Anda di halaman 1dari 125

Home

medicastore.c

Penyakit Osteoporosis
Penyakit Osteoporosis Pernahkah Anda melihat wanita tua bertubuh bongkok? Wanita tua itu pasti menderita penyakit osteoporosis yang menyebabkan tulang punggungnya melengkung. Osteoporosis tidak menampakkan tanda-tanda fisik yang nyata hingga terjadi keropos atau keretakan pada usia senja. Penyakit osteoporosis adalah berkurangnya kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Tulang terdiri dari mineral-mineral seperti kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi keras dan padat. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang, maka tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis. Sekitar 80% persen penderita penyakit osteoporosis adalah wanita, termasuk wanita muda yang mengalami penghentian siklus menstruasi (amenorrhea). Hilangnya hormon estrogen setelah menopause meningkatkan risiko terkena osteoporosis. Penyakit osteoporosis yang kerap disebut penyakit keropos tulang ini ternyata menyerang wanita sejak masih muda. Tidak dapat dipungkiri penyakit osteoporosis pada wanita ini dipengaruhi oleh hormon estrogen. Namun, karena gejala baru muncul setelah usia 50 tahun, penyakit osteoporosis tidak mudah dideteksi secara dini. Meskipun penyakit osteoporosis lebih banyak menyerang wanita, pria tetap memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis. Sama seperti pada wanita, penyakit osteoporosis pada pria juga dipengaruhi estrogen. Bedanya, laki-laki tidak mengalami menopause, sehingga osteoporosis datang lebih lambat. Jumlah usia lanjut di Indonesia diperkirakan akan naik 414 persen dalam kurun waktu 19902025, sedangkan perempuan menopause yang tahun 2000 diperhitungkan 15,5 juta akan naik menjadi 24 juta pada tahun 2015. Bayangkan betapa besar jumlah penduduk yang dapat terancam penyakit osteoporosis. Fakta Tentang Osteoporosis Berikut ini fakta seputar penyakit osteoporosis yang dapat membukakan mata dan meningkatkan kesadaran akan ancaman penyakit osteoporosis. Studi di dunia: Satu diantara tiga wanita di atas usia 50 tahun dan satu diantara lima pria di atas 50 tahun menderita osteoporosis. Penderita osteoporosis di Eropa, Jepang, Amerika sebanyak 75 juta penduduk, sedangkan China 84 juta penduduk.

Ada 200 juta penderita osteoporosis di seluruh dunia. Risiko kematian akibat patah tulang pinggul sama dengan kanker payudara. (Studi Cummings et al, 1989) Studi di Indonesia:

Prevalensi osteoporosis untuk umur kurang dari 70 tahun untuk wanita sebanyak 18-36%, sedangkan pria 20-27%, untuk umur di atas 70 tahun untuk wanita 53,6%, pria 38%. Lebih dari 50% keretakan osteoporosis pinggang di seluruh dunia kemungkinan terjadi di Asia pada 2050. (Yayasan Osteoporosis Internasional) Mereka yang terserang rata-rata berusia di atas 50 tahun. (Yayasan Osteoporosis Internasional) Satu dari tiga perempuan dan satu dari lima pria di Indonesia terserang osteoporosis atau keretakan tulang. (Yayasan Osteoporosis Internasional) Dua dari lima orang Indonesia memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis. (DEPKES, 2006) Jumlah penderita osteoporosis di Indonesia jauh lebih besar dari data terakhir Depkes, yang mematok angka 19,7% dari seluruh penduduk dengan alasan perokok di negeri ini urutan ke-2 dunia setelah China. Faktor Risiko Osteoporosis 1. Wanita Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun. Selain itu, wanita pun mengalami menopause yang dapat terjadi pada usia 45 tahun. 2. Usia Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh justru menurun. Pada usia 75-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam mengalami kehilangan tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan kalsium menurun dan fungsi hormon paratiroid meningkat. 3. Ras/Suku Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia rendah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa dan menghindari produk dari hewan. Pria dan wanita kulit hitam dan hispanik memiliki risiko yang signifikan meskipun rendah. 4. Keturunan Penderita osteoporosis Jika ada anggota keluarga yang menderita osteoporosis, maka berhati-hatilah. Osteoporosis menyerang penderita dengan karakteristik tulang tertentu. Seperti kesamaan perawakan dan bentuk tulang tubuh. Itu artinya dalam garis keluarga pasti punya struktur genetik tulang yang sama 5. Gaya Hidup Kurang Baik Konsumsi daging merah dan minuman bersoda, karena keduanya mengandung fosfor yang merangsang pembentukan horman parathyroid, penyebab pelepasan kalsium dari dalam

darah. Minuman berkafein dan beralkohol. Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak. Hal ini dipertegas oleh Dr.Robert Heany dan Dr. Karen Rafferty dari creighton University Osteoporosis Research Centre di Nebraska yang menemukan hubungan antara minuman berkafein dengan keroposnya tulang. Hasilnya adalah bahwa air seni peminum kafein lebih banyak mengandung kalsium, dan kalsium itu berasal dari proses pembentukan tulang. Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin yang menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblas). Malas Olahraga Wanita yang malas bergerak atau olahraga akan terhambat proses osteoblasnya (proses pembentukan massa tulang). Selain itu kepadatan massa tulang akan berkurang. Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot akan memacu tulang untuk membentuk massa. Merokok Ternyata rokok dapat meningkatkan risiko penyakit osteoporosis. Perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan. Disamping itu, rokok juga membuat penghisapnya bisa mengalami hipertensi, penyakit jantung, dan tersumbatnya aliran darah ke seluruh tubuh. Kalau darah sudah tersumbat, maka proses pembentukan tulang sulit terjadi. Jadi, nikotin jelas menyebabkan osteoporosis baik secara langsung tidak langsung. Saat masih berusia muda, efek nikotin pada tulang memang tidak akan terasa karena proses pembentuk tulang masih terus terjadi. Namun, saat melewati umur 35, efek rokok pada tulang akan mulai terasa, karena proses pembentukan pada umur tersebut sudah berhenti. Kurang Kalsium Jika kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang. 6. Mengkonsumsi Obat Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada penyakit asma dan alergi ternyata menyebabkan risiko penyakit osteoporosis. Jika sering dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan mengurangi massa tulang. Sebab, kortikosteroid menghambat proses osteoblas. Selain itu, obat heparin dan antikejang juga menyebabkan penyakit osteoporosis. Konsultasikan ke dokter sebelum mengkonsumsi obat jenis ini agar dosisnya tepat dan tidak merugikan tulang. 7. Kurus dan Mungil Perawakan kurus dan mungil memiliki bobot tubuh cenderung ringan misal kurang dari 57 kg, padahal tulang akan giat membentuk sel asal ditekan oleh bobot yang berat. Karena posisi tulang menyangga bobot maka tulang akan terangsang untuk membentuk massa pada area

tersebut, terutama pada derah pinggul dan panggul. Jika bobot tubuh ringan maka massa tulang cenderung kurang terbentuk sempurna.

OSTEOROPOSIS
PENGERTIAN OSTEOPOROSIS
A. Definisi Osteoporosis Pernahkah anda melihat wanita tua bertubuh bongkok? Wanita tua itu pasti menderita penyakit osteoporosis yang menyebabkan tulanh punggungnya melengkung. Osteoporosis tidak menampakkan tanda-tanda fisik yang nyata hingga terjadi keropos atau keretakan pada usia senja. Secara harfiah, kata osteo berarti berlubang. Istilah populernya adalah tulang keropos. Zat kapur, kalk atau kalsium adalah mineral terbanyak dalam tubuh, kurang lebih 98% kalsium dalam tubuh terdapat dalam tullang. Penempatan kalsium ke dalam jaringan tulang disebut demineralisasi. Proses mineralisasi dan demineralisasi berlangsung seumur hidup. Osteoporosis terjadi jika proses demineralisasi melebihi mineralisasi. Pencegahan dan pengobatan osteoporosis ditujukan untuk menyaimbangkan proses demineralisasi. Kelompok kerja World Health Organisation (WHO) dan consensus ahli mendefinisikan osteoporosis menjadi penyakit yang ditandai dengan rendahnya massa tulang dan memburuknya mikrostruktural jaringan tulang, yang menyebabakan kerapuhan tulang sehingga meningkatkan risiko terjadinya fraktur. Dimana keadaan tersebut tidak memberikan keluhan klinis, kecuali apabila telah terjadi fraktur (tief in the night). Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik, dan fraktur osteoporosis dapat terjadi pada setiap tempat. Meskipun fraktur yang berhubungan dengan kelainan ini meliputi torak dan tulang belakang (lumbal), radius distal dan femur proksimal, definisi tersebut tidak berarti bahwa semua fraktur pada tempat yang berhubungan dengan osteoporosis disebabkan oleh kelainan ini.interaksi antara geometri tulang dan dinamika terjatuh atau kacelakaan (trauma), keadaan lingkungan sekitar, juga merupakan factor penting yang menyebabkan fraktue. Ini semua dpat berdiri sendiri atau berhubungan dengan rendahnya densitas tulang. Dengan demikian, penyakit osteoporosis adalah berkuramgnya kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah, tulang terdiri dari aklsium kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi keras dan padat. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang, mak tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis. Meskipun kalsium diluar tulang ahnya kurang lebih 2%dari kalsium dalam tubuh, perannya sangat vital, terutama untuk kegiatan enzim, hormone, saraf, otot, dan pembekuan darah. Kalsium yang beredar dalam darah menjadi patokan keseimbangan kalsium diseluruh tubuh. Keseimbangan dan kestabilan kadar kalsium darah terutama ditentukan oleh hormone paratiroid. Kalau kadar kalsium dalam darah normal, maka proses mineralisasi berlangsung seimbang. Osteoporosis atau keropos tulang adalah penyakit kronik yang ditandai dengan rendahnya massa tulang yang disertai mikro arsitektur tulang dan penurunan kwalitas jaringan tulang yang dapat menimbulakn kerapuhan tulang. Keadaan ini berisiko tinggi, karena tulang menjadi rapuh dan

mudah ratak, bahkan patah. Banyak orang tidak menyadari jika osteoporosis merupakan pembunuh tersembunyi. Penyakit ini hamper tidak menimbulkan gejala yang jelas. Sering kali, osteoporosis justru diketahui ketika sudah parah. Contoh kasus seorang terpeleset ringan, tetapi tulangnya patah dibagian lengan atau pinggang. Jika kita bertanya pada sekumpulan wanita usia paro baya ( 40 50 tahun) mengenai sejauh mana pemahaman mereka terhadap ancaman osteoporosis, ternyata informasi yang kita dapat sangat beragam. Ada yang beranggapan kondisi tubuhnya amanaman saja karena selama ini tidak merasakan adnya keluhan, sehingga dia tidak perlu berjaga-jaga secara berlebihan. Namun, sebagian ada juga yang sangat sadar akan pentingnya perhatian terhadap kesehatan tulang pada usia tersebut. Osteoporosis merupakan penyakit tulang yang umum pada orang dewasa. Penyakit ini menyebabakan tulang lebih mudah keropos dan lebih mudah patah daripada tulang yang normal. Disbanding penyakit tulang lain seperti ostomalasia dan rickets, osteoporosis berbeda. Ini disebabkan berkurangnya matriks organic buksn kelainan klsifikasi tulang. Pendeteksian dini osteoporosis merupakan langkah yang tepat untuk terjdinya fraktur (patah tulang). Fraktur lebih sering terjadi pada pergelangan tangan, tulang belakang, serta pinggang, tetapi semua tulang bisa mengalaminya. Perempuan kulit putih lebih mudah terkena, tetepi ada pula faktor risiko lainnya mencakup asupan kalsium yang rendah, aktifitas fisik yang kurang, obatobatan tertentu, seperti kortikosteroid dan pewarisan penyakit pada keluarga. Osteoporosis dapat terjadi pada wanita maupun pria. Dari hasil penelitian para ahli, 80% terjadi pada wanita atau dengan perbandinagn kejadian 6:1. wanita yang terkena pun bisa tua ataupun muda, namun wanita muda yang mengalami penghentian siklis menstruasi (amenorrhea). Hal ini terjadi karena wanita mengalami hilangnya massa tulang puncak lebih rendah dibandingkan pria. Disampng itu, wanita hamil dan menyusui telah sangat menyedot persendian bahan-bahan tulang untuk janin dan bayinya. Juga wanita mengalami hilangnya massa tulang yang cepat pada tahuntahun pertama pada menopause. Pada massa menopause dan post menopause, produksi hormone estrogen menurun mengakibatkan kehilangan bahan-bahan tulang sehingga terjadi osteoporosis. Demikian juga 20 tahun sesudah menopause, angka kejadian osteoporosis meningkat menjadi 70% dan usia 60 tahun sepertiganya mengalami patah tulang. Biasanya sesudah menopause setiap penambahan umur 10 tahun risiko osteoporosis akan bertambah 15%. Berbeda dengan pria yang mempunyai massa tulang 30% lebih banyak dari wanita. Pria diatas 45 tahun lebih sedikit dari pada wanita. Dengan demikian, osteoporosis ini jelas merupakan penyakit wanita dibandingkan dengan pria. Bahkan osteoporosis inipun ternyata bisa menyerang wanita sejak masih muda. Tidak dapat dipungkiri penyakit osteoporosis pada wanita ini dipengaruhi oleh hormone estrogen. Namun, karena gejala baru muncul detelah usia 50 tahun, penyakit osteoporosis tidak mudah dideteksi secara dini. Jumlah usia lanjut di Indonesia diperkirakan akan naik 414 persen dalam ukuran waktu 19902025, sedangkan perempuan menopause yang tahun 2000 diperhitungkan 15.5 juta akan naik menjadi 24 juta pada tahun 2015. bayangkan betapa besar jumlah penduduk yang dapat terancam penyakit osteoporosis. Selain itu, ada lagi factor yang membuat masalah osteoporosis di Indonesia semakin meningkat, yakni masalah yang berhubungan dengan masalah hormonal pada menopause. Menopause lebih cepat dicapai wanita Indonesia pada usia 48 tahun dibandingkan wanita barat, yaitu usia 60 tahun. Mulai berkurangnya paparan terhadap sinar matahari. Kurangnya asupan kalisum. Perubahan gaya hidup seperti merokok, alcohol dan berkurangnya latihan fisik, penggunaan

obat-obatan steroidjangka panjang, akan mendatangkan risiko osteoporosis tanpa gejala klinis yang menyertainya. Osteoporosis merupakan masalah kesehatan karena beratnya konsekwensi fraktur pada pasien dan sistim perawatan kesehatan. Data retrospektif osteoporosis yang dikumpulkan di UPT Makmal Terpadu Iminoendokrinologi, FKUI dari 1690 kasus osteoporosis, ternyata yang pernah mengalami patah tulang femur dan radius sebanyak 249 kasus (14,7%). Demikian pula angka kejadian pada fraktur hip (pinggul), tulang belakang, dan wirst (pergelangan tangan) di RSUD Dr. soetomo Surabaya pada tahun 2001-2005, meliputi 49 dari toyal83 kasus fraktur hip pada wanita usia 60 tahun. Terdapat 8 dari 36 kasus fraktur tulang belakang dan terdapat 53 dari 173 kasus fraktur wirst. Dimana sebagian besar terjadi pada wanita >60 tahun dan disebabkan oleh kecelakaan rumah tangga. Selain itu, juga memiliki implikasi yang penting pada keadaan social dan ekonomi. Di Amerika dari 300.000 kasus fraktur osteoporosis pada tahun 1991 dibutuhkan dana $5 milyar. Dan diperkirakan akan membutuhkan dana mencapai $30-$40 milyar pada tahun 2020. di Indonesia 426.300 fraktur osteoporosis dibutuhkan dana $3.8 milyar . dapat dibayangkan biaya pada tahun 2050. Berikut ini fakta mengenai penyakit osteoporosis yang dapat membukakan mata dan meningkatkan kesadaran akan ancaman penyakit osteoporosis. Berdasarkan kajian dunia ada fakta bahwa : - Satu diantara tiga wanita diatas usia 50 tahun dan satu diantara 5 pria diatas 50 tahun menderita osteoporosis. - Penderita osteoporosis di Eropa, Jepang dan Amerika sebanyak 75 juta penduduk, sedangkan China 84 juta penduduk. - Ada 200 juta penderita osteoporosis di seluruh dunia. Risiko kematian akibat patah tulang pinggul sama dengan kanker payudara. Berdasarkan studi di Indonesia, fakta-faktanya sebagai berikut : - Prevalensi osteoporosis untuk umur kurang dari 70 tahun untuk wanita sebanyak 18-36%, sedangkan pria 20-27 %, untuk umur di atas 70 tahun untuk wanita 53.6%, pria 38%. - Lebih dari 50% keretakan osteoporosis pinggang diseluruh dunia kemungkinan terjadi di Asia pada 2050 (Yayasan Osteoporosis Internasional). - Mereka yang terserang rata-rata berusia diatas 50 tahun (Yayasan Osteoporosis Internasional). - Dua dari lima orang Indonesia memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis (DEPKES, 2006) - Jumlah penderita osteoporosis di Indonesia jauh lebih besar dari data terakhir Depkes, yang mematok angka 19.7% dari seluruh penduduk dengan alas an perokok di negri ini urutan ke-2 dinia setelah China. Karena itu, kita harus mengetahui dan memahami densitas mineral tulang, sebab risiko terjatuh dan akibat kecelakaan sulit diukur dan diperkirakan. Definisi WHO mengenai osteoporosis menjelaskan mengenai osteoporisis menjelaskan hanya spesifik pada tulang yang merupakan risiko terjadinya fraktur. Ini dipengaruhi densitas tulang. Kelompok kerja WHO menggunakan ukuran densitas mineral tulang : - Normal : densitas tulang kurang dari 1 standar deviasi di bawah rata-rata wanita muda normal (T>-1). - Osteopenia : densitas tulang antara 1 standar deviasi dan 2.5 standar deviasi di bawah rata-rata wanita muda normal (-2.5<t<-1)>B. Jenis Osteoporosis dan Faktor Pemicunya </t<-1)>

Berdasarkan jenisnya, penyakit osteoporosis dibagi menjadi dua bagian, yaitu : Osteoporosis primer yang dapat terjadi pada tiap kelompok umur. Jenis osteoporosis ini factor pemicunya adalah merokok, aktivitas, pubertas tertunda, berat badan rendah, alkohol, ras kulit putih/asia, riwayat keluarga, postur tubuh, dan asupan kalsium yang rendah. Osteoporosis primer terdiri dari dua bagian : A. Tipe I (Post-menopusal) : terdiri dari 15-20 tahun setelah menopause (53 75 tahun). Ditandai oleh fraktur tulang belakang dan berkurangnya gigi geligi. Hal itu disebabkan luasnya jaringan trabrkular pada tempat tersebut, diman jaringan trabekular lebih responsif terhadap defisiensi estrogen. Terjadi karena kekurangan estrogen yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita, tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini dari pada wanita kulit hitam. B. Tipe II (Seline) : Osteoporosis jenis ini dapat terjadi pada tiap kelompok umur. Penyebabnya meliputi ekses kortikosteroid, hipertiroidisme, multiple mieloma, malnuntrisi, defisiensi estrogen, hiperparatiroidisme, fakror genetic dan obat-obatan. Kemumgkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidak seimbangan diantara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru.biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan dua kali lebih sering menyerang pada wanita. C. Osteoporosis sekunder : dialami oleh kurang dari 5% penderita osteoporosis, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan. Bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (kortikosteroid, barbiturate, anti kejang dan hormone tiroid yang berlebihan). Pemakaian alcohol yang berlebihan dan merokok memperburuk keadaan osteoporosis. D. Osteoporosis juvenile idiopatik : merupakan osteoporosis yang tidak di ketahiu penyebabnya. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormone yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang. Dari penjelasan diatas, jelaslah berbagai factor risisko menjadi penyebab munculnya penyakit osteoporosis. Factor-faktor tersebut adalah : - Mengalami fraktur di atas 50 tahun, karena seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh justru menurun sehingga penyerapan kalsium menurun dan fungsi hormone para tiroid meningkat - Memiliki massa tulang yang rendah akibat dari tubuh kurus dan mungil, tulang akan giat membentuk sel jika di tekan oleh berat badan, fungsi tulang adalah untuk menyangga bobot maka dengan demikian tulang akan terangsang untuk membentuk massa pada daerah tersebut, terutama pada daerah pinggul dan panggul. Jika bobot tubuh ringan, maka massa tulang cenderung kurang terbentuk sempurna. - Memiliki kerabat dengan riwayat osteoporosis. Karma dalam keluarga pasti mempunyai struktur genetic tulang yang sama - Lebih banyak di derita oleh wanita - Memiliki ukuran tulang yang kecil - Gaya hidup yang tidak sehat : - Sering mengkonsumsi daging merah dan minuman bersoda, karena keduanya mengandung banyak fosfor yang merangsang pembentukan hormone tiroid, penyebab lepasnya kalsium dari dalam darah.

- Minuman bekafein dan beralkohol, air seni peminum kafein lebih banyak mengandung kalsium, dan kalsium itu berasal dari proses pembentukan tulang. Selain itu kafein dan alcohol bersifat toksin yang menghambat proses pembentukan massa tulang. - Malas berolahraga. Semakin banyak gerak dan olahraga, maka otot akan terpacu untuk membentuk massa - Merokok, perokok sangat rentan terhadap osteoporosis, karena zat nikotin didalamnya dapat mempercepat penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormone estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel tidak kuat dalam mrenghadapi proses pelapukan, rokok dapat membuat penghisapnya mengalami hipertensi, penyakit jantung, dan tersumbatnya aliran darah keseluruh tubuh. Saat melewati umur35, efek rokok pada tulang akan mulai terasa, karena prosespembentukan pada umur tersebut sudah terhenti. - Kurang kalsium, jika kalsium tubuh berkurang maka tubuh akanmengeluarkan hormonyang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang - Kurang hormone estrogen, terutama setelah menopause. - Penderita anoreksia nervousa - Mengkonsumsi obat yang mengandung kortikosteroid - Rendahnya kadar testosterone pada priaSuku atau ras, para ahli berpendapat bahwa factor genetic berperan 60-80% terhadap massa tulang sedangkan lingkungan berpengaruh 20-40%.

Penyakit Osteoporosis Pernahkah Anda melihat wanita tua bertubuh bongkok? Wanita tua itu pasti menderita penyakit osteoporosis yang menyebabkan tulang punggungnya melengkung. Osteoporosis tidak menampakkan tanda-tanda fisik yang nyata hingga terjadi keropos atau keretakan pada usia senja. Penyakit osteoporosis adalah berkurangnya kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Tulang terdiri dari mineral-mineral seperti kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi keras dan padat. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang, maka tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis. Sekitar 80% persen penderita penyakit osteoporosis adalah wanita, termasuk wanita muda yang mengalami penghentian siklus menstruasi (amenorrhea). Hilangnya hormon estrogen setelah menopause meningkatkan risiko terkena osteoporosis. Penyakit osteoporosis yang kerap disebut penyakit keropos tulang ini ternyata menyerang wanita sejak masih muda. Tidak dapat dipungkiri penyakit osteoporosis pada wanita ini dipengaruhi oleh hormon estrogen. Namun, karena gejala baru muncul setelah usia 50 tahun, penyakit

osteoporosis tidak mudah dideteksi secara dini. Meskipun penyakit osteoporosis lebih banyak menyerang wanita, pria tetap memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis. Sama seperti pada wanita, penyakit osteoporosis pada pria juga dipengaruhi estrogen. Bedanya, laki-laki tidak mengalami menopause, sehingga osteoporosis datang lebih lambat. Jumlah usia lanjut di Indonesia diperkirakan akan naik 414 persen dalam kurun waktu 1990-2025, sedangkan perempuan menopause yang tahun 2000 diperhitungkan 15,5 juta akan naik menjadi 24 juta pada tahun 2015. Bayangkan betapa besar jumlah penduduk yang dapat terancam penyakit osteoporosis. Berikut ini fakta seputar penyakit osteoporosis yang dapat membukakan mata dan meningkatkan kesadaran akan ancaman penyakit osteoporosis. Studi di dunia: Satu diantara tiga wanita di atas usia 50 tahun dan satu diantara lima pria di atas 50 tahun menderita osteoporosis. Penderita osteoporosis di Eropa, Jepang, Amerika sebanyak 75 juta penduduk, sedangkan China 84 juta penduduk. Ada 200 juta penderita osteoporosis di seluruh dunia. Risiko kematian akibat patah tulang pinggul sama dengan kanker payudara. (Studi Cummings et al, 1989) Studi di Indonesia: Prevalensi osteoporosis untuk umur kurang dari 70 tahun untuk wanita sebanyak 18-36%, sedangkan pria 20-27%, untuk umur di atas 70 tahun untuk wanita 53,6%, pria 38%. Lebih dari 50% keretakan osteoporosis pinggang di seluruh dunia kemungkinan terjadi di Asia pada 2050. (Yayasan Osteoporosis Internasional) Mereka yang terserang rata-rata berusia di atas 50 tahun. (Yayasan Osteoporosis Internasional) Satu dari tiga perempuan dan satu dari lima pria di Indonesia terserang osteoporosis atau keretakan tulang. (Yayasan Osteoporosis Internasional) Dua dari lima orang Indonesia memiliki risiko terkena penyakit

osteoporosis. (DEPKES, 2006) Jumlah penderita osteoporosis di Indonesia jauh lebih besar dari data terakhir Depkes, yang mematok angka 19,7% dari seluruh penduduk dengan alasan perokok di negeri ini urutan ke-2 dunia setelah China. Osteoporosis anak
Osteoporosis pada anak disebut juvenile idiopathic osteoporosis. [sunting]Penyebab Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam. Osteoporosis senilis terjadi karena kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan di antara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia di atas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderitaosteoporosis senilis dan postmenopausal. Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan.Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan ini. Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang. [sunting]Gejala Kepadatan tulang berkurang secara perlahan (terutama pada penderita osteoporosis senilis), sehingga pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala. Beberapa penderita tidak memiliki gejala. Jika kepadatan tulang sangat berkurang sehingga tulang menjadi kolaps atau hancur, maka

akan timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk. Kolaps tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang belakang yang rapuh bisa mengalami kolaps secara spontan atau karena cedera ringan. Biasanya nyeri timbul secara tiba-tiba dan dirasakan di daerah tertentu dari punggung, yang akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan. Jika disentuh, daerah tersebut akan terasa sakit, tetapi biasanya rasa sakit ini akan menghilang secara bertahap setelah beberapa minggu atau beberapa bulan. Jika beberapa tulang belakang hancur, maka akan terbentuk kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang (punuk Dowager), yang menyebabkan ketegangan otot dan sakit. Tulang lainnya bisa patah, yang seringkali disebabkan oleh tekanan yang ringan atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang panggul. Yang juga sering terjadi adalah patah tulang lengan (radius) di daerah persambungannya dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles. Selain itu, pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung menyembuh secara perlahan. [sunting]Diagnosa Pada seseorang yang mengalami patah tulang, diagnosis osteoporosis ditegakkan berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik dan rontgen tulang. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk menyingkirkan keadaan lainnya yang bisa di atasi, yang bisa menyebabkan osteoporosis. Untuk mendiagnosis osteoporosis sebelum terjadinya patah tulang dilakukan pemeriksaan yang menilai kepadatan tulang. Pemeriksaan yang paling akurat adalah DXA (dual-energy x-ray absorptiometry). Pemeriksaan ini aman dan tidak menimbulkan nyeri, bisa dilakukan dalam waktu 5-15 menit. DXA sangat berguna untuk:

wanita yang memiliki risiko tinggi menderita osteoporosis penderita yang diagnosisnya belum pasti penderita yang hasil pengobatannya harus dinilai secara akurat.

[sunting]Patogenesis Mekanisme yang mendasari dalam semua kasus osteoporosis adalah ketidakseimbangan antara resorpsi tulang dan pembentukan tulang. Dalam tulang normal, terdapat matrik konstan remodeling tulang; hingga 10% dari seluruh massa tulang mungkin mengalami remodeling pada saat titik waktu tertentu. Proses pengambilan tempat dalam satuan-satuan multiseluler tulang (bone multicellular units (BMUs)) pertama kali dijelaskan oleh Frost tahun 1963.[1] Tulang diresorpsi oleh sel osteoklas (yang diturunkan dari sumsum tulang), setelah tulang baru

disetorkan oleh sel osteoblas.[2] [sunting]Pengobatan Tujuan pengobatan adalah meningkatkan kepadatan tulang. Semua wanita, terutama yang menderita osteoporosis, harus mengonsumsi kalsium dan vitamin D dalam jumlah yang mencukupi. Wanita paska menopause yang menderita osteoporosis juga bisa mendapatkan estrogen (biasanya bersama dengan progesteron) atau alendronat, yang bisa memperlambat atau menghentikan penyakitnya. Bifosfonat juga digunakan untuk mengobati osteoporosis. Alendronat berfungsi:

mengurangi kecepatan penyerapan tulang pada wanita pasca menopause meningkatakan massa tulang di tulang belakang dan tulang panggul mengurangi angka kejadian patah tulang.

Supaya diserap dengan baik, alendronat harus diminum dengan segelas penuh air pada pagi hari dan dalam waktu 30 menit sesudahnya tidak boleh makan atau minum yang lain. Alendronat bisa mengiritasi lapisan saluran pencernaan bagian atas, sehingga setelah meminumnya tidak boleh berbaring, minimal selama 30 menit sesudahnya. Obat ini tidak boleh diberikan kepada orang yang memiliki kesulitan menelan atau penyakit kerongkongan dan lambung tertentu.

Kalsitonin dianjurkan untuk diberikan kepada orang yang menderita patah tulang belakang yang disertai nyeri. Obat ini bisa diberikan dalam bentuk suntikan atau semprot hidung. Tambahan fluorida bisa meningkatkan kepadatan tulang. Tetapi tulang bisa mengalami kelainan dan menjadi rapuh, sehingga pemakaiannya tidak dianjurkan. Pria yang menderita osteoporosis biasanya mendapatkan kalsium dan tambahan vitamin D, terutama jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuhnya tidak menyerap kalsium dalam jumlah yang mencukupi. Jika kadar testosteronnya rendah, bisa diberikan testosteron. Patah tulang karena osteoporosis harus diobati. Patah tulang panggul biasanya di atasi dengan tindakan pembedahan. Patah tulang pergelangan biasanya digips atau diperbaiki dengan pembedahan. Pada kolaps tulang belakang disertai nyeri punggung yang hebat, diberikan obat pereda nyeri, dipasang supportive back brace dan dilakukan terapi fisik. [sunting]Pencegahan

Pencegahan osteoporosi meliputi:

Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dengan mengonsumsi kalsium yang cukup Melakukan olah raga dengan beban Mengkonsumsi obat (untuk beberapa orang tertentu).

Mengkonsumsi kalsium dalam jumlah yang cukup sangat efektif, terutama sebelum tercapainya kepadatan tulang maksimal (sekitar umur 30 tahun). Minum 2 gelas susu dan tambahan vitamin D setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang sebelumnya tidak mendapatkan cukup kalsium. Akan tetapi tablet kalsium dan susu yang dikonsumsi setiap hari akhir - akhir ini menjadi perdebatan sebagai pemicu terjadi osteoporosis, berhubungan dengan teori osteoblast. Olah raga beban (misalnya berjalan dan menaiki tangga) akan meningkatkan kepadatan tulang. Berenang tidak meningkatkan kepadatan tulang. Estrogen membantu mempertahankan kepadatan tulang pada wanita dan sering diminum bersamaan dengan progesteron. Terapi sulih estrogen paling efektif dimulai dalam 4-6 tahun setelah menopause; tetapi jika baru dimulai lebih dari 6 tahun setelah menopause, masih bisa memperlambat kerapuhan tulang dan mengurangi risiko patah tulang. Raloksifen merupakan obat menyerupai estrogen yang baru, yang mungkin kurang efektif daripada estrogen dalam mencegah kerapuhan tulang, tetapi tidak memiliki efek terhadap payudara atau rahim. Untuk mencegah osteroporosis, bisfosfonat (contohnya alendronat), bisa digunakan sendiri atau bersamaan dengan terapi sulih hormon. [sunting]Epidemiologi Sementara ini diperkirakan 1 dari 3 wanita dan 1 dari 12 pria di atas usia 50 tahun di seluruh dunia mengidap osteoporosis. Ini menambah kejadian jutaan fraktur lainnya pertahunnya yang sebagian besar melibatkan lumbar vertebra, panggul dan pergelangan tangan (wrist). Fragility fracture dari tulang rusuk juga umum terjadi pada pria. [sunting]Fraktur

Panggul

Fraktur panggul paling sering terjadi akibat osteoporosis. Di AS, lebih dari 250.000 fraktur panggul pertahunnya merupakan akibat dari osteoporosis. [3] Ini diperkirakan bahwa seorang wanita kulit putih usia 50 tahun mempunyai waktu hidup 17,5% berisiko fraktur femur proksimal. Insidensi fraktur panggul meningkat setiap dekade dari urutan ke 6 menjadi urutan ke 9 baik untuk wanita maupun pria pada semua populasi. Insidensi tertingi ditemukan pada pria dan

wanita usia 80 tahun ke atas.[4] [sunting]Fraktur

Vertebral

Antara 35-50% dari seluruh wanita usia di atas 50 tahun setidaknya satu mengidap fraktur vertebral. Di AS, 700.000 fraktur vertebra terjadi pertahun, tapi hanya sekitar 1/3 yang diketahui. Dalam urutan kejadian 9.704 wanita usia 68,8 tahun pada studi selama 15 tahun, didapatkan 324 wanita sudah menderita fraktur vertebral pada saat mulai dimasukkan ke dalam penelitian; 18.2% berkembang menjadi fraktur vertebra, tapi risiko meningkat hingga 41.4% pada wanita yang sebelumnya telah terjadi fraktur vertebra. [5] [sunting]Fraktur

Pergelangan Tangan

Di AS, 250.000 fraktur pergelangan tangan setiap tahunnya merupakan akibat dari osteoporosis.[3] Fraktur pergelangan tangan merupakan tipe fraktur ketiga paling umum dari osteoporosis. Resiko waktu hidup yang ditopang fraktur Colles sekitar 16% untuk wanita kulit putih. Ketika wanita mencapai usia 70 tahun, sekitar 20%-nya setidaknya terdapat satu fraktur pergelangan tangan[4] [sunting]Fraktur

Tulang Rusuk

Fragility fracture dari tulang iga umumnya terjadi pada laki-laki usia muda 25 tahun ke atas. Tanda-tanda osteoporosis pada pria ini sering diabaikan karena sering aktif secara fisik dan menderita fraktur pada saat berlatih aktivitas fisik. Contohnya ketika jatuh saat berski air atau jet ski. Bagaimanapun, tes cepat dari tingkat testosteron individu berikut diagnosis fraktur akan nampak dengan mudah apakah individu kemungkinan berisiko. [sunting]Lihat

pula luar

Yayasan Osteoporosis Internasional

[sunting]Pranala

(Indonesia) 7 Cara Mudah Cegah Osteoporosis Sejak Dini (Indonesia) Hati-hati Osteoporosis Gara-gara Diet ! (Indonesia) Osteoporosis (Indonesia) Tanya Jawab Osteoporosis (Indonesia) International Osteoporosis Foundation (Indonesia) Risiko Penyakit Tulang Osteoporosis

[sunting]Referensi

1. ^ Frost HM, Thomas CC. Bone Remodeling Dynamics. Springfield, IL: 1963. 2. ^ Raisz L (2005). "Pathogenesis of osteoporosis: concepts, conflicts, and prospects.". J Clin Invest 115 (12): 331825. doi:10.1172/JCI27071. PMID 16322775. 3. ^
a b

Riggs, B.L.; Melton, Lj 3.r.d. (2005). "The worldwide problem of osteoporosis: insights

afforded by epidemiology.". Bone. PMID 8573428. 4. ^


a b

"MerckMedicus Modules: Osteoporosis - Epidemiology". Merck & Co., Inc. Diakses pada 13

Juni 2008. 5. ^ Cauley JA, Hochberg MC, Lui LY et al (2007). "Long-term Risk of Incident Vertebral Fractures". JAMA 298: 27612767. doi:10.1001/jama.298.23.2761. PMID 18165669.
SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI DINAS KESEHATAN PROVINSI DKI JAKARTA Kelurahan Duri Kosambi Mewakili Lomba Pemanfaatan Hasil TOGA Tingkat Nasional

Tanaman Obat Keluarga yang disingkat dengan TOGA adalah sebidang tanah dihalaman atau lading yang dimanfaatkan untuk menanam tanaman yang berkhasiat sebagai obat. TOGA merupakan wujud partisipasi masyarakat dalam bidang peningkatan kesehatan dan pengobatan sederhana dengan memanfaatkan obat tradisional. Tanaman berkhasiat obat sudah digunakan sejak nenek moyang sebelum adanya obat dari bahan kimiawi. Banyak orang mengenal tanaman obat sebagai jamu (jawa). Pemanfaatan tanaman TOGA tidak mempunyai efek samping seperti halnya mengkonsumsi obat kimiawi.
read more... Posyandu Bungur III RW 07 Wakili Pemprov DKI Jakarta Lomba Tingkat Nasional

Posyandu Bungur III RW 07 Kelurahan Kabayoran Lama Selatan akan tampil mewakili Pemprov DKI Jakarta dalam Loma Posyandu tingkat Nasional tahun 2012. Posyandu Bungur III adalah Posyandu terbaik di DKI Jakarta yang telah lolos dari seleksi tingkat Provinsi, memiliki gedung permanen yang terletak di dalam Komplek KOSTRAD, tingkat perkembangan strata termasuk Posyandu Mandiri.
read more... Kunjungan TP PKK Kalimantan Timur ke Gebyar Posyandu 27 Provinsi DKI Jakarta

Gebyar Posyandu 27 Januari 2012 kali ini istimewa karena Posyandu RW 06 Kelurahan Pulo Kecamatan Kebayoran Baru Kota Adm. Jakarta Selatan kedatangan tamu dari TP PKK Kalimantan Timur, dihadiri oleh Ny. Ani Fajar (wakil ketua II TP PKK Prov. DKI Jakarta), Ny. Hj. Nani Ery Chayaridipura (wakil ketua IV TP PKK Prov. DKI Jakarta), dr. Prima Siwiningsih Walujati (Kepala Bidang Kesmas Dinas Kesehatan) dan lintas Sektor Terkait serta Ketua TP PKK Kota Adm. Jakarta Selatan.
read more... Saintifikasi Jamu Masih Jadi Prioritas Kemenkes Tahun 2012

Jakarta, Selama tahun 2011, saintifikasi jamu terus dikembangkan guna mendapatkan bukti ilmiah sehingga bisa diperoleh jamu yang benar-benar terbukti berkhasiat. Di tahun 2012, saintifikasi jamu masih tetap menjadi prioritas Kementerian Kesehatan. Ingin menjadikan jamu sebagai tuan rumah di negeri sendiri, Kementerian Kesehatan pun terus melakukan berbagai upaya untuk memajukan penelitian jamu Indonesia.
read more... Tahun 2012, Biaya Jampersal Naik Jadi Rp 600 Ribu

Jakarta, Di awal tahun 2011, Kementerian Kesehatan meluncurkan program Jaminan Persalinan (Jampersal) untuk membantu ibu-ibu melahirkan secara gratis di fasilitas kesehatan, dengan unit cost masing-masing ibu Rp 430 ribu. Tahun 2012, unit cost per paket Jampersal akan naik menjadi Rp 600 ribu. Menuju Universal Coverage, salah satu program Kementerian Kesehatan di tahun 2011 adalah program Jaminan Persalinan (Jampersal). Dengan program tersebut, ibu hamil bisa melakukan persalinan secara gratis di fasilitas kesehatan pemerintah dan juga swasta yang sudah menandatangai kerja sama, yang dibantu oleh tenaga kesehatan dengan hanya bermodalkan KTP saja. Hal ini diharapkan bisa membantu mengurangi angka kematian ibu dan bayi.
read more... 3 Penyakit Infeksi yang Banyak Melanda di Awal Tahun 2012

Jakarta, Penyakit memang bisa datang kapan saja dan dimana saja, namun ada beberapa penyakit yang mendominasi kasus yang datang ke rumah sakit hingga bahkan memerlukan rawat inap. Penyakit-penyakit tersebut banyak melanda di awal tahun 2012. Apa saja? "Kasus-kasus diare, infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan demam typhoid mendominasi kasus-kasus yang datang ke Poli Penyakit Dalam bahkan sampai perlu di rawat inap di akhir tahun 2011 dan awal 2012.

read more... The 2nd ARPaC Conference & Exhibition

The 2nd ASEAN Regional Primary Care Conference & Exhibition 7th Annual Scientific Meeting indonesia Association of Family "Arhieving MDG's Through Primary 24-26 November 2011, Novotel Mangga Dua Square, Jakarta, Indonesia

Physician Care"

Konferensi Internasional ARPaC ke-2 bersamaan dengan pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia ke-7
read more... Seminar Sehari Nutrition and Brain Development

Pada tanggal 17 Oktober 2011 Sekjen Kemenkes RI menyelenggarakan Seminar Nutrition and Brain Development bertempat di Hotel Ibis Tamarin Jakarta. Seminar ini dibuka oleh Dr. Ratna Rosita, MPHM (Sekjen Kemenkes RI) dengan 8 (delapan) orang Pakar sebagai Pembicara yaitu Prof.Dr.dr. Sri Sutami, Sp.S., Dr. dr. Hermanto Tri Djoewono, Sp.OG., dr. Aryono Hendarto, Sp.A., Prof. Dr. Netty Herawaty, MSc., Dr. Sri Soedarjati Nasar, Sp.A., dr. Ahmad Suryawan, Sp.A., Dra. Ieda Poernomo Sigit Sidi, Psi., Dr. dr. Dwijo Saputro, Sp.KJ.
read more... Pelayanan Perawatan Gizi Buruk Melalui Pusat Pemulihan Gizi Di Puskesmas Di Provinsi DKI Jakarta

Pelayanan Perawatan Gizi Buruk Melalui Pusat Pemulihan Gizi / Theurapetic Feeding Center (TFC) Di Puskesmas Di Provinsi DKI Jakarta Masalah Kurang Gizi masih menjadi masalah Kesehatan Masyarakat di Indonesia dan juga di Provinsi DKI Jakarta, Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukan bahwa prevalensi masalah Kurang gizi pada Balita di DKI Jakarta sebesar 11,3% (Nasional 17,9%) sementara masalah pendek sebesar 26,6% (Nasional 35,6%) dan Masalah kekurusan 11,3% (Nasional 13,3%) Hasil Laporan Perawatan gizi buruk di RS menunjukan bahwa 70% kasus gizi buruk umumnya disertai dengan penyakit penyerta seperti diare, ISPA, Tuberkulosis (TB), HIV, maupun gangguan pertumbuhan.
read more... Saka Bakti Husada DKI Jakarta

Satuan Karya Pramuka Bakti Husada (Saka Bakti Husada) merupakan salah satu bagian dari Kwartir Gerakan Pramuka yang turut membina kaum muda dibidang kesehatan. Sejalan dengan visi pembangunan kesehatan DKI Jakarta adalah Jakarta Sehat Untuk Semua, maka peranan Saka Bakti Husada menjadi lebih strategis. Sebagai kader bangsa dibidang kesehatan, diharapkan Saka Bakti Husada dapat ikut secara aktif menyelesaikan masalah kesehatan kaum muda sendiri, dan ikut membantu dalam menanggulangi masalah kesehatan masyarakat dilingkungannya.
read more...

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Lanjut usia (lansia) adalah kelompok penduduk yang berumur 60 tahun atau lebih (WHO, 1965). Saat ini di seluruh dunia jumlah lanjut usia di perkirakan mencapai 500 juta dan di perkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar. Di Indonesia sendiri pada tahun 2000, jumlah lansia meningkat mencapai 9,99% dari seluruh penduduk Indonesia (22.277.700 jiwa) dengan umur harapan hidup usia 65-70 tahun dan pada tahun 2020 di perkirakan akan mencapai 30 juta orang dengan umur harapan hidup 70-75 tahun (Badan Penelitian Statistic, 1992). Demensia adalah suatu kondisi konfusi kronik dan kehilangan kemampuan kognitif secara global dan progresif yang di hubungkan dengan masalah fisik (Watson, 2003). Mengenal penyakit demensia menyerang usia manula, bertambahnya usia maka makin besar peluang menderita penyakit demensia. peningkatan angka kejadian dan prevalensi kasus demensia mengikuti meningkatnya usia seseorang setelah lewat usia 60 tahun, prevalensi dari demensia berlipat dua kali setiap kenaikan 5 tahun usia. Dengan meningkatnya usia harapan hidup suatu populasi di perkirakan akan meningkat pula prevalensi demensia, dan di seluruh dunia di perkirakan lebih dari 30 juta penduduk menderita demensia dengan berbagai sebab. Pada Negara-negara maju terjadi

perubahan dramatik demografi penduduknya, yaitu meningkatnya populasi usia Universitas Sumatera Utaralanjut. Populasi di atas 65 tahun. Di amerika serikat di duga meningkat dari 33,5 juta pada tahun 1995 menjadi 39,4 juta pada tahun 2010 dan diperkirakan menjadi lebih dari 69 juta pada tahun 2030. dengan peningkatan ini muncul masalah masalah penyakit pada usia lanjut. Di Indonesia sendiri, menurut data profil kesehatan yang di laporkan oleh departemen kesehatan tahun 1998, terdapat 7,2 % populasi usia lanjut 60 tahun keatas kasus demensia (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta). Peningkatan angka kejadian kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup suatu populasi. Kira kira 5 % usia lanjut 65 -70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45 % pada usia di atas 85 tahun. Penyakit ini adalah penyebab yang paling umum dari gangguan intelektual yang berat pada orang lanjut usia dan kenyataannya merupakan suatu masalah dalam perawatan orang usia lanjut di rumah (Depkes RI). Dimedan, kelurahan timbang deli sendiri jumlah lansia dari umur rata-rata 70-90 tahun sebagian besar mengalami kepikunan, dari jumlah lansia 356 dengan umur 60-90 tahun yang ada di Kelurahan Timbang Deli. Dalam menghadapi kemunduran , mereka membutuhkan bantuan dalam mencapai rasa tentram , nyaman, kehangatan, dan perlakuan yang layak dari lingkungannya, memberikan perhatian pada orang lanjut usia dan mengupayakan agar mereka tidak terlalu tergantung kepada orang lain , mampu membantu diri sendiri, menjaga kesehatan sendiri adalah kewajiban keluarga Peran Keluarga, Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal dirumah. Hidup bersama

Universitas Sumatera Utaradengan penderita demensia bukan hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Pada tahap awal demensia dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara teratur. Ini sangat mambantu dalam menekan laju kemunduran kognitif yang dialami penderita demensia. Dukungan keluarga penting bagi penderita demensia. Berikut dukungan yang bisa di berikan untuk membantu penderita demensia. a. Pelajari lebih dalam tentang demensia. b. Curahkan kasih sayang dan berusaha untuk tenang dan sabar dalam menghadapi penderita. c. Berusaha memahami apa yang diderita penderita. d. Perlakukan penderita demensia sebagaimana biasa, tetap hormati dan usahakan untuk tidak berdebat dengan penderita. e. Bantu penderita melakukan aktivitas sehari-hari yang lambat laun akan mengalami penurunan. Menjalani mandi, makan, tidur dan aktivitas lainnya secara rutin, bisa memberikan keteraturan pada penderita. f. Mempertahankan lingkungan yang familiar akan membantu penderita tetap memiliki orientasi. Kalender yang besar, cahaya yang terang, jam dinding dengan angka-angka yang besar atau radio juga bisa membantu penderita tetap memiliki orientasi. g. Menyembunyikan kunci mobil dan memasang detektor pada pintu bisa membantu mencegah terjadinya kecelakaan pada penderita yang senang jalan-jalan (Mardjono, 2008). Dalam keluarga , usia lanjut merupakan figur tersendiri dalam kaitannya dengan sosial budaya bangsa sedangkan dalam kehidupan nasional, usia lanjut merupakan sumber daya yang bernilai sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman kehidupan yang dimilikinya yang dapat di manfaatkan untuk Universitas Sumatera Utarameningkatkan mutu kehidupan masyarakat keseluruhnya. Upaya kesehatan usia

lanjut adalah upaya kesehatan paripurna dasar dan di bidang kesehatan usia lanjut yang meliputi peningkatan kesehatan, pencegahan, pengobatan dan pemulihan. Tempat pelayanan kesehatan tersebut bisa di laksanakan di puskesmaspuskesmas ataupun rumah sakit serta di rumah dan institusi lainnya (Darmono, 2009). 2. Pertanyaan Penelitian Bagaimanakah perawatan yang akan di berikan pada lansia dengan demensia oleh keluarga. 3. Tujuan Penelitian Untuk mengidentifikasi perawatan lansia dengan demensia di Kelurahan Timbang Deli Kecamatan Medan Amplas. 4. Manfaat Penelitian 4.1 Praktek keperawatan Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk sebagai informasi dan masukan dalam memberikan intervensi terhadap perawatan lansia dengan demensia yang di lakukan oleh keluarga. 4.2 Pendidikan keperawatan Hasil penelitian ini dapat menjadi base evidence yang diitegrasikan dalam wahana pembelajaran keperawatan komunitas, khususnya keperawatan gerontik Universitas Sumatera Utaratentang materi pembelajaran perawatan lansia dengan demensia oleh keluarga, sehingga informasi ini dapat di kembangkan. 4.3 Peneliti keperawatan Dapat mrnjadi sumber informasi dan data tambahan bagi penelit i selanjutnya mengenai perawatan lansia dengan demensia 4.4 Penelitian untuk keluarga

Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi keluarga tentang perawatan lansia dengan demensia

Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan di bidang kesehatan, meningkatnya sosial ekonomi masyarakat dan meningkatnya pengetahuan masyarakat yang bermuara dengan meningkatnya pada kesejahteraan rakyat akan meningkatkan usia harapan hidup sehingga menyebabkan jumlah penduduk usia lanjut dari tahun ke tahun semakin meningkat (Nugroho, 2000). Pada tahun 2000 jumlah usia lanjut di Indonesia sekitar 15.1 juta jiwa atau 7.2% dari seluruh penduduk (Depsos, 2005). Pada tahun 2010 diperkirakan jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia, sebesar 24 juta jiwa atau 9.77% dari total jumlah penduduk (Depkes, 2008). Usia lanjut sebagai tahap akhir siklus kehidupan merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap individu yang sudah mencapai usia lanjut tersebut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihalangi (Stanley, 2006). Pada lanjut usia terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang dapat berakibat pada kelemahan organ, kemunduran fisik, timbulnya berbagai macam penyakit terutama penyakit degeneratif. Hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan, sosial, ekonomi dan psikologis (Depkes, 2008). Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada masa usia lanjut adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Hipertensi merupakan terjadinya peningkatan secara abnormal dan terus menerus tekanan darah yang disebabkan satu atau beberapa

faktor yang tidak berjalan sebagaimana mestinya dalam mempertahankan tekanan darah secara normal (Levine & Fodor, 2003). Hipertensi pada usia lanjut sebagian Universitas Sumatera Utarabesar merupakan hipertensi sistolik terisolasi (HST) (Kuswardhani, 2006). Hipertensi sistolik terisolasi adalah hipertensi yang terjadi ketika tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg namun tekanan diastolik dalam batas normal (Wahid, 2008). Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi setelah berusia 75 tahun. Hal ini merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi pada orang yang bertambah usianya. Data dari The National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) menunjukkan bahwa dari tahun 1999-2000, insiden hipertensi pada orang dewasa adalah sekitar 29-31%, yang berarti terdapat 58-65 juta penderita hipertensi di Amerika (Yogiantoro, 2006). Berdasarkan data Depkes (2008), prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31.7%. Cakupan diagnosis hipertensi oleh tenaga kesehatan hanya mencapai 24.0%, atau dengan kata lain sebanyak 76.0% kejadian hipertensi dalam masyarakat belum terdiagnosis. Dari hasil studi tentang kondisi sosial ekonomi dan kesehatan lanjut usia yang dilaksanakan Komnas Lansia di 10 propinsi tahun 2006, diketahui bahwa hipertensi menduduki peringkat kedua penyakit terbanyak yang diderita lansia setelah penyakit sendi (Depkes, 2008). Di Medan, jumlah penderita hipertensi cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini terlihat dari data Dinas Kesehatan dalam Laporan Tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Sumatera Utara tentang jumlah kunjung penderita sepuluh penyakit utama di Medan tahun 2002-2006. Penderita hipertensi pada tahun 2002 sebanyak 44.660 orang, pada tahun 2003 sebanyak 61.654 orang, pada tahun 2004 sebanyak 69.615 orang, dan pada tahun 2005 sebanyak 82.715 orang. Di tahun 2006, jumlah penderita hipertensi di Medan Johor adalah sebanyak 2.828 orang (BPS, 2007). Universitas Sumatera UtaraHipertensi sering kali disebut sebagai pembunuh gelap (silent killer), karena

termasuk penyakit yang mematikan, tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih dahulu (Vitahealth, 2006). Selain itu, hipertensi juga merupakan faktor risiko utama untuk stroke, gagal jantung dan penyakit koroner, dimana peranannya diperkirakan lebih besar dibandingkan pada orang yang lebih muda (Kuswardhani, 2006). Hipertensi pada lansia sebenarnya dapat dicegah dan dikontrol dengan membudayakan perilaku hidup sehat yang intinya mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisi dengan unsur kaya serat, rendah lemak dan rendah natrium (kurang dari 6 gr natrium perhari), berolahraga secara teratur, istirahat yang cukup, berpikir positif, tidak merokok, dan tidak mengonsumsi alkohol karena rokok dan alkohol dapat meningkatkan resiko hipertensi, namun kurangnya pengetahuan masyarakat yang memadai tentang hipertensi dan pencegahannya cenderung meningkatkan angka kejadian hipertensi (Wahid, 2008). Menurut Notoadmojo (2007), pengetahuan yang dimiliki seseorang mempengaruhi perilakunya, semakin baik pengetahuan seseorang maka perilakunya pun akan semakin baik dan pengetahuan itu sendiri dipengaruhi tingkat pendidikan, sumber informasi, dan pengalaman. Pengetahuan merupakan hasil dari penggunaan pancaindera yang didasarkan atas intuisi dan kebetulan, otoritas dan kewibawaan, tradisi, dan pendapat umum (Effendy, 2006). Menurut Soejati (2005 dalam Kristina dkk, 2008), salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya perubahan, pemahaman, sikap dan perilaku seseorang, sehingga seseorang mau mengadopsi perilaku baru, yaitu kesiapan psikologis yang ditentukan oleh tingkat pengetahuan. Dijelaskan pula Universitas Sumatera Utaraoleh Green dkk (2000 dalam Kristina dkk, 2008), bahwa pengetahuan merupakan salah satu faktor predisposisi agar suatu sikap menjadi perbuatan. Sumadi (2009) dalam penelitiannya mengenai pengaruh pengetahuan dan upaya mengendalikan hipertensi pada lansia di Posyandu Lansia Puskesmas Semin I

Yogyakarta menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan upaya mengendalikan hipertensi. Lansia yang kurang pengetahuannya mengenai hipertensi dan upaya yang kurang tepat mempunyai risiko lebih tinggi terjadinya penyakit kardiovaskular. Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk mengetahui dan meneliti lebih jauh mengenai hubungan antara pengetahuan dengan cara pencegahan hipertensi pada lansia di Kecamatan Medan Johor. 1.2. Pertanyaan Penelitian Adapun pertanyaan penelitian adalah : 1.2.1 Bagaimana gambaran pengetahuan lansia tentang hipertensi di Kecamatan Medan Johor. 1.2.2 Bagaimana cara pencegahan hipertensi yang dilakukan lansia di Kecamatan Medan Johor. 1.2.3 Adakah hubungan antara pengetahuan dengan cara pencegahan hipertensi yang dilakukan lansia di Kecamatan Medan Johor. Universitas Sumatera Utara1.3. Hipotesa Penelitian Hipotesa dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan lansia mengenai hipertensi terhadap cara pencegahan hipertensi pada lansia di Kecamatan Medan Johor. 1.4. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk : 1.4.1 Mengidentifikasi pengetahuan lansia tentang hipertensi di Kecamatan Medan Johor. 1.4.2 Mengidentifikasi cara pencegahan hipertensi yang dilakukan lansia di Kecamatan Medan Johor.

1.4.3 Menguji hubungan antara pengetahuan dengan cara pencegahan hipertensi yang dilakukan lansia di Kecamatan Medan Johor. 1.5. Manfaat Penelitian Hasil penelitian diharapkan akan bermanfaat untuk : 1.5.1 Pendidikan kesehatan Sebagai informasi bagi pendidikan kesehatan terutama bagi pendidikan keperawatan tentang pengetahuan dan pencegahan hipertensi yang dilakukan lansia di Kecamatan Medan Johor dan dapat dijadikan sebagai tambahan dalam pembuatan bahan mata ajar terutama bagian keperawatan medikal bedah dan keperawatan komunitas. Universitas Sumatera Utara1.5.2 Praktek keperawatan Sebagai informasi bagi praktek keperawatan komunitas dalam memberikan asuhan keperawatan dan penyuluhan kepada masyarakat terutama lansia dan untuk meningkatkan pengetahuan dan pencegahan terhadap hipertensi. 1.5.3 Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber data untuk kepentingan penelitian selanjutnya.

1. Universitas Sumatera Utara Penyakit Osteoporosis

Pernahkah Anda melihat wanita tua bertubuh bongkok? Wanita tua itu pasti menderita penyakit osteoporosis yang menyebabkan tulang punggungnya melengkung. Osteoporosis tidak menampakkan tanda-tanda fisik yang nyata hingga terjadi keropos atau keretakan pada usia senja. Penyakit osteoporosis adalah berkurangnya kepadatan tulang yang progresif,

sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Tulang terdiri dari mineralmineral seperti kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi keras dan padat. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang, maka tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis. Sekitar 80% persen penderita penyakit osteoporosis adalah wanita, termasuk wanita muda yang mengalami penghentian siklus menstruasi (amenorrhea). Hilangnya hormon estrogen setelah menopause meningkatkan risiko terkena osteoporosis. Penyakit osteoporosis yang kerap disebut penyakit keropos tulang ini ternyata menyerang wanita sejak masih muda. Tidak dapat dipungkiri penyakit osteoporosis pada wanita ini dipengaruhi oleh hormon estrogen. Namun, karena gejala baru muncul setelah usia 50 tahun, penyakit osteoporosis tidak mudah dideteksi secara dini. Meskipun penyakit osteoporosis lebih banyak menyerang wanita, pria tetap memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis. Sama seperti pada wanita, penyakit osteoporosis pada pria juga dipengaruhi estrogen. Bedanya, laki-laki tidak mengalami menopause, sehingga osteoporosis datang lebih lambat. Jumlah usia lanjut di Indonesia diperkirakan akan naik 414 persen dalam kurun waktu 1990-2025, sedangkan perempuan menopause yang tahun 2000 diperhitungkan 15,5 juta akan naik menjadi 24 juta pada tahun 2015. Bayangkan betapa besar jumlah penduduk yang dapat terancam penyakit osteoporosis. Berikut ini fakta seputar penyakit osteoporosis yang dapat membukakan mata dan meningkatkan kesadaran akan ancaman penyakit osteoporosis. Studi di dunia: * Satu diantara tiga wanita di atas usia 50 tahun dan satu diantara lima pria di atas 50 tahun menderita osteoporosis. * Penderita osteoporosis di Eropa, Jepang, Amerika sebanyak 75 juta penduduk, sedangkan China 84 juta penduduk. * Ada 200 juta penderita osteoporosis di seluruh dunia. Risiko kematian akibat patah tulang pinggul sama dengan kanker payudara. (Studi Cummings et al, 1989) Studi di Indonesia: * Prevalensi osteoporosis untuk umur kurang dari 70 tahun untuk wanita sebanyak

18-36%, sedangkan pria 20-27%, untuk umur di atas 70 tahun untuk wanita 53,6%, pria 38%. * Lebih dari 50% keretakan osteoporosis pinggang di seluruh dunia kemungkinan terjadi di Asia pada 2050. (Yayasan Osteoporosis Internasional) * Mereka yang terserang rata-rata berusia di atas 50 tahun. (Yayasan Osteoporosis Internasional) * Satu dari tiga perempuan dan satu dari lima pria di Indonesia terserang osteoporosis atau keretakan tulang. (Yayasan Osteoporosis Internasional) * Dua dari lima orang Indonesia memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis. (DEPKES, 2006) * Jumlah penderita osteoporosis di Indonesia jauh lebih besar dari data terakhir Depkes, yang mematok angka 19,7% dari seluruh penduduk dengan alasan perokok di negeri ini urutan ke-2 dunia setelah China. sumber: http://www.medicastore.com/osteoporosis/
2. 01-06-2008 02:00 PM#2

junshibuya

Join Date May 2008 Location Garan no Dou Posts 2,844 Thank(s) 0/1,281 Rep Power 0

RE: Penyakit Osteoporosis Gejala Osteoporosis dan Diagnosa Osteoporosis


Penyakit osteoporosis sering disebut sebagai silent disease karena proses

kepadatan tulang berkurang secara perlahan (terutama pada penderita osteoporosis senilis) dan berlangsung secara progresif selama bertahun-tahun tanpa kita sadari dan tanpa disertai adanya gejala.

Gejal-gejala baru timbul pada tahap osteoporosis lanjut, seperti: * * * * patah tulang punggung yang semakin membungkuk hilangnya tinggi badan nyeri punggung

Jika kepadatan tulang sangat berkurang sehingga tulang menjadi hancur, maka akan timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk. Hancurnya tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang belakang yang rapuh bisa mengalami hancur secara spontan atau karena cedera ringan. Biasanya nyeri timbul secara tiba-tiba dan dirasakan di daerah tertentu dari punggung, yang akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan. Jika disentuh, daerah tersebut akan terasa sakit, tetapi biasanya rasa sakit ini akan menghilang secara bertahap setelah beberapa minggu atau beberapa bulan. Jika beberapa tulang belakang hancur, maka akan terbentuk kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang (punuk Dowager), yang menyebabkan ketegangan otot dan sakit. Tulang lainnya bisa patah, yang seringkali disebabkan oleh tekanan yang ringan atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang panggul. Hal yang juga sering terjadi adalah patah tulang lengan (radius) di daerah persambungannya dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles. Selain itu, pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung menyembuh secara perlahan. Diagnosa Osteoporosis Pada seseorang yang mengalami patah tulang, diagnosis osteoporosis ditegakkan berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik dan rontgen tulang. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk menyingkirkan keadaan lainnya penyebab osteoporosis yang bisa diatasi. Untuk mendiagnosa osteoporosis sebelum terjadinya patah tulang dilakukan

pemeriksaan yang menilai kepadatan tulang. Di Indonesia dikenal 3 cara penegakan diagnosa penyakit osteoporosis, yaitu: 1. Densitometer (Lunar) menggunakan teknologi DXA (dual-energy x-ray absorptiometry). Pemeriksaan ini merupakan gold standard diagnosa osteoporosis. Pemeriksaan kepadatan tulang ini aman dan tidak menimbulkan nyeri serta bisa dilakukan dalam waktu 5-15 menit. DXA sangat berguna untuk: * wanita yang memiliki risiko tinggi menderita osteoporosis * penderita yang diagnosisnya belum pasti * penderita yang hasil pengobatan osteoporosisnya harus dinilai secara akurat 2. Densitometer-USG. Pemeriksaan ini lebih tepat disebut sebagai screening awal penyakit osteoporosis. Hasilnya pun hanya ditandai dengan nilai T dimana nilai lebih -1 berarti kepadatan tulang masih baik, nilai antara -1 dan -2,5 berarti osteopenia (penipisan tulang), nilai kurang dari -2,5 berarti osteoporosis (keropos tulang). Keuntungannya adalah kepraktisan dan harga pemeriksaannya yang lebih murah. 3. Pemeriksaan laboratorium untuk osteocalcin dan dioksipiridinolin, CTx. Proses pengeroposan tulang dapat diketahui dengan memeriksakan penanda biokimia CTx (C-Telopeptide). CTx merupakan hasil penguraian kolagen tulang yang dilepaskan ke dalam sirkulasi darahsehingga spesifik dalam menilai kecepatan proses pengeroposan tulang. Pemeriksaan CTx juga sangat berguna dalam memantau pengobatan menggunakan antiresorpsi oral. Proses pembentukan tulang dapat diketahui dengan memeriksakan penanda bioklimia N-MID-Osteocalcin. Osteocalcin merupakan protein spesifik tulang sehingga pemeriksan ini dapat digunakan saebagai penanda biokimia pembentukan tualng dan juga untuk menentukan kecepatan turnover tulang pada beberapa penyakit tulang lainnya. Pemeriksaan osteocalcin juga dapat digunakan untuk memantau pengobatan osteoporosis. Di luar negeri, dokter dapat pula menggunakan metode lain untuk mendiagnosa penyakit osteoporosis, antara lain: 1. Sinar x untuk menunjukkan degenerasi tipikal dalam tulang punggung bagian bawah. 2. Pengukuran massa tulang dengan memeriksa lengan, paha dan tulang belakang. 3. Tes darah yang dapat memperlihatkan naiknya kadar hormon paratiroid. 4. Biopsi tulang untuk melihat tulang mengecil, keropos tetapi tampak normal.

3. 01-06-2008 02:02 PM#3

junshibuya

Join Date May 2008 Location Garan no Dou Posts 2,844 Thank(s) 0/1,281 Rep Power 0

RE: Penyakit Osteoporosis [size=medium]Penyebab Osteoporosis dan Faktor Risiko Osteoporosis[/size]


Sebenarnya, apa yang menyebabkan terjadinya osteoporosis? Berikut ini beberapa penyebab osteoporosis: 1. Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam. 2. Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang

berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis senilis dan postmenopausal. 3. Osteoporosis sekunder dialami kurang dari 5% penderita osteoporosis, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan. Penyakit osteoporosis bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan osteoporosis. 4. Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.
4. 01-06-2008 02:04 PM#4

junshibuya

Join Date May 2008 Location Garan no Dou Posts 2,844

Thank(s) 0/1,281 Rep Power 0

RE: Penyakit Osteoporosis Faktor Risiko Osteoporosis


1. Wanita Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun. Selain itu, wanita pun mengalami menopause yang dapat terjadi pada usia 45 tahun. 2. Usia Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh justru menurun. Pada usia 75-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam mengalami kehilangan tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan kalsium menurun dan fungsi hormon paratiroid meningkat. 3. Ras/Suku Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia rendah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa dan menghindari produk dari hewan. Pria dan wanita kulit hitam dan hispanik memiliki risiko yang signifikan meskipun rendah. 4. Keturunan Penderita osteoporosis Jika ada anggota keluarga yang menderita osteoporosis, maka berhati-hatilah. Osteoporosis menyerang penderita dengan karakteristik tulang tertentu. Seperti kesamaan perawakan dan bentuk tulang tubuh. Itu artinya dalam garis keluarga pasti punya struktur genetik tulang yang sama. 5. Gaya Hidup Kurang Baik * Konsumsi daging merah dan minuman bersoda, karena keduanya mengandung

fosfor yang merangsang pembentukan horman parathyroid, penyebab pelepasan kalsium dari dalam darah. * Minuman berkafein dan beralkohol. Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak. Hal ini dipertegas oleh Dr.Robert Heany dan Dr. Karen Rafferty dari creighton University Osteoporosis Research Centre di Nebraska yang menemukan hubungan antara minuman berkafein dengan keroposnya tulang. Hasilnya adalah bahwa air seni peminum kafein lebih banyak mengandung kalsium, dan kalsium itu berasal dari proses pembentukan tulang. Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin yang menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblas). * Malas Olahraga Wanita yang malas bergerak atau olahraga akan terhambat proses osteoblasnya (proses pembentukan massa tulang). Selain itu kepadatan massa tulang akan berkurang. Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot akan memacu tulang untuk membentuk massa. * Merokok Ternyata rokok dapat meningkatkan risiko penyakit osteoporosis. Perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan. Disamping itu, rokok juga membuat penghisapnya bisa mengalami hipertensi, penyakit jantung, dan tersumbatnya aliran darah ke seluruh tubuh. Kalau darah sudah tersumbat, maka proses pembentukan tulang sulit terjadi. Jadi, nikotin jelas menyebabkan osteoporosis baik secara langsung tidak langsung. Saat masih berusia muda, efek nikotin pada tulang memang tidak akan terasa karena proses pembentuk tulang masih terus terjadi. Namun, saat melewati umur 35, efek rokok pada tulang akan mulai terasa, karena proses pembentukan pada umur tersebut sudah berhenti. * Kurang Kalsium Jika kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang. 6. Mengkonsumsi Obat Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada penyakit asma dan alergi ternyata menyebabkan risiko penyakit osteoporosis. Jika sering dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan mengurangi massa tulang. Sebab, kortikosteroid menghambat proses osteoblas. Selain itu, obat heparin dan antikejang juga menyebabkan penyakit osteoporosis. Konsultasikan ke dokter

sebelum mengkonsumsi obat jenis ini agar dosisnya tepat dan tidak merugikan tulang. 7. Kurus dan Mungil Perawakan kurus dan mungil memiliki bobot tubuh cenderung ringan misal kurang dari 57 kg, padahal tulang akan giat membentuk sel asal ditekan oleh bobot yang berat. Karena posisi tulang menyangga bobot maka tulang akan terangsang untuk membentuk massa pada area tersebut, terutama pada derah pinggul dan panggul. Jika bobot tubuh ringan maka massa tulang cenderung kurang terbentuk sempurna.
5. 01-06-2008 02:06 PM#5

junshibuya

Join Date May 2008 Location Garan no Dou Posts 2,844 Thank(s) 0/1,281 Rep Power 0

RE: Penyakit Osteoporosis Terapi dan Pengobatan Osteoporosis


Terapi dan pengobatan osteoporosis bertujuan untuk meningkatkan kepadatan tulang untuk mengurangi retak tambahan dan mengontrol rasa sakit. Untuk terapi dan pengobatan osteoporosis sebenarnya memerlukan suatu tim yang terdiri dari multidisipliner minimal antara lain departemen bedah, departemen penyakit dalam, departemen psikologi, departemen biologi, departemen obstetri dan ginekologi,

departemen farmakologi. Penyakit osteoporosis selain mempengaruhi tubuh, juga mempengaruhi kondisi psikis penderitanya terutama akibat patah tulang sehingga terapi dan pengobatan osteoporosis pun melibatkan spesialis kejiwaan. Tidak hanya itu, departemen kedokteran olahraga juga diperlukan dalam terapi dan pengobatan osteoporosis. Untuk mempertahankan kepadatan tulang, tubuh memerlukan persediaan kalsium dan mineral lainnya yang memadai, dan harus menghasilkan hormon dalam jumlah yang mencukupi (hormon paratiroid, hormon pertumbuhan, kalsitonin, estrogen pada wanita dan testosteron pada pria). Oleh sebab itu Departemen gizi klinik juga memiliki peranan dalam terapi dan pengobatan osteoporosis. Spesialis gizi klinik dapat membantu menjaga agar asupan gizi penderita osteoporosis terutama kalsium dan vitamin D tercapai agar penyerapan kalsium dari makanan dan pemasukan ke dalam tulang berlangsung optimal. Secara progresif, tulang meningkatkan kepadatannya sampai tercapai kepadatan maksimal (sekitar usia 30 tahun). Setelah itu kepadatan tulang akan berkurang secara perlahan. Oleh sebab itu, kepadatan tulang harus dijaga sejak masih muda agar saat tuanya tidak menderita osteoporosis. Semua wanita, terutama yang menderita osteoporosis, harus mengkonsumsi kalsium dan vitamin D dalam jumlah yang mencukupi. Wanita pasca menopause yang menderita osteoporosis juga bisa mendapatkan estrogen (biasanya bersama dengan progesteron) atau alendronat (golongan bifosfonat) yang bisa memperlambat atau menghentikan penyakitnya. Pria yang menderita osteoporosis biasanya mendapatkan kalsium dan tambahan vitamin D, terutama jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuhnya tidak menyerap kalsium dalam jumlah yang mencukupi.Jika kadar testosteronnya rendah, bisa diberikan testosteron. Pada kolaps tulang belakang disertai nyeri punggung yang hebat, diberikan obat pereda nyeri, dipasang supportive back brace dan dilakukan terapi fisik. Penjepit punggung mungkin penting untuk mendukung vertebra yang lemah dan operasi dapat memperbaiki bweberapa keretakan. Pengobatan hormonal dan flouride dapat membantu. Penyakit osteoporosis yang disebabkan oleh gangguan lain dapat dicegah melalui pengobatan yang efektif pada gangguan dasarnya, seperti terapi kortikosteroid.

Menangani Patah Tulang Osteoporosis Patah tulang osteoporosisyang paling sering terjadi adalah pada patah tulang vertebra (tulang punggung), tulang leher femur dan tulang gelang tangan (patah tulang Colles). Adapun frekuensi patah tulang leher femur adalah 20% dari total jumlah patah tulang osteoporosis. Dari semua patah tulang osteoporosis, yang paling memberikan masalah dibidang morbiditas, mortalitas, beban sosisoekonomik dan kualitas hidup adalah patah tulang leher femur sehingga bila tidak diambil tindakan untuk mengatasi penyakit osteoporosis diperkirakan pada tahun 2050 jumlah patah tulang leher femur di seluruh dunia akan mencapai 6,26 juta dan lebih dari separuhnya di Asia. Patah tulang karena osteoporosis harus diobati. Patah tulang panggul biasanya diatasi dengan tindakan pembedahan. Patah tulang pergelangan biasanya digips atau diperbaiki dengan pembedahan. Operasi ini dilakukan oleh spesialis bedah tulang (orthopaedi). Setelah operasi, penderita harus menjalani fisioterapi untuk memulihkan kemampuan tulang yang pernah patah. Biaya tatalaksana patah tulang osteoporosis di Inggris tercatat 942 juta poundsterling per tahun dan cenderung meningkat. Di Amerika, tatalaksana patah tulang osteoporosis diperkirakan mencapai 10-15 milyar dolar pertahun. Sayangnya, belum ada yang meneliti berapa jumlah biaya pengobatan yang dikeluarkan di Indonesia. Penatalaksanaan patah tulang osteoporosis memerlukan biaya yang sangat besar sehingga sebaiknya mencoba untuk mencegah agar jangan sampai terjadi patah tulang pada penderita osteoporosis. Ada dua macam pencegahan patah tulang osteoporosis yaitu dengan cara nonfarmakologis dan cara faramakologis. Cara non farmakologis atau tanpa obatobatan dengan memperbaiki dan meningkatkan mutu nutrisi dimana diperhatikan asupan kalsium, vitamin D seumur hidup. Olahraga Tai-Chi ternyata berguna untuk memperbaiki keseimbangan tubuh penderita osteoporosis. Untuk lansia, penting untuk mencegah terjadinya jatuh di rumah/lingkungan rumah karena hampir semua penderita patah tulang di rumah. Usahakan agar faktorfaktor yang dapat mengakibatkan jatuh dihilangkan seperti lantai licin, karpet longgar, keadaan tangga, pengobatan sedatif (membuat ngantuk). Cara farmakologik menggunakan obat-obatan dimana yang paling sering dipakai adalah obat golongan bifosfonat yang dikombinasikan dengan asupan kalsium dan

vitamin D. Obat-obatan lain seperti terapi sulih hormon, hormon paratiroid dan kalsitonin dan SERM. Latihan Fisik Mencegah & Mengobati Osteoporosis Pada osteoporosis, latihan jasmani dilakukan untuk mencegah dan mengobati penyakit osteoporosis. Latihan jasmani menggunakan beban berguna untuk melenturkan dan menguatkan tulang. Latihan jasmani sebaiknya dilakukan sejak muda dan terus dilanjutkan sampai tua. Dr. Ade Tobing, Sp.KO mengenalkan latihan fisik yang baik, benar, terukur dan teratur (BBTT). Latihan yang baik artinya latihan terbagi menjadi 3 sesi yaitu pemanasan & peregangan selama 10-15 menit, latihan inti selama 20-60 menit,dan peregangan & pendinginan selama 5-10 menit. Latihan yang benar artinya memberikan latihan yang sesuai dengan tingkat kesehatan, tingkat aktivitas fisik dan tingkat kebugaran masing-masing individu yang dapat diketahui pada saat pemeriksaan pra latihan. Hal ini bertujuan agar masing-masing individu terjawab kebutuhannya yang berbeda dengan yang lain. Latihan yang terukur artinya mengukur jumlah detak jantung per menit untuk mengetahui intensitas latihan. Detak jantung per menit maksimum adalah 220 dikurangi usia. Satu hal yang tidak kalah penting adalah latihan yang teratur dan berkesimabungan dari anak-anak sampai tua. Latihan fisik (BBTT) bermanfaat tidak hanya dalam meningkatkan kekuatan dan kelenturan tulang, tapi juga dapat meningkatkan keseimbangan, kebugaran jantung-paru, dan dapat memelihara dan meningkatkan massa tulang. Persatuan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) bersama Persatuan Warga Tulang Sehat Indonesia (PERWATUSI) telah mengembangkan senam osteoporosis yang untuk mencegah dan mengobati osteoporosis. Sosialisasi mengenai senam osteoporosis ini pun sedang dilakukan kepada masyarakat.
6. 01-06-2008 02:07 PM#6

junshibuya

Join Date

May 2008 Location Garan no Dou Posts 2,844 Thank(s) 0/1,281 Rep Power 0

RE: Penyakit Osteoporosis Pilihan Obat Osteoporosis


Pengobatan osteoporosis dan penyakit tulang lainnya terdiri dari berbagai macam obat (bifosfonat / bisphosphonates, terapi hormon estrogen, selective estrogen receptor modulators atau SERMs) dan asupan kalsium dan vitamin D yang cukup. Obat untuk osteoporosis harus menunjukkan kemampuan melindungi dan meningkatkan massa tulang juga menjaga kualitas tulang supaya mengurangi resiko tulang patah. Beberapa obat meningkatkan ketebalan tulang atau memperlambat kecepatan penghilangan tulang. 1. Golongan Bifosfonat Bisfosfonat oral untuk osteoporosis pada wanita postmenopause khususnya, harus diminum satu kali seminggu atau satu kali sebulan pertama kali di pagi hari dengan kondisi perut kosong untuk mencegah interaksi dengan makanan.Bisfosfonat dapat mencegah kerusakan tulang, menjaga massa tulang, dan meningkatkan kepadatan tulang di punggung dan panggul, mengurangi risiko patah tulang. Golongan bifosfonat adalah Risedronate, Alendronate, Pamidronate, Clodronate, Zoledronate (Zoledronic acid), Asam Ibandronate. Alendronat berfungsi: * mengurangi kecepatan penyerapan tulang pada wanita pasca menopause * meningkatakan massa tulang di tulang belakang dan tulang panggul * mengurangi angka kejadian patah tulang. Supaya diserap dengan baik, alendronat harus diminum dengan segelas penuh air pada pagi hari dan dalam waktu 30 menit sesudahnya tidak boleh makan atau

minum yang lain. Alendronat bisa mengiritasi lapisan saluran pencernaan bagian atas, sehingga setelah meminumnya tidak boleh berbaring, minimal selama 30 menit sesudahnya. Asam Ibandronate adalah bifosfonat yang sangat poten dan bekerja secara selektif pada jaringan tulang dan secara spesifik menghambat akjtivitas osteoklastanpa mempengaruhi formasi tulang secara langsung. Dengan kata lain menghambat resorpsi tulang. Dosis 150 mg sekali sebulan. Selain untuk osteoporosis golongan bifosfonat juga digunakan untuk terapi lainnya misalnya untuk hiperkalsemia, sebagai contoh Zoledronic acid. Zoledronic acid digunakan untuk mengobati kadar kalsium yang tinggi pada darah yang mungkin disebabkan oleh jenis kanker tertentu. Zoledronic acid juga digunakan bersama kemoterapi kanker untuk mengobati tulang yang rusak yang disebabkan multiple myeloma atau kanker lainnya yang menyebar ke tulang. Zoledronic acid bukan obat kanker dan tidak akan memperlambat atu menghentikan penyebaran kanker. Tetapi dapat digunakan untuk mengobati penyakit tulang yang disebabkan kanker. Zoledronic acid bekerja dengan cara memperlambat kerusakan tulang dan menurunkan pelepasan kalsium dari tulang ke dalam darah. 2.Selective Estrogen Receptor Modulator (SERM) Sementara terapi sulih hormon menggunakan estrogen pada wanita pasca menopause, efektif mengurangi turnover tulang dan memperlambat hilangnya massa tulang. Tapi pemberian estrogen jangka panjang berkaitan dengan peningkatan resiko keganasan pada rahim dan payudara. Sehingga sekarang sebagai alternatif pengganti estrogen adalah golongan obat yang disebut SERM (Selective Estrogen Receptor Modulator). Obat ini berkhasiat meningkatkan massa tulang tetapi tidak memiliki efek negatif dari estrogen, obat golongan SERMs adalah Raloxifene. 3. Metabolit vitamin D Sekarang ini sudah diproduksi metabolit dari vitamin D yaitu kalsitriol dan alpha kalsidol. Metabolit ini mampu mengurangi resiko patah tulang akibat osteoporosis. 4. Kalsitonin Kalsitonin dianjurkan untuk diberikan kepada orang yang menderita patah tulang belakang yang disertai nyeri. Obat ini bisa diberikan dalam bentuk suntikan atau

semprot hidung. Salmon Kalsitonin diberikan lisensinya untuk pengobatan osteoporosis. Sekarang ini juga ada yang sintetiknya. Sediaan yang ada dalam bentuk injeksi. Dosis rekomendasinya adalah 100 IU sehari, dicampur dengan 600mg kalsium dan 400 IU vitamin D. Kalsitonin menekan aksi osteoklas dan menghambat pengeluarannya. 5.Strontium ranelate Stronsium ranelate meningkatkan pembentukan tulang seperti prekursor osteoblas dan pembuatan kolagen, menurunkan resorpsi tulang dengan menurunkan aktivitas osteoklas. Hasilnya adalah keseimbangan turnover tulang dalam proses pembentukan tulang. Berdasarkan hasil uji klinik, stronsium ranelate terbukti menurunkan patah tulang vertebral sebanyak 41% selama 3 tahun.
7. 01-06-2008 02:11 PM#7

junshibuya

Join Date May 2008 Location Garan no Dou Posts 2,844 Thank(s) 0/1,281 Rep Power 0

RE: Penyakit Osteoporosis Pencegahan Osteoporosis


Menurut dr. Bambang Setiyohadi, Sp.PD, KR pencegahan osteoporosis sebaiknya dilakukan sejak masih dalam kandungan. Sang ibu harus mengkonsumsi kalsium dengan cukup sehingga tulang bayi dalam kandungan tumbuh optimal dan tidak

mengambil cadangan kalsium dari tulang ibu. Prof. DR. Dr. Ichramsjah A Rachman, Sp.OG (K) juga lebih menekankan pentingnya pencegahan dibandingkan pengobatan. Hal yang paling penting adalah menyadari akan kejadian osteoporosis yang mengancam terutama wanita. Semua manusia di dunia pasti akan menjadi tua baik pria maupun wanita.Proses penuaan telah terjadi sejak manusia dilahirkan ke dunia dan terus menerus terjadi sepanjang kehidupannya. Khususnya pada wanita, proses ini mempunyai dampak tersendiri berkaitan dengan proses siklik haid setiap bulannya yang mulaiu terganggu dan akhirnya menghilang sama sekali. Terganggunya atau sampai hilangnya proses haid (menopause dan pasca menopause) disebabkan penurunana dan hilangnya hormon estrogen. Ini adalah hal yang normal dan alamiah. Namun, penerimaannnya berbeda-beda diantara wanita. Dengan turunnya kadar hormon estrogen maka proses osteoblas (pembentukan tulang) terhambat dan dua hormon yang berperan dalam proses ini yaitu D, PTH pun turun sehingga dimulai hilangnya kadar mineral tulang. Apabila hal ini terus berlanjut dan akibat kelanjutan harapan hidup masih akan mencapai keadaan osteoporosis yaitu kondisi dimana massa tulang demikian rendah sehingga tulang mudah patah. Diketahui 85% wanita menderita osteoporosis yang terjadi sekitar 10 tahun setelah menopause, atau 8 tahun setelah pengangkatan kedua ovarium. Jadi, para wanita perlu lebih waspada akan ancaman penyakit osteoporosis dibandingkan pria. Karena penyakit ini baru muncul setelah usia lanjut, wanita muda harus sadar dan segera melakukan tindakan pencegahan sebagai berikut, antara lain: 1. Asupan kalsium cukup Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dapat dilakukan dengan mengkonsumsi kalsium yang cukup. Minum 2 gelas susu dan tambahan vitamin D setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang sebelumnya tidak mendapatkan cukup kalsium. Sebaiknya konsumsi kalsium setiap hari. Dosis harian yang dianjurkan untuk usia produktif adalah 1000 mg kalsium per hari, sedangkan untuk usia lansia dianjurkan 1200 mg per hari.

Mengkonsumsi kalsium dalam jumlah yang cukup sangat efektif, terutama sebelum tercapainya kepadatan tulang maksimal (sekitar umur 30 tahun). Pilihlah makanan sehari-hari yang kaya kalsium seperti ikan teri, brokoli, tempe, tahu, keju dan kacang-kacangan. 2.Paparan sinar UV B matahari (pagi dan sore) Sinar matahari terutama UVB membantu tubuh menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan massa tulang. Untungnya, Indonesia beriklim tropis sehingga sinar matahari berlimpah. Berjemurlah di bawah sinar matahari selama 30 menit pada pagi hari sebelum jam 09.00 dan sore hari sesudah jam 16.00. 3.Melakukan olah raga dengan beban Selain olahraga menggunakan alat beban, berat badan sendiri juga dapat berfungsi sebagai beban yang dapat meningkatkan kepadatan tulang. Olah raga beban misalnya berjalan dan menaiki tangga tetapi berenang tidak meningkatkan kepadatan tulang. Dr. Ade Tobing, Sp.KO kini mengenalkan yang disebut latihan jasmani yang baik, benar, terukur dan teratur (BBTT). Latihan BBTT ternyata terbukti bermanfaat dalam memelihara dan meningkatkan massa tulang. Oleh sebab itu, latihan fisik (BBTT) dapat dilakukan untuk mencegah dan mengobati penyakit osteoporosis. 4.Gaya hidup sehat Tidak ada kata terlambat untuk melakukan gaya hidup sehat. Menghindari rokok dan alkohol memberikan efek yang signifikan dalam menurunkan risiko osteoporosis. Konsumsi kopi, minuman bersoda, dan daging merah pun dilakukan secara bijak. 5.Hindari obat-obatan tertentu Hindari obat-obatan golongan kortikosteroid. Umumnya steroid ini diberikan untuk penyakit asma, lupus, keganasan. Waspadalah penggunaan obat antikejang. Jika tidak ada obat lain, maka obat-obatan tersebut dapat dikonsumsi dengan dipantau oleh dokter. 6.Mengkonsumsi obat (untuk beberapa orang tertentu) * Estrogen membantu mempertahankan kepadatan tulang pada wanita dan sering diminum bersamaan dengan progesteron. Terapi sulih estrogen paling efektif dimulai dalam 4-6 tahun setelah menopause; tetapi jika baru dimulai lebih dari 6 tahun setelah menopause, masih bisa memperlambat kerapuhan tulang dan mengurangi resiko patah tulang.

* Raloksifen merupakan obat menyerupai estrogen yang baru, yang mungkin kurang efektif daripada estrogen dalam mencegah kerapuhan tulang, tetapi tidak memiliki efek terhadap payudara atau rahim. * Untuk mencegah osteroporosis, bisfosfonat (contohnya alendronat), bisa digunakan sendiri atau bersamaan dengan terapi sulih hormon.
8. 13-06-2009 02:14 PM#8

JasmineSky

Join Date Jun 2009 Location Jakarta Posts 156 Thank(s) 0/19 Rep Power 0

kebetulan nyokap juga kaenya uda mule msk tahap" oesteoporosis, ngeri juga... gang~ obat yg d cantumin ntu, d jual d pasaran ga? trus klo konsumsi obat ntu dalam jangka waktu yg lama gpp kah? ato perlu resep dokter? thx gan~ :onion-79:

OSTEOPOROSIS MENYERANG WANITA SEJAK USIA MUDA


February 23rd, 2011 | 1 Comment Satu dari tiga perempuan dan satu dari lima pria di Indonesia terserang osteoporosis atau keropos tulang. Penyakit ini ternyata menyerang perempuan sejak masih muda akibat berkurangannya hormon estrogen. Saat ini jumlah penderita osteoporosis di Indonesia pun kini jauh lebih besar dari data terakhir Depkes, yang mematok angka 19,7 persen dari seluruh penduduk dengan alasan perokok di negeri ini urutan kedua di dunia setelah Tiongkok-China. Mereka yang terserang rata-rata berusia di atas 50

tahun. Lebih dari 50 persen keretakan osteoporosis pinggang di seluruh dunia kemungkinan terjadi di Asia pada 2050. Prevalensi osteoporosis pada umur kurang dari 70 tahun untuk perempuan sebanyak 18-36 persen, sedangkan pria 20-27 persen, untuk umur di atas 70 tahun untuk perempuan 53,6 persen dan pria 38 persen, ujar Prof. Dr. Ichramsjah Rachman, Ketua Persatuan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) di Jakarta, Read entire article Filed under: Artikel Kesehatan

Osteoporosis
December 31st, 2010 | 2 Comments Osteoporosis adalah penyakit tulang yang mempunyai sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai mikro arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat akhirnya menimbulkan kerapuhan tulang. Klasifikasi Osteoporosis primer Osteoporosis primer sering menyerang wanita paska menopause dan juga pada pria usia lanjut dengan penyebab yang belum diketahui. Osteoporosis sekunder Sedangkan osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan : * Cushings disease * Hyperthyroidism * Hyperparathyroidism * Hypogonadism * Kelainan hepar * Kegagalan ginjal kronis * Kurang gerak * Kebiasaan minum alkohol * Pemakai obat-obatan/corticosteroid * Kelebihan kafein * Merokok Penyebab Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia diantara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita Read entire article Filed under: macam - macam gangguan

Tulang Sehat Bebas Osteoporosis Oleh : Mandroy P. Olahraga yang dapat dilakukan untuk melatih tulang adalah dengan melakukan olahraga yang memberikan gaya tekan pada tulang, gaya renggang dan gaya pelintir. Gaya tersebut dapat merangsang pertumbuhan tulang sehingga tulang menjadi sehat. BILA anda melihat wanita tua bertubuh bongkok..! Wanita tua itu pasti menderita penyakit osteoporosis yang menyebabkan tulang punggungnya melengkung. Osteoporosis tidak menampakkan tanda-tanda fisik yang nyata hingga terjadi keropos atau keretakan pada usia senja. Osteoporosis atau penyakit keropos tulang adalah salah satu penyakit yang menimpa tulang karena berkurangnya massa dan kepadatan tulang. Akibat dari osteoporosis adalah tulang-tulang menjadi rapuh dan mudah patah akibat kepadatan tulang berkurang. Tulang sendiri merupakan salah satu bagian penting dari tubuh kita. Tulang merupakan rangka yang menunjang tubuh kita sehingga kita dapat beraktivitas. Dapat dibayangkan bila penunjang tubuh ini rapuh, keropos dan mudah patah, akibatnya adalah rasa sakit pada tulang, gangguan untuk bergerak bahkan menyebabkan kelumpuhan dan cacat permanen. Sekitar 80 persen persen penderita penyakit osteoporosis adalah wanita, termasuk wanita muda yang mengalami penghentian siklus menstruasi (amenorrhea). Hilangnya hormon estrogen

setelah menopause meningkatkan risiko terkena osteoporosis. Penyakit osteoporosis yang kerap disebut penyakit keropos tulang ini ternyata menyerang wanita sejak masih muda. Tidak dapat dipungkiri penyakit osteoporosis pada wanita ini dipengaruhi oleh hormon estrogen. Namun, karena gejala baru muncul setelah usia 50 tahun, penyakit osteoporosis tidak mudah dideteksi secara dini. Meskipun penyakit osteoporosis lebih banyak menyerang wanita, pria tetap memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis. Sama seperti pada wanita, penyakit osteoporosis pada pria juga dipengaruhi estrogen. Bedanya, laki-laki tidak mengalami menopause, sehingga osteoporosis datang lebih lambat. Jumlah usia lanjut di Indonesia diperkirakan akan naik 414 persen dalam kurun waktu 19902025, sedangkan perempuan menopause yang tahun 2000 diperhitungkan 15,5 juta akan naik menjadi 24 juta pada tahun 2015. Bayangkan betapa besar jumlah penduduk yang dapat terancam penyakit osteoporosis. Berikut ini fakta seputar penyakit osteoporosis yang dapat membukakan mata dan meningkatkan kesadaran akan ancaman penyakit osteoporosis. Studi di dunia: Satu di antara tiga wanita di atas usia 50 tahun dan satu di antara lima pria di atas 50 tahun menderita osteoporosis. Penderita osteoporosis di Eropa, Jepang, Amerika sebanyak 75 juta penduduk, sedangkan China 84 juta penduduk. Ada 200 juta penderita osteoporosis di seluruh dunia. Risiko kematian akibat patah tulang pinggul sama dengan kanker payudara. (Studi Cummings et al, 1989) Studi di Indonesia: Prevalensi osteoporosis untuk umur kurang dari 70 tahun untuk wanita sebanyak 18-36 persen, sedangkan pria 20-27 persen, untuk umur di atas 70 tahun untuk wanita 53,6 persen, pria 38 persen. Lebih dari 50 persen keretakan osteoporosis pinggang di seluruh dunia kemungkinan terjadi di Asia pada 2050. (Yayasan Osteoporosis Internasional). Mereka yang terserang rata-rata berusia di atas 50 tahun. (Yayasan Osteoporosis Internasional). Satu dari tiga perempuan dan satu dari lima pria di Indonesia terserang osteoporosis atau keretakan tulang. (Yayasan Osteoporosis Internasional). Dua dari lima orang Indonesia memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis. (DEPKES, 2006). Jumlah penderita osteoporosis di Indonesia jauh lebih besar dari data terakhir Depkes, yang mematok angka 19,7 persen dari seluruh penduduk dengan alasan perokok di negeri ini urutan ke-2 dunia setelah China. Berikut ini beberapa saran yang dapat Anda terapkan agar tidak mengalami penyakit tulang keropos ini. Kalsium merupakan unsur pembentuk tulang dan gigi. Maka, agar kepadatan tulang terus terjaga, penting untuk mengkonsumsi kalsium yang banyak terdapat dalam susu. Sayangnya, seiring

bertambahnya usia, kemampuan untuk menyerap kalsium semakin berkurang. Maka, sebaiknya Anda membiasakan diri atau anak Anda untuk minum susu setiap hari sejak usia dini. Karena penyebab osteoporosis adalah kurangnya asupan kalsium pada usia muda. Kaum muda, seringkali mereka berpikir tidak perlu lagi mengkonsumsi susu yang dianggap sebagai makanan anak kecil. Atau karena berpikir tulang tidak dapat tumbuh lagi sehingga mereka enggan minum susu. Memang, pada umumnya tulang berhenti tumbuh saat usia 16-18 tahun, tetapi bukan berarti kita tidak perlu lagi memperhatikan kesehatan tulang, karena fungsi tulang sangat penting bagi tubuh. Kalsium yang dibutuhkan tiap orang berbeda, bergantung pada berat badan dan aktivitas yang dijalankan. Pada ibu hamil dan menyusui, kalsium yang dibutuhkan lebih banyak. Tabel berikut akan menjelaskan jumlah kalsium yang dibutuhkan berdasarkan usia. Kebutuhan Kalsium Berdasarkan Usia: Catatan : Satu gelas susu mengandung sekitar 500 mg kalsium. Kalsium tidak hanya terdapat pada susu, makanan lain seperti ikan teri, sup tulang, sayuran hijau seperti bayam dan kacangkacangan adalah salah satu sumber dari kalsium. Karena kalsium tidak dapat dihasilkan tubuh kita, maka penting untuk minum susu dan mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium. Agar kalsium yang berasal dari susu dan makanan dapat diserap sempurna, diperlukan vitamin D. Tentu akan sangat disayangkan, bila kita banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium tetapi tidak dapat diserap dengan sempurna, sehingga akhirnya tubuh mengambil kalsium yang ada pada tulang. Akibatnya, tulang menjadi rapuh. Untuk mendapatkan vitamin D sebenarnya tidak sulit. Sinar matahari pagi (antara jam 06.00 sampai jam 09.00 pagi) dan sore (setelah jam 16.00) adalah salah satu sumber vitamin D. Dalam lapisan kulit tubuh kita sebenarnya terdapat vitamin D non aktif dan dengan pancaran sinar matahari vitamin D ini dapat aktif dan berguna bagi tubuh. Selain dari sinar matahari, vitamin D juga dapat diperoleh dari makanan seperti ikan (misal: ikan salmon dan sarden), kuning telur, hati, susu, keju dan produk olahan susu lainnya. Vitamin K adalah sama pentingnya dengan vitamin D untuk penyerapan kalsium. Banyak suplemen yang dirancang untuk membantu mengobati osteoporosis gagal untuk memasukkan vitamin K sedangkan yang lain termasuk bentuk yang tidak tepat atau hanya memberikan terlalu sedikit atau jumlah seimbang yang tidak benar, dengan memperhatikan untuk total efek dari suplemen. Selain mengkonsumsi kalsium, penting untuk melakukan olahraga secara teratur agar dapat memperkuat tulang dan menambah kepadatan massa tulang. Sama seperti otot, tulang juga perlu dilatih agar dapat menciptakan tulang yang kuat. Olahraga yang dapat dilakukan untuk melatih tulang adalah dengan melakukan olahraga yang memberikan gaya tekan pada tulang, gaya renggang dan gaya pelintir. Gaya tersebut dapat merangsang pertumbuhan tulang sehingga tulang menjadi sehat. Anda dapat mencobanya dengan bersepeda, joging, jalan kaki atau naik turun tangga.

Selain dengan mengkonsumsi kalsium, vitamin D dan berolahraga, akan lebih baik bila anda mencoba hidup sehat dengan menghentikan kebiasaan merokok. Rokok, kopi, alkohol, teh, dan cola dapat menghambat penyerapan kalsium. Sebaliknya, konsumsilah makanan bergizi yang memenuhi 4 sehat 5 sempurna serat menu makanan yang beragam. Hilangkan juga kebiasaan yang dapat membuat pertumbuhan tulang terganggu atau membuat struktur tulang menjadi rusak. Kebiasaan buruk yang dimaksud adalah: Membungkukkan badan yang dapat menyebabkan saraf yang melewati tulang belakang terjepit sehingga menimbulkan sakit pinggang. Memakai sepatu hak tinggi untuk waktu yang lama.

Klasifikasi
[sunting]Osteoporosis

primer

Osteoporosis primer sering menyerang wanita paska menopause dan juga pada pria usia lanjut dengan penyebab yang belum diketahui. [sunting]Osteoporosis

sekunder

Sedangkan osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan :


Cushing's disease Hyperthyroidism Hyperparathyroidism Hypogonadism Kelainan hepar Kegagalan ginjal kronis Kurang gerak Kebiasaan minum alkohol Pemakai obat-obatan/corticosteroid Kelebihan kafein Merokok

[sunting]Osteoporosis

anak

Osteoporosis pada anak disebut juvenile idiopathic osteoporosis.

[sunting]Penyebab Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam. Osteoporosis senilis terjadi karena kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan di antara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia di atas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderitaosteoporosis senilis dan postmenopausal. Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan.Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan ini. Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang. [sunting]Gejala Kepadatan tulang berkurang secara perlahan (terutama pada penderita osteoporosis senilis), sehingga pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala. Beberapa penderita tidak memiliki gejala. Jika kepadatan tulang sangat berkurang sehingga tulang menjadi kolaps atau hancur, maka akan timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk. Kolaps tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang belakang yang rapuh bisa mengalami kolaps secara spontan atau karena cedera ringan. Biasanya nyeri timbul secara tiba-tiba dan dirasakan di daerah tertentu dari punggung, yang akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan. Jika disentuh, daerah tersebut akan terasa sakit, tetapi biasanya rasa sakit ini akan menghilang secara bertahap setelah beberapa minggu atau

beberapa bulan. Jika beberapa tulang belakang hancur, maka akan terbentuk kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang (punuk Dowager), yang menyebabkan ketegangan otot dan sakit. Tulang lainnya bisa patah, yang seringkali disebabkan oleh tekanan yang ringan atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang panggul. Yang juga sering terjadi adalah patah tulang lengan (radius) di daerah persambungannya dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles. Selain itu, pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung menyembuh secara perlahan. [sunting]Diagnosa Pada seseorang yang mengalami patah tulang, diagnosis osteoporosis ditegakkan berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik dan rontgen tulang. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk menyingkirkan keadaan lainnya yang bisa di atasi, yang bisa menyebabkan osteoporosis. Untuk mendiagnosis osteoporosis sebelum terjadinya patah tulang dilakukan pemeriksaan yang menilai kepadatan tulang. Pemeriksaan yang paling akurat adalah DXA (dual-energy x-ray absorptiometry). Pemeriksaan ini aman dan tidak menimbulkan nyeri, bisa dilakukan dalam waktu 5-15 menit. DXA sangat berguna untuk:

wanita yang memiliki risiko tinggi menderita osteoporosis penderita yang diagnosisnya belum pasti penderita yang hasil pengobatannya harus dinilai secara akurat.

[sunting]Patogenesis Mekanisme yang mendasari dalam semua kasus osteoporosis adalah ketidakseimbangan antara resorpsi tulang dan pembentukan tulang. Dalam tulang normal, terdapat matrik konstan remodeling tulang; hingga 10% dari seluruh massa tulang mungkin mengalami remodeling pada saat titik waktu tertentu. Proses pengambilan tempat dalam satuan-satuan multiseluler tulang (bone multicellular units (BMUs)) pertama kali dijelaskan oleh Frost tahun 1963.[1] Tulang diresorpsi oleh sel osteoklas (yang diturunkan dari sumsum tulang), setelah tulang baru disetorkan oleh sel osteoblas.[2] [sunting]Pengobatan Tujuan pengobatan adalah meningkatkan kepadatan tulang. Semua wanita, terutama yang menderita osteoporosis, harus mengonsumsi kalsium dan vitamin D dalam jumlah yang mencukupi.

Wanita paska menopause yang menderita osteoporosis juga bisa mendapatkan estrogen (biasanya bersama dengan progesteron) atau alendronat, yang bisa memperlambat atau menghentikan penyakitnya. Bifosfonat juga digunakan untuk mengobati osteoporosis. Alendronat berfungsi:

mengurangi kecepatan penyerapan tulang pada wanita pasca menopause meningkatakan massa tulang di tulang belakang dan tulang panggul mengurangi angka kejadian patah tulang.

Supaya diserap dengan baik, alendronat harus diminum dengan segelas penuh air pada pagi hari dan dalam waktu 30 menit sesudahnya tidak boleh makan atau minum yang lain. Alendronat bisa mengiritasi lapisan saluran pencernaan bagian atas, sehingga setelah meminumnya tidak boleh berbaring, minimal selama 30 menit sesudahnya. Obat ini tidak boleh diberikan kepada orang yang memiliki kesulitan menelan atau penyakit kerongkongan dan lambung tertentu.

Kalsitonin dianjurkan untuk diberikan kepada orang yang menderita patah tulang belakang yang disertai nyeri. Obat ini bisa diberikan dalam bentuk suntikan atau semprot hidung. Tambahan fluorida bisa meningkatkan kepadatan tulang. Tetapi tulang bisa mengalami kelainan dan menjadi rapuh, sehingga pemakaiannya tidak dianjurkan. Pria yang menderita osteoporosis biasanya mendapatkan kalsium dan tambahan vitamin D, terutama jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuhnya tidak menyerap kalsium dalam jumlah yang mencukupi. Jika kadar testosteronnya rendah, bisa diberikan testosteron. Patah tulang karena osteoporosis harus diobati. Patah tulang panggul biasanya di atasi dengan tindakan pembedahan. Patah tulang pergelangan biasanya digips atau diperbaiki dengan pembedahan. Pada kolaps tulang belakang disertai nyeri punggung yang hebat, diberikan obat pereda nyeri, dipasang supportive back brace dan dilakukan terapi fisik. [sunting]Pencegahan Pencegahan osteoporosi meliputi:

Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dengan mengonsumsi kalsium yang cukup Melakukan olah raga dengan beban Mengkonsumsi obat (untuk beberapa orang tertentu).

Mengkonsumsi kalsium dalam jumlah yang cukup sangat efektif, terutama sebelum tercapainya kepadatan tulang maksimal (sekitar umur 30 tahun). Minum 2 gelas susu dan tambahan vitamin D setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang sebelumnya tidak mendapatkan cukup kalsium. Akan tetapi tablet kalsium dan susu yang dikonsumsi setiap hari akhir - akhir ini menjadi perdebatan sebagai pemicu terjadi osteoporosis, berhubungan dengan teori osteoblast. Olah raga beban (misalnya berjalan dan menaiki tangga) akan meningkatkan kepadatan tulang. Berenang tidak meningkatkan kepadatan tulang. Estrogen membantu mempertahankan kepadatan tulang pada wanita dan sering diminum bersamaan dengan progesteron. Terapi sulih estrogen paling efektif dimulai dalam 4-6 tahun setelah menopause; tetapi jika baru dimulai lebih dari 6 tahun setelah menopause, masih bisa memperlambat kerapuhan tulang dan mengurangi risiko patah tulang. Raloksifen merupakan obat menyerupai estrogen yang baru, yang mungkin kurang efektif daripada estrogen dalam mencegah kerapuhan tulang, tetapi tidak memiliki efek terhadap payudara atau rahim. Untuk mencegah osteroporosis, bisfosfonat (contohnya alendronat), bisa digunakan sendiri atau bersamaan dengan terapi sulih hormon. [sunting]Epidemiologi Sementara ini diperkirakan 1 dari 3 wanita dan 1 dari 12 pria di atas usia 50 tahun di seluruh dunia mengidap osteoporosis. Ini menambah kejadian jutaan fraktur lainnya pertahunnya yang sebagian besar melibatkan lumbar vertebra, panggul dan pergelangan tangan (wrist). Fragility fracture dari tulang rusuk juga umum terjadi pada pria. [sunting]Fraktur

Panggul

Fraktur panggul paling sering terjadi akibat osteoporosis. Di AS, lebih dari 250.000 fraktur panggul pertahunnya merupakan akibat dari osteoporosis. [3] Ini diperkirakan bahwa seorang wanita kulit putih usia 50 tahun mempunyai waktu hidup 17,5% berisiko fraktur femur proksimal. Insidensi fraktur panggul meningkat setiap dekade dari urutan ke 6 menjadi urutan ke 9 baik untuk wanita maupun pria pada semua populasi. Insidensi tertingi ditemukan pada pria dan wanita usia 80 tahun ke atas.[4] [sunting]Fraktur

Vertebral

Antara 35-50% dari seluruh wanita usia di atas 50 tahun setidaknya satu mengidap fraktur vertebral. Di AS, 700.000 fraktur vertebra terjadi pertahun, tapi hanya sekitar 1/3 yang diketahui. Dalam urutan kejadian 9.704 wanita usia 68,8 tahun pada studi selama 15 tahun, didapatkan 324 wanita sudah menderita fraktur vertebral pada saat mulai dimasukkan ke dalam penelitian;

18.2% berkembang menjadi fraktur vertebra, tapi risiko meningkat hingga 41.4% pada wanita yang sebelumnya telah terjadi fraktur vertebra. [5] [sunting]Fraktur

Pergelangan Tangan

Di AS, 250.000 fraktur pergelangan tangan setiap tahunnya merupakan akibat dari osteoporosis.[3] Fraktur pergelangan tangan merupakan tipe fraktur ketiga paling umum dari osteoporosis. Resiko waktu hidup yang ditopang fraktur Colles sekitar 16% untuk wanita kulit putih. Ketika wanita mencapai usia 70 tahun, sekitar 20%-nya setidaknya terdapat satu fraktur pergelangan tangan[4] [sunting]Fraktur

Tulang Rusuk

Fragility fracture dari tulang iga umumnya terjadi pada laki-laki usia muda 25 tahun ke atas. Tanda-tanda osteoporosis pada pria ini sering diabaikan karena sering aktif secara fisik dan menderita fraktur pada saat berlatih aktivitas fisik. Contohnya ketika jatuh saat berski air atau jet ski. Bagaimanapun, tes cepat dari tingkat testosteron individu berikut diagnosis fraktur akan nampak dengan mudah apakah individu kemungkinan berisiko. [sunting]Lihat

pula luar

Yayasan Osteoporosis Internasional

[sunting]Pranala

(Indonesia) 7 Cara Mudah Cegah Osteoporosis Sejak Dini (Indonesia) Hati-hati Osteoporosis Gara-gara Diet ! (Indonesia) Osteoporosis (Indonesia) Tanya Jawab Osteoporosis (Indonesia) International Osteoporosis Foundation (Indonesia) Risiko Penyakit Tulang Osteoporosis

[sunting]Referensi
1. ^ Frost HM, Thomas CC. Bone Remodeling Dynamics. Springfield, IL: 1963. 2. ^ Raisz L (2005). "Pathogenesis of osteoporosis: concepts, conflicts, and prospects.". J Clin Invest 115 (12): 331825. doi:10.1172/JCI27071. PMID 16322775. 3. ^
a b

Riggs, B.L.; Melton, Lj 3.r.d. (2005). "The worldwide problem of osteoporosis: insights

afforded by epidemiology.". Bone. PMID 8573428. 4. ^


a b

"MerckMedicus Modules: Osteoporosis - Epidemiology". Merck & Co., Inc. Diakses pada 13

Juni 2008.

5. ^ Cauley JA, Hochberg MC, Lui LY et al (2007). "Long-term Risk of Incident Vertebral Fractures". JAMA 298: 27612767. doi:10.1001/jama.298.23.2761. PMID 18165669.

Prosiding Persidangan Antarabangsa Pembangunan Aceh 26-27 Disember 2006, UKM Bangi PENANGGULANGAN RISIKO TERKENA OSTEOPOROSIS AKIBAT DEPRESI DI KALANGAN PENDUDUK LANSIA NANGGROE ACEH DARUSSALAM PASCA TSUNAMI Ari Istiany Jurusan Ilmu Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta Abstrak Dari hasil sensus penduduk Aceh pada tahun 2005, ratusan penduduk lansia di Aceh mengalami gangguan jiwa, pasca-gempa bumi dan tsunami. Dari empat kabupaten/kota yang diadakan sensus, jumlah penderita gangguan jiwa paling besar dialami Kabupaten Aceh Barat, iaitu sebanyak 328 orang. Kabupaten Aceh Besar menduduki peringkat kedua dengan jumlah lansia yang mengalami gangguan jiwa sebanyak 169 orang disusul kota Banda Aceh sebanyak 112 lansia dan paling sedikit di kabupaten Aceh Jaya sejumlah 65 orang. Menurut Prof. Razyirmiya dari Hebrew University dalam penemuan terbarunya, diketahui bahwa gangguan jiwa seperti depresi adalah elemen pertama yang bisa menyebabkan berkurangnya berat tulang dan dalam jangka waktu yang panjang apabila dibiarkan akan menyebabkan penyakit osteoporosis. Osteoporosis merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita oleh lansia karena penurunan hormon seks, iaitu hormon estrogen pada wanita dan hormon testosteron pada laki-laki. Oleh karena itu penduduk lansia di NAD mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk terkena osteoporosis disebabkan faktor hormonal dan depresi yang mereka alami. Selain dengan mengkonsumsi makanan yang tinggi kandungan kalsiumnya, osteoporosis dapat pula dicegah dengan meningkatkan latihan fisik seperti jalan kaki, jalan cepat, atau senam aerobik. Posyandu

lansia merupakan salah satu sarana yang dapat dimanfaatkan untuk menjalankan kegiatan ini. Kegiatan posyandu lansia tidak terbatas pada pemeriksaan kesehatan saja, tetapi juga sejumlah aktivitas yang bertujuan menyenangkan hati para lansia ini. Kegiatan posyandu lansia tidak dibuat berat karena yang dibutuhkan lansia adalah sebuah pertemuan untuk saling berbagi cerita tanpa harus terbebani. Dengan adanya kegiatan ini depresi di kalangan lansia dapat dikurangi sekaligus mengurangi risiko terkena penyakit osteoporosis. 1. Pendahuluan Bencana gempa bumi dengan kekuatan 6,8 SR (BMG) atau 8,9 SR (US Geological Survey) yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 pukul 07.58 WIB yang diikuti oleh gelombang besar tsunami di sebagian besar wilayah pantai barat dan utara propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumut, telah menimbulkan berbagai masalah kesehatan bagi korban dan penduduk setempat. Bukan hanya masalah kesehatan secara fisik seperti kurang gizi, diare, muntaber, dan sebagainya namun berpengaruh juga terhadap kesehatan jiwa para korbannya. Salah satu golongan yang mudah terkena gangguan jiwa adalah golongan lanjut usia (lansia). Dari hasil sensus penduduk Aceh dan Nias pada 2005, ratusan penduduk lansia di Aceh mengalami gangguan jiwa, pasca-gempa bumi dan tsunami. Sensus penduduk pada 2005 diadakan di wilayah yang terkena dampak tsunami di antaranya kota Banda Aceh, kabupaten Aceh Besar, Aceh Jaya dan Aceh Barat. Dari empat kabupaten/kota yang diadakan sensus, jumlah penderita gangguan jiwa paling besar dialami Kabupaten Aceh Barat, iaitu sebanyak 328 orang. Kabupaten Aceh Besar menduduki peringkat kedua dengan jumlah lansia yang mengalami gangguan jiwa sebanyak 169 189 orang disusul kota Banda Aceh sebanyak 112 lansia dan paling sedikit di kabupaten Aceh Jaya sejumlah 65 orang. Meskipun Kabupaten Aceh Jaya mengalami kerusakan paling parah akibat tsunami tapi jumlah pengidap gangguan jiwa sangat kecil dibandingkan daerah lain.

Menurut Prof. Razyirmiya dari Hebrew University dalam penemuan terbarunya, diketahui bahwa gangguan jiwa seperti depresi adalah elemen pertama yang bisa menyebabkan berkurangnya berat tulang dan dalam jangka waktu yang panjang apabila dibiarkan akan menyebabkan penyakit osteoporosis. Saat ini osteoporosis merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita oleh lansia karena penurunan hormon seks, iaitu hormon estrogen pada wanita dan hormon testosteron pada laki-laki. Oleh karena itu penduduk lansia di NAD mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk terkena osteoporosis disebabkan faktor hormonal dan depresi yang dialami mereka. Dengan demikian, perlunya kepedulian pemerintah, swasta maupun masyarakat terutama untuk mengurangi tekanan para korban tsunami yang kehilangan anggota keluarga dan harta bendanya. 2. Subjek Kajian Lansia kini menjadi perhatian PKBI, setelah Rencana Strategis (Renstra) PKBI Tahun 2001-2010 disahkan dalam MUNAS XI PKBI Tahun 2000. PKBI secara luas memandang manusia dengan menggunakan pendekatan siklus kehidupan, yaitu pendekatan yang melihat manusia secara utuh dimulai dari masa konsepsi, kelahiran, anak, remaja, dewasa hingga usia lanjut. Lansia juga menjadi perhatian karena jumlahnya yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 1970-an, jumlah lansia masih sekitar 4,5 % dari jumlah penduduk, maka tahun 1990 meningkat menjadi 6,6 % dan diperkirakan akan mencapai 11% pada tahun 2020. Pertambahan penduduk lansia ini disebabkan karena semakin membaiknya pelayanan kesehatan dan meningkatnya usia harapan hidup orang Indonesia. NAD adalah sebuah Daerah Istimewa di ujung Pulau Sumatra. NAD terletak di barat laut Sumatra dengan kawasan seluas 57.365 km per segi dengan kepadatan penduduk 80/km2 dan jumlah penduduk sebanyak 4.500.000 orang. Sebanyak 4.4% dari seluruh jumlah penduduk NAD adalah lansia (980.000 orang).

Secara biologis, penuaan menjadikan manusia rentan terhadap berbagai penyakit. Demikian pula dengan lansia yang kesehatannya rentan karena menurunnya fungsi berbagai alat tubuh. Produksi zat-zat untuk daya tahan tubuh, termasuk produksi hormon, enzim, dan sebagainya akan menurun seiiring dengan bertambahnya usia. Pada umumnya, penyakit pada lansia mempunyai karakteristik sebagai berikut : penyakit biasanya komplikasi, saling terkait dan kronis, biasanya bersifat degeneratif, sering menimbulkan kecacatan dan kematian, seringkali terdapat problem psikologis dan sosial. 3. Rumusan Masalah Pada dasarnya gangguan jiwa seperti depresi disebabkan oleh kegagalan masalah personal, misalnya kesedihan. Orang yang mengalami kesedihan berlarut-larut bisa membuat dirinya depresi. Selain itu, stres yang berkepanjangan dan perasaan sendiri juga bisa membuat seseorang mengalami depresi. Depresi mengaktifkan sistem sympahetic nervous yang merespon bahaya atau stres yang terjadi. Hasil penelitian menemukan respon ini membuat senyawa yang bernama noradrenaline terlepas. Senyawa inilah yang bisa merusak terbentuknya sel tulang. Sering kita melihat seorang nenek bongkok, kita beranggapan keadaan itu wajar seiring menuanya usia. Itulah yang disebut osteoporosis. Siapa saja bisa terserang osteoporosis namun pengeroposan tulang bisa dicegah sejak dini, sehingga kualitas hidup kita bisa lebih baik. 190 Menurut Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari meskipun angka kejadian osteoporosis di Indonesia belum diketahui dengan pasti, namun resiko terjadinya osteoporosis cukup tinggi. Ini disebabkan meningkatnya harapan hidup yang dahulu 64 tahun sekarang menjadi 69 tahun. Menurutnya, pada tahun 2009 angka harapan hidup penduduk Indonesia di atas 70 tahun. Pada tahun 2000 penduduk usia lanjut di Indonesia, berjumlah sekitar 16 juta orang, diperkirakan pada tahun 2006 menjadi 18,4 juta orang. Sehingga Indonesia menepati

urutan keempat paling banyak setelah China, India dan Amerika. Peningkatan usia harapan hidup manusia cukup menggembirakan. Namun, itu menjadi masalah tersendiri di dunia, dan juga di Indonesia, terutama bagi wanita. Salah satu masalahnya adalah penurunan hormon estrogen secara alamiah karena faktor usia. Semakin lanjut usia, semakin menurun kadar hormon estrogen dalam tubuh. Penurunan kadar hormon ini umumnya terjadi pada usia-usia awal masa klimakterium (40 tahun). Penurunan hormon menyebabkan keluhan klinis defisiensi estrogen pada masa pramenopaus akhir dan menopaus (45-50 tahun). Misalnya, gangguan haid, gejolak panas, keringat banyak, susah tidur, gelisah, pelupa, pemarah, dan detak jantung berdebar-debar. Itu semua menurunkan kualitas wanita karena masa tulang yang menurun (osteopenia). Pada masa menopaus dan pascamenopaus, hormon estrogen hilang dari dalam tubuh wanita sehingga dapat mengancam terjadinya dimentia, osteoporosis, dan kualitas hidup makin menurun. Akibatnya, wanita usia lanjut menjadi malas, jarang beraktivitas, jarang terkena paparan sinar matahari pagi sehingga meningkatkan risiko osteoporosis. Osteoporosis memang tak menimbulkan keluhan klinis sehingga aktivitas rutin berjalan terus. Namun, tulang berada dalam ambang patah. Apabila terjadi patah tulang, barulah rasa nyeri muncul dan angka mortalitas pascaoperasi patah tulang osteoporosis meningkat. Kasus penyakit pengeroposan tulang atau osteoporosis dini di Indonesia ternyata lebih tinggi dari angka rata-rata dunia. Dua dari lima orang Indonesia memiliki risiko terkena penyakit ini sedangkan prevalensi dunia hanyalah satu dari tiga orang yang berisiko menderita kasus ini. Angka ini diperoleh melalui hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan Departemen Kesehatan di 16 daerah Selama ini mengatasi osteoporosis dilakukan dengan terapi penggantian hormon dan operasi. Di Amerika Serikat dan Eropa, biaya untuk pengobatan penggatian hormon dan operasi patah tulang ini tidak sedikit. Di Amerika Serikat, misalnya, kasus patah tulang osteoporosis

mencapai 1,5 juta orang. Untuk itu dana pengobatan yang dibutuhkan sebesar 13,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 115 triliun). Angka tersebut diperkirakan meningkat pada 2020. Di Indonesia jumlah wanita usia lanjut pada tahun 2000 bertambah sebanyak 15,5 juta orang. Yang berisiko patah tulang osteoporosis sebesar 14,7 persen. Dari angka ini yang mengalami fraktur osteoporosis sebanyak 227.850 orang. Biaya yang perlu dikeluarkan untuk pengobatan diperkirakan sebesar 2,7 miliar dolar AS (sekitar Rp 22,9 triliun). Selain tingginya biaya terapi penggatian hormon, pemberian hormon estrogen dan progesteron pengganti ini dinilai sebagai penyebab keganasan kanker payudara. Oleh karena itu perlu dicarikan alternatif lain bagi pemecahan masalah osteoporosis di kalangan lansia. 4. Metode Penyelesaian Masalah Osteoporosis bisa disebut sebagai silent desease. Karena satu dari tiga wanita, dan satu dari lima pria Indonesia memiliki kecenderungan rendah minatnya dalam mencegah osteoposis. Siti Fadilah Supari menyayangkan, cara pencegahan osteoporosis atau pengeroposan tulang masih sangat rendah. Konsumsi makanan berkalsium masih rendah yaitu rata-rata 200 mg dari 1.200 mg per hari, yang merupakan standar nasional. 191 Untuk meningkatkan asupan kalsium ini, maka gaya hidup sehat perlu dipopulerkan seperti mengonsumsi susu sampai tua, menghentikan rokok dan alkohol, mengurangi kafein (kopi) yang menghambat penyerapan kalsium, cukup terpapar sinar matahari, serta mengonsumsi protein hewani dan nabati secukupnya. Jenis makanan yang dianjurkan selain sayuran berwarna hijau dan buah-buahan adalah kacang-kacangan dan golongan ikan, udang seperti rebon, dan teri kering yang berkadar kalsium tinggi. Selain konsumsi kalsium, untuk mencegah osteoporosis, dianjurkan pula melakukan latihan fisik dengan unsur pembebanan pada tubuh seperti jalan kaki, jalan cepat, aerobik, berdansa, atau jalan naik-turun bukit. Latihan dalam porsi cukup dan teratur memberi rangsangan

mekanik pada kontraksi otot tulang belakang dan bagian lain sehingga menstimulasi pembentukan tulang. Latihan fisik juga dibutuhkan oleh mereka yang sudah dinyatakan terkena osteoporosis sebab bisa memperlambat pengeroposan tulang lebih parah lagi. Namun, bagi penderita osteoporosis diingatkan untuk tidak bergerak berlebihan yang bisa mengakibatkan patah tulang. Latihan fisik bisa dilaksanakan sembari duduk (jika yang bersangkutan tak bisa berdiri) bersifat spesifik dan individual, tetapi prinsipnya tetap sama dengan latihan beban dan tarikan (stretching) pada aksis tulang. Untuk mengatasi masalah di atas perlu dilakukan program pemberdayaan lansia sehingga mereka mampu untuk menolong dirinya sendiri dalam mengatasi masalah kesehatannya serta dapat menyumbangkan tenaga dan kemampuannya untuk kepentingan keluarga maupun masyarakat. Karenanya, program pemberdayaan lansia memiliki kelompok sasaran utama, yakni para lanjut usia dan sasaran antara yakni keluarga yang memiliki lansia, kelompok usia pra-lansia dan masyarakat. Kegiatan yang dikembangkan, lebih menempatkan lansia sebagai subjek. Kegiatan yang dikembangkan lebih bersifat mempertahankan derajat kesehatan, meningkatkan daya ingat, meningkatkan rasa percaya diri dan kebugaran lansia. Program ini akan dikembangkan dengan basis masyarakat, sehingga dapat melibatkan masyarakat dan keluarga yang memiliki lansia dalam pengembangan program-programnya. Posyandu lansia merupakan salah satu sarana yang dapat dimanfaatkan untuk menjalankan program pemberdayaan lansia. Kegiatan posyandu lansia tidak terbatas pada pemeriksaan kesehatan saja, tetapi juga sejumlah aktivitas yang bertujuan menyenangkan hati para lansia ini. Kegiatan posyandu lansia tidak dibuat berat karena yang dibutuhkan lansia adalah sebuah pertemuan untuk saling berbagi cerita tanpa harus terbebani. Posyandu itu menjadi jawaban bagi keinginan sebagian besar lansia untuk bertemu dengan teman-teman lansia. Bahan pembicaraan apa pun bisa bergulir dalam pertemuan

posyandu, mulai dari cara pencegahan penyakit, anak, hingga cucu mereka. Selain kegiatan rutin setiap tiga bulan sekali, para lansia juga mengikuti senam lansia dua kali seminggu. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan depresi di kalangan lansia dapat dikurangi sekaligus mengurangi risiko terkena penyakit osteoporosis. Organisasi yang bertanggung jawab menjalankan program penanggulangan masalah osteoporosis akibat depresi ini antara lain adalah Direktorat Gizi Masyarakat dengan koordinasi Koordinator Bidang Tenaga, Pelayanan Kesehatan dan Gizi yang merupakan bagian dari Tim Penanggulangan Masalah Kesehatan Akibat Bencana di Pusat dan Propinsi NAD. Untuk keberhasilan program perlu diikutsertakan berbagai potensi masyarakat termasuk swasta, baik bersifat perseorangan maupun yang bergabung dalam organisasi dan LSM yang berasal dari dalam maupun luar negeri dalam bentuk jaringan. 192 5. Kesimpulan Gangguan jiwa seperti depresi bisa menyebabkan berkurangnya berat tulang dan dalam jangka waktu yang panjang apabila dibiarkan akan menyebabkan penyakit osteoporosis. Cara untuk mencegah penyakit ini adalah dengan mengkonsumsi makanan yang tinggi kandungan kalsiumnya. Selain daripada itu, latihan fisik seperti jalan kaki, jalan cepat, atau senam aerobik juga sangat dianjurkan. Posyandu lansia merupakan salah satu sarana yang dapat dimanfaatkan untuk menjalankan kegiatan ini. Kegiatan posyandu lansia tidak terbatas pada pemeriksaan kesehatan saja, tetapi juga sejumlah aktivitas yang bertujuan menyenangkan hati para lansia ini. Kegiatan posyandu lansia tidak dibuat berat karena yang dibutuhkan lansia adalah sebuah pertemuan untuk saling berbagi cerita tanpa harus terbebani. Dengan adanya kegiatan ini depresi di kalangan lansia dapat dikurangi sekaligus mengurangi risiko terkena penyakit osteoporosis. Rujukan

Cooper, C., Campion, G. & Melton, L.J. 1992. Hip fractures in the elderly: a worldwide projection. Osteoporosis Int. 2: 285 289. Ima, N.S. 2002. Osteoporosis adakah anda dalam bahaya? Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur. Lau, E.M.C. & Cooper, C. 1996. The epidemiology of osteoporosis: the oriental persperctive in a world context. Clin Orthop 323: 65 74. Lau, E.M.C., Suriwongpaisa, P., Lee, J.K., De, S.D., Festin, M.R., Saw, M.R., Khir, A., Torrolba, T., Sham, A. & Sambrook, P. 2001. Risk factors for hip fracture in Asian men and women:the Asian osteoporosis study (AOS). J Bone Miner Res. 16 : 572 580. National Institute of Health. 2000. Consensus development conference statement: Osteoporosis prevention, diagnosis and therapy. (Atas talian) http://odp.od.nih.gov.html. Nordin, B.E.C. 1997. Calcium and osteoporosis. Nutrition 13: 664 686. Suriah, A.R. & Tengku Aizan, H. 2003 Pemakanan warga tua. Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka. Tee, E.S. 1998. Nutr reviews 56: S10 S18. Terry, M. 2001. Postmenopause. Discovery Communications Inc. 193
junshibuya 01-06-2008, 01:59 PM Pernahkah Anda melihat wanita tua bertubuh bongkok? Wanita tua itu pasti menderita penyakit osteoporosis yang menyebabkan tulang punggungnya melengkung. Osteoporosis tidak menampakkan tanda-tanda fisik yang nyata hingga terjadi keropos atau keretakan pada usia senja. Penyakit osteoporosis adalah berkurangnya kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Tulang terdiri dari mineral-mineral seperti kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi keras dan padat. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang, maka tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis. Sekitar 80% persen penderita penyakit osteoporosis adalah wanita, termasuk wanita muda yang mengalami penghentian siklus menstruasi (amenorrhea). Hilangnya hormon estrogen setelah menopause meningkatkan risiko terkena osteoporosis. Penyakit osteoporosis yang kerap disebut penyakit keropos tulang ini ternyata menyerang wanita sejak masih muda. Tidak dapat dipungkiri penyakit osteoporosis pada wanita ini dipengaruhi oleh hormon estrogen. Namun, karena gejala baru muncul setelah usia 50 tahun, penyakit osteoporosis tidak mudah dideteksi secara dini.

Meskipun penyakit osteoporosis lebih banyak menyerang wanita, pria tetap memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis. Sama seperti pada wanita, penyakit osteoporosis pada pria juga dipengaruhi estrogen. Bedanya, laki-laki tidak mengalami menopause, sehingga osteoporosis datang lebih lambat. Jumlah usia lanjut di Indonesia diperkirakan akan naik 414 persen dalam kurun waktu 1990-2025, sedangkan perempuan menopause yang tahun 2000 diperhitungkan 15,5 juta akan naik menjadi 24 juta pada tahun 2015. Bayangkan betapa besar jumlah penduduk yang dapat terancam penyakit osteoporosis. Berikut ini fakta seputar penyakit osteoporosis yang dapat membukakan mata dan meningkatkan kesadaran akan ancaman penyakit osteoporosis. Studi di dunia: * Satu diantara tiga wanita di atas usia 50 tahun dan satu diantara lima pria di atas 50 tahun menderita osteoporosis. * Penderita osteoporosis di Eropa, Jepang, Amerika sebanyak 75 juta penduduk, sedangkan China 84 juta penduduk. * Ada 200 juta penderita osteoporosis di seluruh dunia. Risiko kematian akibat patah tulang pinggul sama dengan kanker payudara. (Studi Cummings et al, 1989) Studi di Indonesia: * Prevalensi osteoporosis untuk umur kurang dari 70 tahun untuk wanita sebanyak 18-36%, sedangkan pria 20-27%, untuk umur di atas 70 tahun untuk wanita 53,6%, pria 38%. * Lebih dari 50% keretakan osteoporosis pinggang di seluruh dunia kemungkinan terjadi di Asia pada 2050. (Yayasan Osteoporosis Internasional) * Mereka yang terserang rata-rata berusia di atas 50 tahun. (Yayasan Osteoporosis Internasional) * Satu dari tiga perempuan dan satu dari lima pria di Indonesia terserang osteoporosis atau keretakan tulang. (Yayasan Osteoporosis Internasional) * Dua dari lima orang Indonesia memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis. (DEPKES, 2006) * Jumlah penderita osteoporosis di Indonesia jauh lebih besar dari data terakhir Depkes, yang mematok angka 19,7% dari seluruh penduduk dengan alasan perokok di negeri ini urutan ke-2 dunia setelah China. sumber: http://www.medicastore.com/osteoporosis/ junshibuya Gejala Osteoporosis dan Diagnosa Osteoporosis 01-06-2008, 02:00 PM

Penyakit osteoporosis sering disebut sebagai silent disease karena proses kepadatan tulang berkurang secara perlahan (terutama pada penderita osteoporosis senilis) dan berlangsung secara progresif selama bertahun-tahun tanpa kita sadari dan tanpa disertai adanya gejala. http://www.medicastore.com/osteoporosis/images/tulang_osteo.jpg Gejal-gejala baru timbul pada tahap osteoporosis lanjut, seperti: * * * * patah tulang punggung yang semakin membungkuk hilangnya tinggi badan nyeri punggung

Jika kepadatan tulang sangat berkurang sehingga tulang menjadi hancur, maka akan timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk. Hancurnya tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang belakang yang rapuh bisa mengalami hancur secara spontan atau karena cedera ringan. Biasanya nyeri timbul secara tiba-tiba dan dirasakan di daerah tertentu dari punggung, yang akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan. Jika disentuh, daerah tersebut akan terasa sakit, tetapi biasanya rasa sakit ini akan menghilang secara bertahap setelah beberapa minggu atau beberapa bulan. Jika beberapa tulang belakang hancur, maka akan terbentuk kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang (punuk Dowager), yang menyebabkan ketegangan otot dan sakit. Tulang lainnya bisa patah, yang

seringkali disebabkan oleh tekanan yang ringan atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang panggul. Hal yang juga sering terjadi adalah patah tulang lengan (radius) di daerah persambungannya dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles. Selain itu, pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung menyembuh secara perlahan. Diagnosa Osteoporosis Pada seseorang yang mengalami patah tulang, diagnosis osteoporosis ditegakkan berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik dan rontgen tulang. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk menyingkirkan keadaan lainnya penyebab osteoporosis yang bisa diatasi. Untuk mendiagnosa osteoporosis sebelum terjadinya patah tulang dilakukan pemeriksaan yang menilai kepadatan tulang. Di Indonesia dikenal 3 cara penegakan diagnosa penyakit osteoporosis, yaitu: 1. Densitometer (Lunar) menggunakan teknologi DXA (dual-energy x-ray absorptiometry). Pemeriksaan ini merupakan gold standard diagnosa osteoporosis. Pemeriksaan kepadatan tulang ini aman dan tidak menimbulkan nyeri serta bisa dilakukan dalam waktu 5-15 menit. DXA sangat berguna untuk: * wanita yang memiliki risiko tinggi menderita osteoporosis * penderita yang diagnosisnya belum pasti * penderita yang hasil pengobatan osteoporosisnya harus dinilai secara akurat 2. Densitometer-USG. Pemeriksaan ini lebih tepat disebut sebagai screening awal penyakit osteoporosis. Hasilnya pun hanya ditandai dengan nilai T dimana nilai lebih -1 berarti kepadatan tulang masih baik, nilai antara -1 dan -2,5 berarti osteopenia (penipisan tulang), nilai kurang dari -2,5 berarti osteoporosis (keropos tulang). Keuntungannya adalah kepraktisan dan harga pemeriksaannya yang lebih murah. 3. Pemeriksaan laboratorium untuk osteocalcin dan dioksipiridinolin, CTx. Proses pengeroposan tulang dapat diketahui dengan memeriksakan penanda biokimia CTx (C-Telopeptide). CTx merupakan hasil penguraian kolagen tulang yang dilepaskan ke dalam sirkulasi darahsehingga spesifik dalam menilai kecepatan proses pengeroposan tulang. Pemeriksaan CTx juga sangat berguna dalam memantau pengobatan menggunakan antiresorpsi oral. Proses pembentukan tulang dapat diketahui dengan memeriksakan penanda bioklimia N-MID-Osteocalcin. Osteocalcin merupakan protein spesifik tulang sehingga pemeriksan ini dapat digunakan saebagai penanda biokimia pembentukan tualng dan juga untuk menentukan kecepatan turnover tulang pada beberapa penyakit tulang lainnya. Pemeriksaan osteocalcin juga dapat digunakan untuk memantau pengobatan osteoporosis. Di luar negeri, dokter dapat pula menggunakan metode lain untuk mendiagnosa penyakit osteoporosis, antara lain: 1. 2. 3. 4. Sinar x untuk menunjukkan degenerasi tipikal dalam tulang punggung bagian bawah. Pengukuran massa tulang dengan memeriksa lengan, paha dan tulang belakang. Tes darah yang dapat memperlihatkan naiknya kadar hormon paratiroid. Biopsi tulang untuk melihat tulang mengecil, keropos tetapi tampak normal. 01-06-2008, 02:02 PM

junshibuya Penyebab Osteoporosis dan Faktor Risiko Osteoporosis

Sebenarnya, apa yang menyebabkan terjadinya osteoporosis? Berikut ini beberapa penyebab osteoporosis: 1. Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat.

Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam. 2. Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis senilis dan postmenopausal. 3. Osteoporosis sekunder dialami kurang dari 5% penderita osteoporosis, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan. Penyakit osteoporosis bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan osteoporosis. 4. Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang. junshibuya Faktor Risiko Osteoporosis 01-06-2008, 02:04 PM

1. Wanita Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun. Selain itu, wanita pun mengalami menopause yang dapat terjadi pada usia 45 tahun. 2. Usia Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh justru menurun. Pada usia 75-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam mengalami kehilangan tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan kalsium menurun dan fungsi hormon paratiroid meningkat. 3. Ras/Suku Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia rendah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa dan menghindari produk dari hewan. Pria dan wanita kulit hitam dan hispanik memiliki risiko yang signifikan meskipun rendah. 4. Keturunan Penderita osteoporosis Jika ada anggota keluarga yang menderita osteoporosis, maka berhati-hatilah. Osteoporosis menyerang penderita dengan karakteristik tulang tertentu. Seperti kesamaan perawakan dan bentuk tulang tubuh. Itu artinya dalam garis keluarga pasti punya struktur genetik tulang yang sama. 5. Gaya Hidup Kurang Baik * Konsumsi daging merah dan minuman bersoda, karena keduanya mengandung fosfor yang merangsang pembentukan horman parathyroid, penyebab pelepasan kalsium dari dalam darah. * Minuman berkafein dan beralkohol.

Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak. Hal ini dipertegas oleh Dr.Robert Heany dan Dr. Karen Rafferty dari creighton University Osteoporosis Research Centre di Nebraska yang menemukan hubungan antara minuman berkafein dengan keroposnya tulang. Hasilnya adalah bahwa air seni peminum kafein lebih banyak mengandung kalsium, dan kalsium itu berasal dari proses pembentukan tulang. Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin yang menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblas). * Malas Olahraga Wanita yang malas bergerak atau olahraga akan terhambat proses osteoblasnya (proses pembentukan massa tulang). Selain itu kepadatan massa tulang akan berkurang. Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot akan memacu tulang untuk membentuk massa. * Merokok Ternyata rokok dapat meningkatkan risiko penyakit osteoporosis. Perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunansusunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan. Disamping itu, rokok juga membuat penghisapnya bisa mengalami hipertensi, penyakit jantung, dan tersumbatnya aliran darah ke seluruh tubuh. Kalau darah sudah tersumbat, maka proses pembentukan tulang sulit terjadi. Jadi, nikotin jelas menyebabkan osteoporosis baik secara langsung tidak langsung. Saat masih berusia muda, efek nikotin pada tulang memang tidak akan terasa karena proses pembentuk tulang masih terus terjadi. Namun, saat melewati umur 35, efek rokok pada tulang akan mulai terasa, karena proses pembentukan pada umur tersebut sudah berhenti. * Kurang Kalsium Jika kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang. 6. Mengkonsumsi Obat Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada penyakit asma dan alergi ternyata menyebabkan risiko penyakit osteoporosis. Jika sering dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan mengurangi massa tulang. Sebab, kortikosteroid menghambat proses osteoblas. Selain itu, obat heparin dan antikejang juga menyebabkan penyakit osteoporosis. Konsultasikan ke dokter sebelum mengkonsumsi obat jenis ini agar dosisnya tepat dan tidak merugikan tulang. 7. Kurus dan Mungil Perawakan kurus dan mungil memiliki bobot tubuh cenderung ringan misal kurang dari 57 kg, padahal tulang akan giat membentuk sel asal ditekan oleh bobot yang berat. Karena posisi tulang menyangga bobot maka tulang akan terangsang untuk membentuk massa pada area tersebut, terutama pada derah pinggul dan panggul. Jika bobot tubuh ringan maka massa tulang cenderung kurang terbentuk sempurna. junshibuya Terapi dan Pengobatan Osteoporosis 01-06-2008, 02:06 PM

Terapi dan pengobatan osteoporosis bertujuan untuk meningkatkan kepadatan tulang untuk mengurangi retak tambahan dan mengontrol rasa sakit. Untuk terapi dan pengobatan osteoporosis sebenarnya memerlukan suatu tim yang terdiri dari multidisipliner minimal antara lain departemen bedah, departemen penyakit dalam, departemen psikologi, departemen biologi, departemen obstetri dan ginekologi, departemen farmakologi. Penyakit osteoporosis selain mempengaruhi tubuh, juga mempengaruhi kondisi psikis penderitanya terutama akibat patah tulang sehingga terapi dan pengobatan osteoporosis pun melibatkan spesialis kejiwaan. Tidak hanya itu, departemen kedokteran olahraga juga diperlukan dalam terapi dan pengobatan osteoporosis. Untuk mempertahankan kepadatan tulang, tubuh memerlukan persediaan kalsium dan mineral lainnya yang memadai, dan harus menghasilkan hormon dalam jumlah yang mencukupi (hormon paratiroid, hormon pertumbuhan, kalsitonin, estrogen pada wanita dan testosteron pada pria). Oleh sebab itu Departemen gizi klinik juga memiliki peranan dalam terapi dan pengobatan osteoporosis. Spesialis gizi klinik dapat membantu menjaga agar asupan gizi penderita osteoporosis terutama kalsium dan vitamin D tercapai agar penyerapan kalsium dari makanan dan pemasukan ke dalam tulang berlangsung

optimal. Secara progresif, tulang meningkatkan kepadatannya sampai tercapai kepadatan maksimal (sekitar usia 30 tahun). Setelah itu kepadatan tulang akan berkurang secara perlahan. Oleh sebab itu, kepadatan tulang harus dijaga sejak masih muda agar saat tuanya tidak menderita osteoporosis. Semua wanita, terutama yang menderita osteoporosis, harus mengkonsumsi kalsium dan vitamin D dalam jumlah yang mencukupi. Wanita pasca menopause yang menderita osteoporosis juga bisa mendapatkan estrogen (biasanya bersama dengan progesteron) atau alendronat (golongan bifosfonat) yang bisa memperlambat atau menghentikan penyakitnya. Pria yang menderita osteoporosis biasanya mendapatkan kalsium dan tambahan vitamin D, terutama jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuhnya tidak menyerap kalsium dalam jumlah yang mencukupi.Jika kadar testosteronnya rendah, bisa diberikan testosteron. Pada kolaps tulang belakang disertai nyeri punggung yang hebat, diberikan obat pereda nyeri, dipasang supportive back brace dan dilakukan terapi fisik. Penjepit punggung mungkin penting untuk mendukung vertebra yang lemah dan operasi dapat memperbaiki bweberapa keretakan. Pengobatan hormonal dan flouride dapat membantu. Penyakit osteoporosis yang disebabkan oleh gangguan lain dapat dicegah melalui pengobatan yang efektif pada gangguan dasarnya, seperti terapi kortikosteroid. Menangani Patah Tulang Osteoporosis Patah tulang osteoporosisyang paling sering terjadi adalah pada patah tulang vertebra (tulang punggung), tulang leher femur dan tulang gelang tangan (patah tulang Colles). Adapun frekuensi patah tulang leher femur adalah 20% dari total jumlah patah tulang osteoporosis. Dari semua patah tulang osteoporosis, yang paling memberikan masalah dibidang morbiditas, mortalitas, beban sosisoekonomik dan kualitas hidup adalah patah tulang leher femur sehingga bila tidak diambil tindakan untuk mengatasi penyakit osteoporosis diperkirakan pada tahun 2050 jumlah patah tulang leher femur di seluruh dunia akan mencapai 6,26 juta dan lebih dari separuhnya di Asia. Patah tulang karena osteoporosis harus diobati. Patah tulang panggul biasanya diatasi dengan tindakan pembedahan. Patah tulang pergelangan biasanya digips atau diperbaiki dengan pembedahan. Operasi ini dilakukan oleh spesialis bedah tulang (orthopaedi). Setelah operasi, penderita harus menjalani fisioterapi untuk memulihkan kemampuan tulang yang pernah patah. Biaya tatalaksana patah tulang osteoporosis di Inggris tercatat 942 juta poundsterling per tahun dan cenderung meningkat. Di Amerika, tatalaksana patah tulang osteoporosis diperkirakan mencapai 10-15 milyar dolar pertahun. Sayangnya, belum ada yang meneliti berapa jumlah biaya pengobatan yang dikeluarkan di Indonesia. Penatalaksanaan patah tulang osteoporosis memerlukan biaya yang sangat besar sehingga sebaiknya mencoba untuk mencegah agar jangan sampai terjadi patah tulang pada penderita osteoporosis. Ada dua macam pencegahan patah tulang osteoporosis yaitu dengan cara non-farmakologis dan cara faramakologis. Cara non farmakologis atau tanpa obat-obatan dengan memperbaiki dan meningkatkan mutu nutrisi dimana diperhatikan asupan kalsium, vitamin D seumur hidup. Olahraga Tai-Chi ternyata berguna untuk memperbaiki keseimbangan tubuh penderita osteoporosis. Untuk lansia, penting untuk mencegah terjadinya jatuh di rumah/lingkungan rumah karena hampir semua penderita patah tulang di rumah. Usahakan agar faktor-faktor yang dapat mengakibatkan jatuh dihilangkan seperti lantai licin, karpet longgar, keadaan tangga, pengobatan sedatif (membuat ngantuk). Cara farmakologik menggunakan obat-obatan dimana yang paling sering dipakai adalah obat golongan bifosfonat yang dikombinasikan dengan asupan kalsium dan vitamin D. Obat-obatan lain seperti terapi sulih hormon, hormon paratiroid dan kalsitonin dan SERM. Latihan Fisik Mencegah & Mengobati Osteoporosis Pada osteoporosis, latihan jasmani dilakukan untuk mencegah dan mengobati penyakit osteoporosis. Latihan jasmani menggunakan beban berguna untuk melenturkan dan menguatkan tulang. Latihan jasmani

sebaiknya dilakukan sejak muda dan terus dilanjutkan sampai tua. Dr. Ade Tobing, Sp.KO mengenalkan latihan fisik yang baik, benar, terukur dan teratur (BBTT). Latihan yang baik artinya latihan terbagi menjadi 3 sesi yaitu pemanasan & peregangan selama 10-15 menit, latihan inti selama 20-60 menit,dan peregangan & pendinginan selama 5-10 menit. Latihan yang benar artinya memberikan latihan yang sesuai dengan tingkat kesehatan, tingkat aktivitas fisik dan tingkat kebugaran masing-masing individu yang dapat diketahui pada saat pemeriksaan pra latihan. Hal ini bertujuan agar masing-masing individu terjawab kebutuhannya yang berbeda dengan yang lain. Latihan yang terukur artinya mengukur jumlah detak jantung per menit untuk mengetahui intensitas latihan. Detak jantung per menit maksimum adalah 220 dikurangi usia. Satu hal yang tidak kalah penting adalah latihan yang teratur dan berkesimabungan dari anak-anak sampai tua. Latihan fisik (BBTT) bermanfaat tidak hanya dalam meningkatkan kekuatan dan kelenturan tulang, tapi juga dapat meningkatkan keseimbangan, kebugaran jantung-paru, dan dapat memelihara dan meningkatkan massa tulang. Persatuan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) bersama Persatuan Warga Tulang Sehat Indonesia (PERWATUSI) telah mengembangkan senam osteoporosis yang untuk mencegah dan mengobati osteoporosis. Sosialisasi mengenai senam osteoporosis ini pun sedang dilakukan kepada masyarakat. junshibuya Pilihan Obat Osteoporosis 01-06-2008, 02:07 PM

Pengobatan osteoporosis dan penyakit tulang lainnya terdiri dari berbagai macam obat (bifosfonat / bisphosphonates, terapi hormon estrogen, selective estrogen receptor modulators atau SERMs) dan asupan kalsium dan vitamin D yang cukup. Obat untuk osteoporosis harus menunjukkan kemampuan melindungi dan meningkatkan massa tulang juga menjaga kualitas tulang supaya mengurangi resiko tulang patah. Beberapa obat meningkatkan ketebalan tulang atau memperlambat kecepatan penghilangan tulang. 1. Golongan Bifosfonat Bisfosfonat oral untuk osteoporosis pada wanita postmenopause khususnya, harus diminum satu kali seminggu atau satu kali sebulan pertama kali di pagi hari dengan kondisi perut kosong untuk mencegah interaksi dengan makanan.Bisfosfonat dapat mencegah kerusakan tulang, menjaga massa tulang, dan meningkatkan kepadatan tulang di punggung dan panggul, mengurangi risiko patah tulang. Golongan bifosfonat adalah Risedronate, Alendronate, Pamidronate, Clodronate, Zoledronate (Zoledronic acid), Asam Ibandronate. Alendronat berfungsi: * mengurangi kecepatan penyerapan tulang pada wanita pasca menopause * meningkatakan massa tulang di tulang belakang dan tulang panggul * mengurangi angka kejadian patah tulang. Supaya diserap dengan baik, alendronat harus diminum dengan segelas penuh air pada pagi hari dan dalam waktu 30 menit sesudahnya tidak boleh makan atau minum yang lain. Alendronat bisa mengiritasi lapisan saluran pencernaan bagian atas, sehingga setelah meminumnya tidak boleh berbaring, minimal selama 30 menit sesudahnya. Asam Ibandronate adalah bifosfonat yang sangat poten dan bekerja secara selektif pada jaringan tulang dan secara spesifik menghambat akjtivitas osteoklastanpa mempengaruhi formasi tulang secara langsung. Dengan kata lain menghambat resorpsi tulang. Dosis 150 mg sekali sebulan. Selain untuk osteoporosis golongan bifosfonat juga digunakan untuk terapi lainnya misalnya untuk hiperkalsemia, sebagai contoh Zoledronic acid. Zoledronic acid digunakan untuk mengobati kadar kalsium yang tinggi pada darah yang mungkin disebabkan oleh jenis kanker tertentu. Zoledronic acid juga digunakan bersama kemoterapi kanker untuk mengobati tulang yang rusak yang disebabkan multiple myeloma atau kanker lainnya yang menyebar ke tulang.

Zoledronic acid bukan obat kanker dan tidak akan memperlambat atu menghentikan penyebaran kanker. Tetapi dapat digunakan untuk mengobati penyakit tulang yang disebabkan kanker. Zoledronic acid bekerja dengan cara memperlambat kerusakan tulang dan menurunkan pelepasan kalsium dari tulang ke dalam darah. 2.Selective Estrogen Receptor Modulator (SERM) Sementara terapi sulih hormon menggunakan estrogen pada wanita pasca menopause, efektif mengurangi turnover tulang dan memperlambat hilangnya massa tulang. Tapi pemberian estrogen jangka panjang berkaitan dengan peningkatan resiko keganasan pada rahim dan payudara. Sehingga sekarang sebagai alternatif pengganti estrogen adalah golongan obat yang disebut SERM (Selective Estrogen Receptor Modulator). Obat ini berkhasiat meningkatkan massa tulang tetapi tidak memiliki efek negatif dari estrogen, obat golongan SERMs adalah Raloxifene. 3. Metabolit vitamin D Sekarang ini sudah diproduksi metabolit dari vitamin D yaitu kalsitriol dan alpha kalsidol. Metabolit ini mampu mengurangi resiko patah tulang akibat osteoporosis. 4. Kalsitonin Kalsitonin dianjurkan untuk diberikan kepada orang yang menderita patah tulang belakang yang disertai nyeri. Obat ini bisa diberikan dalam bentuk suntikan atau semprot hidung. Salmon Kalsitonin diberikan lisensinya untuk pengobatan osteoporosis. Sekarang ini juga ada yang sintetiknya. Sediaan yang ada dalam bentuk injeksi. Dosis rekomendasinya adalah 100 IU sehari, dicampur dengan 600mg kalsium dan 400 IU vitamin D. Kalsitonin menekan aksi osteoklas dan menghambat pengeluarannya. 5.Strontium ranelate Stronsium ranelate meningkatkan pembentukan tulang seperti prekursor osteoblas dan pembuatan kolagen, menurunkan resorpsi tulang dengan menurunkan aktivitas osteoklas. Hasilnya adalah keseimbangan turnover tulang dalam proses pembentukan tulang. Berdasarkan hasil uji klinik, stronsium ranelate terbukti menurunkan patah tulang vertebral sebanyak 41% selama 3 tahun. junshibuya Pencegahan Osteoporosis 01-06-2008, 02:11 PM

Menurut dr. Bambang Setiyohadi, Sp.PD, KR pencegahan osteoporosis sebaiknya dilakukan sejak masih dalam kandungan. Sang ibu harus mengkonsumsi kalsium dengan cukup sehingga tulang bayi dalam kandungan tumbuh optimal dan tidak mengambil cadangan kalsium dari tulang ibu. Prof. DR. Dr. Ichramsjah A Rachman, Sp.OG (K) juga lebih menekankan pentingnya pencegahan dibandingkan pengobatan. Hal yang paling penting adalah menyadari akan kejadian osteoporosis yang mengancam terutama wanita. Semua manusia di dunia pasti akan menjadi tua baik pria maupun wanita.Proses penuaan telah terjadi sejak manusia dilahirkan ke dunia dan terus menerus terjadi sepanjang kehidupannya. Khususnya pada wanita, proses ini mempunyai dampak tersendiri berkaitan dengan proses siklik haid setiap bulannya yang mulaiu terganggu dan akhirnya menghilang sama sekali. Terganggunya atau sampai hilangnya proses haid (menopause dan pasca menopause) disebabkan penurunana dan hilangnya hormon estrogen. Ini adalah hal yang normal dan alamiah. Namun, penerimaannnya berbeda-beda diantara wanita. Dengan turunnya kadar hormon estrogen maka proses osteoblas (pembentukan tulang) terhambat dan dua hormon yang berperan dalam proses ini yaitu D, PTH pun turun sehingga dimulai hilangnya kadar mineral tulang. Apabila hal ini terus berlanjut dan akibat kelanjutan harapan hidup masih akan mencapai keadaan osteoporosis yaitu kondisi dimana massa tulang demikian rendah sehingga tulang mudah patah. Diketahui 85% wanita menderita osteoporosis yang terjadi sekitar 10 tahun setelah menopause, atau 8 tahun setelah

pengangkatan kedua ovarium. Jadi, para wanita perlu lebih waspada akan ancaman penyakit osteoporosis dibandingkan pria. Karena penyakit ini baru muncul setelah usia lanjut, wanita muda harus sadar dan segera melakukan tindakan pencegahan sebagai berikut, antara lain: 1. Asupan kalsium cukup Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dapat dilakukan dengan mengkonsumsi kalsium yang cukup. Minum 2 gelas susu dan tambahan vitamin D setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang sebelumnya tidak mendapatkan cukup kalsium. Sebaiknya konsumsi kalsium setiap hari. Dosis harian yang dianjurkan untuk usia produktif adalah 1000 mg kalsium per hari, sedangkan untuk usia lansia dianjurkan 1200 mg per hari. Mengkonsumsi kalsium dalam jumlah yang cukup sangat efektif, terutama sebelum tercapainya kepadatan tulang maksimal (sekitar umur 30 tahun). Pilihlah makanan sehari-hari yang kaya kalsium seperti ikan teri, brokoli, tempe, tahu, keju dan kacang-kacangan. 2.Paparan sinar UV B matahari (pagi dan sore) Sinar matahari terutama UVB membantu tubuh menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan massa tulang. Untungnya, Indonesia beriklim tropis sehingga sinar matahari berlimpah. Berjemurlah di bawah sinar matahari selama 30 menit pada pagi hari sebelum jam 09.00 dan sore hari sesudah jam 16.00. 3.Melakukan olah raga dengan beban Selain olahraga menggunakan alat beban, berat badan sendiri juga dapat berfungsi sebagai beban yang dapat meningkatkan kepadatan tulang. Olah raga beban misalnya berjalan dan menaiki tangga tetapi berenang tidak meningkatkan kepadatan tulang. Dr. Ade Tobing, Sp.KO kini mengenalkan yang disebut latihan jasmani yang baik, benar, terukur dan teratur (BBTT). Latihan BBTT ternyata terbukti bermanfaat dalam memelihara dan meningkatkan massa tulang. Oleh sebab itu, latihan fisik (BBTT) dapat dilakukan untuk mencegah dan mengobati penyakit osteoporosis. 4.Gaya hidup sehat Tidak ada kata terlambat untuk melakukan gaya hidup sehat. Menghindari rokok dan alkohol memberikan efek yang signifikan dalam menurunkan risiko osteoporosis. Konsumsi kopi, minuman bersoda, dan daging merah pun dilakukan secara bijak. 5.Hindari obat-obatan tertentu Hindari obat-obatan golongan kortikosteroid. Umumnya steroid ini diberikan untuk penyakit asma, lupus, keganasan. Waspadalah penggunaan obat antikejang. Jika tidak ada obat lain, maka obat-obatan tersebut dapat dikonsumsi dengan dipantau oleh dokter. 6.Mengkonsumsi obat (untuk beberapa orang tertentu) * Estrogen membantu mempertahankan kepadatan tulang pada wanita dan sering diminum bersamaan dengan progesteron. Terapi sulih estrogen paling efektif dimulai dalam 4-6 tahun setelah menopause; tetapi jika baru dimulai lebih dari 6 tahun setelah menopause, masih bisa memperlambat kerapuhan tulang dan mengurangi resiko patah tulang. * Raloksifen merupakan obat menyerupai estrogen yang baru, yang mungkin kurang efektif daripada estrogen dalam mencegah kerapuhan tulang, tetapi tidak memiliki efek terhadap payudara atau rahim. * Untuk mencegah osteroporosis, bisfosfonat (contohnya alendronat), bisa digunakan sendiri atau bersamaan dengan terapi sulih hormon.

MEDIA MEDIKA INDONESIANA Hak Cipta2008 oleh Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dan Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Jawa Tengah

Osteoporosis dan Faktor Risikonya pada Lansia Etnis Jawa Fatmah* ABSTRACT Osteoporosis and its risk factors among Javanese elderly. Background: Osteoporosis is marked by the reduction of Bone Mass Density caused by multifactor. Osteoporosis is often found among elderly people, and at present still a problem in public health. At present data on prevalence of osteoporosis among Javanese elderly is not available. The objective of the study was to analyze the prevalence of osteoporosis among the elderly Javanese with its risk factors. Method: The risk of osteoporosis was measured by using Sahara Clinical Bone Sonometer, and T<-2.5 score was the criteria of osteoporosis. Result: The study showed that osteoporosis in the rural was lower than in the urban. Osteoporosis proportion among females was twice bigger than males. There was osteoporosis proportion development based on age group. Level of education, physical activity and occupational activity were related to osteoporosis. Respondents with low level of education had the mean and osteoporosis proportion higher than those with high/middle level of education. Percentage of osteoporosis among elderly with low level of physical and occupational activity was also higher than those who had high level. Calcium and protein intakes had no relevance with osteoporosis occurrence. Conclusions: Rural and urban areas, sex, age, level of education, work status, and weight are osteoporosis risk factors. Sex was the main osteoporosis determinant in this study. Keywords: Osteoporosis, sex, age, education, physical activity, occupational activity level

ABSTRAK Latar belakang: Osteoporosis ditandai menurunnya densitas massa tulang yang disebabkan oleh multifaktor. Osteoporosis sering ditemukan pada lansia dan saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Saat ini informasi data epidemiologi tentang osteoporosis pada lansia etnis Jawa belum diketahui. Tujuan studi adalah untuk menganalisis proporsi dan faktor-faktor risiko osteoporosis lansia Suku Jawa. Metode: Studi cross sectional dilakukan masing-masing di 3 wilayah pedesaan dan perkotaan. Lokasi diperoleh melalui two stages stratified random sampling, sedangkan subyek melalui acak sederhana. Risiko osteoporosis dinilai dengan menggunakan alat Sahara Clinical Bone Sonometer dengan kriteria osteoporosis memiliki nilai skor T<-2,5. Hasil: Diperoleh 812 subyek penelitian. Proporsi osteoporosis di desa sedikit lebih rendah daripada kota. Perempuan memiliki proporsi osteoporosis dua kali lebih besar daripada laki-laki. Terdapat peningkatan osteoporosis berdasarkan umur. Tingkat pendidikan, beban pekerjaan harian, dan aktivitas fisik berhubungan dengan osteoporosis. Responden dengan tingkat pendidikan akhir yang rendah memiliki mean dan proporsi osteoporosis lebih tinggi daripada tingkat pendidikan tinggi/menengah. Persentase osteoporosis responden pada aktivitas fisik rendah dan beban pekerjaan harian rendah lebih tinggi dibandingkan tingkat berat. Asupan kalsium dan protein tidak berhubungan dengan kejadian osteoporosis. Simpulan: Wilayah tinggal, jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan akhir, tingkat aktivitas fisik, dan tingkat beban pekerjaan harian merupakan faktor-faktor risiko osteoporosis lansia Etnis Jawa. Jenis kelamin adalah determinan utama osteoporosis dalam studi ini.PENDAHULUAN Proporsi penduduk lanjut usia (lansia) Indonesia di atas 65 tahun meningkat dari 1,1% menjadi 6,3% dari total

populasi. Selama 20 tahun terakhir dan diperkirakan akan meningkat menjadi 11,3% pada tahun 2020. Feno-mena terjadinya peningkatan ini disebabkan oleh per-baikan status kesehatan akibat kemajuan teknologi dan ilmu kedokteran, transisi epidemiologi dari penyakit in-feksi menuju penyakit degeneratif, dan perbaikan status gizi. Peningkatan jumlah lansia mempengaruhi aspek kehi-dupan mereka seperti terjadinya perubahanperubahan fisik, biologis, psikologis, dan sosial sebagai akibat pro-ses penuaan atau munculnya penyakit degeneratif akibat proses penuaan tersebut. Salah satu perubahan fisik yang terjadi seiring pertambahan usia adalah terjadinya penurunan massa tulang yang dapat merubah struktur tulang. Keadaan di mana penurunan massa tulang me-lampaui 2,5 kali standar deviasi massa tulang pada po-pulasi usia muda yang disebut osteoporosis. Osteoporosis merupakan salah satu penyakit yang dipe-ngaruhi oleh berbagai faktor antara lain usia, jenis kela-min, gaya hidup, dan sebagainya. Hasil analisis data Densitas Mineral Tulang (DMT) di 16 wilayah di Indonesia kerjasama antara Puslitbang Gizi Bogor dengan PT. Fonterra Brands Indonesia pada Tahun 2005 terda-pat 29,4% lansia berusia 60-64 tahun menderita osteo-porosis, 65-69 tahun sebesar 36,4%, dan usia di atas 70 tahun sebesar 53,1%. Proporsi osteoporosis pada ketiga kelompok usia lansia wanita di atas lebih besar daripada lansia pria (30,4% dan 27,76% untuk kelompok usia 60-64 tahun, 39,2% dan 32,3% pada kelompok usia 65-69 tahun, serta 58,9% dan 43,6% pada kelompok usia di atas 70 tahun. Publikasi data tentang informasi epidemiologi osteopo-rosis di Indonesia pada lansia Etnis Jawa belum banyak dilaporkan, bahkan cenderung relatif tidak diketahui. Namun demikian besarnya proporsi osteoporosis yang memicu peningkatan kasus morbiditas dan mortalitas memerlukan perhatian lebih lanjut, khususnya pada lansia yang

sudah terdeteksi memiliki osteopenia. Oleh karena itu, tersedianya informasi tentang besaran masalah osteoporosis disertai faktor-faktor risikonya menjadi penting dalam rangka mencegah penduduk lansia dari risiko osteoporosis. Informasi ini merupakan masukan bagi pihak pemerintah, swasta, dan pihak lain yang ter-kait untuk merancang program-program kesehatan lan-sia terutama bagi pencegahan osteoporosis di Indonesia. METODE Penelitian dengan rancangan cross sectional dilakukan pada 812 lansia (295 pria dan 517 wanita) di 3 wilayah pedesaan (Kabupaten Magetan, Gunung Kidul, Wono-giri), dan 3 wilayah perkotaan (Kota Surabaya, Yogya-karta, dan Semarang). Alasan penelitian dilakukan pada kelompok Suku Jawa adalah sebanyak 41,7% suku ini menempati urutan etnis terbesar dari seluruh total popu-lasi Indonesia. 1 Kelompok ini paling banyak menempati wilayah Propinsi Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Bahkan proporsi penduduk lansia Suku Jawa juga berada pada urutan terbesar di antara 4 suku lainnya di Indonesia yaitu Sunda, Melayu, Batak, dan Madura (48,6%). Metode Two Stages Stratified Random Sampling digu-nakan untuk memilih lokasi melalui 2 tahap seleksi ya-itu di tingkat kecamatan (3 kecamatan) dan kelurahan (2 kelurahan/desa per kecamatan). Sampel penelitian diam-bil secara acak dengan menggunakan metode Simple Random Sampling dari tiap-tiap kelurahan terpilih. Kriteria inklusi penelitian adalah lansia yang tinggal/ berada di masyarakat baik pria maupun wanita dengan usia antara 55-65 tahun, memiliki kedua orang tua ber-asal dari Suku Jawa asli, tinggal sendiri atau bersama keluarga, tidak mengidap stroke atau gangguan ingatan (masih dapat mengingat kejadian lampau dengan cukup baik),

serta dapat berkomunikasi dengan baik. Kriteria eksklusi sampel yang tidak masuk dalam penelitian ada-lah: lansia memiliki salah satu tangan yang tidak dapat direntangkan karena patah atau akibat tertentu, meng-alami patah tulang/kaki palsu, menderita stroke atau gangguan ingatan, dan gangguan berkomunikasi. Data yang dikumpulkan adalah data pengukuran tinggi badan, berat badan, dan risiko osteoporosis oleh 3 ahli gizi terlatih di tiap wilayah/lokasi pada bulan Desember 2007-Pebruari 2008. Tinggi badan diukur dengan alat mikrotoa, berat badan dengan timbangan injak digital SECA, dan risiko osteoporosis dengan alat tinggi lutut diukur dengan alat Sahara Clinical Bone Sonometer.. Sebanyak 812 contoh usia 55 tahun (usia minimum) hingga 84 tahun (usia maksimum) telah diukur antropo-metrinya dan diwawancarai di balai desa/posbindu atau posyandu lansia/kantor kelurahan/rumah kader posbindu. Salah satu kriteria inklusi contoh penelitian adalah usia 55-65 tahun, tetapi banyak lansia yang sebelumnya tidak terpilih secaraacak dan usianya tidak sesuai kri-teria inklusi datang ke tempat penelitian minta diukur dan diwawancarai. Mereka tahu kegiatan pengukuran itu dari teman-temannya maupun dari aparat desa/kelu-rahan setempat. Kumpulan lansia yang tidak memenuhi syarat itu turut dikumpulkan data antropometrinya dan diwawancarai. Total terkumpul 812 sampel (612 lansia 55-65 tahun dan 200 lansia usia 66-84 tahun). Pemilihan responden penelitian berusia 55-65 tahun di-lakukan secara acak dari data jumlah dan namanama lansia di tiap kelurahan/desa. Data lansia itu dikumpul-kan dari kader posbindu, bidan puskesmas, dan ketua/ pengurus RW setempat. Setelah nama-nama contoh ter-pilih secara acak, selanjutnya mereka diberikan undang-an untuk menghadiri

acara kegiatan pengukuran di lokasi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh peneliti dan kader/pengurus RW setempat. Undangan itu diki-rimkan secara langsung ke rumah-rumah mereka oleh kader/pengurus RW. Pada 6 lokasi penelitian di Kota Semarang dilakukan kegiatan minum susu Produgen bersama setelah peneliti berhasil melakukan kerjasama dengan Produgen Propinsi DI Yogyakarta. HASIL Karakteristik Sosio-demografi Tabel 1 menggambarkan karakteristik sosio-demografi meliputi: wilayah kota dan desa, jenis kelamin, kelom-pok usia, pendidikan akhir, dan status pekerjaan usia 25 dan 55 tahun. Mayoritas responden berasal dari Sura-baya (26,8%) yang mewakili wilayah kota dan Wono-giri mewakili wilayah desa (18,5%). Sebagian besar responden berjenis kelamin wanita (63,7%) dan sisanya adalah laki-laki (36,3%). Pembagian usia dibagi dalam 6 kelompok yang didomi-nasi oleh kelompok usia 60-65 tahun (40,8%), dan di-ikuti oleh kelompok usia 55-69 tahun (35,3%). Rata-rata usia adalah 62 tahun dengan usia terendah 55 tahun dan usia tertinggi 84 tahun. Dari seluruh responden yang diwawancarai, hanya sete-ngahnya yang mampu menyebutkan tanggal lahirnya secara lengkap (51,6%). Selebihnya tidak tahu tanggal lahir (28,8%), tahu tahun lahir (18,7%), dan tidak ingat sama sekali tanggal, bulan, dan tahun lahir (0,9%). Iden-tifikasi usia responden yang tidak ingat tanggal lahirnya diperoleh dari kader posyandu lansia, bidan puskesmas, dan Ketua RW/RT setempat. Pendidikan akhir responden dikelompokkan menjadi 2 tingkat yaitu rendah dan tinggi. Tingkat pendidikan tinggi

mulai dari tamat atau tidaknya pendidikan di SLTP, SLTA, akademi, dan universitas. Tidak sekolah, tidak lulus SD, dan lulus SD menjadi bagian dari peni-laian tingkat pendidikan akhir rendah. Persentase tingkat pendidikan akhir rendah di desa dan kota sedikit lebih banyak (59,2%) daripada yang tinggi (40,2%). Mayoritas responden yang memiliki tingkat pendidikan akhir rendah menamatkan sekolahnya hanya sampai SD (22,3%). Sementara mereka yang berhasil menamatkan pendidikan akhirnya di SLTP (18,1%) dan SLTA cukup berimbang (18,1%). Namun masih ada responden yang berhasil menyelesaikan pendidikan akhir di tingkat akademi dan universitas baik di desa maupun di kota. Persentase responden tidak sekolah di desa hampir dua kali lebih besar (65,6%) daripada di kota (34,4%). Demikian pula tingkat pendidikan tinggi yaitu SLTP dan SLTA di kota dua kali lebih besar dari-pada di desa. Tabel 1. Karakteristik sosio-demografi |Variabel |Wilayah: | Kota: | Surabaya | Semarang | Yogyakarta | Total | Desa: | Wonogiri | Gunung Kidul | Magetan | Total | |Jumlah |% | | |218 |162 |71 |451 | | |150 |140 |71 |361 | | |26,8 | |20,0 | |8,7 | |55,5 | | |18,5 | |17,2 | |8,7 | |44,5 | | |

|Jenis Kelamin: | Laki-laki | Perempuan |Kelompok Umur: | 55 - 59 tahun | 60 65 tahun | 71 75 tahun | 76 80 tahun | 81 85 tahun |

| |295

|36,3 | |63,7 | | |

|517 | |287 |331 |49 |18 |10

|35,3 | |40,8 || 66 70 tahun |6,0 | |2,2 | |1,2 | | |117 |14,4 |

MeanStandar Deviasi |62,4+5,93| |55 |84 | |481 |157 |143 |181 |331 |147 |147 |20 |17 | | |171 | |21,1 | | | | | | |

| Minimum | Maximum |Pendidikan akhir: |Rendah: | Tidak sekolah | Tidak tamat SD | Tamat SD |Tinggi: | Tamat SLTP | Tamat SLTA | Tamat Akademi/D3 | Tamat PT

|59,2 | |19,3 | |17,6 | |22,3 | |40,8 | |18,1 | |18,1 | |2,5 |

|2,1 | | |

|Status pekerjaan usia 25 |tahun: |Tidak bekerja |

|Bekerja: | Pegawai | Petani/nelayan |Niaga |Buruh |Jasa

| |199

| |24,5 | |20,1 |

|164 |136 |112 |30

|16,7 | |13,8 | |3,7 | | | | |39,3 | | |21,7 | | |

|Status pekerjaan usia 55 |tahun: |Tidak bekerja |Bekerja: | Petani/nelayan | Niaga | Buruh | Pegawai | Jasa | |

|319 | |176 |152 |46 |97 |22

|18,7 | | 5,7 | |11,9 | |2,7 |

Mayoritas responden bekerja sebagai pegawai saat usia 25 tahun (24,1%) dan tidak bekerja ketika berusia 55 tahun (39,3%). Pengelompokan jenis pekerjaan niaga dalam penelitian ini adalah berdagang baik di pasar atau di warung dalam rumah, dan sebagai pedagang keliling. Sementara jenis pegawai yang dimaksud adalah PNS dan pegawai swasta. Aktivitas Fisik dan Pengeluaran Energi Usia 25 dan 55 Tahun Tabel 2 menyajikan rata-rata pengeluaran energi berda-sarkan 3 jenis kegiatan yang dilakukan (olahraga, waktu luang, dan fisik harian) ketika responden berusia 25 dan 55 tahun. Rata-rata energi yang dikeluarkan untuk melakukan kegiatan fisik saat usia 55 tahun menurun sekitar 146,6 kkal dibandingkan usia 25 tahun, tetapi jumlah

pengeluaran energi maksimum untuk melaksanakan ke-giatan fisik harian adalah sama pada kedua periode usia tersebut. Pengeluaran energi untuk kegiatan olahraga usia 25 ta-hun rata-rata sebesar 278,7 kkal dan usia 55 tahun sebe-sar 161,1 kkal. Terjadi penurunan jumlah kalori yang dikeluarkan melalui reduksi intensitas dan frekuensi olahraga yang dilakukan saat menginjak usia 55 tahun. Jenis olahraga yang paling banyak dilakukan ketika muda adalah bersepeda, senam, bulutangkis, sepakbola, dan berjalan kaki. Sementara olahraga senam dan ber-jalan kaki banyak dilakukan setelah menginjak usia 55 tahun. Pada saat menjelang usia lanjut jenis olahraga yang banyak menggunakan tenaga dan otot beralih ke olahraga santai dan lambat (tidak banyak mengeluarkan keringat). Frekuensi olahraga tiap minggu sebagian be-sar dilakukan antara 1-2 kali pada usia 25 dan 55 tahun dengan lama/durasi antara 12 jam per minggu. Mayoritas responden mengisi waktu luang saat usia mu-da dengan kegiatan mengerjakan pekerjaan rumah tang-ga antara lain: menyapu dan mengepel lantai, mencuci dan menyetrika pakaian, memasak, dan menghadiri pe-ngajian di luar rumah. Menghabiskan waktu dengan mengasuh atau momong cucu dan menghadiri pengajian di luar rumah adalah dua jenis kegiatan yang paling banyak diisi oleh responden saat usia 55 tahun. Tingkat aktivitas fisik contoh saat usia 25 dan 55 tahun disajikan pada Tabel 3. Pembagian kelompok aktivitas fisik menjadi tingkat rendah, sedang, dan tinggi berda-sarkan quartil (Q3). Sebagian besar contoh memiliki tingkat aktivitas rendah (33,5%) saat masa mudanya dan tingkat rendah dan sedang begitu memasuki usia lanjut 55 tahun.Asupan Zat Gizi Contoh Usia 25 dan 55 Tahun

Tabel 4 menyajikan rerata asupan protein, dan kalsium saat responden mencapai usia 25 dan 55 tahun. Secara umum, terjadi penurunan asupan protein, dan peningkat-an kalsium pada kedua periode usia tersebut. Jika dibandingkan dengan nilai AKG, maka rerata asup-an ketiga zat gizi yang menurun pada usia 55 tahun ma-sih di bawah 100% AKG. Rerata asupan protein (50,8 gram/hari) hampir mencapai 100% AKG pada responden laki-laki (60 gram/hari), dan telah mencapai 100% AKG pada responden perempuan (50 gram/hari).Tabel 2. Rerata dan standar deviasi (SD) pengeluaran energi berdasarkan kegiatan olahraga, waktu luang, kegiatan fisik harian, dan total ketiga kegiatan pada usia 25 dan 55 tahun. |Jenis kegiatan |Umur 25 Tahun | |Umur 25 tahun | Rendah (<1494 kkal) | Sedang (1494-2478 kkal) | Tinggi (>2474 kkal) |Total |Umur 55 tahun |Rendah (<1398 kkal) |Sedang (1398-2316 kkal) |Tinggi (>2316 kkal) |Total |Rerata |SD | | | | | | |Umur 55 Tahun |

|272 |33,5 |270 |33,3 |270 |33,3 |812 |100,0 | | | | |

|271 |33,4 |271 |33,4 |270 |33,3 |812 |100,0 | |

| |

Tabel 4. Rerata dan standar deviasi (SD) asupan protein dan kalsium harian saat usia 25 dan 55 tahun. |Zat gizi |Umur 25 tahun | | |Rerata |SD |Umur 55 tahun | |

|Usia 25 tahun|Usia 55 tahun|Usia 25 tahun|Usia 55 tahun | |625,22 |536,98 | 588,66 727,96|

|Kalsium |558,58

|582,32

|666,07

|558,22

Tabel 6.

Rerata asupan protein hewani dan protein nabati usia 25 dan 55 tahun

berdasarkan status densitas mineral tulang. |Jenis protein |Hewani: |usia 25 tahun |usia 55 tahun |Nabati: |usia 25 tahun | | |Osteoporosis |Osteopenia |Normal | | | |

|15,3 4,7 |15,9 13,2 |16,0 15,6 | |12,1 2,2 |14,1 13,1 |12,6 9,1| | | |

|17,4 13,2 |17,4 12,5 |19,1 14,3 |

|usia 55 tahun |17,3 11,5 |17,7 12,5 |21,2 15,2 |Rerata asupan kalsium pada responden laki-laki dan pe-rempuan digambarkan pada Tabel 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan kalsium meningkat berda-sarkan jenis kelamin dan usia. Rerata asupan kalsium lansia laki-laki lebih besar daripada responden perempu-an pada kedua kelompok usia. Tabel 6 menyajikan rerata asupan protein nabati respon-den saat usia 25 dan 55 tahun lebih tinggi daripada mean asupan protein hewani pada periode usia yang sa-ma dalam tiga kelompok osteoporosis, osteopenia, dan normal. Rerata asupan protein hewani tertinggi usia 25 tahun dimiliki oleh kelompok status DMT normal (16,0 gram) dan usia 55 tahun pada kelompok osteopenia (14,1 gram). Mean asupan protein nabati tertinggi di usia 25 dan 55 tahun pada kelompok status DMT nor-mal (19,1 gram dan 21,2 gram). Penurunan rerata asup-an protein hewani dan nabati terjadi bila dibandingkan antara usia 25 dan 55 tahun pada hampir semua kelom-pok, kecuali status tulang normal dan osteopenia. Faktor-faktor Risiko Osteoporosis

Tabel 7 menampilkan distribusi frekuensi (persentase) status DMT dengan faktor-faktor risiko osteoporosis ya-itu wilayah; jenis kelamin; usia; pendidikan; tingkat aktivitas fisik, dan tingkat beban pekerjaan harian. Sta-tus DMT dibagi menjadi 3 kelompok yaitu: osteoporo-sis (skor DMT <-2,5 SD), osteopenia (skor T antara -1 sampai dengan -2,5 SD), dan normal (skor T >=-2,5 SD). Proporsi osteoporosis lebih rendah pada kelompok lan-sia dini (usia 55-65 tahun) daripada lansia lanjut (usia 65-85 tahun). Peningkatan usia memiliki hubungan de-ngan kejadian osteoporosis. Terdapat hubungan antara osteoporosis dengan peningkatan usia. Proporsi pende-rita osteoporosis di desa sedikit lebih rendah (30,5%) daripada di kota (34,8%). Terdapat perbedaan jumlah osteoporosis berdasarkan wilayah tinggal desa dan kota. Proporsi osteoporosis lansia perempuan adalah dua kali lebih besar daripada laki-laki. Laki-laki lebih banyak yang mengalami osteopenia daripada perempuan. Demi-kian pula status DMT normal lebih banyak dimiliki oleh laki-laki. Ada perbedaan kejadian osteoporosis berda-sarkan jenis kelamin. Status sosio-ekonomi merupakan salah satu faktor risiko osteoporosis. Variabel ini diwakili oleh tingkat pendi-dikan akhir dan status bekerja usia 25 dan 55 tahun. Per-sentase osteoporosis pada responden berpendidikan rendah lebih besar dibandingkan berpendidikan tinggi. Pa-da usia 25 tahun, proporsi osteoporosis kelompok be-kerja formal lebih rendah dibandingkan dengan kelom-pok bekerja informal, tetapi proporsi status kepadatan tulang normal sedikit lebih banyak ditemukan pada ke-lompok pekerja informal daripada pekerja formal. Terdapat perbedaan signifikan proporsi osteoporosis berda-sarkan status pekerjaan usia 25 dan 55 tahun. Gambaran kasus osteoporosis berdasarkan tingkat akti-vitas fisik dan beban pekerjaan harian juga

disajikan pa-da Tabel 7. Proporsi osteoporosis pada responden yang memiliki tingkat aktivitas fisik dan beban pekerjaan harian tinggi saat berusia 25 dan 55 tahun cenderung sedikit lebih rendah daripada tingkat sedang dan rendah. Perbedaan yang bermakna secara statistik diperoleh pa-da perbandingan osteoporosis dengan 3 tingkat aktivitas fisik saat usia 25 tahun dan 55 tahun. Tabel 8 menyajikan distribusi frekuensi status DMT berdasarkan asupan kalsium, dan protein pada usia 25 dan 55 tahun. Secara umum tidak ada hubungan antara kejadian osteoporosis dengan asupan kedua zat gizi ter-sebut (p>0,05). Proporsi responden osteoporosis yang kurang mengonsumsi kalsium dan protein sedikit lebih tinggi ketika berusia 55 tahun daripada usia 25 tahun. Tabel 9 menampilkan rerata skor T berdasarkan jenis kelamin, kelompok tinggi badan, dan berat badan. Ter-dapat perbandingan terbalik antara skor T terhadap ting-gi badan dan berat badan. Pada lansia laki-laki, semakin besar tinggi badan makin tinggi skor T-nya dan sebalik-nya pada lansia perempuan, makin rendah skor T-nya. Rerata skor T pada kelompok tinggi badan lansia laki-laki 160,1175 cm lebih rendah (-1,59) daripada kelom-pok tinggi badan <150 cm (-1,36). Rerata skor T pada tinggi badan lansia laki-laki lebih tinggi dibandingkan lansia perempuan.Tabel 7. Distribusi frekuensi status DMT berdasarkan wilayah, jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, dan tingkat aktivitas fisik usia 25 dan 55 tahun. |Variabel | | | Ringan |Status DMT |Osteoporosis |Osteopenia |Normal | | | |Total | | |

|Ringan |Rendah |Rendah | | |Kurang |Kurang |Kurang |Kurang | |114 |Perempuan | |- 2.07 1,07 |- 2,02 0,95 |- 1,93 0,82 | |- 2,49 0,83 |- 2,28 0,98 |- 1,97 1,08 | |Laki-Laki | |- 1,36 1,37 |- 1,56 1,14 |- 1,59 1,07 | | | | | | | | |101 |Osteoporosis |Osteopenia |Normal |

| | |37,3 | |Total | |

| | |

| Tinggi badan (cm) |< 150 |150,1 160 |160,1 175 |Berat badan (kg) |30 40 |40,1 50 |50,1 60

| |

|- 1,77 1,42 |- 1,64 1,29 |- 1,78 0,99

|> 60 |- 1,75 0,95 |- 1,24 1,05 |Semakin tinggi berat badan lansia, maka makin tinggi skor T-nya. Rerata skor T makin tinggi jika berat badan bertambah. Berat badan lansia perempuan di atas 60 kg memiliki mean skor T -1,75 lebih besar daripada 30-40 kg yaitu -2,49. Berat badan lansia laki-laki antara 30-40 kg mempunyai mean skor T lebih rendah yaitu -1,77 dibandingkan >60 kg yakni -1,24. PEMBAHASAN

Proporsi lansia osteoporosis di desa sedikit lebih rendah (30,5%) daripada di kota (34,8%). Terdapat perbedaan jumlah osteoporosis berdasarkan wilayah di desa dan kota. Hasil penelitian ini sejalan dengan studi yang dila-kukan terhadap lansia di Australia. 2 Studi kedua menya-takan bahwa osteoporosis pada lansia desa memiliki persentase 15% lebih rendah daripada lansia kota. Di Asia, peningkatan insidens patah tulang terutama terjadi di wilayah urban. 3 Studi terhadap lansia wanita Vietnam menemukan prevalensi osteoporosis wanita pre-meno-pause di desa lebih rendah daripada kota. 4 Tingginya kasus osteoporosis di kota dibandingkan desa karena tingkat aktivitas fisik sebagian besar penduduk desa adalah bertani dan kegiatan fisik berat lainnya an-tara lain mencari kayu bakar di hutan/ladang, dan men-cari pakan ternak. Bertani merupakan bentuk kegiatan fisik yang banyak menggunakan tenaga dan otot sehing-ga berperan pada pembentukan dan pemeliharaan tulang yang sehat, memperbaiki kekuatan otot, dan mengurangi risiko jatuh dan patah tulang. Sebagian besar responden petani pada penelitian ini melakukan pekerjaan tambah-an selain bertani yaitu mencari kayu bakar untuk kebu-tuhan sendiri dan mencari rumput untuk hewan ternak mereka. Beban kerja menanam padi memiliki skor sebesar 5,0; memacul/mencangkul 5,8, mencari kayu bakar sambil berjalan sebesar 1,5; dan mencari rumput sebesar 4,3.

5 Total skor yang dibutuhkan untuk pekerjaan bertani se-besar 16,6. Beban kerja seperti ini terlihat bahwa bertani meningkatkan kekuatan tulang melalui pembentukan tulang baru dan remodelling tulang agar lebih kuat terutama di bagian kaki, tulang belakang, dan panggul. Akibatnya densitas tulang makin padat dan terhindar da-ri risiko jatuh yang mengarah pada osteoporosis. Persentase perempuan osteoporosis dua kali lebih ba-nyak dibandingkan dengan laki-laki. 6 Perbedaan nyata ditemukan pada lansia osteoporosis berdasarkan jenis kelamin. Wanita berisiko 4 kali lebih besar daripada pria untuk terkena osteoporosis. Temuan studi ini se-jalan dengan hasil analisis data Densitas Mineral Tulang (DMT) oleh Puslitbang Gizi dan PT. Fonterra Brands Indonesia Tahun 2005. 7 Prevalensi osteoporosis lansia perempuan 55-59 tahun sedikit lebih besar (22,2%) dari-pada laki-laki (21%), dan usia di atas 70 tahun sebesar 43,6% pada lansia lakilaki dan 58,9% pada lansia pe-rempuan. Studi Framingham Osteoporosis menunjukkan bahwa rata-rata densitas mineral tulang proksimal paha kanan lansia laki-laki lebih tinggi dibandingkan lansia perempuan (0,878 dan 0,720). 8 Pada studi tentang hu-bungan antara komposisi tubuh terhadap DMT lansia Cina pria dan wanita menemukan rerata DMT seluruh tubuh (1,13) dan panggul lansia pria (0,98) sedikit lebih tinggi dibandingkan wanita (1,11 dan 0,97).

9 Dua puluh lima persen lansia wanita dan 11% pria mengalami os-teoporosis dalam studi efek obesitas terhadap osteoporo-sis. 10 Risiko lansia wanita lebih tinggi mengalami osteoporo-sis daripada pria karena wanita mengalami menopause. Menurunnya hormon estrogen saat menopause berkon-tribusi pada peningkatan absorpsi kalsium dan metabo-lisme tulang dan berperan dalam percepatan hilangnya otot-otot tulang rangka wanita menopause. Osteoporosis jarang terjadi pada laki-laki daripada perempuan karena sejumlah alasan. Laki-laki memiliki puncak massa tu-lang (peak bone mass) lebih besar dan tidak mengalami percepatan hilangnya tulang pada wanita saat menopause. Umumnya lansia laki-laki kurang berisiko meng-alami jatuh dibandingkan perempuan. Wanita juga me-miliki massa otot lebih rendah daripada pria. 11 Semakin tinggi usia lansia, proporsi osteoporosis juga semakin besar. Proporsi osteoporosis pada usia lebih tua berbeda makna dibandingkan dengan usia lebih muda (p =0,001). Insidens fraktur memberikan indikasi tingkat keparahan osteoporosis pada beberapa area tertentu.12 Di AS, 25% lansia wanita usia di atas 70 tahun dan 50% usia setelah 80 tahun menderita faktur tulang. Sementa-ra 50% lansia wanita di atas 80 tahun mengalami fraktur vertebral, dan lebih dari 90% fraktur panggul terjadi pa-da usia di atas 70 tahun. Semakin lanjut usia risiko os-teoporosis makin tinggi. Peningkatan prevalensi osteoporosis pada lansia wanita di Vietnam berdasarkan ke-lompok usia 50-59 tahun (8,4%), 60-69 tahun (30,5%), 70-79 tahun (56,2%), dan (80 tahun (79,2%).4

Wanita pada periode pasca menopause cenderung memiliki fraktur tangan danvertebral, sementara lansia wanita memiliki fraktur vertebral dan panggul. Terdapat hu-bungan antara perbedaan metabolisme kalsium dengan peningkatan usia. Berkurangnya asupan kalsium saat usia lanjut berdampak pada rendahnya asupan kalsium bagi tubuh. Lansia mungkin mengalami penurunan pe-maparan sinar matahari dan atau kerusakan fungsi gin-jal. Kedua faktor terakhir ini dapat meningkatkan hor-mon paratiroid (PTH) dan resorpsi tulang. Level tinggi PTH berhubungan dengan rendahnya densitas massa tu-lang vertebral, meningkatnya kecepatan pemecahan tu-lang, dan risiko fraktur panggul. Kejadian osteoporosis berhubungan dengan tingkat pen-didikan akhir. Hal ini terlihat dari lebih tingginya pro-porsi osteoporosis pada responden dengan tingkat pen-didikan akhir rendah (39,3%) dibandingkan berpendi-dikan tinggi (23,6%). Gambaran yang berbeda ditam-pilkan pada status osteopenia dan normal. Persentase status DMT normal tidak jauh berbeda pada kedua ke-lompok tingkat pendidikan akhir, tetapi persentase sta-tus DMT osteopenia lebih tinggi pada kelompok pendi-dikan tinggi daripada pendidikan rendah. Hasil pene-litian konsisten dengan studi tentang hubungan antara tingkat pendidikan dengan risiko osteoporosis pada wa-nita post-menopause di Cina. 13 Studi membuktikan bah-wa wanita dari tingkat pendidikan IV lebih tinggi 4,2-11,9% daripada tingkat I. Wanita dari tingkat pendidik-an I berisiko 3,5-8,6 kali menderita osteoporosis daripa-da tingkat pendidikan IV. Tingkat pendidikan lebih ting-gi berhubungan dengan DMT lebih baik dan rendahnya prevalensi osteoporosis pada wanita Cina pasca-menopause. Individu dengan tingkat pendidikan tinggi cende-rung mempunyai pengetahuan dan perilaku/gaya hidup

kesehatan lebih baik antara lain banyak beraktivitas fi-sik, kurangi merokok, memelihara keseimbangan berat badan tubuh, dan konsumsi makanan sumber kalsium (susu, sayuran, kedelai, dan buah). Beban kerja fisik harian pada usia muda dan tua juga menjadi faktor risiko osteoporosis. Secara umum hasil studi menggambarkan rata-rata kepadatan tulang kelom-pok beban kerja berat sedikit lebih tinggi daripada be-ban kerja ringan pada periode usia yang berbeda (usia 25 dan 55 tahun). Terdapat perbedaan rata-rata densitas mineral tulang pada kelompok lansia dengan beban kerja fisik ringan dan berat pada kedua periode usia. Gambaran yang sama ditemukan pada proporsi status densitas mineral tulang (DMT) pada kelompok beban kerja fisik usia 25 tahun yaitu ada perbedaan bermakna status DMT pada kedua tingkat beban ringan dan berat. Persentase osteoporosis pada kelompok beban kerja ringan usia 25 tahun lebih tinggi daripada beban kerja berat. Demikian pula proporsi status DMT normal lebih banyak dijumpai pada kelompok beban kerja berat. Namun tidak demikian dengan beban kerja fisik di usia 55 tahun. Tidak ada perbedaan bermakna status DMT pada kedua kelompok beban kerja, tetapi persentase os-teoporosis pada kelompok beban kerja ringan mencapai 2 kali lebih besar dibandingkan kelompok beban kerja berat. Tidak adanya perbedaan signifikan pada kedua kelompok itu saat berusia 55 tahun mungkin disebabkan lansia tidak banyak menggunakan otot dan tenaga untuk bekerja karena bertambahnya usia dan menurunnya ke-mampuan fisik. Kondisi ini seharusnya menurunkan ke-padatan tulang, tetapi kelompok ini memiliki pendapat-an yang tetap untuk membeli susu dan mengkonsumsi makanan bergizi sumber kalsium sehingga dapat

mem-pertahankan kenormalan status DMT-nya. Status kepadatan tulang pada masa tua dapat mencer-minkan tingkat aktivitas fisik yang dimiliki saat usia 25 dan 55 tahun. Terdapat perbedaan bermakna kejadian osteoporosis berdasarkan tingkat aktivitas fisik usia 25 dan 55 tahun. Persentase osteoporosis terlihat lebih be-sar pada responden dengan tingkat aktivitas rendah daripada sedang dan tinggi pada usia 25 tahun (berturut-turut adalah 38,6%; 31,1%; dan 28,9%). Sebaliknya per-sentase terbesar status tulang normal terdapat pada ting-kat aktivitas tinggi (23%) dibandingkan dengan sedang dan rendah (17,4% dan 14,7%). Pola serupa dijumpai pada saat usia 55 tahun yaitu proporsi osteoporosis ter-tinggi terdapat pada tingkat aktivitas rendah (37,3%) daripada sedang dan tinggi (33,2% dan 28,1%). Tingkat aktivitas tinggi memiliki persentase status tulang normal terbesar di antara sedang dan rendah (berturut-turut ada-lah 23,7%; 19,2%; dan 12,2%). Hasil studi sejalan dengan studi efek asupan kalsium dan tingkat aktivitas fisik terhadap massa tulang wanita post-menopause London. 14 Wanita dengan asupan tinggi kalsium dan aktivitas fisik yang tinggi mempunyai DMT tertinggi. Tingkat aktivitas fisik berhubungan po-sitif dengan DMT, tetapi studi ini berlawanan dengan hasil studi tentang efek aktivitas fisik dengan densitas tulang pada wanita pre-menopause oleh Mazess dan Barden. 15 Kegiatan harian tidak memiliki dampak/efek pada DMT dan gabungan/interaksi antara asupan kalsium

dan kegiatan harian tidak berdampak pula pada DMT. Perbedaan hasil kedua studi pertama dengan studi terakhir mungkin disebabkan oleh perbedaan disain stu-di, usia, dan batasan tingkat aktivitas fisik. Persentase osteoporosis pada kelompok asupan cukup dan kurang kalsium saat usia 25 tahun adalah hampir sa-ma (33,9% dan 32,6%). Perbedaan status tulang normal pada kedua kelompok asupan kalsiumtidak jauh berbe-da (16,9% dan 18,7%). Kesamaan ini juga tergambar ketika responden menginjak usia 55 tahun yang cukup dan kurang mengkonsumsi kalsium terhadap kejadian osteoporosis dan tulang normal. Tidak adanya hubungan antara asupan kalsium di usia muda dan tua terhadap kejadian osteoporosis sejalan dengan hasil studi pada lansia Yunani tentang pengaruh IMT, asupan kalsium terhadap DMT. 17 Studi ini tidak menemukan hubungan antara konsumsi kalsium dengan DMT lansia. Hal itu disebabkan oleh perbedaan variabilitas asupan kalsium antar individu yang tinggi, tetapi temuan kedua studi pertama berlawanan dengan studi tentang efek asupan kalsium pada densitas tulang wanita post-menopause di London yang menyatakan asupan kalsium dan kegiatan fisik berkorelasi positif dengan DMT. 14 Interaksi aktivi-tas fisik dan asupan kalsium mungkin berdampak pro-tektif pada kesehatan tulang khususnya massa tulang puncak wanita 5-12 tahun menjelang menopause. Asup-an kalsium yang tinggi berhubungan dengan massa tu-lang lebih tinggi pada kelompok anak-anak, dewasa muda, dan wanita postmenopause. Hasil studi tidak menemukan adanya hubungan antara asupan tinggi protein dengan osteoporosis. Studi ini konsisten dengan studi pada wanita post-menopause untuk mengontrol pengaruh diet

tinggi protein terhadap retensi kalsium dan status DMT. 17 Hal itu mungkin disebabkan oleh disain studi cross sectional yang meng-amati variabel bebas dan terikat hanya suatu waktu. Studi lain yang menggunakan pendekatan observasi 4 hari menemukan tingginya pengeluaran kalsium melalui urin/hiperkalsiuria. 18 Beberapa studi menunjukkan bah-wa asupan protein hewani yang berlebihan mungkin memicu hilangnya tulang. Protein hewani terutama me-ningkatkan ekskresi kalsium melalui urin. Peningkatan asupan protein harian dari 47-142 gram meningkatkan dua kali lipat pengeluaran kalsium di urin. Kalsium di-mobilisasi dari tulang untuk menetralkan suasana asam hasil pemecahan produk-produk protein. Selain itu, asam amino metionin yang paling banyak ditemukan dalam daging sapi, produk-produk susu, dan telur di-ubah menjadi homosistein juga menyebabkan hilangnya tulang. 19 Beberapa faktor risiko terhadap osteoporosis adalah bentuk tubuh yang kurus, kecil/pendek, serta tubuh yang gemuk. Meningkatnya risiko fraktur dikaitkan dengan bentuk tubuh yang kurus. Wanita bertubuh kurus (IMT <18,5 kg/m2 ) menghasilkan sedikit hormon estrogen da-ri androgen (diubah di jaringan lemak) khususnya sete-lah menopause. Pada wanita obes yang telah memasuki masa menopause akan mengalami sedikit kehilangan massa tulang. Berat badan rendah dikaitkan dengan pe-ningkatan risiko fraktur

vertebral. Obesitas berhubungan dengan peningkatan massa otot, dampak berat tulang yang lebih besar, dan perlindungan skeleton lebih besar khususnya panggul oleh lemak sub-kutan. Massa lemak yang tinggi merupakan salah satu prediktor massa tulang karena meningkatkan tekanan mekanis melalui otot seperti stimulasi kegiatan osteoblast atau aksi gra-vitasi massa pada skeleton sehingga meningkatkan rang-sangan osteogenesis. Inilah alasan yang mendasari me-ngapa wanita obes berisiko lebih rendah mengalami os-teoporosis dibandingkan wanita dengan berat badan mendekati ideal. Hasil studi ini sejalan dengan studi terhadap wanita post-menopause dan lansia laki-laki di Cina. 9 Massa le-mak memiliki hubungan signifikan terbalik dengan DMT seluruh tubuh dan panggul. Studi EVOS (The European Vertebral Osteoporosis Study) pada lansia 50-79 tahun menemukan bahwa peningkatan berat badan pada laki-laki dan perempuan secara statistik mereduksi prevalensi kelainan vertebral. 20 Berat badan yang rendah dihubungkan dengan kelainan vertebral berdasarkan je-nis kelamin. Beberapa studi lain menggambarkan hal sama dengan studi ini, salah satunya adalah studi efek asupan diet terhadap densitas tulang pada wanita premenopause oleh Mazess dan Barden. 15 Berat badan me-rupakan prediktor DMT yang lebih baik dari faktor-fak-tor lain seperti usia,

asupan kalsium, kegiatan fisik, me-rokok, dan pil KB. Makin besar tinggi badan lansia pe-rempuan makin besar densitas massa tulangnya artinya lebih kecil risiko terhadap osteoporosis. Temuan ini se-jalan dengan studi pada wanita post-menopause pende-rita rheumatoid arthritis usia 56-70 tahun yaitu hilang-nya TB antara 4 cm atau lebih selama 10 tahun dikait-kan dengan berkurangnya DMT. 21 Rendahnya tinggi ba-dan masa kanak-kanak turut berperan dalam kejadian osteoporosis. Studi tentang pengaruh antropometri ter-hadap DMT pada lansia yang sehat selama 1 tahun juga dilakukan untuk membuktikan pengaruh penurunan tinggi badan dengan massa tulang pada lansia laki-laki dan perempuan. 22 Peningkatan skor T pada laki-laki ber-hubungan dengan massa otot yang lebih tinggi. Besar-nya massa otot mungkin mencerminkan gaya hidup yang lebih aktif dan meningkatkan kekuatan biomekanik pada tulang rangka tubuh. 23 Perbedaan kenaikan tinggi badan dengan skor T antara laki-laki dan perem-puan mungkin disebabkan disain studi ini adalah cross sectional sehingga tidak berhasil membuktikan hubung-an sebab akibat antara peningkatan tinggi badan dengan skor T pada laki-laki. SIMPULAN DAN SARANSimpulan Disimpulkan bahwa proporsi osteoporosis lansia etnis Jawa sebesar 32,9% yang lebih didominasi oleh kelom-pok

perempuan daripada laki-laki. Lansia yang menetap di desa lebih rendah beresiko terhadap osteoporosis dibandingkan lansia di kota. Variabel sosio-ekonomi yang diwakili oleh pendidikan akhir berhubungan dengan osteoporosis. Proporsi lansia dengan tingkat pendidikan akhir rendah lebih tinggi terkena osteoporosis daripada pendidikan tinggi. Lansia dengan beban pekerjaan harian tinggi memiliki persentase osteoporosis lebih besar daripada tingkat rendah. Kejadian osteoporosis berbeda makna pada responden yang memiliki tingkat aktivitas fisik tinggi, sedang, dan rendah. Osteoporosis tidak berhubungan dengan asupan kalsium dan protein. Persentase lansia yang cukup dan kurang mengkonsum-si kalsium dan protein adalah hampir sama. Saran Disarankan agar data prevalensi osteoporosis lansia Et-nis Jawa dapat digunakan oleh pihak pemerintah dan swasta untuk merancang strategi dan intervensi penang-gulangan osteoporosis. Penyuluhan tentang diet makan-an sumber kalsium dan aktivitas fisik yang meningkat-kan densitas tulang sejak usia remaja perlu dilakukan guna menciptakan penuaan yang sehat (healthy aging). DAFTAR PUSTAKA 1. Ananta Aris, Evi N, Arifin. Report on ageing at provinces and districts in Indonesia. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies Singapore; 2005. 2. Sanders KM, Nicholson GC, Ugoni AM, Seeman E, Pasco JA, Kotowicz MA. Fracture rates lower in rural than urban communities: the Geelong Osteoporosis Study. Journal of Epidemiology and Community Health. 2006;56: 466-470. 3. Suzuki Takao. Risk factors for osteoporosis in Asia. Journal of Bone and Mineral Metabolism. 2001; 19: 133-141.

4. Thu Vu Thi, Nguyen Cong Khan, Nguyen Thi Lam, Le Bach Mai, DucSon NguyenTrung Le, Bui Thi Nhung, et al. Determining the prevalence of osteoporosis and related factors using quantitative ultrasound in Vietnamese adult women. American Journal of Epidemiology. 2005; 161 (9), 824-830. 5. Passmore R, Durnin JVGA. Human energy expenditure. Scotland: Department of Physiology, University of Edinburgh and the Institute of Physiology, University of Glasgow; 1955. 6. Miller GD, Jarvis JK, McBean LD. Handbook of dairy foods and nutrition. 2nd

ed. Washington DC: National Dairy Council; 2000. 7. Jahari Abas Basuni, Sri Prihatini. Risiko osteoporosis di Indonesia laporan penelitian. Bogor: Puslitbang Gizi Bogor; 2005. 8. Tucker LK, Honglei Chen, Hannan MT, Cupples LA, Wilson PWF, Felson D, et al. Bone mineral density and dietary patterns in older adults: the Framingham Osteoporosis Study. American Journal Clinical Nutrition. 2003;76: p.245-252. 9. Hsu Yi-Hsiang, Venners SA, Terwedow HA, Yan Feng, Tianhua Niu, Zhiping Li, et al. Relation of body composition, fat mass, and serum lipids to osteoporotic fractures and bone mineral density in Chinese men and women. American Journal Clinical Nutrition. 2006; 83: 146-154. 10. Barrera G, Bunout D, Gatts V, de la Maza M, Leiva L, Hirsch S. A high body mass index protects against femoral neck osteoporosis in healthy elderly subjects. Nutrition Journal. 2003; 20 (9), 769-771. 11. Eleanor S, et al. Nutrition in aging. Washington DC: National Academy Press; 2000. 12. Woo J. Osteoporosis in the elderly data in Hong Kong Chinese and a review of the literature. Journal Hongkong Medical Association. 1991;43 (4), 189-192.

13. Hoo CS, et al. Educational level and osteoporosis risk in postmenopausal Chinese women. American Journal of Epidemiology. 2005;161(7): 680-690. 14. Suleiman S, et al. Lifetime calcium intake and physical activity level on bone mass and turnover in healthy, white, postmenopausal women. American Journal Clinical Nutrition. 1997; 66: 937-943. 15. Richard MB, Barden HS. Bone density in pre-menopausal women: effects of age, dietary intake, physical activity, smoking, and birth-control pills. American Journal Clinical Nutrition. 1991; 53, 132-142. 16. Babaroutsi Eirini, Magkos Faidon, Manios Yannis, Sidossis Labros S. Quantitative ultrasound calcaneus measurements: normative data for the Greek population. Osteoporosis International. 2005; 16 (3): 280-288. 17. Zamzam K, (Fariba) Roughead, Lu Ann K Johnson, Lykken GI, Hunt JR. Controlled high meat diets do not affect calcium retention or indices of bone status in healthy postmenopausal women. The Journal of Nutrition. 2003;133:1020-1026. 18. Kerstetter, OBrien K, Insogna KL. Dietary protein and intestinal calcium absorption. The American Journal of Clinical Nutrition. 2003;73 (5): 990-991. . 19. Hudson Tori. Osteoporosis: strategies for prevention and management; 2006.20. Johnell O, ONeill T, Felsenberg D, Kanis J, Cooper C, Silman AJ. Anthropometric measurements and vertebral deformities. American Journal of Epidemiology. 1997;146(4): 287-293. 21. Sanila M, Kotaniemi A, Vikari J, Isomaki H. Height loss rate as a marker of osteoporosis in postmenopausal women with rheumatoid arthritis. Journal of Clinical Rheumatology. 1994;13. 22. Taggart H, Craig D, McCoy K. Healthy elderly individuals do not in-evitable lose bone density and weight as they age. Archives of Gerontology and Geriatrics. 39: 283290.

1. 23. Kirchengast, Peterson B, Hauser G, et al. Body composition characteristics are associated with the bone density of the proximal femur end in middle and old-aged women and men. Maturitas. 2001;39: 133-145. * Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Depok 16424 -----------------------------------Artikel Asli M

DarkCureZ Vian's (MakaLah Selama Perkuliahan):p


Rabu, 19 Januari 2011

Makalah osteoporosis
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Osteoporosis dapat dijumpai tersebar di seluruh dunia dan sampai saat ini masih merupakan masalah dalam kesehatan masyarakat terutama di negara berkembang. Di Amerika Serikat osteoporosis menyerang 20-25 juta penduduk, 1 diantara 2-3 wanita post-menopause dan lebih dari 50% penduduk di atas umur 75-80 tahun. Sekitar 80% persen penderita penyakit osteoporosis adalah wanita, termasuk wanita muda yang mengalami penghentian siklus menstruasi (amenorrhea). Hilangnya hormon estrogen setelah menopause meningkatkan risiko terkena osteoporosis.

Penyakit osteoporosis lebih banyak menyerang wanita, pria tetap memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis. Sama seperti pada wanita, penyakit osteoporosis pada pria juga dipengaruhi estrogen. Bedanya, laki-laki tidak mengalami menopause, sehingga osteoporosis datang lebih lambat. Jumlah usia lanjut di Indonesia diperkirakan akan naik 414 persen dalam kurun waktu 1990-2025, sedangkan perempuan menopause yang tahun 2000 diperhitungkan 15,5 juta akan naik menjadi 24 juta pada tahun 2015. Beberapa fakta seputar penyakit osteoporosis yang dapat meningkatkan kesadaran akan ancaman osteoporosis berdasar Studi di Indonesia: Prevalensi osteoporosis untuk umur kurang dari 70 tahun untuk wanita sebanyak 18-36%, sedangkan pria 20-27%, untuk umur di atas 70 tahun untuk wanita 53,6%, pria 38%. Lebih dari 50% keretakan osteoporosis pinggang di seluruh dunia kemungkinan terjadi di Asia pada 2050. (Yayasan Osteoporosis Internasional) Mereka yang terserang rata-rata berusia di atas 50 tahun. (Yayasan Osteoporosis Internasional) Satu dari tiga perempuan dan satu dari lima pria di Indonesia terserang osteoporosis atau keretakan tulang. (Yayasan Osteoporosis Internasional) Dua dari lima orang Indonesia memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis. (depkes, 2006). Berdasar data Depkes, jumlah penderita osteoporosis di Indonesia jauh lebih besar dan merupakan Negara dengan penderita osteoporosis terbesar ke 2 setelah Negara Cina. Peran perawat adalah memberikan pengetahuan mengenai osteoporosis, program pencegahan, pengobatan, cara mengurangi nyei dan mencegah terjadinya faktur. 1.2 Tujuan 1.2.1Tujuan Umum : Mahasiswa dapat melakukan asuhan keperawatan klien dengan Osteoporosis. 1.2.2 Tujuan Khusus : 1. Mampu melakukan pengkajian secara menyeluruh pada klien dengan osteoporosis. 2. Mampu melakukan masalah keperawatan yang muncul pada klien dengan osteoporosis. 3. 4. 5. 6. Mampu membuat rencana tindakan keperawatan klien dengan osteoporosis. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan osteoporosis. Mampu melakukan evaluasi atas tindakan yang telah di lakukan Mampu mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat antara teori dan kasus.

7. Mampu mengidentifikasi faktor pendukung,penghambat,serta dapat mencari solusi.

8.

Mampu mengdokumentasikan asuhan keperawatan klien dengan osteoporosis.

BAB II KONSEP DASAR

2.1 Konsep Dasar Osteoporosis 2.1.1 Pengertian Osteoporosis Osteoporosis adalah kelainan dimana terjadi penurunan masa tulang total. Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resoprsi tulang lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, mengakibatkan penurunan masa tulang total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh dan mudah patah. Tulang menjadi mudah fraktur dengan stress yang tidak akan menimbulkan pada tulang normal. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur konversi vertebra torakalis dan lumbalis, fraktur daerah koulum femoris dan daerah tronkanter, dan patah tulang coles pada pergelangan tangan. fraktur kompresi ganda fertebra mengakibatkan deformitas skeletal.

Osteoporosis merupakan penyakit skeletal sistemik yang ditandai dengan massa tulang yang rendah dan kerusakan mikroarsitektur jaringan tulang, yang mengakibatkan meningkatnya fragilitas tulang sehingga tulang cenderung untuk mengalami fraktur spontan atau akibat trauma minimal. (Consensus Development Conference, 1993).

Kifosis Kolaps bertahap tulang vertebra tidak menimbulkan gejala, hanya terlihat sebagai kifosis progresif. Dengan berkembangnya kifosis terjadinya pengurangan tinggi badan. kehilangan masa tulang merupakan fonomenal universal yang berkaitan dengan usia. kalsitonin yang menghambat resorsi tulang dan merangsang pembentukan tulang mengalami penurunan. estrogen yang menghambat pemecahan tulang juga berkurang bersama pertambahan usia. Hormon paratiroid disisi lain meningkatkan bersama bertambahnya usia dan meningkatkan resorsi tulang. Kosekuensi perubahan ini kehilangan tulang net bersama berjalannya waktu.

Jenis Osteoporosis Bila disederhanakan, terdapat dua jenis osteoporosis, yaitu osteoporosis primer dan sekunder. 1. Osteoporosis primer adalah kehilangan massa tulang yang terjadi sesuai dengan proses penuaan, sedangkan osteoporisis sekunder didefinisikan sebagai kehilangan massa tulang akibat hal hal tertentu. Sampai saat ini osteoporosis primer masih menduduki tempat utama karena lebih banyak ditemukan dibanding dengan osteoporosis sekunder. Proses ketuaan pada wanita menopause dan usia lanjut merupakan contoh dari osteoporosis primer. 2. Osteoporisis sekunder mungkin berhubungan dengan kelainan patologis tertentu termasuk kelainan endokrin, epek samping obat obatan, immobilisasi, Pada osteoporosis sekunder, terjadi penurunan densitas tulang yang cukup berat untuk menimbulkan fraktur traumatik akibat faktor ekstrinsik seperti kelebihan steroid, artritis reumatoid, kelainan hati/ginjal kronis, sindrom malabsorbsi, mastositosis sistemik, hiperparatiroidisme, hipertiroidisme, varian status hipogonade, dan lain-lain. Osteoporosis akibat pemakaian steroid Harvey Cushing, lebih dari 50 tahun yang lalu telah mengamati bahwa hiperkortisolisme berhubungan erat dengan penipisan massa tulang. Sindroma Cushing relatif jarang dilaporkan. Setelah pemakaian steroid semakin meluas untuk pengobatan pelbagai kondisi penyakit, efek samping yang cukup serius semakin sering diamati. Diperkirakan, antara 30% sampai 50% pengguna steroid jangka panjang mengalami patah tulang (atraumatic fracture), misalnya di tulang belakang atau paha.

Penelitian mengenai osteoporosis akibat pemakaian steroid menghadapi kendala karena pasienpasien yang diobati tersebut mungkin mengalami gangguan sistemik yang kompleks. Misalnya, penderita artritis rheumatoid dapat mengalami penipisan tulang (bone loss) akibat penyakit tersebut atau karena pemberian steroid. Risiko osteoporosis dipengaruhi oleh dosis dan lama pengobatan steroid, namun juga terkait dengan jenis kelamin dan apakah penderita sudah menopause atau belum. Penipisan tulang akibat pemberian steroid paling cepat berlangsung pada 6 bulan pertama pengobatan, dengan rata-rata penurunan 5% pada tahun pertama, kemudian menurun menjadi 1%-2% pada tahun-tahun berikutnya. Dosis harian prednison 7,5 mg per hari atau lebih secara jelas meningkatkan pengeroposan tulang dan kemungkinan fraktur. Bahkan prednison dosis rendah (5 mg per hari) telah terbukti meningkatkan risiko fraktur vertebra. 2.1.2 Epidemologi Wanita lebih sering mengalami osteoporosis dan lebih ekstensif lebih dari pria karena masa puncak masa tulang juga lebih rendah dan efek kehilangan estrogen selama menopause. wanita afrika/amerika memiliki masa tulang lebih besar dari pada wanita kaukasia lebih tidak rentang terhadap osteoporosis. Wanita kaukasia tidak gemuk dan berkerangka kecil mempunyai resiko tinggi osteoporosis.lebih setengah dari semua wanita diatas usia 45 tahun memperlihatkan bukti pada sinar x adanya osteoporosis. Identifikasi awal wanita usia belasan dan dewasa muda yang mempunyai resiko tinggi dan pendidikan untuk meningkatkan asupan kalsium, berpartisipasi dalam latihan pembebanan berat badan teratur, dan mengubah gaya hidup misalnya mengurang penggunaan cafein,sigaret dan alcohol akan menurunkan resiko menurukan osteporsis, faraktur tulang dan kecacatan yang diakibatkan pada usia lanjut. Prevelensi osteoporosis pada wanita 75 tahun adalah 90%. Rata rata wanita usia 75 telah kehilangan 25% tulang kortikalnya dan 40% trabekularnya.dengan bertambahnya usia populasi ini isendensi fraktur 1,3jt pertahun,nyeri , dan kecacatan yang berkaitan dengan nyeri meningkat.

2.1.3 Patogenesis/Etiologi Remodeling tulang normal pada orang dewasa akan meningkatkan masa tulang sampai sekitar usia 35 tahun. genetik, nutrisi, pilihan gaya hidup dan aktifitas fisik mempengaruhi puncak masa tulang menghilangnya estrogen pada saat menopause dan pada ooforektomi mengakibatkan percepatan resorsi tulang dan berlangsung terus menerus selama bertahun tahun pascamenopouse. Pria mempunyai massa tulang yang lebih besar dan tidak mengalami perubahan hormonal mendadak. Akibatnya, insidensi osteoporosis lebih rendah pada pria. Faktor nutrisi mempengaruhi pertumbuhan osteoporosis. Vitamin D penting untuk absorpsi kalsium dan untuk mineralisasi tulang normal. Diet mengandung kalsium dan vitamin D harus mencukupi untuk mempertahankan remodeling tulang dan fungsi tubuh. Asupan kalsium

dan vitamin D yang tidak mencukupi selama bertahun-tahun mengakibatkan pengurangan massa tulang dan pertumbuhan osteoporosis. Asupan harian yang dianjurkan (RDA=Recomment daily allowence) kalsium meningkat pada adoleasens dan dewasa muda (11-24 thn) sampai 1200 mg untuk memaksimalkan puncak massa tulang. RDA untuk orang dewasa tetap 800 mg, tapi 1000-1500 mg/hari untuk wanita pascamenopouse biasanya dianjurkan, lansia menyerap kalsium diet kurang efisien dan mensekresikannya lebih cepat melalui ginjal maka wanita pascamenopouse dan lansia perlu mengkonsumsi kalsium dalam jumlah talk terbatas. Bahan katabolic endogen (diproduksi oleh tubuh) dan eksogen (dari sumber luar) dapat menyebabkan osteoporosis. Kortikosteroid berlebih, syndrome chusing, hipertiroidsme dan hiperparatiroidesme menyebabkan kehilangan tulang. Derajat osteoporosis berhubungan dengan durasi terapi kortikosteroid. Ketika terapi dihentikan atau masalah metabolisme telah diatasi, perkembangan osteoporosis akan berhenti namun restorasi kehilangan massa tulang biasanya tidak terjadi. Keadaan medis menyerta (misalnya sindrom malabsorpsi intoleransi laktosa, penyalahgunaan alcohol, gagal gnjal,gagal hepar dan gangguan endokrin) mempengaruhi pertumbuhan osteoporosis. Obat obatan misalnya isoniasit, heparin, tetrasiklin, antasida yang mengandung alumunium, kortikosteroid) mempengaruhi tubuh dan metabolism kalsium. Imobilitas menyumbang perkembangan osteoporosis. Pembentukan tulang dipercepat dengan adanya stress berat badan dan aktifitas otot. Ketika diimobilisasi dengan gips, paralisis atau inalktifitas umum, tulang akan diresorpsilebh cepat dari pmbentukannya dan terjadilah osteoporosis.

2.1.4 Patofisiologi

Hasil Interaksi kompleks yang menahun antara faktor genetik dan faktor lingkungan

Faktor usia, jenis kelamin, ras, keluarga, bentuk tubuh, dan tidak pernah melahirkan

Melemahnya daya serap sel terhadap kalsium dari darah ke tulang peningkatan pengeluaran kalsium bersama urine tidak tercapainya massa tulang yang maksimal resorpsi tulang menjadi lebih cepat

Faktor usia, jenis kelamin, ras, keluarga, bentuk tubuh, dan tidak pernah melahirkan

Penyerapan tulang lebih banyak dari pada pembentukan baru

Penurunan massa tulang total

Osteoporosis

Tulang menjadi rapuh & mudah patah

Kolaps bertahap tulang vertebra

Farktur colles

Fraktur femur

Fraktur komperesi vertbra lumbalis

Fraktur kompresi vertbra torakalis

Kifosis progresif

Gangguan fungsi ekstermitas ats dan bawah pergerakan fragmen tulang,spasme otot

Komperesi saraf pencernaan lieus paralitik

Perubahan postural

Penurunan tinggi badan

1.nyeri

2.hambatan mobilitas fisik

konstipasi

5.ganguan eliminasi alvi

Penurunan kemampuan pergerakan

3.resiko tinggi trauma

Deformitas skelet

6. gangguan citra tubuh

7. ansietas

Prubahan postural

Relaksasi otot abdominal, perut menonjol

Isufisiensi paru

Kelmahan dan perasaan mudah lelah

4. defisit perawatan diri

2.1.5 Manifestasi Klinis Osteoporosis merupakan silent disease. Penderita osteoporosis umumnya tidak mempunyai keluhan sama sekali sampai orang tersebut mengalami fraktur. Osteoporosis mengenai tulang seluruh tubuh, tetapi paling sering menimbulkan gejala pada daerah-daerah yang menyanggah berat badan atau pada daerah yang mendapat tekanan (tulang vertebra dan kolumna femoris). Korpus vertebra menunjukan adanya perubahan bentuk, pemendekan dan fraktur kompresi. Hal ini mengakibatkan berat badan pasien menurun dan terdapat lengkung vertebra abnormal(kiposis). Osteoporosis pada kolumna femoris sering merupakan predisposisi terjadinya fraktur patologik (yaitu fraktur akibat trauma ringan), yang sering terjadi pada pasien usia lanjut. Masa total tulang yang terkena mengalami penurunaan dan menunjukan penipisan korteks serta trabekula. Pada kasus ringan, diagnosis sulit ditegakkan karena adanya variasi ketebalan trabekular pada individu normal yang berbeda. Diagnosis mungkin dapat ditegakkan dengan radiologis maupun histologist jika osteoporosis dalam keadaan berat. Struktur tulang, seperti yang ditentukan secara analisis kimia dari abu tulang tidak menunjukan adanya kelainan. Pasien osteoporosis mempunyai kalsium,fosfat, dan alkali fosfatase yang normal dalam serum. Osteoporosis terjadi karena adanya interaksi yang menahun antara factor genetic dan factor lingkungan.

Factor genetic meliputi: usia jenis kelamin, ras keluarga, bentuk tubuh, tidak pernah melahirkan. Factor lingkungan meliputi: merokok, Alcohol, Kopi, Defisiensi vitamin dan gizi, Gaya hidup, Mobilitas, anoreksia nervosa dan pemakaian obat-obatan. Kedua factor diatas akan menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap kalsium dari darah ke tulang, peningkatan pengeluaran kalsium bersama urin, tidak tercapainya masa tulang yang maksimal

dengan resobsi tulang menjadi lebih cepat yang selanjutnya menimbulkan penyerapan tulang lebih banyak dari pada pembentukan tulang baru sehingga terjadi penurunan massa tulang total yang disebut osteoporosis.

2.1.6 Pemeriksaan Penunjang/Evaluasi Diagnostik 1. Radiologis Gejala radiologis yang khas adalah densitas atau masa tulang yang menurun yang dapat dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus vertebra biasanya merupakan lokasi yang paling berat. Penipisa korteks dan hilangnya trabekula transfersal merupakan kelainan yang sering ditemukan. Lemahnya korpus vertebra menyebabkan penonjolan yang menggelembung dari nukleus pulposus ke dalam ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf. 2. CT-Scan CT-Scan dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyao nilai penting dalam diagnostik dan terapi follow up. Mineral vertebra diatas 110 mg/cm3 baisanya tidak menimbulkan fraktur vetebra atau penonjolan, sedangkan mineral vertebra dibawah 65 mg/cm3 ada pada hampir semua klien yang mengalami fraktur. 3. Pemeriksaan Laboratorium 1. Kadar Ca, P, Fosfatase alkali tidak menunjukkan kelainan yang nyata.

2. Kadar HPT (pada pascamenoupouse kadar HPT meningkat) dan Ct (terapi ekstrogen merangsang pembentukkan Ct) 3. 4. Kadar 1,25-(OH)2-D3 absorbsi Ca menurun. Eksresi fosfat dan hidroksipolin terganggu sehingga meningkat kadarnya.

2.1.7 Penatalaksanaan Diet kaya kalsium dan vitamin D yang mencukupi dan seimbang sepanjang hidup, dengan pengingkatan asupan kalsium pada permulaan umur pertengahan dapat melindungi terhadap demineralisasi skeletal. Terdiri dari 3 gelas vitamin D susu skim atau susu penuh atau makanan lain yang tinggi kalsium (mis keju swis, brokoli kukus, salmon kaleng dengan tulangnya) setiap hari. Untuk meyakinkan asupan kalsium yang mencukupi perlu diresepkan preparat kalsium(kalsium karbonat) Pada menopause, terapi pergantian hormone(HRT=hormone replacemenet therapy) dengan estrogen dan progesteron dapat diresepkan untuk memperlambat kehilangan tulang dan mencegah terjadinya patah tulang yang diakibatkannya. Wanita yang telah mengalami pengangkatan ovarium atau telah menjalani menopause prematur dapat mengalami osteoporosis pada usia yang cukup

muda;penggantian hormon perlu dipikirkan pada pasien ini estrogen menurunkan resorpsi tulang tapi tidak meningkatkan massa tulang. Penggunaan hormon dalam jangka panjang masih dievaluasi. Estrogen tidak akan mengurangi kecepatan kehilangan tulang dengan pasti. Terapi estrogen sering dihubungkan dengan sedikit pengingkatan insidensi kanker payudara dan endometrial. Maka selama HRT pasien harus diperiksa payudaranya setiap bulan dan diperiksa panggulnya termasuk masukan papanicolaou dan biopsi endometrial (bila ada indikasi), sekali atau dua kali setahun. Obat-obat lain yang dapat diresepkan untuk menangani osteoporosis termasuk kalsitonin, natrium fluorida, dan natrium etidronat. Kalsitonin secara primer menekan kehilangan tulang dan diberikan secara injeksi subkutan atau intra muscular. Efek samping ( mis gangguan gastrointestinal, aliran panas, frekuensi urin) biasanya ringan dan kadang-kadang dialami. Natrium fluoride memperbaiki aktifitas osteoblastik dan pembentukan tulang ; namun,kualitas tulang yang baru masih dalam pengkajian. Natrium etidronat, yang menghalangi resorpsi tulang osteoklastik, sedang dalam penelitian untuk efisiensi penggunaannya sebagai terapi osteoporosis.

2.1.8 Komplikasi Osteoporosis mengakibatkan tulang secara progresif menjadi panas, rapuh dan mudah patah. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur. Bisa terjadi fraktur kompresi vertebra torakalis dan lumbalis, fraktur daerah kolum femoris dan daerah trokhanter, dan fraktur colles pada pergelangan tangan

2.2 ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOPOROSIS 9. PENGKAJIAN

Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu dalam menentukan status kesehatan dan pola pertahanan penderita, mengidentifikasikan, kekuatan dan kebutuhan penderita yang dapat diperoleh melalui anamnese, pemeriksaan fisik dan riwayat psikososial. a) Anamnese 1) Identitas 1. Identitas klien

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor register, diagnosa medik, alamat, semua data mengenai identitaas klien tersebut untuk menentukan tindakan selanjutnya. 2. Identitas penanggung jawab Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk memudahkan dan jadi penanggung jawab klien selama perawatan, data yang terkumpul meliputi nama, umur, pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.

2) Riwayat Kesehatan Riwayat Kesehatan. Dalam pengkajian riwayat kesehatan, perawat perlu mengidentifikasi adanya: a. Rasa nyeri atau sakit tulang punggung (bagian bawah), leher,dan pinggang b. c. Berat badan menurun Biasanya diatas 45 tahun

d. Jenis kelamin sering pada wanita e. Pola latihan dan aktivitas

3) Pola aktivitas sehari-hari Pola aktivitas dan latihan biasanya berhubungan dengan olahraga, pengisian waktu luang dan rekreasi, berpakaian, makan, mandi, dan toilet. Olahraga dapat membentuk pribadi yang baik dan individu akan merasa lebih baik. Selain itu, olahraga dapat mempertahankan tonus otot dan gerakan sendi. Lansia memerlukan aktifitas yang adekuat untuk mempertahankan fungsi tubuh. Aktifitas tubuh memerlukan interaksi yang kompleks antara saraf dan muskuloskeletal. Beberapa perubahan yang terjadi sehubungan dengan menurunnya gerak persendian adalah agility ( kemampuan gerak cepat dan lancar ) menurun, dan stamina menurun.

4) Aspek Penunjang a. Radiologi Gejala radiologi yang khas adalah densitas atau massa tulang yang menurun yang dapat dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus vertebra biasanya merupakan lokasi yang paling berat. Penipisan korteks dan hilangnya trabekula transversal merupakan kelainan yang sering ditemukan.

Lemahnya korpus vertebrae menyebabkan penonjolan yang menggelembung dari nucleus pulposus kedalam ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf. 2. CT-Scan

Dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai nilai penting dalam diagnostik dan terapi follow up. Mineral vertebra diatas 110 mg/cm3 biasanya tidak menimbulkan fraktur vertebra atau penonjolan, sedangkan mineral vertebra dibawah 65 mg/cm3 ada pada hampir semua klien yang mengalami fraktur.

2.

Pemeriksaan Fisik

a. B1 (Breathing). Inspeksi : Ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada dan tulang belakang. Palpasi : Taktil fremitus seimbang kanan dan kiri. Perkusi : Cuaca resonan pada seluruh lapang paru. Auskultasi : Pada kasus lanjut usia, biasanya didapatkan suara ronki.

b. B2 ( Blood). Pengisian kapiler kurang dari 1 detik, sering terjadi keringat dingin dan pusing. Adanya pulsus perifer memberi makna terjadi gangguan pembuluh darah atau edema yang berkaitan dengan efek obat.

c. B3 ( Brain). Kesadaran biasanya kompos mentis. Pada kasus yang lebih parah, klien dapat mengeluh pusing dan gelisah. a. Kepala dan wajah: ada sianosis b. Mata: Sklera biasanya tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis. c. Leher: Biasanya JVP dalam normal Nyeri punggung yang disertai pembatasan pergerakan spinal yang disadari dan halus merupakan indikasi adanya satu fraktur atau lebih, fraktur kompresi vertebra

d. B4 (Bladder). Produksi urine biasanya dalam batas normal dan tidak ada keluhan pada sistem perkemihan.

e. B5 ( Bowel). Untuk kasus osteoporosis, tidak ada gangguan eliminasi namun perlu di kaji frekuensi, konsistensi, warna, serta bau feses.

f. B6 ( Bone). Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis. Klien osteoporosis sering menunjukan kifosis atau gibbus (dowagers hump) dan penurunan tinggi badan dan berat badan. Ada perubahan gaya berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality dan nyeri spinal. Lokasi fraktur yang sering terjadi adalah antara vertebra torakalis 8 dan lumbalis 3

2.

Riwayat Psikososial

Penyakit ini sering terjadi pada wanita. Biasanya sering timbul kecemasan, takut melakukan aktivitas dan perubahan konsep diri. Perawat perlu mengkaji masalah-masalah psikologis yang timbul akibat proses ketuaan dan efek penyakit yang menyertainya.

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur vertebra

2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan skeletal (kifosis), nyeri sekunder atau fraktur baru. 3. Risiko cedera berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan ketidakseimbangan tubuh. 4. Kurang pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi yang berhubungan dengan kurang informasi, salah persepsi ditandai dengan klien mengatakan kurang ,mengerti tentang penyakitnya, klien tampak gelisah III. INTERVENSI 1. Nyeri berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur, spasme otot, deformitas tulang

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang

Kriteria Hasil : Klien akan mengekspresikan nyerinya, klien dapat tenang dan istirahat yang cukup, klien dapat mandiri dalam perawatan dan penanganannya secara sederhana. Intervensi Rasional

1. Pantau tingkat nyeri pada punggung, 1. Tulang dalam peningkatan jumlah trabekular, pembatasan nyeri terlokalisasi atau menyebar pada abdomen gerak spinal. atau pinggang. 2. Ajarkan pada klien tentang alternative lain untuk mengatasi dan mengurangi rasa 2. Alternatif lain untuk mengatasi nyeri, pengaturan posisi, nyerinya. 3. Kaji obat-obatan untuk mengatasi nyeri. kompres hangat dan sebagainya. 3. Keyakinan klien tidak dapat menoleransi obat yang Rencanakan pada klien tentang periode adekuat atau tidak adekuat untuk mengatasi nyerinya. istirahat adekuat dengan berbaring dalam posisi telentang selama kurang lebih 15 menit 4. Kelelahan dan keletihan dapat menurunkan minat untuk

4.

aktivitas sehari-hari.

2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan skeletal (kifosis), nyeri sekunder atau fraktur baru. : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan klien mampu melakukan mobilitas fisik

ia hasil : Klien dapat meningkatan mobilitas fisik ; klien mampu melakukan aktivitas hidup sehari hari secara mandiri Intervensi 1. Kaji tingkat kemampuan klien yang masih ada. Rasional 1. Dasar untuk memberikan alternative dan latihan gerak yang sesuai dengan kemapuannya.

2. Latihan akan meningkatkan pergerakan otot dan 2. Rencanakan tentang pemberian stimulasi sirkulasi darah program latihan: Bantu klien jika diperlukan latihan Ajarkan klien tentang aktivitas hidup sehari hari yang dapat dikerjakan Ajarkan pentingnya latihan. 3. Bantu kebutuhan untuk beradaptasi dan melakukan aktivitas hidup sehari hari, rencana

okupasi . 4. Peningkatan latihan fisik secara adekuat: dorong latihan dan hindari tekanan pada tulang seperti berjalan 3. Aktifitas hidup sehari-hari secara mandiri

instruksikan klien untuk latihan selama kurang lebih 30menit dan selingi dengan istirahat dengan berbaring selama 15 menit hindari latihan fleksi, membungkuk tiba tiba,dan penangkatan beban berat

4. Dengan latihan fisik:

Masa otot lebih besar sehingga memberikan perlindungan pada osteoporosis Program latihan merangsang pembentukan tulang

Gerakan menimbulkan kompresi vertical dan fraktur vertebra.

3. Risiko cedera berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan ketidakseimbangan tubuh. Tujuan : Cedera tidak terjadi

teria Hasil : Klien tidak jatuh dan fraktur tidak terjadi: Klien dapat menghindari aktivitas yang mengakibatkan fraktur Intervensi 1. Ciptakan lingkungan yang bebas dari bahaya: Tempatkan klien pada tempat tidur rendah. Amati lantai yang membahayakan klien. Berikan penerangan yang cukup Tempatkan klien pada ruangan yang tertutup dan mudah untuk diobservasi. Ajarkan klien tentang pentingnya menggunakan alat pengaman di ruangan. 2. Berikan dukungan ambulasi sesuai dengan kebutuhan: Kaji kebutuhan untuk berjalan. Rasional 1. Menciptakan lingkungan yang aman dan mengurangi risiko terjadinya kecelakaan.

Konsultasi dengan ahli therapist. Ajarkan klien untuk meminta bantuan bila diperlukan. Ajarkan klien untuk berjalan dan keluar ruangan. 3. Bantu klien untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari secara hati-hati. 4. Ajarkan pada klien untuk berhenti secara perlahan, tidak naik tanggga, dan mengangkat beban berat. 5. Ajarkan pentingnya diet untuk mencegah osteoporosis: Rujuk klien pada ahli gizi Ajarkan diet yang mengandung banyak kalsium Ajarkan klien untuk mengurangi atau berhenti menggunakan rokok atau kopi 6. Ajarkan tentang efek rokok terhadap pemulihan tulang 7. Observasi efek samping obat-obatan yang digunakan

2. Ambulasi yang dilakukan tergesa-gesa dapat menyebabkan mudah jatuh.

3. Penarikan yang terlalu keras akan menyebabkan terjadinya fraktur. 4. Pergerakan yang cepat akan lebih memudahkanterjadinya fraktur kompresi vertebra pada klien osteoporosis. 5. Diet kalsium dibutuhkan untuk mempertahankan kalsium serum, mencegah bertambahnya kehilangan tulang. Kelebihan kafein akan meningkatkan kalsium dalam urine. Alcohol akan meningkatkan asidosis yang meningkatkan resorpsi tulang 6. Rokok dapat meningkatkan terjadinya asidosis.

7.

Obat-obatan seperti diuretic, fenotiazin dapat menyebabkan pusing, megantuk, dan lemah yang merupakan predisposisi klien untuk jatuh.

4. Kurang pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi yang berhubungan dengan kurang informasi, salah persepsi ditandai dengan klien mengatakan kurang ,mengerti tentang penyakitnya, klien tampak gelisah

uan : Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan klien memahami tentang penyakit osteoporosis dan program terapi dengan criteria hasil klien mampu menjelaskan tentang penyakitnya, mampu menyebutkan program terapi yang diberikan, klien tampak tenang

eria hasil : Klien mampu menjelaskan tentang penyakitnya, dan mampu menyebutkan program terapi yang diberikan, klien tampak tenang Intervensi Rasional

1. Kaji ulang proses penyakit dan harapan 1. Memberikan dasar pengetahuan dimana klien dapat yang akan datang membuat pilihan berdasarkan informasi. 2. Ajarkan pada klien tentang faktor-faktor 2. Informasi yang diberikan akan membuat klien lebih memahami tentang penyakitnya yang mempengaruhi terjadinya osteoporosis 3. Berikan pendidikan kepada klien 3. Suplemen kalsium ssering mengakibatkan nyeri lambung mengenai efek samping penggunaan obat dan distensi abdomen maka klien sebaiknya mengkonsumsi kalsium bersama makanan untuk mengurangi terjadinya efek samping tersebut dan memperhatikan asupan cairan yang memadai untuk menurunkan resiko pembentukan batu ginjal

IV. IMPLEMENTASI Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan Pada tahap ini perawat siap untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas-aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien. Fase implementasi atau pelaksanaan terdiri dari beberapa kegiatan, yaitu validasi rencana keperawatan, mendokumentasikan rencana keperawatan, memberikan asuhan keperawatan, dan pengumpulan data.

V. EVALUASI Hasil yang diharapkan meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nyeri berkurang Terpenuhinya kebutuhan mobilitas fisik Tidak terjadi cedera Terpenuhinya kebutuhan perawatan diri Status psikologis yang seimbang Terpenuhinya kebutuhan, pengetahuan dan informasi

BAB III KASUS

Kasus Osteoporosis

Ny. S umur 58 tahun sering mengeluh ngilu di bagian sendi sejak beberapa tahun lalu, namun Ny. S tidak mempedulikannya. Sejak kurang lebih tiga bulan yang lalu, ngilu di tubuhnya tak kunjung hilang dan Ny. S menyampaikan keluhannya ini ketika memeriksakan diri ke dokter dan dianjurkan untuk tes darah dan rongent kaki. Hasil rongent menunjukkan bahwa Ny. S menderita osteoporosis diperkuat lagi dengan hasil BMD T-score -3. Hasil darah lengkap dalam Klien mengalami menopause sejak 6 tahun yang lalu. Menurut klien dirinya tidak suka minum susu sejak usia muda dan tidak menyukai makanan laut. Klien beranggapan bahwa keluhan yang dirasakannya karena usianya yang bertambah tua. Riwayat kesehatan sebelumnya diketahui bahwa klien tidak pernah mengalami penyakit seperti DM dan hipertensi dan tidak pernah dirawat di RS. Pola aktifitas diketahui klien banyak beraktifitas duduk karena dulu dirinya bekerja sebagai staf administrasi dan tidak suka olahraga karena tidak sempat. Riwayat penggunaan KB hormonal dengan metode pil. Pemeriksaan TB 165 cm, BB 78 kg.

Buatlah asuhan keperawatannya! Susunlah diagnosa keperawatan sesuai data (tidak ada batas minimal)! Tambahkan data dari kasus di atas, termasuk riwayat keperawatan dan faktor risiko osteoporosis pada wanita yang perlu dikaji!

3.1 DATA FOKUS A. Data subjektif 1. Klien mengatakan ngilu di bagian sendi sejak beberapa tahun lalu, namun Ny. S tidak mempedulikannya. Sejak kurang lebih tiga bulan yang lalu, ngilu di tubuhnya tak kunjung hilang

2. Klien mengatakan dirinya tidak suka minum susu sejak usia muda dan tidak menyukai makanan laut. 3. tua. Klien beranggapan bahwa keluhan yang dirasakannya karena usianya yang bertambah

4. Klien mengatakan banyak beraktifitas duduk karena dulu dirinya bekerja sebagai staf administrasi dan tidak suka olahraga karena tidak sempat. 5. Klien mengatakan mengalami menopause sejak 6 tahun yang lalu.

B. Data objektif 1. Ny. S umur 58 tahun 2. 3. 4. Hasil rongent menunjukkan bahwa Ny. S menderita osteoporosis dengan Hasil BMD T-score -3. Hasil darah lengkap dalam.

5. Riwayat kesehatan sebelumnya diketahui bahwa klien tidak pernah mengalami penyakit seperti DM dan hipertensi dan tidak pernah dirawat di RS. 6. 7. Riwayat penggunaan KB hormonal dengan metode pil. Pemeriksaan TB 165 cm, BB 78 kg.

C. Data Tambahan 1. Skala nyeri 7 2. 3. 4. 5. 6. 7. D. Analisa Data No. 1. Ds: 1. Klien mengatakan ngilu di bagian sendi sejak beberapa tahun lalu, namun Ny. S tidak mempedulikannya. Sejak kurang lebih tiga bulan yang lalu, ngilu di tubuhnya tak kunjung Ds + Do Nyeri Masalah Etiologi Deformitas tulang Wajah klien terlihat meringis Sering terlihat memegang area yang sakit Kifosis Pendidikan terakhir klien adalah SMA Klien mengatakan terasa sakit pada sendi ketika berjalan Klien mengatakan aktivitas sehari-hari terhambat

hilang 2. Klien mengatakan banyak beraktifitas duduk karena dulu dirinya bekerja sebagai staf administrasi dan 3. Klien mengatakan tidak suka olahraga karena tidak sempat. DO : 1. Ny. S umur 58 tahun 2. Hasil rongent menunjukkan bahwa Ny. S menderita osteoporosis 3. Hasil BMD T-score -3. 4. Hasil darah lengkap dalam. 5. Klien mengalami menopause sejak 6 tahun yang lalu. 6. Riwayat penggunaan KB hormonal dengan metode pil. DT : 1. Skala nyeri 7 2. Wajah klien terlihat meringis 3. Sering terlihat memegang area yang sakit 4. Klien mengatakan terasa sakit pada sendi ketika berjalan 5. Klien mengatakan aktivitas sehari-hari terhambat

2.

DS : 1. Klien mengatakan ngilu di bagian sendi sejak beberapa tahun lalu, namun Ny. S tidak mempedulikannya. Sejak kurang lebih tiga bulan yang lalu, ngilu di tubuhnya tak kunjung hilang 2. Klien mengatakan dirinya tidak suka minum susu sejak usia muda dan tidak menyukai makanan laut. 3. Klien beranggapan bahwa keluhan yang dirasakannya karena usianya yang bertambah tua.

Kurang Pengetahuan

Kurang informasi

4. Klien mengatakan banyak beraktifitas duduk karena dulu dirinya bekerja sebagai staf administrasi dan tidak suka olahraga karena tidak sempat. DO : 1. Ny. S umur 58 tahun 2. Riwayat kesehatan sebelumnya diketahui bahwa klien tidak pernah mengalami penyakit seperti DM dan hipertensi dan tidak pernah dirawat di RS. 3. Riwayat penggunaan KB hormonal dengan metode pil. DT :

1.
3 DS :

Pendidikan Terakhir Klien SMA Risiko Hambatan Mobilitas Fisik Nyeri pada persendian

1. Klien mengatakan ngilu di bagian sendi sejak beberapa tahun lalu, namun Ny. S tidak mempedulikannya. Sejak kurang lebih tiga bulan yang lalu, ngilu di tubuhnya tak kunjung hilang 2. Klien mengatakan banyak beraktifitas duduk karena dulu dirinya bekerja sebagai staf administrasi dan tidak suka olahraga karena tidak sempat. DO : 1. Ny. S umur 58 tahun 2. Hasil rongent menunjukkan bahwa Ny. S menderita osteoporosis dengan 3. Hasil BMD T-score -3. 4. Hasil darah lengkap dalam. 5. Pemeriksaan TB 165 cm, BB 78 kg. DT : 1. Kifosis 2. Klien mengatakan terasa sakit pada sendi ketika berjalan

3.

Klien mengatakan aktivitas sehari-hari terhambat

Diagnosa Keperawatan

1. 2. 3.

Nyeri berhubungan dengan deformitas tulang Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi Risiko hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri pada persendian

Intervensi Keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan deformitas tulang

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 7 x 24 jam, nyeri berkurang Kriteria Hasil :

Klien mengatakan ngilu di bagian sendi berkurang Skala nyeri 4 Wajah klien tidak terlihat meringis Klien tidak terlihat memegang area yang sakit BB berkurang berkisar 2 kg, menjadi 76 kg. Rasional Kaji skala nyeri 1. Mengetahui tingkat nyeri yang dialami klien 2. Agar klien dapat mengatasi nyeri secara mandiri

Intervensi 1.

2. Ajarkan pada klien tentang alternative lain untuk mengatasi dan mengurangi rasa nyerinya, misalnya kompres hangat, relaksasi nyeri, destraksi nyeri. 3. Kaji obat-obatan untuk mengatasi nyeri. 4. Ajarkan pada klien tentang periode istirahat adekuat dengan berbaring dalam posisi telentang selama kurang lebih 15 menit 5. Ajarkan fleksi lutut 6. Ajarkan mekanika tubuh dan postur yang benar 7. Anjurkan klien untuk banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium dan vitamin D 8. Anjurkan klien untuk berjemur pada pagi hari dan melakukan olahraga ringan 9. Berikan penkes tentang pentingnya diet untuk mengurangi berat badan. 10. Kolaborasi : Berikan suplemen kalsium

3. Keyakinan klien tidak dapat menoleransi obat yang adekuat atau tidak adekuat untuk mengatasi nyerinya. 4. Kelelahan dan keletihan dapat menurunkan minat untuk aktivitas sehari-hari. 5. Untuk meningkatkan rasa nyaman dengan merelakasasi otot. 6. Meminimalkan rasa nyeri 7. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi klien

8. Sinar matahari dapat membantu penyerapan kalsium dan vitamin D, Meminimalkan efek osteoporosis

9. Berat badan yang berlebihan dapat menjadi factor predisposisi osteoporosis

10.

Penderita osteoporosis memrlukan tambahan kalsium.

2.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, masalah kurang pengetahuan teratasi. Kriteria Hasil :

Klien mengatakan mengerti tentang proses perjalanan penyakit osteoporosis, tanda dan gejala, dan komplikasi yang mungkin timbul. Klien mengatakan dirinya mau minum susu setiap hari

Klien mengatakan akan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin D dan Kalsium Intervensi 1. Kaji pengetahuan klien tentang penyakit osteoporosis 2. Berikan penkes pada klien tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya osteoporosis 3. Berikan penkes tentang proses penyakit, tanda dan gejala, serta komplikasi yang mungkin muncul 4. Berikan pendidikan kepada klien mengenai efek samping penggunaan obat 5. Anjurkan klien untuk banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium dan vitamin D 6. Anjurkan klien untuk berjemur setiap pagi hari dan melakukan olahraga ringan Rasional 1. Untuk menentukan intervensi selanjutnya 2. Informasi yang diberikan akan membuat klien lebih memahami tentang penyakitnya 3. Menambah pengetahuan klien dan mencegah timbulnya kecemasan jika terjadi komplikasi lebih lanjut. 4. Suplemen kalsium ssering mengakibatkan nyeri lambung dan distensi abdomen maka klien sebaiknya mengkonsumsi kalsium bersama makanan untuk mengurangi terjadinya efek samping tersebut dan memperhatikan asupan cairan yang memadai untuk menurunkan resiko pembentukan batu ginjal 5. Meminimalkan efek osteoporosis 6. Sinar matahari dapat membantu penyerapan kalsium dan vitamin D

3.

Risiko kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri pada persendian.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7 x 24 jam, hambatan mobilitas fisik tidak terjadi Kriteria Hasil : Rasa ngilu di bagian sendi ketika beraktivitas berkurang

Klien mengatakan saat berjalan rasa nyeri berkurang Klien mengatakan aktivitas sehari-hari tidak terhambat oleh nyeri Rasional

Intervensi

1. Kaji tingkat kemampuan klien yang 1. Dasar untuk memberikan alternative dan latihan gerak masih ada. yang sesuai dengan kemapuannya. 2. Rencanakan tentang pemberian 2. Latihan akan meningkatkan pergerakan otot dan program latihan: stimulasi sirkulasi darah Bantu klien jika diperlukan latihan Ajarkan klien tentang aktivitas hidup sehari hari yang dapat dikerjakan Ajarkan pentingnya latihan. 3. Peningkatan latihan fisik secara adekuat: instruksikan klien untuk latihan selama kurang lebih 30menit dan selingi dengan istirahat dengan berbaring selama 15 menit hindari membungkuk tiba tiba,dan 3. Dengan latihan fisik: penangkatan beban berat 4. Anjurkan klien untuk melakukan olahraga ringan Program latihan merangsang pembentukan tulang

Gerakan menimbulkan kompresi vertical dan fraktur vertebra.

4.

Latihan yang memadai dapat meminimalkan efek osteoporosis

Diposkan oleh Vian's di 03:50

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

0 komentar: Poskan Komentar

Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda


Langgan: Poskan Komentar (Atom)

Pengikut Arsip Blog


2011 (8) o Januari (8) Makalah osteoporosis Makalah Trauma Dada Makalah Hemoroid Makalah Trauma Dada Makalah osteoporosis Makalah Hepatitis Makalah grastitis Makalah apendisitis 2010 (14)

Mengenai Saya

Vian's Lihat profil lengkapku Template Travel. Gambar template oleh kevinruss. Diberdayakan oleh Blogger. Med Indones