Anda di halaman 1dari 58

PENUNTUN PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

NAMA PRAKTIKAN NIM GOLONGAN

: : :

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

KATA PENGANTAR Perkembangan ilmu dan teknologi dalam bidang farmasi membutuhkan manusia berkemampuan dan berkualitas tinggi, baik dalam pengembangan keilmuannya maupun pengamalan keahliannya. Dengan peningkatan mutu sumber daya manusia itulah, kesinambungan berbagai pengembangan ilmu dan teknologi dasar dapat dipertahankan dan dikembangkan di tengah keterkaitan antar disiplin ilmu kefarmasian yang majemuk dan kompleks. Sumbangan kompetensi yang handal dirasakan sebagai tuntutan yang semakin mendesak dalam ilmu kefarmasian termasuk bidang ilmu farmasetika. Kemajuan ilmu dan teknologi di bidang farmasetika yang meliputi farmasi fisika (pharmacy physic), farmasetika dasar (basic of pharmaceutical), teknologi sediaan farmasi padat (technology of solid pharmaceutical dosage form), teknologi sediaan farmasi cair dan semi padat (technology of liquid and semi solid pharmaceutical dosage form) dan teknologi sediaan farmasi steril (technology of sterile pharmaceutical dosage form) mengharuskan adanya upaya sistematis dan integral dari laboratorium, terutama tantangan kecakapan untuk melakukan link in dengan laboratorium lingkup farmasi unhas. Oleh karena itu, laboratorium farmasetika sebagai salah satu sarana pelaksanaan akademik yang mengacu pada peningkatan kualifikasi lulusan akan melakukan rangkain pelatihan asisten praktikum. Pelatihan perdana asisten praktikum lingkup laboratorium farmasetika akan difokuskan pada tiga praktikum yang akan berjalan pada semester akhir 2011/2012 yaitu praktikum farmasi fisika , praktikum teknologi sediaan farmasi padat dan praktikum teknologi sediaan farmasi steril. Pelatihan ini merupakan upaya realisasi pengembangan kecakapan di bidang farmasetika yang diharapkan mampu menjawab pengembangan konsep ilmu dan teknologi kefarmasian.

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI TATA TERTIB LABORATORIUM FARMASETIKA PERATURAN DASAR PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL STANDAR PENILAIAN BAGIAN 1. PENGANTAR I. METODE-METODE STERILISASI II. PERHITUNGAN TONISITAS, OSMOLARITAS DAN MILI EQUIVALENT ION-ION III. DAPAR DAN PERHITUNGANNYA BAGIAN 2. PERCOBAAN-PERCOBAAN SEDIAAN STERIL MATA DAN HIDUNG I. FORMULASI SEDIAAN SALEP MATA II. FORMULASI SEDIAAN TETES MATA III. FORMULASI SEDIAAN TETES HIDUNG SEDIAAN PARENTERAL IV. FORMULASI SEDIAAN PARENTERAL VOLUME KECIL : AMPUL V. FORMULASI SEDIAAN PARENTERAL VOLUME KECIL : VIAL VI. FORMULASI SEDIAAN PARENTERAL VOLUME VESAR : INFUS INTRAVENA UJI STERILITAS DAN PIROGENITAS VII. UJI STERILITAS VIII. UJI PIROGENITAS DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN I FORMAT JURNAL FORMULA LAMPIRAN II FORMAT BATCH PROCESSING RECORD

PERATURAN UMUM PRAKTIKUM TEKNOLOGI LABORATORIUM STERIL 1. Setiap mahasiswa wajib mengenakan jas praktikum pada saat diskusi dan mengenakanjas praktikum dan masker saat pengerjaan sediaan 2. Setiap kelompok wajib mendiskusikan formulanya pada asisten pendamping, melengkapi jurnal dan hasil diskusi sebelum praktikum berlangsung 3. Kelompok yang tidak menyelesaikan kewajibannya, tetap harus menyelesaikannya setelah praktikum dan diperiksakan hingga berhak mendapatkan nilai 4. Setiap mahasiswa wajib mengerjakan tugas pendahuluan dan mengikuti responsi sebelum praktikum dimulai 5. Setiap kelompok wajib membawa pustaka yang dipergunakan saat menyusun formula maupun pustaka lain yang relevan pada saat minggu diskusi 6. Setiap mahasiswa wajib membawa perlengkapan lab sesuai kebutuhan pada saat pembuatan sediaan 7. Setiap mahasiswa wajib mengikuti tatib tersebut diatas, dan tiap pelanggaran akan dikenakan sanksi berupa pengurangan nilai

STANDAR PENILAIAN No. 1. Item yang dinilai Tugas Pendahuluan Kriteria Kelengkapan dan kesesuaian isi tugas dan ketepatan waktu pengumpulan tugas Kesesuaian jawaban Range nilai 0-100 Sanksi Keterangan Diberikan setiap minggu

2.

Responsi

0-100

3.

Keaktifan

4.

Jurnal Formula

Keaktifan selama proses diskusi formula berlangsung dan saat pembuatan sediaan, partisipasi dalam diskusi, kerja sama tim, kemampuan menyampaikan argumen dan bantahan Kelengkapan dan kesesuaian isi, ketepatan waktu, keaktifan saat berinteraksi dengan asisten dan tata krama

Pengurangan nilai diberikan apabila melakukan kecurangan dan tidak tertib 40-100 Pengurangan nilai diberikan apabila tidak tertib atau melakukan aktivitas lain yang tidak berhubungan dengan diskusi tanpa seizin asisten 0-100 Pengurangan nilai diberikan apabila isi jurnal tidak sesuai dan tidak lengkap pada waktunya, atau jika terlambat mengumpulkan jurnal Pengurangan nilai diberikan apabila isi hasil diskusi tidak sesuai dan tidak lengkap pada waktunya, atau jika terlambat mengumpulkan hasil diskusi

Diberikan setiap minggu

Diberikan setiap minggu

Diberikan setiap minggu diskusi formula

5.

Hasil diskusi

Kelengkapan dan kesesuaian isi, ketepatan waktu, keaktifan saat berinteraksi dengan asisten dan tata krama

0-100

Diberikan setiap minggu diskusi formula dan dasar teori

6. 7.

Diskusi Akhir Sediaan

Kesesuaian jawaban dengan pertanyaan saat Kesesuaian bobot dan volume, estetika sediaan, dan kebersihan cara pengerjaan.

0-100 50-100

Diberikan setiap minggu Diberikan setiap minggu diskusi formula

METODE METODE STERILISASI


Steril, Sterilitas dan Sterilisasi Steril adalah suatu kondisi absolut di mana bebas dari mikroorganisme hidup yang dapat muncul dari metode, wadah dan rute pemberian dengan suatu pembatasan, kemungkinan tersebut tidak lebih 1 bagian non-steril dalam sejuta bagian steril. Sterilitas adalah karakteristik yang diisyaratkan untuk sediaan farmasetik bebas dari mikroorganisme hidup meliputi metode, wadah atau rute pemakaian. Sterilisasi adalah suatu proses mengurangi, menghilangkan, menghancurkan, membunuh mikroorganisme dan spora yang hidup dari sediaan, bahan atau material untuk menghasilkan keadaan yang steril. Metode sterilisasi Sterilisasi fisika : Pemanasan

Pemanasan Kering

Pemanasan Basah

Oven Minyak dan Penangas lain Pemijaran langsung Uap bertekanan Uap panas 1000 C, Air mendidih, Pemanasan dengan bakterisid

Non pemanasan

Sinar UV Radiasi Pengion Gamma

Sterilisasi Kimia : Uap / gas Sterilisasi Mekanik : Filter Seitz Filter Swinny Filter Fritted-Glass Filter Berkefeld n Mandley Selas Filter Filter Chamberland Pasteur

PERHITUNGAN TONISITAS Tonisitas adalah tekanan osmotik yang diberikan oleh zat-zat dalam larutan berair yang
dipisahkan oleh suatu membran semipermeabel. Cairan mata dan cairan tubuh lainnya memberikan tekanan osmotik yang hampi sama dengan garam fisiologis atau NaCl 0,9%.

Beberapa rumus perhitungan tonisitas


1. 2. 3. 4. 5. Rumus Catelyn Rumus PTB (Penurunan Titik Beku) Rumus Farmakope Belanda Grafik Equivalen NaCl

Contoh Perhitungan tonisitas menggunakan Rumus PTB (Penurunan Titik Beku) W = 0,52 a.c b PTB polimiksin B-sulfat PTB neomicin sulfat PTB dexametason Na-fosfat PTB Benzalkonium Cl PTB Na2EDTA PTB Na2HPO4 PTB NaH2PO4 PTB NaCl W = 0,52 a.c b = 0,52-(0,04 x 0,2 + 0,06 x 0,07 + 0,09 x 0,05 + 0,09 x 0,01+0,13 x 0,1 + 0,26 x 0,28 + 0,24 x 0,21)
0,576

= 0,04 = 0,06 = 0,09 = 0,09 = 0,13 = 0,24 = 0,26 = 0,576

a1 = 0,2% a2 = 0,07% a3 = 0,05% a2 = 0,01% a3 = 0,1% a4 = 0,21% a5 = 0,28%

= 0,52 0,1538 0,576 = 0,64 g/100 ml (hipotonis) Untuk 10 ml diperlukan 0,064 g NaCl

DAPAR DAN PERHITUNGANNYA Dapar atau larutan penyangga adalah suatu larutan yang terdiri dari asam lemah dengan garamnya (basa konjugasinya) atau suatu basa lemah dengan asam konjugasinya, yang dapat mncegah terjadinya perubahan pH yang besar yang dihasilkan dari penambahan sejumlah kecil asam atau basa dalam larutan atau sediaan. Kapasitas dapar adalah keefektifan suatu sistem dapar untuk mencegah perubahan pH ke satu unit pH terhadap 1 liter laruta dapar. Contoh perhitungan dapar
Perhitungan Kapasitas dapar pH = 6,5 NaH2PO4 = 0,56 %b/v Na2HPO4 = 0,284%b/v gr M NaH2PO4 = BM x L

BM = 120,01 BM = 142,14 0,56 = = 0,047 M 120,01 x 0,1

gr M Na2HPO4= BM x L pKa dapar fosfat Ka = 7,2 =

0,284 = 0,02 M 142,14 x 0,1

= - antilog pKa = 6,3 x 10-8

pH dapar fosfat [H+]

= 6,5 = - antilog pH

= 3,16 x 10-7 = NaH2PO4 + Na2HPO4 = 0,047 + 0,02 = 0,067 M = 2,3 x C x [H+] Ka {[H+] + Ka}2 = 2,3 x 0,067 x (3,16 x 10-7. 6,3 x 10-8) (3,16 x 10-7+ 6,3 x 10-8)2 = 0,021

Kapasitas dapar

Untuk pH = 7 [H+] = - antilog pH = 10-7 0,021 = 2,3 x C x [H+] Ka {[H+] + Ka}2 0,021 = 2,3 x C x (10-7. 6,3 x 10-8) (10-7+ 6,3 x 10-8)2 C pH = 0,0385 = pKa + log [garam] [asam] = 7,2 + log [garam] [asam] = -0,2

log [garam] [asam]

[garam] [asam]

= 0,63

C 0,0385 0,0385

= [asam fosfat] + [garam fosfat] = [asam fosfat] + 0,63[asam fosfat] = (1 + 0,63)[asam fosfat]

[asam fosfat] = 0,0236 M [garam fosfat] = [asam fosfat]0,63 = 0,0236x0,63 = 0,0148 M

[asam fosfat] = 0,0236 M g = M x BM x L = 0,0236 x 120,01 x 1 = 2,832 g %b/v = 2,832 g/L = 0,28 g/100 ml = 0,28 % [garam fosfat] = 0,0148 M g = M x BM x L = 0,0148 x 142,14 x 1 = 2,1036 g %b/v = 2,1036 g/L = 0,21 g/100 ml = 0,21 %

PERCOBAAN 1 FORMULASI SEDIAAN SALEP MATA TUJUAN PERCOBAAN Pada percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami cara memformulasi sediaan salep mata, mengetahui faktor faktor yang harus dipertimbangan dalam pemilihihan basis, serta aksi terapetik dari bahan aktif TEORI SINGKAT Mata manusia adalah organ yang paling sensitif. Maka bereaksi dengan cepat. Sampai mendekati perubahan apapun dalam lingkungannya. Meskipun mata memiliki kemampuan pertahanan melalui cairan lakrimal dan enzim lisosim, namun perlu dpertmbangkan adanya ketkmampuan mata terhadap beberapa jenis mikroba seperti P. aeruginosa. Salep mata adalah sediaan steril yang mengandung bahan kimia yang terbagi halus dalam basis, yang digunakan pada mata dimana obat dapat kontak dengan mata dan jaringan tanpa tercuci oleh air mata dan memerlukan perhatian khusus dalam pembuatannya. Syarat-syarat Salep mata a. Steril. b. Dibuat dari bahan-bahan yang disterilkan di bawah kondisi aseptik. c. Sterilitas akhir dari salep dalam tube dengan radiasi gamma. d. Mengandung bahan untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme berbahaya. e. Bebas dari partikel besar. Basis yang digunakan tidak mengiritasi mata, mampu mempertahankan aktivitas obat pada jangka waktu tertentu selama penyimpanan. FORMULA-FORMULA Berikut adalah beberapa jenis formula yang kita akan pelajari: 1. Salep mata dengan zat aktif anti-infeksi Misalnya: Asiklovir, Kloramfenikol, Mikonazol, dll 2. Lubricating eye ointment 3. Salep mata anti-inflamasi Misalnya: Dexametason, Diklofenak, Betametason, dll. 4. Salep mata untuk penyakit mata lainnya Misalnya : Atropin Sulfat, Asam Fusidat, Timolo, NaCl, dll. TUGAS PENDAHULUAN 1. Jelaskan keunggulan bentuk sediaan salep mata dari bentuk sediaan mata yang lain? 2. Jelaskan dengan gambar, anatomi mata dan jalur-jalur penetrasi obat pada mata 3. Mengapa salep mata tidak diikutkan pada terminal sterilization, tetapi dikerjakan secara aseptis

4. Carilah prosedur yang benar tentang cara penggunaan salep mata yang benar! Buatlah contoh brosur obat dengan formula standar salep mata asiklovir yang anda ketahui! 5. Jika Atropin akan diformulasi menjadi suatu sediaan mata, jelaskan tentang : a. Pemilihan bentuk zat aktif, apakah anda menggunakan bentuk basa bebas atau bentuk garamnya? b. Sifat basis apa yang anda inginkan untuk formulasi ini? c. Urgensi penambahan antioksidan, jenis antioksidan apa yang anda gunakan? Jelaskan proses oksidasi dan mekanisme oksidasi seperti apa yang anda khawatirkan terjadi pada sediaan anda! MATERI PENDUKUNG Sebelum menyusun formula salep mata, sebaiknya anda memperdalam untuk mempelajari materi yang berhubungan dengan salep mata. Hal-hal yang penting dipelajari mencakup: 1. Teori awal mengenai sterilitas, tonisitas, osmolaritas dan lainnya. 2. Definisi tetes salep 3. Syarat-syarat sediaan salep mata 4. Anatomi dan fisiologi mata 5. Alasan dipersyaratkannya sterilitas pada sediaan salep mata 6. Keuntungan sediaan salep mata dibanding sediaan mata yang lain 7. Kekurangan sediaan salep mata dibanding sediaan mata yang lain 8. Cara pembuatan salep mata 9. Sistem pewadahan salep mata 10. Evaluasi sediaan salep mata

FORMULA SALEP MATA FORMULA DISETUJUI UNTUK TETES MATA .. Bahan aktif : _________________________ Bahan tambahan : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ ALAT YANG DIBUTUHKAN Alat Untuk Proses Produksi No. Jenis Alat Spesifikasi/Ukuran 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Alat Untuk Sterilisasi No. Jenis Alat 1. Autoklaf 2. Oven 3. 4. Tabel Sterilisasi No. Jenis Alat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Jumlah

Keterangan

Spesifikasi/Ukuran

Jumlah

Keterangan

Cara Sterilisasi

Pustaka

Masuk

Keluar

SIKLUS PRODUKSI SEDIAAN

PEMBAHASAN FORMULA DAN HASIL EVALUASI ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________

PERCOBAAN 2 FORMULASI SEDIAAN TETES MATA TUJUAN PERCOBAAN Pada percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami cara memformulasi sediaan tetes mata, mengetahui faktor faktor yang harus dipertimbangan dalam pemilihihan pembawa, serta aksi terapetik dari bahan aktif TEORI SINGKAT Mata manusia adalah organ yang paling sensitif. Maka bereaksi dengan cepat. Sampai mendekati perubahan apapun dalam lingkungannya. Meskipun mata memiliki kemampuan pertahanan melalui cairan lakrimal dan enzim lisosim, namun perlu dpertmbangkan adanya ketidakmampuan mata terhadap beberapa jenis mikroba seperti P. aeruginosa. Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi atau larutan berminyak yang dimasukkan ke dalam mata atau succus konjungtiva dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir, sekitar kelopak mata dan bola mata yang terluka dalam beberapa bentuk dosis yang diberikan dengan volume atau berat dosis yang tepat. Syarat-syarat tetes mata : a. Harus steril. b. Mengandung bahan pengawet (jika dosis ganda). c. Tonisitas sediaan atau larutan mata dipertimbangkan bersifat isotonis atau tonisitas sama dengan cairan fisiologi tubuh atau dengan 0,9% larutan NaCl. d. Bebas dari partikel-partikel asingdan untuk suspensi mata ukuran partikel yang diisyaratkan 10 m tidak lebih dari 50 ml, 25 m tidak lebih dari 5 ml, dan untuk >50 m tidak diizinkan kehadirannya. e. Stabil secara terapetis membutuhkan kemurnian bahan yang tinggi juga bebas dari kontaminan kimia, fisika, dan kontaminan mikroba. f. Buffer dan pH idealnya seperti nilai pH cairan mata yaitu 7,4. g. Tidak perlu bebas pirogen h. Bebas dari efek mengiritasi i. Dibuat pada kondisi yang aseptis dan/atau melalui cara sterilisasi akhir dengan autoklaf serta pensterilan dengan pemanasan dengan bakterisid atau penyaringan larutan. j. Pengemasan dilakukan pada wadah yang steril, kecil, dan praktis Viskositas yang diisyaratkan 15-25 cps dan untuk larutan mata secara normal harus jernih yang dicapai dengan filtrasi. FORMULA-FORMULA Berikut adalah beberapa jenis formula yang kita akan pelajari: 1. Tetes mata dengan zat aktif anti-infeksi Misalnya: Na Sulfasetamid, Polimixin B Sulfat, Neomisin Sulfat, Kloramfenikol, dll. 2. Artificial tears dan tetes mata lubrikasi

3.

Tetes mata anti-inflamasi Misalnya: Dexametason, Diklofenak, Betametason, dll 4. Tetes mata untuk indikasi lain Misalnya: Pilokarpin, Atropin, dll. 5. Tetes mata dengan zat aktif kombinasi TUGAS PENDAHULUAN 1. Jelaskan keunggulan bentuk sediaan tetes mata dari bentuk sediaan mata yang lain? 2. Jelaskan pentingnya disolusi obat pada cairan lakrimal, hubungkan dengan teori yang dikemukakan oleh Kinsey! Proses apa yang terjadi? 3. Berikan pendapat anda yang didukung oleh pustaka tentang pendaparan sediaan tetes mata! Apakah suatu sediaan tetes mata harus di dapar? Jenis dapar apa yang umum dipilih? Apakah dapar dengan kapasitas dapar besar atau kecil? Jelaskan dengan alasan dan pustaka yang mendukung! 4. Carilah prosedur yang benar tentang cara penggunaan tetes mata yang benar! Buatlah contoh brosur obat dengan formula standar tetes mata pilokarpin yang anda ketahui! 5. Jika Pilokarpin akan diformulasi menjadi suatu sediaan mata, jelaskan tentang : a. Pada pH berapa sebaiknya formula di buat, pH kestabilan bahan paling baik atau pH fisiologis cairan lakrimal? Yang mana yang paling efektif? b. Jenis dapar yang anda pilih! c. Apa yang harus diperhatikan pada pengawetan sediaan? Jelaskan bahan pengawet yang anda pilih dan alasan yang jelas mengenai pemilihannya! d. Apakah formula diatas membutuhkan tambahan pengisotonis? Buatlah contoh perhitungan tonisitas menggunakan bahan-bahan yang anda pilih dalam formula tetes mata pilokarpin tersebut! MATERI PENDUKUNG Sebelum menyusun formula tetes mata, sebaiknya anda memperdalam untuk mempelajari materi yang berhubungan dengan tetes mata. Hal-hal yang penting dipelajari mencakup: 1. Teori awal mengenai sterilitas, tonisitas, osmolaritas dan lainnya. 2. Definisi tetes mata 3. Syarat-syarat sediaan tetes mata 4. Komposisi tetes mata 5. Alasan dipersyaratkannya sterilitas pada sediaan tetes mata 6. Keuntungan sediaan tetes mata dibanding sediaan mata yang lain 7. Kekurangan sediaan tetes mata dibanding sediaan mata yang lain 8. Sistem pewadahan salep mata

FORMULA TETES MATA FORMULA DISETUJUI UNTUK TETES MATA .. Bahan aktif : _________________________ Bahan tambahan : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ ALAT YANG DIBUTUHKAN Alat Untuk Proses Produksi No. Jenis Alat Spesifikasi/Ukuran 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Alat Untuk Sterilisasi No. Jenis Alat 1. Autoklaf 2. Oven 3. 4. Tabel Sterilisasi No. Jenis Alat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Jumlah

Keterangan

Spesifikasi/Ukuran

Jumlah

Keterangan

Cara Sterilisasi

Pustaka

Masuk

Keluar

SIKLUS PRODUKSI SEDIAAN

PEMBAHASAN FORMULA DAN HASIL EVALUASI ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________

PERCOBAAN 3 FORMULASI SEDIAAN TETES HIDUNG TUJUAN PERCOBAAN Pada percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami cara memformulasi sediaan tetes hidung, mengetahui faktor faktor yang harus dipertimbangan dalam pemilihihan pembawa, serta aksi terapetik dari bahan aktif TEORI SINGKAT Tetes hidung yang biasa juga disebut spray atau collunaria didefenisikan sebagai cairan atau larutan berminyak yang dimaksudkan untuk penggunaan topikal pada daerah nasofaring, dapat mengandung zat pensuspensi, pendapar dan pengawet. Mengandung zat adrenergik yang digunakan untuk aktivitas pemampatan pada mukosa hidung, obat yang biasanya digunakan termasuk vasokonstriktor, antibiotik, kortikosteroid, antiseptik dan anastetik lokal, diantaranya ada dalam bentuk suspensi yang mengandung bahan tidak larut air serta gel dan salep nasal semipadat untuk penggunaan hidung secara lokal atau sistemik Syarat-syarat pembawa untuk sediaan hidung: a. Mempunyai pH dalam rentang 5,5-7,5, lebih dipilih kurang dari 7. b. Mempunyai kapasitas buffer yang baik. c. Isotonik atau mendekati isotonik. d. Tidak mengubah viskositas normal mukus. e. Dapat bercampur dengan gerakan silia normal dan bahan ionik sekresi nasal. f. Dapat bercampur dengan bahan aktif. g. Cukup stabil untuk menyimpan aktivitas diperpanjang, sepanjang penggunaan pasien sendiri. Mengandung pengawet untuk menekan pertumbuhan bakteri yang mungkin ada melalui penetes. FORMULA-FORMULA Berikut adalah beberapa jenis formula yang kita akan pelajari: 1. Tetes hidung dengan zat aktif dekongestan Misalnya: Efedrin, Loratadin 2. Tetes hidung anti-inflamasi dan kombinasinya Misalnya: Dexametason, Diklofenak, Betametason, dll 3. Tetes hidung untuk indikasi lain Misalnya: Zink Sulfat

TUGAS PENDAHULUAN 1. Jelaskan tentang penghantaran obat nasal? Jelaskan pula bentuk-bentuk sediaannya dan keunggulan bentuk sediaan tetes hidung! 2. Jelaskan tentang anatomi hidung dan faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi obatobat topikal nasal! Apakah ada kemungkinan obat yang diberikan secara topikal memberikan efek sistemik pada tubuh? Bagaimana pula hubungannya dengan teori yang dikemukakan oleh Tandorf? 3. Jelaskan tentang fisiologi hidung, dan bagaimana silia hidung merespon terhadap obatobat yang diberikan kepadanya! 4. Bagaimana pendapat anda dengan penggunaan pembawa non-air pada sediaan tetes hidung? Jelaskan dengan pustaka yang mendukung! 5. Carilah prosedur yang benar tentang cara penggunaan tetes hidung yang benar! Buatlah contoh brosur obat dengan formula standar tetes hidung zink sulfat yang anda ketahui! 6. Jika Efedrin akan diformulasi menjadi suatu sediaan tetes hidung, jelaskan tentang : a. Pada pH berapa sebaiknya formula di buat, pH kestabilan bahan paling baik atau pH fisiologis cairan hidung? Bagaimana pengaruh pH sediaan pada fisiologi normal hidung? b. Apa bentuk obat yang anda gunakan? Basa bebas atau garamnya? Jelaskan alasannya! c. Apakah formula diatas membutuhkan tambahan pendapar? Buatlah contoh perhitungan dapar menggunakan bahan-bahan yang anda pilih dalam formula tetes mata pilokarpin tersebut! MATERI PENDUKUNG Sebelum menyusun formula tetes hidung, sebaiknya anda memperdalam untuk mempelajari materi yang berhubungan dengan tetes hidung. Hal-hal yang penting dipelajari mencakup: 1. Teori awal mengenai sterilitas, tonisitas, osmolaritas dan lainnya. 2. Anatomi dan fisiologi hidung 3. Definisi tetes hidung 4. Syarat-syarat sediaan tetes hidung 5. Komposisi tetes hidung 6. Respon silia terhadap obat 7. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi obat pada hidung dan teori yang dikemukakan oleh Tondorf 8. Keuntungan sediaan tetes hidung 9. Kekurangan sediaan tetes hidung 10. Bentuk sediaan nasal yang lain 11. Pewadahan tetes hidung

FORMULA TETES HIDUNG FORMULA DISETUJUI UNTUK TETES HIDUNG .. Bahan aktif : _________________________ Bahan tambahan : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ ALAT YANG DIBUTUHKAN Alat Untuk Proses Produksi No. Jenis Alat Spesifikasi/Ukuran 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Alat Untuk Sterilisasi No. Jenis Alat 1. Autoklaf 2. Oven 3. 4. Tabel Sterilisasi No. Jenis Alat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Jumlah

Keterangan

Spesifikasi/Ukuran

Jumlah

Keterangan

Cara Sterilisasi

Pustaka

Masuk

Keluar

SIKLUS PRODUKSI SEDIAAN

PEMBAHASAN FORMULA DAN HASIL EVALUASI ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________

PERCOBAAN 4 FORMULASI SEDIAAN PARENTERAL VOLUME KECIL : AMPUL TUJUAN PERCOBAAN Pada percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami cara memformulasi sediaan parenteral volume kecil dalam wadah ampul, mengetahui faktor faktor yang harus dipertimbangan dalam pemilihihan pembawa, memahami hubungan indikasi bahan dengan pemilihan wadah dan jalur pemberian sediaan. TEORI SINGKAT Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk halus yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalaui kulit atau selaput lendir. Semua bentuk sediaan yang diberikan secara parenteral, larutan oftalmik dan beberapa sediaan lain disyaratkan steril karena jalur pemberiannya. Karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam tubuh, sediaan ini tidak melalui garis pertama pertahanan tubuh sehingga sediaan nonsteril yang langsung diinjeksikan sangat berbahaya. Selai itu dalam formulasi sediaan parenteral, tonisitas sangat diperhatikan karena bahaya hemolisis atau krenasi eritrosit. Ampul adalah wadah gelas silindir berdinding tipis yang memiliki leher jepit yang rusak sekali pakai dan digunakan untuk dosis tunggal dengan volume berkisar antara 0,5-100 ml pada keadaan tertentu yang kedap udara dan tertutup rapat sehingga mengurangi kontaminasi lingkungan dengan isi ampul. FORMULA-FORMULA Berikut adalah beberapa jenis formula yang kita akan pelajari: 1. Injeksi IV dosis tunggal Misalnya: Teofilin, Metampiron, Vitamin B, dll 2. Injeksi rute lain untuk dosis tunggal Misalnya: Estradiol dan hormon-hormon kortikosteroid lainnya 3. Injeksi untuk tujuan lain, Misalnya: MgSO4 TUGAS PENDAHULUAN 1. Jelaskan tentang pemberian intravena! Jelaskan lebih banyak lagi tentang rute-rute pemberian yang membutuhkan perhatian khusus pada formulasinya, misalnya intramuskular, intraspinal, subkutan, dll. 2. Jelaskan tentang pemilihan bahan dalam formulasi sediaan parenteral dosis tunggal! Apakah sediaan perlu pendaparan atau tidak, jelaskan alasannya!

3. Apa yang anda pahami tentang tonisitas dan osmolaritas? Apakah kaitan keduanya? Mengapa larutan asam borat 1,9% dikatakan isotonis terhadap eritrosit tetapi tidak isoosmotik dengan eritrosit? 4. Bagaimana cara pemberian obat yang tonisitas dan osmolaritasnya sangat menyimpang dari tonisitas dan osmolaritas darah pada pemberian injeksi IV bolus? 5. Jika Dekstrosa 40% akan diformulasi menjadi suatu sediaan IV dosis tunggal bolus, jelaskan tentang : a. Cara pemberian yang dapat ditempuh untuk mengatasi penyimpangan besar dari tonisitas dan osmolaritasnya! b. Proses sterilisasi dan wadah gelas tipe apa yang akan digunakan? MATERI PENDUKUNG Sebelum menyusun formula sediaan parenteral volume kecil dalam wadah ampul, sebaiknya anda memperdalam untuk mempelajari materi yang berhubungan dengan injeksi. Hal-hal yang penting dipelajari mencakup: 1. Teori awal mengenai sterilitas, tonisitas, osmolaritas dan lainnya. 2. Definisi injeksi 3. Definisi ampul 4. Rute-rute injeksi 5. Keuntungan sediaan injeksi 6. Kekurangan sediaan injeksi 7. Komposisi injeksi 8. Syarat-syarat injeksi 9. Bahaya sediaan nonsteril pada pemberian intravena 10. Cara pengisian ampul 11. Cara penyegelan ampul 12. Tipe-tipe gelas dan pewadahan ampul 13. Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi obat yang diinjeksikan secara subQ atau i.m. ke dalam sirkulasi

FORMULA SEDIAAN PARENTERAL VOLUME KECIL : AMPUL FORMULA DISETUJUI UNTUK INJEKSI .. Bahan aktif : _________________________ Bahan tambahan : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ ALAT YANG DIBUTUHKAN Alat Untuk Proses Produksi No. Jenis Alat Spesifikasi/Ukuran Jumlah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Alat Untuk Sterilisasi No. Jenis Alat 1. Autoklaf 2. Oven 3. 4. Tabel Sterilisasi No. Jenis Alat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Keterangan

Spesifikasi/Ukuran

Jumlah

Keterangan

Cara Sterilisasi

Pustaka

Masuk

Keluar

SIKLUS PRODUKSI SEDIAAN

PEMBAHASAN FORMULA DAN HASIL EVALUASI ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________

PERCOBAAN 5 FORMULASI SEDIAAN PARENTERAL VOLUME KECIL : VIAL TUJUAN PERCOBAAN Pada percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami cara memformulasi sediaan parenteral volume kecil dalam wadah vial, mengetahui faktor faktor yang harus dipertimbangan dalam pemilihihan pembawa, memahami hubungan indikasi bahan dengan pemilihan wadah dan jalur pemberian sediaan. TEORI SINGKAT Vial adalah wadah dosis ganda, disegel dengan karet atau tutup plastik yang kecil, daerah tipis (diafragma) di tengah. Isinya didesain supaya jarum suntik jarum suntik mudah dimasukkan tanpa pelepasan fragmen dan akan tertutup setelah penarikan jarum. Ketersediaan wadah dosis ganda yang bersegel dengan penutup karet memberikan dosis yang fleksibel dan mengurangi unit biaya per satuan dosis. Dibandingkan dengan ampul, tidak akan ada masalah gelas partikel yang dapat masuk dalam produk ketika penggunaannya. Tetapi jenis wadah ini memberikan masalah sendiri dengan adanya tutup karet. Beberapa masalah dapat timbul akibat interaksi cairan obat dengan penutup karet, sehingga perlu ada pertimbangan lain dalam formulasi untuk mengatasi masalah tersebut FORMULA-FORMULA Berikut adalah beberapa jenis formula yang kita akan pelajari: 1. Injeksi IV dosis ganda Misalnya: Fenobarbital 2. Injeksi rute lain untuk dosis ganda Misalnya: Prokain 3. Injeksi dosis tunggal dalam wadah vial Misalnya: Iopamidol, Amoxicillin TUGAS PENDAHULUAN 1. Jelaskan pendapat anda tentang masalah yang ditimbulkan oleh penutup karet! Faktorfaktor apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam formulasi yang berhubungan dengan masalah yang ditimbulkan oleh penutup karet 2. Jelaskan tentang pewadahan sediaan dosis tunggal dalam vial! Bagaimana pendapat anda? Bandingkan dengan pewadahan dosis tunggal dalam ampul! 3. Jelaskan tentang coring dan leaching! 4. Jika Ampisilin akan diformulasi menjadi suatu sediaan IV dosis tunggal bolus, jelaskan tentang : a. Mengapa sediaan ini dikemas dalam wadah vial?

b. Jelaskan tentang pemilihan bentuk zat aktifnya! MATERI PENDUKUNG Sebelum menyusun formula parenteral volume kecil dalam wadah vial, sebaiknya anda memperdalam untuk mempelajari materi yang berhubungan dengan tetes hidung. Hal-hal yang penting dipelajari mencakup: 1. Teori awal mengenai sterilitas, tonisitas, osmolaritas dan lainnya. 2. Teori-teori tentang injeksi yang dipelajari sebelumnya 3. Definisi vial 4. Keuntungan sediaan injeksi bentuk vial 5. Kekurangan sediaan injeksi bentuk vial 6. Cara penyegelan vial 7. Masalah-masalah yang ditimbulkan oleh penutup karet

FORMULA SEDIAAN PARENTERAL VOLUME KECIL : VIAL FORMULA DISETUJUI UNTUK INJEKSI .. Bahan aktif : _________________________ Bahan tambahan : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ ALAT YANG DIBUTUHKAN Alat Untuk Proses Produksi No. Jenis Alat Spesifikasi/Ukuran Jumlah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Alat Untuk Sterilisasi No. Jenis Alat 1. Autoklaf 2. Oven 3. 4. Tabel Sterilisasi No. Jenis Alat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Keterangan

Spesifikasi/Ukuran

Jumlah

Keterangan

Cara Sterilisasi

Pustaka

Masuk

Keluar

SIKLUS PRODUKSI SEDIAAN

PEMBAHASAN FORMULA DAN HASIL EVALUASI ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________

PERCOBAAN 6 FORMULASI SEDIAAN PARENTERAL VOLUME BESAR : INFUS IV TUJUAN PERCOBAAN Pada percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami cara memformulasi sediaan parenteral volume besar, mengetahui faktor faktor yang harus dipertimbangan dalam pemilihihan pembawa, memahami hubungan indikasi bahan dengan pemilihan wadah dan jalur pemberian sediaan. TEORI SINGKAT Larutan intravena volume besar mengarah pada injeksi yang di maksudkan untuk penggunaan intravena, dan di kemas dalam wadah kapasitas 100 ml atau lebih. Larutan volume besar steril lain termasuk digunakan untuk irigasi atau dialysis. Dapat di kemas dalam wadah di tandai kosong dan dapat mengandung volume besar lebih dari 1000 ml. Di kemas dalam unit dosis tunggal dalam wadah plastic atau gelas yang cocok, penambahan penandaan steril bebas pirogen dan bebas bahan partikulat karena diberikan dalam jumlah besar, bahan bakteriostatik tidak pernah di masukkan untuk mengurangi keracunan yang di hasilkan dari jumlah bahan bakteriostatik yang di berikan. Tujuan: a. Mengembalikan keseimbangan cairan dan elektrolit pada pasien yang menderita dehidrasi, schock, atau terluka b. Memberikan nutrisi dalam keadaan dimana pasien tidak dapat menerima nutrisi secara oral c. Beraksi sebagai pembawa beberapa bahan obat Cara Pemberian Infus a. Terapi Berkelanjutan - Infus Intravena - Hook-Ups b. Terapi Antara - Metode Piggyback - Pemberian Intravena Langsung (Bolus) - Metode Pengontrolan Voume FORMULA-FORMULA Berikut adalah beberapa jenis formula yang kita akan pelajari: 1. Infus IV sebagai nutrisi dasar dan elekrtrolit Misalnya: NaCl fisiologis, Ringers, Dextrosa 2. Infus IV yang mengandung bahan aktif terapetik Misalnya: Metronidazol, NH4Cl, NaHCO3 3. Infus IV sebagai plasma ekspander dan indikasi lainnya Misalnya : Hestarch, Dextran, Manitol

TUGAS PENDAHULUAN 1. Jelaskan tentang perbedaan injeksi tipe bolus dan injeksi tipe infus! 2. Jelaskan tentang jenis-jenis terapi infus! 3. Jelaskan tentang komplikasi yang dapat terjadi saat pemberian intravena! 4. Jelaskan tentang intraveus admixture! 5. Jika suatu infus diberikan secara piggyback, jelaskan jenis sediaan apa yang umumnya diberikan dengan metode tersebut! Jelaskan pula jenis larutan infus apa saja yang dapat digunakan sebagai pengencernya! 6. Mengapa sediaan parenteral volume besar tidak diberikan dalam bentuk dosis ganda? 7. Jika Dextrosa 10% akan diformulasi menjadi suatu sediaan IV infus, jelaskan tentang : a. Laju pemberian infusnya, jelaskan hubungannya dengan tonisitas cairan infus tersebut! b. Metode sterilisasi yang dapat ditempuh! c. Pada pH berapa larutan diformulasikan? Bagaimana pendapat anda tentang penggunaan dapar pada sediaan IV tipe infus!

MATERI PENDUKUNG Sebelum menyusun formula parenteral volume kecil besar, sebaiknya anda memperdalam untuk mempelajari materi yang berhubungan infus intravena. Hal-hal yang penting dipelajari mencakup: 1. Teori awal mengenai sterilitas, tonisitas, osmolaritas dan lainnya. 2. Teori-teori tentang injeksi yang dipelajari sebelumnya 3. Definisi infus 4. Jenis-jenis sediaaj infus 5. Tujuan pemberian infus 6. Metode-metode pemberian infus 7. Masalah-masalah dalam pemberian infus dan injeksi IV lainnya 8. Infusion set 9. Perhitungan laju infus 10. Pirogen

Percobaan 7 Uji Sterilitas Menurut FI III : 889 Pengujian dilakukan dengan teknik aseptis yang cocok. Percontoh : Kecuali dinyatakan lain, digunakan jumlah bagian percontoh seperti tertera pada Daftar I, tidak termasuk bahan percontoh yang digunakan untuk menetapkan efektivitas pemberian. Daftar I Jumlah wadah dalam bets Jumlah bagian sampel

Kurang dari 100

10% atau 4, diambil yang lebih besar

Tidak kurang dari 100, tidak lebih dari 500

10

Lebih dari 500

2% atau 20%, diambil yang kecil

Untuk sediaan yang disterilkan dalam otoklaf pada suhu di atas 100 oC, jumlah percontoh yang digunakan dapat dikurangi, menjadi 10. Jika isi tiap wadah 250 ml atau lebih, jumlah percontoh yang digunakan dapat dikurangi menjadi 3. Jika isi tiap wadah kurang 1 ml cairan atau kurang dari 50 mg zat padat, maka jumlah percontoh yang digunakan adalah 3 kali jumlah yang tertera pada Daftar I. Daftar II Jumlah zat uji dalam wadah Cairan Kurang dari 1ml Tidak kurang dari 1 ml Tidak kurang dari 4 ml Jumlah zat yang diperlukan untuk Uji kuman Semua isi Uji jamur dan ragi Semua isi

Separuh isi

Separuh isi

Tidak kurang dari 4 ml Tidak kurang dari 20 ml Lebih dari 20 ml Padat Kurang dari 50 mg Tidak kurang dari 50 mg Tidak lebih dari 200 mg Lebih dari 200 mg Menurut FI IV : 858

2 ml 10% dari isi Semua isi

2 ml 10% dari isi Semua isi

Separuh isi 100 mg

Separuh isi 100 mg

Prosedur pengujian terdiri dari (1) inokulasi langsung ke dalam media uji dan (2) teknik penyaringan membran. Uji sterilitas untuk bahan Farmakope, jika mungkin menggunakan penyaringan membran, merupakan metode pilihan. Prosedur ini terutama berguna untuk cairan dan serbuk yang dapat larut yang bersifat bakteriostatik atau fungistatik, untuk memisahkan mikroba kontaminan dari penghambat pertumbuhan. Prosedur harus divalidasi untuk penggunaan tersebut. Dengan alasan yang sama, cara ini sangat berguna untuk bahan seperti minyak, salep, atau krem yang dapat melarut ke dalam cairan pengencer bukan bakteriostatik atau bukan fungistatik. Penggunaannya juga untuk uji sterilitas permukaan atau lumen kritis alat-alat kesehatan. Karena sifat bahan yang akan diuji bervariasi dan faktor lain yang mempengaruhi pada waktu melakukan uji sterilitas, maka perlu diperhatikan ketentuan berikut dalam melakukan uji sterilitas. Prosedur Uji Inokulasi Ke Dalam Media Uji CAIRAN Pindahkan cairan dari wadah uji menggunakan pipet atau jarum suntik steril. Secara aseptik diinokulasikan sejumlah tertentu bahan dari tiap wadah uji ke dalam tabung media. Campur media dengan cairan tanpa aerasi berlebihan. Inkubasi dalam media tertentu seperti yang tertera pada Prosedur Umum, selama tidak kurang dari 14 hari. Amati pertumbuhan pada media secara visual sesering mungkin sekurangnya pada hari ke-3 atau ke-4 atau ke-5, pada hari ke-7 atau ke-8 dan pada haru terakhir dari masa uji. Jika zat uji menyebabkan media menjadi keruh sehingga ada atau tidaknya pertumbuhan mikroba tidak segera dapat ditentukan secara visual, pindahkan sejumlah memadai media ke dalam tabung baru berisi media yang sama, sekurangnya 1 kali antara hari ke-3 atau ke-7 sejak pengujian dimulai. Lanjutkan inkubasi media awal dan media baru selama total waktu tidak kurang dari 14 hari sejak inokulasi awal. SALEP DAN MINYAK YANG TIDAK LARUT DALAM ISOPROPIL MIRISTAT Pilih 20 wadah yang mewakili, dibagi atas 2 kelompok terdiri dari 10 wadah dan diperlakukan tiap kelompok sebagai berikut: Secara aseptik pindahkan 100 mg dari tiap wadah dari 10 wadah ke dalam labu berisi 100 ml pembawa air steril yang dapat mendispersi homogen bahan uji dalam seluruh campuran cairan. [catatan pemilihan bahan pendispersi yang bercampur dengan pembawa air, dapat berbeda sesuai dengan sifat salep atau minyak. Sebelum digunakan secara rutin, uji bahan pendispersi untuk memastikan bahwa kadar yang digunakan tidak mempunyai efek antimikroba yang bermakna selama selang waktu inkubasi menggunakan prosedur uji seperti yang tertera pada bakteriostatik dan fungistatik]. Campur 10 ml alikot dari campuran cairan yang diperoleh dengan 80 ml tiap media dan lakukan penetapan seperti yang tertera pada cairan, mulai dari "inkubasi dalam media tertentu seperti.". ZAT PADAT Ambil sejumlah tertentu produk dalam bentuk padat kering (atau yang terlebih dahulu dibuat larutan atau suspensi dalam cairan pengencer steril) sesuai dengan tidak kurang dari 300 mg tiap wadah atau seluruh isi wadah jika tiap isi kurang dari 300 mg. Inokulasikan ke dalam masing-masing tidak kurang dari 40 ml media Tioglikolat cair dan Soybean-Casein Digest Medium. Jumlah wadah dan kondisi inkubasi sama seperti yang tertera pada Cairan, mulai dari "Amati pertumbuhan pada media..". ALAT KESEHATAN STERIL Ketentuan umum digunakan untuk alat kesehatan steril yang diproduksi dalam lot, masing-masing terdiri dari sejumlah unit. Ketentuan khusus digunakan untuk alat kesehatan steril yang diproduksi dalam jumlah kecil atau dalam unit individu yang akan mengalami kerusakan bila dilakukan uji sterilitas biasa. Untuk alat seperti itu, harus dilakukan modifikasi yang sesuai dan dapat diterima pada uji sterilitas.

Untuk alat yang bentuk fdan ukurannya memungkinkan dicelupkan keseluruhan ke dalam tidak lebih dari 1000 ml media, uji alat utuh menggunakan media yang sesuai, inkubasi seperti yang tertera pada prosedur umum. Lakukan seperti yang tertera pada cairan, mulai dari "Amati pertumbuhan pada media..". Untuk alat yang mempunyai pipa atau saluran seperti alat transfusi atau infus atau yang ukurannya menyebabkan pencelupan tidak dapat dilakukan dan hanya saluran cairannya yang harus steril, bilas lumen masing-masing dari 20 unit dengan sejumlah secukupnya media Tioglikolat Cair dan Soybean-Casein Digest Medium hingga diperoleh kembali tidak kurang dari 15 ml tiap media, dan inkubasi dengan tidak lebih dari 100 ml masing-masing media seperti yang tertera pada prosedur umum. Untuk alat dan lumen yang sangat kecil sehingga media Tioglikolat Cair tidak mengalir, gunakan media Tioglikolat alternatif, tetapi inkubasi dilakukan secara anaerob. Jika karena ukuran dan bentuk alat tidak dapat diuji dengan cara pencelupan, keseluruhannya ke dalam tidak lebih dari 1000 ml media, uji bagian alat yang paling sulit disterilisasi, jika mungkin lepaskan 2 atau lebih bagian yang paling dalam dari alat. Secara aseptik pindahkan bagian tersebut ke dalam sejumlah tertentu tabung berisi tidak kurang dari 1000 ml media yang sesuai. Inkubasi seperti yang tertera pada prosedur umum, lakukan penetapan seperti yang tertera pada cairan, mulai dari "Amati pertumbuhan pada media.". Jika spesimen uji dalam media mempengaruhi uji karena bakteriostatik atau fungistatik, bilas seksama alat dengan cairan pembilas sesedikit mungkin seperti yang tertera pada cairan pengencer dan pembilas. Peroleh kembali cairan bilasan dan uji seperti yang tertera pada Alat kesehatan dalam prosedur uji menggunakan penyaringan membran. ALAT SUNTIK KOSONG ATAU TERISI STERIL Uji sterilitas alat suntik terisi steril dilakukan sama seperti uji pada produk steril dalam ampul dan vial. Cara inokulasi langsung dapat digunakan jika penetapan bakteriostatik dan fungistatik telah menunjukkan aktivitas yang tidak merugikan dalam kondisi pengujian untuk alat suntim terisi yang dilengkapi jarum steril, keluarkan isi produk melalui lumen. Untuk alat suntik yang dikemas dalam jarum terpisah, secara aseptik pasang jarum dan pindahkan produk ke dalam media yang sesuai. Beri perhatian khusus yang menunjukkan bahwa bagian jarum yang disertakan (bagian yang akan masuk ke jaringan tubuh) adalah steril. Untuk alat suntik kosong steril, masukkan media atau pengencer steril ke dalam alat suntik melalui jarum yang disertakan, atau jika tidak disertakan melalui jarum steril yang dipasang untuk tujuan pengujian dan pindahkan isi dengan cepat ke dalam media yang sesuai. Jumlah untuk bahan cair Volume minimum tiap media Isi wadah (ml) Volume Digunakan Digunakan untuk Jumlah minimum untuk membran atau wadah per diambil dari inokulasi setengah bagian media tiap wadah langsung membran yang untuk tiap volume yang mewakili volume media diambil tiap total dari wadah wadah (ml) yang sesuai (ml) 20(40) jika volume tiap 1 ml atau Kurang dari wadah tidak seluruh isi jika 15 100 10 cukup untuk kurang 1 ml kedua medium 10 sampai 5 ml 40 100 20 kurang 50 50 sampai 10 ml 80 100 20 kurang 100 50 sampai Seluruh isi 100 10

kurang 100 dimaksudkan untuk pemberian i.v 100-500 Di atas 500

Seluruh isi 500 ml

100 100

10 10

Prosedur Uji Menggunakan Penyaringan Membran Jika teknik penyaringan membran digunakan untuk bahan cair yang dapat diuji dengan cara inokulasi langsung ke dalam media uji, uji tidak kurang dari volume dari jumlah seperti yang tertera pada pemilihan spesimen uji dan masa inkubasi. Peralatan: unit penyaring membran yang sesuai terdiri dari satu perangkat yang dapat memudahkan penanganan bahan uji secara aseptik dan membran yang telah diproses dapat dipindahkan secara aseptik untuk inokulasi ke dalam media steril ke dalam penyaringnya dan membran diinkubasi in situ. Membran yang sesuai umumnya mempunyai porositas 0,45 m, dengan diameter lebih kurang 47 mm, dan kecepatan penyaringan air 55 ml sampai 75 ml permenit pada tekanan 70 cm Hg. Unit keseluruhan dapat dirakit dan disterilkan bersama dengan membran sebelum digunakan atau membran dapat disterilkan terpisah dengan cara apa saja yang dapat mempertahankan karakteristik penyaring dan menjamin sterilitas penyaring dan perangkatnya. CAIRAN YANG DAPAT BERCAMPUR DENGAN AIR Secara aseptik pindahkan sejumlah volume tertentu yang dibuuhkan untuk kedua media seperti yang tertera pada tabel Jumlah untuk bahan cair dalam pemilihan spesimen uji dan masa inkubasi, langsung ke dalam satu atau dua corong penyaring membran terpisah atau ke dalam tabung penampung steril terpisah sebelum dipindahkan. Jika volume cairan dalam wadah kurang dari 50 ml atau 50 ml sampai kurang 100 ml dan tidak kurang dari 20 wadah diwakili satu membran, atau setengan bagian membran dipindahkan ke dalam tiap media. Jika volume cairan 50 ml sampai kurang dari 100 ml perwadah dan dimaksudkan untuk pemberian intravena, atau 100 ml sampai 500 ml, secara aseptik pindahkan seluruh isi tidak kurang dari 10 wadah melalui tiap penyaring dari dua rakitan penyaring atau tidak kurang dari 20 wadah jika hanya digunakan satu rakitan penyaring. Jika volume cairan lebih dari 500 ml, secara aseptik pindahkan tidak kurang dari 500 ml dan tiap isi wadah tidak kurang dari 10 wadah melalui tiap penyaring dari dua rakitan penyaring atau isi tidak kurang dari 20 wadah jika hanya satu rakitan penyaring. Lewatkan segera tiap spesimen melalui penyaring dengan bantuan pompa vakum atau tekanan. Jika cairan sangat kental dan tidak mudah disaring melalui 1 membran atau 2 membran maka diperlukan lebih dari dua rakitan penyaring. Dalam hal ini, setengah jumlah membran yang digunakan diinkubasi dalam masing-masing media, asalkan volume dan jumlah wadah per media yang disyaratkan dipenuhi. Jika produk bersifat bakteriostatik atau fungistatik, bilas membran 3 kali, tiap kali dengan 100 ml cairan A. Secara aseptik pindahkan membran dari alat pemegang, potong membran menjadi setengah bagian (jika hanya digunakan satu), celupkan membran atau setengah bagian membran ke dalam medium SCDM dan inkubasi pada suhu 200 hingga 25 0C selama tidak kurang darti 7 hari. Dengan cara yang sama, celupkan membran atau setengah bagian membran lainnnya ke dalam 100 ml media FTM dan inkubasi pada 30 0C hingga 35 0C selama tidak kurang dari 7 hari. CAIRAN YANG TIDAK BERCAMPUR DENGAN PEMBAWA AIR (KURANG DARI 100 mL PERWADAH) Menggunakan isi tidak kurang dari 20 wadah (40 wadah jika masing-masing mengandung volume tidak mencukupi untuk kedua media), pindahkan volume yang diinginkan untuk kedua media, seperti yang tertera pada tabel Jumlah untuk Bahan Cair dalam Pemilihan Spesimen Uji dan Masa Inkubasi, langsung dalam satu atau dua corong

penyaring membran terpisah atau ke dalam tabung penampung steril terpisah sebelum dipindahkan. Diperlukan volume tidak kurang dari 20 wadah untuk satu membran atau setengah bagian membran yang dipindahkan ke dalam tiap media. Lewatkan segera tiap spesimen melalui penyaring dengan bantuan pompa vakum atau tekanan. Jika bahan uji berupa cairan kental atau suspensi dan tidak sesuai untuk penyaringan cepat, secara aseptik tambahkan cairan pengencer secukupnya ke dalam kumpulan spesimen yang akan disaring untuk menambah kecepatan aliran. Jika produk yang bersifat bakteriostatik atau fungistatik atau yang mengandung pengawet, bilas membran satu sampai tiga kali, tiap kali dengan 100 ml cairan A. Jika bahan uji mengandung lesitin atau minyak, gunakan cairan D sebagai pengganti cairan A. Setelah penyaringan dan pencucian, perlakukan membran seperti yang tertera pada cairan yang dapat bercampur dengan pembawa air, mulai dari "pindahkan membran secara aseptik dari alat pemegang.". ZAT PADAT YANG DAPAT DISARING Amati lebih kurang 6 g produk dalam bentuk padat kering (atau sejumlah larutan atau suspensi produk, yang dibuat dengan menambahkan pengencer steril ke dalam wadah, sebanding dengan 6 g bahan padat), atau tidak kurang dari 300 mg tiap wadah yang diuji, atau seluruh isi wadah jika isi tiap wadah kurang dari 300 mg bahan padat kecuali dinyatakan lain pada monografi jumlah wadah sama seperti yang tertera pada cairan yang dapat bercampur dengan pembawa air. Secara aseptik masukkan spesimen ke dalam tabung berisi 200 ml cairan A dan aduk hingga larut. Jika spesimen tidak larut sempurna, gunakan 400 ml cairan A, atau secara aseptik bagi spesimen dalam 2 bagian dari uji tiap bagian dengan 200 ml cairan A. Pindahkan larutan ke dalam satu atau dua corong penyaring membran, dan segera saring dengan bantuan pompa vakum atau tekanan. Jika contoh uji bersifat bakteriostatik atau fungistatik, bilas membran 3 kali, tiap kali dengan 100 ml cairan A. setelah selesai penyaringan dan pembilasan, perlakukan membran seperti yang tertera pada cairan yang dapat bercampur dengan pembawa air, mulai dari "secara aseptik pindahkan membran dari alat pemegang..". SALEP DAN MINYAK YANG LARUT DALAM ISOPROPIL MIRISTAT Larutkan tidak kurang dari 100 mg dari tiap isi wadah, tidak kurang dari 20 wadah (40 wadah jika masing-masing mengandung volume tidak mencukupi untuk kedua media) dalam tidak kurang dari 100 ml isopropil miristat dengan pH ekstrak air tidak kurang dari 6,5 seperti yang tertera pada spesifikasi pereaksi dalam pereaksi, indikator dan larutan yang lebih dulu telah disterilkan dengan penyaringan melalui penyaring membran 0,22 m. Goyang labu untuk mendapatkan permukaan bahan yang lebar terhadap pelarut. Saring segera salep yang telah dilarutkan. Secara aseptik pindahkan campuran ke dalam 1 corong atau 2 corong penyaring dengan bantuan pompa vakum atau tekanan. Jaga seluruh penyaring membran ditutupi cairan untuk mendapatkan efesiensi maksimum penyaring. ZAT PADAT YANG TIDAK DAPAT DISARING Uji sterilitas untuk bahan ini dengan cara penyaringan membran tidak dianjurkan, kecuali jika dapat ditunjukkan bahwa tidak terjadi penyumbatan pada filter.lakukan seperti yang tertera pada zat padat pada prosedur uji inokulasi langsung ke dalam media uji. ALAT KESEHATAN Alat yang mempunyai saluran kecil steril dapat diuji sterilitas dengan teknik penyaringan membran sebagai berikut : Secara aseptik alirkan sejumlah volume tertentu cairan D melalui tiap lumen tidak kurang dari 20 alat hingga diperoleh tidak kurang dari 100 ml dari tiap alat. Kumpulkan cairan dalam wadah aseptik dan saring seluruh volume melalui penyaring membran seperti yang tertera pada Cairan yang dapat bercampur dengan Pembawa air, mulai dari "Secara aseptik pindahkan membran dari alat pemegang.". Jika volume alat besar, dan ukuran lot kecil, lakukan uji sejumlah unit yang sesuai seperti yang tertera pada kasus serupa dalam alat kesehatan, pada prosedur uji inokulasi langsung ke dalam media uji.

Penafsiran Hasil Uji Sterilitas Tahap Pertama Pada interval waktu tertentu dan pada akhir periode inkubasi, amati isi semua wadah akan adanya pertumbuhan mikroorganisme seperti kekeruhan dan atau pertumbuhan pada permukaan. Jika tidak terjadi pertumbuhan, maka bahan uji memenuhi syarat. Jika ditemukan pertumbuhan mikroba, tetapi peninjauan dalam pemantauan fasilitas pengujian sterilitas, bahan yang digunakan, prosedur pengujian dan kontrol negatif menunjukkan tidak memadai atau teknik aseptik yang salah digunakan dalam pengujian, tahap pertama dinyatakan tidak abash dan dapat diulang. Jika pertumbuhan mikroba teramati tetapi tidak terbukti uji tahap pertama tidak absah, lakukan tahap kedua. Tahap Kedua Jumlah spesimen uji yang diseleksi minimum dua kali jumlah tahap pertama. Volume minimum tiap spesimen yang diuji dan media dan periode inkubasi sama dengan tertera pada tahap pertama. Jika tidak ditemukan pertumbuhan mikroba, bahan yang diuji memenuhi syarat. Jika ditemukan pertumbuhan, hasil yang diperoleh membuktikan bahwa bahan uji tidak memenuhi syarat. Jika dapat dibuktikan bahwa uji pada tahap kedua tidak absah karena kesalahan atau teknik aseptik tidak memadai, maka tahap kedua diulang.

Percobaan 8
Pirogen Pengertian Pirogen: Pirogen adalah bakteri endotoksin yang merupakan produk metabolit dari pertumbuhan mikroorganisme dengan sifat larut air, lipopolisakarida tahan panas, yang menimbulkan demam ketika diinjeksikan secara intravena, serta tidak dapat dihancurkan melalui sterilisasi uap dan filtrasi, tetapi dapat dirusak dengan sterilisasi pemanasan kering. Macam-Macam Pirogen: a. Pirogen Eksogen b. Pirogen Endogen Sumber-sumber Pirogen: a. Air b. Wadah c. Bahan Obat d. Bahan Tambahan e. Alat-alat yang digunakan, lingkungan, dan personil Cara Mencegah Pirogen: a. Penggunaan air destilasi yang dirancang dapat mencegah masuknya pirogen b. Air destilasi harus dijaga jangan sampai terkontaminasi bakteri udara saat ditampung, dan harus digunakan segera setelah di destilasi c. Bahan obat yang digunakan harus memenuhi derajat mutu yang tinggi dan murni kimiawi d. Wadah disterikan dengan udara panas 180C selama 3 atau 4 jam; atau 200C selama 45 menit e. Larutan sebaiknya disaring, diwadahi, ditutup, dan segera disterilkan Cara Menghilangkan Pirogen: a. Hidrolisis asam basa b. Oksidasi c. Alkilasi d. Pemanasan Kering e. Pemanasan dengan Uap Air f. Pembilasan g. Destilasi h. Ultrafiltrasi i. Osmosa bolak-balik j. Karbon Aktif k. Penarikan Elektrolit menyangkut Modifikasi Media l. Penarikan Hidrophobic ke media hidrophobic Uji Pirogenitas: a. Uji Kelinci b. Uji Limulus

FORMULA SEDIAAN PARENTERAL VOLUME KECIL : VIAL FORMULA DISETUJUI UNTUK INJEKSI .. Bahan aktif : _________________________ Bahan tambahan : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ : _________________________ ALAT YANG DIBUTUHKAN Alat Untuk Proses Produksi No. Jenis Alat Spesifikasi/Ukuran Jumlah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Alat Untuk Sterilisasi No. Jenis Alat 1. Autoklaf 2. Oven 3. 4. Tabel Sterilisasi No. Jenis Alat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Keterangan

Spesifikasi/Ukuran

Jumlah

Keterangan

Cara Sterilisasi

Pustaka

Masuk

Keluar

SIKLUS PRODUKSI SEDIAAN

PEMBAHASAN FORMULA DAN HASIL EVALUASI ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________

LAMPIRAN I FORMAT JURNA I. TABEL MASTER FORMULA NAMA PRODUK : THREEGESIC JUMLAH PRODUK : 100 ampul NO. REGISTRASI : THREEMORFREE PHARM, LTD NO BETS : 111111 THREEGESIC INJEKSI No. Kode Bahan Nama Bahan Fungsi Bahan Jumlah Per Dosis 1. MTMPY METHAMPYRON ZAT AKTFIF 0,5 2. WAFIN WATER FOR INJ. PEMBAWA Ad 2 ml PRODUKSI TANGGAL : 29 FEB 2012

Per Bets 50 Ad 200 l

II. DASAR FORMULASI A. URAIAN FORMULASI RASA SAKIT ADALAH RESPON TUBUH . Dst METAMPIRON ADALAH ANAGETIK YANG DIPILIH DAN DIFORMULASIKAN KE DALAM BENTUK INJEKSI DOSIS TUNGGAL VOLUME KECIL YANG DIWADAHKAN DALAM AMPUL KARENAA. JENIS WADAH AMPUL YANG DIPILIH ADALAH GELAS AMBER TIPE I KARENA Dst,,,, B. URAIAN ZAT AKTIF 1. INDIKASI 2. FARMAKOLOGI 3. DOSIS 4. EFEK SAMPING 5. KI 6. IO C. URAIAN BAHAN TAMBAHAN 1. KEUNGGULAN-KEUNGGULAN 2. KONSENTRASI DALAM FORMULASI 3. KEKURANGAN DAN CARA MENGATASINYA III. KARAKTER FISIKO KIMIA BAHAN 1. METAMPIRON NAMA RESMI NAMA LAIN NAMA KIMIA RM/BM RB

PEMERIAN INTERAKSI STABILITAS METODE STERILIASI PENYIMPANAN 2. WATER FOR INJECTION NAMA RESMI NAMA LAIN NAMA KIMIA RM/BM RB PEMERIAN INTERAKSI STABILITAS METODE STERILIASI PENYIMPANAN KATEGORI FUNGSIONAL KARAKTER FISIK BAHAN (kelaarutan, keasaman, viskositas, BJ, higroskopisitas, titik lebur, konstanyta disosiasi, densistas, dll) PENANGANAN IV. PERHITUNGAN-PERHITUNGAN PERHITUNGAN DOSIS PERHITUNGAN TONISITAS PERHITUNGAN DAPAR PERHITUNGAN BAHAN V. PROSES KERJA VI. DAFTAR PUSTAKA VII. LAMPIRAN (FOLDING BOX, ETIKET, BROSUR)

LAMPIRAN II FORMAT BPR BATCH PROCESSING RECORD (BPR)

SHAVING CREAM: Comfortshave Cream

Team 1: NURUL MUHLISA NANA JUNIARTI SRI ASTUTI LIE, YUSAK P. LESARIO

ThreeMorFree Pharm, Ltd Makassar-Indonesia

Product Identity Product Name Product Form Reg. Number Batch Number Quantity Packaging Sterilization Date of Manufactur Assistant : Threegesic : Single Dose Injection (ampoule) - Solution : . : . : 2 ml per pack : Amber glass ampoule : Heat/Filter/Aseptic : 22 Feb 2012 : Andi Arjuna, S.Si., Apt. Formula No. 1. 2. Code MTMPY WTFIN HYCHL NAHYD Material METHAMPYRON WATER FOR INJ. CHLORIDE ACID SODIUM HYDROXYDE Function ACTIVE INGREDIENTS VEHICLE ACID ADJUSTMENT BASE ADJUSTMENT Concentration (%)

q.s. q.s

UTILITIES CHECK LIST Befor Manufacturing Process No. Utilities 1. Digital Weight 2. Manual Weight 3. Erlenmeyer Flask 4. Beaker Glass 5. Porselain Cup 6. Pippete 7. Spatel 8. Spoon 9. Weighing paper 10. Glass Stirer 11. Glass Ampoule 12. Autoclave 13. Oven Dst, Specification Up to 2kg, 0.1 Miligram 50 ml 100 ml Plastic/Metal Plastic/Metal Amber 20 L Merek Sartorius Pyrex Pyrex Mammert Qty 1 pc 1 pc 1 pc 1 pc 2 pcs 5 psc 2 pcd 7 pcs 1 pack 2 pcs 20 pcs 1 pc 1 pc Sign

Accepted For Weighing Assistant : (Sign)

MATERIAL CHECK LIST Number of Pacaking Batch Qty No. 1. 2. 3. 4. Code MTMPY WTFIN : 7 Pack : 385 g Material METHAMPYRON WATER FOR INJ. CHLODIRE ACID SODIUM HYDROXYDE Quantity (g) 10 g Ad volume 40 ml q.s q.s Sign

Accepted For Processing Assistant : (Sign)

PROCESSING CHECK LIST No. 1. 2. 3. 3. 4. Processing Step Mix methampyron with WFI till it soluble and ad to approx. 80% volume Adjust to desire pH with HCl/NaCl Add with WFI to desire volume Transfer to pack, and seal Put Etiquete and arrange it in folding box Sign Note

Accepted For Packaging & Finishing Assistant : (Sign)

UTILITIES CHECK LIST After Manufacturing Process No. Utilities 1. Digital Weight 2. Manual Weight 3. Erlenmeyer Flask 4. Beaker Glass 5. Porselain Cup 6. Pippete 7. Spatel 8. Spoon 9. Weighing paper 10. Glass Stirer 11. Glass Ampoule 12. Autoclave 13. Oven Dst, Specification Up to 2kg, 0.1 Miligram 50 ml 100 ml Plastic/Metal Plastic/Metal Amber 20 L Merek Sartorius Pyrex Pyrex Mammert Qty 1 pc 1 pc 1 pc 1 pc 2 pcs 5 psc 2 pcd 7 pcs 1 pack 2 pcs 20 pcs 1 pc 1 pc Sign

Accepted For Evaluating Assistant : (Sign)

STERILIZATION CHECKLIST No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Item Methode Refference In Out Sign

Accepted
Assistant : (Sign)

TEAM MEMBER CHECK LIST No. 1. 2. 3. 4. ID Number N111 09 001 N111 09 002 N111 09 003 N111 09 004 Name Nurul Muhlisah Sri Astuti Nana Juniarti Lie,Yusak P. Lessario Scoring Activity
Dosage Form

Note

(Assistant)

MONITORING PENGINPUTAN NILAI Nama : NIM : Gol : No. Pertemuan Item Nilai Respon Keaktifan Jurnal Ket.

TP

Hadis

Diskusi Sediaan

Makassar, Koor. Golongan

2012

(__________________)

NB: Setiap kolom item nilai diparaf oleh asisten pendamping setelah nilai dimasukkan pada koor. gol. Lembaran ini bertujuan untuk menertibkan proses penilaian, menjamin hak praktikan dan mengingatkan asisten pendamping akan kewajibannya