Anda di halaman 1dari 2

PENGOLAHAN LIMBAH BERBASIS TEKNOLOGI BIOKIMIA*) *) Ditulis oleh Jul H. D.

, mahasiswa Pascasarjana Universitas Jambi, Program Studi Magister Pendidikan IPA Konsentrasi Pendidikan Kimia, karyawan tetap Asia Pulp & Paper Jambi Mill. (http://julhasratman.blogspot.com) Saat ini ada berbagai macam metode yang digunakan untuk mengolah limbah organik di dalam industri antara lain: metode koagulasi kimia, ozonasi, filtrasi membran, teknologi RO (reverse osmosis), dan aplikasi oksidasi fotokimia dan elektrokimia. Akan tetapi beberapa metode ini masih dianggap sebagai suatu yag mahal (high cost) oleh industri. Riset tentang ini terus dilakukan oleh industri baik bekerja sama dengan lembaga riset eksternal maupun membangun lembaga riset internal. Teknologi biokimia menawarkan solusi yang sangat berarti dalam mewujudkan teknologi pengolahan limbah yang murah (low cost). Meskipun dalam melakukan riset diperlukan biaya yang tidak sedikit tetapi karena penggunaannya untuk jangka panjang maka industri tetap berani membayar mahal aplikasi riset tersebut . Beberapa kendala yang sedang dihadapi oleh industri khususnya terkait pengolahan limbah organik adalah ketersediaan bakteri tertentu yang digunakan dalam pengolahan limbah. Proses industri yang menggunakan suhu yang tinggi mengakibatkan luaran limbah hasil prosesnya pun masih panas. Walapun sudah ada upaya untuk menurunkan suhunya namun tetap saja masih bersuhu tinggi. Limbah tersebut kemudian diolah melalui proses biokimia, yakni penggunaan mikroba jenis tertentu. Akan tetapi kebanyakan mikrobanya sudah mati terlebih dahulu sebelum fighting mengolah bakteri. Sehingga dengan ini diperlukan riset-riset berkelanjutan untuk mencari dan menemukan spesies bakteri yang tahan terhadap suhu panas. Bagaimana Bakteri Mengolah Limbah Organik? Sebagaimana telah kita ketahui bahwa enzim adalah suatu protein yang berperan sebagai biokatalis. Disebut sebagai biokatalis karena enzim bekerja untuk mempercepat (katalisis) seluruh reaksi-reaksi biokimia. Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh enzim antara lain: enzim mampu meningkatkan produk dalam jumlah yang sangat fantastis dalam waktu cepat dan bersifat sangat spesifik dan selektif terhadap subtrat (senyawa kimia) tertentu yang berikatan dengannya.

Bakteri-bakteri tertentu yang dihadirkan dalam pengolahan limbah pada hakikatnya sebagai sumber penghasil enzim. Enzim inilah yang nantinya berperan untuk mengatalisis senyawa organik (limbah organik) menjadi senyawa lain yang lebih ramah lingkungan melalui serangkaian proses reaksi biokimia. Pertanyaannya selanjutnya adalah, bagaimana apabila bakteri penghasil enzim tersebut telah mati dahulu sebelum menghasilkan enzim karena adanya suhu yang tinggi? Sebanyak apapun bakteri yang ditambahkan ke dalam substrat (limbah organik) maka tetap saja hasilnya nihil karena bakterinya telah lebih dahulu lumpuh akibat suhu panas. Untuk mengantisipasi hal di atas, riset biokimia khususnya yang melibatkan ilmu mikrobiologi dan enzimologi harus dilakukan dengan usaha maksimal oleh industri. Industri melalui lembaga risetnya harus melakukan pencarian terhadap bakteri spesies tertentu yang tahan panas (termofilik) dan optimasinya di dalam pengolahan limbah organik. Bakteri termofilik ini di dalam penggunaannya akan menghasilkan enzim yang tahan panas. Para pakar biokimia menyebutnya dengan istilah termostabil. Dengan diperolehnya bakteri termofilik, pengolahan limbah organik yang memanfaatkan teknologi biokimia akan memenuhi tujuannya.