Anda di halaman 1dari 15

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM

AEROSOL TOPIKAL DENGAN EKTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativa) SEBAGAI ANTIJAMUR DAN ANTIPERSPIRAN UNTUK MENCEGAH INFEKSI JAMUR PADA LIPATAN PAHA PRIA (Tinea cruris)

BIDANG KEGIATAN: PKM-GT

Diusulkan Oleh: Rendry Dwitya Wirawan (J1E109205) (J1E109025) (J1E109205) (J1E109034) Angkatan 2009 Angkatan 2009 Angkatan 2009 Angkatan 2009

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN 2011

HALAMAN PENGESAHAN 1. Judul Kegiatan : Aerosol Dengan Ektrak Bawang Putih (Allium sativa) Sebagai Antijamur dan Antiperspiran untuk Mencegah Infeksi Jamur Pada Lipatan Paha Pria (Tinea cruris) ( ) PKM-AI ( ) PKM-GT Rendry Dwitya Wirawan J1E109205 Farmasi Lambung Mangkurat Jl. Tambak II RT/RW 019/003 Desa Semayap Kec. PL. Utara Kab. Kotabaru, KalSel/081952715226 Rendry_dw@yahoo.com 2 Orang

2. 3.

Bidang Kegiatan Ketua Pelaksana Kegiatan a. b. c. d. e. Nama Lengkap NIM Jurusan Universitas Alamat Rumah dan No.Tel./Hp

: : : : : :

4. 5.

f. Alamat email Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis Dosen Pendamping a. Nama Lengkap dan Gelar b. NIP c. Alamat Rumah dan No. Tel/HP

: :

: : :

Nani Kartinah, S.Farm., M.Sc., Apt. 19840728 201012 2 005 Jl. Pondok Kelapa Komplek Balitra Jaya Permai Blok U No. 20-21, Loktabat Utara, Banjarbaru, Kal-Sel

Banjarbaru, 13 Februari 2012 Menyetujui a.n. Ketua Program Studi Ketua Pelaksana Kegiatan,

(Khoerul Anwar, S.F., Apt.) NIP. 19800508 200812 1 001 Pembantu/Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan

(Rendry Dwitya Wirawan) NIM. J1E109205 Dosen Pendamping

(Prof. Dr. Ir. H. Idiannor Mahyudin) NIP. 19590409 198103 1 002

(Nani Kartinah, S.Farm., M.Sc., Apt.) NIP. 19840728 201012 2 005

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur praktikan panjatkan kehadirat Allah SWT dan untuk manusia mulia pembawa risalah sempurna, Nabi Muhammad SAW karena hanya dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul Aerosol Dengan Ektrak Bawang Putih (Allium sativa) Sebagai Antijamur dan Antiperspiran untuk Mencegah Infeksi Jamur Pada Lipatan Paha Pria (Tinea cruris) ini tepat pada waktunya. Karya tulis ini disusun untuk disusun untuk Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis pada tahun 2012. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Nani Kartinah, S.Farm., M.Sc., Apt. dan para dosen yang telah memberikan arahan dan bimbingannya, serta teman-teman yang telah memberikan dorongan semangat kepada penulis dalam penyusunan karya tulis ini. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kebaikan karya tulis ini. Terakhir, penulis sangat berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat utamanya dalam pengatasan masalah kaum pria dengan pemanfaatan khasiat bawang putih yang telah teruji sehingga dapat mengaplikasiannya sebagai bentuk sediaan modern dan praktis.

Banjarbaru, Februari 2012

Penulis

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. KATA PENGANTAR ......................................................................................... DAFTAR ISI ........................................................................................................ RINGKASAN ...................................................................................................... PENDAHULUAN ................................................................................................ Latar belakang ................................................................................................. Tujuan ............................................................................................................. Manfaat ........................................................................................................... GAGASAN ........................................................................................................... Pengoptimalan Umbi Bawang Putih Dalam Sediaan Aerosol Topikal ........... Tantangan Implementasi Pembuatan Aerosol Topikal Bawang Putih ............ Peran Lembaga Terkait dalam Pelaksanaan Ide ini ........................................ KESIMPULAN .................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...........................................................................

AEROSOL DENGAN EKTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativa) SEBAGAI ANTIJAMUR DAN ANTIPERSPIRAN UNTUK MENCEGAH INFEKSI JAMUR PADA LIPATAN PAHA PRIA (Tinea cruris) Ringkasan Sebagian besar penduduk Indonesia sudah banyak mengenal khasiat pengobatan herbal. Selain itu, sumber daya alam di Indonesia sangat mendukung hal tersebut. Namun, dalam pengaplikasian kedalam bentuk sediaan yang siap pakai masih jarang dilakukan, sulit jika masyarakat perlu mengolah sendiri sebelum menggunakannya. Jurnal-jurnal penilitian uji efektifitas suatu tumbuhan kini juga semakin banyak, tidak hanya tumbuhan umum namun juga terhadap tumbuhan langka. Pengembangan kembali terhadap hal-hal tersebutlah yang menjadi dasar penulisan ini. Pemanfaatan tumbuhan yang umum dalam kehidupan sehari-hari seperti bawang putih. Selain mudah didapatkan juga memiliki kuantitas yang banyak dan tidak ada kekuatiran jika akan menggangu ekosistem dan kelestariannya. Tujuan dari penulisan ini adalah pemanfaatan bawang putih sebagai antijamur yang diformulasi menjadi sediaan aerosol yang praktis dan efisien. Karya tulis ini memiliki gagasan pemecehan masalah yang beredar di masyarakat yaitu pencegahan jamur (Tinea cruris) yang tumbuh pada lipatan paha umunya kaum pria akibat kelembapan yang diakibatkan oleh keringat dan gaya hidup yang kurang sehat.

PENDAHULUAN Latar Belakang Pria identik dengan aktifitasnya yang padat dan berat. Banyak pria yang menghabiskan waktunya diluar rumah untuk beraktifitas. Pola kehidupan pun makin berkembang mengikuti era globalisasi dan mobilisasi. Pergerakan pun semakin aktif dan beragam. Kadang kala pria kurang dapat meluangkan waktunya untuk merawat diri. Hal kecil pun kadang terabaikan seperti kebersihan tubuh sendiri. Berbagai macam aktivitas baik ringan maupun berat akan memicu sekresi keringat dalam badan. Sekresi keringat merupakan metabolisme yang normal. Keringat dihasilkan oleh kelenjar keringat yang bernama kelenjar ekrin dan apokrin. Kelenjar ekrin terdapat di hamper seluruh permukaan kulit. Kelenjar ekrin sudah ada sejak kecil di mana keringat yang dihasilkannya tidak hanya berfungsi sebagai alat pengeluaran sisa metabolism tubuh namun juga berguna untuk mengatur suhu tubuh. Kelenjar apokrin terletak di daerah ketiak, payudara, daerah anus dan kemaluan. Kelenjar apokrin akan berfungsi aktif setelah remaja dan keringat yang dihasilkan dipengaruhi oleh rangsangan emosi. Keringat apokrin mengandung banyak lemak dan protein, yang apabila diuraikan oleh bakteri akan menimbulkan bau yang tidak enak.(Rohman, 2011). Bakteri dan jamur mudah tumbuh dan berkembang pada permukaan tubuh manusia. Pada manusia jamur hidup di lapisan tanduk. Jamur itu melepaskan toksin yang bisa menimbulkan peradangan dan iritasi berwarna merah dan gatal. Infeksinya bisa berupa bercak-bercak warna putih, merah, atau hitam di kulit dengan bentuk simetris. Ada pula infeksi yang berbentuk lapisan-lapisan sisik pada kulit. Hal itu tergantung pada jenis jamur yang menyerang. Masuknya jamur dalam tubuh dapat melalui : 1. Luka kecil atau aberasi pada kulit, misalnya golongan dermatofitosis, kromoblastomikosis. 2. Melalui saluran pernafasan, dengan mengisap elemen-elemen jamur, seperti pada histoplasmosis. 3. Melalui kontak, tetapi tidak perlu ada luka atau aberasi kulit, seperti golongan dermatofitosis. (Siregar, 2005) Beberapa faktor pencetus infeksi jamur antara lain kondisi lembab dan panas dari lingkungan, dari pakaian ketat, dan pakaian tak menyerap keringat, keringat berlebihan karena berolahraga atau karena kegemukan, friksi atau trauma minor (gesekan pada paha orang gemuk), keseimbangan flora tubuh normal terganggu (antara lain karena pemakaian antibiotik, atau hormonal dalam jangka panjang), penyakit tertentu, misalnya HIV/AIDS, dan diabetes, kehamilan dan menstruasi

(kedua kondisi ini terjadi karena ketidakseimbangan hormon dalam tubuh sehingga rentan terhadap jamur) (Bramono, 2004) Istilah back to nature sering diutarakan khususnya oleh pemerintah. Mereka menginginkan agar kita kembali beralih menggunakan bahan alami yang melimpah di tanah air kita. Selain itu juga sebagai langkah pengoptimalan sumber daya alam (SDA) yang kita miliki(Tuminah, 2004). Begitu pula dengan pengaplikasian bahanbahan alami tersebut dalam suatu bentuk sediaan yang mudah digunakan dan memiliki kualitas serta efektifitas yng perlu diperhatikan. Bentuk sediaan kini sudah beraneka ragam seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dalam bidang teknologi dan bidang kefarmasian yang menjadi cikal bakal pengembangan formulasi obatobatan dan kosmetika. Banyak bermunculan bentuk sediaan farmasi yang berbasis pada teknologi modern, salah satunya adalah aerosol. Aerosol adalah bentuk sediaan yang mengandung satu atau lebih zat aktif dalam wadah kemas tekan, berisi propelan yang dapat memancarkan isinya, berupa kabut hingga habis, dapat digunakan untuk obat dalam atau obat luar dengan menggunakan propelan yang cocok. (Ditjen POM RI, 1995) Aerosol farmasi adalah bentuk sediaan yang diberi tekanan, mengandung satu atau lebih bahan aktif yang bila diaktifkan memancarkan butiran-butiran cairan dan/atau bahan-bahan padat dalam media gas. (Ansel, 1989) Aerosol didefinisikan sebagai sistem koloid yang mengandung partikel-partikel padat atau cairan yang sangat halus yang terbagi-bagi didalam dan dikelilingi oleh gas. Cara yang paling umum digunakan untuk menekan intensitas keringat adalah menggunakan deodorant dan antiperspirant yang merupakan salah satu bentuk sediaan aerosol. Deodoran mengandung antiseptik yang menekan pertumbuhan bakteri, sedangkan antiperspirant mengandung bahan yang dapat mengurangi keringat yang keluar. Sekarang tersedia banyak produk yang sekaligus mengandung deodorant dan antiperspirant. Selain itu terdapat pula berbagai macam pilihan aroma wangi dari masing-masing deodorant dan antiperspirant yang mampu menjadikan kita lebih semakin percaya diri. Hal yang perlu diperhatikan adalah memilih produk yang cocok dan aman bagi kulit. Masyarakat Indonesia sudah lama memanfaatkan bawang putih sebagai obat tradisional yang sering dipakai dalam mengobati berbagai macam penyakit karena mempunyai kandungan senyawa kimia yang berfungsi sebagai antibakteri, tetapi baru sedikit masyarakat Indonesia yang mengetahui khasiat dari bawang putih tersebut. Bawang putih termasuk dalam famili Liliaceae dan merupakan tanaman berumpun yang bersiung-siung (Puspitasari, 2008) Bawang putih oleh masyarakat digunakan untuk menurunkan tekanan darah, mengurangi rasa pening di kepala, mengatasi cacingan, menghilangkan nyeri haid, mengatasi asma, batuk, masuk angin, dan sengatan binatang. Sebagian besar

pengaruh terapi bawang putih adalah karena senyawa yang mengandung bahan aktif seperti sativine, allicin, Allyl sulphide, Allyl propyl disulphide, Allyl vinyl suphoxide, Allistatin, Garlicin, dan Alkyl Thiosulphinate Salah satu bahan kimia yang mempunyai khasiat sebagai antibakteri adalah Allicin. (Puspitasari, 2008) Penggabungan bentuk sediaan modern berupa aerosol dengan zat aktif dari bahan alami sebagai tahap pencegahan terhadap masalah infeksi jamur. Hal tersebut yang menjadi suatu gagasan tertulis yang akan dibawa dan dikembangkan dalam bidang farmasi untuk pencapaian dan pengatasan solusi yang sering dialami oleh kaum pria masa kini. Serta pengaplikasian bidang ilmu teknologi farmasi untuk keejehteraan masyarakat. Tujuan 1. Menemukan solusi permasalahan yang umum terjadi pada seorang pria yang sulit meluangkan waktu untuk merawat diri 2. Mengoptimalkan bawang putih (Allium sativa) sebagai bahan zat aktif alamiah dalam pembuatan sediaan aerosol untuk yang berkhasiat antijamur dan untuk mengurangi intensitas keringan (antiprespiran) 3. Mengembangkan ilmu pengetahuan teknologi farmasi terhdan bahan alami. Manfaat 1. mengurangi beban moral, sosial, kesehatan dan ekonomi sang penderita penyakit kulit 2. mengembalikan kepercayaan diri pria dalam beraktifitas sehari-hari 3. menghasilkan produk yang praktis berbahan dasar alami serta aman untuk digunakan rutin. 4. Terciptanya peluang bisnis dengan pengembangan nilai farmakoekonomi dari suatu bahan alami menjadi bentuk sediaan yang praktis dan modern 5. Menambah wawasan dan ilmu dalam bidang teknologi farmasi dengan sesama maupun berbeda profesi.

GAGASAN Pengoptimalan Umbi Bawang Putih (Allium sativa) Dalam Sediaan Aerosol Topikal Keringat yang disekresikan tubuh adalah hal yang bersifat alamiah untuk menjaga keseimbangan tubuh agar tetap sehat. Keringat disekresikan lewat kelenjar ekrin dan apokrin. Saat ini sudah banyak berbagai macam bentuk sediaan kosmetik untuk menghilangkan bau badan. Kosmetik yang digunakan tersebut adalah deodorant dan antiperspirant yang bentuk sediaannya sangat beragam seperti aerosol, stik, roll, dan lain-lain. Keringat sebenarnya tidak berbau, tidak berwana, dan bersifat steril. Bau badan dan infeksi jamur muncul akibat aktifitas jamur dan bakteri yang menguraikan keringat dan kelembapan tinggi pada kulit. Antiperspirant sebagai kosmetik yang berfungsi untuk menghambat sekresi keringat dengan mengecilkan pori-pori. Kemampuan antiperspirant yang baik yaitu mampu menghambat sekresi keringat sampai 20%. Bahan yang biasa digunakan adalah Aluminum Chlorohydrate (ACH) pada roll on dan Aluminium Zirconium Tetrachlorohydrex Gly pada powder stick. Dengan mengecilnya pori-pori akan menyebabkan sekresi keringat. Jika keringat dalam badan sedikit, maka keringat yang diurai oleh bakteri pun juga sedikit. Dengan demikian bau badan akibat penguraian keringat oleh bakteri pun juga akan berkurang. Jamur termasuk tumbuh-tumbuhan filum talofita yang tidak mempunyai akar, batang, dan daun. Jamur tidak bisa mengisap makanan dari tanah dan tidak mempunyai klorofil sehingga tidak bisa mencerna makanan sendiri oleh karenanya jamur hidup sebagai parasit atau saprofit pada organisme yang lain. Jamur atau fungi merupakan anggota tanaman yang berukuran kecil dan memakan bahan organik. Di dunia diperkirakan terdapat 200.000 spesies jamur, tetapi fungi pathogen dan oportunis pathogen sekitar 100-200 spesies. Fungi pathogen dan oportunis pathogen dapat menyebabkan penyakit mikosis (Subakir, 2005) Jamur dapat tumbuh dengan baik pada suhu kamar 25 - 30C, dengan kelembaban 60%. Walaupun demikian ada beberapa jamur pathogen yang dapat tumbuh pada 45 - 50C, oleh karenanya sensitivitas jamur terhadap suhu dapat digunakan untuk identifikasi spesies. Jamur menyukai kondisi asam dengan pH 5,5 6,5 / 6,8. (Subakir, 2005) Jamur sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Sedemikian eratnya sehingga manusia tak terlepas dari jamur. Jenis fungi-fungian ini bisa hidup dan tumbuh di mana saja, baik di udara, tanah, air, pakaian, bahkan di tubuh manusia sendiri. Manusia termasuk salah satu tempat bagi jamur untuk tumbuh, di samping bakteri dan virus. Jamur dapat menyebabkan berbagai jenis infeksi kulit. Kelainan jamur yang sering ditemukan adalah tinea atau ring worm. Infeksi tinea dapat mengenai kepala, badan, lipat paha, kaki, dan kuku. (Subakir, 2005) Tujuan utama pengobatan infeksi jamur adalah menghilangkan atau membunuh organisme yang patogen dan memulihkan kembali flora normal kulit dengan cara memperbaiki ekologi kulit atau membran mukosa yang merupakan tempat berkembangnya koloni jamur. Pada saat ini penemuan obat-obat anti jamur yang baru telah mengalami perkembangan yang pesat baik berbentuk topikal maupun

sistemik dan diharapkan prevalensi penyakit infeksi jamur dapat berkurang (Dumasari, 2008) Obat anti jamur topikal digunakan untuk pengobatan infeksi lokal pada kulit tubuh yang tidak berambut (glabrous skin), namun kurang efektif unuk pengobatan infeksipada kulit kepla dan kuku, infeksi pada tubuh yang kronik dan luas, infeksi pada stratum korneum yang tebal seperti telapak tangan dan kaki. Namun efek samping yang dapat diitimbulkan oleh obat anti jamurr topikal lebih sedikit dibandingkan obat anti jamur sistemik(Dumasari, 2008) Tinea cruris (pangkal paha/selangkangan) Tinea kruris adalah dermatofitosis yang mengenai kulit pangkal paha, regio genital dan perianal. Merupakan infeksi jamur lipat paha yang dapat meluas ke paha bagian dalam dan daerah pantat. Sering ditemukan pada pelari, orang-orang gemuk, dan orang yang suka mengenakan pakaian ketat. Kadas atau kurap sangat sering menyerang kulit. Wujudnya di kulit berupa bercak berbentuk bulat atau lonjong dan berbatas tegas. Warnanya kemerahan, bersisik, dan berbintil-bintil. Daerah tengahnya biasanya lebih tenang. Kadang-kadang timbul lecet akibat garukan kuku. Jika infeksi ini menyerang daerah lipatan, ia sering disebut sebagai tinea kruris. Sebaran geografisnya pada lipatan paha, daerah kelamin luar, sekitar lubang anus, dll (Agoeng, 2003) Dermatofitosis adalah infeksi jamur superfasial pada lapisan keratin kulit, kuku atau rambut yang disebabkan oleh jamur golongan dermatofita. Dermatofita termasuk dalam kelas fungi imperfecti (dermatomycetes) dan terbagi menjadi tiga genera yaitu microsporum, trichophyton dan epidermophyton. Keluhan utama tinea kruris adalah rasa gatal, kadang rasa nyeri bila ada infeksi sekunder. Lesi berbatas tegas, tapi meninggi yang dapat berupa papulovesikel eritematosa atau terkadang terlihat pustula. Bagian tengah menyembuh berupa daerah coklat kehitaman berskuama putih.diagnosis tinea kruris dibuat berdasarkan gambaran klinis yang dikuatkan dengan pemeriksaan mikroskopis kerokan skuama dan kultur. (Agoeng, 2003) Sulit untuk mencegah Kurap. Jamur yang menyebabkan kurap adalah umum dan menular bahkan sebelum gejala muncul. Namun, Anda dapat membantu mengurangi risiko penyakit kurap dengan mengambil langkah-langkah ini: 1. Didiklah diri Anda dan orang lain. Sadar akan risiko terinfeksi kurap dari orang atau binatang peliharaan. Beritahu anak-anak Anda tentang kurap, apa yang harus diperhatikan dan bagaimana untuk menghindari infeksi. 2. Tetaplah bersih. Cuci tangan Anda sesering mungkin untuk menghindari penyebaran infeksi. Menjaga daerah umum atau berbagi tetap bersih, khususnya di sekolah-sekolah, pusat penitipan anak, pusat kebugaran dan kamar ganti. 3. Tetap sejuk dan kering. Jangan memakai pakaian tebal untuk jangka waktu yang lama dalam keadaan hangat dan lembab. Hindari keringat berlebihan. 4. Hindari hewan yang terinfeksi. Infeksi sering terlihat seperti sepotong kulit di mana bulu yang hilang. Dalam beberapa kasus, meskipun, Anda mungkin

tidak akan melihat adanya tanda-tanda penyakit. Tanyakan kepada dokter hewan untuk memeriksa hewan peliharaan dan hewan peliharaan untuk kurap. 5. Jangan berbagi barang pribadi. Jangan biarkan orang lain menggunakan pakaian, handuk, sisir atau barang pribadi lainnya. Menahan diri dari meminjam barang-barang dari orang lain juga. Kadang pencegahan masih kurang jika tidak didukung dengan sediaan pendukung dalam hal tersebut, maka muncul gagasan ini untuk diajukan sebagai usaha dalam pengoptimalisasian bawang putih (Allium sativa) yang telah diketahui efektifitasnya sebagai antijamur serta antibakteri alami kemudian direalisasikan dalam bentuk sediaan aerosol yang bersifat antiperspiran dengan sensasi dingin di kulit dan menekan pengeluaran keringat agar memberikan rasa nyaman serta selain itu memiliki khasiat anti jamur lipatan paha khususnya spesies (Tinea cruris). Bawang putih Menurut Aras, Bawang putih (Allium sativum Linn.) memiliki manfaat dan kegunaan yang besar bagi manusia diantaranya untuk mengobati penyakit akibat fungi dan bakteri serta berbagai penyakit dalam. Dalam suatu penelitian menyatakan bahwa bawang putih memiliki khasiat antifungi dalam menghambat pertumbuhan jamur kulit karena kandungan minyak atsirinya.11 Allicin yang terkandung dalam minyak atsiri bawang putih mempunyai kemampuan sebagai antifungi dan antibakteri. Hal ini karena allicin mengandung sulfur dengan struktur tak jenuh dan sangat mudah terurai menjadi senyawa dialil-disulfida.12 Penelitian ini memilih bawang putih dalam bentuk perasan karena harga murah dan diharapkan aplikasi dalam masyarakat lebih mudah. Berdasarkan uji MIC (Minimum Inhibitory Concentration), maka bawang putih dalam penelitian ini dibuat sebagai perasan dengan konsentrasi 25%

Kerajaan Divisi Kelas Ordo Famili

: : : : :

Plantae Magnoliophyta Liliopsida Asparagales Alliaceae

Upafamili : Allioidea Bangsa : Allieae Genus : Allium Spesies : Allium sativum (Utami, 2006) Bawang putih merupakan salah satu tumbuhan obat yang mempunyai segudang khasiat, salahsatunya sebagai antijamur. Khasiat yang dimiliki umbi bawang putih karena bawang putih memiliki kandungan minyak atsiri. Pada bawang putih segar mengandung alliin (S-allil-L-sistein Sulfoksida), senyawa yang tidak berbau dan tidak mempunyai aktivitasbiologi. Jika jaringan bawang putih rusak dengan adanya enzim allinase (S-alkil-L-sistein liase) mengubah alliin menjadi allicin, senyawa yang diduga bertanggungjawab terhadap aktivitas farmakologi bawang putih.Oksidasi allicin dengan adanya udara mengubah allicin menjadi 1,7ditiaokta-4,5-diena sebagai dialil-disulfida, yang merupakan konstituen utama dari minyak atsiri bawang putih. Allicin memilikimekanisme molekuler untuk menghambat aktivitas enzim fungi yang menyebabkan infeksi dan gangguan metabolisme, yaitu enzim sistein proteinase dan enzim alkohol dehidrogenase. Enzim sistein proteinase merupakan penyebab utama infeksi yang membantu fungi merusak dan menembus lapisan sel, sedangkan enzim alkohol dehidrogenase membantu fungi tetap hidup dan berkembang biak dalam sel (Utami, 2006) Aerosol Menurut FI III aerosol adalah sediaan yang mengandung satu atau lebih zat berkhasiat dalam wadah yang diberi tekanan, berisi propelan atau campuran propelan yang cukup untuk memancarkan isinya hingga habis, dapat digunakan untuk obat luar atau obat dalam dengan menggunakan propelan yang cocok Jika digunakan sebagai obat dalam atau secara inhalasi, aerosol dilengkapi dengan pengatur dosis.Aerosol boleh menggunakan bahan pensuspensi, emulgator dan pelarut pembantu. Menurut FI IV aerosol farmasetik adalah sediaan yang dikemas dibawah tekanan, mengandung zat aktif teurapetik yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan. Sediaan ini digunakan untuk pemakaian topikal, pada kulit dan juga pemakaian lokal pada hidung (aerosol nasal), mulut ( aerosol lingual), atau paru-paru (aerosol inhalasi), ukuran partikelnya harus lebih kecil dari 10 mikrometer, dan sering disebut inhaler dosis terukur. Tantangan Implementasi Pembuatan Aerosol Topikal Bawang Putih Suatu sediaan dapat mencapai efek terapeutik yang tepat jika diberikan dengan rute yang cocok dan efektif. Bioavaibilitas serta formulasi menjadi titik berat dalam pencapaian hal-hal tersebut, maka ditentukan bentuk sediaan aerosol yang prinsipnya menyemprotkan zat aktif beserta eksipien kedalam tubuh atau permukaan tubuh dengan bantuan tekanan gas.

Keuntungan pemakaian aerosol : 1. Mudah digunakan dan sedikit kontak dengan tangan 2. Bahaya kontaminasi (dimasuki udara dan penguapan selama tidak digunakan) tidak ada, karena wadah tertutup kedap) 3. Iritasi yang disebabkan oleh pemakaian topikal dapat dikurangi 4. Takaran yang dikehendaki dapat diatur 5. Bentuk semprotan dapat diatur Prinsip Aerosol terdiri dari 2 komponen : 1. Cairan pekat produk Zat aktif yang dicampur dengan bahan pembantu yang dibutuhkan ( antioksidan, emulgator, suspending agent, pelarut) untuk ketsabilan dan efektifitas produk. 2. Pendorong (Propelan) Gas cair atau campuran gas cair yang diberi tekanan. Bisa juga berfungsi sebagai pelarut atau pembawa cairan pekat produk. (Rohman, 2011) Berikut ini adalah formulasi antiperspirant dengan ektrak bawang putih dalam bentuk sediaan aerosol. Al chlorhydrate mikronized 4,5% Isopropil myristate 3,7% emolien,melktkan Fumed silica 0,15% suspending agent Mentholum 1% Ext bawang putih (Allium sativa) 20% Perfume qs Propellants ad 100% (Rohman, 2011) Fungsi dari Aluminium klorhidrat adalah sebagai zat aktif yang berfungsi sebagai antiperspirant. Senyawa aluminium mempunyai kemampuan untuk menghambat sekresi keringat hingga 20%. Dibentuk micronize agar mudah terdispersi dalam udara saat digunakan. Isoprpil miristat berfungsi sebagai emolien yaitu untuk melekatkan zat aktif pada kulit. Sehingga nanti zat aktif dapat bekerja dan penetrasi lebih optimal. Fumed silica berfungsi sebagai suspending agent yaitu senyawa yang membantu terbentuknya suspense. Dengan penambahan suspensing agent ini, bahan-bahan akan tercampur dengan bahan yang lain dan akan membentuk suspensi yang homogeny kadarnya. Parfum berfungsi sebagai corigen odoris. Parfum akan memperbaiki bau sehingga selain keringat jadi sedikit disekresikan juga akan memberikan bau harum. Propelan merupakan gas pendorong yang berfungsi untuk mengdorong cairan sehingga terbentuk aerosol. Menthol adalah kristal yang diperoleh dari hasil penyulingan Herba Species Mentha (tumbuh-tumbuhan) melalui proses kristalisasi. Dalam bidang medis dan kosrnetik. Menthol banyak digunakan oleh para ahli untuk membuat : obat batuk. minyak angin, pasta gigi, bedak gatal. permen

(pelega tenggorokan) dan rokok, karena khasiatnya yang nyata dan telah terbukti tidak ada efek samping serta dapat memberikan sensasi dingin pada kulit. (Rohman, 2011) Pembuatan sediaan aerosol ini menggunakan metode cold filling karena bahan yang digunakan tidak tahan dengan tekanan dan suhu yang tinggi. Metode ini zat aktif dan propelan ditambahkan dan dicampurkan dalam kondisi dingin kemudian diisikan kedalam tabung (kemudian menyusut dengan katup yang terlampir). Propelan kemudian diisikan melalui katup pada suhu rendah sampai didapat bobot yang diinginkan. Semua zat aktif sebelumnya dicampur ad homogen dengan zat tambahan kecuali propelan, setelah campuran tersebut dimasukan dalam tabung kemudian propelan dimasukan ke dalam tabung.(Jones, 2008) Peran Lembaga Terkait dalam Pelaksanaan Ide ini Diperlukan kerjasama dari berbagai pihak khususnya bidang yang terkait dengan pengolahan perasaan umbi bawang putih menjadi aerosol topikal seperti civitas universitas dalam hal ini Unlam sebagai Universitas Negeri di Kal-sel atau LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) untuk melakukan pengkajian tentang efek antijamur Tinea cruris dari bawang putih. Peran serta masyakat juga penting dalam pertanian bawang putih dan pendistribuasian. Kerjasama dengan dokter dalam penentuan diagnosis dan kajian yang dapat membantu dalam pengatasan infeksi jamur. Selain itu BPPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) perlu mengawasi produk aerosol ini ketika diproduksi. Pengawasan dan penelitian dilaksanakan untuk mengetahui tingkat keamanan dan efektifitas Bawang putih sebagai sumber antijamur dalam sediaan aerosol topikal yang dapat difungsikan untuk mencegah pertumbuhan jamur Tinea cruris. KESIMPULAN Gagasan yang diajukan berupa pembuatan antiperspiran yang dikombinasi dengan antijamur dari pemanfaatan umbi bawang putih. Sediaan ini besar harapan dapat berguna sebagai pencegahan jamu Tinea cruris yang sangat menggangu tidak hanya dalam segi kesehatan, tetapi juga dalam segi moral dimana seseorang akan kehilangan rasa percaya diri dalam pergaulan atau dengan pasangan, dalam segi ekonomi dimana seserang harus mengeluarkan biaya lebih jika berobat ke dokter secara intensif dan juga dalam segi fisik sendiri. Pengmbangan ide tak dapat semestinya berjalan jika tanpa kerjasama dengan pihak yang berhubungan seperti civitas akademik, pemerintah dan lembaga penelitian seperti LIPI

DAFTAR PUSTAKA

Agoeng N, Trijanto, dkk. 2003. Efektifitas Krim Butenafin 1% pada Pengobatan Tinea kruris. Bagian/SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RS Dr. Sardjito dan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta Ansel, Howard C.. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi ( Terjemahan). UI-Press. Jakarta. Bramono, K. 2004. Pemaparan tentang jamur. FKUI, Jakarta. Ditjen POM RI.1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. Ditjen POM RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi Keempat. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. Dumasari L, Ramona. 2008. Pengobatan Dermatomikosis. USU e-Repository Jones, David. 2008. Fast Track : Pharmaceutical Dosage Form and Design. Pharmaceutical Press. London. Puspitasari, Indri. 2008. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Bawang Putih ( Allium Sativum Linn ) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus In Vitro. Fakultas Kedokteran Universitas Dipenogoro. Semarang Rohman S, Apriana. 2011. Formula dan Mekanisme Antiprespiran. Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan. Yogyakarta Siregar, 2005. Penyakit jamur kulit, penerbit buku kedokteran, Palembang. Subakir. Mikologi kedokteran. FK Undip, Semarang, 2005 Utami, Aras. 2006. Uji Banding Efektivitas Perasan Umbi Bawang Putih (Allium Sativum Linn.) 25% Dengan Ketokonazol 2% Secara In Vitro Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans Pada Kandidiasis Vaginalis. Artikel Karya Tulis Ilmiah Kedokteran