungan APRI tersebut sebelumnya ditahan 4 hari 4 malam di Jembatan Megawati, pintu gerbang masuk ke kota Manado, yang direbut silih berganti oleh pasukan Permesta dan APRI. Mayor John Ottay kemudian dikabarkan sedang dirawat di sebuah rumah sakit di Tomohon karena mengalami cedera pada bagian kaki, terkena tembakan dalam pertempuran tersebut. Kemudian di tempat seperti daerah operasi TNI di Kalasey, Togas, Koha, Tateli, Buloh, Mokupa, Tanahwangko dan Lemoh, TNI maju dengan cepat dengan tembakan mortir atau kanon artileri sebagai pembuka. Serangan Tentara Pusat ini merupakan gabungan dari Bn. 517/Brawijaya pasukan "M" dibawah pimpinan komandannya Mayor Suwarno dibantu oleh satuan Artileri dibawah pimpinan Letnan Tulus. Arus pengungsi dari kota Manado terlihat makin panik hari ini. Iringan rombongan manusia berjalan kaki sambil membawa barang apa adanya, tampak mengalir ke arah Selatan. Setelah kota Manado jatuh, markas Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf ADREV PRRI dipindahkan dari Sario ke Pineleng, kemudian dipindahkan lagi ke desa Sarongsong - Tomohon saat Pineleng jatuh ke tangan APRI.

24 Juni 1958 26 Juni 1958

Juli 1958

Pertahanan pasukan Permesta di garis Manado-Tomohon diperkuat

kubu yang berlapis mulai dari Warembungan sampai Tinoor. Situasi medan (topografi) sepanjang jalan raya yang menanjak ke kota Tomohon sangat mendukung suatu kekuatan defensif
(Pengalaman pada waktu Perang Dunia II telah membuktikan hal ini. Gelombang serangan serdadu Jepang, dari arah Manado menuju Tomohon, sangat kewalahan menembus kubu pertahanan tentara KNIL waktu itu pimpinan Letnan Andries S.Purukan yang disapu oleh tembakan dari sarang mitraliur tersebut).

Bunker beton (pill box) sisa Perang Dunia II itu masih tetap utuh dan dimanfaatkan pasukan Permesta untuk membendung serangan TNI, dengan antara lain menggunakan senjata berat jenis recoilless-gun (STB). Sudah berkali tentara Pusat mencoba untuk menembus garis pertahanan pasukan Permesta ini. Tapi baru di Warembungan, gerak maju tentara pusat sudah terhambat perlawanan Permesta. Pesawat Mustang AURI maupun Bomber AURI hampir setiap hari terbang meraung di angkasa lalu memuntahkan tembakan senapan mesin dan menjatuhkan bom roketnya di tempat yang dianggap vital bagi pertahanan pasukan Permesta. Sesekali pesawat tersebut menjatuhkan selebaran pamflet (di lokasi pasukan Permesta dan lokasi pengungsian penduduk) yang menyerukan agar Pasukan Permesta menyerah, serta membujuk rakyat agar tetap tenang dan berjanji tak lama lagi akan dibebaskan oleh pasukan APRI. Untuk menyalurkan logistik Pasukan Permesta di garis depan, di Talete didirikan dapur umum Permesta, dan melakukan droping makanan di garis depan melalui sebuah mobil truk pengangkut makanan. Serangan ke kota Tomohon akhirnya dialihkan ke arah Tondano lewat garis Airmadidi-Tanggari. Setelah selama seminggu diserang, barulah Tondano jatuh ke tangan APRI pada akhir bulan Juli. Wilayah Tondano pante ini dikuasai oleh Batalyon T pimpinan Mayor Togas.

Akhir bulan Juli, pengiriman persenjataan Permesta (PRRI) lanjutan, mulai berdatangan (membanjiri) dan melengkapi senjata pasukan Permesta yang lebih modern, yang didrop lewat darat maupun udara, yang mana belum pernah dimiliki APRI. Dengan beralihnya strategi dan taktik perang Permesta (PRRI di Sulawesi) dari sistem frontal atau perang terbuka ke sistem perang gerilya, slagorde atau struktur organisasi militer Permesta juga mengalami perubahan. Struktur lama yaitu KDM-SUT yang berawal sejak medio 1957 ketika Territorium VII/Wirabuana dilikuidasi, telah dipecah menjadi empat KDP (Komando Daerah Pertempuran). Wilayah Operasi Daerah Minahasa, menjadi KDP II atau lebih populer dengan sebutan KDPM. Bekas Panglima KDM-SUT Letkol D.J. Somba, menjadi Panglima KDPM. Wilayah KDPM dibagi dalam empat Wilayah

Militer yang dalam bahasa Jerman dinamakan Wherkreisse/WK. WK I menguasai wilayah Tonsea, dengan Letkol Fred Bolang selaku Komandan WK bermarkas di sekitar Desa Pinilih (Komandan WK I kemudian hari diganti oleh Letkol Agus Tuwaidan). WK II dipimpin Letkol John Ottay yang bermarkas di sekitar Desa Sawangan menguasai wilayah Tondano dan sekitarnya, termasuk Pegunungan Lembean. Letkol Wim Tenges menjadi Komandan WK III yang wilayahnya meliputi Tomohon, Remboken, Langowan, Kawangkoan dan Tumpaan, bermarkas di Desa Suluun - Rumoong Atas. WK IV meliputi wilayah Tombatu, Ratahan, Motoling dan Tompaso Baru, dengan komandan Letkol Joost A. Wuisan, bermarkas di sekitar Desa Keroit - Motoling. Tiap WK dipecah lagi menjadi beberapa Sub WK. Di wilayah KDPM seluruhnya terdapat 17 SWK yang masing menggunakan nama gunung setempat, merupakan basis gerilya pasukan Permesta. Karenanya terdapat basis daerah gerilya seperti SWK Lokon, SWK Lengkoan, SWK Soputan, SWK Klabat, dan sebagainya. Menurut perhitungan strategi perang gerilya Permesta, keampuhan pembentukan SWK sebagai basis daerah kantong gerilya, ialah menjadikan daya tempur pasukan lebih efektif. Menurut estimasi, satu SWK setiap hari minimal dapat menewaskan satu personil pasukan musuh. Ini berarti di wilayah KDPM setiap harinya dapat ditewaskan 17 orang musuh, atau dalam sebulan 510 kepala. 1 Juli 1958 Pemerintah sipil sementara dibentuk untuk Manado dan Minahasa dibawah pimpinan Kapten Bert Supit; dan pada 19 Juli E. Alfianus (Nus) Kandou, pimpinan PNI di Minahasa, diangkat menjadi sekretaris pemerintahan militer itu. Pada tanggal 23 September Nus Kandou diangkat menjadi penjabat Kepala Daerah Minahasa dan Jan Piet Mongula (dari PKI) diangkat menjadi penjabat Walikota Manado. Seruan Badan Pekerja Sinode GMIM disiarkan via Radio Permesta supaya perang saudara dengan pembunuhan dan penumpahan darah di tanah Minahasa yang tanah Kristen, yang telah berlangsung dalam waktu 14 hari terakhir, agar segera berakhir. Juga diserukan agar diusahakan jalan pertemuan dan perundingan untuk penyelesaian persoalan-persengketaan Pusat dan Daerah Minahasa. Seruan ini ditandatangani oleh Ketua BPS GMIM Ds. A.Z.R. Wenas dan Panitera (Sekum) P.W. Sambow. Beliau kelak berjasa dalam penghubung dalam rangka Perdamaian antara Permesta dan Tentara Pusat. Hari ini terjadi letusan dari kawah Gunung Mahawu yang beristirahat

2 Juli 1958

12 Juli 1958 (?)

sejak tahun 1904. (Laporan Letusan G.Api Mahawu tanggal 12 Djuli 1958, djam 22.44, oleh M. Pantouw, Direktorat Geologi RI - 1959). 21 Juli 1958 Kota Tondano hari ini jatuh ke tangan TNI, 26 hari setelah kota Manado jatuh. Arah gerak maju pasukan Tentara Pusat sudah dialihkan dari Manado menuju Tomohon, ke jalur Airmadidi, Tanggari, Tondano dan kemudian Tomohon.
sebuah kompi yg menyerah di Tondano

23 Juli 1958

Dalam sebuah artikel harian Republik terbitan hari ini, menulis: Alex Kawilarang ketika menyaksikan daya tempur Permesta di dalam mempertahankan kota Manado, ia merasa tertipu. Dengan nada kesal dan tersenyum sinis, Kawilarang berkata: "Saja merasa tertipu, kamu orang semua sudah kaja, ja..." Letkol D.J. Somba hari ini tiba di Minahasa, setelah mengadakan perjalanan jauh long march dari Sulawesi Tengah, dan menggunakan beberapa truk dari Bolmong. Perdana Menteri RI Ir Djuanda dalam Sidang Pleno DPR DPR tanggal 28 Juli dan 16 Agustus, mengatakan bahwa Pemerintah Pusat telah mengambil tindakan dan melakukan usaha untuk menumpas PRRI dan Permesta. 1958 Rapat Staf Komando Permesta yang masih berada di Tomohon diadakan malam hari ini di markas komando KDP II di desa Sarongsong, dibawah pimpinan Overste D.J. Somba yang saat itu baru tiba dari Sulawesi Tengah. D.J. Somba dalam slagorde baru pasukan Permesta telah menjadi Panglima KDP II Minahasa. Anehnya Mayor F.H.L.W. (Eddy) Mongdong selaku Komandan Sektor III yang punya peran dan tanggung jawab besar untuk mempertahankan kota Tomohon, malam itu tidak tampak dalam rapat. Kota Tomohon sendiri berstatus KDG (Komando Daerah Garnisun) dengan Komandannya Kapten Lantang yang bermarkas di dekat Kateluan Park - Tomohon.

25 Juli 1958

28 Juli 1958

29 Juli (ralat tgl)

Gunung Mahawu dilihat dari udara/Selatan

Hari ini terjadi letusan dari kawah Gunung Mahawu yang beristirahat sejak tahun 1904. Letusan ini terjadi pada pukul 22.44 waktu setempat selama 40 menit dengan nyala api yang sangat besar sehingga cahaya terangnya sampai ke desa Kakaskasen bahkan ke kota Tomohon. Sebelumnya tampak angin kencang dengan kilat listrik/petir serta suara gemuruh. Gejala pendahuluan tidak diketahui secara pasti karena pada saat tersebut, Gunung Lokon juga sedang giat mengalami letusan yang telah dimulai sejak awal pergolakan tahun ini. Letusan berlangsung singkat, terekam oleh seismograf mekanik yang mencatat getaran letusan selama 76 menit. Titik letusan ada di dasar kawah puncak sebelah utara. Bahan letusannya disemburkan agak miring ke selatan. Akibat letusan, hutan di sekitar puncaknya hancur terlanda jatuhan lumpur belerang dan bongkahan lava (bongkahan lava lama), yang meluas ke arah selatan berjarak sekitar 700 m (hutan yang dirusak oleh letusan ini 10 km). Semua lumpur dilontarkan hingga sejauh 3 km dari kawahnya. Lahar lumpur belerang panas dari kawah Gunung Mahawu melewati desa Kakaskasen, memotong jalan antara Tomohon-Manado dan mencapai Kali (Sosoan) Ranowangko serta melanda tempat pengungsian penduduk di lereng gunung tersebut. Korban saat itu adalah sepuluh orang luka dan seorang ibu meninggal akibat lumpur panas tersebut. Konon, letusan tersebut dipercaya orang akibat amarah dewa Minahasa (opo) akibat pengkhianatan Mayor F.H.L.W. (Eddy) Mongdong (selaku Komandan Sektor III wilayah sekitar Tomohon) terhadap Permesta.
(Sumber lain mengatakan bahwa letusan Mahawu dan Rapat Staf Komando

KDP II di Sarongsong terjadi sehari sebelum Tomohon jatuh ke tangan Tentara Pusat (TNI) atas penyerahan diri Mayor Eddy Mongdong dan pasukan pertahanannya.)

6 Agustus 1958

Hari ini, Mayor Eddy Mongdong mengirimkan seorang kurir kepada pasukan Tentara Pusat dari kesatuan Diponegoro di Tondano yang sedang bersiap menyerang Tomohon untuk memberitahukan pasukan tersebut, dia dan 1.500 orang dalam Sektor III-nya bersedia menyerah kepada pasukan pemerintah. Mayor Eddy Mongdong mempengaruhi para anggota pasukannya termasuk KNIL untuk bergabung dengan TNI. Ia mengatakan bahwa Alex Kawilaranglah yang menyuruhnya untuk bergabung dengan itu. Hal inilah yang menyebabkan timbul kecurigaan kepada Alex Kawilarang, yang memuncak pada pertemuan 17 Agustus di Kiawa. Meskipun demikian, Jenderal Alex Kawilarang menolak tuduhan semacam itu. Menurut perwira Permesta lainnya, Mayor Eddy Mongdong sengaja menggunakan nama Alex Kawilarang, karena pengaruh, nama besar, serta wibawa Alex Kawilarang diantara pasukannya, baik TNI dan Permesta sangat besar. Di Warembungan pada hari ini sekitar 200 orang anak buah Mayor Mongdong menyerahkan diri. Sebelumnya sudah terjadi beberapa kali penggabungan / penyerahan diri ("pengkhianatan / pembelotan") pasukan dari Sektor III/Lokon.
Pasukan yang membelot

10

Agustus 1958

13 Agustus 1958

Washington, D.C. mengadakan perjanjian ekonomi dengan Pemerintah Pusat di Jakarta. Sejak saat itu, bantuan tenaga teknis dari Amerika Serikat di Minahasa serentak ditarik. Pasukan Permesta hari ini mengadakan serangan balasan dengan menyerang Pineleng, sebagai daerah bekas markas besar Permesta tersebut. Provinsi Sunda Kecil dimekarkan menjadi provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur berdasarkan UU No. 64/1958. Pelaksanaannya nanti pada bulan Oktober 1958.

14 Agustus 1958

15 Agustus 1958

Sehari sebelum insiden Kasuang yang membuka topeng Mayor

Mongdong, Letkol D.J. Somba masih sempat mengunjungi kubu pertahanan Tomohon dan memberikan instruksi kepada Mayor Eddy Mongdong, supaya pertahanan ditingkatkan berhubung dengan jatuhnya Tondano ke tangan musuh. Malah, Mayor Eddy Mongdong masih turut memberikan petunjuk dan dorongan kepada pasukannya, supaya semangat perjuangan mereka ditingkatkan. Rapat Staf Komando Permesta yang masih berada di Tomohon diadakan malam hari ini di markas komando KDP II di desa Sarongsong, dibawah pimpinan Overste D.J. Somba yang saat itu baru tiba dari Sulawesi Tengah. D.J. Somba dalam slagorde baru pasukan Permesta telah menjadi Panglima KDP II Minahasa. Anehnya Mayor F.H.L.W. (Eddy) Mongdong selaku Komandan Sektor III yang punya peran dan tanggung jawab besar untuk mempertahankan kota Tomohon, malam itu tidak tampak dalam rapat. Kota Tomohon sendiri berstatus KDG (Komando Daerah Garnisun) dengan Komandannya Kapten Lantang yang bermarkas di dekat Kateluan Park - Tomohon. 16 Agustus 1958 Mayor F.H.L.W. (Eddy) MONGDONG, Komandan SWK III/Lokon Permesta dan pasukannya menyerahkan diri kepada APRI ("Tentara Pusat"). Tentara APRI (TNI) pagi ini masuk dan menduduki kota Tomohon lewat Rurukan dengan leluasa yang dijemput oleh Dan SWK III/Lokon - Mayor F.H.L.W. (Eddy) Mongdong bersama pasukan inti pengawalnya Kompi Lokon dengan Komandannya Piter Tumurang. Sebagian besar anggota pasukan Mayor Eddy Mongdong menyerahkan diri kepada TNI lengkap dengan persenjataan yang ada. Pasukan APRI yang masuk kota Tomohon ini berasal dari Bn. 501/Brawijaya dibawah pimpinan Mayor Sumadi. Kasus pengkhianatan/pembelotan Mayor Eddy Mongdong sangat mempengaruhi moril dan materil Permesta. Sekitar 600 orang pasukannya juga ikut, bersama dengan senjata recoillesss-gun 75 mm, mitraliur 12,7 mm dan mortir dalam jumlah yang begitu besar. Kota Tomohon memang ditargetkan untuk menjadi benteng pertahanan Permesta terkuat karena begitu strategis letaknya. Kubu pertahanan kota Tomohon saat itu dianggap terbaik dan terkuat di wilayah Permesta. Di daerah Kasuang (perbatasan Tomohon dan Tondano) terjadi "Peristiwa Kasuang", yaitu kontak senjata antara pasukan APRI dengan pasukan pengawal Letkol Dolf Runturambi, Komandan KDP III/Bolmong-Gorontalo. Dalam peristiwa ini, Letkol

Dolf Runturambi dikabarkan tewas. Kontak senjata itu terjadi secara tiba, ketika kedua pasukan berpapasan secara mendadak. Pagi itu Kolonel Dolf Runturambi bersama pengawalnya yaitu 7 orang anggota Corps Tentara Peladjar (CTP) yang dipimpin Sersan Mayor Bolu Kindangen, dan diikuti juga oleh Kapten Nontji Gerungan, Kapten Herman R, dan adiknya Freddie Runturambi sedang mengendarai kendaraan Jeep Komando menuju Tondano, karena mengira waktu itu pasukan Permesta (PRRI) masih menguasai wilayah Tataaran sampai desa Koya. Di desa Kaaten, yaitu batas kota Tomohon sekitar pukul 09.00. Rombongan KDP III, yang langsung membalas teriakan awak tank TNI dalam logat Ambon: "Eh ale, apa itu tentara Permesta?" dengan senjata bregun dan beberapa pistol mitraliur Swedia pasukan pengawal KDP III. Pasukan TNI yang membawa tank bersama pasukan infanteri kemudian menyerang dengan senjata mesin dan kanon dari tank. Siang itu rombongan menyingkir ke posko KDP II di Sarongsong. Panglima Besar Alex Kawilarang dan stafnya meninggalkan daerah Kinilow-Kakaskasen menuju Kawangkoan via Tomohon, sempat singgah di posko KDP II dan berkata kepada Yus Somba di depan posko: "Hei Somba, Dolf telah tewas, dan jip komandonya hancur kena tembakan kanon tank musuh, sedang nasib anak buahnya belum diketahui." Namun, saat itu Letkol Dolf Runturambi sedang berada di dalam ruang kerja Yus Somba, dan kaget saat diajak Somba masuk ruangan, lalu berkata: "En zij rapporteren mij, dat je gesneuveld bent in Kasuang bij een overval op weg naar Tondano." (Mereka -Tentara
Pusat- melaporkan, bahwa anda sudah gugur pada suatu sergapan di Kasuang dalam perjalanan ke Tondano). Di wilayah Sektor III Permesta dalam beberapa

hari sebelumnya, ada perintah bahwa semua pasukan Permesta menjelang hari Proklamasi 17 Agustus, harus mengenakan pita merah putih sebagai kode. Ternyata pita merah putih itu adalah kode kesepakatan antara Mayor Eddy Mongdong dan TNI sebagai tanda pengenal pasukan Permesta yang akan bergabung dengan TNI. Karenanya semua pasukan Permesta yang masih setia, segera diperintahkan menanggalkan pita merah putih tersebut. Mayor Eddy Mongong ketika itu juga menjadi pusat caci-maki semua pasukan Permesta yang terpaksa harus meninggalkan kota Tomohon bergerak menuju daerah Selatan dan dicap sebagai pengkhianat Permesta yang menjual Tomohon, yang adalah kampung halamannya sendiri. Sore ini, rombongan eksodus yang terdiri dari penduduk proPermesta maupun Pasukan Permesta bergerak ke arah Selatan dan memadati jalan raya Tomohon - Kawangkoan Amurang - Motoling. Fanatisme Permesta masih tercermin dari eksodus ini. Ikut pula dalam eksodus ini empat buah panser Permesta bercat loreng yang masing diberi nama gunung yang

ada di Minahasa seperti Kalabat, Lokon, dan Soputan, yang sudah tidak dapat dioperasikan lagi karena telah kehabisan bahan bakar. Dalam eksodus ini, banyak orang yang ditangkap dan ditahan sebagai mata musuh, atau mereka yang punya niat bergabung dengan pihak lawan. Tugas ini ditangani oleh pasukan Combat yang dipimpin Letnan Sam Langi, dan dikenal sebagai Combat Langi. Konsul Filipina, Mr. Renato Valensia bersama Nyonya Maria bersama ketiga putra-putrinya, mengungsi dari Manado ke Sonder dan mendirikan kantor Konsulat darurat di sana. Filipina membuka konsulat pertama di zaman Permesta, dengan mengontrak rumah Keluarga Tambuwun asal Sonder di wilayah Titiwungen Manado. Dari desa Leilem sudah terdengar ledakan dasyat yang berasal dari pemusnahan gudang mesiu bawah tanah yang terdapat di desa Kiawa. Pemusnahan mesiu itu dilakukan karena tak sempat diangkut ke wilayah Selatan. Daripada mesiu itu jatuh ke tangan Pasukan APRI (TNI), lebih baik dimusnahkan. Hal ini membuktikan bahwa pimpinan Permesta waktu itu, tak menduga sama sekali bahwa Tomohon sudah akan jatuh ke tangan Pasukan TNI dalam waktu secepat itu. Ledakan pemusnahan gudang mesiu di desa Kiawa ini berlangsung dari pagi hingga malam hari. 17 Agustus 1958 Hari ini di Kiawa, diadakan pertemuan antara Waperdam (Wakil Perdana Menteri/WPM) Joop Warouw, Panglima Besar PRRI Mayor Jenderal Alex Kawilarang, Kepala Staf ADREV PRRI Brigadier Jenderal HN Ventje Sumual dan Panglima KDP II Letkol D.J. Somba, dan Panglima KDP III Letkol Dolf Runturambi. Pertemuan ini untuk membahas masalah pengkhianatan Mayor Eddy Mongdong dan berita tewasnya Komandan KDP III Dolf Runturambi dalam Peristiwa Kasuang. Letkol Dolf Runturambi pagi itu berada di Sonder, dan dijemput Yus Somba dengan mobil. Pertemuan itu digambarkan bahwa suasana saat itu tegang, karena ada tuduhan yang dialamatkan kepada Panglima Besar Alex Kawilarang berdasarkan saksi anggota Mobrig (Brimob sekarang) Pitoy yang melarikan diri dari pasukan Mayor Mongdong ketika akan bergabung dengan pasukan TNI di Rurukan. Sebelum Letkol Dolf Runturambi dijemput dari Sonder, KSAD Ventje Sumual mengancam akan menembak mati Panglima Besar Alex Kawilarang, apabila memang benar Letkol Dolf Runturambi tewas di daerah Kasuang. Akhirnya rapat tersebut ditutup, dan kasus pengkhianatan Mayor Eddy Mongdong akan langsung diurus sendiri oleh atasan, yaitu Waperdam/Menteri Pertahanan ad interim PRRI Joop Warouw.

Kolonel Joop Warouw menyusun naskah bertanggal hari ini yang berjudul "Azas dan tudjuan perdjoangan PRRI". Hari ini (atau tanggal 1 Agustus sebelumnya), Perguruan Tinggi Manado (PTM) berdiri di bekas Universitas Permesta dengan 4 fakultas (Fakultas Hukum, Ekonomi, Sastra, & Tatapradja), atas inisiatif dari masyarakat Sulutteng dan tokoh masyarakat, yaitu Kapten TNI Bert A. Supit (Bupati Minahasa), E. Alfianus (Nus) Kandou (Ketua PNI Sulutteng), dr R.D. Kandou (Kepala Rumah Sakit Umum Manado), F.J. Gerungan SH, Dr W.F.J.B. Tooy, Pastoor Dr Th. Lumanauw, Dr Kaligis, Dr W.J. Ratulangi, dr Letkol TNI Sien Tjoan Po, Drs R.H. Lalisang, Jan Piet Mongula (Walikota Manado). Bulan Oktober berganti nama menjadi Universitas Sulawesi Utara Tengah (UNSUT), lalu tahun 1960 menjadi UNISUT kemudian pada tanggal 4 Juli 1961 menjadi UNSULUTENG. Tahun 1963, Fakultas Pertanian dan Peternakan dipisahkan, Agustus 1964 berdiri Fakultas Sosial Politik, 1 September 1964 berdiri pula Fakultas Teknik. Tanggal 14 september 1965 dengan SK Presiden No. 277/1965 UNSULTTENG diubah menjadi Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) dengan 7 fakultasnya dan tahun 1965 diresmikan pula Fakultas Sastra. Kemudian bertambah Fakultas Perikanan. 19 Agustus 1958 Langowan berhasil diduduki APRI dari kesatuan KKO pimpinan Mayor Ali Sadikin yang bertempur selama 2 hari (sebelumnya direncanakan akan memakan waktu 6 hari). Bom milik Permesta seberat 50-100 kg yang bertaburan di Lapangan Tasuka, rumah dan di tepi jalan disita APRI. Juga berhasil disita sebuah truck, 2 oto pick up, 3 jeep dan sebuah sepeda motor milik PRRI (Permesta). Komando Daerah Militer Sulawesi Utara-Tengah (KDM-SUT) resmi dibubarkan hari ini. Sebagai penggantinya, didirikanlah Komando Daerah Militer XIII (KODAM XIII) Merdeka. Kawangkoan berhasil diduduki APRI dan Bn. 513/Divisi Brawijaya dipimpin Mayor Sudarmin setelah sebelumnya mengadakan pembersihan di daerah Remboken, Parepei, Pulutan & Tondegesan. Pasukan APRI pimpinan Mayor Kusworo yang bergerak ke arah Sonder, berhasil menemukan 25 peti peluru berbagai ukuran di rumah orang tua Overste D.J. Somba. (Tanahwangko berhasil direbut pasukan APRI.) Amurang digempur dari arah laut oleh pasukan KKO. Kemudian

23 Agustus 1958

25 Agustus 1958

23 September 1958 25 September 1958

pasukan KKO pimpinan Mayor Ali Sadikin tersebut berhasil mendaratkan pasukannya dan menduduki kota Amurang. Untuk mengenangnya, didirikanlah Tugu Pembebasan kota Amurang oleh Pasukan KKO yang terletak di simpang empat kota Amurang di Uwuran yaitu persimpangan menuju Tombatu.

Amurang diduduki KKO ALRI

Kota Amurang ini sebelumnya merupakan titik konsolidasi pasukan Permesta yang datang dari Minahasa Utara dan Tengah, sekaligus merupakan kota transit untuk menuju ke wilayah Minahasa Selatan dan Bolaang Mongondow. Sejak saat itu, secara de facto wilayah Minahasa Selatan yang meliputi garis Ratahan - Tombatu - Motoling - Tompaso Baru yang memiliki kawasan hutan cukup lebat dan luas, masih utuh di tangan kekuasaan Permesta, dan sangat strategis dijadikan tempat rendezvous dalam taktik perang gerilya. Oktober 1958 Bulan ini dihasilkannya "Muktamar Tambelang", yang dilaksanakan di Tambelang, Tompaso Baru dimana Pemerintah Revolusioner RI (PRRI) mengajak lapisan rakyat berjuang menyusun bersama pemerintah PRRI hal yang perlu untuk memenangkan perjuangan PRRI dan memusnahkan rejim Soekarno cs. Ada 3 golongan yang terbagi dalam visi dan misi Permesta: (1) golongan yang ingin mempertahankan gagasan PRRI dan Permesta yang hanya menuntut sistem pemerintahan Indonesia. Golongan ini dipimpin oleh Kepala Pemerintahan Sipil PRRI di Sulawesi Kol.J.F. Warouw. (2) golongan yang tidak jelas tujuannya Golongan ini terutama Pasukan Triple Ninenya Jan Timbuleng, yang
dulunya adalah PPK (Pasukan Pembela Keadilan) yang dikenal sebagai pasukan pengacau keamanan /GPK di daerah Minahasa sebelum Pergolakan Permesta.

(3) golongan yang menghendaki untuk menggabungkan diri kembali dengan APRI (Angkatan Perang RI).

Desember 1958

16 pesawat AUREV PRRI/Permesta di Pangkalan AS Clark Airfield di Manila Filipina dipindahkan keluar dari sana oleh Amerika Serikat. Diantara pesawat terbang itu, terdapat pesawat B-29 Bomber, P-54 (Mustang), dan B-26 Invander. Ada 8 kali penerbangan gelap di atas Kalimantan Barat yaitu di atas Pangkalan Udara AURI Singkawang dan Kota Ledo dalam waktu 9 hari di ketinggian 3.000-7.000 kaki. Peristiwa itu terjadi tanggal 4 Des (2x penerbangan), 5 Des (2x), 9 Des, 10 Des, 13 Des (2x). Setelah kiriman senjata, amunisi dan perbekalan militer yang diangkut oleh kapal yang berlabuh di Labuan Uki yang merupakan sebuah teluk di pantai sebelah Barat Bolmong yang terlindung dari udara dan laut. Di tempat ini, pembongkaran dan pemuatan mudah dilakukan. Kapal dapat merapat pada tebing pantai yang cukup terjal. Airnya dalam dan tenang, sehingga tidak ada kekuatiran kapal akan kandas. Di tempat itu pernah digunakan kapal perang Jerman "Von Emden" pada Perang Dunia I untuk bersembunyi dari kejaran kapal perang Sekutu sampai akhirnya selamat dari kejaran tersebut. Di tempat ini pula, kapal "Black Snake" (nama aslinya "Seabird") ditenggelamkan bulan ini karena hampir ketahuan 3 kapal perang ALRI dengan beberapa pesawat AURI yang mengawasi perairan itu. Senjata dan amunisi seperti pistol mitraliur (PM) eks Swedia, bregun, mitraliur dengan ban pelurunya @ 250 butir, basoka, recoilless-gun 75 mm, mortir, senjata panjang, mitraliur 12,7 dan pom-pom dengan amunisinya. Sejumlah tertentu dari senjata dan amunisi tersebut diambil oleh KASD Brigjen Ventje Sumual, yang cukup untuk memperlengkapi satu resimen tempur untuk mengadakan pertempuran frontal. Sisanya diperuntukkan bagi pasukan gerilya. Akibatnya, ada kesatuan yang membutuhkan senjata dan amunisi untuk dua kompi, tetapi yang diperoleh hanya perlengkapan untuk satu kompi dan ada juga kesatuan yang sama sekali tidak memperoleh senjata sepucuk pun. Dengan sendirinya mereka sangat kecewa. Mereka sudah menempuh puluhan bahkan ratusan kilometer secara sia. Biasanya, mereka melampiaskan kesalahannya dengan sumpah serapah, maki dan ancaman. Sejak diadakan pembagian senjata, daerah KDP III dibawah komando Kolonel Dolf Runturambi semakin sering mendapatkan kunjungan pasukan, tidak hanya untuk meminta atau menerima pembagian tetapi juga untuk merampas ternak dan bahan makanan rakyat. Perbuatan mereka telah menimbulkan rasa kecewa, amarah dan tidak percaya pada Permesta dari kalangan penduduk setempat (Bolmong).

4 Desember 1958

awal Januari 1959

15 Februari 1959

Reorganisasi susunan pemerintahan PRRI dimana Brigjen TNI Alexander Evert KAWILARANG kemudian menjadi Kepala Staf Angkatan Perang dengan pangkat Jenderal Mayor. Walaupun demikian, Alex Kawilarang tidak pernah menerima/menghendaki jabatan itu. Ia lebih menyukai disebut sebagai Panglima Besar Permesta ketimbang Panglima Besar PRRI. Gayanya dalam berpakaian adalah dengan memakai celana pendek dengan sendal jepit. Akibatnya, pernah ia dilucuti jam tangannya oleh bawahannya yang tidak mengetahui siapa yang dihadapinya itu. Meskipun demikian, wibawanya terhadap pasukannya sangat tinggi, dan ia sangat dihormati dan disegani oleh seluruh pasukan Permesta. Serangan Umum besaran pasukan Permesta (PRRI) serantak di Minahasa yang diberi nama "Operation Djakarta Special One" atau "Operasi Jakarta Spesial I".

17 Februari 1959

Sasaran dari serangan itu adalah menduduki tempat strategis seperti kota Kawangkoan, Langowan, Tondano dan Amurang-Tumpaan dan menghancurkan sarana personil dan materiil lawan, senjata berat, panser, artileri dan bahan logistiknya, seperti bensin, solar dan amunisi. Perintah penyerangan "Jakarta Spesial I" berbunyi: - Kekuatan lawan di Kawangkoan dan desa sekitarnya, diperkirakan satu resimen tim tempur dengan senjata bantuan pesawat AURI, artileri, mortir 80 mm, mitraliur 12,7 m dan panser. - Kekuatan Permesta untuk menyerang Kawangkoan terdiri dari: Bn.Q, Bn.T dan Bn.O masing dipimpin Mayor J. Lumingkewas, Kapten Boetje Togas dan Kapten David Pantouw, ditambah satu batalyon dari WK-III. Senjata beratnya terdiri dari 2 recoillesss-gun

75 mm untuk menghancurkan kubu pertahanan lawan di Bukit Emung - di selatan Kawangkoan, kendaraan panser, sarang mitraliur dan basoka yang dibangun di sekitar bukit itu. Di suatu tempat strategis di dekat jalan raya Tareran - Kayuuwi, ditempatkan dua recoillesss-gun 75 mm dan satu mitraliur 12,7 mm. - Sasaran pasukan sayap: menyerang Amurang dan Tumpaan dengan 500 orang anggota Brigade 999 dibawah pimpinan Letkol Yoost Wuisan. Sementara itu Langowan diserang oleh pasukan Laurens Saerang (Brigade Manguni), sedang Tomohon dibawah koordinasi Kolonel D.J. Somba dengan tujuan utama, supaya Tomohon tidak dapat memberi bantuan pada Kawangkoan. - Pada hari H, yaitu, tanggal 17 Februari 1959, semua satuan di seluruh WK harus secara serentak mengadakan serangan terhadap semua pos yang berada di daerah operasi masing. Serangan inti terhadap Kawangkoan dan sekitarnya dipimpin oleh Kolonel Dolf Runturambi. Konsentrasi pasukan diadakan di sekitar Kotamenara dekat Gunung Soputan. Pada hari H, satu jam sebelum waktu yang ditentukan untuk bergerak, semua pasukan tempur sudah siap di garis awal masing. - Hari H adalah tanggal 17 Februari 1959; waktunya pukul 04.00. Alat komunikasi yang ada dengan posko "Jakarta Spesial I" Ventje Sumual code X, posko serangan inti Kolonel Dolf Runturambi code X2, posko Kolonel D.J. (Yus) Somba code X3 dan posko Letkol Joost A. Wuisan code X4. Selanjutnya, Gerakan Operasi "Operation Jakarta Special One" ini dibagi dua: * Daerah Pertempuran A: Mencakup Minahasa Utara yang berbatasan dengan garis Kawangkoan-Tumpaan dibawah komando Kolonel D.J. Somba (Dan KDP II) * Daerah Pertempuran B: Mencakup Minahasa Selatan dengan batas dari garis jalan raya Amurang-Kawangkoan-Langowan, dibawah komando Letkol Dolf Runturambi (Dan KDP III) Ada beberapa kota yang berhasil diduduki pasukan Permesta selama beberapa jam seperti Kawangkoan, Amurang, dll. Menjelang tengah hari, bala bantuan pusat dengan mengerahkan panser dibawah perlindungan air-cover pesawat AURI. Menjelang sore, bala bantuan TNI sudah tiba di Kawangkoan. Korban yang terbanyak di desa Kayuuwi Kawangkoan dimana ada 14 orang dalam Bn. Y yang dikomandoi Mayor Baybay, 12 orang dari Bn. T Boetje Togas, selain beberapa lagi dari Brigade Manguni. Tujuan serangan ini adalah juga untuk memberi moril kepada pasukan PRRI di Sumatera.

18 Februari 1959

"Operasi Jakarta Spesial I" Hari H ke-2. Setelah Bn.Q, Bn.T, Bn.O serta pasukan WK-III Letkol Wim Tenges yang tetap bertahan di garis awal, mengadakan serangan kedua yang ditentukan diadakan pada hari H kedua, pukul 04.00 sesuai dengan tujuan yang sama dengan hari H pertama "Operasi Jakarta Spesial I". Pasukan Permesta menduduki kota Kawangkoan dan banyak menimbulkan kerugian kepada pihak lawan, tapi tidak berusaha mendudukinya, sedangkan perebutan Bukit Emung oleh Bn.Q sekali lagi gagal. Pasukan Permesta kemudian mundur pada pukul 11.30, tetapi tetap bertahan di sekitarnya menunggu instruksi selanjutnya. "Operasi Jakarta Spesial I" Hari H ke-3. Pukul 14.00 diadakan serangan terhadap Rumoong Atas (Tareran) yang diduduki oleh satu kompi Tentara Pusat dengan senjata bantuan 1 peleton panser. Serangan ini dipimpin oleh Komandan KDP III Kolonel Dolf Runturambi yang diperbantukan dari Bolmong. Tareran dihujani dengan roket 75 mm dan pasukan WK-III Letkol Wim Tenges diperintahkan menduduki kota itu. Namun di berbagai sudut kota, terdapat pertahanan Tentara Pusat berupa panser yang terlindung dari recoilles-gun, selain pesawat AURI. Setelah malam hari pasukan Permesta meninggalkan daerah pertempuran dengan hasil yang tidak memuaskan. Meskipun kerugian dari pihak Tentara Pusat sangat besar, tapi Permesta juga cukup banyak memberikan korban jiwa dan material. Batalyon T pimpinan Boetje Togas kehilangan 8 orang dan 4 orang luka berat dan ringan, Batalyon Q pimpinan Mayor J. Lumingkewas gugur satu orang dan luka satu orang, pasukan Corps Tentara Peladjar (CTP) dari WK-III Letkol Wim Tenges satu orang luka ringan yaitu Nicky Nelwan. Menurut keterangan penduduk, banyak anggota pasukan Tentara Pusat yang gugur dan luka berat disamping hilangya perbekalan mereka yang sangat besar. Setelah malam hari, pasukan dikumpulkan, meninggalkan daerah pertempuran dengan hasil yang tidak memuaskan. Dari Bn.T (Mayor Boetje Togas) kehilangan 8 orang dan 4 orang luka berat dan ringan, Bn.Q gugur satu orang dan luka ringan satu orang, CTP dari WK-III Letkol Wim Tenges satu orang luka ringan, yaitu Nicky Nelwan. Sedangkan di pihak lawan (TNI), menurut keterangan penduduk, banyak yang gugur dan luka berat disamping hilangnya perbekalan yang sangat besar. Dalam serangan selama tiga hari ini, Batalyon T (Batalyon Togas) dapat mengusir TNI dari desa antara Tondegesan dan Remboken. Mereka lari ke Tondano. Kemudian Bn. Togas meminta untuk tetap tinggal di daerah ini, dan tidak ingin kembali lagi ke daerah KDP III di Bolmong.

19 Februari 1959

Pasukan Permesta kehilangan lebih dari seratus orang dalam serangan umum "Operasi Jakarta Spesial I" ini. Ironisnya, KSAD Brigjen Ventje Sumual sendiri justru tidak ikut terjun langsung dalam Operasi Serangam Umum "Operation Special One" tersebut. Tujuan utama dari serangan ini gagal dilaksanakan, yaitu menguasai point (titik) strategis seperti Bukit Emung di Kawangkoan, sedangkan Langowan hanya sempat dikuasai selama beberapa jam saja. Tujuan lain adalah untuk meningkatkan moril PRRI di Sumatera dan untuk memukul moril pasukan Tentara Pusat. 21 Maret 1959 Sebuah universitas Sulawesi Utara dan Tengah telah dibuka di Manado (IKIP Manado) dengan dukungan Kodam XIII/Merdeka, dan diperkirakan banyak tentara muda Permesta akan diterima sebagai mahasiswa di perguruan itu. Pada pertengahan bulan, APRI membangun serangan besaran untuk merebut daerah Minahasa Selatan dengan menggempur Motoling dari arah Amurang, serta Ratahan dari jurusan Langowan yang akhirnya berhasil diduduki Ventje Sumual dlm sebuah rapat di hutan dan diperlengkapi dengan senjata berat terbaru buatan Ceko, Rocket Launcher 32 laras (yang oleh Permesta disebut "32 loop") yang uji cobanya untuk menggayang Permesta (PRRI di Sulawesi). Rocket Launcher 30mm ini dipersenjatai pada Bn. Armed (Art.) 9. Desa Liwutung (Markas Panglima Tertinggi/KSAD Permesta berada di desa Towuntu di ujung desa Liwutung), Molompar, Mundung, Kuyanga, sampai Tombatu dibumihanguskan oleh Pasukan Permesta sebelum bergerak mundur. Kemudian Tombatu berhasil diduduki APRI. Selama Pergolakan Permesta, tidak kurang 150 desa di daerah Minahasa mengalami taktik bumihangus oleh kedua belah pihak. Di desa Liwutung ini juga terdapat pabrik minuman keras merek

Mei 1959

anggur Welpon yang sangat laris dan dikenal di wilayah Permesta. Di selatan wilayah gerilya Permesta, juga pernah beredar dua buah merek rokok yang diambil dari sebuah kapal yang berlabuh/kandas di pantai Batu Kapal, Sinonsayang, dimana satu diantaranya adalah rokok dengan merek "Permesta". Dapat dicatat di sini adalah dibajaknya kapal asing bernama MV. Norse Lady, oleh Pasukan Permesta dari Batalyon Q pimpinan Mayor J. Lumingkewas dari Pelabuhan Parigi di Sulawesi Tengah bulan April 1958. Pasukan Bn. Q dan sejumlah warga sipil, diangkut kapal itu sampai di pantai Belang sambil dikejar kapal perang ALRI dan pesawat AURI. Ketika mendekati pantai Belang, sebuah pesawat AURI memergoki dan menembaki kapal ini. Nyaris saja kapal ini tenggelam, kalau tidak segera dikandaskan ke pantai yang dangkal di dekat pelabuhan Belang. Sejumlah penumpang kapal ini, tewas dan luka ketika diserang pesawat AURI, bahkan banyak diantaranya yang terpaksa melompat ke laut. Juga kapal Sea Bird yang kemudian diganti nama Black Snake memasok barang termasuk senjata dari luar negeri lewat pelabuhan kecil Bolaang Uki di Bolmong. Kapal itu terakhir ditenggelamkan sendiri oleh Permesta di pantai Inobonto. 2 Juni 1959 Singapura memisahkan diri dengan Persekutuan Tanah Melayu/Malaysia. Singapura adalah basis (pangkalan) dan tempat persinggahan tokoh dan sejumlah pendukung Permesta dan yang menjadi titik terpenting dalam perhubungan dengan dunia luar. Di sini, para tokoh seperti Letkol Ventje Sumual sendiri, Mayor D.J. Somba, Kolonel Alex Kawilarang, Mayor Nun Pantow, Mayor Daan E. Mogot -(bukan Mayor
Daan Mogot - pendiri Akademi Militer Tangerang yang gugur pada tahun 1946 melawan tentara Jepang)-, Prof. Soemitro Djojohadikusumo, Mayor AURI

Petit Muharto Kartodirdjo, Des Alwi (Atase Pers KBRI di Manila), E. Pohan, Kapten Lendy Tumbelaka, Mr Sjafruddin Prawiranegara, dan lainnya keluar masuk untuk mengadakan pertemuan dan hubungan dengan pihak asing guna mendukung gerakan PRRI dan Permesta. "Pos X", demikian nama pos informasi intelejen PRRI (dan Permesta), yang sebenarnya tidak banyak melebihi kualitas sebuah biro informasi. Kabar yang diperoleh umumnya berasal dari orang yang menyebut diri simpatisan PRRI-Permesta, yang sendirinya masih belum 100% dapat dipercaya. "Biro X" ini terdapat di Jakarta dan Singapura. Pusatnya berada di Singapura, dikepalai Jaksa E. Pohan yang masih aktif di perwakilan Ri di Singapura (KBRI). 5 Juli 1959 10 Juli 1959 Dektrit Presiden Soekarno untuk kembali ke UUD 1945. Dengan berlakunya kembali UUD 1945, maka Kabinet Djuanda (Kabinet Karya) dibubarkan terhitung hari ini. Kemudian dibentuk

Kabinet Kerja I dengan Perdana Menterinya adalah Presiden Soekarno sendiri, sedangkan Ir. Djuanda ditunjuk sebagai Menteri Pertama. Agustus 1959 Rapat di Singsingon - Bolmong yang dipimpin Waperdam Joop WAROUW akibat selisih pendapat soal rencana pembentukan sebuah negara terpisah dari Republik Indonesia bernama Republik Persatuan Indonesia (RPI). Ia telah menerima sebuah kawat dari Presiden PRRI Sjafruddin Parawiranegara yang menjelaskan kerangka tujuan menetapkan suatu pemerintahan federal, yang didalamnya setiap unsur negara bagian berhak menentukan agama serta falsafah kenegaraannya masing. Rapat itu menghasilkan 'Piagam Perdjoangan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia' untuk mencegah rencana pembentukan RPI terlepas dari RI, yang isinya antara lain; - pembelaan terhadap Proklamasi 17 Agustus 1945 dan Pancasila, penyatuan kembali bangsa Indonesia, pelaksanaan hak otonomi regional, - penyelesaian secara damai krisis Irian Barat melalui PBB, diakhirinya rezim Soekarno, dan penghapusan komunisme internasional di Indonesia. Pertemuan tersebut dihadiri oleh para anggota pemerintah sipil dan perwira tinggi militer kecuali Panglima Besar Mayjen Alex Kawilarang dan Kolonel D.J. Somba. Joop Warouw kemudian mengirimkan kawat kepada Alex Kawilarang agar ikut menghadiri rapat tersebut. Ketika empat hari kemudian Alex Kawilarang tiba (setelah berjalan kaki), dan ia mendukung posisi Joop Warouw. Menurut Sekjen Dephan PRRI, Abe Mantiri, ia mengatakan: "Di bawah bendera merah-putih ini terlalu (banyak) kawan sudah korban; bendera ini, kita sama haknya dengan Soekarno. Bendera ini kita punya; itu dan Pancasila tidak akan dilepaskan." 16 Agustus 1959 Kapten Gonibala, pimpinan satu batalyon kecil pasukan Permesta yang terdiri dari mahasiswa dan beberapa TNI asal Bolmong ditangkap hari ini karena dicurigai akan menyerah kepada pemerintah pusat. Ia kemudian dibunuh. Setelah itu digantikan oleh Kapten Usman Damopolii dan membentuk satu kesatuan baru hanya beberapa hari saja sebelum serangan pasukan TNI dari kesatuan Siliwangi atas Kotamobagu. Sebagian pasukannya itu membelot kepada Tentara Pusat, sehingga yang terbentuk hanyalah sebuah kompi kecil. Sistem pemerintahan yang baru diperkenalkan oleh Presiden Soekarno dalam pidato kenegaraannya dalam rangka HUT RI dengan nama "Manifestasi Politik" atau Manipol.

17 Agustus 1959

28 Agustus 1959

Mata uang Rupiah didevaluasi oleh Pemerintah Pusat: Rp 1,000,menjadi Rp 100,-; banknotes lebih dari Rp 25,000,- di- demonetized. Militer mulai memindahkan etnis Cina dari pedesaan ke kota-kota besar. Sebanyak 100.000 orang meninggalkan Indonesia menuju Republik Rakyat Cina dalam setahun kedepan; disamping 17.000 orang untuk Taiwan. KSAD Letjen A.H. Nasution menggabungkan organisasi veteran dalam sebuah wadah dibawah kontrol militer dalam Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

18 September 1959

Kotamobagu yang dipertahankan oleh pasukan KDP III - Kolonel Permesta Dolf Runturambi akhirnya jatuh ke tangan tentara pusat/APRI. Dalam peristiwa ini, pasukan Permesta yang tergabung dalam Sekolah Pendidikan Tentara Permesta dibawah Resimen "Ular Hitam" pimpinan Letkol Wim Joseph dan Staf Deputi KSAD dibawah pimpinan Kolonel J.M.J. (Nun) Pantouw, membakar rumah di bagian selatan kota Kotamobagu. Kira 60% rumah di wilayah ini dibakar, dan rumah yang ditemui pasukan Permesta yang mundur sat Kotamobagu jatuh. Menurut Komandan KDP III Kolonel Dolf Runturambi, ia melarang pembakaran rumah yang merupakan milik rakyat. Hal ini menyebabkan para penduduk Bolmong menimbulkan antipati terhadap Permesta. Pembakaran itu telah meluapkan amarah rakyat. Dengan senjata seadanya: pedang, pisau, tombak, pacul (cangkul), peda/parang, dan panah, mereka melampiaskan kemarahan terhadap para pengungsi dari Minahasa, selain transmigran lokal asal Minahasa, bersenjata ataupun tidak. Pengumuman Pemerintah Pusat bulan ini mengenai jumlah korban akibat operasi militer penumpasan PRRI di Sumatera: Dari pihak Pemerintah Pusat: - tewas : 983 orang - luka : 1.695 orang - hilang dalam tugas : 154 orang Dari pihak PRRI:

September 1959

- tewas : 6.373 orang - luka/tertawan dlm pertempuran : 1.201 - menyerah : 6.057 orang 11 Oktober 1959 Brigjen Ventje Sumual sebagai KSAD PRRI mengeluarkan radiogram Perintah Operasi Darurat No. 004 yang terkenal itu (Dhar no.004 atau Kpts.no.004/DAS/1010/59, 10-11-59 atau PO-004/Dhar) yang menyusun kembali tanggung jawab komando wilayah (slagorde Permesta). Menurut KSAD Ventje Sumual, ia merasakan perlunya menyebarluaskan pasukan Permesta sebab jika semuanya berpusat di suatu daerah yang kecil, sulit mengadakan hubungan dengan luar negeri atau mempertahankan hubungan dengan Letkol Dee gerungan di Sulawesi Selatan, yang belum lama berselang telah mengirim seorang kurir. Tidak semua pasukan dapat tinggal di Minahasa, kata Ventje Sumual, beberapa sebaiknya pergi ke daerah Gorontalo. Perintah itu memberikan Minahasa Selatan kepada pasukan Brigade 999 pimpinan Jan Timbuleng (sebagian WK-III dan WK-IV digabung), dan daerah Minahasa Utara kepada Letkol John Ottay (WK-I, WK-II dan WK-III digabung). Letkol Wim Tenges diperintahkan untuk memimpin Brigade Ekspedisi "Cicero" untuk bertempur di wilayah Gorontalo/BolaangMongondow (Bolmong), yang kini sudah dikuasai secara mutlak oleh Tentara Pusat. Pihak perwira Permesta di sebelah Utara menolak dengan tegas perintah Dhar 004 ini. Daerah Minahasa Utara sudah dalam keadaan perang gerilya selama lebih dari setahun, dan pasukan yang ditempatkan di situ telah berhasil memantapkan posisi mereka dan membina hubungan baik dengan para penduduk setempat. Bila Jan Timbuleng dan Brigade 999-nya berkuasa di wilayah mereka, hanya akan mencemarkan nama baik dan perjuangan luhur Permesta, karena pasukan Triple Nine ini terkenal dengan kebengisan, dan tabiat buruk lainnya, bukan hanya terhadap sesama pasukan Permesta, juga terhadap penduduk yang telah dibina hubungannya dengan pasukan Permesta di utara. Jangan pula melupakan bahwa Jan Timbuleng dan Brigade 999 tersebut adalah bekas pasukan pengacau Minahasa Selatan, Pasukan Pembela Keadilan, (PPK) yang sangat meresahkan penduduk. Selain itu, bukankah kejatuhan Kotamobagu akibat dari kelalaian intelejen MBAD PRRI juga yang notabene berada di wilayah selatan (Tompaso Baru), dan bukankah lebih baik pasukan Permesta di sebelah selatan sajalah yang dikirim ke wilayah Bolmong dan Gorontalo? Perintah Dhar 004 ini merupakan salah satu sumber perpecahan utama antara para pemimpin Permesta di Minahasa.

24 Oktober 1959

Kodam XIV/Hasanuddin di Sulawesi Selatan resmi berdiri hari ini, setelah didirikan bulan Juni 1957 yang lalu, dengan Panglima Kodamnya adalah Kolonel Andi Muhammad Jusuf, yang dahulunya adalah Kepala Staf Resimen Hasanuddin di Pare-pare. Ketua Sinode GMIM, A.Z.R. Wenas, bertemu dengan Panglima Besar Alex Kawilarang di desa Pangolombian, sebelah selatan kota Tomohon. Beberapa ucapan Kawilarang yang disampaikan kepada Ketua Sinode GMIM adalah sbb: 1. Adakah Djakarta menjangka bahwa dalam satu djangka waktu jang pendek kami (Permesta) akan dapat ditaklukkan? Djawabnja: "Ini tidak mungkin". 2. Kami nanti ditaklukkan dalam satu djangka waktu jang pandjang? Djawab Kolonel Kawilarang pula: "Ini djuga pun tidak mungkin". 3. Indonesia sekarang ini telah hancur. Dengan berlangsungnja lebih jauh peperangan ini, ini diartikan "pasti bangkrutnja" Indonesia. 4. Dengan berlangsung lebih djauh peperangan saudara ini, mengakibatkan penderitan maha hebat rakjat Indonesia seluruhnja. Maka dengan djalan ini Indonesia matang untuk Komunisme; dengan demikian tanpa bersusah pajah berperang, Komunisme menang di Indonesia. Kol. Kawilarang bertanja: "Adakah jang di atas ini barangkali jang dikehendaki oleh pemerintah di Djakarta?" 5. Maka untuk keselamatan Negara kita RI hendaknja pemerintah Djakarta untuk meninggalkan prestige-kwestienja jang hendaknja dihentikannja djalan kekerasan dan diadakan perundingan op gelijke voet. 6. Wij zijn niet overwonnen. Een betrekkelijk klein deel van de Minahassa is bezet door Pusat, het grootste gedeelte van de Minahassa is onder onze controle. "Telah menduduki" bukan mengartikan "Telah menguasai". Realiteit is, jalan ada dikuasai oleh Permesta. Verder het grootste deel van de Rakjat, zeker 90 prosent staat achter ons. Overwinnaar zijn impliceert het hart van de Rakjat te hebben gewonnen, en dit is niet het geval. 8. De andere Permesta-leiders spreken van een strijd tegen het communisme. Mag men zeggen dat de Javaanse soldaten die tegen ons worden ingeset allemaal communisten zijn? "Neen! Helaas door deze broederoorlog zijn de communisten in aantal toegenomen". 9. De meesten van onzen jongens willen niet terug, want de behandeling van de Pusat is niet altijd fair. 10. De P.R.R.I. dat is een staat in een staat heeft niet zijn goedkeuring. 11. Djakarta gaat barsten. Politisch en economisch gaat Djakarta er

2 November 1959

aan. 12. Het is niet gezegd dat door de instelling van de nieuwe lichamen, de geest van het gehele bestuur veranderd wordt. Wij kunnen de Pusat-troepen uitwerpen maar dan zijn wij toch nog niet klaar. 13. Onze parool is "de bevolking in bescherming nemen". De Pusat daarentegen bombardeert negorijen en rakjat. 14. Al valt 50 procent van onze wapens in handen van de Pusat dan nog kunnen wij ons handhaven. 15. Men had ons in een zeer korte termijn moeten neerslaan dan was de kekerasan gemotiveerd geweest. 16. Kolonel Kawilarang is zeer pessimistisch wat de beeindiging van de oorlog betreft. Hij voosiet dat ernog jaren mee gemoeid zijn, behalve als de Pusat zelf deze beeindigt en gaat praten met de leiders in Sumatra en in Sulawesi Utara. 17. De moeilijkheden strakc met de opbouw zijn niet weinig. 18. Wat komt er terrecht van Indonesie als straks de derde Wereldoorlog uitbreekt? 18 November 1959 Hari ini, suatu dokumen berjudul "Program Perdjoangan - Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia" disebarkan di Minahasa dengan ditandatangani oleh Waperdam PRRI Joop Warouw. Dalam dokumen ini, maksud tujuan perjuangan PRRI terlibat dikatakan adalah memaktubkan pembelaan terhadap Proklamasi 17 Agustus 1945 dan Pancasila, penyatuan kembali bangsa Indonesia, pelaksanaan hak otonomi regional, penyelesaian secara damai krisis Irian Barat melalui PBB, diakhirinya rezim Soekarno, dan penghapusan komunisme internasional di Indonesia. Sebuah "program kerdja" dilampirkan bersama dokumen tersebut yang menggariskan tugas setiap kementrian di dalam pemerintahan sipil. Setiap menteri diberi kekuasaan bertindak sendiri, dan melanjutkan pemerintahan sipil bila sesuatu terjadi pada menteri yang lain. Seruan berkala oleh KODAM XIII/Merdeka dilakukan antara tanggal 27 November 1959 dan 11 Mei 1960 yaitu menyerukan kepada kaum pemberontak ("Permesta") untuk "kembali ke pangkuan ibu pertiwi". Tindasan seruan demikian, banyak diantaranya yang jelas bermaksud mengucilkan Ventje Sumual dan Dolf Runturambi di Selatan Minahasa dari pasukan Permesta lainnya. Amnesti kepada Permesta diajukan oleh Komandan Operasi Merdeka, Letnan Kolonel Roekmito Hedraningrat. Amnesti yang dianjurkan oleh Komandan Operasi Merdeka itu ditanggapi oleh Joop Warouw: "Bila kami menerima amnesti maka ini diartikan bahwa kami

27 November 1959

10 Desember 1959

bersalah. Kami merasa bahwa kami tidak bersalah". 16 Desember 1959 Dalam Sidang Pleno DPR di Bandung hari ini, KSAD Letjen A.H. Nasution mengatakan bahwa berhubung dengan keterangan pemerintah kepada Sidang Pleno ini mengenai keamanan, dan tulisan suratkabar "tentang Kolonel Alex Kawilarang jang meminta ceasefire" hal yang mana "tidak dapat kami terima". Di Manado, Panglima Kodam 17 Agustus Kolonel Sunardjadi meminta Menteri Penerangan RI Arnold Mononutu supaya dapat memberikan pidato radio penutupan tahun 1959 dan menyongsong Tahun Baru 1960 kepada masyarakat Sulawesi, khususnya Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Dalam pidato tersebut, ia mengemukakan dengan serius kepada para pimpinan Permesta agar menghayati penderitaan rakyat yang begitu besar akibat pergolakan Permesta, terutama masyarakat di Tanah Toar-Lumimuut. Bekas pilot sewaan pesawat AUREV Permesta, Allan Lawrence Pope, mulai disidangkan Pemerintah Pusat. Allan Pope kemudian dijatuhi hukuman mati dan kopilot J.Harry Rantung diganjar 15 tahun. Namun pemerintah AS berusaha keras untuk membebaskan Pope. Jaksa Agung AS Robert Kennedy diutus ke Jakarta menemui Presiden Soekarno. Dalam kunjungannya, Kennedy membawa surat Presiden Dwight Eisenhower yang isinya minta kebijaksanaan Soekarno agar Allan Pope bisa bebas. Disamping itu, istri Pope yang cantik diterbangkan dari AS untuk secara khusus menghadap Bung Karno. Konon, Bung Karno menerima dengan penuh keramahan. Kekaguman Bung Karno kepada wanita cantik, dimanfaatkan AS untuk membujuk sang presiden. Satu ketika menjelang subuh pada Februari 1962, Harry dan Pope yang dalam status terpidana didatangi beberapa anggota CPM bersenjata lengkap dan meminta keduanya ikut. Pope diminta mengemasi milik pribadinya, sedangkan Rantung diperintahkan ikut saja tanpa perlu membawa apa. Di luar penjara sudah menunggu sebuah panser. Mereka naik, sesaat kemudian kendaraan melaju kencang ke arah yang mereka tidak tahu. CPM tidak ngomong sepatah katapun. Rantung buka mulut yang diarahkan ke Pope, "Kira ada apa, ya?" Pope yang terlihat tenang menjawab, "Saya tidak tahu, tapi saya kira mereka tidak berani berbuat apa kepada kita," kata Pope. Dalam waktu setengah jam, panser berhenti dan diturunkan di Bandara Kemayoran. Di sana sudah menunggu Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Howard Jones dan Atase Militer Kolonel George Benson di Jakarta dan beberapa staf kedubes AS di Jakarta.

31 Desember 1959

1 Januari 1960

Sebuah pesawat Constellation sudah dipersiapkan. "Pasti kita akan jumpa lagi," kata Pope kepada Harry sambil berlalu ke dalam pesawat. Beberapa tahun kemudian, Harry Rantung mengaku pernah menerima undangan dari Pope yang bekerja di sebuah perusahaan penerbangan di California. "Saya diundang ke sana, semuanya gratis." ujar Harry Rantung Usai pembebasan, Harry Rantung sempat bekerja sebagai petugas keamanan di Kedutaan Besar AS di Jakarta dan mendapat pensiun dari kedutaan. Januari 1960 Kepala Staf AUREV Komodore Muda Petit Muharto Kartodirdjo kembali ke Manado dari Singapura saat Belanda memulangkan tahanan Indonesia yang kebanyakan adalah aktivis Permesta dari Hongkong ke Minahasa. Petit datang ke Minahasa bersama tahanan tesebut meminta ijin dari istrinya Siswani Siwi. Menurut Petit, Alex E. Kawilarang bersama pasukannya di hutan, yang juga meninggalkan keluarganya di luar negeri. Dalam bulan Januari 1960, Petit kembali ke Minahasa dalam sebuah kapal penyelundup Belanda. Diantara para tahanan dalam kapal dia melihat Nufanto dan Lendy Tumbelaka. Beberapa tahanan sangat heran akan Petit, "Ia seorang etnis Jawa maar kenapa bergabung bersama orang Manado". Tahun ini, Kolonel Hein Victor Worang kembali ke Minahasa sebagai Perwira Menengah SPRI Menteri Pertahanan/KASAD TNI dengan menjabat sebagai Ketua Team Penyelesaian / Penertiban Permesta. 5 Januari 1960 F.J. (Broer) Tumbelaka datang ke Manado untuk memprakarsai perdamaian antara Permesta dan Pemerintah Pusat. Mula bertemu dengan beberapa orang pilihan Kodam XIII/Merdeka, dan terutama dengan asisten intel Kapten Aris Mukadar yang kemudian membantunya dalam misi perdamaian dengan Permesta. Ia memutuskan untuk bertemu dengan D.J. Somba, karena Sombalah yang mengeluarkan dukungan terhadap PRRI dan memutuskan hubungan dengan pemerintah Soekarno saat menjabat sebagai Komandan KDM-SUT. F.J. (Broer) Tumbelaka mengirim surat kecil kepada D.J. Somba melalui seorang kurir bernama Samuel Hein Ticoalu alias Tjame (/Came), yang diperolehnya dengan bantuan Kodam XIII. Ia menerangkan dalam surat itu: "Saja datang kemari bukan karena paksaan orang, akan tetapi karena dorongan hati sendiri untuk dengan se ichlas-ichlasnja menjumbangkan tenaga dan fikiran saja

3 Februari 1960

kepada suatu usaha untuk mentjari suatu penjelesaian jang baik dalam persengketaan jang kini masih tetap berlangsung." (Surat Broer menggunakan nama samaran "Dr. Brunsted" supaya Joes (Yus) Somba tahu bahwa itu surat otentik. Nama samaran dipakai dalam seluruh perundingan untuk mempertahankan kerahasiaannya). Tjame berhasil masuk sarang Permesta dengan alasan untuk bertemu anaknya yang menjadi operator Radio Permesta di markas besar WK-I di Pinili. Disitulah Tjame akhirnya bertemu dengan D.J. Somba pada tanggal 23 Februari 1960, pada suatu pesta dansa untuk menghormati komandan tamu (yang sedang inspeksi) itu. Yus Somba kaget melihat Tjame, seorang kenalan lamanya itu, dan juga terperanjat ketika Tjame mengatakan: "Salam dari Broer" sambil menyerahkan surat itu. Jawaban Somba sangat singkat: "Lebih cepat lebih baik." Alex Kawilarang bersama D.J. Somba saat surat itu diterimanya. Mereka mengirimkan kawat kepada Joop Warouw yang ke Selatan pada bulan Januari untuk membahas pendekatan Ds. A.Z.R. Wenas, Ketua Sinode GMIM, serta masalah lain dengan Ventje Sumual. Joop Warouw mengirim kawat kembali dengan mengatakan "Kalau bisa hubungan itu diteruskan, tetapi harus menguntungkan kita (djangan sampai kita rugi)." 17 Januari 1960 Pertemuan Ketua Sinode GMIM dengan Kol. J.F. Warouw di desa Remboken. Dalam pertemuan ini, Warouw mengemukakan bahwa perjuangan pemimpin Permesta bermaksud khusus mengoreksi akan beleid dari Pemerintah Pusat RI, menolak amnesti yang dianjurkan oleh Komandan Operasi Merdeka tanggal 10 Desember 1959 yang lalu, serta berhentinya sikap bermusuhan hanya akan mungkin bila tentara Jakarta ditarik dari Minahasa. Mereka juga tidak menghendaki penyelesaian persengketaan setempat melainkan penyelesaian secara keseluruhan Indonesia, dan juga ditegaskan bahwa PRRI dan Permesta menentang akan komunisme. Satu hari sebelum proklamasi Republik Persatuan Indonesia diumumkan maka Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dibubarkan.

7 Februari 1960

Masa Pergolakan Permesta II (Pemberontakan Republik Persatuan Indonesia)


8 Februari 1960 Proklamasi Republik Persatuan Indonesia (RPI) dikumandangkan hari ini. Proklamasi RPI ini tertunda semenjak tanggal 17 Agustus 1959. Presiden merangkap Perdana Menteri RPI adalah Sjafruddin Prawiranegara dengan Wakil Perdana Menteri (Waperdam) adalah Muhammad Natsir. Dalam pasal 3 UUDnya disebutkan bahwa wilayah negaranya "meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia 17 Agustus tahun 1945". Tujuan RPI ini adalah untuk mempersatukan PRRI/Permesta dengan DI/TII Daud Beureuh di Aceh dan DI/TII Kahar Mudzakkhar di Sulawesi Selatan. Benderanya tetap merah-putih, namun ada sejumlah bintang di tengah yang mana setiap bintang melambangkan masing pemberontakan (negar-bagian) saat itu yang berada di bawah RPI. KSAD RPI Brigjen Ventje Sumual menunjuk Henk Lumanauw sebagai Wali-Negara RPI untuk Sulawesi Utara. RPI ini ditentang dengan keras oleh Waperdam PRRI / Kepala Pemerintahan PRRI di Sulawesi Joop Warouw serta Panglima Besar APREV Alex

Kawilarang. Dalam pengumumannya, Ketua Badan Pekerja Dewan Pertimbangan Pusat (DPP) Permesta, Henk Rondonuwu menolak RPI ini. Meskipun RPI ini telah berdiri, namun di daerah gerilya Permesta sendiri seperti di perbatasan Minahasa - Bolaang Mongondow, masih dilaksanakan Upacara Peringatan HUT RI secara resmi dan dihadiri oleh tokoh militer dan sipil Permesta. Sedangkan oleh pihak perwira Permesta di sebelah utara seperti Mayjen Alex Kawilarang, Kolonel D.J. Somba, Letkol Wim Tenges, menolak RPI ini, apalagi mengibarkan bendera baru (RPI) di wilayahnya dan tetap memakai lambang NKRI seperti Pancasila dan Merah Putih dalam logo maupun atribut lainnya.
Distrik/WK-III dibawah komando Letkol Wim Tenges memiliki hampir separuh kekuatan pasukan Permesta, dan merupakan WK yang paling kompak dan disiplin dari antara WK lainnya.

Masalah RPI ini berbeda dengan PRRI. Kalau PRRI hanyalah kabinet tandingan, maka RPI lebih merupakan negara dalam negara (negara tandingan). Hal ini memperkuat anggapan sementara orang bahwa gerakan daerah ini adalah gerakan separatisme. Menurut pandangan para pemimpin PRRI dan Permesta, RPI yang lebih banyak merupakan gagasan tokoh politik, direncanakan sebagai taktik dalam perjuangan PRRI. Usia RPI sejak direncanakan untuk kemudian diproklamasikan pada September/Februari 1960 hanya 2 tahun. 9 Maret 1960 Seorang Perwira AURI, Letnan Udara II Daniel Alexander Maukar (alias Daantje, alias Danny), menembaki kompleks tangki minyak BPM di Tanjung Priok, Istana Merdeka dan Istana Bogor dengan pesawat jet MIG-17 yang hanya dilengkapi kanon 23mm pada siang hari sekitar pukul 11.30. Kemudian ia mendaratkan pesawatnya di daerah persawahan Kadungoro, Leles (Garut, Jawa Barat) - rencana penyelamatan dirinya akan dibantu oleh anggota DI/TII yang bergerilya di daerah itu (DI/TII saat itu telah masuk dalah negara-bagian RPI) - namun segera tertangkap oleh TNI. Maksud Danny Maukar adalah untuk memperingatkan Soekarno yang sudah mulai "main mata" dengan PKI, serta menghendaki agar Pemerintah Pusat mau berunding dengan Permesta di Sulawesi. Rencana ini sebenarnya direncanakan untuk dilakukan pada tanggal 2 Maret 1960 sebagai hari peringatan Proklamasi Permesta, tapi gagal, juga rencana keesokan harinya tanggal 3 Maret, namun gagal lagi. Semua gerakan ini dilakukan oleh seluruh pejuang Permesta Sulut yang berada di Jakarta dengan sandi "Manguni" yang dikomandoi Ventje Sumual bersama Sam

Karundeng dan Danny Maukar. 15 Maret 1960 Pertemuan pertama antara Kolonel D.J. Somba dengan Broer Tumbelaka diadakan hari ini di desa Matungkas, dekat Airmadidi. Broer menegaskan, ia datang sebagai teman lama, meskipun diketahui oleh Kolonel Surachman dan Kolonel Soenarjadi (Kastaf Komando Operasi Merdeka di Sulawesi Utara yang baru), dengan harapan akan dapat membantu memulihkan perdamaian di Minahasa. Yus Somba mengatakan bahwa Joop Warouw selamanya memang menganjurkan bahwa "pintu belakang" dibiarkan terbuka bagi penyelesaian atas pemberontakan PRRI ini, dan bahwa Joop Warouw, Alex Kawilarang, Ventje Sumual, dan dia sendiri sepakat mengenai ini. Salah satu penasehat politik Waperdam Joop Warouw selaku Kepala Pemerintahan Sipil PRRI di Sulawesi, Prof.Mr. G.M.A (Laan) Inkiriwang, yang adalah Ketua Parlemen PRRI dan Menteri Kehakiman, ditahan Batalyon III/Brigade 999, Pimpinan Mayor Hans Karua (Korowa). Seorang penasehat politik Joop Warouw, Prof.Mr. G.M.A. Inkiriwang (juga sebagai Ketua Parlemen/Menteri Kehakiman) hari ini ditahan oleh Mayor Hans Korua, Komandan Batalyon 3/Brigade 999 pimpinan Jan Timbuleng. Sejumlah Menteri Kabinet PRRI juga telah ditangkap (Ir. Herling Laoh/mantan menteri Pekerjaan Umum RI, Wilhem Pesik, Otto Rondonuwu, dll - walau akhirnya dibebaskan kembali). Peristiwa itu didahului oleh tertangkapnya seorang kurir Joop Warouw yang membawa surat kepada Kolonel D.J. Somba yang isinya kecaman terhadap Jan Timbuleng, yang ditangkap oleh salah satu satuan Jan Timbuleng. Akibat peristiwa ini, penekanan terhadap keluarga serta pejabat sipil dimulai. Sejak itulah situasi menjadi semakin mencurigakan antara para perwira Permesta. Joop Warouw kemudian bertemu dengan Letkol J.M.J. (Nun) Pantouw, perwira intel KSAD Ventje Sumual (Assisten I/Intelejen KSAD RPI) dan Gerson Sangkaeng, Komandan Batalyon 2/Brigade 999. Hasil pertemuan itu, Nun Pantouw bersedia memberi bantuan satu satuan pasukan tambahan kepada Joop Warouw untuk meninggalkan wilayah kekuasaan Jan Timbuleng yang diketahui beraliran kiri tersebut. Pasukan Brigade 999 (Triple Nine) waktu itu menjadi terkenal sebagai pasukan tukang lucut karena rencana dan kegiatan yang disebut "matchts vorming". 27 Maret 1960 Gerakan yang dilakukan oleh beberapa anggota Pusat Kaveleri

23 Maret 1960

(a.l. Letnan Togas) di Bandung yang bermaksud untuk memaksa Pemerintah Pusat agar mengadakan perundingan dengan pihak Permesta di Sulawesi. 30 Maret 1960 Sistem pemerintahan daerah otonom Daerah Tingkat I Sulawesi Utara sesungguhnya dimulai hari ini pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah RI No.5/Tahun 1960 yang menetapkan pembagian wilayah administratif provinsi Sulawesi menjadi dua wilayah administratif masing provinsi Sulawesi Utara-Tengah (Sulutteng) dan provinsi Sulawesi Selatan-Tenggara (Sulseltra). Arnold A. Baramuli, SH ditunjuk sebagai pejabat Gubernur Sulawesi Utara dan Tengah. Kepala Pemerintahah Sipil Permesta/Kepala Pemerintahan PRRI di Sulawesi Joop WAROUW, ditangkap dan ditahan oleh Batalyon 7/Brigade 999 pimpinan Kapten Robby Parengkuan. Dalam peristiwa itu, kedua lutut Joop Warouw ditembak. Kemudian lututnya tersebut dibiarkan membusuk. Data ini menurut beberapa sumber intel Angkatan Darat TNI serta kesaksian beberapa orang pejabat pemerintahan sipil. Menurut saksi mata, rombongan Joop Warouw seusai mengadakan pertemuan puncak di Tompaso Baru, rombongan itu dibagi dua oleh pasukan 999 (Triple Nine). Yang pertama disuruh menempuh suatu arah tertentu, yang ternyata menuju lokasi posko KSAD sedangkan rombongan yang kedua, yaitu rombongan Joop Warouw disuruh menuju ke daerah Brigade 999 di sekitar sungai Ranoyapo. Di suatu tempat, Joop Warouw dipisahkan dari rombongan terakhir ini, lalu dia ditembak lututnya. Sedangkan rombongan yang ditinggalkannya langsung diberondong dengan tembakan sehingga semuanya tewas, termasuk diantaranya sekretaris Waperdam Joop Warouw, yaitu Nona Dolly Ompi dan Bupati Gorontalo Sam Bia, Danny Lumi, beberapa kerabat Joop Warouw, 3 orang penghubung, serta 3 orang mantri. Namun, seorang pengawal Joop Warouw berhasil melarikan diri, karena pada saat itu tubuhnya ditindih oleh mayat rekannya yang lain dan berpura mati. Kemudian katanya orang tersebut menjadi saksi atas peristiwa yang menimpa Joop Warouw. (Menurut pengakuan beberapa sumber/saksi mata, Joop Warouw ditangkap atas perintah KSAD, karena ia menentang berdirinya RPI yang akan memisahkan diri dari NKRI). 14 April 1960 Broer Tumbelaka bertemu dengan KSAD TNI Jenderal A.H. Nasution dan mendapat dukungan sepenuhnya untuk melanjutkan usaha mencapai suatu penyelesaian.

5 April 1960

29 April 1960

Sidang terakhir Mahkamah Militer AURI terhadap terdakwa Allan Lawrence Pope, bekas pilot pesawat B-26 AUREV, pada hari ini memutuskan, bahwa bersangkutan dijatuhi hukuman mati. Hari ini resmi berdiri Kotapraja Gorontalo. Tahun 1953, Sulawesi Utara menjadi daerah otonom berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1953. Daerah Bolaang Mongondow terpisah menjadi daerah otonom tingkat II pada tahun 1954, sehingga daerah Sulut wilaysah Gorontalo hanya meliputi bekas kawasan Gorontalo dan Buol yang berpusat di Gorontalo. Berdasarkan UU No 29/1959, maka daerah Sulut yang dimaksud dengan PP No 11/1953 dipisahkan menjadi daerah tingkat II, meliputi Daerah Kotapraja Gorontalo dan Daerah Tingkat II setelah dikurangi Swapraja Buol. Selanjutnya pada tanggal 20 Mei 1960, resmi berdiri Kotapraja Gorontalo dan pada tahun 1965 berubah menjadi Kotamadya Gorontalo. Hari ini, F.J. (Broer) Tumbelaka diangkat sebagai Wakil Gubernur provinsi Sulawesi Utara. Danny A. Maukar diseret dalam pengadilan Mahkamah Militer Angkatan Udara RI (AURI) dengan didampingi pengacaranya yaitu Hadeli Hasibuan dan dijatuhi hukuman mati dalam keadaan perang.

20 Mei 1960

25 Mei 1960

16 Juli 1960

Sidang Mahkamah Militer DA Maukar & Sam Karundeng

17 Agustus 1960

Keppres No.200/Th.1960 dan No.201/Th.1960 tanggal 17 Agustus 1960, tentang pembubaran partai politik Masjumi (Majelis Sjuro Muslimin Indonesia) dan PSI (Partai Sosialis Indonesia), karena "organisasi itu melakukan pemberontakan, karena pemimpinnya turut serta dengan pemberontakan apa yang disebut dengan 'PRRI' atau 'RPI' atau telah jelas memberikan bantuan terhadap pemberontakan".

Dalam pidato peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-15, Presiden Soekarno memaklumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda, yang merupakan tanggapan atas sikap Pemerintah Belanda yang dianggap tidak menghendaki penyelesaian secara damai mengenai pengembalian wilayah Irian Barat kepada Indonesia. Meskipun Republik Persatuan Indonesia (RPI) telah didirikan oleh tokoh PRRI, namun di daerah gerilya Permesta sendiri seperti di perbatasan Minahasa - Bolaang Mongondow, masih dilaksanakan Upacara Peringatan HUT Republik Indonesia secara resmi yang dihadiri oleh tokoh militer dan sipil Permesta. Awal Oktober 1960 Menurut sebuah sumber, peristiwa berkaitan dengan ditangkapnya Joop Warouw adalah sbb: Setelah Kepala Pemerintahah Sipil PRRI, Kol. J.F. "Joop" WAROUW ditangkap oleh Batalyon 7/Brigade 999 pimpinan Kapten Robby Parengkuan, maka KSAD RPI Ventje Sumual memanggil Jan Timbuleng, Komandan Brigade 999. Timbuleng berkenan, asal Joop Warouw juga diajak secara resmi. Maka Sumual pun membuat surat panggilan yang digunakan Jan Timbuleng untuk mencegah Joop Warouw untuk meninggalkan wilayah kekuasaannya. Padahal, secara diam melalui Kapten J.Lisangan, Komandan Batalyon 1/Brigade 999, Sumual berhasil mengumpulkan informasi tentang diri Warouw. Ternyata, selain Joop Warouw, juga telah ditahan sejumlah menteri kabinet. Dari Jan Timbuleng diketahui, penangkapan itu dilakukan karena melihat Joop Warouw telah memihak dan mendukung tokoh Permesta di wilayah utara Minahasa. KSAD RPI Ventje Sumual mengadakan rapat di Markas Besar Permesta di perkebunan Lindangan(?) - Tompaso Baru. Jan Timbuleng, Komandan Brigade 999 (Triple Nine) datang dengan Batalyon 3 dengan komandannya Mayor Hans Korua (KOROWA) dan Batalyon 4 dengan komandannya Benny Pandeiroth. Ketika itu, Timbuleng dan pasukannya tanpa sadar, jika sebetulnya pertemuan itu merupakan suatu taktik untuk menahannya. Ia juga tidak curiga, kalau Komandan Batalyon 1 J. Lisangan dan Komandan Batalyon 2 - Gerson Sangkaeng dan seluruh pasukannya tidak lagi setia mendukungnya. Karena itu, sementara Ventje Sumual membuat pertemuan dengan Jan Timbuleng dan perwiraya, satuan Gerson Sangkaeng melakukan pelucutan senjata atas pasukan Jan Timbuleng yang tengah

8 Oktober 1960

menunggu di luar. Mereka tidak mencurigai Gerson, karena mereka pikir, ia salah satu dari mereka juga. Dan sebagai akhir dari pelucutan itu, Gerson Sangkaeng memberi isyarat dengan menembakkan sebuah senapan mesin (50pt). Ketika itu juga, Sumual mengakhiri rapatnya, dan begitu Jan Timbuleng serta perwiranya melewati depan gardu pos, pasukan Sumual pun menawannya. Semula niat Ventje Sumual hendak membawa Jan Timbuleng dan sejumlah perwira Brigade 999 ke pengadilan militer. Namun sebelum itu terjadi, Jan Timbuleng yang tengah ditawan di tingkat atas sebuah rumah panggung, berhasil merebut senjata dari seorang pengawal dan melompat keluar jendela dan terbang ke atas rumpun bambu di dekat situ (dengan ilmu/jimat terbangnya) sembari berteriak minta bantuan. Kemudian seorang tentara pelajar asal Ambon (pelajar PTPG Tondano) yang tidak memiliki pegangan jimat diperintahkan untuk melepaskan tembakan ke tubuh Jan Timbuleng (dengan prosedur adat) yang tengah mengudara (karena katanya orang yang memegang jimat tidak akan mempan untuk membunuh Timbuleng). Jan Timbuleng yang dikenal kebal peluru (selama dia berdiri di atas tanah), pada saat itu juga tewas. Dari saku celananya berhasil didapat sebentuk cincin, sebuah arloji milik Joop Warouw, foto keluarga Warouw dan sejumlah surat dari J.Piet Mongula, Walikota Manado yang juga diketahui beraliran kiri/komunis (tanggal kematian Jan Timbuleng ini simpang siur. Ada yang mengatakan sehari setelah ia ditangkap tanggal 8 Oktober, sementara Goan Sangkaeng mengatakan bahwa ia dibunuh tanggal 10 Oktober. Namun kepastiannya adalah sekitar satu atau dua hari setelah penahanannya). Kematian Timbuleng membuat sejumlah perwira bawahannya mencoba untuk melarikan diri dari markas Sumual. Beberapa diantaranya, seperti Robby Parengkuan dan sejumlah anak buahnya berhasil melarikan diri dan kembali ke markas dimana Joop Warouw ditawan. Sadar akan hal itu, Ventje Sumual pun mengirim pasukan untuk menyelamatkan Joop Warouw. Namun usaha tersebut sia karena Joop Warouw telah dihabisi terlebih dahulu oleh anak buah Robby Parengkuan.

Brigade 999: Jan Timbuleng di tengah, gemuk & berbaret, serta Gerson (Goan) Sangkaeng di paling kanan

13 Oktober 1960

Pertemuan perundingan lanjutan antara Permesta dan Pemerintah Pusat gagal diadakan hari ini di Lahendong - Tomohon. Yang hadir di pertemuan ini yaitu Kolonel D.J. Somba (Selaku Komandan KDM-SUT), Letkol tituler A.C.J. Mantiri (Sekjen Dephan Permesta), Kolonel Lendy R. Tumbelaka (Saudara sepupu Broer Tumbelaka), Wagub Broer Tumbelaka yang didampingi ayah Joop Warouw yang ingin mendapat keterangan mengenai anaknya. Kepala Pemerintahan PRRI di Sulawesi, Waperdam Joop WAROUW dieksekusi di daerah Tombatu oleh salah satu anak buah Kapten Robby Parengkuan bernama Hemanus Jus dari Batalyon 7/Brigade 999, atas perintah lisan Jan Timbuleng sebagai Komandan Brigade 999. Hal ini dikarenakan Joop Warouw tidak mau Joop Warouw menandatangani naskah surat perintah tentang pengangkatan Jan Timbuleng menjadi Panglima KDM-SUT (Komando Daerah Militer Sulawesi Utara-Tengah) menggantikan Kolonel D.J. Somba (selain atas sebab lain yaitu Jan Timbuleng yang tewas). Akibat peristiwa ini, terjadilah krisis kepemimpinan dalam tubuh Permesta. Pasukan Permesta di wilayah Utara sudah tidak lagi mengakui kepemimpinan KSAD RPI Brigjen Ventje Sumual. Perwira Permesta di wilayah Utara sepakat untuk kembali ke asalnya yaitu Angkatan Perang Permesta, bukan lagi mengusung nama PRRI, karena pemerintahan tandingan ini telah bubar, serta pimpinan pemerintahan sipil PRRI dan Permesta di Sulawesi,

15 Oktober 1960

yaitu Joop Warouw, sudah terbunuh. Robby Parengkuan serta sekitar seribu anggota bersama keluarga Batalyon 7/Brigade 999 lalu menyerahkan diri kepada pasukan Tentara Pusat.
(Namun, berdasarkan beberapa sumber, kematian Joop justru berkaitan erat dengan sikap Joop Warouw yang tetap mengakui PRRI, dan menolak negara baru RPI di dalam NKRI, serta memberikan surat cuti dinas kepada KSAD Ventje Sumual - hal mana membuat Sumual berang). (Jenasahnya dicari atas perintah Presiden Soekarno, lalu Gubernur Sulut H.V. Worang, dan Presiden Soeharto, namun gagal. Baru ditemukan tanggal 20 Agustus 1962 oleh Tim bentukan Ketua Sinode GMIM, Pdt. K.H. Rondo).

Masa anti-Klimaks Permesta (Likuidasi Permesta)


November 1960 Jenderal Mayor Alex Kawilarang, yang sebelumnya menolak pengangkatan PRRI atas dirinya sebagai KSAP, bulan ini mengambil alih seluruh komando pasukan Permesta atas desakan para perwira Permesta di Utara. Kekuasaan KSAD RPI Brigjen Ventje Sumual tidak diakui lagi. Dengan demikian, nama yang dipakai oleh pasukan Permesta di Minahasa Utara adalah Angkatan Perang Permesta, bukan lagi mengusung nama Angkatan Perang Revolusioner PRRI, karena PRRI telah dibubarkan sehari sebelum RPI berdiri. Jenderal Mayor Alex E. Kawilarang secara resmi menjadi Panglima Besar Angkatan Perang Permesta. Sedangkan jabatan Kepala Staf Angkatan Perang Permesta, dia menunjuk Kolonel Dolf Runturambi untuk menjabatnya. Kolonel Dolf Runturambi mengungsi ke wilayah Utara karena ada ancaman mati dari Brigade 999, walau dalam perjalanannya ke Utara, ia dengan segala alasan, hanya dilucuti senjatanya. Ia mengirimkan surat kepada Jan Timbuleng dan Laurens Saerang masing sebagai komandan Brigade 999 (Triple Nine atau 3x9 atau Tiga-Sembilan) dan komandan Brigade Manguni untuk meminta jaminan keselamatan akan rombongannya untuk melewati wilayah mereka, padahal ia melewati pantai barat Minahasa melewati pegunungan Lolombulan di daerah Motoling. Setelah berita terbunuhnya Kepala Pemerintahan Sipil PRRI di Sulawesi merangkap Waperdam/Menteri Pertahanan Joop Warouw tersiar, maka mulai hari ini, Panglima Besar Angkatan

4 Desember 1960

Perang Permesta Alex Kawilarang memerintahkan kepada seluruh pasukan dan pemerintahah sipil Permesta agar diadakan tujuh hari berkabung bagi alm. Joop Warouw. Berita kematian Joop Warouw ini sudah diketahui kedua belah pihak (pasukan Permesta dan Tentara Pusat) pada saat menjelang bulan November lalu. 13 Desember 1960 Melihat pertumbuhan yang pesat disegala bidang baik di sektor pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan, Pemerintah Pusat menganggap perlu mengubah sebutah provinsi Sulawesi Utara Tengah menjadi Daerah Tingkat I (Dati I atau Daerah Swantara tingkat Pertama) Sulawesi Utara Tengah dengan dikeluarkannya Undang Darurat No. 47 Prp. Tahun 1960. Gubernur Sulawesi Utara (Sulutteng) yang baru -pertama kali (versi Pemerintah Pusat) adalah Arnold Achmad Baramuli, SH. yang dijabat dari tanggal 23 September 1960 sampai 15 Juni 1962 yang adalah gubernur termuda di Indonesia saat itu (30 tahun). Sebelumnya ia adalah Jaksa Distrik Militer provinsi Sulawesi dan wilayah Indonesia Timur dengan pangkat Letkol Tituler. Brigjen Ventje Sumual mengirimkan kawat kepada para komandan distrik (WK) dan batalyon Permesta, dengan perintah agar jika benar laporan mengenai pertemuan pimpinan tertentu tentara RPI (PRRI telah dibubarkan sebelumnya) dengan musuh, tindakan demikian harus dianggap sebagai pengkhianatan, dan harus dilancarkan usaha untuk mencegahnya (dibunuh). Ventje Sumual memang tidak diajak berunding oleh perwira Permesta di Minahasa Utara dengan Pemerintah Pusat. Pada pertemuan hari ini antara F.J. (Broer) Tumbelaka, A.C.J. (Abe) Mantiri, Arie W. Supit, persetujuan dicapai mengenai prosedur yang akan diambil untuk mengakhiri pemberontakan. Langkah yang akan diambil sebagai berikut: 1) seruan oleh Menteri Pertahanan/Kepala Staf Jenderal A.H. Nasution kepada kaum pemberontak agar kembali ke pangkuan ibu pertiwi; 2) pernyataan resmi dari pihak Permesta bahwa mereka telah kembali ke "pangkuan Ibu Pertiwi"; 3) gencatan senjata (cease-fire); 4) pertemuan resmi untuk membahas masalah teknis militer seperti masalah pembekalan dan penempatan pasukan Permesta di daerah yang ditentukan; 5) inspeksi atas bekas pasukan Permesta oleh Menteri Pertahanan/Kepala Staf A.H. Nasution.

15 Desember 1960

17 Desember 1960

KSAD TNI Jenderal A.H. Nasution secara pribadi menjamin kepada Broer Tumbelaka, bahwa ia "tetap kuat untuk membela terhadap tarikan kiri-kanan", dan dalam sebuah pidatio yang disiarkan RRI Manado pada hari ini, ia membahas hal ini dan lain hal yang penting dalam perundingan antara Permesta dan TNI. Ia mengumumkan ditetapkannya peraturan yang memberikan hak otonomi kepada provinsi Sulawesi UtaraTengah yang akan berlaku sejak Januari 1961. 1961 Dalam data statistik Sensus Penduduk 1961, penduduk Minahasa pada tahun 1961 berjumlah 581.836, sudah termasuk Kota Manado sebanyak 129.912 jiwa. Wakil Gubernur Sulutteng F.J. (Broer) Tumbelaka, berkunjung ke desa Malenos untuk menugaskan Victor Adoelf Tutu sebagai Hukum Tua (=kuntua / kepala desa) Desa Malenos untuk menjadi penghubung antara pemerintah dan pasukan Permesta, dan mencari lokasi yang aman untuk tempat mengadakan perundingan. Perundingan pertama, diadakan di perkebunan Ritey, dekat hulu Sungai Malenos. Pihak pemerintah diwakili Broer Tumbelaka sebagai Wakil Gubernur Sulut, sedangkan pihak Permesta diwakili oleh Johan Tambajong. Perundingan ini menghasilkan kesepakatan untuk mengadakan perundingan lanjutan di desa Malenos dan akan mempertemukan pimpinan pasukan Permesta dan TNI. Perundingan lanjutan diadakan di gedung Gereja GMIM Malenos, yang dihadiri utusan pemerintah RI adalah Wagub Broer Tumbelaka dan Perwira Staf Kodam XIII/Merdeka, Kol. Supangat. Sedangkan utusan Permesta diwakili oleh Johan Tambajong dan Wim Tenges selaku Komandan Brigade WK III. Selama perundingan berlangsung, keamanannya dijaga ketat oleh pasukan Batalion A/Kompi Buaya di bawah pimpinan Kapten Permesta Anthon Tenges. Perundingan berjalan baik dimana masing pihak saling memahami dan berjabat tangan, maka lahirlah persetujuan perdsamaian untuk mengakhiri perang saudara. Dalam perundingan tersebut, telah diputuskan bersama untuk mengadakan gencatan senjata dan upacara pembuatan naskah perdamaian antara pemerintah RI dengan pasukan Permesta, dan disepakati diadakan di Desa Malenos Baru yang sekarang ini sudah jadi pemukiman penduduk. Jarak dari Desa Malenos ke Desa Malenos Baru cukup dengan menempuh kira

Awal tahun 1961

1.500 meter. 11-15 Februari 1961 Dalam periode waktu ini, ada 11.343 orang dari Brigade Manguni dibawah komando Kepala Daerah Minahasa Permesta Letkol Laurens F. Saerang, anggota Pasukan Wanita Permesta (PWP) dan orang dari lima pangkalan gerilya di LangowanKakas, dibawah pimpinan Laurens F. Saerang, menyerah kepada Pemerintah Republik Indonesia. Mereka diterima dalam suatu upacara resmi pada tanggal 15 Februari 1961 oleh Brigjen Ahmad Yani (wakil KSAD TNI, serta Kepala Komando Wilayah Indonesia Timur sejak Januari 1960). Laporan terakhir menyatakan, ada 6.000 pasukan, 2.000 pengikut, serta 1.003 senjata diserahkan pada saat itu. Pertemuan di desa Malenos diadakan antara Broer Tumbelaka dengan perwira Permesta seperti Yus Somba, Lendy Tumbelaka, dan Abe Mantiri. Broer mendesak agar suatu persetujuan akhir diputuskan dengan cepat. Sebelumnya, Broer menulis sebuah surat yang panjang kepada D.J. Somba yang mendesak agar suatu persetujuan akhir diputuskan dengan cepat. Di Jakarta dilangsungkan penandatanganan perjanjian pembelian senjata dari Uni Soviet kepada Pemerintah Pusat Indonesia atas dasar kredit jangka panjang. Pembelian senjata tersebut adalah pembelian senjata terbesar yang pernah dilakukan dari luar negeri sampai saat itu. antara lain: 275 tank, 560 kendaraan militer untuk Angkatan Darat; lebih dari 150 pesawat berbagai jenis untuk Angkatan Udara; 4 corvet, 24 kapal torpedo, 2 kapal selam dan lain untuk Angkatan Laut. Bantuan perlengkapan senjata dari Blok Uni Soviet dan Eropa Timur dalam jumlah begitu besar, menyebabkan pemerintah Amerika Serikat meninjau kembali politik permintaan senjata Amerika Serikat oleh Indonesia. Pamplet yang berisi seruan KSAD TNI Jenderal A.H. Nasution disebarkan sejak hari ini, dan bahwa upacara penandatanganan resmi pernyataan Kolonel Permesta D.J. Somba mengenai kembalinya ke pangkuan Republik Indonesia akan dilangsungkan pada tanggal 4 April, dan gencatan senjata akan berlaku sejak 11 April. Menurut keterangan Jenderal Nasution, dalam perang melawan tentara Permesta banyak korban yang jatuh dari pihak TNI. Dikatakan, rata tiap hari jatuh 5 orang korban di pihak TNI.

12 Februari 1961

4 Maret 1961

31 Maret 1961

April 1961

Berdasarkan keterangan ini dapat diperkirakan jumlah kerugian nyawa yang diderita Tentara Pusat sejak Februari 1958 sampai Maret 1961, yaitu 3 thn x 365 hari x 5 orang = 5.475 orang. 2 April 1961 Pertemuan pendahuluan di desa Lopana/Tumpaan (dimana Permesta diwakili oleh Panglima Besar Permesta Mayjen Permesta Alex Kawilarang serta Pemerintah Pusat diwakili oleh Deputi I KSAD, Brigjen TNI Ahmad Yani) guna menjajaki rapat "Penyelesaian Permesta". Selain itu juga diadakan pertemuan antara Kolonel Permesta D.J. Somba dan Kolonel TNI Soenandar Priosudarmo di Lopana. Pasukan Zeni Kodam XIII/Merdeka membuat suatu lapangan untuk tempat upacara pertemuan pendahuluan penyelesaian Permesta. Tempat itu sekarang yakni berada di sekitar rumah Gereja GMIM Eben Haezer Malenos Baru. Upacara Perdamaian Permesta dan Pemerintah Pusat. Penyelesaian masalah Pergolakan Permesta di Malenos Baru (saat itu masih berupa hutan jati), Amurang, yaitu Upacara Penandatangan Kembalinya Pasukan Permesta dari Mayor D.J.Somba selaku Komandan KDM-SUT kepada Ibu Pertiwi. Pembacaan pernyataan dibacakan oleh Drs. Andri Sampow (waktu itu masih sebagai mahasiswa). Pihak TNI diwakili Panglima Kodam XIII/Merdeka, Kolonel Soenandar Priosudarmo, dan pihak Permesta diwakili oleh Kolonel (Permesta) Lendy R. Tumbelaka dan Letkol tituler A.C.J. Mantiri (bekas direktur Pelayaran Rakyat Indonesia di Manado, yang tak lain adalah suami dari sepupu Alex Kawilarang) sebagai perunding utama dari Permesta, disamping Panglima Besar Mayjen (Permesta) Alex E. KAWILARANG dan Kolonel (Permesta) D.J. SOMBA. Panglima Kodam XIII/Merdeka, Kolonel Soenandar Priosudarmo didampingi Kepala Kepolisian Sulutteng, Drs. Moerhadi Danuwilogo, komandan Tim Perjuangan Resimen, Letkol Sampurno, serta beberapa perwira lain dari Kodam XIII. Selain Komandan KDM-SUT, Kolonel Permesta D.J. (Yus) Somba, Permesta juga diwakili oleh Deputi III Panglima Besar Permesta, Kolonel Permesta Lendy R. Tumbelaka, Kolonel Permesta Wim Tenges, dan Sekjen Dephan Permesta, Letkol tituler Permesta A.C.J.(Abe) Mantiri. Upacara ditutup dengan berbarisnya sepasukan Permesta (kompi) dari Kapten Lengkong Worang dari Sekolah Pendidikan Angkatan Darat (SPAD) Permesta, yang meski ada diantara

3 April 1961

4 April 1961

mereka yang tidak bersepatu, persenjataannya lengkap. Surat Pernyataan penghentian tindak permusuhan Permesta-TNI di Minahasa, disaksikan Panglima Besar Angkatan Perang Permesta Jenderal Mayor Alex Kawilarang disatu pihak dan Jenderal Mayor TNI Hidayat dan Panglima KDM XIII/Merdeka Kolonel Soenandar Priosoedarmo pada pihak lain, yang lengkapnya berbunyi sebagai berikut: 1. 2. 3. Setelah membatja seruan Menteri Keamanan Nasution/KSAD tertanggal 3 Maret 1961; Mengingat keputusan terachir dari putjuk pimpinan Angkatan Perang Revolusioner; Menimbang, bahwa persengketaan antara kita dengan kita jang telah berlangsung selama 3 tahun ini, telah meminta pengorbanan jang tidak terhingga dari rakjat Indonesia pada umumnja dan rakjat Sulawesi Utara dan Tengah pada chususnja sehingga kami telah sampai pada kesimpulan bahwa keadaan sematjam ini tidak dapat dibiarkan terus; Demi untuk keselamatan dan kesentosaan bangsa Indonesia, rakjat dan daerah Sulawesi Utara/Tengah chususnja, persengketaan tersebut perlu segera dihentikan. Maka oleh karenanja dengan ini menjatakan bahwa mulai tanggal 4 April 1961, kami dengan seluruh pasukan dan rakjat Permesta jang berada dalam lingkungan pimpinan kami telah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi; Segala persoalan jang timbul sebagai akibat daripada penghentian persengketaan ini, akan diatur oleh jang diwajibkan untuk itu oleh pemerintah RI; Semoga Tuhan Jang Maha Esa melimpahkan rahmat, hidajat serta taufikNja atas kita sekalian. Ditempat, 4 April 1961 Panglima KDMSUT (D.J. Somba) Dengan demikian terhitung mulai hari ini, Permesta sudah dinyatakan berakhir, dan telah berdamai dengan pusat tanpa ada yang kalah, maupun menang. Penting untuk dicatat, bahwa Yus Somba menandatangani dokumen ini sebagai Komandan KDM-SUT, meski secara resmi sudah dibubarkan pada 23 Agustus 1958; hal ini berarti ia dan pasukan Permesta yang menyerahkan diri itu diakui sebagai bekas anggota TNI.

4.

5.

6.

Untuk penyaluran para ex-Permesta diatur dalam dokumen "Ketentuan Mengenai Penjaluran ex-Anggota Permesta" tertanggal 4 April 1961.

11 April 1961

Gencatan senjata (cease-fire) antara pasukan Permesta dan Tentara Pusat dilakukan hari ini. Upacara defile "Penyelesaian" penyambutan kembalinya Permesta ke pangkuan RI secara resmi diadakan di Susupuan, yaitu perbatasan kota Tomohon dengan Desa Woloan, yang mana GMIM selaku fasilitator yang mempersiapkan lahan upacara pertemuan. Sekitar 30.000 tentara Permesta di Sulawesi Utara saat itu keluar dari hutan setelah diadakan perundingan damai antara PermestaPemerintah Pusat. Dalam upacara tersebut, disiapkan pasukan Permesta dan TNI masing berkekuatan satu brigade, berparade di lapangan upacara Woloan. Hadir dalam parade tersebut, utusan pusat Wakil Menteri Pertahanan Mayjen TNI-AD Hidayat (perwira senoir TNI-AD), Brigjen TNI Ahmad Yani, Panglima Kodam XIII/Merdeka Kolonel TNI Soenandar Priosoedarmo beserta staf, dan petinggi Permesta; Panglima Besar Permesta Mayjen Alex E. Kawilarang, KSAP Permesta Kolonel Dolf Runturambi, Kastaf AUREV Kolonel AUREV Petit Muharto Kartodirdjo, Panglima KDM-SUT Kolonel Permesta D.J. Somba, Komandan WK-III Kolonel Permesta Wim Tenges, Staf Markas Komando Permesta, a.l. Kolonel Permesta Lendy R. Tumbelaka, Letkol tituler Permesta A.C.J. Mantiri (Sekjen Dephan Permesta), staf komando Angkatan Perang Permesta lainnya, atase militer negara asing antara lain Kolonel George Benson dari Kedubes

14 April 1961

Amerika Serikat (yang dulunya ikut mengkoordinasikan penyaluran senjata kepada Permesta), Gubernur Sulutteng Arnold A. Baramuli, SH, Wagub F.J. (Broer) Tumbelaka, dan stafnya, anggota pemerintahan setempat, serta masyarakat. Parade diadakan dua kali, yaitu untuk Wakil Menteri Pertahanan RI Mayjen TNI Hidayat dan kedua kalinya untuk Panglima Besar Permesta Mayjen Alex E. Kawilarang. Dalam upacara ini juga WAKASAD (Wakil KSAD) Mayjen TNI Hidayat menerima Mayjen Permesta Alex E. Kawilarang sebagai seorang teman lamanya, selain beberapa perwira seperti Pangdam XII/Merdeka Kolonel TNI Soenandar dengan Kastaf Angkatan Perang Permesta, Kolonel Permesta Dolf Runturambi, yang adalah sekelas di SSKAD 54/55. Alex Kawilarang sulit menyembunyikan kekesalannya terhadap Bung Karno. Hal itu tersirat dari percakapan awal pertemuannya dengan JJ Pitoy yang dihadiri wartawan S.E.Panggey, begitu berjabat tangan, langsung membuka percakapan dengan kata: "Bagaimana dengan Soekarno-mu ?" Ia terus melanjutkan kata yang bernada sindiran terhadap Bung Karno begitu berjabat tangan tangan dengan S.E.Panggey yang oleh Mr J.J.Pitoy diperkenalkan sebagai wartawan Permesta yang baru saja keluar bui (penjara) (sekitar 2 tahun berada dalam tahanan karena sebagai wartawan, S.E.Panggey telah ikut mendarat ke Morotai dengan Permesta pimpinan Mayor Nun Pantouw. Kapal terakhir yang membawa perbekalan bagi Angkatan Perang Permesta tiba saat upacara defile ini berlangsung, yang disebut Permesta sebagai "Apel para Pahlawan". Setelah upacara, Petit Muharto pergi ke luar negeri dengan kapal ini ke Singapura dan baru kembali ke Indonesia setelah 1966. Setelah itu, perwira Permesta kembali ke markas. Beberapa hari kemudian, markas Staf Angkatan Perang Permesta dipindahkan ke Tara-tara. Urusan administrasi personil dan pasukan Permesta dikerjakan di Taratara dan Woloan. Para anggota pasukan Permesta kemudian diberhentikan dengan hormat dari dinas militer Permesta, dan diberikan piagam pemberhentian yang dimaksud (piagam tersebut tertulis "Panglima Besar - Angkatan Perang Permesta : Alex Kawilarang - Jenderal Mayor). Likuidasi Pasukan Permesta ini dilakukan sampai pada sekitar bulan September tahun itu. Hubungan dengan Kodam XIII/Merdeka dilakukan dengan kurir. Keluarga sudah boleh mengunjungi keluarga mereka di kota dan dapat tingal bersama keluarga yang menampungnya. Anggota pasukan Permesta tetap berada di

daerah yang didudukinya. Mereka tidak diperkenankan keluar daerahnya tanpa izin dari komandan masing dan komandan pasukan TNI di daerah dekat. Membawa senjata keluar daerah masing tidak diperkenankan.

Defile tentara Permesta diterima Brigjen Ahmad Yani

April 1961

Kolonel (Permesta) D.J. Somba dan pasukannya memimpin suatu aksi pemberontakan. (Kelak setelah mendapat amnesti serta dikarantinakan politik selama 10 hari di Jakarta, kemudian menerima kembali pangkat resmi sebagai Mayor TNI dan pensiun dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel). Menurut keterangan Jenderal A.H. Nasution, dalam perang melawan tentara Permesta banyak korban yang jatuh dari pihak TNI. Dikatakan, rata tiap hari jatuh 5 orang korban di pihak TNI. Berdasarkan keterangan ini dapat diperkirakan jumlah kerugian nyawa yang diderita Tentara Pusat sejak Februari 1958 sampai Maret 1961, yaitu 3 thn x 365 hari x 5 orang = 5.475 orang.

12 Mei 1961

Pertemuan diadakan di rumah Keluarga Hans Tular di Tomohon mulai pukul 09.00 antara Panglima Besar Permesta Mayor Jenderal (Permesta) Alexander Evert Kawilarang dengan Kepala Staf TNI-AD Jenderal (TNI) Abdul Haris Nasution, yang turut dihadiri oleh seorang perwira CPM, KSAP Permesta Kolonel Dolf Runturambi, Sekjen Permesta Letkol tituler A.C.J. (Abe) Mantiri. Mengenai penyelesaian pasukan Permesta, KSAD TNI Jenderal A.H. Nasution menjelaskan:
a. (a) perwira bekas TNI tetap akan memiliki tanda pangkat TNI yang dimilikinya pada 17 Februari 1958; b. (b) perwira yang sekarang mempunyai tanda pangkat yang

lebih tinggi dari pangkat 17 Februari 1958, dapat diterima kalau sesuai dengan jabatan yang dipegangnya sekarang; c. (c) komandan kompi/regu/peleton yang bukan ex. TNI akan dimasukkan dalam pendidikan untuk jabatan yang mereka duduki sekarang; pemuda yang menjadi anggota pasukan akan diberikan pendidikan militer; d. (d) pelajar boleh kembali ke bangku sekolah; e. (e) mengenai angkatan lain seperti Polri-AURI-ALRI mereka boleh kembali ke kesatuan masing setelah melapor kepada sebuah panitia yang akan dibentuk bersama antara TNI dan Permesta; f. (f) anggota pemerintahan sipil dapat kembali ke jawatannya semula sesuai dengan ketentuan yaitu, melalui panitia yang disebut pada sub e di atas.

Kemudian setelah pertemuan, KSAD TNI Jenderal A.H. Nasution bersama rombongan yang terdiri dari perwira stafnya, Kodam XIII/Merdeka, atase militer negara asing, D.J. Somba dan Dolf Runturambi bersama dengan rombongan lainnya menuju Papakelan - Tondano, dan diadakan parade oleh satu brigade pasukan Permesta dan brigade TNI AD. KSAD TNI Jenderal A.H. Nasution menerima penghormatan tersebut. Panglima Besar Permesta Alex E. Kawilarang dari pertemuan di Tomohon, langsung kembali ke Woloan dan Taratara, karena ia masih kurang sehat akibat flu yang dideritanya dua hari sebelumnya. Para perwira Permesta tersebut kemudian menerima kembali pangkat mereka saat sebelum 17 Februari 1958. Namun permasalahannya kemudian terletak pada posisi Alex E. Kawilarang, karena selain sebagai perwira senior TNI, juga pangkatnya sangat tinggi, yaitu Jenderal Mayor Permesta. Akhirnya diambil keputusan bahwa ia akan diberikan pensiun (purnawirawan).
(Tetapi belakangan Kawilarang kecewa pada Nasution yang tidak menepati janjinya: Sejumlah perwira Permesta ditahan dan yang lainnya diturunkan pangkat. Ribuan pasukan Permesta setiba mereka di pulau Jawa tanpa diduga dilucuti senjatanya dan dimasukkan ke kamp konsentrasi/rehabilitasi. Sebagian lagi dikirim ke perbatasan Kalimantan Utara dan berperang melawan tentara Inggris Ghurka/Dwikora).

Kepala Staf Angkatan Perang RPI, Brigjen. Ventje Sumual saat itu belum menyerahkan diri. Ia masih di hutan menunggu perintah dari Sjafruddin Prawiranegara selaku sebagai Perdana

Menteri RPI. Tinggal kurang dari 200 orang pasukan yang masih menjadi anak buahnya. Anggota keluarga, orang sipil lain, serta mereka yang sakit dan cacat diperbolehkan menyerah pada bulan Mei. Ny. Sumual, Ny. Hetty Gerungan-Warouw, Ny. J.H.Pantouw-Macawalang dan Gubernur Permesta H.D. Manoppo berada dalam kelompok ini. 29 Mei 1961 Secara resmi Ahmad Husein melaporkan diri dengan pasukannya, disusul oleh tokoh RPI yang lain, baik sipil maupun militer. Kelompok M. Simbolon dan Achmad Husein memang memisahkan dengan RPI (Republik Persatuan Indonesia), lalu mebentuk Pemerintah Darurat Militer, sama seperti yang dilakukan Alex Kawilarang dan kawannya di Sulawesi. Mereka telah melangsungkan perundingan antar tahun 1958-1959 di Singapura, Hong Kong dan Jenewa, namun menemui kegagalan. bulan Juni dan Juli mereka menyerahkan diri dengan sejumlah 24.500 orang. Permesta mendapat amnesti dan abolisi dari Presiden Soekarno melalui KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NO. 322 TAHUN 1961 Tentang "Pemberian AMNESTI dan ABOLISI Kepada Para Pengikut Gerakan `Permesta` Dibawah Pimpinan Kawilarang, Saerang, dan Somba yang Memenuhi Panggilan Pemerintah Kembali Kepangkuan Ibu Pertiwi". Amnesti dan abolisi ini diberikan kepada para pengikut gerakan "Permesta" dibawah pimpinan Alex Kawilarang, Laurens Saerang dan D.J. Somba yang telah memenuhi panggilan Pemerintah untuk kembali kepangkuan Ibu Pertiwi. Dengan memberikan amnesti, maka semua akibat hukum pidana terhadap pengikut gerakan Permesta dibawah komando Alex Kawilarang dan Laurens Saerang dihapuskan. Dengan memberikan abolisi, maka penuntutan terhadap pengikut gerakan Permesta dibawah komando Alex Kawilarang dan Laurens Saerang ditiadakan. Pelaksanaan dari keputusan ini dilanjutkan oleh Menteri Keamanan Nasional sedangkan kelanjutannya (follow-up) menjadi tugas departemen yang bersangkutan dibawah koordinasi Menteri Keamanan Nasional. Amesti ini dinyatakan kepada mereka "yang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi".

22 Juni 1961

Amnesti

dan

abolisi

ini

tidak

disetujui

oleh

PKI.

Alex E. Kawilarang, D.J. Somba, Wim Tenges, Lendy R. Tumbelaka, Laurens F. Saerang langsung direhabilitasi namanya oleh Presiden Soekarno, sedangkan yang lainnya diberi komentar "Revolusi belum selesai dan tuan ini adalah penghalang roda revolusi," kata Soekarno kepada para bekas perwira Permesta yang lainnya dan kemudian ditahan tanpa melalui proses pengadilan. Mayor D.J. Somba sempat ditahan (karantina politik) selama 10 hari di Jakarta. Pasukan Brigade Anoa (sebelumnya adalah Batalyon Q) pimpinan Mayor J. Lumingkewas yang bertahan di daerah Kotambunan - Bolmong, terperangkap diantara gerombolan pasukan Brigade 999 ("CTN/Garda Nasional" RPI) dan kepungan pasukan TNI, setelah menerima berita perdamaian tersebut, kemudian diangkut truk lalu naik kapal laut menuju Bitung. Selanjutnya pasukan ini dikirim ke Jawa Timur untuk kemudian dilatih di sana dan berangkat ke Irian barat menghadapai Belanda dalam rangka Operasi Trikora. Sebagian besar pasukan yang adalah gabungan ex. KNIL-TNI ini gugur di sana. Bekas tentara Permesta yang dilatih di Minahasa selama beberapa minggu kemudian dikirim ke Kamp Rehabilitasi/Latihan di daerah Jawa Timur dalam beberapa tahap untuk persiapan dikirim untuk Operasi Pembebasan Irian Barat, Operasi Dwikora, dll. Antara lain mereka naik kapal angkut pasukan ADRI "Aronda" dan tiba di Tanjung Perak Surabaya tanggal 1 September 1961, kemudian ditampung di Kamp Konsentrasi Dinoyo. Mereka di sana selama masa rehabilitasi diperlakukan dengan baik. Mereka menerima sabun mandi, rokok dan sedikit uang saku. Meskipun demikian, satuan Permesta yang dikirim pada pemberangkatan awal mengakui dalam surat yang dikirimkan kepada keluarga dan teman mereka bahwa mereka tidak diperlakukan dengan baik, senjatanya langsung disita di tempat latihan/rehabilitasi tersebut, sehingga timbul beberapa insiden di Bitung yang menolak untuk dikirim ke sana, dll. Setelah selesai masa rehabilitasi kami diberikan 3 pilihan yaitu kembali ke bangku sekolah, kembali ke masyarakat dan masuk TNI. Setelah dites ternyata hanya sedikit yang tembus. Sedangkan sebagian besar kembali ke masyarakat. Sebagian bekas pasukan Permesta (eks-Meta) diterima menjadi tentara APRI atau kembali ke kesatuannya. Beberapa perwira Permesta, seperti D.J. Somba dan Lendy R.

Tumbelaka ditarik ke Bakin (Badan Koodinasi Intelejen Negara), juga beberapa diantaranya yang mendapat tugas di MBAD (Mabes TNI-AD). Para pemuda Permesta lainnya menempuh Sekolah Lanjutan Peralihan di Manado yang disediakan Pemerintah Pusat, setelah Penyelesaian Permesta (Kelak mereka mendirikan sebuah organisasi yang dianggap sebagai forum pembinaan dengan nama Ikaselanpe/Ikatan Alumni Sekolah Lanjutan Menengah Peralihan di Jakarta).

10 Juli 1961

Setelah sebelumnya pada bulan yang sama, Nun Pantouw serta adik perempuan Ventje Sumual, Evert (salah satu pimpinan PWP) ditangkap oleh pasukan Permesta yang sudah kembali ke TNI (disergap dalam sebuah acara di daerah Tombatu), Broer Tumbelaka datang bertemu dengan keduanya hari ini dan menyerahkan mereka kepada Kolonel Soenandar Priosoedarmo atas permintaan kedua orang itu sendiri. Suatu upacara di Manado diadakan hari ini untuk menyambut dan menegaskan amnesti dan abolisi terhadap Permesta serta penghapusan tuduhan resmi yang mungkin akan diadakan terhadap pasukan Permesta. Sebagai hasil penyelesaian dengan Alex E. Kawilarang dan D.J. Somba, diperkirakan 27.055 orang, 25.176 diantaranya anggota militer, 8.000 diantaranya bersenjata, mengakhiri pemberontakan mereka. Dari jumlah ini, diperkirakan 5.000 orang adalah bekas anggota TNI. (Daftar ini tertanggal 6 April 1961 yang ditandatangani oleh Lendy R. Tumbelaka, sebagai kepala tim penengah KDM-SUT; hampir separuh mereka yang dimasukkan, yakni 13.673 orang, berada di Distrik III [WK-III]; terdapat 3.000-4.000 orang di ketiga Distrik/WK lain. Terdapat sekitar 3.000 senjata yang terdaftar di WK-II dan WK-III. Pada bulan Februari 1961, Yus Somba memperkirakan kekuatan total Permesta sekitar 43.000 orang, 5.000 diantaranya dari KDM-SUT [mungkin bekas TNI dari satuan manapun], dan 9.000 bekas anggota KNIL [1.000 diantaranya sudah pensiun]. Jumlah Pasukan Wanita Permesta yang menyerahkan diri saat itu antara 1.413 [angka dari Annie Kalangie], dan 1.502 dalam daftar 6 April 1961 ini). Setelah masa screening, 8.000 orang dikirim ke Jawa Timur untuk karantina politik dan reindoktrinasi sebelum diterima (atau diterima kembali) ke dalam TNI. Sejumlah 11.000 orang, militer

29 Juli 1961

maupun sipil, telah menyerah bersama dengan Brigade Manguni dan Laurens Saerang, dan sejumlah satuan Permesta lainnya telah menyerah kepada pasukan TNI setempat. Tinggal kelompok di Minahasa Selatan, Ventje Sumual, Nun Pantouw, dan kedua batalyon dari Brigade 999 (Bn. Goan dan Bn. Lisangan): diperkirakan sejumlah 1.500 orang, 900 diantaranya bersenjata. 17 Agustus 1961 Panpres No.449/Th.1961 Tentang Amnesti dan Abolisi secara luas, selain kepada PRRI dan Permesta, juga kepada pemberontak DI/TII Daud Beureuh, Republik Maluku Selatan (RMS), DI/TII Kahar Mudzakkhar, dll, dengan syarat harus melapor selambatnya tanggal 5 Oktober 1961 sudah harus melapor diri. Bekas KSAU AUREV Petit Muharto Kartodirdjo pergi ke Kuala Lumpur untuk kemudian menghadiri penandatanganan pernyataan untuk kembali ke pangkuan RI. Setelah penandatanganan itu, dia menerima sebuah perintah dari Alex Kawilarang untuk menyusun kepulangan keluarga Permesta yang tetap berada di luar negeri. Sesudah konflik berakhir, Petit tetap tinggal di Singapura bersama keluarganya, baru pada tahun 1967 dia kembali ke Indonesia untuk jangka waktu yang pendek, untuk mengunjungi relasinya. Petit baru pulang kembali ke Indonesia tahun 1969. Hari ini, Presiden Republik Persatuan Indonesia Sjafruddin Prawiranegara mengumumkan berakhirnya permusuhan, dan memerintahkan diakhirinya segala tentangan terhadap pemerintah RI dan TNI-nya.

Masa Post-Permesta (Rehabilitasi Permesta)


September 1961 Likuidasi pasukan Permesta setidaknya berakhir bulan ini dengan selesainya pendataan pasukan/ satuan Permesta. Bagi para tentara Permesta, diberikan semacam surat keterangan/ijazah yang menerangkan bahwa yang bersangkutan dibebastugaskan dari dinas Angkatan Perang Permesta yang ditandatangani langsung oleh Alex Kawilarang yang mencantumkan pangkat resmi

Jenderal Mayor Permesta atas nama Angkatan Perang Permesta. Pasukan Brigade Anoa (sebelumnya adalah Batalyon Q) pimpinan Mayor J. Lumingkewas yang bertahan di daerah Kotambunan - Bolmong, terperangkap diantara gerombolan pasukan Brigade 999 ("CTN/Garda Nasional" RPI) dan kepungan pasukan TNI, setelah menerima berita perdamaian tersebut, kemudian diangkut truk lalu naik kapal laut menuju Bitung. Selanjutnya pasukan ini dikirim ke Jawa Timur untuk kemudian dilatih di sana dan berangkat ke Irian barat menghadapai Belanda dalam rangka Operasi Trikora. Sebagian besar pasukan yang adalah gabungan ex. KNIL-TNI ini gugur di sana. Bekas tentara Permesta yang dilatih di Minahasa selama beberapa minggu kemudian dikirim ke Kamp Rehabilitasi/Latihan di daerah Jawa Timur dalam beberapa tahap untuk persiapan dikirim untuk Operasi Pembebasan Irian Barat, Operasi Dwikora, dll. Antara lain mereka naik kapal angkut pasukan ADRI "Aronda" dan tiba di Tanjung Perak Surabaya tanggal 1 September 1961, kemudian ditampung di Kamp Konsentrasi Dinoyo. Mereka di sana selama masa rehabilitasi diperlakukan dengan baik. Mereka menerima sabun mandi, rokok dan sedikit uang saku. Meskipun demikian, satuan Permesta yang dikirim pada pemberangkatan awal mengakui dalam surat yang dikirimkan kepada keluarga dan teman mereka bahwa mereka tidak diperlakukan dengan baik, senjatanya langsung disita di tempat latihan/rehabilitasi tersebut, sehingga timbul beberapa insiden di Bitung yang menolak untuk dikirim ke sana, dll Setelah selesai masa rehabilitasi kami diberikan 3 pilihan yaitu kembali ke bangku sekolah, kembali ke masyarakat dan masuk TNI. Setelah dites ternyata hanya sedikit yang tembus. Sedangkan sebagian besar kembali ke masyarakat. Sebagian bekas pasukan Permesta (eks-Meta) diterima menjadi tentara APRI (TNI) atau kembali kekesatuannya. Beberapa perwira Permesta, seperti D.J. Somba dan Lendy R. Tumbelaka ditarik ke Bakin (Badan Koodinasi Intelejen Negara), juga beberapa diantaranya yang mendapat tugas di MBAD (Mabes TNI-AD). Para pemuda Permesta lainnya menempuh Sekolah Lanjutan Peralihan di Manado yang disediakan Pemerintah Pusat, setelah Penyelesaian PRRI dan Permesta (Kelak mereka mendirikan sebuah organisasi yang dianggap sebagai forum pembinaan dengan nama Ikaselanpe (Ikatan Alumni Sekolah Lanjutan Menengah Peralihan) di Jakarta).

Sebagai hasil penyelesaian dengan Alex E. Kawilarang dan D.J. Somba, diperkirakan 27.055 orang; 25.176 diantaranya anggota militer dan 8.000 diantaranya bersenjata, mengakhiri pemberontakan mereka. Dari jumlah ini, diperkirakan 5.000 orang adalah bekas anggota TNI. (Daftar ini tertanggal 6 April 1961 yang ditandatangani oleh Lendy R. Tumbelaka, sebagai kepala tim penengah KDM-SUT; hampir separuh mereka yang dimasukkan, yakni 13.673 orang, berada di Distrik III [WK-III]; terdapat 3.000-4.000 orang di ketiga Distrik/WK lain. Terdapat sekitar 3.000 senjata yang terdaftar di WK-II dan WK-III. Pada bulan Februari 1961, Yus Somba memperkirakan kekuatan total Permesta sekitar 43.000 orang, 5.000 diantaranya dari KDM-SUT [mungkin bekas TNI dari satuan manapun], dan 9.000 bekas anggota KNIL [1.000 diantaranya sudah pensiun]. Jumlah Pasukan Wanita Permesta yang menyerahkan diri saat itu antara 1.413 [angka dari Annie Kalangie], dan 1.502 dalam daftar 6 April 1961 ini). Setelah masa screening, 8.000 orang dikirim ke Jawa Timur untuk karantina politik dan reindoktrinasi sebelum diterima (atau diterima kembali) ke dalam TNI. Sejumlah 11.000 orang, militer maupun sipil, telah menyerah bersama dengan Brigade Manguni dan Laurens Saerang, selain itu juga sejumlah satuan Permesta lainnya telah menyerah kepada pasukan TNI setempat. Tinggal kelompok di Minahasa Selatan, Ventje Sumual, Nun Pantouw, dan kedua batalyon dari Brigade 999 (Bn. Goan dan Bn. Lisangan): diperkirakan sejumlah 1.500 orang, 900 diantaranya bersenjata. 18 Oktober 1961 Panpres No.568/Th.1961 tentang berbagai keringanan bagi mereka yang tertangkap dalam medan pertempuran. KSAD RPI, Brigjen Ventje Sumual dengan bantuan para bekas perwira Permesta yang telah menyerah, menyerahkan diri dengan menghadap KSAD Jenderal TNI A.H. Nasution di rumah dinasnya dan diantar Panglima Kodam XIII/Merdeka, Kolonel Soenandar Priosudarmo dan secara tertulis menyatakan "menyerah, ulangi menyerah tanpa syarat", serta dengan tegas menyatakan bahwa ia memikul diatas pundaknya seluruh tanggung jawab bagi segenap jajaran pasukan tentara dan sipil Permesta baik di dalam maupun di luar negeri. Surat penyerahan diri tersebut bertanggal 4 Oktober (karena batas akhir ultimatum surat keputusan Presiden RI berakhir tanggal 5 Oktober). Saat itu, ikut pula 50 orang yang ikut menyerah bersamanya.

20 Oktober 1961

Sebelumnya, Pemerintah Pusat mengirim Mayor Soleman Lumintang alias Kakek, bekas Komandan Bn.C/WK-IV Permesta, yang dikenal cukup dekat dan mampu untuk mendekati dan berunding dengan Ventje Sumual yang masih bersembunyi di hutan. Ternyata pada saat bersamaan, Ventje Sumual sudah keluar hutan untuk menyerahkan diri. Mereka berpapasan di sekitar hutan Tumani, Tompaso Baru. 19 Desember 1961 Dalam rapat raksasa di Yogyakarta, dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat, Presiden Soekarno mengeluarkan Tri Komando Rakyat (TRIKORA). Dalam Operasi Trikora, banyak pasukan eks Permesta yang diikutsertakan. Diantaranya adalah Pasukan Letkol Jonkhy Robert Kumontoy yang bergerilya di Halmahera - Maluku Utara. Karena sulitnya perhubungan, Kumontoy tidak menerima instruksi Ventje Sumual pada 1961 agar semua pasukan Permesta menghentikan permusuhan. Karena itu sampai awal 1962 pasukan ini terus bergerilya. Namun pada awal 1962, Kumontoy dihubungi Komandan Kodim Maluku Utara dan dianjurkan agar pasukannya dialihkan secara utuh kedalam TNI untuk merebut Irian Barat. Sekitar 158 anggotanya lalu direhabilitasi dan dijadikan Pasukan Gerilya 500 (PG 500) dan ditugaskan di Pulau Waigeo dan Manokwari. Demikian mengagumkan perjuangan mereka sehingga ketika perintah cease-fire dikeluarkan PBB, pasukan itu dijadikan inti pasukan baru yang merupakan gabungan antara PG 100 sampai PG 600. Mayor Ali Mertopo menamakan pasukan baru itu "Detasemen Kumontoy" dengan Jonkhy R. Kumontoy sebagai komandannya.

Sebagian pasukan eks-Permesta yang pada 1961 dikirim ke berbagai kota di Jawa untuk direhabilitasi, akhirnya disusun dalam kesatuan ARSU (Artileri Serangan Udara) yang dipimpin Mayor Soleman ("Kakek") Lumintang, serta Arhanud (Artileri Pertahanan Udara) TNI Angkatan Darat dalam rangka pelaksanaan Dwikora. Mereka dipersiapkan untuk dikirim ke perbatasan Indonesia-Malaysia. Di Kutaraja (Banda Aceh) terdapat satu baterai (kompi) pimpinan Kapten Daan Piay,

demikian juga peranan mereka di Banjarmasin dan tempat lainnya, antara lain infiltrasi ke istana Raja Brunei Darussalam di Bandar Seri Begawan. 30 Desember 1961 Panpres No.659/Th.1961 tentang mekanisme penyaluran bagi mereka yang tertangkap dalam medan pertempuran dan menyerah. Brigjen Andi M. Jusuf (deklarator Piagam Permesta no.42) menjadi Menteri Perindustrian Ringan dalam Kabinet Dwikora I. Abdul Qahhar Mudzakkar (Kahar Muzakhar) pemimpin pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan memproklamasikan berdirinya Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII) hari ini tanggal 10 Dzulhidjdjah 1381 H./14 Mei 1962, sebagai "kelanjutan dari RPI yang musnah karena ditinggalkan PRRI serta Permesta yang telah menyerahkan diri kepada Pemerintah Pusat di Jakarta". Susunannya adalah Abdul Qahhar Mudzakkar sebagai Chalifah (Presiden) yang dibantu oleh beberapa orang menteri yang tersusun sbb:
1. Menteri Pertahanan : J.W. Gerungan (Dee) (asal Minahasa) 2. Menteri Muda Pertahanan : Sanusi Daris 3. Menteri Kehakiman : H. Djunaidi Sulaeman 4. Menteri Keuangan : H. Djunaidi Sulaeman 5. Menteri Penerangan : Soemarsono (asal Jawa/Yogya) 6. Menteri Pendidikan : Kyai H. Abdul Rahman Ambo Dalle 7. Menteri Muda Pendidikan : B.S. Baranti

2 Januari 1962

14 Mei 1962

Dalam susunan pemerintahannya juga disebutkan adanya jabatan Adjudan Djendral dan Adjudan yang masing diduduki oleh Chaidir Achmad dan Amir. Dalam susunan tersebut, tampak Jan Wellem (Dee) Gerungan sebagai Komandan Komando Daerah Pertempuran (KDP) IV Permesta untuk Sulawesi Tengah, tidak ikut menyerahkan diri bersama dengan pasukan Permesta di Sulawesi Utara tahun 1961 sebelumnya, karena ia dan 250 orang pasukannya telah bergabung dengan DI/TII dan masuk Islam, setelah gagal dalam suatu usaha untuk melarikan diri. Kedatangan pasukan Permesta pimpinan Gerungan di tengah pasukan DI/TII di Sulawesi Selatan tahun 1958 (setelah ini diadakan perjanjian kerja sama antara Permesta dengan DI/TII Kahar Muzakhar) digambarkan: "Dengan kedatangan tentara Permesta dari Manado itu, membuat Kahar melondjak-londjak kegirangan menjambut kedatangan tentara Permesta itu, jang telah menempuh djarak djauh dengan segala penderitaan

melintasi sungai, gunung dan hutan lebat. Kahar lantas memberikan tempat konsentrasi kepada tentara Permesta dan diberikan djaminan jang lajak dan tjukup memuaskan. Sendjata jang dibawa oleh tentara Permesta tjukup riel jang terdiri dari sendjata model baru dan diantaranja ada BAZOKA jang mendjadi kebanggaan Kahar. Dan sementara itu, diaturlah konsepsi kerdjasama militer antara Momoc Ansharullah dengan tentara Permesta dimana TII tidak dihiraukan lagi oleh Kahar, karena memang Kahar sudah merentjanakan akan menghapus TII setelah terbentuknja Momoc Ansharullah". Kahar Muzakkar ditembak mati di tempat persembunyiannya tanggal 3 Februari 1965; sedangkan Dee Gerungan ditangkap pada tanggal 19 Juli 1965, diadili oleh Pengadilan Negeri, dan dijatuhi hukuman mati. 15 Juni 1962 F.J. (Broer) Tumbelaka menjadi Gubernur Sulawesi Utara (Sulutteng) hingga tanggal 18 Juni 1962. Setelah Pemerintahan Daerah Minahasa dipindahkan dari Manado ke Tondano pada pertengahan bulan ini, maka pada hari ini, Pemerintahan Kabupaten/Daerah Tingkat (Swatantra) II Minahasa mulai berjalan dengan resmi. Sebelumnya, status kota Manado dijadikan Kota-Besar dengan kedudukan sebagai Daerah Swatantra Tingkat II dipisahkan dari Kabupaten/Daerah Swatantra II Minahasa pada tahun 1954. Dengan peningkatan status Manado menjadi Kota-Besar, timbullah persoalan pemindahan ibukota Daerah Minahasa dari kota Manado. Hal ini berlarut sehingga nanti pada tahun 1959 dengan melalui Parlemen RI, Pemerintah Agung di Jakarta menetapkan Tondano menjadi ibu kota dari Daerah Minahasa. Pemindahan Pemerintahan Daerah Minahasadari Manado ke Tondano telah direncanakan mulanya akan berlaku pada tahun 1961. Tondano sendiri pada Masa Penjajahan Jepang pernah menjadi ibukota sementara pemerintahan Afdeling Manado dari bulan September 1944, yaitu pada waktu pemboman Manado memuncak, sampai pada masa kapitulasi pada bulan Oktober 1945.Afdeling Manado waktu itu bernama Manado-Ken dan Asisten-Residen disebut Kenkanrikan. Sebelumnya pada tahun 1954 juga kota Bitung telah dijadikan pelabuhan samudera. Pembangunan Bitung menjadi pelabuhan telah dipersiapkan sejak tahun 1950. Peresmiannya nanti berlaku pada tahun 1954. Dengan adanya pelabuhan Bitung, maka Indonesia sudah memiliki 6 pelabuhan samudera. Kelima

25 Juni 1962

pelabuhan samudera yang lain adalah Belawan-Deli, Tanjung Priuk, Semarang, Surabaya dan Makassar. 22 Juni 1964 Surat Keputusan TNI-AD No.Pelak-II/6/1965 tanggal 22 Juni 1964 tentang Petunjuk Pelaksanaan Panpres No.659/Th.1961 tanggal 30 Desember 1961. Pembentukan Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Operasinya dilakukan antara bulan Maret dan Agustus 1962, dimana dalam setiap peristiwa besar yang menyangkut pengerahan pasukan TNI, tercatat partisipasi "eks-Meta" (bekas tentara Permesta). Sistem Pemerintahan Daerah Tingkat I Sulawesi Utara (Sulutteng) dikembangkan lagi sesuai potensi alam maupun manusianya serta perkembangan sistem pemerintahan yang perlu ditangani secara terpadu dibawah suatu daerah otonom yang mempunyai ruang lingkup wewenang dan tugas; dengan dikeluarkannya UU Drt. No. 13 Tahun 1964 tertanggal 23 September 1964 menjadi dua daerah otonom masing: Daerah Tingkat I Sulawesi Utara (Sulut) dan Daerah Tingkat I Sulawesi tengah (Sulteng). Bekas tokoh PRRI dan Permesta seperti Wilhem Pesik (ex Menpen PRRI yang menggantikan Saleh Lahede yang ditahan di Makassar), Mayor Daan E. Mogot, dan Des Alwi dalam suatu operasi khusus (Opsus) dalam rangka menuju perdamaian dengan Malaysia melalui jalur intelejen KOSTRAD. Mereka dikirim ke Malaysia dengan Brigjen L.B. Moerdani guna menjajaki perdamaian tersebut. Peristiwa G-30-S/PKI meletus, dengan menculik 7 Jenderal AD, membuka mata Indonesia bahwa apa yang diperingatkan Permesta tentang komunis yang adalah musuh dalam selimut terbukti benar. Brigjen Andi M. Jusuf (penandatangan deklarasi Piagam Permesta no.42) bersama M. Panggabean dan Amir Machmud menerima Surat Perintah 11 Maret yang terkenal dengan nama Super Semar dari Presiden Soekarno untuk diserahkan kepada Mayjen Soeharto sebagai Pangkokamtib. Surat Perintah ini kemudian disalahgunakan oleh pihak yang mengembannya.

27 Agustus 1964

23 September 1964

Desember 1964

1 Oktober 1965

11 Maret 1966

12 Maret 1966

Pembubaran PKI dan ormasnya dan dianggap sebagai organisasi terlarang di wilayah RI. Sehari setelah Soeharto menjadi pejabat Presiden, para tahanan militer dan sipil yang ditahan di Rumah Tahanan Militer Setiabudi, seperti Ventje Sumual, Dolf Runturambi, Maluddin Simbolon, Achmad Husein, Syafruddin Prawiranegara, Mr. Asaat, dan Anak Agung Gede Agung dibebaskan dengan surat pembebasan yang dibacakan seorang jaksa bernama Adnan Buyung Nasution. Selengkapnya, para tahanan yang ditahan/dikarantinakan di Rumah Tahanan Militer adalah sbb: 1. Mr. Sjafruddin Prawiranegara, mantan pejabat Presiden Pemerintah Darurat RI (saat Presiden Soekarno dan Wapres Moh. Hatta dibuang ke Pulau Bangka oleh Belanda), mantan Perdana Menteri RI, mantan Gubernur Bank Sentral Indonesia; 2. Mr. Asaat, mantan pejabat Presiden Republik Indonesia; 3. Mr. Burhanuddin Harahap, mantan Perdana Menteri RI; 4. Mr. Mohammad Natsir, mantan Perdana Menteri RI; 5. Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri RI (meninggal dalam masa tahanan); 6. Mr. Mohammad Roem, mantan Menlu RI; 7. Mr. Prawoto, mantan Menteri RI; 8. Otto Rondonuwu, ; 9. Anak Agung Gde Agung, mantan Menlu RI; 10. Sultan Hamid, mantan Menteri Negara RIS; 11. Subadio, mantan Ketua PSI; 12. Mochtar Lubis, wartawan; 13. Haji Johannes Cornelis Princen, praktisi HAM; 14. Bapak Mohammad Saleh; 15. Bapak Mutaqin; 16. Bapak Hassan, wartawan; 17. Kolonel Zulkifli Lubis, mantan pejabat KSAD TNI; 18. Kolonel Maluddin Simbolon, mantan Panglima TTI/Bukit Barisan; 19. Letkol H.N. Ventje Sumual, mantan Panglima TTVII/Wirabuana; 20. Letkol Achmad Husein, mantan Panglima Sumatera Barat; 21. Mayor Nawawi, mantan Kepala Staf Wilayah Sumatera Selatan

26 Juli 1966

22. Mayor J.M.J. (Nun) Pantouw, mantan Asisten I StafKo TT-VII/Wirabuana; 23. Mayor Dolf Runturambi, mantan Kepala Staf Gubernur Militer Sulutteng; 24. dan beberapa orang bekas pejabat sipil lainnya.

1967

Setelah dibebaskan dari Rumah Tahanan Militer, Ventje Sumual, Achmad Husein, Maluddin Simbolon, M. Saleh Lahede, R. Soetarno, Bing Latumahina, A.N. Nusjirwan, M. Biga, dll mendirikan PT Konsultasi Pembangunan dengan usaha di bidang jasa, kosultan, hukum, rekayasa dan kontraktor. Letkol Hi.Rauf Mo'o (deklarator Piagam Permesta no.37) menjadi Walikota Manado (sampai 20 Maret 1971). Walikota Manado era awal dekade 1990-an, Ir. Najoan Habel Eman dahulunya juga adalah bekas pelajar Permesta. Di Sulawesi Selatan, Mayor (Purn.) Daeng Patompo, seorang pendukung cita Permesta, pernah menjabat sebagai Walikota Makassar dan berhasil meraih "Sam Karya Nugraha".

20 Februari 1967

Presiden Republik Indonesia, Dr. Ir. Soekarno hari ini menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada Jenderal TNI Soeharto, Pengemban Ketetapan MPRS No.IX/MPRS/1966. Penyerahan secara sederhana ini dilakukan secara sederhana dan dihadiri oleh seluruh anggota Kabinet Ampera. Mayjen. Hein Victor Worang dilantik menjadi Gubernur Sulawesi Utara berdasarkan SK Presiden No. UP 6/1/28-212 tanggal 23 Februari 1972. Jabatan gubernur dijalankan hingga tanggal 6 Juni 1978 dan digantikan oleh Brigjen Welly Lasut G.A. Pada masa kepemimpinan Gubernur H.v. Worang, berakhirlah suatu psychose ketakutan yang merupakan ekor dari masa pergolakan Permesta di wilayah ini. Pelantikan Jenderal TNI Soeharto sebagai Pejabat Presiden Republik Indonesia, berdasarkan Ketetapan MPRS No.XXXIII/MPRS/1967. ASEAN (Association of South East Asian Nations)/Perbara (Persatuan Bangsa di Asia Tenggara) dideklarasikan di Bangkok

2 Maret 1967

12 Maret 1967

8 Agustus 1967

dalam Deklarasi Bangkok oleh para Menteri Luar Negeri negara Filipina, Indonesia, Malaysia, Muangthai (Thailand), dan Singapura. Ventje Sumual ikut berperan aktif membantu pimpinan Orde Baru bersama Aspri - Presiden RI bidang Khusus Keamanan & Politik (OPSUS) dalam penjajakan pembentukan ASEAN ini. 25 Oktober 1967 Pejabat Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI Soeharto, memulai rangkaian kunjungan kerja ke berbagai daerah. Daerah Sulawesi Utara - Minahasa adalah tujuan kunjungan pertamanya atas saran seorang Staf Ahli Presiden, Daan E. Mogot. Danny A. Maukar, yang menembaki Istana Presiden di Jakarta tanggal 9 Maret 1960, resmi dilepaskan dari hukuman mati atas permintaan grasi dari KSAU Oemar Dhani dan pengacaranya Hadeli Hasibuan kepada Presiden Soekarno serta kemudian kepada Presiden Soeharto. Pelantikan Jenderal TNI Soeharto, pengemban Ketetapan MPRS No.IX/MPRS/1966, sebagai Presiden Republik Indonesia. Prof. Soemitro Djojohadikusumo (Mantan Menhub PRRI) menjadi Menteri Perdagangan dalam Kabinet Pembangunan I. Prof. Mr. G.M.A. Inkiriwang,SH (mantan Ketua Parlemen & Menteri Kehakiman PRRI - Permesta) menjadi caretaker Rektor UNSRAT Manado mulai tanggal 1 Januari 1969 sampai bulan Juli 1973. Sebelumnya, ia menjalani tahanan/karantina politik di Pacet - 60 km dari Surabaya, Jawa Timur tahun 19611967. Selain itu beberapa universitas lainnya yang dapat dicatat di sini yang bekas Rektor Universitasnya dari pemuda Permesta adalah Universitas Tadulako di Palu - Sulteng, Universitas Kendari Sultra serta Universitas Nusa Cendana di Kupang - NTT. Abdul Muis, seorang Guru Besar Universitas Hasanuddin dan Universitas Terbuka, adalah bekas pemimpin harian Permesta.

19 Maret 1968

27 Maret 1968

6 Juni 1968

1969

1972

ex. dokter tentara berpangkat Letnan Kolonel, Oscar E. Engelen (bekas Ketua Ikatan Perwira TT-VII dan deklarator Piagam Permesta no.33 dan anggota Dewan Tertinggi Permesta), menjadi Rektor Universitas Kristen Djaya (UKRIDA) sampai tahun 1987. Ny. Mathilda Towoliu-Hermanses (deklarator Piagam Permesta no.5) yang pernah menjadi dosen di Unhas, pada awal dekade 90an menjadi Rektor Universitas Kristen Paulus di Ujung Pandang.

1 Januari 1973

Prof. Mr. G.M.A. Inkiriwang, SH menjadi pejabat Rektor UNSRAT Manado (jabatan ke-2) hingga Juli 1973. Ia juga menjadi caretaker Rektor IKIP tahun 1971-1973. Prof. Mr. G.M.A. Inkiriwang, SH terpilih menjadi Rektor IKIP Negeri Manado sampai tahun 1977. IKIP Negeri Manado adalah bekas PTPG Tondano yang juga didirikannya pada masa awal pergolakan daerah (1955). Kota Bitung statusnya meningkat menjadi Kota Administratif Bitung melalui PP No. 4/Tahun 1975, dan terpisah dari Kabupaten Minahasa, dengan pemekaran wilayah ex Kecamatan Bitung menjadi tiga yaitu Kecamatan Bitung Utara, Bitung Tengah, dan Bitung Selatan. Sebagai walikota pertamanya adalah W.A. Worang sampai dengan tanggal 7 Mei 1979 dan digantikan oleh Drs Karel Lasut Senduk. Sebagai Sekretaris Kota yang pertama adalah Drs. F.H. Roeroe hingga tanggal 5 Juli 1976. Pemancar TVRI pertama di Sulawesi Utara yang terletak di puncak Tikala Manado, diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Utara waktu itu Mayjen H.V. Worang. Untuk pertama kalinya masyarakat Sulawesi Utara khususnya kota Manado dapat menonton Siaran TVRI dalam hal ini Siaran yang direlay dari TVRI Jakarta (melalui Satelit Palapa). Tanggal 28 Agustus 1978 TVRI Stasiun Manado mulai melaksanakan siaran percobaan (siaran hitam/putih), yang operasional siarannya dilaksanakan oleh 25 orang lulusan Training Center TVRI Jakarta. Nanti pada tanggal 7 Oktober 1978 TVRI Stasiun Manado diresmikan oleh Sekretaris Jenderal Departemen Penerangan, Sutikno Lukitodisastro. Jenderal Andi M. Jusuf (deklarator Piagam Permesta no.42) menjadi Panglima ABRI/ Menhankam dalam Kabinet

1974

10 April 1975

23 Desember 1976

29 Maret 1978

Pembangunan III.

Peta daerah Minahasa

Masa neo-Permesta (Reuni eks-Permesta)


12 Februari 1984 IKASELANPE Ikatan Persaudaraan Alumni Sekolah Peralihan Permesta sebagai suatu kerukunan keluarga bekas/alumni sekolah peralihan Permesta didirikan dengan ketuanya adalah Benny Tengker. Dikemudian hari, yaitu pada awal millenium III, IKASELANPE ini berubah namanya menjadi Ikatan Persaudaraan Alumni Pejuang Permesta. Para Pengurus

Pembinanya antara lain Letjen TNI (Purn) Herman Bernhard Leopold Mantiri, mantan Kepala Staf Umum (Kasum) ABRI dan bekas Dubes RI di Singapura. 4 November 1984 Brigjen TNI (Purn) Alexander Evert Kawilarang -Panglima Besar Permesta- dan Letkol TNI (Purn) Herman/Hendrik Nicolas Ventje Sumual -Ketua Umum KKK- dikukuhkan sebagai Tonaas Wangko Um Banua, sebuah gelar adat suku-bangsa Minahasa, bersama-sama dengan Letjen TNI (Purn) Gustav Hein Mantik, Gubernur Sulawesi Utara saat itu. KODAM VII/WIRABUANA resmi berdiri di Ujung Pandang yang mencakup Pulau Sulawesi, setelah diadakan reorganisasi daerah militer TNI-AD - ABRI dalam bulan Maret-Mei 1985 dengan melikuidasi/membubarkan Kodam XIII/Merdeka (Sulawesi Utara-Tengah) dan Kodam XIV/Hasanuddin (Sulawesi Selatan-Tenggara). Pada tahun ini, TNI-AD memiliki kekuatan 278.100 orang. Ir Nayoan Habel Eman menjadi Walikota Manado ke-15 mulai tanggal 23 Agustus 1985 sampai 23 Agustus 1995. Kolonel (Purn) Hi. Rauf Mo'o (deklarator Piagam Permesta no.37) menjadi Rektor IAIN (Institut Agama Islam Nasional) Sulut. Salah seorang tokoh pemuda Permesta asal Maluku Utara yang tergabung dalam KoP2 atau yang biasa disebut Kopedua, adalah K.H. Arifin Assegaf, sebagai tokoh agama Sulut saat ini memimpin MUI Sulut. Mr. Sjafruddin Prawiranegara, bekas Perdana Menteri PRRI dan mantan Perdana Menteri RI, meninggal dunia hari ini. Prof. Octavianus Rondonuwu, MSc. (mantan anggota Pasukan Pengawal Barter Permesta) terpilih menjadi Rektor Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) sampai tahun 1998. Kota Bitung diubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Bitung (sebelumnya Kota Administratif Bitung) dengan UU No. 7/Tahun 1960 tanggal 15 Agustus 1990, yang sebelumnya telah memiliki tiga kecamatan yaitu Kecamatan Bitung Utara, Bitung Tengah dan Bitung Selatan. Bersamaan dengan perubahan status ini, wilayah Kotamadya Bitung bermekaran menjadi 5 kecamatan dengan bertambahnya Kecamatan Bitung Barat dan Bitung

4 Mei 1985

23 Agustus 1985

1989

15 Februari 1989

1990

15 Agustus 1990

Timur. 8 September 1992 Kerangka Kolonel Joop Warouw (Waperdam PRRI dan Kepala Pemerintahan Sipil PRRI di Sulawesi) ditemukan di perkebunan desa Bunag, Tombatu, kemudian dikebumikan tanggal 20 September di kampungnya, di desa Leleko - Remboken, setelah sebelumnya disemayamkan di Bukit Inspirasi. Kol. Joop Warouw dibunuh oleh pasukan Bn.7/Robby Parengkuan atas perintah komandannya, Jan Timbuleng (Brigade 999/Triple Nine) karena menolak pengangkatannya menggantikan Kolonel D.J. Somba sebagai Panglima KDM-SUT, dan juga atas kematian Jan Timbuleng sendiri di markas besar Ventje Sumual. Kontroversi mengenai misteri kematian Joop Warouw masih ditutupi, selain juga kontroversi mengenai apakah benar kerangka tersebut adalah jasad dari Joop Warouw. Mayjen. TNI Evert Erenst (Lape) Mangindaan, S.H., S.E. terpilih sebagai Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Utara menggantikan Mayjen Cornelis Johan Rantung. Sebelumnya Mayjen. E.E. Mangindaan menjabat sebagai Gubernur Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SESKOAD) di Bandung. Dalam berbagai organisasi reuni Permesta, E.E. Mangindaan duduk sebagai penasihat organisasi. Selain itu, E.E. Mangindaan juga menyumbangkan sebidang tanah di Amurang untuk Ikaselanpe Sulut untuk tempat berdiri lembaga pendidikan dalam hal ini mendirikan perguruan tinggi Permesta. Lebih spesifik lagi perguruan tinggi yang bakal didirikan itu adalah Sekolah Tinggi Manajemen. Bertepatan dengan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional dan hari libur nasional Hari Kenaikan Isa Al-masih (Yesus Kristus), Presiden Soeharto menyatakan mundur dari kursi kepresidenan, dan digantikan oleh Wakil Presiden, Prof.Ing. Bachruddin Jusuf Habibie, menandai (mulai) tumbangnya Rezim Orde Baru. Yayasan Permesta didirikan di Tondano oleh Generasi Ke-3 Permesta (Generasi Muda Permesta). Ketua Umum Periode 1999-2004 adalah Johny R. Singkoh, BSc., Sekretaris Umum Drs Dolfie J. Kotambunan dan Direktur Eksekutif adalah Pdt. Renata Ticonuwu,STh.

25 Februari 1995

20 Mei 1998

2 Maret 1999

15 April 1999

Kolonel (Purn?) Alex.E.Kawilarang (Panglima Besar Tentara Permesta) dalam rangka HUT Kopassus ke-47 di Markas Komando Kopassus di Cijantung Jakarta Timur, setelah 47 tahun sejak ia mendirikan Kopassus, (akhirnya) dianugerahi Topi Baret Merah dan Pisau Komando sebagai Warga Kehormatan Kopassus.
Tahun 1952 Kol. Alex Kawilarang mendirikan Kesatuan Komando Tentara Territorium III/Siliwangi (Kesko Terr-III) saat ia menjadi Panglima TT-III/Siliwangi. Kemudian Kesko tersebut diambil alih oleh Mabes AD (MBAD) kemudian menjadi KKAD, RPKAD, Palu RPKAD, Kopassandha, dan terakhir menjadi Kopassus sekarang ini.

20 Oktober 1999

Pelantikan Presiden Republik Indonesia Kyai Haji Abdurrachman Wahid dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Deklarasi Perjuangan Semesta (Permesta) yang dikemas dalam wahana Front Permesta oleh eksponen Minahasa yang berdomisili di Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi-Depok pada hari Minggu di Hotel Pondok Sawangan, Depok, Jawa Barat. "Bahwa realitas pluralitas bangsa Indonesia yang diikrarkan sebagai potensi pemersatu dan potensi pembangun telah mengalami politisasi dan komersialisasi yang bermuara pada diskriminasi, pengucilan dan peminggiran, baik dalam kategori suku, etnis, dan bahkan agama. Realitas pluralitas kita harus selamanya disadari sebagai benih disintegrasi, sepanjang budaya politik masyarakat kita masih sangat mudah dikotakkan secara ideologis dan penuh purbasangka atau masih jauh dari kondisi ideal masyarakat terbuka (open society)". Demikian salah satu diktum dari Deklarasi Perjuangan Semesta (Permesta). Dengan kesadaran penuh sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia yang senantiasa berperan terdepan dalam setiap tahapan sejarah perjuangan maka Front Permesta akan Berjuang untuk menegakkan keadilan, pemberdayaan, dan pemerdekaan masyarakat Kawanua sesuai dengan prinsip The right of self determination, demikian akhir butir deklarasi tersebut. Deklarasi Perjuangan Semesta ini ditandatangani oleh :
Willy H. Rawung (Sekretaris Dewan Pembina Kerukunan Keluarga Kawanua/KKK), Johny A. Rumokoy (Sekjen Angkatan Muda Reformasi Semesta/AMARTA), Jopie Lasut (Wartawan Radio Hilversum), Benny Matindas (Presidium Forum Masyarakat Minahasa untuk Reformasi), Otje R. Sumampouw (Ketua Umum AMARTA), Charlie Sondakh (Mantan Sekjen Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Minahasa di Djakarta/IPPMMD), Bert Supit (Purnawirawan TNI-AD/Mantan Bupati Minahasa 1958), Wailan E. Langkay (Aktivis Pemuda), Audy L. Punuh (Aktivis Pemuda/Pilot Merpati), Audy WMR Wuisang (Kepala Biro Pemuda, Persekutuan Gereja di Indonesia/PGI), Boy MW Saul (Sekretaris KKK),

31 Oktober 1999

Max Wilar (Sekjen Masyarakat Kawanua Indonesia/MKI), dan Marsma (Purn) F. Pontohkukus (Penasihat Badan Perjuangan 14 Pebruari 1946).

Front Permesta yang dipimpin oleh presidium dengan ketua Willy H. Rawung, Sekjen Audy W.M.R. Wuisang dan Sekretaris Boy W.M. Saul, sehari berkantor di Jl. Bekasi Timur IV No. 3-A, Jatinegara, Jakarta Timur, Tel +62.21.850.3924. Diketahui juga sebagai kantor H.N. Ventje Sumual. 6 Juni 2000 Kolonel TNI Purn. Alexander Evert KAWILARANG meninggal dunia dalam usia 80 tahun di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung pada tanggal 8 Juni. Kongres Minahasa Raya I dilaksanakan untuk memberi ultimatum kepada MPR dalam Sidang Tahunan yang dimulai tanggal 7 Agustus, yang akan mengamandemen UUD 1945 pasal 29. Forum Kongres Minahasa Raya sepakat mengultimatum MPR bahwa jika ST itu mengamandemen UUD '45 dengan memasukan Piagam Jakarta ke dalamnya, tanah Toar Lumimuut akan merdeka. Dalam tiga butir Deklarasi Inspirasi itu disebutkan: Jika keinginan untuk membatalkan komitmen Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus dan UUD 1945 diluluskan atau bahkan dikompromikan sedikit pun, maka pada saat yang sama eksistensi NKRI (Negera Kesatuan Republik Indonesia) berakhir. Pada saat itu juga rakyat Minahasa terlepas dari seluruh ikatan dengan ke-Indonesia-an dan berhak membatalkan komitmen keMinahasa-an dalam ke-Indonesia-an. Dengan demikian, maka rakyat Minahasa berhak menentukan nasibnya sendiri untuk masa depannya. Hadir pada KMR tersebut sedikitnya 2000 rakyat Minahasa dari berbagai kalangan, yaitu dari tokoh- tokoh agama, tokoh masyarakat, tua adat, tua kampung dari 7 pakasaan sub etnis di Minahasa, generasi muda dan masyarakat Minahasa baik yang tinggal di daerah ini, maupun yang tingal di luar daerah. Forum Kongres Minahasa itu turut dihadiri Wakil Gubernur Freddy H. Sualang, Bupati Minahasa Drs. Dolfie Tanor, PhD, mantan walikota dan walikota Manado Ir. L.H. Korah dan Wempie Frederik, pejabat sementara Walikota Bitung Drs L. Gobel, dan pejabat penting lainnya. Kongres yang berlagsung hampir sembilan jam itu dipandu tujuh tokoh pemuda dari Minahasa, yaitu Ketua Pnt. Marhanny V.P. Pua, Pdt. David Tulaar, Pdt. Feybe Lumanauw, Ir. Vicktor Rompas, Pastor DR John Montolalu, Pdt. Narwasty Karundeng

5 Agustus 2000

dan Pdt. Wempy Kumendong. Tim ini didampingi utusan mewakili 7 sub-etnis yang ada di Minahasa. Ke tujuh utusan itu adalah Tombulu, Tonsea, Tolour, Tonsawang, Tontemboan, Ratahan dan Bantik. Mereka itu yakni Pdt. Prof. DR WA Roeroe, Mayjen. TNI Purn C.J. Rantung, Prof. DR E.A. Sinolungan, Jotje Koapaha, Drs. Freddy Rorimpandey serta Dolfie Maringka. Salah satu hal penting dalam KMR itu adalah terdapat dalam Rekomendasi Sidang Kongres Minahasa Raya butir ke-8 yang berbunyi: "Mengembalikan citra Perjuangan Semesta (Permesta) bukan sebagai gerakan pemberontakan, tetapi merupakan perjuangan luhur dari rakyat Minahasa untuk diperlakukan adil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara". Selesai kongres, para pimpinannya langsung menemui fraksi di MPR untuk menyerahkan hasil Deklarasi Inspirasi tersebut terutama kepada Fraksi PPP dan Bulan Bintang yang sangat keras dalam memperjuangkan Syariat Islam tersebut. Sidang Tahunan MPR tersebut akhirnya tidak mengamandemen UUD 45 pasal 29 yaitu dengan tidak memasukkan 7 kalimat Syariat Islam dari Piagam Djakarta. Kongres Minahasa Raya II diadakan tahun berikutnya, dan dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia, K.H. Abdurrachman Wahid. 2 Maret 2001 Korps Pembangunan Sulut/KPPS sebagai Korpsnya Permesta didirikan, dalam apel HUT Permesta di Lapangan Sario, dengan Ketua Umumnya adalah Brigjen. TNI Purn. Robertus Soekandar (seorang dari etnis Jawa - yang justru pada saat Pergolakan Permesta berada di pihak Tentara Pusat dalam Kodam Siliwangi yang ikut menumpas Permesta), dan Sekretaris Umumnya adalah Johan Piet Sompie. Prof.Soemitro Djojohadikusumo meninggal dunia. Perjuangan LRRI Sulut kepada Departemen Pertahanan RI yang tertuang dalam Surat Keputusan No. B.546/07/05/01/MIN.SDM tertanggal 54 Mei 2001 meminta agar mantan Laskar Rakyat '45, Pejuang Dwikora, Pejuang Trikora serta Pejuang Permesta diberikan pensiun. Dalam peringatan HUT ke-I Korps Pemuda Laskar Rakyat Republik Indonesia Sulut (KPLR RI) di Taman Kesatuan Bangsa

8 Maret 2001 4 Mei 2001

5 November 2001

(TKB) Bitung, ratusan anggota LRRI termasuk para veteran Permesta dari berbagai daerah di Minahasa, Manado dan Bitung menyatakan kebulatan tekadnya untuk tetap komitmen mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pimpinan Pemuda Laskar Rakyat RI, Benny Tengker juga menegaskan hal itu. Tuntutan yang diajukannya kepada para wakil rakyat di MPR yang sedang bersidang saat itu untuk tidak memasukkan 7 kata dalam Piagam Jakarta, karena sejak awal sudah ditolak oleh pendiri bangsa Indonesia. "Kalau Piagam Jakarta diterima sama saja secara tidak langsung mereka menyetujui daerah yang tidak sependapat dengan mereka memisahkan diri dari NKRI. Dan pemisahan itu bukan oleh kita tetapi mereka sendiri." 2 Maret 2002 HUT ke-45 Proklamasi Permesta dirayakan secara besaran di Sulawesi Utara. Dan dihadiri oleh Panglima Tertinggi Permesta (Pucuk pimpinan Permesta) yaitu Tonaas Wangko H.N. Ventje Sumual atau Om Ventje Sumual. Peringatan ini diadakan di tiga tempat: - Lapangan Sam Ratulangi Tondano, dengan pemrakarsanya adalah Laskar Rakyat Republik Indonesia/LRRI Sulut - Lapangan KONI Sario Manado, dengan pemrakarsanya adalah Korps Pembangunan Permesta Sulut (KPPS), - Aula Mapalus Kantor Gubernur Sulut, dengan pemrakarsanya adalah Ikaselanpe (Ikatan Alumni Pejuang/Pelajar Permesta).

Apel Akbar HUT Permesta ke-45 di Lapangan Sario oleh KPPS Nampak dlm gambar, H.N.Ventje Sumual di podium sedang menerima penghormatan

4 Maret 2002

Pengurus DPP Front Pembangunan Semesta Manguni (FPSM) dikukuhkan Pucuk Pimpinan Permesta Tonaas Wangko Ventje Sumual di Malumbo, salah satu bekas lokasi markas Permesta di desa Tounelet kecamatan Langowan. Sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusatnya adalah Johny J. Saerang (putra Bupati KDM Permesta/Komandan Brigade Manguni masa Permesta Laurens Saerang) dan Pdt. S. Lumingkewas, STh. Deklarasi Kasuang oleh sedikitnya 9 organisasi bernuansa Permesta untuk kebulatan tekad untuk mempersatukan organisasi bernuansa Permesta menjadi satu wadah dalam Forum Komunikasi Permesta. Organisasi tersebut antara lain adalah Ikaselanpe Sulut, Korps

27 Maret 2002

Pembangunan Permesta Sulut/KPPS, Yayasan Permesta Manguni, Front Pembangunan Semesta Manguni, Generasi Muda Permesta, Laskar Rakyat Republik Indonesia Sulut/LRRI Sulut, Generasi Penerus Perjuangan (GPP) Permesta. Sebagai Ketuanya adalah Anthon Tenges, dan Sekretaris adalah Pdt. Renata Ticonuwu, S.Th. 9 Agustus 2002 Sekitar 300 anggota Permesta yang diketuai Ketua Generasi Muda Permesta Sammy Supit mendatangi Kantor Gubernur Sulut, menyatakan sikap menolak Piagam Djakarta dimasukkan ke dalam batang tubuh UUD 1945 (pasal 29). Pemerintah Provinsi Sulut yang diwakili Wagub Freddy Harry Sulalang juga menyatakan hal yang sama. Sammy Supit, Mrn.Eng., terpilih sebagai Ketua Umum dan Formatur kepengurusan KPS (Korps Permesta Sulut) yang baru, yang mengubah nama organisasinya dari Korps Pembangunan Permesta Sulut (KPPS), sebagai hasil pertemuan seluruh angota KPS di Pinabetengan tanggal 3 Januari 2003, dan di Bentenan tanggal 11 dan 12 Januari 2003. Dan telah dilaksanakan perbaikan Akte baru sesuai dengan peraturan pemerintah mengenai pendirian perkumpulan, dimana akte disesuaikan dengan aspirasi para anggota yaitu Organisasi Masyarakat dengan nama : KORPS PERMESTA SULUT (KPS). Korps Pembangunan Permesta Sulut (KPPS) dibawah Yayasan Korps Pembangunan Permesta Sulut dengan ketuanya Robertus Soekendar menyatakan diri masih eksis. DPR-RI mengesahkan berdirinya kota Tomohon dan Kabupaten Minahasa Selatan lewat Undang No.10 Tahun 2003 tertanggal 25 Februari 2003. Apel peringatan Proklamasi Permesta ke-46 dilaksanakan oleh Korps Permesta Sulut (KPS) di Stadion MAESA Tondano yang dihadiri Panglima Tertinggi Permesta H.N. Ventje Sumual dan Ketua Umum KPS Sammy Supit, Mrn.Eng. Apel besar peringatan Proklamasi Permesta diadakan di ex. Rindam Kakaskasen III - Tomohon (calon kantor Walikota Tomohon), yang juga dihadiri oleh Benny Tengker, Gubernur Sulut Drs. A.J. Sondakh, Bupati & Wakil Bupati Minahasa yang baru terpilih (Drs. Vreeke Runtu & Letkol. Rull Kuron).

3 Januari 2003

30 Januari 2003

2 Maret 2003

5 Maret 2003

12 April 2003

Peringatan Deklarasi Permesta ke-46 di lokasi Penyelesaian Permesta (Perdamaian Permesta-Pemerintah Pusat) di desa Woloan - Tomohon. Dalam Peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Manado hari ini, Korps Permesta Sulut (KPS) menggelar aksi unjuk rasa reli damai. Sekitar pukul 10.00 Wita, ribuan Meta (pejuang Permesta) berkumpul di Lapangan KONI Sario Manado dan melakukan long march ke Kantor Deprov (DPR Sulut) kemudian melanjutkan ke Kantor Gubernur Sulut. Mereka menyampaikan 3 tuntutan yang diberi nama Tritura Sulut: (1) Naikkan harga cengkih, pala, kopra, dan jagung, (2) Tolak RUU Sisdiknas, (3) Tetap NKRI namun Sulut harus diberi otonomi khusus. Dalam RUU Sisdiknas pasal 13 disebutkan bahwa setiap sekolah, tidak terkecuali sekolah Kristen, harus memberi pelajaran agama pada muridnya sesuai dengan agama siswa tersebut. Hal ini berarti sekolah Kristen (diwajibkan)/harus memiliki guru agama lain (ustadz) selain Guru Agama Kristen. Masalah RUU Sisdiknas ini juga didemonstrasi oleh berbagai elemen masyarakat di berbagai kota di seluruh pelosok Indonesia.

20 Mei 2003

4 Agustus 2003

Kabupaten Minahasa Selatan dan Kota Tomohon diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno, terpisah dari Kabupaten induk Minahasa. Sebagai Pejabat Pelaksana Sementara (PPS), yaitu Pejabat Bupati Minahasa Selatan adalah Drs. Ramoy Markus Luntungan, dan Pejabat Walikota Tomohon Drs. Boy Simon Tangkawarouw, MSc (bekas Wakil Bupati Minahasa). Acara peresmian Kabupaten Minsel dan Kota Tomohon ini dilaksanakan di ruang sidang DPRD Minahasa di Sasaran Tondano. Kapupaten Minsel dan Kota Tomohon terbentuk dari UU No.10 yang diundangkan tanggal 25 Februari 2003, dan merupakan bagian dari 25 daerah di 10 provinsi yang dimekarkan pada periode terakhir. Acara ini turut dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Venezuela, Ekuador dan Trinidad & Tobago Drs. Cornelis Manopo, Gubernur Provinsi Sulut Drs. Adolf Jouke Sondakh, Gubernur Provinsi Maluku, Gubernur Provinsi Maluku Utara dan Gubernur Provinsi Gorontalo Fadel Muhammad, mantan Gubernur Sulut Letjen (Purn) Evert Erenst Mangindaan, dan Mayjen (Purn) Cornelin John Rantung. Acara peresmian ini diakhiri dengan penganugerahan gelar adat Tonaas Wangko Um Banua untuk Mendagri Hari Sabarno oleh

Majelis Kebudayaan Minahasa (MKM). Sementara gelar Tonaas Tu'a Um Banua dianugerahkan untuk Bupati Minahasa Drs. Vreeeke Runtu, Walikota Bitung Milton Kansil, Walikota Manado Drs. Wempie Frederik, pejabat Bupati Minsel Drs. R.M. Luntungan serta pejabat Walikota Tomohon Drs. Boy Tangkawarouw. Sementara Wakil Gubernur Sulut Freddy Harry Sualang menyatakan tidak hadir dalam acara tersebut karena menolak penganugerahan gelar adat kepada dirinya karena ia menilai belum berhak mendapatkan gelar semacam itu. Minahasa Selatan sendiri sesuai UU No. 10/Th. 2003 terdiri dari 13 kecamatan, yaitu Tumpaan, Tareran, Tombasian, Tombatu, Touluaan, Ratahan, Belang, Ranoyapo, Tompaso Baru, Modoinding, Motoling, Tenga dan Sinonsayang (bulan kemudian bertambah lagi Kecamatan Kumelembuai dan Ra(ta)totok), dengan ibukota kabupaten di kota Amurang dengan luas wilayah 2.120,80 km. Sementara Kota Tomohon terdiri dari Kecamatan Tomohon Utara, Tomohon Tengah dan Tomohon Selatan dengan luas wilayah 114,20 km. Ironisnya, Kapupaten Minahasa (Induk) luasnya tinggal 992,22 km dari sebelumnya 4.167.87 km (bandingkan Kota Manado luasnya 157,26km, dan Kota Bitung seluas 304 km). 20 November 2003 Dalam rapat paripurna di gedung DPR RI, Kabupaten Minahasa Utara resmi disahkan. Bekas Kabupaten Minahasa kini akhirnya menjadi tiga kabupaten dan satu kota dalam tahun ini. Setelah Kabupaten Minahasa (Induk) dan Minahasa Selatan (Minsel), plus Kota Tomohon, kini kabupaten baru lahir lagi, yakni Minahasa Utara (Minut). Massa dari Kabupaten Pemekaran Minut serta 23 daerah pemekaran lainnya membanjiri gedung DPR RI, tempat dilaksanakannya Rapat Paripurna antara Depdagri dan Komisi II DPR RI yang dipimpin Wakil Ketua DPR RI Sutardjo Suryogoeritno dalam mengesahkan 24 daerah pemekaran. Penetapan ini dilakukan tepat pukul 12.30 WIB. Sembilan fraksi menerima secara bulat Rancangan Undang (RUU) 24 daerah untuk dijadikan Undang termasuk Minut. Kesembilan fraksi tersebut adalah Fraksi Reformasi, Fraksi TNI/Polri, Fraksi PBB (Partai Bulan Bintang), Fraksi KKI, Fraksi PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), Fraksi PBU, Fraksi PG (Partai Golkar), Fraksi PPP (Partai Persatuan Pembangunan), serta Fraksi Kesatuan Bangsa. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Hari Sabarno selaku Tonaas Wangko Um Banua, dalam sambutannya secara khusus meminta maaf kepada ratusan masyarakat Kabupaten Pemekaran Minahasa Utara karena tidak bersama masyarakat Minut menggunakan pakaian kebesaran Minahasa yaitu pakaian Tonaas Wangko Um

Banua. Ketua Panitia Pemekaran Minahasa Utara Boy Rondonuwu mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih kepada Komisi II DPR RI dan Mendagri serta jajarannya atas upaya dalam merealisasikan terbentuknya Kabupaten Minahasa Utara. Koordinator tim rombongan Panitia Pembentukan Kabupaten Minahasa Utara (PPKMU) Drs Denny Wowiling dan rombongan lainnya langsung menggelar doa syukur bersama di Hotel Marcopolo Jakarta, tempat mereka menginap. 7 Januari 2004 Kabupaten Minahasa Utara beserta sebuah kabupaten baru lainnya di Aceh/NAD hari ini resmi berdiri. Kabupaten baru ini memiliki 8 kecamatan, yaitu: Likupang Barat, Likupang Timur, Wori, Dimembe (Tatelu), Airmadidi, Kalawat, Kauditan, dan Kema dengan beribukotakan di Airmadidi. Kabupaten Minahasa (induk) kini hanya memiliki kecamatan: Tondano Timur, Tondano Utara, Tondano Barat, Eris, Kombi, Kakas, Langowan Timur, Langowan Barat, Kawangkoan, Sonder, Tombulu, Pineleng, Remboken, Tombariri (Tanahwangko), Lembean Timur, dan Tompaso.