Anda di halaman 1dari 25

LABORATORIUM KIMIA FARMASI JURUSAN FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGNAIK SINTESA SINTESIS ASPIRIN

OLEH : NAMA STAMBUK GOL./KLP : NURCHOLIS : H 511 05 025 : SENIN / KLP III

TGL PRAKTIKUM : 06 OKTOBER 2006 ASISTEN : FADILAH RUM, S.SI

MAKASSAR

2006 BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Ahli kimia organik sering mensintesis senyawa dalam Laboratorium. Sintesis itu dapat sederhana dan tak berliku-liku (Misalnya ; pembuatan suatu alkohol sederhana tertentu untuk study laju), atau dapat sangat rumit (Misalnya ; sintesis suatu molekul biologis yang sangat kompleks di Laboratorium). Mendesain bagan-bagan sintesis di atas kertas merupakan cara yang sangat berharga untuk belajar berfikir dalam bahasa kimia organik, juga jika seseorang itu tidak ingin bekerja di laboratorium. Masalah sintesis yang dikemukakan dalam teks ini adalah dimaksudkan untuk berlaku dalam artian di laboratorium. Untuk merencanakan suatu problem sintesis yang benar-benar di laboratorium, diperlukan literatur kimia secara lengkap, untuk memastikan apakah senyawa tertentu tersebut atau deretan reaksi itu telah dipelajari oleh ahli kimia lain. Pada praktikum ini akan di kemukakan laporan mengenai salah satu sintesis zat kimia, yaitu sintesis aspirin (asam asetil salisilat) sebagai hasil dari praktikun yang telah dilakukan.

I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan. I.2.1 Maksud Percobaan Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan memahami sintesis aspirin melalui reaksi asetilasi. I.2.2 Tujuan percobaan Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini yaitu membuat aspirin dari reaksi asetilasi antara asam salisilat dengan anhidrat asetat menggunakan asam sulfat pekat sebagai katalisator. I.3 Prinsip Percobaan. Pembuatan aspirin berdasarkan reaksi asetilasi antara asam salisilat dengan anhidrat asetat dengan penambahan asam sulfat pekat sebagai katalisator, yang dilanjutkan dengan proses pemanasan untuk meningkatkan kelarutannya serta diikuti dengan proses pendinginan hingga terbentuknya kristal aspirin.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum Asam asetil salisilat (Aspirin) adalah obat analgetik anti piretik dan anti inflamasi yang digolongkan dalam obat bebas. (1) Salisilat bermanfaat untuk mengobati nyeri yang tidak spesifik misalnya sakit kepala, nyeri sendi, nyeri haid, neuralgia,dan mialgia. Intoksikasi salisilat sering digunakan untuk mengobati segala keluhan ringan dan tidak berarti sehingga banyak terjadi penyalahgunaan (missue) obat bebas ini. (1) Keracunan salisilat yang berat dapat menyebabkan kematian, tetapi umumnya keracunan salisilat bersifat ringan. Metil Salisilat jauh lebih toksik daripada Natrium Salisilat, dan intoksitasinya sering terjadi pada anak-anak. Empat milliliter salisilat dapat menimbulkan kematian pada anak. (1) Mekanisme kerja yang berhubungan dengan sistem biosintesis PG ini mulai dilaporkan pada tahun 1971 oleh vane dan kawan-kawan yang memperlihatkan secara invitro bahwa dosis serendah aspirin dan indometasin menghamban produksi enzimatik PG. Oenelitian lanjuta telah membuktikan bahwa PG akan dilepaskan bila mana sel mengalami kerusakan. Walaupun invitro obat AINS diketahui menghambat berbagai reaksi biokimiawi, hubungan dengan efek analgesik, antipiretik, dan antiinflamasinya belum jelas. Selain itu

obat AINS secara umum tidak menghambat biosintesis leukotrien, yang diketahui ikut berperan dalam inflamasi. (1; 209) Struktur kimia golongan salisilat ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Asam salisilat sangat iritatif, sehinga hanya digunakan sebagai obat luar. Derifatnya yang dapat dipakai secara sistemik adalah ester salisilat dari asam organik dengan subtitusi pada gugus hidroksil, misalnya Asetosal.
COOH OH COONa OH COONa OCOCH3 COOCH3 OH

Asam Salisilat Natrium Salisilat

Asetosal

Metil Salisilat

* Gambar 15.3 Struktur Kimia Golongan Salisilat Efek- Efek Yang Tidak Diinginkan Efek samping yang paling sering terjadi berupa iritasi mukosa lambung dengan resiko tukak lambung dan pendarahan samar (occult). Penyebabnya adalah sifat asam dari asetosal yang dapat dikurangi melalui kombinasi dengan antasidum (MgO, Aluminium Hidroksida, CaCO3) atau garam kalsiumnya (Carbasalat ascal). Pada dosis besar, faktor lain memegang peranan penting, yakni hilangnya efek pelindung dari prostasiklin (PGI2) terhadap mukosa lambung yang sintasisnya turut dihalangi akibat blokade siklooksigenase. (2;256) Selain itu Asetosal menimbulkan efek-efek spesifik, seperti reaksi alergi kulit dan tinnitus (Telinga berdengung) pada dosis lebih tinggi efek yang lebih serius adalah kejang. Kejang Bronch hebat yang pada pasien asma, meski dalam

dosis kecil, dapat mengakibatkan serangan. Anak-anak kecil yang menderita cacar air / flu (salesma) sebaiknya jangan diberi asetosal (melainkan parasetamol) karena beresiko terkena Sindrom Rye yang berbahaya. Sindrom ini berciri muntah hebat, termangu-mangu, gangguan pernafasan konvulsi dan adakalanya koma. (2;257) Sintesis Asetosal
O C O O C CH3 O C

OH

+
OH

C H3C O

OH

O OH

O + H3C C

O C CH 3

Walaupun jalur ini terlihat amat mudah, amatlah sulit untuk mengatur reaksi sehingga didapat hasil yang optimal. Komponen utama yang mula-mula terjadi adalah suatu ester asam karbonat, selama fase ini suhu tidak boleh melampaui batas tertentu (sekitar 35C). Kemudian barulah pada suhu tinggi (75C tekanan berlebih CO2) akan tersubtitusi. (4;109) Asam salisilat dapat diperoleh menurut cara Kolbe-Schmitt dengan hasil hampir kuantitatif melalui reaksi natrium fenolat dan karbondioksida pada 1250C dan 4-7 bar dan kemudian dihidrlolisis. Asam asetilsalisilat diperoleh dengan cara asetilasi asam salisilat dengan katalisis proton. (6;435)

II.2 Uraian Bahan

1. Asam salisilat (5:43) Nama Resmi Nama Lain : Acidum salicylicum : Asam salisilat

Rumus Molekul : C7H6O3 Bobot Molekul : 138,12


COOH OH

Rumus Bangun :

Pemerian

: Hablur ringan tak berwarna atau serbuk berwarna putih hampir tidak berbau rasa agak manis dan tajam.

Kelarutan

: Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol 95 % P. , mudah larut dalam kloroform P dan dalam eter P. Laruta dalam larutan amonium asetat P, dinatrium hidrogenfosfat P, kalium sitrat P dan natrium sitrat P.

Penyimpanan Kegunaan

: Dalam wadah tertutup baik : Penerima gugus asetil pada aspirin

2. Anhidrida Asetat (5:647) Nama Resmi Nama Lain : Acidum acetic anhidrida : Asam asetat anhidrida

Rumus Molekul : (CH3CO)2O

Rumus Bangun :
C H3C

O C

CH3

Pemerian

: Cairan jernih tidak berwarna, berbau tajam, mengandung tidak kurang dari 95 % C4H6O3.

Penyimpanan Kegunaan

: Dalam wadah tertutup rapat : Pelarut asam asalisilat dan pemberiu gugus asetil pada aspirin

3.Asam sulfat (5;58) Nama Resmi Nama Lain : Acidum sulfuricum : Asam sulfat

Rumus Molekul : H2SO4 Bobot molekul Pemerian : 98,07 : Cairan kental seperti minyak korosif, tidak berwarna, jika ditambahkan ke dalam air menimbulkan panas. Kelarutan : Dapat bercampur dengan air dan etanol, menimbulkan panas Penyimpanan Kegunaan 4.Besi (III) Klorida Nama Resmi Nama Lain : Ferri chloridum : Ferri chlorida / Besi (III) klorida : Dalam wadah tertutup rapat : Sebagai katalisator

Rumus Molekul : FeCl3

Bobot molekul Pemerian

: 162,2 : Hablur atau serbuk berwarna kehijauan, berubah menjadi jingga oleh pengaruh udara lembab.

Penyimpanan Kegunaan

: Dalam wadah tertutup rapat : Sebagai indikator untuk menguji kemurnian aspirin yang terbentuk

5.Air Suling (5;96) Nama Resmi Nama Lain : Aqua destillata : Aquades / Air Suling / Aqua / Aqua Purificata

Rumus Molekul : H2O Bobot Molekul Pemerian : 18,02 : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup baik : Sebagai larutan pencuci kristal aspirin dari kelebihan asam

6.Natrium bikarbonat (5;424) Nama Resmi Nama Lain RM / BM : Natrii subcarbonas : Natrium bikarbonat / bic natric / natrium hidrogen karbonat : NaHCO3 / 84

RB

O Na H C O O

Pemerian

: Serbuk hablur putih atau hablur monoklin kecil, tidak berbau, rasa asin.

Kelarutan

: Larut dalam 11 bagian air; praktis tidak larut dalam etanol (95 %) p.

Penyimpanan Kegunaan

: Dalam wadah tertutup baik : Untuk melarutkan asam salisilat yang tidak larut pada

proses pemurnian 7.Benzen (5;658) Nama Resmi Nama Lain RM / BM RB : Benzenum : Benzen : C6H6 / 78,02 :

Pemerian Penyimpanan Kegunaan

: Cairan tranasparan, tidak berwarna, mudah menyala. : Dalam wadah tertutup rapat, jauh dari api : Pelarut kristal aspirin pada proses rekristalisasi

8.Asam klorida (5;53) Nama Resmi Nama Lain RM / BM RB : Acidum hydrochloridum : Asam klorida / Hydrochloric acid : HCl / 36,46 : H Cl

Pemerian

: Cairan; tidak berwarna; berasap, bau merangsang. Jika diencerkan dengan air, bau dan asap hilang

Penyimpanan Kegunaan 9.Aspirin (5;658) Nama Resmi Nama Lain RM / BM RB

: Dalam wadah tertutup rapat : Untuk menetralkan kelebihan NaOH

: Acidum acetylsalicylicum : Asam asetilsalisilat / Asetosal / Aspirin : C9H8O4 / 180,16 :


COOH OCOCH3

Pemerian

: Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa asam.

Kelarutan

: Agak sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol (95%) p; larut dalam kloroform p dan eter p.

Penyimpanan Kegunaan

: Dalam wadah tertutup baik : Sebagai produk yang akan disintesa.

II.3 Prosedur Percobaan (6;4)

Timbang 2,0 g (0,015 mol) kristal asam salisilat dan tempatkan dalam labu erlenmeyer 250 ml. Tambahkan 5 ml (0,05 mol) anhidrida asetat, diikuti dengan 5 tetes asam sulfat pekat dari pipet tetes, dan kocok hingga asam salisilat larut. Panaskan di penangas air selama 5 sampai 10 menit. Lalu erlenmeyer didinginkan pada temperatur kamar hingga dimana asam salisilat akan menjadi kristal dari campuran reaksi. Jika tidak gores dinding erlenmeyer dengan batang pengaduk dan campuran sedikit dingin dalam tangas es (wadah es) hingga kristal terbentuk. Tambahkan 50 ml air dan dinginkan campuran dalam tangas es hingga proses kristalisasi berlangsung sempurna. Kumpulkan hasil (kristal) secara penyaringan vakum menggunakan penyaring Buchner. Filtrat dapat digunakan untuk membersihkan labu erlenmeyer hingga semua kristal telah dikumpulkan . Cuci kristal beberapa kali dengan sedikit bagian air dingin. Lalu lanjutkan penarikan udara melalui kristal pada penyaring Bucner secara penyedotan (suction) hingga kristal bebas dari pelarut. Timbang dan hitung nilai kasarnya. Pemurnian : Kedalam masing-masing 3 tabung uji yang mengandung 5 ml air dilarutkan sedikit kristal dengan beberapa fenol, asam salisilat dan hasil kasar (kristal aspirin). Tambahkan satu atau dua tetes larutan FeCl3 1% Ke tiap-tiap tabung dan catat warnanya. Pembentukan kompleks besi-fenol dengan Fe(III)

memberikan warna dari merah hingga violet, yang dipercaya bahwa partikel fenol masih ada. Pindahkan padatan kasar ke gelas piala 150 ml dan tambahkan 25 ml larutan Natrium bikarbonat jenuh. Aduk hingga tanda (bunyi) reaksi berhenti. Saring larutan dengan penyedotan menggunakan corong buchner. Beberapa polimer yeng merupakan reaksi samping akan tersaring. Cuci gelas piala dan corong dengan 5 10 ml air. Buat campuran 3,5 ml asam klorida pekat dan 10 ml air dalam gelas piala 150 ml. Hati-hati membuang filtrat ke dalam campuran sambil diaduk. Aspirin akan diendapkan. Didinginkan campuran dalam tangas es, saring padatan dengan penyedotan menggunakan corong buchner. Tekan cairan dari kristal dengan penutup bersih dan cuci kristal dengan air dingin. Air yang digunakan dalam tahap ini adalah air es. Tempatkan kristal pada gelas arloji untuk dikeringkan. Timbang hasilnya, tentukan titik leburnya (135 - 136C) dan hitung nilai dalam persen. Uji terhadap adanya asam salisilat yang tidak bereaksi menggunakan larutan besi (III) klorida. Rekristalisasi : Air tidak cocok sebagai pelarut untuk kristalisasi karena aspirin akan terhidrolisis sebagian dengan pemanasan dalam air. Dilarutkan sedikit sampel dalam sejumlah kecil benzen panas, campuran dipanaskan diatas penangas air. Jika masih aada padatan yang tersisa, saring larutan panas dari penyaring yang

ditempatkan dalam corong yang sebelumnya dipanaskan terlebih dahulu lalu menuangkan benzen panas. Pada pendinginan pada temperatur kamar, aspirin akan mengkristalisasi. Jika tidak, tambahkan petroleum eter dan didinginkan sedikit larutan (benzen membeku pada 5C) dalam air es, sambil digosok dinding gelas dengan menggunakan batang kaca (batang pengaduk). Kumpulkan peroduk (kristal) secara penyaringan vakum menggunakan corong Hirsch. Jangan lupa menguji kristal dengan FeCl3.

BAB III METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan III.1.1 Alat 1. Alumunium foil 2. Baskom 3. Batang pengaduk 4. Botol Semprot 5. Bunsen 6. Corong biasa 7. Cawan Porselin 8. Erlenmeyer 250 ml 9. Gelas kimia 100 ml 10. Gelas ukur 50 ml, 10 ml 11. Kertas saring 12. Kertas timbang 13. Kaki tiga 14. Neraca Ohaus 15. Oven listrik 16. Pipet tetes 17. Timbangan analitik

18. Tissue 19. Sendok tanduk III.1.2 Bahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. III.2 Cara Kerja No. 1. Prosedur Ditimbang asam salisilat sebanyak 2 gram dan di tambahkan dengan 5 ml anhidrida asetat 2. Ditambahkan dengan 5 tetes asam sulfat pekat Endapan berkurang Pengamatan Larutan keruh Gambar Asam klorida encer Anhidrida asetat Asam salisilat Asam sulfat pekat Air suling Es batu Larutan besi (III) klorida Natrium bikarbonat jenuh

3.

Larutan tadi dipanaskan selama 5 10 menit di nyala bunsen

Larutan jernih

4.

Larutan didinginkan pada suhu kamar

Endapan kristal putih

dan dinding erlenmeyer digores-gores hingga terbentuk kristal, jika belum terbentuk erlenmeyer didinginkan di baskom berisi es sambil terus digoresgores dindingnya. 5. Setelah terbentuk kristal putih, maka ditambahkan 50 ml air. 6. Kristal disaring dengan menggunakan corong dan kertas saring. 7. 8. 9. Diuji dengan FeCl3 Ditambahkan NaHCO3 Ditambahkan larutan HCl (Campuran 20 gram atau 17 ml HCl pekat dalam 100 ml air) 10. Disaring lagi dengan corong dan kertas saring. 11. Setelah didapatkan kristal aspirin lalu dikeringkan di oven listrik selama beberapa menit / ditimbang 12. Setelah itu ditimbang berat aspirin yang didapatkan 0,31 & 0,374 gram Kristal putih Endapan tersaring Warna ungu tua Gelembung Gas Endapan tersaring Endapan putih

13.

Dilarutkan

sedikit

kristal

aspirin Kristal aspirin larut

sejumlah kecil benzen panas 14. Dimasukkan larutan tersebut ke dalam baskom yang berisi esbatu Tidak endapan terbentuk

BAB IV HASIL PENGAMATAN

IV.1 Tabel Pengamatan No. 1. 2. IV.2 Reaksi


O C OH O O C CH3 O C OH O OH

Berat total (g) 0,380 0,774

Berat kertas saring (g) 0,349 0,400

Berat Kristal aspirin (g) 0,031 0.374

+
OH

C H3C O

O + H3C C

O C CH 3

IV.3 Perhitungan 1 mol asam salisilat setara dengan 1 mol aspirin mol asam salisilat = gram asam salislat BM asam salisilat mol aspirin = 2gram 138,12 = 0,0144 mol Berat aspirin secara teoritis m = mol aspirin x BM aspirin m = 0,0144 x 180,16 m = 2,5943 gr

Berat aspirin hasil praktek adalah gr Rendamen = Berat aspirin hasil praktikum Berat aspirin secara teoritis = = 0,031 2,5943 1,19 % x 100 %

Rendamen 2= Berat aspirin hasil praktikum Berat aspirin secara teoritis = 0,374 2,5943 x 100 %

= 14,41 % Berat rendamen rata-rata = 7,8 %

BAB V

PEMBAHASAN

Aspirin merupakan nama lain dari asam asetil salisilat dan memiliki peranan yang sangat besar dalam bidang farmasi yaitu sebagai obat yang berkhasiat anti piretik dan analgetik. Senyawa aspirin ini tidak terdapat dalam keadaan bebas di alam, jadi untuk memperolehnya perlu dilakukan sintesa. Dalam percobaan ini, sintesa aspirin dimaksudkan untuk memperoleh kristal aspirin yang sempurna. Sintesa ini melalui beberapa tahap yaitu di mulai dengan melarutkan asam salisilat 2 gram ke dalam 5 ml anhidrida asetat. Penambahan anhidrida asetat bertujuan sebagai pelarut asam salisilat dan sebagai pemberi gugus asetil pada aspirin. Digunakan bentuk anhidrat karena jika pada proses sintesis ini terdapat air air, maka aspirin akan terhidrolisis sebagian dengan pemanasan. Setelah penambahan anhidrida asetat, maka diikuti dengan penambahan H2SO4 pekat sebanyak 5 tetes yang berfungsi untuk menambah kelarutan asam salisilat dan sebagai katalisator, sehingga reaksi dapat berlangsung dengan sempurna. Untuk menambah kelarutan asam salisilat maka dilakukan pemanasan selama kurang lebih 5 menit. Apabila asam salisilat telah larut seluruhnya, maka erlanmeyar didinginkan pada suhu kamar selama beberapa menit. Didinginkan pada suhu kamar terlebih dahulu agar erlenmeyar tidak pecah oleh perubahan temperatur yang cukup drastis. Pendinginan kemudian pada tangas es agas kristal terbentuk lebih sempurna. Selama proses pendinginan dilakukan penggoresan pada dinding erlenmeyer untuk membantu

proses kristalisasi. Penggoresan dapat membentuk kristal karena membentuk ronggarongga pada dinding labu erlenmeyer sehingga memungkinkan kristal tesebut berkumpul dan menyatu. Apabila kristal aspirin telah terbentuk, kristal kemudian dicuci dengan air suling sebanyak 3 kali untuk mencuci kelebihan asam. Untuk mengetahui bahwa aspirin yang terbentuk murni atau tidak, maka kristal yang diperoleh direaksikan dengan FeCl3. Apabila terbentuk warna violet, berarti kristal yang diperoleh tidak murni. Jika warna yang terbentuk adalah kuning atau oranye, berarti aspirin tersebut murni. Setelah itu ditambahkan larutan jenuh NaHCO3 untuk menghilangkan kelebihan asam salisilat yang tidak bereaksi dan ikut mengkristal. Penambahan larutan jenuh NaHCO3 dihentikan jika tanda bunyi reaksi berhenti. Larutan tadi kemudian ditambahkan larutan HCl encer untuk untuk menetralkan kelebihan natrium bikarbonat, lalu disaring untuk memperoleh kristal aspirin. Setelah kering, aspirin tersebut ditimbang lalu diuji lagi dengan FeCl3 untuk mengetahui apakah kristal tadi aspirin atau bukan. Hal ini dapat kita ketahui dengan melihat warna larutan. Bila masih berwarn ungu, maka kristalnya belum murni dan masih mengandung asam salisilat. Karena asam salisilat mempunyai gugus fenol, maka dengan penambahan FeCl3 asam salisilat akan membentuk kompleks besi-fenol dan memberikan warna dari merah hingga violet . Aspirin kemudian dikeringkan dan direkristalisasi dengan menggunakan benzen. Pada rekristalisasi ini digunakan benzen karena jika menggunakan air aspirin

akan terhidrolisis sebagian dengan pemanasan. Mula mula kristal aspirin dimasukkan ke dalam benzen panas untuk menambah kelarutan aspirin. Setelah itu didinginkan pada baskom yang berisi es batu untuk mengendapkan kembaliaspirin yang telah larut. Endapan yang terbentuk kemudian disaring. Setelah kristal aspirin diperoleh, selanjutnya dilakukan pengeringan dalam oven untuk mendapatkan kristal aspirin yang telah bebas dari pelarutnya. Persentase rendamen yang diperoleh dari praktikum ini adalah 7,8 %. rendamen yang diperoleh ini sangat kecil karena menurut teori, berat aspirin yang diperoleh adalah sekitar 2,594 gram. Hal ini disebabkan oleh 1. Penimbangan yang kurang teliti. 2. Sampel dan pereaksi yang digunakan sudah tidak murni lagi. 3. Reksi tidak berjalan sempurna.

BAB VI PENUTUP

VI.1 Kesimpulan Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa : Persentase rendamen rata rata yang di peroleh adalah 7,8 % VI.2 Saran Seabiknya bahan yang digunakan pada praktikum ini telah di buat sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ganiswara dkk (1987), Farmakologi dan Terapi Edisi IV, FKUI, Jakarta 2. Tjay, Tan Huan (2001), Obat-Obat penting PT Kompusindo, Jakarta 3. Hawkines R (1989) Interaksi Obat Penerbit ITB, Bandung 4. Fessenden dan J Ralph, dkk, (1994),Kimia Organik, Erlangga, Jakarta. 5. Ditjen POM (1979) Farmakope Indonesia Edisi III Depkes RI Jakarta 6. Wunas, y, (2003), Penuntun Praktikum KimiaOrganik Sintesis, Laboratorium Kimia Farmasi Jurusan Farmasi Universitas Hasanuddin, Makassar 7. Schunack, Walter, (1990), Senyawa Obat. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta