Anda di halaman 1dari 4

Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence SQ)

Falsafah Pendidikan Kebangsaan

Pendidikan

di

Malaysia

adalah

suatu

usaha

berterusan

ke

arah

lebih

memperkembangkan potensi individu secara menyeluruh dan bersepadu untuk melahirkan insan yang seimbang dan harmonis dari segi intelek, rohani, emosi dan jasmani berdasarkan kepercayaan dan kepatuhan kepada tuhan.

Usaha ini adalah bertujuan untuk melahirkan warganegara Malaysia yang berilmu pengetahuan, berketerampilan, berakhlak mulia, bertanggungjawab dan berkeupayaan mencapai kesejahteraan diri serta memberi sumbangan terhadap keharmonian dan kemakmuran keluarga, masyarakat dan negara.

Kecerdasan spiritual / rohani merupakan salah satu elemen dalam Falsafah Pendidikan Kebangsaan. Maksud spiritual menurut kamus dewan ialah bersifat rohani atau jiwa (bukan bersifat fizikal).

Berdasarkan pada beberapa ahli psikologi ( Sigmund Freud,C.G. Jung ), neurologi ( Persinger, Ramachandran ) dan filosof ( Daniel Dennett,Rene Descartes ). Kecerdasan Spiritual disimbolkan sebagai Teratai Diri yang menggabungkan tiga kecerdasan dasar manusia ( rasional, emosional, dan spiritual ), tiga pemikiran ( seri, asosiatif, dan penyatu), tiga jalan dasar pengetahuan ( primer, sekunder, dan tertier ) dan tiga tingkatan diri ( pusat transpersonal,tengah-asosiatif & interpersonal, dan pinggiran-ego personal). Dengan demikian SQ berkaitan dengan unsur pusat dari

bahagian diri manusia yang paling dalam menjadi pemersatu seluruh bagian diri manusia lain. Dari berbagai definisi Spiritual Quotient diatas, dapat kita ketahui bahwa Spiritual Quotient atau kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang sudah ada dalam setiap manusia sejak lahir yang membuat manusia menjalani hidup ini dengan penuh makna, selalu mendengarkan suara hati nuraninya, dan tidak pernah merasa sia-sia, semua yang dijalaninya selalu bernilai. Jadi, SQ dapat membantu seseorang untuk membangun dirinya secara menyeluruh. Semua yang dijalaninya tidak hanya berdasarkan proses berfikir sahaja tetapi juga menggunakan hati nurani. Kerana hati nurani adalah pusat kecerdasan spiritual. Dalam konteks itulah, hati menjadi elemen penting dalam kecerdasan spiritual. Bahkan, pekik kecerdasan spiritual justeru terletak pada suara hati nurani. Inilah suara yang relatif jernih dalam hiruk-pikuk kehidupan kita, yang tidak boleh ditipu oleh siapapun, termasuk diri kita sendiri. Kebenaran sejati, sebenarnya lebih terletak pada pada suara hati nurani, yang menjadi pekik sejati kecerdasan spiritual (SQ). kerananya, kecerdasan spiritual (SQ) menyingkap kebenaran sejati yang lebih sering tersembunyi di tengah adegan-adegan hidup yang serba palsu dan menipu.

Meraih Kecerdasan spiritual Menurut Muhamad Mahyudin Nafis (2007), terdapat sembilan jalan yang mampu membentuk kecerdasan emosi dan rohani, iaitu apabila individu itu mempunyai sikap sabar, syukur, tawaduk, baik sangka, amanah, hubungan silaturahim, tawakal, ikhlas dan takwa. Kemenangan selalu mengiringi orang yang sentiasa berusaha ke arahnya, manakala kegagalan pula sering diiringi oleh alasan! Andai kata tujuan telah ditetapkan, seperlahan manapun kita bergerak akan menghampirkan kita ke matlamat yang dituju. Berbanding dengan orang yang tidak tetap tujuannya, sederas manapun dia berlari nescaya tidak akan sampai ke manapun. Manusia perlu berusaha untuk mencapai kejayaan dan melonjak diri sebagai insan biasa kepada insan cemerlang. Kecemerlangan diri banyak dipengaruhi oleh kecekapan berfikir.

langkah-langkah untuk mengasah SQ

Kenalilah diri Anda, kerana orang yang sudah tidak mengenal dirinya sendiri akan mengalami masalah spiritual. Kerananya, mengenali diri sendiri adalah syarat pertama untuk meningkatkan SQ.

Lakukan muhasabah diri, atau yang dalam istilah keagamaan dikenal sebagai upaya 'pengubatan'. Ajukan pertanyaan pada diri sendiri, "Sudahkah perjalanan hidup dan karier saya berjalan atau berada di landasan yang benar?" Kemungkinan saat kita melakukan muhasabah diri, kita menemukan bahwa selama ini kita telah melakukan kesalahan, kecurangan, atau kesalahan terhadap orang lain.

Aktifkan hati secara rutin, yang dalam konteks orang beragama adalah mengingat Tuhan. Kerana, Tuhan adalah sumber kebenaran tertinggi dan kepadaNya kita kembali. Dengan mengingat Tuhan, maka hati kita menjadi tenang. Hal ini membuktikan kenapa banyak orang yang mencuba mengingat Tuhan melalui cara berzikir, bertafakur, solat tahajud di tengah malam, berfikir di tempat sunyi, mengikuti tasawuf, bermeditasi, dan lain-lain. Aktivitiaktiviti ini dapat mengubati hatinya.