Anda di halaman 1dari 2

BAB XI ZAMAN POLITIK ASSOSIASI DAN POLITIK ETHIS SAMPAI JEPANG

1. Dengan resep pilotik Islamnya Prof. Snouck hurgronye diatas, maka menjelang permulaan abad ke-XX Masehi ummat Islam Indonesia yang kwantitasnya terus bertambah itu menghadapi tiga tantangan dari Pemerintah Kolonial Belanda, yaitu politik divide-et-impera, politik penindakan dengan kekerasan dan politik menjinakkan melalui usaha assosiasi. Dan boleh dikatakan bahwa untuk sementara pihak Pemerintah Kolonial Belanda berhasil mencapai beberapa sasaran tujuannya. Beberapa golongan Islam dapat dipecah-pecah. Perlawanan bersenjata di Aceh dan sementara derah lainnya oleh golongan Islam Indonesia dapat dipatahkan dengan kekerasan militer. Sebagian besar golongan Islam di pedalaman, terutama yang bercorak dan berwatak rural Islam dapat terus di-isolir dalam alam ketakhayulan da kemusyrikan. Sedangkan sebagian dari urban Islam terkena pengaruh sekularismenya didikan Barat, dan sebagian lagi memasuki apparatur kepegawaian kolonial rendahan. 2. Namun ajaran-ajaran Islam pada hakikinya adalah terlalu dinamis untuk dapat dijinakkan begitu saja. Memang ia dapat dibius, dan karenannya mengalami kemunduran. Atau tertidur. Tetapi semua itu selalu bersifat sementara. Suatu waktu ia bangun kembali. Apalagi, kalau pemeluk-pemeluknya sudah berabad-abad lamanya telah berkenalan dengan Islam yang ajaran-ajarannya telah meningkatkan nilai dan mutu kebudayaannya sendiri, serta meningkatkan daya ketahanannya terhadap agressi Dunia Barat seperti halnya dengan bangsa kita ini. 3. Dalam pada itu politik assosiasinya yang dikehendaki oleh Snouck hurgronye telah dikaitkan dengan politik etis yang telah dianjurkan oleh Van Deventer dan Dunia Keristen Belanda lainnya. Kaitan kedua politik itulah yang kemudian menjadi kebijaksanaan umum politik kolonial Belanda pada permulaan abad ke-XX Masehi. Bangsa Indonesia kini harus menempuh jalan baru dalam menghadapi kolonialisme Belanda itu. Bukan lagi dengan jalan perlawanan dan pemberontakan bersenjata, tetapi dengan jalan membangun organisaso modern berupa perkumpulan dan perserikatan atau partai-partai politik. Hampir bersamaan dengan timbulnya Budi

Utomo sebagai cerminan dari cultural nationalism atau nasionalisme kultural dikalangan para pemuda pelajar dan kaum priyayi dan dengan timbulnya Indische Parjij sebagai cerminan dari political nationalism atau nasionalisme politik di kalangan para intelektual radikal maka lahirlah juga Serikat Dagang Islam sebagai cerminan dari economic nationalism atau nasionalisme ekonomi di kalangan para pedagang dan wiraswasta yang kemudian tumbuh menjadi Serikat Islam sebagai cerminan dari religious-political nationalism, atau nasionalisme politik religious di kalangan urban Islam, yang berakar ke dalam rural Islam. Hampir bersamaan lahirlah Muhammadiyah, suatu gerakan pembaharuan di kalangan ummat Islam Indonesia, terutama di kalangan para ulama dan guru agama di kota-kota. Tujuannnya adalah membersihkan kehidupan ummat Islam Indonesia dari kekolotan dan formalisme kosong. Jalannya adalah mengajak ummat kembali ke Quran dan Hadits. Gerakan Muhammadiyah inipun merupakan salah satu sumber bagi Islamisme dan Nasionalisme modern. 4. Bahwasanya jalan barunya ummat islam indonesia itu dipengaruhi juga oleh gerakkan pembaharuan yang sedang membara di Timur Tengah pada waktunya itu, antara lain di Mesir dan di Turkie tak perlu diterangkan di sni. Jelas, bahwa politik kolonial Belanda untuk mengisolisir ajaran-ajaran Islam di Indonesia dari pengaruh perkembangannya diluar negri tidak berhasil. Ajaran-ajaran Islam selalu mengalir ke mana-mana sambung-menyambung dengan keislamannya negara-negara lain. Apabila dibendung, ia akan merembes di bawah bendungan itu. Adakalanya ia menembus dan membobolkan bendungan itu. 5. Dalam perkembangannya selanjutnya, maka oleh Bapak Tjokroaminoto pada tahun 1924 ditulisanya suatu buku tentang islam dan sosialisme, yang mrupakan jawaban atas tantangan gerakan komunisme dengan paham sosialismenya. Pak Tjokroaminoto dalam bukunya tersebut menjelaskan bahwa Islam-pun bertujuan sosialisme, tapi bukan sosialisme yang bersumber pada paham filsafat materialisme dan atheisme, melainkan sosialisme Islam bersumber kepada religious-monotheisme yang lengkap sempurna. Dengan diperkembangkannya ajaran-ajaran Islam dibidang sosialisme ini, maka lebih masuklah ajaran-ajaran modernisme Islam kekalangan rakyat rendahan, terutama ke kalangan buruh dari urban Islam, dan juga ke kalangan rakyat tani dari rural Islam.