Anda di halaman 1dari 2

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Laparoskopi Sebuah prosedur pembedahan minimal invasif dengan memasukkan gas CO2 ke rongga peritoneum untuk membuat ruang antara dinding depan perut dan rongga viscera sehingga memberikan akses endoskopi ke dalam rongga peritoniun tersebut. Pasien harus puasa 4-6 jam sebelumnya, dibuat banyak buang air besar agar ususnya mengempis. Sebelum puasa pasien diberikan makanan cair atau bubur, makanan yang mudah diserap, tapi rendah sisa, untuk mengurangi jumlah kotoran saluran cerna. Setelah pasien teranestesi, tindakan operasi pertama yang dilakukan adalah membuat sayatan di bawah lipatan pusar sepanjang 10 mm, kemudian jarum veres dimasukkan untuk memasukkan gas CO2 sampai batas kira-kira 12-15 cm HG. Dengan pemberian gas itu, perut pasien akan menggembung agar usus tertekan ke bawah dan menciptakan ruang di dalam perut. Setelah perut terisi gas CO2, alat trocar dimasukkan. Alat itu seperti pipa dengan klep untuk akses kamera dan alat-alat lain selama pembedahan. Melalui trocar inilah alat-alat seperti gunting, pisau ultrasonik dan kamera dimasukkan dan digerakkan. Dokter akan melihat organ-organ tubuh kita dan bagian yang perlu dibuang melalui kamera tersebut yang disalurkan ke monitor.

Biopsi jaringan gonad/ laparotomi gonad Mengidentifikasi jaringan ovarium, jaringan testis, ovotestis atau lapisan gonad untuk pemeriksaan histologi.

Skrining biokimia Pemeriksaan untuk bayi maskulinisasi simetris dengan gonad tidak teraba. USG pelvis Untuk mencari korpus uteri dan keadaan genital interna. MRI (Magnetic Resonance Imaging) Untuk menggambarkan keadaan kelenjar gonad secara anatomis. Genitografi Mengidentifikasi adanya vagina, kanalis uteri, dan tuba falopi

Panel biokimia

Mengidentifikasi adanya hambatan biosintesis testosteron.

Pielogram intravena Menjelaskan perkembangan saluran kencing dengan anomali yang tak diduga-duga. Pemeriksaan darah: Analis kromosom & DNA, pola kromosom XY adalah laki-laki dan pola kromosom XX adalah perempuan.
-

Hormonal, hormon pituitari dan hormon seks laki-laki, atau androgen, seperti testosteron.

Daftar Pustaka http://pediatrics-undip.com/journal/ambiguitas genitalita pada bayi baru lahir.pdf tanggal akses 25 april 2011 pukul 17.34