Anda di halaman 1dari 102

PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP

1. PENGERTIAN

Pendidikan pada konsep seumur hidup muncul sejak tahun 1970 yaitu ketika UNESCO menerbitkan bukunya karya Paul Lengand yang berjudul An Introduction of live long education. Yang memberikan penekanan bahwa lembaga pendidikan formal bukan satu-satunya tempat proses pendidikan berlangsung karena pendidikan dapat di laksanakan di mana saja, dan kapan saja tanpa mengenal ruang dan waktu

SAMBUNGAN..

1.

2.

Secara Etimologi, pendidikan seumur hidup sepadam dengan maksud pendidikan sepanjang hayat, life Long Education, continuing Education, dan life long learning. Secara Terminologi, tidak dijumpai sebuah defenisi yang utuh dan komprensif akan tetapi pendapat beberapa ahli dapat dijadikan sebagai masukan dan inspirasi untuk merumuskan makna pendidikan seumur hidup, antara lain : Menurut Stepen : pokok dalam pendidikan seumur hidup adalah seluruh individu harus memiliki kesempatan sistimatik, terorganisir untuk intruction, studi dan learning disetiap kesempatan sepanjang hidup mereka. Menurut Silva : pendidikan seumur hidup berkenan dengan prinsip pengorganisasian yang akhirnya memungkinkan pendidikan untuk melakukan fungsinya adalah proses perubahan yang menuntut perkembangan.

SAMBUNGAN.
3. Atas dasar kedua pandangan tesebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan seumur hidup adalah sebagai sebuah proses rekayasa pendidikan yang berlangsung secara sistematis dan berkesinambungan, tidak mengenal batas dan ruang waktu di sepanjang hidup guna menjamin perubahan dan perkembangan individu yaitu jaminan kebahagiaan dan keselamatan selama hidup

2. KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR DALAM PENDIDIKAN ISLAM

HIDUP

Jauh sebelum pendidikan seumur hidup yang digagas oleh UNESCO ada, maka dalam konsep islam pendidikan seumur hidup tersebut sudah dikenal. Hal itu dapat dilihat dalam Al Quran yang artinya menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan. Menurut Ali Al-Djumlathy : pendidikan seumur hidup didasarkan atas cita-cita umat islam yang menginginkan kehidupan duniawi dan ukhrawi yang bahagia secara harmonis, Sehingga pendidikan seumur hidup adalah tujuan keagamaan dan tujuan duniawi.

SAMBUNGAN.

Dalam Hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Ibn Abd Al-Bar juga dijelaskan tentang pentingnya pendidikan seumur hidup yang artinya tuntutlah ilmu dari buaian (ayunan) sampai ke liang lahat. Dari gambaran Hadist tersebut menunjukkan bahwa pendidikan seumur hidup adalah upaya proses kintiniu atau terus menerus yang dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

Menurut Hardjito : pada kakekatnya pendidikan seumur hidup adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk manusia yang senantiasa menambah pengetahuan seiring dengan perkembangan zaman yaitu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga kualitas sumberdaya manusia dapat bersaing secara global.

Penekanan dalam pendidikan seumur hidup adalah belajar diwaktu kecil hingga dewasa dengan bantuan orang lain, dan belajar sendiri untuk meningkatkan kualitas intelektualisme dan emosional searah dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

3. TUJUAN PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP

Menurut Hasbullah tujuan pendidikan seumir hidup adalah : 1. mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakekatnya yaitu mengembangkan seluruh aspek pembawaannya seoptimal mungkin. Dengan demikian secara potensi manusia diisi kebutuhannya agar berkembang secara wajar. 2. Karena proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup dan dinamis maka pendidikan pun wajar berlangsung selama masih hidup.

Dengan demikian pendidikan seumur hidup dalam pendidikan islam pada hakekatnya mengembangkan potensi manusia agar mereka mempuanyai kemampuan sesuai dengan kebutuhan hidupnya, sebab semua manusia dilahirkan kedunia ini untuk mendapatkan pendidikan dan peningkatan pengetahuan serta keterampilan (skill) yang mengantar kepada kemampuan profesionalisme dari berbagai sudut pandang, seperti ideologis, ekonomi, sosial, filsafat, teknologi dan proses belajar mengajar (pembelajaran).

KESIMPULAN
Pendidikan seumur hidup adalah proses untuk meningkatkan kemampuan intelektual manusia sejak lahir hingga dewasa baik melalui lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat dengan tujuan untuk mempotensikan dan meningkatkan kemampuan profesionalisme (ahli dalam bidangnya) dalam memasuki persaingan global Inti pendidikan seumur hidup adalah seluruh individu harus memiliki kemampuan yang sistimatik dan terorganisir untuk belajar pada setiap kesempatan sepanjang hidup mereka, dengan tujuan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan keselamatan akhirat.

KETERKAITAN ANTARA LINGKU PENDIDIKAN


Hubungan antara

keluarga dengan sekolah. Hubungan antara sekolah dan masyarakat Hubungan antara keluarga dan masyarakat

APERSEPSI
Apa

saja yang termasuk lingkungan pendidikan di MI? Bagaimana hubungan antar lingkungan pendidikan tersebut.
Mahasiswa-mahasiswi diminta menjawab berdasarkan hasil kunjungannya ke MI.

Kompetensi Dasar: Mahasiswamahasiswi dan mahasiswi mampu menganalisis keterkaitan antara lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat dalam pendidikan. Indikator
Mahasiswi dan mahasiswa dan mahasiswi mampu: 1. menjelaskan hubungan keluarga dengan sekolah 2. menjelaskan hubungan lingkungan sekolah dengan masyarakat 3. menjelaskan hubungan keluarga dengan masyarakat.

Kerjasama keluarga dengan sekolah


KUNJUNGAN PIHAK SEKOLAH KE RUMAH ANAK DIDIK.
Berdampak positif bagi anak karena merasa selalu diperhatikan. Memotivasi orang tua untuk selalu mangadakan kerja sama dengan sekolah. Adanya kesempatan bagi untuk melakukan observasi secara langsung dan melakukan interview.

KUNJUNGAN ORANG TUA KE SEKOLAH

Acara yang diselenggarakan oleh sekolah yang memungkinkan untuk dihadiri orang tua, akan berdampak positif jika orangtua diundang untuk menghadiri acara tersebut. Kegiatan tersebut bisa berupa class meeting yang berisi lomba-lomba, pameran hasil karya dsb.

CASE CONFERENCE
Merupakan

rapat atau konferensi tentang kasus tertentu yang berkaitan dengan proses yang ada di sekolah dan keluarga. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan dalam konteks bimbingan dan konseling.

BADAN PEMBANTU SEKOLAH


organisasi

atau lembaga orang tua murid dan guru untuk menjalin kerjasama secara terorganisir antara keduanya. Sampai sekarang ini organisasi telah mengalami berbagai perubahan nama karena disesuaikan dengan situasi pendidikan dan masyarakat.

DAFTAR NILAI ATAU RAPORT.


Daftar

nilai atau raport adalah media yang menghubungkan antara sekolah dan orangtua untuk saling mengkomunikasikan proses dan hasil belajar yang dilakukan oleh anak didik.

Hubungan antara sekolah dan masyarakat


SEKOLAH SEBAGAI PATNER MASYARAKAT DALAM MENJALANKAN FUNGSI PENDIDIKAN
Hubungan

ini menempatkan sekolah dan masyarakat sebagai lingkungan pendidikan yang potensial untuk melakukan proses-proses pendidikan.

BAGI KEBUTUHAN PENDIDIKAN MASYARAKATNYA.

SEKOLAH SEBAGAI PRODUSEN YANG


MELAYANI PESANAN-PESANAN PENDIDIKAN DARI MASYARAKAT SEKITARNYA.

Ketepatan sasaran dan target pendidikan yang ditangani oleh sekolah akan ditentukan oleh kejelasan kontrak antara sekolah sebagai pelayan dan masyarakat sebagai pemesan. Kualitas hubungan antara keduanya dipengaruhi oleh ikatan-ikatan obyektif berupa perhatian, penghargaan dan topangan lainnya seperti dukungan financial dan lain-lain.

DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT, ANAK TUMBUH DALAM DUA DUNIA SOCIAL ;


Dunia orang dewasa, misalnya orang tua, guru dan tetangganya. Dunia peergroupnya atau teman yang seumurnya, misalnya kelompok permainan, kelompok sekolah dan lain sebaginya.

Hubungan antara keluarga dan masyarakat

PERBEDAAN ORANG TUA DAN PEERGROUP

Perbedaan dasar; dalam dunia orang dewasa posisi anak selalu dalam posisi subordinat dengan kata lain posisi orang tua selalu diatas. Sedangkan dalam peergroup, anak mempunyai status yang sama dengan diantara yan lain (equal). Jadi peergroup selalu berada dibawah orang tua, sehingga anak membutuhkan kelompok sendiri karena ada kesamaan dalam segala bidang. Perbedaan pengaruh ; pengaruh peergroup semakin lama semakin penting bagi anak dibanding dengan pengaruh keluarga.

FUNGSI-FUNGSI PENDIDIKAN PEERGROUP DALAM MASYARAKAT


Mengajarkan

kebudayaan. Mengajarkan mobilitas social. Membantu peranan social baru.

KEGIATAN PENUTUP
Refleksi

tentang tentang pengertian, fungsi dan ragam lingkungan pendidikan.

KEGIATAN TINDAK LANJUT


Dosen

menutup perkuliahan dengan memberikan tugas untuk membaca dan menyiapkan materi selanjutnya yaitu tentang system pendidikan nasional.

SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

APERSEPSI
Dosen

menugaskan mahasiswa-mahasiswi untuk mengidentifikasi permasalahan pendidikan di Indonesia dan upaya pemecahannya

MASALAH MELALUI KEBIJAKAN


Peningkatan

mutu pendidikan di madrasah dilakukan dengan penerapan manajemen berbasis sekolah/madrasah (MBS) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

KOMPETENSI DASAR

Mahasiswi-mahasiswa mampu menganalisis sistem pendidikan nasional menurut UUSPN No. 2 Tahun 1989 dan UUSPN No. 20 Tahun 2003

INDIKATOR
mengidentifikasi 3 permasalahan yang ada di dalam sistem pendidikan nasional menjelaskan perbedaan kebijakan kurikulum antara UUSPN No. 2 Tahun 1989 dan UUSPN No. 20 Tahun 2003 menjelaskan peran serta masyarakat dalam system pendidikan nasional menjelaskan prinsip penyelenggaraan pendidikan menjelaskan kebijakan pengelolaan pendidikan

menjelaskan kebijakan pengelolaan pendidikan menjelaskan pihak-pihak mana yang bertanggungjawab terhadap pendanaan pendidikan menyebutkan 8 standar nasional pendidikan menjelaskan maksud penilaian pendidikan dan penerapannya menuliskan dan mempresentasikan pemikiran baru tentang pemecahan permasalahan pendidikan.

INDIKATOR (LANJUTAN)

ALUR PERKULIAHAN :
Apersepsi dan Pengantar (15) Diskusi Kelompokpok (35) Presentasi dan Tanggapan (30) Penguatan (10) Refleksi dan Kegiatan tindak lanjut (10)

DISKUSI KELOMPOK
Bacalah dengan cermat lembar uraian materi, UUSPN No 2 Tahun 1989, dan UUSPN No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Melalui diskusi kelompok bandingkan sistem pendidikan nasional menurut UUSPN No. 2 1989 dan UUSPN No. 20 2003. Rumuskan hasil diskusi, untuk memudahkan kerja gunakan tabel berikut.

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Aspek yang dibandingkan Prinsip penyelenggaraan pendidikan Hak dan kewajiban pem erintah Standar pendidikan Kebijakan kurikulum Pendidik dan tenaga kependidikan Pendanaan pendidikan Pengelolaan pendidikan Peran serta masyarakat Evaluasi pendidikan Penilaian hasil belajar ..............

UUSPN No. 2 Tahun 1989

UUSPN No. 20 Tahun 2003

. Identifikas perm i asalahan pendidikan saat ini s erta identifikasi pula pem ecahan

m asalahnya m enurut UUS N No. 20 tahun 2003. P No. 1. 2. 3. P asalahan erm pendidikan P enyelesaian m asalah m elalui kebijakan yang tertuangdalamUUS N No. 20 tahun 2003 P

PENGUATAN
Pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam UU Sisdiknas No. 2 Tahun 1989 pasal 1 ayat 2 adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. Sedangkan dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 2 dirumuskan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan jaman.

PENDIDIKAN NASIONAL

Secara

prinsip kedua undang-undang tersebut adalah sama. Bedanya, pada UUSPN No. 20 Tahun 2003 terdapat pengembangan dua aspek; (1) adanya nilai-nilai agama, dan (2) keharusan mengikuti perkembangan jaman (kontekstual). Adanya tambahan konsep pada UUSPN No. 20 Tahun 2003 didasarkan pada kenyataan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa beragama dan karena itu keberagamaan akan menjadi hal mendasar dalam setiap aspek kehidupan bangsa, di mana salah satunya adalah melalui dunia pendidikan. Pendidikan nasional juga harus tanggap terhadap dinamika perkembangan jaman, agar dunia pendidikan nasional tetap bisa eksis dan lebih jauh survive menghadapi tantangan dunia yang semakin global dan kompetitif.

Dalam dataran filosofis, pendidikan nasional menjadi obyek perebutan berbagai pihak, sehingga muncul tiga kelompok; (1) kelompok yang menjadikan pendidikan sebagai sistem; (2) kelompok yang menjadikan pendidikan sebagai tujuan; dan (3) kelompok yang menjadikan pendidikan sebagai proses

KONSEKUENSI KONSEP:
1.

2.

3.

Kelompok yang menjadikan pendidikan sebagai sistem menghasilkan nilai positif berupa hasil didik yang berkualitas, tetapi sekaligus menghasilkan nilai negatif yakni lemah dalam skil dan humanisnya. Kelompok yang menjadikan pendidikan sebagai tujuan menghasilkan pendidikan nasional berada di langit tidak mampu menyentuh problemproblem nasional (tidak mampu menyentuh kehidupan masyarakat luas Kelompok yang menjadikan pendidikan sebagai proses menghasilkan pendidikan nasional akan berlangsung secara terus menerus selama bangsa Indonesia eksis

PENGERTIAN SISDIKNAS
Sistem pendidikan nasional (Sisdiknas) sebagaimana tercantum di dalam UUSPN No. 2 Tahun 1989 pasal 1 ayat 3 adalah keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mengusahakan tercapainya pendidikan nasional. Sedangkan di dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 3 dirumuskan bahwa sisdiknas adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

RUMUSAN UU NO. 2 TAHUN 1989 DAN UU NO. 20 TAHUN 2003


Kedua rumusan sisdiknas di atas nampaknya tidak ada perbedaan yang prinsip. Perbedaan hanya terjadi pada teknis narasi atau susunan bahasa yang dipakai oleh keduanya. Pada rumusan UUSPN No. 20 Tahun 2003 keseluruhan yang terpadu disebutkan secara tegas dengan istilah komponen pendidikan. Sedangkan pada UUSPN No. 2 Tahun 1989 hanya disebut keseluruhan tanpa keterangan komponen pendidikan.

KONSEKUENSI KONSEP:
Sisdiknas

memberikan kesempatan yang seluasluasnya kepada setiap warga negara Perlakuan terhadap peserta didik tidak lagi didasarkan atas perbedaan jenis kelamin, agama, ras, suku, latar belakang sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi

PERMASALAHAN SISDIKNAS

KONTEKS SEJARAH Penyusunan Sisdiknas melalui proses yang cukup panjang; (1) dipicu oleh keinginan memadukan berbagai model sistem pendidikan di Indonesia, yakni model penjajah, model pesantren, dan model sintesis Barat-Pribumi, hingga akhirnya pada tahun 1950 berhasil dirumuskan undang-undang pendidikan, sekalipun pendidikan Islam tidak masuk di dalam perundang-undangan tersebut; (2) di era Orde Baru Sisdiknas dijadikan alat untuk mempertahankan status quo pemerintah; (3) pada masa reformasi, melalui kedok dekonstruksi Sisdiknas pemerintah kembali menjadikan alat Sisdiknas untuk memenuhi ambisi politik mereka

Permasalahan Penerapan Sisdiknas Sisdiknas diterapkan secara sentralistik. Akibatnya terjadi penyeragaman dari pusat dan karena itu intervensi pemerintah dalam bidang pendidikan terlalu berlebihan. Pendidikan akhirnya menghasilkan para lulusan yang merupakan replikasi (cerminan) keinginan pemerintah, bukan lahir dari potensi diri yang mestinya bebas berkembang

KEGIATAN TINDAK LANJUT

Mahasiswa/i diberi tugas untuk melakukan observasi sederhana; mengamati permasalahan pengelolaan Madrasah Diniyah yang terdekat dengan tempat tinggalnya dan menuliskan hasil pengamatannya dalam Lembar Kegiatan 12.1 yang telah disediakan dosen untuk bahan perkuliahan tatap muka berikutnya

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERKEMBANGANYA MASALAH PENDIDIKAN

PENDAHULUAN
Presentasikan

hasil kunjungannya ke madrasah: 1. apa saja permasalahan pendidikan di madrasah, dan 2. faktor-faktor yang mempengaruhinya.

PERMASALAHAN PENDIDIKAN
ujian

nasional, proses pembelajaran, manajemen pendidikan, teknik penilaian, peran serta masyarakat.

KOMPETENSI DASAR
Mahasiswa

dan mahasiswi mampu menganalisis dan menjelaskan faktorfaktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan

INDIKATOR
Mahasiswa

dan mahasiswi

dapat:
mengidentifikasi permasalahan pendidikan mengidentifikasi permasalahan pendidikan yang secara khusus terjadi di madrasah, mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah pendidikan Mengidentifikasi ide-ide untuk pemecahan masalah pendidikan.

DISKUSI KELOMPOK
Mahasiswa-mahasiswi

membaca Lembar Uraian Materi 14.2 selama 10 menit. Mahasiswa-mahasiswi bekerja dalam kelompok untuk mendiskusikan tentang permasalahan pendidikan. Diskusi kelompok dipandu dengan Lembar Kegiatan 14.1

BAHAN DISKUSI
a.

b.

c.

d.

Identifikasi minimal 5 indikator yang digunakan untuk menunjukkan menilai kualitas pendidikan! Identifikasi permasalahan-permasalahan yang terdapat di bidang pendidikan! Apa saja permasalahan pendidikan yang secara khusus terjadi di madrasah? Deskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah pendidikan!

e.

f.

g.

h.

Apakah hasil ujian nasional dapat digunakan untuk menunjukkan kualitas pendidikan suatu madrasah/sekolah Salah factor yang mempengaruhi kualitas pendidikan adalah kebijakan pendidikan yang sentralistik. Otonomi sector pendidikan merupakan tuntutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hal-hal apa saja dari sector pendidikan yang diotonomikan dan hal-hal apa saja yang masih diatur oleh pemerintah pusat? Kebijakan pendidikan di sekolah yang berada di bawah dinas pendidikan diatur oleh kabupaten/kota setempat, artinya sekolah telah menjadi bagian otonomi pendidikan. Bagaimana kebijakan di madrasah ditinjau dari aspek otonomi pendidikan dan otonomi daerah? Jelaskan ide-ide atau upaya pemecahan masalah pendidikan!

PENGUATAN
Pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Hal itu karena peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri

MENURUT TILAAR (1999)


Pendidikan

merupakan proses berkesinambungan, Proses pendidikan berarti menumbuhkem-bangkan eksistensi manusia, Eksistensi manusia untuk memasyarakat, dan Proses bermasyarakat dan membudaya mempunyai dimensi waktu dan ruang.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERKEMBANGANYA MASALAH PENDIDIKAN

Ada dua faktor utama: Pertama strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Kedua, pengelolaan pendidikan lebih bersifat macro-oriented,

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI INDONESIA


Pertama, masalah mendasar, yaitu kekeliruan paradigma pendidikan yang mendasari keseluruhan penyelenggaran sistem pendidikan. Kedua, masalah-masalah cabang, yaitu berbagai problem yang berkaitan aspek praktis/teknis yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan, seperti mahalnya biaya pendidikan, rendahnya prestasi siswa, rendahnya sarana fisik, rendahnya kesejahteraaan guru, dan sebagainya.

Masalah makro pendidikan Permasal ahan pendidika nan Masalah makro pendidikan

1.Standarisasi pendidikan 2.Persamaan, pemeratan, dan berkeadilan 3.Standart mutu 4.Kemampuan bersaing

1.Kualitas manajemen 2.Pemberdayaan satuan pendidikan 3.Profesionallisme dan ketenagakerjaan 4.Relevansi kebutuhan

UPAYA PEMECAHAN MASALAH PENDIDIKAN

(1) mempertegas visi dan misi melalui analisis kebutuhan (need assessment); (2) menjaga institusi pendidikan yang managable dengan orientasi dan konsistensi visi dan misinya terhadap tujuan dan target;

(3) perlindungan guru dan profesionalisme kepemimpinan kepala sekolah; (4) pemberdayaan satuan pendidikan sesuai prinsip otonomi sekolah dengan melakukan desentralisasi, debirokratisasi, dan profesionalisasi; (5) otonomi pengelolaan anggaran oleh satuan pendidikan.

KEGIATAN PENUTUP

Mahasiswa dan mahasiswi membuat rangkuman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan dan upaya pemecahannya Refleksi Perkuliahan

KEGIATAN TINDAK LANJUT


Mahasiswa-mahasiswi membuat rancangan kunjungan ke madrasah yang topiknya adalah mengamati proses pelaksanaan otonomi pendidikan di madrasah (keberhasilan dan hambatannya) serta factor-faktor yang mempengaruhinya. Mahasiswa-mahasiswi berdiskusi membuat instrument sebelum berkunjung ke madrasah.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERKEMBANGANYA MASALAH PENDIDIKAN

PENDAHULUAN
Presentasikan

hasil kunjungannya ke madrasah: 1. apa saja permasalahan pendidikan di madrasah, dan 2. faktor-faktor yang mempengaruhinya.

PERMASALAHAN PENDIDIKAN
ujian

nasional, proses pembelajaran, manajemen pendidikan, teknik penilaian, peran serta masyarakat.

KOMPETENSI DASAR
Mahasiswa

dan mahasiswi mampu menganalisis dan menjelaskan faktorfaktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan

INDIKATOR
Mahasiswa

dan mahasiswi

dapat:
mengidentifikasi permasalahan pendidikan mengidentifikasi permasalahan pendidikan yang secara khusus terjadi di madrasah, mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah pendidikan Mengidentifikasi ide-ide untuk pemecahan masalah pendidikan.

DISKUSI KELOMPOK
Mahasiswa-mahasiswi

membaca Lembar Uraian Materi 14.2 selama 10 menit. Mahasiswa-mahasiswi bekerja dalam kelompok untuk mendiskusikan tentang permasalahan pendidikan. Diskusi kelompok dipandu dengan Lembar Kegiatan 14.1

BAHAN DISKUSI
a.

b.

c.

d.

Identifikasi minimal 5 indikator yang digunakan untuk menunjukkan menilai kualitas pendidikan! Identifikasi permasalahan-permasalahan yang terdapat di bidang pendidikan! Apa saja permasalahan pendidikan yang secara khusus terjadi di madrasah? Deskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah pendidikan!

e.

f.

g.

h.

Apakah hasil ujian nasional dapat digunakan untuk menunjukkan kualitas pendidikan suatu madrasah/sekolah Salah factor yang mempengaruhi kualitas pendidikan adalah kebijakan pendidikan yang sentralistik. Otonomi sector pendidikan merupakan tuntutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hal-hal apa saja dari sector pendidikan yang diotonomikan dan hal-hal apa saja yang masih diatur oleh pemerintah pusat? Kebijakan pendidikan di sekolah yang berada di bawah dinas pendidikan diatur oleh kabupaten/kota setempat, artinya sekolah telah menjadi bagian otonomi pendidikan. Bagaimana kebijakan di madrasah ditinjau dari aspek otonomi pendidikan dan otonomi daerah? Jelaskan ide-ide atau upaya pemecahan masalah pendidikan!

PENGUATAN
Pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Hal itu karena peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri

MENURUT TILAAR (1999)


Pendidikan

merupakan proses berkesinambungan, Proses pendidikan berarti menumbuhkem-bangkan eksistensi manusia, Eksistensi manusia untuk memasyarakat, dan Proses bermasyarakat dan membudaya mempunyai dimensi waktu dan ruang.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERKEMBANGANYA MASALAH PENDIDIKAN

Ada dua faktor utama: Pertama strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Kedua, pengelolaan pendidikan lebih bersifat macro-oriented,

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI INDONESIA


Pertama, masalah mendasar, yaitu kekeliruan paradigma pendidikan yang mendasari keseluruhan penyelenggaran sistem pendidikan. Kedua, masalah-masalah cabang, yaitu berbagai problem yang berkaitan aspek praktis/teknis yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan, seperti mahalnya biaya pendidikan, rendahnya prestasi siswa, rendahnya sarana fisik, rendahnya kesejahteraaan guru, dan sebagainya.

Masalah makro pendidikan Permasal ahan pendidika nan Masalah makro pendidikan

1.Standarisasi pendidikan 2.Persamaan, pemeratan, dan berkeadilan 3.Standart mutu 4.Kemampuan bersaing

1.Kualitas manajemen 2.Pemberdayaan satuan pendidikan 3.Profesionallisme dan ketenagakerjaan 4.Relevansi kebutuhan
Departemen Agama Republik Indonesia

UPAYA PEMECAHAN MASALAH PENDIDIKAN

(1) mempertegas visi dan misi melalui analisis kebutuhan (need assessment); (2) menjaga institusi pendidikan yang managable dengan orientasi dan konsistensi visi dan misinya terhadap tujuan dan target;

(3) perlindungan guru dan profesionalisme kepemimpinan kepala sekolah; (4) pemberdayaan satuan pendidikan sesuai prinsip otonomi sekolah dengan melakukan desentralisasi, debirokratisasi, dan profesionalisasi; (5) otonomi pengelolaan anggaran oleh satuan pendidikan.

KEGIATAN PENUTUP

Mahasiswa dan mahasiswi membuat rangkuman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan dan upaya pemecahannya Refleksi Perkuliahan

KEGIATAN TINDAK LANJUT


Mahasiswa-mahasiswi membuat rancangan kunjungan ke madrasah yang topiknya adalah mengamati proses pelaksanaan otonomi pendidikan di madrasah (keberhasilan dan hambatannya) serta factor-faktor yang mempengaruhinya. Mahasiswa-mahasiswi berdiskusi membuat instrument sebelum berkunjung ke madrasah.

KELEMBAGAAN DAN PENGELOLAAN PENDIDIKAN NASIONAL


(PAKET 12)

APERSEPSI
Bagaimana pengelolaan madrasah ibtidaiyah yang Anda ketahui? Apakah pengelolaan madrasah ibtidaiyah telah memenuhi kaidah-kaidah Manajemen Berbasis Madrasah?

KOMPETENSI DASAR
Mahasiswa

dan mahasiswi memahami permasalahan pengelolaan kelembagaan pendidikan nasional; Mahasiswa dan mahasiswi memahami permasalahan pengelolaan madrasah sebagai subsistem Sisdiknas

INDIKATOR :
Mahasiswa dan mahasiswi: mampu menjelaskan jenis dan bentuk kelembagaan pendidikan nasional mampu mengidentifikasi permasalahan pengelolaan kelembagaan pendidikan nasional mampu mengidentifikasi permasalahan pengelolaan madrasah sebagai sub-sistem pendidikan nasional

ALUR PERKULIAHAN :
Apersepsi dan Pengantar (15) Presentasi hasil pengamatan tentang permasalahan pengelolaan madrasah (40) Komentar (10) Penguatan (10) Latihan Soal-Soal (10) Penutup dan Tindak Lanjut (15)

PRESENTASI HASIL KUNJUNGAN

Setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan karyanya secara singkat (10 menit per kelompok), kemudian dilanjutkan dengan kunjung karya. Selama kunjung karya dilakukan tanya jawab.

KOMENTAR
Mahasiswa-mahasiswi diminta menyampaikan komentar hasil kunjung karya Berikan saran yang bermanfaat bagi setiap kelompok Saran yang diberikan bersifat operasional

PENGUATAN
JENIS DAN BENTUK KELEMBAGAAN PENDIDIKAN NASIONAL

Pendidikan nasional dilaksanakan melalui lembaga-lembaga pendidikan baik dalam bentuk sekolah maupun dalam bentuk kelompok belajar (dalam bahasa UUSPN No 2 Tahun 1989) atau melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal (dalam bahasa UUSPN No 20 Tahun 2003).

JALUR PENDIDIKAN
Jalur

formal (pendidikan sekolah) : pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan (pendidikan dasar, menengah, dan tinggi) Jalur informal dan nonformal (pendidikan luar sekolah) : pendidikan yang bersifat kemasyarakatan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang tidak berjenjang dan tidak berkesinambungan

1.

Jenjang PENDIDIKAN JENJANG pendidikan dasar: diselenggarakan

2.

3.

untuk memberikan bekal dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat, berupa pengembangan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan dasar, disamping juga untuk mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah Jenjang pendidikan menengah: deselenggarakan sebagai lanjutan dan perluasan pendidikan dasar, disamping juga untuk mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan tinggi ataupun memasuki lapangan kerja Jenjang pendidikan tinggi: diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/kesenian

JENIS DAN BENTUK PENDIDIKAN NASIONAL


1.

2.

Pendidikan Umum : pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan ketrampilan peserta didik. Bentuk pendidikannya meliputi; SD, SMP, SMA, dan Universitas Pendidikan Kejuruan: pendidikan yang mempersiapkan peserta didik siap bekerja pada bidang pekerjaan tertentu. Bentuk pendidikannya, meliputi: STM, SMTK, SMIP, SMIK, SMEA

3. Pendidikan Luar Biasa: pendidikan khusus

yang diselenggarakan untuk peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan/atau mental. Bentuk pendidikannya berupa Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) 4. Pendidikan Kedinasan: pendidikan khusus yang diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai atau calon pegawai suatu departemen pemerintahan atau nondepartemen. Bentuknya meliputi: SPK, APDN

5. Pendidikan Keagamaan: pendidikan khusus yang mempersiapkan peserta didik siap melaksanakan tugas keagamaan. Bentuknya meliputi: pendidikan dasar, misalnya Madrasah Ibtidaiyah (MI), pendidikan menengah, misalnya Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, PGA dan sebagainya; pendidikan tinggi, misalnya: IAIN, IHD (Institut Hindu Darma)

PERMASALAHAN PENGELOLAAN SISDIKNAS


1. Manajemen kelembagaan (institusi) pendidikan tidak

sistemik, total, dan mendasar. Akibatnya: Lembaga pendidikan tidak memiliki visi yang jelas dan karena itu selalu menghasilkan lulusan yang gamang dalam menghadapi hidup dan kehidupan 2. Tidak ada budaya mutu (quality culture) Akibatnya: mutu pendidikan tidak menjadi target dari penyelenggaraan pendidikan, sehingga karenanya lembaga pendidikan tidak menghasilkan makna apapun bagi peserta didiknya 3. Kurang adanya kesesuaian dan kesepadanan (relevansi). Akibatnya: lembaga pendidikan tidak bisa macthing dengan kebutuhan masyarakat 4. Minimnya akses informasi Akibatnya: lembaga pendidikan lambat dalam mengakses kondisi dunia yang terus berkembang

PERMASALAHAN PENGELOLAAN MADRASAH


1.

Kendala Sejarah Madrasah sejak awal diposisikan sebagai pendidikan nomor dua bagi bangsa dan negeri Indonesia. Terbukti madrasah tidak masuk dalam UU pendidikan tahun 1950. Ketika madrasah diakui sebagai subsistem pendidikan nasional ternyata dalam dataran praksis tetap menjadi pendidikan nomor dua dan diperparah oleh pensikapan Muslim sendiri dengan penyelenggaraan madrasah yang setengah-setengah

2. Kendala Eksternal Tantangan Globalisasi Aspek ini telah membuat persaingan antar bangsa di bidang ekonomi dan teknologi semakin ketat dimana madrasah dengan seluruh komponen yang ada belum siap mengikuti persaingan ini Pergeseran Masyarakat Indonesia dari agraris menuju masyarakat industri. Pergeseran tersebut jelas akan mengakibatkan perubahan cara kerja, cara berpikir, dan nilai-nilai yang berlaku. Kondisi madrasah, sebagaimana diterangkan di atas, nampaknya juga belum siap untuk menerima perubahan ini.

3.Kendala Internal Meliputi: (1) SDM madrasah berwawasan sempit dan tidak profesional; (2) Kesalahan menerjemahkan niat; (3) pencitraan madrasah sebagai lembaga pendidikan kumuh dan pinggiran

ALTERNATIF PEMECAHAN
KENDALA SEJARAH HARUS DISIKAPI SECARA SEIMBANG; TIDAK DIPERLAKUKAN SEBAGAI BEBAN TETAPI SEBAGAI PELAJARAN BERHARGA. KENDALA EKSTERNAL HARUS SEGERA DIIMBANGI DENGAN PEMBENAHAN SELURUH KOMPONEN MADRASAH

KENDALA INTERNAL: (1) MASALAH SDM BERARTI HARUS SEGERA MELAKUKAN PEMBENAHAN SDM KARENA INILAH SEBENARNYA AKAR PERSOALAN THE MAN BEHIND THE GUN. DIANTARA CARANYA ADALAH DENGAN MENINGKATKAN KUALIFIKASI SELURUH TENAGA YANG ADA SESUAI DENGAN DISIPLIN ILMU DAN BIDANG MASINGMASING

KENDALA INTERNAL: (2) NIAT IKHLAS HARUS DIBARENGI DENGAN KEAHLIAN DAN PROFESIONALISME; (3) PENCITRAAN KUMUH DAN PINGGIRAN HARUS SEGERA DITEPIS DENGAN KARYA DAN PRESTASI NYATA SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM YANG MAMPU BERSAING DAN MENJAWAB TANTANGAN JAMAN

KEGIATAN PENUTUP
Dosen

dan mahasiswamahasiswi menarik kesimpulan dari kegiatan inti tentang kelembagaan dan pengelolaan pendidikan nasional

RTL
Dosen

memberikan tugas kepada mahasiswa dan mahasiswi untuk melakukan kunjungan ke MI dan membantu mengelola MI misalnya membantu mengelola administrasi