Anda di halaman 1dari 17

PEMERIKSAAN DASAR UROLOGI

ANAMNESIS Pasien datang ke dokter mungkin dengan keluhan : (1) sistemik yang merupakan penyulit dari kelainan urologi, antara lain gagal ginjal (malese, pucat, uremia) atau demam disertai menggigil akibat infeksi/urosepsis dan (2) local (urologi) antara lain nyeri akibat kelainan urologi, keluhan miksi, adanya benjolan, disfungsi seksual, atau infertilitas. Secara skemayis keluhan atau symptom kelainan system urogenital dapat dilihat pada table berikut : Nyeri Keluhan Miksi Ginjal/ureter, buli-buli, perineal, testis, dan prostat Gejala iritasi : frekuensi/poliuria, nokturia, disuria Gejala obstruksi : hesitansi, kencing mengedan, pancaran lemah, pancaran kencing bercabang, waktu kencing preputium melembung, dan pancaran kencing terputus Gejala pasca miksi : akhir kencing menetes, kencing tidak puas, dan terasa ada sisa kencing Perubahan Warna Urin Keluhan berhubungan dengan gagal ginjal Inkontinensia, enuresis Hematuria,(bloody urine)piuria, cloudy urine, warna coklat Oliguria, poliuria, anoreksia, mual, muntah, cegukan (hiccup), insomnia, gatal, bruising, dan Organ reproduksi oedema Disfungsi seksual/ereksi, buah zakar tidak teraba/membengkak, penis bengkok, dan discharge keluar dari uretra atau vagina

A. Nyeri

Nyeri disebabkan oleh kelainan yang terdapat pada organ urogenitalia dirasakan sebagai nyeri local, yaitu nyeri yang dirasakan disekitar organ itu sendiri, atau berupa referred pain, yaitu nyeri yang dirasakan jauh dari organ yang sakit. Sebagai contoh, nyeri local pada kelainan ginjal dapat dirasakan didaerah sudut costovertebra; spasi dan nyeri akinat kolik ureter dapat dirasakan hingga kedaerah inguinal, testis, dan bahkan sampai ke tungkai bawah. Inflamasi akut pada organ padat traktus urogenitalia seringkali dirasakan sangat nyeri; hal ini disebabkan karena regangan kapsul yang membungkus organ tersebut. Oleh sebab itu, pielonefritis, prostatitis, maupun epididimitis akut dirasakan sangat nyeri. Berbeda halnya pada inflamasi yang mengenai organ berongga seperti pada buli-buli dan uretra, dirasakan sebagai rasa kurang nyaman (discomfort). Di bidang urologi banyak dijumpai bermacam-macam nyeri yang dikeluhkan oleh pasien sewaktu datang ke tempat praktek. 1. Nyeri ginjal Nyeri ginjal adalah nyeri yang terjadi akibat regangan kapsul ginjal. Peregangan kapsul ini dapat terjadi karena pielonefritis akut yang menimbulkan edema, obstruksi saluran kemih yang mengakibatkan hidronefrosis, kista ginjal, atau tumor ginjal. 2. Nyeri kolik ureter dan ginjal Nyeri yang terjadi akibat spasme otot polos ureter atau system kalises ginjal. Hal ini disebabkan karena gerakan peristaltiknya terhambat oleh batu, bekuan darah, atau oleh benda asing lain. Nyeri ini dirasakan sangat sakit, hilang timbul sesuai dengan gerakan peristaltic otot polos. Pertama-tama dirasakan didaerah sudut costovertebra kemudian menjalar ke dinding depan abdomen, ke region inguinal, hingga ke daerah kemaluan. Tidak jarang nyeri kolik di ikuti dengan keluhan pada organ pencernaan seperti mual dan muntah. 3. Nyeri buli-buli Nyeri buli-buli dirasakan di daerah supra simphisis. Nyeri ini terjadi akibat over distensi buli-buli yang mengalami retensi urin atau terdapat inflamasi pada buli-buli (sistitis interstitialis, tuberculosis, atau sistosomiasis). Inflamasi buli-buli dirasakan sebagai perasaan kurang nhyaman di daerah supra pubik (supra pubic discomfort). Nyeri muncul mana kala buli-buli terisi penuh dan berkurang pada saat selesai miksi.
2

Tidak jarang pasien sistitis merasakan nyeri yang sangat hebat seperti ditusuk-tusuk pada akhir miksi dan kadang kala disertai dengan hematuria; keadaan ini disebut sebagai straguria. 4. Nyeri prostat Pada umumnya, disebabkan karena inflamasi yang mengakibatkan edema kelenjar prostat dan distensi kapsul prostat. Lokasi nyeri akibat inflamasi ini sulit ditentukan namun pada umumnya dapat dirasakan pada abdomen bawah, inguinal, perineal, lumbosakral, atau nyeri rectum. Seringkali nyeri prostat diikuti dengan keluhan miksi berupa frekuensi, disuria, bahkan retensi urin. 5. Nyeri testis/epididimis Nyeri yang dirasakan pada daerah kantong skrotum dapat berasal dari kelainan organ di kantong skrotum sebagai nyeri primer atau nyeri yang berasal dari luar kantong skrotum (referred pain). Nyeri akut yang disebabkan oleh kelainan organ di kantong testis dapat disebabkan oleh torsio testis atau torsio apendiks testis, epididimitis/orkitis akut, atau trauma pada testis. Inflamasi akut pada testis atau epididimis menyebabkan peregangan pada kapsulnya sehingga dirasakan sangat nyeri. Nyeri testis sering kali dirasakan hingga ke daerah abdomen, sehingga dikacaukan dengan nyeri karena kelainan organ abdominal. Begitu pula nyeri karena inflamasi pada ginjal dan inguinal, seringkali dirasakan di daerah skrotum. Nyeri tumpul disekitar testis dapat disebabkan karena varikokel, hidrokel, maupun tumor testis 6. Nyeri penis Nyeri yang dirasakan pada penis yang tidak ereksi biasanya merupakan referred pain dari inflamasi pada mukosa buli-buli atau uretra, yang terutama dirasakan pada meatus uretra eksternum. Selain itu, parafimosis dan peradangan pada prepusium maupun glans penis memberikan rasa nyeri yang terasa pada ujung penis. Nyeri yang terjadi padaa saat ereksi mungkin disebabkan karena penyakit peyronie atau priapismus. Pada penyakit peyronie terdapat plak jaringan fibrotik yang teraba pada tunika albuginea korpus kavernosum penis sehingga pada saat ereksi penis melengkung dan terasa nyeri.
3

Priapismus adalah ereksi penis yang terajdi terus menerus tanpa diikuti dengan ereksi glans. Ereksi ini tanpa diikuti dengan hasrat seksual dan terasa sangat nyeri.

B. Keluhan berkemih Keluhan yang dirasakan pasien pada saat miksi meliputi keluhan yang dikenal sebagai LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms) yang terdiri dari keluhan storage, voiding, dan pasca miksi. Gejala storage

1. urgensi : yaitu rasa sangat ingin kencing sehingga terasa sakit. Hal ini disebabkan karena hiperiritabilitas dan hiperaktivitas buli-buli karena inflamasi, terdapat benda asing di dalam buli-buli, adanya obstruksi infravesika, atau karena kelainan buli-buli neurogen. 2. frekuensi/polakisuria : yaitu frekuensi berkemih yang lebih dari 8x perhari, normalnya hanya 5-6 x perhari dan setiap kali berkemih volume nya kurang dari 300ml. polakisuri bias disebabkan karena produksi urin yang berlebihan (poliuria) atau kapasitas buli-buli yang menurun. Pada penyakit diabetes militus, diabetes insipidus, atau asupan cairan yang berlebihan merupakan penyebab terjadinya poliuria. Sedangkan menurunnya kapasitas buli-buli dapat disebabkan karena adanya obstruksi infravesika, menurunnya komplians buli-buli, buli-buli contracted, dan buli-buli yang mengalami inflamasi/iritasi oleh benda asing di dalam lumen buli-buli.
3. noktutria : yaitu berkemih lebih dari satu kali pada malam hari diantara episode tidur. Hal

ini dapat disebabkan karena produksi urin meningkat atau kapasitas buli-buli menurun. Orang yang mengkonsumsi banyak air sebelum tidur apalagi yang mengandung alcohol dan kopi menyebabkan produksi urin meningkat. Pada malam hari, produksi urin meningkat pada pasien gagal jantung kongestif dan oedem perifer karena berada dalam posisi supine. Demikian juga pada orang tua (lansia) tidak jarang terjadi peningkatan produksi urin pada malam hari karena kegagalan ginjal melakukan pemekatan urin.

4. disuria : yaitu nyeri pada saat miksi terutama disebabkan karena inflamasi pada buli-buli atau uretra. Disuria yang terjadi pada awal miksi biasanya terjadi karena kelainan pada uretra dan jika terjadi pada akhir miksi adalah kelainan pada buli-buli. Perasaan miksi yang sangat nyeri dan disertai dengan hematuria disebut sebagai stranguria. Gejala voiding Adanya obstruksi infravesika menyebabkan hesitensi atau awal keluarnya urin menjadi lebih lama dan seringkali pasien harus mengejan untuk memulai miksi. Setelah urin keluar, seringkali pancarannya menjadi lemah, tidak jauh, dan kecil, bahkan urin jatuh di dekat kaki pasien. Dipertengahan miksi seringkali miksi berhenti dan kemudian memancar lagi yang disebut sebagai intermitten. Gejala pasca miksi Adanya perasaan tidak puas setelah miksi, pasien masih terasa adanya sisa urin di dalam buli-buli dengan masih keluar tetesan-tetesan urin (terminal dribbling), jika pada suatu sata bulibuli tidak mampu lagi mengosongkan isinya, menyebabkan terjadinya retensi urin yang terasa nyeri pada daerah suprapubik dan diikuti dengan keinginan miksi yang sangat sakit (urgensi). Lama kelamaan buli-buli isinya makin penuh sehingga keluar urin yang menetes tanpa disadari yang disebut sebagai inkontinensia paradoksa. Obstruksi uretra karena striktura uretra anterior biasanya ditandai dengan pancaran kecil, deras, bercabang, dan kadang-kadang berputar. Hal tersebut sering dijumpai pada obstruksi uretra di sebelah distal.

C. Hematuria

Yaitu ditemukannya sel darah merah di dalam urin. Hal ini perlu dibedakan dengan bloody uretral discharge atau perdarahan per uretram yaitu keluarnya darah dari meatus uretra eksterna tanpa melalui proses miksi, hal ini sering terjadi pada trauma atau tumor uretra. Hematuria dapat disebabkan oleh berbagai kelainan didalam maupun diluar urogenitalia. Kelainan-kelainan yang berasal dari luar system urogenitalia adalah kelainan pembekuan darah, SLE, dan kelainan system hematologi lainnya. Sedangkan yang berasal dari daalam system urogenital adalah berbagai kelainan pada saluran kemih mulai dari infeksi hingga keganasansaluran kemih. Hematuria yang tidak disertai nyeri harus dipikirkan kemungkinan keganasan saluran kemih.

PEMERIKSAAN FISIK A. Pemeriksaan ginjal Inspeksi : lihat apakah terdapat pembesaran asimetri pada daerah pinggang atau abdomen sebelah atas. Pembesaran mungkin disebabkan hidronefrosis atau tumor. Palpasi : dilakukan secara bimanual dengan memakai dua tangan. Tangan kiri diletakkan di sudut kosto-vertebra untuk mengangkat ginjal ke atas sedangkan tangan kanan meraba ginjal dari depan di bawah arkus costa. Ginjal kanan yang normal pada anak atau dewasa yang bertubuh kurus seringkali masih dapat diraba. Ginjal kiri sulit diraba karena terletak lebih tinggi daripada sisi kanan. Perkusi (ketok ginjal): dilakukan dengan memberikan ketokan pada sudut kostovertebra. Pembesaran ginjal karena hidronefrosis atau tumor ginjal, mungkin teraba pada palpasi dan terasa nyeri pada perkusi. Auskultasi : apakah terdengar bruit pada daerah epigastrium atau abdomen dan dapat dicurigai adanya stenosis arteri renalis.

Gambar 1. Palpasi bimanual


6

B. Pemeriksaan buli-buli Inspeksi : apakah terdapat benjolan/massa atau jaringan parut bekas irisa/operasi di suprasimfisis. Massa di daerah suprasimfisis mungkin merupakan tumor ganas buli-buli atau karena terjadi retensi urin. Palpasi : dapat menentukan batas buli-buli dan apakah terdapat rasa nyeri. Pemeriksaan bimanual pada buli-buli di bawah pembiusan dilakukan untuk menentukan ekstensi dan mobilitas tumor buli-buli setelah reseksi.

C. Pemeriksaan genitalia eksterna Inspeksi : pada penis perhatikan meatus dan glans, terutama sulkus koronarius. Tentunya jika pasien belum menjalani sirkumsisi, prepusium harus diretraksi ke proksimal terleboh dahulu dan perhatikan kemungkinan adanya mikropenis, makropenis, hipospadia,fimosis, fistel, ulkus/tumor penis. Palpasi : teraba fibrosis di sebelah ventral penis pada striktura uretra yang berat. D. Pemeriksaan skrotum Inspeksi : perhatikan apakah terdapat pembesaran pada skrotum.
7

Palpasi : apakah terdapat rasa nyeri pada saat diraba. Transiluminasi : dilakukan untuk membedakan massa padat dan massa kistus yang terdapat pada isi skrotum. Pemeriksaan dilakukan di tempat gelap dan menyinari skrotum dengan cahaya terang. Pemeriksaan ini positif jika skrotum berisi cairan kistus. Gambar 2. Transiluminasi

Colok dubur (Rectal toucher) Pemeriksaan colok dubur adalah memasukkan jari telunjuk yang sudah diberi pelicin ke dalam lubang dubur. Pada pemeriksaan ini dinilai tonus sfingter ani dan refleks bulbokevernosus (BCR), mencari kemungkinan adanya massa di dalam lumen rektum dan menilai keadaan prostat yaitu konsistensi, ukuran serta permukaan prostat.

Gambar 3. Rectal toucher

E. Pemeriksaan neurologi Pemeriksaan neurologi ditujukan untuk mencari kemungkinan adanya kelainan neurologik yang mengakibatkan kelainan pada system urogenitalia, seperti kelainan motorik dan sensorik vesica urinaria akan meyebabkan terjadinya inkontinesia. Dapat dilakukan tes bulbokarvenosus refluks.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM A. Urinalisis Pemeriksaan urinalisis merupakan pemeriksaan yang paling sering dikerjakan pada praktek dokter sehari-hari, apalagi kasus urologi. Pemeriksaan ini meliputi uji : 1. Makroskopik dengan menilai warna, bau dan berat jenis urin. 2. Kimiawi meliputi pemeriksaan derajat keasaman/Ph, protein dan gula dalam urin. 3. Mikroskopik mencari kemungkinan adanya sel-sel, cast (silinder), atau bentukan lain di dalam urin. Urinalisis dapat dikerjakan melalui metode pemeriksaan dipstick dan pemeriksaan secara mikroskopik urin yang telah disentrifugasi. Dari dipstick dapat diperoleh informasi mengenai pH, berat jenis, adanya eritrosit, leksit, protein, glukosa, ketone, bilirubin di dalam urin. Urin mempunyai pH yang bersifat asam, dengan pH rerata 5,5-6,5. Jika didapatkan pH yang relative
9

basa kemungkinan terdapatnya infeksi oleh bakteri pemecah urea, sedangkan jika pH yang terlalu asam kemungkinan terdapat asidosis pada tubulus ginjal atau ada batu asam urat. Jika didapatkan glukosuria berarti dicurigai adanya suatu diabetes mellitus. Dipstick bisa mendeteksi protein hingga 0,3 g/L. Jika terdapat proteinuria persisten harus dilakukan pemeriksaan lebih lengkap dengan menampung urin 24 jam. Nitrat atau lekosit di dalam urin identik dengan infeksi/inflamasi. Jika didapatkan lekosituria pada urin yang telah dikultur ternyata steril, (piuria steril), kemungkinan adanya pemberian terapi ISK yang belum tuntas, keganasan atau batu saluran kemih, atau tuberculosis. Didapatkannya eritrosit secara bermakna (> 2 per lapang pandang) menunjukkan adanya cedera pada system saluran kemih, dan didapatkannya leukosituria bermakna (> 5 per lapang pandang) atau piuria menunjukkan tanda dari inflamasi saluran kemih. Cast (silinder) adalah mukoprotein dan berbagai elemen dari parenkim ginjal yang tercetak di tubulus ginjal, oleh karena itu bentuknya menyerupai silinder. Jika ditemukan silinder di dalam pemeriksaan sedimen urin menandakan adanya kerusakan parenkim ginjal.

B. Pemeriksaan darah 1. Darah rutin Pemeriksaan darah rutin terdiri atas pemeriksaan kadar hemoglobin, leukosit, laju endap darah, hitung jenis leukosit dan hitung trombosit. 2. Faal ginjal Beberapa uji faal ginjal yang sering diperiksa adalah pemeriksaan kadar kreatinin, kadar ureum atau BUN (blood urea nitrogen) dan klirens kreatinin. Kreatinin adalah hasil dari katabolisme otot skeletal, diekskresikan oleh ginjal, dan tidak terpengaruh oleh kondisi hidrasi seseorang. Oleh karena produksi kreatinin pada orang dalam keadaan aktif, yakni lebih kurang 1mg/menit pada orang dewasa. Nilai kreatinin dipengaruhi oleh usia, besar atau volume massa otot dan jenis kelamin. Pada orang yang berotot nilai kreatinin lebih
10

tinggi dan pada usia yang lebih tua, nilai kreatinin semakin meningkat. Nilai kreatinin juga lebih tinggi pada lelaki berbanding perempuan. Kenaikan nilai BUN atau ureum tidak spesifik, karena selai disebabkan oleh kelainan fungsi ginjal dapat juga disebabkan dehidrasi, asupan protein yang tinggi dan proses katabolisme yang meningkat seperti pada infeksi atau demam. Untuk memeriksa klirens kreatinin harus menampung urin selama 24 jam. Dengan memperhitungkan kreatinin serum, usia pasien, berat badan dan jenis kelamin, dapat menggunakan formula Cockroft dan Gault. 3. Elektrolit : Natrium, Kalsium, Fosfat Kadar natrium sering diperiksa pada pasien yang menjalani tindakan reseksi prostat transuretra (TURP). Selama TURP, banyak cairan (H20) yang masuk ke sirkulasi sistemik sehingga terjadi hiponatremia. Untuk itu sebelum TURP, perlu diperiksa kadar natrium sebagai bahan acuan jika selama operasi diduga terdapat hiponatremia. Pemeriksaan elektrolit lain berguna untuk mengetahu factor predisposisi pembetukan batu saluran kemih. 4. Faal hepar, faal pembekuan, profil lipid Pemeriksaan faal hepar ditujukan untuk mencari adanya metastasis suatu keganasan atau untuk melihat fungsi hepar secar umum. Pemeriksaan hemostasis sangat penting untuk pasien yang akan menjalani operasi. Pemeriksaan berkala profil lipid diperlukan untuk memonitor kemungkinan efek samping penggunaan terapi testosterone yang diberikan sebagi terapi sulih hormone pada pasien andropause.

5. Pemeriksaan penanda tumor (tumor marker)$ Pemeriksaan penanda tumor antara lain adalah PAP (prostatic acid phosphatase) dan PSA (prostate specific antigen) yang sering berguna untuk menegakkan diagnosis karsinoma prostat, AFP (-feto protein) dan human chorionic gonadotropin (-HCG) untuk mendeteksi adanya tumor testis jenis
11

non seminoma dan pemeriksaan VMA (Vanyl Mandelic Acid) dalam urin untuk mendeteksi tumor neuroblastoma.

C. Analisis semen pemeriksaan analisis semen dikerjakan pada pasien varikokel atau infertilitas pria untuk menegakkan diagnosis atau mengikuti perkembangan hasil pasca terapi atau pasca operasi infertilitas pria. Pada analisis disebutkan tantang volume ejakulat, jumlah sperma, motilitas dan morfologi sperma.

D. Analisis batu Batu yang telah dikeluarkan dari saluran kemih dilakukan analisis. Kegunaan analisis batu adalah untuk mengetahui jenis batu guna mencegah terjadinya kekambuhan di kemudian hari. Pencegahan dapat berupa pengaturan diet atau pemberian obat-obatan.

E. Kultur urin Pemeriksaan kultur urin diperiksa jika ada dugaan infeksi saluran kemih. Pada pria, urin yang diambil adalah sample urin porsi tengah (mid stream urine), pada wanita sebaiknya diambil melalui kateterisasi, sedangkan pada bayi dapat diambil dari aspirasi suprapubik atau melalui alat penampung urin. Jika didapatkan kuman dalam urin, dibiakkan di dalam medium tertentu untuk mencari jenis kuman dan sekaligus sensitivitas terhadap antibiotika yang diujikan.

F. Sitologi urin Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan sitopatologi sel urotelium yang terlepas dan terikut urin. Derajat perubahan sel diklasifikasikan dalam 5 kelas yaitu (1) normal, (2) sel yang mengalami

12

peradangan, (3) sel atipik, (4) diduga menjadi sel ganas dan (5) sel yang sudah mengalami perubahan morfologi menjadi sel ganas.

G. Histopatologi Pemeriksaan patologi anatomic yang diambil melalui biopsy jaringan ataupun melalui operasi. Pada pemeriksaan ini dapat menentukan suatu jaringan normal, mengalami proses inflamasi, pertumbuhan benigna atau terjadi pertumbuhan maligna. Selain itu pemeriksaan ini dapat menentukan stadium patologik serta derajat diferensiasi suatu keganasan.

PEMERIKSAAN RADIOLOGI (PENCITRAAN) A. Foto polos abdomen Foto polos abdomen atau KUB (kidney ureter bladder)adalah foto skrining untuk pemeriksaan kelainan urologi. Menurut Blandy, cara pembacaan foto yang sistematis harus memperhatikan 4S yaitu side (sisi), skeleton (tulang), soft tissues (jaringan lunak) dan stone (batu). Side : penempatan sisi kiri ditandai dengan adanya gas lambung, kanan terlihat bayangan hepar. Skeleton : perhatikan tulang-tulang vertebra, sacrum, kosta serta sendi sakro iliaka. Apakah terdapat kelainan bentuk tulang (kifosis,skoliosis,fraktur), densitas tulang. Soft tissue : Apakah terdapat pembesaran pada hepar, ginjal, buli-buli akibat retensi urin atau tumor buli-buli. Stone : perhatikan adanya bayangan opaque pada sistem urinaria.

B. Intravenous Urografi
13

Intravenous urografi (IVU)/ Intravenous pyelography (IVP) adalah foto yang dapat menggambarkan keadaan system urinaria melalui bahan kontras radio opak. Pencitraan ini dapat menunjukkan adanya kelainan anatomi dan kelainan fungsi ginjal dan saluran kemih. Bahan kontras yang biasa digunakan adalah yodium dengan dosis 300mg/kg berat badan atau 1ml/kg berat badan (sediaan komersial). Jika terdapat keterlambatan fungsi ginjal, pengambilan foto diulang setelah jam ke-2, jam ke-6 atau jam ke-12. Gambar 4. Foto IVP

Table 1. Tahapan pembacaan foto IVU/IVP MENIT URAIAN 0 5 15 30 60 Foto polos perut Melihat fungsi ekskresi ginjal. Pada ginjal normal sistem pelvikaliseal sudah tampak Kontras sudah mengisi ureter dan buli-buli Menilai jika terdapat perubahan posisi ginjal (ren mobilis) Melihat keseluruhan anatomi saluran kemih : filling defect, hidronefrosis dll. Pada buli-buli diperhatikan adanya identasi prostat, trabekulasi, penebalan otot detrusor dll
14

Pasca miksi

Menilai sisa kontras (residu urin) dan divertikel pada buli-buli

Perlu diwaspadai bahawa pemberian bahan kontras secara intravena dapat menimbulkan reaksi alergi berupa urtikaria, syok anafilaktik sampai timbulnya laringospasmus. Di samping itu, foto IVU tidak boleh dikerjakan pada pasien gagal ginjal karena pada keadaan ini bahan kontras tidak dapat diekskresi oleh ginjal dan dapat menyebabkan kerusakan ginjal lebih parah karena bersifat nefrotoksik.

C. Sistografi Sistografi adalah pencitraan buli-buli dengan memakai kontras. Melalui sistoskop/ kateter dimasukkan kontras pada vesica urinaria dan dapat menilai apakah terdapat filling defect, robekan buli-buli yang terlihat sebagai ekstravasasi kontras ke luar buli-buli, adanya divertikel.

D. Uretrografi Pencitraan uretra dengan memakai bahan kontras. Bahan kontras dimasukkan langsung malalui muara uretra eksterna melalui klem Broadny yang dijepitkan pada glans penis. Jika terdapat striktura akan tampak adanya penyempitan antau bahn kontras pada uretra, jika terdapat trauma akan tampak sebagai ekstravasasi kontras ke luar dinding uretra atau tumor pada uretra tampak sebgai filling defect. E. Pielografi retrograd (RPG) Pencitraan sistem urinaria bagian atas (ginjal hingga ureter) dengan memasukkan kontras radioopak melalui kateter ureter yang dimasukkan transuretra. Indikasi RPG adalah jika ada kontra indikasi IVU, IVU belum bisa menjelaskan keadaan ginjal maupun ureter.

15

F. Pielografi antegrad Adalah pencitraan sistem urinaria bagian atas dengan cara masukkan kontras melalui sistem saluran (kaliks) ginjal. Bahan kontras dimasukkan melalui kateter nefrostomi yang sebelumnya sudah terpasang, atau dapat pula dimasukkan melalui pungsi pada kaliks ginjal.

G. Ultrasonografi (USG) Prinsip USG menangkap gelombang bunyi ultra yang dipantulkan oleh organ (jaringan) yang berbeda kepadatan. USG dapat membedakan antara massa padat (hiperekoik) dengan massa kistus (hipoekoik), sedangkan batu non-opak yang tidak dapat dideteksi dengan foto rontgen akan terdeteksi oleh USG sebagai echoic shadow. Pemeriksaan pada ginjal dapat mendeteksi keadaan ginjal (hidronefrosis,kista,massa), sebagai penuntun saat melakukan pungsi ginjal atau pemeriksaan penyaring pada dugaan adanya trauma ginjal derajat ringan. Pada buli-buli dapat mendeteksi sisa urin pasca miksi, adanya batu atau tumor. Pada testis berguna untuk bedakan tumor dan hidrokel serta mendeteksi letak testis kriptorkid yang sulit diraba dengan palpasi. Pada keganasan dapat mengetahui adanya massa pada organ primer atau adanya metastasis pada hepar atau kelenjar para aorta. USG (colour) Doppler selain dapat menghasilkan pencitraan struktur organ, dapat juga ukur laju aliran darah.

H. Computed tomography (CT) CT adalah teknik pencitraan yang non-invasif serta visualisasi lebih baik berbanding USG. Pemeriksaan CT dapat memakai kontras ataupun tidak . pemberian kontras media dapat doberikan secara (1)per oral, ditujukan untuk member gambara saluran cerna dan (2)intravena untuk menilai struktur dan faal ginjal, kelenjar adrenal, system vaskuler.

16

Indikasi CT adalah kecurigaan adanya massa di ginjal, penderajatan keganasan urologi, abses, urinoma dan infeksi urogenitalia, kolik ureter/ginjal, cedera urogenitalia, kecurigaan kelainan di retroperitoneum/kelenjar adrenal.

I. Magnetic resonance imaging (MRI) MRI tidak menggunakan kontras yodium, namun berbasis pada perubahan medan magnet. Jadi MRI aman untuk pasien insufisiensi ginjal. Terdapat kontra indikasi MRI yaitu pasien yang memakai implan yang dapat mempengaruhi medan magnet (pacemaker jantung). MRI memberikan informasi lebih detail daripada CT.

J. Sintigrafi Dengan menyuntikkan bahan isotop (radioaktif), dapat dideteksi dengan alat kamera gama. Dengan menggunakan sintigrafi, dapat mengetahui faal dan anatomi ginjal pada pielonefritis kronis,mendiagnosis varikokel serta mencari metastasis karsinoma prostat pada tulang.

K. Angiografi Adalah pemeriksaan untuk mengetahui keadaan pembuluh darah dengan menggunakan kontras yang dimasukkan melalui kateter secara pungsi. Indikasi angiografi adalah dugaan stenosis a.renalis, malformasi vaskuler, embolisasi tumor untuk mengurangi perdarahan serta trauma ginjal.

17