Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

OLEH ITA KURNIAWATI 07231060 KIMIA VI/B

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS PENDIDIKAN DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN MATARAM 2010

Acara i Gas

1.1.Kelarutan Gas a. Tujuan : Untuk mengetahui/mengidentifikasi kelarutan suatu gas dalam pelarut air. b. Landasan Teori Larutan adalah campuran yang membentuk satu fasa, yaitu mempunyai sifat dan komposisi yang sama antara satu bagian dengan bagian lain di dekatnya. Kebanyakan larutan mempunyai salah satu komponen yang besar jumlahnya. Komponen yang besar disebut pelarut dan yng lain disebut zat terlarut. Berdasarkan pelarut, larutan dibagi menjadi tiga, yaitu larutan gas, larutan cair dan larutan padat. Larutan gas tidak banyak berinteraksi atau pengaruh suatu komponen terhadapkomponen yang lain, karena partikelnya sangat berjauhan. Dalam larutan cair, antara partikel komponen larutan terdapat interaksi yang relative kuat, dua jenis zat terlarut dapat saling bertabrakan serta akan menimbulkan reaksi. Sedangkan dalan larutan padat, pelarut tidak dapat sebagai medium karena partikelnya tidak bergerak, kecuali dicairkan. Ammonium hidroksida adalah basa lemah yang terionisasi dalam air sesuai reaksi NH3 + H2O NH4OH Disosiasi konstanta ammonium hidroksida, Kb adalah 1,774 x 105 pada suhu 25o dan sedikit meningkat dengan meningkatnya suhu. Pada pH 9,25 setengah dari ammonia akan terionisasi dan setengahnya lagi tidak. Pada pH sekitar 8,25 dan 7,25, 99% ammonia akan teronisasi sempurna. Fraksi tidak terionisasi ammonia akan menjadi sangat ledih penting pada pH diatas 7. Akibatnya, banyak sifat fisis dan kimia yang akan menjadi fungsi dari pH. Sebagai contoh, kelarutan ammonia dalam air akan meningkat dengan penurunan pH. Volalitas meningkatnya ammonia ditandai dengan pH yang meningkat pula.

c. Alat dan Bahan :

1) Labu ukur 2) Gelas kimia 3) Klem 4) Statip 5) Sumbat karet berlubang

6) Pipet tetes 7) Pemanas 8) pipa karet/gelas 9) NH4Cl, NaOH, indicator pp 10) Aquadest

d. Prosedur 1. Di set alat seperti gambar. Perhatikan pipa terpasang dalam labu dengan baik dan mencapai ujung/puncak (mendekati dasar labu). Labu harus dalam keadaan kering.

2. Diisi gelas kimia dengan air sekitar sepertiga-seperempat bagian dan tambahkan beberapa tetes indicator phenolphthalein (PP) 3. Diisi suntikan/penyemprot dengan air. 4. Diisi labu dengan ammonia mengikuti proses berikut: a. dimasukkan 1 sendok penuh ammonium klorida dan 1 sendok penuh sodium hidroksida ke dalam tabung reaksi besar. b. Secara perlahan tabung dipanaskan, dan gas ammonia dialirkan ke dalam labu kering. Setelah yakin semua gas (udara) selain ammonia kemudian gas ammonia dikumpulkan sampai labu penuh. hilang dari labu,

2. dipasang klem atau penjepit pada pipa untuk menghalangi gas masuk dan keluar dari labu. 3. dipasang labu dengan terbalik pada gelang statif. 4. dipasang pipa panjang dari labu ke gelas kimia. Pipa harus mencapai mendekati dasar gelas kimia. 5. Apabila telah siap memulai, lepaskan klem/penjepit. 6. Memulai reaksi dengan menyemprotkan air dari suntikan ke dalam labu. 7. Mengamati hasil. e. Hasil dan Pembahasan Percobaan ini dilakukan untuk mengidentifikasi kelarutan gas ammonia terhadap pelarut air. Percobaan dilakukan dengan merancang alat seperti diatas. Labu ukur dipasang dengan posisi terbalik pada statif serta hampa udara, hal ini bertujuan untuk menampung gas ammonia murni yang dihasilkan. Gas ammonia dibuat dengan mereaksikan Natrium Hidroksida (NaOH) dengan Amonium Klorida (NH4Cl) dengan bantuan pemanasan, dan gas yang terbentuk dialirkan melalui pipa kedalam labu hampa udara tersebut. Gas ammonia adalah gas tajam yang tidak berwarna yang memiliki titik didih -33,5oC, selain itu gas ammonia beracun dan mudah terbakar di udara. Diawal percobaan, setelah labu di isi penuh dengan gas ammonia maka air dari suntikan dilepaskan secara perlahan. Tekanan gas dalam labu jauh lebih besar dari tekanan udara di luar, penetesan dari suntikan ini tujuannya adalah untuk mengurangi tekanan yang berada di dalam labu dan dilakukan untuk memancing reaksi gas ammonia tersebut. Gas ammonia akan bereaksi dengan air membentuk ammonium hidroksida, hal ini menyebabkan sebagian gas terlarut dan mendesak gas melakukan suksesi, yaitu penyedotan terhadap air untuk menyeimbangkan volume. Air akan naik secara perlahan untuk mengisi labu yang tekanannya mulai berkurang dan akan menyemburkan air berwarma merah muda. Merah muda ini merupakan warna yang berasal dari indicator pp yang mengindikasi bahwa larutan gas-cair tersebut bersifat basa.

Gas ammonia larut dalam air, hal ini disebabkan karena gas ammonia memiliki momen dipole (1,46 D) serta kemampuan untuk membentuk ikatan hydrogen dengan air. Ketika ikatan hidrogen antara molekul air putus, ikatan tersebut dapat digantikan oleh ikatan yang setara antara molekul air dan molekul ammonia .Sebagian amonia juga bereaksi dengan air untuk menghasilkan ion amonium dan ion hidroksida. Reaksi bolak balik menunjukkan bahwa reaksi tidak berkesudahan. Pada tiap waktu hanya sekitar 1% amonia yang dapat bereaksi untuk membentuk ion amonium. Kelarutan amonia terutama tergantung pada ikatan hydrogen. Ikatan hydrogen ini adalah ikatan yang terjadi karena adanya perbedaan keelektronegatifan unsur yang sangat besar. Amonia memiliki elektron bebas pada unsure nitrogennya, dan electron yang di gunakan bersama dengan hydrogen lebih tertarik ke unsur nitrogen tersebut sehingga muatannya menjadi agak negative sedangkan hidroren menjadi lebih positif. d. Kesimpulan Berdasarkan praktikum dapat disimpulkan bahwa : Gas ammonia larut dalam air, yang disebabkan karena gas tersebut memiliki momen dipol. Ikatan yang tejadi antara ammonia dengan air yang menghasilkan ammonia hidroksida adalah ikatan hydrogen. Ikatan hydrogen terjadi karena ikatan yang terjadi antara dua unsur memiliki perbedaan keelktronegatifan yang besar. e. Jawaban dari pertanyaan: 1. Jika labu dalam keadaan basah, dikhawatirkan gas yang telah terbentuk tidak akan ditampung secara maksimal karena sifat dari gas tersebut yang sangat larut dalam air. Gas yang terbentuk akan cepat bereaksi tanpa dapat kita ketahui cirri-cirinya. Misalnya ketika tekanan berkurang, gas melakukan suksesi terhadap air. 2. Reaksi pembentukan gas ammonia ; NH4Cl(s) + NaOH(s) NH3(g) + NaCl(s) + H2O(l) Reaksi pembentukan ammonium hidroksida : NH3(g) + H2O(l) NH4OH(l) 3. Pembentukan gas ammonia terjadi karena adanya reaksi antara ammonium klorida padatan dengan natrium hidroksida padatan dengan bantuan pemanasan.
4. Contoh-contoh gas yang larut dalam air adalah gas CO2,O2,dan gas H2

1.2 Difusi Gas a. Tujuan : Untuk mengetahui laju suatu gas terhadap indikator kertas lakmus . b. Landasan Teori Partikel gas selalu bergerak secara bebas ke segala arah, akibatnya gas akan mengisi ruangan yang dapat dimasukinya. Suatu system gas akan mempunyai volume dan jumlah partikel tertentu. Partikel itu mempunyai energy kinetik yang menyebabkan ruangan ruangan mempunyai suhu tertentu dan gerakan itu menimbulkan tekanan terhadap dinding bejana. Difusi adalah aliran fisik dari suatu zat dan berlangsung dengan kecepatan tertentu. Difusi merupakan perpindahan massa dari konsentrasi tinggi ke rendah. Komponen yang terdifusi meninggalkan ruang dibelakangnya, dan untuk menempati lokasi baru pun ia memerlukan ruang. Ada lima konsep yang digunakan dalam difusi: 1.Kecepatan 2.Fluks melintas bidang N 3.Fluks relatif terhadap kecepatan nol 4.Konsentrasi dan densitas molar (fraksi mol juga dapat digunakan). 5.Gradien konsentrasi Thomas Graham merupakan seorang ahli kimia yang mempelajari kecepatan efusi beberapa gas dan mendapatkan hubungan yang disebut hukum Graham. Hukum tersebut berlaku pada teori gas ideal, yang bunyi hukumnya adalah: Pada suhu dan tekanan yang sama, kecepatan efusi gas berbanding terbalik dengan akar kerapatannya. c. Alat dan Bahan 1) selinder/gelas piala 100 mL 2) batang pengaduk 3) sumbat katun/kapas

4) plastic 5) HCl 6) NH4OH 7) Kertas lakmus d. Prosedur 1. Dibersihkan dan dikeringkan dua bagian/ujung selinder 100 mL 2. Dengan batang gelas, dimasukkan potongan dari kertas lakmus biru ke dalam salah satu selinder. Didorong kertas ke dasar selinder 3. Ditempatkan selinder pada sisi lain, dikerjakan dengan segera prosedur berikutnya. 4. Dicelupkan potongan kain katun ke dalam HCl (hati-hati) dan diletakkan dibagian ujung terbuka(mulut) selinder. 5. Dengan cepat tutup mulut selinder dengan ketat menggunakan potongan plastic wrap. 6. Segera setelah sumbat katun dimasukkan, dimulai menghitung waktu. dicatat waktu yang diperlukan gas HCl untuk bergerak/berjalan di sepanjang selinder dan sampai kertas lakmus biru menjadi merah.
7. Diulangi demonstrasi tersebut dengan kertas lakmus merah dan sumbat katun

dicelupkan kedalam NH4OH. e. Hasil dan Pembahasan Hasil Pengamatan Larutan HCl NH4OH Perhitungan : Ratio HCl = Ratio NH4OH Laju = Pembahasan Lakmus Biru Merah Jarak (cm) 13 13,2 Waktu (detik) 219 60

Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui kecepatan setiap gas dalam berdifusi. Penggunaan lakmus dalam percobaan ini bertujuan untuk mengindikasi gas yang berdifusi dan untuk melihat ketercapaian laju gas dari senyawa HCl dan NH4OH . Proses difusi gas yaitu proses menyebar dan bercampurnya dua jenis gas yang mengalir dalam satu wadah sehingga didapat keadaan yang sama secara fisik. Laju yang terjadi pada masing-masing senyawa di pengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah berat molekul masing-masing senyawa. HCl memiliki berat molekul yang lebih kecil jika dibandingkan dengan NH4OH, Hal ini menyebabkan HCl memiliki tingkat difusi yang lebih cepat dibandingkan dengan NH4OH. Namun, teori tersebut baerbanding terbalik dengan hasil percobaan Berdasarkan data pengamatan, waktu yang dibutuhkan oleh larutan HCl lebih banyak daripada larutan NH4OH.Hal ini disebabkan oleh kurangnya ketelitian dalam melakukan percobaan. f. Kesimpulan Berdasarkan praktikum dapat disimpulkn bahwa : Difusi gas adalah peristiwa perpindahan massa dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Larutan NH4OH mengalami proses difusi lebih cepat dibandingkan larutan HCl

g. Jawaban Pertanyaan : 1. Pada dasarnya perbedaan perhitungan antara data eksperimen dengan data secara teori disebabkan karena data eksperimen diperoleh pada saat percobaan dilaksanakan, ketidakserasian ini bisa disebabkan karena beberapa hal, salah satunya adalah kurangnya ketelitian saat melaksanakan eksperimen ataupun ketidak hiegienisan alat percobaan. 2. Hubungan antara massa gas dan laju difusi adalah semakin kecil massa, maka semakin cepat laju reaksinya. 3. Dalam percobaan harus menggunakan silinder atau tabung yang kering, hal ini penting karena jika tabung dalam keadan basah, proses difusi tidak akan pernah terjadi karena gas akan langsung bereaksi dengan senyawa yang berada di dalam tabung reaksi. Percobaan ini dilakukan pada keadan vakum dan kering.

Acara ii kinetika
2.1. Dekomposisi Katalitik Hidrogen Peroksida a.Tujuan : Untuk mengetahui reaksi penguraian hydrogen peroksida oleh suatu katalis b. Landasan Teori Hidrogen peroksida merupakan senyawa kimia yang memiliki rumus H2O2. Senyawa ini ditemukan oleh ilmuwan bernama Louis Jacques Thenard di tahun 1818. Hidrogen Peroksida adalah bahan kimia anorganik yang memiliki sifat oksidator kuat. Hidrogen peroksida dibuat dengan mereaksikan gas hidrogen (H2) dan gas oksigen (O2). Teknologi yang banyak digunakan di dalam industri hidrogen peroksida adalah auto oksidasi Anthraquinone. Hidrogen peroksida memiliki ciri tidak berwarna, berbau khas agak keasaman, dan larut dengan baik dalam air. Dalam kondisi normal, hidrogen peroksida sangat stabil dengan laju dekomposisi kira-kira kurang dari 1% per tahun. Mayoritas pengunaan hidrogen peroksida adalah dengan memanfaatkan dan merekayasa reaksi dekomposisinya, yang intinya menghasilkan oksigen. Pada tahap produksi hidrogen peroksida, bahan stabilizer kimia biasanya ditambahkan dengan maksud untuk menghambat laju dekomposisinya. Termasuk dekomposisi yang terjadi selama produk hidrogen peroksida dalam penyimpanan. Selain menghasilkan oksigen, reaksi dekomposisi hidrogen peroksida juga menghasilkan air (H2O) dan panas. Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri. Suatu katalis berperan dalam reaksi tapi bukan sebagai pereaksi ataupun produk. Kecepatan reaksi sangat bergantung pada ion peroksida, kalium iodida dan asamnya. Reaksi hidrogen peroksida dengan kalium iodida dalam suasana asam dan dengan adanya natrium tiosulfat, maka peroksida akan membebaskan iodium yang berasal dari kalium iodida yang telah diasamkan dengan asam sulfat. Bila reaksi ini merupakan reaksi irreversibel (karena

adanya natrium tiosulfat yang akan merubah iodium bebas menjadi asam iodida kembali) kecepatan reaksi yang terjadi besarnya seperti pada reaksi pembentukannya, sampai konsentrasi terakhir tak berubah.

c.Alat dan Bahan 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) d. 8) 9) 10) 11) 12) 13) e.Hasil dan Pembahasan Reaksi dekomposisi katalitik Hidrogen peroksida adalah reaksi penguraian hydrogen peroksida oleh suatu katalis, Pada percobaan reaksi ini, digunakan Hidrogen peroksida 30%, hal ini dimaksudkan untuk memberi efek yang jelas. Hydrogen peroksida dicampur dengan larutan detergen dan pewarna makanan, penambahan ini pun bertujuan untuk mengindikasikan adanya oksigen dalam reaksi. Campuran akan berubah warna akibat adanya pewarna dan akan berbusa/berbuih jika bereaksi dengan hydrogen, dimana di dalam buih ini mengandung oksigen. Prosedur laboratorium. 2. Dituangkan sekitar 50 mL hydrogen peroksida 30% ke dalam gelas piala. (dengan hati-hati). 3. Ditambahkan dengan semprotan deterjen pencuci dan teteskan pewarna makanan. 4. Ditambahkan sekitar satu sampai empat sendok KI. 5. Amati dan Catat hasil pengamatan ! 1. Ditempatkan gelas piala besar (500 mL) pada plastic tray/ember atau kedalam bak cuci 1) Gelas piala 500 ml 2) Bak atau Ember 3) H2O2 30% 4) Larutan KI 5) pipet tetes 6) pewarna makanan

Hidrogen peroksida merupakan oksidator kuat, artinya ia memiliki kemampuan untuk mengoksidasi senyawa lain, sedangkan dirinya mengalami reduksi. Pada penambahan larutan kalium iodida, terjadi reaksi dekomposisi yang sangat cepat. Kalium iodide akan menguraikan larutan hydrogen peroksida sampai habis hingga tertinggal busa secara utuh (busa yang dihasilkan sangat banyak). Dalam proses ini, kalium iodide berperan sebagai katalis, artinya mambantu menguraikan dan mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi. Seperti yang telah dikatakan, kecepatan reaksi sangat bergantung pada kontak antara ion peroksida, kalium iodida dan basanya. Reaksi hidrogen peroksida dengan kalium iodida dalam suasana basa, maka peroksida akan membebaskan iodium yang berasal dari kalium iodide. Reaksi ini merupakan reaksi irreversibel sehingga kecepatan reaksi yang terjadi besarnya seperti pada reaksi pembentukannya, sampai konsentrasi terakhir tak berubah. Reaksi dekomposisi H2O2 ini terjadi dalam dua tahap, yaitu : H2O2(aq) + I-(aq) H2O2(aq) + IO-(aq) H2O(l) + OI-(aq) H2O(l) + O2(g) + I-(aq)

Oksigen yang terbentuk ditandai dengan munculnya busa, semakin banyak katalis yang bereaksi, maka akan semakin cepat hydrogen peroksida habis terurai. Katalis kalium iodide memiliki sifat yang tidak bereaksi secara permanen, hal ini terbukti karena kalium iodide tidak mengalami perubahan kimia selama reaksi, tidak memulai reaksi tetapi hanya mempengaruhi lajunya serta tidak mempengaruhi hasil akhir reaksi. f. Kesimpulan Berdasarkan percobaan dapat disimpulkan bahwa : Hidrogen peroksida yang digunakan akan terdekomposisi oleh penggunaan katalis Kalium iodide. Katalis kalium iodide bekerja spesifik, mempercepat terjadinya reaksi dekomposisi Hidrogen peroksida serta tidak ikut bereaksi. Semakin banyak konsentrasi katalis yang digunakan, maka akan semakin cepat terjadinya reaksi.

g. Jawaban Pertanyaan.

1. Berdasarkan cara bekerja reaksinya, katalis dapat dibagi menjadi dua kelompok,

yaitu heterogen dan homogen. Pada reaksi heterogen, katalis memiliki fasa yang berbeda dengan reaktan, sedangkan pada reaksi homogen, antara katalis dengan reaktannya memiliki fasa yang sama. Pada reaksi heterogen, pertama-tama reaktan akan terserap (adsorption) pada permukaan aktif katalis, selanjutnya akan terjadi interaksi baik berupa reaksi sebenarnya pada permukaan katalis, atau terjadi pelemahan ikatan dari molekul yang terserap. Setelah reaksi terjadi, molekul hasil reaksi akan dilepas dari permukaan katalis. Oleh karena itu, katalis yang baik perlu memiliki kemampuan menyerap dan melepaskan yang baik. Pada reaksi homogen, biasanya proses terjadi dalam bentuk gas atau terjadi dalam satu fasa cair tunggal. 2. Kalium iodida akan bekerja mengurai hidrogen peroksida. Penguraian ini dilakukan hingga larutan hidrogen peroksida habis(terurai sempurna). 3. Jumlah busa yang dihasilkan menandakan telah terbentuknya oksigen akibat terurainya hidrogen peroksida. Reaksi katalitik ini berhasil dilaksanakan karena busa yang dihasilkan sangat banyak. 4. Bukti dari terbentuknya iodin dari reaksi ini adalah terbentuk larutan berwarna coklat.

2.2. Reaksi Traffic Light a.Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh pengocokan terhadap perubahan warna larutan berdasarkan konsep reaksi reduksi oksidasi. b. Landasan Teori Kinetika kimia membahas tentang laju reaksi dan factor yang mempengaruhinya. Laju reaksi adalah pengurangan pereaksi atau penambahan hasil reaksi per satuan waktu.Laju reaksi dipengaruhi oleh sifat pereaksi, suhu dan katalis. Hubungan antara laju dengan konsentrasi pereaksi diungkapkan dalam persamaan laju reaksi yang bersangkutan. Besar kecilnya nilai dari laju dari suatu reaksi kimia dapat ditentukan dalam beberapa faktor, antara lain sifat pereaksi, suhu, katalis dan konsentrasi pereaksi. Dalam sifat pereaksinya, ada yang reaktif dan ada yang kurang reaktif, misalnya bensin lebih cepat terbakar daripada minyak tanah. Berdasarkan suhunya, hampir semua pereaksi menjadi lebih cepat bila suhu dinaikkan, karena kalor yang diberikan akan menambah energi kinetik partikel pereaksi, akibatnya, jumlah energi

tabrakan bertambah besar. Dalam katalis, laju reaksi dapat dipercepat dengan menambah zat yang disebut katalis. Katalis sangat diperlukan dalam reaksi organik, termasuk dalam organisme. Sedangkan pada konsentrasi pereaksi, dua molekul yang akan bereaksi harus bertabrakan langsung. Jika konsentrasi pereaksi diperbesar, berarti kerapatannya bertambah dan akan memperbanyak kemungkinan tabrakan sehingga akan mempercepat reaksi. Oksidasi dan reduksi merupakan suatu reaksi yang terjadi secara bersamaan. Tidak mungkin terjadi reaksi oksidasi atau reduksi berlangsung sepihak tanpa disertai lawannya.Bila suatu zat menerima electron, maka harus ada zat lain yang mendonorkan electron tersebut. Dalam proses reduksi-oksidasi, senyawa yang menerima electron disebut oksidan atau bahan pengoksidasi sedangkan senyawa yang mendonorkan electron disebut reduktan atau biasa disebut bahan pereduksi. c. Alat dan Bahan 1) Labu ukur 250 ml 2 buah 2) Pengaduk 3) Dextrose (glukosa) 4) NaOH 5) Aquadest 6) Indigo carmin indikator 1% d. Prosedur 1) Dimasukkan 50 mL larutan A ke dalam labu 250 mL 2) Ditambahkan 5-10 mL larutan indikator 3) Ditutup labu tersebut 4) Amati yang terjadi 5) Labu digerakkan/diaduk secara perlahan-lahan dan amati 6) Kemudian labu digetarkan dengan cepat 7) Amati hasil !!! e. Hasil dan Pembahasan Percobaan traffic light ini merupakan percobaan yang melibatkan reaksi reduksi dan oksidasi senyawa-senyawa yang terlibat di dalamnya. Pengamatan difokuskan pada perubahan warna senyawa yang diakibatkan oleh perubahan bilangan oksidasi.

Diawal percobaan, Dextrosa direaksikan dengan NaOH yang dilarutkan dalam air dan ditambahkan dengan indikator indigo carmin. Dextrosa merupakan bagian dari monosakarida yang memiliki gugus fungsional dan memiliki 6 atom C (heksosa) karbon dalam rantai karbon sedangkan indigo carmin atau 5,5'indigodisulfonic acid sodium salt, adalah penanda pH dengan persamaan kimia C16H8N2Na2O8S2 dengan struktur molekul sebagai berikut :

Indigo carmin adalah indikator redoks, fungsinya dalam reaksi ini adalah sebagai indikator yang merangkap katalis. Indigo carmin bekerja karena transfer electron bukan pada perubahan pH, meskipun indigo ini bekerja sebagai penanda pH. Penambahan NaOH dalam reaksi ini bertujuan untuk pemberi suasana basa. Pada percobaan ini, semua campuran di masukkan di dalam labu ukur dan dikocok. Pengocokan ini bertujuan untuk mereaksikan dextrose dengan oksigen. Larutan ini berwarna kuning pada awal reaksi, namun setelah pengocokan terjadi perubahan warna yakni menjadi merah, dan jika pengocokan dilakukan lebih keras, maka warna tersebut akan berubah menjadi hijau. Proses perubahan ini merupakan proses reduksi oksidasi yang melibatkan electron. Pelarutan oksigen dari udara membutuhkan pengocokan, karena jika tidak, maka proses transfer electron akan berjalan lambat. Perubahan warna yang terjadi sebenarnya merupakan perubahan warna indikator yang mengalami reduksi. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi antara Dextrosa dengan oksigen dari udara. Reaksi pada Dextrosa(glukosa) merupakan reaksi oksidasi sempurna,hal ini ditandai dengan penambahan oksigen pada setiap proses pengocokannya. Adapun reaksinya sebagai berikut:
CH2OH (CHOH)4 CHO + 1/2O2 + NaOH CH2OH (CHOH)4 CO2Na + H2O

Atom karbon dan hydrogen pada glukosa akan teroksidasi oleh ikatan ke atom oksigen, sehingga atom oksigen mengalami reduksi. Penambahan NaOH akan menyebabkan asam glukonat berubah menjadi natrium glukonat yang merupakan suatu garam. Semakin cepat pengocokan maka akan semakin cepat pula reaksi yang terjadi. Kecepatan ini akan menyebabkan terjadinya tumbukan antar molekul yang kemudian membuat larutan berubah warna. Selain mempercepat reaski, Indigo carmin akan mereduksi dirinya sendiri sehingga berubah warna dari biru menjadi tidak berwarna. f. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa : Penambahan oksigen dapat dilakukan dengan pengocokan larutan, Indikator indigo carmin berfungsi sebagai indikator sekaligus katalis. semakin cepat pengocokan maka akan semakin cepat reaksi perubahan warna. g. Jawaban pertanyaan 1. Adapun reaksinya adalah sebagai berikut
CH2OH (CHOH)4 CHO + 1/2O2 + NaOH CH2OH (CHOH)4 CO2Na + H2O

2. Reaksi ini termasuk reaksi redoks, Atom karbon dan hydrogen pada glukosa akan teroksidasi oleh ikatan ke atom oksigen, artinya glukosa merupakan reduktor sedangkan atom oksigen merupakan oksidator karena atom oksigen mengalami reduksi. 3. Ketika labu digerakkan maka warna larutan akan berubah secara teratur, tergantung waktu pengocokan. Dari kuning, kemudian berubah menjadi merah dan akhirnya berwarna hijau. 2.2. Autokatalisis
a. Tujuan : Untuk mengetahui adanya reaksi autokatalis pada senyawa H2SO4

b. Landasan Teori Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri. Suatu katalis berperan dalam reaksi tapi bukan sebagai pereaksi ataupun produk. Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat atau memungkinkan reaksi pada suhu lebih rendah akibat perubahan yang dipicunya terhadap pereaksi.

Katalis menyediakan suatu jalur pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis mengurangi energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi. Katalis dapat dibedakan ke dalam dua golongan utama: katalis homogen dan katalis heterogen. Katalis heterogen adalah katalis yang ada dalam fase berbeda dengan pereaksi dalam reaksi yang dikatalisinya, sedangkan katalis homogen berada dalam fase yang sama. Satu contoh sederhana untuk katalisis heterogen yaitu bahwa katalis menyediakan suatu permukaan di mana pereaksi-pereaksi untuk sementara terserap. Ikatan dalam substrat-substrat menjadi lemah sedemikian sehingga memadai terbentuknya produk baru. ikatan antara produk dan katalis lebih lemah, sehingga akhirnya terlepas. Menurut senyawa antara, katalis disebut senyawa antara karena membentuk senyawa yang bersifat sementara. Menurut teori ini, katalis mengubah ini mekanisme reaksi sehingga sekaligus mengubah laju reaksi. Teori ini umumnya dapat menjelaskan katalis homogen yang berfasa gas, misalnya reaksi : AB + C A + BC Mekanisme tanpa katalis : AB + C ABC (lambat) ABC A + BC ( cepat) Mekanisme dengan katalis : AB + K ABK ( cepat ) ABC A + BC ( cepat ) ABK + C BC + K ( cepat) Ketiga tahap reaksi dengan katalis adalah cepat, maka reaksi total menjadi cepat juga. c. Alat dan Bahan 1) Gelas kimia

2) Pengaduk

3) Gelas piala 4) Pipet tetes 5) H2SO4 pekat 6) KClO3 7) Na2SO4 8) Indikator Bromophenol biru

d. Prosedur 1. Dibuat larutan asam sulfat 2. Dimasukan 50 ml air dalam gelas kimia 3. Ditambahkan 4 g potassium klorat, 12,5 g sodium sulfite, dan sejumlah kecil (sekitar 5 mg) indicator bromophenol biru. 4. Pada gelas kimia kedua, ditambahkan 4 mL asam asetat dalam 50 ml air. 5. Secara perlahan, aduk dengan konstan, tambahkan larutan asam dari gelas kimia kedua ke dalam larutan gelas kimia pertama. Aduk sampai terlarut/bercampur sempurna. Larutan akan berwarna biru violet. 6. Diisi gelas piala 100 mL dengan larutan 7. Ditambahkan dua tetes larutan asam asetat ke bagian atas caiaran dalam selinder. 8. Amati untuk beberapa menit selama antar muka kuning-biru bergerak/mengendap pada dasar gelas piala. e. Hasil dan Pembahasan Selain percobaan traffic light, percobaan autokatalisis juga merupakan percobaan yang menggunakan konsep reaksi reduksi oksidasi. Pada prinsipnya reaksi redoks ini di indikasikan dengan perubahan warna larutan yang disebabkan oleh perubahan bilangan oksidasi. Seperti halnya indikator indigo carmin, indikator Bromophenol adalah indikator redoks, indikator ini akan mereduksi dirinya sendiri sehingga menyebabkan perubahan warna dari biru menjadi ungu. Kalium klorat dicampurkan dengan air dan natrium sulfit dalam suatu wadah. Menurut reaksi : KClO3 + Na2SO4 K2SO4 + NaClO3

Terhadap larutan tersebut di teteskan H2SO4 pekat yang akan memberikan suasana asam pada larutan. H2SO4 akan di oksidasi menjadi asam bisulfit. Asam bisulfit akan berubah menjadi ion sulfat, hasil asam ini akan mengkatalis reaktan yang dalam hal ini adalah asam asetat untuk menambah produk asam. Karena produk yang semakin asam, hal ini akan mendukung indikator untuk melakukan reaksi reduksi. Reaksi ini menyebabkan terjadinya perubahan warna secara teratur dari biru ke kuning hingga seluruh warna biru berubah menjadi kuning. f. Kesimpulan Berdasarkan pengamatan dapat disimpulkan bahwa :

H2SO4 dapat mengkatalisis dirinya sendiri dan senyawa lain. reduktor sedangkan yang disebut oksidator adalah ion klorat karena mengalami reduksi.

Yang mengalami oksidasi adalah asam sulfat sehingga disebut

g. Jawaban pertanyaan:

1. Reaksi autokatalisis adalah reaksi yang hasil hasil reaksinya dapat bertindak sebagai katalis. 2. Contoh reaksi autokatalisis yang lain adalah reaksi asam asetat dengan air dengan katalis asam asetat. CH3COOH + H2O CH3COOH + CH3OH 3. Yang mengalami oksidasi adalah asam sulfat sehingga disebut reduktor sedangkan yang disebut oksidator adalah ion klorat karena mengalami reduksi. 4. Terjadi pertemuan antara lerutan berwarna biru dengan kuning yang tidak saling bercampur. Tetapi lama-kelamaan terjadi reaksi katalisis yang menyebabkan seluruh larutan berwarna kuning.

DAFTAR PUSTAKA

Bird, Tony. 1993. Kimia Fisik Untuk Universitas. PT Gramedia. Jakarta. Syukri, 1999, Kimia Dasar 2, ITB Press, Bandung http://id.wikipedia.org/wiki/H2O2 http://id.wikipedia.org/wiki/katalis.