Anda di halaman 1dari 4

Baihaqi Zakaria

091314016

Kristalisasi

Kristalisasi adalah peristiwa pembentukan suatu kristal dari solute dalam larutan toleransinya. Kristalisasi dapat terjadi sebagai pembentukan partikel-partikel padat dalam uap seperti pada pembentukan salju sebagai pembekuan lelehan cair. Sebagaimana dalan pembentukan kristal dari larutan cair atau pembentukan kristal tunggal yang besar. Kristalisasi dapat dilakukan dengan pendinginan, penguapan, dan penambahan solvent bahan kimia.

Kristalisasi dapat memisahkan suatu campuran tertentu dari larutan multi komponen sehingga didapat produk dalam bentuk kristal. Kristalisasi dapat juga dipakai sebagai salah satu cara pemurnian karena lebih ekonomis. Operasi kristalisasi terbagi menjadi:

  • 1. Membuat larutan supersaturasi (lewat jenuh)

  • 2. Pembuatan inti kristal

  • 3. Pertumbuhan Kristal

PEMBAGIAN TAHAPAN OPERASI KRISTALISASI

1. Membuat Larutan Lewat Jenuh

Bila larutan telah mencapai derajat saturasi tertentu, maka di dalam larutan akan terbentuk zat padat kristaline. Oleh sebab itu derajat supersaturasi larutan merupakan faktor terpenting dalam mengontrol operasi kristalisasi.

Cara mencapai supersaturasi:

Pendinginan

Yaitu mendinginkan larutan yang akan dikristalka sampai keadaan supersaturasi dimana konsentrasi larutan lebih besar dari konsentrasi larutan jenuh pada suhu tersebut.

Penguapan Solvent

Larutan disiapkan dalam evaporator untuk dipekatkan, lalu dikristalkan dengan pendingn. Cara ini digunakan untuk zat yang mempunyai kurva kelarutan agak dalam.

Evaporasi Adiabatis

Larutan dalam keadaan panas bila dimasukan ke dalam ruang vacuum, maka terjadi penguapan dengan sendirinya, sebab tekanan totalnya menjadi lebih rendah dari tekanan uap solvent pada suhu itu. Penguapan dan turunya suhu disertai kristalisasi.

Penambahan zat lain yang dapat menurunkan kelarutan zat yang akan dikristalisasi, misalnya larutan NaOH ditambah gliserol, maka kelarutan NaOH menjadi turun dan larutan NaOH mudah diendapkan.

Baihaqi Zakaria

091314016

  • 2. Pembentukan Inti Kristal

Pembentukan Inti Kristal secara sistematis

Baihaqi Zakaria 091314016 2. Pembentukan Inti Kristal Pembentukan Inti Kristal secara sistematis · 1. Primary Nukleus

·

1.

Primary Nukleus

Proses pembentukan inti kristal karena larutan telah mencapai derajat supersaturasi yang cukup tinggi.

 

Homogen Nukleus

Nukleus disini pembentukannya spontan pada larutan dengan supersaturasi tinggi, artinya nukleus terbentuk karena penggabungan molekul-molekul solute sendiri

 

Heterogen Nukleus

Pembentukan inti kristalnya masih dalam supersaturasi tinggi, namun dapat dipercepat dengan adanya partikel-partikel asing seperti debu dan sebagainya.

2.

Secondary Nukleus (Contact Nucleation)

Pembentukan inti kristal dengan akibat dari :

Tumbukan antarkristal induk

o

Tumbukan antar kristal dengan katalisator

Gerakan antara permukaan kristal yang relatif lebih kecil. Dinyatakan dengan persamaan :

N = (a) (L) b (¨C) c (P)d

Dimana :

N : jumlah nukleus yang terbentu (number/jam)

  • L : ukuran kristal induk (mm)

¨C : derajat supersaturasi larutan (mol/lt) atau ( o C)

Baihaqi Zakaria

091314016

P : power dari pengaduk (Hp)

a,b,c,d : konstanta-konstanta

Jika :

  • 1. L >>> maka jumlah kristal yang terbentuk juga semakin besar, krisatal makin besar menyebabkan kemungkinan tumbukan semakin banyak. Pecahan bagian kecil dari kristal menyebabkan terbentuknya inti kristal.

  • 2. ¨C >>> maka jumlah kristal yang terbentuk juga semakin banyak. Derajat saturasi makin besar maka semaikn besar pula kemungkinan terbentuk inti kristal baru.

  • 3. P >>> maka gaya gesekan partikel larutan juga semakin besar sehingga kemungkinan terjadinya tumbukan partikel semakin besar, maka inti kristal yang terbentuk juga semakin besar jumlahnya.

Dalam percobaan, Miers membuat larutan supersaturasi melalui pendingin setelah melalui kurva saturasi A-B sampai pada kondisi kristalisasi mulai terbentuk inti kristal (titik ke F). kurva larutan murni dua komponen tanpa feeding, artinya inti kristal yang terbentuk primary homogen nuklei mulai terbentuk dengan terbentuknya inti kristal yang selanjutnya tumbuh maka konsentrasi solute dalam larutan akan turun (dari F ke G).

Untuk beberapa sistem tertentu yang viskositasnya tinggi, kurva primary homogen nuklei tetap jenuh daripada kurva saturasi. Dengan kata lain diperlukan konsentrasi lebih tinggi untuk membuat primary homogen nukleasi. Hal ini sangat tidak rfisien secara teoritis dan ekonomi. Karena itu dalam kondisi industri dikenal sistem seeding (pemberian kristal nuklei). Nukleasi ini disebut secondary nukleasi. Penambahan larutan supersaturasi melaui pendinginan setelah melalui kurva saturasi AB. Pada konsentrasi ini di titik baru akan terbentuk inti kristal. Tetapi mengingat efisiensi secar ekonomis, penambahan kristal pada sistem ini akan memperoleh penghematan.

3. Pertumbuhan Kristal

Umumnya kristal yang berukuran > 100 kecepatan tumbuhnya tidak tergantung pada ukuran dan dapat dinyatakan dengan :

r = a (¨C) b

di mana :

r : kecepatan tumbuhnya kristal

¨C : derajat saturasi (mol/L)

a,b : kontanta

Baihaqi Zakaria

091314016

Derajat saturasi ( o C) merupakan faktor terpenting dalam proses pertumbuhan kristal. Larutan yang berderajat saturasi tinggi, perbedaan konsentrasi antara permukaan kristal dengan permukaan akan tinggi sehingga r dan ¨C juga semakin tinggi.

TEORI DIFUSI SOLUTE DARI LARUTAN KE PERMUKAAN KRISTAL

Proses kristalisasi merupakan kebalikan dari proses kelarutan, sebagai berikut :

Baihaqi Zakaria 091314016 Derajat saturasi ( C) merupakan faktor terpenting dalam proses pertumbuhan kristal. Larutan yang

Dengan :

Cs : konsentrasi permukaan solid

Cl : konsentrasi fase larutan solute dalam berdifusi pada larutan fase solid atau sebaliknya (berlangsung jika ada driving forcenya = perbedaan konsentrasi antara fase solid dan fase larutan)

Jika konsentrasi larutan lebih besar dari konsentrasi pada permukaan kristal maka solute akan berdifusi ke permukaan, solute akan menempel pada permukaan solid. Proses ini berlangsung terus sampai tak ada driving forcenya.

Keadaan 1 -* mekanisme proses kristalizer (garis Cs Cl1)

Keadaan terakhir -* mekanisme proses pelarutan (garis Cs Cl2)

Pada kristalisasi berlaku hubungan yang didasarkan pada kecepatan difusi solute di permukaan solid