Anda di halaman 1dari 42

Sejarah Arsitektur Islam

Arsitektur Islam berkembang sangat luas baik itu di bangunan sekular maupun di bangunan keagamaan yang keduanya terus berkembang sampai saat ini. Arsitektur juga telah turut membantu membentuk peradaban Islam yang kaya. Bangunan-bangunan yang sangat berpengaruh dalam perkembangan arsitektur Islam adalah mesjid, kuburan, istana dan benteng yang kesemuanya memiliki pengaruh yang sangat luas ke bangunan lainnya, yang kurang signifikan, seperti misalnya bak pemandian umum, air mancur dan bangunan domestik lainnya Pada tahun 630 M, Nabi Muhammad beserta tentaranya berhasil menaklukkan Makkah dari suku Quraish. Pada masa ini bangunan suci Ka'bah mulai didedikasikan untuk kepentingan agama Islam, rekonstruksi Ka'bah dilaksanakan sebelum Muhammad menjadi Rasul. Bangunan suci Ka'bah inilah yang menjadi cikal bakal dari arsitektur Islam. Dahulu sebelum Islam, dinding Ka'bah dihiasi oleh beragam gambar seperti gambar nabi Isa, Maryam, Ibrahim, berhala, dan beberapa pepohonan. Ajaran yang muncul belakangan, terutama berasal dari Al Qur'an, akhirnya melarang penggunaan simbol-simbol yang menggambarkan makhluk hidup terutama manusia dan binatang. Pada abad ke-7, muslim terus berekspansi dan akhirnya mendapatkan wilayah yang sangat luas. Tiap kali muslim mendapatkan tanah wilayah baru, yang pertama kali mereka pikirkan adalah tempat untuk beribadah, yaitu mesjid. Perkembangan mesjid di saat-saat awal ini sangat sederhana sekali, bangunan mesjid tidak lain berupa tiruan dari rumah nabi Muhammad, atau terkadang beberapa bangunan diadaptasikan dari bangunan yang telah ada sebelumnya, misalnya gerejah

Sejarah dan Perkembangan Arsitektur


Arsitektur lahir dari dinamika antara kebutuhan (kebutuhan kondisi lingkungan yang kondusif, keamanan, dsb), dan cara (bahan bangunan yang tersedia dan teknologi konstruksi). Arsitektur prasejarah dan primitif merupakan tahap awal dinamika ini. Kemudian manusia menjadi lebih maju dan pengetahuan mulai terbentuk melalui tradisi lisan dan praktek-praktek, arsitektur berkembang menjadi ketrampilan. Pada tahap ini lah terdapat proses uji coba, improvisasi, atau peniruan sehingga menjadi hasil yang sukses. Seorang arsitek saat itu bukanlah seorang figur penting, ia semata-mata melanjutkan tradisi. Arsitektur Vernakular lahir dari pendekatan yang demikian dan hingga kini masih dilakukan di banyak bagian dunia. Permukiman manusia di masa lalu pada dasarnya bersifat rural. Kemudian timbullah surplus produksi, sehingga masyarakat rural berkembang menjadi masyarakat urban. Kompleksitas bangunan dan tipologinya pun meningkat. Teknologi pembangunan fasilitas umum seperti jalan dan jembatan pun berkembang. Tipologi bangunan baru seperti sekolah, rumah sakit, dan sarana rekreasi pun bermunculan. Arsitektur Religius tetap menjadi bagian penting di dalam masyarakat. Gaya-gaya arsitektur berkembang, dan karya tulis mengenai arsitektur mulai bermunculan. Karya-karya tulis tersebut menjadi kumpulan aturan (kanon) untuk diikuti khususnya dalam pembangunan arsitektur religius. Contoh kanon ini antara lain adalah karya-karya tulis oleh Vitruvius, atau Vaastu Shastra dari India purba. Di periode Klasik dan Abad Pertengahan Eropa, bangunan bukanlah hasil karya arsitek-arsitek individual, tetapi asosiasi profesi (guild) dibentuk oleh para artisan / ahli keterampilan bangunan untuk mengorganisasi proyek. Pada masa Pencerahan, humaniora dan penekanan terhadap individual menjadi lebih penting daripada agama, dan menjadi awal yang baru dalam arsitektur. Pembangunan ditugaskan kepada arsitek-arsitek individual - Michaelangelo, Brunelleschi, Leonardo da Vinci - dan kultus individu pun dimulai. Namun pada saat itu, tidak ada pembagian tugas yang jelas antara seniman, arsitek, maupun insinyur atau bidang-bidang kerja lain yang berhubungan. Pada tahap ini, seorang seniman pun dapat merancang jembatan karena penghitungan struktur di dalamnya masih bersifat umum. Bersamaan dengan penggabungan pengetahuan dari berbagai bidang ilmu (misalnya engineering), dan munculnya bahan-bahan bangunan baru serta teknologi, seorang arsitek menggeser fokusnya dari aspek teknis bangunan menuju ke estetika. Kemudian bermunculanlah "arsitek priyayi" yang biasanya berurusan dengan bouwheer (klien)kaya dan berkonsentrasi pada unsur visual dalam bentuk yang merujuk pada contoh-contoh historis. Pada abad ke-19, Ecole des Beaux Arts di Prancis melatih calon-calon arsitek menciptakan sketsa-sketsa dan gambar cantik tanpa menekankan konteksnya.

Sementara itu, Revolusi Industri membuka pintu untuk konsumsi umum, sehingga estetika menjadi ukuran yang dapat dicapai bahkan oleh kelas menengah. Dulunya produk-produk berornamen estetis terbatas dalam lingkup keterampilan yang mahal, menjadi terjangkau melalui produksi massal. Produk-produk sedemikian tidaklah memiliki keindahan dan kejujuran dalam ekspresi dari sebuah proses produksi. Ketidakpuasan terhadap situasi sedemikian pada awal abad ke-20 melahirkan pemikiranpemikiran yang mendasari Arsitektur Modern, antara lain, Deutscher Werkbund (dibentuk 1907) yang memproduksi obyek-obyek buatan mesin dengan kualitas yang lebih baik merupakan titik lahirnya profesi dalam bidang desain industri. Setelah itu, sekolah Bauhaus (dibentuk di Jerman tahun 1919) menolak masa lalu sejarah dan memilih melihat arsitektur sebagai sintesa seni, ketrampilan, dan teknologi. Ketika Arsitektur Modern mulai dipraktekkan, ia adalah sebuah pergerakan garda depan dengan dasar moral, filosofis, dan estetis. Kebenaran dicari dengan menolak sejarah dan menoleh kepada fungsi yang melahirkan bentuk. Arsitek lantas menjadi figur penting dan dijuluki sebagai "master". Kemudian arsitektur modern masuk ke dalam lingkup produksi masal karena kesederhanaannya dan faktor ekonomi. Namun, masyarakat umum merasakan adanya penurunan mutu dalam arsitektur modern pada tahun 1960-an, antara lain karena kekurangan makna, kemandulan, keburukan, keseragaman, serta dampak-dampak psikologisnya. Sebagian arsitek menjawabnya melalui Arsitektur Post-Modern dengan usaha membentuk arsitektur yang lebih dapat diterima umum pada tingkat visual, meski dengan mengorbankan kedalamannya. Robert Venturi berpendapat bahwa "gubuk berhias / decorated shed" (bangunan biasa yang interior-nya dirancang secara fungsional sementara eksterior-nya diberi hiasan) adalah lebih baik daripada sebuah "bebek / duck" (bangunan di mana baik bentuk dan fungsinya menjadi satu). Pendapat Venturi ini menjadi dasar pendekatan Arsitektur Post-Modern. Sebagian arsitek lain (dan juga non-arsitek) menjawab dengan menunjukkan apa yang mereka pikir sebagai akar masalahnya. Mereka merasa bahwa arsitektur bukanlah perburuan filosofis atau estetis pribadi oleh perorangan, melainkan arsitektur haruslah mempertimbangkan kebutuhan manusia sehari-hari dan menggunakan teknologi untuk mencapai lingkungan yang dapat ditempati. Design Methodology Movement yang melibatkan orang-orang seperti Chris Jones atau Christopher Alexander mulai mencari proses yang lebih inklusif dalam perancangan, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Peneilitian mendalam dalam berbagai bidang seperti perilaku, lingkungan, dan humaniora dilakukan untuk menjadi dasar proses perancangan. Bersamaan dengan meningkatnya kompleksitas bangunan,arsitektur menjadi lebih multidisiplin daripada sebelumnya. Arsitektur sekarang ini membutuhkan sekumpulan profesional dalam pengerjaannya. Inilah keadaan profesi arsitek sekarang ini. Namun demikian, arsitek individu masih disukai dan dicari dalam perancangan bangunan yang

bermakna simbol budaya. Contohnya, sebuah museum senirupa menjadi lahan eksperimentasi gaya dekonstruktivis sekarang ini, namun esok hari mungkin sesuatu yang lain.

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ARSITEKTUR ISLAM MASA DINASTI TURKI USMANI.


A. SEJARAH AWAL BERDIRINYA DINASTI USMANIAH

Pendiri kerajaan ini adalah bangsa turki dari kabilah Qabey yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina. Di bawah pimpinan Arthogrol, meraka mengabdikan diri kepada sultan Alauddin II, sultan penguasa Anatolia yang berperang melawan Byzantium. Berkat bantuan mereka sultan Alauddin II mendapat kemenangan dan atas jasa baik itu sang sultan menghadiahkan sebidang tanah di area kecil yang berbatasan dengan Byzantium kepada Arthogrol dan para kabilahnya. Sejak itu mereka terus menerus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukud sebagai ibu kota . Kemudian pada tahun 1258, Arthogrol dikarunia seorang putra yang diberi nama Usman, ia dididik dan dilatih oleh ayahnya, ketika dewasa Usman menjadi seorang yang gagah dan menjadi orang kepercayan Sultan Alauddin II dengan kemampuannya Usman mampu memperluas wilayah kekuasaan Anatolia. Atas jasanya ini sultan memberikan hak istimewa kepada Usman, diantara hak istimewa tersebut adalah memberinya gelar Bek, diberikan izin untuk mencetak uang sendiri dan menyebut namanya disamping nama sultan pada setiap khotbah Jumat. Pada tahun 699/1299 Sultan Aluddin II wafat tanpa memiliki pewaris kerajaan. Untuk itu, Usman mengambil kesempatan untuk memproklamirkan kemerdekaan wilayahnya dengan nama Kesultanan Usmani, sebuah dinasti yang diambil dari namanya sendiri . B. PERKEMBANGAN ARSITEKTUR DINASTI USMANIAH Kesultanan Turki Usmani merupakan sebuah dinasti besar yang berkuasa pada akhir abad ke-13 sampai awal abad ke-20. Dibawah kepemimpinan Sultan Selim I dan Sultan Sulaiman pada abad ke-16 dinasti Turki Usmani berhasil mencapai puncak kejayaannya. Saat itu wilayah kedaulatannya membentang dari Aljazair sebelah barat, hingga Azerbizan disebelah timur dan Yaman disebelah selatan sampai Hungaria disebelah utara . Dengan kata lain, kurang lebih 43 negara dari tiga benua yang ada saat ini pernah dikuasai dinasti Turki Usmani, puncak kejayaan Turki Usmani mengantarkannya pada periode klasik, pada periode inilah dinasti Turki Usmani memfasilitasi kesultanannya dengan berbagai sarana pemerintahan dan sarana publik berupa bangunan-bangunan bernilai tinggi. Sampai detik ini, jejak-jejak era keemasan Usmani masih bisa dirasakan melalui karya-karya arsitektur yang tersebar diberbagi penjuru wilayah kedaulatannya, terutama di Turki.

Proyek pembangunan dinasti Turki Usmani pada era tersebut tidak lepas dari peran jenius seorang arsitek bernama Mimar Sinan yang kala itu menjabat sebagai kepala arsitek dan teknik sipil kesultanan. Ia melaksanakan tugasnya pada masa kepemimpinan Sultan Sulaiman, Sultan Salim I, Sultan Salim II dan Sultan Murad III. Merujuk pada tulisan Sei Mustafa Celebi yang berjudul Tezkiretul Ebniye yang penulis kutip dari koran Republika rubrik Arsitektur Islam Digest semasa hidupnya Mimar Sinan telah mengepalai pendirian 476 buah bangunan . Terdiri dari, 94 bangunan masjid besar, 57 gedung sekolah, 52 bangunan masjid kecil, 48 tempat pemandian, 35 istana, 22 makam, 20 caravanserai, 17 dapur umum, delapan jembatan, delapan gudang penyimpanan, tujuh madrasah, enam pengatur air, dan tiga rumah sakit. Karyanya yang paling terkenal adalah Masjid Sulaiman di Istanbul dan Masjid Selimiye di Edirne. Meski karya-karyanya telah berumur hampir lima abad, namun tak kurang dari 196 bangunan yang dibangun dan disupervisinya masih tetap eksis hingga saat ini. Sedangkan bila merujuk pada tulisan Samsul Nizar yang dikutip dari Philip K. Hitti, Mimar Sinan telah mampu menyelesaikan 235 buah bangunan . Yaitu berupa mesjid, sekolah, pemandian, istana, jembatan, madrasah, rumah sakit, kuburan dan sarana lainnya. Dimasa dinasti Usmani ini perkembangan corak dan seni arsitektur banyak dipengaruhi dan mengalami perpaduan dengan corak dan seni lokal. Motif ini terjadi karena para arsitektur muslim belum bisa melepaskan diri dari pengaruh corak arsitektur bangunan tradisional Byzantium dan Romawi yang pada saat itu dijadikan kiblat para arsitekur muslim untuk mengembangkan corak dan seni arsitekturnya. Makanya tidak heran pada pelaksanaannya para birokrasi penguasa dinasti saat itu sering melibatkan arsitek dari Yunani, Romawi dan Byzantium dalam penggarapan berbagai bangunan masjid, tata kota serta bangunan lainnya. Didalam perkembangannya bangunan arsitektur pada masa dinasti Turki Usmaniyah tidak hanya merupakan bangunan baru, tetapi ada juga diantaranya yang merupakan alih fungsi dari bangunan yang sudah ada sebelum dinasti Usmaniyah berkuasa. Contohnya Hagia Sofia/Aya Sofia, bangunan ini semula merupakan katedral atau gereja di Konstantinopel, namun ketika usmani menaklukan kerajaan ini, Hagia Sofia atau Aya Sofia diubah menjadi masjid. Kurang lebih selama 916 tahun Hagia Sofia menjadi gereja dan 481 tahun sebagai masjid . Dan pada tahun 1935 Mustafa Kemal Attarturk, penguasa Turki modern saat itu mengubah fungsi Hagia Sofia menjadi Musium, hingga sekarang ini. Dengan alasan, kebijakan Attaturk mengalih fungsikan Hagia Sofia dari masjid menjadi museum merupakan alternatif yang terbaik waktu itu, ia mencoba menampilkan toleransi umat Islam yang demikian tinggi bagi upaya normalisasi hubungan IslamKristen.

C. CORAK SENI ARSITEKTUR DINASTI USMANIAH a. Arsitektur Mesjid Arsitektur Masjid Istanbul sebagai pusat pemerintahan kerajaan memiliki ratusan masjid yang bentuk arsitekturnya hampir seragam. Ciri khas masjid di Turki terletak pada kubahnya yang indah yang dikelilingi menara yang langsing dan tinggi, seolah-olah muncul dari lengkung kubah dan melesat lepas ketinggian. Selain tipe masjid kubah, umat Islam pada zaman Usmani menampilkan tipe masjid lapangan dan masjid madrasah. 1. Masjid Selimiye Masjid ini digarap dan diarsiteki oleh Mimar Sinan, masjid ini salah satu karya monumental yang diakui oleh Mimar Sinan sendiri sebagai karyanya paling masyur. Masjid Selimiye dibangun dikota Edirne, menurut catatan Evliya Celebi seorang penjelajah asal Kesultanan Usmani, dipilihnya Edirne sebagai tempat pembangunan masjid tersebut didasarkan pada mimpi Sultan Selim II, didalam mimpinya Nabi Muhammad SAW memerintah sang Sultan untuk membangun sebuah masjid besar di Edirne, kota yang menurut mimpi itu dilindungi oleh nabi Muhammad SAW. Alasan lainnya bahwa para Sultan terdahulu telah mendirikan begitu banyak masjid besar di Turki wilayah timur, sedangkan baru sedikit saja yang berada di wilayah sebelah barat, padahal daerah ini memiliki peran yang sangat penting, khususnya kota Edirne yang menjadi gerbang penghubung antara daratan Turki dan Benua Eropa. Oleh karena itu dipilihnya Edirne sebagai tempat pembangunan masjid ini dianggap sebagai pilihan yang sangat bijak. Sultan Selim II sebagai pemrakarsa masjid mempercayakan perancangan dan proses pembangunannya kepada Mimar Sinan. Sang arsitek sampai membutuhkan waktu delapan tahun untuk menyendiri dan memikirkan rancangan masjid yang akan menjadi karya terbesarnya itu. Pembuatan fondasinya saja membutuhkan waktu dua tahun. Hal ini dilakukan untuk menstabilkan permukaan dan tekstur tanah di lokasi pendirian masjid. Proyek pembangunan masjid ini dikerjakan oleh 14.400 pekerja dan menghabiskan dana sebesar 4,58 juta keping emas. Pengerjaannya dimulai pada tahun 1568 dan selesai pada 27 November 1574, tetapi masjid baru dibuka untuk umum pada tanggal 14 Maret 1575, tiga bulan setelah Sultan Salim II mangkat, sang sultan tidak sempat meresmikan masjid yang telah diprakarsainya itu. Dahulu terdadapat sebuah ungkapan dari kalangan arsitek Kristen yang menyatakan bahwa tidak akan ada seorangpun arsitek Muslim yang dapat membangun kubah sebesar kubah Hagia Sofia di Istanbul, pandangan negatif inilah yang menjadi motivasi Mimar Sinan untuk membangun Masjid Selimiye. Dengan berdirinya masjid ini, akhirnya ejekan

dari para arsitek Kristen pun terpatahkan, Mimar Sinan berhasil mendirikan masjid Selimiye yang memiliki kubah berdiameter 31 meter, lebih lebar satu meter dibandingkan kubah Hagia Sofia yang hanya berdimeter 30 meter. Tinggi kubah utama dari lantai dasar masjid Selimiye adalah 42 meter. Kubah utama ini memiliki penampang berbentuk persegi delapan yang masing-masing sudutnya ditopang delapan pilar besar. Bagian antara dasar kubah dengan kedelapan pilar tersebut diisi oleh muqarnas (ornamen berbentuk stalaktit), dibawahnya empat buah halfdome (kubah terpotong) ditempelkan pada keempat sisi penampang kubah utama dan sebuah half-dome lainnya menaungi ruang mihrab. Dengan demikian, apabila dilihat dari atas, rangkaian kubah terpusat masjid Selimiye terlihat seperti seekor kura-kura. Jumlah half-dome dan kubah kecil yang menaungi ruang shalat utama masjid terbilang sangat sedikit. Hal ini membuat kubah raksasa yang berada di pusat bangunannya terlihat sangat dominan. Seperti masjid bergaya Usmani lainnya, masjid Selimiye memiliki halaman berbentuk persegi panjang dengan sebuah tempat wudhu berupa air mancur (sardivan) ditengahnya. Area terbuka ini dikeliling oleh portico (teras berpilar) yang beratapkan 18 kubah. Portico masjid Selimiya memiliki 16 pilar, menurut para ilmuwan, pilar-pilar tersebut berasal dari Mesir, Syprus, Syria dan Turki. Halaman dengan gaya seperti ini mengadopsi bentuk peri-style pada halaman bergaya Romawi kuno atau bentuk sahn pada bangunanbangunan di Timur Tengah dan Afrika Utara. Pada keempat sudut masjid berdiri empat buah menara setinggi 84 meter. Masing-masing menara memiliki tiga buah balkon. Dua menara diantaranya memiliki tiga buah pintu tangga yang menuju langsung pada ketiga balkonnya. Artinya, terdapat tiga jalur tangga yang berbeda pada sebuah menara. Hal tersebut merupakan bukti lain dari kejeniusan seorang Mimar Sinan. Ruang utama masjid teridir atas dua lantai, yaitu lantai dasar sebagai tempat shalat utama dan lantai atas berupa balkon yang mengelilingi ruangan utama. Rancangan seperti ini adalah ciri khas masjid berasitektur Turki Usmani. Masjid Selimiye diterangai oleh 384 buah jendela, ratusan jendela itu terbagi kedalam lima tingkatan. Jendela-jendela pada tingkat terbawah dan tingkat kedua menerangi lantai dasar dan balkon masjid. Barisan jendela pada tingkat ketiga dan keempat merupakan jendela-jendela clerestory (jendela pada dinding atas) yang cukup banyak membiaskan cahaya alami kedalam masjid. Pada tingkat kelima terdapat deretan jendela kubah yang menerangi interior kubah masjid, Sinan menggunakan kaca jendela berwarna terang untuk memberikan efek pencahayaan yang maksimal pada interiornya. Interior masjid didominasi oleh marmer berwarna putih dan coklat muda dari pulau Marmara, serta ubinubin keramik yang berasal dari kota Iznik. Berbagai ornamen kaligrafi karya Hasan Celebi, hiasan arabes, dan muqarnas khas corak Usmani klasik pun turut menghiasi interior dan eksteriornya. Hampir seluruh lengkungan antar pilar yang terdapat pada masjid Selimiye terdiri atas voussoir (balok-balok

pembentuk lengkungan) berwarna merah dan putih yang disusun secara berselingan. Didalam masjid tepat ditengah ruang shalat utama terdapat mahfil muazin, yaitu bangunan menyerupai panggung yang berfungsi sebagai tempat untuk mengumandangkan azan. Mahfil muazin di masjid Selimiye memiliki tinggi 2,4 meter dan ditopang oleh 12 tiang kecil dengan lengkungan berukir. Letak mahfil yang berada tepat di bawah kubah utama ini sempat menimbulkan kontroversi karena biasanya mahfil muazin diletakkan di pinggir ruang shalat. Sinan sengaja meletakan di tengah supaya tidak menggangu kesimetrisan masjid. Dibawah mahfil muazin sang arsitek menempatkan sebuah air mancur kecil sebagai metafora jiwa dari kubah raksasa yang tepat berada diatasnya. Mihrab masjid Selimiye terletak pada sebuah ceruk yang menonjol keluar seperti apse pada bangunan gereja. Mihrab ini terbuat dari pahatan batu marmer monolitik yang dihiasi ornamen geometri dan kaligrafi. Sebuah mimbar bertangga yang sangat tinggi terletak disebelah kanan ceruk mihrab. Mahfil sultan sebagai tempat shalat sultan dan para petinggi negara berada di atas balkon yang terletak disebelah kiri ceruk mihrab. Semua lantai masjid ditutupi oleh karpet berwarna merah, pada malam hari, pencahayaan interior masjid dibantu oleh sekian banyak lampu gantung. Masjid selimiye berdiri di atas lahan seluas 2.475 meter persegi ini dapat menampung sekitar 6.000 jemaah. Hingga kini masjid yang berusia empat abad tersebut menjadi ikon kota Edirne sekaligus menjadi salah satu warisan peradaban Islam di bidang arsitektur. Didalam tata kota khas kesultanan Turki Usmani dikenal istilah kulliye, yang berarti kompleks sarana publik yang mengelilingi sebuah masjid besar. Sama seperti kebanyakan masjid lainnya di Turki, masjid Selimiye pun berada didalam sebuah lingkungan kulliye. Dibelakang masjid terdapat dua buah bangunan kembar, yaitu darul hadits dan madrasah sebagai tempat pembelajaran islam dan pengetahuan umum. Kedua sekolah ini merupakan bangunan peristyle berbentuk persegi dengan taman terbuka ditengahnya. Semua ruang kelasnya dihubungkan oleh portico yang mengililing taman tersebut. Disebelah kanan masjid terdapat kompleks pertokoan (arasta) sepanjan 255 meter yang terdiri dari 124 toko. Deretan toko tersebut saling berhadapan dan dihubungkan oleh sebuah lorong besar. Pertokoan ini dibangun atas perintah sultan Murad III untuk menambah pendapatan kas masjid. Terpisah oleh jalan raya, di sekitar masjid terdapat beberapa fasilitas umum lainnya seperti, rumah sakit, perpustakaan, pemandian, dapur umum, penginapan dan pemakaman. Tidak jauh dari komplek masjid Selimiye terdapat beberapa bangunan bersejarah lainnya yang telah berdiri beberapa tahun sebelum masjid tersebut dibangun, antaranya masjid Eski Cami yang dibangun atas titah Sultan Mehmet I, masjid Uc Serefeli yang menjadi salah satu pelopor masjid dengan menara berbalkon tiga, serta kompleks museum kesehatan Bayezid II yang pada era Usmani dahulu merupakan sebuah rumah sakit dan sekolah kesehatan.

2. Masjid Sulaiman Corak arsitektur menara Masjid Turki Usmani umumnya berbentuk jirin (meruncing) semampai tinggi menjulang bagai jarum raksasa melesat ke ruang angkasa. Di Masjid Sultan Sulaiman, menaranya yang langsing dan tinggi seakan-akan muncul dari lengkung-lengkung kubah dan melesat ke ketinggian mencakar langit. Masjid-masjid dengan menaranya yang mengagumkan yang dibangun oleh para penguasa Turki Usmani menguak kegemilangan arsitektur masjid Turki Usmani. Corak menara masjid Turki Usmani tersebut banyak memberikan pengaruh dan inspirasi terhadap menara-menara masjid modern terutama di negara-negara Eropa yang pernah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Turki Usmani. Kota Sarajevo, ibu kota Bosnia Herzegovina yang dijuluki dengan City of Minaretes banyak dihiasi dengan menaramenara bergaya Turki Usmani tersebut. Corak Turki Usmani terlihat mewarnai juga menara Masjid Istiqlal di Jakarta yang di arsiteki oleh Frederich Silaban dan diresmikan pada tahun 1953 kemudian Masjid Shah Faisal di Islamabad yang diresmikan pada tahun 1987 oleh Presiden Pakistan Jendral Zia ul Haq. Masjid Sulaiman didirikan pada 1551, di masa pemerintahan Sultan Sulaiman I. Masjid yang terletak di kota Istanbul ini merupakan masjid terbesar di Turki. Bagian interior maupun eksterior masjid sangat indah, didesain oleh arsitek Mimar Sinan (1489-1588). Masjid Sulaiman mempunyai empat buah menara pada keempat sudutnya dengan kubah Masjid berdiameter 26 m dan tinggi 51,8 m. Corak interior masjid Sulaiman ini dipadu dengan warna yang harmonis dan tulisan kaligrafi. Dan dalam hal ini arsitek interior yang menghiasi masjid Sulaiman di kerjakan oleh Musa Al Azmi . Musa Al Azmi mampu mendekorasi masjid tersebut dengan keindahan seni kaligrafi al Quran yang demikian indah. 3. Masjid Biru/Blue Mosque (Masjid Sultan Ahmed) Masjid ini berada di Istanbul Turki dan dibangun oleh Sultan Ahmed I pada tahun 1609 dan selesai pada 1612. Sultan Ahmed membangun Masjid Biru untuk menandingi bangunan Hagia Sopia buatan kaisar Bizantium yaitu Constantin I, Hagia Sopia berada satu blok dari Masjid Biru. Masjid Biru memiliki 6 menara, diameter kubah 23,5 meter dan tinggi kubah 43 meter, kolom beton berdiameter 5 meter. Arsitek interior masjid dihiasi lebih dari 20.000 handmade keramik dengan lebih dari 50 desain yang berbeda. Keramik ini berasal dari Iznik, daerah penghasil keramik kelas satu di Turki. Keramik ini didominasi warna biru, sehingga masjid ini mendapat julukan Blue Mosque. Terdapat pilar-pilar marmer dan lebih dari 200 jendela kaca patri dengan berbagai desain yang memancarkan cahaya dari luar dengan dibantu chandeliers. Dalam chandeliers diletakkan telur burung unta untuk mencegah laba-laba membuat sarang di situ. Dekorasi lainnya adalah kaligrafi ayat-ayat Al-Quran yang sebagian besar dibuat oleh Seyyid Kasim Gubari, salah satu kaligrafer terbaik pada masa itu. Elemen penting dalam masjid ini adalah mihrab yang terbuat dari marmer yang dipahat dengan hiasan stalaktit dan

panel incritive dobel di atasnya. Tembok di sekitarnya dipenuhi dengan keramik. Masjid ini di desain agar dalam kondisi yang paling penuh sekalipun, semua yang ada di masjid tetap dapat melihat dan mendengar Imam. Yang menarik, sebuah rantai besi yang berat dipasang di atas pintu gerbang masjid sebelah barat. Di masa lalu, hanya Sultan yang boleh memasuki halaman masjid dengan mengendarai kuda, dan rantai ini dipasang agar Sultan menundukkan kepalanya saat melintas masuk agar tidak terantuk rantai tersebut. Ini dimaksudkan sebagai simbol kerendahan hati penguasa di hadapan kekuasaan Ilahi. Konsep rancang dan arsitektur masjid ini menjadi inspirasi masjid-masjid yang ada di Eropa seperti masjid Ahmad Kadyrov yang ada di pegunungan Kaukasus, Grozny, ibu kota Republik Chechnya yang masih merupakan bagian dari Federasi Rusia . Malah boleh dikatakan masjid Ahmad Kadyrov kembaran dari Masjid Biru, terlihat dari desain kubah terpusat yang menjadi atapnya, bentuk dan konsep menara yang sama dan arsitektur interior yang banyak memiliki kesamaan dengan masjid Biru tersebut. 4. Hagia Sofia/Aya Sofia Kaligrafi dan hiasan yang terukir di dinding Aya Sofia menjadi saksi dan potret kerukunan beragama. Hagia Sophia yang biasa disebut Aya Sofia merupakan tempat wisata yang sangat artistik dan bersejarah di kota Istanbul, Turki. Dengan kubah besar yang menjulang tinggi berbentuk bangunan masjid dan empat buah menara mengelilinginya, Aya Sofia sungguh begitu megah dan indah. Dari pantai Istanbul, bangunan megah itu begitu tampak jelas. Aya Sofia berhadapan dengan Masjid Sultan Ahmet atau yang biasa dikenal dengan Masjid Biru. Yang menarik, interior Aya Sofia dihiasi berbagai jenis ornamen yang begitu menawan. Tulisan kaligrafi asma Allah SWT, Rasululullah SAW bersama keempat khulafaurrasyidin, dan dua cucu Rasulullah, Hasan dan Husain bin Ali sejajar dengan lukisan bunda Maria dan Isa Almasih serta lukisan dan hiasan gereja lainnya. Kaligrafi dan hiasan yang terukir di dinding Aya Sofia seakan menjadi saksi dan potret kerukunan beragama. Aya Sofia terdiri dari dua lantai. Di lantai satu bagian depan tampak tempat imam dilengkapi dengan mimbar yang cukup tinggi. Di atas tempat imam itulah tulisan kaligrafi Asma Allah dan Rasulullah mengapit gambar bunda Maria yang sedang memangku Nabi Isa. Kaligrafi-kaligrafi Islami itu berwarna kuning keemasan mengikuti warna corak hiasan awal bangunan yang dulunya berfungsi sebagai gereja. Di lantai dua, terdapat tempat-tempat para kaisar Byzantium beribadah. Namun, lantai dua bangunan ini tidak seluas lantai satu. Awalnya, Aya Sofia merupakan gereja yang dibangun pada 532537 M, zaman Kekaisaran Byzantium. Saat itu Turki masih bernama Konstantiopel. Hagia Sophia merupakan gereja termegah umat Kristen Ortodoks Timur. Pada 1453 M, kekaisaran Byzantium jatuh ke tangan Kesultanan Turki Usmani. Sejak saat itulah semua yang berada di Konstantinopel menjadi milik Kekhalifan Turki Usmani, termasuk gereja Hagia Sophia. Adalah Sultan Muhammad II yang juga dikenal dengan Sultan Muhammad al-Fatih yang berjasa menaklukan kekaisaran Byzantium. Dengan kegigihan Sultan alFatih bersama pasukannya yang tangguh, Kekaisaran Bizantium yang dikenal sebagai

yang terkuat di wilayah Asia dan Eropa itu, akhirnya berhasil ditaklukkan. Bahkan, Rasulullah SAW bersabda bahwa suatu ketika kerajaan Konstantinopel akan ditaklukkan, pemimpin yang dapat menaklukkan itu adalah sebaik-baiknya pemimpin dan tentara yang dapat menakukan adalah sebaik-baiknya tentara, sekarang kaligrafi hadis Rasulullah itu dipajang di bagian pintu keluar bangunan tersebut. Di zaman Turki Usmani, fungsi Aya Sofia berganti dari gereja menjadi masjid. Seusai menaklukan kerajaan Byzantium, Sultan al-Fatih melakukan sujud syukur di gereja tersebut. Di waktu sore setelah penaklukan, dimulailah shalat Ashar perdana di Masjid Aya Sofia. Dan pada Jumat pertama, gereja itu langsung digunakan untuk shalat Jumat bagi umat Islam di Konstantinopel. Hebatnya, Sultan al-Fatih tidak menghancurkan bangunan yang berdiri sejak seribuan tahun itu. Bahkan saat menjadi masjid, hiasan gereja tidak dimusnahkannya, hanya sebagian saja hiasan gereja yang diganti dengan kaligrrafi dan hiasan Islami. Renovasi besar-besaran juga dilakukan agar tak terkena gempa di awal abad ke-14 M. Pasalnya, gempa sering terjadi di kawasan itu. Keistimewaan bangunan ini terletak pada bentuk kubahnya yang besar dan tinggi. Ukuran tengahnya sekitar 30 meter dengan tinggi sekitar 54 meter. Interiornya dihiasi mosaik dan fresko, tiang-tiangnya terbuat dari pualam warna-warni, dan dindingnya dihiasi ukiran. Saat berubah menjadi masjid, Aya Sofia itu dilengkapi dengan empat menara. Awalnya, Aya Sofia hanyalah gedung dengan kubah yang besar. Berbagai modifikasi terhadap bangunan dilakukan agar sesuai dengan corak dan gaya bangunan masjid. Pada masa Mehmed II (1444-1446 dan 1451-1481) dibuat menara di bagian selatan. Selim II (15661574) membangun dua menara dan mengubah bagian bangunan bercirikan gereja. Termasuk mengganti tanda salib yang terpampang pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit. Ratusan tahun kemudian, tepatnya pada 1935, pemimpin Turki Modern, Mustafa Kemal Ataturk mengubah fungsi masjid itu menjadi museum. Hiasan-hiasan gereja yang tidak tampak saat menjadi masjid kembali ditampakkan. Karena menjadi museum, maka untuk masuk ke dalam bangunan Aya Sofia setiap pengunjung dikenakan biaya sebesar 20 Turki Lira (TL) atau setara dengan Rp 140 ribu dengan kurs 1 TL sama dengan Rp. 7 ribu. 5. Masjid Nusretiye Masjid Nusretiye merupakan salah satu bangunan tempat ibadah peninggalan kejayaan dinasti Turki Usmani (Ottoman) diwilayah Istanbul, Turki. Masjid ini dibangun pada tahun 1823 M hingga 1826 M, sebagai bagian dari proyek pembangunan kembali barak militer di kawasan Tophane, sebelah barat selat Bosphorus. Proyek tersebut digagas penguasa Ottoman saat itu, Sultan Mahmud II (1784-1839 M). Yulianto Sumalyo dalam bukunya yang bertajuk Arsitektur Masjid dan Monumen Sejarah Muslim memaparkan, Sultan Mahmud II memilih lokasi tempat pembangunan masjid di lokasi yang sebelumnya Sultan Selim III (1761-1808 M) mendirikan masjid kecil berdinding kayu. Masjid yang didirikan oleh sultan Selim III ini musnah terbakar dalam peristiwa kebakaran pada 1823, dikenal dengan tragedi Firuzaga.

Sejak berdiri, bangunan masjid Nusretiye pernah mengalami beberapa kali renovasi. Pemerintah Turki melakukan restorasi pertama kali terhadap keseluruhan bangunan masjid antara 1955 dan 1958. Kemudian, antara 1980 dan 1982 dilakukan renovasi terhadap beberapa bagian bangunan masjid. Sultan Mahmud II menunjuk Krikor Amira Balyan sebagai arsitek yang akan merancang dan mendisain bangunan masjid baru ini. Keluarga Balyan dikenal sebagai keluarga arsitek berdarah Armenia pada abad ke-18 M hingga 19 M. Sejarah mencatat sembilan anggota keluarga Balyan pernah ditunjuk menjadi arsitek resmi kesultanan Ottoman. Krikor merupakan generasi pertama dari keluarga Balyan yang menjadi arsitek kerajaan Ottoman. Arsitektur masjid yang dibangun pada abad ke-29 M ini terlihat mengalami perubahan besar. Perubahan tersebut kemungkinan terjadi karena pengaruh westernisasi yang gencar dilakukan oleh sultan Selim III dan Mahmud II. Yang paling menonjol adalah pengaruh baroque suatu gaya arsitektur yang tumbuh setelah masa renaisans yang begitu sarat dengan dekorasi dan ornamen. Ornamen-ornamen yang menjadi ciri khas gaya baroque memenuhi seluruh bagian bangunan masjid, termasuk dinding, jendela, serta garis-garis batas antara satu bidang dan bidang yang lainnya. Namun, sang arsitek berupaya melakukan terobosan baru dengan tidak menggunakan bentuk ornamen baroque yang lurus-lurus, namun lebih banyak berbentuk lengkung-lengkung yang terlihat seperti gelombang air dan mengikuti bentuk sinusoida. Dari segi denah atau tata letak, pengaruh eropa juga menonojol pada masjid ini, terutama bentuk denah yang sudah tidak lagi hypostyle. Teras depan atau portico masjid diapit oleh unit yang menjorok kedepan dengan bagian ujung kiri dan kanannya beratap limasan, yang merupakan adopsi arsitektur Eropa klasik. Dalam arsitektur islam, konstruksi seperti ini merupakan elemen baru yang tidak ditemui pada bangunanbangunan masjid sebelumnya. Pada bagian portico ini terdapat pintu masuk menuju keruang solat utama. Pintu masuk berukuran 4 x 2,1 M ini bergaya baroque dan terbilang mewah. Sementara itu, dua unit bangunan yang menjorok dinamakan hunkar kasri, yang berarti kediaman raja. Kedua unit bangunan ini juga memiliki pintu masuk yang terhubung dengan bagian belakang solat utama dan beranda masjid. Sebuah pintu masuk yang khusus diperuntukkan sultan terletak bagian selatan bangunan masjid yang berhadapan langsung dengan pemandangan laut. Bagian dinding bangunan hunkar kasri ini dihiasi dengan aneka motif tanaman berwarna-warni serta tulisan kaligrafi pada bagian pintu masuk. Tulisan kaligrafi tersebut merupakan hasil karya ahli kaligrafi muslim terkenal di era ottoman, Mustafa Rakim (1757-1826). Masjid ini memiliki menara kembar, masing-masing dilengkapi dengan dua buah balkon. Kedua menara ini tampak menjulang dibelakang kedua unit yang menjorok kedepan tadi. Bentuk menara ini tidak jauh berbeda dengan menara pada bangunan masjid lainnya dijaman Ottoman. Yang membedakan hanyalah pada dekorasinya. Landasan minaret berbentuk seperti kuncup bunga melati dengan batang menara beralur-alur dan penampang balkon tidak berbentuk lingkaran melainkan segi delapan.

Kubah masjid mengedepankan bentuk setengah bola dan berdiri diatas tambour dimana terdapat deretan jendela yang keseluruhannya berjumlah 20 buah. Diantara masingmasing jendela terdapat semacam pilaster dengan profil tegak berbentuk huruf s. Jendelajendela yang terdapat pada bagian kubah ini merupakan contoh terakhir dari pengaturan jendela gaya arsitektur Ottoman klasik. Pada sudut luar dari kubah terdapat semacam kolom, tetapi sangat tebal dibagian luar dan mencuat keatas. Kolom tersebut berbentuk seperti kuncup sebuah bunga. Bentuk kolom seperti ini merupakan hal yang baru dan belum pernah ada sebelumnya. Bagian dinding masjid bercorakan garis-garis batas pelengkung. Garis-garis batas tersebut dihias tidak saja dengan molding, tetapi dengan hiasan geometris, lengkung, bundar-bundaran dan lain-lain sehingga sangat ramai memenuhi seluruh permukaan bagian-bagian bangunan.
6. Masjid Sultan

Terletak di jantung Kampong Glam, Mesjid grand Sultan (Sultan Mosque) dimahkotai oleh kubah emas. Ia menarik Muslim dari seluruh pulau maupun wisatawan, terutama pada hari Jumat, Hari Raya Puasa dan Idul Adha. Masjid Sultan dibangun pada tahun 1824 oleh Sultan Hussein dan melayani komunitas Muslim selama hampir 100 tahun. Bangunan ini, dirancang oleh arsitek Swan & Maclaren pada tahun 1924. Masjid ini di dirancang oleh Arsitektur Islam Saracenic, campuran Persia, Turki, Moor dan unsur-unsur India. Di antara karakteristik

fitur arsitektur pada masjid ini adalah kubah berbentuk bawang dan lengkungan. Masjid ini ditetapkan sebagai Monumen Nasional dengan Pelestarian Monumen Dewan pada tahun 1975. Jika ingin memasuki mesjid, memakai blus lengan / kemeja (panjang lengan untuk wanita) dan rok panjang atau celana.

b. Arsitektur Istana
1. Istana Topkapi Istana Topkapi adalah istana kesultanan Turki Usmani yang berdiri sejak lima ratusan tahun lalu dan masih kokoh berdiri di pusat kota Istanbul, Turki. Istana para sultan pada kesultanan Turki Usmani itu berada di titik strategis dengan dikelilingi tiga perairan yaitu, Selat Bosphorus, Tanjung Tanduk Emas (Golden Horn), dan Laut Marmara. Lokasi istana tersebut letaknya tidak jauh dari Masjid Sultan Ahmet atau yang biasa disebut Masjid Biru dan Musium Hagia Sofia atau Aya Sofia. Adalah sultan Muhammad II atau sultan Muhammad Alfatih yang membangun Istana seluas 700 meter persegi pada tahun 1453 Masehi. Istana yang dikelilingi tembok pertahanan sepanjang 5 kilometer itu ditempati oleh 24 sultan yang memimpin kesultanan Turki Usmani. Istana Topkapi merupakan tempat kediaman sultan-sultan Turki selama tiga abad hingga 1839 M. Setelah Sultan Mahmud II meninggal, penguasa yang menggantikannya lebih memilih tinggal dalam beberapa istana gaya Eropa, seperti Istana Dolmabahce dan Ciragan yang dibangun di tepi Sungai Bosphorus. Ketika memasuki istana Topkapi, kami para pengunjung disuguhi taman yang luas dan indah. Taman itu juga dipenuhi oleh pepohonan yang sudah berumur ratusan tahun dan rimbun. Beberapa bangunan yang berada di dalam komplek istana Topkapi dihiasi dengan taman-taman yang indah menawan dan air mancur. Pintu dan jendela bangunanbangunan di lingkungan istana itu menghadap ke halaman yang merupakan taman istana untuk menciptakan suasana yang terbuka dan menyediakan udara dingin selama musim panas. Di kawasan istana tersebut terdapat asrama, taman, perpustakaan, sekolah, masjid dan pengadilan. Istana itu juga digunakan bukan hanya untuk tempat tinggal, namun juga digunakan untuk kantor administrasi dan kantor penerima tamu agung dari berbagai kerajaan. Istana itu juga dilengkapi dengan gedung yang diperuntukan untuk keluarga sultan. Para arsitek yang merancang bangunan itu harus memastikan bahwa di dalam istana, sultan dan keluarganya dapat menikmati privasi dan kebijaksanaan. Istana ini sempat masuk dalam situs cagar budaya UNESCO PBB pada tahun 1985. Istana yang memiliki ribuan kamar dan ruang ini kini di bawah pengelolaan Departemen Budaya dan Pariwisata pemerintah Republika Turki dan dijaga oleh tentara militer Turki.

Saat ini, istana Topkapi dijadikan musium dan untuk memasukinya setiap pengunjung dikenakan biaya sebesar 20 Turki Lira (TL) atau setara dengan Rp. 140 ribu dengan kurs 1 TL sama dengan Rp. 7 ribu. Di dalam komplek istana Topkapi para pengunjung dapat melihat barang-barang peninggalan sejarah, khususnya sejarah Islam. Para pengunjung seperti dibawa ke zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Sebab, sepanjang dan selama para pengunjung melihat barang-barang bersejarah itu mereka disuguhkan dengan lantunan tilawah Alquran. Konon, dulu lantunan ayat suci Alquran itu dilantunkan tanpa henti selama 24 jam nonstop dan terus menerus lebih dari 407 tahun sejak tahun 1517 hingga 1924. Di istana tersebut, kita dapat melihat benda-benda yang terkait Rasulullah SAW yang juga dihiasi dengan kalighrafi yang sangat cantik. Juga ada cetakan tapak kakinya di batu yang patah dan disambung kawat. Ada pula dua pedang dan panah milik nabi akhir zaman tersebut. Terdapat pula wadah yang berisi jenggot Rasulullah. Selain itu, pedang para sahabat juga dipajang di museum tersebut, di antaranya pedang Abu Bakar Ashshiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid, dan Zubair bin Awwam. Selain benda-benda itu, di istana tersebut juga terdapat pedang, mantel, gigi (Nabi Muhammad SAW yang tanggal pada Perang Uhud), bakiak, bendera, cambuk, segenggam janggut, sajadah, tongkat, busur panah, sabuk, stempel dan berbagai benda lainnya. Masih di lingkungan Istana, juga ada peninggalan berharga, benda-benda yang pernah dipakai Nabi Muhammad SAW. Berbagai peninggalan itu ditempatkan di dalam suatu ruang khusus yang terpisah dari Istana Topkapi. Ruangan itu bernama Paviliun Relikui Suci. Hebatnya, di istana tersebut juga terdapat cetakan telapak kaki kanan Nabi Muhammad SAW. Telapak kaki kanan itu tercetak saat peristiwa Miraj. Sedangkan telapak kaki kirinya kini tersimpan di Masjidil Aqsa, Jerusalem. Terdapat pula beberapa surat buatan Nabi Muhammad SAW yang ditujukan kepada Muqawqis (pemimpin Kaum Kopts) dan Musaylimah Alkadzdzab (si Pembohong). Surat untuk Muqawqis ditulis di daun kurma dan ditemukan di Mesir pada tahun 1850. Peninggalan bersejarah lainnya adalah manuskrip Alquran pertama yang ditulis di atas lembaran kulit binatang. Itu terjadi sebelum Alquran disatukan menjadi sebuah kitab utuh. Salah satu yang tersimpan di Topkapi ialah Surat Alqadar. Selain itu, masih banyak peninggalan lainnya dari para tokoh yang berjasa dalam perkembangan Islam.

2. Istana Dolmabahce Istana Dolmabahce merupakan istana kesultanan Turki Usmani. Letaknya sangat stategis.

Istana itu langsung berhadapan dengan laut Bosporus. Dari atas kapal laut kita dapat melihat kemegahan istana itu dari kejauhan. Istana itu banyak menyimpan barang-barang pemberian dari para raja dari berbagai kerajaan. Dolmabahce merupakan bangunan terakhir yang dibangun oleh penguasa Turki Usmani, Sultan Abdul Majid I yang memimpin Turki Usmani dari 1839-1861. Istana yang terletak di atas lahan seluas 110 ribu meter persegi itu dibangun pada 1843-1856. Pembangunan gedung bernuansa barat itu menghabiskan dana sebesar lima juta pound emas Usmani atau setara dengan 35 ton emas. Sebanyak14 ton emas dalam bentuk emas digunakan untuk menghiasi 45 ribu meter persegi langit-langit monoblock istana. Yang bertanggung jawab atas pekerjaan konstruksi Haci Said Aga, sementara proyek ini direalisasikan oleh arsitek Garabet Balyan. Istana itu memilik tiga lantai termasuk lantai bawah tanah. Dolmabahce memiliki 285 kamar dan 46 ruang, 6 kamar mandi khas Turki, 1.427 jendela, 68 toilet dan karpet yang menutupi lantai. Hingga kini, banguan dan segala isinya masih terjaga keasliannya. Di area Istana Dolmabahce itu terdapat 16 bangunan yang terletak di samping bangunan utama, seperti; pabrik, toko kaca, pengecoran, apotek dan dapur. Selain itu juga terdapat dua gerbang yang monumental, yakni Gerbang Jam Gadang, serta gerbang sepanjang 600 meter di pinggir dermaga sepanjang laut. Batu porphyry yang menghiasi istana itu didatangkan dari kota Pergamum kuno, Alabaster Mesir. Sedangkan perabotannya dibawa dari Paris. Bahan-bahan dari kristal Baccarat, didatangkan dari Inggris. Selain terbuat dari 35 ton emas, istana itu juga menggunakan 40 ton perak untuk dekorasi. Bagian dalam Istana Dolmabahce dihiasi dengan lukisan-lukisan, dan langit-langit ilustrasi dibuat oleh seniman Perancis dan Italia. Lukisan karya perupa terkenal Rusia Aiwazowsky juga memperkaya dekorasi interior istana itu. Dalam dekorasi interior, di antaranya terdapat 156 jam serta 58 lilin. Istana ini juga berisi desain eklektik elemen Baroque, Rococo dan gaya neoklasik, dicampur dengan tradisional arsitektur Turki Usmani untuk menciptakan sebuah sintesis baru. Tata letak istana dan dekorasinya mencerminkan pengaruh peningkatan standar budaya Eropa pada akhir kesultanan Turki Usmani. Dolmabahce merupakan istana terbesar di Turki, mengingat bahwa daerah monoblock menempati bangunan 45 ribu meter persegi. Sebelumnya, Sultan dan keluarganya tinggal di Istana Topkapi, namun karena Istana Topkapi kurang menarik saat itu, maka sultan Abdul Majid I memutuskan untuk membangun Istana Dolmabahce. Istana itu merupakan rumah bagi enam sultan dari 1856, ketika pertama kali dihuni, sampai penghapusan kekhalifahan pada 1924. Keluarga kerajaan yang terakhir tinggal di tempat itu adalah Sultan Abdul Majid Efendi. Undang-undang yang mulai berlaku pada 3 Maret 1924 menyebutkan bahwa kepemilikan istana dipindahkan dan menjadi warisan nasional Republik Turki baru. Mustafa Kemal Ataturk, pendiri dan Presiden pertama Republik Turki, menggunakan istana kepresidenan sebagai tempat tinggal selama musim panas. Ataturk juga menghabiskan hari-hari terakhir perawatan medis di istana itu. Ia

meninggal pada 10 November 1938. Saat ini istana yang menjadi museum itu dibuka untuk umum. Para wisatawan yang ingin berkunjung dikenakan biaya sebesar 20 Turki Lira (TL) atau setara dengan Rp 140 ribu dengan kurs 1 TL sama dengan Rp 7.000. Di museum itu, para pengunjung dipandu oleh pemandu istana. Para pemandu ini menjelaskan istana ini dengan menggunakan bahasa Inggris bagi wisatawan mancanegara dan bahasa Turki bagi wisatawan lokal.

c. Arsitektur Rumah Sakit Turki adalah salah satu negara muslim dengan jumlah penduduk muslim terbesar. Negara ini merupakan pusat pemerintahan kerajaan atau dinasti Turki Usmani (Ottoman). Selama pemerintahan dinasti Turki Usmani, negara ini berkembang pesat dalam berbagai bidang termasuk arsitektur. Sejumlah bangunan bersejarah terdapat dinegeri ini mulai dari bangunan Hagia Sofia/Aya Sofia, istana Topkapi hingga mesjid Biru. Satu hal yang sering kali luput dari perhatian adalah rumah sakit. Sebagai pusat kesehatan pemerintah Turki Usmani menaruh perhatian besar dalam bidang ini. Sejumlah rumah sakit dibangun untuk membantu rakyat dalam menjaga kesehatan. Salah satu rumah sakit yang berdiri megah dan kokoh adalah Rumah Sakit Bayezid II dikawasan Edirne. Edirne atau sering disebut Adrianopel (Adrianople) adalah sebuah kota diseberang utara selat Bosphorus yang secara geografis menjadi bagian dari benua Eropa. Kota ini berhasil dikuasai oleh orang-orang Turki dibawah pemerintahan Murad I (1360-1389 M), penguasa kerajaan Turki Usmani. Pada 1362, Murad I berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga kekawasan Eropa dengan merebut antara lain kota Edirne dari tangan kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Sejak saat itu, kekuasaan Turki Usmani menjadikan kota Edirne sebagai pusat pemerintahannya. Sebab, kawasan ini terletak di tempat yang sangat strategis dalam jalur utama yang menghubungkan Eropa sampai ke Turki. Hampir 100 tahun Edirne menjadi pusat pemerintahan kesultanan Turki Usmani. Selanjutnya, kota ini tidak lagi berfungsi sebagai ibu kota, meskipun demikian, dalam sejarah kekuasaan Turki Usmani seperti yang ditulis dalam Andrew Petersen dalam bukunya, A Dictionary of Islamic Architecture, Edirne tetap menjadi kota penting bagi kekhalifahan islam tersebut dimana para Sultan Turki Usmani bermukim. Sebelum dijadikan ibukota pemerintahan Ottoman (Turki Utsmani), Edirne sudah ramai sebagai pusat perdagangan dan juga budaya Muslim. Hal ini ditandai dengan banyaknya bangunan yang dibangun oleh penguasa Muslim di kota ini. Salah satunya adalah Rumah Sakit (RS) Bayezid II. Rumah sakit ini berada di dalam Kompleks (Kulliye) Bayezid II. RS Bayezid II dibangun atas perintah Sultan Bayezid II. Proses pembangunan Kulliye Bayezid II berikut bangunan rumah sakitnya memakan waktu empat tahun, dari 1484 M

hingga 1488 M. Hingga abad ke-19 M, para dokter dididik di rumah sakit yang sekaligus menjadi sekolah kedokteran itu. Yulianto Sumalyo dalam bukunya yang bertajuk Arsitektur Masjid dan Monumen Sejarah Muslim mengungkapkan, setibanya di Edirne dalam perjalanan ke Balkan bersama pasukannya pada akhir musim semi 1484, Sultan Bayezid II memerintahkan membangun banyak proyek, yaitu masjid baru dan pusat kesehatan (medical centre) termasuk di dalamnya rumah sakit, sanatorium, rumah sakit jiwa dan sekolah kedokteran di tepian Sungai Tunca. Seperti halnya di sejumlah kota lain yang berada dalam wilayah kekuasaan Ottoman, bangunan-bangunan tersebut didirikan dalam sebuah kulliye. Untuk perencanaan pembangunannya, Sultan Bayezid II menunjuk arsitek kerajaan pada waktu itu, Mimar Hayrettin, untuk mendesain keseluruhan bangunan dalam Kulliye Bayezid II ini. Bangunan rumah sakit (darussifa) dan rumah sakit jiwa (timarhane) Bayezid II terletak di sisi barat daya bangunan masjid dalam Kompleks Bayezid II. Tata letak rumah sakit tersebut terbilang cukup unik, pada ujung selatan terdapat unit berdenah segi delapan, pada masing-masing sisinya terdapat ruang-ruang untuk perawatan. Setiap ruang dalam unit ini beratap kubah, termasuk sebuah ruangan yang menyerupai hall. Namun berbeda dengan kubah pada ruang perawatan, kubah di atas hall jauh lebih besar dan dilengkapi dengan sebuah lantern yang terdapat pada bagian puncak kubah tepat di atas bak air besar yang terdapat di tengah-tengah hall. Lantern tersebut juga beratap kubah, namun dalam ukuran yang lebih kecil. Bagian penampang kubah hall berbentuk segi dua belas. Di sekeliling dinding kubah berbentuk silindris ini terdapat jendela-jendela yang berfungsi sebagai tempat sirkulasi udara. Sinar matahari dan udara alami masuk melalui jendelajendela tersebut hingga ke dalam ruangan yang berada tepat di bawah kubah. Rumah sakit Sultan Bayezid II ini beroperasi selama empat ratus tahun sejak diresmikan tahun 1488 M hingga berkecamuknya Perang Rusia-Turki (1877-1878 M). Hingga abad ke-19 M, rumah sakit ini menjadi salah satu rumah sakit rujukan bagi pasien-pasien yang hendak menjalani perawatan bedah dan mereka yang mengidap penyakit mental. Sejarah mencatat, RS Bayezid II terutama terkenal karena memiliki tenaga-tenaga ahli bedah yang terampil. Disamping juga terkenal karena metode pengobatan untuk penyakit mental yang diberikan kepada para pasien di timarhane (rumah sakit jiwa). Metode pengobatan penyakit mental yang dilakukan oleh para dokter di rumah sakit ini menggunakan terapi musik, suara air, dan penggunaan wewangian atau yang dikenal dengan aromatherapy. Selain terkenal karena para ahli bedah serta terapi mental yang dimilikinya, RS Bayezid II juga terkenal berkat pusat pengobatan matanya. Karenanya pada masa lalu, rumah sakit ini menjadi satu-satunya rumah sakit rujukan bagi penderita penyakit mata. Kini bangunan rumah sakit bersejarah tersebut menjadi bagian dari kompleks Universitas Trakya yang juga berada di kota Edirne. Dan, sejak tahun 1997, bangunan rumah sakit

tersebut dialih fungsikan menjadi sebuah museum kesehatan bernama Bayezid II Kulliye Health Museum. Museum tersebut didedikasikan untuk mengenang peran dan kontribusi penguasa Ottoman dalam mengembangkan khazanah ilmu pengobatan dan kedokteran. Hingga saat ini, Bayezid II Kulliye Health Museum menjadi satu-satunya museum kesehatan yang terdapat di Turki. Museum ini memberikan berbagai informasi penting seputar sejarah dan perkembangan ilmu kedokteran dan pengobatan, khususnya pada masa pemerintahan Ottoman, kepada para pengunjung. Museum ini tercatat sebagai tempat bersejarah kedua di Edirne yang paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan setelah Masjid Selimiye (Sultan Salim). Karenanya, pada tahun 2004 lalu, Bayezid II Kulliye Health Museum dianuegrahi Museum Award oleh Dewan Kebudayaan Eropa. d. Arsitektur Kuburan (Maqbarah) Bentuk arsitektur lain yang muncul pada masa dinasti Usmaniyah adalah kuburan yang memakai corak bangunan berkubah, sementara sekat-sekat dipasang disekelilingi bangunan kuburan yang merupakan bangunan yang beratap . Batu nisan sederhana sudah dikenal sejak pertengahan abad ketujuh di Mesir. Kemudian di wilayah-wilayah kekuasaan Turki Usmani batu-batu nisan yang lebih canggih banyak digunakan untuk menandai kuburan para anggota kelas penguasa. Batu-batu nisan ini berukir pada puncaknya dalam bentuk hiasan kepala sang mendiang, yang menunjukkan peringkat di tengah masyarakat penguasa. Disekeliling kuburan dipasang sekat-sekat yang membentuk bangunan beratap. Bahan maupun desain sekat ini beragam; misalnya, sekat pada kuburan akhir abad ke-13 berupa masyrabiyah dari kayu, sekat pada abad ke-20 kerap kali digunakan dari bahan logam. e. Arsitektur Pemandian Umum (Hammam) Bangunan lainnya yang menjadi cirri khas arsitektur pada zaman Turki Usmani adalah tempat pemandian umum (hammam). Bangunan hammam ini di desain dengan arsitektur yang khusus. Bangunannya berbentuk persegi dengan atap rata bagian depannya dan beratap kubah pada bagian sumber airnya . Keberadaan pemandian umum pada masa itu ditujukkan guna melayani keperluan mandi bersuci sebelum melaksanakan shalat, khususnya shalat Jumat. Karenanya tak mengherankan jika bangunan hammam selalu ditempatkan didekat bangunan masjid. Umumnya disetiap lokasi masjid dibangun dua buah hammam, yang masing-masing ditujukan bagi jemaah laki-laki dan perempuan seperti hammam yang ada di masjid Sultan Ahmed, Istanbul.

f. Tata Kota Khusus di bidang arsitektur tata kota, pada masa pemerintahan Turki Usmani, para arsitek muslim saat itu selalu diperintahkan untuk melakukan studi banding ke Eropa guna mempelajari desain tata kota yang lebih baik. Setelah kembali, mereka melakukan serangkaian perombakan tata kota dinasti Usmaniyah. Hasil akumulasi desain tata kota dari Eropa dipadukan dengan nilai seni yang berdasarkan islam. Akulturasi ini menghasilkan desain tata kota dinasti Usmaniyah yang asri dan indah. Salah satu contoh arsitek muslim pada masa dinasti Turki Usmani yang sukses merombak tatanan dan struktur kota dinasti Usmani ialah Mimar Sinan dan Ali Acemi. Ali Acemi pada masa itu diangkat sebagai kepala arsitek istana pada tahun 1525 M. Karyanya mencakup bangunan masjid Coban Mustafa Pasha dan kompleks (kulliye) Coban Mustafa Pasha. Jonathan Bloom dan Sheila Blair dalam buku Islamic Arts and Architecture mengatakan, gaya arsitektur Ali Acemi sangat mengandalkan presisi, contohnya kompleks Coban Mustafa Pasha didekorasi dengan hiasan panel serta berbahan marmer . Selain Ali Acemi tampil pula tokoh lainnya, Mimar Sinan. Ia dikukuhkan sebagai salah satu arsitek terbesar pada zaman Turki Usmani. Dia pernah menjabat arsitek kepala dan insinyur teknik sipil. Sinan berjasa dalam membangun kota Istanbul dalam masa kepemimpinan Sultan Salim I, Sultan Sulaiman I, Sultan Salim II dan Sultan Murad III. g.Dekorasi dalam arsitektur Islam Dekorasi merupakan faktor pemersatu utama dalam arsitektur Islam dan desain. Selama 13 abad, menulis Dalu Jones dalam sebuah esai yang sangat menarik dan informatif berjudul "Permukaan, Pola dan Light" (dalam Arsitektur Dunia Islam, diedit oleh George Michell), dekorasi telah menghubungkan bangunan dan benda-benda dari seluruh dunia Islam - dari Spanyol ke Cina ke Indonesia. Catatan Jones, "seni Islam adalah seni tidak begitu banyak bentuk sebagai tema dekoratif yang terjadi baik dalam arsitektur dan seni yang diterapkan, secara independen dari materi, skala dan teknik. Tidak pernah ada satu jenis dekorasi untuk satu jenis bangunan atau objek;. sebaliknya, ada prinsip-prinsip dekoratif yang pan-Islam dan berlaku untuk semua jenis bangunan dan benda-benda di setiap saat (mana datang hubungan intim dalam Islam antara semua seni terapan dan arsitektur) seni Islam harus dipertimbangkan secara keseluruhan karena masing-masing bangunan dan setiap obyek mewujudkan beberapa prinsip batas identik Meskipun bendabenda dan seni berbeda dalam kualitas pelaksanaan dan gaya, ide-ide yang sama, bentuk dan desain terus kambuh.. " Karena sedikit furnitur tradisional digunakan untuk kehidupan sehari-hari dalam Islam, dekorasi berkontribusi pada penciptaan rasa ruang angkasa berkelanjutan yang merupakan ciri khas arsitektur Islam. Menulis Jones, "The lapisan dekorasi permukaan meningkat dan kompleksitas efek visual yang diperkaya dengan menggunakan karpet dan bantal, yang sering mencerminkan skema dekoratif yang sama seperti yang ditemukan pada dinding dan langit-langit Lantai dan langit-langit

berkontribusi terhadap fluiditas ruang. oleh sifat dekorasi mereka, karena mereka sering terpola dalam cara yang sama seperti dinding, kadang-kadang, dalam kasus lantai, dekorasi sebenarnya mereproduksi karpet Makam I'timad iklan-Dawlah di Agra, misalnya, telah. sebuah marmer bertatah lantai yang persis mereproduksi desain karpet Mughal. " Jones mencatat bahwa dengan desain, Barat Islam mungkin tampak terbatas pada dua dimensi tetapi bahwa karakter yang sangat desain Islam menyiratkan kemungkinan tigadimensi. Misalnya, desain interlacing, sering disertai dengan variasi warna dan tekstur, menciptakan ilusi pesawat yang berbeda. Melalui penggunaan mencerminkan dan bersinar bahan dan glasir, pengulangan desain, tekstur kontras dan manipulasi pesawat, dekorasi Islam menjadi kompleks, mewah nd rumit. Ini adalah seni istirahat, Jones menambahkan, di mana ketegangan diselesaikan. Jones menyatakan bahwa, terlepas dari bentuk, material atau skala, konsep seni bersandar pada landasan dasar kaligrafi, geometri dan, dalam arsitektur, pengulangan dan perkalian dari elemen berdasarkan lengkungan. "Sekutu dan sejajar dengan ini adalah motif floral dan figural," tulis Jones. "Air dan cahaya juga penting bagi dekorasi arsitektur Islam karena mereka menghasilkan lapisan tambahan pola dan - seperti yang terjadi dengan hiasan permukaan - mereka mengubah ruang." Ruang didefinisikan oleh permukaan dan karena permukaan diartikulasikan oleh dekorasi, ada adalah hubungan intim dalam arsitektur Islam antara ruang dan dekorasi. Ini adalah variasi dan kekayaan dekorasi, dengan permutasi tanpa henti, yang mencirikan bangunan daripada elemen struktur mereka, yang sering menyamar. Banyak perangkat dekorasi khas arsitektur Islam - misalnya, muqarnas [hiasan sarang lebah yang dapat mencerminkan dan membiaskan cahaya] - dijelaskan oleh keinginan untuk membubarkan hambatan antara unsur-unsur bangunan yang bersifat struktural (load-bearing) dan mereka yang hias (non-load-bearing). " Jones poin ke Taj Mahal sebagai contoh bagaimana perasaan ruang angkasa berkelanjutan dibuat dalam arsitektur Islam melalui perkalian dari pola yang diberikan dan elemen arsitektur. Lengkungan dan squinches dari berbagai jenis dan skala yang digunakan untuk tujuan struktural dan dekoratif. "Didominasi oleh kubah utama," Jones menulis, "masing-masing fasad bangunan memiliki dua tingkatan dari tiga relung melengkung cekung keluar dari massa Kepala portal di pusat setiap sisi. Tetapi perbesaran ini relung Mereka. Di mereka setiap giliran diisi oleh miniatur sendiri, muqarnas Semakin kecil-kubah paviliun di bagian atas sisa bangunan di lengkungan terbuka yang echo lengkungan buta dari platform di mana

seluruh bangunan terletak.. Setiap elemen dekorasi karena itu mereproduksi elemen struktural .... "Contoh lain dari konsep dasar dekorasi Islam banyak diberi oleh dekorasi lantai Taj Mahal yang, dengan efek bergelombang, menunjukkan bahwa makam diatur dalam tangki air. Dekorasi ini ... tidak meniru air ... dalam rincian yang tepat, tetapi menyampaikan gagasan air ... (I) t menciptakan situasi, sebuah 'lanskap pikiran, "lingkungan halus daripada render aturalistic." Elemen Dekorasi Bagian ini meringkas daftar Jones 'unsur-unsur yang membuat dekorasi sampai Islam Kaligrafi: Karena perannya dalam rekaman firman Allah, kaligrafi dianggap salah satu yang paling penting dari seni Islam. Hampir semua bangunan Islam memiliki beberapa jenis prasasti permukaan dalam, plesteran batu, mosaik marmer, dan / atau lukisan. Prasasti itu mungkin sebuah ayat dari Al Qur'an, baris puisi, atau nama dan tanggal. Seperti dekorasi Islam lainnya, kaligrafi terkait erat dengan geometri. Proporsi huruf yang diatur oleh matematika. Prasasti yang paling sering digunakan sebagai bingkai di sepanjang dan sekitar elemen-elemen utama dari bangunan seperti portal dan cornice. Prasasti mungkin juga terkandung dalam satu panel. Terkadang kata-kata tunggal seperti Allah atau Muhammad yang berulang dan diatur ke dalam pola di atas seluruh permukaan dinding. Teks kaligrafi mungkin muncul dalam cartouches ditindik, menyediakan pola untuk cahaya penyaringan melalui jendela.

Geometri: Seniman Islam dikembangkan pola-pola geometris pada tingkat kompleksitas dan kecanggihan yang sebelumnya tidak diketahui. Pola-pola ini contoh kepentingan Islam di pengulangan, simetri dan generasi terus menerus pola. "Jaminan yang luar biasa dari para desainer Islam ditunjukkan dengan integrasi ahli geometri dengan mereka seperti ef garuhi optik sebagai daerah menyeimbangkan positif dan negatif, interlace dengan cairan tumpang tindih dan underpassing strapwork, dan penggunaan terampil warna dan nilainilai nada. "... Lebih dari jenis lain dari desain (pola geometris) diizinkan sebuah keterkaitan antara

bagian dan keseluruhan suatu kompleks bangunan, eksterior dan ruang interior dan perabotan mereka." Floral pola: Seniman Islam direproduksi alam dengan banyak akurasi. Bunga dan pohon dapat digunakan sebagai motif untuk dekorasi tekstil, benda-benda dan bangunan. Dalam dekorasi arsitektur Mughal India, seniman yang terinspirasi oleh gambar botani Eropa, serta oleh flora tradisional Persia. Desain mereka bisa diterapkan untuk panel monokrom dari marmer putih, dengan deretan tanaman berbunga indah diukir pada relief rendah, bergantian dengan Inlays polikrom halus berwarna batu mulia dan keras, Jones catatan. The arabesque (ornamen tumbuhan geometricized) adalah "ditandai dengan batang yang memecah teratur terus menerus, menghasilkan serangkaian counterpoised, berdaun, batang sekunder yang pada gilirannya dapat dibagi lagi atau kembali untuk berintegrasi kembali ke dalam batang utama," tulis Jones. "Ini tak terbatas, pergantian gerakan ritmis, disampaikan oleh pengulangan garis lengkung timbal balik, menghasilkan desain yang seimbang dan bebas dari ketegangan. Dalam, arabesque mungkin lebih daripada di desain lain yang terkait dengan Islam, jelas bagaimana garis mendefinisikan ruang, dan seberapa canggih efek tiga dimensi yang dicapai oleh perbedaan lebar, warna dan tekstur ...." "The grid desain geometrik yang mendasari mengatur arabesque didasarkan pada prinsipprinsip matematika yang sama yang menentukan pola-pola geometris sepenuhnya ...."

Angka dan hewan: Karena penciptaan makhluk hidup yang bergerak - yaitu, manusia dan hewan - dianggap dalam dunia Allah, Islam menghambat produksi seniman dari tokoh-tokoh seperti melalui seni. Namun demikian, sejumlah seni figural dapat ditemukan di dunia Islam, meskipun hal ini terutama terbatas pada dekorasi benda dan bangunan sekuler dan lukisan miniatur. Patung figural ini sangat langka dalam Islam. Cahaya: Bagi banyak Muslim (dan non-Muslim), cahaya adalah simbol kesatuan ilahi. Dalam arsitektur Islam, fungsi lampu dekoratif dengan memodifikasi unsur-unsur lain atau dengan pola-pola berasal. Dengan cahaya yang tepat, fasad menusuk dapat terlihat seperti berenda, layar tanpa tubuh, Jones catatan. Cahaya dapat menambahkan kualitas dinamis untuk arsitektur, memperluas pola, bentuk dan desain ke dalam dimensi waktu. Dan kombinasi cahaya dan bayangan menciptakan kontras kuat dari pesawat dan memberikan

tekstur untuk terpahat batu, serta ditebar atau permukaan bata. Air: Dalam iklim Islam panas, air dari kolam dan air mancur halaman mendingin karena menghiasi. Air tidak bisa hanya mencerminkan arsitektur dan kalikan tema dekoratif, juga dapat berfungsi sebagai sarana menekankan sumbu visual. Seperti gambar mereka cermin, Jones menulis, kolam air yang berubah, namun selalu berubah; cairan dan dinamis, namun statis. Dekorasi Islam dan Barat Untuk mata yang tak terlatih Barat, dekorasi Islam sering muncul melemahkan atau berlebihan dalam kekayaannya. Satu pengecualian untuk aliran pemikiran ini adalah sarjana abad ke-19 Inggris dan arsitek Owen Jones. Dalam The Grammar of Ornament (seperti dikutip dalam "Permukaan, Pola dan Light"), ia menulis bahwa prinsip pertama dari arsitektur adalah untuk menghias konstruksi dan tidak pernah untuk membangun dekorasi. Ornamen yang dibangun palsu, ia menambahkan, tidak pernah dapat mencapai keindahan atau harmoni. Dalam hal dekorasi Islam ia menulis, "(W) e pernah menemukan ornamen berguna atau berlebihan; setiap ornamen timbul tenang dan alami dari permukaan dihiasi."

Perkembangan Arsitektur Islam di Barat


Bagi arsitektur islam (muslim), potensi geometris, dekoratif, dan simbolis kubah menyebabkan penemuan brilian yang unik dalam arsitektur Islam dan jauh berbeda dengan arsitektur orang-orang Roma. Kebanyakan kubah Islam (terkecuali Kubah Batu), seperti struktur Bizantium, bentuk kubah tidah sepenuhnya berbentuk bundar, namun naik lebih membentuk persegi, sehingga direncanakan seperti menjembatani sudut alunalun dengan squinches atau pendentives dan digunakan oleh arsitek Bizantium untuk menciptakan dasar segi delapan atau lingkaran untuk kubah. Di Cordoba (kota di Andalusia, selatan Spanyol), umat Islam merancang sudut jembatan, yang terbuat dari lengkungan tinggi, bergantian dengan pemasangan lengkungan jendela clerestory dan bangunan menuju pola geometris yang rumit dengan menyeberangi-tulang rusuk yang membentuk dasar segi delapan untuk petaled kubah. Kompleksitas desain yang abstrak, dihiasi dengan kaya kombinasi dalam permukaannya, dapat mengalihkan perhatian pengamat dari jauh dengan pertanyaan-pertanyaan tentang struktur dan statistik. Perintah pemberitahuan bukanlah pada bahan, namun pada konfigurasi yang tampaknya tidak rasional dengan bentuk dan pola, yaitu kubah yang bertumpu pada squinches atau

pendentives, dengan efek misterius mereka, lebih cocok dengan pemakaian arsitektur Islam daripada arsitektur kubah Romawi dengan kejelasan dan berwujud materi. Masjid di Cordoba berada pada posisi historis strategis. Monumental pembangunan pertama pada agama islam di barat, dapat dipandang sebagai monumen memuncak masa awal Islam. Ekstensi abad kesembilan dan kesepuluh, masjid yang sudah milik arsitektur Islam abad pertengahan di Barat-yang bersandarkan tegalan dari Spanyol dan Afrika Utara. Bahkan, jenis gaya Moorish di Cordoba mengumumkan akan jatuh tempo paling kuat pada abad ketiga belas dan keempat belas (tepat sebelum berakhirnya kekuasaan Islam di semenanjung Iberia pada tahun 1492) bertempatkan di Alhambra, Granada. Dalam dunia Kristen, yang merupakan usia arsitektur Ghotic, walaupun Alhambra dengan struktur sekulernya, menarik untuk mempertimbangkan dengan jelas kesejajaran antara beberapa aspek transendental seperti bangunan Moorish sebagai Alhambra dan orang-orang dari gereja-gereja Gothic. Pada sebuah bukit yang menghadap Granada, benteng istana Alhambra yang luas terdiri dari tempat tinggal kerajaan, kompleks dengan pengadilan yang diapit oleh ruang resmi, ruang kamar mandi, dan sebuah-masjid yang mulai dibangun pada abad ketiga belas oleh Ibn al-Ahmar, pendiri Dinasti Nasrid, dan dilanjutkan oleh penerusnya pada abad keempat belas. Bagian yang paling terkenal adalah serangkaian halaman yang dikelilingi oleh kamar dengan menyajikan beragam repertoar Moorish yang melengkung, kolom, dan bentuk berbentuk kubah. Imajinasi romantis pengunjung selama berabad-abad telah terpikat oleh kombinasi khusus dari arcade kolumnar ramping, gunung, air mancur, dan efek pantulan cahaya dari wadah air yang ditemukan di halaman khususnya di Lion Court, kombinasi ini dipahami dari prasasti menjadi realisasi fisik seperti deskripsi surga dalam puisi Islam. Bukan sastra, tapi keturunan, morfologi pengadilan dapat ditelusuri kembali ke budaya Barat kuno, bagaimanapun, khususnya ke pengadilan peristyle Yunani yang diturunkan dari bagian belakang rumah Romawi, yang terdiri dari kolom, taman, dan air mancur, juga dicadangkan untuk kehidupan keluarga pribadi. Barat yang menggunakan sistem arsitektur Gothic, sering menunjukkan pemberian dasar struktural untuk sistem dukungan dari arcade berat pada poros yang sangat ramping. Tapi juga ditemukan di Alhambra, dan belum pernah terjadi sebelumnya di Barat, merupakan salah satu yang terbesar di antara semua kontribusi umat Islam terhadap sejarah arsitektur, berasal dari beberapa karya struktur Afrika Utara pada abad kesebelas yangdilakukan pada Muqarnas dalam bentuk kubah berbentuk bintang dari Alhambra Balai Abencerrajes, yang mengapit Mahkamah Lion. Jenis dekorasi arsitektur tigadimensi yang dibentuk oleh plesteran, atau kadang-kadang kayu, menjadi beberapa jaringan sel terbuka, Muqarnas menyerupai bagian-salib sarang madu, dengan suspensi stalaktit. Ini mencakup structural organisasi yang seluruhnya di bawah permukaan dinding atau kubah, yang tampaknya telah berlekuk dalam asupan pembentukan kaya lapisan selular unik.

Muqarnas menggunakan aspek dari dekorasi nonfigural yang merupakan salah satu fitur dari arsitektur Islam, misalnya pada Kubah Batu dekorasi permukaannya menjadi komponen assential dalam konsep total bangunan Islam. Bahan yang digunakan pada interior bangunan jarang ditinggalkan dalam keadaan alam, tapi, seperti di Roma, Awal Kristen, dan struktur Bizantium, yang diperkaya dengan warna dari mosaik atau genteng, dibubarkan oleh panggangan atau keringanan ditekan pada cetakan plester, dan lembaran penutup seperti cover buku dengan hiasan kaligrafi Quran pada prasasti, dilaksanakan dalam berbagai anyaman yang tampaknya tak terbatas, pola geometris labirin. Di masjid Yerusalem, dan di variasi masjid lainnya banyak yang mengikuti masjid di dekat Timur, yaitu dengan permukaan dinding yang berlapis karpet dengan bidang mosaik, berkaitan dan bingkai yang bertatahkan dengan luas, ibukota adalah bor tindik, dan kaligrafi Quran diintegrasikan ke dalam penyerapan hias bergaya. Bahkan ketika, seperti dalam bangunan Islam Persia abad kesebelas (Seljuk), permukaannya adalah bata biasa, bata itu sangat halus dan indah sebagai plesteran sementara kayu sebagai keterampilan yang luar biasa dari para pengrajin. Bagian utara Masjid Agung Masjid-i-Jami di Isfahan, adalah merupakan salah satu contoh terbaik dari arsitektur Seljuk, yang dalam kesehariannya merubah bata menjadi sesuatu yang hamper halus. Squinches yang cekung ke bentuk cekungan, dan drum diartikulasikan oleh relief rendah, gotik, arcade buta dengan kontur sehingga tidak mencolok bahwa kubah di atas tampaknya menjadi tenda udara penuh kain lembut dibawakan oleh tali rapuh. Penampilan kamar yang kontras dan setiap bagian dari atrusture romantik kontemporer di barat (Winchester Cathedral), sangat mencolok. Aksen di gedung barat terdapat pada substansi fisik monumental, di dinding sebagai cangkang batu besar yang mengelilingi bagian dalam ruang hampa. Di masjid Isfahan, bagian utara rumah yang tak henti-hentinya oleh parutan atau bahan apapun selain bata, tetapi dinding, meskipun tebal, tampak seolah-olah telah dikupas kembali dalam lapisan tipis, berlekuk dalam lubang kecil, dan dilarutkan dengan berbagai bata hias petelur sehingga akhirnya menyerupai kain lentur yang ditenun menjadi pola tekstil dan dibentuk oleh ruang yang seperti membungkus cairan. Arsitektur Romawi juga merupakan ornamen arsitektur dan parutan, tapi sementara panel dari marmer, mosaik bidang, perintah diterapkan kayanya cetakan, dan diukir (dalam pendingin) pada dekorasi dinding menutupi permukaan batu bata atau beton bangunan Romawi, namun sistem strukturalnya tidak pernah tersembunyi. Sebaliknya, ia sengaja menggaris bawahi dan ditampilkan. Sendi, melompat poin, ruang-jarak permukaan, berkaitan, kubah, sistem berat dan dukungan, semua terpapar atau mengaksenkan perhatian panggilan ke angker struktural dan definisi yang tajam dari bagian-bagian sebuah bangunan. Bahkan peti simpanan Roma meskipun memotong kubah dari permukaan dan sebanding dalam hal ini untuk Islam Muqarnas, berfungsi untuk memperpanjang ilusi ketebalan dirasakan dan kepadatan massa berbentuk kubah daripada memusnahkan itu. Rasionalisme struktural terlihat dari arsitektur Barat yang antik dengan tidak diawetkan sebagai keturunan di dunia Islam (setidaknya pra-Utsmani Islam) karena salah satu fungsi

dekorasi hias meresap dalam bangunan Muslim yang sengaja mengaburkan bulir seperti bentuk dan tektonik organisasi, dan untuk mencapai melalui pengulangan bentuk yang saling melampirkan semua dan tanpa gangguan irama atau definisi dari bagian-sebuah suasana termasuk hipnosis transportasi spiritual yang kondusif untuk doa dan meditasi komunal pada sifat immaterial Islam. Untuk arsitektur agama Islam, tidak kurang dari Kristen, khususnya Kristen Timur (Bizantium) dan Gothic, sebenarnya simbol material dan perwujudan dari visi spiritual. Dalam kedua budaya, hamba itu diminta untuk lupa struktur, yang berarti mengabaikan bukti berat dan dukungan, sehingga bahan bangunan itu sendiri dapat hadir sebagai enkapsulasi tampaknya ringan oleh perintah lain, dengan gaya nonmateri. Tapi sementara terbang penopang dan mendukung lainnya katedral Ghotic bisa diabaikan atau tidak diabaikan, mereka tidak pernah benar-benar tersembunyi, tetapi sendi dan dasar-dasar, balok dan web di belakang sangat tersembunyi, Muqarnas, misalnya, bekerja tidak hanya untuk menyamar, tetapi untuk menolak, bahan padat dengan tidak memperdulikan massa dinding yang gothic yang kosong ke jaringan elemen linier, sistem rasional vertikal dan horizontal, logika kubah rusuk yang tumbuh dari dukungan colomar, urutan dari teluk yang berirama, selalu terlihat, dipahami, dan jelas. Ironisnya, sejumlah elemen yang membantu memberikan arsitektur Gothic khusus linear nya, bersifat vertikal, seperti lengkungan, tulang rusuk, dan unsur-unsur yang mengadopsi ke dekorasinya seperti lengkungan lemparan dan beberapa desain, mungkin datang ke barat dari kontak dengan arsitrektur islam.

Perkembangan Arsitektur Masjid di Dunia Islam


Ilmu sejarah memandang arsitektur sebagai ungkapan fisik bangunan dari budaya masyarakat pada tempat dan zaman tertentu, untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam melaksanakan sebuah kegiatan. Maka menurut teori ini, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa keberadaan arsitektur, seumur dengan adanya manusia di muka bumi. Bangsabangsa yang telah berbudaya tinggi pada zaman dahulu, meninggalkan bukti sejarah dan budaya berupa karya-karya arsitektur, kadang-kadang tidak sedikit yang mengagumkan termasuk mesjid-mesjid peninggalan kejayaan Islam masa lampau. Periodesasi Arsitektur Mesjid

Mesjid adalah hasil karya seni arsitektur Islam yang utama, sebab mesjid merupakan titik tumpuan dari ungkapan kebudayaan Islam, sebagai konsekuensi dari ajaran Islam yang mengajarkan shalat dan mesjid sebagai tempat pelaksanaannya. Dalam arsitektur Islam dikenal beberapa jenis mesjid sesuai dengan penggunaannya. Di antaranya adalah; mesjid jami mesjid madrasah, mesjis makam dan mesjid tentara. Perkembangan arsitektur Islam khususnya mesjid, semakin kompleks karena kecenderungan memasukkan budaya daerah (vernakulerisme). Banyak pula arsitektur mesjid selain tetap ada unsur-unsur utama mesjid; mihrab, mimbar pada arah kiblat, semata-mata mengambil bentuk setempat seperti Cina, India, Afrika Barat, termasuk di Indonesia, sering disebut regionalisme dalam arsitektur. Corak hypostyle berasal dari Arab, mendominasi gaya arsitektur dari abad VII M. Hingga sekarang masih banyak dipakai, bercampur dengan berbagai unsur seni dan budaya pada zaman dan tempat dimana mesjid didirikan. Percampuran berbagai macam elemen, arsitektur untuk pembangunan mesjid terlihat antara lain dengan banyak dipakainya arsitektur yang sudah ada pada abad I M zaman Romawi kemudian dipakai dan dikembangkan pada zaman Byzantine sejak abad III M dan zaman-zaman berikutnya Perkembangan arsitektur Islam umumnya dan mesjid khususnya dilihat dari sudut pandang tempatnya dibagi menjadi tujuh wilayah: 1). Arsitektur Islam pada zaman Nabi di Madinah. 2). Arsitektur mesjid pada zaman Abbasiyah dan Seljuk. 3). Arsitektur mesjid zaman Fatimiyah dan Mamluk di Mesir dan Suriah. 4). Arsitektur mesjid di Spanyol. 5). Perkembangan arsitektur mesjid pada zaman Usmani dan Turki. 6). Perkembangan arsitektur Mesjid di India. 7). Perkembangan arsitektur mesjid di Indonesia. Menurut Martin Frishman, seorang arsitek dari London membagi fase mesjid kepada tiga fase. Fase pertama adalah formatif awal yang memperkenalkan mesjid hypostyle (mempunyai atap yang disangga oleh tiang-tiang). Pada fase itu bentuk asli mesjid adalah ruang atau aula hypostyle dengan halaman dalam terbuka tanpa atap dan dikelilingi dinding-dinding yang sekaligus berfungsi sebagai tiang.

Fase kedua menyaksikan munculnya berbagai variasi regional yang dominan di wilayah geografisnya masing-masing. Fase ketiga yang tumpang tindih dengan fase kedua dan tidak bertentangan dengan regional, dapat disebut gaya monumental (monumental style), yang ditandai oleh penggunaan skala monumental yang diserap dari arsitektur Barat. Yang dimaksud dengan gaya monumental adalah gaya bangunan berukuran besar yang secara historis adalah agung, penting dan abadi. Flechter dalam buku A history of architecture berbeda dengan Martin Frishman, Flechter membagi perkembangan arsitektur mesjid kepada tiga periode a. Klasik Pada periode ini dimulai pada masa Nabi Muhammad Saw (622 M- 632M), Khulafaur Rasyidin (632 M-661 M), Umayyah (661 M-750 M), dan Abbasiyah (749 M-2158 M). pada bentuk awalnya arsitektur mesjid bukanlah bangunan yang megah seperti yang tampil pada masa kejayaannya, melainkan bersahaja dan sederhana. Mesjid pertama yang dibangun Nabi Muhammad sangat sederhana, denahnya merupakan segi empat dengan hanya dinding yang menjadi pembatas sekelilingnya. Sepanjang bagian dalam dinding tersebut dibuat bagian depan yang disebut mihrab dan serambi yang langsung bersambung dengan lapangan terbuka sebagai bagian tengah dari mesjid segi empat tersebut. Bagian pintu masuk diberi gapura, bahan yang dipergunakan sangat sederhana, seperti batu alam atau batu gunung, pohon dan daun kurma. Namun demikian, arsitektur sederhana ini merupakan prototype dari arsitektur mesjid pada masa kemudian. Ketika terjadi perpindahan arah kiblat yang sebelumnya kearah utara (mesjid al-Aqsa) kemudian dipindahkan ke Baitullah diMekah, maka dinding yang posisinya mengarah ke Mekah dijadikan arah kiblat. Bedanya dari serambi lainnya ialah terdapat sedikit penonjolan pada dinding ini dan tempatnya sedikit ditinggikan, selanjutnya dijadikan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai tempat menyampaikan dakwahnya. Pada perkembangan lebih lanjut tempat ini berubah bentuk menjadi semacam relung atau ceruk yang senantiasa menunjukkan arah kiblat, kemudian bernama mihrab. Arsitektur mesjid pada saat itu terdiri dari urutan sebagai berikut: pertama-tama dibutuhkan sebuah tempat, kemudian tempat itu dibuat menyerupai ruang agar orang yang melakukan shalat dapat berlindung dari berbagai gangguan alamiah. Pada saat Bani Umayyah berkuasa, sekitar tahun 700 M dibangun mesjid-mesjid diberbagai tempat, misalnya Basrah, Kufah dan Fustat. Mesjid pada masa ini berbentuk segi empat dan beratap rata. Pada dinding yang berada diarah kiblat kembali ada penonjolan atap sebagai mihrab. Atapnya ditopang oleh sejumlah tiang sehingga keseluruhan ruangannya seperti dipenuhi oleh barisan tiang-tiang. Ini menunjukkan pada saat itu belum ditemukan cara pemakaian konstruksi pendukung atap dengan jumlah tiang yang sedikit. Namun bahan dinding sudah diperindah dengan batu-batu merah serta mulai memakai tiang-tiang dari batu. Contoh yang menonjol dari tipe bangunan yang memakai arsitektur semacam ini adalah Mesjid Ziyad di Kufah (638 M) dan mesjid Amr di Fustat (641 M) Perkembangan selanjutnya arsitektur masjid memperoleh pengaruh dari luar, di antaranya dengan diambilalihnya bentuk gereja menjadi masjid di daerah-daerah yang ditaklukkan

Islam. Di Damsyik oleh kaum syiah dibangun sebuah masjid yang pada mulanya adalah gereja dengan cara mengubah beberapa bagiannya lalu dibuat tonjolan berupa mihrab pada dinding yang mengarah ke kiblat. Pada saat ini dapat disebutkan bahwa telah lahir bentuk arsitektur corak mesjid gereja atau masjid basiliki. Hiasan mosaik yang tadinya membuat episode cerita gerejani diubah menjadi motif-motif yang mencerminkan hiasan khas Islam yang terdiri dari motif tumbuh-tumbuhan yang ditambah dengan unsur alam lainnya. Pada masa Umayyah arsitektur masjid mengalami perubahan yang sangat berarti, terutama disebabkan dorongan dari pada pemimpinnya. Al-Walid (705-715) salah seorang rajanya, adalah tokoh pembangunan mesjid. Ia memperkenalkan penambahan kelengkapan arsitektur mesjid berupa menara yang kemudian menjadi bagian dari bangunan mesjid, dan selanjutnya perekembangan arsitektur masjid dalam Islam menjadi beraneka ragam dalam bentuk dan coraknya. Pada periode berikutnya, kepentingan penguasa turut memperkaya arsitektur masjid, misalnya dengan munculnya maksura, sebuah tempat khusus dibuat untuk menjadi tempat penguasa melaksanakan shalat. Selanjutnya mimbar juga merupakan elemen arsitektur masjid yang cemerlang. Mimbar kebanyakan dibuat dengan bahan kayu seperti terdapat pada mesjid Okba Qairawan. Hal ini memungkinkan para ahli ukir untuk menerapkan hiasan megah pada bahan tersebut. Lama kelamaan bentuk masjid tidak lagi beratap rata tetapi mengembang pemakaian lengkung dan kubah. Konstruksi lengkung ini dinamakan iwan, yakni merupakan gapura atau gerbang dengan beratapkan bentuk lengkung yang menutupi tiga bagian dinding dari badan gapura, sedang bagian dinding lainnya dalam keadaan terbuka, yakni bagian depan. Pada masa pemerintahan Sultan al-Mutasim (833 M- 842 M), ia memindahkan pusat pemerintahan ke Samara. Di ibukota yang baru ini ia mendirikan mesjid Jami Askar. Penulis Barat menyebut mesjid ini sebagai the great of sumarra. Mesjid ini besar dan mempunyai kekhasan arsitektur Islam. Kekhasan arsitektur mesjid ini adalah terdapatnya penggunaan pilar yang merupakan kolom dari susunan batu-batu yang ditempatkan di antara empat buah tiang yang mengapit kolom tersebut pada setiap sudutnya. Bahan batu pengisi kolom itu terdiri dari susunan batu bata yang dibakar. Selanjutnya menara berbentuk spiral yang dikenal dengan julukan ma al-wiyah. Sebelum diperluas masjid Agung Samarra jauh lebih besar dibandingkan masjid Nabi di Madinah. Tata ruangnya sama yaitu hypostyle, terdiri dari halaman dalam segi empat dikelilingi riwaq dan haram. Halaman dalam atau lazim disebut shan, juga segi empat, 130 x 110 M. Riwaq kiri dan kanan masing-masing mempunyai empat jalur. Riwaq depan tiga deretan dan haram sembilan deret. Deret dan lajur dibentuk oleh kolom berpenampang segi empat, semuanya berjumlah 456 buah menara. Tinggi menara 55 M, berdiri di atas platform segitiga, denah bujur sangkar 33 X 33 M. Bentuk menara sangat unik, spiral makin ke atas makin kecil, sisinya untuk tangga melingkar. Puncak menara dihiasi dengan deretan mengelilingi badan selindris terkecil dengan pelengkung-pelengkung patah disangga kolom-kolom selindris dobel seperti jendela.

b. Periode Pertengahan Periode ini dimulai pada masa pemerintahan Fatimiyah (909 M-1171), Bani Seljuk (1038 M-1194 M), Mongol (1206 M-1634 M), dan Persia (1314 M-1393 M), Pada periode ini arsitektur masjid merupakan hasil dari penggunaan konstruksi ruang dan tiang. Logika dasar dari penggunaan tiang-tiang tersebut adalah ingin memperoleh ruangan yang lebih luas dan besar. Contoh yang dapat dikemukakan pada masa ini adalah masjid al-Azhar (970 M-972 M) dan masjid al-Hakim (990 M-1002 M). Pengaruh Bizantium kelihatan membekas pada arsitektur kedua masjid ini, dengan bentuk menaranya yang masif serta penggunaan lengkung sebagai gapura dan pintu gerbang. Karena diperlukan adanya penggunaan pengaman, maka bangunan masjid ini dikelilingi oleh tembok pengaman yang terbuat dari batu bata yang sangat tebal dan kuat. Pada ruang utamanya ditemukan kekhususan dengan dipergunakannya tiang-tiang marmer sebagai pendukung atap. Bagian ini terdapat pada dinding arah kiblat, yang dengan lengkung-lengkung dan kubahnya menunjukkan corak Persia. Pola dasar masjid al-Azhar adalah hypostyle, di tandai oleh adanya halaman dalam segi empat, dikelilingi oleh riwaq berdenah tapal kuda dan haram sebagai ruang sembahyang utama. Ciri lain dari arsitektur hypostyle pada mesjid ini, juga terlihat dari adanya banyak kolom berjajar dan berderet dalam ruang. Menyangga atap dasar. Halaman dalam panjangnya 50 M dan lebarnya 34 M. Dinding di atas kolom yang mengelilinginya dihias dengan pelengkung-pelengkung patah, lingkaran-lingkaran dengan garis-garis konsentrik (rosette), hiasan arabesque dan intricate, semuanya menggunakan stucco. Kolom-kolom silindris dengan kepala dihias bercorak floral aliran romawi coronthian. Di atas dinding diberi mahkota dengan stucco corak geometris. Intricate dan Arabesque membentuk deretan segi tiga sepanjang bagian atas dinding gerigi. Corak dekorasi tersebut terlihat mendapat pengaruh cukup besar dari seni zaman Tulun Gerbang masuk utama, ditandai dengan dua buah menara dan sebuah kubah. Arsitektur menara, bentuknya tidak lagi gemuk seperti pada masjid Agung Samara karena konstruksinya sudah lebih maju. Penampang menara segi delapan makin keatas makin kecil, tangganya di dalam. Pada setiap lantai tedapat bordes keliling. Bagian luar dinding dan bordes penuh dengan dekorasi berupa ukiran atau relief Stucco pada geometrisintricate dan Arabesque. Haram atau ruang sembahyang utama pada arah kiblat, terdiri dari lima deret kesamping kiri dan kanan semetris. Di dalamnya terdapat 64 kolom melintang dan membujur masing-masing silindris, kepala dihias corak floral, sama dengan kolom di riwaq atau iwan. Setiap kolom menyangga sebuah pelengkung patah, untuk memperkuat konstruksi diberi balok melintang dan membujur, jadi selain ramai dengan kolom, di dalam haram, juga penuh dengan balok, selain bagian dari konstruksi berfungsi pula sebagai hiasan dan memperkuat arah kiblat. Pada masa pemerintahan Salahuddin (1433 M-1452 M) beliau membuat kreatifitas konstruksi dalam segi arsitektur mesjid, ia tidak hanya membangun mesjid sebagai simbol pengabdian tetapi bersamaan dengan itu memasukkan simbol simbol intelektual. Kreatifitasnya dikenal dengan arsitektur mesjid madrasah. Mesjid ini sebenarnya hanya

hasil akulturasi berbagai budaya yang pernah mempangaruhinya, seperti gaya Seljuk, Usmaniyah, dan Umayyah. Sesudah pemerintahan Salahuddin, muncul dinasti baru, yakni Mamluk (1250 M 1517 M) yang juga tampil sebagai penerus perkembangan arsitektur Islam. Sultan Baybars adalah Sultan yang terkenal dari kaum Mamluk ini. Monumen arsitektur Islam yang lahir dari zaman kekuasaannya ialah Mesjid Madrasah Sultan Baybars (1266 M-1269 M) yang diberi julukan namanya sendiri sebagai sebagai bukti kaitan antara pembangunan masjid dan kepentingan Sultan sebagai pendirinya. Pada mesjid ini juga didirikan bangunan kuburan kubah. Masjid ini memiliki konstruksi ruang tiang. Karena tiang-tiang itu seperti biasanya merupakan cara untuk memperluas ruang. Maka masjid itupun nampak luas dan besar ruangannya. Empat buah kubah dipergunakan sebagai atap penutup masjid dengan kubah yang menutupi ruangan yang ada pada dinding arah kiblat sebagai kubah utamanya. Arsitektur mesjid az-Zahir Baybars hypostyle, bujur sangkar, luasnya 120 X 120 M, pengaruh Persia cukup besar pada masjid antara lain pada gerbangnya terdiri dari ceruk dalam bidang vertical, bagian atasnya pelengkung patah. Iwan depan di mana terdapat gerbang tersebut terdiri dari dua deret dan iwan lateral tiga baris. Mesjid dalam arsitektur simetris, gerbang utama di tengah dan masing-masing iwan lateral mempunyai pintu masuk. Sultan Mamluk yang suka berperang, keras cara membangun kehidupannya, secara tidak langsung mempengaruhi corak arsitekturnya, diantaranya muncullah suatu corak lain dari arsitektur masjid, yakni bangunan yang merupakan perpaduan antara masjid madrasah dan rumah perawatan bagi orang-orang yang berpenyakit. Mesjid Sultan Qalaun ini di bangun pada tahun 1284, denah mesjid hampir bujur sangkar 21 X 23 M berdampingan dengan madrasah dipisahkan atau bisa juga dikatakan dihubungkan dengan karidor mesjid di tengah, dikelilingi oleh delapan kolom, masingmasing pada titik sudut dari segi depalan, bila dihubungkan dengan garis. Empat kolom berhias kepala floral, masing-masing satu pasang berhadapan di utara dan selatan jauh lebih besar dari empat lainnya, dua di timur dua di barat, seperti bangunan semi religious umumnya dibangun pada masa itu, dinding kiblat sangat tebal, bagian luarnya tidak sejajar dengan bagian dalam, karena dibuat sejajar dengan jalan. Kedepan kolom menerus tinggi ke atas, di tengah kosong berada di bawah sebuah kubah khas Mesir, atap runcing, penampang berbentuk parabolic. Kubah bertumpuh pada drum berpenampang segi delapan sangat tinggi pula, sehingga ruang di dalam bawah tanah mendapat cukup sinar alami. Di sisi barat depan masjid terdapat menara, terdiri dari empat bagian, bagian bawah menyatu dengan dinding mesjid, lantai dua berdenah bujur sangkar, lantai tiga juga bujur sangkar dan lantai empat silindris diatapi kubah, bentuknya sama dengan kubah mesjid tapi kecil.

c. Periode Modern Periode modern dimulai pada masa Safawi (1501 M- 1732 M), Mongol di India (1526 M1858) dan Ottoman Turki (1300 M-1923 M). Arsitektur mesjid pada masa modern ini menampilkan corak yang sedikit berbeda dari arsitektur sebelumnya, Umat Islam pada masa Usmani menampilkan tiga bentuk mesjid, yakni tipe masjid lapangan, mesjid madrasah dan masjid kubah. Hal yang baru dalam rangka perkembangan arsitektur Islam gaya Usmaniyah ini ialah munculnya perencanaan bangunan oleh seoran arsitek yang pernah belajar di Yunani, yaitu Sinan, beliau telah menghasilkan karya-karya dalam berbagai bentuk bangunan. Di antaranya masjid Sulaiman di Istambul (1550 M-1557 M), Mesjid ini menampilkan pertautan yang simbolis antara kemegahan istana sebagai lambang yang besar kekuasaannya dan keagungan mesjid sebagai sarana keagamaan, misalnya dengan munculnya menara yang langsing dan tinggi seolah-olah muncul dari lengkung-lengkung kubah dan melesat lepas ketinggian. Pada mesjid agung tersebut terdapat pula kolam hias yang sangat indah. Selain itu, muncul pula bangunan-bangunan mesjid yang berfungsi ganda, misalnya mesjid yang dilengkapi dengan dapur umum yang diperuntukkan khusus untuk memberi makan fakir miskin. Di Mughal India, arsitektur mesjid mengalami perkembangan pesat terutama ketika pusat pemerintahan Mughal dipindahkan dari Agra ke Delhi. Mesjid jami Delhi (1644 M-1650 M) adalah representasi dari kebesaran Mughal pada waktu. Masjid jami Shahjahanabad merupakan semacam platform, sehingga untuk masukke halaman harus naik tangga cukup tinggi. Arsitektur masjid hypostyle mempunyai sahn sangat luas dibanding dengan haram yang pendek dan tidak besar, di tengahnya ada tempat wudhu. Iwan relatif sempit jika dibandingkan dengan sahn tersebut hanya satu lapis dibentuk oleh deretan kolom dan dinding. Arsitekturnya sangat simetris, denah keseluruhan termasuk iwan dan sahn bujur sangkar. Mesjid ini memiliki tiga gerbang masuk, masing-masing yang utama di depan atau timur dan dua pada iwan lateral disisi utara dan selatan. Dari ketiga gerbang tersebut diatas masuk ke halaman dalam (sahn), di tengahnya terdapat air mancur untuk wudhu. Haram denahnya melebar pada ujung arah kiblat dari sahn. Haram mempunyai iwan gerbang, arsitekturnya mirip yang ada pada masjid-mesjid di Iran, berupa ceruk di dalam sebuah bidang datar tegak, bagian atasnya berupa pelengkung patah namun tak mempunyai muqarnas, bentuknya seperti kubah dibelah dua. Di kiri-kanan gerbang dihias dengan semacam plaster silindris, di puncaknya terdapat amortizement. Bentuknya khas India seperti gardu berdenah segi delapan, mempunyai tiang juga delapan, penyangga kubah tersebut patah-patah delapan mengikuti denah yang diatapi, mempunyai titisan berbentuk segi delapan pula. Iwan gerbang diapit oleh portico, di kiri dan kanan masing-nmasing mempunyai lima pelengkung. Pada ujung-ujung portico terdapat menara kembar memperkuat bentuk simetris dari haram. Dinding portico dan iwan gerbang dihias dengan garis-garis dan kotak-kotak merah dari warna bahan batu merah berlatar belakang putih dari warna marmer. Bagian atas dinding portico dihias dengan deretan runcing-runcing seperti gerigi. Di dalam haram terdapat tiga petak bujur sangkar dibentuk oleh dinding dan kolom yang tengah terbesar diapit di kiri-kanan lebih kecil. Ketiga petak berderet sejajar dinding kiblat masing-masing diatapi kubah, kubah besar berada di tengah-tengah masjid.

Bentuk ketiga kubah sangat khas India, menggelembung di tengah, runcing diatas seperti bawang, sehingga sering disebut kubah bawang. Pada puncaknya dihias dengan cunduk, bahan yang dipakai terbuat dari logam, berupa bola-bola kecil disunduk, pucuknya runcing. Kebesaran Syafawi ternyata juga tercermin dalam arsitektur masjid, salah satu dari sekian banyak masjid yang dibangun adalah Mesjid Agung Isfahan. Di bangun pada tahun 773 M, kemudian hingga abad XVII M mengalami berbagai pengembangan. Struktur dan bahan bangunan pada waktu itu menurut catatan sejarah terbuat dari kayu dan beratap datar, peninggalan itu sudah tidak ada, sebagian bangunan sekarang masih merupakan hasil perluasan abad IX. Masjid Agung Isfahan terletak di tengah-tengah kota yang suasananya sangat padat, tata letak dan denah berbentuk segi empat tidak beraturan. Mesjid ini berarsitektur hypostyle terdiri dari sahn di kelilingi empat iwan :dua iwan lateral (riwaq), iwan gerbang (pishataq) dan iwan qibla (haram). Bangunan sekeliling mesjid menyatu, membentuk denah kotak-kotak segi empat tidak beraturan. Salah satu iwan dikonversikan untuk ruang sholat dengan sebuah mihrab. Sebuah madrasah ditambahkan kedalam komplek kemudian ditambah pula ruang shalat musim dingin dengan portal sangat megah. Meskipun tidak semetris bangunan ini mempunyai garis tengah sumbu yang kuat membelah kompleks menjadi dua ditengah-tengah sahn. Saat ini di tengah sahn terdapat kolom segi empat, menjadi tanda titik potong garis sumbu melintang dan membujur dari seluruh kompleks. Pada ujung sumbu arah kiblat di mana terdapat mihrab ditutup dengan kubah besar. Ujung sumbu lainnya juga ditandai oleh sebuah kubah, masing-masing menghadap tegak lurus. Kolam dengan air mancur di tengah pada setiap iwan, terdapat sebuah portal makin memperkuat titik perpotongan sumbu melintang dan membujur. Keempat portal bentuknya satu sama yang lainnya mirip, terdiri dari sebuah ceruk sangat besar, tinggi, bagian atasnya berupa pelengkung patah dibingkai oleh sebuah bidang datar segi empat. Di dalam masing-masing ceruk bagian atasnya dihias dengan muqarnas. Hiasan dominasi warna emas, biru, kuning dan putih bercorak kaligrafi, arabesque, intricate memenuhi hampir semua bidang menghadap ke sahn. Pada portal iwan-haram di atas terdapat dua menara kembar, silindris khas Iran bentuk dan posisinya seperti tanduk. Sahn kompleks masjid jami Isfahan dikelilingi oleh pelengkung-pelengkung patah dari masing-masing iwan, bertumpu karena bangunannya bertingkat dua. Atap dari bagian tertutup sebagian besar berupa kubah berderet membujur dan melintang, masing-masing disangga oleh empat buah kolom. Denah, tata letak, bentuk dan dekorasi dari kompleks masjid ini rupanya menjadi ciri khas dari arsitektur muslim di Iran.

ARSITEKTUR ISLAM: Seni Ruang dalam Peradaban Islam A. Arsitektur Islam Arsitektur Islam merupakan wujud perpaduan antara kebudayaan manusia dan proses penghambaan diri seorang manusia kepada Tuhannya, yang berada dalam keselarasan hubungan antara manusia, lingkungan dan Penciptanya. Arsitektur Islam mengungkapkan hubungan geometris yang kompleks, hirarki bentuk dan ornamen, serta makna simbolis yang sangat dalam. Arsitektur Islam merupakan salah satu jawaban yang dapat membawa pada perbaikan peradaban. Di dalam Arsitektur Islam terdapat esensi dan nilai-nilai Islam yang dapat diterapkan tanpa menghalangi pemanfaatan teknologi bangunan modern sebagai alat dalam mengekspresikan esensi tersebut. Perkembangan arsitektur Islam dari abad VII sampai abad XV meliputi perkembangan struktur, seni dekorasi, ragam hias dan tipologi bangunan. Daerah perkembangannya meliputi wilayah yang sangat luas, meliputi Eropa, Afrika, hingga Asia tenggara. Karenanya, perkembangannya di setiap daerah berbeda dan mengalami penyesuaian dengan budaya dan tradisi setempat, serta kondisi geografis. Hal ini tidak terlepas dari kondisi alam yang mempengaruhi proses terbentuknya kebudayaan manusia. Arsitektur yang merupakan bagian dari budaya, selalu berkembang seiring dengan berkembangnya peradaban manusia. Oleh karena itu, Islam yang turut membentuk peradaban manusia juga memiliki budaya berarsitektur. Budaya arsitektur dalam Islam dimulai dengan dibangunnya Kabah oleh Nabi Adam as sebagai pusat beribadah umat manusia kepada Allah SWT (Saoud, 2002: 1). Kabah juga merupakan bangunan yang pertama kali didirikan di bumi. Tradisi ini dilanjutkan oleh Nabi Ibrahim AS bersama anaknya, Nabi Ismail AS. Mereka berdua memugar kembali bangunan Kabah. Setelah itu, Nabi Muhammad SAW melanjutkan misi pembangunan Kabah ini sebagai bangunan yang bertujuan sebagai tempat beribadah kepada Allah. Dari sinilah budaya arsitektur dalam Islam terus berkembang dan memiliki daya dorong yang belum pernah terjadi sebelumnya, serta mencapai arti secara fungsional dan simbolis. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran Surat Ali Imran ayat 96 :Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Arsitektur Islam adalah cara membangun yang Islami sebagaimana ditentukan oleh hukum syariah, tanpa batasan terhadap tempat dan fungsi bangunan, namun lebih kepada karakter Islaminya dalam hubungannya dengan desain bentuk dan dekorasi. Definisi ini adalah suatu definisi yang meliputi semua jenis bangunan, bukan hanya monumen ataupun bangunan religius (Saoud, 2002: 2).

Sebagaimana telah kita ketahui bersama, Arsitektur Islam merupakan salah satu gaya arsitektur yang menampilkan keindahan yang kaya akan makna. Setiap detailnya mengandung unsur simbolisme dengan makna yang sangat dalam. Salah satu makna yang terbaca pada arsitektur Islam itu adalah bahwa rasa kekaguman kita terhadap keindahan dan estetika dalam arsitektur tidak terlepas dari kepasrahan dan penyerahan diri kita terhadap kebesaran dan keagungan Allah sebagai Dzat yang memiliki segala keindahan. Bahkan sejak jaman Nabi Sulaiman AS, telah dibangun suatu karya arsitektur yang menampilkan keindahan dan kemegahan itu. Hal ini tertuang dalam Al-Quran Surat AnNaml 44: Dikatakan kepadanya: Masuklah ke dalam istana. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca. Berkatalah Balqis: Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam. Dengan segala keindahan, kemegahan, dan kedalaman maknanya, arsitektur Islam yang pernah berjaya dan menjadi salah satu tonggak peradaban dunia memiliki beberapa potensi yang dapat mencerahkan kembali kejayaan Islam yang selama beberapa abad terakhir ini mengalami kemunduran. Potensi-potensi ini bukan hanya ditujukan untuk menghadapi pengaruh dari kebudayaan barat yang mengglobal dan menginginkan persamaan identitas dari berbagai budaya, namun juga untuk kepentingan pengembangan arsitektur Islam sendiri. Lebih jauh, apabila kita telaah secara mendalam, arsitektur Islam lebih mengusung pada nilai-nilai universal yang dimuat oleh ajaran Islam. Nilai-nilai ini nantinya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa arsitektur dan tampil dalam berbagai bentuk tergantung konteksnya, dengan tidak melupakan esensi dari arsitektur itu sendiri, serta tetap berpegang pada tujuan utama proses berarsitektur, yaitu sebagai bagian dari beribadah kepada Allah. B. Al-Quran dan Seni Di dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam, tujuan akhir dari berbagai keilmuan harus dilihat dan didasarkan pada al-Quran al-Karim, kitab suci umat Islam. Pada dasarnya, kebudayaan Islam dengan arsitektur Islam sebagai salah satu bagiannya, merupakan budaya Qurani (Al-Faruqi, 1999: 3). Karenanya, baik definisi, struktur, tujuan maupun metode untuk mencapai tujuan tersebut secara keseluruhan diambil darinya. Dari al-Quran yang menjadi tuntunan, panduan hidup dan sumber keilmuan bagi umat Nabi Muhammad ini, seorang muslim tidak hanya mengambil pengetahuan mengenai Realitas Ultima (Al-Faruqi, 1999: 3). Secara mendasar, prinsip-prinsip yang diambil dari al-Quran juga mencakup tentang alam, manusia, dan makhluk hidup lainnya. Berbagai ilmu pengetahuan juga tercantum dalam al-Quran, baik secara implisit maupun eksplisit

di berbagai institusi sosial, politik serta ekonomi yang diperlukan untuk menjalankan masyarakat yang sehat, sehingga al-Quran diperlukan di setiap pengetahuan dan aktivitas manusia, termasuk juga di bidang keilmuan arsitektur. Di dalam kitab itu, prinsip-prinsip dasar sudah disediakan bagi pembentukan sebuah kebudayaan yang lengkap, tentu saja termasuk bidang arsitektur. Hal bukan berarti bahwa penjelasan dan uraian yang spesifik dan jelas tentang berbagai usaha manusia tersebut telah termuat dalam kitab suci yang memuat 114 surat ini. AlQuran tentu tidak menyebutkan secara detail dan jelas bagaimana arsitektur yang islami itu. Walaupun begitu, secara implisit di dalamnya terdapat suatu penjelasan yang menjadi dasar dan acuan tentang bagaimana idealnya suatu lingkungan, bagaimana sistem nilai, batasan dan aturan pergaulan antara pria dan wanita, dan sebagainya. Hal yang tidak kalah penting adalah di dalamnya juga termuat konsep keindahan bangunan, yang dicontohkan dengan menggambarkan keindahan bangunan-bangunan di surga, seperti yang diceritakan di dalam surat al-Waqiah. Konsep keindahan yang terwujud dalam berbagai bidang tersebut biasa kita sebut dengan seni dan kesenian. Dalam arsitektur, seni mempunyai posisi yang sangat penting. Bahkan pada awal berkembangnya, keilmuan arsitektur termasuk dalam bidang seni murni, bukan seperti pada saat ini, dimana arsitektur merupakan penggabungan antara ilmu, seni dan teknologi. Arsitektur merupakan sarana untuk mewujudkan wadah bagi aktivitas manusia dengan menggabungkan berbagai sudut pandang keilmuan, termasuk budaya dan tentu saja seni. Dalam Islam, aspek seni dalam kebudayaan Islam harus juga dilihat sebagai ekspresi estetis dari al-Quran. Seni Islam tidak lain adalah seni Qurani. Seni Qurani inilah yang nantinya juga akan mendukung terwujudnya arsitektur Islam sebagai salah satu unsurnya yang penting. Di dalam buku Seni Tauhid karya Ismail Raji Al-Faruqi, terdapat beberapa alasan Al-Quran dapat menjadi dasar dari karya seni (Al-Faruqi, 1999: 3), sebagai berikut: 1. Al-Quran dapat berfungsi sebagai penjelas tauhid atau transendensi 2. Al-Quran sebagai model seni 3. Al-Quran sebagai ikonografi artistik

C. Seni Ruang dan Arsitektur Menurut Ismail Raji Al-Faruqi, arsitektur termasuk di dalam seni ruang dalam esensi seni menurut Islam, hal ini dikarenakan arsitektur merupakan seni visual yang mendukung kemajuan peradaban Islam (Al-Faruqi, 1999: 158). Di dalam seni ruang, terdapat cabang lain yang termasuk mendukung di dalamnya yaitu seni rupa. Keberadaan seni ruang yang di dalamnya terdapat bidang arsitektur merupakan satu hal yang cukup penting. Hal ini juga didasarkan pada seni dalam pandangan al-Quran, sehingga pembangunan fisik peradaban ini senantiasa selalu berlandaskan nilai-nilai Islam dalam al-Quran, yang juga berfungsi sebagai landasan pembangunan peradaban yang berupa akhlaq dan perilaku. Hal ini sangatlah penting untuk mewujudkan kembali nilai-nilai Islam ke dalam tatanan pembangunan peradaban di dunia, yang tidak hanya membangun peradaban secara fisik, tetapi juga secara mental, pola pikir, semangat, akhlaq dan pola perilaku yang berlandaskan ajaran Islam yang bersumber pada al-Quran. Semangat untuk kembali pada pandangan dan konsep pembangunan dan keindahan berdasarkan al-Quran inilah yang terdapat dalam arsitektur Islam. Setiap karya dalam bidang arsitektur yang merupakan perwujudan fisik dari suatu peradaban, tidak hanya dipandang indah dan megah dari segi material atau fisik saja, melainkan bagaimana esensi keindahan tersebut dapat muncul dari suatu kebersahajaan atau kesederhanaan, atau dapat saja keindahan tersebut memang berasal dari suatu yang megah yang terinspirasi dari keindahan surgawi. Hal yang tidak kalah penting adalah, bagaimana berbagai versi keindahan itu dapat mengingatkan kita akan KemahaBesaran Allah, bahwa Allah adalah Dzat Maha Agung yang patut kita sembah dan menyadarkan esensi kita sebagai hamba Allah. Pengembangan seni ruang, termasuk di dalamnya arsitektur, berdasar pada nilai-nilai yang terdapat dalam al-Quran, apabila diterjemahkan secara fisik, memiliki beberapa ciri utama. Menurut Ismail Raji Al-Faruqi, ciri utama yang digolongkan dalam empat kategori tersebut didasarkan pada ciri-ciri utama yang dimiliki semua seni Islam (AlFaruqi, 1999:158), yaitu sebagai berikut: 1. Unit-unit isi 2. Arsitektur atau struktur dengan ruang interior 3. Lanskaping (holtikultura maupun akuakultura) 4. Desain kota dan desa Menurut Ismail Raji Al Faruqi pula, ajaran tauhid yang dapat menstimulasi kesan infinitas dan transendensi melalui isi dan bentuk estetis dapat direpresentasikan dalam karya seni Islam, yang ciri-ciri di dalamnya mengandung kaidah-kaidah sebagai berikut :

1. Abstraksi 2. Unit/Modul 3. Kombinasi suksesif 4. Pengulangan 5. Dinamisme 6. Kerumitan

Arsitektur Islam di Tengah Kebudayaan Dunia


Setelah Nabi Muhammad SAW wafat pada 8 Juli 632 Masehi menurut perhitungan ahli sejarah, arsitektur Islam berkembang seiring penyebaran agama Islam ke Asia barat, seluruh pantai utara Afrika sampai Spanyol, seluruh Asia tengah, ke sebagian India dan termasuk ke Indonesia. Lalu, mengapa arsitektur Islam dapat dikatakan identik dengan arsitektur masjid? Benarkah lantaran ciri-ciri arsitektur Islam itu sendiri dapat terlihat jelas dalam perkembangan arsitektur masjid? ARSITEKTUR Islam berdasarkan wujud dan penampilannya, merupakan gambaran perjalanan waktu yang telah diisi oleh kegiatan pembangunan arsitektur-arsitektur yang secara khusus lahir dari suatu bentuk kebudayaan Islam. Akibat dari penyebaran agama Islam dari jazirah Arab ke daerah lainnya, maka muncullah dua unsur dasar dalam kebudayaan Islam. Pertama, pengaruh dari kehidupan asli di Arab. Kedua, pengaruh kebudayaan asli dari daerah-daerah yang kemudian masuk Islam. Asimilasi dari kebudayaan Arab yang dibawa oleh penyebar agama Islam dengan kebudayaan dari lokal genius daerah baru yang telah masuk Islam, melahirkan suatu wujud baru dalam arsitektur Islam. Dari perpaduan kebudayaan tersebut tumbuh kecakapan-kecapakan berdasarkan pengalaman dan kecakapan teknik, yang didasari oleh pemikiran kepandaian menghitung, kepandaian membangun, pengetahuan tentang bahan, konstruksi dan estetika dalam penampilan baru arsitektur Islam. Fungsionalisme Arsitektur Islam dapat dikatakan identik dengan arsitektur masjid. Sebab, ciri-ciri arsitektur Islam dapat terlihat jelas dalam perkembangan arsitektur masjid. Ketika tempat suci masjid baru diperkenalkan Nabi Muhammad SAW untuk tempat suci agama Islam, hal yang pertama yang dilakukan beliau adalah membuat tempat suci yang bertitik tolak dari prinsip fungsionalisme. Sebab, masjid sebelumnya tidak pernah ada. Intuisi

manusiawi Nabi Muhammad didasari atas prinsip mendirikan sesuatu di atas tanah, untuk tujuan memberi tempat dan melayani kebutuhan masyarakat yang terjadi secara spontan pada saat itu. Prototipe masjid yang dibuat Nabi Muhammad secara spontan tersebut adalah masjid dengan konsep "masjid lapangan". Unsur utamanya adalah ruang terbuka atau lapangan di bagian tengah denah dan dikelilingi dinding tembok pembatas. Konsep ini dikembangkan dari adat kebiasaan lama bangsa Arab, yang memanfaatkan bentuk lapangan terbuka di antara dinding-dinding pembatas, untuk menampung aktivitas pertemuan dan aktivitas kehidupan lainnya. Denah masjid adalah segi empat yang dibatasi dinding. Di sepanjang dinding dalam, dibuat semacam serambi yang langsung berhubungan dengan lapangan terbuka, sebagai bagian tengah masjid. Pintu masuknya diberi tanda dengan gapura atau gerbang yang terdiri atas tumpukan batu-batu alam. Masjid yang dibuat Nabi Muhammad ini konstruksinya alamiah, dengan penyelesaian yang sederhana dan cepat bisa digunakan. Batang pohon kurma yang alamiah dimanfaatkan sebagai tiang, pelepah kurma sebagai rusuk-rusuk pengatap dan daunnya digunakan sebagai atap. Sedangkan dinding-dinding batu yang kuat, ditumpuk menjadi dinding pelindung dengan perekat tanah liat. Tempat Nabi Muhammad menyampaikan wejangan adalah berupa penonjolan dinding yang juga merupakan serambi, ditopang pohon kurma dan tempat ini sedikit ditinggikan. Di kemudian hari tempat ini berkembang menjadi relung atau ceruk untuk menunjukkan arah kiblat dan disebut mihrab. Sedangkan tempat duduk Nabi yang berupa serambi pada dinding dan tempatnya ditinggikan disebut mimbar. Pada awalnya, arah sembahyang mengarah ke Yerusalem. Setelah ada wahyu Tuhan tentang arah sembahyang menuju ke arah kedudukan Ka'bah, barulah arah sembahyang berubah, sehingga dinding ruang sembahyang masjid ke arah Ka'bah menjadi arah kiblat. Bukti Nyata Kebudayaan Islam yang pada awalnya didukung oleh orang-orang penghuni jazirah Arab, hidup di antara padang pasir yang ganas. Mereka adalah kaum Badawi yang biasa hidup di dalam perkemahan dan mengembara mencari tanah subur untuk kelangsungan hidupnya. Akibat dari kehidupan yang biasa dilakoninya di padang pasir tersebut, mereka memiliki bakat untuk mudah menyesuaikan diri dengan kebudayaan-kebudayaan lain, yang ada di sekitarnya, seperti kebudayaan bangsa Mesir, Babilionia (Irak), Sasanid di Persia (Iran) dan kebudayaan di Padang Sinai (Yahudi). Menurut Abdul Rochym yang aktif menulis arsitektur Islam, hal ini bisa terjadi karena adanya semacam perasaan keserumpunan di antara kaum Badawi dan kaum Arab sekitarnya. Sehingga, mereka menganggap bahwa kebudayaan yang dihasilkan oleh bangsa Mesir purba, Mesopotamia (Irak purba), Padang Sinai purba dan Iran purba,

merupakan warisan bersama, berasal dari satu turunan yang berkaitan dengan kebudayaan keturunan Samiyah (Semit). Salah satu aspek budaya yang telah memberikan bukti nyata adalah bidang arsitektur. Sebab, melalui bidang arsitektur, ukuran tinggi-rendahnya kebudayaan suatu bangsa dapat dilihat. Jauh sebelum kebudayaan Islam tumbuh, bangsa-bangsa di sekitar jazirah Arab telah mengenal wujud-wujud arsitektur terkenal. Bangsa Mesir yang hidup di sepanjang dataran lembah Sungai Nil, telah mewarisi keterampilan membangun arsitektur piramid dari zaman Mesir Purba. Keturunan bangsa Sumeria dan Semit (Irak Purba) yang tinggal di sepanjang sungai Tigris dan Eufrat, telah memiliki keterampilan membangun arsitektur perkotaan, konstruksi kubah dan piramida-piramida tangga yang disebut zigurat. Dari kebudayaan Persia (Iran purba) telah diwarisi kemahiran membangun konstruksi pilar, penggunaan bahan batu-bata pada bangunan istana dengan teknik konstruksi lengkungan-lengkungan yang disebut iwan dan gerbang dengan berbagai hiasan. Dari pengaruh peninggalan arsitektur kaum Sasanid di Persia inilah arsitektur Islam yang menimba dan mengembangkan bentuk-bentuk konstruksi lengkung dan kubah pada bentuk bangunanbangunannya. Ketika kebudayaan Islam bersentuhan dengan kebudayaan Eropa di Kerajaan Romawi timur (Bizantium/ Konstantinopel) pada abad ke-11, arsitektur Islam juga menimba teknik dan bentuk arsitektur Eropa, yang tumbuh dari arsitektur Yunani dan Romawi. Sebaliknya teknik dan bentuk arsitektur Islam yang dibawa oleh bangsa Turki (kaum Seljuk) juga disadap oleh bangsa Romawi untuk dikembangkan di Kerajaan Romawi timur. Akibat adanya kontak budaya antara orang-orang Muslim Turki dengan budaya Nasrani di Eropa timur inilah, arsitektur Islam yang semula hanya mengenal atap bangunan rata dan bentuk kubah, kemudian mulai mengenal atap meruncing ke atas. Selain itu, sejak bersentuhan dengan kebudayaan Kerajaan Romawi timur ini juga, arsitektur Islam mulai mengenal arsitektur yang bersifat megah, berkesan perkasa dan vertikalisme. Peninggalan arsitektur Islam terkenal di daerah ini adalah Masjid Aya Sophia, yang sebelumnya merupakan sebuah gereja. Dengan sikap penuh kearifan, orang-orang Muslim Turki ketika mengambil alih Gereja Ayasophia pada 1453, bentuk arsitektur Aya Sophia tidak dibongkar. Kubah Aya Sophia dari zaman Bizantium (Romawi) tetap dibiarkan, tetapi penampilan bentuk luarnya dilengkapi empat buah menara. Kemudian pembagian ruangnya disempurnakan, disesuaikan dengan kaidah-kaidah Islam. Termasuk penyempurnaan terhadap penggunaan hiasan-hiasan yang semula ada di Aya Sophia, kemudian ditambahi kaligragfi Arab. Selain masuk melalui Kerajaan Romawi timur, setelah melalui Afrika utara kebudayaan Islam juga masuk Eropa melalui Cordoba di Spanyol. Arsitektur Islam yang berkembang

Eropa melalui Cordoba-Spanyol adalah arsitektur Islam yang disebut bergaya Moor. Gaya ini dibawa oleh bangsa Berber yang berasal dari Maroko (Afrika Utara). Mereka juga disebut suku Habsyi, sebagai orang-orang Muslim di Spanyol. Perkembangan kebudayaan Islam di Spanyol kemudian mempengaruhi seluruh Eropa barat, yang saat itu belum memiliki penataan kota yang baik dan lingkungannya masih becek. Karya arsitektur Islam terkenal di Spanyol adalah Istana Alhambra di Granada, yang dibangun oleh Mohamad Ibn Al Amar. Proses pembangunan istana ini sangat lama (1248-1354). Istana ini kemudian dipugar dan disempurnakan lagi oleh para sultan penggantinya. Istana Alhambar merupakan karya arsitektur yang sangat dikagumi sampai saat ini, dibangun di dataran tinggi dengan topografi bertingkat-tingkat dan lingkungannya dipenuhi taman air. Di sekeliling ruang tengah istananya didereti pilar-pilar berkonstruksi lengkung. Ruang tengah istananya yang terbuka dilengkapi kolam air mancur dari batu pualam, didukung empat patung singa. Dengan demikian, arsitektur Islam yang semula sangat sederhana, kemudian berkembang dalam berbagai bentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan-kebudayaan lokal, maupun kebudayaan-kebudayaan dunia. Hal ini sejalan dengan jiwa para penyebar agama Islam ke daerah-daerah baru, yang sebelumnya telah memiliki kebudayaan asli.