Anda di halaman 1dari 5

BIOGRAFI BUATANKU TENTANG Y.B.

MANGUNWIJAYA

Sastrawan yang popular dengan nama panggilan Romo Mangun ini lahir di Ambarawa, 6 Mei 1929, dari pasangan guru SD Yulianus Sumadi Mangunwijaya dan Serafin Kamdaniyah. Nama lengkapnya Yusuf Bilyatra Mangunwijaya. Bilyatra adalah nama kecilnya. Yusuf nama baptisnya. Sedangkan Mangunwijya adalah nama kakeknya, seorang petani tembakau. Romo Mangun tamat SD di Magelang tahun 1943, sekolah Teknik (setingkat SMP) di Yogyakarta tahun 1947, dan SLA di Malang tahun 1951. setelah itu ia menempuh pendidikan sebagai calon imam dengan masuk ke Seminari Menengah di Jalan Code Yogyakarta hingga 1952 dan dilanjutkan di Seminari Menengah Mertoyudhan, Magelang hingga 1953. Di tengah-tengah masa remajanya Romo Mangun sempat ikut berjuang sebagai prajurit BKR, TKR Divisi III, Batalyon X, Kompi Zeni 1945-1946, bahkan ia pernah menjadi komandan Seksi TP Brigade XVII, Kompi Kedu 1947-1948. Ia ikut terliabat dalam pertempuran di Magelang, Amabarawa, dan Semarang. Ia melanjutkan studi di Institut Institut Filsafat dan Teologi Sancti Pauli, Yogyakarta tamat tahun 1959. tahun itu juga ia tahbiskan menjadi imam. Kemudian belajar di Institut Teknologi Bandung jurusan Arsitektur sampai tahun 1960. Tahun 1960-1966 ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Teknik Rhein, Westfalen, Aachen Jerman. Sepulang dari studi di Jerman, ia bertugas sebgai pastor di paroki Salam, Magelang. Kemudian tahun 1978 ia mengikuti Felow of Aspen Institute for Humanistic Studies, Aspen, Colorado, Amerika Serikat. Tahun 1967-1980 ia menjadi dosen luar biasa di Jurusan Srsitektur Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sejak 1968 ia mulai aktif menulis kolom di berbagai surat kabar dan majalah. Tahun 1980 Romo Mangun berhenti sebagai dosen di UGM(namun sebgai arsitek independent ia terus berkarya), keluar pula sebagai paroki, dan memutuskan tinggal dan berkarya sebagai pekerja social di pemukiman hitam Kali Code, Yogyakarta sampai 1986. Tahun 1986-1988 ia berkarya di Grigak Gunung Kidul, mendampingi penduduk setempat dalam program lingkungan hidup dan pengadaan air bersih. Setelah itu ia kembali ke Yogyakarta, mendirikan Laboratorium Dinamika Edukasi Dasar yaitu sebuah lembaga nirlaba yang memusatkan perhatian pada bidan bidang pendidikan bagi anak-anak miskin dan terlantar. Pada saat bersamaan ia terjun sebgai pekerja social mendampingi warga korban pembangunan waduk Kedung OMbo, Jawa Tengah, sampai 1994. Sejak 19994, atas ijin dan dukungan Bapak Dojonegoro (Mendikbud waktu itu), Romo Mangun merintis program pendidikan dasar eksperimental di SD Mangunan, Kalasan, sebelah timur kota Yogyakarta. Bersamaan dengan itu ia pun membangun panti asuan dan mengasuh sejumlah anak puteri yang sebagian dipungut dari jalanan. Hingga saat ini karya pendidikan bagi anak-anak miskin itu masih berlangsung, dilanjutkan oleh para penerus almarhum. Sampai akhir hayatnya Romo Mangun tidak pernah surut bergerak sebgai pejuang kemanusiaan. Ia, misalnya ikut berada di Senayan, di tengah-tengah ribuan mahasiswa, dalam people power yang akhirnya melengserkan penguasa Orde Baru, Soeharto (yang pernah menjadi komandan batalyonnya semasa berjuang sebagai tentara pelajar terdahulu).

Rabu siang, tanggal 10 Februari 1999, pejuang kemanuasiaan itu meninggal di Hotel Le Mendien Jakarta, setalah menyampaikan makalah Peran Buku demi Kearifan dalam Iptek dalam symposium Meningkatkan Peranan Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Baru Indonesia yang diselenggarakan oleh Yayasan Obor Indonesia. Tahun 2000 almarhum Romo Mangun mendapat Bintang Maha Putera Narrraya bersama Tjuk Nyak Haidit, Sultan Takdir Alisyahbana dan Luwarsih Pringgodisuryo. Dalam dunia sastra, kiprah Romo Mangun dimulai dengan cerpennya Kapten Tahir yang memenangkan Sayembara Cerpen Kincir Emas Radio Nederland Program Bahasa Indonesia tahun 1975. Bersama cerpen-cerpen pemenang lainnya, cerpen itu diterbitkan dalam antologi Dari Jodoh sampai Supiah (Jakarta: Djambatan, 1976). Tahun 1981, terbit novelnya Romo Rahadi. Pada cetakan pertama novel ini Ramo Mangun menggunakan nama samaran Y. Watsu Wijaya. Novel yang menampilkan tokoh simbolik seoran pastur ini merupakan novel psikologis yang melukiskan pergulatan seorang (setiap) manusia yang pernah menyakini sesuatu secara kuat, namun dalam perkembangannya meragukan keyakinan itu Karen jiwanya berkembang dan kerena pengolahan hidupnya lebih kaya pengalaman. Adapun konflik keragu-raguan eksistensial itu tidak lain merupakan akibat dari semangat cinta seseorang kepada kebenaran. Tahun itu juga terbit novelnya yang dalam waktu singkat menjadi sangat terkenal : Burung- burung Manyar. Novel ini antara lain ingin memberikan renungan , refleksi kritis, mengenai hakikat, sangkan paran Revolusi 1945 dalam rangkaian kontinuitas sejarah bangsa Indonesia: masih benar dan setiakah Indonesia kepada arah haluan asli revolusi yang pernah menemukan saat bahagia penuh pahit-manis dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Setelah itu, berturut-turut terbit novelnya Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa (1983), trilogy Romo Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri (1983-1986), Balada Becak (1985), Durga Umayi (1991), dan Burungburung Rantau (1992). Menurut Romo Mangun, sebagaimana Burung-burung Manyar, novel-novel itu pada dasarnya mempunyai tokoh satu, yaitu nasion Indonesia yang diwayangkan dalam bentuk cerita dengan took-tokoh pelaku yang terlukis secara naturalis-realis namun sekaligus simbolis dalam berbagai skala abstraksi. Ikan-ikan hiu, Ido, Homa dan trilogy Roro Mendut, Genduk duku dan Lusi Lindri, seperti halnya Burung-burung Manyar, menampilkan lagi figure perempuan rakyat sebgai tokoh simbolis, mewayangkan Indonesia Orde Baru dengan menggali peristiwa-peristiwa histories abad ke 16-18 dalam sejarah Halmahera-Ternate-Tidore dan zaman akhir pemerintahan Sultan Agung hingga berakhirnya kekuasaan Amangkurat I. Cerita kecil fantastis humor Balada Becak mencoba merefleksikan kakikat kepahlawanan melalui pertanyaan Siapakah pahlawan masa kini? Durga Umayi dengan lebih tajam mencoba mengajukan lagi pertanyaan politis mengenai hakikat tanah air, ibu pertiwi. Novel ini merupakan pelukisan sejarah bangsa Indonesia sejak masih anak miskin di zaman colonial dan disebut Insulinde, kemudian menjadi Pertiwi, sampai menjadi sosok yang tidak jelas lagi identitasnya dengan perangai pelacur multinasional tingkat tinggi yang menyengsarakan abang-kembarnya sendiri: rakyat biasa. Tahun 2000, sepeninggalan Romo Mangun, terbit cerita kecilnya Pohon-pohon Sesawi dan kumpulan cerpennya Rumah Bambu. Pohon-pohon sesawi dapat dikatakan mencerminkan keimanan Romo Mangun. Dalam berbagai kesempatan Romo Mangun suka mengatakan bahwa dirinya hanya seorang pengarang amatir. Semangat keamatiran ini, yakni semangat menggeluti sesuatu dengan penuh kecintaan dan kegairahan, senantiasa mewarnai aktivitasnya bukan hanya dalam dunia sastra melainkan juga dalam dunia-dunia lain yang digulatinya. Sulitnya menempatkan ketokohan Romo

Mangun dalam satu bidang tertentu karena begitu banyak bidang yang ia terjuninya dan dalam setiap bidangnya beliau selalu menonjol. Singkat kata, ia beliau adalah seorang amatir serba bisa. Sebagai penulis saja ia telah menghasilkan ratusan esai/artikel/ makalah dan puluhan buku dalam berbagai bidang. Wajarlah jika sang amatir itu menerima banyak penghargaan baik tingkat lokal,nasional maupun internasional. Penghargaan yang ia pernah terima antara lain adalah: Penghargaan Sayembara Cerpen Kincir Emas Radio Nederland tahun 1975, Hadiah Sastra dari Dewan Kesenian Jakarta untuk buku esai Sastra dan Religiositas tahun 1982, Hadiah Sastra Asia Tenggara dari Ratu Sirikit, Tahiland tahun 1983, Penghargaan Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup untuk Tata Ruang tahun 1983, Penghargaan Sekretariat Nasional untuk Perencanaan dan Perumahhan tahun 1985, Anugerah Kemanusiaan dari Lembaga Bantuan Hukum Indonesia tahun 1986, IAI Award tahun 1991 dan tahun 1993, The Aga Khan Award for Archicteture, Samarkand Uzbekistan-Generve, Switzerland tahun 1992, The Ruth and Ralph Ersikine Fellowship Award, Stockhlom, Swedia tahun 1995, Penghargaan seni dan Budaya dan Sastra, Pemerintah DIY tahun 1996, Bintang/ Emas Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi Surakarta untuk Sastra tahun 1996, The Profesor Teeuw Foundation Award untuk sastra kepedulian terhadap masyarakat tahun 1996, Penghargaan Medali Emas, Kalyanekretya Utama untuk Teknologi, Journalistik dan Sastra dari Menristek tahun 1998, Bintang Maha Putera Naharya tahun 2000 Romo Mangun, dengan segala kelebihan dan kekurangan, adalah tokoh yang besar kontribusinya dalam perjuangan membangun perdamaian dan persaudaraan antarmanusia tanpa memandang apa pun agama, suku, ras dan identitas-identitas primodial lainnya. Itulah sebabnya yang menjadi kata kunci dalam perjuangan kemanusiaan adalah imam, religiositas, dan bukanlah agama sebagaimana yang kita kenal dalam kamus kesalahkaprahan kita. http://asatryo.blogspot.com/2009/12/biografi-buatanku-tentang-yb.html 08:58 Nama Lengkap Romo mangun adalah Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Dua huruf, Y.B., di depan nama Mangunwijaya merupakan gabungan nama baptis Yusuf, dan nama kecil Romo mangun, yakni Bilyarta. Kemudian tambahan huruf Pr., adalah sebutan untuk imam diosesan atau romo projo[7]. Kemudian, dari pernikahan Yulianus Sumadi Mangunwijaya dengan Serafin Kamdinijah yang juga berprofesi sebagai guru Sekolah rakyat , melahirkan Romo mangun pada 6 Mei 1929 M. di Ambarawa, Jawa Tengah. Romo mangun, sebutan akrabnya, ialah anak sulung dengan sebelas adik, tujuh diantaranya perempuan. Dari keluarga besar tersebut, hanya Romo Mangun yang menjadi seorang biarawan[8]. Dalam riwayat pendidikan, pada tahun 1936, Pastor yang pada periode Orde baru dijuluki komunis berjubah rohaniawan itu[9] memulai memasuki sekolah di HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan Magelang. Kemudian setelah tamat, tahun 1943, ia meneruskan studinya ke STM Jetis Yogyakarta. Ketika di STM ini, ia mengikuti kingrohosi yang diadakan tentara Jepang di lapangan Balapan Yogyakarta dan mulai tertarik mempelajari sejarah dunia dan filsafat. Kemudian, setelah satu tahun STM Jetis dibubarkan pada tahun 1944, dan gedungnya dijadikan markas perjuangan tentara RI, Romo Mangun muda mendaftarkan diri menjadi prajurit TKR Batalyon X divisi III dan bertugas di asrama militer di Benteng Vrederburg, lalu di asrama militer di Kota Baru Yogyakarta. Pada tahun ini, ia ikut dalam pertempuran di Ambarawa, Magelang, dan di Marnggen. Ketika sekolah STM Jetis dibuka kembali, tahun 1946, ia melanjutkan sekolahnya lagi hingga lulus tahun 1947. Ketika masih sekolah di STM Jetis yang kedua ini, karena semangatnya untuk berjuang tetap tinggi, ia menggabungkan diri dalam Tentara Pelajar dan ia sempat pernah bertugas menjadi sopir pendamping Panglima Perang Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk memeriksa pasukan[10]. Setelah lulus dari STM Jetis, yakni tahun 1947, dan pada saat agresi militer Belanda I, ia tergabung dalam TP Brigade XVII sebagai komandan kompi TP Kompi Kedu. Dan setahun kemudian ia melanjutkan belajarnya di SMU-B Santo Albertus Malang dan lulus pada tahun 1951. ketika di Albertus, tepatnya pada tahun 1950, ia mewakili pemuda Katolik menghadiri perayaan kemenangan RI di alun-alun kota Malang. Di sini Mangun mendengar pidato Mayor Isman yang kemudian sangat berpengaruh bagi masa depannya[11].

Pilihan hidup menjadi Pastor membuat Romo Mangun melanjutkan sekolah di seminari[12]. Pertama masuk ke Seminari Menengah di Kotabaru, 1951, kemudian pada tahun 1952 ia pindah ke Seminari Menengah Petrus Kanisius, Martoyudan Magelang. Setelah lulus tahun 1953, ia melanjutkan studinya ke Seminari Tinggi, sekolah di Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus di Kotabaru. Salah satu pengajarnya adalah Uskup Soegijapranata, SJ[13]. Ketika di Seminari, teman-temannya mengenal Romo Mangun sebagai seorang yang kreatif dan piawai dalam menulis. Terkait bakat sastranya, memang sudah berkembang sejak di Sekolah Dasar ketika Mangun Muda dididik untuk mampu terampil berbicara di depan umum dan menulis gagasan yang runtut dan argumentatif. Jalur sastra dan karya tulis kemudian dipakai Romo Mangun sebagai alat dan wujud perjuangan kemanusiannya. Menurut Utomo, salah satu yang menyuburkan bakat kepengarangan Romo Mangun adalah latihan berbicara di depan kelas dan membuat karangan yang pada waktu itu disebut opsel[14]. Pada tahun 1959, Romo Mangun melanjutkan pendidikannya di Teknik Arsitektur ITB dan tepat pada 8 September, ia ditahbiskan oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Soegijapranata menjadi Imam. Setelah mengenyam pendidikan di ITB, 1960, ia melanjutkan studi arsitekturnya di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule di Aachen Jerman dan lulus pada tahun 1966. ketika di luar negeri, yaitu pada tahun 1963, ia sempat menemani saat Uskup Soegijapranata meninggal dunia di biara suster Pusat Penyelenggaraan Ilahi di Harleen, Belanda. Setelah kembali ke Indonesia, ia menjadi Pastor Paroki di Gereja Santa Theresia, Desa Salam Magelang. Kemudian, pada tahun antara 1967 sampai 1980, selain ia menjadi seorang Pastor dan Dosen Luar Bisaa jurusan Arsitektur di UGM, ia juga mulai berhubungan dengan para pemuka agama lain, seperti Gus Dur dan Ibu Gedong Bagoes Oka. Dan pada tahun-tahun inilah Romo Mangun mulai menulis artikel untuk koran Indonesia Raya dan kompas, tulisan-tulisannya kebanyakan bertema: agama, kebudayaan, dan teknologi. Juga menulis cerpen dan novel. Dengan penulisan cerpen, pada tahun 1975 ia memenangkan Piala Kincir Emas dari radio Nederland. Setelah selesai mengikuti kuliah singkat tentang masalah kemanusiaan sebagai Fellow of Apsen Institute for Humanistic Studies di Aspen Colorado AS karena dorongan dari Dr. Soedjatmoko, ia melakukan pendampingan pada warga Kali Code yang terancam penggusuran. Untuk menolak penggusuran ini, ia melakukan protes mogok makan. Pendampingan ini berlangsung mulai tahun 1980 hingga tahun 1986. karena pengupayaan dan pembuatan perumahan untuk warga Kali Code, pada tahun 1992, ia mendapat The Aga Khan Award[15]. Kemudian, pada tahun 1986 sampai 1994, ia melakukan pendampingan lagi, yakni pada warga Kedung Ombo yang menjadi korban pembuatan waduk dan mendirikan Laboratorium Dinamika Edukasi Dasar (DED) dan menerapkan atau mengoprasikan eksperimennya di SD Kanisius Mangunan (SDKM) yang bertempat di Dusun Mangunan, Desa Kalitirto, Kec. Berbah, Kabupaten Sleman, sekitar 12 kilometer di sisi timur Yogyakarta[16]. Tujuan Romo Mangun mendirikan DED dan SDKM ialah untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi anak-anak miskin. Sebab, menurut Romo Mangun, selain Pendidikan Nasional tidak memberikan kesempatan pada mereka, Kurikulum yang diberikanpun tidak sesuai dengan keadaan dan kehidupan anak-anak miskin. Pada tahun 1998, tepatnya pda tanggal 26 Mei, ia menjadi salah satu pembicara utama dalam aksi demonstrasi peringatan terbunuhnya Moses Gatutkaca di yogyakarta. Dan setahun kemudian, tepat pada tanggal 10 Februari 1999, setelah memberikan ceramah dalam seminar yang bertema meningkatkan peran buku dalam upaya membentuk masyarakat Indonesia baru di hotel Le Maridian Jakarta, Romo Mangun meninggal dunia karena serangan jantung. Peristiwa ini mengingatkan dan sekaligus menjawab harapannya seperti yang diungkapkan Romo Muji Sutrisno, Beliau selalu meminta kepada Tuhan, ingin meninggal dalam tugas. Romo Mangun meninggal ketika menunaikan tugas mulia sebagai Guru Bangsa, mempersiapkan pemikir-pemikir cerdas untuk membangun masyarakat baru Indonesia. Mohamad Sobary yang melepas kepergian Romo Mangun

dalam pelukannya mengatakan, Romo Mangun adalah seorang Indonesia baru karena yang dibayangkannya adalah masa depan dan pemikirannya mendahului zaman sekarang. Sekalipun telah meninggal, dalam wasiatnya Romo Mangun tetap menginginkan agar tubuhnya masih bermanfaat untuk proyek kemanusiaan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Faruk HT, Romo Mangun berwasiat agar jasadnya diserahkan kepada Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada untuk dimanfaatkan bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan. Namun wasiat yang terakhir ini oleh sahabatsahabatnya tidak dikabulkan juga karena pertimbangan kemanusiaan[17].