Anda di halaman 1dari 10

LANGKAH-LANGKAH PENDIDIKAN AKHLAQ

Disusun guna memenuhi tugas. Mata kuliah Dosen Pengampu : : Hadits Tarbawi II H. Mubarok, Lc

Kelas RE IV C Disusun oleh:

Ahmad Hafidz Muhammad Zulqornein

(2021210089) (2021210091)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN TAHUN AJARAN 2012

A. PENDAHULUAN

Manusia mempunyai bermacam karakter atau sifat dalam langkah-langkah berpendidikan akhlak, diantara sifat manusia yang ada yang termasuk ke dalam sifat terpuji dan juga ada yang termasuk dalam sifat yang tercela. Dalam makalah ini sedikit akan membahas dimana pentingnya menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk seperti berbohong dan mencela, lalu mengusahakan akhlak yang mulia seperti jujur dan malu. Dalam pembahasan ini akan lebih di perinci di pembahasan makalah yang akan di jelaskan sedikit lebih rinci.

B. HADITS DAN TERJEMAH Langkah-langkah pendidikan akhlaq : 1. Menghilangkan Kebiasaan-kebiasaan buruk seperti : a. Hadits Tentang Berbohong

... , : , , ,
Terjemah : Ibnu Masud RA menceritakan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ...Jauhilah berdusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada durhaka, dan durhaka itu membawa kepada Neraka. Janganlah orang senantiasa berdusta, dan memilih dusta, sehingga ia dicatat seorang pendusta pada sisi Allah.1

b. Hadits Tentang Mencela

. : , : :
Terjemah : Dari Syaqiq, dia berkata : Abdullah berkata, Nabi SAW bersabda, Mencaci muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.2 2. Mengusahakan akhlak yang mulia seperti : a. Hadits Tentang Jujur

: ..., , ,
1

Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam, Syarah Bulughul Maram jilid 7, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007),

hlm. 566.
2

Shahih Bukhari/ Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani, Fathul Baari 35, (Jakarta: Pustaka Azzam,

2009), hlm. 81.

Terjemah : Ibnu Masud RA menceritakan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, Hendaklah kamu berpegang pada kebenaran membawa pada kebenaran, karena sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebaikan, sesungguhnya kebaikan membawa kepada syurga. Hendaklah orang senantiasa bersifat benar dan memilih kebenaran, sehingga ia dicatat jadi seorang benar pada sisi Allah....3

b. Hadits Tentang Malu

:: ,
Terjemah : Dari Anas dan Ibnu Abas berkata : Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya tiaptiap Agama memiliki karakter (kepribadian). Dan sesungguhnya karakter agama Islam itu adalah sifat malu.4

C. PENJELASAN 1. Maksud Hadits a. Menghilangkan Kebiasaan-kebiasaan buruk : 1) Berbohong

sesungguhnya dusta itu membawa kepada durhaka.5

Kata fujuur artinya membelah/merobek tabir agama, kata ini digunakan untuk kecenderungan terhadap kerusakan dan kemaksiatan.6

, Janganlah

orang senantiasa

berdusta, dan memilih dusta, sehingga ia dicatat.7 Maksud dari kata dicatat adalah dihukumi dengan hal itu dan menampakkannya kepada para Malaikat serta

3 4 5 6 7

Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam, loc cit. Al Munawi, Faidul Qadir juz 2, hlm. 654. Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam, loc cit. Shahih Bukhari/ Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani, op cit, hlm. 363. Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam, loc cit.

mencampakannya ke dalam hati para penghuni bumi. Jika seseorang meremehkan dusta maka dia akan sering melakukannya, sehingga akan dikenal sebagai pendusta. Dalam kalimat tersebut terdapat isyarat bahwa orang yang menghindari dusta dengan niat yang baik menuju yang benar sehingga benar itu menjadi sikapnya, maka dia patut diberi sifat sebagai orang yang benar. Begitu juga sebaliknya. Dalam hal ini bukan berarti pujian dan celaan itu khusus bagi yang sengaja berniat melakukannya, karena pada dasarnya benar adalah akhlak terpuji dan dusta adalah akhlak tercela.8 Bahwa dusta itu membawa kepada durhaka, menimbulkan kejahatan dan apabila orang itu telah membiasakan berdusta, maka perangai itu akhirnya akan mendarah daging pada dirinya, sehingga menjadilah orang itu sebagai pendusta, lalu hilanglah kepercayaan kepadanya.9 2) Mencela Sibaab (mencaci). Kata ini dibentuk dari kata sabba, yasubbu, sabban, sibaban artinya mencaci,10 membicarakan suatu aib yang dapat menodai kehormatan seseorang, baik itu ada padanya atau tidak. Fusuuq (fasik), keluar dari kebenaran. Sifat fasik merupakan sifat menyimpang dari taat kepada Allah SWT menjadi kemaksiatan kepada-Nya. Dan sesungguhnya mencela kaum muslim adalah diantara maksiat yang dilarang dan diharamkan. Kufrun (kafir), namun yang dimaksud bukan hakikat kafir yang berarti keluar dari agama Allah SWT, hal ini hanya digunakan untuk larangan. Pemahaman terbalik dari hadits ini bahwa mencela orang-orang kafir itu hukumnya boleh. Tetapi jika orang-orang kafir tersebut telah diikat dengan perjanjian damai dengan kaum muslim, maka menghina mereka adalah suatu bentuk kezhaliman terhadap mereka dan hal tersebut adalah sesuatu yang dilarang oleh syariat.11

8 9

Shahih Bukhari/ Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani, op cit, hlm. 364-365. Muhammad Abdul Aziz, Akhlak Rasulullah SAW (Semarang: CV. Wicaksana, 1989), hlm. 250. Shahih Bukhari/ Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani, op cit, hlm 84. Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam, op cit, hlm. 495-496.

10 11

b. Mengusahakan akhlak yang mulia : 1) Jujur

( peliharalah sifat jujur, karena sesungguhnya


sifat jujur itu akan menunjukkan kepada kebaikan).12 Kata yahdii berasal dari kata hidaayah, artinya tanda-tanda yang menyampaikan kepada tujuan. Asal kata al birr adalah memperluas/ memperbanyak dalam melakukan kebaikan. Ia merupakan nama yang mencakup semua perbuatan baik. Terkadang kata ini di gunakan juga untuk menyebut perbuatan yang ikhlas dan dilakukan secara terus-menerus.13

( sesungguhnya kebaikan itu meyampaikan kepada surga). Ini


terdapat perintah untuk berlaku jujur, karena kejujuran itu akan menyebabkan seseorang berbuat kebaikan, sedangkan kebaikan merupakan jalan menuju surga.

( , dan tidaklah seseorang


berupaya terus untuk bersifat jujur, melainkan ia akan dicatat sebagai seorang yang jujur disisi Allah). Jujur merupakan sifat mulia dapat dicapai dengan pembiasaan dan usaha yang sungguh-sungguh; karena tidaklah seseorang yang senantiasa berupaya jujur pada setiap perkataan maupun perbuatannya, melainkan kejujuran itu akan tertanam di dalam jiwanya dan akan bersatu dengan tabiatnya; hingga ia pun akan tergolong orang-orang yang jujur lagi berbakti disisi Allah.14 Kebiasaan jujur akan melembaga pada dirinya sehingga menjadilah ia sebagai orang yang benar dan jujur, benar dalam ucapannya;benar dalam perbuatanya; benar dalam pemikiran-pemikirannya, kemudian dia akan dibawa oleh kebiasaan yang terpuji kepada segala sifat kebaikan.15

12 13 14 15

Ibid, hlm. 566. Shahih Bukhari/ Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani, op cit, hlm. 362. Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam, op cit, hlm. 567. Muhammad Abdul Aziz, op cit, hlm 245-256.

2) Malu ( ) merupakan karakter dan kepribadian. (

.)
yang

karakter Agama ini (Islam) dan kepribadian. Harga diri Agama ini yang menjadi kebaikan agama Islam tersebut adalah sifat malu. Kata

berasal dari

berarti hidup (kehidupan). Ketika hati hidup, maka akan terasa malu terhadap Allah SWT bertambah. Dan ketika rasa malu terhadap Allah SWT bertambah, maka bertambah pula kehidupan (hidup hatinya). Bukanlah kita lihat orang yang malu akan berkeringat pada waktu merasa malu, maka keringatnya berasal dari panasnya hidup (sifat hidup) yang bergejolak, lalu dari bergejolaknya rasa malu ruh akan bergejolak (layaknya air mendidih). Sehingga jasad mengeluarkan keringat, dan jasad tersebut keluar keringat dari anggota tubuh dari atas, karena sesungguhnya pusat atau pimpinan kehidupan terdapat pada wajah dan dada.16

2. Nilai Tarbawi a. Berbohong 1) Hadits di atas menunjukan ancaman terhadap para pendusta; karena sifat ini akan mengantarkan pelakunya berbuat fasik dan maksiat, hingga berubahlah seluruh amalan dan perkataannya menjadi sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan dan bertolak belakang dengan sifat taat kepada Allah. 2) Berbohong atau berdusta merupakan perbuatan yang tercela. Dusta adalah ketidak sesuaian antara kabar dan kenyataan. b. Mencela 1) Sesungguhnya mencela kaum muslim adalah diantara maksiat yang dilarang dan diharamkan. 2) Muslim yang diharamkan untuk mencelanya, yaitu seorang muslim yang tidak menampakkan kesalahan-kesalahannya, tetapi justru yang nampak; bahwa mereka itu adalah orang yang baik.

16

Al Munawi, loc cit.

c. Jujur 1) Hadis ini terdapat perintah untuk berlaku jujur, karena kejujuran itu akan menyebabkan seseorang berbuat kebaikan sedangkan kebaikan adalah merupakan jalan menuju surga. 2) Jujur merupakan sifat mulia dapat dicapai dengan pembiasaan dan usaha yang sungguh-sungguh. Kita di wajibkan untuk berkata jujur, karena kebiasaan jujur akan melembaga pada dirinya sehingga menjadilah ia sebagai orang yang benar dan jujur. d. Malu 1) Sifat malu ini menjadi kepribadian akhlak agama Islam. Sehingga seseorang akan rendah hati dan merasa malu, dengan maksud hal yang positif. 2) Dalam agama Islam kita, secara umum kepribadian rasa malu tersebut penyempurna bagi akhlak mulia, sedang Nabi SAW di utus untuk menyempurnakan akhlak dan ketika Islam adalah agama yang paling mulia, maka Allah SWT menganugerahkanNya akhlak yang paling mulia, yaitu malu.

D. KESIMPULAN

Telah dipaparkan berbagai pembahasan yang ada, pemakalah menyimpulkan bahwa langkah-langkah pendidikan akhlak merupakan kunci dari apa yang kita peroleh antara kebaikan dan kebenaran yang menuju antara surga dan neraka. Dengan adanya adanya pembahasan langkah-langkah pendidikan akhlak maka kita berusaha seminimal mungkin untuk mengurangi kebiasaan-kebiasaan buruk untuk di tinggalkan dan berusaha semaksimal mungkin untuk meraih akhlak yang mulia.

DAFTAR PUSTAKA
Al Bassam, Abdullah bin Abdurrahman. 2007. Syarah Bulughul Maram jilid 7, Jakarta: Pustaka Azzam. Al Munawi, Faidul Qadir juz 2. Aziz, Muhammad Abdul. 1989. Akhlak Rasulullah SAW , Semarang: CV. Wicaksana. Ibnu Hajar Al Asqolani,Al Imam Al Hafizh. 2009. Fathul Baari 29, Jakarta: Pustaka Azzam. Ibnu Hajar Al Asqolani,Al Imam Al Hafizh. 2009. Fathul Baari 35, Jakarta: Pustaka Azzam.