Anda di halaman 1dari 12

qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfgh jklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvb RINGKASAN MATA KULIAH

AUDIT DAN JASA ASSURANCE II


MUHAMMAD ALBAR HD nmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwer 10900109044

tyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopas dfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzx cvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuio pasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghj

BAB 14 PENGUJIAN PAD SIKLUS PENJUALAN DAN PENAGIHAN : PIUTANG DAGANG

METODOLOGI DESAIN PENGUJIAN PERINCIAN SALDO Bukti memadai yang akan dipakai dalam pengujian perincian saldo harus diputuskan berbasis tujuandengan-tujuan (objective-by-objective). Pengambilan sampel keputusan ini bisa menjadi kompleks karena adanya beberapa interaksi yang mempengaruhi kebutuhan atas bukti tersebut. Contoh, auditor harus mengevaluasi potensi pelanggaran dan mempertimbangkan risiko bawaan (inherent risk). Potensi dan risiko ini dapat bervariasi sesuai dengan tujuannya, seperti halnya hasil pengujian pengendalian dan identifikasi risiko, yang juga bervariasi sesuai tujuan. Dalam mendesain pengujian perincian saldo piutang dagang, auditor harus memenuhi delapan tujuan audit terkait saldo. Delapan tujuan umum ini sama untuk seluruh akun, yang disebut tujuan audit-terkait saldo piutang dagang (account receivable related audit objectives). Kedelapan tujuan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Piutang dagang dalam neraca saldo sesuai dengan jumlah pada berkas utama, dan jumlah totalnya secara tepat ditambahkan sesuai dengan buku besar (Kecocokan Perincian). 2. Pencatatan piutang dagang yang terjadi (Keberadaan). 3. Seluruh piutang dagang yang sudah dihitung (Kelengkapan). 4. Jumlah piutang dagang yang tepat (Akurasi). 5. Piutang dagang diklasifikasi dengan benar (Klasifikasi). 6. Pisah batas waktu piutang yang tepat (Pisah Batas). 7. Piutang dagang dinyatakan dengan nilai yang dapat direalisasikan (Nilai terealisasikan). 8. Klien memiliki hak atas piutang dagang (Hak). Mengidentifikasi Risiko Bisnis Klien yang Mempengaruhi Piutang Dagang (Tahap I) Sebagai bagian dari pemahaman tersebut, auditor mempelajari lingkungan bisnis dan industri klien serta mengevaluasi tujuan manajemen dan proses bisnis untuk mengidentifikasikan risiko bisnis klien yang secara signifikan dapat mempengaruhi pelaporan keuangan termasuk piutang dagang. Risiko bisnis klien yang mempengaruhi piutang dagang oleh auditor dianggap sebagai risiko yang tidak terhindarkan dan dijadikan bukti perencanaan untuk piutang dagang. Contohnya, sebagai hasil dari perubahan lingkungan ekonomi dalam industri, auditor bisa saja meningkatakan risiko bawaan dalam nilai realisasi bersih piutang dagang. Menetapkan Salah Saji yang Dapat Diterima dan Mengevaluasi Risiko Bawaan (Tahap I) Auditor terlebih dahulu memberikan penilaian awal mengenai matrealitas untuk keseluruhan laporan keuangan, lalu mengalokasikan jumlah yang dianggap material untuk setiap akun neraca, termasuk piutang dagang. Alokasi ini disebut penentuan salah saji yang dapat diterima (torelable misstatement). Piutang dagang biasanya merupakan salah satu bagian terpenting dari laporan keuangan bagi perusahaan dengan penjualan kredit. Meskipun saldo piutang dagang tersebut kecil, transaksi dalam siklus penjualan dan penagihan yang mempengaruhi saldo tersebut biasanya berjumlah besar. Auditor menentukan risiko yang tak terhindarkan untuk masing-masing akun (misalnya piutang dagang) dengan mempertimbangkan risiko bisnis dan industri perusahaan klien. PSA 70 (SA 316) mengindikasikan bahwa auditor harus bisa mengidentifikasikan risiko pelanggaran dalam pengakuan pendapatan. Hal ini biasanya mempengaruhi evaluasi auditor terhadap risiko tersebut untuk tujuan: eksistensi, batas waktu penjualan, pengendalian barang dagangan, dan batas penetapan cadangan

kerugian piutang. Klien biasanya secara sengaja maupun tidak sengaja salah menetapkan cadangan atas piutang tak tertagih (nilai realisasi bersih) karena sulitnya menentukan jumlah yang tepat.

Mengevaluasi Risiko Pengendalian dalam Siklus Penjualan dan Penagihan (Tahap I) Pengendalian internal atas penjualan dan bukti perimaan kas yang berhubungan dengan piutang dagang biasanya berlangsung efektif di banyak perusahaan karena manajemen sangat peduli dengan pencatatan yang akurat untuk menjaga hubungan baik dengan pelanggan. Auditor umumnya memperhatikan tiga aspek pengendalian internal, yaitu: 1. Pengendalian untuk menghindari atau mendeteksi pencurian. 2. Pengendalian atas penetapan pisah batas. 3. Pengendalian yang berhubungan dengan cadangan piutang tak tertagih. Auditor harus menghubungkan risiko pengendalian atas tujuan audit terkait transaksi dan tujuan audit terkait saldo, terutama untuk merencanakan risiko deteksi dan bukti-bukti yang digunakan dalam pengujian perincian saldo. Sebagai contoh auditor menyimpulkan risiko pengendalian untuk transaksi paenjualan dan penerimaan kas adalah rendah dalam hal akurasi saldonya. Dengan demikian, auditor menyimpulkan bahwa pengendalian untuk akurasi saldo piutang dagang efektif karena transaksi satu-satunya yang mempengaruhi piutang dagang adalah penjulan dan penerimaan kas. Tentunya jika pengembalian barang dagang, penetepan cadangan, dan penghapusan piutang tak tertagih jumlahnya signifikan, maka perlu dipertimbangkan risiko pengendalian untuk risiko pengendalian untuk jenis transaksi tersebut. Kedua aspek yang berhubungan disebutkan di bawah ini, yaitu : 1. Untuk penjualan, tujuan audit terkait keterjadian transaksi (occurrence transaction-related audit objective) mempengaruhi tujuan audit terkait keberadaan saldo (existence balanced-related audit objective). Untuk penerimaan kas, tujuan audit terkait keterjadian transaksi mempengaruhi tujuan audit terkait kelengakapan saldo. Sebagai contoh, pencatatan penjualan (yang sebetulnya tidak terjadi) akan berbeda dengan tujuan audit terkait keterjadian transaksi dan tujuan audit terkait keberadaan saldo (keduanya terlalu besar). Pencatatan penerimaan kas (yang sebetulnya tidak terjadi) tidak hanya akan berbeda dengan tujuan audit terkait keterjadian transaksi tetapi juga berbeda dengan tujuan audit terkait kelengkapan saldo karena piutang dagang yang masih belum dibayar tidak termasuk dalam pencatatan tersebut. 2. Nilai realisasi dan tujuan audit terkait saldo piutang dagang, seperti halnya tujuan audit terkait penyajian dan pengungkapan, tidak dipengaruhi oleh evaluasi risiko pengendalian transaksi. Dalam mengevaluasi risiko pengendalian di luar tujuan-tujuan audit di atas, auditor harus mengdentifikasikan dan melakukan pengujian terpisah. Mendesain dan Melaksanakan Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas Transaksi (Tahap II) Membahas tentang desain prosedur audit untuk melakukan pengujian pengendalian dan pengujian substanstif, menentukan jumlah sampel, dan mengevaluasi hasil pengujian. Hasil pengujian pengendalian menentukan apakah risiko pengendalian atas penjualan dan penerimaan kas perlu direvisi. Auditor menggunakan hasil pengujian substantif atas transaksi untuk menentukan apakah perencanaan risiko deteksi sudah memenuhi untuk setiap tujuan audit terkait saldo piutang dagang. Mendesain dan Melakukan Prosedur Analitis (Tahap III) Prosedur analitis umumnya dilakukan selama tahap pengujian diselesaikan setelah tanggal neraca, namun sebelum dilakukan pengujian perincian saldo. Hal ini menimbulkan keinginan untuk melakukan

ekstensifikasi prosedur analitis sebelum klien mencatat seluruh transaksi selama tahun tersebut dan menyelesaikan laporan keuangan. Auditor menjalankan prosedur untuk seluruh siklus penjualan dan penagihan, tidak hanya piutang dagang. Hal ini perlu dilakukan karena terdapat hubungan erat antara laporan laba/rugi dengan akunakun pada neraca. Jika auditor mengidentifikasikan adanya kesalahan penyajian dalam penjualan atau pengembalian barang dagangan dengan menggunakan prosedur analitis, piutang dagang kemungkinan besar akan menutupi kesalahan tersebut. Mendesain dan Melakukan Pengujian Perincian Saldo Piutang Dagang (Tahap III) Tugas menggabungkan faktor-faktor penentu risiko deteksi terencana cukup kompleks karena pengukuran untuk setiap faktor bisa saja salah dan penentuan bobot untuk setiap faktor sifatnya sangat subjektif. Sebalikanya, hubungan antara faktor dan risiko deteksi terencana biasanya mudah dilakukan. Sebagai contoh, auditor tahu bahwa risiko tinggi yang tak terhindarkan atau risiko pengendalian menurukan risiko deteksi dan meningkatkan pengujain substantif terencana, sedangkan hasil yang baik untuk pengujian substantif atas transaksi meningkatkan risko deteksi terencana dan menurunkan pengujian substantif terencana lainnya. MENDESAIN PENGUJIAN PERINCIAN SALDO Meskipun auditor menekankan akun-akun neraca dalam pengujian perincian saldo, akun laporan laba/rugi tidak dilupakan karena akun laporan laba/rugi diuji sebagai produk sampingan dari pengujian neraca. Sebagai contoh, jika auditor mengonfirmasi saldo piutang dagang dan menemukan lebih saji yang disebabkan karena kesalahan dalam penagihan pelanggan, maka baik piutang dagang maupun menjadi lebih saji. Dalam membahas pengujian perincian saldo piutang dagang , kita akan berfokus kepada tujuan audit terkait saldo. Kita akan mengasumsikan dua hal, yaitu : 1. Auditor telah melengkapi kertas kerja 2. Auditor telah menetapkan risiko deteksi terencana untuk pengujian atas tujuan audit terkait saldo. Prosedur audit yang dipilih dan jumlah sampel sangat bergantung pada apakah bukti terencana untuk tersebut tergolong rendah, medium, atau tinggi. Piutang Dagang Ditambahkan secara Tepat dan Sesuai dengan Berkas Utama dan Buku Besar Biasanya, auditor melakukan pengujian atas informasi yang ditetapkan dari kecocokan perician (detail tie-in) dalam neraca saldo, sebelum melakukan pengujian lainnya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah populasi yang diuji sama dengan buku besar dan piutang dagang pada berkas utama. Total kolom dan kolom yang berkaitan dengan umur piutang harus diuji dan total pada neraca saldo dibandingkan dengan buku besar. Sebagai tambahan, auditor harus menelusuri sampel untuk saldo masing-masing dokumen pendukung, seperti duplikat bukti penjualan untuk mencocokkan nama pelanggan, saldo, dan penghitungan umur piutang yang tepat. Perluasaan pengujian terhadap kecocokan perincian bergantung pada jumlah rekening, tingkat pengujian atas berkas utama sebagai bagian dari uji pengendalian dan uji substantif transaksi, dan tingkat pengujian yang dilakukan oleh auditor internal atau pihak independen lain sebelum auditor. Piutang Dagang Dicatat Keberadaanya Konfirmasi atas saldo tagihan pelanggan merupakan pengujian paling penting untuk menentukan keberadaan piutang dagang yang dicatat. Ketika pelanggan tidak menaggapi konfirmasi, maka auditor perlu memeriksa dokumen pendukung untuk mengecek pengiriman barang, juga menguji bukti penerimaan kas selama masa tenggat (subsequent) untuk mengetahui apakah pembayaran sudah dilakukan. Biasanya, auditor juga menguji dokumen pengiriman atau bukti penerimaan kas dalam sampel yang dikonfirmasi, melainkan memperluas penggunaan dokumen tersebut sebagai alternatif bukti bagi konfirmasi yang tidak ditanggapi.

Piutang Dagang Dicatat secara Lengkap Bagi auditor, sulit untuk melakukan pengujian saldo rekening di luar neraca saldo, kecuali bergantung pada perimbangan data piutang dagang berkas utama. Contohnya, jika klien tanpa sengaja tidak memasukkan piutang dagang pada neraca saldo, kemungkinan hal ini akan dapat dideteksi ketika auditor melakukan penjumlahan ke bawah terhadap piutang dagang di neraca saldo, kemudian melakukan rekonsiliasi saldo melalui akun pengontrol buku besar. Jika seluruh penjualan kepada pelanggan tidak dimasukan dalam jurnal penjualan, maka kurang saji pada piutang dagang tidak dapat diungkap melalaui pengujian perincian saldo. Sebagai contoh, auditor jarang mengirimkan konfirmasi piutang dagang kepada pelanggan dengan saldo nol, sebagaian karena hasil penelitian menyebutkan bahwa pelanggan biasanya tidak merespons permintaan konfirmasi yang menunjukkan saldo mereka kurang. Sebagai tambahan, penjualan yang tidak tercatat kepada pelanggan baru akan sulit diidentifikasi dalam konfirmasi karena nama pelanggan tersebut tidak masuk dalam berkas utama. Kurang saji atas penjualan dan piutang dagang lebih baik dideteksi dari prosedur analitis dan pengujian substantif atas transaksi pengiriman yang dilakukan, tetapi tidak dicatat (tujuan kelengkapan atas pengujian transaksi penjualan). Akurasi Piutang Dagang Konfirmasi piutang dagang yang diambil dari neraca saldo merupakan bentuk pengujian perincian saldo yang paling umum dilakukan untuk mengetahui akurasi piutang dagang. Bila pelanggan tidak merespons permintaan konfirmasi, auditor dapat melihat data pendukung untuk memperoleh keyakinan atas keberadaan piutang tersebut. Auditor melakukan pengujian debet dan kredit pada saldo pelanggan individu dengan memeriksa dokumen pendukung untuk pengiriman dan penerimaan kas. Piutang Dagang Diklasifikasikan dengan Benar Auditor perlu mengecek apakah piutang yang sifatnya jangka panjang sudah dipisahkan dari piutang dagang biasa, dan saldo kredit pada piutang dagang yang jumlahnya besar diklasifikasikan kembali menjadi utang dagang. Terdapat hubungan erat antara tujuan audit terkait klasifikasi saldo dengan klasifikasi terkait, penyajian atas pemahamanya, dan tujuan pengungkapannya. Untuk mencapai tujuan audit terkait klasifikasi saldo, auditor harus menetapkan apakah klien telah mengklasifikasikan piutang dagang secara benar. Sebagai contoh, auditor akan menetapkan apakah piutang dari pihak terkait telah dipisahkan di neraca saldo. Penetapan Pisah Batas (Cutoff) Piutang Dagang secara Tepat Salah saji akibat pisah batas (cutoff misstatment) terjadi ketika transaksi dalam waktu berjalan dicatat selama jeda waktu antara pembuatan pelaporan dan waktu audit atau sebaliknya. Tujuan pengujian pisah batas, tanpa memperhatikan jenis transaksi, adalah untuk melihat apakah transaksi yang terjadi di akhir periode akuntansi dicatat pada periode yang tepat. Hal ini adalah salah satu tujuan terpenting dari siklus karena salah saji dalam pisah batas mempengaruhi laba periode berjalan. Salah saji akibat pisah batas dapat terjadi pada penjualan, retur dan cadangan barang dagangan, serta penerimaan kas. Untuk masing-masing hal tersebut auditor perlu melakukan tiga pendekatan dalam menetapkan kewajaran pisah batas, yaitu : 1. Menetapkan kriteria pisah batas yang tepat 2. Mengevaluasi apakah klien telah melakukan prosedur yang memadai untuk menetukan tingkat kewajaran pisah batas. 3. Menguji apakah pisah batas yang ditetapkan adalah tepat.

Pisah Batas Penjualan Sebagian besar klien yang bergerak di bidang perdagangan dan manufaktur mencatat penjualan berdasarkan kriteria pengiriman barang. Beberapa perusahaan mencatat faktur pada saat perpindahan kepemilikan, yang dapat terjadi sebelum pengiriman (seperti dalam kasus barang yang diproduksi khusus), atau selama pada saat memulai pengiriman, atau selama pengiriaman berlangsung. Agar pengukuran dilakukan secara tepat pada periode berjalan, maka metode yang digunakan harus mengikuti prinsip akuntansi berterima umum (Generaly Accepted Accounting Principles/GAAP) dan diterapkan secara konsisten. Ketika pengendalian internal klien dianggap memadai, maka auditor biasanya dapat melakukan verifikasi pisah batas dengan memeriksa nomor dokumen pengiriman pada saat pengiriman terakhir di akhir periode, lalu membandingkan nomor ini dengan pencatatan penjualan selam periode berjalan dan periode jeda (subsequent). Pisah Batas Retur dan Cadangan Penjualan GAAP mensyaratkan retur penjualan harus dibandingkan dengan penjualan terkait jika jumlahnya material. Sebagai contoh, jika pengiriman pada periode berjalan dikembalikan pada periode jeda (subsequent), maka retur penjualan seharusnya muncul pada periode berjalan (barang yang diretur seharusnya dianggap sebagai persediaan periode berjalan). Dikebanyakan perusahaan retur penjualan diacatat pada periode akuntansi dimana transaksi ini terjadi, dengan asumsi yang hampir sama, yaitu adanya saling hapus (offsetting) jumlah pada awal dan akhir periode akuntansi. Pendekatan ini dapat diterima selama jumlahnya tidak material. Beberapa perusahaan menyediakan cadangan, mirip dengan cadangan kerugian piutang tak tertagih untuk jumlah retur yang diperkirakan terjadi selama periode berjalan. Pisah Batas Penerimaan Kas dalam audit, biasanya penentuan pisah batas penerimaan kas dianggap tidak terlalu penting dibandingkan pisah batas penjualan, retur, dan cadangan penjualan. Hal ini disebabkan karena penentuan pisah batas penerimaan kas yang kurang tepat hanya akan memengaruhi saldo kas dan piutang dagang, bukan laba. Jika salah saji tersebut material, maka hal tersebut dapat mempengaruhi penyajian wajar atas akun-akun ini terutama ketika jumlah kas kecil atau saldo negatif. Pada tingkat tertentu, auditor dapa mengandalkan konfirmasi atas piutang dagang untuk menemukan salah saji pada pisah batas penjualan, retur, dan cadangan penjualan, dan penerimaan kas. Sulit untuk membedakan salah saji pisah batas dari suatu beda waktu (timing difference) normal yang terjadi karena pengiriman dan pembayaran dalam perjalanan pada akhir periode. Sebagai contoh, jika pembeli mengirimkan dan mencatat pembayaran cek kepada klien untuk rekening yang belum dibayar tanggal 30 Desember sedangkan klien menerima dan mencatatnya tanggal 2 Januari maka pencatatan oleh pembeli dan klien akan berbeda pada tanggal 31 Desember. Hal ini bukan merupakan salah saji melainkan terdapat beda waktu sehubungan dengan waktu pengiriman. Sulit bagi auditor untuk menentukan apakah seperti ini disebut salah saji atau beda waktu, jika jawaban konfirmasi dijadikan sumber informasi. Situsi tersebut membutuhkan penyelidikan lebih lanjut, misalnya dengan pemeriksaan dokumen pendukung. Piutang Dagang Dinyatakan dalam Nilai Terealisasi GAAP mensyaratkan perusahaan mencatat piutang dagang dalam jumlah tertinggi yang dapat ditagih. Nilai terealisasi piutang dagang sama dengan jumlah total piutang dagang dikurangkan dengan cadangan piutang tak tertagih. Untuk menghitung cadangan, klien mengestimasi jumlah total piutang dagang yang diperkirakan tidak dapat ditagih. Prediksi ini tentunya tidak dapat menetapkan cadangannya secara masuk akal dengan mempertimbangkan semua fakta. Untuk mengevaluasi cadangan atas piutang tak tertagih, auditor menganalisiis hasil pengujian pengendalian mengenai kebijakan kredit klien. Jika kebijakan ini tidak berubah dan hasil pengujian kebijakan kredit klien. Jika kebijakan tidak berubah dan hasil pengujian kredit dan persetujuan kredit konsisten dengan tahun sebelumnya, maka perubahan saldo cadangan piutang tak tertagih seharusnya

hanya merefleksikan perubahan kondisi ekonomi dan volume penjualan. Jika kebijakan kredit klien berubah secara signifikan, maka auditor harus berhati-hati dalam mempertimbangkan dampak dari perubahan ini. Auditor sering kali mengevalusi kecukupan cadangan dengan memeriksa akun-akun jangka panjang pada neraca saldo secara berhati-hati untuk menentukan mana yang belum dibayar setelah tanggal neraca. Auditor juga dapat menilai kolektibilitas piutang dagang dengan memeriksa berkas-berkas kredit, mendiskusikan dengan manajer kredit dan menganalisis berkas korespondensi klien. Prosedur ini sangat penting jika terdapat hanya sedikit rekening bersaldo tinggi yang tidak terbayarkan dengan basis reguler. Auditor menghadapi dua kesalahan yang bisa terjadi dalam mengevaluasi cadangan dengan memeriksa saldo jangka panjang secara individu pada neraca saldo. Pertama, mereka mengabaikan tingkat kecukupan cadangan untuk akun jangka pendek, meskipun beberapa akun ini jelas-jelas tidak tertagih. Kedua, sulit untuk membandingkan hasil tahun berjalan dengan tahun-tahun sebelumnya dalam basis yang tidak terstruktur. Untuk menghindari dua kesalahan ini klien dapat menyusun sejarah pengahapusan piutang tak tertagih (bad debt write-offs) selama kurun waktu tertentu sebagai referensi dalam mengevaluasi cadangan tahun berjalan. Piutang Tak Tertagih Setelah auditor dengan akun cadangan. Mudah baginya untuk memeriksa piutang tak tertagih. Diasumsikan bahwa: Saldo awal akun cadangan diverifikasi sebagai bagian dari audit sebelumnya. Jumlah tak tertagih yang dihapus diverifikasi sebagai bagian dari pengujian substantif atas transaksi. Saldo akhir akun cadangan diverifikasi untuk berbagai tujuan. Piutang tak tertagih merupakan saldo sisa yang diverifikasi dari perhitungan kembali. Penyajian dan Pengungkapan Piutang Dagang Pengujian dari keempat tujuan audit terkait penyajian dan pengungkapan dilakukan sebagai bagian dari peneyelesaian tahapan audit. Beberapa pengujian atas penyajian dan pengungkapan dilakukan untuk memenuhi tujuan audit terkait saldo. Contohnya, ketika pengujian penjualan dan piutang dagang dilakukan, auditor harus memahami dan mengevaluasi kewajaran kebijakan klien atas pengakuan pendapatan untuk mengetahui pengungkapannya secara wajar dalam laporan keuangan. Untuk mengevaluasi kecukupan penyajian dan pengunkapan tersebut, auditor perlu memiliki pemahaman SAK dan persyaratan peyajian dan pengungkapan secara menyeluruh. Bagian penting dari evaluasi meliputi keputusan apakah klien telah memisahkan hal-hal material yang memerlukan pengungkapan terpisah dalam laporan keuangan. Contohnya, piutang dari pegawai atau perusahaan afiliasi harus dipisahkan dan piutang dagang lainya, jika jumlahnya material. Dengan cara yang serupa SEC mensyaratkan juga bahwa perusahaan haru memishkan pengungkapan penjualan dan aset dari segmen bisnis yang berbeda. KONFIRMASI PIUTANG DAGANG Pentingnya konfirmasi, mengingat konfirmasi merupakan bukti yang sangat diandalkan. Tujuan utama konfirmasi piutang dagang adalah untuk memenuhi tujuan keberadaan, akurasi, dan pisah batas (cutoff). Persyaratan Standar Auditing Standar auditing mensyaratkan konfirmasi piutang dagang dalam kondisi normal PSA 07 (SA 330) menyebutkan tiga pengecualian terhadap persyaratan konfirmasi tersebut, yaitu : 1. Piutang dagang jumlahnya tidak material. Hal ini biasa terjadi pada perusahaan tertentu, misalnya toko diskon dengan penjulan tunai dan kartu kredit. 2. Auditor mempertimbangkan bahwa konfirmasi merupakan bukti yang tidak efektif karena tingkat respons yang rendah atau tidak dapat diandalkan. Dalam industri tertentu, seperti rumah sakit, tingkat respons untuk konfirmasi ini sangat rendah.

3. Kombinasi dari tingkat risiko bawaan dan risiko pengendalian adalah rendah dan bukti substantif lain dapat diakumulasikan sebagai bukti cukup. Jika klien memiliki pengendalian internal dan risiko bawaan yang cukup rendah terhadap siklus penjualan dan penagihannya, maka auditor perlu memenuhi persyaratan dengan melakukan pengujian pengendalian, pengujian substantif atas transaksi, dan prosedur analitis. Jenis-jenis Konfirmasi Dalam melakukan prosedur konfirmasi, auditor harus memutuskan terlebih dahulu jenis konfirmasi yang digunakan. Konfirmasi positif (positive Confirmation) konfirmasi positif adalah komunikasi yang ditujukan kepada debitor untuk meminta konfirmasi secara langsung apakah saldo yang disebutkan dalam konfirmasi tersebut benar atau salah. Formulasi konfirmasi kosong (blank confirmation form) adalah jenis konfirmasi positif yang tidak menyebutkan jumlah yang dikonfirmasikan, tetapi mensyaratkan penerima untuk mengisi jumlahnya atau memasukkan informasi lain. Oleh karena formulasi kosong meminta penerima menyebutkan informasi yang diminta, maka konfirmasi jenis ini dianggap lebih dapat diandalkan dibandingkan konfirmasi yang menyebutkan jumlah. Formulir kosong ini jarang digunakan dalam praktik karena biasanya tingkat responsnya lebih rendah. Konfirmasi tagihan (invoice confirmation) adalah bentuk lain konfirmasi positif yang merupakan konfirmasi individual, bukan saldo keseluruhan piutang pelanggan. Banyak pelanggan menggunakan sistem voucher sehingga mereka bisa mengonfirmasi tagiahan individual, tetapi bukan informasi saldo keseluruhan. Akibatnya penggunaan konfirmasi tagihan ini menaikkan tingkat respons. Konfirmasi tagihan juga mengurangi beda waktu dan bagian yang direkonsiliasikan lainnya dibandingkan konfiramsi saldo. Konfirmasi tagihan juga memiliki kekurangan, yaitu tidak mengonfirmasi saldo akhir secara langsung. Konfirmasi Negatif (Negative Confirmation) konfirmasi negatif juga ditujukan kepada debitot tetapi hanya meminta respons jika debitor tidak menyetujui jumlah yang dinyatakan dalam konfirmasi. Konfirmasi positif merupakan bukti yang lebih dapat diandalkan karena auditor dapat melakukan prosedur lain jika respons tidak diperoleh dari debitor. Dengan konfirmasi negatif pelanggan bisa saja tidak merespons dan dianggap menyetujui jumlah yang dikonfirmasi, meskipun mungkin sebenarnya pelanggan mengabaikan permintaan konfirmasi. Meskipun demikian, konfirmasi negatif lebih murah dibandingkan konfirmasi positif karena tidak membtuhkan permintaan konfirmasi kedua dan tidak membutuhkan tidak tindak lanjut jika tidak ada respons. Auditor berhak menetukan jenis konfirmasi yang akan digunakan, dan hal ini sebaiknya berdasarkan fakta dalam audit. PSA 07 menyatakan bahwa konfirmasi negatif dapat dilakukan hanya jika tiga kondisi berikut terpenuhi : 1. Piutang dagang terdiri dari sejumlah besar akun bersaldo kecil. 2. Kombinasi antara risiko pengendalian dan risiko bawaan adalah rendah. 3. Jika dinyakini bahwa penerimaan konfirmasi tidak mengabaikan konfirmasi yang diminta. Penetapan Waktu (Timing) Bukti yang dapat diandalkan dari konfirmasi diperoleh saat konfirmasi tersebut dikirim sesegera mungkin setelah penutupan tanggal neraca. Dengan ini auditor dapat secara langsung menguji saldo piutang dagang dari laporan keuangan tanpa perlu memperhatikan transaksi yang terjadi antara tanggal konfirmasi dan tanggal neraca. Selain, itu untuk melakukan audit berbasis ketepatan waktu, biasanya diperlukan konfirmasi akun-akun selama tanggal interim. Hal ini dapat dilakukan jika pengendalian internal dirasakan sudah memadai dan dapat dipastikan bahwa penjualan, penerimaan kas, dan kredit lainnya dicatat dengan benar antara tanggal konfirmasi dan

akhir periode akuntansi. Auditor cenderung mempertimbangkan faktor-faktor lain dalam mengambil keputusan, termasuk materialitas dari piutang dagang dan keberadaan tuntutan hukum karena dapat menyebabkan kemungkinan kebangkrutan klirn dan risiko sejenisnya. Keputusan Pengambilan Sampel Jumlah Sampel Faktor utama yang memengaruhi jumlah sampel dalam melakukan konfirmasi piutang dagang terbagi menjadi beberapa katergori, yaitu : 1. Salah saji yang diterima 2. Risiko yang tak terhindarkan (ukuran relatif dari total piutang dagang, jumlah akun, hasil pengujian tahun sebelumnya, dan ekspektasi salah saji). 3. Risiko pengendalian 4. Risiko deteksi yang diperoleh dari pengujian substantif lainnya (perluasan dan hasil dari pengujian substantif atas transaksi, prosedur analitis, dan pengujian detail lainnya) 5. Tipe konfirmasi (konfirmasi negatif biasanya membutuhkan sampel lebih banyak). Pemilihan Sampel Pengujian Beberapa tingaktan sampel diperlukan bagi hampir seluruh jenis konfirmasi. Dalam melakukan pendekatan untuk memilih tingkatan sampel, auditor perlu mempertimbangkan besaran nominal akun per individu dan jangka waktu peredaran piutang dagang. Pada kebanyakan proses audit, konfirmasi atas saldo yang lebih banyak dan jangka waktunya lebih lama perlu lebih ditekankan karena biasanya dalam kondisi tersebut piutang dagang biasanya mengalami salah saji yang signifikan. Akan tetapi, penting juga untuk mengambil sampel dari setiap segmen yang material dalam populasi. Dalam banyak kasus auditor mengambil sampel seluruh akun di atas jumlah nominal tertentu dan memilih sampel acak atas sisanya. Menjalakan Pengendalian Setelah sampel konfirmasi ditentukan, auditor tetap perlu melakukan pengendalian konfiramsi hingga dikembalikan dari pelanggan. Jika klien membantu menyiapkan konfirmasi, memasukkan surat konfirmasi ke dalam amplop tertutup, atau meletakkan cap pada amplop, auditor harus melakukan pengawasan ketat. Alamat pengembalian harus dicantumkan dalam seluruh amplop untuk memastikan agar surat yang tidak ditemukan alamatnya akan terkirim kepada kantor akuntan publik (KAP). Tindak Lanjut Bila Tidak Ada Tanggapan Surat konfirmasi yang tidak dikembalikan oleh pelanggan tidak dapat dianggap sebagai bukti audit. Misalnya, tidak hanya tanggapan atas konfirmasi positif bukan berarti merupakan bukti audit. Sama halnya dengan konfirmasi negatif, jika tidak ada respons, maka auditor tidak boleh menyimpulkan bahwa pelanggan menerima permintaan konfirmasi dan membenerkan permintaan informasi. Jika menggunakan konfirmasi positif, PSA 07 mensyaratkan prosedur tidak lanjut bila terdapat konfirmasi yang tidak ditanggapi. Biasanya, tindak lanjut dilakukan dengan mengirimkan permintaan konfirmasi kedua bahkan ketiga. Jika pelanggan tetap tidak mengembalikan surat konfirmasi, maka perlu dilakukan tindak lanjut dengan prosedur aleternatif. Tujuan dari prosedur alternatif adalah menentukan, tanpa konfirmasi, apakah akun yang tidak dijawab memang benar ada (exited), dan disajikan dengan benar pada tanggal konfirmasi. Penerimaan Kas pada Masa Tenggat Bukti penerimaan kas pada masa tenggat sampai dengan tanggal konfirmasi meliputi pemeriksaan bukti pengiriman, jurnal penerimaan kas, atau bahkan mungkin kredit yang terjadi selama masa tenggat pada berkas utama piutang dagang. Disisi lain, pemeriksaan buktii penerimaan kas selama masa tenggat merupakan prosedur alternatif yang sangat berguna dan masuk akal, mengingat pelanggan tidak akan melakukan pemabayaran jika tidak ada piutang dagang. Duplikat Faktur Penjualan Sangat berguna untuk mengecek penerbitan fakta faktru penjualan aktual dengan tanggal penagiahan aktual

Dokumen Pengiriman Dokumen ini diperlukan untuk mengetahui apakah pengiriman benar-benar dilakukan dan juga sebagai pengujian pisah batas (cutoff) Korespondensi dengan Klien Biasanya, auditor tidak perlu menjadikan korespondensi sebagai bagian dari prosedur alternatif, tetapi korespondensi dapat digunakan untuk menemukan piutang yang diragukan atau bermasalah namun tidak ditemukan dengan cara lain. Analisis Perbedaan Ketika permintaan konfirmasi dikembalikan oleh pelanggan, auditor harus menentukan alasan jika ditemukan perbedaan. Dalam banyak kasus perbedaan terbesar tersebut disebebkan oleh beda waktu antara pencatatan klien dan pelanggan. Beda waktu perlu dipisahkan dari pengecualian (exeception), yang merupakan salah saji atas saldo piutang dagang. Jenis perbedaan biasa terjadi pada hasil konfirmasi meliputi : Pembayaram Sudah Dilakukan Perbedaan biasa terjadi ketika pelanggan sudah melakukan pemabayaran sebelum tanggal konfirmasi, tetapi klien belum menrima pembayaran saat pencatatan sebelum tanggal konfirmasi. Barang Belum Diterima Perbedaan ini biasanya timbul karena klien mencatat penjualan pada tanggal pengiriman dan pelanggan mencatat pembelian pada saat barang diterima. Waktu ketika barang dalam masa pengiriman menyebabkan perbedaan laporan tanggal penerimaan barang atau salah saji akibat pisah batas pada catatan pelanggan. Pengembalian Barang Kesalahan klien dalam mencatat memo kredit dapat terjadi karena beda waktu atau kesalahan pencatatan retur dan cadangan penjualan. Sama halnya dengan perbedaan lain, hal ini perlu diselidiki. Kesalahan Klerikal dan Jumlah yang Dipertentangkan Perbedaan yang terjadi dalam laporan pencatatan klien biasanya terjadi ketika pelanggan menyatakan terjadinya kesalahan atas harga barang, kerusakan barang, jumlah barang yang tidak diterima, dan kesalahan dan berapa jumlah kesalahan yang terjadi. Pengambilan Kesimpulan Ketika masalah perbedaan sudah diselesaikan, termasuk perbedaan yang ditemukan saat melakukan prosedur alternatif, auditor harus melakukan evaluasi ulang terhadap pengendalian internal. Setiap salah saji harus dianalisis untuk menentukan dalam risiko pengendalian, maka perlu dilakukan revisi terhadap evaluasi dan mempertimbangkan dampak revisi terhadap evaluasi dan mempertimbangkan dampak revisi tersebut terhadap audit. Auditor pada perusahaan publik harus juga mempertimbangkan implikasi dari audit pengendalian internal atas pelaporan keuangan. Keputusan terakhir tentang piutang dagang dan penjualan adalah mengenai apakah bukti memadai telah diperoleh melalui pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi, prosedur analitis, prosedur pisah batas, konfirmasi, dan pengujian substantif lain untuk menguatkan pengambilan keputusan mengenai keberadaan saldo yang disajikan. MENGEMBANGKAN PENGUJIAN ATAS PROGRAM AUDIT TERPERINCI Kita akan menggukan kasus PT Perkakas Prima guna mengilustrasikan pengembangan prosedur program audit untuk pengujian perincian dalam siklus penjualan dan penagihan. Prosedur ini ditentukan atas dasar pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi. Mira Abadi seorang auditor senior, menyiapkan kertas kerja perencanaan bukti dalam figur 14-7 sebagai panduan dalam memutuskan seberapa luas pengujian perincian saldo tersebut.

Figur 14-7 Kertas Kerja Perencanaan Bukti untuk Menentukan Pengujian Perincian Saldo PT Perkakas PrimaPiutang Dagang
Nilai Relaisasi Kelengkapan

Keberadaan

Pisah Batas

Kecocokan perincian

Klasifikasi

Akurasi

Risiko audit yang dapat diterima Risiko Bawaan Risiko Pengendalian Penjualan Risiko PengendalianPenerimaan Kas Risiko PengendalianPengendalian tambahan Pengujian Substantif atas Transaksi Penjualan Pengujian Substantif atas Transaksi Penerimaan Kas Prosedur Analitis Risiko deteksi terencana untuk pengujian perincian saldo Bukti Audit Terencana Untuk Pengujian Perincian Saldo

Tinggi Rendah Rendah

Tinggi Menengah Menengah

Tinggi Rendah Rendah

Tinggi Rendah Tinggi

Tinggi Rendah Rendah

Tinggi Menengah Menengah

Tinggi Menengah Tinggi Tidak Berlaku Tidak ada hasil

Tinggi Rendah Tidak Berlaku Rendah

Rendah

Menengah

Rendah

Rendah

Rendah

Rendah

Tidak ada hasil

Tidak ada hasil

Tidak ada hasil

Tidak ada hasil

Tidak ada hasil

Tidak ada hasil

Rendah

Hasil Baik

Hasil Baik

Hasil Baik

Hasil Baik

Hasil Baik

Hasil tidak diterima

Tidak berlaku

Tidak berlaku

Hasil Baik

Hasil Baik

Hasil Baik

Hasil Baik

Hasil Baik

Hasil Baik

Tidak berlaku Hasil tidak diterima Rendah

Tidak berlaku Tidak berlaku Tinggi

Hasil Baik

Hasil Baik

Hasil Baik

Hasil Baik

Hasil Baik

Hasil Baik

Tinggi

Menengah

Tinggi

Menengah

Tinggi

Rendah

Rendah

Menengah

Rendah

Menengah

Rendah

Tinggi

Tinggi

Rendah

Hak

Tujuan audit terkait Saldo dan Program Audit untuk PT Perkakas Prima-Siklus Penjualan dan Penagihan (format desain)
Tujuan Audit-Berkait dengan Saldo Piutang dagang dalam neraca jumlahnya sama dengan berkas utama terkait, dan totalnya ditambahkan dengan benar serta sama dengan perincian buku besar Prosedur Audit Menelusuri 10 akun neraca saldo ke akun-akun di berkas utama (6). Menjumlahkan ke bawah dua halaman neraca saldo dan menghitung total seluruh halaman (7). Menelusuri saldo buku besar (8). Piutang dagang muncul pada neraca saldo (Keberadaan) Melakukan konfirmasi piutang dagang dengan menggunakan konfirmasi positif. Melakukan konfirmasi untuk semua saldo diatas Rp100.000.000 dan sisanya diambil sampel acak (10). Melakukan prosedur alternatif untuk seluruh konfirmasi yang tidak ditanggapi pada permintaan kedua (11). Melakukan telaah atas piutang dagang dalam neraca saldo untuk akun yang nilainya besar atau tidak lazim (1). Piutang dagang ada di dalam neraca saldo (Kelengkapan) Menelusuri lima akun dalam berkas utama piutang dagang ke neraca saldo (9). Jumlah piutang dagang dalam neraca saldo akurat (Akurasi) Melakukan konfirmasi piutang dagang dengan menggunakan konfirmasi positif. Melakukan konfirmasi untuk semua saldo diatas Rp100.000.000 dan sisanya diambil sampel acak (10). Melakukan prosedur alternatif untuk seluruh konfirmasi yang tidak ditanggapi pada permintaan kedua (11). Melakukan telaah atas piutang dagang dalam neraca saldo untuk akun yang nilainya besar atau tidak lazim (1). Piutang dagang pada neraca saldo diklasifikasikan (Klasifikasi) Melakukan telaah daftar piutang dalam neraca saldo piutang wesel atau piutang pada pihak terkait (3) Melakukan tanya jawab dengan manajemen apakah ada piutang pada pihak terkait atau jangka panjang yang termasuk dalam neraca saldo (4). Transaksi dalam siklus penjualan dan penagihan dicata pada Memilih 20 transaksi terakhir atas penjualan dari jurnal penjualan periode yang benar (Pisah Batas) tahun berjalan dan dicatat pada periode benar (pisah batas). Memilih 20 transaksi pertama dari masa jeda tahun berjalan dan menelusurinya ke dokumen pengiriman masing-masing, serta melakukan pengecekan terhadap tanggal pengriman aktualdan tanggal pencatatan yang benar (14). Menelaah retur dan cadangan penjualan yang jumlahnya besae sebelum dan setelah tanggal neraca untuk menentukan apakah transaksi dicatat pada periode yang benar (15). Piutang dagang dinyatakan dalam nilai realisasinya (nilai Menelusuri 10 akun dari neraca saldo ke berkas piutang dagang terealisasi) untuk menguji perhitungan umur piutang dan saldonya (6). Menjumlahkan ke bawah kolom umur piutang dalam neraca saldo dan menghitung total seluruh halaman (7). Menjumlahkan ke samping umur piutang (7). Mendiskusikan bagaimana kecenderungan kolektibilitas dan dari tagihan-tagihan lama dengan manajer kredit. Menguji penerimaan kas selama masa tenggat dan berkas kredit pada tagihan jatuh tempo lebih dari 90 hari dan melakukan evaluasi apakah piutang dagang tersebut masih bisa tertagih (12). Mengevaluasi apakah cadangan mencukupi setelah melakukan prosedur audit lain dalam mengetahui kolektibilitas piutang (13). Klien mempunyai hak atas piutang dagang yang ada di dalam Menelaah notulensi rapat pimpinan untuk mengetahui indikasi neraca saldo (Hak) adanya piutang yang dijaminkan (5) Melakukan tanya jawab dengan manajemen jika piutang yang dijaminkan (5). Catatan : prosedur diringaks dalam format kinerja pada tabel 14-5. Angka yang ditulis di atas merujuk pada tabel 14-5