Anda di halaman 1dari 31

TUGAS ELEMEN MESIN I

PERENCANAAN BAUT













OLEH :

S I L W A N U S
D211 03 105


Jurusan MESIN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2007

Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
i
KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala
rahmat dan karunia-Nya sehingga Tugas Elemen Mesin I ini dapat terselesaikan
walaupun masih jauh dari kesempurnaan.
Dalam Tugas Elemen Mesin I ini, penulis mencoba merencanakan baut dari
suatu konstruksi yang telah ditentukan. Dalam merencanakan baut ini, penulis
mengambil literatur dari berbagai buku-buku mesin dan masukan dari teman-teman
serta dosen.
Penulis hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada Bpk. Ir. H.
Nasruddin Aziz selaku dosen pembimbing tugas dalam perencanaan ini, yang telah
banyak membimbing dalam penyusunan tugas ini. Serta kepada rekan-rekan
mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Unhas. Akhir kata penulis mengharapkan adanya
sumbang saran yang dapat beramanfaat bagi penulis untuk memperbaiki isi
perencanaan ini.

Makassar, 15 Mei 2007


Penulis


S I L W A N U S
D211 03 105


Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
ii
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR .......................................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Maksud dan Tujuan Tugas ............................................................... 1
B. Soal Perencanaan ............................................................................. 1
C. Batasan Masalah ............................................................................... 1
BAB II TEORI DASAR
A. Pengertian Baut, Mur dan Ulir ......................................................... 2
B. Klasifikasi Ulir ................................................................................. 5
C. Klasifikasi Baut dan Mur ................................................................. 10
D. Pembuatan Baut dan Mur ................................................................. 12
E. Jenis-jenis Sambungan Yang Menggunakan Baut ........................... 13
F. Pemilihan Baut dan Mur .................................................................. 13
BAB III PERHITUNGAN SAMBUNGAN BAUT
A. Perhitungan Pada Konstruksi .......................................................... 21
B. Perencanaan Baut ............................................................................. 23
C. Perencanaan Mur .............................................................................. 23
D. Pemeriksaan Kekuatan Pada Baut dan Ulir ..................................... 25
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ...................................................................................... 26
B. Saran ................................................................................................. 26
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 27



Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
1
BAB I
PENDAHULUAN

Tugas Elemen Mesin I adalah tugas awal bagi seorang mahasiswa teknik
mesin untuk membuat suatu rancangan sederhana yang merupakan aplikasi dari mata
kuliah-mata kuliah yang telah didapatkan sebelumnya. Sehingga mahasiswa nantinya
akan mengetahui bagaimana aplikasi dari teori-teori yang selama ini mahasiswa
dapatkan.

A. Maksud dan Tujuan Tugas
Adapun maksud dari Tugas Elemen Mesin I ini adalah untuk menggunakan teori-
teori yang didapatkan pada bangku kuliah dalam perancangan suatu konstruksi
sederhana, dan juga untuk memenuhi salah satu persyaratan kurikulum akademik
Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
Adapun tujuan Tugas Elemen Mesin I ini adalah :
1. Agar mahasiswa dapat menggunakan teori-teori yang selama ini didapatkan di
perkuliahan dalam suatu perancangan sederhana.
2. Melatih mahasiswa agar terbiasa dengan tugas-tugas perancangan, dan
menjadi dasar tugas-tugas berikutnya.
3. Agar mahasiswa mengetahui tata cara penyusunan sebuah laporan tugas
perencanaan.

B. Soal Perencanaan
Dalam tugas ini soal yang diberikan adalah merencanakan sambungan keling dan
baut pada plat lantai dermaga untuk suatu konstruksi yang telah ditentukan.

C. Batasan Masalah
Dalam merencanakan konstruksi tersebut, massa dari bahan konstruksi tersebut
diabaikan dan hanya dipengaruhi oleh gaya vertikal pada ujung konstruksi.
Sambungan yang digunakan adalah sambungan baut dan keling.

Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
2
BAB II
TEORI DASAR

Beberapa jenis sambungan yang biasa digunakan dalam suatu konstruksi
baja antara lain :
1. Baut (Bolt), yang terbagi atas dua yaitu baut ber kekuatan tinggi (HSS) dan
baut hitam.
2. Paku keling ( Rivet )
3. Las ( Welding )
Dari ketiga sambungan diatas maka las merupakan sambungan yang
paling kaku setelah itu paku keling kemudian baut. Selanjutnya pada bab ini
hanya akan dijelaskan masalah sambungan baut.

A. Pengertian Baut, Mur dan Ulir
Ulir sekrup digunakan sebagai sarana prnyambung yang dapat dilepas.
Ulir sekrup merupakan sebuah ulir luar pada sebuah batang bulat / tangkai. Jika
tangkai tersebut diberi bagian yang tebal, maka disebut baut sekrup atau biasa
disingkat baut.
Bagian yang tebal disebut kepala baut, yang biasanya berbentuk segi
empat atau segi enam, sehingga baut tersebut dapat dikencangkan dari luar.
Pasangan sebuah baut atau sekrup adalah perkakas berulir dalam yang
disebut mur. Seringkali ulir dalam ini dibuat pada salah satu mur dari kedua
bagian yang dijepit oleh sambungan baut. Dalam hal ini, bagian tersebut berfungsi
sebagai mur.
Gerakan mur terhadap baut dapat dianggap terdiri dari gerak putar dan
gerak lurus.
Bentuk ulir yang terkenal adalah bentuk segitiga (ulir ISO), siku-siku,
trapesium, dan ulir bulat.

Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
3
Profil ulir dengan kombinasi garis tengah dan kisar merupakan sistem ulir
baut. Selama perkembangannya, muncul sejumlah besar sistem ulir yang berbeda-
beda. Dengan normalisasi, diusahakan untuk secara internasional membatasi
perbedaan dalam sistem ulir baut dan dalam kerangka sistem itu, membatasi
kombinasi kisar dan kombinasi garis tengahnya.
Untuk ulir segitiga, yang pada umumnya dipergunakan untuk pengikatan,
secara internasional telah tercapai suatu persetujuan tentang profil ulir baut yang
sesuai untuk dipakai secara umum. Profil ulir ISO ini mempunyai profil basis
yang berbentuksegitiga sama sisi, berarti dengan sudut puncak 60, dengan alas
yang sama.
Dengan adanya perbedaan antara sistem ukuran di negara-negara yang
menggunakan milimeter, dan yang menggunakan inchi, garis tengah ulir
ditunjukkan dalam pecahan ukuran inchi dan kisar dalam banyaknya ulir setiap
inchi.
Ulir dapat juga dipergunakan untuk memindahkan gerak berputar menjadi
gerak lurus, atau agak jarang gerak lurus menjadi gerak putar (bor-kotrek). Ulir
seperti ini disebut ulir sekrup daya. Yang penting dalam hal ini adalah gesekan
yang harus sekecil mungkin., berlawanan dengan ulir pengerat dimana gesekan
besar diperlukan agar tidak terlepas.

Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
4
Bentuk ulir dapat terjadi bila sebuah lembaran berbentuk segi tiga
digulung pada sebuah silinder, seperti diperlihatkan dalam Gambar 1. Dalam
pemakaian, ulir selalu bekerja dalam pasangan antara ulir luar dan ulir dalam,
seperti pada Gambar 2. Ulir pengikat pada umumnya mempunyai profil
penampang berbentuk segi tiga sama kaki. Jarak antara satu puncak dengan
puncak berikutnya dari profil ulir disebut jarak bagi.
Ulir disebut tunggal atau satu jalan bila hanya ada satu jalur yang melilit
silinder, dan disebut dua atau tiga jalan bila ada dua atau tiga jalur (Gambar 3).
Jarak antara puncak-puncak yang berbeda satu putaran dari satu jalur, disebut
kisar. Jadi kisar pada ulir tunggal adalah sama dengan jarak baginya, sedangkan
ulir ganda dan tripel, besarnya kisar berturut-turut sama dengan dua kali dan tiga
kali jarak baginya.
Ulir juga
dapat berupa ulir
kanan dan ulir kiri, di
mana ulir kanan akan
bergerak maju bila
diputar searah jarum
jam, dan ulir kiri akan
maju bila diputar
berlawanan dengan
arah jarum jam,
seperti diperlihatkan
dalam Gambar 4.
Umumnya ulir kanan
lebih banyak dipakai.




Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
5
B. Klasifikasi Ulir
Penggolongan ulir menurut jenis, kelas, dan bahannya akan diuraikan
seperti di bawah ini:
1. Jenis ulir
Ulir digolongkan menurut bentuk profil penampangnya sebagai berikut:
ulir segitiga, persegi, trapesium, gigi gergaji, dan bulat. Bentuk persegi,
trapesium dan gigi gergaji pada umumnya dipakai untuk penggerak atau
penerus gaya, sedangkan ulir bulat dipakai untuk menghindari kemacetan
karena kotoran. Tetapi bentuk yang paling banyak dipakai adalah ulir segitiga.
Ulir segitiga diklasifikasikan lagi menurut jarak baginya dalam ukuran metris
dan inch, dan menurut ulir kasar dan ulir lembut sebagai berikut:
a. Seri ulir kasar metris (Tabel 1)
b. Seri ulir kasar UNC (Tabel 2)

c. Seri ulir lembut metris
d. Seri ulir lembut UNF
e. Seri ulir lembut lebih UNEF

Seri ulir kasar dipakai
untuk keperluan umum,
seperti baut dan mur. Seri ulir
lembut mempunyai jarak bagi
yang kecil dan dipergunakan
pada bagian-bagian yang tipis
serta untuk keadaan di mana getaran besar (karena ulir lembut tidak mudah
kendor sendiri). Ulir seri UNC, UNF dan UNEF merupakan gabungan antara
standar Amerika dan Inggris. Dalam Gambar 5 diperlihatkan perbandingan
ulir kasar dan ulir lembut dengan diameter luar yang sama.
Ada juga ulir pipa yang dipakai untuk menyambung pipa dan bagian-
bagiannya. Termasuk dalam golongan ini adalah ulir halus yang dipakai untuk
mengikat dan ulir kerucut atau tirus untuk sambungan yang harus rapat. Ulir
ini mempunyai jarak bagi yang tinggi dan lebih kecil dari pada ulir kasar.

Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
6


Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
7


















Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
8








Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
9












Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
10
2. Kelas ulir
Ukuran ulir luar dinyatakan dengan diameter luar, diameter efektif
(diameter dimana tebal profil dan tebal alur dalam arah sumbu adalah sama)
dandiameter inti. Untuk ulir dalam, ukuran tersebut dinyatakan dengan
diameter efektif, ukuran pembatas yang diizinkan dan toleransi.
Atas dasar besarnya toleransi, ditetapkan kelas ketelitian untuk ulir luar:
Untuk ulir metris: Kelas 1, 2 dan 3
Untuk ulir UNC, UNF, UNEF: Kelas 3A, 2A dan 1A untuk ulir luar
Kelas 3B, 2B dan 1B untuk ulir dalam
Perlu diterangkan bahwa ketelitian tertinggi dalam standar JIS adalah
kelas 1 dan dalam standar Amerika adalah kelas 3A dan 3B.
Patokan yang diakai untuk pemilihan kelas adalah sebagai berikut:
Kelas teliti (kelas 1 dalam JIS) untuk ulir teliti.
Kelas sedang (kelas 2 dalam JIS) untuk pemakaian umum.
Kelas kasar (kelas 3 dalam JIS) untuk ulir yang sukar dikerjakan,
misalnya ulir dalam dari lubang yang panjang.
3. Bahan ulir
Penggolongan ulir menurut kekuatannya distandarkan dalam JIS seperti
terlihat dalam Tabel 3.Arti dari bilangan kekuatan untuk baut dalam tabel
tersebut adalah sebagai berikut: Angka di sebelah kiri tanda titik adalah 1/10
harga minimum kekuatan tarik o
a
(kg/mm
2
), dan di sebelah kanan titik adalah
1/10 (o
y
/o
a
). Untuk mur, bilangan yang bersangkutan menyatakan 1/10
tegangan beban jaminan.
C. Klasifikasi Baut dan Mur
Baut digolongkan menurut bentuk kepalanya, yaitu segienam, soket
segienam, dan kepala persegi. Baut dan mur dapat dibagi sebagai berikut: baut
penjepit, baut untuk pemakaian khusus dan mur seperti diuraikan di bawah ini.
a. Baut penjepit (Gambar 6), dapat berbentuk:
- Baut tembus, untuk menjepit dua bagian melalui lubang tembus,
dimana jepitan diketatkan dengan sebuah mur.

Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
11
- Baut tap, untuk menjepit dua bagian, dimana jepitan diketatkan dengan
ulir yang ditapkan pada salah satu bagian.
- Baut tanam, merupakan baut tanpa kepala dan diberi ulir pada kedua
ujungnya. Untuk dapat menjepit dua bagian, baut ditanam pada salah
satu bagian yang mempunyai lubang berulir, dan jepitan diketatkan
dengan sebuah mur.







b. Baut untuk
pemakaian khusus (Gambar 7) dapat berupa:
- Baut pondasi, untuk memasang mesin atau bangunan pada pondasinya.
Baut ditanam pada pondasi beton, dan jepitan pada bagian mesin atau
bangunan diketatkan dengan mur.
- Baut penahan, untuk menahan dua bagian dalam jarak tetap.
- Baut mata atau baut kait, dipasang pada badan mesin sebagai kaitan
untuk alat pengangkat.
- Baut T, untuk mengikat benda kerja atau alat pada meja atau dasar
yang mempunyai alur T, sehingga letaknya dapat diatur.
- Baut kereta, banyak dipakai pada badan kendaraan. Bagian persegi di
bawah kepala dimasukkan ke dalam lubang persegi yang pas sehingga
baut tidak ikut berputar pada waktu mur diketatkan atau dilepaskan.

Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
12
- Di samping baut khusus yang telah disebut di atas masih banyak jenis
yang lain. Tetapi di sini tidak akan dikemukakan semuanya.
c. Mur (Gambar 10).
Pada umumnya mur mempunyai bentuk segi enam. Tetapi untuk
pemakaian khusus dapat dipakai mur dengan bentuk yang bermacam-
macam seperti mur bulat, mur flens, mur tutup, mur mahkota dan mur kuping.






Di Indonesia baut yang sering digunakan adalah jenis baut hitam
sedangkan di luar negeri jenis baut HSS yang sering digunakan.
1. Baut berkekuatan tinggi
Baut yang banyak digunakan adalah baut A325 dan A490. Kepala baut
berbentuk segi enam. Baut ini dibedakan atas 3 type

Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
13
Type 1 : Baut baja karbon sedang
Type 2 : Baut baja karbon rendah
Type 3 : Baut baja tahan karat
2. Baut Hitam
Dibuat dari baja kabon rendah memenuhi standart ASTM 307. Dipakai pada
struktur ringan seperti rangka batang yang kecil, rusuk dinding.
Baut hitam dibagi atas dua jenis yaitu :
a. Baut yang tidak diulir penuh
Ulir tidak ada pada bidaang geser
b. Baut diulir penuh
Ulir baut ada pada bidang geser

D. Pembuatan Baut dan Mur
Bahan pembuatan baut dan mur berkaitan dengan sifat mekanik baja dan
pemberian tanda pada alat pengikat tersebut. Dewasa ini baut dan mur
kebanyakan dibuat dengan cara press dingin atau press panas. Ulir biasanya dirol
dan seringkali baut mengalami perlakuan permukaan untuk mencegah karat. Yang
paling umum adalah dengan cara memfosfatkan baut dan mur, karena itulah
warnanya menjadi hitam.
Dipasaran bebas dapat juga dijumpai baut yang permukaanya dilapis seng,
kadmium atau khrom. Pengolahan tak bersudip memberikan sifat baut dan mur
yang lebih baik jika dipress, dibandingkan jika dibubut. Karena pembubutan
batang utuh tidak saja menimbulkan banyak kerugian bahan, melainkan dengan
membubut juga memotong serat sejajar yang searah dengan arah gilasan batang,
hal ini merupakan pengaruh yang buruk pada kepala dan tangkai.

E. Jenis-jenis Sambungan Yang Menggunakan Baut
1. Lap Joint (Sambungan Overlap)

Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
14
Pada keadaan ini baut memikul 1 irisan. Gaya yang bekerja pada baut adalah
tegak lurus sumbunya menimbulkan tegangan geser.
2. Butt Joint
Baut bekerja 2 irisan. Gaya yang bekerja pada baut adalah tegak lurus
sumbunya menimbulkan tegangan geser dan sejajar sumbunya yang
menimbulkan tegangan tarik.
3. Baut yang dibebani sejajar sumbu
Gaya yang bekerja pada baut adalah sejajar sumbunya yang menimbulkan
tegangan tarik.

F. Pemilihan Baut dan Mur
Baut dan mur merupakan alat pengikat yang sangat penting. Untuk
mencegah kecelakaan, atau kerusakan pada mesin, pemilihan baut dan mur
sebagai alat pengikat harus dilakukan dengan seksama untuk mendapatkan ukuran
yang sesuai. Dalam Gambar 11. diperlihatkan macam-macam kerusakan yang
dapat terjadi pada baut.






Untuk menentukan ukuran baut dan mur, berbagai faktor harus
diperhatikan seperti sifat gaya yang bekerja pada baut, syarat kerja, kekuatan
bahan, kelas ketelitian, dll.
Adapun gaya-gaya yang bekerja pada baut dapat berupa:
1. Beban statis aksial murni
2. Beban aksial bersama dengan beban puntir
3. Beban geser
4. Beban tumbukan aksial

Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
14
Pertama-tama akan ditinjau kasus dengan pembebanan aksial murni.
Dalam hal ini, persamaan yang berlaku adalah:

( )
2
1
4 d
W
A
W
t
t
o = =
.............................................................. (1)
di mana W (kg) adalah beban tarik aksial pada baut, o
t
adalah tegangan
tarik yang terjadi di bagian yang berulir ada diameter inti d
1
(mm). Pada sekrup
atau baut yang mempunyai diameter luar d 3 (mm), umumnya besar diameter
inti d
1
0,8 d, sehingga (d
1
/d)
2
0,64. Jika o
a
(kg/mm
2
) adalah tegangan yang
diizinkan, maka:

( )( )
a t
d
W
o
t
o s =
2
8 , 0 4
................................................... (2)
Dari persamaan (1) dan (2) diperoleh

a a
W
d atau
W
d
o to
2

64 , 0
4
>

> .................................... (3)


Harga o
a
tergantung pada macam bahan, yaitu SS, SC atau SF. Jika difinis
tinggi, faktor keamanan dapat diambil sebesar 6 8, dan jika difinis biasa,
besarnya antara 8 10.
Untuk baja liat yang mempunyai kadar karbon 0,2 0,3 (%), tegangan
yang diizinkan o
a
umumnya adalah sebesar 6 (kg/mm
2
) jika difinis tinggi, dan 4,8
(kg/mm
2
) jika difinis biasa.
Dalam hal mur, jika tinggi profil yang bekerja menahan gaya adalah h
(mm) seperti dalam Gambar 12, jumlah lilitan ulir adalah z, diameter efektif ulir
d
2
, dan gaya tarik pada baut W (kg), maka besarnya tekanan kontak pada
permukaan ulir q (kg/mm
2
) adalah

a
q
hz d
W
q s =
2
t
................................................................... (4)



Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
15





di mana q
a
adalah tekanan kontak yang diizinkan, dan besarnya tergantung pada
kelas ketelitian dan kekerasan permukaan ulir seperti diberikan dalam Tabel 4.
Jika persyaratan dalam persamaan (4) tersebut dipenuhi, maka ulir tidak akan
menjadi lumur atau dol. Ulir yang baik mempunyai harga h paling sedikit 75 (%)
dari kedalaman ulir penuh; ulir biasa mempunyai h sekitar 50 (%) dari kedalaman
penuhnya.
Jumlah ulir z dan tinggi mur H (mm) dapat dihitung dari persamaan:
z W/(td
2
hq
a
) ..................................................................... (5)
H = zp, p = jarak bagi ....................................................... (6)
Menurut standar: H = (0,8 1,0) d ..................................... (7)
Dalam Gambar 13 diperlihatkan bahwa gaya W juga akan menimbulkan
tegangan geser pada luas bidang silinder (td
1
.k.p.z) di mana k.p adalah tebal akar
ulir luar. Besar tegangan geser ini,
b
(kg/mm
2
) adalah:

kpz d
W
b
1
t
t =
........................................................................ (8)
Jika tebal akar ulir pada mur dinyatakan dengan j.p, maka tegangan
gesernya adalah:


Djpz
W
n
t
t =
.......................................................................... (9)

Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
16
Untuk ulir metris dapat diambil k 0,84 dan j 0,75. Untuk pembebanan pada
seluruh ulir yang dianggap merata,
b
dan
n
harus leih kecil dari pada harga yang
diizinkan
a
.

























Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
17
Bila beban yang bekerja pada baut merupakan gabungan antara gaya tarik
aksial dan momen puntir, maka sangat perlu untuk menentukan cara
memperhitungkan pengaruh puntiran tersebut. Jika gaya aksial dinyatakan dengan
W (kg), maka harus ditambahkan W/3 pada gaya aksial tersebut sebagai pengaruh
tambahan dari momen puntir. Cara ini merupakan perhitungan kasar, dan dipakai
bila perhitungan yang lebih teliti dianggap tidak diperlukan.
Bila terdapat gaya geser murni W (kg), tegangan geser yang terjadi masih
dapat diterima selama tidak melebihi harga yang diizinkan. Jadi (W/(t/4)d
2
)
a
,
untuk satu penampang yang mendapat beban geser. Seperti telah diuraikan di
muka, tegangan geser yang diizinkan diambil sebesar
a
= (0,5 0,75) o
a
, di mana
o
a
adalah tegangan tarik yang diizinkan. Perlu diperhatikan bahwa tegangan geser
harus ditahan oleh bagian badan baut yang tidak berulir, sehingga gaya geser yang
ada dibagi oleh luas penampang yang berdiameter d.
Baut yang mendapat beban tumbukan dapat putus karena adanya
konsentrasi tegangan pada bagian akar profil ulir. Dengan demikian diameter inti
baut harus diambil cukup besar untuk mempertinggi faktor keamanannya. Baut
khusus untuk menahan tumbukan biasanya dibuat panjang, dan bagian yang tidak
berulir dibuat dengan diameter lebih kecil daripada diameter intinya, atau diberi
lubang pada sumbunya sepanjang bagian yang tak berulir, seperti dalam Gambar 14.





Panjang l dari baut tap atau baut benam yang disekrupkan ke dalam
lubang ulir, tergantung bahan lubang ulir tersebut sebagai berikut: untuk baja atau
perunggu l = d, untuk besi cor l = 1,3 d, untuk logam lunak l = (1,8 2,0) d.
Kedalaman lubang ulir harus sama dengan l ditambah 2 10 (mm).

Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
18
Permukaan di mana kepala baut atau mur akan duduk, harus dapat
menahan tekanan permukaan sebagai akibat dari gaya aksial baut. Untuk
menghitung besarnya tekanan ini, dianggap bahwa luas bagian kepala baut atau
mur yang akan menahan gaya adalah lingkaran yang diameter luarnya sama
dengan jarak dua sisi sejajar dari segienam B (mm), dan diameter dalamnya sama
dengan diameter-diameter luar baut d (mm). Jika beban aksial baut adalah W (kg),
maka besarnya tekanan permukaan dudukan adalah:

( )( )
sa
q
d B
W
q s

=
2 2
4 t
..................................................... (10)
di mana q
sa
adalah tekanan permukaan yang diizinkan seperti dalam Tabel 4.
Baut atau mur dapat menjadi kendor atau lepas karena getaran. Untuk
mengatasi hal ini perlu dipakai penjamin. Di bawah ini diberikan beberapa contoh
yang umum dipakai.
1. Cincin penjamin (Gambar 15) yang dapat berbentuk cincin pegas, cincin
bergigi luar, cincin cekam dan cincin berlidah.
2. Mur penjamin (Gambar 16) yang menggunakan dua buah mur, yang
bentuknya dapat bermacam-macam. Dalam Gambar (16a), mur A akan
mencegah mur B menjadi kendor.
3. Pena penjamin, sekrup mesin, atau sekrup penetap (Gambar 17).
4. Macam-macam penjamin lain (Gambar 18) seperti dengan cincin nilon yang
disisipkan pada ujung mur untuk memperbesar gesekan dengan baut,
menipiskan dan membelah ujung mur yang berfungsi sebagai penjepit baut, dll.








Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
19

















Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
20
BAB III
PERHITUNGAN SAMBUNGAN BAUT

























Gambar Perencanaan
P = 650 kg
1 m
3

m


Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
21
A. Perhitungan Pada Konstruksi
Tiang pada konstruksi di atas berbentuk tabung dengan penampang bujur
sangkar yang mempunyai dimensi luar (b) = 150 mm = 0,150 m, tebal dinding
(t) = 5 mm = 0,005 m. Tumpuan diikat oleh baut sehingga dapat diasumsikan
sebagai sambungan jepit yang mempunyai sebuah gaya vertikal, gaya horizontal
dan momen yang berlawanan arah dengan jarum jam seperti diperlihatkan pada
diagram bebas berikut ini.

Diagram benda bebas (DBB)











1. Gaya tekan aksial (P
1
) berlawanan arah dengan F
Ay

EF
H
= 0 F
Ay
P = 0
F
Ay
= 6,37 kN ke arah atas
Jadi, P
1
= 6,37 kN = 650 kg ke arah bawah
2. Gaya geser (P
2
) berlawanan arah dengan arah F
Ax

EF
V
= 0 F
Ax
= 0 P
2
= 0
3. Momen lentur di A (M
A
)
EM
C
= 0
(F
Ay
x1) (F
Ax
x 3) M
A
= 0 MA = 1 x F
Ay
= 6,37 kN.m = 630 kg.m
M
A

F
Ay

F
Ax

P = 650 kg
3

m

1 m
A
B
C P = 650 kg x 9,8 m/s
2

= 6370 N
= 6,37 kN

Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
22
atau dengan cara lain
M
A
= P x d dimana d = jarak lengan = 1 m
= 650 x 1 = 650 kg.m
4. Tegangan tekan aksial (o
p
)
o
p
= P
1
/A dimana A = b
2
(b 2t)
2
= 4t ( b t)
= (4 x 0,005) (0,15 0,005) = 0,0029 m
2

= 650/0,0029 = 2,241 x 10
-5
kg/m
2

0,224 kg/mm
2

5. Tegangan lentur (o
M
)
( )
2I
b M

I
2 b M

M

= =
( ) ( )
12
005 , 0 . 2 15 , 0
12
15 , 0
12
2t b

12
b
I
4 4 4 4

=
= 1,017 x 10
-5
m
4

=
5
10 017 , 1 2
15 , 0 650




= 4,794 x 10
6
kg/m
2
= 4,794 kg/mm
2

6. Tegangan tarik (o
y
)
o
A
= o
M
+ o
M
= 0,224 + 4,794 = 5,018 kg/mm
2

o
y
= o
A
= 5,018 kg/mm
2

= 5,018 kg/mm
2
ke arah atas










o
M

o
p

o
y

o
M

o
p

o
y

o
M

o
p

o
y

o
M

o
p

o
y

P
1

P
2


Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
23
B. Perencanaan Baut
1. Beban yang terjadi (W)
W = P
1
= 650 kg
2. Beban yang terjadi pada tiap baut (W
t
)
W
t
=
n
W
dimana n = Jumlah baut yang digunakan
= 4 dipilih
=
4
650

= 162,5 kg
3. Beban yang direncanakan pada tiap baut (W
d
)
W
d
= W
t
x f
c
dimana f
c
= Faktor koreksi = 1,2
= 162,5 x 1,2
= 195 kg
4. Bahan baut: Baja liat dengan 0,22 %C.
Tegangan tarik (o
B
) = 42 kg/mm
2

Tegangan yang diizinkan (o
a
) = 3 kg/mm
2

Tegangan geser yang diizinkan (t
a
) = (0,5 0,75) o
a
dipilih 0,5
= 0,5 x 3 = 1,5 kg/mm
2

5. Diameter inti baut (d
1
)
2
1
d
2
1
d d
t
d
4W
d
4

W
A
W
= = =

Tegangan tarik yang terjadi di bagian yang berulir (o
t
) harus lebih kecil dari
tegangan yang diizinkan (o
a
) agar baut dapat bekerja dengan aman.
t a
>
2
1
d
a
d
4W
>

3 3,14
195 4

4W
d
a
D
1

>

>
9,100 mm

Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
24
6. Ulir pada baut (ulir luar) dipilih ulir metris kasar (M11) dari Tabel 1b.
Diameter inti (d
1
) = 9,376 mm 9,100 mm
Diameter ulir (d) = 11,000 mm
Jarak bagi (p) = 1,5 mm

C. Perencanaan Mur
1. Bahan mur: Baja liat dengan 0,22 % C
Tegangan tarik (o
B
) = 42 kg/mm
2

Tegangan yang diizinkan (o
a
) = 3 kg/mm
2

Tegangan geser yang diizinkan (t
a
) = (0,5 0,75) o
a
dipilih 0,5
= 0,5 x 3 = 1,5 kg/mm
2

Tegangan permukaan yang diizinkan (q
a
) = 3 kg/mm
2

2. Ulir pada mur (ulir dalam) dipilih ulir metris kasar (M11) dari Tabel 1b.
Diameter luar ulir dalam (D) = 11,000 mm
Diameter efektif ulir dalam (D
2
) = 10,026 mm
Tinggi kaitan gigi (H
1
) = 0,812 mm
3. Jumlah ulir mur yang diperlukan (z)
1,5 0,812 10,026 3,14
195
H D
W
z
a 1 2
d

=

>

5,085 6 buah
4. Tinggi mur yang diizinkan (H)
H z . p 6 x 1,5
9 mm
5. Tinggi mur yang direncanakan (H
d
)
H
d
(0,8 1,0) d
m
dimana d
m
=
0,64 3 3,14
195 4
0,64
4W
a
d

=


= 11,374 mm
H
d
0,9 x 11,374
10,237 mm (yang akan dipakai)

Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
25
6. Jumlah ulir mur (z)
z = H
d
/ p = 10,237 / 2
= 5,119 buah
7. Tegangan geser akar ulir baut (t
b
)
5,119 1,5 0,84 9,376 3,14
195
z' p k d
W

1
d
b

=

=
= 1,027 kg/mm
2

8. Tegangan geser akar ulir mur (t
n
)
5,119 1,5 0,75 11,000 3,14
195
z' p j D
W

d
n

=

=
= 0,980 kg/mm
2

9. Tekanan kontak pada permukaan ulir (q)
119 , 5 5 , 1 026 , 10 14 , 3
195
'
2

=

=
z p d
W
q
d
t

= 0,807 kg/mm
2


D. Pemeriksaan Kekuatan Pada Baut dan Ulir
1. Baut dan mur dianggap aman karena
a. Tegangan geser akar ulir baut (t
b
) dan tegangan geser akar ulir mur (t
n
)
kurang dari tegangan geser yang diizinkan (t
a
)
t
b
dan t
n
t
a
atau 1,0207 kg/mm
2
dan 0,980 kg/mm
2
1,5 kg/mm
2

b. Tekanan kontak pada permukaan ulir (q) kurang dari tekanan kontak yang
diizinkan (q
a
)
q q
a
atau 0,807 kg/mm
2
3 kg/mm
2

c. Tegangan tarik pada kontruksi (kurang dari tegangan tarik pada baut
o
y
o
B
atau 5,018 kg/mm
2
42 kg/mm
2

2. Bahan baut dan mur: Baja liat dengan 0,22 %C dengan ukuran M11.


Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
26
KESIMPULAN


A. Kesimpulan
Dari hasil perencanaan yang telah didapat, maka kesimpulan dari perencanaan ini
adalah:
1. Konstruksi ini menggunakan sambungan baut, karena dengan ketinggian 3
meter membutuhkan kekakuan yang kecil.
2. Baut yang digunakan adalah jenis Baja liat dengan 0,22 %C yang diulir penuh
dengan ukuran M11.
3. Bahan baut dan mur yang dipilih adalah baja ST 37 yang merupakan baja
lunak.

B. Saran-saran
1. Untuk konstruksi yang tidak tetap maka sebaiknya digunakan sambungan
baut.
2. Untuk lebih mempersingkat perhitungan maka lebih baik menggunakaan baut
dengan ulir penuh.


Tugas Elemen Mesin I S I L W A N U S
D211 03 105
Perencanaan Baut
27
DAFTAR PUSTAKA


Perry, Robert, H, Engineering Manual, Mc. Graw Hill Book Company
Gere, James M., Stephen P. Thimoshenko, Mekanika Bahan Jilid I, 2000, Jakarta:
Erlangga.
Ressang, Prof. Dr. Ir. H. Arifuddin, Materi kuliah Mekanika Kekuatan Material I
Stolk, Ir, Elemen Mesin; Elemen Konstruksi dari Bangunan Mesin, 1993, Jakarta:
Erlangga
Sularso, Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin, 1987, Jakarta: PT.
Pradnya Paramita