Anda di halaman 1dari 30

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penyakit cacingan merupakan salah satu penyakit yang belum sepenuhnya bisa ditanggulangi WHO memperkirakan paling sedikit dua milyar penduduk atau hampir sepertiga populasi dunia telah terkena infeksi soil-transmitted helminths. Di antaranya, 300 juta penduduk yang terinfeksi menderita penyakit yang berat dan sekitar 400 juta anak usia sekolah di seluruh dunia pertumbuhan yang mendapat infeksi tersebut mengalami masalah fisik dan perkembangan intelektual seperti penurunan

konsentrasi, ketidakmampuan belajar, dan tingginya angka kegagalan sekolah (WHO, 2006). Infeksi nematoda gastrointestinal / usus merupakan penyakit infeksi yang paling umum diseluruh dunia. Sekitar 125.000 kematian terjadi per tahun, dan ini terutama disebabkan oleh infeksi cacing tambang, Ancylostoma duodenale dan Necator americanus, atau cacing gelang, cacing Ascaris lumbricoides (Stepek et.al, 2006). Di Indonesia prevalensi kecacingan masih tinggi antara 60% 90 % tergantung pada lokasi dan sanitasi lingkungan. Hasil penelitian pada murid Sekolah Dasar di daerah Jakarta Pusat ternyata prevalensi askariasis sebesar 66,67% dan trikuriasis 61,12% sedangkan infeksi campuran 45,56% (Mardiana dan Djarismawati, 2008).

Manusia merupakan hospes beberapa nematode usus, sebagian besar nematode ini menyebabkan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Meskipun penyakit cacingan tidak mematikan, namun cacingan bisa menurunkan kualitas hidup penderitanya, bahkan mengakibatkan anemia dan kebodohan. Sekitar 40 hingga 60 persen penduduk Indonesia menderita cacingan, hal ini juga tidak terlepas dari meningkatnya minat masyarakat untuk memelihara hewan kesayangan (Widiyastuti, 2002). Nematoda mempunyai jumlah spesies yang terbesar diantara cacingcacing yang hidup sebagai parasit. Nematoda terdiri dari beberapa spesies, yang banyak ditemukan didaerah tropis dan tersebar diseluruh dunia. Diantara nematoda usus terdapat sejumlah spesies yang penting bagi manusia karena dapat menularkan penyakit, diantaranya Ascaris lumbricoides, cacing tambang (Necator americanus, Ancylostoma duodenale), Trichuris trichiura,

Strongyloides stercoralis, Trichinella spiralis, Enterobius Vermicularis (Gandahusada, 2006).

B. Tujuan 1. Mengetahui pengertian nematoda usus 2. Mengetahui taksonomi dari golongan nematoda Usus 3. Mengetahui morfologi dari golongan nematoda Usus 4. Mengetahui siklus hidup dari nematoda Usus 5. Mengetahui patologi dari nematoda Usus 6. Mengetahui cara pencegahan dan pengendalian nematoda usus 7. Mengetahui epidemiologi dari nematoda Usus

BAB II PEMBAHASAN

Nematoda usus adalah cacing yang hidup dalam usus manusia dan hewan, Seluruh spesies cacing ini berbentuk silindrik (gilig), memanjang dan bilateral simetris. cacing-cacing ini berbeda-beda dalam habitat, siklus hidup dan hubungan hospes-habitat (host-parasite relationship). Cacing ini bersifat uniseksual sehingga ada jenis jantan dan betina (Unggowaluyo, 2002). Menurut Gandahusada (2006), Diantara nematoda usus terdapat sejumlah spesies yang penting bagi manusia karena dapat menularkan penyakit yaitu: A. Ascaris lumbriciodes 1. Taksonomi (Klasifikasi) Phylum Kelas Ordo Family Genus Species 2. Hospes Manusia merupakan satu-satunya hospes Ascaris lumbricoides. Di manusia, larva Ascaris akan serta berkembang akhirnya menjadi dewasa dan yang : Nematoda : Secernentea : Ascaridida : Ascarididae : Ascaris : Ascaris lumbricoides

mengadakan

kopulasi

bertelur.

Penyakit

disebabkannnya disebut Askariasis. Askariasis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing gelang Ascaris lumbricoides, yang

merupakan penyakit kedua terbesar yang disebabkan oleh makhluk parasit. Penyakit ini sifatnya kosmopolit, terdapat hampir di seluruh dunia. Prevalensi askariasis sekitar 70-80%. 3. Morfologi

Cacing jantan berukuran sekitar 10-30 cm, sedangkan betina sekitar 22-35 cm. Pada cacing jantan ditemukan spikula atau bagian seperti untaian rambut di ujung ekornya (posterior). Pada cacing betina, pada sepertiga depan terdapat bagian yang disebut cincin atau gelang kopulasi. Stadium dewasa cacing ini hidup di rongga usus muda. Cacing dewasa hidup pada usus manusia. Seekor cacing betina dapat bertelur hingga sekitar 200.000 telur per harinya. Telur yang telah dibuahi berukuran 60 x 45 mikron. Sedangkan telur yang tak dibuahi, bentuknya lebih besar sekitar 90 x 40 mikron. Telur yang telah dibuahi inilah yang dapat menginfeksi manusia. Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu 3 minggu.

4. Siklus Hidup

Keterangan gambar : Usus manusia > Cacing > Telur Cacing > Keluar bersama feses > Tersebar > Menempel pada makanan > Termakan > Menetas > Larva > Menembus Usus > Aliran Darah > Jantung > Paru-Paru > Kerongkongan > Tertelan > Usus Manusia > Cacing Dewasa

Cacing Stadium dewasa hidup di usus muda. Seekor cacing betina dapat bertelur sebanyak 100.000-200.000 butir sehari, terdiri dari telur yang dibuahi dan telur yang tidak dibuahi. Dalam lingkungan yang sesuai telur yang dibuahi akan berubah menjadi bentuk infektif dalam kurun waktu 3 minggu. Apabila tertelan oleh manusia dan menetes di usus halus, maka larvanya dapat menembus dinding usus halus dan menuju pembuluh darah. Atau saluran limfe., lalu dialirkan ke jantung, kemudian mengikuti aliran darah ke paru, larva di paru menembus dinding pembuluh darah, lalu dinding alveolus, masuk rongga alveolus kemudian naik ke trakea melalui bronkus dan bronkeolus. Larva yang berada di trakea kemudian menuju ke faring sehingga menimbulkan rangsangan pada faring. Penderita batuk karena rangsangan ini dan larva akan tertelan ke esophagus kemudian menuju usus halus. Di

usus halus, larva berubah menjadi cacing dewasa, sejak telur matang, tertelan sampai cacing dewasa bertelur dibutuhkan waktu kurang lebih 2 bulan. 5. Patologi Gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan cacing dewasa dan larva, biasanya terjadi pada saat berada diparu-paru. Gangguan yang disebabkan cacing dewasa biasanya ringan. Kadang-kadang penderita mengalami gejala gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare atau konstipasi. Efek yang serius terjadi bila cacing cacing menggumpal dalam usus sehingga terjadi obstruksi usus (ileus). Pada keadaan tertentu cacing dewasa mengembara ke saluran empedu, apendiks atau ke bronkus dan menimbulkan keadaan gawat darurat sehingga kadang-kadang perlu tindakan operatif. Penyakit yang disebabkan adanya Ascaris lumbricoides tergantung pada lokasi yang diinvasi cacing tersebut yaitu: 1) Encephalitis dan meningitis : dugaan mungkin larva cacing tersebut masuk ke otak. 2) Pancreatitis hemoragik : cacing tersebut menyumpat ampulla vateri. 3) Peritionitis : cacing tersebut menembus usus dan sampai ke rongga peritoneum.

6. Pencegahan

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah adanya penyakit akibat infeksi Ascaris lumbricoides dapat dilakukan dengan cara : a. Hendaknya pembuangan tinja (feces) pada W.C yang baik. b. Pemeliharaan kebersihan perorangan dan lingkungan. c. Penerangan melalui sekolah, organisasi kemasyarakatan oleh guruguru dan pekerja-pekerja kesehatan. d. Hendaknya jangan menggunakan faces sebagai pupuk kecuali sudah dicampur dengan zat kimia tertentu. 7. Epidemiologi Prevalensi Ascariasis di Indonesia cukup tinggi, terutama apaada anak-anak, frekuensinya antara 60-90%, hal tersebut disebabkan oleh pemakaian jamban keluarga yang menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja disekitar rumah sehingga memudahkan terjadinya reinfeksi. Telur Ascaris lumbricoides berkembang sangat baik pada tanah liat yang memiliki kelembapan tinggi dan pada suhu 25 - 30 C. Pada kondisi ini, telur tumbuh menjadi bentuk infektif (mengandung larva) dalam waktu 23 minggu. Kebiasaan menggunakan tinja sebaagai pupuk juga ikut

memperparah angka ascariasis di Indonesia. Anjuran mencuci tangan sebelum makan, menggunting kuku secara teratur, pemakaian jamban keluarga serta pemeliharaan kesehatan pribadi dan lingkungan dapat mencegah terjadinya ascariasis.

B. Cacing Tambang Ada beberapa spesies cacing tambang yang penting bagi manusia, dintaranya, Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. 1. Klasifikasi Necator americanus Phylum Class Subclass Ordo Super famili Genus Species : Nemathelminthes : Nematoda : Adenophorea : Enoplida : Rhabditoidea : Necator : Necator americanus

Klasifikasi Ancylostoma duodenale Phylum Class Subclass Ordo : Nemathelminthes : Nematoda : Secernemtea :Rhabditida

Super family :Rhabditoidea Genus Species : Ancylostoma : Ancylostoma duodenale

2. Morfologi

Cacing betina N.americanus tiap hari mengeluarkan telur kira-kira sekitar 9000 butir, sedangkan A.deudenale kira-kira 10.000 butir. Cacing betina berukuran panjang kurang lebih 1 cm, cacing jantan 0,8 cm. Bentuk badan N.americanus biasanya menyerupai huruf S, sedangkan

A.duodenale menyerupai huruf C. Rongga mulut kedua jenis cacing ini besar. N.americanus mempunyai benda kitin, sedangkan pada A.duodenale ada dua pasang gigi. Cacing jantan mempunyai bursa kopulatrik. Telur dikeluarkan dengan tinja dan setelah menetas dalam waktu 11,5 hari, kelurlah larva rabditiform. Dalam waktu kira-kira 3 hari larva rabditiform tumbuh menjadi larva filoariform, yang dapat menembus kulit dan dapat hidup dalam 7-8 minggu di tanah. Telur cacing tambang yang besarnya kira-kira 60x40 mikron, berbentuk bujur dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnya terdapat beberapa sel. Larva rabditiform panjangnya kira-kira 250 mikron, sedangkan larva filariform panjangnya kira-kira 600 mikron.

3. Siklus Hidup

Keterangan Gambar : Telur > Larva rabditiform > Larva filariform > menembus kulit > kapiler darah > jantung kanan > paru > bronkus > trakea > laring > usus halus

Siklus hidup Necator americanus yaitu, telur dikeluarkan dengan tinja kemudian menetas setelah 1-15 hari, keluarlah larva rabditiform yang dapata berubah menjadi larva filariform dalam waktu 3 hari yang dapat menembus kulit dan dapat hidup selama 7-8 minggu di tanah. Setelah menembus kulit, larva filariform kemudian menembus kapiler darah, menuju jantung kanan, paru, pronkus, trakea, dan laring. Dari laring, larva ikut tertelan dan masuk ke dalam usus halus dan menjadi cacing dewasa. Infeksi terjadi bila larva filariform menembus kulit atau ikut tertelan bersama makanan.

4. Patologi Gejala nekatoriasis dan ankilostomiasis bila banyak larva filariform sekaligus menembus kulit, maka terjadi perubahan kulit yang

disebut ground itch. Perubahan pada paru biasanya ringan kemudian stadium dewasa Gejala tergantung pada : 1) Spesies dan jumlah cacingan 2) keadaan gizi menderita (Fe dan protein) Tiap cacing N.americanus menyebabkan banyak kehilangan darah 0,005 0,1 cc sehari, sedangkan A.duodenale 0,08-0,34 cc. Biasanya terjadi Adenmia hipokrom mikrosita. Di samping itu juga terdapat eosinofilia. Bukti adanya toksin yang menyebabkan anemia belum ada. Biasanya tidak menyebabkan kematian tetapi daya tahan berkurang dan prestasi kerja turun. 5. Epidemiologi Insiden tinggi ditemukan pada penduduk di Indonesia terutama di pedesaan khususnya di perkebunan. Seringkali golongan pekerja perkebunan yang langsung behubungan dengan tanah mendapat infeksi lebih dari 70%. Kebiasaan defeksi dan pemakaian tinja sebagai pupuk kebun penting dalam penyebaran infeksi. Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva adalah tanah gembur (pasir, humus) dengan suhu optimal untuk N.americanus 28-32 C, sedangkan untuk A.duodenale 23-25 C. Untuk menghindari infeksi salah satu antara lain, dengan memakai alas kaki (sepatu, sandal).

C. Trichuris trichiura 1. Klasifikasi Trichuris trichiura

Phylum Class Subclass Ordo

: Nemathelminthes : Nematoda : Adenophorea : Enoplida

Super family : Ttichinelloidea Genus Species 2. Hospes Manusia merupakan hospes cacing ini. Penyakit yang : Trichuris : Trichuris trichiura

disebabkannya disebut Trikuriasis. Cacing ini lebih sering ditemukan bersama-sama Ascaris lumbricoides. Cacing dewasa hidup di dalam usus besar manusia, terutama di daerah sekum dan kolon. Cacing ini juga kadang-kadang ditemukan di apendiks dan ileum (bagian usus palaing bawah). Bagian distal penyakit yang disebabkan cacing ini disebut Trikuriasis (Margono, 2001). 3. Morfologi

Cacing betina panjangnya kira-kira 5 cm, sedangkan cacing jantan kira-kira 4 cm. Bagian anterior langsing seperti cambuk, panjangnya kirakira 3/5 dari panjang seluruh tubuh. Bagian posterior bentuknya lebih

gemuk, pada cacing betina bentuknys membulat tumpul dan pada cacing jantan melingkar dan terdapat satu spikulum. Telur berukuran 50 54 mikron x 32 mikron, berbentuk seperti tempayan dengan semacam penonjolan yang jernih pada kedua kutub. Kulit telur bagian luar berwarna kuning-kekuningan dan bagian dalamnya jernih. Telur berisi sel telur (dalam tinja segar) (Margono, 2001) 4. Siklus Hidup

Keterangan Gambar : Cacing dewasa hidup di usus besar manusia > telur keluar bersama tinja penderita > di tanah telur menjadi infektif > infeksi terjadi melalui mulut dengan masuknya telur infektif bersama makanan yang tercemar atau tangan yang kotor. Masa pertumbuhan mulai dari telur yang tertelan sampai cacing dewasa betina melatakkan telur kira-kira 30-90 hari. Telur yang dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja. Telur tersebut menjadi matang, yaitu telur yang berisi larva dan merupakan bentuk infektif, dalam waktu 3 samapai 6 minggu dalam lingkungan yang lembab dan tempat yang teduh. Cara infektif secara langsung bila kebetulan hospes menelan telur matang. Larva keluar melalui dinding telur dan masuk ke dalam usus halus.

Sesudah dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan masuk ke daerah kolon, terutama sekum. Jadi cacing ini tidak mempunyai siklus paru (Margono, 2001). 5. Patologi Cacing Trichuris pada manusia terutama hidup di sekum, akan tetapi dapat juga ditemukan di kolon asendens. Pada infeksi berat terutama pada anak, cacing ini tersebar di seluruh kolon dan rektum. Kadangkadang terlihat di mukrosa rektum yang mengalami prolapsus akibat mengejannya penderita pada waktu defekasi. Cacing ini memasukan kepalanya ke dalam mukosa usus, hingga terjadi trauma yang menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus. Pada tempat perlekatannya terjadi pendarahan. Cacing Trichuris juga menghisap darah hospesnya, sehingga dapat menyebabkan anemia. Penderita terutama anak dengan infeksi Trichuris yang berat dan menahun, menunjukan gajala-gejala nyata seperti diare yang sering diselingi dengan sindrom disehuris yang berat dan menahun, menunjukan gajala-gejala nyata seperti diare yang sering diselingi dengan sindrom disentri, anemia, berat badan turun dan kadang-kadang disertai prolapsus rektum. Infeksi berat Trichuris trichiura sering disertai dengan infeksi cacing lainnya atau protozoa. Infeksi ringan biasanya tidak memberikan gejala klinis jelas atau sma sekali tanpa gejala, parasit ini ditemukan pada tinja secara rutin (Margono, 2001).

6. Epidemiologi Yang penting untuk penyebaran, penyakit adalah kontaminasi tanah dengan tinja. Telur tumbuh di tanah liat, tempat lembab dan teduh dengan suhu optimum kira-kira 30C. Di berbagai negeri pemakaian tinja sebagai pupuk kebun merupakan sumber infeksi. Frkuensi di Indonesia tinggi. Di beberapa daerah pedesaan di Indonesia frekuensinya berkisar antara 30 90 %. Di daerah yang sangat endemik infeksi dapat dicegah pengobatan penderita trikuriasis,

pembuatan jamban yang baik dan pendidikan tentang sanitasi dan kebersihan perorangan, terutama anak. Mencuci tangan sebelum makan, mencicu dengan baik sayuran yang dimakan mentah adalah penting apalagi di negeri-negeri yang memakai tinja sebagai pupuk.

D. Strongyloides stercoralis 1. Klasifikasi Phylum Class Subclass Ordo Super famili Genus Species : Nemathelminthes : Nematoda : Adenophorea : Enoplida : Rhabiditoidea : Strongyloides : Strongyloides stercoralis

2. Hospes Manusia merupakan hospes utama cacing ini, walaupun ada yang ditemukan pada hewan. Cacing ini tidak mempunyai hospes perantara.Cacing ini dapat mengakibatkan penyakit strongilodiasis. 3. Morfologi

Cacing dewasa betina hidup sebagai parasit di vilus duodenum dan yeyunum. Cacing betina berbentuk filiform, halus, tidak berwarna dan panjangnya kira-kira 2mm dengan kedua ujungnya runcing. Cara berkembang biaknya adalah secara parthenogenesis. Cacing jantan ukuranya lebih besar. Saluran pencernaan terdiri dari kapsul bukal kecil, esophagus panjang memanjang melalui pertigaan anterior tubuh,dan usus yang tipis. Telur bentuk parasitic diletakkan di mukosa usus, kemudian menetas menjadi larva rabditiform yang masuk ke rongga usus serta dikeluarkan bersama tinja.

4. Siklus Hidup

Parasit ini mempunyai tiga siklus hidup yaitu Autoinfeksi, siklus langsung dan siklus tidak langsung. a. Autoinfeksi Telur menetas menjadi larva rabditiform di dalam mukosa usus -> di dalam usus larva rabditiform tumbuh menjadi larva filariform -> larva filariform menembus mukosa usus, tumbuh menjadi cacing dewasa. b. Siklus Langsung Sesudah 2 3 hari di tanah, larva rabditiform, berubah menjadi larva filaform dengan bentuk langsing.Bila larva ini menembus kulit manusia, larva tumbuh,masuk ke dalam peredaran darah veha kemudian melalui jantung sampai ke paru-paru. Dari paru, parasit yang mulai

dewasa,menembus alveolus, masuk ke trakea dan laring.Sesudah sampai di laring,tarjadi refleks batuk, sehingga parasit tertelan, kemudian sampai di usus halus dan menjadi dewasa. c. Siklus Tidak Langsung

Pada siklus ini, larva rabditiform di tanah berubah menjadi cacing jantan dan betina.Cacing betina berukuran 1mm x 0,06mm, dan yang jantan berukuran 0,75 mm x 0.04 mm. Cacing betina mengalami pembuahan dan menghasilkan larva rabditiform yang kemudian menjadi larva filaform. Larva ini masuk ke dalam hospes baru. Siklus tidak langsung ini terjadi apabila lingkungan sekitarnya optimum yaitu sesuai dengan keadaan yang dibutuhkan untuk kehidupan bebas parasit ini, misalnya di negeri-negeri tropik beriklim rendah. 5. Patologi Gejala Klinis muncul apabila larva filaform ini menembus kulit, timbul kelainan kulit yang dinamakan creeping eruption yang disertai dengan rasa gatal yang hebat. Cacing dewasa menyebabkan kelainan pada mukosa usus muda.Infeksi ringan pada umumnya tidak menimbulkan gejala. Sedangkan pada infeksi sedang, dapat menyebabkan rasa sakit, di daerah epigastrium tengah dan tidak menjalar. Mungkin ada mual dan muntah,diare dan konstipasi yang saling bergantian.Pada cacing dewasa yang hidup sebagai parasit, dapat ditemukan di seluruh traktus digestivus dan larvanya dapat ditemukan di bebagai alat dalam. 6. Epidemiologi Daerah yang panas, kelembapan tinggi dan sanitasi yang kurang, sanagt menguntungkan cacing Strongyloides. Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva yaitu, tanah gembur, berpasir dan humus. Frekuensi di Jakarta pada tahun 1956, sekitar 10-15%, sekarang jarang ditemukan. Pencegahan yang disebabkan cacing ini, tergantung pada sanitasi pembuangan

tinja dan melindungi kulit dari tanah yang terkontanimasi, misalnya dengan memakai alas kaki. E. Trichinella spiralis 1. Klasifikasi Phylum Class Subclass Ordo Super famili Genus Species : Nemathelminthes : Nematoda : Adenophorea : Enoplida : Ttichinelloidea : Trichinella : Trichinella spiralis

2. Hospes Cacing ini hidup dalam mukosa duodenum, sampai sekum manusia. Selain menginfeksi manusia, cacing ini juga menginfeksi mamalia lain, seperti tikus, kucing, anjing, babi, beruang, dll. Penyakit yang disebabkan parasit ini disebut trikinosis, trikinelosis, dan trikiniasis. 3. Morfologi

Cacing dewasa sangat halus menyerupai rambut, ujung anterior langsing, mulut kecil, dan bulat tanpa papel. Cacing jantan panjangnya 1,4-1,6 mm, ujung posteriornya melengkung ke ventral dan mempunyai umbai berbentuk lobus, tidak mempunyai spikulum tepi. Dan tidak terdapat vas deferens yang bisa dikeluarkan sehingga dapat membantu kopulasi. Cacing betina panjangnya 3-4 mm, posteriornya membulat dan tumpul. Cacing betina tidak mengeluarkan telur, tetapi mengeluarkan larva (larvipar). Seekor cacing betina mengeluarkan larva sampai 1500 buah. Panjang larva yang baru dikeluarkan kurang lebih 80-120 mikron, bagian anterior runcing dan ujungnya menyerupai tombak.

4. Siklus Hidup

Siklus hidup alami yang terjadi antara babi dan tikus > babi mengandung kista yang infektif > manusia terinfeksi olh karena makan

daging babi atau mamamlia lain yang mengandung kista > cacing dewasa hidup di dalam dinding usus > larva membentuk kista di dalam otot bergaris. 5. Patologi Gejala Trikinosis tergantung pada beratnya infeksi disebabkan oleh cacing stadium dewasa dan stadium larva. Pada saat cacing dewasa mengadakan invasi ke mukosa usus, timbul gejal usus seperti sakit perut diare, mual dan muntah. Masa tunas gejala usus ini kira-kira 1-2 hari sesudah infeksi. Larva tersebar di otot kira-kira 7-28 hari sesudah infeksi. Pada saat ini timbul gejal nyeri otot (mialgia) dan randang otot (miositis) yang disertai demem, eusinofilia dan hipereosinofilia. Gejala yang disebakan oleh stadium larva tergantung juga pada alat yang dihinggapi misalnya, dapat menyebabkan sembab sekitar mata, sakit persendian, gejala pernafasan dan kelemahan umum. Dapat juga menyebabkan gejala akibat kelainan jantung dan susunan saraf pusat bila larva T.spiralis tersebar di alat-alat tersebut. Bila masa akut telah lalu, biasanya penderita sembuh secara perlahan-lahan bersamaan dengan dibentuknya kista dalam otot. Pada infeksi berat (kira-kira 5.000 ekor larva/kg berat badan) penderita mungkin meninggal dalam waktu 2-3 minggu, tetapi biasanya kematian terjadi dalam waktu 4-8 minggu sebagai akibat kelainan paru, kelainan otak, atau kelainan jantung.

6. Epidemiologi

Cacing ini tersebar di seluruh dunia (kosmopolit), kecuali di kepulauan Pasifik dan Australia. Frekuensi trikinosis pada manusia ditentukan oleh temuan larva dalam kista di mayat atau melalui tes intrakutan. Frekuensi ini banyak ditemukan di negara yang penduduknya gemar makan daging babi. Di daerah tropis dan subtropis frekuensi trikinosis sedikit. Infeksi pada manusia tergantung pada hilang atau tidak hilangnya penyakit ini dari babi. Larva dapat dimatikan pada suhu 60-70 derajat celcius, larva tidak mati pada daging yang diasap dan diasin.

F. Enterobius vermicularis 1. Klasifikasi Phylum Class Ordo Super famili Genus Species 2. Hospes Manusia adalah satu-satunya hospes dan penyakitnya disebut enterobiasis atau oksiuriasis. 3. Morfologi :Nematoda : Phasmidhia : Rabditida : Oxyuridae : Enterobius : Enterobius vermicularis

Cacing betina berukuran 8-13 mm x 0,4 mm. pada ujung anterior ada pelebaran kutikulum seperti sayap yang disebut alae. Bulbus esophagus jelas sekali, ekornya panjang dan runcing. Uterus cacing yang gravid melebar dan penuh dengan telur. Cacing jantan berukuran 2-5 mm, juga mempunyai sayap dan ekornya melingkar sehingga bentuknya seperti tanda Tanya (?), spikulum pada ekor jarang ditemukan. Habitat cacing dewasa biasanya di rongga sekum, usus besar dan di usus halus yang berdekatan dengan rongga sekum makanannya adalah isi dari usus.

4. Siklus hidup

Cacing betina yang gravid mengandung 11.000-15.000 butir telur, bermigrasi ke daerah perianal untuk bertelur dengan cara kontraksi uterus dan vaginanya. Telur-telur jarang dikeluarkan diusus, sehingga jarang ditemukan di tinja. Telur berbentuk lonjong dan lebih datar pada satu sisi (asimetrik). Telur menjadi matang dalam waktu kira-kira 6jam setelah dikeluarkan, pada suhu badan. Telur resisten terhadap desinfektan dan udara dingin. Dalam keadaan lembab telur dapat hidup sampai 13 hari. Kopulasi cacing jantan dan betina mungkin terjadi di sekum. Cacing jantan mati setelah kopulasi dan cacing betina mati setelah bertelur. Infeksi cacing kremi terjadi bila menelan telur matang, atau bila larva dari telur yang menetas di daerah perianal bermigrasi kembali ke usus besar. Bila telur matang yang tertelan, telur menetas duodenum dan larva rabditiform berubah dua kali sebelum menjadi dewasa di yeyunum dan bagian atas ileum. Waktu yang diperlukan untuk daur hidupnya, mulai dari tertelannya telur matang sampai menjadi cacing dewasa gravid yang bermigrasi ke daerah perianal, berlangsung kira-kira 2 minggu sampai 2 bulan. Mungkin daurnya hanya berlangsung kira-kira 1 bulan karena telurtelur cacing dapat ditemukan kembali pada anus paling cepat 5 minggu sesudah pengobatan. Infeksi cacing kremi dapat sembuh sendiri (self

limited). Bila tidak ada reinfeksi, tanpa pengobatanpun infeksi dapat berakhir. 5. Patologi

Pada infeksi ringan tidak menimbulkan gejala dan sering diabaikan. Tetapi bila terjadi infeksi berat dan sejumlah besar cacing berada da;am usus akan menimbulkan gejala serius. Sehingga patogenesis dapat menyebabkan dua aspek yaitu: a. Kerusakan disebabkan oleh cacing dalam intestinum b. Kerusakan disebabkan oleh deposit telur cacing disekitar anus. Timbulnya kerusakan pada mukosa intestinal karena perlekatan dengan cacing dewasa menyebabkan pembengkakan ringan dan

menyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri. Pergerakan cacing betina keluar dari anus dan melepaskan telur, terutama bila penderita sedang tidur, menyebabkan gatal sekitar anus, sehingga penderita menggaruknya. Garukan tersebut dapat menimbulkan luka berdarah sehingga timbul infeksi sekunder oleh bakteri. Rasa gatal pada usus tersebut menyebabkan pasien menjadi merasa tidak nyaman. Sering dijumpai cacing bergerak masuk kedalam vulva (pada wanita), dan cacing tersebut tinggal beberapa hari di lokasi tersebut sehingga menyebabkan iritasi ringan. Beberapa kasus dilaporkan cacing bergerak keatas masuk vagina, uterus dan sampai oviduct menerobos terus membentuk cysta di peritoneum. Anak yang terinfeksi berat oleh cacing ini menyebabkan nervous, gelisah dan iritasi sehingga megakibatkan anoreksia, kurus, tidak bisa tidur dan kesakitan pada lokasi sekitar anus.
6. Epidemiologi

Penyebaran cacing kremi lebih luas daripada cacing lain. Penularan dapat terjadi pada suatu keluarga atau kelompok-kelompok yang hidup dalam satu lingkungan yang sama (asrama, rumah piatu). Telur cacing dapat diisolasi dari debu ruangan sekolah atau kafetaria sekolah dan mungkin ini menjadi sumber infeksi bagi anak-anak sekolah. Di berbagai rumah tangga dengan beberapa anggota keluarga yang mengandung cacing kremi, telur cacing dapat ditemukan (92%) di lantai, meja, kursi, buffet, tempat duduk kakus (toilet seats), bak mandi, alat kasur, pakaian dan tilam. Hasil penelitian menunjukan angka prevalensi pada berbagai golongan manusia 3%-80%. Penelitian di daerah Jakarta Timur melaporkan bahwa kelompok usia terbanyak yang menderita enterobiasis adalah kelompok usia antara 5-9 tahun yaitu terdapat 46 anak (54,1%) dari 85 anak yang diperiksa. Penularan dapat dipengaruhi oleh : a. Penularan dari tangan ke mulut sesudah menggaruk daerah perianal (auto-infeksi) atau tangan dapat menyebarkan telur kepada orang lain maupun kepada diri sendiri karena memegang benda-benda maupun pakaian yang terkontaminasi. b. Debu merupakan sumber infeksi oleh karena mudah diterbangkan oleh angin sehingga telur melalui debu dapat tertelan. c. Retrofeksi melalui anus larva dari telur yang menetas di sekitar anus kembali masuk ke usus. Anjing dan kucing bukan mengandung cacing kremi tetapi dapat menjadi sumber infeksi oleh karena telur dapat menempel pada bulunya.

Frekuensi di Indonesia tinggi, terutama pada anak dan lebih banyak ditemukan pada golongan ekonomi lemah. Frekuensi pada orang kulit putih lebih tinggi dari pada orang negro. Kebersihan perorangan penting untuk pencegahan. Kuku hendaknya selalu dipotong pendek, tangan dicuci bersih sebelum makan. Anak yang mengandung cacing kremi sebaiknya memakai celana panjang jika hendak tidur supaya alas kasur tidak terkontaminasi dan tangan tidak dapat menggaruk daerah perianal. Makanan hendaknya dihindarkan dari debu dan tangan yang mengandung parasit. Pakaian dan alas kasur hendaknya dicuci bersih dan diganti setiap hari.

BAB III PENUTUP

Nematoda usus adalah cacing yang hidup dalam usus manusia dan hewan, Seluruh spesies cacing ini berbentuk silindrik (gilig), memanjang dan bilateral simetris. cacing-cacing ini berbeda-beda dalam habitat, siklus hidup dan hubungan hospes-habitat (host-parasite relationship). Cacing ini bersifat uniseksual sehingga ada jenis jantan dan betina. Nematoda terdiri dari beberapa spesies, yang banyak ditemukan didaerah tropis dan tersebar diseluruh dunia. Diantara nematoda usus terdapat sejumlah spesies yang penting bagi manusia karena dapat menularkan penyakit, diantaranya

Ascaris lumbricoides, cacing tambang (Necator americanus, Ancylostoma duodenale), Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis, Trichinella spiralis, Enterobius Vermicularis

DAFTAR PUSTAKA

Gandahusada, Srisasi, 2006, Parasitologi Kedokteran Edisi Ketiga, Balai Penerbit FKUI, Jakarta Margono, 2001.Result of a control program on soil transmitted helminthiases in primary school of as Jakarta. Second International Congress of Parasitology and tropical medicine, Kualalumpur, Malaysia. Onggowaluyo, J.S. 2002. Parasitologi Medik I. Penertbit Buku Kedokteran, Jakarta Widyastuti, Retno, 2002, Parasitologi, Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, Jakarta World Health Organization. 2006. The World Health Report. diakses tanggal 9 Maret 2012

TUGAS TERSTRUKTUR MATA KULIAH PARASITOLOGI NEMATODA USUS

Disusun oleh : Eko Sugiyono Angelia Ratri A. P Aisyah Kurniati Akbar Ciputra G1B007088 G1B008104 G1B008118 G1B009079

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KESEHATAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT PURWOKERTO 2012